Showing posts with label api-4. Show all posts
Showing posts with label api-4. Show all posts

Sunday, April 04, 2010

Ketika Marylin Monroe Bangkit Dari Kubur

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pohon PHK. Angka indeks stres sesudah meninggalnya pasangan hidup, 100. Perceraian, 73. Pensiun, 45. Pindah pekerjaan, 36. Pindah jabatan, 29.

Akhir tahun 2001, saya memiliki indeks stres di bawah angka meninggalnya pasangan hidup dan perceraian. Indeks saya 47. Saat itu saya baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja pada suatu perusahaan Internet di Jakarta.

Amplop berisi surat pemberitahuan PHK itu saya baca di sebuah bangku kayu, di bawah pohon kecil, di pinggiran jalan Kebon Sirih, Jakarta.Sore hari. Antara sikap menerima dan ingkar, campur aduk. Tetapi begitu semakin menjauh dari lokasi itu,dan melalui proses self-talk yang intensif, akhirnya rasa sakit dan marah itu akhirnya bisa reda juga.

Kira-kira setahun kemudian, saya datangi kembali bangku kayu dan tanaman kecil yang menjadi saksi saat saya kehilangan pekerjaan di Jakarta itu. Rumus dari Nora Ephron, sutradara film komedi romantis Sleepless in Seattle (1993), benar adanya.

Tragedi + waktu = komedi.

Sejarah serupa rupanya berulang lagi. Kali ini di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Di gedung tersebut pada hari Sabtu, 26 Januari 2008, saya tereliminasi sejak awal ketika ikut Audisi Pelawak TPI ke-4 (API-4). Kemarin, 2 April 2010, saya bisa kembali ke gedung yang sama, dalam suasana yang hampir sama. Tetapi membawa perspektif yang berbeda.


Gundah gulana saya akibat kegagalan dua tahun itu kiranya pantas menjadi bahan tertawaan. Senyatanya, karena cengkeraman perasaan egosentris memang sering membuat kita, tak terasa, mudah tergoda memberi harga terlalu tinggi bagi diri sendiri. Akibatnya, cedera atau terbarut sedikit saja sering membuat kita merasa betapa dunia terancam kiamat. Kecongkakan semacam itu, sekali lagi, memang pantas untuk menjadi bahan tertawaan.

Diam-diam, buah dari kesadaran semacam itu adalah berkah. Kita bisa membumi kembali. Dengan bekal isi jiwa seperti itu saya memenuhi undangan sobat maya saya, Harris Cinnamon (foto, kaos hitam) dari TPI, untuk ketemuan di Yogya. Saat itu, 2-3 April 2010, TPI mengadakan audisi memilih calon penghibur dalam tajuk Piala Dunia Tawa.

Memasuki gedung itu, saya seperti sedang pulang ke rumah. Gedung ini mudah diakrabi. Tanggal 12 Oktober 2002, ketika Bali diguncang bom Amrozy dkk, adik saya menjadi pengantin di gedung ini pula. Dan ketika mencoba bertegur sapa dengan sebagian peserta audisi, sungguh mengejutkan, sebagian dari mereka adalah alumnus API-4 juga. Seingat saya, di tahun 2008 itu rasanya belum pernah berkenalan, toh hari ini sebagian mereka pernah merasa mengenal saya. Nampaknya sirkuit dunia komedi kita memang benar sebagai dunia yang sempit.

“Baru tiga,” kata Harris Cinnamon yang beringsut dari kursi jurinya, untuk menyalami saya. Saya terlambat, sehingga tiga penampil pertama terlewat dari saya. Tahun 2008 lalu, Momon (dalam hati ia saya sebut sebagai da’i rocker) yang kini rambutnya lebih pendek, memberikan pengarahan kepada para peserta audisi API-4, termasuk saya. Ia bos, saya peserta. Kini saya datang sebagai kawan. Sebagai tukang catat. Tukang lapor. Tukang cerita.

Kalau boleh diberi label sebagai gagah-gagahan, saya datang ingin juga sebagai “sejarawan” komedi Indonesia. Saya datang dengan bekal, seturut ujaran sejarawan Perancis, Ferdinand Lot, bahwa sejarawan harus memiliki empati terhadap obyek kajiannya. Karena tanpa itu tak ada wawasan yang imajinatif untuk menggali masa lampau. Idealnya lagi, menurutnya, sejarawan harus menunjukkan kemampuannya sejajar dengan apa yang dimiliki para penyair dan seniman.

lawakan drakula,kelompok sandal jepit,solo,drakula banci,piala dunia tawa tpi 2010

Rendang kerbau. Lanskap apa yang nampak ketika anak-anak muda masa kini ingin terjun dalam dunia hiburan, khususnya lawak ? Lawakan tentang drakula dan kuntilanak, masih ada. Banci-bancian, juga masih ada. Lawakan hansip, juga ada. Plesetan kata, tetap muncul lagi juga. Penampilan komedian tunggal dengan gaya bercerita, mungkin ini warisan almarhum Taufik Savalas, juga ada. Lawakan dengan menyemprotkan air dari mulut ke wajah lawan main, juga ada.

Tontonan duplikasi adegan fotonya Marilyn Monroe dengan rok tersibak, juga ada. Dibawakan oleh Sarita (2009), diceritakan bahwa bintang film dan dewi seks AS itu bangkit dari kubur, menari dan menyanyi dan lalu kembali ke liang lahat.

Walau pesertanya tidak segegap gempita API-4, di mana ruang penjurian terdapat dua dan kini hanya satu, semangat peserta untuk berlawak-lawak-ria pantas diberi tepuk tangan. “Kali ini pendekatannya rada berbeda, Bang,” tutur Harris Cinnamon, saat kami usai sholat Jumat, sebelum sesi penjurian dilanjutkan.

Kalau dalam API-4, kata Momon, yang direkrut untuk dibina adalah kelompok yang menonjol, kini yang dicari adalah individu yang istimewa. Mereka-mereka itu selanjutnya akan dilakukan pairing, pencocokan dengan individu yang lain, sehingga diharapkan hadir sinergi yang lebih saling memperkuat.Pendekatan itu yang membuat suasana audisi terasa lebih hidup. Walau juga kadang konyol.

tony tanuwijaya,nurbati,harris cinnamon,erick tamalagi,nala rinaldo,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Godfather komedi televisi Indonesia. TPI nampak serius dalam merekrut talenta-talenta baru dunia hiburan televisi di Indonesia. Mereka menerjunkan personil kunci mereka. Dari kiri : Tony Tanuwijaya, eksekutif produser, Nurbati, Harris Cinnamon, direktur kreatif, dan Erick Tamalagi, produser. Dan juga ditongkrongi oleh GM Produksi, Nala Rinaldo (tidak nampak dalam foto).



Seperti Sajimin (2006), alias Pak Min (foto, berblangkon), yang mengaku sebagai dalang cangkeman alias bermain wayang dengan instrumen mulut belaka, digojlok habis-habisan di panggung oleh para juri.

Dibuat dirinya agar terpojok, sehingga Pak Min itu mampu mengeluarkan kesaktiannya, katakanlah jeroannya secara lahir batin. Ketika ia dipaksa keluar dari sarang kosmologi Jawanya dan diminta menyanyi lagu pop, yang muncul adalah lagu tentang perempuan yang hidup dalam lumpur noda. Malah ia sempat terloncat perkataan, bahwa “istri saya juga berasal dari sana.”

Andri Balung (2018, foto) yang tampil sendirian, juga mendapat teror serupa. “Wah, pengin dadi wong kondang kok yo rekoso,” keluhnya di panggung. Ketika disodori sisir besar terbuat dari styrofoam, apa yang akan ia perbuat ? Andri menggigit pinggir sisir itu sampai somplak. Audiens di ruangan pun terbahak.

Lawakan tunggal yang merambah gagasan coba ditampilkan oleh Andika Putra (2008). Ia tampil di panggung dengan jas dan berdasi. Tetapi celananya, aneh. Separo lengkap, sewarna dengan jas, bersepatu resmi. Separo celana satunya lagi adalah celana pemain sepak bola, dan bersepatu pemain sepak bola.

“Jauh-jauh dari Padang,” katanya mengenalkan diri, dan rupanya ia sekaligus pula membawa sudut pandang budaya Ranah Minang ketika menyentil ulah para penguasa dan politisi kita. Nampak merujuk demo mahasiswa yang mengusung binatang kerbau beberapa waktu lalu, Andika menggertak : “Banyak penguasa kita yang seperti kerbau. Nampaknya gagah dan kuat, tetapi segera menjadi lembek ketika berubah menjadi rendang.”

Tentang pakaiannya ? “Ini cerminan ulah politikus kita. Di depan nampak bersopan-sopan, tetapi di belakang layar mereka saling main tendang, sepak-sepakan !”

rokayatun,suwanto,eko,bs,sarjoe,phh,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Lelucon yang juga bersinggungan dengan wacana politik juga diusung oleh kelompok BS, Barang Sortiran (2025, foto). Trio ini terdiri dari Rokayatun (baju oranye), Suwanto dan Eko. Sebelumnya, saya sempat mengobrol dengan mereka. Rokayatun (cowok) adalah alumnus audisi API-4 yang kelompoknya bernama PHH ikut lolos ke Jakarta.

Ia memberi saya kartu nama, dengan tajuk MC Kocak/Lawak “Sardjoe” yang siap ditanggap untuk hajatan pertemuan, seminar, acara promosi, pesta reuni sampai ulang tahun. No HP mereka yang bisa dihubungi : 085640234449.

Pada kartu nama itu juga tertera logo API-4. Tetapi ketika para juri saat itu sempat menanyakan, apakah kelompok ini “orang lama,” membuat saya tersenyum-senyum. Karena nampak trio awak BS itu menjadi sibuk berkelit, dan bagi saya ini adalah komedi pula.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya kirim sms ke Rokayatun, berkomentar bahwa penampilan mereka jauh lebih unggul dibanding peserta lain yang sempat saya tonton.

Trio BS itu membawakan lakon “Rampok,” yang tidak lain merupakan satir bagi para politisi, birokrat sampai penegak hukum kita yang korup, yang merampok uang rakyat. Sempat terlontar ketika mengenalkan anggota termuda dari trio perampok itu, dengan ujaran : “Adik saya yang terkecil ini adalah perampok yang masih berstatus honorer.”

Siang itu saya sempat menonton 22 dari 58 peserta audisi yang terdaftar siang itu. Di tengah acara, tiba-tiba saya memperoleh sms dari nomor yang asing. Ia menanyakan, apakah saya ikut dalam audisi siang itu pula. Tentu saja, saya jawab : saya tidak ikut.

Pengirim sms itu bernama Burhan, asal Sukoharjo, memperoleh nomor urut 2033. Saya keburu pulang, dan mengirim sms agar ia berhasil. Burhan menjawab antara lain : “Waduh, padahal saya belum ketemu mas loh. Ehm, kemarin saya masuk ke blognya mas. See you.”


Awal perjalanan. Kabar dari Burhan itu lumayan membuat senang. Tahun 2008 lalu, gara-gara blog ini pula, saya bisa bereuni darat dengan Ade Tao, juri saya yang sebelumnya saling ketemuan di dunia maya. Kini, dengan pelaku lain, yang pasti atas bantuan kedahsyatan Google, hal serupa rupanya terjadi lagi.

Blog ini ternyata memiliki power yang tak terduga-duga bagi saya. Mungkin karena belum banyaknya blog dengan topik komedi, akhirnya blog saya ini boleh jadi terdongkrak menjadi semacam gerbang. Gerbang itu pula yang mau tak mau harus dilirik :-( dan dilewati oleh mereka yang ingin mengenal atau pun menerjuni dunia komedi.

Melegakan, bila isinya memang mampu memberi manfaat. Walau boleh jadi terlalu sangat hiperbolik bila power semacam itu yang membuat sobat saya Effendi Gazali, setelah bermurah hati menuliskan endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya, menambahinya saat menulis sms (16/3/2010 ) kepada saya. Isinya berbunyi : “Anda tetap supervisor or guardian dunia humor Indonesia.”

Hari Minggu pagi (4/4/2010), ketika saya melakukan olah raga jalan kaki pagi di bendungan waduk Gajah Mungkur, saya mendapatkan sms lagi. Bunyinya antara lain : “Thanks atas doanya, BS lolos Jakarta bersama 2 grup lainnya.” Saya segera membalas, mengucapkan selamat dan dorongan agar mereka mampu lebih berprestasi nantinya.

Demikianlah, hari Jumat di Gedung Wanitatama Yogyakarta itu, menjadi hari yang menggembirakan bagi saya. Mereguki semangat anak-anak muda yang bergairah menerjuni karier di dunia hiburan, utamanya lawak, ibarat memperoleh tetes air dari oasis yang menyegarkan jiwa. Sebagai bekal dalam menempuh, serta melanjutkan perjalanan yang masih panjang di depan.

Ikhtiar TPI merupakan sebuah pintu yang terbuka. Pantas diberikan akolade. Tetapi bagi mereka yang mampu masuk, atau pun bagi mereka yang belum beruntung, perjalanan meraih sukses dalam komedi senantiasa akan selalu terpulang kepada masing-masing individu. Seberapa keras, tangguh dan tahan uji, dalam menempa diri mereka sendiri.

Utamanya, seperti tak bosan saya tulis dalam blog ini, adalah ikhtiar menempa diri sendiri untuk mampu menjadi pribadi atau persona yang unik, orisinal, di antara wajah-wajah komedian yang lalu lalang selama ini, di negeri ini pula.

Satu-satunya cara yang harus ditempuh agar mampu meraih status terhormat itu adalah dengan mentransformasikan masing-masing hidup mereka, untuk menjadi komedi itu sendiri. Bert Williams telah menulis : “Orang yang memiliki selera humor sejati adalah orang yang mampu menempatkan dirinya di depan para penonton dan mampu menertawakan kehidupan malangnya sendiri di depan mereka.”

Dalang cangkeman Pak Min, secara tak sengaja telah melakukannya. Tetapi seturut nasihat Bert Williams di atas, apakah ia akan berani bila harus melakukannya secara sengaja ? Berapa banyak komedian Indonesia yang berani melakukan hal yang sama ?

Bagaimana dengan Anda sendiri pula ? Kalau Anda mendapat todongan semacam ini, kira-kira berapa angka indeks stres Anda ?


Wonogiri, 3-5/4/2010


ke

Friday, January 16, 2009

The Harvard Lampoon dan Masa Depan Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Otak lucu dan jenius. “Empat tahun berkuliah di Harvard cukup sudah,” tutur John Updike (1932–2009 ), novelis dan penulis cerita pendek terkenal Amerika. “Saya memang masih harus banyak belajar, tetapi juga mendapatkan gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.”

Ia lulus dari Universitas Harvard pada tahun 1955 dan kariernya kemudian banyak terkait dengan majalah mingguan The New Yorker yang terkenal. Ia masuk jajaran dengan nama-nama penulis besar Amerika yang berkecimpung di majalah yang didirikan oleh Harold W. Ross yang terbit pertama kali tanggal 21 Februari 1925.

Para penulis itu antara lain Robert Benchley (1889-1945), humoris Amerika. Yang menarik dari keduanya adalah : selain sama-sama alumnus Harvard, juga sama-sama digembleng ketajaman ujung penanya ketika terjun mengelola majalah satir, The Harvard Lampoon (THL), saat mereka masih menjadi mahasiswa.

The Harvard Lampoon itu diluncurkan pertama kali tahun 1876 sebagai terbitan majalah humor oleh mahasiswa tingkat sarjana Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts. Terbit setahun lima kali, menurut Wikipedia, THL yang mengambil model majalah satir Inggris Punch itu kini nampak lestari sebagai majalah humor berbahasa Inggris yang mampu berumur panjang.

Yang juga membanggakan, kawah candradimuka THL tersebut kemudian mampu melahirkan alumnus yang menyandang nama-nama terkenal dalam dunia media, sastra dan humor. Sebut saja William Randolph Hearst (1863–1951), nama raksasa dalam dunia penerbitan media di Amerika Serikat. Atau George Santayana (1863–1952), kritikus dan filsuf kelahiran Madrid, Spanyol. Mereka yang berkiprah sebagai penulis buku, selain John Updike juga ada William Gaddis, Cass Sunstein, Simon Rich, George Plimpton, Fred Gwynne sampai Douglas Kenney.

Mereka yang terjun dalam dunia kepenulisan program televisi, selain nama Simon Rich di atas, juga ada B.J. Novak, Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Untuk nama terakhir ini, yang lulusan magna cum laude dari Harvard, saya berlangganan kolom satirnya, The Borowitz Report, sejak 2007. Jejak mereka itu diikuti ratusan alumnus THL lainnya.

Bahkan dapat ditandaskan bahwa hampir setiap program televisi di Amerika yang menjadi hit dalam beberapa dekade terakhir pasti ditongkrongi oleh satu atau lebih otak-otak lucu dan jenius yang alumnus The Harvard Lampoon. Sebut saja acara Saturday Night Live (sejak 1975), Futurama, dan Late Show with David Letterman (1982).

Menurut Encyclopedia of 20th-Century American Humor (2000), buku babon seluk beluk dunia komedi yang dihadiahkan oleh Danny Septriadi kepada saya, alumnus THL juga menulis untuk program televisi seperti Seinfeld, Veronica’s Closet, Murphy Brown, Suddenly Susan, The Larry Sanders Show, Cracker, News Radio, Third Rock from the Sun dan The Naked Truth.

Anda kenal sitkom animasi The Simpsons (1989) ? Disebut sebagai sitkom animasi yang pemutarannya tercatat sebagai terpanjang dalam sejarah televisi, kisah Bart Simpson yang tak pernah naik kelas dari kelas empat sekolah dasar dan keluarganya ini, dalam masa produksinya telah memperkerjakan 36 penulis yang alumnus The Harvard Lampoon tadi.


Humor dipandang rendah. “Humor is serious, not just funny.” Itulah judul artikel almarhum Arwah Setiawan dan Bambang Utomo di koran The Jakarta Post (14/9/1992). Humor memang serius, tidak hanya jenaka. Dengan merujuk nama-nama alumnus pengelola majalah komedi sebuah universitas tersohor di dunia, juga kiprah spektakuler dan kreasi mereka setelah kelulusannya, mungkin kita dapat terinspirasi untuk membuka diskusi tentang bagaimana dunia kepenulisan humor itu, misalnya, bisa ditumbuh kembangkan di kampus-kampus kita.

Dengan mengambil contoh ranah komedi solo, Woody Allen menyatakan bahwa “ultimately, the success of stand-up comic is often determined by his material.” Material itu tidak lain adalah naskah. Begitu pentingnya naskah, tentu saja juga para penulisnya, kita dapat bercermin ketika hampir sepuluh minggu, dari 5 November 2007 hingga 8 Januari 2008 para penulis naskah program dunia hiburan Amerika Serikat melakukan pemogokan secara besar-besaran.

Mereka tergabung dalam organisasi penulis Writers Guild of America, East (WGAE) dan Writers Guild of America, West (WGAW). Kedua organisasi itu yang menghimpun sampai 12.000 anggota merupakan serikat pekerja yang mewakili para penulis untuk film, televisi dan radio yang berkarya di Amerika Serikat. Mereka melakukan pemogokan untuk melawan kebijakan dari Alliance of Motion Picture and Television Producers (AMPTP), organisasi dagang yang mewakili interes para produser film dan acara televisi Amerika Serikat. Isu pokok sengketa mereka adalah menyangkut pembayaran royalti bagi para penulis naskah untuk program-program yang ditayangkan di pelbagai media baru, yaitu media digital, utamanya di Internet.

Karuan saja saat itu dunia televisi Amerika Serikat menjadi kalang kabut. "Writers strike to hit TV first - and hard", tulis koran The Salt Lake Tribune (4/11/2007). Apalagi banyak kaum selebritis yang ikut mendukung mereka sebagaimana ungkap harian USA Today (9/11/2007) : “More celebs show solidarity at writers' picket lines.” Ketika terjadi pemogokan sebelumnya di tahun 1988 yang berlangsung hampir 22 minggu, telah mengakibatkan dunia industri hiburan Amerika Serikat merugi yang diperkirakan mencapai 500 juta dollar.

Mengomentari peristiwa itu, komedian David Letterman mengeluh bahwa tanpa penulis naskah dirinya ibarat Roger Clemens tanpa doping hormon pertumbuhan manusia. Roger Clemens adalah atlet bisbol yang saat itu bikin heboh karena tertangkap menggunakan hormon untuk meningkatkan prestasinya.

Tapi Letterman dalam menanggapi pemogokan itu juga sempat menyodok George W. Bush, sang sumber kaya untuk olok-olok. Ia katakan, para penulis naskah itu sebenarnya hanya punya dua tuntutan : mendapat royalti ketika karya kreatifnya ditayangkan di Internet dan menuntut agar George W. Bush memangku jabatannya empat tahun lagi !

Komedian yang juga alumnus THL, lulus dengan magna cum laude dari Harvard 1985 dengan konsentrasi Sejarah dan Sastra, Conan O’Brien, ketika memandu acaranya Late Night with Conan O'Brien tampil beda. Ia membiarkan brewoknya tumbuh lebat. “Dalam sepanjang hidup saya, saya tak pernah memelihara brewok saya. Kini saya menumbuhkannya sebagai tanda solidaritas kepada para penulis naskah dan sekaligus untuk menunjukkan kejantanan saya. Dua burung dengan satu lemparan batu !,” candanya.

Lain di Amerika, lain pula di negara tercinta kita. “Merujuk pentingnya fungsi humor, sungguh aneh bila humor tidak menjadi kajian yang serius di Indonesia. Bila di Barat humor atau komedi telah menjadi objek kajian sejak jaman Plato, sebaliknya bangsa Indonesia cenderung meremehkannya dan hanya memandangnya sebagai trivia, remeh-temeh belaka,” keluh Arwah Setiawan dan Bambang Utomo lima belas tahun lalu itu. Bagaimana potret aktualnya masa kini ?

Kita Mabuk Komedi. Potret nyata perlakuan dunia intelektual sampai dunia industri hiburan kita terhadap humor atau komedi sebagai hal yang remeh-temeh, mungkin dapat tercermin ketika menghidupkan pesawat televisi Anda. Tayangan komedi kita sebagian besar adalah komedi kasar, slapstick atau riddle, tebak-tebakan.

Sekadar contoh, Kelik Pelipur Lara dalam acara Dunia Dalam Ketawa (Antv), seolah ia sebagai penyiar bertanya kepada temannya : “Mengapa babi bau ?” Temannya menjawab, karena babi suka hidup di habitat yang kotor. Kelik lalu membuat jawaban yang rasa ia benar : “Karena babi mempunyai ketek empat, jadi sangat bau.” Penonton memang boleh tertawa. Tetapi kita tahu, itulah bentuk dari low comedy. Tebak-tebakan adalah lelucon untuk anak-anak.

Gambaran lain dari tayangan komedi kita di layar kaca kita bisa membaca komentar wartawan Kompas Budi Suwarna dan Susi Ivvaty (21/12/2008). Keduanya sempat menulis mengenai acara Empat Mata, kini Bukan Empat Mata : “Dari dulu begitu-begitu saja. Guyonan Tukul Arwana tidak banyak berubah selama 2,5 tahun membawakan acara tersebut.”

Pada laporannya yang terbaru berjudul “Menonton Komedi Sampai Mabuk” (11/1/2009), Budi Suwarna menulis mengenai acara komedi yang saat ini menjadi prima dona acara di televisi kita. Konon karena masyarakat saat ini sedang jenuh terhadap isu-isu politik dan dirundung stres akibat terjepit tekanan ekonomi, maka mereka mencari penghiburan lewat acara-acara komedi di televisi. “Itu sebabnya mereka merespons acara-acara komedi yang ringan dan bisa membuat mereka tertawa,” kata Zoraya Perucha dari Antv yang dikutip dalam laporan itu.

Akibatnya, ragam tontonan di televisi memang kian mengarah kepada hiburan semata. Apa pun acaranya, sebagian besar dikemas dalam bentuk ringan dan diasumsikan dapat menghibur penonton. “Talk show politik pun,” catat Budi Suwarna lebih lanjut, “kini, dikemas sedemikian cairnya hingga mendekati panggung lawak.

Alih-alih memberikan informasi yang berharga dan menjelaskan duduk perkara, talk show semacam itu justru menyajikan sederet kekonyolan. Para pengelola televisi beralasan, penonton sekarang kebanyakan tidak mau berpikir terlalu ruwet ketika menonton televisi. Karena itu televisi memberikan tontonan ringan.”

Premis pengelola televisi itu memang tidak dapat disalahkan. Ketika menonton televisi memang telah terjadi perubahan gelombang dalam otak kita : menurunnya gelombang cepat yang merupakan karakteristik aktivitas berpikir dan meningkatkan jumlah gelombang lemah yang merupakan karakteristik keadaan yang santai. Itulah sebabnya mengapa menonton televisi membuat kita santai, karena otak kita benar-benar dalam kondisi padam.

Liur anjing Pavlov. Menurut kajian Fred Emery dan Merrelyn Emery dalam bukunya A Choice of Futures: To Enlighten or Inform (1976), kondisi merasa santai bagi pemirsa itu menjadikan televisi sebagai kendaraan penyampai iklan yang efektif. Citra-citra dan pesan itu memasuki otak tanpa diproses, tidak dapat diingat kembali, tetapi dapat dikenali, misalnya ketika sang pemirsa itu berada di pasar swalayan.

Kajian ini mungkin memperkuat isi tulisan saya sebelumnya, betapa penonton tayangan komedi kita telah mengalami metamorfosis sehingga perangainya mirip sebagai “anjing Pavlov.” Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : begitu tombol televisi dinyalakan, otak kita pun padam, sehingga yang memandu kita selanjutnya adalah bunyi bel yang membuat anjing-anjing dalam eksperimen Dr. Pavlov itu mengeluarkan air liur masing-masing.

Bunyi bel itu bisa berupa kata-kata “kembali ke laptop”-nya Tukul Arwana. Atau apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, yang tanpa perlu dikaji benar atau salah secara moral, atau berdasar pertimbangan akal sehat, maka refleks otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan kompak bertepuk tangan.

A mob is a group of people with heads, but no brains.

Jadi tidak penting lagi apakah audiens itu punya latar belakang sebagai anggota partai politik, mereka yang dari pakaiannya nampak sebagai umat yang taat beribadah atau pun anak-anak muda yang mengenakan jaket alma maternya, perilaku mereka sebagai gerombolan hampir identik ketika tampil sebagai audiens dalam sesuatu acara komedi dan bahkan juga acara non-komedi di layar kaca kita.


Otak mahasiswa tercecer. Olah kreativitas komedi di Indonesia masih berpeluang diselamatkan masa depannya, dengan mengeksploitasi kedahyatan media-media baru berbasis digital. Seorang Barack Obama bisa meraih kursi Gedung Putih antara lain berkat bantuan situs berbagi video YouTube.com, bahkan ia memerintah kini dengan tetap mengandalkan media yang sama untuk meraih rakyat.

Ide serupa a la Obama itu sudah saya sosialisasikan sebagai gerakan komedi indie sejak saya gagal di audisi API-4. Gagasan itu muncul setelah mengkaji pula sistem perekrutan model API yang nyatanya tidak begitu menjanjikan untuk kemajuan dunia komedi Indonesia. Media mainstream seperti televisi memang memiliki agenda tersendiri, mengejar rating dan iklan, dimana hal itu selalu tidak kompatibel dengan aspirasi baru di dunia komedi. Insan-insan cerdas dari dunia komedi Indonesia harus menempuh jalan alternatif. Jalan baru sesuai tuntutan jaman. Jalan digital. Keampuhan situs YouTube.com menanti mereka manfaatkan secara sepenuh daya untuk pengembangan talenta-talenta baru komedi Indonesia.

“Jangan hanya jadi konsumen industri kreatif.” Itulah kepala berita di harian Kompas (11/12/2008) yang melaporkan seminar bertajuk “Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai Paradigma Keilmuan” yang dilangsungkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sumber daya manusia Indonesia harus juga menjadi produsen industri kreatif. Salah satu nara sumber, Sapardi Djoko Damono, mengatakan bahwa kultur bangsa-bangsa mengarah kepada kultur urban yang ditandai antara lain dengan kreativitas. Kreativitas dan bakat itu dapat dikembangkan. Perguruan tinggi, dalam hal ini Fakultas Ilmu Budaya, menjadi salah satu tempatnya.

Sebagai alumnus fakultas yang sama, saya berharap komedi ikut pula memperoleh porsi yang memadai untuk dikembangkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut. Minimal, dengan merintis penerbitan atau situs yang visi-misinya kurang lebih mirip dengan penerbitan The Harvard Lampoon dari Universitas Harvard itu. Imbauan ini juga berlaku untuk perguruan tinggi lainnya. Termasuk perguruan tinggi yang mahasiswanya suka tawuran, siapa tahu pengembangan seni berkomedi akan mengubah paradigma pikir dan perilaku mereka. Bahwa adu olok-olok lebih berbudaya daripada adu golok.

Kita pun berharap mereka akan terilhami oleh kata-kata John Updike, yang meninggal dunia ketika tulisan ini dipersiapkan, 27 Januari 2009 dalam usia 76 tahun, bahwa kelulusan dari bangku kuliah telah memberinya berkah, berupa “gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.” Bila hal vital itu tidak terjadi, maka tragedilah yang akan terjadi, seperti diceritakan dalam lelucon model Harvard di bawah ini.

Saya kutipkan dari bukunya wartawan brilyan majalah Fortune, Thomas A. Stewart, yang berjudul Intellectual Capital : The New Wealth of Organization (1997). Tentang rektor Universitas Harvard yang menjabat tahun 1909-1933, Abbott Lawrence Lowell. Suatu hari ada seorang tamu yang bertanya di kampusnya, “Bagaimana sedemikian banyak pengetahuan dapat terkumpul di hulu Sungai Charles ini, Tuan Lowell ?”

Lowell menjawab : “Oh, sangat sederhana. Setiap tahun kami menerima pemuda yang paling brilyan di Amerika” – pada masa itu hampir semuanya pemuda, dan hampir semuanya orang Amerika-- dan ketika mereka diwisuda empat tahun kemudian, mereka hampir semuanya tidak tahu dan tidak peduli apa-apa. Jadi, pasti mereka meninggalkan ilmu dan pengetahuannya di sini.”


Wonogiri, 4/1-7/2/2009


ke

Friday, September 26, 2008

Era Ekonomi Kreatif dan Wajah SDM Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner(at) yahoo.com



Komedikus interuptus. Pasuruan dan zakat lagi jadi berita hangat. Kejadian tragis dengan tewasnya 21 calon penerima zakat menjelang lebaran di rumah seorang pengusaha kaya di Pasuruan, memunculkan usikan : apa ada yang salah dari Islam ? Maksudnya, apa ada yang salah pada umat Islam dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam ? Lebih sempit lagi : mengapa niat-niat mulia itu kemudian justru menjadi bencana ?

Antara niat dan implementasi tidaklah otomatis berimpit. Niat baik belum tentu dapat diimplementasikan secara baik pula. Antar keduanya ada jarak. Umat Islam kiranya harus berkaca, betapa implementasi masih belum menjadi keterampilan alami mereka.

Barangkali itulah mengapa, seperti diwartakan Radio BBC (26/9/08) yang mengutip hasil kajian LSI, yang menyimpulkan betapa partai-partai Islam yang ribut berdebat melulu mengenai konsep jati diri tak pernah laku keras. Bahkan cenderung terus menurun, di mata konstituen sejak Pemilu 1955. Pemilih cenderung memilih partai-partai sekuler yang menjual program-program konkrit yang mampu menyejahterakan mereka.

Hasil riset tadi, hemat saya, mudah-mudahan didengar oleh mereka yang ngotot untuk menggolkan Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang kontroversial itu menjadi undang-undang. Juga belajarlah dari kasus Pasuruan, di mana betapa ajaran mulia dan niat-niat mulia, kemudian justru membuahkan bencana.

Ketika warga Bali menyuarakan penentangan hebat atas RUU APP ini, dan mengancam akan melakukan pembangkangan sipil, civil disobedience, mungkin kita dapat memperkirakan apa yang bakal terjadi bagi Indonesia di masa depan. Indonesia yang terancam gosong dan tercerai-berai ?


Misi lucu dan luhur. Syukurlah, kabar dari Pasuruan tidaklah selalu jelek melulu. Dalam ranah dunia komedi, tanah ini telah melahirkan kelompok lucu Abioso yang memenangkan kontes Audisi Pelawak TPI (API)-4 di awal tahun ini. Kalau Anda sempat menengok situs blog mereka, lalu membaca-baca secara teliti prestasi panggung mereka, mungkin Anda akan terheran.

Kelompok yang diotaki Ahmad Aminuddin (Aam, 25), Muhammad Ali Mufadhol (Ali, 25) dan Muhammad Ghufron (GeGe, 23), adalah anak-anak jebolan Pondok Pesantren Ngalah Purwosari Pasuruan. Tetapi mereka pernah manggung lawak di SMP-SMA Advent Purwodadi dan Gereja Katolik Pasuruan. Mengingatkan saya akan petualangan lucu bermisi luhur dari komedian muslim keturunan Mesir, Ahmed Ahmed bersama rabbi Yahudi yang jenaka, Bob Alper, ketika keduanya meluncurkan tur komedi “One Muslim, One Jew, One Stage : Two Very Funny Guys” di AS pasca serangan teroris 11 September 2001.

Ketika saya mengunjungi blog Abioso itu, saya pun menulis pesan. Selain berkenalan, saya ingin memperoleh cerita-cerita apa saja yang pernah mereka reguk selama menjalani API-4 tersebut. Mereka juga saya rujuk untuk membaca isi sidebar, kolom samping blog ini, yang terpasang sejak 20 Juni 2008. Dengan isi mengundang mereka, selain langsung melalui email, kepada mereka yang memiliki minat memajukan dunia komedi Indonesia.

Baik bagi sobat Effendi Gazali dkk (sebagai juri API-4), sobat Harris Cinnamon (Produser Eksekutif API-4) dan kawan-kawan di TPI, terutama para peserta audisi yang sukses menembus 12 Besar di Jakarta. Ada data yang mungkin menarik tentang profil mereka : sebagian besar personelnya lulusan setingkat SMA, 21 orang. Satu orang D-2 dan seorang mengaku mahasiswa. Hanya ada 4 orang yang mengenyam pendidikan setingkat S-1. Ada 10 orang yang tidak mencantumkan sama sekali data pendidikannya.

Seperti tertuang di blog ini, undangan obrolan tentang API-4 itu terbuka pula bagi peminat komedi lainnya. Untuk berbagi cerita, wawasan sampai harapan kepada sesama pendukung dunia komedi Indonesia. Sayang sekali bukan, bila kegiatan yang mahal itu akhirnya sama sekali tidak meninggalkan jejak di dunia maya sebagai rujukan di masa depan.

Sayang, undangan saya untuk Abioso, tak ada sambutan. Juga nama-nama terkenal di atas, mereka tidak terusik ajakan dan permohonan saya. Terima kasih, desis saya. Maka kolom samping itu, setelah terpajang selama empat bulan, akan segera saya non-aktifkan. Komedikus interuptus. Kontak-kontak komedi yang harus terputus.

Sebagai simbol lainnya, seperti Anda lihat di awal tulisan ini, nampak logo API-4 yang gosong. Untuk menggambarkan betapa harapan saya bahwa seiring peristiwa sebesar API-4 memiliki momen bagi pencinta seni komedi di Indonesia untuk bisa saling ngobrol dan berbagi info, kini rupanya harapan itu mungkin tinggal berupa abu belaka.


Mencontek turis Jepang. Aneh juga. Saya yang memiliki nomor peserta “AB 042S” (ikut audisi API-4 di Yogya, nomor urut 42, dan membawakan komedi single/tunggal) yang gagal di langkah pertama, memang kecewa. Tetapi mereka yang lebih sukses dibanding saya, mengapa mereka enggan diajak untuk berbagi cerita ?

Kegagalan itu, bagi saya, tetap merupakan berkah. Tragedi seiring berjalannya waktu adalah komedi. Gagal itu kini justru menerbitkan kenangan menawan, banyak memicu ide cerita dan pikiran-pikiran lanjutan yang kiranya bisa disumbangkan untuk komedi Indonesia. Hulu dari semua itu, tentu saja adalah kecintaan. Kecintaan untuk dunia komedi. Suka menulis. Suka mengobservasi. Suka mencatat hal-hal yang kiranya menarik dari sekitar.

Terkait hal itu ada cerita menarik tentang perilaku turis-turis Jepang. Penutur ceritanya adalah Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa turis-turis Jepang selalu membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi. Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Apa kebiasaan serupa juga berlaku untuk kalangan komedian ? “Get yourself a notebook that you keep by your bed and another, smaller one that can fit in your pocket...write down all ideas within a few minutes of thinking about them,” tegas Judy Carter, mentor komedi terkenal. Antena atau radar seorang komedian sebagai penghuni dunia kreatif memang harus dalam mode on selama dua puluh empat jam seharinya !


Dunia otak kanan. Dari ulah otak-atik materi lawakan itu, kalau ngomong dalam gambar yang lebih besar, sebenarnya dapat menjadi salah satu rel bangsa ini untuk menuju era baru, era konseptual. Seperti diungkap oleh Daniel H. Pink bahwa era pertanian dan industri telah lewat, sementara era informasi sedang menuju uzur, maka sektor-sektor yang dikembangkan oleh negara-negara maju dan sulit ditiru oleh bangsa lain adalah sektor yang lebih banyak melibatkan otak kanan manusia.

Dalam bukunya A Whole New Mind : Why Right-Brainers Will Rule the Future (2006), ia katakan bahwa dalam era konseptual yang melibatkan kreativitas, keahlian dan bakat itu mayoritas pekerjaan di masa depan (era ekonomi kreatif) akan dikuasai mereka yang menciptakan sesuatu atau mereka yang mampu berempati kepada orang lain. Sebagian besar pekerjaan itu mensyaratkan ketelatenan, rasa humor , imajinasi, orisinalitas, naluri, kegembiraan, kedekatan pribadi dan kelenturan sosial.

Gambaran kemilau tentang masa depan di era konseptual itu mungkin dapat digambarkan dari perjalanan karier seorang Rowan “Mr. Bean” Atkinson. Ia lahir tanggal 6 Januari 1955 di Consett, County Durham, Inggris. Ia seorang sarjana elektro lulusan dari Newcastle University dan meraih gelar MSc di Oxford (Queen's College). Di kampus inilah, ketika main komedi untuk klub di kampusnya, ia bertemu penulis Richard Curtis dan komposer Howard Goodall, trio kompak yang bekerjasama dalam pengembangan karier Mr. Bean berikutnya.

Bila saja Rowan Atkinson tetap berprofesi sebagai “tukang insinyur” yang banyak berkutat dengan otak kiri yang linear dan mekanistik, kita mungkin tidak akan mengenalnya. Tetapi ketika ia lebih senang memilih mengejar karier berdasarkan bakat yang ia miliki, mengembangkan secara optimal kreativitas dari ranah otak kanannya, dunia pun kini mengenalnya.

Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi kreatif. Demikian simpul artikel yang berjudul “Era Creative Economy dan SDM Berkarakter” yang ditulis Gunawan di koran Seputar Indonesia (21/3/2008). “Industri kreatif saat ini bagian penting dari perekonomian Indonesia,” bunyi pembuka berita mengenai kuliah umum Memperdag Mari Elka Pangestu di Universitas Multimedia Nusantara Jakarta (Kompas, 6/9/2008).

Sayang, lanjut Gunawan, praktik pembelajaran di sekolah (kita) menghambat kreativitas anak-anak. Merujuk pendapat ahli psikologi Universitas Harvard, Howard Gardner, sistem yang salah itu akan membunuh kreativitas anak tinggal 10 persen dari potensinya ketika mencapai usia 8 tahun. Dan bila berlangsung sampai umur 12 tahun maka potensi kreativitasnya hanya tinggal 2 persen saja. Di sekolah-sekolah Indonesia, tiap tahun berapa juta embrio calon-calon Einstein (“Imajinasi lebih hebat dibanding pengetahuan,” katanya), Picasso, Charlie Chaplin, sampai Robin Williams masa depan yang telah terbantai di dalamnya ?

Tumbuh kembangnya ekonomi kreatif juga tidak hanya terancam terjegal akibat sistem yang salah di sekolah. Novelis Ayu Utami dalam kolomnya berjudul “Bangkitnya Kelas Kreatif” (Seputar Indonesia, 14/9/2008) mengutip Richard Florida bahwa kelas (pendukung ekonomi) kreatif itu hanya bisa tumbuh bersama sikap tertentu di sebuah masyarakat. Richard Florida dalam bukunya The Rise of Creative Class (2002) kemudian mensyaratkan adanya 3 T : teknologi, talenta dan toleransi.

Menurut Ayu Utami, T yang terakhir itulah yang menyurut di negara kita akhir-akhir ini. Terutama toleransi kepada kaum minoritas. “Lihat saja bahasa kekerasan dan bahasa kebencian yang kerap disebarkan dalam dasawarsa belakangan ini,” keluhnya. Boleh jadi kita semakin khawatir : apakah api kekerasan dan kebencian yang lebih besar akan semakin menjadi-jadi kobarnya bila saja RUU Pornografi dan Pornoaksi itu akan diundangkan di negeri ini ?

Impian mengenai mekarnya ekonomi kreatif di negeri ini mungkin menjadi gosong. Tinggal hanya abu kenangan. Pasti ikut juga hangus di dalamnya ide-ide cemerlang komedi dimana melucukan dan melecehkan sering tipis batasnya, yang sebenarnya mampu mendewasakan kita sebagai bangsa.



Wonogiri, 26/9-23/10/2008


ke

Sunday, January 27, 2008

Bom API-4, The Long Tail dan Impian Maylaffayza

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



I Have A Dream. Keras, sepi dan bengis. Itulah pendapat aktor dan komedian solo dari Amerika Serikat, Will Ferrer, mengenai komedi tunggal. Hard, lonely and vicious. Karena dalam pertunjukan si komedian tunggal itu ibarat terus-menerus meminta belas kasihan penonton yang merupakan bagian integral dari keseluruhan pementasan. Dirinya pun harus pandai-pandai membaca mood atau pun selera penontonnya, kemudian harus tangkas pula dalam menyesuaikan materi lawakannya.

Semua keterampilan hebat itu belum saya miliki.

Kalau pun ada, jelas belum terasah secara maksimal. Konsekuensinya kemudian, saya salah menempatkan diri dan berakibat fatal. Saya terkena ledakan bomb API-4 saat itu. Jangan kaget dulu, ini merupakan lingo, bahasa prokem dalam sirkuit dunia komedi, untuk menyatakan tentang pemanggungan lawakan yang yang tidak mampu menimbulkan tawa. Saya pun terkapar. Saya tereliminasi sejak awal dalam Audisi Pelawak TPI ke-4 (API-4), Sabtu, 26 Januari 2008, di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Saya ikhlas dan nyaman menerimanya.

Photobucket

Lolos Jakarta. Kelompok lawak Presto asal Semarang yang terdiri Agit, Furry, Muhtohar dan Kurnia, sedang beraksi. Mereka mengirim SMS kepada saya bahwa setelah melewati babak final audisi di Yogya (28/1/08), Presto : The Laughmaker berhasil lolos ke Jakarta. Untuk menyemangati mereka, Anda dapat kontak via email ke : setya_raharja@yahoo.com. Juga ke +628156693505 (Agit) atau ke +6281390967744.

Photobucket

Pebisnis Komedi. Saya bersama Soenarno (tengah) penjual map dan formulir pendaftaran untuk mengikuti audisi API-4. Ia berasal dari Semanggi Solo.


Secara guyon, bencana kegagalan saya itu terjadi mungkin karena saya “berdosa” kepada Maylaffayza. Karena saya melucukan pemain biola cantik dan seksi itu di depan awak televisi TPI, stasiun televisi yang mainstream-nya lagu-lagu dangdut. Atau “berdosa” kepada mantan presiden Soeharto karena melucukan ulah asmara anak dan cucunya. Atau “berdosa” kepada kalangan politisi yang bergaya sebagai selebriti atau selebriti yang merambah kiprah sebagai politisi.

Konsekuensi berpeluang ditimpuki beragam “dosa” itu sudah saya ambil. Karena impian saya memang ingin sebagai komedian solo. Utamanya sebagai headliner alias komedian yang melucukan berita-berita atau isu utama yang mewarnai pemberitaan nasional yang aktual. Oleh karena itu di formulir pendaftaran API-4 ada pertanyaan “gaya melawak Anda,” maka tanda cek saya bubuhkan di kolom “Lain-Lain.” Kemudian saya tambahi nama Jon Stewart serta Conan O’Brien. Seharusnya saya tambahi lagi dengan Andy Borowitz. Mudah-mudahan para juri sudah pernah mendengar nama-nama ini.

Sebagai headliner, saya menulis set atau naskah lawakan yang diilhami artikel “Politisi Selebriti” yang ditulis Eep Saefulloh Fatah di Kompas, 22/1/2008. Lalu pintu masuk yang saya gunakan adalah memanipulasi secara “bergerigi” judul situs blog milik selebriti, yaitu pemain biola cantik, seksi dan intelektual, Maylaffayza Permata Fitri Wiguna. Mengapa dia ? Semata menuruti kata hati. Saya menyukai dia. Sejak tahun 2002.

Pilihan masuk yang salah.

Ide itu berawal ketika secara serendipity saya menemukan blognya Maylaffayza yang terdaftar di direktori blog dalam ranah situs milik Harian Kompas. Tajuk direktori itu Citizen Journalism. Jurnalisme Warga. Menurut saya, setelah melongoki isinya, aneh juga Kompas ini : jurnalisme warga kok yang mengisi sebagian besar warga Indonesia yang tinggal di luar negeri ? Padahal menurut hasil laporan J-Lab : The Institute for Interactive Journalism, jurnalisme warga itu khittah wajibnya adalah jurnalisme hiperlokal !

Ah, lupakan dulu situs Kompas yang rancu itu.
Tetapi jangan lupakan Maylaffayza.

Saya belum melupakannya. Terkait komedi, di tahun 2005-2006 saya melakukan obrolan bolak-balik via email dengan orang dalam istana Republik Mimpi-nya Effendi Gazali. Yaitu Welnady alias Iwel Well. Dampak sampingnya, malah saya bisa “ketemu” dengan Maylaffayza lagi. Karena dia dan Iwel berada dalam lingkup manajemen artis yang sama, yaitu Camelia & Melinda Artist Management.

Saya pernah mengusulkan ke Camelia & Melinda Artist Management agar Iwel, Maylaffayza dan artis lainnya, memiliki situs blog tersendiri. Sehingga dapat menggalang kontak dengan para fans mereka. Bahkan sempat pula saya ceritakan tentang “pentas” bersama saya dengan pemain biola solo cantik itu dalam sebuah acara di Jakarta. Di bawah ini adalah flashback peristiwa berkesan itu, ketika saya bisa “pentas bersama” Maylaffayza di tahun 2002.

Saat itu saya ikut memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan oleh PT Honda Prospect Motor. Upacara selebrasinya berlangsung megah, 8 April 2002, di Balairung Hotel Kempinsky Jakarta. Pada acara puncak, para kontestan, juri (Arswendo Atmowiloto, Mien Uno, Riri Riza sampai Susi Susanti), panitia dan eksekutif Honda, naik panggung bersama-sama. Kemudian dipandu oleh violis jelita Maylaffayza dan band pengiringnya, kami semua kompak menyanyikan lagu yang kaya inspirasi, yaitu “I Have A Dream”-nya ABBA.

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

I believe in angels
Something good in everything I see


Saya persis berada di belakang Maylaffayza. Sebagai lelaki, ya jujur saja, saya tergetar menyaksikan perempuan muda penuh pesona itu. Apalagi bidadari dengan tinggi badan 169 cm dan berat 49 kg itu meliuk-liukkan tubuh indahnya seirama gesekan biola, dengan punggung backless-nya yang menggoda. Silakan kaitkan dan berfantasilah secara liar antara lirik ABBA, something good in everything I see, saat itu, dengan judul situs blognya Maylaffayza yang tidak kalah sensualnya : I Play My Violin Like I Make Love. Saya main biola, seperti saya bermain cinta.


Blogger Berburu API. Gagasan saya untuk mengikuti API-4 itu baru muncul sekitar seminggu sebelum D-Day. Sebagai blogger, momen API-4 itu ingin saya gunakan untuk mencari bahan tulisan untuk blog ini. Anda bisa lihat, isi blog saya ini tidak saya perbarui sejak Oktober 2007. Saya kehilangan isu atau pun ide. Biasanya bulan Januari saya tergerak mengulas siapa komedian yang akan memandu acara Oscar. Karena yang terpilih tahun 2008 ini adalah Jon Stewart, dan saya pernah menulisnya di tahun 2005, maka greget untuk kembali menulis tentang dirinya meredup.

Photobucket

Pemimpi Menjadi Komedian. Bertemu teman-teman baru. Dari kiri, Imran Pratama (Magelang), Ari Wibowo dari Kelompok Mur (Magelang), saya, kemudian Trio Burjo dari Yogya yang terdiri dari Dan, Deden dan Ifan, beserta kontestan lainnya.


Pamrih puncak sebagai blogger, syukur-syukur kalau saya bisa mengikuti proses API-4 itu hingga Jakarta. Sehingga bisa berinteraksi secara lebih intensif dengan para comedian wannabe dari pelbagai kota tanah air. Kemudian bisa menuliskannya di sini.

Beberapa hari sebelum berangkat ke Yogya, saya telah mencari bahan awal tulisan dengan mengirim email ke alumnus API, yaitu Isa Wahyu dkk. dari Bajaj, Jakarta dan Jonie Hermanto dkk dari SQL, Surabaya. Saya minta apa tips dan nasehat mereka bagi para calon peserta API-4 hingga dapat menyajikan lawakan yang (lebih) baik. Keduanya sama sekali tidak membalas email saya tersebut. Mungkin “takut” ilmu lawak mereka akan dicuri ? Up date 1/2/08 : Jonie Hermanto dkk. yang konon akan meluncurkan acara Kolusi (Komedi Ilusi), baru membalas tanggal 31 Januari 2008. Thanks, Jonie.

Sementara itu untuk pamrih yang lain lagi, keinginan berinteraksi dengan para kreatif acara komedi yang berkiprah di televisi, saya sedikit-banyak justru sudah mendapatkannya. Bahkan persis sesudah saya beraksi dalam audisi. Yaitu ketika salah satu juri menegur diri saya, dan kita lanjutkan mengobrol sesudah audisi di Yogya itu usai.

Peserta audisi tunggal lainnya, Wawan, yang berambut model Gogon berkomentar bahwa dengan disapa oleh juri, katanya, saya pasti berpeluang untuk lolos ke babak berikutnya. Saya diam dan senyum-senyum saja. Dia kemudian yang lolos, tetapi diminta bergabung dengan peserta lainnya untuk membentuk kelompok baru.


Cantik, Sintal, Intelektual. Dalam mengikuti audisi saya mendapatkan nomor urut AB 042 S. Huruf AB untuk menunjukkan nomor polisi Yogya dan S, singkatan dari solo atau tunggal. Di bawah ini adalah set atau naskah komedi yang saya bawakan :

“Saya main biola, seperti saya bermain cinta.” Kata pemain biola solo yang cantik dan seksi Maylaffayza di situsnya : maylaffayza.multiply.com.

Saya menyukai Maylaffayza. Ia cantik, seksi, berbakat dan intelektual. Tetapi ketika saya ikuti kata-katanya, akibatnya fatal. Saya kesulitan cari posisi enak. Orgasme pun tidak. Biola itu rusak, berantakan semuanya.

Maylaffayza mungkin lupa, kini selebrities adalah trend-setter. Panutan gaya hidup. Bahkan politisi pun bergaya selebrities. Yusril dan Syaifullah Yusuf, mantan menteri, bermain film. Presiden SBY menelorkan album musik. Anggota DPR main video, bersama Maria Eva.

Kini memang era emasnya para pesohor, para selebrities. Pintu-pintu peluang seolah terbuka bagi mereka untuk BISA MASUK kemana saja. Bintang sinetron Rano Karno, MASUK POLITIK, terpilih jadi Wakil Bupati Tangerang. Bintang sinetron Aji Massaid MASUK Partai Demokrat, jadi anggota DPR. Bintang sinetron Roy Martin, MASUK penjara.

Menjadi selebrities juga mampu membuka pintu-pintu istana. Anissa Pohan jadi menantu Presiden SBY. Lulu Tobing jadi cucu menantu mantan Presiden Soeharto. Infotainment mengabarkan artis Revalina Temat kini dekat dengan cucu mantan Presiden Soeharto, Panji Trihatmojo.

Oh, Revalina yang malang. Apa ia tidak tahu kalau Panji Trihatmojo itu sangat membenci selebrities ? Terutama selebrities bernama Mayanksari.

Begitulah, ratusan jam tayangan infotainment setiap minggunya telah membesarkan para selebrities itu. Persaingan antarstasiun yang keras. Begitu kerasnya persaingan, awak TV kini pun mencoba inovasi-inovasi baru : tayangan infotainment dipadu info kedokteran yang canggih, intrik dan perseteruan keluarga yang sengit, dibumbui nuansa-nuansa politik. Ramuan dahsyat ini bakal terjadi bila Halimah Trihatmojo membezoek Pak Harto, ketemu Bambang Trihatmojo yang disertai Mayanksari.

Big news. Big news. Big News.


Menelantarkan Karunia. Jam 13.40 saya keluar dari “ruang neraka” itu. Saya merasa telah diwisuda menjadi komedian tunggal, dengan segala resiko yang ada. Yang penting bagi pribadi saya, kapak untuk membongkar bongkah es itu telah saya ayunkan. Saya telah mengeluarkan kata hati.

Dalam literatur mengenai panduan menjadi komedian tunggal, pertama kali muncul petunjuk semacam ini : bagilah secarik kertas dengan tiga bagian. Masing-masing bagian itu tulislah apa saja yang membuat Anda marah, cemas dan takut. Itulah sumber utama lelucon Anda. Dengan membaca set saya tadi, mungkinkah Anda dapat menentukan seperti apa atmosfir jiwa saya ketika menulis naskah tadi ? Harapan saya, mudah-mudahan set itu telah sesuai arahan penulis komedi terkenal Danny Simon yang bilang, “it doesn’t always have to be funny, it has to be interesting. ” Tidak harus selalu jenaka, tetapi haruslah menarik.

Sakitnya toh tetaplah ada. Saya bukan robot. Manusiawi. Karena saya sekali pun tidak memperoleh tawa. Baik dari ketiga juri, belasan audiens, juga calon kontestan nomor berikutnya yang ikut antri saat itu. Justru mereka semua nampak tegang. Duh. Nilai nol bagi saya untuk komedi. Mungkin dalam situasi semacam itu saya lebih cocok sebagai militer. Karena tidak mampu menciptakan atmosfir santai.

Hanya di bagian akhir, juri paling kanan dan kemudian menegur saya itu nampak senyum-senyum kecil. Saya berkesimpulan, saya telah tamat, gagal, selesai, gepeng, lumat, hancur lebur, karena kejatuhan bomb yang besar di Yogya siang itu. Tetapi saya tidak sendirian. Dari nomor urut yang saya pantau, ada sekitar 100-an peserta audisi saat itu, dan sebagian besar akan tereliminasi, bukan ?

Photobucket

Setelah Tereliminasi, Mau Apa Lagi ? Dari kiri, saya, Imran Pratama dan Mubarok dari Kelompok Mur, sama-sama dari Magelang. Kapan kita bisa bertemu lagi sebagai pelaku dunia komedi ?


Muncul usikan pertanyaan : sesudah tereliminasi, apakah mereka akan tetap menekuni karunia Allah, yaitu bakat-bakat dan keinginan menjadi pelawak, yang telah ada pada setiap diri peserta audisi itu ? Atau lalu menelantarkannya ? Lalu kemana pula mereka yang telah berhasil memasuki GrenPinal API-API sebelumnya, tetapi tak ada kabarnya sama sekali dewasa ini ?

Sambil menunggu empat jam saat akan diumumkan peserta yang lolos ke final, saya tiduran di lantai, emperan gedung sebelah selatan tempat audisi. Membuat catatan. Membaca-baca buku. Sebelumnya, sesekali saya menemui peserta audisi lainnya, bertukar kartu nama. Sayang, sebagian besar mereka belum bersiap untuk “menjual diri,” karena tidak memiliki kartu nama. Kelompok Presto Semarang, memiliki stiker.

Dalam gerombolan calon pelawak itu saya temui beberapa anak muda pria yang berpakaian sebagai banci atau perempuan dengan pakaian seksi. Pemuda dengan tubuh-tubuh gendut. Kelompok lain berpakaian hansip, atau bersarung dengan kopiah menyilang model Kabayan, sampai berkostum pemain sepak bola.


Untuk membunuh waktu, saya meneruskan membaca bukunya Chris Anderson, The Long Tail (2007) yang saya bawa dari rumah. Subjek ini sebelumnya telah saya baca di majalah Wired (2004), majalah gaya hidup Internet yang menjadi favorit sejak tahun 90-an.

Saat membaca-baca itu, sempat terlintas di pikiran : lawakan solo yang bertema politik, cocok kah untuk TPI dan TV-TV lainnya di Indonesia ? Juga, oh, di audisi tadi saya rupanya telah menggigit kaki Goliath. Saya telah melucukan ulah kerabat keluarga Cendana, sementara bukankah TPI itu milik mereka juga ?

Pertanyaan lain muncul : dengan penyelenggaraan API sampai keempat ini, lalu diapakan data para calon pelawak yang telah dihimpun oleh TPI selama ini ? TPI sebagai lembaga komersial, memang sulit diharapkan mereka mau mengurusi masa depan ribuan calon pelawak yang sebagian besar tereliminasi itu. Pendekatan semacam itu juga terungkap dari isi bukunya Chris Anderson (lihat grafis di bawah), di mana TPI hanya berminat berurusan dengan head (kepala, merah) dan membiarkan tail (buntut, kuning) yang panjang itu.

Dalam bahasanya Anderson, TPI melaksanakan API berlandaskan prinsip hit-driven economics, ekonomi pembuat hit, dengan memfokuskan bisnisnya hanya menggarap calon-calon pelawak yang menurut mereka potensial untuk dijual. Ekonomi pembuat hit merupakan kreasi di mana tidak cukup ruang untuk menampung segala hal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan setiap orang pula.

Rinciannya : tidak cukup ruang di rak-rak toko untuk mampu menampung semua CD, DVD atau games yang diproduksi. Tidak cukup layar bioskop untuk menayangkan semua film yang ada. Tidak cukup saluran untuk menyiarkan semua acara televisi yang ada. Tidak cukup pula gelombang radio untuk mengudarakan seluruh ciptaan musik yang ada, dan tidak cukup jam setiap harinya bagi kita untuk menyapu semuanya itu di pelbagai slot-slot yang tersedia.

Itulah potret diri dunia kelangkaan, the world of scarcity. Dewasa ini, berkat Internet yang membuka distribusi dan eceran secara online, kita memasuki jaman limpah ruah, a world of abundance. Dan perbedaannya sangatlah dahsyat.

Photobucket

Peluang Besar Terbuka : Berkarier Komedi Secara Indie. Internet membuka jalan baru untuk berkarir sebagai komedian. Kalau TPI membuka pintu hanya di bagian kepala (merah), maka Internet terbuka untuk dieskploitasi secara lebih tak terbatas, di bagian ekor (kuning) yang teramat panjangnya.Beranikah kita ?


Chris Anderson menunjukkan bahwa masa depan dunia bisnis bukan bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala (head), bagian paling tebal dalam kurva permintaan tradisional. Melainkan pada produk-produk yang sampai belum lama ini dianggap gagal atau sampah, yaitu produk-produk di bagian ekor panjang (the long tail) yang tak ada habisnya, pada kurva yang sama.

Dalam bahasa industri musik, bagian kepala adalah ranahnya major label dan bagian buntut merupakan lahan kiprahnya kaum indie, kaum yang berkarya sesuai kata hati mereka. Dan tidak sedikit dari mereka yang menuai sukses besar pula.

Perbedaan dan gambaran bisnis masa depan itu rupanya masih berada di luar jangkauan TPI. Bisa dimaklumi. Implementasi filosofi ekonomi pembuat hit dalam program komedi yang mereka kukuhi, misalnya jelas dicerminkan dalam formulir pendaftaran API-4. Para calon peserta pagi-pagi digiring untuk memilih gaya lawakan tertentu : apa seperti Warkop, Srimulat, Bagito, Patrio, Cagur, Taufik Savalas, SOS, Bajaj dan Lainnya. Kita ingat, itulah sebagian besar nama-nama kelompok lawak mainstream kita yang mainnya secara keroyokan. Dan jujur saja, bisakah kita membedakan karakter atau comedy signature yang khas antara satu dengan lainnya ?

Pencantuman nama-nama itu semata memudahkan untuk seleksi. Tetapi mungkin dilupakan, hal itu jelas membatasi imajinasi calon peserta audisi. Mereka cenderung mengira, gaya-gaya lawakan kelompok di atas yang dikehendaki oleh juri, lalu mereka mencoba menyesuaikannya. Buntutnya, sikap kompromistis senantiasa membunuh kreativitas, melumpuhkan orisinalitas, dan itu penyakit lama dunia komedi kita selama ini. Dalam API-3 yang lalu ada peserta yang bergaya model Kang Ibing atau Jim Carrey, merupakan bukti kuat akan hal itu.

Sekadar contoh kasus lain. Dalam audisi API-4 di Bandung, Beni, seorang juri mengatakan bahwa masih banyak peserta yang memasukkan guyonan atau lawakan khas Sunda. "Parahnya lawakan tersebut sudah banyak dilakukan oleh para senior mereka dan kami anggap basi," ujarnya. Menurut Beni, pemirsa TPI bukan hanya orang Sunda dan mengerti bahasa Sunda. Oleh karenanya, mereka yang dipilih adalah grup atau peserta yang lawakannya menggunakan bahasa Sunda, tetapi benar-benar masih orisinal.

Photobucket

Menunggu Inovasi TPI. Harris Cinnamon, Eksekutif Produser TPI, sedang memberikan bekal kepada kontestan. Ia antara lain berpesan agar kontestan membuat lawakan yang beda. Maukah TPI melakukan hal yang juga berbeda, mendayagunakan pangkalan data calon komedian yang mereka himpun untuk mendidik mereka ?


Dalam tesisnya Anderson, para pelawak khas Sunda itu, juga ribuan anak muda yang ingin terjun sebagai pelawak dan gagal di API, sebenarnya bakat-bakat dan kemampuan mereka tidak selayaknya ditelantarkan. TPI kini memiliki pangkalan data mereka, dan sangatlah ditunggu eksploitasi positif dari TPI untuk masa depan mereka.

Misalkan membuat newsletter, berisi tips dan panduan berkomedi untuk televisi, untuk mereka. Baik materinya ditulis pengelola acara komedi TPI, alumnus GrenPinal API, atau akademisi dan pemerhati dunia komedi lainnya. Mungkin TPI dapat mengambil sedikit peran yang seharusnya milik PASKI, organisasi profesi kaum komediwan yang lumpuh, loyo dan impoten begitu diresmikan.

Menurut hemat saya, berkat ilham buku hebat di atas, bagi mereka dan Anda yang gagal di audisi tetapi bertekad baja ingin serius ingin berkomedi, seharusnya tidak lalu menjadi putus nyali. Kreasi Anda masih dapat tertampung dan terasah secara indie, dengan terjun ke dalam “buntut panjang”-nya Chris Anderson itu. Buntut itu merupakan dunia melimpah-ruah di Internet, yang mampu menampung kreasi apa saja dari Anda.

Dengan mengelola situs video sharing YouTube, yang gratisan, bermodalkan naskah dan handycam, mereka dapat memproduksi acara komedinya sendiri. Ibarat memiliki sendiri acara televisi yang mandiri, untuk mampu langsung menyapa dunia. Hadirlah dahulu, daripada hilang sama sekali dan sulit dilacak. Sebab bila memang bagus maka dunia televisi tradisional pasti juga suatu saat memperhatikan kreasi komedi Anda. Bukunya Anderson kaya dengan contoh-contoh yang inspiratif mengenai keberhasilan aksi bergaya indie semacam itu yang dapat Anda teladani.

Photobucket

Saya Beraksi, Ditegur Juri. Usai beraksi, saya ditegur oleh juri (membelakangi lensa). Sungguh suatu kejutan, juri itu telah mengenalku dan aku malah belum tahu. Siapakah dia ? Rahasia terbuka setelah audisi usai. Internet masih saja memberikan kejutan padaku.

Sekitar jam 15.03, juri yang menegur saya tadi, menemui saya. “Assalamualaikum,” tegurnya kali ini. Kalau teguran dia sesudah saya beraksi tadi adalah, “Apakah Anda Mas Bambang yang mengelola blog Komedikus Erektus ?” Tentu saya jawab : “Ya.” Lalu saya teruskan. “Dalam komedi, ada ilmu air dan ilmu madu. Ilmu air adalah teori, seperti yang saya tulis di blog saya, dan ilmu madu adalah milik Anda, praktisi dunia komedi. Saya kesini ingin belajar dari Anda.”

Juri yang menegur saya dua kali itu kemudian mengenalkan diri : Ade Tao. Ia memiliki kelompok lawak Decaer Group. Saya terkaget. Ia adalah teman yang saya kenal melalui Internet, melalui blog ini pula. Kita pernah mengobrolkan cita-citanya yang ingin terjun sebagai komedian solo juga. Ade Sofyan Intan, nama lengkapnya, bersama kelompok “69” termasuk 16 besar GrenPinal API I/2005. Satu angkatan dengan SOS dan Bajaj, Ade sudah banyak berpentas dengan pelbagai personil lawak Jakarta lainnya.

Kita hanya sempat mengobrol sebentar. Tetapi saya ingat kata-katanya saat itu bahwa “dunia komedi adalah dunia yang berat” sampai ujaran filosofis bahwa “idealnya kita melawak juga dengan hati.” Terima kasih, Ade. Ia pamitan. Sayang kita tak sempat berfoto bareng, karena Ade harus segera masuk ruang lagi, untuk rapat penjurian. Pertemuan yang aneh, tetapi menyenangkan. Up date 1/2/08 : Ade kirim SMS : “Thanks mas, tulisan Anda membawa perubahan dalam hidup dan karier saya sebagai pelawak.” Saya malah jadi bingung. Moga menjadi lebih baik ya, Ade ?


Jam 15.50 diumumkan 14 kelompok yang masuk final. Pertama lolos, nomor 017, disusul 005, 038, 046. Ketika mencapai nomor enam, mungkin karena saya terlalu GR, dan berharap, sepertinya nomor yang disebut adalah AB 042 S. Itu nomor saya. Saya sudah melakukan selebrasi, dengan melemparkan rompi saya ke udara.

Satu sosok pemuda lagi maju ke depan, menghampiri pembaca pengumuman. Saya juga mendekat, ingin memastikan. Saya dengar seseorang awak TPI yang berbadan tinggi, hitam dan berwajah Timur Tengah, sempat berucap, “tunggal.” Tetapi yang disebutkan untuk lolos kemudian kok justru nomor 052 ?

Saya tanyakan hal kekacauan penyebutan nomor itu ke Ade Tao. Ia angkat tangan. Ia bilang, “yang jadi juri enam orang.” Aku mengerti. Aku bukan hendak memprotes bahwa ia mengenal diriku dan harus memenangkanku, tetapi untuk mencari tahu kejelasan nomor kontestan yang lolos. Saat itu mungkin Ade juga tidak begitu memperhatikan bunyi pengumuman itu. Aku dari rumah sebenarnya bawa tape recorder, tetapi tidak saya hidupkan untuk merekam momen itu. Sori, Ade.

Pemuda yang mendekat tadi saya tanya nomornya. Ia menyebut 062. Lalu saya mencoba merekonstruksi : kalau ia dan saya merasa nomornya lolos, bukankah karena penyebutan lafal angka “EM-pat” (nomor saya) dan “EN-am” (nomor dia) hampir sama terdengar di telinga kita ? Bukankah berbeda jauh dengan lafal penyebutan “LI-ma” yang merupakan nomor yang kemudian ditentukan panitia untuk lolos ke final ?

Dunia tak bisa diputar kembali.

Yogya sore itu segera terguyur hujan deras. Ini kotaku ketika di tahun 1970-an aku pernah bersekolah di sini. Sebelum kembali ke Wonogiri, saya memutuskan pergi ke mushola, masih di komplek yang sama, untuk sholat Ashar. Aku bersyukur, karena telah menjalani salah satu hari yang terbaik dalam hidupku, di tengah proses merintis cita-cita sebagai komedian.

Apa pun hasilnya.

SMS yang aku terima kemudian juga ikut memberikan peneguhan. Di atas bis Sedya Mulya yang membawa saya kembali ke Solo, saya memperoleh SMS itu. Dari Niz, yang kedua hari ini. Mantan tercinta saya itu baru beberapa hari tiba dari rumahnya di London Tenggara dan kini berada di Aceh.

Di bumi Serambi Mekkah itu ia hendak meresmikan sekaligus menyerahkan proyek sosialnya kepada masyarakat Aceh korban tsunami. Tahun lalu, ia memberi saya oleh-oleh inspiratif, CD komedian kelahiran Mesir yang besar di California, Ahmed Ahmed, yang berjudul “I Believe I Can’t Fly.” Lawakannya antara lain mengenai perilaku diskriminatif AS terhadap warga Arab, juga Islam, pasca 11 September.

SMS Niz itu merupakan kado yang indah. Berbunyi : Im sorry you’ve lost, but never mindlah. Some other time, don’t give up. Saya ikut sedih karena kau gagal, tetapi jangan kecil hati. Kau akan berhasil suatu saat nanti, jangan menyerah.

Terima kasih, Niz.

Lirik lagu “I Have A Dream”-nya ABBA yang enam tahun lalu dinyanyikan Maylaffayza ikut menggema kembali di tengah derasnya hujan. If you see the wonder of a fairy tale, you can take the future even if you fail. Bila kau melihat keajaiban sebuah dongeng, kau akan mampu meraih masa depan, sungguh pun kau terantuk oleh kegagalan.

Sebuah pesan yang juga menawan. Optimistis. Menguatkan tekad kita semua dalam berjuang mengejar impian. Utamanya yang ingin berkiprah di ranah komedi tunggal yang medan perangnya berkarakter khas :

Bengis.
Sepi.
Keras.




Wonogiri, 26-29 Januari 2008.


ke