Showing posts with label republik mimpi. Show all posts
Showing posts with label republik mimpi. Show all posts

Wednesday, October 17, 2007

Don't Try To Be Funny !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Otak yang luka. Ketikkan sekarang “comedy writing” di mesin pencari Google. Semoga Anda masih beruntung menemukan artikel berjudul The “Seven Laws of Comedy Writing” oleh David Evans. Artikel yang menurut saya, sungguh bernas dan menarik.

Saking bersemangatnya saya untuk bisa ikut memberi andil bagi perbaikan kualitas dunia komedi Indonesia, artikel itu pernah saya kirimkan kepada warga komunitas komedi Indonesia. Tidak kepada Miing Bagito. Tidak kepada Aming atau Tora Sudiro. Tidak kepada Indro Warkop DKI. Tidak pula kepada Tukul Arwana. Apalagi Gogon atau pun Basuki. Bukan bermaksud meremehkan mereka, tetapi karena saya memang tidak memiliki data email mereka.

Saya kirimkan artikel itu kepada Effendi Gazali. Juga kepada Denny Chandra. Keduanya tidak membalas. Apalagi berkomentar tentangnya. Saya pikir, hal itu terjadi karena mereka memang sudah memiliki artikel bersangkutan. Kalau itu yang terjadi, saya bersyukur.

Dalam artikel tersebut David Evans antara lain menceritakan sosok komedian keturunan Latin, bernama Chris Fonseca. Ia kurang beruntung, karena menderita penyakit yang disebut sebagai cerebral palsy, adanya luka di otaknya. Penyakit itu pula yang membuatnya sulit berbicara dan tidak mampu meninggalkan kursi roda.

Tetapi di atas kursi roda itulah Chris Fonseca memanggungkan lawakannya. Sebagian besar leluconnya, menurut Evans, merupakan ungkapan sisi-sisi komedis hidup Chris Fonseca yang terkungkung dan tertelikung oleh jeruji keterbatasan fisiknya.

“He is wonderfully funny, because his comedy grows directly out of his own real life,” tandas David Evans bernada tulus dan sarat pujian. Chris Fonseca yang menurutnya memang bener-bener lucu abis., karena sajian komedinya tumbuh langsung dari kehidupan nyata dirinya pribadi.


Panggung pembantaian. Artikel David Evans dan kisah Chris Fonseca serasa tertayang kembali di benak saya, ketika menguping acara Seni dan Budaya Radio BBC Siaran Indonesia, Minggu Sore, 14 Oktober 2007 yang lalu. Dengan dipandu oleh reporternya, Donny Maulana, disajikan perbincangan menarik berkisar peranan klub komedi dalam sumbangsihnya terhadap perkembangan dunia komedi Indonesia. Topik satu ini seingat saya belum pernah muncul dalam perbincangan di pelbagai media mainstream Indonesia. Di harian Suara Merdeka, 19 Februari 2007, saya telah menulis topik bersangkutan.

Nara sumber yang sempat dikontak Donny Maulana untuk berbicara meliputi Ramon P. Tommybens, Dodik Hamster, Apung dan Bambang Haryanto. Sebagai orang kampung dalam belantara komedi Indonesia, saya merasa beruntung. Kalau menurut Gene Perret, penulis komedi untuk Bob Hope, saya selama ini ibaratnya mengenal dunia komedi baru terbatas sebagai “ilmu air,” hal-hal yang bersifat teori. Malam itu saya mendapatkan padanannya.

Pernyataan saya yang dikutip dalam liputan BBC itu berfokus pada topik manfaat klub komedi. Menurut saya., klub komedi merupakan fenomena urban yang selain sebagai outlet alternatif bagi penggemar komedi berkelas, terutama bagi mereka yang bosan atau muak dengan tayangan-tayangan komedi yang ada di televisi, juga sebagai wahana asah diri bagi calon-calon komedian solo Indonesia.

Kita tahu, kalau dalam tayangan komedi di televisi terlalu banyak unsur kepalsuan dan rekayasa dalam mengundang tawa, maka dalam klub komedi para komedian terjun langsung sendirian, secara head to head dengan audiens. Di pentas itu dirinya akan merasakan panasnya sambutan atau pun cemoohan penonton, dan itulah penggemblengan sejati bagi mereka. Tak ayal ini merupakan arena pembantaian yang mengerikan. Dan mungkin karena hal itulah karier komedi solo tidak nampak diminati oleh komedian Indonesia, karena mereka lebih merasa aman untuk tampil secara keroyokan.

Mungkin itulah akibat terlalu banyaknya warga komunitas komedi Indonesia yang tidak tahu kata mutiara dari seorang Judy Carter, mentor komedi terkenal. Ia bilang, komedi solo merupakan bentuk padat, intisarinya komedi. Kalau Anda faham mengenai prinsip-prinsip dasar lelucon, maka Anda akan mampu menerjemahkan keterampilan itu dalam pelbagai ranah yang beragam, apakah dalam penulisan naskah komedi, pementasan, sampai kepada pemasarannya. Karena semuanya itu terpusat pada upaya untuk menghadirkan gelak tawa.

Sokurlah, “ilmu air” saya di atas tentang komedi itu diperkaya dengan nara sumber lainnya yang mengenal “ilmu madu” dari komedi Indonesia. Karena mereka mengenalnya secara nyata. Dalam pergulatan hidupnya. Terutama untuk sosok seorang Ramon P. Tommybens.

Ia selain menulis naskah komedi untuk tayangan televisi dan pementasan, tercatat bersama Harry de Fretes mendirikan PT HdF Corporation yang di antaranya membawahi Grup Lenong Rumpi, Tegar Cipta Paramuda Film, Boim Cafe, dll Ketika itulah ia mulai membina banyak artis muda untuk produksi serial komedi yang di produserinya seperti Lenong Rumpi, Hari Harry Gila (Anteve), Hari Harry Mau (Anteve), F-2 (TPI), dll.

Bersama aktor Tio Pakusadewo dan Ryan Hidayat, Ramon juga membuat beberapa produksi sinetron dan juga menjadi pemain (aktor). Selain mencari bakat baru, melatih dan membimbing, Ramon P Tommybens juga banyak bekerja sama dalam produksi program komedinya dengan beberapa artis yang di kemudian hari menjadi terkenal seperti Tukul Arwana, Becky Tumewu, Indra Safera, Jodi, Tenny, Trio OIO, Ade Juwita, Ade Namnung, Dilla Dil, dan lain-lainnya.



Malam itu Ramon didaulat oleh BBC Siaran Indonesia terutama karena sejak tahun 1997 ia menciptakan konsep unik comedy cafe a la Indonesia dengan mendirikan Comedy Cafe Indonesia untuk pertama kalinya di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Sejak 1 Februari 2006 Comedy Cafe beroperasi di lokasi Ground Floor 06 Pasar Festival Jl. HR Rasuna Said Kuningan Jakarta.

Dodik Hamster, stage manager Comedy Café, menjelaskan bahwa kafenya disebutnya baru menciptakan suasana yang komedis untuk para pengunjungnya, termasuk juga para pengelolanya. Tetapi bila dibandingkan dengan klub komedi di AS, yang mampu melahirkan komedian solo atau stand up comedian seperti Bill Cosby, Robin Williams sampai Jim Carrey, Dodik Hamster mengakui bahwa hal itu masih terbatas sebagai cita-cita besarnya. Walau kafenya sudah berjalan selama sepuluh tahun, ia mengatakan masih menunggu-nunggu, sambil terus belajar, hingga munculnya komedian solo di Indonesia.


Tidak ada rambut Gogon. Pemilik Comedy Café, Ramon P. Tommybens, bahkan menegaskan bahwa sejumlah pelawak terkenal yang alumnus kafe atau hasil didikannya, belum bisa disebut sebagai seorang stand up comedian. Karena memang sulit menemukannya di Indonesia. “Kenapa sulit sekali di Indonesia memiliki stand up comedian walau banyak sekali yang berusaha ?,” tanyanya.

Ia menjawabnya dengan memberi ilustrasi seputar perjuangan seorang Taufik Savalas almarhum. “Dia itu minjam DVD, koleksi buku, (juga) belajar teorinya dari saya. Beberapa tahun lalu saya dengar ada Iwel (Well) yang nyoba di Gedung Kesenian tampil sendirian. Nah masalahnya, ada kesalahan. Kesalahan belajar,” tutur Ramon P. Tommybens. Menurut pendapatnya, pelawak solo Indonesia bisa segera muncul, kalau mereka belajarnya benar. Dalam rinciannya terdapat lima syarat :

1. Don’t try to be funny.
2. Don’t tell a jokes.
3. Don’t tell a story.
4. Be serious.
5. Relax.


Sebelumnya Ramon menyebut bahwa bahannya, yaitu si pelawak atau orangnya, harus pintar Cerdas. Dalam wawancara melalui telepon terkait persyaratan satu ini, kepada Donny Maulana saya memberi ilustrasi mengenai seberapa cerdas sosok komedian solo di AS. Yaitu Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Sekadar Anda tahu saja, keduanya sama-sama lulusan magna cum laude dari Universitas Harvard.

Ramon kemudian merinci sebagian dari kelima syarat di atas dengan ilustrasi menarik. Misalnya, ketika merujuk syarat yang pertama, mungkin terasa sangat antagonistik. Ia katakan, “padahal mau menjadi pelawak tetapi (kok) tidak boleh melucu ? Bahkan jangan coba-coba menjadi lucu !” Mungkin memang tidak mudah bagi kita untuk mencerna penjelasannya yang provokatif ini.

Kita simak, ketika ia mengilustrasikannya dengan merujuk sosok pelawak solo di luar negeri. Mereka itu, menurutnya, tampil seperti businessman. Hadir dengan jas rapi, memakai jam emas, pakai berlian, gayanya mewah. “Tak ada lagi yang memakai dasi pendek, celananya diangkat, kumisnya kecil atau rambutnya diapain. Engga ada lagi yang rambutnya kayak Gogon gitu,” tandasnya.


Siapa mendengar kritik Ramon ? Beberapa hari sebelum acara di radio BBC Siaran Indonesia diudarakan, saya telah menulis email ke Ramon P. Tommybens. Juga saya tembuskan kepada beberapa individu warga komunitas komedi dan pelaku industri komedi di Indonesia. Semoga mereka mendengar kritikan Ramon di atas. Saya ragu.

Karena walau pun mendengar, saya terlanjur pesimistis bahwa mereka mampu memahami rumus-rumus yang dipaparkan oleh Ramon P. Tommybens di atas. Lebih pesimistis lagi bila mampu memberinya inspirasi untuk mau belajar dan memicunya untuk berubah. Karena pemahaman komunitas komedi di Indonesia terhadap sajian komedi sepertinya sudah mengakar sebagai pertunjukan bergaya keroyokan, tidak menganggap penting otensitas diri tiap individu pelawak, dan terutama mereka baru mampu berjalan di tempat dengan prinsip selalu tampil untuk berusaha lucu.

Tayangan Republik Mimpi di MetroTV misalnya, yang diolah otak-otak terdidik dari jurusan pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, juga masih terjebak sangat tendensius ingin melucu dan melucu. Pemberian nama-nama tokohnya, seperti Jarwo Kuwat (JK) untuk memparodikan sosok Jusuf Kalla, Gus Pur untuk Gus Dur, sampai Megakarti untuk Megawati, adalah impuls kelucuan yang teramat tipis, hanya mengapung di permukaan saja.

Begitulah, lelucon atau komedi di Indonesia memang masih sibuk menggaruk-garuk impuls-impuls dangkal yang mampu memicu tawa. Juga hanya menerbitkan tawa yang dangkal pula. Suka atau tidak suka, modus operandi atau formula semacam ini yang justru merajai tayangan-tayangan komedi di layar-layar televisi kita selama ini.


Selamat tinggal televisi ! Kita kembali ke David Evans. Obat atau antidote bagi nafsu mencoba melucu dan tampil lucu, barangkali bisa kita temukan pada pernyataannya berikut ini : “Saya percaya adanya kekuatan dahsyat ketika Anda memiliki kejujuran dalam visi komedi Anda, yang dipadukan dengan inspirasi komedi yang bersumberkan pada diri individu Anda.”

Inspirasi komedi itu bisa hadir secara wadag, misalnya kekurangan fisik seorang Chris Fonseca. Tetapi bisa juga lebih halus keberadaannya. Bagi saya, kejujuran seperti yang ia syaratkan masih hal langka bagi komedian Indonesia dalam mengkonstruksi lawakan-lawakan mereka.

Speak your truth. You can say what you think an audience wants to hear, and they may think you're funny, but you won't pioneer anything new unless you use that one thing that makes you different, your own personality.

Talk about your own fears and faults. By presenting what is most personal for yourself, you actually touch a common chord among more people. You can illuminate what it means to be human, and bring more humanity out of yourself and others. And that's what great stand-up is all about.


Kuncinya, sekali lagi, tengoklah diri Anda sendiri. Lalu perhatikan orang-orang di sekitar hidup Anda. Orang-orang, absurditas dan kebodohan dari kehidupan nyata merupakan sumber inspirasi komedi yang paling kaya. Mengingat tingginya nilai keaslian, ia anjurkan kepada para calon komedian untuk tidak menonton televisi. Tegas David Evans : “Jangan berbelanja inspirasi atau model komedi Anda dari televisi !”

Sebagai calon komedian, mungkin sudah saatnya Anda mau menyiksa diri dengan mengoreksi secara total kesalahan belajar komedi Anda selama ini. Termasuk untuk berkata dan bertindak : Selamat tinggal Empat Mata. Selamat tinggal, Republik Mimpi. Selamat tinggal, ExtraVaganza. Kalau tidak, mungkin Anda sebenarnya sudah mengidap cerebral palsy, tanpa Anda sadari.

Dalam konteks seperti ini mungkin saya, yang tinggal di kampung ini, agak-agak boleh disebut sebagai beruntung. Karena saya memang tidak memiliki pesawat televisi.



Wonogiri, 14-17 Oktober 2007


ke

Thursday, August 23, 2007

WC Kampus dan Mahasiswa Dalam Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Badut-badut Kampus. Aksi pelawak ternyata bisa juga menjadi motivator tim bola basket. Itulah yang terjadi pada diri Devin O’Connor, mahasiswa senior dari Jurusan Teater Penn State University, AS. Seperti dikutip oleh Megan McKenna dalam situs universitas tersebut, The Collegian, si Devin O’Connor itu selalu hadir dalam pertandingan basket di kampusnya dengan memakai kostum yang aneh-aneh.

“Awalnya hanya untuk lucu-lucuan, tetapi kemudian dirinya menjadi pemandu sorak tidak resmi dari tim universitas kami karena ia mampu menggairahkan suasana pertandingan,” tutur Kevin Scheler, teman Devin, yang mahasiswa Kinesiologi.

Mahasiswa lain, Jason Yanushonis, dari Jurusan Finance dan teman Devin di SMA menimpali bahwa O'Connor mampu membawakan selera humornya yang energetik kemana pun ia berada. “Anda tak dapat menduga apa yang akan meletup dari dirinya,” tegasnya. “Ia adalah sosok yang semua orang menginginkan dirinya hadir dalam pesta mereka, karena O’Connor mampu membuat suasana pesta menjadi berbeda.”

Badut sejak SMA itu kini memantapkan diri sebagai komedian mahasiswa yang berprospek cerah. Ia telah manggung di Universitas Yale dan Pittsburg, dan juga tampil sebagai pemenang dalam kontes Comic Strip Live Comic of the Month Contest di New York. “Saya suka kampus karena tipe komedi saya cocok dan terkait erat dengan situasi kampus,” jelas O’Connor.

Simak juga cerita Susan Johnston tentang Alison Block, cewek mahasiswa tingkat pascasarjana jurnalistik di Universitas Duke. Siangnya kuliah dan kalau malam manggung sebagai komedian. Digambarkan betapa Alison sehari-harinya senantiasa memasang antena otaknya, peka menguping ucapan atau pun situasi sekelilingnya yang mampu memicu imjinasi dan diolahnya menjadi lelucon. Selain menulis leluconnya sendiri, memanggungkannya, ia juga menyanyi, menulis fiksi, skenario dan juga menulis lagu. “Utamanya aktivitas yang tidak menghasilkan uang,” candanya. Tetapi jelas teramat vital bagi dirinya, karena akan mengasah tajam pisau intelektualitasnya.

Bagaimana potret aktual dunia komedi mahasiswa kita ?

Di negeri kita ini pasti akan mudah kita ketemukan badut-badut mahasiswa yang suka membuat ulah lucu atau sok lucu di pelbagai kampus. Mungkin mereka beraksi di dalam kelas saat kuliah atau berani naik panggung-panggung hiburan internal kampus mereka masing-masing. Tetapi di tingkat nasional, di mana kini hidung para pelawak mahasiswa semacam Devin O’Connor atau Alison Block di atas ? Bagimana kalau pertanyaan ini dilontarkan kepada Effendi Gazali ?

Kira-kira, mampukah ia menjawabnya ?

Jawaban telak dan tak terduga-duga, sekaligus mungkin benar, mungkin justru muncrat dari sinyalemen tajam dan sarkastis yang pernah dilontarkan oleh almarhum Sudjoko. Beliau adalah budayawan, ahli bahasa dan guru besar Seni Rupa dari ITB Bandung.

Kebetulan adik saya, Basnendar Heriprilosadoso, saat ini sedang menempuh pascasarjana di Seni Rupa ITB. Ia mengajar di ISI Surakarta, seorang kartunis dan desainer logo, di mana salah satu karya puncaknya adalah logo Galeri Nasional di bilangan Gambir Jakarta Pusat. Ketika merujuk sinyalemen Pak Djoko di atas ia telah saya titipi pesan yang mungkin rada aneh : untuk memotret coreng-moreng yang ada di tembok-tembok WC kampus ITB. Karena di lokasi inilah kejeniusan mahasiswa Indonesia, utamanya mahasiswa ITB, mampu terekspresikan dalam kualitas puncak, sehingga mampu mengundang bahak dan menarik perhatian Pak Djoko itu.


Bawa Pulang Alya Rohali. Di atas saya telah mencoba bertanya kepada Effendi Gazali (EG). Mengapa ? Karena ia seorang doktor dan pengajar di Universitas Indonesia. Seorang intelektual di bidang komunikasi dan menurut penuturan teman dunia maya saya, Ira Lathief, saat menulis buku Kumis Lele Rezeki Arwana dan meminta endorser untuk bukunya itu, tokoh “Dik Pendi” dari Republik Mimpi (RM) tersebut telah menuliskan di bawah namanya, sebuah gelar keren : stand-up comedian.

Di acara Republik Mimpi itu dirinya mendapatkan mitra Iwel Well, yang kebetulan sama-sama berasal dari Sumatra Barat. Tokoh dengan peran redundant di Republik Mimpi ini suka EG promosikan sebagai stand-up comedian pertama di Indonesia. Lucunya, di acara Republik Mimpi itu keduanya selalu nampak hanya berposisi sebagai sit-down (sekaligus sitting duck ?) comedian belaka. Masih muda sekaligus berjulukan the most eligible bachelor tetapi tak mampu “berdiri,” bukankah ini sebuah bencana ke-manusia-an ?

Lupakan lelucon low comedy itu. Saya ingin bertanya juga karena Effendi Gazali adalah kreator acara Republik Mimpi yang selalu menghadirkan para mahasiswa. Mereka hadir berombongan dengan selalu mengenakan jaket alma mater dan bahkan bersama dosen-dosen mereka, dalam siaran langsungnya. Selain acara Republik Mimpi, silakan Anda daftar sendiri acara-acara di televisi yang kurang lebih memiliki genre serupa yang menghadirkan para mahasiswa sebagai audiens dalam acara televisi mereka. Pertanyaan lanjut saya : apakah hanya pantas sebagai audiens acara komedi di televisi sajakah yang bisa diperankan oleh mahasiswa kita sekarang ini ?

Kalau jawabannya memang benar, maka saya mudah teringat pernyataan seorang Robin Day (1923 – ), broadcaster Inggris, yang berkata bahwa televisi itu subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Televisi menyentuh emosi daripada intelek. Apakah acara komedi di televisi kita hanya menjadi etalase ketidaknalaran dan ketidakintelektualan insan-insan cendekia kita ? Pengalaman pribadi saya ketiksa bersentuhan dengan televisi kira-kira memang menegaskan hal-hal miring seperti itu.

“Bawa Pulang Alya Rohali !” adalah tagline yang saya buat ketika mengikuti acara kuis Siapa Berani ? di stasiun televisi Indosiar, 12 Maret 2002. Slogan itu tertulis di kaos dan juga mencuat sebagai lirik lagu yang kami bawakan, sebagai ekspresi kontingen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI), organisasi payung suporter sepakbola Indonesia yang turut saya bidani kelahirannya. Regu lainnya adalah kelompok suporter Aremania (Arema Malang), The Jakmania (Persija Jakarta), Pasoepati (Pelita Solo) dan Viking (Persib Bandung).

Helmy Yahya, kreator acara kuis keroyokan itu, di koran The Jakarta Post bilang bahwa acaranya yang ia pandu bersama Alya Rohali dan diikuti para penggila sepakbola ini merupakan salah satu yang terbaik. Tetapi sekaligus paling tercoreng, karena seusai kuis terjadi keributan parah, perkelahian antara dua kelompok suporter yang secara tradisional telah lama berseteru. Bahkan kemudian diikuti insiden penganiayaan berat saat itu.

Potret yang ingin saya garis bawahi ketika mengikuti kuis itu adalah suasana yang khas televisi : kentalnya rekayasa agar semua hal yang tersaji di layar nampak meriah, heboh, ceria, menggembirakan. Ketika Anda dan kawan-kawan nampak melempem, maka akan ada petugas televisi yang berusaha “membakar” Anda untuk kembali bergairah. Bagaimana kalau teknik rekayasa semacam ini juga dicangkokkan dalam acara komedi di televisi ?


Komedi-komedi kita yang sesat. Rekayasa yang sangat kental itulah yang sekarang tersaji dalam acara komedi di televisi kita. Saya mendapatkan pencerahan akan bahaya rekayasa tersebut dari teman diskusi saya di dunia maya, Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati. Dalam emailnya (20/7/2007) Isman menulis :

“Pada dasarnya, kalau kita sekadar mengandalkan umpan balik penonton untuk menilai apakah komedi itu baik atau buruk, kita akan tersesat. Seperti menanyakan jalan keluar kota kepada orang yang tidak pernah keluar rumah. Extravaganza (acara komedi sketsa di TransTV-BH) masih terjebak pada hal itu. Karena ditayangkan di hadapan penonton asli, hal yang memancing gelak tawa penonton di panggung dianggap (sebagai) formula keberhasilan.

Padahal seperti diamati produser Chuck Barris (yang menciptakan Gong Show dan The Dating Game), perilaku penonton panggung dan penonton TV jauh berbeda. Saya menunggu sketsa komedi Indonesia yang dimainkan tanpa penonton. Seperti yang dirintis Monty Python. Atau jangan-jangan untuk itu harus seperti kru Monty Python sendiri, terdiri dari lulusan universitas dan magister dulu? “

Isman mungkin harus rela menunggu waktu yang teramat panjang agar harapannya yang positif dan ideal itu bisa direalisasikan. Karena para mahasiswa kita yang entah kena suntik borax, formalin atau dicekoki nitrous oxide atau laughing gas, nyatanya lontaran kalimat yang selalu berulang seperti “gitu saja kok repot” atau “piss, man” ternyata sudah mampu menggelegarkan tawa kompak mereka saat menjadi bagian siaran di televisi.

Begitulah kiranya, televisi itu memang subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Begitulah, televisi menyentuh emosi daripada intelek. Termasuk intelektual para mahasiswa kita yang kemudian seperti tumpul karenanya. Kita tunggu saja Isman, siapa tahu sesudah mereka lulus dan juga menempuh magister, akan mampu mendongkrak selera humor mereka jadi lebih meningkat. Walau jangan terlalu optimistis.


Kembali ke Prof. Sudjoko almarhum.

Ketika mengikuti kontes Mandom Resolution Award 2004, saya berkenalan dengan peserta lain, seorang desainer produk, Bambang Kartono Kurniawan (BKK). Asal Jepara. Sambil ngobrol di kamarnya, di Hotel Borobudur, sebelum kami menghadapi dewan juri Sarlito Wirawan Sarwono, Tika Bisono dan Maria Hartiningsih, saya baru tahu dirinya masih memiliki hubungan keluarga dengan Dr. Sudjoko dari ITB itu. Ketika beliau meninggal dunia, saya mendapatkan tembusan isi milis dari BKK yang ditulis para mantan mahasiswanya. Salah satu milis itu ditulis Susiawan (Toronto, Canada), tertanggal 27 Agustus 2006. Isinya antara lain :

Pak Djoko memang suka tak suka harus mengarus dari tanah seberang, namun ketika beliau sudah kukuh sebagai pengajar senior di SR-ITB, saya pribadi sebagai mahasiswa 'bengal saat itu (terutama di periode 1978-1982an) merasakan bahwa beliaulah satu-satunya dosen yang selalu lantang mengkritisi kualitas pendidikan dan sikap mahasiswa-mahasiswanya. Tentu saja beliau disegani bahkan ditakuti banyak mahasiswanya, tapi tak termasuk saya. Setelah beliau, Alm. Prof.Mochtar Apin dan Alm. Dr.Sanento Yuliman merupakan mentor-mentor terbaik saya. Sewaktu saya menjabat Presiden KMSR…pernah terlibat diskusi, ‘ini diskusi antara Susiawan dan Sudjoko, titik !’ tandasnya serius.

Bahkan dengan beliau, kami sempat membahas coretan-coretan iseng mahasiswa-mahasiswa di kamar kecil SR-ITB. Yang mengesankan ketika beliau secara khusus mengkritisi coretan mahasiswa yang berbunyi "Merdeka tapi bingung", "Lapar menyebabkan Perang, Perang menyebabkan Kelaparan", lalu ada yang menjawab "Lapar dan Perang dibuat-buat !" Ditimpa dengan coretan "Siapa dong yang kenyang ?". Ha ha ha ha...menggelikan sekali, kadang-kadang saya terbahak-bahak sambil kencing !

Beliau heran, setiap tembok WC itu diputihkan kembali, esoknya tumbuh coretan-coretan lagi hingga penuh ! Beberapa teman sampai-sampai ketagihan ke WC hanya ingin baca 'pemikiran-pemikiran baru' itu. "Ada yang baru nggak ?" Bahkan di 'edisi 1978' tembok WC itu penuh coretan-coretan yang politis.

Dilain pihak, pak Djoko heran dan bertanya-tanya dengan sinis "Mengapa WC itu penuh dengan coretan-coretan yang kadang sangat cerdas atau filosofis, tapi rata-rata tulisan mahasiswa di skripsi mereka kosong gagasan-gagasan baru ?" "Kalau diformalisir mereka jadi 'gagu', tapi kalau 'lepas pengawasan' justru banyak yang menunjukkan kualitasnya," tambahnya. Itu kata-kata beliau yang tak mudah saya lupakan. Entah, mengapa beliau menyempatkan diri ke WC mahasiswa sambil baca 'buku tembok itu ?

Terima kasih, Mas Susiawan.
Selamat jalan, Pak Djoko.

Kalau saja saya tinggal di Bandung, rasanya saya akan ikut kepingin menikmati isi “buku tembok” WC kampus ITB saat itu. Adik saya juga belum mengirimkan hasil pemotretannya. Ataukah mungkin tembok WC ITB itu kini sudah diputihkan sehingga steril dengan gagasan-gagasan baru ?

Saya yakin, isi tembok WC yang dilukiskan oleh Susiawan itu jauh lebih inspiratif dan humoristis daripada lelucon yang membuat gerombolan demi gerombolan mahasiswa kita ibarat useful idiot yang gagu isi kepalanya, yang bangga memakai jaket alma maternya, tetapi riuh rendah tertawa-tawa hanya dicekoki sajian low comedy yang mekanistis, repetitif sekaligus dangkal, di pelbagai acara televisi kita selama ini.

Tanya kenapa !



Wonogiri, 12/8-9/9/2007


ke