Showing posts with label harris cinnamon. Show all posts
Showing posts with label harris cinnamon. Show all posts

Sunday, April 04, 2010

Ketika Marylin Monroe Bangkit Dari Kubur

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pohon PHK. Angka indeks stres sesudah meninggalnya pasangan hidup, 100. Perceraian, 73. Pensiun, 45. Pindah pekerjaan, 36. Pindah jabatan, 29.

Akhir tahun 2001, saya memiliki indeks stres di bawah angka meninggalnya pasangan hidup dan perceraian. Indeks saya 47. Saat itu saya baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja pada suatu perusahaan Internet di Jakarta.

Amplop berisi surat pemberitahuan PHK itu saya baca di sebuah bangku kayu, di bawah pohon kecil, di pinggiran jalan Kebon Sirih, Jakarta.Sore hari. Antara sikap menerima dan ingkar, campur aduk. Tetapi begitu semakin menjauh dari lokasi itu,dan melalui proses self-talk yang intensif, akhirnya rasa sakit dan marah itu akhirnya bisa reda juga.

Kira-kira setahun kemudian, saya datangi kembali bangku kayu dan tanaman kecil yang menjadi saksi saat saya kehilangan pekerjaan di Jakarta itu. Rumus dari Nora Ephron, sutradara film komedi romantis Sleepless in Seattle (1993), benar adanya.

Tragedi + waktu = komedi.

Sejarah serupa rupanya berulang lagi. Kali ini di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Di gedung tersebut pada hari Sabtu, 26 Januari 2008, saya tereliminasi sejak awal ketika ikut Audisi Pelawak TPI ke-4 (API-4). Kemarin, 2 April 2010, saya bisa kembali ke gedung yang sama, dalam suasana yang hampir sama. Tetapi membawa perspektif yang berbeda.


Gundah gulana saya akibat kegagalan dua tahun itu kiranya pantas menjadi bahan tertawaan. Senyatanya, karena cengkeraman perasaan egosentris memang sering membuat kita, tak terasa, mudah tergoda memberi harga terlalu tinggi bagi diri sendiri. Akibatnya, cedera atau terbarut sedikit saja sering membuat kita merasa betapa dunia terancam kiamat. Kecongkakan semacam itu, sekali lagi, memang pantas untuk menjadi bahan tertawaan.

Diam-diam, buah dari kesadaran semacam itu adalah berkah. Kita bisa membumi kembali. Dengan bekal isi jiwa seperti itu saya memenuhi undangan sobat maya saya, Harris Cinnamon (foto, kaos hitam) dari TPI, untuk ketemuan di Yogya. Saat itu, 2-3 April 2010, TPI mengadakan audisi memilih calon penghibur dalam tajuk Piala Dunia Tawa.

Memasuki gedung itu, saya seperti sedang pulang ke rumah. Gedung ini mudah diakrabi. Tanggal 12 Oktober 2002, ketika Bali diguncang bom Amrozy dkk, adik saya menjadi pengantin di gedung ini pula. Dan ketika mencoba bertegur sapa dengan sebagian peserta audisi, sungguh mengejutkan, sebagian dari mereka adalah alumnus API-4 juga. Seingat saya, di tahun 2008 itu rasanya belum pernah berkenalan, toh hari ini sebagian mereka pernah merasa mengenal saya. Nampaknya sirkuit dunia komedi kita memang benar sebagai dunia yang sempit.

“Baru tiga,” kata Harris Cinnamon yang beringsut dari kursi jurinya, untuk menyalami saya. Saya terlambat, sehingga tiga penampil pertama terlewat dari saya. Tahun 2008 lalu, Momon (dalam hati ia saya sebut sebagai da’i rocker) yang kini rambutnya lebih pendek, memberikan pengarahan kepada para peserta audisi API-4, termasuk saya. Ia bos, saya peserta. Kini saya datang sebagai kawan. Sebagai tukang catat. Tukang lapor. Tukang cerita.

Kalau boleh diberi label sebagai gagah-gagahan, saya datang ingin juga sebagai “sejarawan” komedi Indonesia. Saya datang dengan bekal, seturut ujaran sejarawan Perancis, Ferdinand Lot, bahwa sejarawan harus memiliki empati terhadap obyek kajiannya. Karena tanpa itu tak ada wawasan yang imajinatif untuk menggali masa lampau. Idealnya lagi, menurutnya, sejarawan harus menunjukkan kemampuannya sejajar dengan apa yang dimiliki para penyair dan seniman.

lawakan drakula,kelompok sandal jepit,solo,drakula banci,piala dunia tawa tpi 2010

Rendang kerbau. Lanskap apa yang nampak ketika anak-anak muda masa kini ingin terjun dalam dunia hiburan, khususnya lawak ? Lawakan tentang drakula dan kuntilanak, masih ada. Banci-bancian, juga masih ada. Lawakan hansip, juga ada. Plesetan kata, tetap muncul lagi juga. Penampilan komedian tunggal dengan gaya bercerita, mungkin ini warisan almarhum Taufik Savalas, juga ada. Lawakan dengan menyemprotkan air dari mulut ke wajah lawan main, juga ada.

Tontonan duplikasi adegan fotonya Marilyn Monroe dengan rok tersibak, juga ada. Dibawakan oleh Sarita (2009), diceritakan bahwa bintang film dan dewi seks AS itu bangkit dari kubur, menari dan menyanyi dan lalu kembali ke liang lahat.

Walau pesertanya tidak segegap gempita API-4, di mana ruang penjurian terdapat dua dan kini hanya satu, semangat peserta untuk berlawak-lawak-ria pantas diberi tepuk tangan. “Kali ini pendekatannya rada berbeda, Bang,” tutur Harris Cinnamon, saat kami usai sholat Jumat, sebelum sesi penjurian dilanjutkan.

Kalau dalam API-4, kata Momon, yang direkrut untuk dibina adalah kelompok yang menonjol, kini yang dicari adalah individu yang istimewa. Mereka-mereka itu selanjutnya akan dilakukan pairing, pencocokan dengan individu yang lain, sehingga diharapkan hadir sinergi yang lebih saling memperkuat.Pendekatan itu yang membuat suasana audisi terasa lebih hidup. Walau juga kadang konyol.

tony tanuwijaya,nurbati,harris cinnamon,erick tamalagi,nala rinaldo,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Godfather komedi televisi Indonesia. TPI nampak serius dalam merekrut talenta-talenta baru dunia hiburan televisi di Indonesia. Mereka menerjunkan personil kunci mereka. Dari kiri : Tony Tanuwijaya, eksekutif produser, Nurbati, Harris Cinnamon, direktur kreatif, dan Erick Tamalagi, produser. Dan juga ditongkrongi oleh GM Produksi, Nala Rinaldo (tidak nampak dalam foto).



Seperti Sajimin (2006), alias Pak Min (foto, berblangkon), yang mengaku sebagai dalang cangkeman alias bermain wayang dengan instrumen mulut belaka, digojlok habis-habisan di panggung oleh para juri.

Dibuat dirinya agar terpojok, sehingga Pak Min itu mampu mengeluarkan kesaktiannya, katakanlah jeroannya secara lahir batin. Ketika ia dipaksa keluar dari sarang kosmologi Jawanya dan diminta menyanyi lagu pop, yang muncul adalah lagu tentang perempuan yang hidup dalam lumpur noda. Malah ia sempat terloncat perkataan, bahwa “istri saya juga berasal dari sana.”

Andri Balung (2018, foto) yang tampil sendirian, juga mendapat teror serupa. “Wah, pengin dadi wong kondang kok yo rekoso,” keluhnya di panggung. Ketika disodori sisir besar terbuat dari styrofoam, apa yang akan ia perbuat ? Andri menggigit pinggir sisir itu sampai somplak. Audiens di ruangan pun terbahak.

Lawakan tunggal yang merambah gagasan coba ditampilkan oleh Andika Putra (2008). Ia tampil di panggung dengan jas dan berdasi. Tetapi celananya, aneh. Separo lengkap, sewarna dengan jas, bersepatu resmi. Separo celana satunya lagi adalah celana pemain sepak bola, dan bersepatu pemain sepak bola.

“Jauh-jauh dari Padang,” katanya mengenalkan diri, dan rupanya ia sekaligus pula membawa sudut pandang budaya Ranah Minang ketika menyentil ulah para penguasa dan politisi kita. Nampak merujuk demo mahasiswa yang mengusung binatang kerbau beberapa waktu lalu, Andika menggertak : “Banyak penguasa kita yang seperti kerbau. Nampaknya gagah dan kuat, tetapi segera menjadi lembek ketika berubah menjadi rendang.”

Tentang pakaiannya ? “Ini cerminan ulah politikus kita. Di depan nampak bersopan-sopan, tetapi di belakang layar mereka saling main tendang, sepak-sepakan !”

rokayatun,suwanto,eko,bs,sarjoe,phh,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Lelucon yang juga bersinggungan dengan wacana politik juga diusung oleh kelompok BS, Barang Sortiran (2025, foto). Trio ini terdiri dari Rokayatun (baju oranye), Suwanto dan Eko. Sebelumnya, saya sempat mengobrol dengan mereka. Rokayatun (cowok) adalah alumnus audisi API-4 yang kelompoknya bernama PHH ikut lolos ke Jakarta.

Ia memberi saya kartu nama, dengan tajuk MC Kocak/Lawak “Sardjoe” yang siap ditanggap untuk hajatan pertemuan, seminar, acara promosi, pesta reuni sampai ulang tahun. No HP mereka yang bisa dihubungi : 085640234449.

Pada kartu nama itu juga tertera logo API-4. Tetapi ketika para juri saat itu sempat menanyakan, apakah kelompok ini “orang lama,” membuat saya tersenyum-senyum. Karena nampak trio awak BS itu menjadi sibuk berkelit, dan bagi saya ini adalah komedi pula.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya kirim sms ke Rokayatun, berkomentar bahwa penampilan mereka jauh lebih unggul dibanding peserta lain yang sempat saya tonton.

Trio BS itu membawakan lakon “Rampok,” yang tidak lain merupakan satir bagi para politisi, birokrat sampai penegak hukum kita yang korup, yang merampok uang rakyat. Sempat terlontar ketika mengenalkan anggota termuda dari trio perampok itu, dengan ujaran : “Adik saya yang terkecil ini adalah perampok yang masih berstatus honorer.”

Siang itu saya sempat menonton 22 dari 58 peserta audisi yang terdaftar siang itu. Di tengah acara, tiba-tiba saya memperoleh sms dari nomor yang asing. Ia menanyakan, apakah saya ikut dalam audisi siang itu pula. Tentu saja, saya jawab : saya tidak ikut.

Pengirim sms itu bernama Burhan, asal Sukoharjo, memperoleh nomor urut 2033. Saya keburu pulang, dan mengirim sms agar ia berhasil. Burhan menjawab antara lain : “Waduh, padahal saya belum ketemu mas loh. Ehm, kemarin saya masuk ke blognya mas. See you.”


Awal perjalanan. Kabar dari Burhan itu lumayan membuat senang. Tahun 2008 lalu, gara-gara blog ini pula, saya bisa bereuni darat dengan Ade Tao, juri saya yang sebelumnya saling ketemuan di dunia maya. Kini, dengan pelaku lain, yang pasti atas bantuan kedahsyatan Google, hal serupa rupanya terjadi lagi.

Blog ini ternyata memiliki power yang tak terduga-duga bagi saya. Mungkin karena belum banyaknya blog dengan topik komedi, akhirnya blog saya ini boleh jadi terdongkrak menjadi semacam gerbang. Gerbang itu pula yang mau tak mau harus dilirik :-( dan dilewati oleh mereka yang ingin mengenal atau pun menerjuni dunia komedi.

Melegakan, bila isinya memang mampu memberi manfaat. Walau boleh jadi terlalu sangat hiperbolik bila power semacam itu yang membuat sobat saya Effendi Gazali, setelah bermurah hati menuliskan endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya, menambahinya saat menulis sms (16/3/2010 ) kepada saya. Isinya berbunyi : “Anda tetap supervisor or guardian dunia humor Indonesia.”

Hari Minggu pagi (4/4/2010), ketika saya melakukan olah raga jalan kaki pagi di bendungan waduk Gajah Mungkur, saya mendapatkan sms lagi. Bunyinya antara lain : “Thanks atas doanya, BS lolos Jakarta bersama 2 grup lainnya.” Saya segera membalas, mengucapkan selamat dan dorongan agar mereka mampu lebih berprestasi nantinya.

Demikianlah, hari Jumat di Gedung Wanitatama Yogyakarta itu, menjadi hari yang menggembirakan bagi saya. Mereguki semangat anak-anak muda yang bergairah menerjuni karier di dunia hiburan, utamanya lawak, ibarat memperoleh tetes air dari oasis yang menyegarkan jiwa. Sebagai bekal dalam menempuh, serta melanjutkan perjalanan yang masih panjang di depan.

Ikhtiar TPI merupakan sebuah pintu yang terbuka. Pantas diberikan akolade. Tetapi bagi mereka yang mampu masuk, atau pun bagi mereka yang belum beruntung, perjalanan meraih sukses dalam komedi senantiasa akan selalu terpulang kepada masing-masing individu. Seberapa keras, tangguh dan tahan uji, dalam menempa diri mereka sendiri.

Utamanya, seperti tak bosan saya tulis dalam blog ini, adalah ikhtiar menempa diri sendiri untuk mampu menjadi pribadi atau persona yang unik, orisinal, di antara wajah-wajah komedian yang lalu lalang selama ini, di negeri ini pula.

Satu-satunya cara yang harus ditempuh agar mampu meraih status terhormat itu adalah dengan mentransformasikan masing-masing hidup mereka, untuk menjadi komedi itu sendiri. Bert Williams telah menulis : “Orang yang memiliki selera humor sejati adalah orang yang mampu menempatkan dirinya di depan para penonton dan mampu menertawakan kehidupan malangnya sendiri di depan mereka.”

Dalang cangkeman Pak Min, secara tak sengaja telah melakukannya. Tetapi seturut nasihat Bert Williams di atas, apakah ia akan berani bila harus melakukannya secara sengaja ? Berapa banyak komedian Indonesia yang berani melakukan hal yang sama ?

Bagaimana dengan Anda sendiri pula ? Kalau Anda mendapat todongan semacam ini, kira-kira berapa angka indeks stres Anda ?


Wonogiri, 3-5/4/2010


ke

Friday, September 26, 2008

Era Ekonomi Kreatif dan Wajah SDM Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner(at) yahoo.com



Komedikus interuptus. Pasuruan dan zakat lagi jadi berita hangat. Kejadian tragis dengan tewasnya 21 calon penerima zakat menjelang lebaran di rumah seorang pengusaha kaya di Pasuruan, memunculkan usikan : apa ada yang salah dari Islam ? Maksudnya, apa ada yang salah pada umat Islam dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam ? Lebih sempit lagi : mengapa niat-niat mulia itu kemudian justru menjadi bencana ?

Antara niat dan implementasi tidaklah otomatis berimpit. Niat baik belum tentu dapat diimplementasikan secara baik pula. Antar keduanya ada jarak. Umat Islam kiranya harus berkaca, betapa implementasi masih belum menjadi keterampilan alami mereka.

Barangkali itulah mengapa, seperti diwartakan Radio BBC (26/9/08) yang mengutip hasil kajian LSI, yang menyimpulkan betapa partai-partai Islam yang ribut berdebat melulu mengenai konsep jati diri tak pernah laku keras. Bahkan cenderung terus menurun, di mata konstituen sejak Pemilu 1955. Pemilih cenderung memilih partai-partai sekuler yang menjual program-program konkrit yang mampu menyejahterakan mereka.

Hasil riset tadi, hemat saya, mudah-mudahan didengar oleh mereka yang ngotot untuk menggolkan Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang kontroversial itu menjadi undang-undang. Juga belajarlah dari kasus Pasuruan, di mana betapa ajaran mulia dan niat-niat mulia, kemudian justru membuahkan bencana.

Ketika warga Bali menyuarakan penentangan hebat atas RUU APP ini, dan mengancam akan melakukan pembangkangan sipil, civil disobedience, mungkin kita dapat memperkirakan apa yang bakal terjadi bagi Indonesia di masa depan. Indonesia yang terancam gosong dan tercerai-berai ?


Misi lucu dan luhur. Syukurlah, kabar dari Pasuruan tidaklah selalu jelek melulu. Dalam ranah dunia komedi, tanah ini telah melahirkan kelompok lucu Abioso yang memenangkan kontes Audisi Pelawak TPI (API)-4 di awal tahun ini. Kalau Anda sempat menengok situs blog mereka, lalu membaca-baca secara teliti prestasi panggung mereka, mungkin Anda akan terheran.

Kelompok yang diotaki Ahmad Aminuddin (Aam, 25), Muhammad Ali Mufadhol (Ali, 25) dan Muhammad Ghufron (GeGe, 23), adalah anak-anak jebolan Pondok Pesantren Ngalah Purwosari Pasuruan. Tetapi mereka pernah manggung lawak di SMP-SMA Advent Purwodadi dan Gereja Katolik Pasuruan. Mengingatkan saya akan petualangan lucu bermisi luhur dari komedian muslim keturunan Mesir, Ahmed Ahmed bersama rabbi Yahudi yang jenaka, Bob Alper, ketika keduanya meluncurkan tur komedi “One Muslim, One Jew, One Stage : Two Very Funny Guys” di AS pasca serangan teroris 11 September 2001.

Ketika saya mengunjungi blog Abioso itu, saya pun menulis pesan. Selain berkenalan, saya ingin memperoleh cerita-cerita apa saja yang pernah mereka reguk selama menjalani API-4 tersebut. Mereka juga saya rujuk untuk membaca isi sidebar, kolom samping blog ini, yang terpasang sejak 20 Juni 2008. Dengan isi mengundang mereka, selain langsung melalui email, kepada mereka yang memiliki minat memajukan dunia komedi Indonesia.

Baik bagi sobat Effendi Gazali dkk (sebagai juri API-4), sobat Harris Cinnamon (Produser Eksekutif API-4) dan kawan-kawan di TPI, terutama para peserta audisi yang sukses menembus 12 Besar di Jakarta. Ada data yang mungkin menarik tentang profil mereka : sebagian besar personelnya lulusan setingkat SMA, 21 orang. Satu orang D-2 dan seorang mengaku mahasiswa. Hanya ada 4 orang yang mengenyam pendidikan setingkat S-1. Ada 10 orang yang tidak mencantumkan sama sekali data pendidikannya.

Seperti tertuang di blog ini, undangan obrolan tentang API-4 itu terbuka pula bagi peminat komedi lainnya. Untuk berbagi cerita, wawasan sampai harapan kepada sesama pendukung dunia komedi Indonesia. Sayang sekali bukan, bila kegiatan yang mahal itu akhirnya sama sekali tidak meninggalkan jejak di dunia maya sebagai rujukan di masa depan.

Sayang, undangan saya untuk Abioso, tak ada sambutan. Juga nama-nama terkenal di atas, mereka tidak terusik ajakan dan permohonan saya. Terima kasih, desis saya. Maka kolom samping itu, setelah terpajang selama empat bulan, akan segera saya non-aktifkan. Komedikus interuptus. Kontak-kontak komedi yang harus terputus.

Sebagai simbol lainnya, seperti Anda lihat di awal tulisan ini, nampak logo API-4 yang gosong. Untuk menggambarkan betapa harapan saya bahwa seiring peristiwa sebesar API-4 memiliki momen bagi pencinta seni komedi di Indonesia untuk bisa saling ngobrol dan berbagi info, kini rupanya harapan itu mungkin tinggal berupa abu belaka.


Mencontek turis Jepang. Aneh juga. Saya yang memiliki nomor peserta “AB 042S” (ikut audisi API-4 di Yogya, nomor urut 42, dan membawakan komedi single/tunggal) yang gagal di langkah pertama, memang kecewa. Tetapi mereka yang lebih sukses dibanding saya, mengapa mereka enggan diajak untuk berbagi cerita ?

Kegagalan itu, bagi saya, tetap merupakan berkah. Tragedi seiring berjalannya waktu adalah komedi. Gagal itu kini justru menerbitkan kenangan menawan, banyak memicu ide cerita dan pikiran-pikiran lanjutan yang kiranya bisa disumbangkan untuk komedi Indonesia. Hulu dari semua itu, tentu saja adalah kecintaan. Kecintaan untuk dunia komedi. Suka menulis. Suka mengobservasi. Suka mencatat hal-hal yang kiranya menarik dari sekitar.

Terkait hal itu ada cerita menarik tentang perilaku turis-turis Jepang. Penutur ceritanya adalah Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa turis-turis Jepang selalu membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi. Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Apa kebiasaan serupa juga berlaku untuk kalangan komedian ? “Get yourself a notebook that you keep by your bed and another, smaller one that can fit in your pocket...write down all ideas within a few minutes of thinking about them,” tegas Judy Carter, mentor komedi terkenal. Antena atau radar seorang komedian sebagai penghuni dunia kreatif memang harus dalam mode on selama dua puluh empat jam seharinya !


Dunia otak kanan. Dari ulah otak-atik materi lawakan itu, kalau ngomong dalam gambar yang lebih besar, sebenarnya dapat menjadi salah satu rel bangsa ini untuk menuju era baru, era konseptual. Seperti diungkap oleh Daniel H. Pink bahwa era pertanian dan industri telah lewat, sementara era informasi sedang menuju uzur, maka sektor-sektor yang dikembangkan oleh negara-negara maju dan sulit ditiru oleh bangsa lain adalah sektor yang lebih banyak melibatkan otak kanan manusia.

Dalam bukunya A Whole New Mind : Why Right-Brainers Will Rule the Future (2006), ia katakan bahwa dalam era konseptual yang melibatkan kreativitas, keahlian dan bakat itu mayoritas pekerjaan di masa depan (era ekonomi kreatif) akan dikuasai mereka yang menciptakan sesuatu atau mereka yang mampu berempati kepada orang lain. Sebagian besar pekerjaan itu mensyaratkan ketelatenan, rasa humor , imajinasi, orisinalitas, naluri, kegembiraan, kedekatan pribadi dan kelenturan sosial.

Gambaran kemilau tentang masa depan di era konseptual itu mungkin dapat digambarkan dari perjalanan karier seorang Rowan “Mr. Bean” Atkinson. Ia lahir tanggal 6 Januari 1955 di Consett, County Durham, Inggris. Ia seorang sarjana elektro lulusan dari Newcastle University dan meraih gelar MSc di Oxford (Queen's College). Di kampus inilah, ketika main komedi untuk klub di kampusnya, ia bertemu penulis Richard Curtis dan komposer Howard Goodall, trio kompak yang bekerjasama dalam pengembangan karier Mr. Bean berikutnya.

Bila saja Rowan Atkinson tetap berprofesi sebagai “tukang insinyur” yang banyak berkutat dengan otak kiri yang linear dan mekanistik, kita mungkin tidak akan mengenalnya. Tetapi ketika ia lebih senang memilih mengejar karier berdasarkan bakat yang ia miliki, mengembangkan secara optimal kreativitas dari ranah otak kanannya, dunia pun kini mengenalnya.

Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi kreatif. Demikian simpul artikel yang berjudul “Era Creative Economy dan SDM Berkarakter” yang ditulis Gunawan di koran Seputar Indonesia (21/3/2008). “Industri kreatif saat ini bagian penting dari perekonomian Indonesia,” bunyi pembuka berita mengenai kuliah umum Memperdag Mari Elka Pangestu di Universitas Multimedia Nusantara Jakarta (Kompas, 6/9/2008).

Sayang, lanjut Gunawan, praktik pembelajaran di sekolah (kita) menghambat kreativitas anak-anak. Merujuk pendapat ahli psikologi Universitas Harvard, Howard Gardner, sistem yang salah itu akan membunuh kreativitas anak tinggal 10 persen dari potensinya ketika mencapai usia 8 tahun. Dan bila berlangsung sampai umur 12 tahun maka potensi kreativitasnya hanya tinggal 2 persen saja. Di sekolah-sekolah Indonesia, tiap tahun berapa juta embrio calon-calon Einstein (“Imajinasi lebih hebat dibanding pengetahuan,” katanya), Picasso, Charlie Chaplin, sampai Robin Williams masa depan yang telah terbantai di dalamnya ?

Tumbuh kembangnya ekonomi kreatif juga tidak hanya terancam terjegal akibat sistem yang salah di sekolah. Novelis Ayu Utami dalam kolomnya berjudul “Bangkitnya Kelas Kreatif” (Seputar Indonesia, 14/9/2008) mengutip Richard Florida bahwa kelas (pendukung ekonomi) kreatif itu hanya bisa tumbuh bersama sikap tertentu di sebuah masyarakat. Richard Florida dalam bukunya The Rise of Creative Class (2002) kemudian mensyaratkan adanya 3 T : teknologi, talenta dan toleransi.

Menurut Ayu Utami, T yang terakhir itulah yang menyurut di negara kita akhir-akhir ini. Terutama toleransi kepada kaum minoritas. “Lihat saja bahasa kekerasan dan bahasa kebencian yang kerap disebarkan dalam dasawarsa belakangan ini,” keluhnya. Boleh jadi kita semakin khawatir : apakah api kekerasan dan kebencian yang lebih besar akan semakin menjadi-jadi kobarnya bila saja RUU Pornografi dan Pornoaksi itu akan diundangkan di negeri ini ?

Impian mengenai mekarnya ekonomi kreatif di negeri ini mungkin menjadi gosong. Tinggal hanya abu kenangan. Pasti ikut juga hangus di dalamnya ide-ide cemerlang komedi dimana melucukan dan melecehkan sering tipis batasnya, yang sebenarnya mampu mendewasakan kita sebagai bangsa.



Wonogiri, 26/9-23/10/2008


ke