Showing posts with label komedi. Show all posts
Showing posts with label komedi. Show all posts

Tuesday, December 07, 2010

Petisi Darminto, PASKI dan Mutu Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


PASKI.
Persatuan Seniman Komedi Indonesia.
Ketua Umum : Indro Warkop.
Sekretaris Jenderal : Miing Bagito.

"Jujur saja, selama periode kepengurusan mereka, saya belum melihat atau mendengar ada sesuatu yang penting dicatat, sebutlah tonggak atau jejak yang penting bagi peningkatan kualitatif SDM pelawak kita."

Penilaian di atas itu telah disampaikan oleh Darminto M Sudarmo (foto) dalam catatan di akun Facebooknya (7/12/2010) yang berjudul Menjadi Pelawak, Enak atau Tidak Enakkah?

Judul artikel itu mungkin dibuat agar provokatif bagi pembaca, walau senyatanya topik tulisannya menukik ke hal yang lebih fundamental. Karena sarat berisi gugatan dirinya tentang kondisi dunia komedi kita saat ini.

Dengan tajam mantan pemimpin redaksi majalah HumOr ini mengungkap meruyaknya pola pikir kalangan pelaku dunia komedi kita yang pada umumnya mencampuradukkan kualitas karya dengan kualitas dalam parameter dagang.

"Di dalam parameter dagang, apa yang disebut bagus, bermutu adalah yang DISUKAI atau BISA MEMUASKAN konsumen. Di sinilah paradoks itu terjadi. Silang sengkarut pendapat merebak, salah paham, saling menafikan dan mau menangnya sendiri tak terelakkan lagi," tandasnya.

Bahkan ia pun merujuk ucapan Miing misalnya : "Eh, kalau dengan begini lawakan gue udah laku, ngapain sih repot-repot mikirin yang aneh2 dan belum tentu laku."

Pesan penting lainnya yang ia gelar adalah wacana mengenai kerasnya pergulatan seniman, seniman apa pun termasuk kreator komedi, dalam proses penciptaan karya-karya yang unggul.

Ia merujuk contoh kartunis andal kita, G.M. Sudarta, di mana "di balik tiap karya kartun/karikatur yang bagus, berjejer rak-rak buku tebal yang memaksa si kartunis rajin-rajin menyimak dan menelaahnya."

Kreator memang nampak seperti perangai seekor bebek. Ia nampak tenang mengapung di permukaan air, tetapi yang di bawah permukaan terdapat ribuan ayunan gerak dua kaki yang bekerja sangat keras untuk membuat dirinya melaju.

250 Ribu Karya Lawakan. Kaki-kaki yang bekerja keras di bawah permukaan itu, bila merujuk para pelaku dunia komedi di negara maju, dapat tercermin dari beberapa pendapat mereka.

Misalnya, seorang Jerry Seinfeld punya kredo : "Menulislah sampai jari-jarimu sakit !" Mentor komedi Judy Carter selalu berseru : "Menulislah setiap kali bangun pagi, bahkan sebelum kau pergi ke belakang untuk beol atau mandi."

Bahkan sudah menjadi rumus pekerjaan, penulis komedi harus bekerja delapan jam dalam sehari !

Pentingnya drill secara spartan yang ditujukan untuk memperkuat muscle memory (myelin) itu, demikian kata Rhenald Kasali, merupakan kunci setiap insan dan juga bangsa dalam meraih keunggulan dan keberhasilan. Dunia pendidikan kita yang terlalu berat sebelah dengan menganakemaskan olah untuk memperkuat brain memory, tak lagi cukup.

Tak ayal, di manca negara terdapat sosok seorang komedian bernama Richard Lewis yang harus menyewa safe deposit box di bank. Agar koleksi 250.000 judul lelucon karyanya aman tersimpan di dalamnya !

Bagaimana komedian kita ?

Ada dua kelompok komedian terkenal, di mana untuk menulis biografi mereka sendiri saja harus menyewa penulis. Komedian yang tidak menulis itu jelas bakal tidak mampu menghayati apa yang menjadi pergulatan seorang GM Sudarta, kartunis senior Indonesia, seperti diungkap Mas Darminto di atas.

Di Indonesia memang begitulah panggungnya. Saya kutipkan lagi (karena memang sering saya kutip) ujaran Dr. Sudjoko (almarhum) dari ITB, bahwa : "Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah pelakon, orang panggung, orang tontonan. Bukan penulis, bukan sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua tidak mampu menulis."

Serigala saling cakar. Semoga gedoran dari Mas Dar ini bisa sampai ke telinga PASKI yang konon akan berkonggres.

Untuk momen penting itu saya ingin titip bisikan. Tentang ujaran seorang Patrick Bromley, pengelola blog komedi di bawah koran The New York Times. Ia berkata bahwa komedi itu komunitas, warganya guyub, saling membantu untuk meraih sukses secara bersama.

Gotong royong ternyata malah subur di Amerika Serikat sana. Contoh ekstrim : komedian muslim Amerika Serikat keturunan Mesir, Ahmed Ahmed ("bila divonis sebagai teroris Islam, saya akan dihukum DUA kali lipat," guyonnya) dan Rabbi Bob Alper yang jelas-jelas Yahudi, berkolaborasi melakukan tur lawak bareng untuk menyiarkan kerukunan beragama melalui komedi.

Semangat guyub antarkomedian kita di sini, boleh jadi dicerminkan dari kehadiran dan ketidakhadiran organisasi mereka, yaitu Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PASKI). Begitu diresmikan langsung mati suri.

Hal itu terjadi mungkin karena pola gaul antarkomedian kita yang justru masih dikerangkeng oleh hukum Hobbesian : "komedian satu merupakan serigala untuk komedian lainnya."

Tak ada guyub. Tak ada keinginan untuk saling mengedukasi satu dengan yang lainnya. Yang ada adalah rivalitas. Saling mencerca dibalik punggung masing-masing.

Akibatnya,sejak diresmikan kegiatan wajib fungsionaris PASKI yang paling menonjol adalah melakukan amal yang sangat mulia. Menengok komedian yang sakit parah dan yang meninggal dunia.

Mungkin dengan rasa sedih yang tulus, tapi mungkin juga, merujuk hukum Thomas Hobbes di atas, justru dengan rasa "bergembira" : karena telah hilang satu lagi saingan dalam membuat periuk nasi mereka bisa ngebul sehari-harinya ?


Wonogiri, 7-8 Desember 2010

ke

Thursday, May 13, 2010

Komedian Berdiri Di Bahu Raksasa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Stand on the shoulders of giants.
Berdiri di bahu raksasa.

Anda sebagai pengguna Internet, sudahkah Anda akrab dengan slogan di atas ? Kata-kata indah dan dahsyat itu merupakan slogan situs Google Scholar. Edisinya berbahasa Indonesia disebut sebagai Google Cendekia. Situs tersebut merupakan situs mesin pencari untuk menemukan karya-karya ilmiah dunia.

Anda kenal Isaac Newton (1642–1727) ? Bagi Anda yang mencandui kata-kata mutiara, mungkin tidak akan menemui kesulitan memahami bahwa slogan itu diilhami oleh kata-kata ilmuwan raksasa bidang fisika dan matematika asal Inggris tersebut.

Bagi saya, kata mutiara ini pertama kali saya dengar di tahun 1980. Dari dosen saya, almarhumah Ibu Lily Koeshartini Soemadikarta, di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ucapan beliau itu begitu membekas, sehingga setiap kali akan menulis sesuatu, ujaran Newton tersebut senantiasa berdering di kepala ini pula.

Pastinya adalah, ketika saat itu Isaac Newton sering ditanya mengapa dirinya mampu melihat jauh ke masa depan, ia menjawab dalam sepucuk surat yang ia kirimkan kepada koleganya, Robert Hooke, pada tanggal 5 Februari 1676. Ujarnya : “If I have seen further it is by standing on the shoulders of giants .” Apabila saya mampu melihat jauh ke depan karena saya berdiri di bahu para raksasa.

Raksasa yang ia maksud adalah para ilmuwan dan buah karyanya yang telah mereka sumbangkan sejak berabad-abad lalu. Himpunan ilmu pengetahuan tersebut merupakan fondasi bagi ilmuwan-ilmuwan berikutnya, dalam kiprah pencapaian-pencapaian karya ilmiah berikutnya pula.

Sebagai kalangan terpelajar, bila kita menggunakan karya-karya mereka, kita harus melakukan ritual penghormatan. Dalam ranah komunikasi ilmiah, bentuk rasa hormat dan pernyataan utang budi kepada ilmuwan-ilmuwan pendahulu itu diwujudkan berupa kutipan, rujukan, sampai daftar pustaka dalam karya ilmiah seseorang ilmuwan.

Dalam berkomunikasi di Internet, rujukan itu diwujudkan dalam bentuk hyperlink atau tautan. Merujuk pentingnya tautan ini sampai seorang konsultan bisnis di Internet, B.L. Ochman, memberikan saran, link like a crazy.

“Satu hal yang membedakan antara tulisan di blog dan di jurnalisme pohon mati (kertas) bahwa para blogger membuat tautan sedemikian luar biasa banyaknya. Tampilkan tautan yang merujuk ke blog atau situs yang Anda sebut. Tautkan dengan artikel, buku, produk, biodata, materi penjelasan dari situs lain yang Anda sebutkan pada blog Anda. Buatkan senantiasa tautan untuk informasi yang memberikan klarifikasi atau informasi latar belakang atau pun opini dari tulisan pada blog Anda,” begitu tandasnya.

Sayangnya, perilaku mulia itu justru seringkali diingkari. Atau dilecehkan. Saya pernah menulis untuk blog lain, tautan-tautan yang saya sertakan itu justru dipreteli. Itulah pola pikir kaum pendekar kertas, yang bermental kelangkaan, yang mungkin takut pembaca situsnya akan lari ke situs lain. Mereka tidak tahu bagaimana cara kerja Google, yang kehadirannya membantu siapa saja agar mampu lari ke jutaan situs-situs lainnya. Dan karena hal itu justru membuat Google menjadi kaya raya !

Dalam dunia akademisi kita, tindak pelecehan terhadap pentingnya ungkapan rasa hormat dan pernyataan utang budi kepada ilmuwan-ilmuwan pendahulu, membuat komunitas ilmuwan Indonesia tercoreng di muka dunia. Momen memalukan itu terjadi ketika seorang MZ, doktor lulusan ITB, terkuak melakukan skandal plagiasi yang kabarnya meledak seantero dunia.

Semua itu terjadi karena dirinya memperlakukan karya ilmuwan sebelumnya secara tidak semestinya. Alih-alih menunjukkan kejujuran dan rasa hormat dengan mencantumkan karya itu sebagai rujukan, tetapi dirinya justru melakukan klaim, mendakunya, sebagai karyanya sendiri. Fatal akibatnya.

Pusat humor dunia. Nasehat Newton itu merupakan perwujudan dari sikap rendah hati. Juga bermanfaat untuk mencegah pemborosan. Sekaligus memicu inovasi. Dengan mempelajari apa-apa saja yang telah dihasilkan oleh generasi sebelumnya, kita tercegah melakukan pengulangan, yang berarti mencegah pemborosan. Sehingga kemudian ilmu pengetahuan mampu bergerak terus menuju kemajuan.

Kiat universal serupa seharusnya juga berlaku untuk dunia komedi kita. Seorang blogger komedi dari kelompok suratkabar The New York Times, Patrick Bromley, telah mengudar pesan kepada mereka yang bercita-cita memilih “jalan pedang” sebagai seorang calon komedian. Nasehatnya : “Dunia sudah memiliki seorang Mitch Hedberg atau seorang Chris Rock. Anda harus membawakan sesuatu yang baru di atas meja.”

Untuk mengetahui apa saja hal-hal yang baru tersebut, seperti Anda ketika menulis skripsi, mau tak mau Anda harus melakukan riset terdahulu. Untuk mengetahui apakah topik skripsi Anda itu sudah pernah dikaji orang atau belum. Kalau sudah pernah, Anda dapat melakukan penajaman atau memfokuskan pada kajian yang berbeda. Begitulah idealnya. Tetapi tradisi ilmiah yang wajib itu dalam dunia komedi kita seringkali tidak berjalan.

Sekadar ilustrasi, di koran Kompas Jawa Tengah (21/6/2005) pernah muncul artikel berjudul “Universitas Humor.” Ringkas kata, artikel itu melambungkan klaim gagah bahwa “jurusan lawak belum dibuka di muka bumi ini,” sehingga Indonesia berpeluang menjadi proyek percontohan kajian ilmu humor di dunia.

Artikel yang lucu. Sekaligus menggaris bawahi betapa tradisi ilmiah nampaknya memang bukan, atau belum menjadi, perilaku wajib komunitas komedi kita. Kalau seorang Jay Sankey menggambarkan rata-rata komedian itu sebagai sosok yang “very insightful, highly intelligent people,” sebaliknya komedian kita justru sering nampak tidak mau (tidak mampu ?) tampil sebagai insan yang cendekia.

Silakan simak acara Democrazy di MetroTV. Silakan perhatikan kualitas celetukan para “komedian” yang menurut saya sungguh selalu tidak sepadan dengan materi yang dibicarakan oleh nara sumber dalam acara itu.

Merujuk sedikit ilustrasi itu, kita berspekulasi bahwa para pemangku kepentingan dunia komedi kita boleh jadi tidak tahu pentingnya, atau bahkan tidak tertarik sama sekali, untuk berusaha mampu “berdiri di atas bahu raksasa.” Mereka rupanya memang sudah cukup puas dengan wawasan sampai pengetahuan warisan yang mereka miliki. Puas pula untuk terus-menerus memeluk dunia kecilnya sendiri.

Sindrom dunia kecil itu yang membuat tayangan-tayangan komedi kita, utamanya di televisi-televisi, nampak tidak pernah terkait dengan problem aktual masyarakatnya. Komedian kita tidak terpanggil untuk membicarakan nasib bangsanya. Padahal, “semua komedi harus relevan,” begitu tutur Gene Perret. Nasehat luhur yang masih sia-sia. Karena komedi kita selalu saja tidak relevan adanya.

Mereka, misalnya, tidak merasa berdosa karena tidak menyuarakan jerit penderitaan para korban akibat lumpur panas di Sidoarjo. Tidak tergerak meledeki fihak yang bertanggung jawab tetapi lebih suka cuci tangan. Termasuk pula tidak hirau terhadap tuntutan keluarga korban Insiden Trisakti dan Semanggi yang kasusnya terkatung-katung belasan tahun hingga kini.

Boleh jadi, dengan meminjam tamsil dari Piramida Maslow, penyebab tidak relevannya dunia komedi kita karena mereka memang baru sibuk berurusan pada tataran terbawah dari hirarki kebutuhan manusia itu. Mereka bersibuk guna memenuhi kebutuhan sendiri untuk bertahan hidup. Kebutuhan akan makan dan minum. Kebutuhan primitif bagi diri mereka sendiri. Semata mementingkan diri sendiri. Egosentris. Me, me, and me. Seperti sikap mental pemilik akun Facebook pada tingkat pemula.

Fatal dampaknya.

Kalau seorang Patrick Bromley pernah menegaskan bahwa comedy is a community, komedi adalah paguyuban, maka jangan harap hal-hal yang guyub itu, suburnya interaksi yang rukun dan saling mendukung antarsesama komedian, mampu berkembang dalam komunitas komedi kita. Akibat belenggu pola pikir primitif itu maka yang marak adalah pola pikir Hobbesian. Homo homini lupus. Komedian yang satu merupakan serigala bagi komedian lainnya.

Sehingga entah sudah berapa kali saya ulang dan ulang lagi pernyataan ini, betapa pola pikir primitif itu pula yang membuat organisasi mereka, PaSKI (2005), langsung mati suri ketika diumumkan berdiri hingga kini.

Matinya Angsa Emas. Pendekatan untuk selalu mementingkan diri sendiri itu, boleh jadi di luar dugaan mereka, sebenarnya justru semakin mempercepat proses bunuh diri mereka pula. Sebuah ilustrasi kasar, adalah cerita tentang kelompok komedi yang pernah berjaya di tahun 80-an. Bahkan mereka mampu mencapai rekor kontrak televisi hingga satu milyar, tetapi kini tinggal sebagai catatan kaki sejarah komedi Indonesia.

Merujuk tamsil tentang sindrom angsa emas dari Stephen R. Covey, saat itu sang angsa bersangkutan, yaitu kelompok komedi tersebut, dituntut pasar, diburu-buru dan dipaksa agar selalu mampu bertelur emas. Yaitu hadirnya lawakan-lawakan yang inovatif dan lucu. Tetapi ada satu hal vital yang mereka lupakan. Angsa emas itu tidak pernah memperoleh asupan gizi yang cukup.

Kelompok komedi itu, sepertinya, tidak pernah atau tidak sungguh-sungguh men-charge isi kepalanya dengan asupan-asupan wawasan, pengetahuan sampai sumber daya kreatif yang memadai. Akibatnya, semakin hari, angsa emas itu menjadi sakit karenanya. Lawakan kelompok itu pun kemudian tidak menggigit lagi. Ketika kontrak usai, sang angsa emas itu pun secara klinis tervonis mati pula. Sebuah tragedi. Karena sukses justru menimbulkan akibat yang mematikan.

Think big !.” Itulah pendapat konglomerat flamboyan Donald Trump. Nasehat yang tulis bersama Robert T. Kiyosaki dalam buku berjudul Why We Want You to Be Rich: Two Men - One Message (2008), kiranya cocok untuk semua fihak yang ingin memperoleh sukses. Saya fikir, nasehat itu juga berlaku bagi komedian dan calon komedian Indonesia. Agar mereka mampu berpikir besar, bercita-cita besar, dan tidak semata terus berada di bawah tempurung dunia kecilnya selama ini.

Merujuk maraknya acara kontes mencari bakat di pelbagai stasiun televisi kita, hal itu semata menunjukkan betapa mereka kelaparan dan kehausan guna menemukan talenta-talenta baru dalam dunia hiburan. Termasuk talenta di bidang pengocok tawa !

Hanya saja, camkanlah hal penting ini. Mereka yang beruntung terpilih, tetapi tanpa visi dan tanpa bekal cukup untuk merevitalisasi dirinya sendiri, akan hanya bernasib sebagai seonggok kapur barus belaka. Dirinya hanya mampu bertahan sebentar, dan sesudah itu berubah menjadi gas yang lenyap di udara untuk seterusnya.

Nenek bercita-cita besar. Boleh jadi kita dapat belajar sesuatu hal dari tokoh yang satu ini. Ia lahir tahun 1934. Kini usianya 75 tahun. Janda seorang marinir itu beranak 4 dan pernah berkeliling dunia. Ia pernah pula menjadi wartawan. Tahun 1995, suaminya meninggal karena kanker. Tahun lalu, ia memutuskan untuk mengikuti ajang mencari bakat dan sebagai bekal ia pun nekad belajar komedi. Itulah : Grandma Lee.

Anda tahu, leluconnya cenderung nakal dan sensual. Salah seorang jurinya, Piers Morgan, pernah secara nakal bertanya, apakah Eyang Lee itu mempunyai cowok. Ia menjawab ya, dan cowoknya itu bernama Norbert. Lebih lanjut ia ceritakan, Norbert lebih muda dibanding dirinya. Berumur 74 tahun. Tetapi, ngocolnya lebih lanjut, “Norbert memiliki tubuh seorang pria berumur 72 tahun.”

Juri lainnya, bintang film seri Baywatch, David Hasselhoff, ikut nimbrung. Apakah Eyang Lee dan cowoknya itu berhubungan intim, begitu pertanyaan David. Eyang Lee tergelak. Menurutnya, terbatuk-batuk adalah permainan seks awal, bersin-bersin adalah permainan berikutnya, dan menyentuh siku merupakan permainan yang sebenarnya.

Sejak tampil di acara kontes itu, lulusan Otterbein College di Ohio tersebut menjadi terkenal di Amerika Serikat. Dalam usia yang sudah begitu sepuh itu toh ia juga mampu pula berpikir besar. Karena ia membawa misi luhur ketika bertarung dalam ajang "America's Got Talent" yang terkenal itu.

Grandma Lee (foto) yang mengagumkan. Ia benar-benar menjadi komedian raksasa yang berdiri di bahu raksasa, karena membawa misi yang lebih besar dibanding dirinya sendiri. Inilah cita-cita besar Grandma Lee ketika terjun dalam kontes sebagai seorang komedian :

“Berusaha menyadarkan kaum lansia bahwa tidak ada kata terlambat untuk berusaha merealisasikan impian, meraih cita-cita, dan mampu mengajak dunia untuk tertawa !”

Dengan bercita-cita besar, semua hal justru lebih mudah diraih.
Grandma Lee yang sepuh itu sudah membuktikannya !


Wonogiri, 13 Mei 2010

Sunday, April 04, 2010

Ketika Marylin Monroe Bangkit Dari Kubur

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pohon PHK. Angka indeks stres sesudah meninggalnya pasangan hidup, 100. Perceraian, 73. Pensiun, 45. Pindah pekerjaan, 36. Pindah jabatan, 29.

Akhir tahun 2001, saya memiliki indeks stres di bawah angka meninggalnya pasangan hidup dan perceraian. Indeks saya 47. Saat itu saya baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja pada suatu perusahaan Internet di Jakarta.

Amplop berisi surat pemberitahuan PHK itu saya baca di sebuah bangku kayu, di bawah pohon kecil, di pinggiran jalan Kebon Sirih, Jakarta.Sore hari. Antara sikap menerima dan ingkar, campur aduk. Tetapi begitu semakin menjauh dari lokasi itu,dan melalui proses self-talk yang intensif, akhirnya rasa sakit dan marah itu akhirnya bisa reda juga.

Kira-kira setahun kemudian, saya datangi kembali bangku kayu dan tanaman kecil yang menjadi saksi saat saya kehilangan pekerjaan di Jakarta itu. Rumus dari Nora Ephron, sutradara film komedi romantis Sleepless in Seattle (1993), benar adanya.

Tragedi + waktu = komedi.

Sejarah serupa rupanya berulang lagi. Kali ini di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Di gedung tersebut pada hari Sabtu, 26 Januari 2008, saya tereliminasi sejak awal ketika ikut Audisi Pelawak TPI ke-4 (API-4). Kemarin, 2 April 2010, saya bisa kembali ke gedung yang sama, dalam suasana yang hampir sama. Tetapi membawa perspektif yang berbeda.


Gundah gulana saya akibat kegagalan dua tahun itu kiranya pantas menjadi bahan tertawaan. Senyatanya, karena cengkeraman perasaan egosentris memang sering membuat kita, tak terasa, mudah tergoda memberi harga terlalu tinggi bagi diri sendiri. Akibatnya, cedera atau terbarut sedikit saja sering membuat kita merasa betapa dunia terancam kiamat. Kecongkakan semacam itu, sekali lagi, memang pantas untuk menjadi bahan tertawaan.

Diam-diam, buah dari kesadaran semacam itu adalah berkah. Kita bisa membumi kembali. Dengan bekal isi jiwa seperti itu saya memenuhi undangan sobat maya saya, Harris Cinnamon (foto, kaos hitam) dari TPI, untuk ketemuan di Yogya. Saat itu, 2-3 April 2010, TPI mengadakan audisi memilih calon penghibur dalam tajuk Piala Dunia Tawa.

Memasuki gedung itu, saya seperti sedang pulang ke rumah. Gedung ini mudah diakrabi. Tanggal 12 Oktober 2002, ketika Bali diguncang bom Amrozy dkk, adik saya menjadi pengantin di gedung ini pula. Dan ketika mencoba bertegur sapa dengan sebagian peserta audisi, sungguh mengejutkan, sebagian dari mereka adalah alumnus API-4 juga. Seingat saya, di tahun 2008 itu rasanya belum pernah berkenalan, toh hari ini sebagian mereka pernah merasa mengenal saya. Nampaknya sirkuit dunia komedi kita memang benar sebagai dunia yang sempit.

“Baru tiga,” kata Harris Cinnamon yang beringsut dari kursi jurinya, untuk menyalami saya. Saya terlambat, sehingga tiga penampil pertama terlewat dari saya. Tahun 2008 lalu, Momon (dalam hati ia saya sebut sebagai da’i rocker) yang kini rambutnya lebih pendek, memberikan pengarahan kepada para peserta audisi API-4, termasuk saya. Ia bos, saya peserta. Kini saya datang sebagai kawan. Sebagai tukang catat. Tukang lapor. Tukang cerita.

Kalau boleh diberi label sebagai gagah-gagahan, saya datang ingin juga sebagai “sejarawan” komedi Indonesia. Saya datang dengan bekal, seturut ujaran sejarawan Perancis, Ferdinand Lot, bahwa sejarawan harus memiliki empati terhadap obyek kajiannya. Karena tanpa itu tak ada wawasan yang imajinatif untuk menggali masa lampau. Idealnya lagi, menurutnya, sejarawan harus menunjukkan kemampuannya sejajar dengan apa yang dimiliki para penyair dan seniman.

lawakan drakula,kelompok sandal jepit,solo,drakula banci,piala dunia tawa tpi 2010

Rendang kerbau. Lanskap apa yang nampak ketika anak-anak muda masa kini ingin terjun dalam dunia hiburan, khususnya lawak ? Lawakan tentang drakula dan kuntilanak, masih ada. Banci-bancian, juga masih ada. Lawakan hansip, juga ada. Plesetan kata, tetap muncul lagi juga. Penampilan komedian tunggal dengan gaya bercerita, mungkin ini warisan almarhum Taufik Savalas, juga ada. Lawakan dengan menyemprotkan air dari mulut ke wajah lawan main, juga ada.

Tontonan duplikasi adegan fotonya Marilyn Monroe dengan rok tersibak, juga ada. Dibawakan oleh Sarita (2009), diceritakan bahwa bintang film dan dewi seks AS itu bangkit dari kubur, menari dan menyanyi dan lalu kembali ke liang lahat.

Walau pesertanya tidak segegap gempita API-4, di mana ruang penjurian terdapat dua dan kini hanya satu, semangat peserta untuk berlawak-lawak-ria pantas diberi tepuk tangan. “Kali ini pendekatannya rada berbeda, Bang,” tutur Harris Cinnamon, saat kami usai sholat Jumat, sebelum sesi penjurian dilanjutkan.

Kalau dalam API-4, kata Momon, yang direkrut untuk dibina adalah kelompok yang menonjol, kini yang dicari adalah individu yang istimewa. Mereka-mereka itu selanjutnya akan dilakukan pairing, pencocokan dengan individu yang lain, sehingga diharapkan hadir sinergi yang lebih saling memperkuat.Pendekatan itu yang membuat suasana audisi terasa lebih hidup. Walau juga kadang konyol.

tony tanuwijaya,nurbati,harris cinnamon,erick tamalagi,nala rinaldo,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Godfather komedi televisi Indonesia. TPI nampak serius dalam merekrut talenta-talenta baru dunia hiburan televisi di Indonesia. Mereka menerjunkan personil kunci mereka. Dari kiri : Tony Tanuwijaya, eksekutif produser, Nurbati, Harris Cinnamon, direktur kreatif, dan Erick Tamalagi, produser. Dan juga ditongkrongi oleh GM Produksi, Nala Rinaldo (tidak nampak dalam foto).



Seperti Sajimin (2006), alias Pak Min (foto, berblangkon), yang mengaku sebagai dalang cangkeman alias bermain wayang dengan instrumen mulut belaka, digojlok habis-habisan di panggung oleh para juri.

Dibuat dirinya agar terpojok, sehingga Pak Min itu mampu mengeluarkan kesaktiannya, katakanlah jeroannya secara lahir batin. Ketika ia dipaksa keluar dari sarang kosmologi Jawanya dan diminta menyanyi lagu pop, yang muncul adalah lagu tentang perempuan yang hidup dalam lumpur noda. Malah ia sempat terloncat perkataan, bahwa “istri saya juga berasal dari sana.”

Andri Balung (2018, foto) yang tampil sendirian, juga mendapat teror serupa. “Wah, pengin dadi wong kondang kok yo rekoso,” keluhnya di panggung. Ketika disodori sisir besar terbuat dari styrofoam, apa yang akan ia perbuat ? Andri menggigit pinggir sisir itu sampai somplak. Audiens di ruangan pun terbahak.

Lawakan tunggal yang merambah gagasan coba ditampilkan oleh Andika Putra (2008). Ia tampil di panggung dengan jas dan berdasi. Tetapi celananya, aneh. Separo lengkap, sewarna dengan jas, bersepatu resmi. Separo celana satunya lagi adalah celana pemain sepak bola, dan bersepatu pemain sepak bola.

“Jauh-jauh dari Padang,” katanya mengenalkan diri, dan rupanya ia sekaligus pula membawa sudut pandang budaya Ranah Minang ketika menyentil ulah para penguasa dan politisi kita. Nampak merujuk demo mahasiswa yang mengusung binatang kerbau beberapa waktu lalu, Andika menggertak : “Banyak penguasa kita yang seperti kerbau. Nampaknya gagah dan kuat, tetapi segera menjadi lembek ketika berubah menjadi rendang.”

Tentang pakaiannya ? “Ini cerminan ulah politikus kita. Di depan nampak bersopan-sopan, tetapi di belakang layar mereka saling main tendang, sepak-sepakan !”

rokayatun,suwanto,eko,bs,sarjoe,phh,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Lelucon yang juga bersinggungan dengan wacana politik juga diusung oleh kelompok BS, Barang Sortiran (2025, foto). Trio ini terdiri dari Rokayatun (baju oranye), Suwanto dan Eko. Sebelumnya, saya sempat mengobrol dengan mereka. Rokayatun (cowok) adalah alumnus audisi API-4 yang kelompoknya bernama PHH ikut lolos ke Jakarta.

Ia memberi saya kartu nama, dengan tajuk MC Kocak/Lawak “Sardjoe” yang siap ditanggap untuk hajatan pertemuan, seminar, acara promosi, pesta reuni sampai ulang tahun. No HP mereka yang bisa dihubungi : 085640234449.

Pada kartu nama itu juga tertera logo API-4. Tetapi ketika para juri saat itu sempat menanyakan, apakah kelompok ini “orang lama,” membuat saya tersenyum-senyum. Karena nampak trio awak BS itu menjadi sibuk berkelit, dan bagi saya ini adalah komedi pula.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya kirim sms ke Rokayatun, berkomentar bahwa penampilan mereka jauh lebih unggul dibanding peserta lain yang sempat saya tonton.

Trio BS itu membawakan lakon “Rampok,” yang tidak lain merupakan satir bagi para politisi, birokrat sampai penegak hukum kita yang korup, yang merampok uang rakyat. Sempat terlontar ketika mengenalkan anggota termuda dari trio perampok itu, dengan ujaran : “Adik saya yang terkecil ini adalah perampok yang masih berstatus honorer.”

Siang itu saya sempat menonton 22 dari 58 peserta audisi yang terdaftar siang itu. Di tengah acara, tiba-tiba saya memperoleh sms dari nomor yang asing. Ia menanyakan, apakah saya ikut dalam audisi siang itu pula. Tentu saja, saya jawab : saya tidak ikut.

Pengirim sms itu bernama Burhan, asal Sukoharjo, memperoleh nomor urut 2033. Saya keburu pulang, dan mengirim sms agar ia berhasil. Burhan menjawab antara lain : “Waduh, padahal saya belum ketemu mas loh. Ehm, kemarin saya masuk ke blognya mas. See you.”


Awal perjalanan. Kabar dari Burhan itu lumayan membuat senang. Tahun 2008 lalu, gara-gara blog ini pula, saya bisa bereuni darat dengan Ade Tao, juri saya yang sebelumnya saling ketemuan di dunia maya. Kini, dengan pelaku lain, yang pasti atas bantuan kedahsyatan Google, hal serupa rupanya terjadi lagi.

Blog ini ternyata memiliki power yang tak terduga-duga bagi saya. Mungkin karena belum banyaknya blog dengan topik komedi, akhirnya blog saya ini boleh jadi terdongkrak menjadi semacam gerbang. Gerbang itu pula yang mau tak mau harus dilirik :-( dan dilewati oleh mereka yang ingin mengenal atau pun menerjuni dunia komedi.

Melegakan, bila isinya memang mampu memberi manfaat. Walau boleh jadi terlalu sangat hiperbolik bila power semacam itu yang membuat sobat saya Effendi Gazali, setelah bermurah hati menuliskan endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya, menambahinya saat menulis sms (16/3/2010 ) kepada saya. Isinya berbunyi : “Anda tetap supervisor or guardian dunia humor Indonesia.”

Hari Minggu pagi (4/4/2010), ketika saya melakukan olah raga jalan kaki pagi di bendungan waduk Gajah Mungkur, saya mendapatkan sms lagi. Bunyinya antara lain : “Thanks atas doanya, BS lolos Jakarta bersama 2 grup lainnya.” Saya segera membalas, mengucapkan selamat dan dorongan agar mereka mampu lebih berprestasi nantinya.

Demikianlah, hari Jumat di Gedung Wanitatama Yogyakarta itu, menjadi hari yang menggembirakan bagi saya. Mereguki semangat anak-anak muda yang bergairah menerjuni karier di dunia hiburan, utamanya lawak, ibarat memperoleh tetes air dari oasis yang menyegarkan jiwa. Sebagai bekal dalam menempuh, serta melanjutkan perjalanan yang masih panjang di depan.

Ikhtiar TPI merupakan sebuah pintu yang terbuka. Pantas diberikan akolade. Tetapi bagi mereka yang mampu masuk, atau pun bagi mereka yang belum beruntung, perjalanan meraih sukses dalam komedi senantiasa akan selalu terpulang kepada masing-masing individu. Seberapa keras, tangguh dan tahan uji, dalam menempa diri mereka sendiri.

Utamanya, seperti tak bosan saya tulis dalam blog ini, adalah ikhtiar menempa diri sendiri untuk mampu menjadi pribadi atau persona yang unik, orisinal, di antara wajah-wajah komedian yang lalu lalang selama ini, di negeri ini pula.

Satu-satunya cara yang harus ditempuh agar mampu meraih status terhormat itu adalah dengan mentransformasikan masing-masing hidup mereka, untuk menjadi komedi itu sendiri. Bert Williams telah menulis : “Orang yang memiliki selera humor sejati adalah orang yang mampu menempatkan dirinya di depan para penonton dan mampu menertawakan kehidupan malangnya sendiri di depan mereka.”

Dalang cangkeman Pak Min, secara tak sengaja telah melakukannya. Tetapi seturut nasihat Bert Williams di atas, apakah ia akan berani bila harus melakukannya secara sengaja ? Berapa banyak komedian Indonesia yang berani melakukan hal yang sama ?

Bagaimana dengan Anda sendiri pula ? Kalau Anda mendapat todongan semacam ini, kira-kira berapa angka indeks stres Anda ?


Wonogiri, 3-5/4/2010


ke

Sunday, March 25, 2007

Robin Williams dan Tes Kecerdasan Komedi Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




When all you have is a hammer, everything looks like a nail. Apabila yang Anda miliki hanya sebuah palu, maka semua hal selalu terlihat sebagai paku. Pepatah akhir abad 20 ini manjur sekali ketika rezim Orde Baru berkuasa. Ketika militer begitu kuat, maka semua masalah senantiasa mereka selesaikan dengan kekuatan. Kekerasan. Tindakan represif.

Mengapa bencana lumpur panas di Sidoarjo tidak meledak di era Orde Baru, barangkali karena lumpur-lumpur panas tersebut sudah takut duluan dengan Pak Harto dan anak-anak buahnya. Lumpur panas tersebut kini muncul, karena mungkin mereka tahu pemimpin negeri ini adalah tokoh yang selalu berselimutkan pendekatan “akan” dan “akan,” sarat rasa bimbang dan penuh keraguan.

Baiklah. Pepatah tentang palu dan paku di atas juga berlaku bagi saya di tahun 80-an. Bunyinya berubah. Ketika jatuh cinta sama Tutut, maka semua perempuan cantik akan terlihat mirip seperti Tutut. Maaf, Tutut yang satu ini bukan putrinya Pak Harto. Ia mantan pramugari, lalu keluar untuk melanjutkan kuliah di Sastra Indonesia, FSUI, di Rawamangun. Saya pernah memotretnya, saat tak sengaja ketemu di perpustakaan. Sayang, karena mabuk cinta, saat motret yang spontan itu tidak mempertimbangkan sinar yang back lighted, sehingga hasilnya tidak memuaskan.

Salah satu korban fanatisme saya terhadap Tututisme saat itu adalah Pam Dawber. Saat itu saya tinggal di Jl. Balai Pustaka Timur 24 B, Rawamangun (kini sudah jadi ruko), dimana melalui tayangan hitam putih TVRI, kalau tak salah setiap Sabtu sore, saya bisa melihat sosoknya. Saya suka rambutnya yang poni itu. Ketika di layar muncul Pam Dawber, langsung saja yang hadir di kepala saya adalah Tutut.

Pam Dawber. Tutut.
Pam Dawber. Tutut.
Pam Dawber. Tutut.

Pam Dawber (foto) saat itu tampil membintangi serial komedi situasi yang bercampur fiksi ilmiah, Mork & Mindy. Pam Dawber, kelahiran 18 Oktober 1951 di Farmington Hills, Michigan, memerankan tokoh Mindy McConnell. Lawan mainnya (lihat foto) adalah aktor pemenang Oscar dan komedian ternama, Robin Williams.

Film seri produksi stasiun televisi ABC (1978 – 1982) tersebut melambungkan nama Robin Williams. Keduanya menjadi sangat terkenal karena ditopang kemampuan Robin Williams yang jenial dalam hal improvisasi bakat komedinya. Sampai-sampai dikisahkan bahwa dalam pelbagai adegan nampak Pam Dawber terlihat menggigit bibirnya. Ia terpaksa melakukan hal itu agar dirinya tidak ikut-ikutan tertawa yang bila ia lakukan pasti merusak adegan sitkomnya tersebut.

Tahun pun berlalu. Saat ini, saya tidak mengikuti cerita kariernya Pam Dawber lagi. Juga tidak tahu tentang diri Tutut saat ini. Tetapi tidak demikian halnya dengan Robin Williams. Ketika membongkar-bongkar tumpukan majalah lama, saya bisa kembali menemukan dirinya lagi.

Banyak hal yang menarik dari sosok komedian yang sahabat sejati Christopher Reeve, almarhum yang pemeran Superman, kolektor sepeda dan teman dari pembalap sepeda legendaris asal AS Lance Armstrong ini, terutama tentang keakraban tingkat tinggi diri Robin Williams dengan teknologi informasi. Juga, tentu saja, terkait kiprah kreatifnya yang mengagumkan dalam dunia komedi.


Mentalitus Komedikus. Judy Carter dalam bukunya The Comedy Bible (2001) telah mengajukan kuis berisikan 16 pertanyaan untuk mengungkap apakah seseorang atau Anda sendiri punya kecenderungan sebagai komedian. Salah satu pertanyaan tersebut adalah : Apakah Anda suka menirukan tingkah laku keluarga Anda, di belakang punggungnya ?

Kalau jawaban Anda “ya,” oleh Judy Carter dikatakan bahwa Anda sedang mempraktekkan act-outs, salah satu mata rantai penting dalam konstruksi lawakan. John Culhane di majalah Reader’s Digest (12/1988) secara menarik telah menceritakan teknik act-outs itu ketika dipanggungkan oleh seorang Robin Williams.

Suatu hari, Robin Williams hendak pergi keluar rumah, meninggalkan putranya Zachary yang baru berumur dua tahun bersama pengasuhnya. Ketika menstarter mobilnya, Robin menengok ke jendela rumahnya. Ia lihat Zachary menempelkan wajahnya di kaca, dengan air mata berlelehan. Setahun kemudian ketika melakukan tur 23 kota di AS, Robin William di atas panggung Metropolitan Opera House di New York berkisah tentang momen mengharukan itu.

“Ketika Anda melangkah keluar dari rumah,” tuturnya, “pemandangan terakhir yang Anda lihat adalah seraut wajah mungil yang menekan dinding kaca, dan..,” Robin mengangkat kedua telapak tangan di atas telinganya seperti ketika sedang menekan dinding kaca, memencongkan bibir untuk menunjukkan tangisan keras anak kecil, tetapi Anda tidak dapat mendengarkannya karena terhalang oleh jendela.

Para orang tua yang menonton pertunjukan segera meledak dalam tawa. Mereka merasakan syok, sekaligus kegembiraan, ketika diingatkan kembali terhadap momen yang akrab bagi kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tergelak karena melihat diri mereka sendiri dalam sajian lawakan itu. Robin Williams berhasil menggabungkan unsur lawakan berupa kata-kata dan pantomim untuk menggambarkan tangisan seorang anak kepada penontonnya.

Tidak hanya tentang anak kecil. Dalam satu seri lawakan atau pun obrolan, diri Robin Williams mampu tampil dalam pelbagai peran yang mengalir, berubah-ubah, dan selalu mengejutkan. Dengan julukan sebagai robinwacky, beragam suara yang terdapat dalam dirinya bila dikumpulkan, menurut John Culhane, akan setebal buku telepon kota kecil.

Ia dapat hadir sebagai ahli ramalan cuaca, seks terapis berkulit hitam, bayi dalam kandungan (“Enak. Kecuali bila ibu berdansa”), kritikus restoran, desainer pakaian Vietnam, dan lebih banyak lagi. “Pantat lagi, pantat lagi !,” begitu keluhnya ketika ia memosisikan dirinya sebagai sebuah kursi.

Seperti didemonstrasikan oleh seorang Robin Williams di atas, menjadi pelawak menurut Judy Carter adalah masalah sikap mental. ”Mentalitus komedikus,” demikian istilah saya untuk itu. Bagaimana kita berpikir, bagaimana kita memandang dunia, bagaimana sikap kita terhadap pelbagai absurditas yang terpapar di hadapan kita, dan tentu saja, bagaimana kita membuat semua itu hingga mampu membuat orang menjadi tertawa.

Lanjut Judy Carter, Anda dapat bekerja sebagai seorang akuntan tetapi jalan berpikir Anda dapat saja seperti sebagaimana seorang komedian. Apa manfaat besar bagi kita, yang orang kebanyakan ini, ketika mampu berpikir sebagai seorang komedian ?

Silakan camkan kata-kata David Ogilvy (1911–1999), tokoh kelahiran Inggris dan pemikir raksasa, sosok begawan dalam dunia periklanan. Ia pernah bersabda : The best ideas come from jokes. Make your thinking as funny as possible. Pandanglah dunia ini dari kacamata humor. Lihatlah dunia dari sudut pandang atau perspektif yang berbeda, yang mampu menerbitkan tawa. Semua itu akan mampu membuat diri Anda sebagai pribadi yang berbeda pula.

Menjadi lebih baik.


Menurun dari ibu. Kita tidak hanya dapat belajar banyak dari teknik melucunya Robin Williams. Kita juga dapat menengok masa lalunya, betapa bakat komedi itu bisa terasah dari rumah. Sejak ia kecil.

Robin adalah anak tunggal dari perkawinan yang kedua dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Robert Williams, eksekutif perusahaan mobil Ford Motor Company, yang tinggal di kawasan keluarga terpandang di Lake Forest, di luar Chicago, kemudian pindah dan Bloomfiled Hills, dekat Detroit. Di kota terakhir ini ia menempuh pendidikan di Detroit Country Day School, di mana alumnusnya termasuk Steve Ballmer, tokoh kunci raksasa piranti lunak Microsoft dan Courtney Vance, bintang film seri Law and Order: Criminal Intent.

Robin Williams memperoleh gagasan mengenai komedi dari ibunya, Laurie. Ibunya adalah mantan model, kelahiran New Orleans, keturunan Perancis. “Komedi merupakan jenis komunikasi untuk ibu dan saya. Ia selalu menceritakan lelucon-lelucon yang dapat membuat ayah malu tetapi membuat saya tertawa,” katanya.

Tetapi sejatinya Robin kecil seorang penyendiri, suka bermain sendiri, berfantasi membangun dunianya dengan boneka-boneka serdadunya. Ia sangat menyukai buku, menonton film kartun, dan mengidolakan komedian Jonathan Winters yang muncul dalam acara The Jack Paar Show di televisi. Ia terinspirasi keterampilan Winter dalam berimprovisasi dan mimikri.

Robin yang pemalu itu pecah pamornya ketika bermain drama di SMA Marin Country, San Francisco. “Saya memainkan tokoh gila dan saya memperoleh sambutan tawa,” katanya. Saat itu dirinya tidak dan belum sadar bahwa ada jiwa komedi dalam dirinya sedang berontak untuk keluar. Walau pun demikian, di sekolah yang sama ia memperoleh penghargaan sebagai “Siswa Yang Paling Tidak Memiliki Sukses Di Masa Depan.”

Setelah lulus, ia menetapkan berkuliah di Claremont Men’s College, Los Angeles, mengambil jurusan politik dan ekonomi. Juga ikut kursus improvisasi karena gurunya cantik, dan ia baru sadar bahwa seluruh kelasnya tertawa melihat aksis-aksi spontannya. Ia tidak lama di kampus ini, Robin lalu pindah ke College of Marin untuk belajar akting. Kemudian berebut 20 tempat dari dua ribu calon untuk bisa berkuliah di sekolah akting terkenal, Juilliard di New York. Ia lulus dalam audisi berbarengan dengan Christopher Reeve, almarhum pemeran Superman yang terkenal. Keduanya menjalin persahabatan sejati yang kental.


Na-no-na-no ! Di tahun 1978 kreator acara televisi Happy Days melakukan audisi untuk Robin Williams agar memerankan sebagai mahluk angkasa luar. Ia diminta untuk duduk dengan gaya mahluk angkasa luar. Segera Robin melompat ke kursi dan memposisikan badannya dengan kepala di bawah.

Itulah adegan orisinal Robin Williams dari film seri televisi hitnya, Mork & Mindy. Sambutan penonton atas tayangan episode tersebut begitu antusias, padahal adegan yang terjadi tidak terencana, semua mengalir keluar begitu saja dari diri seorang Robin Williams. Termasuk ucapan salam halo atau selamat tinggal dari makhluk angkasa luar khas kreasinya, yaitu na-no-na-no, kemudian menjadi ucapan yang sangat populer saat itu. Sejak film seri itu ia seperti menemukan kesejatian dari keaktoran dan komedinya : dirinya dapat berbicara sebagai pria, malaikat, binatang, sayuran dan juga sebagai mineral.

Ia menyabet Oscar pada tahun 1997 sebagai aktor pembantu terbaik dalam film Good Will Hunting. Juga mengesankan ketika bermain sebagai guru John Keating yang menyuntikkan perspektif baru dalam pemikiran murid-muridnya dalam film Dead Poets Society (1989). Di balik keberhasilannya, ia juga pernah memiliki sejarah hitam : kecanduan alkohol dan narkotika. Menyangkut hal buruk itu Robin pernah meledeki dirinya, bahwa “Narkotik merupakan cara Tuhan memperingatkan dirimu bahwa kau terlalu banyak menghasilkan uang !.”

Robin Williams adalah seorang gamer sejati dan ia melek terhadap teknologi informasi. Ketika majalah Yahoo Internet Life (2/1997) menanyakan apakah dirinya menggunakan email, simak jawabannya : “Ya, dan email itu menggaumkan. Email membawa kita untuk kembali mengalami seni menulis surat…. Dalam surat kita dapat mengekspresikan diri kita pribadi secara mendalam dan penuh makna. Surat merupakan perpanjangan dari filosofi Anda.”

“Apakah kami yang pertama mengatakan bahwa pikiran Anda bekerja seperti Internet, hyperlinking untuk menuju tempat atau situs yang paling tidak terduga-duga ?,” tanya David Sheff dari Yahoo Internet Life.

“Itulah realitas diri saya,” jawab Robin Williams. “Itulah pula realitas dunia komedi. Inilah hiperkomedi yang nampaknya persis sama dengan hiperteks. Saya merujuk ke sesuatu hal dan lalu diri saya memuntir, memelintir, untuk mengubah menuju ke arah yang baru. Ketika pertama kali saya melihat hiperteks, saya langsung memahaminya. Inilah ujud asosiasi bebas.”

Asosiasi bebas itulah yang membuat dunia komedi terbuka luas, menarik dan menantang untuk dijelajahi. Tanpa batas. Di padang luas itulah kita dapat menggali atau mengeksplorasi ide-ide baru, baik untuk kemaslahatan dunia komedi sendiri mau pun untuk dunia kemanusiaan yang lebih luas lagi. Ingat sekali lagi kata-kata David Ogilvy di atas, bahwa “Ide-ide terbaik muncul dari lelucon. Jadikanlah modus berpikir Anda selucu mungkin. “

Merujuk tesis nabi periklanan tersebut, ijinkanlah saya melakukan tes sederhana untuk dunia pemikiran Anda, pembaca blog saya yang budiman, terkait dengan realitas dunia komedi kita yang Anda alami dan rasakan selama ini. Ada dua pendapat dua komedian mengenai apa makna komedi dan sajian komedinya bagi pribadinya sendiri dan bagi orang lain.

Ada seorang komedian berpendapat, “Orang kan senang kalau disanjung-sanjung. Kalau saya sih lebih senang njelek-njelekin diri sendiri. Soalnya dari situ saya dapat duit. Kalau tidak dapat duit ya percuma.”

Lainnya berpendapat : “Saya menggunakan komedi untuk menetralisir rasa takut yang lumrah ada pada diri setiap orang. Saya bisa berkata pada mereka bahwa saya juga punya rasa takut seperti Anda, tetapi saya mempunyai pandangan menarik, sehingga saya berpikir bahwa kita akan mampu mengalahkan rasa takut itu secara bersama-sama.”

Kuis saya untuk Anda : pandangan mana yang paling tepat untuk menggambarkan sosok komedian dari Indonesia ? Mengapa Anda berpendapat demikian ? Saya tunggu !


Wonogiri, 26/3-17/4/2007

ke