Showing posts with label comedy writing. Show all posts
Showing posts with label comedy writing. Show all posts

Thursday, July 26, 2007

Melawak Menari Bersama Tengkorak

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com





Anti Siksa Neraka. Banyak orang Indonesia suka ngomong, tetapi benci menulis. Bisa dimaklumi, karena jarak antara otak dengan mulut lebih pendek dibanding jarak otak dengan jari-jemari yang mampu bergerak untuk menulis.

Menulis memang sulit.

Tidak ayal bila seorang Jessamyn West, seperti dikutip Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang diterjemahkan dengan judul Berani Berekspresi (MLC, 2004), menegaskan bahwa, “menulis itu begitu sulit sehingga saya sering merasa bahwa para penulis, karena sudah merasakan neraka dunia, akan terbebas dari semua siksa di akhirat nanti.”

Simpati diri para penulis di atas memang boleh disebut berlebihan. Tetapi menulis memang sulit. Apalagi menulis lawakan. Saya suka mengutip berkali-kali perkataan almarhum Dono Warkop (Kompas, 22/3/1996) ketika mengeluhkan tiadanya penulis–penulis naskah komedi yang dapat meringankan bebannya.

“Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja setengah mati. Kondisi lawak di Indonesia saat ini : ia adalah pemikir, penulis, penampil, sekaligus pengurus keuangan....Bagaimana mau selalu prima ?” cetusnya. Padahal kita tahu, Dono adalah juga seorang kolumnis dan novelis.

Merujuk realitas di atas, dan untuk mencoba ikut serta mengatasi keluhan yang diutarakan Dono di atas, saya pernah kirim surat kepada sobatnya yang sama-sama di Warkop DKI, Indro, yang saat itu baru terpilih sebagai Ketua Umum PASKI. Saya usulkan agar dalam program kerja PASKI itu diadakan pelatihan menulis komedi, comedy writing, sokur-sokur bila mampu mendatangkan mentor dari luar negeri. Mungkin surat saya itu tidak sampai, karena tak ada balasan dari Ketua Umum PASKI itu. Atau memang organisasi ini kini sudah bangkrut, mati suri, jadi tak mampu membeli kertas dan perangko balasan.


Monumen Komedian. Mengobrolkan tentang pentingnya comedy writing, tentu komunitas komedi Indonesia tidak bisa melupakan kiprah sosok Arwah Setiawan. Bagi saya, beliau adalah seorang thinker dan doer raksasa bagi dunia komedi Indonesia yang sampai sekarang sulit dicarikan penggantinya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

BALAI BUDAYA, JAKARTA. Dalam pameran kartun karya anak-anak Brigade Kelompok Kecil dari Wonogiri asuhan Mayor Haristanto di Balai Budaya Jakarta, 2 September 1982, mempertemukan aktivis dan pencinta dunia komedi Indonesia. Dari kanan, Jaya Suprana, Tris Sakeh (kartunis), Suyadi Pak Raden, tak dikenal, Arwah Setiawan dan Bambang Haryanto.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

BERSAMA PAK RADEN. Kartunis cilik asal Wonogiri, Basnendar Heriprilosadoso, bersama Suyadi yang terkenal sebagai Pak Raden, mengamati kartun karyanya yang ikut dipamerkan.


Sebagai sedikit pengakuan pribadi, ketika Arwah Setiawan masih hidup, kok saya merasa belum ketiban pulung atau wangsit, terpanggil untuk bisa dekat-dekat dengan beliau sehingga mampu menyerap khasanah ilmu komedinya yang kaya, ketika Mas Arwah Setiawan berkiprah dalam Lembaga Humor Indonesia. Untunglah, antara lain lewat bukunya yang berjudul Humor Jaman Edan (Grasindo, 1977), saya masih bisa mendapatkan warisannya. Tepat kiranya ungkap Thomas Fuller (1654–1734), seorang dokter dan penulis Inggris, yang berujar bahwa monumen yang abadi adalah monumen yang terbuat dari kertas. Alias berwujud buku, yang isinya mampu diwariskan dari generasi ke generasi.


Tetapi bagaimana dengan almarhum Taufik Savalas atau Toto Asmuni, yang baru saja meninggalkan kita ? Keduanya meninggalkan kita, sepertinya belum sempat mewariskan catatan-catatan pribadinya berisi pengetahuan selama berkarier sebagai komedian. Semoga nanti akan ada penulis yang tergerak untuk melakukannya. Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati, dalam emailnya (21/7/2007) kepada saya menulis :

“Kepergian almarhum Taufik Savalas yang tiba-tiba saya rasa merupakan kerugian besar bagi dunia komedi kita. Walaupun tidak berhasil dengan baik, rintisan dia sebagai komedi solo itu seharusnya menghasilkan pengetahuan, lessons learnt, tentang mengapa Comedy Club (acara Taufik Savalas berkomedi solo di TransTV) itu gagal. Itu dikombinasikan dengan pengalaman beliau dalam tampil di depan umum dapat menjadi kontribusi yang sangat penting bagi (calon) komedian solo berikutnya. Sayang sekali pengetahuan itu hilang tiba-tiba. Salah satu kekurangan komedi Indonesia mungkin memang di manajemen pengetahuannya, Mas.”

(Thanks, saya setuju, Isman).


IdeaVirus ! Istilah manajemen pengetahuan atau knowledge management dalam dunia komedi kita pasti terasa sebagai istilah asing. Saya mendengar pertama kali istilah itu dari Tika Bisono dan Mas Ito (Sarlito Wirawan Sarwono) tatkala mengikuti Mandom Resolution Award 2004 di Jakarta. Keduanya, ditambah Maria Hartiningsih yang wartawan senior Kompas, menjadi juri saat saya sebagai peserta kontes menjual gagasan blog sebagai sarana kaum epistoholik dalam mendokumentasikan dan berbagi wawasan, kearifan dan ilmu pengetahuan untuk menjadi salah satu pilar kehidupan berdemokrasi.

Melissie Clemmons Rumizen, Ph.D., Knowledge Strategist dari Buckman Labs dalam bukunya The Complete Idiot's Guide to Knowledge Management (Penguin Putnam, 2001), ringkasnya membeberkan aplikasi manajemen ilmu pengetahuan yang antara lain berupa kiat-kiat berbagi informasi antarkolega sehingga perusahaan tempat mereka bekerja mampu meraih keberhasilan. Manajemen ilmu pengetahuan, salah satu intinya memang berbagi.

Sayangnya, mungkin saya keliru, saling berbagi itulah yang justru nampak disingkiri oleh warga komunitas komedi kita selama ini. Karena kebanyakan mereka, mungkin kecuali Butet Kertarajasa, Kelik Pelipur Lara atau pun Effendi Gazali, memang tidak hidup dalam tradisi budaya menulis. Saya sebenarnya menaruh harapan kepada Tamara Geraldine, bukan Ulfa Dwiyati, sebagai komediene. Karena Tamara terbiasa menulis dan tidak segan-segan di panggung ketika sebagai pembawa acara sering mengejutkan ketika meledeki dirinya sendiri.

Selebihnya, mayoritas warga komunitas komedi kita berbagi informasi secara lisan. “Taufik memberi banyak ilmu bagaimana tetap bertahan dan stabil, tak kehabisan ide,” tutur artis Melly Zamri yang belajar bagaimana bisa survive dalam dunia entertainment dari Taufik Savalas seperti dikutip Kompas (13/7/2007).

Ilmu yang dibagikan Taufik Savalas di atas bersifat pribadi. Mirip ilmu dukun. Memiliki jangkauan diseminasi yang terbatas. Apalagi bila dibandingkan dengan aksi berbagi informasi di media maya, seperti melalui blog ini, yang berpotensi menjadi ideavirus (“makasih, Seth Godin !”) karena mudahnya untuk dibagi dan disebarluaskan secara instan ke seluruh dunia.


Intel Melayu Lawakan. Ada ilustrasi lain yang menarik tentang potret dunia komedi kita. Adalah tulisan H. Sujiwo Tejo dan Efix Mulyadi yang menurut saya merupakan wartawan terbaik Kompas dalam membahas dunia komedi, dalam artikel berjudul “Jiplak-menjiplak Dalam Lawakan” (Kompas, 30/10/1994). Sekarang, tak mudah ditemui tulisan dalam koran yang sama yang memiliki frekuensi, variasi dan kedalaman minat dalam mengupas pernak-pernik dunia komedi kita dewasa ini.


Artikel tersebut, yang juga bisa sebagai nostalgia bagi kita untuk mengenang lawakan tempo dulu, antara lain mengangkat tuduhan jiplak-menjiplak antarkelompok lawak di Indonesia. Misalnya, Warkop DKI (Warung Kopi Dono Kasino Indro) menurut Darto Helm dari eks kelompok Bagio CS, pernah meniru lawakan mereka tentang marga orang Batak.

“Waktu itu kami pentas di Taman Ismail Marzuki. Karena di Teater Terbuka, hawanya dingin. Diran bilang, wah, hawanya Siregar. Saya sahut, rasanya jadi berjalan di Tobing-Tobing. Sol Saleh menyahut, hati-hati, jangan sampai celana sobek, nanti ke Panjahitan,” kata Darto Helm. Diran dan Sol Saleh anggota Bagio CS. Kata Darto, almarhum Nanu dari Warkop telah meminta maaf untuk itu. Sebaliknya, Dono Warkop DKI yang mengatakan bahwa sulit bagi pelawak mengklaim sebagai yang pertama mengangkat suatu lawakan, juga sering diambil gaya lawakannya.

Misalnya Us Us mengaku pernah mengambil gaya Warkop DKI, yakni dalam hal pembelokan logika berpidato. Qomar dari Empat Sekawan malah mengaku sebagai “fotokopi yang baik dari Bagio CS dan Srimulat,” terutama pada awal kariernya bersama Tom Tam. Deddy (Mi’ing) Gumelar dari Bagito dituding oleh beberapa pihak sebagai peniru Srimulat, terutama pad acara rutin televisinya Ba-sho. “Mungkin secara kebetulan saja, karena Unang (anggota Bagito) sering berpakaian Jawa,” kata Mi’ing.

Silang-sengkarut tentang jiplak-menjiplak itu sampai membuat Dono dalam kehidupan sehari-hari di luar panggung, memilih tidak melawak. Mi’ing juga serius di luar panggung. Qomar kadang-kadang melucu, meski pun menurut consensus Empat sekawan, tidak boleh membawakan rencana lawakan panggung dalam pergaulan sehari-hari.

“Saya kalau lagi manggung dan melihat ada pelawak menonton, langsung mengambil langkah pencegahan. Yaitu tidak mengeluarkan lawakan yang hebat. Saya tahu mereka datang untuk ‘berbelanja’, menghafal penampilan, bahkan ada yang merekam dengan kaset,” kata Darto Helm. Kadang-kadang bukan pelawak yang datang. Meminjam istilah Qomar, yang datang adalah “intel-intel” pelawak yang biasanya wajahnya tidak asing bagi pelawak.


Memandang keruwetan dalam dunia lawak ini, akhirnya Dono dan Mi’ing sependapat bahwa biarlah lawakan dijiplak oleh pelawak lain. Biar saja, toh cara pembawaan seperti irama dan muatan pesannya pasti berbeda.

Keputusan yang bijak, terutama karena sistem manajemen ilmu pengetahuan kita, termasuk karya-karya lawakan, katakanlah belum secanggih di Amerika Serikat. Di AS ada lembaga yang disebut The Writers Guild yang bertugas mengarsip dan melindungi karya cipta seseorang, meliputi skrip, sinopsis, treatment, outline, sampai gagasan tertulis yang khusus sebagai materi produksi untuk radio, televisi, teater, film, video dan media interaktif.


Dampak Komedi Keroyokan. Artikel Kompas 13 tahun lalu itu menghadirkan potret betapa dunia lawak kita adalah dunia keroyokan. Apa pun nama kelompok mereka, sepertinya sulit dicari apa yang mampu membedakan karakter lawakan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Dalam kerumunan sulit memunculkan kepribadian. Lawakan pria dengan berdandan sebagai perempuan, bukankah sudah ada sejak Mama Henky, Esther, dan terus saja lestari dipanggungkan kelompok Tora Sudiro dkk yang hura-hura di ExtraVaganza dewasa ini ?

Pelawak-pelawak “tanpa kepribadian” itu boleh jadi terjun berprofesi sebagai pelawak mungkin akibat kebetulan. Karena dikejar-kejar harimau luar, yang menurut istilah sastrawan dan dramawan Putu Wijaya, adalah kebutuhan perut. Tataran paling bawah dari hirarki kebutuhan manusia menurut piramidanya Abraham Maslow. Bukan dikejar oleh harimau dalam, yaitu dorongan tertinggi manusia untuk aktualisasi diri.

Mereka masuk begitu saja, tanpa didahului oleh semacam soul searching, perjalanan ke dalam untuk melongok dirinya sendiri, guna menemukan jati diri, persona, yang istimewa dan unik di tengah dunia ini.

Padahal kita tahu, keharusan melakukan self-assesment di atas itu berlaku untuk semua profesi. Kalau Anda pernah menempuh kuliah di Amerika Serikat, Anda mau tak mau “diharuskan” membaca bukunya Richard Nelson Bolles sebelum memutuskan berburu pekerjaan selepas wisuda. Dalam buku berjudul What Color Is Your Parachute ? : A Practical Manual for Job-Hunters & Career Changers (Ten Speed Press, Tahunan) ini, Anda akan di-drill dengan sejumlah tes dan pertanyaan guna menguak keterampilan apa saja yang Anda miliki dan juga menyenangkan bagi Anda ketika menggunakannya.

Dalam Anda menjawab, Anda harus menuliskannya !

Dalam dunia komedian, ketahuilah bahwa jago improvisasi sekaliber Robin Wiliams pun pertama kali harus pula menulis leluconnya sendiri. Kalau Anda masih bingung bagaimana memperoleh materi lelucon itu, jawabannya tergantung dari jenis komedi yang hendak Anda terjuni. Tetapi langkah universal yang utama adalah : longokilah dalam diri pribadi Anda sendiri.

Kembali mengutip isi buku menariknya Susan Shaughnessy yang kali ini memajang ucapan Carolyn MacKenzie. Ia berkata, kalau Anda punya kerangka manusia di dalam lemari Anda, keluarkanlah, dan menarilah bersamanya. Begitulah, penulis dan juga pelawak sejati, berani menari bersama tulang kerangka, kerangka mereka sendiri.

Kerangka manusia tersebut adalah hal yang paling Anda hindari untuk dituliskan atau diceritakan, seperti rasa malu yang membuat Anda bergidik dan menciut. Tetapi pada akhirnya hal itu akan muncul juga dalam tulisan dan juga dalam lawakan Anda. Mengapa ? Karena di sanalah energi jiwa Anda tertimbun. Dengan menuliskannya, Anda meratakannya. Energi itu akan mengalir dalam tulisan dan lawakan Anda, dan membuatnya hidup.

Anda pernah menonton tayangan talkshownya Oprah Winfrey ? Setiap tamu yang hadir senantiasa membawa tulang kerangkanya sendiri. Mereka rela dan berani mengeluarkannya dari dalam peti atau almarinya pribadi, kemudian mereka ajak tengkoraknya itu untuk menari dan berdansa di muka dunia.

Tawa yang hadir dari sana, atau lelehan air mata, semata membuat diri kita merasa sebagai manusia. Bukan robot atau useful idiot yang patuh terhadap komando untuk tertawa-tawa kosong dan hampa, dalam acara komedi atau talkshow dengan host orang-orang yang sok lucu di pelbagai televisi kita.


Wonogiri, 26/7/2007


ke





Thursday, May 31, 2007

Dunia Canda Kita, Dunia Tanpa Cendekia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Naskah Srimulat Yang Hilang. Tukul Arwana jangan dibandingkan dengan Richard Lewis. Tukul baru saja meluncurkan biografinya, yang ditulis oleh Ahmad Bahar. Mengapa tidak Tukul sendiri yang menulisnya ? Realitas ini menunjukkan betapa dunia komedi kita kekurangan sumber kreatif yang utama, yaitu komediwan yang juga penulis. Simak cerita terkait dengan Richard Lewis, komediwan yang juga penulis.

Komediwan Richard Lewis pernah stres berat. Seperti diwartakan US News & World Report (12/9/1988), ia stres akibat provokasi temannya yang bertanya : apa yang ia kerjakan apabila harta karun yang ia miliki, naskah-naskah lelucon yang ia tulis selama 16 tahun terakhir, terbakar bersama rumahnya ? Dengan dibumbui paranoid Lewis segera bergegas menuju kantor bank terdekat di Beverly Hills. Ia kemudian menyewa safe deposit box untuk mengamankan lebih dari 250.000 judul lelucon karyanya.

Tidak setiap komediwan seperti Richard Lewis yang memiliki perhatian tinggi terhadap karya-karya tertulis komedinya. Di Indonesia pernah terbetik kabar bahwa naskah pemanggungan lawakan Srimulat yang ditulis almarhum Teguh Srimulat, telah hilang. Bahkan kabar angin yang berhembus kemudian mewartakan bahwa ada kelompok lawak tertentu, yang saat itu lagi ngetop di televisi, diduga menjiplak naskah milik kelompok lawak Srimulat yang hilang tersebut. Kontroversi ini sepertinya belum tuntas sampai saat ini, tetapi fakta tersebut menandakan bahwa naskah komedi merupakan komoditas yang tetap saja langka, sekaligus terbengkalai di negeri kita selama ini.


Pelakon Nomor Satu ! Seorang budayawan almarhum Dr. Sudjoko dari ITB pernah menorehkan catatan tajam tentang potret dunia tulis-menulis yang terkait dengan dunia komedi kita. Pendapatnya ia tulis ketika mengantar buku karya Arwah Setiawan, Humor Jaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1977). Menurut Sudjoko, untuk memajukan dunia komedi Indonesia yang paling utama harus digenjot kreativitasnya adalah para penulis lakon. Jelas itu merupakan tantangan berat.

Karena selama ini penulis, seperti halnya sosok almarhum Arwah Setiawan, tidak pernah masuk pikiran dan bayangan bangsa kita tentang komediwan. Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah sosok-sosok pelakon, orang-orang panggung, orang tontonan. Mereka itu bukan penulis, bukan pula sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua mereka itu tidak mampu menulis.


Sambil merujuk tingginya ketidakmampuan menulis dan tingginya budaya mohbaca (istilah unik Dr. Sudjoko yang juga seorang munsyi, ahli bahasa) bangsa Indonesia, sebagai akibatnya canda bangsa ini sehari-hari dikatakannya cuman sentilan, olokan dan ejekan lepas-lepas. Agar frekuensi tawanya menjadi lebih sering, banyak olokan cuma dibuat-buat saja, tanpa ditopang oleh akal pikiran atau pun renungan. Lihatlah acara-acara lawakan di televisi kita saat ini dan betapa kritikan Sudjoko sejak sepuluh tahun lalu itu tetap tajam dan relevan. Dunia komedi kita hanya berjalan di tempat.


Arwah Setiawan (1997) ikut pula menimpali terkait pemanggungan lawakan di televisi. Ia katakan, pengelola dan pengamat televisi menyadari betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukannya tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati para pemirsa. Keberhasilan pertunjukan komedi, menurut keyakinannya, haruslah bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal.

Siapa yang masih mau mendengar pesan kedua tokoh tersebut ? Nyatanya para pengelola televisi kita selalu lebih memilih mencari pelawak-pelawak dulu. Kita jadi saksi bahwa acara reality show seperti Audisi Pelawak TPI (API) oleh stasiun televisi swasta TPI dan Meteor Kampus oleh AnTV, jelas merujuk pemahaman yang sedikit banyak melecehkan arti penting naskah komedi sebagai nyawa pemanggungan lawakan. Impian luhur dan cerdas seorang Arwah Setiawan mengenai pentingnya lomba penulisan naskah komedi, terkubur entah ada di mana.


Me Too Product. Blunder besar pengelola televisi itu bisa dimaklumi karena acara seperti API tidak lain merupakan program me too, membebek keberhasilan reality show yang lebih dulu terkenal seperti AFI (Akademi Fantasi Indosiar) atau pun Indonesia Idol-nya RCTI. Kedua program kontes untuk menemukan bintang-bintang baru tarik suara tersebut hanya dicontek mentah-mentah oleh para konseptor acara kontes lawakan. Mereka hanya mengganti pelakunya, yang semula calon penyanyi digantikan para calon pelawak. Mereka melupakan bahwa sebenarnya bernyanyi dengan melawak terdapat perbedaan mencolok, walau pun keduanya dapat sama–sama dipanggungkan di layar televisi.

Senyatanya dunia komedi tidak sama dengan dunia tarik suara. Dunia komedi memiliki tuntutan jauh lebih keras. Sebab dalam dunia tarik suara sebuah lagu dapat dan halal secara mudah diulang-ulang, dinyanyikan beragam penyanyi, dalam pelbagai kesempatan. Dalam dunia menyanyi, bakal tidak ada penonton yang berteriak melarang seseorang menyanyikan sesuatu lagu karena lagu tersebut pernah didengarnya. Tetapi dalam lawakan, pengulangan adalah pantangan. Kalau Anda di panggung melucukan sesuatu yang penonton sudah tahu, Anda terancam diteriaki tanpa ampun. Dan itu jelas bencana !

Realitas kejam ini menandakan bahwa tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan, membuatnya terasa semakin langka dalam peredaran. Apalagi materi lawakan baru begitu tampil di media akan langsung menjadi usang. Faktanya, tidak hanya materi lawakan spesifik tersebut, juga premisnya, bahkan semua lawakan yang mirip juga ikut menjadi usang karenanya. Tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan tersebut membuat banyak sekali kelompok lawak kita tidak punya nafas panjang.

Contoh aktual : ada di mana sebagian besar komediwan muda kita yang dulu pernah tampil hiruk-pikuk di ajang Audisi Pelawak TPI (API) yang baru saja merampungkan sesi ketiganya ? Sebagian besar hilang begitu cepat dan segera pula lenyap terkubur oleh waktu.

“Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja setengah mati. Kondisi lawak di Indonesia saat ini : ia adalah pemikir, penulis, penampil, sekaligus pengurus keuangan....Bagaimana mau selalu prima ?”, cetus almarhum Dono Warkop (Kompas, 22/3/1996) ketika mengeluhkan tiadanya penulis–penulis naskah komedi yang dapat meringankan bebannya. Keluhan kronis almarhun Dono yang bisa dimaklumi. Apalagi karena komedi memang seni yang rumit. Edmund Gwenn, aktor komedi Hollywood era 1940-an saat menjelang ajalnya berbisik kepada aktor Hollywood terkenal lainnya, Jack Lemmon, bahwa menuju kematian itu menyakitkan, tetapi tidak sebegitu menyakitkan dibandingkan berpentas sebagai komedian.


Komedi Ibarat Jazz ! Sementara itu Gene Perret (foto), pemenang tiga Emmy Award dalam penulisan naskah komedi yang sekaligus penulis lawakan komediwan sohor Bob Hope yang terkenal, menyatakan bahwa penulisan naskah komedi ibarat jazz dalam musik. Selain harus inovatif, sarat pemberontakan, ketimbang berlaku normal. Bahkan cenderung menghancurkan tradisi yang ada ketimbang membebeknya. Walau pun demikian, imbuh Perret, penulisan naskah komedi dapat dipelajari. Menjadi komediwan juga dapat dipelajari. Kalau kita sudi melebarkan wawasan terhadap dunia komedi di negara-negara maju, seperti di Amerika Serikat, tidak sedikit ditemui pelbagai workshop untuk calon komedian dan workshop pelatihan bagi penulis naskah-naskah komedi.


Untuk perkembangan masa depan dunia komedi kita, apalagi setelah hadirnya organisasi PASKI (Persatuan Artis Seni Komedi Indionesia), diharapkan kontes semacam API haruslah dibarengi dengan kegiatan yang bermenukan intelektualitas. Misalnya dengan menyelenggarakan workshop penulisan naskah komedi sampai kiat-kiat menjadi komediwan dengan nara sumber dari manca negara.


Terlebih lagi, di antara pelaku dunia kreativitas dan hiburan, dunia lawak kita yang paling seret atau macet memperoleh aliran darah segar dibanding dunia sineas, sulap, penulis naskah sinetron, pemusik, komik sampai kreator video klip. Di kancah tersebut telah muncul pekerja-pekerja kreatif baru, bahkan lulusan perguruan tinggi luar negeri dan memiliki komunitas dengan bangunan tradisi olah intelektual yang memadai.

Upaya pembelajaran yang lebih serius dan komprehensif dalam komunitas dunia komedi kita yang selama ini sangat terbengkalai, bahkan selama puluhan tahun ini, menunggu segera untuk direalisasikan ! (Catatan : Artikel ini pernah dimuat di majalah Gong (Yogyakarta), edisi No. 90/VIII/2007. Foto).



Wonogiri, 1 Juni 2007

ke