Showing posts with label gus dur. Show all posts
Showing posts with label gus dur. Show all posts

Sunday, December 30, 2012

Teka-teki rambut keriting,Gus Dur dan Hari Humor Nasional

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com




Jangan porno dulu. "Rambut wanita mana yang paling lebat,paling hitam dan paling keriting ?"
Itu pertanyaan Gus Dur kepada saya. Momen itu terjadi di toko buku Gramedia Blok M, Jakarta, 25 Oktober 1986. Saya gelagepan dan tak bisa menjawabnya. Apa jawab Gus Dur sendiri ?
Tunggu dulu.
Mari kita segarkan ingatan kita tentang dirinya. Bahwa hari ini, 30 Desember 2012, adalah tepat 3 tahun wafatnya beliau. Banyak kenangan ditulis tentang Gus Dur. 
Antara lain seorang wartawan senior majalah Tempo, Syubah Asa, pernah menulis kenangannya :
”Di masa-masa itu, ketika TEMPO masih berkantor di Proyek Senen, Jakarta Pusat, sekitar akhir 1970-an sampai 1980-an, Gus Dur kerap datang untuk menulis kolomnya. Produktif sekali. Kalau tidak salah, yang satu belum dimuat, sudah datang yang lain.
Andaipun terpaksa ada (tulisan –BH) kolom yang harus kembali, saya kira dia juga tidak peduli. Repot-repot amat. Tapi, saya lupa menge­nai itu. Yang jelas, produktivitas Gus Dur membuat Goenawan Mohamad, Pe­mimpin Redaksi ketika itu, menyarankan kepada saya agar mengurus satu meja khusus plus mesin ketik untuk dia.
Gus Dur orangnya segar. Datang dengan gaya seperti selalu siap untuk ngobrol, pakai sandal, tidak pernah sepatu, pakai hem lengan pendek, tidak pernah pakai peci, apalagi dasi. Selalu punya lelucon yang membuat orang tergelak-gelak. Setelah ger-geran sedikit, baru ia menuju mejanya dan mulai mengetik.”

Kisah kedekatan Gus Dur dengan perpustakaan antara lain petikannya : "Hanya, kalau mau mencari kelemahan Gus Dur, kelemahan itu ada pada hal-hal kecil. 

Bisa termasuk data teknis, meskipun ia orang yang akrab dengan perpustakaan. Percakapan saya dengan dia itu sendiri berlangsung di perpustakaan — dan perpustakaan TEMPO, kan, cukup bagus.
Gus Dur ke perpustakaan mencari ide, menimba, atau mengecek pikiran atau gagasan. Tokoh seperti dia kan suka ide-ide segar, termasuk yang bagi banyak orang terasa menyentak. 
Misalnya, yang terakhir, kata-katanya di perayaan Cap Go Meh bahwa sekarang inilah saat kita mengembangkan perbedaan. “Makin berbeda kita, makin jelas di mana titik-titik persatuan kita.”
Kedekatan beliau dengan perpustakaan mungkin itu yang membuat para pendukungnya, Gusdurian, mendirikan Pojok Gus Dur di kantor pusat PBNU, Jakarta. Sebuah perpustakaan mini dan ruang diskusi. Saya pernah main-main kesana (foto di atas). Laporannya ada disini.
Hari humor nasional. Sejak dua tahun lalu, untuk mengenang dan mengabadikan sosok Gus Dur sebagai humoris, saya memromosikan agar tanggal 30 Desember didaulat sebagai Hari Humor Nasional. Pada tahun 2001, pada tanggal yang sama, adalah saat seorang humoris, pelawak intelektual, Dono (Wahyu Sardono) Warkop meninggal dunia. 
Wacana tentang hal tersebut dapat Anda simak dalam tulisan pengamat humor, Darminto M Sudarmo. Detilnya silakan Anda klik di sini.

Usul-usil saya itu ikut pula menghias isi buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Imania, 2012). Buku ini dan edisi sebelumnya,Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010),  telah dikoleksi oleh Library of Congress di Amerika Serikat. 
Terakhir, silakan kunjungi tautan ini : http://tinyurl.com/7lkq673.  Di dalamnya tersaji jawaban Gus Dur sendiri tentang teka-teki yang beliau lontarkan kepada saya 26 tahun yang lalu itu.
Selamat terbahak.
Semoga arwah beliau kini senantiasa sejahtera di sisiNya.

Wonogiri, 30 Desember 2012

Thursday, December 29, 2011

Legasi Gus Dur dan Hari Humor Nasional 2011

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Islam Warna-Warni. “Religion and Democracy : Face-to-Face “ merupakan topik diskusi di dunia maya yang menarik. Saya temui dan tersaji di situs islamonline.net, 7 Maret 2005. Sayang, sumber informasi ini sudah terhapus.

Saat itu nara sumbernya adalah Caspar Melville, Direktur Eksternal situs openDemocracy.net, yang kini sebagai editor majalah The New Humanist.

Salah satu peserta diskusi adalah “doaa” yang mengaku sebagai mahasiswa teknik asal Mesir. Ia meminta penjelasan bagaimana kaum muslim dapat menjelaskan kepada dunia bahwa Islam memiliki budaya demokrasi.

Caspar Melville yang mengaku sebagai sekuler dan tidak tahu banyak tentang Islam, memahami rasa frustrasi yang dialami dunia Islam pasca 11 September 2001, yang mendapatkan tekanan untuk menjelaskan bahwa Islam bukan identik sebagai agama kekerasan.

Ia berterus terang bahwa untuk membahas topik menarik tersebut dirinya belajar dari artikel yang ditulis Fareena Alam, editor Q News, majalah muslim terpandang dari Inggris.

Fareena Alam, kelahiran London 1978, keturunan Bangladesh dan besar di Singapura itu, telah dikutip oleh Caspar Melville bahwa dalam Islam dikenal budaya demokrasi yang ia sebutkan sebagai tradisi “moderasi, tidak berlebih-lebihan dan keinginan untuk mencari jalan tengah.”

Caspar Melville juga merujuk perbincangannya dengan jurnalis dan tokoh muslim Inggris lainnya, Fuad Nahdi, pendiri Q News yang kelahiran Mombasa, Kenya, yang telah malang melintang di dunia pers seperti International Islamic News Agency, Associate Press, Los Angeles Times, Guardian dan BBC.

Dari keduanya Caspar Melville memperoleh pemahaman betapa sangat kayanya dan beragamnya sejarah pemikiran Islam yang menampung segala macam gagasan. Termasuk sekularisme, nihilisme, hedonisme, juga sejarah sistem pemerintahan Islam yang mampu secara tegas memisahkan antara negara dan agama.

Secara khusus, Caspar Melville menyatakan bahwa dirinya selalu menemukan kejutan ketika berbincang dengan tokoh-tokoh yang relijius, yang menurutnya selalu lebih jenaka, lebih terbuka pikirannya, dan jauh dari pola pikir kaku yang semula ia duga. Pendek kata, usulnya kepada sang penanya, berdiskusilah dengan tokoh-tokoh tersebut.

Warisan Gus Dur. Usulan Caspar Melville yang simpatik. Bagi saya, tokoh Indonesia yang muncul di benak saya terkait perbincangan seputar topik Islam, demokrasi dan kejenakaan, tidak lain adalah Gus Dur.

Gambaran sosok-sosok relijius sekaligus humoris selain Gus Dur, tentu saja juga mudah tertuju kepada Amin Rais, Gus Mus, Said Agil Siradj, Cak Nun, Ulil Abshar Abdalla, Zuhairi Misrawi, dan beberapa tokoh lainnya.

Hari ini, 30 Desember 2011, adalah tepat dua tahun wafatnya Gus Dur. Pada tanggal yang sama adalah tepat 10 tahun meninggalnya pelawak Wahyu Sardono alias Dono Warkop. Semoga kini keduanya senantiasa dikaruniai hidayah di sisiNya.

Sebagaimana tercetus tahun lalu, tanggal 30 Desember telah saya usulkan sebagai Hari Humor Nasional.

Dengan harapan, di momen tersebut makna luhur humor bagi kemanusiaan dapat kita kemukakan.
Kita renungkan.
Kita rayakan.
Juga kita reguki kedahsyatannya.

Semoga kita semakin yakin betapa humor pantas sekali sebagai harta jiwa yang senantiasa kita perjuangkan sebagai bekal bangsa Indonesia dalam mengarungi peradaban.


Wonogiri, 30/12/2011

Friday, October 28, 2011

Pojok Gus Dur, Warisan Guru Bangsa dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



“If today there are people calling Islam bad names, we will teach them that Islam is peaceful.”

“Islam janganlah dihayati sebagai ideologi alternatif. Ia harus dilihat sebagai hanya salah satu elemen ideologis yang melengkapi bangunan keindonesiaan yang telah terbentuk.”

“Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang ras, suku, agama dan asal muasal, di muka undang-undang.”

“Demokrasi itu bukan hanya tak haram, tapi wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi itu salah satu prinsip Islam, yaitu syuro.”

Demikian isi beberapa banner yang menyambut Anda bila hendak memasuki ruang Pojok Gus Dur, di gedung PB NU di kawasan Kramat Jakarta. Semua itu meruapan kutipan ucapan Gus Dur sebagai negarawan, budayawan, tokoh Islam, tokoh demokrasi, dan juga tokoh perdamaian dunia.

Ruang guru bangsa. Hari Jumat (28/10/2011) sesudah sholat Jumat di Masjid Arif Rahman Hakim Kampus UI Salemba (“kunjungan terakhir di tahun 1998, saat hendak menyerahkan biaya transport bagi Dr. Sri Mulyani Indrawati untuk berbicara dalam seminar ekonomi 14/8/1998 di Solo”), saya bisa melongoki ruang Pojok Gus Dur (PGD) tersebut.

Kalau dalam tradisi kepresidenan di Amerika Serikat, Pojok Gus Dur mungkin seperti Presidential Library, yaitu warisan perpustakaan dari presiden yang pernah menjabat. Tetapi seorang Gus Dur, bangsa Indonesia dan dunia tidak hanya mengenangnya sebagai seorang mantan presiden. Beliau adalah juga guru bangsa. Dari daftar buku tamu, tidak sedikit pengunjung yang berlatar belakang organisasi atau perorangan yang bukan umat muslim.

Pojok Gus Dur ini masih dalam pengembangan. Belum ada brosur. Bahkan koleksi buku yang ada juga belum ditata layaknya koleksi perpustakaan. Tersedia akses Internet. Juga beberapa kali pernah diselenggarakan diskusi. Ketika saya memberikan kartu nama, malah Mas Mustiko Dwipoyono dan Yudi Yono sebagai relawan pengelola PGD, sempat mencetuskan niat untuk mengundang saya sebagai pembicara bertopik humor.

Sebuah kehormatan, kata saya.

Hanya beberapa menit saya berada di PGD, karena harus meluncur ke Ratu Plaza, saya minta pamit. Saya harus mengunjungi lagi tempat ini. Untuk melihat secara detil koleksi buku yang ada di ruangan peninggalan mantan presiden yang humoris itu.

Dan bukan sebuah kebetulan karena warisan pemikirannya ikut pula menjadi isi buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) dan juga Komedikus Erektus 2 : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Segera terbit, 2011).


Kramat Jaya Baru,Jakarta, 29/10/2011

Thursday, December 09, 2010

30 Desember 2010 : Hari Humor Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


"Narcoleptic."
Julukan majalah The Economist untuk Gus Dur.

Itu terkait kebiasaan Gus Dur yang nampak tertidur dalam suatu acara, tetapi begitu terbangun dirinya mampu menjawab secara tajam segala hal-ihwal yang ditanyakan para wartawan.

Paparan di atas tercakup dalam tulisan obituari majalah tersebut, yang ditulis setahun lalu itu. Tulisan itu membuat saya sadar betapa sangat sedikit yang telah saya ketahui tentang Gus Dur.

Kesadaran tersebut meruyak ketika saya memperoleh SMS (9/12/2010) dari Yogyakarta. Dari pengirim yang tidak saya kenal.

Nama pengirimnya : Sudaryanto. Mahasiswa S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. Rupanya ia menemukan blog saya ini. "Kebetulan saya sedang menulis tesis tentang wacana humor Gus Dur. Kapan-kapan saya silaturahmi dengan panjenengan," tulisnya.

Saya terenyak.

Rasanya tidak banyak yang saya ketahui dari humor-humor Gus Dur. Saya hanya langsung teringat peristiwa yang terjadi pada tahun 1986. Tidak bosan saya selalu mengulang cerita ini, ketika memergokinya di toko buku Gramedia Blok M, tepatnya tanggal 25 Oktober 1986. Saat itu Gus Dur memberi saya sebuah riddle, teka-teki, cangkriman yang menjurus.

Di halaman dalam buku karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions : Over 550 Subjects to Help You Entertain, Insult, and Amuse Any Audience (1980), buku yang saya beli saat itu, saya tuliskan cangkriman Gus Dur tersebut :

"Rambut wanita MANA yang paling lebat, paling hitam dan paling keriting ?" Itu tanya Gus Dur kepada saya.

Saya langsung tergelak. Sekaligus wajah saya pasti nampak bodoh, karena saat itu saya memang tidak tahu apa jawaban yang pasti. Syukurlah Gus Dur segera menimpali :

"Rambut wanita Papua Nugini."

Saya kembali tergelak. Kini lebih keras. Beberapa pasang mata langsung nampak mencereng ke arah saya. Saya tak peduli. Sebelum berpisah, saat itu Gus Dur masih juga memberikan teka-teki dan misteri kepada saya. Melalui ujaran : "Hanya kita-kita saja yang masih waras."

Teka-teki ini baru saya ketahui maknanya belasan tahun kemudian. Jawaban dari teka-teki itu, kini menjadi bagian dari isi buku saya yang baru terbit, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010).

Sibuk memoles citra. Isi artikel obituari majalah bisnis Inggris ternama itu juga menampilkan cerita tentang kewarasan beliau sebagai insan. Waras yang ia maksudkan adalah keberanian dan ketulusan untuk menunjukkan, dan bahkan melucukan kekurangan dirinya sendiri.

Benar-benar sebuah kualitas keluhuran yang langka ditemui di antara pemimpin-pemimpin kita masa kini. Karena mereka selalu nampak sibuk mempraktekkan strategi kehumasan untuk memoles diri, agar selalu tampil kinclong dan sempurna di muka rakyatnya.

Kewarasan Gus Dur itu tegas mencuat dan menginspirasi ketika dirinya dipaksa lengser dari kursi kepresidenan di tahun 2001. Saat ditanya wartawan apakah hal itu akan disesalinya, dengan enteng Gus Dur menjawab : "Sama sekali tidak. Saya lebih menyesal ketika saya kehilangan 27 rekaman Simfoni Kesembilan dari Beethoven."

Bahkan begitu lengser Gus Dur segera memberi kabar kepada para wartawan : "Mulai esok, saya akan menceritakan lelucon-lelucon lagi."

Presiden RI ke-4 yang oleh Bill Clinton dijuluki sebagai presiden paling lucu di dunia itu meninggal dunia dalam usia 69 tahun.Tanggal 30 Desember 2009.

Delapan tahun sebelumnya, 30 Desember 2001, pelawak Dono Warkop, juga meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Adakah kesamaan tanggal meninggal ini hanya sebagai suatu kebetulan belaka ?

Bagi saya, hal itu ternyata mampu menerbitkan gagasan. Bahwa untuk mengenang keduanya, dan demi menunjang kemajuan dunia humor Indonesia sebagai pilar penjaga kewarasan nurani bangsa, bersama ini dengan rendah hati mengusulkan agar tanggal 30 Desember diproklamasikan oleh para pencinta humor Indonesia sebagai hari bersejarah.

Hari Humor Nasional.
Atau Hari Humor Indonesia.

Dengan harapan, di momen tersebut makna luhur humor bagi kemanusiaan dapat kita kemukakan.
Kita renungkan.
Kita rayakan.
Juga kita reguki kedahsyatannya.

Sambil merujuk beberapa ucapan bernas berikut ini tentang humor, maka kita semoga semakin yakin betapa humor pantas sekali sebagai harta jiwa yang senantiasa kita perjuangkan sebagai bekal bangsa Indonesia dalam mengarungi peradaban.

"Humor is mankind's greatest blessing."
Humor merupakan rahmat terbesar bagi kemanusiaan.
- Mark Twain

"If I had no sense of humor, I would long ago have committed suicide."

Apabila saya tidak memiliki sense of humor maka saya telah melakukan bunuh diri pada waktu yang telah lalu.
- Mahatma Gandhi

"Humor is something that thrives between man's aspirations and his limitations. There is more logic in humor than in anything else. Because, you see, humor is truth. "

Humor merupakan sesuatu yang tumbuh subur di antara aspirasi manusia dan keterbatasannya. Terdapat lebih banyak logika pada humor dibanding hal-hal lainnya. Karena seperti Anda tahu, humor adalah kebenaran.
- Victor Borge

"When humor goes, there goes civilization."
Ketika humor lenyap, lenyap juga peradaban.
- Erma Bombeck

"You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it."

Anda mampu mengubah keadaan yang penuh penderitaan dengan humor. Apabila Anda mampu menghumori segala hal, bahkan kemiskinan, Anda akan mampu bertahan.
- Bill Cosby


Refleksi tutup tahun. Terlebih lagi momen yang mendekati tutup tahun itu merupakan waktu yang tepat bagi warga bangsa ini untuk berefleksi. Untuk menyadari kekurangan-kekurangan diri sendiri. Dan kemudian bersepakat menancapkan tekad untuk berbuat yang lebih baik di tahun depan yang siap dijelang.


Wonogiri, 10 Desember 2010

PS : Terima kasih kepada Basnendar HPS, kartunis dan desainer logo dari ISI Surakarta, yang telah bersedia merancang logo sebagai tetenger atau paraf visual untuk Hari Humor Nasional 2010.

Wednesday, December 30, 2009

In Memoriam Gus Dur (1940-2009) : “Hanya Kita Saja Yang Masih Waras”

Oleh Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Ucapan Gus Dur ibarat teka-teki. Ia saya pergoki di Toko Buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan, 25 Oktober 1986. Dua puluh tahun yang lalu.

Saat itu, ketika melihat sosoknya memasuki toko, mendorong saya memberanikan diri untuk memperlihatkan buku yang baru saya beli, karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions (1980), kepadanya.

Melihat kesamaan sebagai penikmat humor, setelah saling bertukar koleksi lelucon, Gus Dur mengeluarkan pernyataan yang saat itu berupa misteri. “Hanya kita saja yang masih waras,” cetusnya.

Belasan tahun kemudian teka-teki Gus Dur itu bisa saya mengerti. Hal itu terjadi di akhir 2001 ketika saya kena PHK pada sebuah perusahaan Internet di Jakarta.

Untuk pengobat gundah, saya memutuskan membeli buku-buku panduan menjadi komedian. Isi buku-buku itu malah tidak menghibur. Justru membuat saya makin dirundung hati yang hancur. Terutama oleh bukunya Judy Carter, The Comedy Bible (2001).

Asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah saya anggap benar selama ini, bahkan karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan. Harus dihancurkan.

Pemahaman bahwa menjadi komedian itu sekadar tampil di panggung menceritakan lelucon tentang orang lain atau karya orang lain, ternyata menurut Judy Carter hal itu merupakan kekeliruan yang sangat fundamental. Karena menurutnya, setiap komedian wajib dituntut orisinalitasnya. Di panggung dirinya harus berani dan jujur dalam membeberkan otobiografi mereka masing-masing.

“We funny people are not normal”, tegasnya. Orang normal mengekspresikan selera humornya dengan menghafalkan lelucon, sementara jenakawan sejati mentransformasikan pengalaman hidupnya.menjadi lelucon. Ia menulis lelucon tentang hidupnya sendiri pula.

Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, para jenakawan justru mempertontonkannya semua itu kepada dunia. “Comedy...be afraid, be very afraid !”, tandas lanjutnya.

Keterusterangan, kejujuran, memang menakutkan. Tetapi semakin dalam menyelami riwayat hidup para komedian, sedari George Burns, Richard Pryor, Rodney Dangerfield, Joan Rivers sampai Jon Stewart yang baru saja memandu acara Oscar 2006, semakin saya menaruh hormat atas kejujuran mereka sebagai manusia. Para jenakawan sejati senantiasa mampu menemukan humor dalam momen yang serius, juga tragedi hidupnya, dan bahkan pada momen yang paling pribadi sekali pun.

Sekadar contoh adalah Christopher Titus. Ia komedian solo dan membintangi cerita seri televisi yang mentransformasikan problem kehidupannya dalam keluarga yang tidak normal menjadi bahan leluconnya. “Saya melucukan ibu saya yang menembak mati pacarnya. Saya juga melucukan ibu saya yang melakukan bunuh diri. Semua itu mampu membuat penonton tertawa.”

Chris Titus melawak dengan bahan yang benar-benar orisinal, segenap sisi hidupnya sendiri. Yang paling gelap sekali pun. Memanglah, komedian sejati memiliki totalitas ketika menerjuni dunianya. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seseorang yang berupaya memperoleh kekayaan hingga dirinya berani bersekutu dan membuat “perjanjian dengan setan.”

Karena komedian sejati harus ikhlas menggadaikan sebagian nyawa atau kehidupannya dalam perjanjian itu. Komedian harus berani merelakan semua kekurangannya sebagai manusia untuk dibedah, ditonjolkan dan dijajakan semuanya untuk menjadi bahan tertawaan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Self-deprecating. Seorang Gus Dur, seperti diungkap Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tinggi dalam menghumori dirinya sendiri.

Alkisah, ketika berceramah di depan kerumunan massa, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir.

“Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya.

Keikhlasan Gus Dur mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi. Menu serupa juga jadi andalan komedian muslim di Amerika Serikat dan Inggris yang sedang berjuang menegakkan citra Islam sebagai agama yang cinta damai pasca serangan teroris 11 September 2001.

Sebagai contoh adalah Shazia Mirza, pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya.

“Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.

Tissa Hami adalah komedian perempuan lain, tetapi di Amerika Serikat. Ia bergelar Master Kajian Internasional dan bekerja di John F. Kennedy School of Government., Universitas Harvard. Dengan melawak, “saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim tertindas dan terbungkam,” katanya.

Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini (AS), sering jadi lawakan. Katanya, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera!”


Mencela orang lain. Bagaimana lanskap lawakan di Indonesia selama ini ? Kiranya kita dapat bercermin dari pengalaman pelawak Basuki Srimulat. Seperti tertuang di JawaPos (3/3/2006), ia baru pulang dari naik haji. Ia satu pesawat dengan KH Zainuddin MZ, Ustadz Iskandar dan satu lagi pria yang disebut Basuki sebagai Ketua Dewan Syuro.

Pria yang terakhir ini bertanya kepada Basuki : “Apa akan terus melawak meski sudah menyandang predikat haji ?” Basuki balik bertanya : “Lho, memangnya kenapa ?” Beliau menjawab : “Melawak itu kan identik dengan mencela orang lain ?” Mendengar hal itu Basuki tidak bisa langsung menjawab.

Miftah Faridl dari ITB dalam bukunya Pokok-Pokok Ajaran Islam (2004) telah menderetkan daftar dosa atau hal-hal yang tidak baik terkait afatul lisan, bahaya lidah. Bahaya lidah termasuk mencaci maki, membuka kesalahan orang lain, memanggil nama jelek terhadap orang lain, sampai menghina dan mencemooh.

Kalau saja perbuatan negatif tersebut selama ini justru merupakan modus lawakan yang lajim sekaligus berpotensi mengandung dosa, lalu apa solusinya ?

Pernyataan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi (Suara Merdeka, 4/2/2006) mungkin dapat dipakai sebagai panduan. Ia mensinyalir rentetan bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tidak lepas dari perilaku spiritual manusia Indonesia.

Menurutnya, kebanyakan bangsa Indonesia dewasa ini lebih sibuk mengurusi cacat orang lain sehingga kerap lupa pada cacat sendiri. Padahal, dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda, berbahagialah orang yang repot mengurusi cacatnya sendiri hingga lupa dan tidak sempat menghitung cacat orang lain.

Rentetan bencana yang terjadi di Tanah Air pasti bukan akibat dosa komedian kita semata. Tetapi sinyal menuju sajian komedi yang lebih baik telah ditorehkan. Terlebih di bulan Ramadhan, di mana tayangan televisi kita identik pesta tayangan komedi, kiranya bulan suci ini bisa dijadikan sebagai momen bagi komunitas komedi kita untuk introspeksi.

Agar mampu menemukan (kembali) jalan lurus dan bersih dari “dosa” dalam berkarya, dimana keteladanan pribadi Gus Dur sampai nasehat KH Hazim Musyadi diharapkan sebagai pencerahan. Bagi dunia komedi dan juga bagi bangsa kita di masa depan.

Ketika terlalu banyak pemimpin dan pejabat negeri ini semakin sulit ditemui memiliki kewarasan, dalam arti berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan dirinya sendiri, mungkin kita masih punya sandaran agar mampu bertahan. Yaitu sense of humor kita dan kejujuran para komedian !


Pengantar Bambang Haryanto : Artikel ini dengan judul “Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri” dengan penyuntingan pernah dimuat pada halaman Humaniora-Teroka di harian Kompas, 27 Januari 2007, yang saat itu penjaga rubriknya adalah sastrawan Radhar Panca Dahana.

Artikel ini dimuat kembali sebagai catatan kenangan pribadi penulis terhadap Gus Dur, humoris dan guru bangsa, yang meninggal dunia 30 Desember 2009. Di tengah kemelut bangsa yang dilanda krisis moral, krisis keteladanan, dan krisis sikap pluralis, kau telah meninggalkan bangsa ini. Selamat jalan, Gus.

Artikel ini sebelumnya juga disajikan di : http://komedian.blogspot.com/2007/01/komedi-dan-komedian-kejujuran-mengolok.html




Wonogiri, 31 Desember 2009

Monday, October 02, 2006

Dosa-Dosa Dunia Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Religion & Democracy : Face-to-Face adalah topik diskusi di dunia maya yang menarik di situs http://www.islamonline.net/, 7 Maret 2005. Nara sumber yang tampil adalah Caspar Melville, Direktur Eksternal situs www.openDemocracy.net.


Salah satu peserta diskusi adalah “doaa,” yang mengaku sebagai mahasiswa teknik asal Mesir. Ia meminta penjelasan bagaimana kaum muslim dapat menjelaskan kepada dunia bahwa Islam memiliki budaya demokrasi.


Caspar Melville yang mengaku sebagai sekuler dan tidak tahu banyak tentang Islam, memahami rasa frustrasi yang dialami dunia Islam pasca 11 September 2001, yang mendapatkan tekanan untuk menjelaskan bahwa Islam bukan identik sebagai agama kekerasan. Ia berterus terang bahwa untuk membahas topik menarik tersebut dirinya belajar dari artikel yang ditulis Fareena Alam, editor Q News, majalah muslim terpandang dari Inggris.


Fareena Alam, kelahiran London 1978, keturunan Bangladesh dan besar di Singapura itu, telah dikutip oleh Caspar Melville bahwa dalam Islam dikenal budaya demokrasi yang ia sebutkan sebagai tradisi “moderasi, tidak berlebih-lebihan dan keinginan untuk mencari jalan tengah.”

Caspar Melville juga merujuk perbincangannya dengan jurnalis dan tokoh muslim Inggris lainnya, Fuad Nahdi, pendiri Q News yang kelahiran Mombasa, Kenya, yang telah malang melintang di dunia pers seperti International Islamic News Agency, Associate Press, Los Angeles Times, Guardian dan BBC.


Dari keduanya Caspar Melville memperoleh pemahaman betapa sangat kayanya dan beragamnya sejarah pemikiran Islam yang menampung segala macam gagasan, termasuk sekularisme, nihilisme, hedonisme, juga sejarah sistem pemerintahan Islam yang mampu secara tegas memisahkan antara negara dan agama.


Secara khusus, Caspar Melville menyatakan bahwa dirinya selalu menemukan kejutan ketika berbincang dengan tokoh-tokoh yang relijius, yang menurutnya selalu lebih jenaka, lebih terbuka pikirannya, dan jauh dari pola pikir kaku yang semula ia duga. Pendek kata, usulnya kepada penanya, berdiskusilah dengan tokoh-tokoh tersebut.


Humor Cerdas Gus Dur. Usulan Caspar Melville yang simpatik. Bagi saya, tokoh yang muncul di benak saya terkait perbincangan seputar topik Islam dan demokrasi, tidak lain adalah Gus Dur.


Cakrawala itu menyeruak antara lain setelah mengikuti perbincangan menarik Abdul Moqsith Ghazali dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Dr. Rumadi di JawaPos (29/9/2006 : 10), ketika membicarakan buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), karya Gus Dur yang terbaru. Gus Dur oleh Dr. Rumadi disebutnya memiliki keteguhan dalam membela demokrasi.


Penjelasan Caspar Melville lainnya bahwa sosok-sosok relijius itu disebutnya selalu lebih jenaka, bagi saya, kembali lagi betapa Gus Dur merupakan sosok yang pas untuk kriteria tersebut. Siapa orang di Indonesia yang mampu menandingi kelucuan dan kebernasan lelucon Gus Dur ?


Seorang Gus Dur, seperti diceritakan oleh Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tingkat tinggi dalam menghumori dirinya sendiri.


Alkisah, ketika berceramah di depan kerumunan massa, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir. “Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya.


Keikhlasan Gus Dur untuk mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi. Menu tersebut adalah hukum universal bagi kaum komedian. Termasuk juga menjadi andalan komedian muslim di Amerika Serikat dan Inggris yang dewasa ini sedang berjuang menegakkan citra Islam sebagai agama yang cinta damai pasca serangan teroris 11 September 2001.


Sebagai contoh adalah Shazia Mirza, pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin sukses membuat bom,” cetusnya.


Tissa Hami adalah komedian perempuan lain, tetapi di Amerika Serikat. Ia bergelar Master Kajian Internasional dan bekerja di John F. Kennedy School of Government., Universitas Harvard. Dengan melawak, “saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim tertindas dan terbungkam,” katanya.


Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini (AS), sering jadi lawakan. Katanya, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera!”


Pelawak Indonesia Berlumuran Dosa ? Bagaimana lanskap lawakan di Indonesia selama ini ? Kiranya kita dapat bercermin dari pengalaman pelawak Basuki Srimulat. Seperti tertuang di JawaPos (3/3/2006), ia baru pulang dari naik haji. Ia satu pesawat dengan KH Zainuddin MZ, Ustadz Iskandar dan satu lagi pria yang disebut Basuki sebagai Ketua Dewan Syuro.


Pria yang terakhir ini bertanya kepada Basuki : “Apa akan terus melawak meski sudah menyandang predikat haji ?” Basuki balik bertanya : “Lho, memangnya kenapa ?” Beliau menjawab : “Melawak itu kan identik dengan mencela orang lain ?”


Mendengar hal itu Basuki tidak bisa langsung menjawab.


Miftah Faridl dari ITB dalam bukunya Pokok-Pokok Ajaran Islam (2004) telah menderetkan daftar dosa atau hal-hal yang tidak baik terkait afatul lisan, bahaya lidah. Bahaya lidah termasuk mencaci maki, membuka kesalahan orang lain, memanggil nama jelek terhadap orang lain, sampai menghina dan mencemooh.


Pasanglah mikroskop untuk setiap acara lawak di televisi-televisi kita. Kalau saja perbuatan-perbuatan negatif di atas selama ini justru merupakan modus lawakan yang lajim bagi kebanyakan pelawak Indonesia, yang sekaligus berpotensi melumuri dirinya dengan dosa-dosa, lalu bagaimana solusinya ?


Pernyataan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi (Suara Merdeka, 4/2/2006) mungkin dapat dipakai sebagai panduan. Ia mensinyalir rentetan bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tidak lepas dari perilaku spiritual manusia Indonesia.


Menurutnya, kebanyakan bangsa Indonesia dewasa ini lebih sibuk mengurusi cacat orang lain sehingga kerap lupa pada cacat sendiri. Padahal, dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda, berbahagialah orang yang repot mengurusi cacatnya sendiri hingga lupa dan tidak sempat menghitung cacat orang lain.


Memang terlalu gegabah bila komunitas pelawak Indonesia dituding sebagai satu-satunya fihak yang memicu terjadinya rentetan bencana yang melanda Tanah Air akhir-akhir ini. Tetapi, paling tidak, sinyal dan panduan arah menuju sajian komedi yang lebih baik telah ditorehkan.
Mungkin di tengah-tengah suasana Ramadhan seperti saat ini pesan-pesan untuk introspeksi, juga keberanian untuk merehabilitasi wawasan diri, pantas menjadi bahan renungan bagi setiap insan komunitas dunia kepelawakan kita.


Apalagi, kita tahu dan hampir menjadi tradisi, bulan Ramadhan di televisi-televisi kita identik dengan pesta tayangan komedi. Di antara gelimang tebaran uang, kemeriahan tawa dan gelak artifisial, kiranya di bulan suci ini juga tepat dijadikan sebagai momen bagi komunitas komedi kita untuk berhenti berlari, lalu merenung, memperbarui diri. Agar mampu menemukan (kembali) jalan lurus, jalan jenaka yang luhur, sekaligus jalan yang semakin bersih dari “dosa-dosa” dalam berkarya.


Keteladanan pribadi Gus Dur yang cerdas, jujur sekaligus jenaka, sampai nasehat KH Hazim Musyadi, diharapkan mampu sebagai pencerahan. Baik bagi dunia komedi Indonesia khususnya, dan juga bagi bangsa Indonesia dalam melangkah ke masa depan. Komedi, mungkin tidak seperti disangka oleh banyak orang, senyatanya merupakan dunia luhur yang mengedepankan kejujuran.


Sehingga ketika terlalu banyak pemimpin dan pejabat negeri susah ini semakin sulit ditemui memiliki kewarasan, dalam arti berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan dirinya sendiri, mungkin kita masih punya sandaran agar mampu untuk terus bertahan.


Yaitu sense of humor kita.
Juga kejujuran para komedian.


Wonogiri, 1-2 Oktober 2006


ke