Showing posts with label kejujuran komedian. Show all posts
Showing posts with label kejujuran komedian. Show all posts

Tuesday, August 23, 2011

Komedian Tunggal, Kelucuan, Kejujuran



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Komedian (pemula) lebih sering menfokuskan diri untuk tampil meraih kelucuan daripada menampilkan kejujuran. Pilihan ini bisa dimaklumi.

Tetapi pilihan ini sebuah jebakan maut. Dirinya tergoda berkonsentrasi melulu pada materi yang dia nilai AKAN membuat audiens tertawa.

Rumus Srimulat “aneh itu lucu,” mendominasi mindsetnya. Materi-materi biru jadi andalan : seks, lubang-lubang tubuh manusia, luarannya.

Audiens mungkin terbahak, tetapi sosok komedian semacam itu dan materinya teramat mudah dilupakan. Karena ia tidak menampilkan jati dirinya.

Karena dirinya tidak menampilkan kejujuran. Mungkin mereka tidak tahu betapa kejujuran merupakan formula andalan untuk meraih kelucuan.

Kelucuan berlandaskan kejujuran ini bukan hasil lelewa, dibuat-buat, sok aneh, tetapi cerminan dari kata hati si komedian itu sendiri.

Apakah yang membuat Anda marah ? Merasa cemas ? Dan merasa takut ? Itulah tiga formula wajib suguhan komedi dalam pentas Anda.

Anda di pentas ibarat mengotopsi diri Anda sendiri, memajang jeroan berisi duka lara,ketakutan, kemarahan, kekurangan diri, kepada dunia.

Berkarier dalam komedi ibarat Anda bersekutu dengan setan dalam meraih kekayaan. Jiwa Anda harus Anda gadaikan secara total pada mereka.

Berkarier komedi juga ibarat sebagai pendonor darah tetap. Anda terus-menerus dituntut memberikan zat-zat hidup diri Anda kepada orang lain.

“Komedi bicara kebenaran. Anda tak perlu meraciknya, karena semua materi itu sudah ada di dalam diri Anda sendiri,” tegas Shazia Mirza.

“Komedian tampil terbaik bila bicara penderitaan, sengsara, dan kesepian,” kata Shazia Mirza lagi, komedian wanita Inggris asal Pakistan.

Dengan menampilkan hal-hal yang paling pribadi dari diri Anda itu, Anda akan mampu menggetarkan dawai-dawai hati nurani audiens Anda.

Anda sebagai komedian kemudian menjadi pencerah karena mampu memberikan sisi-sisi kemanusiaan kepada diri sendiri dan juga kepada manusia.

Menjadi komedian jangan karena mode atau lambaian uang. Menjadi komedian harus dipandu panggilan keharusan dari jiwa Anda. Begitukah Anda ?

Wonogiri, 24/8/2011

Tuesday, August 26, 2008

Kejujuran dan Komedian Baru di Senayan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Olok-olok tulang tua. John McCain, 71 tahun, empuk jadi bulan-bulanan komedian Amerika Serikat. Terutama karena usia bakal calon presiden dari Partai Republik AS tersebut.

Pernah ia memasang iklan besar-besaran yang menyamakan saingannya, Barack Obama, dengan artis-artis pembuat heboh seperti Britney Spears atau pun Paris Hilton. Maksudnya, Obama memang populer, tetapi tidak berbobot, dan disangsikan mampu memimpin Amerika.

Para komedian AS segera menelikungnya. Misalnya, Jay Leno. “Apakah Anda telah melihat iklan baru ? Iklan kampanye McCain yang menyamakan Barack Obama dengan Britney Spears dan Paris Hilton. Dan sekarang kampanye Obama mengeluarkan iklan yang menyamakan John McCain dengan Zsa Zsa Gabor dan Bea Arthur.”

McCain tetap bersikukuh. Ia mempertahankan iklannya yang menyamakan Barack Obama dengan Paris Hilton sebagai terlalu banyak ngomong dan kurang action.. Jay Leno kembali mengolok McCain. “Apakah McCain telah menonton video seksnya Paris Hilton ? Di video itu tak ada kata-kata. Yang ada action semuanya,” tegasnya.

Masih terkait tentang seks. Usia tua, kita tahu, juga berpengaruh terhadap perubahan fisik. Termasuk organ reproduksi kita. Komedian Conan 0’Brien membidik McCain dari sisi itu. Oloknya, “Putri John McCain mengumumkan bahwa ia akan menulis buku anak-anak berdasarkan riwayat hidup ayahnya. Aku pikir bagus sekali. Buku anak-anak itu nantinya akan berjudul, ‘James dan Prostat Raksasa .’”

Usia tua juga dapat diperolok dari,perspektif sejarah sampai teknologi. Ketika Obama mengunjungi Irak, McCain merasa tidak mengenal Irak. Yang ia kenal bahwa daerah itu bernama Mesopotamia. Dikabarkan pula bahwa McCain itu gaptek. Ia tak pernah menggunakan email atau pun Internet. Jay Leno pun menembaknya : McCain merasa tak perlu menggunakan email karena orang dapat menghubunginya sekarang melalui radio CB-nya.

Konteks olokan serupa mari kita coba pindah ke Indonesia : ketika pemilihan presiden akan digelar tahun depan, mungkin kita akan disuguhi calon-calon berusia tua. Abdurachman Wahid, Amien Rais, Megawati, Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, sampai Sutiyoso.

Bagaimana kalau mereka itu didampingi calon wakil presiden yang berusia lebih muda ? Misalnya Rizal Ramli, Soetrisno Bachir, Yusril Ihza Mahendra, Yudi Chrisnandi, Rizal Mallarangeng, Fadjroel Rachman sampai Ratna Sarumpaet ? Saya pribadi tidak setuju. Untuk mendampingi calon-calon presiden kita yang tua-tua itu bisa dipilih siapa saja. Syarat pokoknya : asal mereka dokter !

Gosip politik yang baru kini juga terdengar. Selain Obama, kini Anwar Ibrahim juga menjadi inspirasi politisi muda kita untuk mengincar kursi RI-1. Kampanye hitam dengan uduhan sodomi dari kubu lawan politiknya tak mampu menghalangi Anwar Ibrahim ke kursi parlemen, konon para politisi kita juga ingin disiarkan media bahwa mereka telah siap-siap melakukan sodomi pula !

Kelucuan vs kejujuran. Apakah kita dapat memperoleh pelajaran dari parade lelucon politik di Amerika Serikat tersebut ? “Kita semua ada lemahnya,” begitu bunyi penggalan lirik dari lagu tema tayangan parodi politik Republik Mimpi. Artinya, calon pemimpin-pemimpin kita pun, sebenarnya dan sebaiknya, tidak ada yang terlalu suci untuk diperolok.

Apalagi kini di negara kita sedang terjadi “arus besar,” ketika para selebritis atau mantan selebritis ramai-ramai memasuki ranah politik, kiranya semakin banyak dibutuhkan komedian-komedian cerdas baru Indonesia untuk mengkritisi mereka. Atau justru para wakil rakyat wajah baru itu mau membawa ruh kejujuran seorang komedian sebagai bekal misi suci mereka di gedung para wakil rakyat di Senayan.

Ini bukan himbauan lucu. Atau untuk lucu-lucuan. Karena komedi senyatanya merupakan bisnis atau binatang yang serius. Terlebih lagi, intisari komedi adalah kejujuran, di mana makhluk satu ini serasa makin langka keberadaannya di bumi Indonesia. Karena komedi di Indonesia selama ini senantiasa mengejar kelucuan, bukan kejujuran. Hanya puas bermain-main di permukaan, tidak mau capek-capek menyuruk ke kedalaman.

Sekadar ilustrasi, simaklah pendapat Brahmanto Anindito yang menulis betapa sebagian orang yang dilahirkan normal sekarang ini justru berlomba-lomba membencongkan diri di televisi. Gugatnya lebih lanjut :


“Kepada yang terhormat penulis skenario komedi dan aktor komedi. Kalau boleh, ijinkanlah saya di sini berpesan sedikit kepada Anda. Sebuah pesan sederhana dari lubuk hati yang terdalam :

Tolong, melawaklah sebagai lelaki sejati. Kocoklah perut kami, penggemar kalian, dengan silat logika yang kreatif. Bukan dengan tokoh pria yang didandani perempuan. Bukan dengan adegan-adegan “jeruk” mengejar “jeruk”.

Masih kurangkah tokoh waria (wanita pria), alias wadam (wanita adam), alias banci, alias bencong, di pertelevisian kita? Di film fiksi. Di reality show. Baik pemerannya bencong sungguhan, atau dibuat-buat. Masih kurangkah? Berapa tokoh waria lagi yang harus disajikan sampai Anda puas? “

Pembaca Kompas, Tri Haryanto, Jatimulya, Depok, Jawa Barat, menulis surat pembaca di Kompas (22/1/ Januari 2007) menyatakan diri muak terhadap acara yang yang melecehkan perempuan. Di komedi parodi, variety show, kini tak hanya pada acara lawak saja ketika tokoh-tokoh banci itu muncul di televisi. Sebagai penonton televisi di Singapura, Malaysia, Australia, Taipei sd UEA, ia mengatakan bahwa sedikit sekali acara seperti itu. Tetapi di Indonesia, tokoh yang memerankan banci malah didaulat sebagai aktor terbaik untuk kategori tertentu.

"Comedy is about truth,” kata Shazia Mirza, komedian wanita Inggris keturunan Pakistan. Menurutnya, komedi senyatanya berakar dari realitas, kesejatian, kebenaran. Anda tidak perlu mereka-rekanya, karena semua bahan itu sudah terpendam dalam diri Anda. Komedian akan tampil terbaik bila ia menulis atau mengungkapkan mengenai penderitaan, kemalangan dan kesepiannya.

Komedian kita belum mampu berkiblat kesana. Apalagi melangkah untuk memasukinya. Sehingga ketika bercermin dari pendapat di Shazia Mirza diatas, kiranya kita dapat menguak betapa komedi Indonesia selama ini didominasi oleh kepalsuan dan kepalsuan semata. Pria menjadi wanita palsu. Wanita menjadi pria palsu.

Bayangkan kemudian betapa sebagian para pengusung kepalsuan itu kini sedang berbaris dan berusaha untuk memasuki gedung di Senayan, untuk kelak bisa didaulat sebagai wakil-wakil rakyat Indonesia. Dalam dunia komputer ada lingo atau bahasa prokem yang berbunyi garbage in, garbage out. Bila yang masuk Senayan kelak adalah sampah, maka luarannya pun juga sampah, bukan ?



Wonogiri, 27/8-8/9/2008

ke

Wednesday, October 17, 2007

Don't Try To Be Funny !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Otak yang luka. Ketikkan sekarang “comedy writing” di mesin pencari Google. Semoga Anda masih beruntung menemukan artikel berjudul The “Seven Laws of Comedy Writing” oleh David Evans. Artikel yang menurut saya, sungguh bernas dan menarik.

Saking bersemangatnya saya untuk bisa ikut memberi andil bagi perbaikan kualitas dunia komedi Indonesia, artikel itu pernah saya kirimkan kepada warga komunitas komedi Indonesia. Tidak kepada Miing Bagito. Tidak kepada Aming atau Tora Sudiro. Tidak kepada Indro Warkop DKI. Tidak pula kepada Tukul Arwana. Apalagi Gogon atau pun Basuki. Bukan bermaksud meremehkan mereka, tetapi karena saya memang tidak memiliki data email mereka.

Saya kirimkan artikel itu kepada Effendi Gazali. Juga kepada Denny Chandra. Keduanya tidak membalas. Apalagi berkomentar tentangnya. Saya pikir, hal itu terjadi karena mereka memang sudah memiliki artikel bersangkutan. Kalau itu yang terjadi, saya bersyukur.

Dalam artikel tersebut David Evans antara lain menceritakan sosok komedian keturunan Latin, bernama Chris Fonseca. Ia kurang beruntung, karena menderita penyakit yang disebut sebagai cerebral palsy, adanya luka di otaknya. Penyakit itu pula yang membuatnya sulit berbicara dan tidak mampu meninggalkan kursi roda.

Tetapi di atas kursi roda itulah Chris Fonseca memanggungkan lawakannya. Sebagian besar leluconnya, menurut Evans, merupakan ungkapan sisi-sisi komedis hidup Chris Fonseca yang terkungkung dan tertelikung oleh jeruji keterbatasan fisiknya.

“He is wonderfully funny, because his comedy grows directly out of his own real life,” tandas David Evans bernada tulus dan sarat pujian. Chris Fonseca yang menurutnya memang bener-bener lucu abis., karena sajian komedinya tumbuh langsung dari kehidupan nyata dirinya pribadi.


Panggung pembantaian. Artikel David Evans dan kisah Chris Fonseca serasa tertayang kembali di benak saya, ketika menguping acara Seni dan Budaya Radio BBC Siaran Indonesia, Minggu Sore, 14 Oktober 2007 yang lalu. Dengan dipandu oleh reporternya, Donny Maulana, disajikan perbincangan menarik berkisar peranan klub komedi dalam sumbangsihnya terhadap perkembangan dunia komedi Indonesia. Topik satu ini seingat saya belum pernah muncul dalam perbincangan di pelbagai media mainstream Indonesia. Di harian Suara Merdeka, 19 Februari 2007, saya telah menulis topik bersangkutan.

Nara sumber yang sempat dikontak Donny Maulana untuk berbicara meliputi Ramon P. Tommybens, Dodik Hamster, Apung dan Bambang Haryanto. Sebagai orang kampung dalam belantara komedi Indonesia, saya merasa beruntung. Kalau menurut Gene Perret, penulis komedi untuk Bob Hope, saya selama ini ibaratnya mengenal dunia komedi baru terbatas sebagai “ilmu air,” hal-hal yang bersifat teori. Malam itu saya mendapatkan padanannya.

Pernyataan saya yang dikutip dalam liputan BBC itu berfokus pada topik manfaat klub komedi. Menurut saya., klub komedi merupakan fenomena urban yang selain sebagai outlet alternatif bagi penggemar komedi berkelas, terutama bagi mereka yang bosan atau muak dengan tayangan-tayangan komedi yang ada di televisi, juga sebagai wahana asah diri bagi calon-calon komedian solo Indonesia.

Kita tahu, kalau dalam tayangan komedi di televisi terlalu banyak unsur kepalsuan dan rekayasa dalam mengundang tawa, maka dalam klub komedi para komedian terjun langsung sendirian, secara head to head dengan audiens. Di pentas itu dirinya akan merasakan panasnya sambutan atau pun cemoohan penonton, dan itulah penggemblengan sejati bagi mereka. Tak ayal ini merupakan arena pembantaian yang mengerikan. Dan mungkin karena hal itulah karier komedi solo tidak nampak diminati oleh komedian Indonesia, karena mereka lebih merasa aman untuk tampil secara keroyokan.

Mungkin itulah akibat terlalu banyaknya warga komunitas komedi Indonesia yang tidak tahu kata mutiara dari seorang Judy Carter, mentor komedi terkenal. Ia bilang, komedi solo merupakan bentuk padat, intisarinya komedi. Kalau Anda faham mengenai prinsip-prinsip dasar lelucon, maka Anda akan mampu menerjemahkan keterampilan itu dalam pelbagai ranah yang beragam, apakah dalam penulisan naskah komedi, pementasan, sampai kepada pemasarannya. Karena semuanya itu terpusat pada upaya untuk menghadirkan gelak tawa.

Sokurlah, “ilmu air” saya di atas tentang komedi itu diperkaya dengan nara sumber lainnya yang mengenal “ilmu madu” dari komedi Indonesia. Karena mereka mengenalnya secara nyata. Dalam pergulatan hidupnya. Terutama untuk sosok seorang Ramon P. Tommybens.

Ia selain menulis naskah komedi untuk tayangan televisi dan pementasan, tercatat bersama Harry de Fretes mendirikan PT HdF Corporation yang di antaranya membawahi Grup Lenong Rumpi, Tegar Cipta Paramuda Film, Boim Cafe, dll Ketika itulah ia mulai membina banyak artis muda untuk produksi serial komedi yang di produserinya seperti Lenong Rumpi, Hari Harry Gila (Anteve), Hari Harry Mau (Anteve), F-2 (TPI), dll.

Bersama aktor Tio Pakusadewo dan Ryan Hidayat, Ramon juga membuat beberapa produksi sinetron dan juga menjadi pemain (aktor). Selain mencari bakat baru, melatih dan membimbing, Ramon P Tommybens juga banyak bekerja sama dalam produksi program komedinya dengan beberapa artis yang di kemudian hari menjadi terkenal seperti Tukul Arwana, Becky Tumewu, Indra Safera, Jodi, Tenny, Trio OIO, Ade Juwita, Ade Namnung, Dilla Dil, dan lain-lainnya.



Malam itu Ramon didaulat oleh BBC Siaran Indonesia terutama karena sejak tahun 1997 ia menciptakan konsep unik comedy cafe a la Indonesia dengan mendirikan Comedy Cafe Indonesia untuk pertama kalinya di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Sejak 1 Februari 2006 Comedy Cafe beroperasi di lokasi Ground Floor 06 Pasar Festival Jl. HR Rasuna Said Kuningan Jakarta.

Dodik Hamster, stage manager Comedy Café, menjelaskan bahwa kafenya disebutnya baru menciptakan suasana yang komedis untuk para pengunjungnya, termasuk juga para pengelolanya. Tetapi bila dibandingkan dengan klub komedi di AS, yang mampu melahirkan komedian solo atau stand up comedian seperti Bill Cosby, Robin Williams sampai Jim Carrey, Dodik Hamster mengakui bahwa hal itu masih terbatas sebagai cita-cita besarnya. Walau kafenya sudah berjalan selama sepuluh tahun, ia mengatakan masih menunggu-nunggu, sambil terus belajar, hingga munculnya komedian solo di Indonesia.


Tidak ada rambut Gogon. Pemilik Comedy Café, Ramon P. Tommybens, bahkan menegaskan bahwa sejumlah pelawak terkenal yang alumnus kafe atau hasil didikannya, belum bisa disebut sebagai seorang stand up comedian. Karena memang sulit menemukannya di Indonesia. “Kenapa sulit sekali di Indonesia memiliki stand up comedian walau banyak sekali yang berusaha ?,” tanyanya.

Ia menjawabnya dengan memberi ilustrasi seputar perjuangan seorang Taufik Savalas almarhum. “Dia itu minjam DVD, koleksi buku, (juga) belajar teorinya dari saya. Beberapa tahun lalu saya dengar ada Iwel (Well) yang nyoba di Gedung Kesenian tampil sendirian. Nah masalahnya, ada kesalahan. Kesalahan belajar,” tutur Ramon P. Tommybens. Menurut pendapatnya, pelawak solo Indonesia bisa segera muncul, kalau mereka belajarnya benar. Dalam rinciannya terdapat lima syarat :

1. Don’t try to be funny.
2. Don’t tell a jokes.
3. Don’t tell a story.
4. Be serious.
5. Relax.


Sebelumnya Ramon menyebut bahwa bahannya, yaitu si pelawak atau orangnya, harus pintar Cerdas. Dalam wawancara melalui telepon terkait persyaratan satu ini, kepada Donny Maulana saya memberi ilustrasi mengenai seberapa cerdas sosok komedian solo di AS. Yaitu Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Sekadar Anda tahu saja, keduanya sama-sama lulusan magna cum laude dari Universitas Harvard.

Ramon kemudian merinci sebagian dari kelima syarat di atas dengan ilustrasi menarik. Misalnya, ketika merujuk syarat yang pertama, mungkin terasa sangat antagonistik. Ia katakan, “padahal mau menjadi pelawak tetapi (kok) tidak boleh melucu ? Bahkan jangan coba-coba menjadi lucu !” Mungkin memang tidak mudah bagi kita untuk mencerna penjelasannya yang provokatif ini.

Kita simak, ketika ia mengilustrasikannya dengan merujuk sosok pelawak solo di luar negeri. Mereka itu, menurutnya, tampil seperti businessman. Hadir dengan jas rapi, memakai jam emas, pakai berlian, gayanya mewah. “Tak ada lagi yang memakai dasi pendek, celananya diangkat, kumisnya kecil atau rambutnya diapain. Engga ada lagi yang rambutnya kayak Gogon gitu,” tandasnya.


Siapa mendengar kritik Ramon ? Beberapa hari sebelum acara di radio BBC Siaran Indonesia diudarakan, saya telah menulis email ke Ramon P. Tommybens. Juga saya tembuskan kepada beberapa individu warga komunitas komedi dan pelaku industri komedi di Indonesia. Semoga mereka mendengar kritikan Ramon di atas. Saya ragu.

Karena walau pun mendengar, saya terlanjur pesimistis bahwa mereka mampu memahami rumus-rumus yang dipaparkan oleh Ramon P. Tommybens di atas. Lebih pesimistis lagi bila mampu memberinya inspirasi untuk mau belajar dan memicunya untuk berubah. Karena pemahaman komunitas komedi di Indonesia terhadap sajian komedi sepertinya sudah mengakar sebagai pertunjukan bergaya keroyokan, tidak menganggap penting otensitas diri tiap individu pelawak, dan terutama mereka baru mampu berjalan di tempat dengan prinsip selalu tampil untuk berusaha lucu.

Tayangan Republik Mimpi di MetroTV misalnya, yang diolah otak-otak terdidik dari jurusan pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, juga masih terjebak sangat tendensius ingin melucu dan melucu. Pemberian nama-nama tokohnya, seperti Jarwo Kuwat (JK) untuk memparodikan sosok Jusuf Kalla, Gus Pur untuk Gus Dur, sampai Megakarti untuk Megawati, adalah impuls kelucuan yang teramat tipis, hanya mengapung di permukaan saja.

Begitulah, lelucon atau komedi di Indonesia memang masih sibuk menggaruk-garuk impuls-impuls dangkal yang mampu memicu tawa. Juga hanya menerbitkan tawa yang dangkal pula. Suka atau tidak suka, modus operandi atau formula semacam ini yang justru merajai tayangan-tayangan komedi di layar-layar televisi kita selama ini.


Selamat tinggal televisi ! Kita kembali ke David Evans. Obat atau antidote bagi nafsu mencoba melucu dan tampil lucu, barangkali bisa kita temukan pada pernyataannya berikut ini : “Saya percaya adanya kekuatan dahsyat ketika Anda memiliki kejujuran dalam visi komedi Anda, yang dipadukan dengan inspirasi komedi yang bersumberkan pada diri individu Anda.”

Inspirasi komedi itu bisa hadir secara wadag, misalnya kekurangan fisik seorang Chris Fonseca. Tetapi bisa juga lebih halus keberadaannya. Bagi saya, kejujuran seperti yang ia syaratkan masih hal langka bagi komedian Indonesia dalam mengkonstruksi lawakan-lawakan mereka.

Speak your truth. You can say what you think an audience wants to hear, and they may think you're funny, but you won't pioneer anything new unless you use that one thing that makes you different, your own personality.

Talk about your own fears and faults. By presenting what is most personal for yourself, you actually touch a common chord among more people. You can illuminate what it means to be human, and bring more humanity out of yourself and others. And that's what great stand-up is all about.


Kuncinya, sekali lagi, tengoklah diri Anda sendiri. Lalu perhatikan orang-orang di sekitar hidup Anda. Orang-orang, absurditas dan kebodohan dari kehidupan nyata merupakan sumber inspirasi komedi yang paling kaya. Mengingat tingginya nilai keaslian, ia anjurkan kepada para calon komedian untuk tidak menonton televisi. Tegas David Evans : “Jangan berbelanja inspirasi atau model komedi Anda dari televisi !”

Sebagai calon komedian, mungkin sudah saatnya Anda mau menyiksa diri dengan mengoreksi secara total kesalahan belajar komedi Anda selama ini. Termasuk untuk berkata dan bertindak : Selamat tinggal Empat Mata. Selamat tinggal, Republik Mimpi. Selamat tinggal, ExtraVaganza. Kalau tidak, mungkin Anda sebenarnya sudah mengidap cerebral palsy, tanpa Anda sadari.

Dalam konteks seperti ini mungkin saya, yang tinggal di kampung ini, agak-agak boleh disebut sebagai beruntung. Karena saya memang tidak memiliki pesawat televisi.



Wonogiri, 14-17 Oktober 2007


ke

Tuesday, July 03, 2007

Joker, Writer, Blogger !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Komedian Meniti Bahaya. Diskusi tentang lawak itu terkirim dari Salzburg, Austria, akhir Mei 2007. Pengirimnya Agung Pramono, warga Wonogiri yang kini tinggal di Jakarta dan biasa keliling dunia. Beberapa bulan lalu ia kirim lelucon dari Pattaya, Thailand. Juga cerita tentang acara komedi Gags sampai Just for Laugh yang sering ia tonton dari tayangan televisi di Kanada.

Obrolan dari Salzburg itu langsung mengingatkan saya akan nomor Musical Joke, karya komposer jenius kelahiran Salzburg. Ia sering disebut sebagai darling of the world, yang tidak lain adalah Wolfgang Amadeus Mozart. Dalam film Amadeus (1984) yang menyabet 8 Oscar garapan Milos Forman, Mozart digambarkan memiliki selera humor cabul dan vulgar.

”Forgive me, Majesty. I am a vulgar man! But I assure you, my music is not,” begitu akunya kepada Kaisar Josef II. Pada nomor karyanya Musical Joke itu kita dapat membuktikan ucapannya

Pada awalnya Anda akan dibelai oleh harmoni dua french horn berpadu dengan empat alat musik gesek yang indah. Tetapi kemudian tiba-tiba Anda digerojok alunan musik liar, edan-edanan, chaotic, yang menggelitik kita untuk tertawa.

Karya Mozart yang tanggal lahirnya sama dengan Jaya Suprana, 27 Januari, dan sama pula dengan Hari Epistoholik Indonesia yang saya deklarasikan dua tahun lalu di acara HUT MURI ke-15 di Semarang, harus saya dengarkan berkali-kali. Terus terang, mencoba menikmati lelucon dari musik klasik, ternyata memang tidak mudah. Sama halnya, kita semua tahu, bahwa mengkreasi lelucon yang bermutu juga tidak mudah.

Agung Pramono, alumnus ITB, dalam emailnya itu menyatakan apriori terhadap perkembangan lawak di Indonesia. Menurutnya, isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan) merupakan musuh dari kreatifitas pelawak. Belum lagi isu SAMPAH (Sex, Anatomi, Moral, Partai, Adat dan Humanisme), menurutnya lagi, adalah pula mimpi buruk bila kaum lucu itu bertindak “kebablasan” dalam meledakkan lawakan-lawakan mereka.

Saya bisa memahami kerisauannya. Kelompok lawak Bagito, sebagai contoh, pernah terperosok ke dalam tong SAMPAH ketika mereka melucukan kekurangan yang bersifat “anatomi” dari seorang Gus Dur. Gus Durnya sendiri, sebagai humoris sejati (“siapa yang punya rekaman acara Kongkow Bareng Gus Dur, Radio 68H, 24 Juni 2007 yang bertopik lawakan vs keberingasan dalam Islam ?”), tidak apa-apa. Tetapi para pendukungnya, yang tidak memiliki selera humor setinggi Gus Dur, saat itu langsung menjadi berang beramai-ramai.

Mungkin saya salah, tetapi sejak insiden “lelucon anatomi” itu meletup pamor Bagito pun meredup. Mereka mungkin trauma, lalu melakukan sensor diri sendiri, sehingga ketajamanan leluconnya yang lain pun pelan tetapi pasti tergerus habis daya ledaknya. Sementara itu lelucon yang menjurus ke seks dan diskriminasi jender seperti saya tulis sebelumnya, telah membuat tayangan Chatting di TPI dan Empat Mata-nya Tukul Arwana di Trans7 mendapat somasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.

Begitulah, melucukan dan melecehkan kadang batasnya memang tipis sekali. Justru itu, menurut saya, di situlah tantangan yang menarik dan sangat unik bagi seorang komedian. Mereka ibarat atlet akrobat yang berani meniti tali di atas ketinggian. Atau berjalan dan menari di atas sisi keping tajam pisau silet raksasa. Humor always plays very close to the hot fire of truth. Hidup komedian selalu dalam bahaya. Tetapi sebagaimana ciri komedian sejati yang memiliki kejujuran dan keberanian, terutama dalam mengolok kekurangan dirinya sendiri, pengalaman dan tantangan semacam itu bahkan kemudian ibarat candu bagi mereka.


Komedian Itu Komando. Billy Crystal pernah menegaskan bahwa sebagian besar komedian adalah sosok orang-orang pemalu yang menggunakan panggung untuk mengalahkan rasa takutnya terhadap orang lain. Komedian solo perempuan terkenal Joan Rivers bertutur, “My routines come out of total unhappiness. My audiences are my group therapy.”

Dengan melawak Joan Rivers mengharapkan rasa tidak bahagianya yang kronis itu menjadi tersembuhkan ketika dirinya berbaur di tengah penontonnya. Louie Anderson memberi garis bawah : “Komedi sejati adalah kemampuan dan keberanian Anda untuk membuka diri sehingga audiens dapat melongoki isinya dan percaya mereka tidak akan mencoba menyakiti Anda.”

Komedian seperti Joan Rivers atau Louie Anderson, memang ibarat anggota pasukan komando. Dirinya berani berperang sendirian. Selain untuk menaklukkan rasa takut pada dirinya sendiri, sekaligus berjuang mengalahkan hujan bom dan berusaha membunuh belasan sampai ratusan pengunjung pentasnya.

Anda jangan merasa serem dulu. Harap Anda maklum, istilah bom dalam dunia komedi adalah slang untuk cemoohan penonton yang tidak puas terhadap lawakannya. Sementara membunuh adalah lawakan yang mampu mengundang gelegar tawa.

Mungkin seperti sosok Arnold Schwarzenegger dalam film Commando, komedian dituntut memiliki amunisi dan trik yang banyak, juga selalu baru, dalam melawak. Dan sebagaimana anjuran dari para pelawak terkenal dan mentor pelawak yang mumpuni, kepemilikan amunisi dan trik-trik lawakan itu harus dimulai dari aktivitas menulis. Komedian Jerry Seinfeld memberi nasehat : “Menulislah (lelucon) hingga tanganmu terasa sakit !”


Mengapa menulis ? Karena menurut Mark Rutherford, dalam diri setiap orang ada sebuah mata air yang terus menyemburkan kehidupan, energi, cinta, apa pun sebutan yang Anda berikan padanya. Mata air apa yang menyembur dari dalam diri Anda ? Menulis merupakan cara yang baik untuk menyalurkannya.

Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang diterjemahkan (“menurut saya menjadi lebih jelek”) dengan judul Berani Berekspresi (MLC, 2004), menegaskan bahwa dengan menulis penulis (mampu) menangkap hal-hal yang tidak teramati oleh orang lain. Penulis menangkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi.

Penulis kemudian menariknya dari sudut remang-remang tempat kebenaran itu suka bersembunyi, membawanya ke tempat terang, menangkapnya ketika mereka sedang mengawang terbang. Di bagian lain juga ia tegaskan, “jika Anda punya kejujuran diri yang mendasar, Anda kemudian akan menulis. Anda akan melaksanakan kegiatan yang Anda kaitkan dengan jati diri Anda yang paling dalam.”

Pelawak juga memiliki landasan eksistensi yang sama : dirinya melawak untuk mengekspresikan sisi relung terdalam dari dirinya sebagai manusia. Ia pun memiliki misi mulia seperti halnya penulis, untuk berani mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi.

Sekadar contoh, simak ledekan Jay Leno berikut ini : “Walikota New York Michael Bloomberg memutuskan keluar dari Partai Republik dan menjadi independen. Ia bilang tidak memiliki rencana untuk jadi presiden. Sekarang jangan campur adukkan perkataan dia dengan Presiden Bush, yaitu seseorang yang tidak memiliki rencana sebagai presiden.”

Ketika Bush diam-diam berkunjung ke Baghdad, David Letterman berkomentar : “Saya pikir ini menarik sebagai perbandingan. Presiden Bush secara diam-diam mengendap ke Baghdad dan tidak seorang pun tahu. Sebaliknya Bill Clinton, ketika ia mengendap pegawai magang Gedung Putih (Monica Lewinsky-BH), semua orang justru tahu tentangnya.”

Lengsernya Tony Blair juga menjadi bahan olok-olokan komedian Conan O’Brien : “Perdana Menteri Tony Blair dari Inggris baru saja mengumumkan diri akan lengser dalam waktu dekat, yang berarti Presiden Bush akan kehilangan sekutu terdekatnya dalam urusan luar negeri. Bush merasa sedih dan berkata, ‘Kini pemimpin asing yang saya percayai adalah Arnold Schwarzenegger.’”

Masih tentang Bush, Bill Maher mengolok kualitasnya yang terkenal sebagai presiden “dungu” : “Majalah TIME baru saja menerbitkan Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh Di Dunia dan Presiden Bush tidak masuk di dalamnya. Ia pun marah. Ia menghentikan langganan dan berhenti dari kursus privat membaca.”

Lalu adakah hubungan antara politikus dan kriminalitas ?

“Kelompok lembaga konsumen menegaskan harus tersedianya kolom isian dalam kartu suara untuk memastikan bahwa pajak yang tersalur digunakan untuk memerangi kriminalitas dan bukan mengalir ke kantong para calon presiden. Saya pikir ini ide hebat. Yang saya maksudkan, setiap kali Anda menarik uang Anda dari kantong politikus, berarti Anda memerangi kriminalitas, bukan ?,” kata Jay Leno.


Sekolah Lawak di Indonesia. Selain email dari Salzburg di atas, diskusi mengenai lanskap komedi Indonesia dewasa ini juga dipicu oleh email yang saya terima dari Tri Agus S. Siswowiharjo (17/6/2007) dari Depok. Sebagai aktivis LSM, penulis lepas dan kegemarannya terhadap humor, ia telah menghasilkan buku antara lain Mati Ketawa Cara Timor Leste (2001) dengan kata pengantar Xanana Gusmao, GAM: Gerr Aceh Merdeka (2003), Humor Pemilu 2004 (2004), dan Senyum Dikulum, Tsunami (2005).

Prestasi yang hebat. Saya balas emailnya, antara lain : “saya salut untuk telah terbitnya beberapa buku kumpulan humor Anda. Melihat topik dan judulnya, sungguh bikin iri (bukan dengki) karena Anda telah mengetahui jeroan orang Aceh sampai Timor Timur dalam bingkai humor. Kalau Clemence Dane pernah bilang bahwa “make us laugh and you can pick all pockets,” maka bayangkan betapa banyak kantong orang Aceh dan Timor Timur yang berpotensi untuk bebas Anda “gogohi” selama ini ?

Diskusi email Depok-Wonogiri ini meningkat ke topik menarik. Yaitu tentang cita-cita Tri Agus dan juga cita-cita tokoh pemerhati dan penulis humor Darminto M. Soedarmo, di mana keduanya sama-sama ingin mendirikan sekolah atau kursus pelawak. Ungkapnya, “Dia (Darminto M. Soedarmo) bilang semuanya sudah siap. Cuma ada gak orang gila (investor) yang mau membiayai. Saya bilang, tak perlu harus gila, cukup setengah gila untuk mewujudkan gagasan itu. Mengapa banyak kursus menyanyi, presenter, kepribadian dan lain-lain bisa eksis, sementara komedi/lawak tak ?”

Cita-cita bagus itu tentu saja saya dukung. “Terima kasih untuk obrolan tentang cita-cita Anda dan Mas Darminto untuk membangun kursus lawak. Tetapi ketika mendengar harus ada uang milyaran, waduh, saya ikut keder. Apa engga modal dengkul saja, yaitu reputasi Anda, lalu kerjasama menyewa ruko atau rumah dengan bagi hasil, lalu berdirilah kursus itu. Simpel tapi mungkin gak simpel ya ? Sori, ini logika made in Wonogiri.

Hal lain, boleh dianggap serius atau guyon : kalau saya jadi pengelola kursus, semua siswa saya harus menjadi blogger dulu. Karena semua komedian, menurut saya, harus menjadi penulis dulu. Persyaratan semacam ini yang mungkin akan membuat banyak dari mereka pikir-pikir atau bahkan mundur ya ?”

Obrolan dengan topik yang sama, sebelumnya telah pula saya kirimkan kepada Agung Pramono. Antara lain saya tuliskan : “Email Agung dari Salzburg itu, terkait aspirasi tentang dunia komedi, mengingatkan saya cerita dari bukunya Aribowo Prijosaksono dan Marlan Mardianto, Self-Management : 12 Langkah Manajemen Diri : Guru Terbaik Sekaligus Musuh Terbesar Manusia (Elex Media Komputindo, 2002).

Aribowo itu kakaknya musikus Piyu/Padi. Aribowo menceritakan seorang temannya, sama-sama alumnus IPB, tetapi si teman itu kini sudah jadi doktor dengan spesialisasi keuangan. Si doktor ini punya cita-cita terpendam, yaitu ingin jadi : komedian solo, alias stand up comedian !

Karena di tv kita sampai saat ini belum ada kabar adanya komedian solo yang bergelar doktor, maka sampai kini ya kayaknya dirinya masih saja memendam ambisinya itu. Mungkin cita-cita itu sudah ia lupakan.

Cerita kecil itu mengingatkan bahwa mungkin harus ada sesuatu pulung tertentu untuk menjadi komedian. Mungkin paduan antara keberanian, kenekadan, lalu luck juga. Seperti temanmu yang manajer PT Johnson Indonesia itu, bila saja ia ketiban pulung dan jadi pelawak, mungkin ia akan menjawab lain bila mendapat pertanyaan yang sama dengan yang Agung sms-kan itu. Mungkin lho.

Sang doktor yang teman Aribowo sampai manajer PT Johnson Indonesia itu, juga bagi Agung sendiri, bila pun kini terbuka peluang untuk terjun ke dunia lawak dan prospeknya gilang-gemilang, apakah mereka dan Agung berani menerjuni “hutan belantara” yang satu ini, sekarang ini ? Mungkin itu pertanyaan berat ya ?

Yang tidak berat, dan bisa kita nikmati, bahwa apa pun profesi kita, maka pulung itu, yaitu sense of humor, merupakan aset yang berharga untuk setiap pribadi. Sokur-sokur kalau humornya itu bukan yang mengejek orang lain, tetapi mengejek (a la Gus Dur) dirinya sendiri. Dengan humor kita sukarela menunjukkan sisi-sisi rawan, vulnerable, dari diri kita sendiri. Hal ini justru berdampak magical. Orang menjadi tersentuh, dan mau mendekat kepada kita. Beda dengan lawakan jahilnya Komeng bin Spontan. Orang akan cenderung memilih menjauh, karena takut dijahilinya.

Terakhir, harta karun sense of humor kita memang tidak selalu hanya pantas diaktualisasikan semata menjadi aksi komedian solo yang tampil di panggung. Gene Perret dapat Emmy Award karena menulis naskah. Kita kan juga bisa menjadi kritikus komedi ? Menjadi sutradara, seperti Teguh Srimulat ? Menjadi pendidik calon pelawak ? Menjadi manajer ?

Yang paling saya harapkan segera, ya segera, dari Agung : luncurkan blog komedimu. Segera. Dua emailmu kepada saya, itu sudah menjadi bahan awal tulisan yang menarik. Pengalamanmu nonton sajian komedi di tv Kanada atau bahkan tv Austria, tak ada yang menyamaimu di Indonesia, kan ? Maka, PD aja, Gung, ayo tuliskan saja – apa pun pendapatmu, ungkapkan menurutmu yang terbaik tentang komedi-komedi yang telah kau tonton itu. OK ?

Kalau Agung benar-benar menyukai komedi dan Agung ingin memberikan andil perbaikan kepada komedi di Indonesia, maka bloglah yang bisa kau garap – mulai hari ini. Bukankah ini tidak menyita pekerjaan dan gajimu, bukan ? Entah, kalau hari ini kau malah telah bulat-bulat memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanmu, lalu terjun 100 persen ke dunia komedi ?”

Moga obrolan ini bermanfaat.

Salam dari anak buah mBok Bende
(sama-sama Wonogirinya),

Bambang Haryanto


Email terakhir saya ini, mengenai tuntutan saya bahwa seorang komedian harus juga seorang blogger, baik yang saya kirimkan kepada Agung Pramono mau pun Tri Agus S. Siswowiharjo, sampai saat ini belum mendapat balasan.


Wonogiri, 29/6 - 3/7/2007


ke

Tuesday, February 27, 2007

I Love You Ellen, Ellen DeGeneres !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Rumus Anda Tidak Berlaku ! Margaret Hilda Thatcher, perdana menteri Inggris (1979-1990), pernah dikutip majalah People (15/9/1975) mengatakan, “In politics if you want anything said, ask a man. If you want anything done, ask a woman.”. Apabila dalam politik Anda menginginkan segala sesuatunya hanya jadi bahan omong-omongan, pilihan politikus pria. Apabila Anda menginginkan segala sesuatunya dikerjakan, pilihlah politisi wanita.

Rumusan bagus.

Mendongkrak rasa percaya diri kaum perempuan. Sayang, Lady Thatcher, rumus Anda tersebut tidak berlaku seratus persen di Indonesia. Karena Indonesia pernah dipimpin politisi perempuan, tetapi dirinya nampak menonjol tidak tertarik untuk melakukan aktivitas omong-omongan, sementara prestasi kerja pemerintahannya pun diragukan.

Seorang linguis, Deborah Tannen dalam bukunya You Just Don’t Understand : Women and Men In Conversation (1990), menekankan bahwa perempuan secara alami mempererat hubungan mereka dengan terang-terangan dalam menyalurkan informasi, petunjuk, atau bantuan dengan sepenuh hati. Aneh juga ketika kita justru mendapati betapa politisi perempuan kita malah lebih suka berdiam diri.

Politisi perempuan di Amerika Serikat yang tidak suka selalu berdiam diri, mungkin bisa kita temui pada sosok Hillary Rodham Clinton. Ia sudah disebut-sebut oleh surat kabar The New York Times sejak Oktober 2002 sebagai calon kuat presiden AS masa depan. Disusul Majalah Forbes mendata dirinya sebagai salah satu figur kuat dunia dan jajak pendapat mendudukkan Hillary masuk daftar 100 tokoh pilihan Majalah TIME.

Ketika suaminya, Presiden Bill Clinton, dilanda rumor skandal seks dengan Gennifer Flowers sampai Monica Lewinsky, Hillary bersedia muncul untuk wawancara dalam acara terkenal 60 Minutes di televisi CBS.

Ujarnya saat itu, “I am not standing by my man, like Tammy Wynette.” Ia menjelaskan bahwa dirinya bersedia hadir pada acara ini karena ia mencintai suaminya, ia menghormatinya, dan dirinya menghargai apa yang suaminya putuskan dan, “kami berdua akan bertanggung jawab secara bersama-sama.” Dalam bukunya Living History (2003), setebal 562 halaman dan laku lebih dari sejuta eksemplar setelah sebulan diluncurkan, Hillary menjelaskan bahwa cinta yang menjadi alasan dirinya tetap bersama suaminya tersebut.

“Tidak ada orang yang mampu memahami diri saya secara lebih baik dan mampu membuat diri saya tertawa sebagaimana Bill kerjakan. Setelah waktu dan waktu berlalu, ia tetap pria yang paling menarik, energizing, dan sosok penuh gembira yang pernah saya temukan. Bill dan saya memulai mengobrol di musim semi tahun 1971, dan lebih dari tiga puluh tahun kemudian kita berdua tetap saja saling berbicara”


Salah satu tokoh ternama di dunia hiburan AS yang mungkin bersorak atas majunya Hillary Clinton tersebut adalah comedienne Ellen DeGeneres (foto di bawah ini) yang baru saja memandu acara Oscar 2007.


Photobucket - Video and Image Hosting


Memandu Oscar 2007. Ellen DeGeneres saat tampil dalam memandu acara penganugerahan Oscar atau Academy Awards ke-79, 25 Februari 2007 yang lalu.

Ellen DeGeneres, lahir tanggal 26 Januar1 1958 di Ochsner Hospital, Metairie, Louisiana dan memiliki darah campuran Perancis, Inggris, Jerman dan Irlandia itu pernah mengemukakan, “masa depan Amerika yang lebih baik harus dipimpin oleh seorang presiden perempuan.”
"Kekurangan Amerika sekarang ini adalah terletak pada pedoman dan kepemimpinan yang hanya bisa diberikan oleh sosok perempuan bijaksana serta pengasih. Mengapa tidak? Perempuan bisa bekerja lebih cekatan, belajar lebih lama serta berusaha lebih keras untuk berhasil di dunia pria ini.

Kita harus belajar untuk sukses tanpa merasa terancam, mengajak tanpa menuntut serta memimpin tanpa merasa tertinggal di belakang. Kami adalah politisi alami. Persyaratan usia minimum adalah 35 tahun. Di usia inilah perempuan sedang berada di puncak intelektualnya. Bukan matang karena krisis paroh baya," ujar komedian ini.

Tetapi dalam penampilannya di malam Oscar, ia tidak menyuarakan pandangan politiknya tersebut. Ia justru meledek kehadiran mantan wakil presiden AS, Al Gore, yang malam itu menyabet Oscar untuk film dokumentasi, An Inconvenient Truth, yang mengampanyekan ancaman pemanasan global bagi masa depan umat manusia.

Photobucket - Video and Image Hosting


Ellen DeGeneres melucukan Al Gore dengan memperbandingkannya dengan nasib artis Jennifer Hudson. Audiens telah tahu, Jennifer Hudson sebelumnya gagal dalam ajang American Idol. “Tetapi kini,” seru Ellen DeGeneres, “ia sekarang ada disini sebagai nominator Piala Oscar.” Lalu ia menunjuk ke Al Gore, yang juga hadir sebagai nominator Oscar, terkait pemilihan presiden di AS tahun 2000.

“Amerika telah memilih dirinya sebagai presiden, dan...” di tengah gemuruh sorak dan tepuk tangan hadirin, Ellen melepaskan punchline-nya : “Sangat-sangat sarat komplikasi !”

Kekalahan Al Gore dari George W. Bush dalam pilpres waktu itu memang kontroversial. Angka perolehan keduanya bersaing sangat ketat. Bahkan kemudian sengketa itu harus dibawa ke Kejaksaan Agung, dan Al Gore lebih memilih mundur dan memberikan kemenangan bagi Bush. Pemilu yang kontroversial. Dan bagi komunitas komedian, segala hal yang berbau kontroversial merupakan menu lezat yang harus disantap untuk dijadikan bahan bulan-bulanan lawakan.

Merujuk rumusan di atas maka ketika mengomentari acara Republik Mimpi yang menampilkan tokoh SBY, hal itu saya sebut sebagai blunder. Karena SBY adalah tokoh yang kurang “bergerigi” dan lembek untuk dijadikan lawakan, terutama bila konstruksi lelucon tentangnya hanya berputar-putar menguliti sisi-sisi wadag, hanya permukaan, seperti yang hanya mampu dilakukan oleh Butet selama ini. Butet memang tidak salah, tetapi tim kreatif acara bersangkutan yang kurang tajam wawasannya tentang isi acara parodi politik !

Bandingkan misalnya dengan karya satir dari Van Gross, MD dalam situs BongoNews ketika mengolok kemenangan Al Gore di malam Oscar 2007 tersebut. Ia tuliskan bahwa kemenangan Al Gore itu ternyata kemudian harus dibatalkan oleh hakim. Karena Piala Oscar untuk kategori Film Dokumentasi Terbaik justru dianugerahkan kepada George Bush untuk film politiknya yang berjudul Mounting Mr. Cheney.

Bahkan ketika pesta Oscar itu berlangsung, pemerintahan Bush justru merayakan kemenangan setelah menjatuhkan bom nuklir di Iran, juga menculik presiden Mahmud Ahmadinejad, sehingga Bush dapat membintangi film dokumentasinya yang terbaru, berjudul : An Inconvenient Idiot.


Telepon Ellen Kepada Tuhan. Malam Oscar tersebut telah merambah kemana-mana, termasuk mengangkat isu tentang Bush yang kontroversial. Juga Al Gore. Demikian pula sebenarnya tentang diri Ellen DeGeneres sendiri.

Ellen saya kenal pertama kali 13 Februari 2002. Di stasiun kereta api Gondangdia, Jakarta Pusat. Dari buku The Comedy Bible (2001)-nya Judy Carter. Saat itu buku tersebut baru saya ambil dari toko buku QB World of Books, Jalan Sunda, setelah sebulan sebelumnya saya memesannya dari Amerika Serikat.

Dalam buku itu Ellen DeGeneres dijadikan contoh proses kreatif seorang komedian. Lelucon, demikian kata Judy Carter, harus dimulai dari gagasan dan semua orang punya gagasan jenaka. Sebagai contoh, “Ellen DeGeneres mampu mengubah tragedi menjadi komedi. Ketika (saat itu Ellen berumur 19 tahun) teman perempuannya meninggal dunia, ia sendirian dan terganggu oleh kutu, memunculkan gagasannya untuk menulis rutin atau naskah lelucon yang berjudul : Bertelepon Kepada Tuhan.”


”Hallo, Tuhan, ini Ellen....Begini, Tuhan, ada kepastian di dunia ini. Tetapi saya tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Bukan, bukan tentang Fabio. Bukan. Tetapi hal yang pasti, maksud saya, Jesus Kristus. Bukan, bukan ia yang saya maksudkan. Ia sosok yang agung. Kita masih sering membicarakannya. Tetapi tidak kali ini, saya lagi berpikir mengenai serangga. Bukan lebah. Mereka hebat. Madunya. Serangga cerdas.

Terima kasih, Tuhan. Saya berpikir tentang kutu.. yang menurut saya tidak ada manfaatnya....(menunggu). Tidak, saya tidak menyadari betapa banyak orang yang bekerja di bidang industri kutu di kerah baju...belum lagi tentang obat semprot. Baiklah, aku pikir kau yang benar. Tentu saja kau selalu benar.....”


Demikianlah, gara-gara kutu, diimbuhi perhatian, kejelian dalam melakukan observasi, dan kemudian menuliskannya, akhirnya mampu melambungkan seorang Ellen menjadi komedian ternama. ”You’ve probably been thinking up ideas for many, many years. Well, now it’s time to write them down.”, begitu nasehat Judy Carter. Manfaat mengobservasi dan catat-mencatat juga berlaku untuk bidang lain. Sebagai seorang epistoholik, saya telah menulis surat pembaca di bawah ini :


Bloknotmania !
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Jumat, 12 Agustus 2005


Apa yang terjadi bila satu bus penuh turis Jepang dibajak teroris ? Polisi akan memperoleh 50 foto diri teroris dari pelbagai sudut. Lelucon ini menunjukkan kegetolan turis Jepang yang kemana-mana memotret obyek wisata yang mereka kunjungi. Ternyata kebiasaan hebat turis Jepang bukan hanya itu.

Menurut Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, turis-turis Jepang itu juga membawa-bawa bloknot. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi. Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mereka mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki oleh setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.


BAMBANG HARYANTO
Warga Epistoholik Indonesia
Jl.Kajen Timur 72
Wonogiri 57612


Dekat Dengan Tuhan ? Ellen DeGeneres rupanyai dikaruniai untuk “akrab” secara kontroversial dengan Tuhan. Tahun kemarin, 2006, ia membintangi film daur ulangnya komedian panjang umur George Burns di tahun 1977, berjudul Oh, God. Ellen berperan sebagai Tuhan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Ketika dirinya (foto di atas) terpilih sebagai salah satu dari 100 tokoh Majalah TIME (artis dan penghibur lainnya : George Clooney, Dixie Chicks, Ang Lee, Will Smith, Meryl Streep, Reese Witherspoon sampai komedian Stephen Colbert), Bob Newhart, juga komedian, penulis buku I Shouldn't Even Be Doing This (2006) dalam artikelnya di majalah TIME (8/5/2006) menyebut Ellen DeGeneres sebagai “Komedian Perempuan Paling Berani dan Paling Jujur Dalam Dunia Hiburan.”

Pujian Bob Newhart itu merujuk penampilan Ellen dalam acara sitkomnya, juga berjudul Ellen (1994-1998) di televisi ABC, ketika di tahun 1997 ia secara terus terang mengatakan dirinya sebagai lesbian. “Pengakuan tersebut dapat beresiko menamatkan kariernya, sebagaimana Ellen sendiri juga menyadarinya, tetapi ia telah berlaku sejujurnya. Terima kasih Tuhan, untuk Ellen DeGeneres. Dan ini bukan hal yang sering terjadi ketika menemukan nama seorang lesbian dan Tuhan berada dalam satu kalimat dewasa ini,” kata Bob Newhart.

Di malam Oscar 2007, sambil merujuk keragaman audiens dan hadirnya 177 nominator, ia tak lupa meledek status orientasi seksnya tersebut. “Apabila tidak ada orang-orang berkulit hitam, Yahudi dan lesbian,” di tengah pikuk keramaian sambutan ia menegaskan, “maka akan tidak ada anugerah Oscar.”

Kejujuran seorang komedian, seperti telah ditunjukkan Ellen DeGeneres secara berani dan setulus hati itu, sungguh mengharukan dan mengesankan untuk bisa dijadikan sebagai cermin renungan. Oleh kita, bagi kita semua, baik mereka yang terlibat dalam dunia komedi Indonesia, atau pun dalam bidang-bidang kehidupan lainnya.

I love you, Ellen.


Wonogiri, 27/2-7/3/2007


ke