Showing posts with label soeharto. Show all posts
Showing posts with label soeharto. Show all posts

Monday, June 29, 2009

Lagu Michael Jackson dan Inspirasi Pilpres 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Berbakat abad 20. “Tragedi kematian Michael Jackson dalam usia 50 tahun, dikabarkan akibat serangan jantung, hanya menjadi gambaran yang pucat bila dibandingkan dengan tragedi dalam hidupnya.”

Itulah tulisan pembuka dari Josh Tyrangiel dari majalah TIME, yang berjudul “Michael Jackson, 1958-2009: The Talent and the Tragedy.”

Lanjutnya : “ Untuk memahami semua kisah jatuh-bangun dirinya memerlukan kita menelusuri masa tiga puluh tahun sejak operasi plastik yang mendeformasi dirinya, tingkah laku eratik yang membuat namanya sinonim dengan pembengkokan daya sebuah ketenaran, dan pengadilan tahun 2005 dengan tuduhan pelecehan terhadap anak-anak, walau pun ia tak terbukti bersalah, membuat dirinya sebagai paria dan mencuci otak seluruh penggemarnya.”

“Tetapi bila Anda dapat memaafkan atau melupakan hal di atas itu semua, Michael Jackson merupakan salah satu penghibur yang paling berbakat pada abad ke-20.”

Inspirasi kampanye. Berita yang mendunia terkait meninggalnya King of Pop itu di Indonesia segera menjadi perbincangan. Juga di kalangan pendukung capres-cawapres yang kini makin panas berkompetisi menjelang pilpres 8 Juli 2009. Para spin doctors yang nampak kelaparan untuk memanfaatkan momen apa saja demi diolah menjadi bahan iklan memenangkan capres-cawapres yang dibelanya, momen tragedi Jackson itu segera mereka sambar juga.

Desas-desus yang beredar, kesigapan semacam itu semula dimiliki oleh kubu SBY-Boediono. Tetapi kubu-kubu rivalnya, berkat peran intelijennya yang julig, keunggulan kubu Cikeas itu segera terendus dan segera bukan jadi rahasia lagi. Inilah yang terjadi :

Di markas besar masing-masing kubu terpasang boneka-boneka (effigy) dari tokoh kompetitor mereka. Di kubu Mega-Prabowo terdapat boneka SBY-Boediono dan boneka JK-Wiranto. Di markas kubu SBY-Boediono terpajang boneka Mega, Prabowo, JK dan Wiranto. Demikian juga di markas kampanye kubu JK dan Wiranto terdapat boneka Mega, Prabowo, SBY dan Boediono.

Setiap malam, dari masing-masing markas besar tim sukses itu selalu terdengar lagu hitnya Michael Jackson yang terkenal. Refrennya diputar berulang-ulang : “Beat it ! Beat it ! Beat it !

Mungkin karena merasa memiliki musuh bersama, yaitu sang incumbent atau karena memang telah LEBIH terbiasa melakukannya, ada hal istimewa terjadi pada kubu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Bunyi refren lagu itu selalu diikuti suara koor dari tim suksesnya dan juga suara gebukan yang lebih keras dari mereka.

Menengok sejarah, lagunya Michael Jackson itu juga pernah menjadi inspirasi bagi Presiden Soeharto saat berkuasa. Bukankah beliau pernah mengeluarkan ancaman “gebuk” itu bagi kaum kritis yang mengganggunya ?

Lagu itu kini juga laris menjadi ilham bagi sebagian majikan di Malaysia yang memiliki pembantu asal Indonesia.

ke

Wednesday, June 10, 2009

General Elections 2009’s Guffaw

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Politik berisik. Meksiko negeri dirundung malang. Belum surut perbincangan tentang negeri sombrero sebagai asal-muasal menyebarnya virus flu babi, musibah muncul lagi.

Sebuah panti penitipan anak-anak terbakar. Sekitar 30 balita meninggal dunia, sebagian besar tercekik oleh asap beracun. Penyebab kebakaran diduga dari hubungan arus pendek listrik.

Masih tentang Meksiko yang terkait dengan arus listrik dan hawa panas, seorang Len Deighton dalam bukunya Mexico Set (1985) pernah berujar tentang hal yang relevan dengan lanskap dunia perpolitikan kita hari-hari ini. Katanya, di Meksiko mesin pendingin ruangan disebut sebagai politikus karena mereka hanya mampu mengeluarkan banyak sekali keberisikan sementara kinerjanya sangatlah tidak memuaskan.

Di Indonesia, mesin-mesin pendingin itu kini sedang meraung-raung mengisi udara hidup kita kini. Panggungnya adalah pemilihan umum presiden. Ada tiga pasang. Mereka sengit berkompetisi dalam menebar pesona, menebar janji, juga berusaha mengingkari, menutup-nutupi sampai mengubur kejelekan masing-masing di masa lalu.

Rakyat yang punya ingatan kuat melihat akrobat politik dengan rasa teraduk-aduk. Mereka mengasyikkan untuk diamati, dicatat, dan banyak sekali yang mampu memancing gelak tawa kita secara beramai-ramai.

Kita tidak sendirian. Simak kata komedian dan aktor terkenal, Will Rogers (1879–1935) dari AS. Ia punya kredo yang juga terkenal untuk aksi kita : I don’t make jokes; I just watch the government and report the facts. .

Ia tidak membuat lelucon, tetapi hanya menyimak tingkah laku atau kinerja pemerintah dan kemudian melaporkan segala fakta yang ada. Yang dimaksud pemerintah itu, tentu saja, diwakili para pejabatnya. Juga calon-calonnya.

Bukan pemilu. Lelucon pertama : pemilihan umum di Indonesia harus dan sebaiknya disebut sebagai general elections saja. Tidak usah diterjemahkan. Titik. Pemilihan para jenderal. Tak kurang dan tak lebih. Sebab sejak era Soeharto yang selalu menang berkali-kali itu, bahkan sebutannya pun harus general elections with his family and cronies. Titik.

Sebut saja, siapa anak Soeharto yang tidak terpilih sebagai anggota MPR saat itu ?. Istri dan anak Jenderal Wiranto, pernah juga masuk sebagai anggota MPR, bukan ? Sementara itu di tahun 2009 saat ini, separo dari mereka yang bertarung adalah para (mantan) jenderal.

Ingin lebih banyak bukti yang valid ? Simak saja data tim sukses masing-masing pasangan itu. Bertaburan di sana para mantan jenderal. Pemilihan umum sepertinya menjadi ajang reuni terbaik bagi mereka. Personalia tim-tim sukses itu tak lebih dari organisasi-organisasi olahraga kita. Entah KONI sebelum Rita Subowo sampai PB PBSI, misalnya, di mana banyak mantan petinggi tentara berhimpun di sana.

Tak ada yang salah dengan itu semua. Tetapi ada yang lucu karena ironi. Seorang jenius periklanan David Ogilvy ketika menjalani masa sepuh, dalam bukunya Confessions of an Advertising Man (1963), jujur berucap : like everyone my age, I talk to much about the past. Sebagaimana tiap-tiap orang seumuran saya, saya akan banyak berbicara mengenai masa lalu.

Para mantan-mantan jenderal itu bila berkumpul, pasti juga lebih suka saling bercerita mengenai masa lalu. Padahal pemilihan umum berfokus merencanakan peta jalan bangsa untuk berorientasi ke masa depan.

Insan analog. Masih tentang tim-tim sukses yang berjubelan mantan jenderal itu. Tak banyak dari mereka yang seperti Marsekal Chappy Hakim, yang masih aktif menulis dan dan bahkan mengelola blog. Dapat diduga, sebagian besar mereka bisa diberi label sebagai insan-insan analog yang hidup di era digital.

Simak saja tim sukses SBY-Boediono, yang keduanya memiliki gelar doktor. Dan di sekelilingnya juga banyak doktor. Tetapi, lihatlah, nama-nama tim sukses mereka memakai kode-kode era jaman radio CB. Era komunikasi jadul, masa lalu.

Menurut Kompas (23/52009), ada tim Echo dikepalai mantan Panglima TNI Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, tim Delta dikomandani Mayjen (Purn) Abikusno, tim Romeo dipimpin Mayjen (Purn) Sardan Marbun, sampai tim Foxtrot yang punya sebutan sebagai Bravo Media dengan pengasuh utamanya Choel Mallarangeng yang juga direktur Utama Fox Indonesia.

“Sierra Bravo Yankee, Sierra Bravo Yankee, kontak Delta Papa Delta, bisa dikopi ? Ganti !” Grrrk. Grrrk. Grrrk. “OK, Sierra Bravo Yankee, bisa dikopi. Delta Papa Delta menunggu instruksi. Ganti !”

Itulah contoh obrolan di udara antara SBY dan juru bicaranya, Dino Patti Djalal. Bahasa dan kode serupa malah juga dipakai untuk komunikasi via sms, Twitter dan email mereka. Untuk email contohnya :

“Yang terhormat Bapak Sierra Bravo Yankee dan Ibu Alpha November India Sierra Bravo Yankee. Bagaimana kabar cucu tersayang Anda, Alpha Mike India Romeo Alpha ?”

Intelijen militer. Operasi Senyap Diantisipasi : Tim Kampanye Calon Presiden Libatkan Pensiunan Jenderal. Selain merupakan pertempuran para calon presiden dan calon wakil presiden, Pemilu Presiden 2009 juga pertarungan antartim sukses. Perang intelijen pun tak bisa dielakkan akan terjadi. (Kompas, 23/5/09 : 4).

Perang intelijen militer akan terjadi ? Komedian jenius George Carlin menyikut istilah itu. Katanya, intelijen militer merupakan istilah yang kontradiktif. Intelijen militer adalah oxymoron, dan intelijen militer merupakan kombinasi dua kata yang tidak masuk akal.

Kasihanilah, Indonesiaku. Masa depannya sekarang ini bakal ditentukan oleh aksi-aksi dan peperangan yang tidak masuk akal itu !


Siapa menguntit siapa. Jerman Timur sebelum runtuh, dikenal sebagai negara polisi. Di bawah kekuasaan Stasi, dinas polisi rahasia atau intelijen yang cakarnya menjarah kemana-mana, setiap orang bahkan direkrut untuk menjadi intelijen guna mengawasi orang lain. Itukah yang sekarang terjadi menjelang Pemilu Pilpres 2009 ? Medan perang intelijen dalam senyap itu tergambar sebagai berikut :

Intel-intel kubu SBY-Boediono akan selalu diawasi oleh intel bloknya JK-Wiranto dan juga intel front Mega-Prabowo. Intel-intel blok JK-Wiranto akan diinteli intel front Mega-Prabowo dan intel-intel kubu SBY-Boediono. Intel-intel front Mega-Pabowo juga tidak akan luput dari intaian intel kubu SBY-Boediono dan intel blok JK-Wiranto.

Ada fenomena luar biasa terjadi. Intel-intel kubu SBY-Boediono kali ini bisa bekerja sama dengan intel bloknya JK-Wiranto, bahkan juga merangkul intel front Mega-Prabowo. Gabungan ketiganya bahu-membahu siang dan malam selalu menguntit gerak-gerik musuh bersama mereka : Sri Bintang Pamungkas dan gerakan Golputnya !


Operasi senyap. Kata operasi sangat akrab untuk dunia militer. Membayangkan banyaknya pensiunan-pensiunan jenderal itu saling sering ketemuan di markas masing-masing kubu antartim sukses, pasti kata operasi tersebut tidak jarang keluar dalam percakapan mereka.

Tetapi mengingat usia-usia mereka pasti akan sering muncul juga kata-kata operasi yang bermakna lain dalam obrolan mereka : Operasi prostat. Operasi jantung. Operasi ginjal. Operasi kanker.


Jenderal vs Facebook. Anda sudah punya akun media jaringan sosial, Facebook ? Sudahkah Anda bergabung di cause ini, http://apps.facebook.com/causes/290597, untuk mendukung pembebasan Prita Mulyasari ?

Diilhami oleh sukses Barack Obama, pasangan yang bertarung dalam Pemilu Presiden 2009tak ketinggalan memanfaatkan Facebook itu pula. Lihatlah, para pensiunan jenderal yang berbaris dalam masing-masing tim sukses itu dikabarkan memiliki akun Facebook juga. Bahkan mereka setiap hari selalu memperbaiki isi status-nya dengan data mutakhir pribadi mereka :

Data tekanan darah, denyut jantung, kadar gula darah, kadar kolesterol, sampai kadar PSA dari prostat masing-masing !


Janji sorga. Markas besar kampanyenya Bill Clinton tahun 1992, oleh manajer kampanyenya James Carville, dipasangi banner besar. Isinya slogan : It's the economy, stupid. Memang itulah jantung persoalan Amerika saat itu, dan Clinton memenangkan pilpresnya.

Slogan serupa harusnya juga dipasang di markas besar ketiga pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2009. Syukur-syukur juga dipasangi angka-angka persentase pertumbuhan ekonomi yang mereka janjikan, entah satu digit atau dua digit.

Rakyat akan mencatatnya. Di tengah situasi ekonomi global yang suram, perusahaan bertumbangan dan PHK meruyak dimana-mana, siapa tahu angka-angka janji sorga mereka itu kelak hanya cerminan dari kenaikan tensi darah mereka !


Run, generals, run ! Pencipta lagu dan penyanyi rok Amerika Bruce Springsteen dalam lagunya Born to Run (1974) berisi lirik “cause tramps like us, baby, we were born to run.

Politisi Indonesia sebagai petualang kiranya cocok pula masuk dalam deskripsi itu. Mereka terlahir untuk selalu ngacir. Dalam Pilpres 2009, semua kandidat bahkan berebutan mencuri start agar lebih dulu bisa ngacir. Bungkus, alasan dan pembenaran untuk aksi pengaciran itu mudah dicari-cari.

Hari Minggu pagi, 7 Juni 2009, dengan bergabung dalam kegiatan komunitas Bike to Work, SBY dan istri ikut ramai-ramai mengayuh sepeda di Jakarta. Agak luput dari liputan media, di sepanjang jalan yang dilewati SBY terhimpun ribuan warga berbagai bangsa keras berseru sambil mengacung-acungkan spanduk berbunyi : Run, run, SBY, run, run ! Run, run, SBY, run, run ! Run, run, SBY, run, run !

Sebelumnya mereka juga pernah memenuhi badan jalan di Jl. Teuku Umar, Jakarta, untuk berseru pula : Run, run, Mega, run, run ! Run, run, Mega, run, run ! Run, run, Mega, run, run !

Juru bicara kampanye masing-masing kubu kemudian dengan bangga mengklaim bahwa calon presiden mereka telah di-endorse oleh komunitas internasional. Mereka tidak tahu bahwa kelompok itu bernama International Runners Brotherhood Against Overweight and Obesity. Misi mereka mengajak SBY dan Mega untuk rajin olahraga lari, guna mengurangi kegemukan mereka.

Tokoh-tokoh calon wakil presiden juga mengalami demo yang sama. Ketika utusan khusus, special envoy dari Komisi HAM PBB datang ke Indonesia untuk menyelidiki secara lebih detil dugaan pelanggaran HAM di Indonesia 1998 dan Timor Timur 1999, teriakan serupa juga muncul.

Tetapi kali ini bukan dari kelompok International Runners Brotherhood Against Overweight and Obesity. Teriakan dan spanduk kelompok sangat besar satu ini berbunyi :

“Lari, jenderal ! Lari !”


Sepeda dan politisi. Politisi konservatif Inggris, Norman Tebbit, punya cerita tentang sepeda. Seperti dikutip koran Daily Telegraph (15/10/1981) ia bercerita saat ia hidup ditahun 1930-an dengan ayah yang pengangguran. “Ia tidak membuat huru-hara, ia hanya naik sepeda untuk berangkat mencari kerja,” cetusnya.

Di Indonesia kini, kondisinya mungkinkah lebih baik ? Sepeda kini gencar dikampanyekan sebagai kendaraan untuk menuju tempat kerja. Komunitas Bike to Work, adalah contohnya. Kehadiran SBY di tengah komunitas ini merupakan tanda empati bagi mereka.

Empati bagi mereka yang sejatinya merupakan warga Indonesia yang terpaksa menyimpan mobil atau sepeda motor karena harga BBM mahal. Mereka yang takut sakit akibat stres di saat macet dan macet di jalanan yang dipicu biaya pengobatan mahal. Mereka yang bila naik mobil atau motor di jalanan jengkel terkena pungli. Juga bagi mereka yang naik sepeda untuk nglembur kerja di hari Minggu agar bisa makan dengan keluarganya.

Suntikan SBY itu memicu inspirasi lain. Komunitas ini sekarang sangat-sangat mengharap Gede Prama, penulis laris buku-buku motivasi, untuk segera bisa bergabung di dalam komunitas mereka. Alasannya, warga komunitas ini ingin memperoleh suntikan motivasi, sambil bareng-bareng bersepeda, karena terkesan isi artikel-artikel inspiratif dari Gede Prama di harian Kompas.

Dorongan paling utama komunitas ini bersemangat mengajak Gede Prama untuk bergabung karena pada bagian akhir artikelnya selalu tertulis keterangan : Gede Prama, tinggal di Bali, bekerja di Jakarta.

Kabar lain. Seorang teman, juga anggota komunitas itu mengeluh, karena berkali-kali sepeda mahalnya dicuri orang. Ia kini membentuk komunitas baru untuk rekan senasibnya, bernama : Bike to Walk !


Menu sang presiden. Ini bukan lelucon. Prof. DR. Ir Made Astawan, dosen IPB, dalam bukunya Kandungan Gizi Aneka Bahan Makanan (2004) punya pendapat tentang mi instan. Bahan baku utamanya adalah tepung terigu, menjadikan mi bukan merupakan makanan asli Indonesia.

Sebungkus mi instan 75 gram, tulisnya, menghasilkan total energi sekitar 350 kilo kalori. Sementara kebutuhan energi orang dewasa 2.500 kilo kalori dan anak balita 1.300 kilokalori per harinya. Jadi sumbangan energi dari semangkuk mi instan hanya 14 persen untuk orang dewasa dan 27 persen anak balita per harinya.

Jadi : mengandalkan hanya sebungkus mi instan sebagai sumber energi utama dalam kehidupan sehari-hari harus dihindari karena hal tersebut cepat atau lambat akan berpengaruh terhadap stamina tubuh dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, terlalu sering menggunakan mi sebagai “pengganjal perut” satu-satunya setelah seharian bekerja keras adalah tindakan yang sangat keliru.

Mi instan saat ini memasuki ranah nutripolitico complex, persilangan antara komersialisasi gizi dan interes politik. Selain penduduk Indonesia digencarkan untuk mengonsumsi pangan dari bahan terigu itu, sesuai tuntutan pasar bebas yang dianut neoliberalisme, asupan sesering mungkin dari pangan yang nilai gizinya tidak adekuat ini, akan membuat daya tahan pikir bangsa kita menjadi melemah, tidak kritis, sehingga rentan terhadap bujukan dan rayuan bermotif politik.

Peringatan ini sebaiknya didengar oleh seluruh warga negara Indonesia. Perhatikanlah, seorang doktor yang juga lulusan IPB akhir-akhir ini sosoknya setiap saat selalu membombardir benak warga Indonesia dengan pesan-pesan nutripolitico complex itu melalui iklan-iklan di televisi.

“Ketika menghidupkan komputer, otak Anda bekerja. Ketika menghidupkan televisi, otak Anda berhenti.” Demikian kata pendiri Apple Corps., Steve Jobs.

Tanda lampu merah ini sebaiknya menyala dalam kesadaran publik kita saat mendengar bujukan, ajakan, dan rayuan agar warga Indonesia mau beramai-ramai mengonsumsi “mi instan politik” sesering mungkin, setiap hari, sampai tanggal 8 Juli 2009 nanti !


Bertabur doktor. Politisi Partai Buruh Inggris, Neil Kinnock, dalam pidato partainya yang disiarkan televisi telah mengunggulkan makna pendidikan. Ia melempar retorika : “Mengapa saya merupakan Kinnock pertama di antara ribuan generasi Kinnock yang mampu berkuliah di perguruan tinggi ?” Pidato ini kemudian dijiplak oleh Joe Biden, yang kini merupakan Wakil Presiden Amerika Serikat.

Di Indonesia, status lulusan vs bukan lulusan perguruan tinggi pernah menjadi isu perdebatan untuk calon presiden. Kini, lihatlah sekarang, calon-calon presiden dan calon-calon wakilnya yang maju dalam Pilpres 2009. Kalau saja SBY-Boediono nanti terpilih, Indonesia kita memiliki petinggi yang sama-sama bergelar doktor.

Tetapi untuk wakil presiden, bila terpilih, Boediono tak boleh menepuk dada. Sebab di era presiden Megawati kita pernah memiliki wakil presiden yang juga bergelar doktor. Doktor (HC) Hamzah Haz.


Penculikan Rengasdengklok. Megawati juga bergelar doktor honoris causa. Ayahnya, Ir. Soekarno, bahkan banyak mengumpulkan gelar doktor kehormatan dari banyak universitas. Bukan karena gelar-gelar akademis kehormatan semata bila tanggal lahir Bung Karno diperingati pada tanggal 6 Juni 2009 di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Kota ini memang bersejarah. Tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda dipimpin Sukarni sengaja menculik Soekarno dan Hatta. Keduanya dibawa ke Rengasdengklok ini, didesak agar segera memproklamirkan bangsa Indonesia saat itu juga. Namun Bung Karno menolak.

Ketika kembali ke Jakarta malam harinya, keduanya langsung merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamada Maeda, Jalan Imam Bonjol. Naskah inilah yang akan dibacakan esok harinya.

Semula proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (Monas). Tapi, demi menghindari bentrokan dengan tentara Jepang, akhirnya teks proklamasi itu dibacakan –sekitar pukul 09.00 pagi—di kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta Pusat.

Peringatan hari ulang tahun Bung Karno ke-108 itu, tentu saja, juga dihadiri oleh pasangan calon presiden Megawati, juga calon wakil presidennya, Prabowo Subianto. Milis pembela HAM ada yang nyeletuk : Kalau bicara tentang peristiwa penculikan, mengapa nama Prabowo Subianto selalu bisa saja terkait di dalamnya ?


Pura-pura orang kecil. Pasangan Mega-Prabowo mendeklarasikan pencalonannya untuk maju dalam Pilpres 2009 di lokasi pembuangan sampah, Bantargebang. Lalu saat memperingati harlah Bung Karno ke-108 di Rengasdengklok. Termasuk aksi SBY mengunjungi pabrik tempe di Malang atau pun Jusuf Kalla rajin mengunjung pasar-pasar tradisional.

Masih ingatkah Anda, Harmoko menggendong seorang tukang becak di Solo ? Soeharto dan anggota kabinetnya makan thiwul beramai-ramai. mBak Tutut saat menjabat sebagai Menteri Sosial makan di warung tegal. Wiranto bahkan makan nasi aking baru-baru ini pula.

Sunu Wasono, pengajar Fakultas Ilmu Pengtahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam bukunya Sastra Propaganda (2007) menyebut ulah para petinggi tadi sebagai aksi propaganda yang memanfaatkan jurus pura-pura sebagai orang kecil.Disorot oleh televisi, aksi mereka itu untuk membangun citra bahwa mereka merakyat, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat kecil, mencoba menarik simpati dan dukungan massa dengan cara menempatkan dirinya (seolah-olah) mereka juga.

Para kontestan Pilpres 2009 dalam liputan media ada yang konsisten menunjukkan kedekatannya pada rakyat kecil. Tetapi kebanyakan tidak. Megawati, tidak. Jusuf Kalla, tidak. Wiranto, tidak. Boediono, juga tidak. Apalagi Prabowo.

Yang nampak paling dekat dengan rakyat kecil adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Rakyat kecil yang paling dekat dengan dirinya bernama : Amira.


Kerbau dicocok hidung. George Burns almarhum, komedian sepuh dan dihormati, yang biografinya (foto di atas) ditulis Martin Gottfried berjudul George Burns and The Hundred Years Dash (1996), mengakui kemuliaan rakyat kecil.

Seperti dikutip majalah Life (Desember 1979) ia berujar, “too bad that all people who know how to run the country are busy driving taxicabs and cutting hair ”. Sangat disayangkan bahwa mereka-mereka yang tahu bagaimana mengelola negeri ini sibuk sebagai sopir taksi dan tukang cukur.

Orang-orang kecil tersebut di Indonesia saat menjelang Pilpres 2009 ini, sekarang ini lagi gencar didekati para kandidat. Dengan beragam jurus propaganda. Di antaranya adalah jurus umpatan. Jurus umpatan yang lagi laris manis dijajakan antara lain sebutan neoliberalisme dan pengungkapan mengenai pembengkakan utang negara.

Istilah-istilah itu diucapkan untuk menyerang fihak lain guna mendapatkan simpati. Tetapi dasar dari semua itu, ketika menggunakan jurus umpatan tersebut si pengguna tidak menginginkan kita berpikir, tetapi hanya bereaksi, membabi buta, dan tidak memiliki keraguan.

Kita sebagai rakyat mereka harapkan berlaku seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Menerima begitu saja isu tersebut, tanpa mempermasalahkan atau mengujinya dengan sikap kritis. Propaganda jurus satu ini sudah kita akrabi sejak jaman Orde Lama, Orde Baru, dan sampai saat ini pula. Termasuk slogan “Ganyang Malaysia !” yang muncul kembali di televisi ketika kasus Ambalat akhir-akhir ini mengemuka.


Tak ada lagi rumah angin. Novelis dan penyair Inggris D. H. Lawrence (1885–1930) pernah berujar : Never trust the artist. Trust the tale. Jangan mempercayai sang seniman, tetapi percayai karya-karyanya. Nasehat ini relevan di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2009 yang nampak ramai-ramai melibatkan para seniman.

Effendi Gazali dan Sujiwo Tejo memproklamasikan dukungannya untuk pasangan Jusuf Kalla-Wiranto ketika nonton bareng film Capres (Calo Presiden). Butet ikut berbaris di kubu Mega-Prabowo ketika disewa untuk melontarkan bom-bom kritik untuk pemerintahan SBY. Dan lihatlah, Rendra membaca puisi dan menyatakan dukungan dalam acara deklarasi Mega-Prabowo di Bantargebang.

Seniman kini memang tak lagi betah tinggal di atas angin. Ketika umur semakin menua, atau ketika idealisme memudar, mereka memilih turun untuk semakin dekat dengan tanah. Bahkan tanah tempat Rendra membacakan sajak Krawang-Bekasi-nya Chairil Anwar itu adalah tanah tempat pembuangan sampah.


Agenda rahasia Butet. Malam Deklarasi Pemilu Damai yang diselenggarakan KPU di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Rabu 10 Juni 2009, memicu kontroversi. Acara yang seharusnya penuh suasana persahabatan berubah jadi tegang lantaran sajian monolog Butet Kartaredjasa.

Butet menyampaikan monolog mewakili tim kesenian pasangan capres Mega-Prabowo dalam Deklarasi Pemilu Damai. Butet tampil memukau, tapi menyentil salah satu capres, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia memberondongkan sindiran terhadap pemerintah yang berkuasa, SBY, dan dilontarkan di depan SBY sendiri.

Tanpa tendeng aling-aling. Kritikan Butet membombardir mulai dari masalah utang negara, korupsi, hingga banyaknya pesawat Indonesia yang sering jatuh sebelum perang terjadi.

Mengapa Butet berani melakukan aksi itu ? Seorang pengamat politik, Dr. Sukardi Hambali dari Politika Humorista Institut Jakarta, memberikan analisisnya. Pertama, Butet berani melakukan hal itu untuk kubu Mega-Prabowo karena ia ketakutan. Takut menjadi korban aksi penculikan.

Kedua, Butet lagi terkena Omni-Prita Syndrome. Butet sebenarnya menginginkan sesudah melakukan orasi itu akan ditangkap, lalu diinterogasi fihak keamanan. Dengan modus ini, ia akan semakin terkenal di dunia Internasional.

Ketiga, dengan menyerang SBY, ia memang berharap tokoh yang menyewanya akan memenangkan Pilpres 2009. Sebagai aktivis kebudayaan, bila Mega-Prabowo menang, Butet mampu memiliki link khusus yang ia kira akan membantunya dalam merampungkan agenda kebudayaan yang ia pendam selama ini.

Semoga agenda kebudayaan Butet itu sukses. Antara lain mampu mencari kejelasan tentang nasib penyair Wiji Thukul, aktivis era reformasi sampai Deddy Hamdun, suami aktris cantik Eva Arnaz, yang tidak ada kabarnya sampai kini.


Polusi demokrasi. Agenda Butet di atas hanyalah fiksi. Ia yang mengaku sebagai profesional, yang siap disewa oleh pasangan mana saja, boleh jadi merupakan sejimpit gambaran bagaimana kekuatan uang mampu berbicara dalam sebuah pesta demokrasi.

Untuk fenomena satu ini, penulis dan wartawan Amerika Serikat, Theodore H. White (1915–1986) pernah bilang wanti-wanti, bahwa banjir uang yang digelontorkan dalam kancah perpolitikan dewasa ini merupakan polusi bagi demokrasi. Sepertinya, ancaman polusi itu kini sedang pula terjadi di tanah air kita. Termasuk fenomena lembaga survei yang dibayar oleh kandidat. Kita lihat dan saksikan semuanya harus dengan waspada.

Sebab bila polusi demokrasi itu meruyak kemana-mana, maka kita kelak akan hanya mendapati apa yang pernah disinyalir oleh tokoh serba bisa, ya ilmuwan, penemu dan juga politisi Amerika serikat, Benjamin Franklin (1706–1790), yang bersabda :

Di aliran sungai dan pemerintahan yang jelek, benda yang paling ringan saja yang mengapung di atasnya !


Wonogiri, 11-15/6/2009


ke

Monday, May 18, 2009

Pemilihan Presiden Indonesia 2009 : Satire

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Bangkit dari abu dan api. Indonesia ibarat dongeng burung phoenix. Ketika dirinya merasa menua, ia akan masuk ke dalam kobaran api. Bulan Mei sebelas tahun lalu jadilah Indonesia yang terbakar mengiringi tumbangnya rejim Orde Baru.

Majalah AsiaWeek edisi 5 Juni 1998, memuat kartun yang menggambarkan sebuah mobil dengan nama “Indonesia” sedang terbalik, terbakar, bersama sang sopir, yaitu Soeharto didalamnya. Teksnya berbunyi : Famous last words : “Vrooom, vrooooomm…”

Seperti halnya legenda burung phoenix, dari reruntuhan abu bekas kebakaran itu muncul kemudian burung phoenix baru. Di bulan Mei 2009 kini, sebagian dari aktor yang bermain di balik kobaran abu dan terbakarnya Indonesia sebelas tahun yang lalu itu, telah muncul menjadi calon-calon pemimpin Indonesia masa depan. Bangsa Indonesia memang bangsa yang menakjubkan. Bangsa yang pelupa, yang mudah memaafkan, sekaligus mudah termakan iklan.

Hari-hari mendatang kita semua akan semakin dijejali dengan iklan, iklan dan iklan. Juga oleh janji, janji, dan janji. Karena sebagaimana ujar penyair, kritikus dan ahli kamus asal Inggris, Samuel Johnson (1709-1784), bahwa promise, large promise, is the soul of an advertisement. Pelbagai janji besar itu mulai meluncur ketika mereka melakukan deklarasi.

Merebut Bung Karno. Adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang pertama kali melakukan deklarasi. Slogan “lebih cepat dan lebih baik” diusung dan dipraktekkan oleh pasangan tersebut. Mereka melakukan secara gerak cepat. Termasuk dalam hal memperebutkan semboyan dan slogan. Misalnya, ketika mereka memosisikan diri sebagai pasangan dwi tunggal.

Kita tahu, jargon ini terlanjur melekat di benak bangsa Indonesia untuk pasangan proklamator Soekarno-Hatta. Untuk mendekati realitas, bahkan mereka pun mendeklarasikan diri di komplek patung proklamator di Pegangsaan. Partainya Megawati, PDIP, dalam hal ini kalah cepat dalam merebut simbol-simbol politik masa lalu yang justru dicetuskan dan lekat bagi ayahnya, Bung Karno.

JK sendiri mengatakan bahwa perpaduan dirinya dengan Wiranto sebagai sesuatu yang cocok dan saling mengisi. Ilmu numerologi muncul lagi. “Hanura itu nomor 1. Golkar itu nomor 23. Jadi kalau digabung menjadi 1, 2, 3,” ujar JK.

Urutan nomor semacam itu mudah mengingatkan kita akan merek peranti lunak terkenal di masa lalu, Lotus 1-2-3. Tetapi kini merek tersebut tinggal mengisi sejarah, sudah kedaluwarsa dan tidak lagi digunakan oleh pemakai.

Pasangan JK-Wiranto sepertinya memang suka bernostalgia akan masa lalu. Ketika mendaftar di KPU, seperti ditulis oleh Seputar Indonesia (17/5/2009), JK sempat menyindir pasangan lain yang berasal dari daerah yang sama. “Kami pasangan pilpres, bukan pasangan pilkada,” tandasnya. Sasaran tembaknya adalah SBY yang berasal dari Pacitan dan Boediono dari Blitar, sama-sama dari Jawa Timur.

JK-Wiranto, menurutnya, merupakan pasangan yang merepresentasikan wilayah Indonesia yang luas. Kalla dari Sulawesi Selatan, istrinya dari Sumatera Barat, sedangkan Wiranto dari Jawa Tengah dan istrinya dari Gorontalo, Sulawesi Utara. Seorang pengamat politik, Dr. Sukardi Hambali dari Politika Humorista Institut Jakarta, nyeletuk :

“Kalau tesis JK-Wiranto semacam itu disetujui banyak orang dan agar berkesesuaian dengan dinamika geopolitik berskala regional dan global masa kini, maka pasangan yang ideal adalah pasangan yang bukan mereka berdua. Melainkan pasangan Yusril Ihza Mahendra sebagai calon presiden dan istri keduanya, Rika Tolentino Kato, sebagai calon wakil presiden. Keduanya sungguh merepresentasikan Indonesia, Filipina dan bahkan Jepang !”


Kaos McBoed di Bandung. Kita pindah ke Bandung. Kembali Megawati Soekarnoputri dan PDIP harus kehilangan semboyan perjuangan masa lalu ayahnya. Jargon terkenal dari Bung Karno, yaitu Indonesia Menggugat, telah digunakan oleh calon wakil presiden Boediono ketika berpidato dalam acara deklarasi yang bernuansa a la kampanye Obama-Biden di Amerika Serikat.

Bahkan pasangan SBY-Boediono, beserta istri masing-masing, naik ke panggung dengan mengenakan pakaian berwarna merah. Kita tahu, warna merah selama ini lekat disimbolkan sebagai warna seragam partainya Mega. “Slogan lebih cepat dan lebih baik juga bisa kami wujudkan. Itu bukan monopoli pasangan JK-Wiranto saja,” tutur salah satu anggota tim sukses SBY Berbudi.

Deklarasi SBY-Boediono di Sabuga ITB Bandung, memang meriah. Tepuk tangan dari hadirin, terutama anggota partai dan simpatisan, terkesan nampak rapi dan terorganisir. Tambahan lagi, seolah Rizal Mallarangeng bersaudara dari FoxIndonesia ingin menfotokopi persis hura-hura a la Obama-Biden, bahkan termasuk ketika rombongan undangan untuk menghadiri deklarasi menggunakan kereta api dari Jakarta ke Bandung.

Hanya saja, kalau Obama naik kereta api dari Philadelphia ke Washington DC dalam rangka mengikuti jejak rute Abraham Lincoln sebelum inaugurasi, rombongan pasangan SBY Berbudi naik kereta api Parahyangan sebelum deklarasi.

“Ini kereta api murah dan merakyat,” papar Rizal Mallarangeng di depan kamera televisi. Penggunaan kereta api yang bukan dicarter khusus itu dimanfaatkan untuk melunakkan tuduhan gencar politikus senior Amin Rais bahwa pemilihan Boediono sebagai cawapres merupakan penubuhan dari mashab ekonomi neoliberalisme yang diusung SBY.

Tudingan tentang mashab neoliberalisme ini memancing kalangan profesional kehumasan yang mewakili perusahaan besar berkomentar. Mereka menyayangkan bahwa, “duet SBY-Boediono malam itu benar-benar melewatkan momen televisi yang berharga. Dalam deklarasi, SBY Berbudi telah berani tidak lagi mengenakan baju biru, warna Partai Demokrat, maka sebaiknya mereka juga berani untuk tidak mengenakan peci. Dengan rambut tertata rapi, yang menjadi ciri khas keduanya, mereka berpeluang menjadi bintang iklan dari produsen minyak rambut. Yardley atau Mandom, pasti tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Tambahnya sengit : “Kalau pun pakai peci, sembari mengambil muatan lokal Sunda, kenakanlah seperti posisi pecinya si Kabayan. Pecinya melintang. Biarkan sebagian rambut menyembul sebagai sarana masuk untuk menjadi bintang iklan minyak rambut. Jadi ada simbiosis ideal antara muatan lokal, nasionalisme dan sekaligus neoliberalisme !”

Acara deklarasi SBY Berbudi sampai menit-menit terakhir konon dibayang-bayangi aksi pembelotan kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Beberapa hari sebelumnya PKS menyatakan tidak setuju atas pengangkatan Boediono karena tidak merepresentasikan golongan Islam. Presiden PKS Tifatul Sembiring gencar bicara, bahwa dalam Islam ada gradasinya, sementara perwakilan Jawa-Non Jawa harus diperhitungkan, bahkan tak langsung menyebutkan adanya bibit-bibit “pemberontakan” bila keberadaan mereka tidak diwakili.

Ancaman itu merupakan permainan kartu untuk menegosiasikan posisi. Menurut kabar burung, PKS konon ingin memperoleh posisi kuat bagi kader-kadernya untuk memimpin departemen di bidang ekonomi, khususnya industri dan perdagangan. “Agar pasok kain putih tidak tersendat,” kata seorang pengamat. Karena jutaan konstituen PKS membutuhkan bahan pokok, kain putih itu.

“Lihat saja demo-demo mereka. Kain putih, seragam putih, itu ciri mereka. Bahkan demo untuk memprotes Israel dan demo memprotes ketidakadilan AS di Timur Tengah, telah menjadi merek dagang yang telah dipatenkan oleh mereka,” tuturnya lebih lanjut. PKS juga ingin memperoleh konsesi dalam hal memproduksi bendera-bendera Israel dan bendera Amerika Serikat.

“Kalau beli yang asli kan mahal. Kami harus mampu memproduksinya sendiri, guna memenuhi kebutuhan konstituen kami. Konstelasi geopolitik secara global mensyaratkan setiap kantor cabang kami di seluruh Indonesia memiliki cadangan cukup bendera-bendera Israel dan AS tersebut,” tegas salah satu fungsionaris PKS yang berlatar pendidikan S-3 di Jepang.

“Ketika Timur Tengah bergolak, kami bisa segera berdemo. Bendera negeri Zionis dan pendukungnya itu bisa dibakar oleh mitra dan konstituen kami untuk menjadi bahan liputan televisi yang dramatis dan mendunia !,” simpul akhirnya.

Malam itu, demo menentang SBY Berbudi juga terjadi di Bandung. Sekitar satu kilometer dari arena deklarasi di Sasana Budaya Ganesha ITB Bandung, ribuan mahasiswa berdemonstrasi. Antara lain mereka menolak penggunaan fasilitas kampus untuk sarana kampanye politik.

Sebagian mereka memakai kaos yang berisikan slogan-slogan menentang mashab neoliberalisme. Tergambar, dengan latar belakang logo golden arch-nya produsen makanan cepat saji McDonald, terpampang wajah SBY, Boediono, Hatta Radjasa, Sudi Silalahi, Sri Mulyani Indrawati, Rizal Mallarangeng, Andi Mallarangeng, sampai Dino Patti Djalal.

Di bawah wajah-wajah tersebut terdapat tulisan : McBY, McBoed, McHatta, McSilalahi, McMulyani, McMallarangeng sampai McDino. Sambil berdemo, para mahasiswa itu menenggak Coca Cola. Mereka pun agak lama menunggu kiriman burger dari gerai McDonald terdekat, karena lalu lintas Bandung tambah macet saat itu.

Malam yang alot. Di Bandung ada pesta, sementara di Jakarta dan Bogor malam itu terjadi negosiasi yang alot. Jadi benarlah bila beberapa hari sebelumnya kalangan intelektual Indonesia menyebut-nyebut adanya fenomena politisi malam.

Yaitu politikus yang menggalang dan menegosiasikan kekuasaan secara misterius, dalam kegelapan, melakukan politik dagang sapi yang tidak transparan, dengan tujuan semata-mata berbagi kekuasaan dengan tidak menghiraukan kepentingan bangsa dalam jangka panjang.

“Saya prihatin melihat mating season, musim cari jodoh yang menjadi ajang dagang. Tawar-menawar perjodohan kandidat presiden-wakil hanya merupakan tawar-menawar kekuasaan dan jabatan…Karena hanya kepentingan jangka pendek yang jadi pertimbangan, dua jenderal yang menyimpan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu diterima…Menerima dua sosok itu berarti menerima kembalinya pelanggaran hak asasi manusia,” demikian tulis Ayu Utami dalam kolomnya berjudul “Naik kereta dengan Pak Boed” (Seputar Indonesia, 17/5/2009).

Di ujung malam, Jumat 15/5/2009 itu, akhirnya Megawati dan Prabowo sepakat maju sebagai capres dan cawapres PDIP-Gerindra. Di BBC, pengamat politik Daniel Sparingga dari Unair berkomentar, Mega membutuhkan Prabowo karena tokoh ini banyak duitnya untuk membiayai pemasangan iklan-iklan mereka kelak.

Sesuatu yang aneh kemudian terjadi. Misalnya, kita bisa melihat sosok Boediman Sudjatmiko, aktivis PRD yang lalu menyeberang ke barisan Mega, atau aktivis HAM seperti Rieke Dyah Pitaloka, sejak malam itu diri mereka berada dalam satu kubu dengan Prabowo Subianto.

Pengikatnya, kedua kubu mengaku memiliki platform yang sama, utamanya dalam mengusung jargon ekonomi kerakyatan. Mega dan Prabowo tentu juga sama-sama mengenal nama-nama yang patut diduga menderita Stockholm Syndrome, yaitu Haryanto Taslam dan Pius Lustri Lanang.

Menurut desas-desus, tokoh Haryanto Taslam itulah yang sempat menjadi salah satu bahan negosiasi yang tidak mudah. Bila menang, kubu Prabowo menginginkan Departemen Hukum dan HAM ingin dijabat oleh Muchdi PR. Tokoh ini memang segera meroket ke publik sebagai tokoh yang sangat sadar hukum. Ketika dibebaskan dari tuduhan sebagai aktor intelektual dibalik terbunuhnya aktivis HAM, Munir, ia berencana menggugat balik kepada istri Munir dan pelbagai LSM lainnya.

Sementara itu kubu Mega, walau merasa pernah dikhianati atau ditinggalkan oleh kadernya yang bernama Haryanto Taslam, naluri keibuan dari Mega yang berbicara. Pengalaman diculik dan segala duka-derita yang dialami Haryanto Taslam ia anggap sebagai aset. Maka Mega menginginkan Haryanto Taslam, bila menang pilpres, untuk menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM.

Akhirnya diperoleh kompromi. Muchdi PR diplot sebagai Menteri Hukum dan Haryanto Taslam kelak diproyeksikan sebagai Menteri HAM. Win-win terjadilah.

Antitesa neoliberalisme. Negosiasi kedua tokoh ini memang paling alot. Isu yang beredar, kealotan terjadi bukan hanya karena Gerindra ingin mendominasi di bidang ekuin untuk mewujudkan mashab ekonomi kerakyatan. Tetapi kealotan itu bahkan merembet ke masalah kereta api dan lokasi seremoni deklarasi.

Konon, karena ingin menyaingi hebohnya kubu SBY-Berbudi, PDIP ingin menyewa kereta api dari Bali ke Jakarta. “Kebalikan dari rutenya Daendels. Sebagai isyarat dan simbol perlawanan kami berdua terhadap neoliberalisme yang diusung rival kami,” demikian tulis sebuah milis politik yang dekat dengan kubu Mega.

Lanjutnya, kereta api itu akan berhenti di Blitar. Untuk melayani ritus Mega yang terkenal, yaitu nyekar ke makam Bung Karno. Aksi itu juga merupakan gestur manis agar rakyat Blitar akan memilih dirinya di pilpres. Bukan memilih kubu Boediono dan Anas Urbaningrum, walau keduanya adalah orang asli Blitar.

Prabowo juga minta agar kereta berhenti di Solo dulu. Agar dia bisa nyekar ke makam pak Harto di Giribangun, Mangadeg. Juga sekaligus memberi pesan agar warga Solo dan sekitarnya, yang memang basis tradisionalnya Mega, agar memilih dirinya. Bukan memilih jenderal saingannya, yang orang Solo dan kini menjadi cawapresnya JK.

Kabar burung ia ingin mengunjungi Candi Sukuh, agar enteng jodoh sebagai kandidat wakil presiden. Tetapi kabar itu segera dibantah oleh fihak-fihak terdekatnya. “Hal satu itu bukan masalah kenegaraan yang mendesak. Ingat kasus Presiden Sarkozy. Ia menyunting Carla Bruni sesudah duduk di kursi presiden, bukan ?,” kata sumber tersebut.

Kebijakan tersebut dipilih demi menjaga keotentikan makna slogan triumvirat baru Indonesia yang diusung pasangan ini. Slogan satu ini, ketika slogan dan simbol-simbol terkenal dari Bung Karno keburu direbut pasangan pesaing, memang diilhami oleh keharmonisan para founding fathers Indonesia yang harmonis dan inklusif antara Soekarno, Hatta dan Sjahrir, ketika Indonesia masih berusia muda.

Semangat itu pula yang akan ditonjolkan saat deklarasi. Ketika di puncak seremoni deklarasi mereka, warga Republik Indonesia akan melihat triumvirat baru Indonesia di layar televisi mereka. Yaitu Megawati Soekarnoputri, pasangannya Taufik Kiemas, dan Prabowo Subianto.

Adegan herois tersebut akan terpancar dari lokasi tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang, Bekasi. Salah satu pentas sejarah politik Indonesia 2009 akhirnya berpihak ke tempat satu ini. Lokasi ini dipilih untuk mencerminkan keberfihakan PDIP-Gerindra kepada rakyat kecil.

Walau ada ganjalan, dari Jakarta, kedua tokoh itu akan sampai di lokasi upacara dengan menaiki mobil yang selama ini mereka gunakan. Mereknya pun sama : Lexus. Kubu konsultan politiknya Mega-Prabowo berkilah. “Karena mobil MR keluaran Mazda tahun 1980-an sudah tak diproduksi lagi. Padahal kami ingin memakainya.” MR adalah singkatan Mobil Rakyat.

Ekonomi kerakyatan. Sebelum kompromi bab lokasi deklarasi diteken, sebenarnya Gerindra mengajukan ide menarik. Agar seremoni deklarasi mereka juga bernuansa atmosfir perguruan tinggi seperti halnya SBY-Boediono di Sabuga ITB, kubu Prabowo minta seremoni deklarasi dilangsungkan di kampus Universitas Trisakti. Sekaligus untuk memperingati Tragedi Mei 1998. Keinginan ini, di kalangan ahli psikoanalis, disebutnya sebagai manifestasi sindrom burung phoenix.

Ketika itu, sebelas tahun lalu, 12-14 Mei 1998, saat pusat-pusat bisnis Jakarta sampai Solo yang merupakan wajah depan ekonomi liberal menjadi membara dan terbakar, dari asap hitam yang mengepul itu ternyata telah menerbitkan embrio gagasan jenial. Gagasan itu kini menjadi platform andalan para pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang berebutan tampil sebagai kampiun dalam mengusung mashab ekonomi kerakyatan.

Implementasi dari mashab ekonomi kerakyatan itu, pada satu sisi, dimaknai dengan berulangnya kejadian di Indonesia seperti di tahun 1974, 1982 sampai 1998. Ketika huru-hara membara di perkotaan terjadi, ketika rakyat miskin kota berani menjarah sana-sini guna mencoba memperoleh pembagian roti pertumbuhan ekonomi, bukankah itu merupakan salah satu wujud dari mashab “ekonomi kerakyatan” yang aktual dan nyata bagi rakyat Indonesia ?

Apalagi di antara tiga pasangan yang berlomba dalam Pilpres 2009, kita belum lupa tentang mereka, terdapat sosok-sosok yang ahli dalam merekayasa wajah “ekonomi kerakyatan” di atas. Huru-hara menjelang Soeharto jatuh 21 Mei 1998, menunjukkan hal itu pula. Bahkan huru-hara serupa juga sempat menjalar sampai di Timor Timur 1999 pula. Apakah semua itu kini mudah bagi kita untuk melupakannya ?

Filsuf dan kritikus kelahiran Spanyol, George Santayana (1863–1952), berujar : mereka yang tidak mampu mengingat masa lampau akan dihukum untuk mengulanginya. Fenomena legenda mengenai burung phoenix nampaknya memperoleh tempat yang sentosa dan nyata bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Tragedi itu berpeluang kembali untuk terjadi dan terjadi lagi, ketika memori lama kita mudah menjadi luntur, tatkala dibombardir oleh iklan-iklan dan janji-janji yang akan sangat gencar kita terima pada hari-hari mendatang ini.


Wonogiri, 16-21/5/2009

ke