Showing posts with label butet kartaredjasa. Show all posts
Showing posts with label butet kartaredjasa. Show all posts

Wednesday, June 10, 2009

General Elections 2009’s Guffaw

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Politik berisik. Meksiko negeri dirundung malang. Belum surut perbincangan tentang negeri sombrero sebagai asal-muasal menyebarnya virus flu babi, musibah muncul lagi.

Sebuah panti penitipan anak-anak terbakar. Sekitar 30 balita meninggal dunia, sebagian besar tercekik oleh asap beracun. Penyebab kebakaran diduga dari hubungan arus pendek listrik.

Masih tentang Meksiko yang terkait dengan arus listrik dan hawa panas, seorang Len Deighton dalam bukunya Mexico Set (1985) pernah berujar tentang hal yang relevan dengan lanskap dunia perpolitikan kita hari-hari ini. Katanya, di Meksiko mesin pendingin ruangan disebut sebagai politikus karena mereka hanya mampu mengeluarkan banyak sekali keberisikan sementara kinerjanya sangatlah tidak memuaskan.

Di Indonesia, mesin-mesin pendingin itu kini sedang meraung-raung mengisi udara hidup kita kini. Panggungnya adalah pemilihan umum presiden. Ada tiga pasang. Mereka sengit berkompetisi dalam menebar pesona, menebar janji, juga berusaha mengingkari, menutup-nutupi sampai mengubur kejelekan masing-masing di masa lalu.

Rakyat yang punya ingatan kuat melihat akrobat politik dengan rasa teraduk-aduk. Mereka mengasyikkan untuk diamati, dicatat, dan banyak sekali yang mampu memancing gelak tawa kita secara beramai-ramai.

Kita tidak sendirian. Simak kata komedian dan aktor terkenal, Will Rogers (1879–1935) dari AS. Ia punya kredo yang juga terkenal untuk aksi kita : I don’t make jokes; I just watch the government and report the facts. .

Ia tidak membuat lelucon, tetapi hanya menyimak tingkah laku atau kinerja pemerintah dan kemudian melaporkan segala fakta yang ada. Yang dimaksud pemerintah itu, tentu saja, diwakili para pejabatnya. Juga calon-calonnya.

Bukan pemilu. Lelucon pertama : pemilihan umum di Indonesia harus dan sebaiknya disebut sebagai general elections saja. Tidak usah diterjemahkan. Titik. Pemilihan para jenderal. Tak kurang dan tak lebih. Sebab sejak era Soeharto yang selalu menang berkali-kali itu, bahkan sebutannya pun harus general elections with his family and cronies. Titik.

Sebut saja, siapa anak Soeharto yang tidak terpilih sebagai anggota MPR saat itu ?. Istri dan anak Jenderal Wiranto, pernah juga masuk sebagai anggota MPR, bukan ? Sementara itu di tahun 2009 saat ini, separo dari mereka yang bertarung adalah para (mantan) jenderal.

Ingin lebih banyak bukti yang valid ? Simak saja data tim sukses masing-masing pasangan itu. Bertaburan di sana para mantan jenderal. Pemilihan umum sepertinya menjadi ajang reuni terbaik bagi mereka. Personalia tim-tim sukses itu tak lebih dari organisasi-organisasi olahraga kita. Entah KONI sebelum Rita Subowo sampai PB PBSI, misalnya, di mana banyak mantan petinggi tentara berhimpun di sana.

Tak ada yang salah dengan itu semua. Tetapi ada yang lucu karena ironi. Seorang jenius periklanan David Ogilvy ketika menjalani masa sepuh, dalam bukunya Confessions of an Advertising Man (1963), jujur berucap : like everyone my age, I talk to much about the past. Sebagaimana tiap-tiap orang seumuran saya, saya akan banyak berbicara mengenai masa lalu.

Para mantan-mantan jenderal itu bila berkumpul, pasti juga lebih suka saling bercerita mengenai masa lalu. Padahal pemilihan umum berfokus merencanakan peta jalan bangsa untuk berorientasi ke masa depan.

Insan analog. Masih tentang tim-tim sukses yang berjubelan mantan jenderal itu. Tak banyak dari mereka yang seperti Marsekal Chappy Hakim, yang masih aktif menulis dan dan bahkan mengelola blog. Dapat diduga, sebagian besar mereka bisa diberi label sebagai insan-insan analog yang hidup di era digital.

Simak saja tim sukses SBY-Boediono, yang keduanya memiliki gelar doktor. Dan di sekelilingnya juga banyak doktor. Tetapi, lihatlah, nama-nama tim sukses mereka memakai kode-kode era jaman radio CB. Era komunikasi jadul, masa lalu.

Menurut Kompas (23/52009), ada tim Echo dikepalai mantan Panglima TNI Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, tim Delta dikomandani Mayjen (Purn) Abikusno, tim Romeo dipimpin Mayjen (Purn) Sardan Marbun, sampai tim Foxtrot yang punya sebutan sebagai Bravo Media dengan pengasuh utamanya Choel Mallarangeng yang juga direktur Utama Fox Indonesia.

“Sierra Bravo Yankee, Sierra Bravo Yankee, kontak Delta Papa Delta, bisa dikopi ? Ganti !” Grrrk. Grrrk. Grrrk. “OK, Sierra Bravo Yankee, bisa dikopi. Delta Papa Delta menunggu instruksi. Ganti !”

Itulah contoh obrolan di udara antara SBY dan juru bicaranya, Dino Patti Djalal. Bahasa dan kode serupa malah juga dipakai untuk komunikasi via sms, Twitter dan email mereka. Untuk email contohnya :

“Yang terhormat Bapak Sierra Bravo Yankee dan Ibu Alpha November India Sierra Bravo Yankee. Bagaimana kabar cucu tersayang Anda, Alpha Mike India Romeo Alpha ?”

Intelijen militer. Operasi Senyap Diantisipasi : Tim Kampanye Calon Presiden Libatkan Pensiunan Jenderal. Selain merupakan pertempuran para calon presiden dan calon wakil presiden, Pemilu Presiden 2009 juga pertarungan antartim sukses. Perang intelijen pun tak bisa dielakkan akan terjadi. (Kompas, 23/5/09 : 4).

Perang intelijen militer akan terjadi ? Komedian jenius George Carlin menyikut istilah itu. Katanya, intelijen militer merupakan istilah yang kontradiktif. Intelijen militer adalah oxymoron, dan intelijen militer merupakan kombinasi dua kata yang tidak masuk akal.

Kasihanilah, Indonesiaku. Masa depannya sekarang ini bakal ditentukan oleh aksi-aksi dan peperangan yang tidak masuk akal itu !


Siapa menguntit siapa. Jerman Timur sebelum runtuh, dikenal sebagai negara polisi. Di bawah kekuasaan Stasi, dinas polisi rahasia atau intelijen yang cakarnya menjarah kemana-mana, setiap orang bahkan direkrut untuk menjadi intelijen guna mengawasi orang lain. Itukah yang sekarang terjadi menjelang Pemilu Pilpres 2009 ? Medan perang intelijen dalam senyap itu tergambar sebagai berikut :

Intel-intel kubu SBY-Boediono akan selalu diawasi oleh intel bloknya JK-Wiranto dan juga intel front Mega-Prabowo. Intel-intel blok JK-Wiranto akan diinteli intel front Mega-Prabowo dan intel-intel kubu SBY-Boediono. Intel-intel front Mega-Pabowo juga tidak akan luput dari intaian intel kubu SBY-Boediono dan intel blok JK-Wiranto.

Ada fenomena luar biasa terjadi. Intel-intel kubu SBY-Boediono kali ini bisa bekerja sama dengan intel bloknya JK-Wiranto, bahkan juga merangkul intel front Mega-Prabowo. Gabungan ketiganya bahu-membahu siang dan malam selalu menguntit gerak-gerik musuh bersama mereka : Sri Bintang Pamungkas dan gerakan Golputnya !


Operasi senyap. Kata operasi sangat akrab untuk dunia militer. Membayangkan banyaknya pensiunan-pensiunan jenderal itu saling sering ketemuan di markas masing-masing kubu antartim sukses, pasti kata operasi tersebut tidak jarang keluar dalam percakapan mereka.

Tetapi mengingat usia-usia mereka pasti akan sering muncul juga kata-kata operasi yang bermakna lain dalam obrolan mereka : Operasi prostat. Operasi jantung. Operasi ginjal. Operasi kanker.


Jenderal vs Facebook. Anda sudah punya akun media jaringan sosial, Facebook ? Sudahkah Anda bergabung di cause ini, http://apps.facebook.com/causes/290597, untuk mendukung pembebasan Prita Mulyasari ?

Diilhami oleh sukses Barack Obama, pasangan yang bertarung dalam Pemilu Presiden 2009tak ketinggalan memanfaatkan Facebook itu pula. Lihatlah, para pensiunan jenderal yang berbaris dalam masing-masing tim sukses itu dikabarkan memiliki akun Facebook juga. Bahkan mereka setiap hari selalu memperbaiki isi status-nya dengan data mutakhir pribadi mereka :

Data tekanan darah, denyut jantung, kadar gula darah, kadar kolesterol, sampai kadar PSA dari prostat masing-masing !


Janji sorga. Markas besar kampanyenya Bill Clinton tahun 1992, oleh manajer kampanyenya James Carville, dipasangi banner besar. Isinya slogan : It's the economy, stupid. Memang itulah jantung persoalan Amerika saat itu, dan Clinton memenangkan pilpresnya.

Slogan serupa harusnya juga dipasang di markas besar ketiga pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2009. Syukur-syukur juga dipasangi angka-angka persentase pertumbuhan ekonomi yang mereka janjikan, entah satu digit atau dua digit.

Rakyat akan mencatatnya. Di tengah situasi ekonomi global yang suram, perusahaan bertumbangan dan PHK meruyak dimana-mana, siapa tahu angka-angka janji sorga mereka itu kelak hanya cerminan dari kenaikan tensi darah mereka !


Run, generals, run ! Pencipta lagu dan penyanyi rok Amerika Bruce Springsteen dalam lagunya Born to Run (1974) berisi lirik “cause tramps like us, baby, we were born to run.

Politisi Indonesia sebagai petualang kiranya cocok pula masuk dalam deskripsi itu. Mereka terlahir untuk selalu ngacir. Dalam Pilpres 2009, semua kandidat bahkan berebutan mencuri start agar lebih dulu bisa ngacir. Bungkus, alasan dan pembenaran untuk aksi pengaciran itu mudah dicari-cari.

Hari Minggu pagi, 7 Juni 2009, dengan bergabung dalam kegiatan komunitas Bike to Work, SBY dan istri ikut ramai-ramai mengayuh sepeda di Jakarta. Agak luput dari liputan media, di sepanjang jalan yang dilewati SBY terhimpun ribuan warga berbagai bangsa keras berseru sambil mengacung-acungkan spanduk berbunyi : Run, run, SBY, run, run ! Run, run, SBY, run, run ! Run, run, SBY, run, run !

Sebelumnya mereka juga pernah memenuhi badan jalan di Jl. Teuku Umar, Jakarta, untuk berseru pula : Run, run, Mega, run, run ! Run, run, Mega, run, run ! Run, run, Mega, run, run !

Juru bicara kampanye masing-masing kubu kemudian dengan bangga mengklaim bahwa calon presiden mereka telah di-endorse oleh komunitas internasional. Mereka tidak tahu bahwa kelompok itu bernama International Runners Brotherhood Against Overweight and Obesity. Misi mereka mengajak SBY dan Mega untuk rajin olahraga lari, guna mengurangi kegemukan mereka.

Tokoh-tokoh calon wakil presiden juga mengalami demo yang sama. Ketika utusan khusus, special envoy dari Komisi HAM PBB datang ke Indonesia untuk menyelidiki secara lebih detil dugaan pelanggaran HAM di Indonesia 1998 dan Timor Timur 1999, teriakan serupa juga muncul.

Tetapi kali ini bukan dari kelompok International Runners Brotherhood Against Overweight and Obesity. Teriakan dan spanduk kelompok sangat besar satu ini berbunyi :

“Lari, jenderal ! Lari !”


Sepeda dan politisi. Politisi konservatif Inggris, Norman Tebbit, punya cerita tentang sepeda. Seperti dikutip koran Daily Telegraph (15/10/1981) ia bercerita saat ia hidup ditahun 1930-an dengan ayah yang pengangguran. “Ia tidak membuat huru-hara, ia hanya naik sepeda untuk berangkat mencari kerja,” cetusnya.

Di Indonesia kini, kondisinya mungkinkah lebih baik ? Sepeda kini gencar dikampanyekan sebagai kendaraan untuk menuju tempat kerja. Komunitas Bike to Work, adalah contohnya. Kehadiran SBY di tengah komunitas ini merupakan tanda empati bagi mereka.

Empati bagi mereka yang sejatinya merupakan warga Indonesia yang terpaksa menyimpan mobil atau sepeda motor karena harga BBM mahal. Mereka yang takut sakit akibat stres di saat macet dan macet di jalanan yang dipicu biaya pengobatan mahal. Mereka yang bila naik mobil atau motor di jalanan jengkel terkena pungli. Juga bagi mereka yang naik sepeda untuk nglembur kerja di hari Minggu agar bisa makan dengan keluarganya.

Suntikan SBY itu memicu inspirasi lain. Komunitas ini sekarang sangat-sangat mengharap Gede Prama, penulis laris buku-buku motivasi, untuk segera bisa bergabung di dalam komunitas mereka. Alasannya, warga komunitas ini ingin memperoleh suntikan motivasi, sambil bareng-bareng bersepeda, karena terkesan isi artikel-artikel inspiratif dari Gede Prama di harian Kompas.

Dorongan paling utama komunitas ini bersemangat mengajak Gede Prama untuk bergabung karena pada bagian akhir artikelnya selalu tertulis keterangan : Gede Prama, tinggal di Bali, bekerja di Jakarta.

Kabar lain. Seorang teman, juga anggota komunitas itu mengeluh, karena berkali-kali sepeda mahalnya dicuri orang. Ia kini membentuk komunitas baru untuk rekan senasibnya, bernama : Bike to Walk !


Menu sang presiden. Ini bukan lelucon. Prof. DR. Ir Made Astawan, dosen IPB, dalam bukunya Kandungan Gizi Aneka Bahan Makanan (2004) punya pendapat tentang mi instan. Bahan baku utamanya adalah tepung terigu, menjadikan mi bukan merupakan makanan asli Indonesia.

Sebungkus mi instan 75 gram, tulisnya, menghasilkan total energi sekitar 350 kilo kalori. Sementara kebutuhan energi orang dewasa 2.500 kilo kalori dan anak balita 1.300 kilokalori per harinya. Jadi sumbangan energi dari semangkuk mi instan hanya 14 persen untuk orang dewasa dan 27 persen anak balita per harinya.

Jadi : mengandalkan hanya sebungkus mi instan sebagai sumber energi utama dalam kehidupan sehari-hari harus dihindari karena hal tersebut cepat atau lambat akan berpengaruh terhadap stamina tubuh dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, terlalu sering menggunakan mi sebagai “pengganjal perut” satu-satunya setelah seharian bekerja keras adalah tindakan yang sangat keliru.

Mi instan saat ini memasuki ranah nutripolitico complex, persilangan antara komersialisasi gizi dan interes politik. Selain penduduk Indonesia digencarkan untuk mengonsumsi pangan dari bahan terigu itu, sesuai tuntutan pasar bebas yang dianut neoliberalisme, asupan sesering mungkin dari pangan yang nilai gizinya tidak adekuat ini, akan membuat daya tahan pikir bangsa kita menjadi melemah, tidak kritis, sehingga rentan terhadap bujukan dan rayuan bermotif politik.

Peringatan ini sebaiknya didengar oleh seluruh warga negara Indonesia. Perhatikanlah, seorang doktor yang juga lulusan IPB akhir-akhir ini sosoknya setiap saat selalu membombardir benak warga Indonesia dengan pesan-pesan nutripolitico complex itu melalui iklan-iklan di televisi.

“Ketika menghidupkan komputer, otak Anda bekerja. Ketika menghidupkan televisi, otak Anda berhenti.” Demikian kata pendiri Apple Corps., Steve Jobs.

Tanda lampu merah ini sebaiknya menyala dalam kesadaran publik kita saat mendengar bujukan, ajakan, dan rayuan agar warga Indonesia mau beramai-ramai mengonsumsi “mi instan politik” sesering mungkin, setiap hari, sampai tanggal 8 Juli 2009 nanti !


Bertabur doktor. Politisi Partai Buruh Inggris, Neil Kinnock, dalam pidato partainya yang disiarkan televisi telah mengunggulkan makna pendidikan. Ia melempar retorika : “Mengapa saya merupakan Kinnock pertama di antara ribuan generasi Kinnock yang mampu berkuliah di perguruan tinggi ?” Pidato ini kemudian dijiplak oleh Joe Biden, yang kini merupakan Wakil Presiden Amerika Serikat.

Di Indonesia, status lulusan vs bukan lulusan perguruan tinggi pernah menjadi isu perdebatan untuk calon presiden. Kini, lihatlah sekarang, calon-calon presiden dan calon-calon wakilnya yang maju dalam Pilpres 2009. Kalau saja SBY-Boediono nanti terpilih, Indonesia kita memiliki petinggi yang sama-sama bergelar doktor.

Tetapi untuk wakil presiden, bila terpilih, Boediono tak boleh menepuk dada. Sebab di era presiden Megawati kita pernah memiliki wakil presiden yang juga bergelar doktor. Doktor (HC) Hamzah Haz.


Penculikan Rengasdengklok. Megawati juga bergelar doktor honoris causa. Ayahnya, Ir. Soekarno, bahkan banyak mengumpulkan gelar doktor kehormatan dari banyak universitas. Bukan karena gelar-gelar akademis kehormatan semata bila tanggal lahir Bung Karno diperingati pada tanggal 6 Juni 2009 di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Kota ini memang bersejarah. Tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda dipimpin Sukarni sengaja menculik Soekarno dan Hatta. Keduanya dibawa ke Rengasdengklok ini, didesak agar segera memproklamirkan bangsa Indonesia saat itu juga. Namun Bung Karno menolak.

Ketika kembali ke Jakarta malam harinya, keduanya langsung merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamada Maeda, Jalan Imam Bonjol. Naskah inilah yang akan dibacakan esok harinya.

Semula proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (Monas). Tapi, demi menghindari bentrokan dengan tentara Jepang, akhirnya teks proklamasi itu dibacakan –sekitar pukul 09.00 pagi—di kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta Pusat.

Peringatan hari ulang tahun Bung Karno ke-108 itu, tentu saja, juga dihadiri oleh pasangan calon presiden Megawati, juga calon wakil presidennya, Prabowo Subianto. Milis pembela HAM ada yang nyeletuk : Kalau bicara tentang peristiwa penculikan, mengapa nama Prabowo Subianto selalu bisa saja terkait di dalamnya ?


Pura-pura orang kecil. Pasangan Mega-Prabowo mendeklarasikan pencalonannya untuk maju dalam Pilpres 2009 di lokasi pembuangan sampah, Bantargebang. Lalu saat memperingati harlah Bung Karno ke-108 di Rengasdengklok. Termasuk aksi SBY mengunjungi pabrik tempe di Malang atau pun Jusuf Kalla rajin mengunjung pasar-pasar tradisional.

Masih ingatkah Anda, Harmoko menggendong seorang tukang becak di Solo ? Soeharto dan anggota kabinetnya makan thiwul beramai-ramai. mBak Tutut saat menjabat sebagai Menteri Sosial makan di warung tegal. Wiranto bahkan makan nasi aking baru-baru ini pula.

Sunu Wasono, pengajar Fakultas Ilmu Pengtahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam bukunya Sastra Propaganda (2007) menyebut ulah para petinggi tadi sebagai aksi propaganda yang memanfaatkan jurus pura-pura sebagai orang kecil.Disorot oleh televisi, aksi mereka itu untuk membangun citra bahwa mereka merakyat, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat kecil, mencoba menarik simpati dan dukungan massa dengan cara menempatkan dirinya (seolah-olah) mereka juga.

Para kontestan Pilpres 2009 dalam liputan media ada yang konsisten menunjukkan kedekatannya pada rakyat kecil. Tetapi kebanyakan tidak. Megawati, tidak. Jusuf Kalla, tidak. Wiranto, tidak. Boediono, juga tidak. Apalagi Prabowo.

Yang nampak paling dekat dengan rakyat kecil adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Rakyat kecil yang paling dekat dengan dirinya bernama : Amira.


Kerbau dicocok hidung. George Burns almarhum, komedian sepuh dan dihormati, yang biografinya (foto di atas) ditulis Martin Gottfried berjudul George Burns and The Hundred Years Dash (1996), mengakui kemuliaan rakyat kecil.

Seperti dikutip majalah Life (Desember 1979) ia berujar, “too bad that all people who know how to run the country are busy driving taxicabs and cutting hair ”. Sangat disayangkan bahwa mereka-mereka yang tahu bagaimana mengelola negeri ini sibuk sebagai sopir taksi dan tukang cukur.

Orang-orang kecil tersebut di Indonesia saat menjelang Pilpres 2009 ini, sekarang ini lagi gencar didekati para kandidat. Dengan beragam jurus propaganda. Di antaranya adalah jurus umpatan. Jurus umpatan yang lagi laris manis dijajakan antara lain sebutan neoliberalisme dan pengungkapan mengenai pembengkakan utang negara.

Istilah-istilah itu diucapkan untuk menyerang fihak lain guna mendapatkan simpati. Tetapi dasar dari semua itu, ketika menggunakan jurus umpatan tersebut si pengguna tidak menginginkan kita berpikir, tetapi hanya bereaksi, membabi buta, dan tidak memiliki keraguan.

Kita sebagai rakyat mereka harapkan berlaku seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Menerima begitu saja isu tersebut, tanpa mempermasalahkan atau mengujinya dengan sikap kritis. Propaganda jurus satu ini sudah kita akrabi sejak jaman Orde Lama, Orde Baru, dan sampai saat ini pula. Termasuk slogan “Ganyang Malaysia !” yang muncul kembali di televisi ketika kasus Ambalat akhir-akhir ini mengemuka.


Tak ada lagi rumah angin. Novelis dan penyair Inggris D. H. Lawrence (1885–1930) pernah berujar : Never trust the artist. Trust the tale. Jangan mempercayai sang seniman, tetapi percayai karya-karyanya. Nasehat ini relevan di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2009 yang nampak ramai-ramai melibatkan para seniman.

Effendi Gazali dan Sujiwo Tejo memproklamasikan dukungannya untuk pasangan Jusuf Kalla-Wiranto ketika nonton bareng film Capres (Calo Presiden). Butet ikut berbaris di kubu Mega-Prabowo ketika disewa untuk melontarkan bom-bom kritik untuk pemerintahan SBY. Dan lihatlah, Rendra membaca puisi dan menyatakan dukungan dalam acara deklarasi Mega-Prabowo di Bantargebang.

Seniman kini memang tak lagi betah tinggal di atas angin. Ketika umur semakin menua, atau ketika idealisme memudar, mereka memilih turun untuk semakin dekat dengan tanah. Bahkan tanah tempat Rendra membacakan sajak Krawang-Bekasi-nya Chairil Anwar itu adalah tanah tempat pembuangan sampah.


Agenda rahasia Butet. Malam Deklarasi Pemilu Damai yang diselenggarakan KPU di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Rabu 10 Juni 2009, memicu kontroversi. Acara yang seharusnya penuh suasana persahabatan berubah jadi tegang lantaran sajian monolog Butet Kartaredjasa.

Butet menyampaikan monolog mewakili tim kesenian pasangan capres Mega-Prabowo dalam Deklarasi Pemilu Damai. Butet tampil memukau, tapi menyentil salah satu capres, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia memberondongkan sindiran terhadap pemerintah yang berkuasa, SBY, dan dilontarkan di depan SBY sendiri.

Tanpa tendeng aling-aling. Kritikan Butet membombardir mulai dari masalah utang negara, korupsi, hingga banyaknya pesawat Indonesia yang sering jatuh sebelum perang terjadi.

Mengapa Butet berani melakukan aksi itu ? Seorang pengamat politik, Dr. Sukardi Hambali dari Politika Humorista Institut Jakarta, memberikan analisisnya. Pertama, Butet berani melakukan hal itu untuk kubu Mega-Prabowo karena ia ketakutan. Takut menjadi korban aksi penculikan.

Kedua, Butet lagi terkena Omni-Prita Syndrome. Butet sebenarnya menginginkan sesudah melakukan orasi itu akan ditangkap, lalu diinterogasi fihak keamanan. Dengan modus ini, ia akan semakin terkenal di dunia Internasional.

Ketiga, dengan menyerang SBY, ia memang berharap tokoh yang menyewanya akan memenangkan Pilpres 2009. Sebagai aktivis kebudayaan, bila Mega-Prabowo menang, Butet mampu memiliki link khusus yang ia kira akan membantunya dalam merampungkan agenda kebudayaan yang ia pendam selama ini.

Semoga agenda kebudayaan Butet itu sukses. Antara lain mampu mencari kejelasan tentang nasib penyair Wiji Thukul, aktivis era reformasi sampai Deddy Hamdun, suami aktris cantik Eva Arnaz, yang tidak ada kabarnya sampai kini.


Polusi demokrasi. Agenda Butet di atas hanyalah fiksi. Ia yang mengaku sebagai profesional, yang siap disewa oleh pasangan mana saja, boleh jadi merupakan sejimpit gambaran bagaimana kekuatan uang mampu berbicara dalam sebuah pesta demokrasi.

Untuk fenomena satu ini, penulis dan wartawan Amerika Serikat, Theodore H. White (1915–1986) pernah bilang wanti-wanti, bahwa banjir uang yang digelontorkan dalam kancah perpolitikan dewasa ini merupakan polusi bagi demokrasi. Sepertinya, ancaman polusi itu kini sedang pula terjadi di tanah air kita. Termasuk fenomena lembaga survei yang dibayar oleh kandidat. Kita lihat dan saksikan semuanya harus dengan waspada.

Sebab bila polusi demokrasi itu meruyak kemana-mana, maka kita kelak akan hanya mendapati apa yang pernah disinyalir oleh tokoh serba bisa, ya ilmuwan, penemu dan juga politisi Amerika serikat, Benjamin Franklin (1706–1790), yang bersabda :

Di aliran sungai dan pemerintahan yang jelek, benda yang paling ringan saja yang mengapung di atasnya !


Wonogiri, 11-15/6/2009


ke

Monday, December 01, 2008

Idea Driven Jokes, Anjing Pavlov dan Bangsa Pelupa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Humor Hillary. Pilpres AS 2008 sangat kaya sebagai ladang humor. Tina Daunt dalam artikelnya berjudul “Candidates show they can take a joke” di Los Angeles Times (11/4/ 2008) bahkan menulis, “Inilah pilpres dimana politik sebagai lelucon. Atau barangkali kampanye dimana politik menemukan selera humornya.”

Realitasnya, humor memang tidak hanya menjadi hiburan semata. Humor bahkan menjadi senjata utama dalam pemenangan pilpres 2008 ini pula. Tina Daunt menyebutkan, jarang ada waktu lowong tiap minggunya bagi kandidat yang bertarung untuk tidak muncul dalam salah satu acara komedi di jaringan televisi atau televisi kabel di Amerika Serikat.

Sekedar contoh adalah Hillary Clinton. Kandidat kuat dari Partai Demokrat yang ternyata kemudian dikalahkan oleh Barack Obama, kita tahu, pernah mengaku berbohong tentang peristiwa kunjungannya ke bandara Sarajevo. Saat itu ia mengaku dirinya harus merunduk dan berlari demi menghindari tembakan para penembak jitu.

Ketika hadir dalam acara The Tonight Show with Jay Leno, istri mantan presiden AS itu berujar : “Saya bersyukur mampu sampai di studio ini.” Senator Demokrat dari New York itu ketika tiba di studionya Jay Leno di Burbank, Los Angeles awal April 2008 lalu menambahkan, “Anda tahu, saya kuatir tidak bisa sampai di sini. Karena diri saya terancam para penembak jitu.” Jay Leno menimpali : “Kalau di Los Angeles sini, hal itu memang benar-benar bisa terjadi.”

Ah, Hillary. Seorang politikus ulung yang mampu meledeki dirinya sendiri. Termasuk ketika posisinya terpojok, terlindas popularitasnya Obama. Pada acara debat di St Anselm’s College (5/1/2008) dirinya dicecar pertanyaan, “mengapa orang-orang tampaknya lebih menyukai Obama ?” Hillary menjawab, “itu menyakiti perasaan saya.” Jawaban jujur itu mampu mengundang riuh tawa. Lanjutnya, “Tetapi saya tetap terus maju. Dia (Obama) memang mudah disukai. Namun saya kira, saya tidak terlalu buruk.”

Semangatnya untuk terus maju, mantan ibu negara yang belasan kali juga diolok barisan komedian AS karena getolnya ia berpantalon, kemudian jadi bulan-bulanan komedian Andy Borowitz. Konon, Hillary akan terus bertahan selama ratusan tahun dan milyaran tahun, untuk memenangkan kursi presiden AS. Bahkan untuk meraih kemenangan dalam kampanyenya, Hillary Clinton telah mengeluarkan peranti lunak baru berlabel Hillary 8.0.

Dalam kampanye di Chicago, peranti lunak itu ia katakan sebagai penanda kemenangannya di tahun 08. “Peranti lunak ini akan menampilkan Hillary yang terbaik dari segala apa pun yang Anda harapkan darinya,” tutur ibu dari Chelses Clinton itu. Peranti lunak yang kompatibel untuk PC dan Mac itu memungkinkan pendukungnya merancang sosok Hillary Clinton berdasar versi tiap-tiap pengguna. Karena memang telah tersedia 57.000 posisi Hillary yang terkait beragam program atau isu, dari masalah kesehatan, masalah imigrasi sampai topik perang di Irak.

Sayangnya, peranti lunak itu tidak sepi dari cacat teknis. Ketika diinstal, banyak komputer mengalami crash.. Macet. Kebanyakan karena komputer-komputer itu tidak cukup memori untuk memuat semua posisi Hillary tersebut. Walau pun demikian, pembantu dekat nyonya Clinton ini menyatakan bahwa gangguan teknis itu tetap bermanfaat bagi Hillary. “Rata-rata orang Amerika memang tidak memiliki memori cukup, dan itulah yang sebenarnya diandalkan Hillary meraih kemenangan.”


Menggertak otak. Bagaimana lelucon tentang Obama ? Naiknya warga kulit hitam pertama AS yang juga pernah bersekolah di Jakarta sebagai presiden baru negara adi daya itu, anehnya, tidak semua kalangan menyukainya. Fihak pertama yang meratapi naiknya Obama justru datang dari kalangan komedian Amerika Serikat.

“Jujur saja, sebagai komedian saya merasa kehilangan besar dengan lengsernya Bush,” keluh komedian Jay Leno. “Sebab Barack Obama tidak mudah dijadikan bulan-bulanan lelucon. Ia tidak membuka peluang bagi kita untuk melucukannya. Terima kasih Tuhan, kau anugerahkan sekarang pengganti Bush : seorang Joe Biden bagi kita semua.”

Iklan besar-besaran sebagai senjata pamungkas Obama menjelang pilpres juga jadi sasaran olok-olokan komedian Bill Maher. Tetapi arah tembakannya ke sasaran lain. “Berapa banyak Anda telah menyaksikan iklan televisi besar-besaran Obama minggu ini ? Iklannya tertayang di tujuh stasiun televisi sehingga kita tak bisa menghindarinya. Yang paling menarik, pada iklan sepanjang setengah jam itu Obama sama sekali tidak menyebut nama McCain, tak pernah menyebut nama Palin, tidak pernah menyebut nama George Bush. Atau dalam bahasa Shakespeare : histori, komedi, dan tragedi !”

McCain yang tua, disebut histori. Sarah Palin yang sering melakukan blunder itu didaulat dengan label komedi. George W. Bush yang merusak Amerika dan dunia dijuluki secara tepat sebagai biang tragedi.

Saya suka lelucon cerdas Bill Maher yang satu ini. Kalau saja saya tidak diberi hadiah buku-buku komedi dari Danny Septriadi, saya tidak tahu adanya penggolongan terhadap lelucon a la Jay Leno, Andy Borowitz dan Bill Maher semacam ini. Dalam buku berjudul Zen and the Art of Stand-Up Comedy (1998), Jay Sankey membedah perbedaan antara lelucon berbasis ide dan lelucon lainnya yang berbasis pengalaman.

“Lelucon mengenai pemikiran yang asing, yang menyeruak di kepala Anda, merupakan idea driven, lelucon berbasis ide atau gagasan. Lelucon ini mengharuskan audiens memeras imajinasi mereka. Sementara itu lelucon menceritakan pengalaman Anda pergi ke bioskop atau menghadiri hajat penganten, merupakan experience driven, lelucon berbasis pengalaman. Dalam lelucon ini mensyaratkan audiens merujuk pengalaman diri mereka sendiri, yaitu pengalaman pribadinya terhadap peristiwa yang sama,” jelas Jay Sankey. Lelucon jenis yang kedua lebih mudah memicu tawa ketimbang lelucon jenis yang pertama.

Ranjau salah medan. Untuk mendalami seluk-beluk lelucon jenis pertama, saya akan mengutip pendapat seorang blogger “dEHA” yang menulis komentar di blog saya ini pula : “Saya penggemar stand-up comedy berbagai rupa, yang intelek maupun yang cuma jorok-jorok. Pertama kali saya kenal stand-up adalah waktu nonton video lamanya Eddie Murphy (yang termasuk kategori jorok2 itu tadi hehe) waktu saya di Australia.

Setelah itu sempet nonton beberapa show di tivi sana, dan ngerasa ini style komedi intelek banget, nggak cuma kelakuan minus kayak Tukul atau dasi pendek seperti yang Anda sebut. Salut banget bisa membahas komedi dengan sangat serius, jangan patah semangat karena 'gagal' di API, toh kalau nongol di tivi penontonnya nggak akan ngerti karena segmen yang nonton masih lebih suka lihat slapstick dan komedi keroyokan yang biasa kita lihat.”

Sebelumnya, di blognya ia menulis : "Komedikus Erektus blog (komedian.blogspot.com) is by a guy very seriously wanting to lift Indonesian comedy by introducing standup comedy, complete with his theoretical analysis of great comedians and even Judy Carter writings. He even attempted performing his own act for a comedian competition, although failing really badly (not because he was not funny, but because the judges don't get his solo act, ouch). Mas Bambang, I salute you!"

Terima kasih, “dEHA.” Pelajaran dari Jay Sankey dan tuturan “dEHA” tadi membuka mata saya untuk makin jelas dalam berintrospeksi. Utamanya ketika mengais latar belakang sampai alasan mengapa saya gagal dalam audisi di API-4 yang lalu itu.

Saat itu saya melucukan judul blognya pemain biola cantik Maylaffaiza, heboh asmara Bambang Tri-Halimah-Mayangsari, sakitnya Pak Harto, juga terkait fenomena topik selebritas-politikus versus politikus-selebritas di Indonesia saat itu. Ranjau salah medan telah mem-bom diri saya habis-habisan. Di bawah ini adalah set atau naskah komedi yang saya bawakan saat itu :

“Saya main biola, seperti saya bermain cinta.” Kata pemain biola solo yang cantik dan seksi Maylaffayza di situsnya : maylaffayza.multiply.com.

Saya menyukai Maylaffayza. Ia cantik, seksi, berbakat dan intelektual. Tetapi ketika saya ikuti kata-katanya, akibatnya fatal. Saya kesulitan cari posisi enak. Orgasme pun tidak. Biola itu rusak, berantakan semuanya.

Maylaffayza mungkin lupa, kini selebritis adalah trend-setter. Panutan gaya hidup. Bahkan politisi pun bergaya selebritis. Yusril dan Syaifullah Yusuf, mantan menteri, bermain film. Presiden SBY menelorkan album musik. Anggota DPR main video, bersama Maria Eva.

Kini memang era emasnya para pesohor, para selebritis. Pintu-pintu peluang seolah terbuka bagi mereka untuk BISA MASUK kemana saja. Bintang sinetron Rano Karno, MASUK POLITIK, terpilih jadi Wakil Bupati Tangerang. Bintang sinetron Aji Massaid MASUK Partai Demokrat, jadi anggota DPR. Bintang sinetron Roy Martin, MASUK penjara.

Menjadi selebritis juga mampu membuka pintu-pintu istana. Anissa Pohan jadi menantu Presiden SBY. Lulu Tobing jadi cucu menantu mantan Presiden Soeharto Infotainment mengabarkan artis Revalina Temat kini dekat dengan cucu mantan Presiden Soeharto, Panji Trihatmojo.

Oh, Revalina yang malang. Apa ia tidak tahu kalau Panji Trihatmojo itu sangat membenci selebritis ? Terutama selebritis bernama Mayanksari.

Begitulah, ratusan jam tayangan infotainment setiap minggunya telah membesarkan para selebrities itu. Persaingan antarstasiun yang keras. Begitu kerasnya persaingan, awak TV kini pun mencoba inovasi-inovasi baru : tayangan infotainment dipadu info kedokteran yang canggih, intrik dan perseteruan keluarga yang sengit, dibumbui nuansa-nuansa politik.

Ramuan dahsyat ini bakal terjadi bila Halimah Trihatmojo membezoek Pak Harto, ketemu Bambang Trihatmojo yang disertai Mayangsari. Big news. Big news. Big News.


Bukan untuk TPI. Terkait penampilan saya itu, salah satu dari tiga juri seleksi yang menghakimi saya, Ali Mahmudin (produser API-1 dan API-2) telah berbaik hati menulis komentar di blog saya ini : “Barang kali saya adalah salah satu juri yang tidak meloloskan Mas Bambang di audisi API-4. Terus terang lawakan Mas Bambang bukan berarti tidak berkualitas, tetapi memang saat dibawakan waktu itu tidak lucu (versi kami).

Namun ketika Mas Bambang tampil dihadapan kami (aku berusaha untuk mengerti semua isi lawakan Mas Bambang) ternyata aku secara pribadi melihat isi materi tersebut penuh satir. Dan menurut saya lawakan yang semacam itu memang bukan untuk kalangan penonton TPI.

Itulah sebabnya kami belum bisa merekomendasikan lolos untuk masuk babak berikutnya. Akan tetapi saya pribadi sangat hormat dengan ketajaman Mas Bambang melihat kekinian menjadi topik lawakan Audisi API-4.”

Terima kasih, Mas Ali. Terima kasih Harris dan juga Isman untuk komentar Anda.

Senjata buat Tamara. Masih tentang acara komedi di stasiun televisi lainnya, saya juga gagal sebelumnya. Yaitu ketika diundang untuk tampil di Republik Mimpi, September 2006. Saat itu kreator NewsDotcom-Republik Mimpi, Effendi Gazali, meminta saya untuk menjadi peserta acaranya itu secara in absentia. Tidak tampil di depan kamera, tetapi hadir lewat suara, melalui kontak telepon. Ia telah menetapkan topik mengenai layanan publik. Saya pun kemudian mengirimkan materi yang ia minta sebagai berikut :

“Layanan publik adalah layanan yang diberikan negara untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya, berlandaskan alasan moral bahwa kebutuhan universal mereka harus terpenuhi, bahkan sering dikaitkan dengan hak-hak asasi manusia mereka. Misalnya penyediaan air bersih.

Layanan publik di negara modern meliputi pendidikan, layanan air bersih, kesehatan, transportasi, listrik dan gas (kayaknya mau naik lagi TDL-nya), penyiaran dan komunikasi, manajemen pengolahan limbah (di negara tetangga baru saja terjadi tragedi di Bantargebang), pemadam kebakaran (di negara tetangga, mereka tak berdaya di Sumatera dan Kalimantan), sampai layanan keamanan yang diemban oleh polisi (di negara tetangga, polisi lagi pusing gara-gara ditemukannya 9 karung senjata di jalan tol Kapuk).

Belum ada negara yang kreatif memenuhi kebutuhan warganya di luar tuntutan hak-hak asasi manusia. Misalnya, jasa pengeritingan rambut atau jasa rebounding yang disediakan negara. Atau jasa tato tubuh oleh negara. Maukah para mahasiswa di sini, tubuhnya ditato dengan gambar burung...Garuda Pancasila ?

Bagaimana potret kualitas layanan publik di negeri tetangga ? Kalau saya boleh bilang, sudah sangat-sangat bagus sekali. Dalam arti, PERTAMA : para rakyat kecil telah bagus sekali memberikan pelayanan kepada penguasa dan kemauan para pengusaha.

Tragedi dan bencana lumpur panas di Porong telah diterima oleh rakyat kecil dengan sabar, hingga hampir empat bulan kemudian baru pemerintah turun tangan. Ada yang bilang, kalau proyek pemboran itu milik orang kecil, pasti sudah ditutup sejak dini oleh pemerintah. Saya bilang, kalau orang kecil ya pasti tidak mampu memiliki usaha pemboran !

Contoh orang kecil tanpa pamrih melayani penguasa, juga pemerintah, dapat diteladani dari sosok Pak Wasa. Anda tahu, Pak Wasa ? Dia adalah pemulung yang menemukan 12 senjata api, belasan magazen dan ribuan amunisi di tepi sungai Tanjungan, pinggir jalan tol Kapuk KM 27 (arah Bandara Soekarno Hatta) RW 02, Kapuk Muara, Jakarta Utara, Rabu (8/9) sore. Pak Wasa, melaporkan temuannya ini kepada polisi. (Dari topik ini dapat dikreasi belasan lelucon, di bawah ini saya sertakan beberapa di antaranya-BH).

Bayangkan bila Pak Wasa itu bukan warga negara yang jujur. Bagaimana kalau senjata-senjata itu ia ambil ? Lalu ia tenteng-tenteng ? Wow, seorang pemulung kemana-mana membawa-bawa AK-47 atau pistol Smith & Wesson ?

Bagaimana pula kalau senjata-senjata itu ia serahkan kepada Hambali ? :-) Engga mungkin ya, pemulung kok bisa naik pesawat hingga sampai di Guantanamo, Kuba.

Bagaimana kalau senjata-senjata itu diserahkan kepada pelawak Parto Patrio ?:-) (Catatan BH : Moga-moga audiens “ngeh” dan masih ingat insiden Parto Patrio yang pernah meletuskan senjata ketika diuber-uber kru infotainment). Siapa tahu, Parto berniat meng-update koleksi senjatanya.

Ikhtiar saya ikut mengisi acara parodi politik secara in absentia itu gagal. Karena slot waktunya, menurut Effendi Gazali, terpaksa terpakai untuk menampung uneg-uneg para pamong praja dari seluruh Indonesia, dipimpin Sudir Santoso, yang saat itu berjumlah ribuan orang sedang berdemo, mengadukan nasibnya di Depdagri di Jakarta. Saya bisa mengerti.


Idea driven jokes. Walau pun menuai gagal dan gagal, seperti cerita kecil di atas, aktivitas mengkreasi lelucon berbasis ide itu tetap saja mengusik pikiran saya setiap saat. Satu persatu, bila ia muncul, saya dokumentasikan di bloknot atau di katalog. Siapa tahu kelak bisa saya munculkan di situs YouTube ?

Yang pasti, lelucon semacam ini memang tidak mudah dikreasi. Juga tidak mudah difahami. Membujuk, mengantar atau sampai memaksa audiens untuk merentangkan imajinasi mereka, bukan persoalan mudah. Itulah alasan mengapa Presiden SBY pernah marah sampai dua kali karena audiensnya ngobrol sendiri atau malah tertidur ketika ia sedang berpidato.

Kalau Anda agak jeli mengikuti tayangan beragam parodi politik di televisi, dari Republik Mimpi, Negeri Impian, Democrazy sampai Kabaret, materi yang diluncurkan untuk sengaja memancing tawa seringkali justru TIDAK TERKAIT dengan materi utama pembicaraan. Lelucon-lelucon yang disambut tawa di layar tivi itu merupakan lelucon biasa-biasa saja. Bahkan klise. Mudah ditebak. Padahal ”no surprise, no laughter !,” ini rumus lawakan universal yang diungkapkan Danny Septriadi.

Acara itu akhirnya sering nyaris jadi adegan badut-badutan semata. Lawakannya, menurut Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-Sized Book of Comedy (1999), berada pada tingkat keenam atau ketujuh. Alias kasta paling rendah dalam kiprah kreativitas mengundang tawa.


Anjing Pavlov dan kita. Acara-acara parodi itu, juga acara komedi sketsa lainnya, menjadi terdengar dan terlihat riuh rendah semata karena gelontoran eksesif saus tawa kalengan, canned laughter atau laugh track, yang dimanipulasikan si kreator acara. Itulah excuse atau justru senjata pamungkas para kreator komedi kita yang belum mampu merentang imajinasi pemirsanya. Bahkan manipulasi itu sampai-sampai mengancam tergerusnya akal sehat dan nurani, suara hati bangsa.

Terus terang, saya bukan penonton setia acara beragam komedi di tivi yang dibintangi Effendi Gazali, Iwel Well dan Kelik Sumaryoto, Butet Kartaredjasa dan awak Teater Koma sampai Tukul Arwana itu. Sehingga saya terperanjat menyimaki isi surat pembaca yang ditulis Ali Farkan (Semarang) yang dimuat di Suara Merdeka, 28/11/2008 : M.

Ia menceritakan hadirnya bintang tamu dalam salah satu acara bernuansa komedi populer di televisi. Bintang tamu itu mengaku sebagai mantan pembunuh bayaran yang sudah insaf. Ketika menceritakan bahwa dirinya pernah membunuh sampai 7 orang, spontan ia mendapatkan tepuk tangan dari penonton. “Bagaimana kualitas penonton untuk memahami mana prestasi baik dan buruk ?,” gugat Ali Farkan. Itulah Indonesia. Itulah tayangan televisi kita. Itulah potret wajah tanpa nurani dari bangsa Indonesia.

Buraian tawa-tawa kalengan di televisi kita itu mudah mengingatkan tesis mengenai anjing-anjing Pavlov. Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : apakah penonton komedi di televisi kita, berdasar keluhan Ali Farkan di atas, telah berperilaku tak ubahnya satwa-satwa yang menjadi kajian Pavlov tadi ? Apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, tanpa dikaji benar atau salah secara moral, refleksi otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan bertepuk tangan ? Absurd. Televisi memang menumpulkan.

”Television brought the brutality of war into the comfort of the living room.”, imbuh nabi media, Marshall Mc Luhan (1911-1980). Televisi menyajikan brutalitas peperangan ke dalam ruang tamu keluarga yang nyaman. Itu pendapatnya ketika berkecamuknya Perang Vietnam. Kenyamanan itu bisa berakibat menumpulkan nurani, di mana kebrutalan perang dan korban-korban yang tewas cenderung diperkerdil hanya sebagai objek hiburan belaka.

Di Indonesia, mungkin lebih mengerikan lagi. Brutalitas bahkan juga tersaji dalam acara komedi. Adegan makan kodok hidup-hidup dijadikan sebagai hiburan. Atau menampilkan seorang kanibal dan pembunuh bayaran sebagai hero. Semuanya ditujukan semata untuk mengundang tawa. Pantas saja, mengapa rentetan kejadian pembunuhan dengan mutilasi, kini semakin sering terjadi. Mungkin pelakunya sambil tertawa-tawa ketika sedang menjalankan aksi sadisnya.

Akar tunjangnya, barangkali, karena di Indonesia ini orang langka memiliki tradisi menulis. Termasuk di kalangan komunitas komedi kita. Akhirnya bangsa ini menjadi sangat mudah lupa. Orang-orang Indonesia menjadi sangat pendek ingatannya. Padahal kita tahu, bangsa yang memorinya buruk menjadi makanan empuk bagi politikus busuk.


Mereka yang pernah korupsi uang rakyat dalam jumlah gila-gilaan, membunuhi rakyat, menembaki dan menculik mahasiswa, meracun aktivis HAM, atau bahkan mengebom orang, justru di televisi mereka-mereka itu kita beri tepuk tangan. Kita elu-elukan. Bahkan ada yang sampai dijadikan sebagai vote getter dengan melabelinya sebagai bapak bangsa, sebagai pahlawan.

Indonesia kini dalam bahasa Shakespeare adalah : tragedi, tragedi dan tragedi !


Wonogiri, 20-30/11/2008


ke

Tuesday, February 26, 2008

Bila Butet (Berani) Bermain Komedi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Haiku komedi. Saya seorang aktor dan bukan seorang komedian. Demikian pernyataan Butet Kartaredjasa, aktor monolog terkenal kita, terkait keterlibatannya dalam acara parodi politik Republik Mimpi-nya Effendi Gazali yang ditayangkan di televisi swasta, MetroTV. Saya agak menyesali pernyataan Butet itu.

Andai saja Butet berani mengatakan diri juga sebagai seorang komedian, kita boleh berharap dunia komedi kita mampu merambah cakrawala baru yang menjanjikan. Juga diharapkan mampu memperkokoh bangunan perjalanan sejarah komedi kita ke masa depan. Cakrawala baru itu adalah hadirnya genre pementasan komedi cerdas, yaitu komedi tunggal atau stand-up comedy di Indonesia.

Sekadar mengingatkan, komedi tunggal merupakan haiku-nya komedi. Patisari atau intisarinya komedi. Demikian penegasan Judy Carter, seorang mentor komedi terkenal di AS. Menurutnya, kalau Anda faham prinsip-prinsip dasar komedi tunggal, Anda berpeluang mampu menerjemahkan keterampilan itu dalam pelbagai ranah yang beragam.

Apakah itu dalam penulisan naskah sketsa komedi, komedi situasi, pementasan, sampai kepada pemasarannya. Karena semuanya itu terpusat pada upaya untuk menghadirkan gelak tawa. Sayang, komedi tunggal belum (atau sulit ?) populer di Indonesia. Sehingga ibarat bangunan, komedi di Indonesia tidak memiliki fondasi yang kokoh untuk menunjang perkembangannya lebih lanjut.

Pementasan komedi tunggal sekilas mirip dengan pementasan monolognya Butet selama ini. Utamanya, karena sama-sama pelaku tampil sendirian di panggung. Walau pun demikian terdapat perbedaan prinsip antara keduanya. Komedi tunggal dipanggungkan dengan tujuan semata-mata mengundang tawa audiens. Sementara itu monolognya Butet tersebut, kalau menurut Judy Carter, disebut sebagai one person show, tidak lain merupakan pementasan drama yang dimainkan oleh seorang aktor.


Pertunjukan one person show itu memiliki alur cerita, sementara komedi solo alur dan topiknya meloncat-loncat. Dalam one person show tidak dituntut mampu menggelitik audiens agar terus-menerus tertawa sepanjang waktu pertunjukan. Juga tidak melibatkan penonton. Dalam aktingnya si aktor menirukan pelbagai karakter dan penontonnya pun relatif lebih sabaran.

Komedi lebih berat. Dihitung-hitung dari perbedaan yang ada tersebut, senyatanya komedi tunggal lebih berat tuntutan mau pun resikonya. Sekadar ilustrasi, Edmund Gwenn, aktor komedi Hollywood era 1940-an saat menjelang ajalnya berbisik kepada aktor Hollywood terkenal lainnya, Jack Lemmon, bahwa menuju kematian itu menyakitkan, tetapi tidak sebegitu menyakitkan dibandingkan berpentas sebagai komedian.

Aktor dan komedian solo dari AS, Will Ferrel, menyebut komedi tunggal sebagai seni yang keras, sepi dan bengis. Begitulah, karena komedi tunggal memang lebih sulit untuk dipelajari. Dalam pertunjukan, si komedian ibaratnya terus-menerus meminta belas kasihan penonton yang merupakan bagian integral dari keseluruhan pementasannya. Dirinya harus pandai-pandai membaca mood atau pun selera penontonnya, kemudian harus tangkas pula dalam menyesuaikan materi lawakannya.

Itu tuntutan di panggung. Sementara tuntutan menyangkut mindset, pola pikir, kiranya jauh lebih berat lagi. Lagi-lagi menurut Judy Carter, bahwa setiap komedian tunggal dituntut orisinalitasnya. Dirinya harus berani dan jujur dalam membeberkan otobiografi mereka masing-masing.

We funny people are not normal”, tegas Judy Carter. Katanya, orang-orang normal mengekspresikan selera humornya dengan menghafal lelucon sana-sini, lalu menceritakannya, sementara komedian sejati mentransformasikan hidupnya menjadi lelucon itu sendiri. Ia menulis lelucon tentang hidupnya sendiri. Lebih mengerikan lagi, imbuh Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat atau cela dirinya, para komedian sejati justru sengaja mempertontonkannya semua itu kepada dunia.

Comedy...be afraid, be very afraid ! ”, tandas lanjutnya. Keterusterangan dan kejujuran memang menakutkan. Tetapi semakin dalam Anda menyelami riwayat hidup komedian seperti George Burns, Richard Pryor, Rodney Dangerfield, Joan Rivers sampai Jon Stewart yang memandu acara Oscar 2006 dan 2008, kita akan menaruh hormat atas kejujuran mereka sebagai manusia. Para komedian sejati itu senantiasa mampu menemukan humor dalam momen yang serius, juga tragedi hidupnya, dan bahkan pada momen yang paling gelap dan paling pribadi sekali pun. Mereka memiliki totalitas.

Mungkin dapat diibaratkan sebagai seseorang yang berupaya memperoleh kekayaan hingga dirinya berani membuat “perjanjian” dengan setan. Para komedian sejati ikhlas menggadaikan kehidupannya dalam perjanjian itu guna merelakan kekurangan dirinya sebagai manusia untuk dibedah, ditonjolkan dan semuanya dijajakan sebagai bahan tertawaan.

Komedian dan pemenang Oscar, Robin Williams, pernah berujar : “Saya menggunakan komedi untuk menetralisir rasa takut yang lumrah ada pada diri setiap orang. Saya berkata bahwa saya juga punya rasa takut seperti Anda, tetapi saya mempunyai pandangan menarik, sehingga saya berpikir kita akan mampu mengalahkan rasa takut itu secara bersama-sama.”

Kita bisa bercermin : pada sepanjang sejarah dunia lawak Indonesia, adakah kita mampu menemukan komedian yang memiliki totalitas pengabdian dan pola pikir luhur seperti yang digambarkan di atas ? Mungkin kita akan kesulitan. Hal itu terjadi karena kita memiliki tradisi pertunjukan lawak yang berbeda.

Dengan merujuk pementasan Srimulat sebagai contoh kasus, pentas lawak kita merupakan pentas keroyokan. Dalam kerumunan semacam itu relatif sempit peluang seseorang komedian menunjukkan kepribadiannya yang unik sebagai persona. Pola lawak keroyokan model Srimulatan itu masih kental sampai kini, termasuk dalam upaya perekrutan bibit-bibit pelawak baru melalui acara reality show yang diadakan salah satu stasiun televisi swasta kita selama ini.

Dalam status dunia komedi kita yang boleh dibilang mandek itu, kiranya komunitas komedi Indonesia dapat menengok sepak terjang seorang Butet Kartaredjasa selama ini. Ia seorang diri, yang ditopang penulis naskah yang mumpuni, seperti ditulis oleh Achmad Munif di Kompas Jawa Tengah (2/1/2008), Butet Kartaredjasa telah tampil monumental di kancah pentas monolog nasional.

Komunitas komedi kita dapat mengambil hikmah dari kiprah dia dan tim kreatifnya, bahwa seiring upaya perekrutan komedian-komedian baru juga, ini imperatif, harus dibarengi pula dengan penggemblengan para penulis komedi yang andal. Teriakan semacam ini telah lama disuarakan oleh almarhum Arwah Setiawan dan tak bosan-bosannya saya berlaku seperti beo untuk setiap kali mengulangi tuntutan yang sama, lagi dan lagi.

Akhirnya, dengan niat ingin ikut memajukan dunia komedi kita, saya punya harapan iseng-iseng serius untuk Butet Kartaredjasa. Dengan semua modal besar yang telah ia miliki, beranikah ia menyeberang sesekali untuk menjadi motor penggerak dunia komedi tunggal di Indonesia kini ? Sehingga kelak ia pun mampu berkata : “Saya seorang aktor dan juga seorang komedian !”


Monggo, Mas Butet.



Wonogiri, 27/2/2008

ke