Showing posts with label komedikus erektus. Show all posts
Showing posts with label komedikus erektus. Show all posts

Sunday, December 30, 2012

Teka-teki rambut keriting,Gus Dur dan Hari Humor Nasional

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com




Jangan porno dulu. "Rambut wanita mana yang paling lebat,paling hitam dan paling keriting ?"
Itu pertanyaan Gus Dur kepada saya. Momen itu terjadi di toko buku Gramedia Blok M, Jakarta, 25 Oktober 1986. Saya gelagepan dan tak bisa menjawabnya. Apa jawab Gus Dur sendiri ?
Tunggu dulu.
Mari kita segarkan ingatan kita tentang dirinya. Bahwa hari ini, 30 Desember 2012, adalah tepat 3 tahun wafatnya beliau. Banyak kenangan ditulis tentang Gus Dur. 
Antara lain seorang wartawan senior majalah Tempo, Syubah Asa, pernah menulis kenangannya :
”Di masa-masa itu, ketika TEMPO masih berkantor di Proyek Senen, Jakarta Pusat, sekitar akhir 1970-an sampai 1980-an, Gus Dur kerap datang untuk menulis kolomnya. Produktif sekali. Kalau tidak salah, yang satu belum dimuat, sudah datang yang lain.
Andaipun terpaksa ada (tulisan –BH) kolom yang harus kembali, saya kira dia juga tidak peduli. Repot-repot amat. Tapi, saya lupa menge­nai itu. Yang jelas, produktivitas Gus Dur membuat Goenawan Mohamad, Pe­mimpin Redaksi ketika itu, menyarankan kepada saya agar mengurus satu meja khusus plus mesin ketik untuk dia.
Gus Dur orangnya segar. Datang dengan gaya seperti selalu siap untuk ngobrol, pakai sandal, tidak pernah sepatu, pakai hem lengan pendek, tidak pernah pakai peci, apalagi dasi. Selalu punya lelucon yang membuat orang tergelak-gelak. Setelah ger-geran sedikit, baru ia menuju mejanya dan mulai mengetik.”

Kisah kedekatan Gus Dur dengan perpustakaan antara lain petikannya : "Hanya, kalau mau mencari kelemahan Gus Dur, kelemahan itu ada pada hal-hal kecil. 

Bisa termasuk data teknis, meskipun ia orang yang akrab dengan perpustakaan. Percakapan saya dengan dia itu sendiri berlangsung di perpustakaan — dan perpustakaan TEMPO, kan, cukup bagus.
Gus Dur ke perpustakaan mencari ide, menimba, atau mengecek pikiran atau gagasan. Tokoh seperti dia kan suka ide-ide segar, termasuk yang bagi banyak orang terasa menyentak. 
Misalnya, yang terakhir, kata-katanya di perayaan Cap Go Meh bahwa sekarang inilah saat kita mengembangkan perbedaan. “Makin berbeda kita, makin jelas di mana titik-titik persatuan kita.”
Kedekatan beliau dengan perpustakaan mungkin itu yang membuat para pendukungnya, Gusdurian, mendirikan Pojok Gus Dur di kantor pusat PBNU, Jakarta. Sebuah perpustakaan mini dan ruang diskusi. Saya pernah main-main kesana (foto di atas). Laporannya ada disini.
Hari humor nasional. Sejak dua tahun lalu, untuk mengenang dan mengabadikan sosok Gus Dur sebagai humoris, saya memromosikan agar tanggal 30 Desember didaulat sebagai Hari Humor Nasional. Pada tahun 2001, pada tanggal yang sama, adalah saat seorang humoris, pelawak intelektual, Dono (Wahyu Sardono) Warkop meninggal dunia. 
Wacana tentang hal tersebut dapat Anda simak dalam tulisan pengamat humor, Darminto M Sudarmo. Detilnya silakan Anda klik di sini.

Usul-usil saya itu ikut pula menghias isi buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Imania, 2012). Buku ini dan edisi sebelumnya,Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010),  telah dikoleksi oleh Library of Congress di Amerika Serikat. 
Terakhir, silakan kunjungi tautan ini : http://tinyurl.com/7lkq673.  Di dalamnya tersaji jawaban Gus Dur sendiri tentang teka-teki yang beliau lontarkan kepada saya 26 tahun yang lalu itu.
Selamat terbahak.
Semoga arwah beliau kini senantiasa sejahtera di sisiNya.

Wonogiri, 30 Desember 2012

Sunday, July 15, 2012

Kuis Humor Pilkada DKI 2012

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
 


Tanya  : "Mengapa Raja Hati, King of Hearts,satu-satunya yang tidak punya kumis ?" (James Branch Cabell).

Jawab : (Dipas-pasin sama Pilkada DKI 2012) : 
"Karena yang punya kumis tidak punya hati."


Wonogiri, 16/7/2012


Thursday, July 12, 2012

Jokowi, Foke dan Politikus Dalam Metal dan Blues

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com





Jokowi dalam jargon metal dan blues. Seperti apa kira-kira ? 

Menurut panduan Heavy Metal Band Name Generator, pemenang putaran pertama Pilkada DKI ini bila namanya diubah jadi nama band heavy metal, nama Walikota Solo itu menjadi : Foresaken Thorn. Keren ga ?

Sementara mitranya, Basuki Purnama, punya nama : Insane Gods.

Sementara bila keduanya menjadi penyanyi blues, Joko 'Jokowi' Widodo cocok punya nama Boney Fingers Baley dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama sebagai Buddy Baby Bradley. 


Pasangan nama yang secara auditif sangat serasi dan sangat ngeblues.

Bagaimana dengan pesaing dekat mereka ?


Fauzi Bowo
Metal : Rabid Fury
Blues : Hollerin'Lemon McGee

Nachrowi Ramli
Metal : Frantic Spawn
Blues : Peg Leg Money Jefferson
 

Bagaimana pula untuk nama-nama tokoh perpustakaan ini ?

Benjamin Franklin
Pembuat "perpustakaan umum" pertama
Metal : Insane Warriors
Blues : Buddy Liver Brown

Melvil Louis Dewey
Metal : Dark Zombies
Blues : Jailhouse Liver Dupree

S.R. Ranganathan 
Metal : Guilty Spawn
Blues : Blind Dog Jefferson

J. Edgar Hoover
Metal : Foresaken Death
Blues : Boney Eyes Rivers

Jessamyn "Library 2.0" West
Metal : Foresaken Thorn
Blues : Boney Liver Washington

Jorge Luis Borges
Metal : Foresaken Fury
Blues : Boney Liver McGee

Murtini Pendit (dosen saya di UI)
Metal : Dark Gods
Blues : Jailhouse Badboy Bradley

Sulistyo Basuki (dosen saya di UI yang profesor)
Metal : Guilty Fury
Blues : Blind Liver McGee

Bakhuri Jamaluddin (teman kuliah saya di UI)
Metal : Insane Henchmen
Blues : Buddy Killer Washington

P0LITIKUS :

SBY :
Metal : Guilty Fire
Blues : Blind Money Blue

Aburizal Bakrie :
Metal : Rancid Fury
Blues : Fat Dog McGee

Sri Mulyani Indrawati :
Metal : Guilty Anarchy
Blues : Blind Gumb Malone

Anas Urbaningrum :
Metal : Rancid Hate
Blues : Fat Chicken White

Andi Alfian Malarangeng :
Metal : Rancid Tendencies
Blues : Fat Bones Lee

Eddie Baskoro Yudhoyono :
Metal : Holy Fire
Blues : Texas Money Blue

Taufik Kiemas :
Metal : Witch's Kill
Blues : Jailhouse Baby Smith

Prabowo Subiyanto :
Metal : Evil Temple
Blues : Sleepy Badboy Davis

Hatta Rajasa :
Metal : Satan's Spawn
Blues : Jailhouse Hips Jefferson

KARTUNIS :

GÕm Tobing
Metal : Bloody Realm
Blues : Ugly Harp Franklin

Darminto M Sudarmo
Metal : Iron Temple
Blues : 0ld Gumbo Davis

Martono Loekito
Metal : Dark Vengeance
Blues : Jailhouse Harp Parker

Sementara nama metal untuk diri saya sendiri : Insane Death.
Dan nama blues saya, lumayan keren : Brown Buddy Rivers :-).


W
onogiri, 13 Juli 2012

Foto di atas : musisi blues Blind Lemon Jefferson.

Monday, April 02, 2012

Jokowi, Gebrakan Jenius Foke dan Pilgub DKI 2012

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kampanye sengit.Terbakar oleh aksi gebrakan pasangan Jokowi-Ahok yang mulai berkampanye dengan menjual baju motif kotak-kotak yang laris-manis, pasangan calon Gubernur DKI 2012 yang diusung Partai Demokrat,Fauzi "Foke" Bowo-Nachrowi, tidak kalah gertak.

Terinspirasi gerakan Million Mustache March di Washington hari Minggu (1/4/2012) lalu, kubu Fauzi Bowo akan segera menjual jutaan kumis-kumis palsu !


Wonogiri,2/4/2012

Friday, October 28, 2011

Pojok Gus Dur, Warisan Guru Bangsa dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



If today there are people calling Islam bad names, we will teach them that Islam is peaceful.

“Islam janganlah dihayati sebagai ideologi alternatif. Ia harus dilihat sebagai hanya salah satu elemen ideologis yang melengkapi bangunan keindonesiaan yang telah terbentuk.”

“Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang ras, suku, agama dan asal muasal, di muka undang-undang.”

“Demokrasi itu bukan hanya tak haram, tapi wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi itu salah satu prinsip Islam, yaitu syuro.”

Demikian isi beberapa banner yang menyambut Anda bila hendak memasuki ruang Pojok Gus Dur, di gedung PB NU di kawasan Kramat Jakarta. Semua itu meruapan kutipan ucapan Gus Dur sebagai negarawan, budayawan, tokoh Islam, tokoh demokrasi, dan juga tokoh perdamaian dunia.

Ruang guru bangsa. Hari Jumat (28/10/2011) sesudah sholat Jumat di Masjid Arif Rahman Hakim Kampus UI Salemba (“kunjungan terakhir di tahun 1998, saat hendak menyerahkan biaya transport bagi Dr. Sri Mulyani Indrawati untuk berbicara dalam seminar ekonomi 14/8/1998 di Solo”), saya bisa melongoki ruang Pojok Gus Dur (PGD) tersebut.

Kalau dalam tradisi kepresidenan di Amerika Serikat, Pojok Gus Dur mungkin seperti Presidential Library, yaitu warisan perpustakaan dari presiden yang pernah menjabat. Tetapi seorang Gus Dur, bangsa Indonesia dan dunia tidak hanya mengenangnya sebagai seorang mantan presiden. Beliau adalah juga guru bangsa. Dari daftar buku tamu, tidak sedikit pengunjung yang berlatar belakang organisasi atau perorangan yang bukan umat muslim.

Pojok Gus Dur ini masih dalam pengembangan. Belum ada brosur. Bahkan koleksi buku yang ada juga belum ditata layaknya koleksi perpustakaan. Tersedia akses Internet. Juga beberapa kali pernah diselenggarakan diskusi. Ketika saya memberikan kartu nama, malah Mas Mustiko Dwipoyono dan Yudi Yono sebagai relawan pengelola PGD, sempat mencetuskan niat untuk mengundang saya sebagai pembicara bertopik humor.

Sebuah kehormatan, kata saya.

Hanya beberapa menit saya berada di PGD, karena harus meluncur ke Ratu Plaza, saya minta pamit. Saya harus mengunjungi lagi tempat ini. Untuk melihat secara detil koleksi buku yang ada di ruangan peninggalan mantan presiden yang humoris itu.

Dan bukan sebuah kebetulan karena warisan pemikirannya ikut pula menjadi isi buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) dan juga Komedikus Erektus 2 : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Segera terbit, 2011).


Kramat Jaya Baru,Jakarta, 29/10/2011

Saturday, August 27, 2011

Komodo, Komedikus dan SBY

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pemerintah RI menarik Komodo dari daftar nominasi Kontes 7 Keajaiban Alam Baru Dunia. Digantikan Nazaruddin. Atau Marzuki Alie.

Tak mau kalah, Partai Demokrat juga menyelenggarakan layanan mudik massal Lebaran. Warga yang ikut boleh memilih : Singapura atau Kolombia.

Substansi surat SBY kepada Nazaruddin membuatnya segera dinominasikan untuk memenangkan Hadiah Nobel 2012. Kategori Fiksi-ka.

Organisasi pengantar surat sedunia melayangkan protes keras kepada SBY. Karena korespondensinya dengan Nazaruddin tidak memakai perangko.

Sikap murah hati SBY membalas surat Nazaruddin membuatnya dibanjiri jutaan surat dari seantero dunia. Sebanyak 99,999999 % dari Nigeria.

Korespondensi mesra SBY-Nazaruddin sebenarnya akan berlanjut di Facebook dan Twitter.Sayang, BB Nazaruddin di Mako Brimob keburu disita KPK.

Ketua KPK Busyro Muqoddas bilang bahwa Nazaruddin diindikasikan terlibat 31 kasus korupsi. Anda masih ingat makna angka ‘kutukan’ 31 ini ?

Nomor kode jet Gulfstream yang ditumpangi Nazaruddin N913PD. Buku saya Komedikus Erektus-2 akan membongkar misteri angka-2 tadi untuk Anda.

Apa yang terjadi bila Nazaruddin satu sel dengan Gayus Tambunan ? Bakal terdengar mirip obrolan ahli-ahli astronomi.Milyar, milyar, milyar.

Nazaruddin tetap bungkam diperiksa KPK. Mungkin akan kooperatif bila dijanjikan setiap buka mulut akan dihadiahi surat SBY untuknya.

Ketenaran Nazaruddin konon mengilhami Surya Paloh untuk mengubah nama ormas yang kemudian juga menjadi nama partai. Dari Nasdem ke Nazdem.


Sumber foto : http://www.hefamily.org/3287/horeee-nazaruddin-akhirnya-tertangkap-di-kolombia

Friday, July 22, 2011

Hummer, Penis Kecil dan Polusi Demokrasi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Mobil Hummer yang macho itu terparkir di Wonogiri. Jumat siang (22/7/2011).

Nomor polisinya menunjukkan mobil Jakarta. Saya amati ban yang kekar, juga membelai-belai bodinya dengan rasa takjub. Syukurlah, pemiliknya tak ada di tempat.

Sempat muncul impuls untuk mengambil kamera dari tas, lalu jepret sana-sini. Termasuk menjepret diri sendiri di depan mobil garang itu, lalu misalnya untuk kemudian diunggah ke Facebook. Desakan nafsu kecil itu, tidak saya hiraukan. Sudahlah.

Tidak perlu. Walau saya menyukai tontonan balapan F-1 sebagai fans Ferrari, pernah bersekolah di STM jurusan mesin, tetapi saya tidak begitu bernafsu untuk dikenal atau dikenang (?), sebagai maniak mobil. Apalagi kemudian sempat pula terlintas guyonan komedian top AS, Andy Borowitz, yang menyatakan bahwa kepemilikan mobil Hummer itu merupakan aksi kompensasi diri dari sang empunya.

Dalam kolom humornya 25/2/2010 ia menulis : “Keputusan General Motors kemarin untuk menghentikan produksi mobil Hummer telah mengunjam hati sekelompok pencinta fanatik mobil ini : kaum brengsek (aslinya ia tulis sebagai : assholes) Amerika.

Di seluruh negara, kaum brengsek itu menyatakan rasa kehilangan dan dukanya yang mendalam akibat keputusan itu. Mereka pun menyarankan para sesamanya agar mencari cara-cara baru untuk mengkompensasikan kepemilikan penis mereka yang kecil-kecil.

Terima kasih, Andy.

Humor Anda ini mengingatkan ucapan nyelekit dari Gus Dur bahwa anggota DPR itu seperti murid taman kanak-kanak. Suka ribut, getol mementingkan dirinya sendiri, dan tentu saja pantas (ini menurut saya dan tertulis di buku Komedikus Erektus) mereka memiliki penis yang kecil-kecil juga.

Penuh warna. Bisa memergoki mobil Hummer itu lumayan memperkaya rona hari Jumat saya ini. Pagi hari, berangkat jam 04.50, bisa melakukan ritus jalan kaki pagi. Bertemu dan berbagi ucapan selamat pagi, ritus rutin, dengan trio ladies menawan dari Toko Bangunan Metro Jaya. Dua di antaranya nampak sambil jalan tangannya memegang dan mengayun-ayunkan dumble untuk memperkuat otot-otot tangan mereka. Apakah mereka akan ikut lomba pancho seperti Sylvester Stallone ? Saya tidak tahu.

Pulangnya, mampir pasar. Bertanya tentang harga ayam babon yang siap bertelur, sekitar 40 ribuan. Kemudian menuju kios yang pemiliknya saya beri nama kode “mbak cantik selatan.” Beberapa saat lalu saya melihat matanya berkilau-kilau, persis seperti kata-kata Sunyahni dalam lagu “Tak Eling-Eling” : “Ing naliko iku, candik ayu sumunar netramu.”

Kepadanya, saya berikan foto dirinya, yang saya jepret tahun 2009. Tawanya yang renyah berderai mengisi pagi.

Sesudah mandi, menuju Perpustakaan Umum Wonogiri. Membaca-baca Kompas dan tiga koran lainnya. Akses Internet untuk menemukan gambar teknografi profil pemakai media sosial dari Forester Research dan memajangnya di catatan saya di Facebook.

Dapat SMS, mantan teman kuliah saya di UI, Bakhuri Jamaluddin. Warga Pamulang, Tangerang Selatan ini lagi berada di Sragen. Lagi nyadran. Ia mengajak ketemuan di Solo, Sabtu malam, untuk menonton Wayang Orang Sriwedari.

Aduh, seingat saya, saya nonton wayang orang ini yang terakhir kali adalah pada abad yang lalu. Tepatnya tahun 1974. Atau tahun 1975. Saat itu malam inaugurasi IKIP Surakarta. Mahasiswi baru yang menjadi buah bibir saat itu adalah, antara lain Rosana, Anik dan Ratih. Dua nama terakhir itu mahasiswi Pendidikan Sosial, satu angkatan dengan Ravik Karsidi yang kini menjabat sebagai rektor UNS Sebelas Maret.

Saat itu saya mengajak tetangga saya di Tamtaman, Baluwarti, Solo. Orang Australia, yang suka melukis, guru bahasa Inggris, dan punya matanya biru kehijauan.Victory Monk.

Undangan Bakhuri itu bikin nostalgia tahun 1986. Saat kami sama-sama menonton Srimulat di Taman Ria Senayan, dan membuat undangan dari Gus Muh (Muhidin Dahlan)-Yogyakarta terpaksa tidak bisa saya penuhi. Pagi-pagi Gus Muh (semalam sebagai peneliti sejarah LEKRA, ia muncul di tvOne) kirim SMS tentang acara bedah buku.

Yang ditampilkan adalah novel karya Wina Bojonegoro berjudul The Soul : Moonlight Sonata. (Btw, “kok bikin saya mudah ingat cerita tentang Bella dan Edward”-nya Stephenie Meyer). Tempat : Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan 3, Yogyakarta. Pembicara : Diana AV Sasa, Wina Bojonegoro dan Dyah Merta. Moderator Endah Sr. Waktu : Sabtu, 23/7/2011. Jam 15.00.

Makasih, Gus Muh.
Moga acaranya sukses.

Sesudah Jumatan, menemani adik saya Nuning yang ulang tahun hari ini (22/7) dan juga suaminya, Nano, ke warung makan ayam goreng kampung Bu Paryanti. Di Wonokarto. Warung ini dipenuhi spanduk. Yang mencolok spanduk promosi sepeda motor Yamaha dan ada juga Suzuki. Bersama produk rokok, promosi sepeda motor memang lagi “menggila” di Wonogiri.

Bye Facebook. Malam, bisa akses Internet, untuk menulis status berisi ucapan politikus Partai Demokrat dari AS yang menjadi Gubernur Texas ke 45, Ann Richards. Ucapannya itu relevan terkait atmosfir perseteruan teman yang kemudian menjadi musuh, antara M. Nazaruddin vs Anas Urbangingrum.

Ann Richards bilang : “Senantiasa saya katakan bahwa dalam politik, lawan-lawan Anda tidak akan melukai Anda, tetapi justru teman-teman sendiri yang mampu membunuh Anda.”

Status saya yang kedua tentang hasil penelitian menarik yang mengisahkan perbedaan profil pendidikan antara mereka yang memiliki akun Facebook, Twitter dan LinkedIn.

Dibeberkan, pendidikan rata-rata pemilik akun Twitter lebih tinggi dibanding pemilik akun Facebook. Tetapi keduanya jeblok bila dibandingkan tingkat pendidikan mereka yang memiliki akun LinkedIn. Apakah kini saatnya untuk mengucap good bye untuk Facebook ?

Malamnya, melalui layar MetroTV, saya menonton sajian rekaman percakapan antara Iwan Piliang dengan M. Nazaruddin melalui fasilitas video chatting-nya Skype. Kalau dalam pembelaannya Anas Urbaningrum selalu menuduh M. Nazaruddin sedang berhalusinasi, melakukan fitnah tanpa data, maka di wawancara itu kita disodori data dari Nazaruddin betapa politik uang benar-benar telah mencengkeram Partai Demokrat. Juga melumpuhkan Indonesia.

Di buku Komedikus Erektus saya telah menulis di halaman 94, mengutip penulis dan wartawan AS Theodore H. White (1915-1986) yang bilang bahwa banjir uang yang digelontorkan dalam arena politik merupakan polusi bagi demokrasi. Kemudian bila polusi ini meruyak kemana-mana, kita akan segera (atau justru sudah dan sudah lama !) mendapati negeri kita ini sebagaimana gambaran dari tokoh serba bisa Benyamin Franklin (1706-1790) :

“Di aliran sungai dan pada pemerintahan yang jelek, benda yang paling ringan saja yang mengapung di atasnya.”

Siapa yang paling top ?


Wonogiri, 23/7/2011

Sunday, June 05, 2011

Hehehe, Wkwkwk dan Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Manusia Indonesia gemar bercanda, itu jelas. Begitu gemar sehingga satu celetukan menjadi amat disukai : ‘Kok serius amat sih’.

Canda kita sehari-hari cuman sentilan, olokan dan ejekan lepas-lepas. Dan supaya tawanya sering, banyak olokan cuma dibuat-buat saja, tanpa ditopang akal pikir atau renungan.

Biar saja kalau tak ada sangkut-pautnya dengan pokok pembicaraan. Pokoknya semua ketawa. Tiap olokan kita tidak pernah bisa berkembang. Setelah 2-3 kalimat rusak, habis sudah ceritanya. Makanya orang suka berdangkal-dangkal saja.

Tetapi begitu orang Indonesia diminta koran dan majalah mengirim lelucon pendek yang cuma beberapa kalimat pendek saja, ketahuanlah kelemahan kita. Nyaris semua joke itu hambar, tidak lucu sama sekali, malah anti lucu. Maunya penulis, misalnya kita ini ketawa sebab dia menulis ‘he-he-he’ atau ‘Grrr.’ Jadi menulis lelucon pendek saja kita tidak mampu. Ya, tidak ada yang bisa dihimpun menjadi buku bernilai serius.

Itulah penggalan dari pengantar yang ditulis almarhum Prof. Dr. Sudjoko dari ITB untuk bukunya almarhum Arwah Setiawan, yang berjudul Humor Zaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1997). Buku ini saya temui di Perpustakaan Umum Wonogiri.

Dengan menuliskan “hehehe” atau “wkwkwk” dan sejenisnya, mungkin sang penulis berharap pembacanya kemudian akan ikut juga tertawa. Apakah Anda akan ikut tertawa ?

Sindrom berjualan trik “hehehe” seperti itu baru saja saya temui dalam bukunya Andrias Harefa, Seni Memengaruhi Orang Dengan Tawa Huahahaha (Gramedia, 2010). Di buku ini, yang sempat membuat saya heran, kok ya untuk sosok penulis laris sekaliber beliau masih saja ada lelucon tentang upil, kencing dan juga kentut (“Go Science With Kentut,” hal. 306-311). Komedian manca negara menjuluki topik seperti ini dengan sebutan hack. Itu mirip dengan bunyi orang membuang dahak.

Buku lain yang juga gencar menjual “hehehe” adalah Pak Beye dan Politiknya (Kompas, 2010). Buku setebal 432 halaman karya wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, semula berasal dari blognya di Kompasiana. Beberapa hari yang lalu, saat melongoki blognya tersaji data menarik tentang subjek tulisan dan jumlahnya. Tersaji data : Buku (1), Humor (1), Sosbud (15), Umum (122) dan Politik (347).

Bagi saya data ini aneh. Ketika memasuki kampanye Pilpres 2004 sosok Pak Beye digambarkan memiliki selera tinggi terhadap buku, ternyata dalam catatan Wisnu Nugroho topik buku hanya satu tulisan saja.

Demikian pula, topik “humor” hanya satu tulisan juga. Bagi saya, hal satu ini tidak begitu aneh. Karena Pak SBY bukan sosok yang mencitrakan suka humor. Kalau dia terpaksa berhumor, akan diterima lain oleh warga republiknya. Ingat dia ketika berhumor tentang gajinya yang tak pernah naik ? Huru-hara menyelimuti negeri ini.

Humor dalam blog ini Cuma semata bercerita tentang kemiripan sosok Pak SBY dengan bapaknya Nobita, tokoh kartun dalam film Dora Emon. Di blognya itu Wisnu Nugroho menulis (aslinya memang tidak menggunakan huruf kapital, mungkin agar seperti puisinya e.e. cummins-BH) sebagai berikut :

“berikut saya kutipkan paparan dari wikipedia tentang tokoh yang mewarnai masa remaja saya dari layar kaca. rcti menyumbang masa-masa indah remaja saya. heheheh. terimakasih karenanya.

saya posting dua foto dan kisah ini karena sebelumnya dibuat tertawa geli seorang teman yang dulu juga wartawan di istana tentang kemiripan pak beye dengan tokoh yang mewarnai masa remaja saya. saya coba lihat-lihat dan membandingkannya, ternyata mirip juga. hehehe.”

Silakan menikmati lanjutannya dalam tautan ini, semoga Anda bisa ikut tertawa.

Menulis atau melaporkan tentang lelucon atau pagelaran lelucon, atau pengin dianggap lucu, tidak sedikit dari kita yang tergoda untuk selalu mengobral “hehehe” atau “wkwkwk” dalam tulisan kita. Status-satus di Facebook, riuh dengan hal itu. Kalau saja ungkapan tersebut dijadikan air, kita se-Indonesia ini sudah lama tenggelam karenanya.

Bumbu penjelasan lainnya, adalah keterangan. Misalnya, seperti “penonton dipaksa tertawa tanpa henti,” “sampai perut mereka mulas,” sampai “si A itu memang pelawak jempolan,” dan sejenisnya.

Tulisan semacam itu, hemat saya, belumlah lengkap daya gelitiknya Ia hanya mengatakan. Sebaiknya diperkaya dengan penunjukan. Misalnya, komedian AnuAnu ketika melucukan sosok SBY dan kemelut Partai Demokrat saat ini, telah memiripkannya dengan era sarat kebohongan yang dilakukan oleh Presiden Richard Nixon (lihat kartunnya saat ia ditemani berkarung-karung dollar) dengan skandal Watergatenya.

Ia katakan : “Setiap kali anggota Partai Demokrat melakukan kebohongan, pasti sebagian royaltinya akan masuk ke kantong XXX :-).”


Wonogiri, 6/6/2011

Wednesday, April 06, 2011

Marzuki Alie, Korupsi Legasi dan Patung Denmark

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Korupsi mode baru.

Nampaknya itu yang mendasari kengototan Ketua DPR Marzuki Alie untuk meneruskan pembangunan gedung MPR/DPR baru walau ditentang sebagian besar rakyat.

Korupsi legasi.

Ia nampaknya ambisius ingin tercatat dalam sejarah, misalnya terungkap dalam ujaran : "Gedung baru ini dibangun ketika dipimpin oleh Si Polan."

Fenomena kengototannya ini mudah mengingatkan pesan tiga patung yang berada di Gedung Parlemen Denmark.

Patung orang yang sakit perut,orang yang pusing-pusing kepalanya dan orang yang budeg telinganya.

Pemandu pariwisata akan menjelaskan : "Patung itu memberi pesan. Kalau Anda memasuki dunia politik, Anda akan mengidap semua penyakit itu secara sekaligus ketiga-tiganya !."

Wonogiri, 7/4/2011

Catatan : Lelucon dari majalah Reader's Digest (1966) ini termuat dalam tulisan saya "Humor Amerika, Rusia, Cina dan Indonesia" di majalah Semangat (Yogyakarta),No. 10,Juni 1978 : 18-20, dipajang kembali dalam buku saya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010) hal.189-198.

Tuesday, December 14, 2010

Humor Indonesia, Sasaran Wikileaks Berikutnya !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Aktivis Wikileaks punya target baru.
Menyerang humor Indonesia.
Perang global maya kini arenanya berpindah ke negara kita !

"Pendukung fanatik Wikileaks yang sebelumnya menyerang situs-situs seperti Paypal, MasterCard sampai toko (buku) maya Amazon, kini bersatu padu menyerang Indonesia. Menyerang humor Indonesia. Dunia pun terguncang !," begitu kata laporan utama koran Perancis Le Memble, 13 Desember 2010.

Rencana awalnya, situs Wikileaks berambisi membocorkan rahasia para komedian Indonesia. Terutama para mantan pelawak kita yang terjun menjadi politisi Indonesia.

Tetapi teknik sadapan canggih mereka dua tahun lalu itu ternyata buntu. Walau sudah menanam chip di kepala tiap-tiap komedian Indonesia, ternyata sampai sekarang tidak memberikan sinyal apa-apa ke komputer pangkalan data mereka.

Kegagalan ini membuat aktivis Wikileaks menjadi meradang, gusar dan frustrasi. Mereka lalu pindah haluan, berganti berusaha melumpuhkan sekalian situs-situs yang terkait dunia humor Indonesia.

"Kami tidak takut.
Kami akan serang balik mereka !"

Demikian balas Darmainto M Steijvendarmo, salah satu tokoh humor Indonesia. Ia keturunan blasteran Kendal-Eindhoven dan baru saja menjalani naturalisasi untuk memperkuat pilar baru dunia humor Indonesia. Utamanya dalam upaya meng-gol-kan gagasan dan deklarasi 30 Desember (2010) sebagai Hari Humor Nasional.

Menurutnya, memang ia mengakui bahwa pelaku dunia komedi Indonesia kini belum menjadi kekuatan signifikan sebagai bagian mekanisme checks and balances eksekusi demokrasi di Indonesia, tapi ia menduga serangan itu bertendensi menggagalkan ambisi humoris Indonesia untuk mendaulat negerinya sebagai pusat humor dunia.

Aksi perlawanannya tidak sendirian.
Aktivis lainnya, Jago Gonzales Suprania, ikut merapatkan barisan.
Dukungan pun deras mengalir.

Terdapat seorang menteri dalam kabinet SBY yang antusias menyatakan dukungan total bagi perjuangan aktivis humor Indonesia. Ia memiliki senjata andalan : akun Twitternya.

"Kalau perlu, saya sanggup melayangkan tweets setiap lima menit sekali, agar ratusan ribu pengikut saya akan ikut mendukung Anda. Saya telah mempersiapkan 9 buah telepon Blackberry, 99 iPhone, 999 iPad, untuk bisa menyerang balik mereka. Kalau presiden SBY memajang satu iPad saja bisa sudah bikin heboh dunia, bayangkan apa yang akan terjadi. Senjata akan makan tuan !"

Sontak, kembali nama menteri kita itu menjadi trending topic lagi di dunia maya.

"Setelah kasus salaman bermasalah dengan Michelle Obama, menteri kabinet SBY yang dinilai paling canggih menggunakan media sosial itu diduga mampu membangkitkan rasa nasionalisme dengan aksi menyerang balik para pendukung Wikileaks," lapor situs gadget terkenal Gizmondo (13/12/2010).

Tetapi aksi serangan balik itu dikuatirkan bisa melebar kemana-mana. Konon situs Openleaks sudah masuk agenda. Menyusul situs Indoleaks. Bahkan warga Bali sudah kuatir bila leak mereka juga ikut jadi sasaran. Intinya, jangan remehkan tokoh satu ini.

Agar tidak dikira hanya gertak sambal di dunia maya belaka, ribuan follower militan menteri kita itu menyatakan akan hadir menjadi suporter saat timnas Indonesia berlaga melawan timnas Filipina di semifinal Piala AFF, Kamis, 16 Desember 2010. Mereka akan berpantun kolosal bersama, guna mendukung timnas Indonesia.

Yang menarik, diperkirakan selain hadirnya suporter khusus ini, stadion Gelora Bung Karno Senayan juga akan dipenuhi oleh ribuan tenaga kerja wanita Indonesia dan tenaga kerja wanita Filipina.

Mereka yang selama ini sengit bersaing memperebutkan petrodollar di Timur Tengah,dollar di Hongkong dan juga dollar Singapura, dapat mengekspresikan persaingan itu dalam bentuk yel-yel dan chanting dari tepian tribun.

Dikabarkan, terdapat beragam poster yang dipersiapkan suporter timnas yang TKI/TKW itu. Berbunyi : "TKW Indonesia lebih tangguh daripada TKW Filipina !." Poster lainnya berbunyi : "Siksa dan derita di manca negara tetap lebih baik daripada kelaparan di negeri sendiri !"

Ada pula yang menyuarakan tekad baja mereka lewat rilis. "Presiden Filipina memang lebih hirau dibanding presiden kami dalam melindungi TKI/TKW. Kami tidak cengeng, kami mampu mengatasi masalah kami sendiri. Asal tak semakin diperberat dengan pelbagai pungli."

Disindir Obama. Serangan aktivis pendukung Wikileaks itu menemui sandungan berat. "Humoris Indonesia ternyata benar-benar limpat, cekatan, dan tangguh. Mereka sigap dengan segera mematikan situs-situs mereka !" Itulah bunyi rilis salah satu hacktivist, yang paduan dari kata hacker dan activist, dari kelompok "SuperAnonymous."

Baru kelompok ini yang menyatakan secara terus terang bertanggung jawab menyerang secara simultan situs-situs dan blog milik aktivis humor Indonesia. Patut diduga masih ada ribuan kelompok hacktivist lainnya yang beraksi dengan sasaran tunggal : melumpuhkan situs-situs humor Indonesia.

"Kalau humor dan lawakan dari pelawak Indonesia selama ini tidak cerdas dan tidak lucu, itu bukan salah kami. Tetapi gara-gara kami tidak leluasa dalam sharing wawasan dan pengetahuan-pengetahuan baru kepada sesama komunitas komedian.

Infiltrasi dan keusilan kronis para hacktivist itu sangat-sangat menjengkelkan. Kami akan gigih mencari solusi. Bahkan sampai dibawa ke tingkat Sidang Umum di PBB !," kata pentolan PASKI yang tak mau disebut namanya.

"Bayangkan," lanjutnya, "sosok seperti Indro Warkop, Komar, Eko Patrio,sampai Miing Bagito, akan berpidato satu demi satu memperjuangkan dunia humor Indonesia di forum dunia itu, dengan didampingi oleh Ban Ki-moon yang Sekretaris Jenderal PBB !"

Ketika dunia humor Indonesia sudah menjadi industri, tindakan hacking di atas diperkirakan menggelembungkan angka kerugian di atas 999 milyar dollar per tahunnya.

Walau mendapat gempuran di dunia maya, sekadar catatan, Indonesia kini tercatat sebagai negara yang memiliki situs-situs humor bermutu dengan kualitas kelucuan sesuai angka Humor Development Index (HDI) dari PBB, sebagai nomor lima tertinggi di dunia. Nomor satu masih dipegang Korea Utara, disusul Burma, Cayman Island, Somalia dan baru Indonesia.

Bahkan maraknya publikasi humor Indonesia di dunia maya itu pernah mendapatkan apresiasi dari Presiden Barack Obama ketika ia berpidato di Universitas Indonesia (10 November 2010).

"While my Indonesian friends and I used to run in fields with water buffalo and goats--(laughter)-- a new generation of Indonesians is among the most wired in the world -- connected through cell phones and social networks, " tegasnya.

"Sementara teman-teman Indonesia saya dan saya dulu berlari-lari di sawah sambil angon kerbau dan kambing - (gelak) -, sebuah generasi Indonesia yang baru kini telah menjadi salah satu bangsa yang paling terkoneksi di Internet di dunia, lewat telepon genggam dan jaringan sosial."

Kata kuncinya adalah : jaringan sosial.

Kita tahu tentang banyaknya aktivis humor Indonesia yang lebih memilih bersibuk-ria di Facebook. Karena mengisinya mudah, tanpa dituntut kontemplasi atau berfikir secara mendalam. Apalagi dengan cara instan seperti itu mereka mudah memperoleh banjir pujian selangit.

Sementara untuk menulis artikel, blog sampai buku, membutuhkan ketekunan dan kerja otak yang serius. Juga beresiko sepi dari komentar atau pujian.

Mungkin Obama sebagai seorang blogger hendak bilang, kalau Anda kini hanya mampu seperti itu, lebih baik Anda kembali angon kambing dan angon kebo saja, seperti jaman saat dirinya kecil dahulu kala.

Serangan itu berkah. Rahasia umum tentang psike, gambaran psikologis, pelaku dunia humor Indonesia di dunia maya yang seperti itu ternyata tidak menyurutkan niat pendukung Wikileaks.

"Kami akan terus menyerang bila sumberdaya kami cukup," lanjut rilis kelompok "SuperAnonymous" yang ketika dilacak ternyata juga memiliki server di Wonogiri. Server kuat lainnya ada di perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Tidak kalah dengan markas milik kelompoknya Julian Assange yang berada di bunker dalam gua batu di Swedia, kelompok "SuperAnonymous" ini memiliki markas di gua labirin di tengah ceruk pegunungan karst, batu kapur, perbatasan Wonosari-Wonogiri.

Selama ini "SuperAnonymous" menyerang situs-situs milik para komedian Indonesia yang lalu lalang tampil di televisi, juga semua situs Indonesia yang memiliki konten humor, dengan teknik yang disebut denial-of-service attacks, atau serangan DoS.

Penjelasan singkatnya, ini jenis serangan terhadap komputer atau server di dalam jaringan internet dengan cara menghabiskan sumber, resource, yang dimiliki oleh komputer tersebut.

Dalam aksinya penyerang membanjiri lalu lintas jaringan dengan banyak data. Sehingga lalu lintas jaringan yang datang dari pengguna terdaftar di situs bersangkutan menjadi tidak dapat masuk ke dalam sistem jaringan.

Tak terduga, serangan pendukung Wikileaks itu ternyata justru diharapkan secara antusias oleh sebagian besar eksponen humor Indonesia. Utamanya mereka yang telah merambah dunia maya.

"Serangan mereka, bagus bagi situs saya. Membuat saya bisa memiliki kilah yang valid secara logis, teknologis dan ekonomis."

Itu tadi kata pelawak terkenal yang gara-gara menerbitkan buku dari isi blognya, kemudian justru membunuh blog bersangkutan. Alasannya : ia kuatir berat bila blognya terus hidup ia pandang berpotensi menggerogoti niat penggemarnya untuk membeli bukunya. Pertimbangan komersial. Masuk akal. Tetapi membunuh interaksi dan peluang mereguk asupan ide-ide baru.

Sementara seorang komedian dan penulis muda lainnya, juga ikut jejaknya. Ia memang meluncurkan blog baru sebagai pengganti, tetapi mengisinya tak lagi setulus, serajin dan setinggi gairah blog pertamanya.

Alasan lain terkait ancaman plagiat juga mencuat. "Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja (sulitnya) setengah mati," kilah pelawak yang lain lagi. Ia mengutip persis ucapan almarhum Dono Warkop di harian Kompas, 22/3/1996.

"Kalau karya saya dipajang di blog, akan mudah dicuri pelawak lainnya.Lha nanti saya dan anak bini akan makan apa ?"

Pelawak itu senyatanya baru mem-posting satu lelucon.Tetapi setiap hari ia rajin men-surfing mesin pencari Google, untuk menemukan blog pelawak lainnya yang memplagiasi karyanya itu. Semua saluran televisi yang ada acara lawaknya, ia tongkrongi. Siapa tahu materi leluconnya tiba-tiba dibajak oleh pelawak lainnya.

Konon pelawak satu ini bila hendak manggung, setiap audien harus menandatangani surat pernyataan. Bermeterai. Begitu keluar dari gedung, audien harus melupakan isi lelucon yang mereka dengarkan.

Penonton juga dilarang membawa HP, kamera, apalagi catatan. "Bila aktivis Wikileaks hendak membuat lumpuh blog saya, saya justru berterima kasih," ujarnya lebih lanjut.

Fenomena ini kiranya yang membuat gagasan tentang klub komedi, sebagai kawah candradimuka komedian-komedian baru, tidak memperoleh angin segar di Indonesia.

"Yang datang nanti hanya pelawak. Dan juga intel-intel mereka. Lalu mereka semua tidak ada yang mau tertawa, tetapi diam-diam hanya mencuri ide-ide lawakan saya, lalu apa kira-kira kata dunia ?"

Dikepung fobia. "Serangan itu strategi yang keliru. Juga salah sasaran." Demikian pendapat John Erectus Schrodinger dari Schrodinger and Cats Institute, lembaga analis keamanan Internet yang berbasis di Stockholm.

Ia tidak menujukan kritiknya itu kepada kalangan komedi Indonesia, tetapi justru kepada aktivis Wikileaks yang menyerang situs-situs humor Indonesia. Seperti dikutip jurnal internasional CyberJokes Intelligence Reports yang bermarkas di Kandahar, Pakistan, dirinya memandang remeh efektivitas serangan DoS terhadap situs-situs humor Indonesia itu.

"Mereka sungguh ngawur dengan menyerang semua situs yang memiliki isi bebodoran, humor kasar, joke porno, komedi kalengan, komedi rendahan, lawakan tak bermutu, lelucon styrofoam, slapstick, Democrazy, ExtraVaganza, Opera van Java, Tukul Arwana, Warkop, video seks Peterporn, heboh jabat tangan Tifatul Sembiring dengan Michele Obama sampai tawaran Vicky Vette," tulis Schrodinger.

"Mereka lupa, bahwa komunitas komedi Indonesia adalah komunitas yang tangguh. Mereka itu kuat. Karena selama ini tegar dan kukuh menjaga diri dengan benteng andalan, yaitu rasa takut. Bahkan sudah mencapai taraf fobia !

Tebal sekali balutan rasa ablutophobia,takut membersihkan diri, takut mandi; allodoxaphobia, takut menerima opini; bibliophobia, takut pada buku; centophobia, takut pada ide-ide dan hal baru; dan juga catagelophobia, takut diperolok dan ditertawakan, yang menyerimpung komedian Indonesia.

Belum lagi belitan epistemophobia, takut ilmu pengetahuan; graphophobia,takut menulis dan menulis tangan; ideophobia,takut terhadap gagasan; phronemophobia, takut berpikir; sampai xenophobia, takut orang asing, yang mencekik mereka."

Dibentengi semua ketakutan itu membuat komedian Indonesia terus merasa aman dan nyaman dibalik cangkangnya yang keras.

Menurut Schrodinger, paparan yang semakin terbuka guna mengakses sumber-sumber inspirasi baru, baik buku-buku komedi bermutu, jurnal profesi sampai jurnal ilmiah, sampai hasil penelitian akademisi,ibarat angin lalu belaka.

Kemudian keberadaan pelbagai lembaga pendidikan, peluang gesekan dalam pergaulan internasional dengan tokoh-tokoh komedi dunia baik akademisi sampai pelaku industri komedi, semuanya itu dianggap oleh komunitas komedian Indonesia sebagai tidak ada sama sekali.

Dengan kondisi semacam ini, serangan atau kritikan berbau intelektual apa pun kepada mereka hanya merupakan upaya yang sia-sia. Ia bahkan secara khusus mengutip kata-kata musikus Yogya, Jaduk Ferianto, di tengah acara "Workshop : Lawak Indonesia Mau Kemana ?" di Yogyakarta, 27 Juni 2009.

Katanya,menirukan Jaduk, "memberi nasehat kepada komedian Indonesia, rasah, tak usah," ujarnya. Tetapi langsung, "colok matane."

"Lupakan hal-hal ideal itu bila Anda berbicara tentang dunia humor Indonesia," tegas Schrodinger. Atau jangan ngoyo. Karena hemat saya, harusnya yang lebih dulu "SuperAnonymous" serang adalah situs-situs yang memiliki domain ac.id., edu.id., go.id., sby.info sampai tv.id.

Menurutnya, karena situs-situs ini lebih suka mewakili lembaga mereka sendiri, getol berbusa-busa bicara tentang dan untuk diri mereka sendiri, ketimbang sebagai media untuk mendengarkan suara rakyat.

"Situs-situs semacam ini bila lumpuh seabad pun, banyak warga Indonesia bakal merasa tidak kehilangan apa-apa !"



Wonogiri, 14 Desember 2010

Thursday, December 09, 2010

30 Desember 2010 : Hari Humor Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


"Narcoleptic."
Julukan majalah The Economist untuk Gus Dur.

Itu terkait kebiasaan Gus Dur yang nampak tertidur dalam suatu acara, tetapi begitu terbangun dirinya mampu menjawab secara tajam segala hal-ihwal yang ditanyakan para wartawan.

Paparan di atas tercakup dalam tulisan obituari majalah tersebut, yang ditulis setahun lalu itu. Tulisan itu membuat saya sadar betapa sangat sedikit yang telah saya ketahui tentang Gus Dur.

Kesadaran tersebut meruyak ketika saya memperoleh SMS (9/12/2010) dari Yogyakarta. Dari pengirim yang tidak saya kenal.

Nama pengirimnya : Sudaryanto. Mahasiswa S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. Rupanya ia menemukan blog saya ini. "Kebetulan saya sedang menulis tesis tentang wacana humor Gus Dur. Kapan-kapan saya silaturahmi dengan panjenengan," tulisnya.

Saya terenyak.

Rasanya tidak banyak yang saya ketahui dari humor-humor Gus Dur. Saya hanya langsung teringat peristiwa yang terjadi pada tahun 1986. Tidak bosan saya selalu mengulang cerita ini, ketika memergokinya di toko buku Gramedia Blok M, tepatnya tanggal 25 Oktober 1986. Saat itu Gus Dur memberi saya sebuah riddle, teka-teki, cangkriman yang menjurus.

Di halaman dalam buku karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions : Over 550 Subjects to Help You Entertain, Insult, and Amuse Any Audience (1980), buku yang saya beli saat itu, saya tuliskan cangkriman Gus Dur tersebut :

"Rambut wanita MANA yang paling lebat, paling hitam dan paling keriting ?" Itu tanya Gus Dur kepada saya.

Saya langsung tergelak. Sekaligus wajah saya pasti nampak bodoh, karena saat itu saya memang tidak tahu apa jawaban yang pasti. Syukurlah Gus Dur segera menimpali :

"Rambut wanita Papua Nugini."

Saya kembali tergelak. Kini lebih keras. Beberapa pasang mata langsung nampak mencereng ke arah saya. Saya tak peduli. Sebelum berpisah, saat itu Gus Dur masih juga memberikan teka-teki dan misteri kepada saya. Melalui ujaran : "Hanya kita-kita saja yang masih waras."

Teka-teki ini baru saya ketahui maknanya belasan tahun kemudian. Jawaban dari teka-teki itu, kini menjadi bagian dari isi buku saya yang baru terbit, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010).

Sibuk memoles citra. Isi artikel obituari majalah bisnis Inggris ternama itu juga menampilkan cerita tentang kewarasan beliau sebagai insan. Waras yang ia maksudkan adalah keberanian dan ketulusan untuk menunjukkan, dan bahkan melucukan kekurangan dirinya sendiri.

Benar-benar sebuah kualitas keluhuran yang langka ditemui di antara pemimpin-pemimpin kita masa kini. Karena mereka selalu nampak sibuk mempraktekkan strategi kehumasan untuk memoles diri, agar selalu tampil kinclong dan sempurna di muka rakyatnya.

Kewarasan Gus Dur itu tegas mencuat dan menginspirasi ketika dirinya dipaksa lengser dari kursi kepresidenan di tahun 2001. Saat ditanya wartawan apakah hal itu akan disesalinya, dengan enteng Gus Dur menjawab : "Sama sekali tidak. Saya lebih menyesal ketika saya kehilangan 27 rekaman Simfoni Kesembilan dari Beethoven."

Bahkan begitu lengser Gus Dur segera memberi kabar kepada para wartawan : "Mulai esok, saya akan menceritakan lelucon-lelucon lagi."

Presiden RI ke-4 yang oleh Bill Clinton dijuluki sebagai presiden paling lucu di dunia itu meninggal dunia dalam usia 69 tahun.Tanggal 30 Desember 2009.

Delapan tahun sebelumnya, 30 Desember 2001, pelawak Dono Warkop, juga meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Adakah kesamaan tanggal meninggal ini hanya sebagai suatu kebetulan belaka ?

Bagi saya, hal itu ternyata mampu menerbitkan gagasan. Bahwa untuk mengenang keduanya, dan demi menunjang kemajuan dunia humor Indonesia sebagai pilar penjaga kewarasan nurani bangsa, bersama ini dengan rendah hati mengusulkan agar tanggal 30 Desember diproklamasikan oleh para pencinta humor Indonesia sebagai hari bersejarah.

Hari Humor Nasional.
Atau Hari Humor Indonesia.

Dengan harapan, di momen tersebut makna luhur humor bagi kemanusiaan dapat kita kemukakan.
Kita renungkan.
Kita rayakan.
Juga kita reguki kedahsyatannya.

Sambil merujuk beberapa ucapan bernas berikut ini tentang humor, maka kita semoga semakin yakin betapa humor pantas sekali sebagai harta jiwa yang senantiasa kita perjuangkan sebagai bekal bangsa Indonesia dalam mengarungi peradaban.

"Humor is mankind's greatest blessing."
Humor merupakan rahmat terbesar bagi kemanusiaan.
- Mark Twain

"If I had no sense of humor, I would long ago have committed suicide."

Apabila saya tidak memiliki sense of humor maka saya telah melakukan bunuh diri pada waktu yang telah lalu.
- Mahatma Gandhi

"Humor is something that thrives between man's aspirations and his limitations. There is more logic in humor than in anything else. Because, you see, humor is truth. "

Humor merupakan sesuatu yang tumbuh subur di antara aspirasi manusia dan keterbatasannya. Terdapat lebih banyak logika pada humor dibanding hal-hal lainnya. Karena seperti Anda tahu, humor adalah kebenaran.
- Victor Borge

"When humor goes, there goes civilization."
Ketika humor lenyap, lenyap juga peradaban.
- Erma Bombeck

"You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it."

Anda mampu mengubah keadaan yang penuh penderitaan dengan humor. Apabila Anda mampu menghumori segala hal, bahkan kemiskinan, Anda akan mampu bertahan.
- Bill Cosby


Refleksi tutup tahun. Terlebih lagi momen yang mendekati tutup tahun itu merupakan waktu yang tepat bagi warga bangsa ini untuk berefleksi. Untuk menyadari kekurangan-kekurangan diri sendiri. Dan kemudian bersepakat menancapkan tekad untuk berbuat yang lebih baik di tahun depan yang siap dijelang.


Wonogiri, 10 Desember 2010

PS : Terima kasih kepada Basnendar HPS, kartunis dan desainer logo dari ISI Surakarta, yang telah bersedia merancang logo sebagai tetenger atau paraf visual untuk Hari Humor Nasional 2010.

Wednesday, November 10, 2010

Obama Frenzy Melanda Indonesia !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kunci sukses berpidato ada tiga.
Berlatih, berlatih dan berlatih.

Demosthenes (384 -322 SM), jago orator dan negarawan Athena, konon suka berlatih berpidato di dekat air terjun. Atau di pinggir laut, untuk beradu keras dengan suara deburan gelombang.

Ia berlatih keras mengasah vokal dengan berusaha mengalahkan suara gemuruh-gemuruh air tersebut.

Tak ayal, beribu tahun kemudian seorang maha pakar pemasaran Tom Peters mengatakan bahwa, "bila pidato Plato mampu menginspirasi, maka pidatonya Demosthenes membuat kita tergerak untuk beraksi !"

Barack Obama memang bukan Demosthenes. Tetapi menyimak gaya dan isi pidatonya di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 10 November 2010, kita seperti memperoleh setrum yang hebat.

Setelah era Soekarno, sepertinya Indonesia belum lagi memiliki politisi dengan pidato yang mampu menggerakkan isi jiwa, serta memberikan inspirasi bahwa kita mampu berbuat sesuatu untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

Pidato Obama itu bergaung kemana-mana !
Mengembuskan badai perubahan dimana-mana pula !

Bisnis sampai artis. Pemerintahan SBY seperti memperoleh inspirasi baru dalam pencitraan kinerja mereka. Kedatangan Barack Obama dijadikan momen untuk menarik garis batas, ditandai dengan munculnya jargon SBB versus SSB : Sebelum Barack dan Sesudah Barack.

Kita bisa lihat nanti perbedaan itu dalam gaya pidato SBY di era Sesudah Barack ini. Juga gaya berpidatonya tokoh Nasional Demokrat, Surya Paloh, yang seolah memperoleh durasi semaunya di saluran MetroTV.

Perusahaan jasa pengangkutan bus yang biasa menyingkat jenis usahanya dari PO, perusahaan otobus, kini berubah menjadi BO. Bisnis otobus.

Bank BCA mengumumkan nama barunya : Baracbank Central Asia.

Kota Bogor menjadi : Bogorobama !

Model bisnis yang hampir mirip dengan franchise yang bisa dikenal sebagai BO, business opportunity, sekarang menjadi : barack opportunity.

Danau di Sumatera Barat, Singkarak, berganti nama menjadi : Singbarak.

Pembawa acara yang ceriwis di televisi mengubah namanya menjadi : Indy Barackends.

Bahan bakar fosil yang masih melimpah di Indonesia, batu bara, sontak kini semakin dihargai di pasar dunia setelah berubah sebutannya menjadi : batu barack.

Kantor catatan sipil juga diserbu ratusan ribu warga Tapanuli yang ingin mengubah nama marganya yang lama menjadi Batubarack.

Restoran dan pusat hiburan di Jl. Blora, Jakarta Pusat, sepakat mengganti nama jalan tempat mereka berbisnis selama ini menjadi Jl. Blorack Obama. Termasuk nama masakan satenya, menjadi Sate Blorack.

Kata-kata yang diungkapkan Obama di UI itu segera menjadi trending topic di Twitter. Yaitu kata "bakso," "sate" dan "enak." Kontan saja para selebritis, politikus dan pedagang segera menyabet momen itu untuk mendongkrak popularitas dirinya.

Nama SBY di kalangan asosiasi pedagang sate dan bakso memiliki makna baru : Sate Bakso Yahud. Penyanyi cantik asal Malaysia segera mengeluarkan album dengan nama baru : Sate Nurhaliza. Berduet dengan Sate KD.

Mantan ketua umum PAN yang konon sedang merintis berdirinya partai baru, diperkirakan akan meluncurkan nama barunya yang lebih berkarisma : Sutrisno Barachir.

Disusul ketua umum Partai Golkar : Aburizal Barackie !

Di luar heboh di atas, Barack Obama berkunjung ke Indonesia sebenarnya lebih dari 18 jam dan tidak seperti yang resmi diberitahukan. Sebab beberapa hari sebelumnya dirinya telah tertangkap kamera dengan mengenakan wig dan berkacamata, sedang nampak asyik menonton turnamen tenis internasional di Bali.

Ketika dikonfirmasi wartawan, Obama keras menyangkal : "Saya suka main basket, bukan tenis. Saya juga suka makan nasi goreng, sate, bakso, emping dan krupuk, tetapi masakan enak itu tidak disajikan di turnamen tenis itu. Karenanya, pasti saya tidak ada di sana !"

Kehebohan belum usai.

Surat kabar negara bagian AS tempat Barack Obama dilahirkan,  The Hawaii Inquirer, mewartakan bahwa ada sosok pria  mirip Gayus Tambunan sedang berselancar di pantai Oahu, Hawaii.


Wonogiri, 11 November 2010

Sunday, June 20, 2010

Video Porno dan Nobel Perdamaian 2010

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kasus video porno mirip Ariel-LM-CT menurut kabar burung akan diputuskan lewat jajak pendapat. Ada politikus bilang, biar keren, sebut saja referendum.

Semua warga negara Republik Indonesia, tua-muda, akan memperoleh CD video porno itu, diberi kesempatan menonton hingga 11 Juli 2010 mendatang, lalu bebas menentukan apakah aktor-aktris dalam video porno itu asli atau bukan.

Langkah ini merupakan langkah paling demokratis. Juga paling monumental di dunia. Bahkan Indonesia berpeluang tercatat di Guiness Book of Records sebagai negara pertama yang akan mengaplikasikan Hukum Linus Pertama, hukum yang mengilhami gerakan open source yang kini dampaknya meluas kemana-mana.

Hukum itu diambil dari nama Linus Benedict Torvalds, seorang perancang peranti lunak kelahiran 28 Desember 1969, Helsinki, Finlandia. Dalam merancang peranti lunak Linux yang terkenal itu ia sengaja membuka kode-kode temuannya itu kepada masyarakat luas. Dengan langkah ini dapat ditemukan cacat, kekurangan, dan kemudian banyak orang akan mampu memperbaikinya.

Kolaborasi yang melibatkan banyak fihak tersebut membuat piranti lunak Linux semakin berguna bagi banyak kalangan. Fenomena dahsyat ini kemudian memunculkan Hukum Linus Pertama yang berbunyi, "given enough eyeballs, all bugs are shallow." Dengan mata yang cukup, kutu pun bisa ditemukan dengan mudah.

Langkah referendum ini menjadi titik sejarah Indonesia dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi. Penentuan pendapat secara massal ini, juga mengaplikasikan tesis tentang wisdom of crowds seperti dirujuk dalam buku The Wisdom of Crowds : Why the Many Are Smarter Than the Few and How Collective Wisdom Shapes Business, Economies, Societies and Nations (2004) karya James Surowiecki.

Agar pelaksanaannya fair, maka tokoh telematika dan kini anggota DPR dari Partai Demokrat yang sering jadi rujukan tentang keaslian video dan foto-foto porno, tak boleh berkomentar dulu.

Bukan karena dikuatirkan komentarnya akan memengaruhi opini publik, tetapi dikuatirkan apa pun ucapannya akan hanya memerosotkan perolehan suara partai Demokrat dalam Pilpres 2014 mendatang. Utamanya untuk para pemilih di kalangan blogger Indonesia. Walau partai yang dikenal cerdas itu, terkait reputasi tokoh di atas, sudah melakukan antisipasi dini. Yaitu dengan merekrut blogger yang pernah kuliah di Universitas Harvard, yang juga tokoh gerakan Islam Liberal terkenal.

Terlebih lagi di media massa anggota DPR dari Partai Demokrat itu dilaporkan telah bertukar SMS dengan salah satu aktris yang diduga terkait dengan pelaku aksi mesum dalam video porno itu. Bahkan dikabarkan berusaha melakukan pemerasan terhadapnya.

Syukurlah, di SMS itu ia juga cerita bahwa dirinya akan terbang dulu ke Amsterdam. Diperkirakan ia akan tinggal di sana selama 350 tahun. Kehadirannya itu sebagai hadiah bangsa Indonesia bagi kemenangan Robin van Persie dan kawan-kawan yang telah sukses menaklukkan bangsa penjajah Indonesia lainnya di kancah Piala Dunia 2010.

Jadi pelaksanaan referendum secara teoritis tidak akan dicemari oleh opini-opini yang akan ia sebarkan. Dengan catatan, di Amsterdam ia tak boleh menggunakan gadget elektronika apa pun, kecuali beragam gadget erotika yang dijajakan dari daerah lampu merah “De Dam,” yang mirip komplek pertokoan Pasar Baru Jakarta yang berimpit sungai, dan amat terkenal dari Negeri Kincir Angin itu pula.

Rakyat Indonesia pun berdoa, semoga dalam penerbangannya ke Amsterdam ia tidak tergoda rayuan seorang pilot yang berlaku sok akrab yang kemudian mengajaknya makan nasi goreng atau jus jeruk mengandung arsenik di bandara Changi Singapura.

Pelaksanaan referendum itu masih terancam gagal. Oleh Menkominfo Tifatul Sembiring. Karena ia pernah mengeluarkan tesis yang menggegerkan, bahwa bencana alam yang bertubi-tubi menghantam Indonesia itu karena kemaksiatan telah merajalela di negeri ini. Mungkin ia hendak mengingatkan akan cerita Sodom dan Gomorah.

Persoalannya jadi komplikatif.

Kalau semua warga Republik Indonesia semalaman asyik menonton video porno mirip artis menjelang pelaksanaan referendum, bahkan men-cuek-kan siaran Piala Dunia 2010, lalu esoknya muncul banjir dan gempa bumi dahsyat, lalu bagaimana ? Lalu apa kira-kira kata Pak Menteri yang berasal dari PKS itu nantinya ?

Jangan remehkan ucapannya. Singapura yang begitu rapi dan teratur mengelola negerinya, toh Orchard Road yang menjadi jantung Singapura tergenang banjir besar, bukankah itu membuktikan betapa negeri itu telah pula menjadi sarang maksiat, yang antara lain karena menjadi pusat foya-foya sekaligus sebagai safe haven bagi para koruptor Indonesia ?

Untuk tesisnya tersebut, konon Akademi Swedia akan segera menominasikan Tifatul Sembiring sebagai calon penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2010. Jadi bulan November nanti, saat Obama datang, kita akan melihat dua sosok pemenang Nobel Perdamaian yang terkait erat dengan Indonesia.

Siapa tahu, rasa bangga tentang prestasi itu akan mengurungkan sebagian warga Papua yang kini meminta referendum untuk masa depan mereka.


Wonogiri, 21 Juni 2010

Thursday, May 27, 2010

Andi Kalah,Komedian Demo, Koran Terancam Bangkrut

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Partai Demokrat memberi kejutan.

Kekalahan mencolok Andi Mallarangeng dalam pemilihan ketua umum Partai Demokrat, langsung mengguncang industri komunikasi dan media.

Yang paling terpukul pertama kali adalah sirkuit industri komedi di Indonesia.

Begitu mendengar Andi Mallarangeng tersingkir pada putaran pertama, yang hanya berhasil mengantungi suara 16 persen, sontak organisasi Akposi (Asosiasi Komedian Politik Seluruh Indonesia) mengadakan ritual tuguran.


Para anggotanya dengan pakaian hitam-hitam langsung berhimpun, menyalakan ribuan lilin, dan mereka berbaris dengan muka muram memutari tugu Monas sampai pagi dalam keheningan. Bahkan mereka akan merencanakan melakukan long march serupa, Jakarta-Makassar pulang-pergi.

"Kekalahan Andi, yang digadang-gadang banyak orang untuk bisa maju sebagai kandidat presiden 2014, merupakan pukulan berat bagi kami. Komedian politik Indonesia benar-benar kehilangan salah satu target terbaiknya untuk dijadikan sebagai sumber lawakan. Untuk kualitas yang satu ini, Andi jelas lebih menarik dibanding Anas Urbaningrum yang tampil santun," ujar Herman "Joker" Hermawan, aktivis Akposi.

"Gara-gara Andi kalah, komedian politik Indonesia benar-benar menuju kebangkrutan yang serius. Kondisinya melebihi pengaruh resesi global 1930, 1997 dan 2007 di gabung sekaligus menjadi satu," imbuh Sofia Tegurasakya, sekretaris jenderal Akposi. Keduanya secara terpisah dihubungi melalui email oleh reporter Fake News Komedikus Erektus, beberapa hari yang lalu.

Rusaknya reputasi. "Kami juga tak kalah kuatir," timpal Dicky Amordani, ketua Indonesia Spin Doctors Association (ISDA), lembaga yang mewadahi kiprah konsultan politik di Indonesia.

"Kekalahan Andi benar-benar merusak reputasi bisnis kami. Dan multiplier effect-nya sangat serius. Angka pengangguran nasional akan meroket lagi," lanjut Dicky Amordani.

Ia lalu merinci betapa para pemikir komunikasi politik, tenaga survei, ahli statistik, penulis naskah, desainer logo, desainer grafis, pelaku industri percetakan digital, wartawan-wartawan humas, tukang pasang spanduk sampai pelaku cheer leader dan demo bayaran, semuanya akan terancam kehilangan pekerjaan.

Salah satu solusi untuk terhindar dari bencana itu, menurutnya, konsultan politik FoxIndonesia yang menjadi mesin kampanye Andi Mallarangeng, yang dikelola dirinya bersaudara itu harus segera berganti nama. Menjadi : Lame FoxIndonesia.

Malah lebih baik, usulnya, mereka harus kembali menata model bisnisnya secara radikal. Misalnya berubah menjadi jasa penyedia sembako untuk menunjang sukses kandidat apa pun ketika terjun berkampanye dalam pemilihan apa pun.

"Back to basic ! Sebab itulah yang diharapkan oleh sebagian besar rakyat Indonesia sejak era reformasi bergulir," tegas Dicky Amordani. Ia sendiri menyatakan niatnya segera lengser sebagai konsultan politik dan berganti profesi sebagai pemasok sembako.

Efek domino dikuatirkan berlanjut. "Iklan-iklan politik di media massa juga akan anjlok. Omsetnya diperkirakan hanya mampu mencapai 2 persen setelah kekalahan Andi itu," kata Leo S. Moronagua, pengamat bisnis media.

"Setelah kehadiran Internet, kekalahan Andi jelas semakin membuat rapuh eksistensi bisnis media-media utama yang mengandalkan iklan. Karena ia yakini, kaum politisi akan hanya tertarik memasang iklan bila ada politisi lain meninggal dunia. Itu pun bila yang meninggal dunia adalah para politisi saingan mereka. Itu pun hanya berupa iklan baris, iklan berita gembira yang ditulis dengan gaya alay pula. Benar-benar menyiutkan hati !"

Industri buku-buku otobiografi ikut pula dibekap meriang berat. Partai Demokrat adalah partai yang intensif menerbitkan buku untuk menunjang sukses kampanye revolusi sunyi mereka.

"Begitu menjabat sebagai tangan kanan presiden SBY selama enam tahun terakhir, kami mengharap sosok Andi Mallarangeng akan banyak menulis buku sehingga mampu menghidupkan roda industri kami," kata Rina Publikatadewata dari White Lies Publication, penerbit khusus otobiografi para tokoh politik.

"Kini, kami kuatirkan, tak ada lagi politisi yang mau menulis buku untuk kampanye politik mereka. Hal itu memang baik untuk mengurangi polusi informasi-informasi yang penuh puji-pujian palsu dan juga klaim-klaim yang sarat kebohongan. Tetapi itu jelas jelek banget bagi bisnis kami," keluh Rina dengan lesu.

Seperti diketahui, menjelang konggres Partai Demokrat ia meluncurkan buku berjudul Merebut Masa Depan (2010). Sebelumnya, ketika menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng telah menulis buku Dari Kilometer 0,0 (2007).

Orangtua dari Kenya. "Kegagalan Andi, antara lain karena ia tidak meneladani jejak hidup Obama," sahut Julius Sendangkalimat, penulis biografi terkenal. Ia membicarakan kegagalan Andi sambil merujuk isi biodata dalam buku-buku yang ditulis pemilik gelar Master of Science di bidang sosiologi dan Doctor of Philosophy di bidang ilmu politik dari Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, Amerika Serikat itu.

"Seharusnya ada sedikit modifikasi dalam penulisan riwayat hidup Andi Mallarangeng. Sebaiknya ia mengaku memiliki orang tua yang berasal dari Kenya, lalu besar di Amerika Serikat, dan kemudian berjuang untuk berusaha menjadi presiden Republik Indonesia !"

Nasi memang sudah menjadi bubur.

Tetapi toh masih ada kabar baik. Menurut desas-desus, setelah kalah merebut kursi nomor satu Partai Demokrat, Andi Mallarangeng akan kembali menulis buku. Sambutan hangat pun segera terdengar. "Kalau isu buku itu benar, kami pantas tidak pesimis lagi terhadap masa depan profesi kami," tegas Herman "Joker" Hermawan, aktivis Asosiasi Komedian Politik Seluruh Indonesia (Akposi) dengan wajah berbinar.

"Karena kami akan merasa memiliki teman seiring dalam menghumori diri sendiri, berani menertawakan kekurangan diri sendiri atau self-deprecating, suatu kualitas kemanusiaan luhur yang nyaris hilang pada diri para penguasa dan bangsa Indonesia setelah Gus Dur meninggal dunia."

"Gesture yang langka itu pasti akan menjadi ilham untuk memperkuat tekad kami dalam membesarkan profesi langka ini di Indonesia di masa-masa mendatang. Syukur-syukur bila dengan gelar doktornya Bung Andi itu mampu mengajari kami untuk membuat lawakan-lawakan tingkat tinggi. Utamanya untuk menghumori sasaran tembak yang sulit bagi kami selama ini. Yaitu Presiden SBY, dan Anas Urbaningrum nantinya."

Buku yang dihebohkan kalangan komedian politik itu diperkirakan berjudul : Merebut Masa Depan Yang Gagal Kesampaian dan Kembali Ke Kilometer 0,0 Lagi.


Wonogiri, 27 Mei 2010

ke

Sunday, March 14, 2010

Ejek dan Tawa Dibalik Kunjungan Obama

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Obama Harus Jadi Humas Indonesia.”

Demikian harapan pengamat politik Anis Baswedan terkait rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia. Kunjungan itu menurutnya, merupakan momen terpenting bagi bangsa Indonesia. Menurut Anis, pemerintah harus bisa memanfaatkan waktu kedatangan Obama ini dengan menjadikannya humas atau juru bicara bagi Indonesia.

"(Obama) harus bisa mengatakan, Indonesia memiliki potensi, ekonominya maju, kebhinekaannya dijamin. Kalau yang ngomong itu Obama, dia tentu menjadi public relation (PR) kita. Kalau kita tidak punya agenda itu, ya nanti kita malah menjadi PR-nya Obama," kata Anis Baswedan kepada para wartawan seusai menjadi pembicara Sarasehan Nasional ISNU Pra Muktamar NU ke-32 di kediaman Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (13/3/2010).

Liar ! Liar ! Liar ! Humoris dan satiris terkenal Amerika Serikat Art Buchwald (1925-2007) yang tak pernah lulus SMA, punya lidah tajam mengenai humas. Ia pernah bilang, kalau dirinya tidak menjadi humoris pasti akan petugas humas. Dan itu, menurutnya, bakal tidak membahagiakan dirinya sepanjang hidupnya.

Karena, “tugas humas adalah mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.”

Bila Barack Obama benar-benar menjadi humasnya Indonesia, inilah sebagian hal yang kira-kira bakal ia katakan untuk memromosikan keadaan sebenarnya Indonesia, tempat ia pernah mengenyam kehidupan di masa kecilnya, kepada dunia :


Oleh-oleh dari Australia. Barack Obama dan Susilo Bambang Yudhoyono pernah saling ketemu. Tetapi kunjungan Obama ke Indonesia merupakan momentum terbaik bagi SBY untuk memulihkan citranya setelah babak-belur kena “gebuk” DPR terkait skandal Bank Century.

Jadi pertemuan itu sungguh dinanti oleh SBY. Termasuk keinginannya berbagi trik politik sebagai oleh-oleh saat ia berkunjung ke Australia, baru-baru saja. Di tanah leluhur suku Aborigin itu, begitu laporan intelijen yang bocor ke media, ternyata SBY secara khusus berlatih melempar bumerang.

Dengan spesialisasi, bagaimana melempar bumerang yang dijamin tidak akan bisa kembali lagi kepada dirinya !


Takut teror dokter. Obama akan menyatakan penyesalan karena istrinya, Michele Obama, tidak jadi ikut berkunjung ke Indonesia. Alasannya, sebagai first lady sekaligus public figure, istrinya kuatir terancam pelukan dan ciuman dari belakang secara tiba-tiba oleh dokter Rasyidin dari RSUD Labuang Baji, Sulawesi Selatan.


Modis, membangkrutkan. Pembatalan kehadiran Michele Obama diam-diam disyukuri para pebisnis tekstil dan pakaian jadi di Indonesia. Karena sosoknya sebagai ibu negara adi kuasa dan secara tidak resmi menjadi inspirasi, bahkan penentu selera banyak wanita dalam berbusana, liputan tentang Michele Obama justru mereka kuatirkan dampaknya.

Pebisnis tekstil menilai, selera berpakaian Michele Obama berpotensi menurunkan konsumsi rakyat Indonesia secara drastis terhadap produk-produk tekstil dan pakaian jadi, utamanya busana muslimah Indonesia. Karena di Amerika Serikat, Michele Obama sering tampil memakai baju tanpa lengan, bahkan pada pelbagai acara-acara resmi negara.

Protes umat. Obama dalam berpidato nanti isinya memahami aspirasi sebagian rakyat Indonesia yang menggalang kampanye melalui Facebook agar patung dirinya dipindah.

Yang semula berada di Taman Menteng, Jakarta Pusat, dan sekarang menempati lokasi baru di SDN 01 Menteng, di Jalan Besuki Nomor 4, Jakarta Pusat. Sebab, di sekolah itulah Obama kecil pernah mengenyam pendidikan sehingga patungnya akan dibuat permanen.

Tak lupa Obama akan nyeletuk bahwa patung itu berpindah ke kompleks sekolah dasar, karena ada sebagian golongan umat keberatan patung “Impian Barry” berada di taman umum. Utamanya, karena status sosok patung itu dalam keadaan belum pernah disunat.

Masa depan Gitmo. Dalam berpidato untuk merengkuh hati mayoritas negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia, Obama akan menegaskan sekali lagi janji kampanyenya dulu. Bahwa ia ingin menutup penjara kontroversial, Guantanamo, selama-lamanya.

“Penjara mengerikan itu akan kami sulap menjadi resor pariwisata,” katanya. Bahkan tempat itu nanti, katanya, dirancang menjadi spot istimewa bagi kalangan militer Indonesia yang diduga berat melakukan pelanggaran HAM berat sehingga mereka resmi dicekal masuk Amerika Serikat. Bahkan dicekal untuk sepanjang hidupnya.

“Kebijakan kami berubah. Mereka kelak kami terima di Guantanamo dengan sebaik-baiknya,” kata sumber terpercaya dari Gedung Putih. “Kami akan berusaha membuat mereka tidak tergiur lagi untuk kembali ke Indonesia. Sepanjang hidup mereka.”

Judul-judul lanjutannya seperti di bawah ini akan dicantumkan dalam buku Komedikus Erektus yang akan segera terbit.

Bertukar cenderamata.
Pasangan cocok.
Demagog di demokrat.
Pedagang kematian Paman Sam
Good advice for Tiger Woods.
Tarian presiden kita.


Wonogiri, 14/3/2010

Thursday, March 11, 2010

Komedikus Erektus ! : The Book

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Payah matematika. Majalah Forbes memasukkan 7 nama orang Indonesia yang masuk milyarder kelas dunia di tahun 2010.

Yang paling tinggi peringkatnya di antara ketujuh nama tadi adalah Budi Hartono dan Michael Hartono (posisi 258 dunia), pemilik perusahaan rokok raksasa Djarum Kudus. Ada nama Sukanto Tanoto, dan kemudian Chairul Tanjung, pemilik Bank Mega dan Transcorp. Bill Gates dari Microsoft berada di peringkat 2 dunia.

Mengapa mereka begitu kaya dan apa resepnya ? Tahun lalu di majalah yang sama, seorang wartawannya Duncan Greenberg menulis artikel berjudul “A Recipe for Riches.” Artikel yang membuat saya patah hati. Karena pada diri saya ternyata tidak ada ciri-ciri untuk menjadi kaya-raya.

Duncan Greenberg menyatakan bahwa ciri pertama seseorang yang punya bakat kaya-raya adalah memiliki orang tua yang kariernya terkait dengan matematika. “Kemampuan mengolah angka-angka merupakan kunci tipikal untuk menjadi seorang milyarder. Seringkali, keterampilan matematika itu diperoleh dari keturunan. Profesi yang lajim bagi kalangan orang tua para milyarder Amerika Serikat adalah mereka yang bekerja sebagai insinyur, akuntan dan pemilik usaha kecil dan menengah.”

Ciri kedua, adalah mereka yang lahir di bulan September. Dari 380 orang sosok kaya raya daftar milyarder Forbes itu selama tiga tahun, terdapat 42 orang yang lahir di bulan September, yang lebih banyak dibanding bulan lainnya.

Cukup sudah. Mampuslah kamu, Pak Greenberg.
Saya benci membaca uraian Anda.

Terutama karena ternyata orang tua saya tak ada sangkut paut dengan matematika. Bapak saya, seorang tentara dan ibu pengelola warung makan di Kodim Wonogiri, kios di pasar dan kemudian jualan bahan pakaian secara kredit di kantor pos Wonogiri. Lahir saya pun bukan September, tetapi Agustus. Tetapi kira-kira hal terpokok dari keterseyokan saya itu untuk menjadi insan rangkayo adalah, jujur saja, saya payah dalam matematika.

Selepas lulus di SMP Negeri 1 Wonogiri, saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Tahun 1970 sampai tahun 1972. Jurusan Mesin. Menengoki dokumen rapor saya, walau sudah dilaminasi plastik oleh ayah saya Kastanto Hendrowiharso toh bagian tengahnya sudah dimakan rayap, tercatat banyak sekali angka-angka yang tidak membanggakan bagi orang tua saat saya bersekolah yang terletak di Jetis itu.

Saat duduk di kelas 1 Mesin C, pada semester satu, untuk pelajaran Mesin Uap saya mendapat nilai 4. Mohon maaf kepada James Watt, bapak penemu mesin uap. Mohon maaf pula kepada Bapak Sumarto, guru saya. Yang saya ingat dari beliau, selain sosok kurus dan berkacamata, adalah keusilannya untuk mau mengomentari judul lagu yang saya cantumkan di bagian bawah kertas ulangan.

Saat itu saya menggemari duo Simon & Garfunkel. Pada bagian akhir kertas ulangan mesin uap itu saya tulis judul lagunya, “The Only Living Boy in New York.” Ketika kertas ulangan dikembalikan, ada tulisan tambahan dari Pak Sumarto : “But, why do you live in Yogya ?

Pelajaran Motor Bakar juga mendapat nilai 4. Saat itu, seingat saya, saya lebih mudah mengingat nama-nama “indah” para pembalap F-1 saat itu, seperti Clay Reggazoni atau Emerson Fittipaldi, daripada menghafal rumus-rumus pelajaran dari Pak Sardjiman itu.

Nilai kursi terbalik juga saya sandang untuk Ilmu Ukur Ruang dan Proyeksi. Turbin Uap, 5. Peraturan Keselamatan Kerja, 5. Praktek Bengkel, 5. Aljabar dan Ilmu Ukur Analyt, 5. Di semester satu itu ada 7 angka merah. Syukurlah hanya ada dua merah di semester kedua : Motor Bakar dapat 5 dan Ilmu Gaya, yang sebelumnya dapat 6 kini merosot jadi 4. Saya bisa naik kelas dengan terseyok-seyok.


Fast Forward 2010. Beberapa puluh tahun kemudian, ketika menjadi seorang blogger, ternyata saya tetap tidak bisa menghindari matematika. Di situs penerbit besar HarperCollins, saya menemukan posting berjudul “Lunchtime Laughs” yang menarik.

Tidak ada teksnya, hanya semata berupa diagram Venn, yang temuan tokoh logika Inggris, John Venn (1834–1923). Nampak diagram Venn di bawah ini memperlihatkan kaitan antara buku dan blogger di era digital ini.

buku,blog,blogger,penerbitan mati,penerbitan hidup,diagram venn

Diagram yang mengundang senyum.
Memajang sebuah ironi.

Betapa di tengah embusan keyakinan bahwa penerbitan cetak diambang kematian dengan hadirnya blog, yang terjadi justru para blogger berbondong-bondong ingin menerbitkan buku. Sehingga salah satu komentar yang muncul adalah, “apakah lingkaran sebelah kiri akan bergerak menuju ke kanan, atau, lingkaran yang kanan justru yang bergerak ke arah kiri ?”

Kita tengah berada di jaman yang masih serba bingung.
Saya juga.

Sebagai blogger, yang termasuk meluncurkan blog ini sejak Agustus 2004, saya menjalaninya dengan senang-senang saja. Tak ada sasaran khusus atau cita-cita. Ternyata pada tanggal 4 Februari 2010, kelucuan yang digambarkan dalam diagram Venn di atas benar-benar menyapa hidup saya sebagai seorang blogger. Email di bawah ini pemicunya :

“Saya Wijdan Fr. , manajer Penerbit Imania, Imprint baru dari Pustaka Iman. Saya baru saja berselancar mengunjungi Blog Anda: http://komedian.blogspot.com/. Jujur saya baca postingan blog Anda ini saya tertawa dan kepingkel-pingkel. Tak hanya itu yang saya dapat banyak informasi, pencerahan saya dapat dari tulisan-tulisan Anda.

Referensi tulisan Anda sangat kaya. Benar-benar high-joke saya bilang. Saya berminat untuk menerbitkan kumpulan tulisan-tulisan Anda di blog Anda ini. Judul blog Anda sangat bagus dan mencengangkan Komedikus Erektus, dan ini sangat cocok untuk judul buku Anda nanti. Semoga Anda berkenan.

Besar harapan saya Anda dapat memenuhi undangan ini, buku semacam dan pasti diminati pembaca Indonesia.”

Membunuh blog. Tawaran tersebut malah menimbulkan kecemasan pada diri saya. Apakah kemudian saya harus membunuh blog saya ini ? Kecemasan ini merujuk kepada seorang blogger muda, produktif menulis dan terkenal jenaka, begitu blognya diterbitkan sebagai buku maka ia “bunuh” blognya itu. Seorang aktor teater yang suka bermonolog menirukan lagak-gaya Soeharto, Harmoko dan Habibie, juga begitu. Ia membunuh blognya saat isinya diterbitkan menjadi buku.

Ternyata dalam mengobrol dengan Mas Wijdan, juga dalam meneliti isi kontrak, ternyata tak ada klausul agar blog saya tersebut dimatikan. Bahkan ia mengembuskan angin surga, “bila nanti terkumpul tulisan-tulisan baru, kita berpeluang menerbitkan buku sekuelnya yang kedua, dan selanjutnya.”

Ketika membaca-baca isi kontrak yang menyangkut jumlah eksemplar yang akan diterbitkan, saya sungguh tidak mempercayai. Saya merasa seperti sedang melambung ke awan, bak seorang selebritis dengan melihat jumlah itu.

Tetapi itu memang hak prerogatif penerbit, yang tentunya memiliki wawasan, pertimbangan dan keterampilan tersendiri dalam membaca pasar. Saya sebagai penulis, membantunya dengan bertugas mempersiapkan materi sebaik-baiknya. Termasuk semula berambisi agar semua isi blog ini diterbitkan semua. Perkiraan Mas Wijdan, itu bisa mencapai 1000 halaman. Agar sesuai dengan dinamika pasar maka memang harus dilakukan seleksi.

Juga penambahan isi, berupa isu-isu yang mutakhir. Berhubung lelucon dalam blog saya ini sebagian berupa fake news, berita yang seolah-olah benar walau sebenarnya palsu, plus lebay sebagaimana karakter khas suatu lelucon, heboh skandal Bank Century harus tidak dilupakan. Maka dalam bab awal parade lelucon seputar heboh Pansus DPR Terkait Bank Century menjadi gebrakan pertama isi buku tersebut nantinya.

Bila terbit, akan menjadi buku humor saya yang ketiga. Tetapi dalam penerbitan kali ini saya memperoleh wawasan baru, mengenai sebuah ritual, yaitu pemuatan pernyataan dari mereka yang sukses guna mendukung mitra yang juga sukses. Siklus win-win yang menarik.

Saya yang merasa sukses karena berhasil menulis buku ini, telah meminta kerjasama dukungan kepada pelbagai fihak, untuk menulis endorsement untuk buku saya ini. Bukti sukses mereka akan terpajang di buku saya, guna menunjang sukses diri mereka dan juga sukses saya pula. Pelbagai fihak yang saya kontak selama ini antara lain :

Andrias Harefa, Antyo Rentjoko, Ayu Utami, Arswendo Atmowiloto, Budiarto Shambazy, Danny Septriadi, Darminto M Sudarmo, Denny Chandra, Diana AV Sasa, Donny Maulana, Effendi Gazali, Harris Cinnamon, Ira Lathief, Isman H Suryaman,Jaya Suprana, Jerry Gogapasha, Jonie Hermanto, Onno W. Poerbo, Sarlito Wirawan Sarwono, Sholahuddin Norazmy, Welnady, dan Wimar Witoelar. Daftar ini bisa bertambah.

Terima kasih untuk Antyo Rentjoko, Danny Septriadi, Darminto, Diana AV Sasa, Jerry Gogapasha, Jonie Hermanto SQL, Harris Cinnamon, dan Bang Wimar, untuk kebaikan Anda. Saya yakin, nama-nama lain di atas akan segera menyusul. Sukses selalu untuk Anda !

Untuk menyertai penerbitan buku tersebut saya telah meluncurkan blog baru, Komedikus Erektus ! : The Book. Dalam blog ini saya akan berbagi cerita terkait latar belakang buku tersebut, kaitan antara saya dengan para endorsers, cerita masa lalu saya sebagai penulis, blogger, dan tentu saja tentang dunia buku, blog dan komedi.

Kalau Anda memiliki komentar dan saran, saya tunggu di :
humorliner (at) yahoo.com.

Terima kasih.

Moga-moga buku itu nanti dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Walau saya realistis, buku tersebut tidak akan membuat saya sebagai orang Indoneia yang akan masuk dalam daftar Forbes sampai abad 22 mendatang !


Wonogiri, 11/3/2010