Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Shazia Mirza.
Anda pernah mendengar namanya ?
Dalam buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010), sosoknya saya ceritakan ketika membahas mengenai warisan penting almarhum Gus Dur bagi dunia komedi Indonesia.
Sekadar Anda tahu, wafatnya Gus Dur dan Dono, sama-sama 30 Desember, saya usulkan sejak tahun lalu sebagai Hari Humor Nasional.
Shazia Mirza adalah pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.
Shazia Mirza itu kini datang ke Indonesia. Sahabat saya, pencinta komedi beraliran garis keras asal Jakarta yang ditunjukkan dengan kepemilikan ratusan buku-buku koleksinya (“semua buku bertopik humor, komedi sampai kartun yang dijual di Amazon.com sepertinya telah pindah ke lemari dia”), Danny, beberapa hari yang lalu memberitahukan kedatangan Shazia Mirza itu.
Bagi saya, kedatangannya itu seperti keajaiban. Ketika tanggal 20/10 sd 17/11/2011 saat saya memperoleh fasilitas dan kemewahan langka di Hilton Humor di Kramat Jaya Baru, saya sudah mengincar buku yang membahas dirinya.
Sekadar info, Hilton Humor itu adalah rumahnya Danny tadi, yang tidak berpenghuni, selain terisi dua almari yang berisi koleksi buku-buku di atas tadi. Hampir sebulan saya mendapat bea siswa dari Danny untuk mengeram di sana, bersama buku-buku tadi.
Buku incaran saya itu berjudul Beyond a Joke : The Limits of Humour (2009). Buku susunan Sharon Lokyer, dosen sosiologi dan komunikasi Universitas Brunel (Inggris) dan Michael Pickering, professor media dan analisis kebudayaan, Universitas Laoghborough (Inggris), bersampulkan wajah Shazia Mirza.
Tidak berjilbab. Shazia Mirza akan tampil bersama Ward Anderson (AS), Kamis, 8 Desember 2011, atas undangan The American Club Jakarta, Hotel Mandarin, Jakarta. Lebih menarik lagi, acara pemanggungan dua komedian tunggal itu bertajuk Jakarta Comedy Club Christmas Party.
Dalam wawancara di buku tersebut (hal.119-120) tersaji dialog menarik :
MP (Michael Pickering) : Apakah Anda masih mengenakan jilbab ketika tampil ?
SM (Shazia Mirza) : Tidak. Ketika tampil pertama kali saya tidak mengenakan jilbab, lalu mengenakan, dan sekarang tidak dan saya berpikir tidak akan mengenakannya lagi.
SL (Sharon Lockyer) : Mengapa ?
MP : Apakah itu kesadaran untuk melepaskan dari masa lalu ?
SM : Sebab saya tidak ingin dilihat sebagai komedian muslim, saya tidak ingin dilihat dari pandangan satu dimensi dan semua hal bisa saya bicarakan dan hal itu pula eksistensi dari hidup saya.
Juga tidaklah sangat luwes ketika orang-orang menjadi berpandangan sempit, ketika mereka melihat Anda berpakaian seperti itu dan mereka lalu berpendapat, “Oh, dia tidak boleh ini, tidak boleh itu, sehingga mereka berpendapat tentang Anda dalam tafsir yang tunggal.
Ketika saya berpikir seperti itu, ini gambaran hanya satu dimensi, dan saya bukanlah pribadi yang hanya satu dimensi.
Humor seksi di Tanah Suci. Itulah sepotong profil Shazia Mirza. Ia lebih lanjut mengaku, “Saya merasa lebih jujur sekarang ini. Ketika saya di awal menginjakkan kaki di dunia komedi adalah menfokuskan bagaimana agar orang-orang menjadi tertawa dan ketika Anda mampu mengerjakannya, Anda akan tertantang untuk melakukan hal lain yang lebih menantang, seperti berbagi cerita-cerita yang lebih menarik.”
Barangkali yang ia sebut menarik itu antara lain tersaji di halaman lain (hal.11) yang menceritakan Shazia Mirza ketika mengunjungi Tanah Suci :
“Tahun lalu, saya pergi ke Mekkah untuk membersihkan dosa-dosa saya, di mana saat itu saya berada di sekeliling Ka’bah. Semua perempuan mengenakan pakaian hitam-hitam, yang menyisakan lubang untuk mata mereka. Kemudian saya merasakan ada yang mencowel pantat saya.
Saya cuekkan saja.
Saya berpikir : ‘Saya sekarang berada di Mekkah, dan apakah yang mencowel saya tadi itu tangan Tuhan.’
Kemudian cowelan itu terjadi kembali. Saya tidak mengeluhkan hal itu lagi. Saya menjadi yakin, bahwa semua doa-doa saya telah terjawab."
Apakah lelucon yang sama akan ia tampilkan lagi, di Jakarta ini ?
Wonogiri, 7/12/2011
Showing posts with label shazia mirza. Show all posts
Showing posts with label shazia mirza. Show all posts
Tuesday, December 06, 2011
Tuesday, August 23, 2011
Komedian Tunggal, Kelucuan, Kejujuran
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Komedian (pemula) lebih sering menfokuskan diri untuk tampil meraih kelucuan daripada menampilkan kejujuran. Pilihan ini bisa dimaklumi.
Tetapi pilihan ini sebuah jebakan maut. Dirinya tergoda berkonsentrasi melulu pada materi yang dia nilai AKAN membuat audiens tertawa.
Rumus Srimulat “aneh itu lucu,” mendominasi mindsetnya. Materi-materi biru jadi andalan : seks, lubang-lubang tubuh manusia, luarannya.
Audiens mungkin terbahak, tetapi sosok komedian semacam itu dan materinya teramat mudah dilupakan. Karena ia tidak menampilkan jati dirinya.
Karena dirinya tidak menampilkan kejujuran. Mungkin mereka tidak tahu betapa kejujuran merupakan formula andalan untuk meraih kelucuan.
Kelucuan berlandaskan kejujuran ini bukan hasil lelewa, dibuat-buat, sok aneh, tetapi cerminan dari kata hati si komedian itu sendiri.
Apakah yang membuat Anda marah ? Merasa cemas ? Dan merasa takut ? Itulah tiga formula wajib suguhan komedi dalam pentas Anda.
Anda di pentas ibarat mengotopsi diri Anda sendiri, memajang jeroan berisi duka lara,ketakutan, kemarahan, kekurangan diri, kepada dunia.
Berkarier dalam komedi ibarat Anda bersekutu dengan setan dalam meraih kekayaan. Jiwa Anda harus Anda gadaikan secara total pada mereka.
Berkarier komedi juga ibarat sebagai pendonor darah tetap. Anda terus-menerus dituntut memberikan zat-zat hidup diri Anda kepada orang lain.
“Komedi bicara kebenaran. Anda tak perlu meraciknya, karena semua materi itu sudah ada di dalam diri Anda sendiri,” tegas Shazia Mirza.
“Komedian tampil terbaik bila bicara penderitaan, sengsara, dan kesepian,” kata Shazia Mirza lagi, komedian wanita Inggris asal Pakistan.
Dengan menampilkan hal-hal yang paling pribadi dari diri Anda itu, Anda akan mampu menggetarkan dawai-dawai hati nurani audiens Anda.
Anda sebagai komedian kemudian menjadi pencerah karena mampu memberikan sisi-sisi kemanusiaan kepada diri sendiri dan juga kepada manusia.
Menjadi komedian jangan karena mode atau lambaian uang. Menjadi komedian harus dipandu panggilan keharusan dari jiwa Anda. Begitukah Anda ?
Wonogiri, 24/8/2011
Subscribe to:
Posts (Atom)


