Showing posts with label komedi indonesia. Show all posts
Showing posts with label komedi indonesia. Show all posts

Sunday, April 04, 2010

Ketika Marylin Monroe Bangkit Dari Kubur

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pohon PHK. Angka indeks stres sesudah meninggalnya pasangan hidup, 100. Perceraian, 73. Pensiun, 45. Pindah pekerjaan, 36. Pindah jabatan, 29.

Akhir tahun 2001, saya memiliki indeks stres di bawah angka meninggalnya pasangan hidup dan perceraian. Indeks saya 47. Saat itu saya baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja pada suatu perusahaan Internet di Jakarta.

Amplop berisi surat pemberitahuan PHK itu saya baca di sebuah bangku kayu, di bawah pohon kecil, di pinggiran jalan Kebon Sirih, Jakarta.Sore hari. Antara sikap menerima dan ingkar, campur aduk. Tetapi begitu semakin menjauh dari lokasi itu,dan melalui proses self-talk yang intensif, akhirnya rasa sakit dan marah itu akhirnya bisa reda juga.

Kira-kira setahun kemudian, saya datangi kembali bangku kayu dan tanaman kecil yang menjadi saksi saat saya kehilangan pekerjaan di Jakarta itu. Rumus dari Nora Ephron, sutradara film komedi romantis Sleepless in Seattle (1993), benar adanya.

Tragedi + waktu = komedi.

Sejarah serupa rupanya berulang lagi. Kali ini di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Di gedung tersebut pada hari Sabtu, 26 Januari 2008, saya tereliminasi sejak awal ketika ikut Audisi Pelawak TPI ke-4 (API-4). Kemarin, 2 April 2010, saya bisa kembali ke gedung yang sama, dalam suasana yang hampir sama. Tetapi membawa perspektif yang berbeda.


Gundah gulana saya akibat kegagalan dua tahun itu kiranya pantas menjadi bahan tertawaan. Senyatanya, karena cengkeraman perasaan egosentris memang sering membuat kita, tak terasa, mudah tergoda memberi harga terlalu tinggi bagi diri sendiri. Akibatnya, cedera atau terbarut sedikit saja sering membuat kita merasa betapa dunia terancam kiamat. Kecongkakan semacam itu, sekali lagi, memang pantas untuk menjadi bahan tertawaan.

Diam-diam, buah dari kesadaran semacam itu adalah berkah. Kita bisa membumi kembali. Dengan bekal isi jiwa seperti itu saya memenuhi undangan sobat maya saya, Harris Cinnamon (foto, kaos hitam) dari TPI, untuk ketemuan di Yogya. Saat itu, 2-3 April 2010, TPI mengadakan audisi memilih calon penghibur dalam tajuk Piala Dunia Tawa.

Memasuki gedung itu, saya seperti sedang pulang ke rumah. Gedung ini mudah diakrabi. Tanggal 12 Oktober 2002, ketika Bali diguncang bom Amrozy dkk, adik saya menjadi pengantin di gedung ini pula. Dan ketika mencoba bertegur sapa dengan sebagian peserta audisi, sungguh mengejutkan, sebagian dari mereka adalah alumnus API-4 juga. Seingat saya, di tahun 2008 itu rasanya belum pernah berkenalan, toh hari ini sebagian mereka pernah merasa mengenal saya. Nampaknya sirkuit dunia komedi kita memang benar sebagai dunia yang sempit.

“Baru tiga,” kata Harris Cinnamon yang beringsut dari kursi jurinya, untuk menyalami saya. Saya terlambat, sehingga tiga penampil pertama terlewat dari saya. Tahun 2008 lalu, Momon (dalam hati ia saya sebut sebagai da’i rocker) yang kini rambutnya lebih pendek, memberikan pengarahan kepada para peserta audisi API-4, termasuk saya. Ia bos, saya peserta. Kini saya datang sebagai kawan. Sebagai tukang catat. Tukang lapor. Tukang cerita.

Kalau boleh diberi label sebagai gagah-gagahan, saya datang ingin juga sebagai “sejarawan” komedi Indonesia. Saya datang dengan bekal, seturut ujaran sejarawan Perancis, Ferdinand Lot, bahwa sejarawan harus memiliki empati terhadap obyek kajiannya. Karena tanpa itu tak ada wawasan yang imajinatif untuk menggali masa lampau. Idealnya lagi, menurutnya, sejarawan harus menunjukkan kemampuannya sejajar dengan apa yang dimiliki para penyair dan seniman.

lawakan drakula,kelompok sandal jepit,solo,drakula banci,piala dunia tawa tpi 2010

Rendang kerbau. Lanskap apa yang nampak ketika anak-anak muda masa kini ingin terjun dalam dunia hiburan, khususnya lawak ? Lawakan tentang drakula dan kuntilanak, masih ada. Banci-bancian, juga masih ada. Lawakan hansip, juga ada. Plesetan kata, tetap muncul lagi juga. Penampilan komedian tunggal dengan gaya bercerita, mungkin ini warisan almarhum Taufik Savalas, juga ada. Lawakan dengan menyemprotkan air dari mulut ke wajah lawan main, juga ada.

Tontonan duplikasi adegan fotonya Marilyn Monroe dengan rok tersibak, juga ada. Dibawakan oleh Sarita (2009), diceritakan bahwa bintang film dan dewi seks AS itu bangkit dari kubur, menari dan menyanyi dan lalu kembali ke liang lahat.

Walau pesertanya tidak segegap gempita API-4, di mana ruang penjurian terdapat dua dan kini hanya satu, semangat peserta untuk berlawak-lawak-ria pantas diberi tepuk tangan. “Kali ini pendekatannya rada berbeda, Bang,” tutur Harris Cinnamon, saat kami usai sholat Jumat, sebelum sesi penjurian dilanjutkan.

Kalau dalam API-4, kata Momon, yang direkrut untuk dibina adalah kelompok yang menonjol, kini yang dicari adalah individu yang istimewa. Mereka-mereka itu selanjutnya akan dilakukan pairing, pencocokan dengan individu yang lain, sehingga diharapkan hadir sinergi yang lebih saling memperkuat.Pendekatan itu yang membuat suasana audisi terasa lebih hidup. Walau juga kadang konyol.

tony tanuwijaya,nurbati,harris cinnamon,erick tamalagi,nala rinaldo,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Godfather komedi televisi Indonesia. TPI nampak serius dalam merekrut talenta-talenta baru dunia hiburan televisi di Indonesia. Mereka menerjunkan personil kunci mereka. Dari kiri : Tony Tanuwijaya, eksekutif produser, Nurbati, Harris Cinnamon, direktur kreatif, dan Erick Tamalagi, produser. Dan juga ditongkrongi oleh GM Produksi, Nala Rinaldo (tidak nampak dalam foto).



Seperti Sajimin (2006), alias Pak Min (foto, berblangkon), yang mengaku sebagai dalang cangkeman alias bermain wayang dengan instrumen mulut belaka, digojlok habis-habisan di panggung oleh para juri.

Dibuat dirinya agar terpojok, sehingga Pak Min itu mampu mengeluarkan kesaktiannya, katakanlah jeroannya secara lahir batin. Ketika ia dipaksa keluar dari sarang kosmologi Jawanya dan diminta menyanyi lagu pop, yang muncul adalah lagu tentang perempuan yang hidup dalam lumpur noda. Malah ia sempat terloncat perkataan, bahwa “istri saya juga berasal dari sana.”

Andri Balung (2018, foto) yang tampil sendirian, juga mendapat teror serupa. “Wah, pengin dadi wong kondang kok yo rekoso,” keluhnya di panggung. Ketika disodori sisir besar terbuat dari styrofoam, apa yang akan ia perbuat ? Andri menggigit pinggir sisir itu sampai somplak. Audiens di ruangan pun terbahak.

Lawakan tunggal yang merambah gagasan coba ditampilkan oleh Andika Putra (2008). Ia tampil di panggung dengan jas dan berdasi. Tetapi celananya, aneh. Separo lengkap, sewarna dengan jas, bersepatu resmi. Separo celana satunya lagi adalah celana pemain sepak bola, dan bersepatu pemain sepak bola.

“Jauh-jauh dari Padang,” katanya mengenalkan diri, dan rupanya ia sekaligus pula membawa sudut pandang budaya Ranah Minang ketika menyentil ulah para penguasa dan politisi kita. Nampak merujuk demo mahasiswa yang mengusung binatang kerbau beberapa waktu lalu, Andika menggertak : “Banyak penguasa kita yang seperti kerbau. Nampaknya gagah dan kuat, tetapi segera menjadi lembek ketika berubah menjadi rendang.”

Tentang pakaiannya ? “Ini cerminan ulah politikus kita. Di depan nampak bersopan-sopan, tetapi di belakang layar mereka saling main tendang, sepak-sepakan !”

rokayatun,suwanto,eko,bs,sarjoe,phh,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Lelucon yang juga bersinggungan dengan wacana politik juga diusung oleh kelompok BS, Barang Sortiran (2025, foto). Trio ini terdiri dari Rokayatun (baju oranye), Suwanto dan Eko. Sebelumnya, saya sempat mengobrol dengan mereka. Rokayatun (cowok) adalah alumnus audisi API-4 yang kelompoknya bernama PHH ikut lolos ke Jakarta.

Ia memberi saya kartu nama, dengan tajuk MC Kocak/Lawak “Sardjoe” yang siap ditanggap untuk hajatan pertemuan, seminar, acara promosi, pesta reuni sampai ulang tahun. No HP mereka yang bisa dihubungi : 085640234449.

Pada kartu nama itu juga tertera logo API-4. Tetapi ketika para juri saat itu sempat menanyakan, apakah kelompok ini “orang lama,” membuat saya tersenyum-senyum. Karena nampak trio awak BS itu menjadi sibuk berkelit, dan bagi saya ini adalah komedi pula.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya kirim sms ke Rokayatun, berkomentar bahwa penampilan mereka jauh lebih unggul dibanding peserta lain yang sempat saya tonton.

Trio BS itu membawakan lakon “Rampok,” yang tidak lain merupakan satir bagi para politisi, birokrat sampai penegak hukum kita yang korup, yang merampok uang rakyat. Sempat terlontar ketika mengenalkan anggota termuda dari trio perampok itu, dengan ujaran : “Adik saya yang terkecil ini adalah perampok yang masih berstatus honorer.”

Siang itu saya sempat menonton 22 dari 58 peserta audisi yang terdaftar siang itu. Di tengah acara, tiba-tiba saya memperoleh sms dari nomor yang asing. Ia menanyakan, apakah saya ikut dalam audisi siang itu pula. Tentu saja, saya jawab : saya tidak ikut.

Pengirim sms itu bernama Burhan, asal Sukoharjo, memperoleh nomor urut 2033. Saya keburu pulang, dan mengirim sms agar ia berhasil. Burhan menjawab antara lain : “Waduh, padahal saya belum ketemu mas loh. Ehm, kemarin saya masuk ke blognya mas. See you.”


Awal perjalanan. Kabar dari Burhan itu lumayan membuat senang. Tahun 2008 lalu, gara-gara blog ini pula, saya bisa bereuni darat dengan Ade Tao, juri saya yang sebelumnya saling ketemuan di dunia maya. Kini, dengan pelaku lain, yang pasti atas bantuan kedahsyatan Google, hal serupa rupanya terjadi lagi.

Blog ini ternyata memiliki power yang tak terduga-duga bagi saya. Mungkin karena belum banyaknya blog dengan topik komedi, akhirnya blog saya ini boleh jadi terdongkrak menjadi semacam gerbang. Gerbang itu pula yang mau tak mau harus dilirik :-( dan dilewati oleh mereka yang ingin mengenal atau pun menerjuni dunia komedi.

Melegakan, bila isinya memang mampu memberi manfaat. Walau boleh jadi terlalu sangat hiperbolik bila power semacam itu yang membuat sobat saya Effendi Gazali, setelah bermurah hati menuliskan endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya, menambahinya saat menulis sms (16/3/2010 ) kepada saya. Isinya berbunyi : “Anda tetap supervisor or guardian dunia humor Indonesia.”

Hari Minggu pagi (4/4/2010), ketika saya melakukan olah raga jalan kaki pagi di bendungan waduk Gajah Mungkur, saya mendapatkan sms lagi. Bunyinya antara lain : “Thanks atas doanya, BS lolos Jakarta bersama 2 grup lainnya.” Saya segera membalas, mengucapkan selamat dan dorongan agar mereka mampu lebih berprestasi nantinya.

Demikianlah, hari Jumat di Gedung Wanitatama Yogyakarta itu, menjadi hari yang menggembirakan bagi saya. Mereguki semangat anak-anak muda yang bergairah menerjuni karier di dunia hiburan, utamanya lawak, ibarat memperoleh tetes air dari oasis yang menyegarkan jiwa. Sebagai bekal dalam menempuh, serta melanjutkan perjalanan yang masih panjang di depan.

Ikhtiar TPI merupakan sebuah pintu yang terbuka. Pantas diberikan akolade. Tetapi bagi mereka yang mampu masuk, atau pun bagi mereka yang belum beruntung, perjalanan meraih sukses dalam komedi senantiasa akan selalu terpulang kepada masing-masing individu. Seberapa keras, tangguh dan tahan uji, dalam menempa diri mereka sendiri.

Utamanya, seperti tak bosan saya tulis dalam blog ini, adalah ikhtiar menempa diri sendiri untuk mampu menjadi pribadi atau persona yang unik, orisinal, di antara wajah-wajah komedian yang lalu lalang selama ini, di negeri ini pula.

Satu-satunya cara yang harus ditempuh agar mampu meraih status terhormat itu adalah dengan mentransformasikan masing-masing hidup mereka, untuk menjadi komedi itu sendiri. Bert Williams telah menulis : “Orang yang memiliki selera humor sejati adalah orang yang mampu menempatkan dirinya di depan para penonton dan mampu menertawakan kehidupan malangnya sendiri di depan mereka.”

Dalang cangkeman Pak Min, secara tak sengaja telah melakukannya. Tetapi seturut nasihat Bert Williams di atas, apakah ia akan berani bila harus melakukannya secara sengaja ? Berapa banyak komedian Indonesia yang berani melakukan hal yang sama ?

Bagaimana dengan Anda sendiri pula ? Kalau Anda mendapat todongan semacam ini, kira-kira berapa angka indeks stres Anda ?


Wonogiri, 3-5/4/2010


ke

Thursday, February 25, 2010

Jaya Suprana, Lawakan Idiot Olga dan Low Comedy

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Sarkas Jaya Suprana. Bangsat merupakan parasit yang kosmopolit. Dirinya mudah ditemui di mana saja, di tempat manusia biasa berada.

Ia menggunakan taktik gerilya dalam beroperasi.

Bersembunyi di waktu siang hari, menyerang di waktu malam. Sesudah puas menghisap darah manusia targetnya, ia lalu mundur ke tempat persembunyian, guna mencerna santapannya itu dalam beberapa hari.

Bangsat adalah kutu busuk. Encyclopedia Britannica menyebutnya sebagai bed bug. Kutu ranjang. Serangga malam ini termasuk dalam keluarga Cimicidae. Tetapi di Indonesia, baru-baru ini, kutu busuk itu “masuk” sebagai keluarga seorang wakil rakyat.

Gara-garanya, kata bangsat itu menjadi ramai diperbincangkan masyarakat. Utamanya setelah muncul sebagai umpatan yang dilontarkan anggota DPR dari Partai Demokrat, Ruhut Poltak Sitompul, dalam kesempatan suatu rapat Pansus DPR terkait kasus Bank Century.

“Di luar negeri, kata-kata yang lebih jorok lebih sering dimunculkan di lembaga-lembaga wakil rakyat,” cetus budayawan, kolumnis, kelirumolog, penguasaha, Jaya Suprana. Ia hadir sebagai panelis dalam acara Mata Najwa di MetroTV beberapa saat yang lalu. Acara bincang-bincang itu juga dihadiri pengamat ekonomi Faisal Basri, Hendri Saparini, artis yang mau jadi calon wakil bupati Sukabumi Ayu Azhari, dan juga si pelontar kata bangsat itu sendiri, Ruhut Sitompul.

Audiens bertepuk tangan. Tetapi segera Jaya Suprana memperingatkan mereka.“Jangan buru-buru tepuk tangan. Karena terdapat juga sarkas dalam pernyataan saya.”

Saya tersenyum. Umpama saat itu Jaya Suprana melakonkan diri sebagai komedian tunggal, nampaknya ia telah melakukan kesalahan fatal. Karena ia berambisi untuk menjelas-jelaskan makna dari materi lawakannya. Tetapi syukurlah, ia tidak sedang tampil sebagai komedian. Selebihnya, memang nampak betapa audiens yang sebagian besar mahasiswa itu tidak ngeh dalam mencerna lawakan sarkas tingkat tinggi model Jaya Suprana.

Lawakan kasar. Momen semacam itu, ketika para cendekiawan muda kita nampak telmi dalam mengikuti lawakan-lawakan yang cerdas, apakah seringkali ditemui dalam pelbagai acara-acara televisi ?

Mungkin pembaca dapat berbagi informasi kepada saya. Maafkan saya, saya bukan penonton televisi Indonesia yang taat dan baik. Hiruk-pikuk komentar pembaca terhadap mutu tayangan televisi hanya bisa saya ikuti lewat media massa. Itu pun hanya dari 4 koran, yaitu Kompas, JawaPos, Solopos dan Suara Merdeka, yang saya baca-baca di Perpustakaan Umum Wonogiri.

Sebagai seorang epistoholik, saya telah membaca surat pembaca yang ditulis Leonardo Paskah (Grogol, Jakarta). Judulnya “Lawakan Berbau Anarkis” di Kompas (9/2/2010 :7). Ia tulis bahwa dalam acara Oh My God dan Segerr Benerr di ANTV, dengan pembawa acara Olga Syahputra, sebagai tayangan lelucon anarkis dan kasar. “Olok-olokan kasar, jambakan rambut, memukul dan menghantamkan barang yang tiba-tiba dari belakang,” begitu antara lain tulisnya.

Soraya Perucha, pejabat humas dari ANTV di kolom yang sama (15/2/2009) kemudian memberikan jawaban. “Kami merasa masukan yang disampaikan cukup positif. Itu menjadi perhatian kami untuk memperbaiki kualitas tayangan. Kami senantiasa melakukan evaluasi untuk setiap program agar dapat dinikmati dan bermanfaat bagi keluarga Indonesia.” Anda percaya dengan kata-kata klise kehumasan semacam ini ?

Surat pembaca kedua, lebih dramatis. Dengan judul “Siaran Televisi Mengepung Relung Hati dan Pikiran” (Kompas, 13/2/2010 : 7) warga Kemang Pratama, Bekasi, Bambang Sudiono menulis keluhan berat. Antara lain tentang bagaimana humor menjelma menjadi tontonan kebodohan di pelbagai televisi-televisi kita.

“Kebodohan dipamerkan dengan penuh suka cita lewat acara yang disebut ‘humor.’ Humor sesungguhnya, yaitu menertawakan kelemahan dan kebodohan diri sendiri, dimaknai oleh para ‘pelawak’ dan produser televisi dengan menghina orang, melecehkan orang, mengejek orang lain, bahkan dengan melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain.

Pada saat seseorang diperlakukan secara tidak sopan dan kemudian merintih-rintih, penonton tertawa. Itu yang disebut ‘humor’ oleh televisi kita : menghina dan menyakiti orang lain ? “

Kasta terendah. Kritik pedas Bambang Sudiono di atas belum ada yang menjawab dari fihak televisi. Orang-orang televisi mungkin menganggap keluhan semacam itu pantas untuk dibaca, kemudian segera untuk dilupakan.

Saya juga meminta seorang networker yang memiliki LSM dengan inti kiprah dalam bidang humor untuk mem-posting kritik di atas pada akun Facebook-nya, nampaknya hanya “ya” tetapi tidak ia lakukan. Mungkin permintaan semacam ini harus disertai pengucuran dana, suatu langgam yang mungkin biasa bagi organisasi yang berfilfasafat no money, no project itu.

Yang pasti, nampaknya upaya melakukan peningkatan, up grade terhadap diri sendiri, merupakan hal yang teramat sulit untuk dilakukan. Apalagi meningkatkan diri di bidang kiprah kreatif yang begitu elusive seperti komedi, yang mungkin secara ekstrim dan guyon hanya dapat dilakukan bila terjadi melalui cara operasi cangkok pada otak mereka sendiri.

Orang-orang televisi tidak mau repot. Apalagi orang-orang komedi. Mereka alergi untuk merenung. Tak mau berkontemplasi. Mereka seperti bajing di kandang, sibuk berlari di atas treadmill mereka sendiri. Demi memenuhi kejar tayang.

Meminjam sinyalemen Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-Sized Book of Comedy : What We Laugh At…And Why ( 1999), bahwa “Ketidakmampuan dalam mencerna bagaimana rumus lelucon dapat berhasil, membuat para penampil komedi lebih suka melakukan cara awur-awuran, trial and error, dengan berharap bahwa waktu dan pengalamanlah yang akan mampu menempa naluri mereka agar selamat melewati padang penuh ranjau sajian komedi yang tidak menghasilkan tawa. Dengan sikap mental semacam ini maka tidak aneh bila profesi komedi menjadi begitu sulit dan penuh ketidakpastian.”

Akibatnya, fatal.

Komedi-komedi yang dominan hadir di televisi kita, masih menurut Stevie Ray tadi, adalah komedi-komedi fisik semata. Seperti yang kental diwakili sajian komedi pada diri Olga itu. Kita simak urutan kasta dalam komedi menurut Stevie Ray : komedi fisik, komedi porno, cerita, bahasa, imitasi, kontradiksi karakter dan satir.

Komedi fisik berada pada tingkat kasta yang terendah. Ia termasuk dalam kategori low comedy, “karena membutuhkan intelektual yang minim untuk memahami lelucon yang muncul. [Sementara] semakin tinggi kadar intelektual seseorang, akan semakin luas rentang pengalaman-pengalaman komedi yang dapat mereka nikmati.”

Sebagian pebisnis televisi di Indonesia nampak memahami adanya tuntutan semacam itu. Di masyarakat kita terdapat segmen penonton yang menginginkan tontonan komedi alternatif. Maka tidak ayal, bila sejak 26 Januari 2010 telah diluncurkan saluran Vision Comedy, tayangan berbayar yang menyanyikan tayangan-tayangan komedi 24 jam.

Kita dapat bernostalgia mendengarkan lagunya Bob James, “Angela” dalam film seri komedi “Taxi” yang dibintangi Judd Hirsch dan Danny deVito, “Lucy Show,” “Growing Pains,” sampai “Suddenly Susan.”

Siapa tahu tayangan itu mampu menjadi arena belajar yang baik bagi para pemangku kepentingan yang ingin memajukan dunia komedi Indonesia. Kalau tetap tak mau belajar, apa mungkin bisa katakan kepada mereka ucapan ini : bangsat ?


Wonogiri, 26/2/2010

ke

Wednesday, July 22, 2009

Naisbitt dan It’s a Comedy, Stupid !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Miing, masihkah dia mengingat nama John Naisbitt ? Pelawak dari kelompok Bagito yang sudah bubar itu di tahun 1999, sepuluh tahun lalu, pernah sesumbar yang seolah menunjukkan bahwa bacaannya termasuk buku-buku karya futuris John Naisbitt kelahiran Utah, Amerika Serikat itu.

“Makanya jangan kaget, kalau pelawak pun tak salah membaca Alvin Toffler, Machiavelli, atau malah John Naisbitt”, kata si empunya nama asli Tubagus Dedi Suwandi Gumelar atau yang bernama komersial Miing Bagito.

Pernyataan dan omongan “kelas atas” ini termuat dalam wawancara yang dilakukan oleh wartawan Kompas Retno Bintarti, Agus Hermawan dan Rudy Badil, dan dimuat dalam Harian Kompas, 10 Oktober 1999.

Miing, ketika dirinya kini menjadi politisi, masihkah dia mengingat nama John Naisbitt tersebut ? Sekaligus isi buku-bukunya, terutama yang terbaru, Mind Set ! (2007), akankah menjadi panduan isi otaknya sebagai seorang politisi ? Pertanyaan ini menurut saya relevan diajukan.

Karena dulu, seingat saya sebagai penonton yang jelek untuk tayangan komedi di televisi, Miing dan kawan-kawan sepertinya tak pernah melawak yang materinya ada bau-bau isi buku, baik karya Toffler, Machiavelli atau John Naisbitt tadi.

Bahkan saya juga tidak pernah ingat apakah ia pernah mempraktekkan asas wajib self-deprecating yang lajim dilakoni para komedian terkenal dan intelektual. Misalnya dengan mengolok-olok kekurangan dirinya sendiri, termasuk melucukan pendidikannya di STM atau MBA (?)-nya. Saya memang penonton yang jelek untuk sajian komedi di televisi kita. Hingga saat ini.

Yang saya ingat, Miing suka bicara yang tinggi-tinggi. Mungkin karena hal itu ia sukses kini menjadi politisi. Melalui jalur PKS gagal, lalu berpindah partai, sehingga kini sukses melalui jalur PDIP untuk berkiprah di Senayan. Selamat bertugas menjadi politisi.

Semoga saja ia kelak mampu mengikuti jejak dan kiprah jenaka sekaligus cerdas dari Al Franken, komedian AS yang kini menjabat sebagai senator Partai Demokrat dari Minnesota.

Al Franken menjadi sorotan media baru-baru ini ketika melakukan hearing terkait proses pengangkatan hakim agung Sonia Sotomayor. Larry Neumeister, wartawan hukum kantor berita Associated Press dan sebagai trained comedian itu, menyebutkan bahwa aksi Al Franken dalam menginterogasi Sotomayor telah menerapkan comedic techniques (for) serious business dengan hasil bahwa : Al Franken memperoleh tawa besar di ujung sesinya.

Ia secara jitu memakai jurus yang oleh kalangan komedian disebut sebagai callback, keputusan untuk mengulang kembali subjek yang sebelumnya telah mengundang tawa dengan harapan memperoleh sambutan bahak yang lebih meledak lagi. Al Franken sukses dengan jurus callback itu.



[Maaf, tulisan ini belum selesai. Harap maklum].

ke

Friday, January 16, 2009

The Harvard Lampoon dan Masa Depan Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Otak lucu dan jenius. “Empat tahun berkuliah di Harvard cukup sudah,” tutur John Updike (1932–2009 ), novelis dan penulis cerita pendek terkenal Amerika. “Saya memang masih harus banyak belajar, tetapi juga mendapatkan gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.”

Ia lulus dari Universitas Harvard pada tahun 1955 dan kariernya kemudian banyak terkait dengan majalah mingguan The New Yorker yang terkenal. Ia masuk jajaran dengan nama-nama penulis besar Amerika yang berkecimpung di majalah yang didirikan oleh Harold W. Ross yang terbit pertama kali tanggal 21 Februari 1925.

Para penulis itu antara lain Robert Benchley (1889-1945), humoris Amerika. Yang menarik dari keduanya adalah : selain sama-sama alumnus Harvard, juga sama-sama digembleng ketajaman ujung penanya ketika terjun mengelola majalah satir, The Harvard Lampoon (THL), saat mereka masih menjadi mahasiswa.

The Harvard Lampoon itu diluncurkan pertama kali tahun 1876 sebagai terbitan majalah humor oleh mahasiswa tingkat sarjana Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts. Terbit setahun lima kali, menurut Wikipedia, THL yang mengambil model majalah satir Inggris Punch itu kini nampak lestari sebagai majalah humor berbahasa Inggris yang mampu berumur panjang.

Yang juga membanggakan, kawah candradimuka THL tersebut kemudian mampu melahirkan alumnus yang menyandang nama-nama terkenal dalam dunia media, sastra dan humor. Sebut saja William Randolph Hearst (1863–1951), nama raksasa dalam dunia penerbitan media di Amerika Serikat. Atau George Santayana (1863–1952), kritikus dan filsuf kelahiran Madrid, Spanyol. Mereka yang berkiprah sebagai penulis buku, selain John Updike juga ada William Gaddis, Cass Sunstein, Simon Rich, George Plimpton, Fred Gwynne sampai Douglas Kenney.

Mereka yang terjun dalam dunia kepenulisan program televisi, selain nama Simon Rich di atas, juga ada B.J. Novak, Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Untuk nama terakhir ini, yang lulusan magna cum laude dari Harvard, saya berlangganan kolom satirnya, The Borowitz Report, sejak 2007. Jejak mereka itu diikuti ratusan alumnus THL lainnya.

Bahkan dapat ditandaskan bahwa hampir setiap program televisi di Amerika yang menjadi hit dalam beberapa dekade terakhir pasti ditongkrongi oleh satu atau lebih otak-otak lucu dan jenius yang alumnus The Harvard Lampoon. Sebut saja acara Saturday Night Live (sejak 1975), Futurama, dan Late Show with David Letterman (1982).

Menurut Encyclopedia of 20th-Century American Humor (2000), buku babon seluk beluk dunia komedi yang dihadiahkan oleh Danny Septriadi kepada saya, alumnus THL juga menulis untuk program televisi seperti Seinfeld, Veronica’s Closet, Murphy Brown, Suddenly Susan, The Larry Sanders Show, Cracker, News Radio, Third Rock from the Sun dan The Naked Truth.

Anda kenal sitkom animasi The Simpsons (1989) ? Disebut sebagai sitkom animasi yang pemutarannya tercatat sebagai terpanjang dalam sejarah televisi, kisah Bart Simpson yang tak pernah naik kelas dari kelas empat sekolah dasar dan keluarganya ini, dalam masa produksinya telah memperkerjakan 36 penulis yang alumnus The Harvard Lampoon tadi.


Humor dipandang rendah. “Humor is serious, not just funny.” Itulah judul artikel almarhum Arwah Setiawan dan Bambang Utomo di koran The Jakarta Post (14/9/1992). Humor memang serius, tidak hanya jenaka. Dengan merujuk nama-nama alumnus pengelola majalah komedi sebuah universitas tersohor di dunia, juga kiprah spektakuler dan kreasi mereka setelah kelulusannya, mungkin kita dapat terinspirasi untuk membuka diskusi tentang bagaimana dunia kepenulisan humor itu, misalnya, bisa ditumbuh kembangkan di kampus-kampus kita.

Dengan mengambil contoh ranah komedi solo, Woody Allen menyatakan bahwa “ultimately, the success of stand-up comic is often determined by his material.” Material itu tidak lain adalah naskah. Begitu pentingnya naskah, tentu saja juga para penulisnya, kita dapat bercermin ketika hampir sepuluh minggu, dari 5 November 2007 hingga 8 Januari 2008 para penulis naskah program dunia hiburan Amerika Serikat melakukan pemogokan secara besar-besaran.

Mereka tergabung dalam organisasi penulis Writers Guild of America, East (WGAE) dan Writers Guild of America, West (WGAW). Kedua organisasi itu yang menghimpun sampai 12.000 anggota merupakan serikat pekerja yang mewakili para penulis untuk film, televisi dan radio yang berkarya di Amerika Serikat. Mereka melakukan pemogokan untuk melawan kebijakan dari Alliance of Motion Picture and Television Producers (AMPTP), organisasi dagang yang mewakili interes para produser film dan acara televisi Amerika Serikat. Isu pokok sengketa mereka adalah menyangkut pembayaran royalti bagi para penulis naskah untuk program-program yang ditayangkan di pelbagai media baru, yaitu media digital, utamanya di Internet.

Karuan saja saat itu dunia televisi Amerika Serikat menjadi kalang kabut. "Writers strike to hit TV first - and hard", tulis koran The Salt Lake Tribune (4/11/2007). Apalagi banyak kaum selebritis yang ikut mendukung mereka sebagaimana ungkap harian USA Today (9/11/2007) : “More celebs show solidarity at writers' picket lines.” Ketika terjadi pemogokan sebelumnya di tahun 1988 yang berlangsung hampir 22 minggu, telah mengakibatkan dunia industri hiburan Amerika Serikat merugi yang diperkirakan mencapai 500 juta dollar.

Mengomentari peristiwa itu, komedian David Letterman mengeluh bahwa tanpa penulis naskah dirinya ibarat Roger Clemens tanpa doping hormon pertumbuhan manusia. Roger Clemens adalah atlet bisbol yang saat itu bikin heboh karena tertangkap menggunakan hormon untuk meningkatkan prestasinya.

Tapi Letterman dalam menanggapi pemogokan itu juga sempat menyodok George W. Bush, sang sumber kaya untuk olok-olok. Ia katakan, para penulis naskah itu sebenarnya hanya punya dua tuntutan : mendapat royalti ketika karya kreatifnya ditayangkan di Internet dan menuntut agar George W. Bush memangku jabatannya empat tahun lagi !

Komedian yang juga alumnus THL, lulus dengan magna cum laude dari Harvard 1985 dengan konsentrasi Sejarah dan Sastra, Conan O’Brien, ketika memandu acaranya Late Night with Conan O'Brien tampil beda. Ia membiarkan brewoknya tumbuh lebat. “Dalam sepanjang hidup saya, saya tak pernah memelihara brewok saya. Kini saya menumbuhkannya sebagai tanda solidaritas kepada para penulis naskah dan sekaligus untuk menunjukkan kejantanan saya. Dua burung dengan satu lemparan batu !,” candanya.

Lain di Amerika, lain pula di negara tercinta kita. “Merujuk pentingnya fungsi humor, sungguh aneh bila humor tidak menjadi kajian yang serius di Indonesia. Bila di Barat humor atau komedi telah menjadi objek kajian sejak jaman Plato, sebaliknya bangsa Indonesia cenderung meremehkannya dan hanya memandangnya sebagai trivia, remeh-temeh belaka,” keluh Arwah Setiawan dan Bambang Utomo lima belas tahun lalu itu. Bagaimana potret aktualnya masa kini ?

Kita Mabuk Komedi. Potret nyata perlakuan dunia intelektual sampai dunia industri hiburan kita terhadap humor atau komedi sebagai hal yang remeh-temeh, mungkin dapat tercermin ketika menghidupkan pesawat televisi Anda. Tayangan komedi kita sebagian besar adalah komedi kasar, slapstick atau riddle, tebak-tebakan.

Sekadar contoh, Kelik Pelipur Lara dalam acara Dunia Dalam Ketawa (Antv), seolah ia sebagai penyiar bertanya kepada temannya : “Mengapa babi bau ?” Temannya menjawab, karena babi suka hidup di habitat yang kotor. Kelik lalu membuat jawaban yang rasa ia benar : “Karena babi mempunyai ketek empat, jadi sangat bau.” Penonton memang boleh tertawa. Tetapi kita tahu, itulah bentuk dari low comedy. Tebak-tebakan adalah lelucon untuk anak-anak.

Gambaran lain dari tayangan komedi kita di layar kaca kita bisa membaca komentar wartawan Kompas Budi Suwarna dan Susi Ivvaty (21/12/2008). Keduanya sempat menulis mengenai acara Empat Mata, kini Bukan Empat Mata : “Dari dulu begitu-begitu saja. Guyonan Tukul Arwana tidak banyak berubah selama 2,5 tahun membawakan acara tersebut.”

Pada laporannya yang terbaru berjudul “Menonton Komedi Sampai Mabuk” (11/1/2009), Budi Suwarna menulis mengenai acara komedi yang saat ini menjadi prima dona acara di televisi kita. Konon karena masyarakat saat ini sedang jenuh terhadap isu-isu politik dan dirundung stres akibat terjepit tekanan ekonomi, maka mereka mencari penghiburan lewat acara-acara komedi di televisi. “Itu sebabnya mereka merespons acara-acara komedi yang ringan dan bisa membuat mereka tertawa,” kata Zoraya Perucha dari Antv yang dikutip dalam laporan itu.

Akibatnya, ragam tontonan di televisi memang kian mengarah kepada hiburan semata. Apa pun acaranya, sebagian besar dikemas dalam bentuk ringan dan diasumsikan dapat menghibur penonton. “Talk show politik pun,” catat Budi Suwarna lebih lanjut, “kini, dikemas sedemikian cairnya hingga mendekati panggung lawak.

Alih-alih memberikan informasi yang berharga dan menjelaskan duduk perkara, talk show semacam itu justru menyajikan sederet kekonyolan. Para pengelola televisi beralasan, penonton sekarang kebanyakan tidak mau berpikir terlalu ruwet ketika menonton televisi. Karena itu televisi memberikan tontonan ringan.”

Premis pengelola televisi itu memang tidak dapat disalahkan. Ketika menonton televisi memang telah terjadi perubahan gelombang dalam otak kita : menurunnya gelombang cepat yang merupakan karakteristik aktivitas berpikir dan meningkatkan jumlah gelombang lemah yang merupakan karakteristik keadaan yang santai. Itulah sebabnya mengapa menonton televisi membuat kita santai, karena otak kita benar-benar dalam kondisi padam.

Liur anjing Pavlov. Menurut kajian Fred Emery dan Merrelyn Emery dalam bukunya A Choice of Futures: To Enlighten or Inform (1976), kondisi merasa santai bagi pemirsa itu menjadikan televisi sebagai kendaraan penyampai iklan yang efektif. Citra-citra dan pesan itu memasuki otak tanpa diproses, tidak dapat diingat kembali, tetapi dapat dikenali, misalnya ketika sang pemirsa itu berada di pasar swalayan.

Kajian ini mungkin memperkuat isi tulisan saya sebelumnya, betapa penonton tayangan komedi kita telah mengalami metamorfosis sehingga perangainya mirip sebagai “anjing Pavlov.” Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : begitu tombol televisi dinyalakan, otak kita pun padam, sehingga yang memandu kita selanjutnya adalah bunyi bel yang membuat anjing-anjing dalam eksperimen Dr. Pavlov itu mengeluarkan air liur masing-masing.

Bunyi bel itu bisa berupa kata-kata “kembali ke laptop”-nya Tukul Arwana. Atau apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, yang tanpa perlu dikaji benar atau salah secara moral, atau berdasar pertimbangan akal sehat, maka refleks otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan kompak bertepuk tangan.

A mob is a group of people with heads, but no brains.

Jadi tidak penting lagi apakah audiens itu punya latar belakang sebagai anggota partai politik, mereka yang dari pakaiannya nampak sebagai umat yang taat beribadah atau pun anak-anak muda yang mengenakan jaket alma maternya, perilaku mereka sebagai gerombolan hampir identik ketika tampil sebagai audiens dalam sesuatu acara komedi dan bahkan juga acara non-komedi di layar kaca kita.


Otak mahasiswa tercecer. Olah kreativitas komedi di Indonesia masih berpeluang diselamatkan masa depannya, dengan mengeksploitasi kedahyatan media-media baru berbasis digital. Seorang Barack Obama bisa meraih kursi Gedung Putih antara lain berkat bantuan situs berbagi video YouTube.com, bahkan ia memerintah kini dengan tetap mengandalkan media yang sama untuk meraih rakyat.

Ide serupa a la Obama itu sudah saya sosialisasikan sebagai gerakan komedi indie sejak saya gagal di audisi API-4. Gagasan itu muncul setelah mengkaji pula sistem perekrutan model API yang nyatanya tidak begitu menjanjikan untuk kemajuan dunia komedi Indonesia. Media mainstream seperti televisi memang memiliki agenda tersendiri, mengejar rating dan iklan, dimana hal itu selalu tidak kompatibel dengan aspirasi baru di dunia komedi. Insan-insan cerdas dari dunia komedi Indonesia harus menempuh jalan alternatif. Jalan baru sesuai tuntutan jaman. Jalan digital. Keampuhan situs YouTube.com menanti mereka manfaatkan secara sepenuh daya untuk pengembangan talenta-talenta baru komedi Indonesia.

“Jangan hanya jadi konsumen industri kreatif.” Itulah kepala berita di harian Kompas (11/12/2008) yang melaporkan seminar bertajuk “Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai Paradigma Keilmuan” yang dilangsungkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sumber daya manusia Indonesia harus juga menjadi produsen industri kreatif. Salah satu nara sumber, Sapardi Djoko Damono, mengatakan bahwa kultur bangsa-bangsa mengarah kepada kultur urban yang ditandai antara lain dengan kreativitas. Kreativitas dan bakat itu dapat dikembangkan. Perguruan tinggi, dalam hal ini Fakultas Ilmu Budaya, menjadi salah satu tempatnya.

Sebagai alumnus fakultas yang sama, saya berharap komedi ikut pula memperoleh porsi yang memadai untuk dikembangkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut. Minimal, dengan merintis penerbitan atau situs yang visi-misinya kurang lebih mirip dengan penerbitan The Harvard Lampoon dari Universitas Harvard itu. Imbauan ini juga berlaku untuk perguruan tinggi lainnya. Termasuk perguruan tinggi yang mahasiswanya suka tawuran, siapa tahu pengembangan seni berkomedi akan mengubah paradigma pikir dan perilaku mereka. Bahwa adu olok-olok lebih berbudaya daripada adu golok.

Kita pun berharap mereka akan terilhami oleh kata-kata John Updike, yang meninggal dunia ketika tulisan ini dipersiapkan, 27 Januari 2009 dalam usia 76 tahun, bahwa kelulusan dari bangku kuliah telah memberinya berkah, berupa “gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.” Bila hal vital itu tidak terjadi, maka tragedilah yang akan terjadi, seperti diceritakan dalam lelucon model Harvard di bawah ini.

Saya kutipkan dari bukunya wartawan brilyan majalah Fortune, Thomas A. Stewart, yang berjudul Intellectual Capital : The New Wealth of Organization (1997). Tentang rektor Universitas Harvard yang menjabat tahun 1909-1933, Abbott Lawrence Lowell. Suatu hari ada seorang tamu yang bertanya di kampusnya, “Bagaimana sedemikian banyak pengetahuan dapat terkumpul di hulu Sungai Charles ini, Tuan Lowell ?”

Lowell menjawab : “Oh, sangat sederhana. Setiap tahun kami menerima pemuda yang paling brilyan di Amerika” – pada masa itu hampir semuanya pemuda, dan hampir semuanya orang Amerika-- dan ketika mereka diwisuda empat tahun kemudian, mereka hampir semuanya tidak tahu dan tidak peduli apa-apa. Jadi, pasti mereka meninggalkan ilmu dan pengetahuannya di sini.”


Wonogiri, 4/1-7/2/2009


ke

Monday, December 01, 2008

Idea Driven Jokes, Anjing Pavlov dan Bangsa Pelupa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Humor Hillary. Pilpres AS 2008 sangat kaya sebagai ladang humor. Tina Daunt dalam artikelnya berjudul “Candidates show they can take a joke” di Los Angeles Times (11/4/ 2008) bahkan menulis, “Inilah pilpres dimana politik sebagai lelucon. Atau barangkali kampanye dimana politik menemukan selera humornya.”

Realitasnya, humor memang tidak hanya menjadi hiburan semata. Humor bahkan menjadi senjata utama dalam pemenangan pilpres 2008 ini pula. Tina Daunt menyebutkan, jarang ada waktu lowong tiap minggunya bagi kandidat yang bertarung untuk tidak muncul dalam salah satu acara komedi di jaringan televisi atau televisi kabel di Amerika Serikat.

Sekedar contoh adalah Hillary Clinton. Kandidat kuat dari Partai Demokrat yang ternyata kemudian dikalahkan oleh Barack Obama, kita tahu, pernah mengaku berbohong tentang peristiwa kunjungannya ke bandara Sarajevo. Saat itu ia mengaku dirinya harus merunduk dan berlari demi menghindari tembakan para penembak jitu.

Ketika hadir dalam acara The Tonight Show with Jay Leno, istri mantan presiden AS itu berujar : “Saya bersyukur mampu sampai di studio ini.” Senator Demokrat dari New York itu ketika tiba di studionya Jay Leno di Burbank, Los Angeles awal April 2008 lalu menambahkan, “Anda tahu, saya kuatir tidak bisa sampai di sini. Karena diri saya terancam para penembak jitu.” Jay Leno menimpali : “Kalau di Los Angeles sini, hal itu memang benar-benar bisa terjadi.”

Ah, Hillary. Seorang politikus ulung yang mampu meledeki dirinya sendiri. Termasuk ketika posisinya terpojok, terlindas popularitasnya Obama. Pada acara debat di St Anselm’s College (5/1/2008) dirinya dicecar pertanyaan, “mengapa orang-orang tampaknya lebih menyukai Obama ?” Hillary menjawab, “itu menyakiti perasaan saya.” Jawaban jujur itu mampu mengundang riuh tawa. Lanjutnya, “Tetapi saya tetap terus maju. Dia (Obama) memang mudah disukai. Namun saya kira, saya tidak terlalu buruk.”

Semangatnya untuk terus maju, mantan ibu negara yang belasan kali juga diolok barisan komedian AS karena getolnya ia berpantalon, kemudian jadi bulan-bulanan komedian Andy Borowitz. Konon, Hillary akan terus bertahan selama ratusan tahun dan milyaran tahun, untuk memenangkan kursi presiden AS. Bahkan untuk meraih kemenangan dalam kampanyenya, Hillary Clinton telah mengeluarkan peranti lunak baru berlabel Hillary 8.0.

Dalam kampanye di Chicago, peranti lunak itu ia katakan sebagai penanda kemenangannya di tahun 08. “Peranti lunak ini akan menampilkan Hillary yang terbaik dari segala apa pun yang Anda harapkan darinya,” tutur ibu dari Chelses Clinton itu. Peranti lunak yang kompatibel untuk PC dan Mac itu memungkinkan pendukungnya merancang sosok Hillary Clinton berdasar versi tiap-tiap pengguna. Karena memang telah tersedia 57.000 posisi Hillary yang terkait beragam program atau isu, dari masalah kesehatan, masalah imigrasi sampai topik perang di Irak.

Sayangnya, peranti lunak itu tidak sepi dari cacat teknis. Ketika diinstal, banyak komputer mengalami crash.. Macet. Kebanyakan karena komputer-komputer itu tidak cukup memori untuk memuat semua posisi Hillary tersebut. Walau pun demikian, pembantu dekat nyonya Clinton ini menyatakan bahwa gangguan teknis itu tetap bermanfaat bagi Hillary. “Rata-rata orang Amerika memang tidak memiliki memori cukup, dan itulah yang sebenarnya diandalkan Hillary meraih kemenangan.”


Menggertak otak. Bagaimana lelucon tentang Obama ? Naiknya warga kulit hitam pertama AS yang juga pernah bersekolah di Jakarta sebagai presiden baru negara adi daya itu, anehnya, tidak semua kalangan menyukainya. Fihak pertama yang meratapi naiknya Obama justru datang dari kalangan komedian Amerika Serikat.

“Jujur saja, sebagai komedian saya merasa kehilangan besar dengan lengsernya Bush,” keluh komedian Jay Leno. “Sebab Barack Obama tidak mudah dijadikan bulan-bulanan lelucon. Ia tidak membuka peluang bagi kita untuk melucukannya. Terima kasih Tuhan, kau anugerahkan sekarang pengganti Bush : seorang Joe Biden bagi kita semua.”

Iklan besar-besaran sebagai senjata pamungkas Obama menjelang pilpres juga jadi sasaran olok-olokan komedian Bill Maher. Tetapi arah tembakannya ke sasaran lain. “Berapa banyak Anda telah menyaksikan iklan televisi besar-besaran Obama minggu ini ? Iklannya tertayang di tujuh stasiun televisi sehingga kita tak bisa menghindarinya. Yang paling menarik, pada iklan sepanjang setengah jam itu Obama sama sekali tidak menyebut nama McCain, tak pernah menyebut nama Palin, tidak pernah menyebut nama George Bush. Atau dalam bahasa Shakespeare : histori, komedi, dan tragedi !”

McCain yang tua, disebut histori. Sarah Palin yang sering melakukan blunder itu didaulat dengan label komedi. George W. Bush yang merusak Amerika dan dunia dijuluki secara tepat sebagai biang tragedi.

Saya suka lelucon cerdas Bill Maher yang satu ini. Kalau saja saya tidak diberi hadiah buku-buku komedi dari Danny Septriadi, saya tidak tahu adanya penggolongan terhadap lelucon a la Jay Leno, Andy Borowitz dan Bill Maher semacam ini. Dalam buku berjudul Zen and the Art of Stand-Up Comedy (1998), Jay Sankey membedah perbedaan antara lelucon berbasis ide dan lelucon lainnya yang berbasis pengalaman.

“Lelucon mengenai pemikiran yang asing, yang menyeruak di kepala Anda, merupakan idea driven, lelucon berbasis ide atau gagasan. Lelucon ini mengharuskan audiens memeras imajinasi mereka. Sementara itu lelucon menceritakan pengalaman Anda pergi ke bioskop atau menghadiri hajat penganten, merupakan experience driven, lelucon berbasis pengalaman. Dalam lelucon ini mensyaratkan audiens merujuk pengalaman diri mereka sendiri, yaitu pengalaman pribadinya terhadap peristiwa yang sama,” jelas Jay Sankey. Lelucon jenis yang kedua lebih mudah memicu tawa ketimbang lelucon jenis yang pertama.

Ranjau salah medan. Untuk mendalami seluk-beluk lelucon jenis pertama, saya akan mengutip pendapat seorang blogger “dEHA” yang menulis komentar di blog saya ini pula : “Saya penggemar stand-up comedy berbagai rupa, yang intelek maupun yang cuma jorok-jorok. Pertama kali saya kenal stand-up adalah waktu nonton video lamanya Eddie Murphy (yang termasuk kategori jorok2 itu tadi hehe) waktu saya di Australia.

Setelah itu sempet nonton beberapa show di tivi sana, dan ngerasa ini style komedi intelek banget, nggak cuma kelakuan minus kayak Tukul atau dasi pendek seperti yang Anda sebut. Salut banget bisa membahas komedi dengan sangat serius, jangan patah semangat karena 'gagal' di API, toh kalau nongol di tivi penontonnya nggak akan ngerti karena segmen yang nonton masih lebih suka lihat slapstick dan komedi keroyokan yang biasa kita lihat.”

Sebelumnya, di blognya ia menulis : "Komedikus Erektus blog (komedian.blogspot.com) is by a guy very seriously wanting to lift Indonesian comedy by introducing standup comedy, complete with his theoretical analysis of great comedians and even Judy Carter writings. He even attempted performing his own act for a comedian competition, although failing really badly (not because he was not funny, but because the judges don't get his solo act, ouch). Mas Bambang, I salute you!"

Terima kasih, “dEHA.” Pelajaran dari Jay Sankey dan tuturan “dEHA” tadi membuka mata saya untuk makin jelas dalam berintrospeksi. Utamanya ketika mengais latar belakang sampai alasan mengapa saya gagal dalam audisi di API-4 yang lalu itu.

Saat itu saya melucukan judul blognya pemain biola cantik Maylaffaiza, heboh asmara Bambang Tri-Halimah-Mayangsari, sakitnya Pak Harto, juga terkait fenomena topik selebritas-politikus versus politikus-selebritas di Indonesia saat itu. Ranjau salah medan telah mem-bom diri saya habis-habisan. Di bawah ini adalah set atau naskah komedi yang saya bawakan saat itu :

“Saya main biola, seperti saya bermain cinta.” Kata pemain biola solo yang cantik dan seksi Maylaffayza di situsnya : maylaffayza.multiply.com.

Saya menyukai Maylaffayza. Ia cantik, seksi, berbakat dan intelektual. Tetapi ketika saya ikuti kata-katanya, akibatnya fatal. Saya kesulitan cari posisi enak. Orgasme pun tidak. Biola itu rusak, berantakan semuanya.

Maylaffayza mungkin lupa, kini selebritis adalah trend-setter. Panutan gaya hidup. Bahkan politisi pun bergaya selebritis. Yusril dan Syaifullah Yusuf, mantan menteri, bermain film. Presiden SBY menelorkan album musik. Anggota DPR main video, bersama Maria Eva.

Kini memang era emasnya para pesohor, para selebritis. Pintu-pintu peluang seolah terbuka bagi mereka untuk BISA MASUK kemana saja. Bintang sinetron Rano Karno, MASUK POLITIK, terpilih jadi Wakil Bupati Tangerang. Bintang sinetron Aji Massaid MASUK Partai Demokrat, jadi anggota DPR. Bintang sinetron Roy Martin, MASUK penjara.

Menjadi selebritis juga mampu membuka pintu-pintu istana. Anissa Pohan jadi menantu Presiden SBY. Lulu Tobing jadi cucu menantu mantan Presiden Soeharto Infotainment mengabarkan artis Revalina Temat kini dekat dengan cucu mantan Presiden Soeharto, Panji Trihatmojo.

Oh, Revalina yang malang. Apa ia tidak tahu kalau Panji Trihatmojo itu sangat membenci selebritis ? Terutama selebritis bernama Mayanksari.

Begitulah, ratusan jam tayangan infotainment setiap minggunya telah membesarkan para selebrities itu. Persaingan antarstasiun yang keras. Begitu kerasnya persaingan, awak TV kini pun mencoba inovasi-inovasi baru : tayangan infotainment dipadu info kedokteran yang canggih, intrik dan perseteruan keluarga yang sengit, dibumbui nuansa-nuansa politik.

Ramuan dahsyat ini bakal terjadi bila Halimah Trihatmojo membezoek Pak Harto, ketemu Bambang Trihatmojo yang disertai Mayangsari. Big news. Big news. Big News.


Bukan untuk TPI. Terkait penampilan saya itu, salah satu dari tiga juri seleksi yang menghakimi saya, Ali Mahmudin (produser API-1 dan API-2) telah berbaik hati menulis komentar di blog saya ini : “Barang kali saya adalah salah satu juri yang tidak meloloskan Mas Bambang di audisi API-4. Terus terang lawakan Mas Bambang bukan berarti tidak berkualitas, tetapi memang saat dibawakan waktu itu tidak lucu (versi kami).

Namun ketika Mas Bambang tampil dihadapan kami (aku berusaha untuk mengerti semua isi lawakan Mas Bambang) ternyata aku secara pribadi melihat isi materi tersebut penuh satir. Dan menurut saya lawakan yang semacam itu memang bukan untuk kalangan penonton TPI.

Itulah sebabnya kami belum bisa merekomendasikan lolos untuk masuk babak berikutnya. Akan tetapi saya pribadi sangat hormat dengan ketajaman Mas Bambang melihat kekinian menjadi topik lawakan Audisi API-4.”

Terima kasih, Mas Ali. Terima kasih Harris dan juga Isman untuk komentar Anda.

Senjata buat Tamara. Masih tentang acara komedi di stasiun televisi lainnya, saya juga gagal sebelumnya. Yaitu ketika diundang untuk tampil di Republik Mimpi, September 2006. Saat itu kreator NewsDotcom-Republik Mimpi, Effendi Gazali, meminta saya untuk menjadi peserta acaranya itu secara in absentia. Tidak tampil di depan kamera, tetapi hadir lewat suara, melalui kontak telepon. Ia telah menetapkan topik mengenai layanan publik. Saya pun kemudian mengirimkan materi yang ia minta sebagai berikut :

“Layanan publik adalah layanan yang diberikan negara untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya, berlandaskan alasan moral bahwa kebutuhan universal mereka harus terpenuhi, bahkan sering dikaitkan dengan hak-hak asasi manusia mereka. Misalnya penyediaan air bersih.

Layanan publik di negara modern meliputi pendidikan, layanan air bersih, kesehatan, transportasi, listrik dan gas (kayaknya mau naik lagi TDL-nya), penyiaran dan komunikasi, manajemen pengolahan limbah (di negara tetangga baru saja terjadi tragedi di Bantargebang), pemadam kebakaran (di negara tetangga, mereka tak berdaya di Sumatera dan Kalimantan), sampai layanan keamanan yang diemban oleh polisi (di negara tetangga, polisi lagi pusing gara-gara ditemukannya 9 karung senjata di jalan tol Kapuk).

Belum ada negara yang kreatif memenuhi kebutuhan warganya di luar tuntutan hak-hak asasi manusia. Misalnya, jasa pengeritingan rambut atau jasa rebounding yang disediakan negara. Atau jasa tato tubuh oleh negara. Maukah para mahasiswa di sini, tubuhnya ditato dengan gambar burung...Garuda Pancasila ?

Bagaimana potret kualitas layanan publik di negeri tetangga ? Kalau saya boleh bilang, sudah sangat-sangat bagus sekali. Dalam arti, PERTAMA : para rakyat kecil telah bagus sekali memberikan pelayanan kepada penguasa dan kemauan para pengusaha.

Tragedi dan bencana lumpur panas di Porong telah diterima oleh rakyat kecil dengan sabar, hingga hampir empat bulan kemudian baru pemerintah turun tangan. Ada yang bilang, kalau proyek pemboran itu milik orang kecil, pasti sudah ditutup sejak dini oleh pemerintah. Saya bilang, kalau orang kecil ya pasti tidak mampu memiliki usaha pemboran !

Contoh orang kecil tanpa pamrih melayani penguasa, juga pemerintah, dapat diteladani dari sosok Pak Wasa. Anda tahu, Pak Wasa ? Dia adalah pemulung yang menemukan 12 senjata api, belasan magazen dan ribuan amunisi di tepi sungai Tanjungan, pinggir jalan tol Kapuk KM 27 (arah Bandara Soekarno Hatta) RW 02, Kapuk Muara, Jakarta Utara, Rabu (8/9) sore. Pak Wasa, melaporkan temuannya ini kepada polisi. (Dari topik ini dapat dikreasi belasan lelucon, di bawah ini saya sertakan beberapa di antaranya-BH).

Bayangkan bila Pak Wasa itu bukan warga negara yang jujur. Bagaimana kalau senjata-senjata itu ia ambil ? Lalu ia tenteng-tenteng ? Wow, seorang pemulung kemana-mana membawa-bawa AK-47 atau pistol Smith & Wesson ?

Bagaimana pula kalau senjata-senjata itu ia serahkan kepada Hambali ? :-) Engga mungkin ya, pemulung kok bisa naik pesawat hingga sampai di Guantanamo, Kuba.

Bagaimana kalau senjata-senjata itu diserahkan kepada pelawak Parto Patrio ?:-) (Catatan BH : Moga-moga audiens “ngeh” dan masih ingat insiden Parto Patrio yang pernah meletuskan senjata ketika diuber-uber kru infotainment). Siapa tahu, Parto berniat meng-update koleksi senjatanya.

Ikhtiar saya ikut mengisi acara parodi politik secara in absentia itu gagal. Karena slot waktunya, menurut Effendi Gazali, terpaksa terpakai untuk menampung uneg-uneg para pamong praja dari seluruh Indonesia, dipimpin Sudir Santoso, yang saat itu berjumlah ribuan orang sedang berdemo, mengadukan nasibnya di Depdagri di Jakarta. Saya bisa mengerti.


Idea driven jokes. Walau pun menuai gagal dan gagal, seperti cerita kecil di atas, aktivitas mengkreasi lelucon berbasis ide itu tetap saja mengusik pikiran saya setiap saat. Satu persatu, bila ia muncul, saya dokumentasikan di bloknot atau di katalog. Siapa tahu kelak bisa saya munculkan di situs YouTube ?

Yang pasti, lelucon semacam ini memang tidak mudah dikreasi. Juga tidak mudah difahami. Membujuk, mengantar atau sampai memaksa audiens untuk merentangkan imajinasi mereka, bukan persoalan mudah. Itulah alasan mengapa Presiden SBY pernah marah sampai dua kali karena audiensnya ngobrol sendiri atau malah tertidur ketika ia sedang berpidato.

Kalau Anda agak jeli mengikuti tayangan beragam parodi politik di televisi, dari Republik Mimpi, Negeri Impian, Democrazy sampai Kabaret, materi yang diluncurkan untuk sengaja memancing tawa seringkali justru TIDAK TERKAIT dengan materi utama pembicaraan. Lelucon-lelucon yang disambut tawa di layar tivi itu merupakan lelucon biasa-biasa saja. Bahkan klise. Mudah ditebak. Padahal ”no surprise, no laughter !,” ini rumus lawakan universal yang diungkapkan Danny Septriadi.

Acara itu akhirnya sering nyaris jadi adegan badut-badutan semata. Lawakannya, menurut Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-Sized Book of Comedy (1999), berada pada tingkat keenam atau ketujuh. Alias kasta paling rendah dalam kiprah kreativitas mengundang tawa.


Anjing Pavlov dan kita. Acara-acara parodi itu, juga acara komedi sketsa lainnya, menjadi terdengar dan terlihat riuh rendah semata karena gelontoran eksesif saus tawa kalengan, canned laughter atau laugh track, yang dimanipulasikan si kreator acara. Itulah excuse atau justru senjata pamungkas para kreator komedi kita yang belum mampu merentang imajinasi pemirsanya. Bahkan manipulasi itu sampai-sampai mengancam tergerusnya akal sehat dan nurani, suara hati bangsa.

Terus terang, saya bukan penonton setia acara beragam komedi di tivi yang dibintangi Effendi Gazali, Iwel Well dan Kelik Sumaryoto, Butet Kartaredjasa dan awak Teater Koma sampai Tukul Arwana itu. Sehingga saya terperanjat menyimaki isi surat pembaca yang ditulis Ali Farkan (Semarang) yang dimuat di Suara Merdeka, 28/11/2008 : M.

Ia menceritakan hadirnya bintang tamu dalam salah satu acara bernuansa komedi populer di televisi. Bintang tamu itu mengaku sebagai mantan pembunuh bayaran yang sudah insaf. Ketika menceritakan bahwa dirinya pernah membunuh sampai 7 orang, spontan ia mendapatkan tepuk tangan dari penonton. “Bagaimana kualitas penonton untuk memahami mana prestasi baik dan buruk ?,” gugat Ali Farkan. Itulah Indonesia. Itulah tayangan televisi kita. Itulah potret wajah tanpa nurani dari bangsa Indonesia.

Buraian tawa-tawa kalengan di televisi kita itu mudah mengingatkan tesis mengenai anjing-anjing Pavlov. Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : apakah penonton komedi di televisi kita, berdasar keluhan Ali Farkan di atas, telah berperilaku tak ubahnya satwa-satwa yang menjadi kajian Pavlov tadi ? Apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, tanpa dikaji benar atau salah secara moral, refleksi otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan bertepuk tangan ? Absurd. Televisi memang menumpulkan.

”Television brought the brutality of war into the comfort of the living room.”, imbuh nabi media, Marshall Mc Luhan (1911-1980). Televisi menyajikan brutalitas peperangan ke dalam ruang tamu keluarga yang nyaman. Itu pendapatnya ketika berkecamuknya Perang Vietnam. Kenyamanan itu bisa berakibat menumpulkan nurani, di mana kebrutalan perang dan korban-korban yang tewas cenderung diperkerdil hanya sebagai objek hiburan belaka.

Di Indonesia, mungkin lebih mengerikan lagi. Brutalitas bahkan juga tersaji dalam acara komedi. Adegan makan kodok hidup-hidup dijadikan sebagai hiburan. Atau menampilkan seorang kanibal dan pembunuh bayaran sebagai hero. Semuanya ditujukan semata untuk mengundang tawa. Pantas saja, mengapa rentetan kejadian pembunuhan dengan mutilasi, kini semakin sering terjadi. Mungkin pelakunya sambil tertawa-tawa ketika sedang menjalankan aksi sadisnya.

Akar tunjangnya, barangkali, karena di Indonesia ini orang langka memiliki tradisi menulis. Termasuk di kalangan komunitas komedi kita. Akhirnya bangsa ini menjadi sangat mudah lupa. Orang-orang Indonesia menjadi sangat pendek ingatannya. Padahal kita tahu, bangsa yang memorinya buruk menjadi makanan empuk bagi politikus busuk.


Mereka yang pernah korupsi uang rakyat dalam jumlah gila-gilaan, membunuhi rakyat, menembaki dan menculik mahasiswa, meracun aktivis HAM, atau bahkan mengebom orang, justru di televisi mereka-mereka itu kita beri tepuk tangan. Kita elu-elukan. Bahkan ada yang sampai dijadikan sebagai vote getter dengan melabelinya sebagai bapak bangsa, sebagai pahlawan.

Indonesia kini dalam bahasa Shakespeare adalah : tragedi, tragedi dan tragedi !


Wonogiri, 20-30/11/2008


ke

Saturday, November 01, 2008

Humor Fakta - Fakta Humor

Oleh : Danny Septriadi dan Darminto M. Sudarmo


Pengantar : Dua kepala lebih bagus daripada satu kepala. Dalam dunia komedi dikenal istilah comedy buddy, mitra komedi untuk berbagi gagasan dan umpan balik dalam membangun dan merampungkan naskah-naskah lawakan yang lebih bertenaga memancing tawa.

Saya beruntung memiliki mitra baru seperti itu, namanya Danny Septriadi (foto), dalam berbagi gagasan dan informasi yang bertujuan ikut memajukan dunia komedi Indonesia. Berikut adalah tulisan yang pernah ia buat tahun 2002/2003 mengenai humor bersama Darminto M.Sudarmo, nama tokoh pemerhati dan penulis komedi terkenal di Indonesia. Apakah Anda juga memiliki niat mulia seperti dirinya ? Saya dengan senang hati bersedia memajang sumbangsih Anda di blog saya ini. Saya tunggu. Selamat menikmati ! (BH)


Rasa humor (sense of humor) sedikitnya menuntut tiga prasyarat kecakapan penikmatnya; yakni, kecakapan untuk melihat, mengakui dan menerima fakta sebagaimana adanya. Memiliki rasa humor dapat menjernihkan pikiran dan memberikan kebebasan untuk menyikapi fakta yang ada. Kecakapan tersebut dapat digunakan untuk mermbantu pengambilan keputusan yang dapat diterima oleh akal sehat. (Gene Perret, Business Humor: Jokes & How to Deliver Them).

SEBUAH berita yang tak jelas porsi fakta dan opininya, dapat membuat orang bingung dan sesat persepsi. Tetapi humor, lain. Humor boleh lahir dari fakta – disebut humor tak sengaja; dapat pula lahir dari opini (kreasi) – disebut humor sengaja. Mana yang lebih berharga, humor fakta atau humor opini? Keduanya sama-sama punya kans untuk berbobot atau tidak berbobot. Tergantung pada muatan nilai atau substansi yang ada di masing-masing humor atau lelucon tersebut. Lagi pula, visi dari berita dan humor sama sekali berbeda.

Sebagai contoh peristiwa yang pernah dituturkan orang dari mulut ke mulut dan konon benar-benar terjadi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tahun 1980-an; yakni tentang seorang bupati yang menjadi inspektur upacara pada peringatan hari besar tertentu, saat membaca teks Pancasila di atas podium, tiba-tiba terhenti beberapa saat di tengah jalan, gara-garanya sang ajudan salah memberi stof map. Seharusnya stof map berisi naskah Pancasila tetapi yang diberikan kepada sang bupati ternyata adalah lembaran daftar hadir.

Akibatnya bisa diduga, sang bupati berhenti di tengah jalan karena beliau tidak begitu hafal lima butir Pancasila yang sangat disakralkan itu. Bagi seorang pejabat tidak hafal Pancasila adalah persoalan serius. Apalagi di zaman rezim Orde Baru. Untunglah, pada saat yang kritis itu, protokol upacara segera menyadari situasi, ia segera berinisiatif menyambung kelanjutan bunyi teks Pancasila lewat pengeras suara secara runtut dan selamatlah upacara yang nyaris menggelincirkan citra sang bupati itu.


***

SYAHDAN, terkait dengan tema humor fakta atau fakta humor sebagaimana disebutkan di atas, Jaya Suprana pernah melontarkan humor yang konon berbasis pada fakta yang ada di lingkungan istana. Khususnya yang terkait dengan wartawan istana di era kepemimpinan Pak Harto dan Gus Dur.
Secara jenaka digambarkan, keadaan kontradiktif berkaitan dengan “sesajen” dan “uba rampe” yang diterima para wartawan istana kala itu. Yang pertama digambarkan sangat “meriah”, sedangkan yang kedua sangat “sepi” dari sesajen dan uba rampe.

Menurut pengakuan Jaya, lelucon ini cukup membuat para peserta yang hadir dalam acara peringatan Hari Pers Nasional yang diadakan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) ketawa tergelak-gelak, kendati ada sebagian wartawan/pemimpin redaksi yang menyambut lelucon itu dengan ketawa kecut. Buntutnya, setelah berita tentang acara tersebut dirilis harian ibukota, ada seorang wartawan TV yang menulis surat pembaca di koran ibukota tersebut dengan nada marah dan menganggap lelucon Jaya itu bernilai rendah.

***

Menurut penulis, munculnya persepsi seperti rekan wartawan TV itu sah-sah saja. Mungkin ia “dibakar” teman diskusinya. Mungkin ia tersinggung kok berani-beraninya membuat lelucon tentang wartawan yang sebenarnya rentan risiko. Mungkin ia belum pernah mendengar ungkapan bahwa besar kecilnya jiwa seseorang tergantung bagaimana ketika ia merespon sebuah kritik; khususnya kritik yang menyangkut dirinya, baik secara pribadi atau kolektif.

Tapi dalam pikiran saya, kemungkinan besar Jaya sudah terlalu jauh dan over estimated tentang wartawan kita. Dianggapnya semua wartawan Indonesia sudah berjiwa besar dan hanya ketawa ketika kepada mereka dilontarkan sebuah kritik yang rada-rada khas: berkaitan dengan amplop, misalnya. Jadi? Itu satu lagi fakta yang tak sengaja juga bernilai lelucon atau humor, di luar lelucon Jaya tentang fakta tadi.

Nilai humor? Emang ada humor bernilai selain ia sebagai hiburan semata? Nah, ngomong-ngomong soal humor mungkin menarik menyimak uraian Melvin Helitzer, pengarang buku Comedy Writing Secrets. Menurutnya, banyak orang yang salah kaprah tentang humor. Orang-orang beranggapan: humor harus lucu, menghibur dan menyenangkan.

Tapi bagi Helitzer, tidak selalu; persepsi kita secara naluri akan mengatakan bahwa humor itu sesuatu yang menyenangkan. Ternyata tidak. Humor adalah suatu kecaman atau kritik, yang terselubung sebagai hiburan, dan diarahkan kepada target yang spesifik. Ia berpendapat humor harus terdiri dari kebenaran (realism) dan sesuatu yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan (exaggeration).

Humor adalah upaya untuk mempertahankan suatu konsep yang tetap sehingga targetnya menguatkan kembali ide-ide, perilaku ataupun prasangka sekelompok orang. Jadi baginya, humor itu tidak adil. Humor akan mengambil sudut pandang yang berprasangka atau berat sebelah . Tidak ada ruang bagi humor untuk argumentasi balasan atau penjelasan. Seperti diuraikan H.L Mencken, “My business is diagnosis, not therapeutics.”

Robin Hemley di dalam bukunya How to Write Funny menguraikan bahwa rasa humor seseorang ditentukan oleh banyak faktor: umur, latar belakang sosial ekonomi, dan budaya. Seorang humoris yang baik memiliki kepekaan terhadap kekurangan dan kelemahan moral dari manusia. Apa yang dirasakan lucu oleh satu orang dapat membuat orang lain menjadi gusar.

George Bernard Shaw pernah menulis, jika kamu ingin mengatakan suatu kebenaran kepada seseorang, buat dia tertawa atau jika tidak, dia akan membunuh kamu. “Hampir semua lelucon yang baik menyatakan kebenaran yang tidak mengenakkan,” kata Larry Gelbart. Sid Caesar kemudian menambahkan bahwa komedi adalah suatu kebenaran yang dibelokkan. Di lain pihak, derajat dari fakta yang ada serta kesimpulannya dibesar-besarkan untuk menarik perhatian.

David Boichier, seorang penulis humor menambahkan bahwa kebenaran itu menyakitkan, dan dengan sangat mudah humoris dipersalahkan karena mengangkat masalah yang tidak diperkenankan tentang perbedaan ras, umur, jenis kelamin, berat badan dan lain sebagainya. Orang-orang menulis kepada saya setiap minggu dan berkomentar, “Betapa beraninya Anda membuat lelucon tentang supir taxi -- atau kolektor barang antik, atau tukang kebun, atau orang yang lebih tua, atau siapa saja.. Saya selalu menjawab dengan sopan bahwa saya tidak sedang berusaha untuk memperolok-olokkan mereka, tetapi hanya menunjukkan adanya suatu fakta yang tidak menyenangkan,” kisah David Boichier lebih lanjut.

Ya, itu semua kan pendapat mereka, para humoris atau intelektual humor dari barat. Karena humor itu medan kajiannya sangat luas tak terbatas, Anda juga berhak untuk membuat penelitian sendiri dan menemukan kesimpulannya berdasarkan fakta-fakta yang ada di negeri ini. Indonesia yang demikian beragam dan kaya kebuadayaan, bisa jadi punya cakupan persepsi yang khas tentang humor atau lelucon tersebut.

Tapi soal lelucon wartawan atau profesi pada umumnya, ada lho, lelucon mengenai profesi, dan sudah disebarkan secara luas melalui internet seperti yang ada di bawah ini. Tetapi tidak pernah ada yang melakukan komplain karena “There is no room in one joke for a balanced argument or explanation”.

Berikut contoh lelucon tentang seorang lawyer yang sangat sukses mengendarai mobil terbarunya yang sangat mewah -- malah untuk profesi ini ada pepatah “Maju tak gentar membela yang bayar”. Pada saat lawyer tersebut keluar dari mobilnya, tiba-tiba pintu mobil ditabrak oleh truk sehingga terlempar beberapa meter. Dengan cepat lawyer tersebut meminta bantuan polisi. Polisi kemudian datang guna memberikan bantuan dan menemukan lawyer tersebut sedang menangisi mobil mewahnya yang hancur.

Polisi itu kemudian berkata, “Sungguh serakah sekali Anda, sampai tidak menyadari salah satu tangan Anda putus saat ditabrak truk tadi.” Kemudian lawyer tersebut menangis lebih keras lagi dan berteriak: “Jam Rolex saya !!!???”

ke

Tuesday, April 15, 2008

Mr. Bean, Presiden SBY, dan Komedi Kalengan Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com




Khotbah vs komedi. Abin selalu berangkat lebih awal ke tempat peribadatan dibanding umat lainnya. Ketika ditanya mengapa hal itu ia lakukan, ia menjawab : dengan datang lebih awal memungkinkan dirinya leluasa memilih tempat duduk yang paling belakang.

Cerita di atas dapat saja Anda anggap sebagai lelucon. Tetapi dapat juga Anda nilai sebagai realita sehari-hari yang jujur. Karena senyatanya mendengarkan khotbah atau pun pidato merupakan peristiwa yang tidak selalu mengenakkan. Bahkan cenderung membosankan.

Bukankah kita punya kecenderungan untuk benci dinasehati, apalagi dikuliahi ? Seorang Thomas Fuller (1608-1661), sejarawan dan pengkhotbah, pernah mengatakan bahwa “perut membenci khotbah-khotbah yang berkepanjangan.”

Albert Einstein (1879–1955) ketika mengikuti pidato yang juga berkepanjangan dalam sebuah pesta perjamuan, ahli fisika legendaris dan penemu teori relativitas itu seperti dikutip koran The Washington Post (12/12/1978) pernah berujar jengkel : “Saya baru saja menemukan teori baru mengenai keabadian.”

Komedian Inggris, Rowan Atkinson ketika berperan sebagai Mr. Bean punya resep tersendiri melawan kebosanan di tengah khotbah. Dalam film pendek yang beberapa kali diputar ulang di stasiun TV kita pernah menyajikan adegan di mana Mr. Bean mengantuk berat hingga ulahnya merepotkan umat di sebelahnya. Padahal saat itu khotbah sedang dilangsungkan.

Khotbah juga jadi cerita tersendiri bagi komedian Afrika-Amerika yang semula Nasrani dan berpindah sebagai muslim, yaitu Bryant Reginald "Preacher" Moss (41). Dia yang sudah malang melintang sebagai penulis komedi untuk Saturday Night Live, Politically Incorrect, The George Lopez Show, punya cerita menarik tentang khotbah.

Utamanya, mengapa ia punya sebutan sebagai Preacher, sang pengkhotbah, bagi nama panggungnya sekarang ini ? Cerita Moss, ia mendapat nama itu dari teman-teman masa kecilnya sesama umat gereja ibunya. “Karena saat kecil itu saya sering menirukan pendeta yang memberikan khotbahnya secara jelek.”

Begitulah, mungkin saja akibat pengalaman masa kecilnya itulah yang memicu Moss ketika dewasa berusaha menyebarkan pesan-pesan luhur Islam tidak melalui jalur khotbah. Tetapi melalui jalur komedi. Pada tahun 2004 ketika umat Islam di Amerika Serikat mendapat perlakuan berbau rasisme yang kental sebagai buntut peristiwa 11 September 2001, ia menggagas tur komedi yang bertajuk (foto) “Allah Made Me Funny : The Official Muslim Comedy Tour.”

Antara lain bersama Azeem, juga komedian muslim keturunan India asal Chicago, Azhar Usman, Preacher Moss berkeliling AS untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama damai melalui komedi. Menurut pengalamannya, lawakan ternyata jauh lebih efektif dibanding khotbah dalam memberikan pemahaman tentang Islam, baik bagi warga non-muslim atau pun warga muslim sendiri. "Well, if anyone issues a fatwa, they can just get up and leave," simpul Preacher Moss.

Lawakan yang mereka luncurkan bahkan tidak jarang sengaja meledeki dirinya sendiri. Sebagai contoh adalah ulah komedian solo Azhar Usman yang lulusan fakultas hukum Universitas Minnesota. Ia berkeyakinan bahwa komedi merupakan bentuk komunikasi yang canggih untuk menghilangkan mitos-mitos dalam Islam dan sekaligus untuk melawan stereotip fihak luar terhadap Islam itu sendiri. Dalam salah satu sajian komedinya ia menirukan keluhan berat seorang warga Amerika Serikat yang baru saja berpindah agama dan menjadi muslim :

“Anda yakin semuanya ini disebut Islam ? Saya tidak boleh minum minuman beralkohol, saya tidak boleh dekat bergaul dengan cewek-cewek, bahkan saya tidak boleh makan sandwich yang ada daging babinya. Semuanya itu sebaiknya bukan disebut Islam, tetapi Is-hard !”

Sebagai muslim sekaligus warga Amerika, Azhar Usman pun berujar bahwa ia memiliki kebanggaan terhadap sikap patriotismenya yang tinggi. “Untuk negara dan bangsa saya Amerika, saya selalu siap berkorban dengan meledakkan perut saya .…di kedai Dunkin’s Donat,” ujarnya.

Berbeda dibanding khotbah, begitu Moss berkeyakinan, lawakan mampu mengajak audiens untuk berpikir, berperanserta dan terlibat dalam dialog dengan komedian bersangkutan. Moss memang tidak memilih cara penyampaian pesan dengan istilah memukul kepala audiensnya, melainkan memberikan peluang agar ide-idenya meresap melalui humor.

“Biarlah terjadi proses pematangan. Karena Anda tidak dapat memaksakan mereka untuk memikirkan sesuatu. Kalau pemaksaan yang terjadi, itu disebut komedi Gestapo,” tegasnya.

Menurutnya, ”banyak orang tidak mau mendengar khotbah-khotbah tentang kebenaran, tetapi mereka berpeluang mau mendengar kebenaran tersebut bila Anda mampu membuat mereka tertawa.”

Pendekatan Moss itu mendapatkan apresiasi. Misalnya, komedian George Lopez dari The George Lopez Show (NBC) berkomentar bahwa “Preacher Moss bukan hanya komedian bagi komunitas muslim, tetapi juga sebagai guru bagi dunia.” Darrell Hammond dari Saturday Night Live (NBC), menimpali : “Seberapa sering kejadian semacam menyapa Anda ketika pertunjukan komedi mampu membuat Anda merasa sebagai orang yang lebih baik ketika usai menontonnya ?”


Bangsa pemarah. Mari kita buka kartu dan berjujur diri : bisakah kita terapkan penilaian Darrel Hammond di atas bagi krida komedian atau pun acara-acara komedi di Indonesia dewasa ini ? Juga bagi acara komedi yang didukung personil yang sudah mengenyam pendidikan paling tinggi sekali pun ?

Mungkin harapan saya itu terlalu melambung-lambung. Atau terlalu prematur ? Karena tidak jarang IQ # HQ. Kecerdasan intelektual memang bukan selalu berbanding lurus dengan kecerdasan ber-humor-ria.

Yang pasti, dengan meminjam istilah sahabat dunia maya saya Isman H. Suryaman yang seorang blogger dan penulis buku humor canggih a la Scott Adams atau Dave Barry yang hard fun berjudul Bertanya atau Mati ? (Gramedia Pustaka Utama, 2004), tayangan komedi di televisi kita terlalu belepotan dengan dimanjakan apa yang ia sebut sebagai laugh track, canned laugh, atau tawa kalengan.

Dengan merujuk pendapat Stevie Ray dalam bukunya Medium-Sized Book of Comedy: What We Laugh At and Why, Isman menjelaskan bahwa penggunaan tawa kalengan yang tepat adalah untuk menyediakan sesuatu yang disebut Stevie Ray sebagai "izin untuk tertawa".

Di Indonesia, menurutnya, humor sering digunakan sebagai kompetisi sosial. Siapa yang mengerti lelucon dianggap lebih pintar daripada yang nggak. Dan siapa yang bisa membuat orang lain tertawa itu dianggap lebih piawai daripada yang tidak. Karena itu, tak jarang seseorang perlu "izin untuk tertawa" dengan melihat keadaan sekitar. Jika ada orang lain yang tertawa, berarti aman untuk ikutan. Apalagi jika orang yang dianggap "berkuasa" sudah tertawa, berarti sangat aman.

Teori Isman ini mengingatkan saya akan adegan temu wicara yang sering dilakukan Pak Harto dengan warga Kelompencapir di masa Orde Baru. Kalau penguasa Orde Baru itu tertawa terhadap leluconnya sendiri, walau tidak lucu sekali pun, maka otomatis hadirin akan segera ramai-ramai ikut tertawa secara massal pula. Anda masih ingat adegan khas era masa Orde Baru ini, bukan ?

Dalam komedi di televisi, lanjut Isman, tawa kalengan dimanfaatkan untuk itu. Agar penonton benar-benar menangkap mana nuansa yang lucu, diberilah sinyal melalui tawa kalengan. Sekaligus izin : mari kita tertawa, atau ayolah tertawalah, karena orang lain juga tertawa.

Sayangnya di TV, menurut Isman, penggunaan tawa kalengan ini salah kaprah. Seringkali pada adegan yang tidak lucu sama sekali, tawa sudah memburai. Jadinya malah kering. Membingungkan. Membuat bertanya-bertanya. Dan sebal. "Apa yang lucu?" Hilanglah kredibilitas tawa kalengan bersangkutan.

Terima kasih, Isman.

Bagi saya, mewabahnya tawa kalengan dalam sajian komedi di televisi kita hanya menunjukkan maraknya wabah komedi Gestapo yang disebut Preacher Moss di atas. Negara kita adalah negara demokrasi, tetapi sajian lawakan di televisi memakai formula represif model polisi rahasia di era Hitler itu. Lucu yang hadir dipaksakan “dari atas” sehingga senyatanya benar-benar merendahkan kemampuan penonton untuk menangkap humor.


Dimana duta komedi Indonesia ? Walau pun demikian, cerita keteladanan Preacher Moss dkk. di atas itu pastilah masih dapat berguna sebagai cermin. Ia yang berada di tengah masyarakat yang oleh sebagian tokoh fundamentalis disebut sebagai masyarakat “kafir,” ia hadapi semua tudingan stereotip tentang Islam itu dengan solusi yang cerdas dan berani.

Bukan dengan aksi demo membakar bendera, menginjak-injak foto atau boneka presiden atau pun melilitkan bom di badannya yang siap meledak di kerumunan. Melainkan, sekali lagi, melalui jalur komedi. Untuk memperoleh pemahaman dari fihak lain, demi meraih harmoni interaksi sosial yang saling menghargai di tengah pluralitas Amerika Serikat sebagai the melting pot yang tak mungkin ia ingkari.

Kekaguman itulah yang tiga tahun lalu memicu saya untuk menulis kiprah Azhar Usman dan kawan-kawan di halaman Teroka, Kompas (18/11/2005). Pada bagian penutup saya ajukan pertanyaan : “Bagaimana dunia lawak muslim di Indonesia ? Kiranya Gus Dur, Mustofa Bisri atau Cak Nun sebagai intelektual muslim, sumber inspirasi dan pencetus lawakan cerdas, kini tak boleh lagi hanya sendirian. Sangat dinantikan Nasarudin Hoja-Nasarudin Hoja baru atau komedian muslim, lahir segera di Indonesia.

Dengan meneladani Azhar Usman dan kawan-kawan, akan mampu membuka perspektif dan wajah segar baru tentang Islam. Apalagi akhir-akhir ini sebagian umat Islam seperti justru senang bersikap reaktif, daripada proaktif, dengan tampil menjadi polisi moral dalam menyikapi sebagian karya-karya kreatif anak bangsa.”

Setelah tiga tahun berlalu, impian saya itu kiranya masih tetap sebagai impian. Kiranya tetap belum muncul komedian muslim andal di negeri demokrasi yang memiliki umat Islam terbesar di dunia ini. Juga belum muncul komedian muslim dengan perspektif muslim a la Indonesia yang berani berperang melawan stereotip dan kebencian ras di Amerika Serikat sana.

Bahkan bila diperlebar keluar dari panggung komedi, sepertinya bangsa ini, khususnya umat Islam, masih memiliki kiat yang terbatas dalam menghadapi “benturan kebudayaan” yang terjadi. Ketika heboh kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW muncul di koran Denmark, reaksi tipikal kita adalah marah-marah. Sampai muncul seruan untuk memboikot produk dari Denmark.

Sebagian besar dari kita tidak tahu atau tidak hirau bahwa isu kartun tersebut ketika muncul untuk kedua kalinya telah membelah rakyat Denmark dalam dua kubu. Yaitu kubu yang membela umat Islam dan mengecam mereka yang memiliki sikap yang tidak toleran, sementara kubu lain berpihak kepada keyakinan yang menjunjung kebebasan berekspresi.

Kemudian ketika baru-baru ini muncul heboh film pendek Fitna yang buatan politisi sayap kanan Belanda, Geert Wilders, reaksi kita hampir tak berubah. Hanya bisa kembali marah-marah. Muncul lagi seruan untuk memboikot produk Belanda. Yang agak baru adalah sikap denial, penyangkalan diri, seperti tercermin dari upaya Menkominfo kita yang mengultimatum Google sebagai pemilik layanan video sharing YouTube untuk memblok permintaan akses film Fitna dari Indonesia.

Presiden SBY juga mengancam akan menghukum mereka yang mengedarkan Fitna di Indonesia. Ketika Google menyetujui pemblokiran akses itu, kita sepertinya sudah merasa bahwa misi kita telah berhasil dengan gilang-gemilang. Padahal Internet tak bisa ditaklukkan seratus persen, apalagi hanya dengan surat keputusan !

Kegetolan kita untuk melakukan penyangkalan itu menjadi ulasan menarik Herman Elia dalam artikel “Pemimpin Menjawab Cemooh” (Kompas, 5/4/2008). Artikel ini mengomentari pendapat Presiden SBY sebelumnya bahwa para pemimpin bangsa ini harus tabah menghadapi cemoohan dan kritik dari rakyat yang tidak sabar melihat datangnya perubahan.

Dalam pendapat Herman Elia, protes, cerca dan cemoohan itu memang dibutuhkan. Karena memperlihatkan substansi yang lebih gamblang dibanding hanya sajian fakta dan data. Apalagi, menurutnya, fenomena penyangkalan diri para pemimpin kita sudah demikian meruyak, bahkan hingga sampai pada tahap menyalahkan korban.

Ketika seorang ibu dan anak balitanya meninggal karena kelaparan di Sulawesi Selatan, yang ditonjolkan adalah karena sang suami yang seorang tukang becak suka minum-minuman keras dan tidak memperhatikan keluarganya. Ketika sebuah perguruan tinggi mengumumkan penelitian adanya kandungan enterobacter sakazakii dalam susu formula, disangkal fihak pemerintah dengan mempertanyakan validitas penelitian mereka. Akar dari tindak penyangkalan itu, menurutnya, karena para pemimpin kita memandang diri positif secara berlebihan.


Indonesia yang tidak bergerak. Ilustrasi menarik mengenai pemimpin kita yang memandang diri positif secara berlebihan dapat kita simak dari peristiwa di Lemhanas, yang juga disentil oleh karikatur Om Pasikom di Kompas (12/4/2008) yang lalu. Peristiwa yang terjadi adalah kemarahan Presiden SBY ketika menemui audiens yang tertidur di tengah pidatonya. Bahkan sosok yang tertidur itu sempat ia sebut sebagai “berdosa kepada rakyat.”

Tetapi dalam perspektif fihak yang mengantuk sebagai cerminan rasa bosan mengikuti pidato itu, barangkali pendapat ekonom sohor John Kenneth Galbraith jadi relevan baginya. Sebagaimana pidatonya di American University, Washington DC dan dikutip majalah Time (18/6/1984), Galbraith berujar : “Speeches in our culture are the vacuum that fills a vacuum.” Pidato dalam kultur Amerika adalah kekosongan untuk mengisi kekosongan.

Pidato Presiden SBY tentu saja bukan berisi kekosongan belaka. Walau kemudian ternyata pidatonya menyebabkan audiens mengantuk barangkali karena cara penyampaiannya. Anda pasti punya pendapat sendiri tentang gaya berpidato presiden kita itu. Hal lainnya, tentu saja mengenai naskah pidatonya, di mana saya punya sedikit cerita tentang hal satu ini.

Semua itu diawali ketika saya diiming-imingi sebagai calon “bintang tamu” dalam tayangan parodi politik di televisi. Tawaran ini saya anggap sebagai lelucon, tidak tulus dan tidak serius, tetapi sempat juga mendorong saya melakukan selancar di Internet guna mengunjungi situs yang tidak lajim saya tengok selama ini : situs web Presiden SBY.

Di situs yang dieksekusi dengan pendekatan kuno sehingga ibarat papan pengumuman yang dipasang di tempat sepi itu, saya bisa menemukan pidato Presiden SBY ketika meluncurkan buku kumpulan pidato yang berjudul Indonesia On The Move (Indonesia Bergerak) sekaligus meresmikan perluasan Toko Buku Gramedia di Matraman Raya, Jakarta, 28 Desember 2007.


Bagi saya, baik judul atau pun isi pidatonya itu merupakan bahan mentah yang menarik untuk ditekuk sana-sini sebagai bahan humor. Sebagai contoh, dalam pidatonya tersebut SBY sempat bertanya : “Mengapa saya sampai sekarang terus membeli buku ?”

Dalam humor crafting, pertanyaan itu bisa disebut sebagai set-up, umpan atau jebakan. Ini bagian dari konstruksi lawakan yang pasti tidak lucu, tetapi sangat penting perannya. Bagian inilah yang harus dikreasi sangat cermat guna mampu merenggut perhatian pemirsa. Kemudian disusul ledakan, tonjokan lucunya, punchline, misalnya dapat kita berikan : “Hukum ekuilibrium, Bapak Presiden. Karena Anda kini telah jualan buku pula !”

Judul buku SBY itu sendiri, Indonesia On The Move (Indonesia Bergerak), yang disusun juru bicaranya yang Staf Khusus Hubungan Luar Negeri, Dino Patti Djalal, dapat dikontraskan secara sarkastis dengan judul buku Dari 0,0 Kilometer yang ditulis juru bicara presiden yang lain, Andi A. Mallarangeng.

Misalnya : Mustahil Indonesia mampu bergerak maju. Bukankah kedua orang dekat presiden justru saling bertentangan ? Yang satu ingin bergerak sementara yang lainnya ingin terpatok di titik 0,0 kilometer saja ?

Bocoran info : transkrip pidato Presiden SBY itu berisi sekitar 3300 kata. Terdiri delapan halaman kuarto dengan ketikan berspasi tunggal. Pidato yang menurut saya teramat panjang. Mudah memicu pendengarnya untuk menjadi bosan. Lalu mengantuk dan menjadi tertidur. Sehingga bila Presiden SBY mewacanakan agar pemimpin Indonesia tabah menghadapi cemoohan dan kritik dari rakyat, sepertinya secara pribadi, seperti kasus kemarahannya di Lembahas itu, menunjukkan ia belum siap menghadapinya.

Minimal bila dikontraskan dengan pendapat William Phillips dalam bukunya A Sense of the Present (Chilmark, 1967), yang berujar : boredom, after all is a form of criticism. Kebosanan sesungguhnya merupakan bentuk sebuah kritik. Dalam hal ini tentu saja kritik terhadap gaya pidato, panjang naskah dan isi naskah pidato presiden kita.

Usul-usil saya : kiranya peranserta penulis lelucon atau gag writer sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk menjadi bagian dari tim penulis naskah pidato presiden kita di masa-masa mendatang.


Lawakan sebagai kata hati. “Kritik ibarat sikat untuk membersihkan jas para bangsawan,” demikian tutur penyair dan diplomat Inggris, Henry Wotton (1568–1639). Nasehat hebat. Walau pun demikian kritik itu sendiri menjadi hal yang tidak selalu ditanggapi secara elegan oleh mereka yang menjadi sasaran. Kaum agamawan mudah tergoda untuk menampik kritik karena merasa membawakan kebenaran, yaitu wahyu-wahyu dari Tuhan. Para pemimpin bisa juga anti kritik karena merasa paling tahu dan karena memiliki kekuasaan.

Bagaimana dengan komedian ?

Seorang Jon Stewart, penulis dan komedian terkenal yang mengasuh acara The Daily Show with Jon Stewart, pernah dicemooh dalam acara akbar penganugerahan Grammy Award 2001. Ia yang acara televisinya melaporkan kekurangan dan kemunafikan dunia politik Amerika Serikat dengan pisau satir yang tajam dan pernah berujar sebagai komedian ia selalu melucukan segala hal yang absurd dari pemerintah AS, menanggapi cemoohan itu dengan rendah hati : “Saya merasakan cemoohan Anda dan saya ikhlas menerimanya.”

Keikhlasan itu boleh jadi menunjukkan betapa jalan hidup komedian sejati nampaknya memang berbeda dibanding jalan hidup agamawan atau pun tokoh pemerintahan. Komedian dianugerahi keluwesan sikap yang tidak boleh fanatik, sok berkuasa atau pun sok absolut dalam memegang sesuatu kebenaran. Walau pahit, kritik harus menjadi bagian dari eksistensinya.

“Hargai semua kritik. Jangan remehkan kritik. Walau kritik itu salah sekali pun, selalu ada hal-hal positif darinya. Anda harus mencermati bagaimana persepsi orang terhadap diri Anda,” demikian kata John Cantu, mentor humor yang terkenal. Sementara itu Don Stevens memberi masukan kepada komedian tunggal untuk selalu berkeyakinan bahwa sajian komedinya itu akan lebih banyak salah daripada benarnya. Komedian, selalulah berendah hati.

Nasehat-nasehat berharga itu memang tertuju kepada komedian tunggal, stand-up comedian, yang oleh Azhar Usman disebutnya sebagai binatang yang berbeda. "It's a very sophisticated art. Stand-up is different than formula jokes. I was very intimidated at first; you have to do a lot of talking about yourself, " tuturnya.

Komedi tunggal adalah seni yang sangat canggih. Berbeda dari lawakan ketengan. Komedian tunggal memang dituntut selalu untuk melakukan penjelajahan ke dalam diri mereka sendiri sehingga lawakan yang muncul tidak lain merupakan isi kata hati.


Kaleng-kaleng yang berjaket. Bagaimana kritik dalam konstelasi dunia komedi kita ? Kiranya tak ada atau belum ada sosok semacam Simon Cowel, si mulut pedas tetapi jujur dan cerdas dalam American Idol. Media massa kita telah terlalu lama kehilangan sosok wartawan sekualitas Efix Mulyadi atau H. Sujiwo Tejo di Kompas yang berpena tajam dan setia dalam mengorek kekurangan dunia komedi kita. Bagaimana suara para akademisi kita ? Sepi.

Apa pula peran PASKI di sini ? Lupakanlah, karena begitu berdiri PASKI sudah langsung mati suri dengan alasan yang logis : karena dunia komedi kita adalah dunia Hobbesian. Juga terlalu banyak warga komunitas komedi kita yang berkerak dalam mengukuhi sikap mental kelangkaan, scarcity mentality dan belum mengenal paradigma baru, fenomena buntut panjang yang berpendekatan abundance mentality, sikap mental berkelimpahan. Atmosfir iri hati dan menilai komedian lain sebagai saingan masih kental menyelimuti kosmis dunia komedi kita..


Tanpa kritik dan tanpa kerjasama, membuat komedian-komedian kita tidak mampu seperti layang-layang di mana tiupan angin yang keras justru mampu membuatnya terbang dan membubung tinggi. Berlian-berlian calon komedian yang bertebaran di tanah air tidak pula mendapatkan gosokan yang keras dan berkelanjutan sehingga bisa terkelupas bagian luarnya, lalu mampu menunjukkan intinya yang berkilauan.

Yang menonjol dalam dunia komedi kita dewasa ini adalah complacency, rasa puas diri, walau tawa audiens yang mereka peroleh hanyalah tawa kepalsuan atau tawa kalengan belaka. Para kreator acara komedi di televisi-televisi kita nampaknya cukup berbangga dengan hadirnya barisan kaleng-kaleng berisik yang selalu menyemarakkan acaranya itu.

Mungkin karena kaleng-kaleng itu datang secara sukarela dengan rasa bangga. Dengan masing-masing membalut diri secara warna-warni. Dengan jaket-jaket almamater mereka.


Wonogiri, 12-16 April 2008


ke