Showing posts with label gene perret. Show all posts
Showing posts with label gene perret. Show all posts

Wednesday, November 19, 2008

Kodok Beracun dan Hari-Hari Komedi Indonesia Mati

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Kodok beracun. “Ada nasib baik, juga ada nasib buruk,” demikian jawab peramal kepada seekor kodok yang ingin mengetahui masa depannya. “Nasib baiknya, kau akan bertemu gadis-gadis SMA.” Hati kodok pun menjadi berbunga-bunga. Lalu apa nasib buruknya ?

Sang peramal pun meneruskan dengan berbisik : “Gadis-gadis itu menemuimu di lab biologi sekolahnya.”

Katak yang malang. Mungkin bisa disebut bernasib kurang beruntung. Atau ia justru lebih beruntung bila dibandingkan nasib katak yang mati secara mengerikan dalam acara talk-show komedi Empat Mata, Rabu 29 Oktober 2008 di stasiun televisi Trans 7 yang lalu itu.

Merujuk cerita AS Ode di Suara Merdeka (2/11/2008 : 32), saat itu Tukul Arwana menghadirkan Sumanto dan Lina. Hadir pula ibu dan guru mengajinya Sumanto, pendamping Lina, serta kriminolog Adrianus Meliala untuk mengomentari kasus mutilasi, yang menurutnya merupakan cantolan berita yang tidak nyambung dengan kasus Sumanto, sang pemakan mayat, yang menghebohkan dulu itu.

Adegan mengerikan terjadi ketika kamera dengan polos mensyut Lina, sang pemakan binatang hidup, menangkap katak dalam toples lalu memakannya hidup-hidup. Tak hanya penonton yang menunjukkan rasa ngeri dan lebih dari itu jijik (hingga ada yang mau muntah), tapi juga Tukul.

Buntut dari tayangan ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah menghentikan sementara program Empat Mata sejak surat itu dikeluarkan, 4/11/2008. KPI menilai adegan makan kodok dalam acara itu sudah kelewat batas. Juga melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) yang antara lain melarang tayangan yang mengandung adegan sadistis, mengagungkan kekerasan dan adegan penyiksaan terhadap binatang.

Dikutip dari Kompas (9/11/2008 : 22) tersaji data bahwa tayangan Empat Mata sebelumnya sudah menerima tiga surat teguran tertulis dari KPI, yakni 5 Mei 2007, 27 September 2007 dan 25 Agustus 2008. Surat-surat teguran itu dilayangkan karena Empat Mata beberapa kali menampilkan adegan dan lelucon berbau seks secara eksplisit.

“Sejak awal memang sudah diramalkan, Empat Mata yang hanya mengandalkan kelucuan-kelucuan artifisial bakal kalah jauh dari talk show lain semacam Kick Andy yang lebih bertumpu pada isi,” catat AS Ode lagi. Sehingga, menurutnya, persaingan yang sengit dalam upaya mempertahankan rating di antara tontonan televisi yang ada telah mendorong tim kreatif Empat Mata malah “terlalu kreatif.”

Beberapa waktu lalu mereka mendandani Tukul berikut Pepi dan kru yang lain dengan pakaian yang aneh-aneh. Mereka membuat latar dengan aksesori yang aneh-aneh juga. Tak berbeda dari cara pelawak “tradisional” menarik perhatian penonton berpakaian mencolok, bahkan kalau perlu di luar kelaziman. Upaya yang ternyata kian menegaskan, demikian simpul AS Ode, bahwa Empat Mata memang tak menyuguhkan isi, tapi cuma wadah.


Perempuan berjanggut. Saya bukan penonton setia tayangan Empat Mata. Pada awal pemunculannya, yang mendapat liputan menggebu dari media, saya pernah menyaksikan ketika menghadirkan bintang tamu pencipta lagu dan penyanyi Melly Guslaw. Saya hanya mampu mengingat untuk menafsirkan senyum-senyum kecil Melly, yang nampak agak terpaksa karena tuntutan sopan santun belaka, ketika Tukul melontarkan lawakan-lawakannya. “Kasihan deh lawakan-lawakan lu.” Hanya kalimat itu yang tergores di benak saya saat itu.

Terkait adegan makan kodok itu, kini menyusul kalimat lain. Dari Susan Shaughnessy. Ia menuliskannya dalam buku Walking on Alligators : A Book of Meditation for Writers (1993). Buku menarik ini telah diterjemahkan menjadi Berani Berekspresi atau Aku Bisa Menulis : Buku Meditasi Untuk Para Penulis (MLC, 2004).

“Anak sapi berkepala dua dan wanita-wanita berjanggut merupakan bahan untuk karnaval dan tabloid di supermarket. Tidak ada salahnya tertarik pada yang luar biasa. Tetapi yang luar biasa itu, anehnya, tidak bertahan lama. Kita tidak membaca tentang itu atau menonton pertunjukan seperti itu setiap hari. Sebentar saja dia sudah membosankan dan kehilangan daya tariknya,” tutur Susan Shaughnessy.

Hal yang biasa, lanjut Susan, menarik minat kita lebih lama. Kehidupan sehari-hari yang biasa, yang kita tahu benar-benar terjadi, merupakan bahan tulisan yang lebih menarik, yang tidak akan membuat kita bosan. Anak-anak pembangkang, kekasih yang dikecewakan, niat terbaik, harapan dan kekecewaan, hal-hal inilah yang diketahui dan dipedulikan pembaca.

Dalam ranah komedi, menurut Gene Perret, topik-topik biasa di atas mencocoki salah satu rumus universal komedi : karena beragam persoalan tersebut relevan bagi kita semua. Semua komedi memang harus relevan. Apa yang mereka sajikan kita dapat memiliki kaitan dengannya.

Atau dalam bahasa Garin Nugroho, dikutip Kompas (16/4/2001 : 28), sambil merujuk komedi situasi Cheers yang ia sebut “ada harunya, ada persahabatan dalam pertentangan yang hebat. Juga ada penerimaan yang tulus ketika mengetahui satu teman dekat kita memiliki preferensi seksual yang berbeda, sehingga dalam tontonan itu kita mendapat suatu hubungan yang bersahaja, tetapi mampu menggerakan indera kita.”

Kreator komedi Indonesia, dengan mengambil contoh tayangan makan kodok dalam Empat Mata itu, menunjukkan mereka masih mengalami kesulitan besar untuk mengolah hal-hal yang biasa, hal-hal yang bersahaja itu. Mereka justru tergoda untuk mengaduk-aduk hal-hal yang artifisial, aneh-aneh, merekayasa segala bentuk kepalsuan, ketidakwajaran, dan segala hal yang bertentangan dengan akal sehat.

“Pikiran picik hanya tertarik pada hal-hal yang luar biasa, pikiran cerdas tertarik pada hal-hal yang biasa,” demikian ucap penulis Amerika Elbert Hubbard (1859–1915) yang juga dikutip oleh Susan Shaughnessy Ucapan itu kiranya paling cocok untuk menggambarkan pola pikir para kreator komedi Indonesia dewasa ini.

Pikiran picik dapat pula diumpamakan sebagai katak dalam peribahasa Jepang, yang selama hidupnya selalu berada di kubangan sehingga dirinya tidak tahu apa-apa tentang lautan luas. Katak dalam tempurung.

Hemat saya, momentum dari tragedi tayangan makan kodok di Trans 7 dan hukuman keras KPI itu, seharusnya mampu mendorong komunitas kreator komedi di televisi-televisi kita untuk mawas diri. Syukur-syukur ikut juga menggandeng PASKI yang mati suri, untuk sama-sama berani keluar dari kubangan ignoransi yang mengungkungnya selama ini.

Tanpa adanya niat untuk melakukan revolusi pola pikir pada diri mereka, maka tidak ada salah kiranya bila tanggal penayangan Empat Mata edisi kelewat batas itu, 29 Oktober 2008, dapat kita daulat sebagai hari puncak dari hari-hari panjang kematian komedi Indonesia !


Wonogiri, 18/11/2008


ke

Monday, October 27, 2008

Tragedi Kitty, Tragedi Komedi Kita ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Ditusuk berkali-kali. Ada 38 saksi mata ketika Kitty meregang mati. Gadis peserta kontes kecantikan itu dikejar-kejar para pembunuh bayaran dan dianiaya sampai tiga kali di jalanan. Selama lebih dari setengah jam. Tetapi saksi-saksi itu tidak berbuat apa-apa ketika pembunuhan itu terjadi. Bahkan juga berbuat apatis yang sama ketika pembunuhnya itu meninggalkan tempat kejadian dan lalu kembali ke tempat semula untuk menusuk si Kitty yang malang itu berkali lagi.

Kejadian mengerikan yang menimpa Chaterine Genovese pada tahun 1964 di Queens, New York itu, sering diungkap kalangan sosiolog sebagai sisi gelap sebuah kehidupan kota besar yang dingin, tidak pedulian dan rendah responsibilitas sosialnya terhadap warga lainnya. Anonimitas dan keterasingan dalam kehidupan kota besar membuat orang jadi keras dan tidak berperasaan.

Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000), memperkaya analisis peristiwa di atas dengan fenomena yang ia sebut sebagai bystander problem atau masalah kecenderungan sebagai penonton. Ia mengutipnya dari hasil kajian psikolog sosial New York City, Bibb Latane dari Universitas Columbia dan John Darley dari Universitas New York. Temuan keduanya mengejutkan, bahwa kecenderungan orang untuk menolong orang lain ditentukan oleh berapa banyak saksi dalam suatu kejadian.

Dalam sebuah eksperimen, kedua ahli itu mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura kena serangan ayan. Apabila tetangga itu hanya satu orang dan orang itu tahu tidak ada orang lain di sekitar tempat kejadian, peluang dirinya untuk langsung memberikan bantuan adalah 85 persen. Tetapi jika dia tahu ada empat tetangga lain ayng menurut perkiraannya juga mendengar gejala serangan ayan, peluang untuk mendatangi si sakit itu hanya 31 persen.

Kesimpulannya, ketika saksi mata tidak sendirian maka tanggung jawab untuk mengambil tindakan menjadi menyebar. Masing-masing mengandaikan ada seseorang di antara mereka akan menolong atau menelepon. Atau masing-masing mengandaikan bahwa karena tidak ada yang bertindak, berarti peristiwa yang terjadi--suara orang mengerang atau asap mengepul dari bawah pintu—bukan masalah serius. Untuk kasus Kitty Genovese, kedua psikolog social itu berkesimpulan bukan “tidak ada orang menelpon kendati 38 orang mendengar gadis itu berteriak,” melainkan “tidak ada orang menelpon karena ada 38 orang sama-sama mendengarnya berteriak.”

“Ironisnya,” begitu Malcolm Gladwell menggumam, “kalau saja ia diserang di jalanan sepi dan seseorang yang melihatnya tahu tidak ada orang lain menyaksikan atau mendengar kejadian itu, sang gadis mungkin masih hidup.”

Catherine Genovese yang malang. Tragisnya, tragedi bystander problem yang menimpanya itu sepertinya kembali terjadi kini. Memang bukan menimpa seseorang. Tetapi menimpa dunia komedi kita. Komedi Indonesia.

Menihilkan logika. “Sejak dua tahun lalu, mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Andi Hakim Nasution merasa sangat terganggu dengan tayangan serial komedi di televisi yang meremehkan nalar manusia sehat seperti serial Tuyul dan Mbak Yul. Tidak bisa dibayangkan reaksi mantan Rektor IPB itu menyaksikan tayangan sejenis malah bertebaran di berbagai stasiun televisi saat ini.”

Itulah awal tulisan di harian Kompas, 16/4/2001. Surut ke belakang lagi, adalah tulisan Darminto M Soedarmo yang telah pula mengutip pendapat analis politik Wimar Witoelar. Menurut Wimar Witoelar (Kompas, 16/2/1996), dunia lawak kita kian tidak lucu dan cenderung dilucu-lucukan.

Tahun-tahun lalu, catat Darminto, masalah tersebut telah diangkat Kompas dalam serial berita polemis yang mengutip komentar beberapa tokoh dan cukup memberikan ragam warna dan persepsi. Apakah sinyalemen ahli statistik asal IPB yang kini sudah almarhum itu dan kritik analis politik berambut kribo yang masih sehat dan jenaka itu masih relevan dengan konstelasi dunia tayangan komedi kita di media massa saat ini ? Anda bisa menjawabnya.

Yang pasti, mashab menihilkan akan sehat dan cenderung dilucu-lucukan, masih saja lestari sebagai dosa dunia komedi kita yang belum tertebus hingga saat ini. Mungkin beberapa contoh ini cukup menggelitik.


Tanpa kredibilitas ! Awal tahun ini rumah produksi MD Pictures meluncurkan film yang disebut dalam rilis sebagai bergenre komedi romantis. Judulnya, Namaku Dick yang diproduseri Dharmoo dan Manoj Punjabi. Film ini disutradarai Teddy Soeriaatmadja yang sekaligus merangkap sebagai penulis skenario. Inti kelucuan yang ingin diaduk dalam film ini bahwa penis (dick) sang pelaku utama, bisa bicara. Musibah itu terjadi gara-gara ia mendapatkan kutukan dari seseorang gadis yang ia kecewakan karena ulah playboynya selama ini.

Penis bisa bicara, itu lucu ? Mungkin dirasakan lucu oleh Dharmoo, Manoj Punjabi, dan Teddy Soeriaatmadja. Tetapi menurut saya cerita itu tidak lucu. Juga tidak lucu di mata rata-rata audiens yang memiliki akal sehat. Karena cerita itu memang tidak memiliki kredibilitas. Kalau suhu komedi Gene Perret pernah bilang bahwa resep nomor satu dalam komedi haruslah mencerminkan realitas, the truth, maka film Namaku Dick itu telah mengingkari aksioma satu ini. Karena premisnya tidak terpercaya.

Dalam komedi, penonton senantiasa ingin diyakinkan untuk bisa mempercayai apa yang ia tonton atau dengar. Hanya dengan cara ini akan memudahkan penonton dalam meresapi sajian, tontonan atau lawakan tersebut. Untuk kasus semacam ini, kiranya tak ada salahnya bila kita mau bercermin dan belajar dari seorang Tom Shadyac.

Siapakah dia ? Tom telah sukses menyutradarai film-film yang dibintangi para komedian sekelas Eddie Murphy, Jim Carrey, sampai Robin Wiliams. Misalnya saja film The Nutty Professor, Liar Liar, Ace Ventura, dan Patch Adams. Sebelum menjadi sutradara, Tom Shadyac melakoni hidup sebagai komedian tunggal setelah belajar dari Judy Carter, mentor komedi terkenal. Jadi ia tahu akan sari pati dunia komedi. Sedangkan Teddy Soeriaatmadja, misalnya, pernahkah ia belajar secara serius mengenai komedi ?

Nampaknya tidak hanya dia yang perlu memperoleh penyegaran pemahaman mengenai kosmologi dunia komedi. Bahkan seseorang yang punya nama besar di dunia televisi, yaitu Naratama. Juga rekan-rekan se-korpsnya. Ketika ia menulis mengenai resep fenomena suksesnya Tukul Arwana, contoh kecil saja, ia menyebut Tukul sebagai seorang standing comedan. Untung ia kemudian mendapatkan koreksi dari Isman H. Suryaman, termasuk meluruskan pendapatnya mengenai kegagalan Taufik Savalas (oleh Narotama disebut sebagai Mat Solar) dalam berkomedi solo.

Narotama menulis, “Tukul muncul bak seorang standing comedian yang melucu seorang diri, tanpa perlu umpan, tanpa perlu lawan. Gaya melawak standing ini pernah dicoba oleh Mat Solar, tapi gagal ? Karena Mat Solar tidak punya lawan sehingga sering bingung, mencari lawan, akhirnya menjadi basi.”

Isman menjawab : “Menurut saya, stand-up comedian atau komedian solo, justru tidak membutuhkan ‘lawan’. Sejatinya, komedian solo ya sendirian berhadapan dengan penonton. Mengandalkan materi dan latihan. Tidak ada umpan. Dialah yang harus menjadi umpan bagi diri sendiri. Dan seorang komedian solo harus selalu berada dalam karakternya (stay in character). Almarhum Taufik Savalas (bukan Mat Solar) gagal dalam usahanya merintis jalur stand-up ini karena dua hal :

a) Materi yang lemah : Lelucon yang diambil dari Internet lantas dibawakan satu per satu bukanlah materi komedian solo yang baik. Stand-up comedian Barat yang masih bertahan dengan gaya ini bisa dihitung dengan jari. Salah satunya Mitch Hedberg. Yang lainnya sudah beralih ke opini atau pengalaman diri yang dibawakan dengan karakter kuat, seperti Chris Rock, Robin Williams, maupun (Jerry) Seinfeld.

b) Pembawaan dengan gaya komedian berkelompok, yang masih mengandalkan umpan, lelucon, celetukan. Padahal seharusnya mengandalkan kepribadian/karakter. Dalam hal ini, ketidaksiapan ini berlaku di dua sisi. Selain komedian kita belum ada yang siap, penonton kita juga belum terbiasa dengan budaya komedian solo ini. “

Terima kasih, Isman.

Komedian solo, menurut Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998, “thanks Danny Septriadi, untuk hadiah bukunya yang revolusioner ini”), merupakan sosok filsuf bawel, blak-blakan, pemimpi anarkis dan pahlawan sosial. “Strong individuals rather than group members, with a burning desire to share what they think and feel,” tegas Jay Sankey lebih lanjut.

Dalam lanskap komedi Indonesia yang masih kuat dicengkeram budaya Srimulatan atau lenong, memang sulit ditemui komedian dengan kualitas strong individual yang mampu terbang sendirian sebagaimana seekor garuda. Melainkan mereka akan selalu mencari rasa aman, menghindari resiko, sebagai group members yang bermain secara keroyokan. Ibarat barisan sekumpulan bebek-bebek yang riuh belaka.

Sehingga ketika mereka menyajikan suguhan komedi di televisi, yang menihilkan akal sehat sekali pun, respons positif akan pula selalu bisa mereka raup. Tidak lain berupa hamburan tawa-tawa riuh, tawa-tawa kalengan yang gaduh. Baik yang diproduksi secara elektronik atau pun yang bersumber dari orkestrasi puluhan mereka yang bangga berjaket sebagai mahasiswa.

Menyedihkan. Semua itu membuat komedi Indonesia terancam mengalami nasib tragis sebagaimana dialami oleh Kitty juga. Tawa-tawa yang terburai dari tayangan komedi di televisi-televisi kita, tidak lain ibarat tusukan belati demi belati yang mengakhiri hidup komedi itu sendiri. Tragisnya lagi, kita semua yang menonton adegan itu tidak berbuat apa-apa untuk menolongnya.


Wonogiri, 26/10-15/11/2008

ke

Thursday, May 31, 2007

Dunia Canda Kita, Dunia Tanpa Cendekia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Naskah Srimulat Yang Hilang. Tukul Arwana jangan dibandingkan dengan Richard Lewis. Tukul baru saja meluncurkan biografinya, yang ditulis oleh Ahmad Bahar. Mengapa tidak Tukul sendiri yang menulisnya ? Realitas ini menunjukkan betapa dunia komedi kita kekurangan sumber kreatif yang utama, yaitu komediwan yang juga penulis. Simak cerita terkait dengan Richard Lewis, komediwan yang juga penulis.

Komediwan Richard Lewis pernah stres berat. Seperti diwartakan US News & World Report (12/9/1988), ia stres akibat provokasi temannya yang bertanya : apa yang ia kerjakan apabila harta karun yang ia miliki, naskah-naskah lelucon yang ia tulis selama 16 tahun terakhir, terbakar bersama rumahnya ? Dengan dibumbui paranoid Lewis segera bergegas menuju kantor bank terdekat di Beverly Hills. Ia kemudian menyewa safe deposit box untuk mengamankan lebih dari 250.000 judul lelucon karyanya.

Tidak setiap komediwan seperti Richard Lewis yang memiliki perhatian tinggi terhadap karya-karya tertulis komedinya. Di Indonesia pernah terbetik kabar bahwa naskah pemanggungan lawakan Srimulat yang ditulis almarhum Teguh Srimulat, telah hilang. Bahkan kabar angin yang berhembus kemudian mewartakan bahwa ada kelompok lawak tertentu, yang saat itu lagi ngetop di televisi, diduga menjiplak naskah milik kelompok lawak Srimulat yang hilang tersebut. Kontroversi ini sepertinya belum tuntas sampai saat ini, tetapi fakta tersebut menandakan bahwa naskah komedi merupakan komoditas yang tetap saja langka, sekaligus terbengkalai di negeri kita selama ini.


Pelakon Nomor Satu ! Seorang budayawan almarhum Dr. Sudjoko dari ITB pernah menorehkan catatan tajam tentang potret dunia tulis-menulis yang terkait dengan dunia komedi kita. Pendapatnya ia tulis ketika mengantar buku karya Arwah Setiawan, Humor Jaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1977). Menurut Sudjoko, untuk memajukan dunia komedi Indonesia yang paling utama harus digenjot kreativitasnya adalah para penulis lakon. Jelas itu merupakan tantangan berat.

Karena selama ini penulis, seperti halnya sosok almarhum Arwah Setiawan, tidak pernah masuk pikiran dan bayangan bangsa kita tentang komediwan. Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah sosok-sosok pelakon, orang-orang panggung, orang tontonan. Mereka itu bukan penulis, bukan pula sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua mereka itu tidak mampu menulis.


Sambil merujuk tingginya ketidakmampuan menulis dan tingginya budaya mohbaca (istilah unik Dr. Sudjoko yang juga seorang munsyi, ahli bahasa) bangsa Indonesia, sebagai akibatnya canda bangsa ini sehari-hari dikatakannya cuman sentilan, olokan dan ejekan lepas-lepas. Agar frekuensi tawanya menjadi lebih sering, banyak olokan cuma dibuat-buat saja, tanpa ditopang oleh akal pikiran atau pun renungan. Lihatlah acara-acara lawakan di televisi kita saat ini dan betapa kritikan Sudjoko sejak sepuluh tahun lalu itu tetap tajam dan relevan. Dunia komedi kita hanya berjalan di tempat.


Arwah Setiawan (1997) ikut pula menimpali terkait pemanggungan lawakan di televisi. Ia katakan, pengelola dan pengamat televisi menyadari betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukannya tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati para pemirsa. Keberhasilan pertunjukan komedi, menurut keyakinannya, haruslah bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal.

Siapa yang masih mau mendengar pesan kedua tokoh tersebut ? Nyatanya para pengelola televisi kita selalu lebih memilih mencari pelawak-pelawak dulu. Kita jadi saksi bahwa acara reality show seperti Audisi Pelawak TPI (API) oleh stasiun televisi swasta TPI dan Meteor Kampus oleh AnTV, jelas merujuk pemahaman yang sedikit banyak melecehkan arti penting naskah komedi sebagai nyawa pemanggungan lawakan. Impian luhur dan cerdas seorang Arwah Setiawan mengenai pentingnya lomba penulisan naskah komedi, terkubur entah ada di mana.


Me Too Product. Blunder besar pengelola televisi itu bisa dimaklumi karena acara seperti API tidak lain merupakan program me too, membebek keberhasilan reality show yang lebih dulu terkenal seperti AFI (Akademi Fantasi Indosiar) atau pun Indonesia Idol-nya RCTI. Kedua program kontes untuk menemukan bintang-bintang baru tarik suara tersebut hanya dicontek mentah-mentah oleh para konseptor acara kontes lawakan. Mereka hanya mengganti pelakunya, yang semula calon penyanyi digantikan para calon pelawak. Mereka melupakan bahwa sebenarnya bernyanyi dengan melawak terdapat perbedaan mencolok, walau pun keduanya dapat sama–sama dipanggungkan di layar televisi.

Senyatanya dunia komedi tidak sama dengan dunia tarik suara. Dunia komedi memiliki tuntutan jauh lebih keras. Sebab dalam dunia tarik suara sebuah lagu dapat dan halal secara mudah diulang-ulang, dinyanyikan beragam penyanyi, dalam pelbagai kesempatan. Dalam dunia menyanyi, bakal tidak ada penonton yang berteriak melarang seseorang menyanyikan sesuatu lagu karena lagu tersebut pernah didengarnya. Tetapi dalam lawakan, pengulangan adalah pantangan. Kalau Anda di panggung melucukan sesuatu yang penonton sudah tahu, Anda terancam diteriaki tanpa ampun. Dan itu jelas bencana !

Realitas kejam ini menandakan bahwa tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan, membuatnya terasa semakin langka dalam peredaran. Apalagi materi lawakan baru begitu tampil di media akan langsung menjadi usang. Faktanya, tidak hanya materi lawakan spesifik tersebut, juga premisnya, bahkan semua lawakan yang mirip juga ikut menjadi usang karenanya. Tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan tersebut membuat banyak sekali kelompok lawak kita tidak punya nafas panjang.

Contoh aktual : ada di mana sebagian besar komediwan muda kita yang dulu pernah tampil hiruk-pikuk di ajang Audisi Pelawak TPI (API) yang baru saja merampungkan sesi ketiganya ? Sebagian besar hilang begitu cepat dan segera pula lenyap terkubur oleh waktu.

“Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja setengah mati. Kondisi lawak di Indonesia saat ini : ia adalah pemikir, penulis, penampil, sekaligus pengurus keuangan....Bagaimana mau selalu prima ?”, cetus almarhum Dono Warkop (Kompas, 22/3/1996) ketika mengeluhkan tiadanya penulis–penulis naskah komedi yang dapat meringankan bebannya. Keluhan kronis almarhun Dono yang bisa dimaklumi. Apalagi karena komedi memang seni yang rumit. Edmund Gwenn, aktor komedi Hollywood era 1940-an saat menjelang ajalnya berbisik kepada aktor Hollywood terkenal lainnya, Jack Lemmon, bahwa menuju kematian itu menyakitkan, tetapi tidak sebegitu menyakitkan dibandingkan berpentas sebagai komedian.


Komedi Ibarat Jazz ! Sementara itu Gene Perret (foto), pemenang tiga Emmy Award dalam penulisan naskah komedi yang sekaligus penulis lawakan komediwan sohor Bob Hope yang terkenal, menyatakan bahwa penulisan naskah komedi ibarat jazz dalam musik. Selain harus inovatif, sarat pemberontakan, ketimbang berlaku normal. Bahkan cenderung menghancurkan tradisi yang ada ketimbang membebeknya. Walau pun demikian, imbuh Perret, penulisan naskah komedi dapat dipelajari. Menjadi komediwan juga dapat dipelajari. Kalau kita sudi melebarkan wawasan terhadap dunia komedi di negara-negara maju, seperti di Amerika Serikat, tidak sedikit ditemui pelbagai workshop untuk calon komedian dan workshop pelatihan bagi penulis naskah-naskah komedi.


Untuk perkembangan masa depan dunia komedi kita, apalagi setelah hadirnya organisasi PASKI (Persatuan Artis Seni Komedi Indionesia), diharapkan kontes semacam API haruslah dibarengi dengan kegiatan yang bermenukan intelektualitas. Misalnya dengan menyelenggarakan workshop penulisan naskah komedi sampai kiat-kiat menjadi komediwan dengan nara sumber dari manca negara.


Terlebih lagi, di antara pelaku dunia kreativitas dan hiburan, dunia lawak kita yang paling seret atau macet memperoleh aliran darah segar dibanding dunia sineas, sulap, penulis naskah sinetron, pemusik, komik sampai kreator video klip. Di kancah tersebut telah muncul pekerja-pekerja kreatif baru, bahkan lulusan perguruan tinggi luar negeri dan memiliki komunitas dengan bangunan tradisi olah intelektual yang memadai.

Upaya pembelajaran yang lebih serius dan komprehensif dalam komunitas dunia komedi kita yang selama ini sangat terbengkalai, bahkan selama puluhan tahun ini, menunggu segera untuk direalisasikan ! (Catatan : Artikel ini pernah dimuat di majalah Gong (Yogyakarta), edisi No. 90/VIII/2007. Foto).



Wonogiri, 1 Juni 2007

ke