Showing posts with label komedian. Show all posts
Showing posts with label komedian. Show all posts

Wednesday, November 10, 2010

Obama Frenzy Melanda Indonesia !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kunci sukses berpidato ada tiga.
Berlatih, berlatih dan berlatih.

Demosthenes (384 -322 SM), jago orator dan negarawan Athena, konon suka berlatih berpidato di dekat air terjun. Atau di pinggir laut, untuk beradu keras dengan suara deburan gelombang.

Ia berlatih keras mengasah vokal dengan berusaha mengalahkan suara gemuruh-gemuruh air tersebut.

Tak ayal, beribu tahun kemudian seorang maha pakar pemasaran Tom Peters mengatakan bahwa, "bila pidato Plato mampu menginspirasi, maka pidatonya Demosthenes membuat kita tergerak untuk beraksi !"

Barack Obama memang bukan Demosthenes. Tetapi menyimak gaya dan isi pidatonya di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 10 November 2010, kita seperti memperoleh setrum yang hebat.

Setelah era Soekarno, sepertinya Indonesia belum lagi memiliki politisi dengan pidato yang mampu menggerakkan isi jiwa, serta memberikan inspirasi bahwa kita mampu berbuat sesuatu untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

Pidato Obama itu bergaung kemana-mana !
Mengembuskan badai perubahan dimana-mana pula !

Bisnis sampai artis. Pemerintahan SBY seperti memperoleh inspirasi baru dalam pencitraan kinerja mereka. Kedatangan Barack Obama dijadikan momen untuk menarik garis batas, ditandai dengan munculnya jargon SBB versus SSB : Sebelum Barack dan Sesudah Barack.

Kita bisa lihat nanti perbedaan itu dalam gaya pidato SBY di era Sesudah Barack ini. Juga gaya berpidatonya tokoh Nasional Demokrat, Surya Paloh, yang seolah memperoleh durasi semaunya di saluran MetroTV.

Perusahaan jasa pengangkutan bus yang biasa menyingkat jenis usahanya dari PO, perusahaan otobus, kini berubah menjadi BO. Bisnis otobus.

Bank BCA mengumumkan nama barunya : Baracbank Central Asia.

Kota Bogor menjadi : Bogorobama !

Model bisnis yang hampir mirip dengan franchise yang bisa dikenal sebagai BO, business opportunity, sekarang menjadi : barack opportunity.

Danau di Sumatera Barat, Singkarak, berganti nama menjadi : Singbarak.

Pembawa acara yang ceriwis di televisi mengubah namanya menjadi : Indy Barackends.

Bahan bakar fosil yang masih melimpah di Indonesia, batu bara, sontak kini semakin dihargai di pasar dunia setelah berubah sebutannya menjadi : batu barack.

Kantor catatan sipil juga diserbu ratusan ribu warga Tapanuli yang ingin mengubah nama marganya yang lama menjadi Batubarack.

Restoran dan pusat hiburan di Jl. Blora, Jakarta Pusat, sepakat mengganti nama jalan tempat mereka berbisnis selama ini menjadi Jl. Blorack Obama. Termasuk nama masakan satenya, menjadi Sate Blorack.

Kata-kata yang diungkapkan Obama di UI itu segera menjadi trending topic di Twitter. Yaitu kata "bakso," "sate" dan "enak." Kontan saja para selebritis, politikus dan pedagang segera menyabet momen itu untuk mendongkrak popularitas dirinya.

Nama SBY di kalangan asosiasi pedagang sate dan bakso memiliki makna baru : Sate Bakso Yahud. Penyanyi cantik asal Malaysia segera mengeluarkan album dengan nama baru : Sate Nurhaliza. Berduet dengan Sate KD.

Mantan ketua umum PAN yang konon sedang merintis berdirinya partai baru, diperkirakan akan meluncurkan nama barunya yang lebih berkarisma : Sutrisno Barachir.

Disusul ketua umum Partai Golkar : Aburizal Barackie !

Di luar heboh di atas, Barack Obama berkunjung ke Indonesia sebenarnya lebih dari 18 jam dan tidak seperti yang resmi diberitahukan. Sebab beberapa hari sebelumnya dirinya telah tertangkap kamera dengan mengenakan wig dan berkacamata, sedang nampak asyik menonton turnamen tenis internasional di Bali.

Ketika dikonfirmasi wartawan, Obama keras menyangkal : "Saya suka main basket, bukan tenis. Saya juga suka makan nasi goreng, sate, bakso, emping dan krupuk, tetapi masakan enak itu tidak disajikan di turnamen tenis itu. Karenanya, pasti saya tidak ada di sana !"

Kehebohan belum usai.

Surat kabar negara bagian AS tempat Barack Obama dilahirkan,  The Hawaii Inquirer, mewartakan bahwa ada sosok pria  mirip Gayus Tambunan sedang berselancar di pantai Oahu, Hawaii.


Wonogiri, 11 November 2010

Sunday, June 20, 2010

Video Porno dan Nobel Perdamaian 2010

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kasus video porno mirip Ariel-LM-CT menurut kabar burung akan diputuskan lewat jajak pendapat. Ada politikus bilang, biar keren, sebut saja referendum.

Semua warga negara Republik Indonesia, tua-muda, akan memperoleh CD video porno itu, diberi kesempatan menonton hingga 11 Juli 2010 mendatang, lalu bebas menentukan apakah aktor-aktris dalam video porno itu asli atau bukan.

Langkah ini merupakan langkah paling demokratis. Juga paling monumental di dunia. Bahkan Indonesia berpeluang tercatat di Guiness Book of Records sebagai negara pertama yang akan mengaplikasikan Hukum Linus Pertama, hukum yang mengilhami gerakan open source yang kini dampaknya meluas kemana-mana.

Hukum itu diambil dari nama Linus Benedict Torvalds, seorang perancang peranti lunak kelahiran 28 Desember 1969, Helsinki, Finlandia. Dalam merancang peranti lunak Linux yang terkenal itu ia sengaja membuka kode-kode temuannya itu kepada masyarakat luas. Dengan langkah ini dapat ditemukan cacat, kekurangan, dan kemudian banyak orang akan mampu memperbaikinya.

Kolaborasi yang melibatkan banyak fihak tersebut membuat piranti lunak Linux semakin berguna bagi banyak kalangan. Fenomena dahsyat ini kemudian memunculkan Hukum Linus Pertama yang berbunyi, "given enough eyeballs, all bugs are shallow." Dengan mata yang cukup, kutu pun bisa ditemukan dengan mudah.

Langkah referendum ini menjadi titik sejarah Indonesia dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi. Penentuan pendapat secara massal ini, juga mengaplikasikan tesis tentang wisdom of crowds seperti dirujuk dalam buku The Wisdom of Crowds : Why the Many Are Smarter Than the Few and How Collective Wisdom Shapes Business, Economies, Societies and Nations (2004) karya James Surowiecki.

Agar pelaksanaannya fair, maka tokoh telematika dan kini anggota DPR dari Partai Demokrat yang sering jadi rujukan tentang keaslian video dan foto-foto porno, tak boleh berkomentar dulu.

Bukan karena dikuatirkan komentarnya akan memengaruhi opini publik, tetapi dikuatirkan apa pun ucapannya akan hanya memerosotkan perolehan suara partai Demokrat dalam Pilpres 2014 mendatang. Utamanya untuk para pemilih di kalangan blogger Indonesia. Walau partai yang dikenal cerdas itu, terkait reputasi tokoh di atas, sudah melakukan antisipasi dini. Yaitu dengan merekrut blogger yang pernah kuliah di Universitas Harvard, yang juga tokoh gerakan Islam Liberal terkenal.

Terlebih lagi di media massa anggota DPR dari Partai Demokrat itu dilaporkan telah bertukar SMS dengan salah satu aktris yang diduga terkait dengan pelaku aksi mesum dalam video porno itu. Bahkan dikabarkan berusaha melakukan pemerasan terhadapnya.

Syukurlah, di SMS itu ia juga cerita bahwa dirinya akan terbang dulu ke Amsterdam. Diperkirakan ia akan tinggal di sana selama 350 tahun. Kehadirannya itu sebagai hadiah bangsa Indonesia bagi kemenangan Robin van Persie dan kawan-kawan yang telah sukses menaklukkan bangsa penjajah Indonesia lainnya di kancah Piala Dunia 2010.

Jadi pelaksanaan referendum secara teoritis tidak akan dicemari oleh opini-opini yang akan ia sebarkan. Dengan catatan, di Amsterdam ia tak boleh menggunakan gadget elektronika apa pun, kecuali beragam gadget erotika yang dijajakan dari daerah lampu merah “De Dam,” yang mirip komplek pertokoan Pasar Baru Jakarta yang berimpit sungai, dan amat terkenal dari Negeri Kincir Angin itu pula.

Rakyat Indonesia pun berdoa, semoga dalam penerbangannya ke Amsterdam ia tidak tergoda rayuan seorang pilot yang berlaku sok akrab yang kemudian mengajaknya makan nasi goreng atau jus jeruk mengandung arsenik di bandara Changi Singapura.

Pelaksanaan referendum itu masih terancam gagal. Oleh Menkominfo Tifatul Sembiring. Karena ia pernah mengeluarkan tesis yang menggegerkan, bahwa bencana alam yang bertubi-tubi menghantam Indonesia itu karena kemaksiatan telah merajalela di negeri ini. Mungkin ia hendak mengingatkan akan cerita Sodom dan Gomorah.

Persoalannya jadi komplikatif.

Kalau semua warga Republik Indonesia semalaman asyik menonton video porno mirip artis menjelang pelaksanaan referendum, bahkan men-cuek-kan siaran Piala Dunia 2010, lalu esoknya muncul banjir dan gempa bumi dahsyat, lalu bagaimana ? Lalu apa kira-kira kata Pak Menteri yang berasal dari PKS itu nantinya ?

Jangan remehkan ucapannya. Singapura yang begitu rapi dan teratur mengelola negerinya, toh Orchard Road yang menjadi jantung Singapura tergenang banjir besar, bukankah itu membuktikan betapa negeri itu telah pula menjadi sarang maksiat, yang antara lain karena menjadi pusat foya-foya sekaligus sebagai safe haven bagi para koruptor Indonesia ?

Untuk tesisnya tersebut, konon Akademi Swedia akan segera menominasikan Tifatul Sembiring sebagai calon penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2010. Jadi bulan November nanti, saat Obama datang, kita akan melihat dua sosok pemenang Nobel Perdamaian yang terkait erat dengan Indonesia.

Siapa tahu, rasa bangga tentang prestasi itu akan mengurungkan sebagian warga Papua yang kini meminta referendum untuk masa depan mereka.


Wonogiri, 21 Juni 2010

Thursday, May 13, 2010

Komedian Berdiri Di Bahu Raksasa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Stand on the shoulders of giants.
Berdiri di bahu raksasa.

Anda sebagai pengguna Internet, sudahkah Anda akrab dengan slogan di atas ? Kata-kata indah dan dahsyat itu merupakan slogan situs Google Scholar. Edisinya berbahasa Indonesia disebut sebagai Google Cendekia. Situs tersebut merupakan situs mesin pencari untuk menemukan karya-karya ilmiah dunia.

Anda kenal Isaac Newton (1642–1727) ? Bagi Anda yang mencandui kata-kata mutiara, mungkin tidak akan menemui kesulitan memahami bahwa slogan itu diilhami oleh kata-kata ilmuwan raksasa bidang fisika dan matematika asal Inggris tersebut.

Bagi saya, kata mutiara ini pertama kali saya dengar di tahun 1980. Dari dosen saya, almarhumah Ibu Lily Koeshartini Soemadikarta, di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ucapan beliau itu begitu membekas, sehingga setiap kali akan menulis sesuatu, ujaran Newton tersebut senantiasa berdering di kepala ini pula.

Pastinya adalah, ketika saat itu Isaac Newton sering ditanya mengapa dirinya mampu melihat jauh ke masa depan, ia menjawab dalam sepucuk surat yang ia kirimkan kepada koleganya, Robert Hooke, pada tanggal 5 Februari 1676. Ujarnya : “If I have seen further it is by standing on the shoulders of giants .” Apabila saya mampu melihat jauh ke depan karena saya berdiri di bahu para raksasa.

Raksasa yang ia maksud adalah para ilmuwan dan buah karyanya yang telah mereka sumbangkan sejak berabad-abad lalu. Himpunan ilmu pengetahuan tersebut merupakan fondasi bagi ilmuwan-ilmuwan berikutnya, dalam kiprah pencapaian-pencapaian karya ilmiah berikutnya pula.

Sebagai kalangan terpelajar, bila kita menggunakan karya-karya mereka, kita harus melakukan ritual penghormatan. Dalam ranah komunikasi ilmiah, bentuk rasa hormat dan pernyataan utang budi kepada ilmuwan-ilmuwan pendahulu itu diwujudkan berupa kutipan, rujukan, sampai daftar pustaka dalam karya ilmiah seseorang ilmuwan.

Dalam berkomunikasi di Internet, rujukan itu diwujudkan dalam bentuk hyperlink atau tautan. Merujuk pentingnya tautan ini sampai seorang konsultan bisnis di Internet, B.L. Ochman, memberikan saran, link like a crazy.

“Satu hal yang membedakan antara tulisan di blog dan di jurnalisme pohon mati (kertas) bahwa para blogger membuat tautan sedemikian luar biasa banyaknya. Tampilkan tautan yang merujuk ke blog atau situs yang Anda sebut. Tautkan dengan artikel, buku, produk, biodata, materi penjelasan dari situs lain yang Anda sebutkan pada blog Anda. Buatkan senantiasa tautan untuk informasi yang memberikan klarifikasi atau informasi latar belakang atau pun opini dari tulisan pada blog Anda,” begitu tandasnya.

Sayangnya, perilaku mulia itu justru seringkali diingkari. Atau dilecehkan. Saya pernah menulis untuk blog lain, tautan-tautan yang saya sertakan itu justru dipreteli. Itulah pola pikir kaum pendekar kertas, yang bermental kelangkaan, yang mungkin takut pembaca situsnya akan lari ke situs lain. Mereka tidak tahu bagaimana cara kerja Google, yang kehadirannya membantu siapa saja agar mampu lari ke jutaan situs-situs lainnya. Dan karena hal itu justru membuat Google menjadi kaya raya !

Dalam dunia akademisi kita, tindak pelecehan terhadap pentingnya ungkapan rasa hormat dan pernyataan utang budi kepada ilmuwan-ilmuwan pendahulu, membuat komunitas ilmuwan Indonesia tercoreng di muka dunia. Momen memalukan itu terjadi ketika seorang MZ, doktor lulusan ITB, terkuak melakukan skandal plagiasi yang kabarnya meledak seantero dunia.

Semua itu terjadi karena dirinya memperlakukan karya ilmuwan sebelumnya secara tidak semestinya. Alih-alih menunjukkan kejujuran dan rasa hormat dengan mencantumkan karya itu sebagai rujukan, tetapi dirinya justru melakukan klaim, mendakunya, sebagai karyanya sendiri. Fatal akibatnya.

Pusat humor dunia. Nasehat Newton itu merupakan perwujudan dari sikap rendah hati. Juga bermanfaat untuk mencegah pemborosan. Sekaligus memicu inovasi. Dengan mempelajari apa-apa saja yang telah dihasilkan oleh generasi sebelumnya, kita tercegah melakukan pengulangan, yang berarti mencegah pemborosan. Sehingga kemudian ilmu pengetahuan mampu bergerak terus menuju kemajuan.

Kiat universal serupa seharusnya juga berlaku untuk dunia komedi kita. Seorang blogger komedi dari kelompok suratkabar The New York Times, Patrick Bromley, telah mengudar pesan kepada mereka yang bercita-cita memilih “jalan pedang” sebagai seorang calon komedian. Nasehatnya : “Dunia sudah memiliki seorang Mitch Hedberg atau seorang Chris Rock. Anda harus membawakan sesuatu yang baru di atas meja.”

Untuk mengetahui apa saja hal-hal yang baru tersebut, seperti Anda ketika menulis skripsi, mau tak mau Anda harus melakukan riset terdahulu. Untuk mengetahui apakah topik skripsi Anda itu sudah pernah dikaji orang atau belum. Kalau sudah pernah, Anda dapat melakukan penajaman atau memfokuskan pada kajian yang berbeda. Begitulah idealnya. Tetapi tradisi ilmiah yang wajib itu dalam dunia komedi kita seringkali tidak berjalan.

Sekadar ilustrasi, di koran Kompas Jawa Tengah (21/6/2005) pernah muncul artikel berjudul “Universitas Humor.” Ringkas kata, artikel itu melambungkan klaim gagah bahwa “jurusan lawak belum dibuka di muka bumi ini,” sehingga Indonesia berpeluang menjadi proyek percontohan kajian ilmu humor di dunia.

Artikel yang lucu. Sekaligus menggaris bawahi betapa tradisi ilmiah nampaknya memang bukan, atau belum menjadi, perilaku wajib komunitas komedi kita. Kalau seorang Jay Sankey menggambarkan rata-rata komedian itu sebagai sosok yang “very insightful, highly intelligent people,” sebaliknya komedian kita justru sering nampak tidak mau (tidak mampu ?) tampil sebagai insan yang cendekia.

Silakan simak acara Democrazy di MetroTV. Silakan perhatikan kualitas celetukan para “komedian” yang menurut saya sungguh selalu tidak sepadan dengan materi yang dibicarakan oleh nara sumber dalam acara itu.

Merujuk sedikit ilustrasi itu, kita berspekulasi bahwa para pemangku kepentingan dunia komedi kita boleh jadi tidak tahu pentingnya, atau bahkan tidak tertarik sama sekali, untuk berusaha mampu “berdiri di atas bahu raksasa.” Mereka rupanya memang sudah cukup puas dengan wawasan sampai pengetahuan warisan yang mereka miliki. Puas pula untuk terus-menerus memeluk dunia kecilnya sendiri.

Sindrom dunia kecil itu yang membuat tayangan-tayangan komedi kita, utamanya di televisi-televisi, nampak tidak pernah terkait dengan problem aktual masyarakatnya. Komedian kita tidak terpanggil untuk membicarakan nasib bangsanya. Padahal, “semua komedi harus relevan,” begitu tutur Gene Perret. Nasehat luhur yang masih sia-sia. Karena komedi kita selalu saja tidak relevan adanya.

Mereka, misalnya, tidak merasa berdosa karena tidak menyuarakan jerit penderitaan para korban akibat lumpur panas di Sidoarjo. Tidak tergerak meledeki fihak yang bertanggung jawab tetapi lebih suka cuci tangan. Termasuk pula tidak hirau terhadap tuntutan keluarga korban Insiden Trisakti dan Semanggi yang kasusnya terkatung-katung belasan tahun hingga kini.

Boleh jadi, dengan meminjam tamsil dari Piramida Maslow, penyebab tidak relevannya dunia komedi kita karena mereka memang baru sibuk berurusan pada tataran terbawah dari hirarki kebutuhan manusia itu. Mereka bersibuk guna memenuhi kebutuhan sendiri untuk bertahan hidup. Kebutuhan akan makan dan minum. Kebutuhan primitif bagi diri mereka sendiri. Semata mementingkan diri sendiri. Egosentris. Me, me, and me. Seperti sikap mental pemilik akun Facebook pada tingkat pemula.

Fatal dampaknya.

Kalau seorang Patrick Bromley pernah menegaskan bahwa comedy is a community, komedi adalah paguyuban, maka jangan harap hal-hal yang guyub itu, suburnya interaksi yang rukun dan saling mendukung antarsesama komedian, mampu berkembang dalam komunitas komedi kita. Akibat belenggu pola pikir primitif itu maka yang marak adalah pola pikir Hobbesian. Homo homini lupus. Komedian yang satu merupakan serigala bagi komedian lainnya.

Sehingga entah sudah berapa kali saya ulang dan ulang lagi pernyataan ini, betapa pola pikir primitif itu pula yang membuat organisasi mereka, PaSKI (2005), langsung mati suri ketika diumumkan berdiri hingga kini.

Matinya Angsa Emas. Pendekatan untuk selalu mementingkan diri sendiri itu, boleh jadi di luar dugaan mereka, sebenarnya justru semakin mempercepat proses bunuh diri mereka pula. Sebuah ilustrasi kasar, adalah cerita tentang kelompok komedi yang pernah berjaya di tahun 80-an. Bahkan mereka mampu mencapai rekor kontrak televisi hingga satu milyar, tetapi kini tinggal sebagai catatan kaki sejarah komedi Indonesia.

Merujuk tamsil tentang sindrom angsa emas dari Stephen R. Covey, saat itu sang angsa bersangkutan, yaitu kelompok komedi tersebut, dituntut pasar, diburu-buru dan dipaksa agar selalu mampu bertelur emas. Yaitu hadirnya lawakan-lawakan yang inovatif dan lucu. Tetapi ada satu hal vital yang mereka lupakan. Angsa emas itu tidak pernah memperoleh asupan gizi yang cukup.

Kelompok komedi itu, sepertinya, tidak pernah atau tidak sungguh-sungguh men-charge isi kepalanya dengan asupan-asupan wawasan, pengetahuan sampai sumber daya kreatif yang memadai. Akibatnya, semakin hari, angsa emas itu menjadi sakit karenanya. Lawakan kelompok itu pun kemudian tidak menggigit lagi. Ketika kontrak usai, sang angsa emas itu pun secara klinis tervonis mati pula. Sebuah tragedi. Karena sukses justru menimbulkan akibat yang mematikan.

“Think big !.” Itulah pendapat konglomerat flamboyan Donald Trump. Nasehat yang tulis bersama Robert T. Kiyosaki dalam buku berjudul Why We Want You to Be Rich: Two Men - One Message (2008), kiranya cocok untuk semua fihak yang ingin memperoleh sukses. Saya fikir, nasehat itu juga berlaku bagi komedian dan calon komedian Indonesia. Agar mereka mampu berpikir besar, bercita-cita besar, dan tidak semata terus berada di bawah tempurung dunia kecilnya selama ini.

Merujuk maraknya acara kontes mencari bakat di pelbagai stasiun televisi kita, hal itu semata menunjukkan betapa mereka kelaparan dan kehausan guna menemukan talenta-talenta baru dalam dunia hiburan. Termasuk talenta di bidang pengocok tawa !

Hanya saja, camkanlah hal penting ini. Mereka yang beruntung terpilih, tetapi tanpa visi dan tanpa bekal cukup untuk merevitalisasi dirinya sendiri, akan hanya bernasib sebagai seonggok kapur barus belaka. Dirinya hanya mampu bertahan sebentar, dan sesudah itu berubah menjadi gas yang lenyap di udara untuk seterusnya.

Nenek bercita-cita besar. Boleh jadi kita dapat belajar sesuatu hal dari tokoh yang satu ini. Ia lahir tahun 1934. Kini usianya 75 tahun. Janda seorang marinir itu beranak 4 dan pernah berkeliling dunia. Ia pernah pula menjadi wartawan. Tahun 1995, suaminya meninggal karena kanker. Tahun lalu, ia memutuskan untuk mengikuti ajang mencari bakat dan sebagai bekal ia pun nekad belajar komedi. Itulah : Grandma Lee.

Anda tahu, leluconnya cenderung nakal dan sensual. Salah seorang jurinya, Piers Morgan, pernah secara nakal bertanya, apakah Eyang Lee itu mempunyai cowok. Ia menjawab ya, dan cowoknya itu bernama Norbert. Lebih lanjut ia ceritakan, Norbert lebih muda dibanding dirinya. Berumur 74 tahun. Tetapi, ngocolnya lebih lanjut, “Norbert memiliki tubuh seorang pria berumur 72 tahun.”

Juri lainnya, bintang film seri Baywatch, David Hasselhoff, ikut nimbrung. Apakah Eyang Lee dan cowoknya itu berhubungan intim, begitu pertanyaan David. Eyang Lee tergelak. Menurutnya, terbatuk-batuk adalah permainan seks awal, bersin-bersin adalah permainan berikutnya, dan menyentuh siku merupakan permainan yang sebenarnya.

Sejak tampil di acara kontes itu, lulusan Otterbein College di Ohio tersebut menjadi terkenal di Amerika Serikat. Dalam usia yang sudah begitu sepuh itu toh ia juga mampu pula berpikir besar. Karena ia membawa misi luhur ketika bertarung dalam ajang "America's Got Talent" yang terkenal itu.

Grandma Lee (foto) yang mengagumkan. Ia benar-benar menjadi komedian raksasa yang berdiri di bahu raksasa, karena membawa misi yang lebih besar dibanding dirinya sendiri. Inilah cita-cita besar Grandma Lee ketika terjun dalam kontes sebagai seorang komedian :

“Berusaha menyadarkan kaum lansia bahwa tidak ada kata terlambat untuk berusaha merealisasikan impian, meraih cita-cita, dan mampu mengajak dunia untuk tertawa !”

Dengan bercita-cita besar, semua hal justru lebih mudah diraih.
Grandma Lee yang sepuh itu sudah membuktikannya !


Wonogiri, 13 Mei 2010

Monday, January 25, 2010

Balsem Cap Mario Teguh

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Otak saya ?
Merupakan organ favorit saya yang kedua.”

Saya suka humornya Woody Allen. Ia penulis, aktor, dan juga sutradara film kaliber Oscar. Dialog di atas itu muncul dalam filmnya yang berjudul Sleeper (1973).

Humor seksnya yang senada juga muncul dalam filmnya Bullet Over Broadway (1994) yang dibintangi John Cusack. Anda sudah nonton film 2012 ? Pak Cusack ini menjadi bintang utama film yang di Indonesia bikin heboh karena menggambarkan kiamat itu.

Humor Allen dalam Bullet Over Broadway terucap dari tokoh Rita (Stacey Nelkin) yang bilang : “Bagi saya, cinta itu sangat-sangat dalam, sementara seks hanya menembus beberapa inci saja.”

Anda ingin tahu lebih banyak tentang humor cerdasnya Woody Allen ? Silakan mencarinya sendiri melalui Google. Saya kali ini berminat mengobrolkan tentang “organ favoritnya yang kedua.”

Otak. Milik Anda.
Milik saya. Milik kita semua.

Tentang otak itu, ada humornya pula. Kali ini terlontar dari penyair kesayangan Presiden John F. Kennedy, yaitu Robert Frost (1874–1963). Ia bilang, “otak itu organ yang ajaib. Ia mulai aktif sejak Anda bangun di pagi hari, dan terus saja bekerja tanpa henti sampai saat Anda tiba di kantor.”

Juga saat tiba sekolah. Di bangku kuliah. Juga saat menonton acara The Golden Ways-nya Mario Teguh. Ucapan terakhir ini bukan dari Robert Frost. Tetapi dari saya pribadi. Tentu saja ini penilaian subjektif. Oleh karena itu, bila perlu, Anda dapat dan juga saya undang untuk menulis bantahan.

The Goofy Ways. Kalau Anda menonton acaranya Mario Teguh di Metro TV, dapatkah Anda menilai seberapa tinggi tingkat pendidikan mereka yang hadir di studio itu ? SLTA ? Sarjana ? Pascasarjana ?

Dari melihat aktivitas audiens saat berlangsungnya acara, saya malah berpendapat mereka itu mungkin layak berpendidikan di bawah tingkat SLTA. Karena jarang, jarang sekali terlihat, ada yang serius melakukan aktivitas mencatat semburan demi semburan kata-kata mutiara dari Mario Teguh saat itu. Semua mendengarkan saja. Terlongo. Bahkan sering terlambat menyambar humor Pak Mario yang super itu.

Tanpa dicatat, begitu acara selesai dan kita keluar ruangan, sebagian besar ajaran Mario Teguh itu akan hilang. Dua hari kemudian, semuanya benar-benar tidak berbekas.

Aktivitas mencatat itu bukan hal remeh. Majalah Reader’s Digest pernah menulis lelucon : “Apa yang terjadi bila satu bus penuh turis Jepang dibajak teroris ? Polisi akan memperoleh 50 foto diri teroris dari pelbagai sudut. “

Lelucon ini menunjukkan kegetolan turis Jepang yang kemana-mana memotret obyek wisata yang mereka kunjungi. Ternyata kebiasaan hebat turis Jepang bukan hanya itu.

Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengatakan bahwa turis-turis Jepang itu juga membawa-bawa bloknot. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.

Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mereka mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki oleh setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk selalu membawa-bawa bloknot sepanjang waktu.

Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya. Judy Carter, mentor komedi asal Amerika Serikat (foto) juga bilang, bahwa setiap calon komedian harus membawa-bawa bloknot dan bolpoin, setiap saat. Bahkan kedua sarana itu harus berada di dekat bantal tempat tidur mereka !


Bukan hanya mencatat. Agar kekayaan yang ditumpahkan oleh Mario Teguh itu mampu menjadi milik kita sendiri, pengetahuan itu harus dituliskan. Bisa di buku harian, surat, artikel, sampai blog. Pengetahuan bersangkutan berpeluang abadi menjadi milik kita pribadi apabila kita dengan cinta bersedia membagikannya kepada orang lain. Bahkan sebaiknya pula harus secara publik.

Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo, mengatakan : seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman secara lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Terima kasih, Rebbeca.

Masukan-masukan bernas Mario Teguh tanpa upaya dan tanpa ikhtiar lebih lanjut seperti ditulis di atas, hanya ibarat olesan balsem belaka. Saya ingat kata-kata seorang (mantan ?) petinju kita, Pino Bahari, saat menjadi komentator dalam suatu siaran tinju di televisi.

Ia bilang, nasehat atau masukan pelatih untuk petinju hanya berumur beberapa detik saja. Begitu masuk ring untuk melanjutkan ronde sisanya, petinju bersangkutan akan bertarung dengan pola berdasar cetak biru (lama), orang Jawa bilang sebagai gawan bayen, karakter yang sudah menyatu dengan dirinya.

Akhirnya, terkait kata-kata mutiara Mario Teguh itu saya pernah tiba-tiba memperoleh banjir SMS. Dari kenalan lama tetapi kemudian menjadi teman baru di Facebook. Antara lain berbunyi :

“Kekayaan yang bisa ditambang dari sumber emas dan berlian di bumi, tidak bisa mengalahkan ukuran kekayaan yang ditambang dari penggunaan pikiran Anda.”

Saya setuju. Terima kasih, Pak Mario.

Tetapi ujung dari banjir kata-kata motivasi tersebut adalah, bahwa dirinya nampak ingin merekrut diri saya sebagai downline dari bisnis MLM-nya. Bagi saya, aksi ini ibarat dirinya memanfaatkan ajaran telemotivator itu bukan hanya sebagai balsem untuk dioleskan kulit, tetapi balsem itu juga ia telan di perut.

Mungkin agar perutnya, juga isi tubuhnya bisa menjadi lebih nyaman, lebih kuat. Tetapi bukankah malah berpeluang menjadi racun ? Sebuah pepatah dari abad keenam belas boleh jadi menegaskan hal itu :

One man's meat is another man's poison.

Anda setuju ?
Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 26 Januari 2010


ke

Monday, September 28, 2009

Bir Obama, Polisi Korup dan Ketegasan SBY Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Polisi yang brutal. Polisi kulit putih dan profesor Harvard berkulit hitam hampir saja memicu berkobarnya sentimen rasial di Amerika Serikat.

Peristiwa itu bermula ketika Henry Louis Gates, profesor dari Universitas Harvard dibekuk oleh seorang polisi berkulit putih, Sersan James Crowley, ketika sang guru besar itu mau masuk ke rumahnya sendiri.

Aneh tapi nyata. Mengingatkan kasus yang menjadi contoh dalam bukunya Malcolm Gladwell, Blink : The Power of Thinking without Thinking (2005) : pemuda 20 tahunan, Amadou Diallo, keturunan Guinea tewas setelah digerebeg oleh empat polisi kulit putih di New York, 3 Februari 1999.

Apa kesalahan Diallo ? Tak ada. Ia hanya mencari angin segar malam itu di luar rumahnya. Malam yang membawa sial baginya, gara-gara keempat polisi yang sebenarnya tidak tergolong rasis, melakukan serial terkaan, critical misjudgment yang fatal, sehingga ia tewas.

Peristiwa ini memicu demo warga kulit hitam, termasuk akhirnya berhasil mengganti nama jalan lokasi kejadian itu. Semula adalah Wheeler Avenue dan digantikan menjadi Amadou Diallo Place. Peristiwa itu mengilhami penyanyi rock AS, Bruce Springsteen menciptakan lagu berjudul “41 Shots” yang dalam refrennya tergurat lirik : “You can get killed just for living in your American skin.”

Bir perdamaian. Kembali ke masalah Gates versus Crowley. Kasusnya semakin memanas ketika Presiden Obama ikut berkomentar atas kejadian itu. Ia mengecam tindakan polisi yang gegabah. Langsung saja, komedian AS pun lalu ramai mengomentari peristiwa yang substansinya masih peka dalam sanubari rakyat Amerika.

Misalnya Bill Maher. “Maling macam apa yang hendak membobol rumah sambil membawa bagasi ? Itulah hal yang saya ingin tahu,” katanya. “Dan petugas polisi itu, Sersan Crowley bilang, bahwa Henry Louis Gate mengancam. Dan mengancam itu, yang ia maksud adalah : seorang berkulit hitam yang berpendidikan.”

obama's   beer summit,henry louis gates,james crowley,christian science monitor

Isu rasial lalu agak mereda ketika Presiden Obama mengambil prakarsa lanjutan, dengan mempertemukan keduanya, untuk mengobrol sambil minum bir di Gedung Putih (foto). Para komedian ribut lagi.

Komedian Conan O'Brien berkata bahwa dalam pertemuan perdamaian itu Obama menyuguhkan bir buatan Budweiser. Ledeknya kemudian : “Untuk mendorong semangat harmoni ras, pabrik bir Budweiser telah merubah julukannya. Dari semula King of Beers menjadi Martin Luther King of Beers.”

Lelucon tentang bir itu lalu menyikut sana-sini. Kali ini menyodok ingatan rakyat AS terkait peristiwa ketika George W. Bush yang pernah tersedak saat makan kue pretzel, seperti diungkap lagi oleh Conan O’Brien :

“Sungguh mengesankan, Presiden Obama menyuguhi Profesor Gates dan Sersan Crowley minuman bir dan pretzel. Pretzel. Ya, inilah saat kali pertama pretzel disuguhkan di Gedung Putih sejak kue itu menyerang Presiden Bush. Anda masih ingat, bukan ?.”

David Letterman menimpali : “Presiden Obama bukan satu-satunya presiden yang menikmati bir sesekali waktu. Bill Clinton juga. Menurut cerita, Bill Clinton masuk bar dan memesan segelas bir dingin. Lalu apa jawab sang pelayan ? ‘Oh, pulanglah, dan temui Hillary saja.’”

Andy Borowitz di kolomnya edisi 28/7/2009, ikut bergunjing bahwa hari minum-minum bir itu sebaiknya didaulat sebagai hari libur baru : Hari Minum Bir Bersama Seseorang Yang Anda Tangkap.

Untuk menjelaskan momen itu, Obama seperti direka-reka secara jenaka oleh Andy Borowitz, konon telah berkata kepada para wartawan : “Ketika kemarahan sedikit memuncak, maka akan selalu ada penolong agar seseorang mampu berpikir lebih rasional : bir.”

Presiden Obama berharap bahwa proklamasinya itu akan menggiring terselenggaranya pesta di seantero negeri yang melibatkan polisi dan orang-orang tidak bersalah yang baru saja mereka tangkap.

Lain di AS, lain di Indonesia. Pesta bir perdamaian di Gedung Putih itu mungkin sama sekali tidak pernah terdengar oleh telinga Presiden SBY. Bila saja ia mendengar, siapa tahu, Presiden SBY akan meneladani sikap Obama itu. Apalagi SBY yang temperamen budaya Jawanya masih kental dalam menjaga harmoni, sehingga mengesankan sebagai peragu, diharapkan mampu berlaku bijak dengan mengundang para petinggi Polisi dan KPK untuk bertemu dan minum-minum bersama.

Untuk mendamaikan konflik cicak melawan buaya.

Tetapi yang terpenting adalah menunjukkan ketegasan SBY di momen krusial ini. Dan bukan seolah tutup mata dan tutup telinga terhadap berubah-ubahnya sangkaan yang terkesan artifisial, seperti yang diajukan oleh polisi terhadap kedua pimpinan KPK yang mereka seret ke ranah hukum itu selama ini.

Ketegasan SBY kini disorot oleh nurani hukum bangsa ini. Saatnya ia menentukan secara jernih fihak mana yang menjadi biang kerok pengganjal angin perubahan aksi pemberantasan korupsi di negeri sarang para koruptor ini. Lalu dengan kuasanya, melakukan kebijakan untuk menghukum mereka yang sebenarnya bertindak korup. Tanpa pandang bulu !


Wonogiri, 28/9/2009

ke