Email : humorliner@yahoo.com
Mampuslah dunia komedi Indonesia.
Apakah Anda mengenal Aida ? Dia adalah lulusan Fakultas Teknik Kehutanan UGM, pernah tinggal dan belajar di pelbagai negara di Eropa, dan kini bekerja di bidang industri kehutanan. Menikah dengan ekspatriat, tinggal di Kemang, Jakarta, adalah juga sosok penulis artikel berbahasa Inggris bertopik gaya hidup, lingkungan dan gastronomi untuk media berbahasa Inggris di Indonesia dan mancanegara. Judul tulisan ini saya ambil dari kalimat pertama dalam artikelnya yang berjudul “Comedy in Blanket,” yang isinya sungguh menarik dan menggelitik.
Cerita Aida berlanjut. “Kemarin saya meriset di Internet untuk menemukan lelucon Indonesia. Saya tidak menemukan lelucon sebiji pun yang mampu menggerakkan saya untuk tertawa atau terkikik-kikik tanpa henti dengan air mata berleleran. Memang betul ada merebak air mata di mata saya, tetapi itu merupakan reaksi akibat ungkapan patetik yang saya baca di layar komputer.
Mengapa begitu sulit menemukan lelucon–lelucon lokal yang hebat ? Yang saya maksudkan adalah humor segar yang dihasilkan orang dari pelbagai lapisan masyarakat yang mencerminkan pengalaman hidup mereka sehari-hari, kata-kata cerdas yang mampu membebaskan mereka sejenak dari realitas hidup yang berat di tengah masa krisis ekonomi yang berkepanjangan ini.“
Semakin menarik ketika Aida menggolongkan empat kategori humor di Indonesia, yaitu : (1) lelucon kasar atau slapstick, (2) lelucon rasialis, (3) permainan kata dan, (4) lelucon intelektual.
Lelucon slapstick, menurutnya, sering muncul di TV lokal. Dalam tayangan komedi Bajaj Bajuri, sebagai contoh, munculnya adegan orang terjengkang dari kursi atau bayi yang muntah dianggap sebagai lelucon paling lucu. Lelucon rasialis merupakan tipe favorit kedua di Indonesia, di mana sering memunculkan orang Indonesia bukan keturunan etnis Cina tetapi berdandan pakaian tradisional Cina dengan bahasa beraksen Cina yang berlebihan. Atau orang non-Batak menyerocos dengan kata-kata yang kental beraksen Batak. Juga sering muncul di televisi dan mengudara lewat radio, permainan kata-kata dari etnis tertentu tetapi tidak ditujukan sebagai lelucon rasialis, melainkan digunakan untuk propaganda demi menjaga keutuhan integrasi bangsa. Sementara itu lelucon intelektual, menurutnya, merupakan lelucon yang paling sedikit eksistensinya di Indonesia.
Low comedy. Paparan Aida yang menarik di atas dan kita tidak usah menjadi seorang intelektual humor sekaliber almarhum Arwah Setiawan, kita segera menyetujui pendapat Aida betapa lanskap dunia lelucon Indonesia didominasi oleh apa yang disebut Encyclopedia Brittanica sebagai low comedy, komedi kelas rendah. Yaitu hiburan berwujud drama atau literasi yang tidak ada tujuan pokok kecuali hanya untuk menimbulkan tawa dengan bualan, lelucon hiruk-pikuk, mabuk-mabukan, pertengkaran, badut-badutan dan aksi-aksi gaduh lainnya.
Mungkin memang lelucon low comedy semacam itulah yang dibutuhkan oleh sebagian besar kita. Sebagai ilustrasi, adalah artikel menarik dari Aulia Muhammad, wartawan harian Suara Merdeka, ketika meresensi acara talkshow Empat Mata-nya Tukul Arwana. Ia menyoroti antara lain tentang “tipikalitas” Tukul yang nyaris terjebak dalam rutinitas.
“Gestur, umpatan, salah ucap (dari Tukul) semua jadi terasa memesona, dan menjual. Dan memang begitulah pada mulanya. Seluruh tipikalitas Tukul itu memang membuat perut berguncang. Tapi, ketika Empat Mata tayang nyaris setiap malam, kelucuan rutin itu menjadi terasa ‘menyedihkan,’”demikian tulis Aulia.
Sebabnya satu, Tukul terpancang pada idiomatikal itu-itu saja. Yang lahir kemudian hanya semacam perulangan dari adegan di malam-malam sebelumnya. Nyaris tak ada kreasi, bahkan ketika yang hadir adalah tamu dengan karakter yang sangat berbeda. Tukul tak mampu bermetamorfosa Semesta gelak yang kemudian lahir tak lebih tawa yang kering, tawa dari kelucuan yang sudah menjadi semacam hapalan.“
Akhirnya Aulia Muhammad yang blogger dan pemimpin redaksi Suara Merdeka Cyber itu menyimpulkan, “Tukul mungkin lupa, setiap orang tidak akan pernah puas jika hanya mendapatkan hal yang sama. Kerutinan pasti melahirkan kebosanan. Pemirsa tak pernah bisa setia. Dan jika kemasan Empat Mata tidak berubah, Tukul masih selalu memakai idiom yang nyaris jadi hapalan, kepopulerannya tinggal menghitung masa. Karena tanpa disadari, Tukul mengubah kekuatannya menjadi titik terlemahnya: selalu tampil apa adanya, bermodal kelucuan yang itu-itu saja.“
Preseden serupa telah terjadi sebelumnya ketika KPI Pusat dalam siaran pers No.: 30/K/KPI/SP/07/06 dengan tegas meminta merombak suatu tayangan komedi di televisi dengan alasan pertimbangan serupa. KPI Pusat pada 12 Juli 2006 meminta stasiun TV Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) untuk segera membenahi secara mendasar program-program komedi yang bermuatan mesum, menonjolkan kecabulan, mengeksploitasi sensualitas, melecehkan perempuan menjadi objek seks, tidak mengindahkan nilai agama, serta mengabaikan keberagaman budaya dalam masyarakat Indonesia.
Hasil pemantauan yang dilakukan oleh KPIP April-Juni 2006 menunjukkan setidaknya terdapat dua program komedi yang bermasalah. Ada pun program tersebut adalah Ngelaba (ngelawak lewat banyolan) dan Chatting (canda itu penting) yang masing-masing disiarkan dua kali dalam seminggu.
Kedua program tersebut sangat lazim menyajikan candaan ataupun gerakan lelucon yang berasosiasi mesum dan cabul. Muatan semacam itu jelas sangat tidak layak disiarkan oleh stasiun televisi nasional yang menjangkau puluhan juta penonton di seluruh Indonesia serta menggunakan frekuensi siaran yang merupakan milik publik. Juga perlu diingat bahwa meski ditayangkan hampir larut malam, isi acara seperti itu tetap tidak layak disiarkan oleh TPI yang siarannya menjangkau daerah-daerah yang memiliki kebudayaan dan standar nilai yang beragam.
Dalam siaran pers yang ditandatangani S. Sinansari ecip ditandaskan, “KPI akan menjadikan hasil pengamatan ini sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam proses pemberian Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) bagi TPI. KPI juga mengingatkan, bahwa bila peringatan ini tidak diindahkan, KPI akan membawa bukti-bukti rekaman ini ke jalur hukum sesuai dengan UU Penyiaran No. 32/2002.”
William K. Zinserr pernah bilang, ”What I want to do is make people laugh so that they’ll see things seriously. Dengan membuat orang-orang menjadi tertawa ia mengharapkan mereka tersebut mampu melihat obyek candanya secara serius. Apakah bagi komunitas komedi Indonesia tuntutan untuk mempromosikan misi mulia tersebut memang terasa berat sekali ? Apakah komunitas komedi Indonesia benar-benar tidak tergerak untuk mulai mengasah “gergaji”-nya demi hadirnya lelucon-lelucon yang lebih bernas kadar intelektualitasnya ?
Kalau ya, saya yakin Aida bakal tidak tertarik menulis lagi tentang topik lelucon atau pun komedi Indonesia. Karena dipastikan dirinya akan hanya kembali mengulang-ulang pernyataannya, bahwa : Indonesian jokes are not funny !
Wonogiri, 10-11 Mei 2007
ke
