Showing posts with label paski. Show all posts
Showing posts with label paski. Show all posts

Tuesday, December 07, 2010

Petisi Darminto, PASKI dan Mutu Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


PASKI.
Persatuan Seniman Komedi Indonesia.
Ketua Umum : Indro Warkop.
Sekretaris Jenderal : Miing Bagito.

"Jujur saja, selama periode kepengurusan mereka, saya belum melihat atau mendengar ada sesuatu yang penting dicatat, sebutlah tonggak atau jejak yang penting bagi peningkatan kualitatif SDM pelawak kita."

Penilaian di atas itu telah disampaikan oleh Darminto M Sudarmo (foto) dalam catatan di akun Facebooknya (7/12/2010) yang berjudul Menjadi Pelawak, Enak atau Tidak Enakkah?

Judul artikel itu mungkin dibuat agar provokatif bagi pembaca, walau senyatanya topik tulisannya menukik ke hal yang lebih fundamental. Karena sarat berisi gugatan dirinya tentang kondisi dunia komedi kita saat ini.

Dengan tajam mantan pemimpin redaksi majalah HumOr ini mengungkap meruyaknya pola pikir kalangan pelaku dunia komedi kita yang pada umumnya mencampuradukkan kualitas karya dengan kualitas dalam parameter dagang.

"Di dalam parameter dagang, apa yang disebut bagus, bermutu adalah yang DISUKAI atau BISA MEMUASKAN konsumen. Di sinilah paradoks itu terjadi. Silang sengkarut pendapat merebak, salah paham, saling menafikan dan mau menangnya sendiri tak terelakkan lagi," tandasnya.

Bahkan ia pun merujuk ucapan Miing misalnya : "Eh, kalau dengan begini lawakan gue udah laku, ngapain sih repot-repot mikirin yang aneh2 dan belum tentu laku."

Pesan penting lainnya yang ia gelar adalah wacana mengenai kerasnya pergulatan seniman, seniman apa pun termasuk kreator komedi, dalam proses penciptaan karya-karya yang unggul.

Ia merujuk contoh kartunis andal kita, G.M. Sudarta, di mana "di balik tiap karya kartun/karikatur yang bagus, berjejer rak-rak buku tebal yang memaksa si kartunis rajin-rajin menyimak dan menelaahnya."

Kreator memang nampak seperti perangai seekor bebek. Ia nampak tenang mengapung di permukaan air, tetapi yang di bawah permukaan terdapat ribuan ayunan gerak dua kaki yang bekerja sangat keras untuk membuat dirinya melaju.

250 Ribu Karya Lawakan. Kaki-kaki yang bekerja keras di bawah permukaan itu, bila merujuk para pelaku dunia komedi di negara maju, dapat tercermin dari beberapa pendapat mereka.

Misalnya, seorang Jerry Seinfeld punya kredo : "Menulislah sampai jari-jarimu sakit !" Mentor komedi Judy Carter selalu berseru : "Menulislah setiap kali bangun pagi, bahkan sebelum kau pergi ke belakang untuk beol atau mandi."

Bahkan sudah menjadi rumus pekerjaan, penulis komedi harus bekerja delapan jam dalam sehari !

Pentingnya drill secara spartan yang ditujukan untuk memperkuat muscle memory (myelin) itu, demikian kata Rhenald Kasali, merupakan kunci setiap insan dan juga bangsa dalam meraih keunggulan dan keberhasilan. Dunia pendidikan kita yang terlalu berat sebelah dengan menganakemaskan olah untuk memperkuat brain memory, tak lagi cukup.

Tak ayal, di manca negara terdapat sosok seorang komedian bernama Richard Lewis yang harus menyewa safe deposit box di bank. Agar koleksi 250.000 judul lelucon karyanya aman tersimpan di dalamnya !

Bagaimana komedian kita ?

Ada dua kelompok komedian terkenal, di mana untuk menulis biografi mereka sendiri saja harus menyewa penulis. Komedian yang tidak menulis itu jelas bakal tidak mampu menghayati apa yang menjadi pergulatan seorang GM Sudarta, kartunis senior Indonesia, seperti diungkap Mas Darminto di atas.

Di Indonesia memang begitulah panggungnya. Saya kutipkan lagi (karena memang sering saya kutip) ujaran Dr. Sudjoko (almarhum) dari ITB, bahwa : "Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah pelakon, orang panggung, orang tontonan. Bukan penulis, bukan sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua tidak mampu menulis."

Serigala saling cakar. Semoga gedoran dari Mas Dar ini bisa sampai ke telinga PASKI yang konon akan berkonggres.

Untuk momen penting itu saya ingin titip bisikan. Tentang ujaran seorang Patrick Bromley, pengelola blog komedi di bawah koran The New York Times. Ia berkata bahwa komedi itu komunitas, warganya guyub, saling membantu untuk meraih sukses secara bersama.

Gotong royong ternyata malah subur di Amerika Serikat sana. Contoh ekstrim : komedian muslim Amerika Serikat keturunan Mesir, Ahmed Ahmed ("bila divonis sebagai teroris Islam, saya akan dihukum DUA kali lipat," guyonnya) dan Rabbi Bob Alper yang jelas-jelas Yahudi, berkolaborasi melakukan tur lawak bareng untuk menyiarkan kerukunan beragama melalui komedi.

Semangat guyub antarkomedian kita di sini, boleh jadi dicerminkan dari kehadiran dan ketidakhadiran organisasi mereka, yaitu Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PASKI). Begitu diresmikan langsung mati suri.

Hal itu terjadi mungkin karena pola gaul antarkomedian kita yang justru masih dikerangkeng oleh hukum Hobbesian : "komedian satu merupakan serigala untuk komedian lainnya."

Tak ada guyub. Tak ada keinginan untuk saling mengedukasi satu dengan yang lainnya. Yang ada adalah rivalitas. Saling mencerca dibalik punggung masing-masing.

Akibatnya,sejak diresmikan kegiatan wajib fungsionaris PASKI yang paling menonjol adalah melakukan amal yang sangat mulia. Menengok komedian yang sakit parah dan yang meninggal dunia.

Mungkin dengan rasa sedih yang tulus, tapi mungkin juga, merujuk hukum Thomas Hobbes di atas, justru dengan rasa "bergembira" : karena telah hilang satu lagi saingan dalam membuat periuk nasi mereka bisa ngebul sehari-harinya ?


Wonogiri, 7-8 Desember 2010

ke

Monday, December 15, 2008

Menggugat Masa Depan Neo Srimulat

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Aneh itu lucu. Mayat hidup itu terus mengancam. Berjubah putih dengan bercak darah di sana-sini. Walau geraknya lamban, ia terus memburu sasaran. Di tengak sorak-sorai penonton, pelawak Basuki terus berusaha menyelamatkan diri dari kejarannya. Toh akhirnya ia harus menyerah.

Itulah puncak dari tontonan Anekaria Srimulat malam itu di Taman Ria Senayan, Jakarta. Saya menontonnya saat diajak teman kuliah di UI, Bakhuri Jamaluddin, di tahun 1980-an. Adegan klimaks itu terasa membekas, selain penampilan tak terduga di awal acara malam itu. Kali ini dari sosok pria kurus yang bersurjan Jawa. Wajahnya dilumuri bedak tebal seperti pemain pantomim. Ia berdiri di pinggiran panggung di depan mik. Sejurus kemudian dari mulutnya mengalun lagu hitnya Tommy Bennet, “I Left My Heart in San Francisco” yang indah itu.

Adegan segar serupa rupanya juga membuat terpana intelektual humor Indonesia, almarhum Arwah Setiawan. Dalam buku berjudul Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi tulisan Herry Gendut Janarto, Arwah mencatat penampilan seorang peraga Srimulat, yaitu Budi SR, yang mampu memporakporandakan daya asosiasinya. Budi satu ini tampil di panggung sebagai tukang pijat, lengkap dengan tongkat putih dan bunyi crek...crek. Tetapi kemudian ia melantunkan lagu “And I Love You So”-nya Perry Como dengan artikulasi yang benar dan suara merdu.

Aksi Budi SR itu merupakan salah satu pengejawantahan filosofi atau resep yang ditinggalkan Teguh Srimulat bahwa "yang aneh itu lucu" dan telah melambungkan kelompok lucu Srimulat ini pada puncak kejayaannya, antara tahun 1970-1990-an awal. Kelompok humor ini mampu menyedot penonton hingga memenuhi kapasitas 800 penonton di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Bahkan mereka pun, seperti tertulis di awal tulisan ini, mampu membuka franchise panggungnya yang juga laris di Jakarta dan Solo pula.

Lanskap dunia lawak Indonesia kemudian mengenal nama-nama terkenal antara lain seperti Asmuni, Bambang Gentolet, Basuki, Bendot, Djudjuk, Eko DJ, Gepeng, Gogon, Kadir, Mamiek, Nunung, Nurbuat, Subur, Tarzan, Tessy, Timbul, Triman, Vera, dan masih banyak lagi. Majalah GAMMA (31/12/2001-6/1/2002) menulis kiprah para alumnus Srimulat sebagai penggerak industri humor di televisi bernilai milyaran rupiah (foto) saat itu. Sebagian dari mereka kini sudah almarhum, sementara sebagian kecil alumnus Srimulat itu masih sesekali terlihat di televisi. Aura Srimulat pun nampaknya semakin memudar. Apakah benar-benar sama sekali telah memudar ?


Neo Srimulat ? Rupanya belum. Di perpustakaan umum Wonogiri saya menemukan iklan menarik tentangnya. Muncul di koran Jawa Pos (11/12/2008 : 19) tertulis iklan “Srimulat Manggung Keliling : Jawa Pos dan Srimulat Mencari Neo Srimulat 2009.”

Iklan ini mengundang kelompok calon pengocok perut a la Srimulat untuk mengikuti audisi tanggal 10-11 Januari 2008. Hadiah total 126 juta rupiah. Pendaftaran dibuka 5 – 31 Desember 2008 dengan mengisi formulir dalam iklan tersebut. Juga menyertakan kwitansi langganan koran Jawa Pos terbaru. Setiap kelompok maksimal beranggotakan 5 (lima) orang personel.

Pengumuman Grup Neo Srimulat yang lolos audisi dilakukan pada tanggal 14 Januari 2009. Informasi lebih lanjut dapat mengontak panitia di Graha Pena, Lt. 5, Jl. A. Yani 88 Surabaya, Sdr Deny : 031-8202230. (Data yang saya tulis ini bisa salah, karena cetakan dalam iklan itu, bagi saya, terlalu kecil.-BH).

Ikhtiar untuk memajukan dunia lawak di Indonesia, seperti yang digagas dan dilaksanakan oleh koran Jawa Pos di atas, merupakan upaya yang sangat terpuji. Hari-hari mendatang mungkin kita bisa mengikuti berita yang riuh dan heboh, atau dibuat riuh dan heboh, dari korannya Pak Dahlan Iskan ini mengenai antusias masyarakat kita untuk menjadi pelawak Neo Srimulat itu.


Pelawak meja makan. Kita halal menerka-nerka kini : seperti apa kira-kira manifestasi dari proklamasi slogan “neo” untuk genrekelompok lawak lama tersebut ? Untuk mencoba ikut mencari jawab, saya akan merujuk dulu kepada tulisan wartawan Kompas, Frans Sartono, yang berjudul “Melawak di Tengah Perubahan Zaman” (24/1/2005). Tulisan semacam ini termasuk langka di media massa kita, mungkin untuk menunjukkan betapa dunia komedi kita akhir-akhir ini tidak memiliki daya tarik cukup sebagai wacana intelektual yang berarti. Tulisan tentang komedi Indonesia yang sesekali muncul kebanyakan hanya berupa obituari.

Tulisan Frans Sartono yang menarik itu dihadirkan nampak semata membarengi acara Musyawarah Seniman Komedi Indonesia I di Jakarta. Musyawarah itu akhirnya mengukuhkan berdirinya Persatuan Seniman Komedi Indonesia (Paski), juga memilih Indrojoyo Kusumonegoro (46) alias Indro Warkop sebagai Ketua Umum Paski. Dedi “Miing” Gumelar terpilih sebagai Sekretaris Jenderal, sedangkan Tarzan dan Eko Patrio menjabat sebagai wakil Ketua I dan II.

Begitulah seniman komedi Indonesia membentuk organisasi untuk membenahi profesi mereka di dunia lawak yang saat ini telah menjadi bagian penting dari industri hiburan di Indonesia. Miing Bagito bersama Tarzan dan kawan-kawan, seperti ungkap Frans Sartono, menggagas musyawarah tersebut sebagai upaya agar lawak diperlakukan sebagai pekerjaan profesional layaknya profesi lain di jagat hiburan.

Benang merahnya, selain membenahi kesejahteraan hidup pelawak, Paski juga akan membenahi sumber daya para pelawak. “Kami ini kan engga ada sekolah untuk meningkatkan skill dan knowledge (keterampilan dan pengetahuan). Organisasi ini nantinya diharapkan menjadi fasilitator untuk meningkatkan sumber daya pelawak,” kata Miing.

Sementara Indro mengatakan, Paski nantinya akan memberi pengetahuan seputar manajemen, asuransi, selain juga kemampuan seni peran. Bahkan Indro mempunyai gagasan, menurut saya lucu, terkait niatnya memberi pengetahuan seputar tata karma di meja makan, table manner, kepada pelawak. “Selain bisa menjadi bekal mereka dalam pergaulan sosial, table manner, itu kan bisa jadi bahan lawakan,” kata Indro.

Ide table manner itu kemudian ditangkap secara jeli oleh Frans Sartono sebagai penanda perubahan jaman : dari suguhan lawakan berlatar belakang masyarakat agraris menuju transformasi materi lawakan yang sesuai untuk masyarakat industri modern yang lebih kompleks. Ilustrasinya : dagelan seputar cap jae, atau cap jay yang sering terdengar di pentas Srimulat itu, harus disesuaikan dengan kelas masyarakat pemilik kultur table manner, yaitu generasi baru konsumen hiburan di Indonesia.

Mereka itu adalah generasi yang tidak mengenal Basiyo, Kwartet Jaya-nya Bing Slamet (bersama Eddi Sud, Ateng dan Iskak), Bagyo dan Srimulat. Mereka menyerap beragam format komedi mulai dari lawakan stand-up comedian, tampilan komedian tunggal, hingga sitcom, komedi situasi.

Implikasi dari perubahan itu, katanya, pelawak kita harus berbicara dengan bahasa lawak yang baru. Harus menyesuaikan dengan manajemen modern yang berlaku dalam industri hiburan yang menuntut kecepatan produksi. Dituntut lebih sigap tampil di berbagai format tampilan di depan penonton yang berbeda. Juga mampu tetap lucu di segala situasi. Untuk itu, telah dirujuk pendapat Us Us dari D’Bodor yang mengatakan : untuk menghadapi industri hiburan yang terus berkembang, pelawak harus mau belajar soal ilmu pemanggungan.

Spontanitas tetap diperlukan, kata Us Us, tetapi “pelawak juga perlu naskah. Kami memerlukan script writer, penulis naskah, agar tidak stagnan dan terhindar dari pengulangan materi. Kita gabungkan naskah dengan kemampuan improvisasi.” Us Us memberi contoh Bob Hope yang memanfaatkan kekuatan naskah dan improvisasi spontan.

Warkop, juga Bagito, kemudian disebut sebagai contoh oleh Frans Sartono sebagai grup lawak yang mulai tanggap dengan perkembangan atau pergeseran pasar. Mereka mulai menggunakan naskah dan berpakaian jas. Walau, menurutnya, materi lawakannya sebagian masih menyisakan bau agraris warisan generasi Srimulat.


Manusia licik. Kembali ke realitas: kedua contoh di atas, sayangnya, kini tinggal sejarah. Warkop, sepeninggal Dono dan Kasino, praktis tiada lagi sekarang ini. Bagito sudah pula bubar karena habis. “Tinggalkan dunia lawak,” demikian judul berita koran Suara Merdeka (4/11/2008 : 16). Bahkan disebutkan, “meninggalkan dunia lawak seratus persen.” Itu cerita tentang diri Miing Bagito, Sekretaris Jenderal Paski, yang kini sebagai caleg DPR RI suatu partai untuk daerah pemilihan Banten.

Ilustrasi kecil terakhir ini dan gambaran besar lanskap dunia lawak di Indonesia yang diungkap oleh Frans Sartono, semoga dapat menjadi masukan bagi penggagas acara audisi Neo Srimulat tadi. Juga, tentunya, bagi para peserta. Termasuk memperhatikan secara seksama impian Us Us dari D’Bodor mengenai pentingnya para penulis naskah komedi di balik panggung lawakan mereka.

Fihak Jawa Pos dapat pula belajar dari penyelenggaraan dan hasil akhir pelbagai audisi calon pelawak yang pernah diselenggarakan oleh stasiun televisi kita selama ini. Acara yang begitu mahal itu ternyata boleh dibilang gagal menelorkan kelompok-kelompok lawak baru yang andal. Penyebabnya, mereka terutama mengingkari apa yang pernah diungkap oleh Arwah Setiawan dalam bukunya Humor Zaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1997 : hal 379) : “betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukan itu tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati oleh para pemirsa….Keberhasilan suatu pertunjukan komedi memang bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal…Untuk itu perlu diadakan lomba penulisan naskah komedi.”

Sekadar mengilas balik, kiranya masih sangat lekat dalam ingatan kita bahwa pemenang API-4/2008 di stasiun televisi TPI adalah kelompok Abioso dari Pasuruan. Pemanggungan mereka tidak lain sebuah replika seratus persen dari pentas ketoprak dan, tentu saja, bergaya Srimulat juga.

Jadi roh “mayat hidup” Srimulat memang belum mati. Jadi kita boleh berandai-andai : apakah pemanggungan peserta audisi Neo Srimulat nanti masih dimulai dengan lagu instrumentalia “Whiskey & Soda”-nya Roberto Delgado, mengiringi adegan batur, pembantu rumah tangga, dengan serbet terselempang di pundak dan melakukan monolog ngrasani, membicarakan di balik punggung sang majikan ?

Atau mengeksploitasi adegan mayat hidup, atau drakula, yang terus mengejar-ejar korbannya ? Kalau dugaan itu nanti benar, oh, betapa di dunia yang telah berubah itu ternyata mind set pendukung-pendukung baru, neo, dunia komedi kita rupanya tetap tidak berubah. Jalan di tempat.

Bila memang itu nanti yang terjadi, hemat saya, sebaiknya semua pelaku dunia komedi Indonesia mengikuti jejak Miing Bagito atau Eko Patrio saja. Untuk ramai-ramai menjadi anggota legislatif. Menjadi politikus. Karena senyatanya menjadi pelawak yang bener dan andal dewasa ini memang tidak mudah. Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998) menyajikan kutipan inspiratif :

“Tidak seorang pun sengaja memilih menjalani hidup sebagai komedian. Jalan hidup satu ini begitu sulit dan saat ini juga tidak setimpal penghargaannya. Sehingga hanya mereka saja yang sengaja menerjuninya, yaitu mereka yang tidak hanya semata-mata ingin terjun ke dalamnya tetapi dilatarbelakangi alasan dirinya harus menerjuninya.”

Menerjuni komedi demi memenuhi panggilan menegakkan kebenaran. Untuk bergelut dalam penderitaan. Sebab “comedy is truth and pain,” demikian imbuh kesimpulan dari John Vorhaus dalam bukunya The Comic Toolbox (1994).

Sedang politikus ? Walter Williams menegaskan betapa maling dinilainya lebih bermoral dibanding anggota legislatif. Sebab bila ia mencuri uang Anda, maka si maling itu tidak menuntut Anda untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Novelis Skotlandia, Robert Louis Stevenson (1850–1894), mengatakan bahwa politik boleh jadi merupakan satu-satunya profesi dimana persiapan olah pikir tidak diperlukan. Sementara ahli kamus, kritikus dan penyair Inggris, Samuel Johnson (1709–1784) memberikan definisi untuk politikus sebagai a man of artifice. Orang licik.

Tidak aneh bila sebuah lelucon klasik Amerika memberikan ilustrasi yang sungguh tajam dan jitu khusus untuk menggambarkan betapa destruktifnya mereka.

Pertanyaan : Seberapa banyak jenderal atau politikus yang diperlukan untuk mengganti sebuah bola lampu ?

Jawab : Sebanyak 1.000.001. Satu orang bertugas menggantikan bola lampu dan 1.000.000 sisanya membangun kembali peradaban manusia sampai mereka membutuhkan bola lampu berikutnya !


Wonogiri, 14-15/12/2008


ke

Wednesday, November 19, 2008

Kodok Beracun dan Hari-Hari Komedi Indonesia Mati

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Kodok beracun. “Ada nasib baik, juga ada nasib buruk,” demikian jawab peramal kepada seekor kodok yang ingin mengetahui masa depannya. “Nasib baiknya, kau akan bertemu gadis-gadis SMA.” Hati kodok pun menjadi berbunga-bunga. Lalu apa nasib buruknya ?

Sang peramal pun meneruskan dengan berbisik : “Gadis-gadis itu menemuimu di lab biologi sekolahnya.”

Katak yang malang. Mungkin bisa disebut bernasib kurang beruntung. Atau ia justru lebih beruntung bila dibandingkan nasib katak yang mati secara mengerikan dalam acara talk-show komedi Empat Mata, Rabu 29 Oktober 2008 di stasiun televisi Trans 7 yang lalu itu.

Merujuk cerita AS Ode di Suara Merdeka (2/11/2008 : 32), saat itu Tukul Arwana menghadirkan Sumanto dan Lina. Hadir pula ibu dan guru mengajinya Sumanto, pendamping Lina, serta kriminolog Adrianus Meliala untuk mengomentari kasus mutilasi, yang menurutnya merupakan cantolan berita yang tidak nyambung dengan kasus Sumanto, sang pemakan mayat, yang menghebohkan dulu itu.

Adegan mengerikan terjadi ketika kamera dengan polos mensyut Lina, sang pemakan binatang hidup, menangkap katak dalam toples lalu memakannya hidup-hidup. Tak hanya penonton yang menunjukkan rasa ngeri dan lebih dari itu jijik (hingga ada yang mau muntah), tapi juga Tukul.

Buntut dari tayangan ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah menghentikan sementara program Empat Mata sejak surat itu dikeluarkan, 4/11/2008. KPI menilai adegan makan kodok dalam acara itu sudah kelewat batas. Juga melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) yang antara lain melarang tayangan yang mengandung adegan sadistis, mengagungkan kekerasan dan adegan penyiksaan terhadap binatang.

Dikutip dari Kompas (9/11/2008 : 22) tersaji data bahwa tayangan Empat Mata sebelumnya sudah menerima tiga surat teguran tertulis dari KPI, yakni 5 Mei 2007, 27 September 2007 dan 25 Agustus 2008. Surat-surat teguran itu dilayangkan karena Empat Mata beberapa kali menampilkan adegan dan lelucon berbau seks secara eksplisit.

“Sejak awal memang sudah diramalkan, Empat Mata yang hanya mengandalkan kelucuan-kelucuan artifisial bakal kalah jauh dari talk show lain semacam Kick Andy yang lebih bertumpu pada isi,” catat AS Ode lagi. Sehingga, menurutnya, persaingan yang sengit dalam upaya mempertahankan rating di antara tontonan televisi yang ada telah mendorong tim kreatif Empat Mata malah “terlalu kreatif.”

Beberapa waktu lalu mereka mendandani Tukul berikut Pepi dan kru yang lain dengan pakaian yang aneh-aneh. Mereka membuat latar dengan aksesori yang aneh-aneh juga. Tak berbeda dari cara pelawak “tradisional” menarik perhatian penonton berpakaian mencolok, bahkan kalau perlu di luar kelaziman. Upaya yang ternyata kian menegaskan, demikian simpul AS Ode, bahwa Empat Mata memang tak menyuguhkan isi, tapi cuma wadah.


Perempuan berjanggut. Saya bukan penonton setia tayangan Empat Mata. Pada awal pemunculannya, yang mendapat liputan menggebu dari media, saya pernah menyaksikan ketika menghadirkan bintang tamu pencipta lagu dan penyanyi Melly Guslaw. Saya hanya mampu mengingat untuk menafsirkan senyum-senyum kecil Melly, yang nampak agak terpaksa karena tuntutan sopan santun belaka, ketika Tukul melontarkan lawakan-lawakannya. “Kasihan deh lawakan-lawakan lu.” Hanya kalimat itu yang tergores di benak saya saat itu.

Terkait adegan makan kodok itu, kini menyusul kalimat lain. Dari Susan Shaughnessy. Ia menuliskannya dalam buku Walking on Alligators : A Book of Meditation for Writers (1993). Buku menarik ini telah diterjemahkan menjadi Berani Berekspresi atau Aku Bisa Menulis : Buku Meditasi Untuk Para Penulis (MLC, 2004).

“Anak sapi berkepala dua dan wanita-wanita berjanggut merupakan bahan untuk karnaval dan tabloid di supermarket. Tidak ada salahnya tertarik pada yang luar biasa. Tetapi yang luar biasa itu, anehnya, tidak bertahan lama. Kita tidak membaca tentang itu atau menonton pertunjukan seperti itu setiap hari. Sebentar saja dia sudah membosankan dan kehilangan daya tariknya,” tutur Susan Shaughnessy.

Hal yang biasa, lanjut Susan, menarik minat kita lebih lama. Kehidupan sehari-hari yang biasa, yang kita tahu benar-benar terjadi, merupakan bahan tulisan yang lebih menarik, yang tidak akan membuat kita bosan. Anak-anak pembangkang, kekasih yang dikecewakan, niat terbaik, harapan dan kekecewaan, hal-hal inilah yang diketahui dan dipedulikan pembaca.

Dalam ranah komedi, menurut Gene Perret, topik-topik biasa di atas mencocoki salah satu rumus universal komedi : karena beragam persoalan tersebut relevan bagi kita semua. Semua komedi memang harus relevan. Apa yang mereka sajikan kita dapat memiliki kaitan dengannya.

Atau dalam bahasa Garin Nugroho, dikutip Kompas (16/4/2001 : 28), sambil merujuk komedi situasi Cheers yang ia sebut “ada harunya, ada persahabatan dalam pertentangan yang hebat. Juga ada penerimaan yang tulus ketika mengetahui satu teman dekat kita memiliki preferensi seksual yang berbeda, sehingga dalam tontonan itu kita mendapat suatu hubungan yang bersahaja, tetapi mampu menggerakan indera kita.”

Kreator komedi Indonesia, dengan mengambil contoh tayangan makan kodok dalam Empat Mata itu, menunjukkan mereka masih mengalami kesulitan besar untuk mengolah hal-hal yang biasa, hal-hal yang bersahaja itu. Mereka justru tergoda untuk mengaduk-aduk hal-hal yang artifisial, aneh-aneh, merekayasa segala bentuk kepalsuan, ketidakwajaran, dan segala hal yang bertentangan dengan akal sehat.

“Pikiran picik hanya tertarik pada hal-hal yang luar biasa, pikiran cerdas tertarik pada hal-hal yang biasa,” demikian ucap penulis Amerika Elbert Hubbard (1859–1915) yang juga dikutip oleh Susan Shaughnessy Ucapan itu kiranya paling cocok untuk menggambarkan pola pikir para kreator komedi Indonesia dewasa ini.

Pikiran picik dapat pula diumpamakan sebagai katak dalam peribahasa Jepang, yang selama hidupnya selalu berada di kubangan sehingga dirinya tidak tahu apa-apa tentang lautan luas. Katak dalam tempurung.

Hemat saya, momentum dari tragedi tayangan makan kodok di Trans 7 dan hukuman keras KPI itu, seharusnya mampu mendorong komunitas kreator komedi di televisi-televisi kita untuk mawas diri. Syukur-syukur ikut juga menggandeng PASKI yang mati suri, untuk sama-sama berani keluar dari kubangan ignoransi yang mengungkungnya selama ini.

Tanpa adanya niat untuk melakukan revolusi pola pikir pada diri mereka, maka tidak ada salah kiranya bila tanggal penayangan Empat Mata edisi kelewat batas itu, 29 Oktober 2008, dapat kita daulat sebagai hari puncak dari hari-hari panjang kematian komedi Indonesia !


Wonogiri, 18/11/2008


ke