Showing posts with label ekonomi kreatif. Show all posts
Showing posts with label ekonomi kreatif. Show all posts

Friday, January 16, 2009

The Harvard Lampoon dan Masa Depan Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Otak lucu dan jenius. “Empat tahun berkuliah di Harvard cukup sudah,” tutur John Updike (1932–2009 ), novelis dan penulis cerita pendek terkenal Amerika. “Saya memang masih harus banyak belajar, tetapi juga mendapatkan gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.”

Ia lulus dari Universitas Harvard pada tahun 1955 dan kariernya kemudian banyak terkait dengan majalah mingguan The New Yorker yang terkenal. Ia masuk jajaran dengan nama-nama penulis besar Amerika yang berkecimpung di majalah yang didirikan oleh Harold W. Ross yang terbit pertama kali tanggal 21 Februari 1925.

Para penulis itu antara lain Robert Benchley (1889-1945), humoris Amerika. Yang menarik dari keduanya adalah : selain sama-sama alumnus Harvard, juga sama-sama digembleng ketajaman ujung penanya ketika terjun mengelola majalah satir, The Harvard Lampoon (THL), saat mereka masih menjadi mahasiswa.

The Harvard Lampoon itu diluncurkan pertama kali tahun 1876 sebagai terbitan majalah humor oleh mahasiswa tingkat sarjana Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts. Terbit setahun lima kali, menurut Wikipedia, THL yang mengambil model majalah satir Inggris Punch itu kini nampak lestari sebagai majalah humor berbahasa Inggris yang mampu berumur panjang.

Yang juga membanggakan, kawah candradimuka THL tersebut kemudian mampu melahirkan alumnus yang menyandang nama-nama terkenal dalam dunia media, sastra dan humor. Sebut saja William Randolph Hearst (1863–1951), nama raksasa dalam dunia penerbitan media di Amerika Serikat. Atau George Santayana (1863–1952), kritikus dan filsuf kelahiran Madrid, Spanyol. Mereka yang berkiprah sebagai penulis buku, selain John Updike juga ada William Gaddis, Cass Sunstein, Simon Rich, George Plimpton, Fred Gwynne sampai Douglas Kenney.

Mereka yang terjun dalam dunia kepenulisan program televisi, selain nama Simon Rich di atas, juga ada B.J. Novak, Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Untuk nama terakhir ini, yang lulusan magna cum laude dari Harvard, saya berlangganan kolom satirnya, The Borowitz Report, sejak 2007. Jejak mereka itu diikuti ratusan alumnus THL lainnya.

Bahkan dapat ditandaskan bahwa hampir setiap program televisi di Amerika yang menjadi hit dalam beberapa dekade terakhir pasti ditongkrongi oleh satu atau lebih otak-otak lucu dan jenius yang alumnus The Harvard Lampoon. Sebut saja acara Saturday Night Live (sejak 1975), Futurama, dan Late Show with David Letterman (1982).

Menurut Encyclopedia of 20th-Century American Humor (2000), buku babon seluk beluk dunia komedi yang dihadiahkan oleh Danny Septriadi kepada saya, alumnus THL juga menulis untuk program televisi seperti Seinfeld, Veronica’s Closet, Murphy Brown, Suddenly Susan, The Larry Sanders Show, Cracker, News Radio, Third Rock from the Sun dan The Naked Truth.

Anda kenal sitkom animasi The Simpsons (1989) ? Disebut sebagai sitkom animasi yang pemutarannya tercatat sebagai terpanjang dalam sejarah televisi, kisah Bart Simpson yang tak pernah naik kelas dari kelas empat sekolah dasar dan keluarganya ini, dalam masa produksinya telah memperkerjakan 36 penulis yang alumnus The Harvard Lampoon tadi.


Humor dipandang rendah. “Humor is serious, not just funny.” Itulah judul artikel almarhum Arwah Setiawan dan Bambang Utomo di koran The Jakarta Post (14/9/1992). Humor memang serius, tidak hanya jenaka. Dengan merujuk nama-nama alumnus pengelola majalah komedi sebuah universitas tersohor di dunia, juga kiprah spektakuler dan kreasi mereka setelah kelulusannya, mungkin kita dapat terinspirasi untuk membuka diskusi tentang bagaimana dunia kepenulisan humor itu, misalnya, bisa ditumbuh kembangkan di kampus-kampus kita.

Dengan mengambil contoh ranah komedi solo, Woody Allen menyatakan bahwa “ultimately, the success of stand-up comic is often determined by his material.” Material itu tidak lain adalah naskah. Begitu pentingnya naskah, tentu saja juga para penulisnya, kita dapat bercermin ketika hampir sepuluh minggu, dari 5 November 2007 hingga 8 Januari 2008 para penulis naskah program dunia hiburan Amerika Serikat melakukan pemogokan secara besar-besaran.

Mereka tergabung dalam organisasi penulis Writers Guild of America, East (WGAE) dan Writers Guild of America, West (WGAW). Kedua organisasi itu yang menghimpun sampai 12.000 anggota merupakan serikat pekerja yang mewakili para penulis untuk film, televisi dan radio yang berkarya di Amerika Serikat. Mereka melakukan pemogokan untuk melawan kebijakan dari Alliance of Motion Picture and Television Producers (AMPTP), organisasi dagang yang mewakili interes para produser film dan acara televisi Amerika Serikat. Isu pokok sengketa mereka adalah menyangkut pembayaran royalti bagi para penulis naskah untuk program-program yang ditayangkan di pelbagai media baru, yaitu media digital, utamanya di Internet.

Karuan saja saat itu dunia televisi Amerika Serikat menjadi kalang kabut. "Writers strike to hit TV first - and hard", tulis koran The Salt Lake Tribune (4/11/2007). Apalagi banyak kaum selebritis yang ikut mendukung mereka sebagaimana ungkap harian USA Today (9/11/2007) : “More celebs show solidarity at writers' picket lines.” Ketika terjadi pemogokan sebelumnya di tahun 1988 yang berlangsung hampir 22 minggu, telah mengakibatkan dunia industri hiburan Amerika Serikat merugi yang diperkirakan mencapai 500 juta dollar.

Mengomentari peristiwa itu, komedian David Letterman mengeluh bahwa tanpa penulis naskah dirinya ibarat Roger Clemens tanpa doping hormon pertumbuhan manusia. Roger Clemens adalah atlet bisbol yang saat itu bikin heboh karena tertangkap menggunakan hormon untuk meningkatkan prestasinya.

Tapi Letterman dalam menanggapi pemogokan itu juga sempat menyodok George W. Bush, sang sumber kaya untuk olok-olok. Ia katakan, para penulis naskah itu sebenarnya hanya punya dua tuntutan : mendapat royalti ketika karya kreatifnya ditayangkan di Internet dan menuntut agar George W. Bush memangku jabatannya empat tahun lagi !

Komedian yang juga alumnus THL, lulus dengan magna cum laude dari Harvard 1985 dengan konsentrasi Sejarah dan Sastra, Conan O’Brien, ketika memandu acaranya Late Night with Conan O'Brien tampil beda. Ia membiarkan brewoknya tumbuh lebat. “Dalam sepanjang hidup saya, saya tak pernah memelihara brewok saya. Kini saya menumbuhkannya sebagai tanda solidaritas kepada para penulis naskah dan sekaligus untuk menunjukkan kejantanan saya. Dua burung dengan satu lemparan batu !,” candanya.

Lain di Amerika, lain pula di negara tercinta kita. “Merujuk pentingnya fungsi humor, sungguh aneh bila humor tidak menjadi kajian yang serius di Indonesia. Bila di Barat humor atau komedi telah menjadi objek kajian sejak jaman Plato, sebaliknya bangsa Indonesia cenderung meremehkannya dan hanya memandangnya sebagai trivia, remeh-temeh belaka,” keluh Arwah Setiawan dan Bambang Utomo lima belas tahun lalu itu. Bagaimana potret aktualnya masa kini ?

Kita Mabuk Komedi. Potret nyata perlakuan dunia intelektual sampai dunia industri hiburan kita terhadap humor atau komedi sebagai hal yang remeh-temeh, mungkin dapat tercermin ketika menghidupkan pesawat televisi Anda. Tayangan komedi kita sebagian besar adalah komedi kasar, slapstick atau riddle, tebak-tebakan.

Sekadar contoh, Kelik Pelipur Lara dalam acara Dunia Dalam Ketawa (Antv), seolah ia sebagai penyiar bertanya kepada temannya : “Mengapa babi bau ?” Temannya menjawab, karena babi suka hidup di habitat yang kotor. Kelik lalu membuat jawaban yang rasa ia benar : “Karena babi mempunyai ketek empat, jadi sangat bau.” Penonton memang boleh tertawa. Tetapi kita tahu, itulah bentuk dari low comedy. Tebak-tebakan adalah lelucon untuk anak-anak.

Gambaran lain dari tayangan komedi kita di layar kaca kita bisa membaca komentar wartawan Kompas Budi Suwarna dan Susi Ivvaty (21/12/2008). Keduanya sempat menulis mengenai acara Empat Mata, kini Bukan Empat Mata : “Dari dulu begitu-begitu saja. Guyonan Tukul Arwana tidak banyak berubah selama 2,5 tahun membawakan acara tersebut.”

Pada laporannya yang terbaru berjudul “Menonton Komedi Sampai Mabuk” (11/1/2009), Budi Suwarna menulis mengenai acara komedi yang saat ini menjadi prima dona acara di televisi kita. Konon karena masyarakat saat ini sedang jenuh terhadap isu-isu politik dan dirundung stres akibat terjepit tekanan ekonomi, maka mereka mencari penghiburan lewat acara-acara komedi di televisi. “Itu sebabnya mereka merespons acara-acara komedi yang ringan dan bisa membuat mereka tertawa,” kata Zoraya Perucha dari Antv yang dikutip dalam laporan itu.

Akibatnya, ragam tontonan di televisi memang kian mengarah kepada hiburan semata. Apa pun acaranya, sebagian besar dikemas dalam bentuk ringan dan diasumsikan dapat menghibur penonton. “Talk show politik pun,” catat Budi Suwarna lebih lanjut, “kini, dikemas sedemikian cairnya hingga mendekati panggung lawak.

Alih-alih memberikan informasi yang berharga dan menjelaskan duduk perkara, talk show semacam itu justru menyajikan sederet kekonyolan. Para pengelola televisi beralasan, penonton sekarang kebanyakan tidak mau berpikir terlalu ruwet ketika menonton televisi. Karena itu televisi memberikan tontonan ringan.”

Premis pengelola televisi itu memang tidak dapat disalahkan. Ketika menonton televisi memang telah terjadi perubahan gelombang dalam otak kita : menurunnya gelombang cepat yang merupakan karakteristik aktivitas berpikir dan meningkatkan jumlah gelombang lemah yang merupakan karakteristik keadaan yang santai. Itulah sebabnya mengapa menonton televisi membuat kita santai, karena otak kita benar-benar dalam kondisi padam.

Liur anjing Pavlov. Menurut kajian Fred Emery dan Merrelyn Emery dalam bukunya A Choice of Futures: To Enlighten or Inform (1976), kondisi merasa santai bagi pemirsa itu menjadikan televisi sebagai kendaraan penyampai iklan yang efektif. Citra-citra dan pesan itu memasuki otak tanpa diproses, tidak dapat diingat kembali, tetapi dapat dikenali, misalnya ketika sang pemirsa itu berada di pasar swalayan.

Kajian ini mungkin memperkuat isi tulisan saya sebelumnya, betapa penonton tayangan komedi kita telah mengalami metamorfosis sehingga perangainya mirip sebagai “anjing Pavlov.” Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : begitu tombol televisi dinyalakan, otak kita pun padam, sehingga yang memandu kita selanjutnya adalah bunyi bel yang membuat anjing-anjing dalam eksperimen Dr. Pavlov itu mengeluarkan air liur masing-masing.

Bunyi bel itu bisa berupa kata-kata “kembali ke laptop”-nya Tukul Arwana. Atau apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, yang tanpa perlu dikaji benar atau salah secara moral, atau berdasar pertimbangan akal sehat, maka refleks otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan kompak bertepuk tangan.

A mob is a group of people with heads, but no brains.

Jadi tidak penting lagi apakah audiens itu punya latar belakang sebagai anggota partai politik, mereka yang dari pakaiannya nampak sebagai umat yang taat beribadah atau pun anak-anak muda yang mengenakan jaket alma maternya, perilaku mereka sebagai gerombolan hampir identik ketika tampil sebagai audiens dalam sesuatu acara komedi dan bahkan juga acara non-komedi di layar kaca kita.


Otak mahasiswa tercecer. Olah kreativitas komedi di Indonesia masih berpeluang diselamatkan masa depannya, dengan mengeksploitasi kedahyatan media-media baru berbasis digital. Seorang Barack Obama bisa meraih kursi Gedung Putih antara lain berkat bantuan situs berbagi video YouTube.com, bahkan ia memerintah kini dengan tetap mengandalkan media yang sama untuk meraih rakyat.

Ide serupa a la Obama itu sudah saya sosialisasikan sebagai gerakan komedi indie sejak saya gagal di audisi API-4. Gagasan itu muncul setelah mengkaji pula sistem perekrutan model API yang nyatanya tidak begitu menjanjikan untuk kemajuan dunia komedi Indonesia. Media mainstream seperti televisi memang memiliki agenda tersendiri, mengejar rating dan iklan, dimana hal itu selalu tidak kompatibel dengan aspirasi baru di dunia komedi. Insan-insan cerdas dari dunia komedi Indonesia harus menempuh jalan alternatif. Jalan baru sesuai tuntutan jaman. Jalan digital. Keampuhan situs YouTube.com menanti mereka manfaatkan secara sepenuh daya untuk pengembangan talenta-talenta baru komedi Indonesia.

“Jangan hanya jadi konsumen industri kreatif.” Itulah kepala berita di harian Kompas (11/12/2008) yang melaporkan seminar bertajuk “Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai Paradigma Keilmuan” yang dilangsungkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sumber daya manusia Indonesia harus juga menjadi produsen industri kreatif. Salah satu nara sumber, Sapardi Djoko Damono, mengatakan bahwa kultur bangsa-bangsa mengarah kepada kultur urban yang ditandai antara lain dengan kreativitas. Kreativitas dan bakat itu dapat dikembangkan. Perguruan tinggi, dalam hal ini Fakultas Ilmu Budaya, menjadi salah satu tempatnya.

Sebagai alumnus fakultas yang sama, saya berharap komedi ikut pula memperoleh porsi yang memadai untuk dikembangkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut. Minimal, dengan merintis penerbitan atau situs yang visi-misinya kurang lebih mirip dengan penerbitan The Harvard Lampoon dari Universitas Harvard itu. Imbauan ini juga berlaku untuk perguruan tinggi lainnya. Termasuk perguruan tinggi yang mahasiswanya suka tawuran, siapa tahu pengembangan seni berkomedi akan mengubah paradigma pikir dan perilaku mereka. Bahwa adu olok-olok lebih berbudaya daripada adu golok.

Kita pun berharap mereka akan terilhami oleh kata-kata John Updike, yang meninggal dunia ketika tulisan ini dipersiapkan, 27 Januari 2009 dalam usia 76 tahun, bahwa kelulusan dari bangku kuliah telah memberinya berkah, berupa “gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.” Bila hal vital itu tidak terjadi, maka tragedilah yang akan terjadi, seperti diceritakan dalam lelucon model Harvard di bawah ini.

Saya kutipkan dari bukunya wartawan brilyan majalah Fortune, Thomas A. Stewart, yang berjudul Intellectual Capital : The New Wealth of Organization (1997). Tentang rektor Universitas Harvard yang menjabat tahun 1909-1933, Abbott Lawrence Lowell. Suatu hari ada seorang tamu yang bertanya di kampusnya, “Bagaimana sedemikian banyak pengetahuan dapat terkumpul di hulu Sungai Charles ini, Tuan Lowell ?”

Lowell menjawab : “Oh, sangat sederhana. Setiap tahun kami menerima pemuda yang paling brilyan di Amerika” – pada masa itu hampir semuanya pemuda, dan hampir semuanya orang Amerika-- dan ketika mereka diwisuda empat tahun kemudian, mereka hampir semuanya tidak tahu dan tidak peduli apa-apa. Jadi, pasti mereka meninggalkan ilmu dan pengetahuannya di sini.”


Wonogiri, 4/1-7/2/2009


ke

Friday, September 26, 2008

Era Ekonomi Kreatif dan Wajah SDM Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner(at) yahoo.com



Komedikus interuptus. Pasuruan dan zakat lagi jadi berita hangat. Kejadian tragis dengan tewasnya 21 calon penerima zakat menjelang lebaran di rumah seorang pengusaha kaya di Pasuruan, memunculkan usikan : apa ada yang salah dari Islam ? Maksudnya, apa ada yang salah pada umat Islam dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam ? Lebih sempit lagi : mengapa niat-niat mulia itu kemudian justru menjadi bencana ?

Antara niat dan implementasi tidaklah otomatis berimpit. Niat baik belum tentu dapat diimplementasikan secara baik pula. Antar keduanya ada jarak. Umat Islam kiranya harus berkaca, betapa implementasi masih belum menjadi keterampilan alami mereka.

Barangkali itulah mengapa, seperti diwartakan Radio BBC (26/9/08) yang mengutip hasil kajian LSI, yang menyimpulkan betapa partai-partai Islam yang ribut berdebat melulu mengenai konsep jati diri tak pernah laku keras. Bahkan cenderung terus menurun, di mata konstituen sejak Pemilu 1955. Pemilih cenderung memilih partai-partai sekuler yang menjual program-program konkrit yang mampu menyejahterakan mereka.

Hasil riset tadi, hemat saya, mudah-mudahan didengar oleh mereka yang ngotot untuk menggolkan Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang kontroversial itu menjadi undang-undang. Juga belajarlah dari kasus Pasuruan, di mana betapa ajaran mulia dan niat-niat mulia, kemudian justru membuahkan bencana.

Ketika warga Bali menyuarakan penentangan hebat atas RUU APP ini, dan mengancam akan melakukan pembangkangan sipil, civil disobedience, mungkin kita dapat memperkirakan apa yang bakal terjadi bagi Indonesia di masa depan. Indonesia yang terancam gosong dan tercerai-berai ?


Misi lucu dan luhur. Syukurlah, kabar dari Pasuruan tidaklah selalu jelek melulu. Dalam ranah dunia komedi, tanah ini telah melahirkan kelompok lucu Abioso yang memenangkan kontes Audisi Pelawak TPI (API)-4 di awal tahun ini. Kalau Anda sempat menengok situs blog mereka, lalu membaca-baca secara teliti prestasi panggung mereka, mungkin Anda akan terheran.

Kelompok yang diotaki Ahmad Aminuddin (Aam, 25), Muhammad Ali Mufadhol (Ali, 25) dan Muhammad Ghufron (GeGe, 23), adalah anak-anak jebolan Pondok Pesantren Ngalah Purwosari Pasuruan. Tetapi mereka pernah manggung lawak di SMP-SMA Advent Purwodadi dan Gereja Katolik Pasuruan. Mengingatkan saya akan petualangan lucu bermisi luhur dari komedian muslim keturunan Mesir, Ahmed Ahmed bersama rabbi Yahudi yang jenaka, Bob Alper, ketika keduanya meluncurkan tur komedi “One Muslim, One Jew, One Stage : Two Very Funny Guys” di AS pasca serangan teroris 11 September 2001.

Ketika saya mengunjungi blog Abioso itu, saya pun menulis pesan. Selain berkenalan, saya ingin memperoleh cerita-cerita apa saja yang pernah mereka reguk selama menjalani API-4 tersebut. Mereka juga saya rujuk untuk membaca isi sidebar, kolom samping blog ini, yang terpasang sejak 20 Juni 2008. Dengan isi mengundang mereka, selain langsung melalui email, kepada mereka yang memiliki minat memajukan dunia komedi Indonesia.

Baik bagi sobat Effendi Gazali dkk (sebagai juri API-4), sobat Harris Cinnamon (Produser Eksekutif API-4) dan kawan-kawan di TPI, terutama para peserta audisi yang sukses menembus 12 Besar di Jakarta. Ada data yang mungkin menarik tentang profil mereka : sebagian besar personelnya lulusan setingkat SMA, 21 orang. Satu orang D-2 dan seorang mengaku mahasiswa. Hanya ada 4 orang yang mengenyam pendidikan setingkat S-1. Ada 10 orang yang tidak mencantumkan sama sekali data pendidikannya.

Seperti tertuang di blog ini, undangan obrolan tentang API-4 itu terbuka pula bagi peminat komedi lainnya. Untuk berbagi cerita, wawasan sampai harapan kepada sesama pendukung dunia komedi Indonesia. Sayang sekali bukan, bila kegiatan yang mahal itu akhirnya sama sekali tidak meninggalkan jejak di dunia maya sebagai rujukan di masa depan.

Sayang, undangan saya untuk Abioso, tak ada sambutan. Juga nama-nama terkenal di atas, mereka tidak terusik ajakan dan permohonan saya. Terima kasih, desis saya. Maka kolom samping itu, setelah terpajang selama empat bulan, akan segera saya non-aktifkan. Komedikus interuptus. Kontak-kontak komedi yang harus terputus.

Sebagai simbol lainnya, seperti Anda lihat di awal tulisan ini, nampak logo API-4 yang gosong. Untuk menggambarkan betapa harapan saya bahwa seiring peristiwa sebesar API-4 memiliki momen bagi pencinta seni komedi di Indonesia untuk bisa saling ngobrol dan berbagi info, kini rupanya harapan itu mungkin tinggal berupa abu belaka.


Mencontek turis Jepang. Aneh juga. Saya yang memiliki nomor peserta “AB 042S” (ikut audisi API-4 di Yogya, nomor urut 42, dan membawakan komedi single/tunggal) yang gagal di langkah pertama, memang kecewa. Tetapi mereka yang lebih sukses dibanding saya, mengapa mereka enggan diajak untuk berbagi cerita ?

Kegagalan itu, bagi saya, tetap merupakan berkah. Tragedi seiring berjalannya waktu adalah komedi. Gagal itu kini justru menerbitkan kenangan menawan, banyak memicu ide cerita dan pikiran-pikiran lanjutan yang kiranya bisa disumbangkan untuk komedi Indonesia. Hulu dari semua itu, tentu saja adalah kecintaan. Kecintaan untuk dunia komedi. Suka menulis. Suka mengobservasi. Suka mencatat hal-hal yang kiranya menarik dari sekitar.

Terkait hal itu ada cerita menarik tentang perilaku turis-turis Jepang. Penutur ceritanya adalah Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa turis-turis Jepang selalu membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi. Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Apa kebiasaan serupa juga berlaku untuk kalangan komedian ? “Get yourself a notebook that you keep by your bed and another, smaller one that can fit in your pocket...write down all ideas within a few minutes of thinking about them,” tegas Judy Carter, mentor komedi terkenal. Antena atau radar seorang komedian sebagai penghuni dunia kreatif memang harus dalam mode on selama dua puluh empat jam seharinya !


Dunia otak kanan. Dari ulah otak-atik materi lawakan itu, kalau ngomong dalam gambar yang lebih besar, sebenarnya dapat menjadi salah satu rel bangsa ini untuk menuju era baru, era konseptual. Seperti diungkap oleh Daniel H. Pink bahwa era pertanian dan industri telah lewat, sementara era informasi sedang menuju uzur, maka sektor-sektor yang dikembangkan oleh negara-negara maju dan sulit ditiru oleh bangsa lain adalah sektor yang lebih banyak melibatkan otak kanan manusia.

Dalam bukunya A Whole New Mind : Why Right-Brainers Will Rule the Future (2006), ia katakan bahwa dalam era konseptual yang melibatkan kreativitas, keahlian dan bakat itu mayoritas pekerjaan di masa depan (era ekonomi kreatif) akan dikuasai mereka yang menciptakan sesuatu atau mereka yang mampu berempati kepada orang lain. Sebagian besar pekerjaan itu mensyaratkan ketelatenan, rasa humor , imajinasi, orisinalitas, naluri, kegembiraan, kedekatan pribadi dan kelenturan sosial.

Gambaran kemilau tentang masa depan di era konseptual itu mungkin dapat digambarkan dari perjalanan karier seorang Rowan “Mr. Bean” Atkinson. Ia lahir tanggal 6 Januari 1955 di Consett, County Durham, Inggris. Ia seorang sarjana elektro lulusan dari Newcastle University dan meraih gelar MSc di Oxford (Queen's College). Di kampus inilah, ketika main komedi untuk klub di kampusnya, ia bertemu penulis Richard Curtis dan komposer Howard Goodall, trio kompak yang bekerjasama dalam pengembangan karier Mr. Bean berikutnya.

Bila saja Rowan Atkinson tetap berprofesi sebagai “tukang insinyur” yang banyak berkutat dengan otak kiri yang linear dan mekanistik, kita mungkin tidak akan mengenalnya. Tetapi ketika ia lebih senang memilih mengejar karier berdasarkan bakat yang ia miliki, mengembangkan secara optimal kreativitas dari ranah otak kanannya, dunia pun kini mengenalnya.

Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi kreatif. Demikian simpul artikel yang berjudul “Era Creative Economy dan SDM Berkarakter” yang ditulis Gunawan di koran Seputar Indonesia (21/3/2008). “Industri kreatif saat ini bagian penting dari perekonomian Indonesia,” bunyi pembuka berita mengenai kuliah umum Memperdag Mari Elka Pangestu di Universitas Multimedia Nusantara Jakarta (Kompas, 6/9/2008).

Sayang, lanjut Gunawan, praktik pembelajaran di sekolah (kita) menghambat kreativitas anak-anak. Merujuk pendapat ahli psikologi Universitas Harvard, Howard Gardner, sistem yang salah itu akan membunuh kreativitas anak tinggal 10 persen dari potensinya ketika mencapai usia 8 tahun. Dan bila berlangsung sampai umur 12 tahun maka potensi kreativitasnya hanya tinggal 2 persen saja. Di sekolah-sekolah Indonesia, tiap tahun berapa juta embrio calon-calon Einstein (“Imajinasi lebih hebat dibanding pengetahuan,” katanya), Picasso, Charlie Chaplin, sampai Robin Williams masa depan yang telah terbantai di dalamnya ?

Tumbuh kembangnya ekonomi kreatif juga tidak hanya terancam terjegal akibat sistem yang salah di sekolah. Novelis Ayu Utami dalam kolomnya berjudul “Bangkitnya Kelas Kreatif” (Seputar Indonesia, 14/9/2008) mengutip Richard Florida bahwa kelas (pendukung ekonomi) kreatif itu hanya bisa tumbuh bersama sikap tertentu di sebuah masyarakat. Richard Florida dalam bukunya The Rise of Creative Class (2002) kemudian mensyaratkan adanya 3 T : teknologi, talenta dan toleransi.

Menurut Ayu Utami, T yang terakhir itulah yang menyurut di negara kita akhir-akhir ini. Terutama toleransi kepada kaum minoritas. “Lihat saja bahasa kekerasan dan bahasa kebencian yang kerap disebarkan dalam dasawarsa belakangan ini,” keluhnya. Boleh jadi kita semakin khawatir : apakah api kekerasan dan kebencian yang lebih besar akan semakin menjadi-jadi kobarnya bila saja RUU Pornografi dan Pornoaksi itu akan diundangkan di negeri ini ?

Impian mengenai mekarnya ekonomi kreatif di negeri ini mungkin menjadi gosong. Tinggal hanya abu kenangan. Pasti ikut juga hangus di dalamnya ide-ide cemerlang komedi dimana melucukan dan melecehkan sering tipis batasnya, yang sebenarnya mampu mendewasakan kita sebagai bangsa.



Wonogiri, 26/9-23/10/2008


ke