Showing posts with label arwah setiawan. Show all posts
Showing posts with label arwah setiawan. Show all posts

Friday, January 16, 2009

The Harvard Lampoon dan Masa Depan Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Otak lucu dan jenius. “Empat tahun berkuliah di Harvard cukup sudah,” tutur John Updike (1932–2009 ), novelis dan penulis cerita pendek terkenal Amerika. “Saya memang masih harus banyak belajar, tetapi juga mendapatkan gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.”

Ia lulus dari Universitas Harvard pada tahun 1955 dan kariernya kemudian banyak terkait dengan majalah mingguan The New Yorker yang terkenal. Ia masuk jajaran dengan nama-nama penulis besar Amerika yang berkecimpung di majalah yang didirikan oleh Harold W. Ross yang terbit pertama kali tanggal 21 Februari 1925.

Para penulis itu antara lain Robert Benchley (1889-1945), humoris Amerika. Yang menarik dari keduanya adalah : selain sama-sama alumnus Harvard, juga sama-sama digembleng ketajaman ujung penanya ketika terjun mengelola majalah satir, The Harvard Lampoon (THL), saat mereka masih menjadi mahasiswa.

The Harvard Lampoon itu diluncurkan pertama kali tahun 1876 sebagai terbitan majalah humor oleh mahasiswa tingkat sarjana Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts. Terbit setahun lima kali, menurut Wikipedia, THL yang mengambil model majalah satir Inggris Punch itu kini nampak lestari sebagai majalah humor berbahasa Inggris yang mampu berumur panjang.

Yang juga membanggakan, kawah candradimuka THL tersebut kemudian mampu melahirkan alumnus yang menyandang nama-nama terkenal dalam dunia media, sastra dan humor. Sebut saja William Randolph Hearst (1863–1951), nama raksasa dalam dunia penerbitan media di Amerika Serikat. Atau George Santayana (1863–1952), kritikus dan filsuf kelahiran Madrid, Spanyol. Mereka yang berkiprah sebagai penulis buku, selain John Updike juga ada William Gaddis, Cass Sunstein, Simon Rich, George Plimpton, Fred Gwynne sampai Douglas Kenney.

Mereka yang terjun dalam dunia kepenulisan program televisi, selain nama Simon Rich di atas, juga ada B.J. Novak, Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Untuk nama terakhir ini, yang lulusan magna cum laude dari Harvard, saya berlangganan kolom satirnya, The Borowitz Report, sejak 2007. Jejak mereka itu diikuti ratusan alumnus THL lainnya.

Bahkan dapat ditandaskan bahwa hampir setiap program televisi di Amerika yang menjadi hit dalam beberapa dekade terakhir pasti ditongkrongi oleh satu atau lebih otak-otak lucu dan jenius yang alumnus The Harvard Lampoon. Sebut saja acara Saturday Night Live (sejak 1975), Futurama, dan Late Show with David Letterman (1982).

Menurut Encyclopedia of 20th-Century American Humor (2000), buku babon seluk beluk dunia komedi yang dihadiahkan oleh Danny Septriadi kepada saya, alumnus THL juga menulis untuk program televisi seperti Seinfeld, Veronica’s Closet, Murphy Brown, Suddenly Susan, The Larry Sanders Show, Cracker, News Radio, Third Rock from the Sun dan The Naked Truth.

Anda kenal sitkom animasi The Simpsons (1989) ? Disebut sebagai sitkom animasi yang pemutarannya tercatat sebagai terpanjang dalam sejarah televisi, kisah Bart Simpson yang tak pernah naik kelas dari kelas empat sekolah dasar dan keluarganya ini, dalam masa produksinya telah memperkerjakan 36 penulis yang alumnus The Harvard Lampoon tadi.


Humor dipandang rendah. “Humor is serious, not just funny.” Itulah judul artikel almarhum Arwah Setiawan dan Bambang Utomo di koran The Jakarta Post (14/9/1992). Humor memang serius, tidak hanya jenaka. Dengan merujuk nama-nama alumnus pengelola majalah komedi sebuah universitas tersohor di dunia, juga kiprah spektakuler dan kreasi mereka setelah kelulusannya, mungkin kita dapat terinspirasi untuk membuka diskusi tentang bagaimana dunia kepenulisan humor itu, misalnya, bisa ditumbuh kembangkan di kampus-kampus kita.

Dengan mengambil contoh ranah komedi solo, Woody Allen menyatakan bahwa “ultimately, the success of stand-up comic is often determined by his material.” Material itu tidak lain adalah naskah. Begitu pentingnya naskah, tentu saja juga para penulisnya, kita dapat bercermin ketika hampir sepuluh minggu, dari 5 November 2007 hingga 8 Januari 2008 para penulis naskah program dunia hiburan Amerika Serikat melakukan pemogokan secara besar-besaran.

Mereka tergabung dalam organisasi penulis Writers Guild of America, East (WGAE) dan Writers Guild of America, West (WGAW). Kedua organisasi itu yang menghimpun sampai 12.000 anggota merupakan serikat pekerja yang mewakili para penulis untuk film, televisi dan radio yang berkarya di Amerika Serikat. Mereka melakukan pemogokan untuk melawan kebijakan dari Alliance of Motion Picture and Television Producers (AMPTP), organisasi dagang yang mewakili interes para produser film dan acara televisi Amerika Serikat. Isu pokok sengketa mereka adalah menyangkut pembayaran royalti bagi para penulis naskah untuk program-program yang ditayangkan di pelbagai media baru, yaitu media digital, utamanya di Internet.

Karuan saja saat itu dunia televisi Amerika Serikat menjadi kalang kabut. "Writers strike to hit TV first - and hard", tulis koran The Salt Lake Tribune (4/11/2007). Apalagi banyak kaum selebritis yang ikut mendukung mereka sebagaimana ungkap harian USA Today (9/11/2007) : “More celebs show solidarity at writers' picket lines.” Ketika terjadi pemogokan sebelumnya di tahun 1988 yang berlangsung hampir 22 minggu, telah mengakibatkan dunia industri hiburan Amerika Serikat merugi yang diperkirakan mencapai 500 juta dollar.

Mengomentari peristiwa itu, komedian David Letterman mengeluh bahwa tanpa penulis naskah dirinya ibarat Roger Clemens tanpa doping hormon pertumbuhan manusia. Roger Clemens adalah atlet bisbol yang saat itu bikin heboh karena tertangkap menggunakan hormon untuk meningkatkan prestasinya.

Tapi Letterman dalam menanggapi pemogokan itu juga sempat menyodok George W. Bush, sang sumber kaya untuk olok-olok. Ia katakan, para penulis naskah itu sebenarnya hanya punya dua tuntutan : mendapat royalti ketika karya kreatifnya ditayangkan di Internet dan menuntut agar George W. Bush memangku jabatannya empat tahun lagi !

Komedian yang juga alumnus THL, lulus dengan magna cum laude dari Harvard 1985 dengan konsentrasi Sejarah dan Sastra, Conan O’Brien, ketika memandu acaranya Late Night with Conan O'Brien tampil beda. Ia membiarkan brewoknya tumbuh lebat. “Dalam sepanjang hidup saya, saya tak pernah memelihara brewok saya. Kini saya menumbuhkannya sebagai tanda solidaritas kepada para penulis naskah dan sekaligus untuk menunjukkan kejantanan saya. Dua burung dengan satu lemparan batu !,” candanya.

Lain di Amerika, lain pula di negara tercinta kita. “Merujuk pentingnya fungsi humor, sungguh aneh bila humor tidak menjadi kajian yang serius di Indonesia. Bila di Barat humor atau komedi telah menjadi objek kajian sejak jaman Plato, sebaliknya bangsa Indonesia cenderung meremehkannya dan hanya memandangnya sebagai trivia, remeh-temeh belaka,” keluh Arwah Setiawan dan Bambang Utomo lima belas tahun lalu itu. Bagaimana potret aktualnya masa kini ?

Kita Mabuk Komedi. Potret nyata perlakuan dunia intelektual sampai dunia industri hiburan kita terhadap humor atau komedi sebagai hal yang remeh-temeh, mungkin dapat tercermin ketika menghidupkan pesawat televisi Anda. Tayangan komedi kita sebagian besar adalah komedi kasar, slapstick atau riddle, tebak-tebakan.

Sekadar contoh, Kelik Pelipur Lara dalam acara Dunia Dalam Ketawa (Antv), seolah ia sebagai penyiar bertanya kepada temannya : “Mengapa babi bau ?” Temannya menjawab, karena babi suka hidup di habitat yang kotor. Kelik lalu membuat jawaban yang rasa ia benar : “Karena babi mempunyai ketek empat, jadi sangat bau.” Penonton memang boleh tertawa. Tetapi kita tahu, itulah bentuk dari low comedy. Tebak-tebakan adalah lelucon untuk anak-anak.

Gambaran lain dari tayangan komedi kita di layar kaca kita bisa membaca komentar wartawan Kompas Budi Suwarna dan Susi Ivvaty (21/12/2008). Keduanya sempat menulis mengenai acara Empat Mata, kini Bukan Empat Mata : “Dari dulu begitu-begitu saja. Guyonan Tukul Arwana tidak banyak berubah selama 2,5 tahun membawakan acara tersebut.”

Pada laporannya yang terbaru berjudul “Menonton Komedi Sampai Mabuk” (11/1/2009), Budi Suwarna menulis mengenai acara komedi yang saat ini menjadi prima dona acara di televisi kita. Konon karena masyarakat saat ini sedang jenuh terhadap isu-isu politik dan dirundung stres akibat terjepit tekanan ekonomi, maka mereka mencari penghiburan lewat acara-acara komedi di televisi. “Itu sebabnya mereka merespons acara-acara komedi yang ringan dan bisa membuat mereka tertawa,” kata Zoraya Perucha dari Antv yang dikutip dalam laporan itu.

Akibatnya, ragam tontonan di televisi memang kian mengarah kepada hiburan semata. Apa pun acaranya, sebagian besar dikemas dalam bentuk ringan dan diasumsikan dapat menghibur penonton. “Talk show politik pun,” catat Budi Suwarna lebih lanjut, “kini, dikemas sedemikian cairnya hingga mendekati panggung lawak.

Alih-alih memberikan informasi yang berharga dan menjelaskan duduk perkara, talk show semacam itu justru menyajikan sederet kekonyolan. Para pengelola televisi beralasan, penonton sekarang kebanyakan tidak mau berpikir terlalu ruwet ketika menonton televisi. Karena itu televisi memberikan tontonan ringan.”

Premis pengelola televisi itu memang tidak dapat disalahkan. Ketika menonton televisi memang telah terjadi perubahan gelombang dalam otak kita : menurunnya gelombang cepat yang merupakan karakteristik aktivitas berpikir dan meningkatkan jumlah gelombang lemah yang merupakan karakteristik keadaan yang santai. Itulah sebabnya mengapa menonton televisi membuat kita santai, karena otak kita benar-benar dalam kondisi padam.

Liur anjing Pavlov. Menurut kajian Fred Emery dan Merrelyn Emery dalam bukunya A Choice of Futures: To Enlighten or Inform (1976), kondisi merasa santai bagi pemirsa itu menjadikan televisi sebagai kendaraan penyampai iklan yang efektif. Citra-citra dan pesan itu memasuki otak tanpa diproses, tidak dapat diingat kembali, tetapi dapat dikenali, misalnya ketika sang pemirsa itu berada di pasar swalayan.

Kajian ini mungkin memperkuat isi tulisan saya sebelumnya, betapa penonton tayangan komedi kita telah mengalami metamorfosis sehingga perangainya mirip sebagai “anjing Pavlov.” Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : begitu tombol televisi dinyalakan, otak kita pun padam, sehingga yang memandu kita selanjutnya adalah bunyi bel yang membuat anjing-anjing dalam eksperimen Dr. Pavlov itu mengeluarkan air liur masing-masing.

Bunyi bel itu bisa berupa kata-kata “kembali ke laptop”-nya Tukul Arwana. Atau apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, yang tanpa perlu dikaji benar atau salah secara moral, atau berdasar pertimbangan akal sehat, maka refleks otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan kompak bertepuk tangan.

A mob is a group of people with heads, but no brains.

Jadi tidak penting lagi apakah audiens itu punya latar belakang sebagai anggota partai politik, mereka yang dari pakaiannya nampak sebagai umat yang taat beribadah atau pun anak-anak muda yang mengenakan jaket alma maternya, perilaku mereka sebagai gerombolan hampir identik ketika tampil sebagai audiens dalam sesuatu acara komedi dan bahkan juga acara non-komedi di layar kaca kita.


Otak mahasiswa tercecer. Olah kreativitas komedi di Indonesia masih berpeluang diselamatkan masa depannya, dengan mengeksploitasi kedahyatan media-media baru berbasis digital. Seorang Barack Obama bisa meraih kursi Gedung Putih antara lain berkat bantuan situs berbagi video YouTube.com, bahkan ia memerintah kini dengan tetap mengandalkan media yang sama untuk meraih rakyat.

Ide serupa a la Obama itu sudah saya sosialisasikan sebagai gerakan komedi indie sejak saya gagal di audisi API-4. Gagasan itu muncul setelah mengkaji pula sistem perekrutan model API yang nyatanya tidak begitu menjanjikan untuk kemajuan dunia komedi Indonesia. Media mainstream seperti televisi memang memiliki agenda tersendiri, mengejar rating dan iklan, dimana hal itu selalu tidak kompatibel dengan aspirasi baru di dunia komedi. Insan-insan cerdas dari dunia komedi Indonesia harus menempuh jalan alternatif. Jalan baru sesuai tuntutan jaman. Jalan digital. Keampuhan situs YouTube.com menanti mereka manfaatkan secara sepenuh daya untuk pengembangan talenta-talenta baru komedi Indonesia.

“Jangan hanya jadi konsumen industri kreatif.” Itulah kepala berita di harian Kompas (11/12/2008) yang melaporkan seminar bertajuk “Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai Paradigma Keilmuan” yang dilangsungkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sumber daya manusia Indonesia harus juga menjadi produsen industri kreatif. Salah satu nara sumber, Sapardi Djoko Damono, mengatakan bahwa kultur bangsa-bangsa mengarah kepada kultur urban yang ditandai antara lain dengan kreativitas. Kreativitas dan bakat itu dapat dikembangkan. Perguruan tinggi, dalam hal ini Fakultas Ilmu Budaya, menjadi salah satu tempatnya.

Sebagai alumnus fakultas yang sama, saya berharap komedi ikut pula memperoleh porsi yang memadai untuk dikembangkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut. Minimal, dengan merintis penerbitan atau situs yang visi-misinya kurang lebih mirip dengan penerbitan The Harvard Lampoon dari Universitas Harvard itu. Imbauan ini juga berlaku untuk perguruan tinggi lainnya. Termasuk perguruan tinggi yang mahasiswanya suka tawuran, siapa tahu pengembangan seni berkomedi akan mengubah paradigma pikir dan perilaku mereka. Bahwa adu olok-olok lebih berbudaya daripada adu golok.

Kita pun berharap mereka akan terilhami oleh kata-kata John Updike, yang meninggal dunia ketika tulisan ini dipersiapkan, 27 Januari 2009 dalam usia 76 tahun, bahwa kelulusan dari bangku kuliah telah memberinya berkah, berupa “gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.” Bila hal vital itu tidak terjadi, maka tragedilah yang akan terjadi, seperti diceritakan dalam lelucon model Harvard di bawah ini.

Saya kutipkan dari bukunya wartawan brilyan majalah Fortune, Thomas A. Stewart, yang berjudul Intellectual Capital : The New Wealth of Organization (1997). Tentang rektor Universitas Harvard yang menjabat tahun 1909-1933, Abbott Lawrence Lowell. Suatu hari ada seorang tamu yang bertanya di kampusnya, “Bagaimana sedemikian banyak pengetahuan dapat terkumpul di hulu Sungai Charles ini, Tuan Lowell ?”

Lowell menjawab : “Oh, sangat sederhana. Setiap tahun kami menerima pemuda yang paling brilyan di Amerika” – pada masa itu hampir semuanya pemuda, dan hampir semuanya orang Amerika-- dan ketika mereka diwisuda empat tahun kemudian, mereka hampir semuanya tidak tahu dan tidak peduli apa-apa. Jadi, pasti mereka meninggalkan ilmu dan pengetahuannya di sini.”


Wonogiri, 4/1-7/2/2009


ke

Monday, December 15, 2008

Menggugat Masa Depan Neo Srimulat

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Aneh itu lucu. Mayat hidup itu terus mengancam. Berjubah putih dengan bercak darah di sana-sini. Walau geraknya lamban, ia terus memburu sasaran. Di tengak sorak-sorai penonton, pelawak Basuki terus berusaha menyelamatkan diri dari kejarannya. Toh akhirnya ia harus menyerah.

Itulah puncak dari tontonan Anekaria Srimulat malam itu di Taman Ria Senayan, Jakarta. Saya menontonnya saat diajak teman kuliah di UI, Bakhuri Jamaluddin, di tahun 1980-an. Adegan klimaks itu terasa membekas, selain penampilan tak terduga di awal acara malam itu. Kali ini dari sosok pria kurus yang bersurjan Jawa. Wajahnya dilumuri bedak tebal seperti pemain pantomim. Ia berdiri di pinggiran panggung di depan mik. Sejurus kemudian dari mulutnya mengalun lagu hitnya Tommy Bennet, “I Left My Heart in San Francisco” yang indah itu.

Adegan segar serupa rupanya juga membuat terpana intelektual humor Indonesia, almarhum Arwah Setiawan. Dalam buku berjudul Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi tulisan Herry Gendut Janarto, Arwah mencatat penampilan seorang peraga Srimulat, yaitu Budi SR, yang mampu memporakporandakan daya asosiasinya. Budi satu ini tampil di panggung sebagai tukang pijat, lengkap dengan tongkat putih dan bunyi crek...crek. Tetapi kemudian ia melantunkan lagu “And I Love You So”-nya Perry Como dengan artikulasi yang benar dan suara merdu.

Aksi Budi SR itu merupakan salah satu pengejawantahan filosofi atau resep yang ditinggalkan Teguh Srimulat bahwa "yang aneh itu lucu" dan telah melambungkan kelompok lucu Srimulat ini pada puncak kejayaannya, antara tahun 1970-1990-an awal. Kelompok humor ini mampu menyedot penonton hingga memenuhi kapasitas 800 penonton di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Bahkan mereka pun, seperti tertulis di awal tulisan ini, mampu membuka franchise panggungnya yang juga laris di Jakarta dan Solo pula.

Lanskap dunia lawak Indonesia kemudian mengenal nama-nama terkenal antara lain seperti Asmuni, Bambang Gentolet, Basuki, Bendot, Djudjuk, Eko DJ, Gepeng, Gogon, Kadir, Mamiek, Nunung, Nurbuat, Subur, Tarzan, Tessy, Timbul, Triman, Vera, dan masih banyak lagi. Majalah GAMMA (31/12/2001-6/1/2002) menulis kiprah para alumnus Srimulat sebagai penggerak industri humor di televisi bernilai milyaran rupiah (foto) saat itu. Sebagian dari mereka kini sudah almarhum, sementara sebagian kecil alumnus Srimulat itu masih sesekali terlihat di televisi. Aura Srimulat pun nampaknya semakin memudar. Apakah benar-benar sama sekali telah memudar ?


Neo Srimulat ? Rupanya belum. Di perpustakaan umum Wonogiri saya menemukan iklan menarik tentangnya. Muncul di koran Jawa Pos (11/12/2008 : 19) tertulis iklan “Srimulat Manggung Keliling : Jawa Pos dan Srimulat Mencari Neo Srimulat 2009.”

Iklan ini mengundang kelompok calon pengocok perut a la Srimulat untuk mengikuti audisi tanggal 10-11 Januari 2008. Hadiah total 126 juta rupiah. Pendaftaran dibuka 5 – 31 Desember 2008 dengan mengisi formulir dalam iklan tersebut. Juga menyertakan kwitansi langganan koran Jawa Pos terbaru. Setiap kelompok maksimal beranggotakan 5 (lima) orang personel.

Pengumuman Grup Neo Srimulat yang lolos audisi dilakukan pada tanggal 14 Januari 2009. Informasi lebih lanjut dapat mengontak panitia di Graha Pena, Lt. 5, Jl. A. Yani 88 Surabaya, Sdr Deny : 031-8202230. (Data yang saya tulis ini bisa salah, karena cetakan dalam iklan itu, bagi saya, terlalu kecil.-BH).

Ikhtiar untuk memajukan dunia lawak di Indonesia, seperti yang digagas dan dilaksanakan oleh koran Jawa Pos di atas, merupakan upaya yang sangat terpuji. Hari-hari mendatang mungkin kita bisa mengikuti berita yang riuh dan heboh, atau dibuat riuh dan heboh, dari korannya Pak Dahlan Iskan ini mengenai antusias masyarakat kita untuk menjadi pelawak Neo Srimulat itu.


Pelawak meja makan. Kita halal menerka-nerka kini : seperti apa kira-kira manifestasi dari proklamasi slogan “neo” untuk genrekelompok lawak lama tersebut ? Untuk mencoba ikut mencari jawab, saya akan merujuk dulu kepada tulisan wartawan Kompas, Frans Sartono, yang berjudul “Melawak di Tengah Perubahan Zaman” (24/1/2005). Tulisan semacam ini termasuk langka di media massa kita, mungkin untuk menunjukkan betapa dunia komedi kita akhir-akhir ini tidak memiliki daya tarik cukup sebagai wacana intelektual yang berarti. Tulisan tentang komedi Indonesia yang sesekali muncul kebanyakan hanya berupa obituari.

Tulisan Frans Sartono yang menarik itu dihadirkan nampak semata membarengi acara Musyawarah Seniman Komedi Indonesia I di Jakarta. Musyawarah itu akhirnya mengukuhkan berdirinya Persatuan Seniman Komedi Indonesia (Paski), juga memilih Indrojoyo Kusumonegoro (46) alias Indro Warkop sebagai Ketua Umum Paski. Dedi “Miing” Gumelar terpilih sebagai Sekretaris Jenderal, sedangkan Tarzan dan Eko Patrio menjabat sebagai wakil Ketua I dan II.

Begitulah seniman komedi Indonesia membentuk organisasi untuk membenahi profesi mereka di dunia lawak yang saat ini telah menjadi bagian penting dari industri hiburan di Indonesia. Miing Bagito bersama Tarzan dan kawan-kawan, seperti ungkap Frans Sartono, menggagas musyawarah tersebut sebagai upaya agar lawak diperlakukan sebagai pekerjaan profesional layaknya profesi lain di jagat hiburan.

Benang merahnya, selain membenahi kesejahteraan hidup pelawak, Paski juga akan membenahi sumber daya para pelawak. “Kami ini kan engga ada sekolah untuk meningkatkan skill dan knowledge (keterampilan dan pengetahuan). Organisasi ini nantinya diharapkan menjadi fasilitator untuk meningkatkan sumber daya pelawak,” kata Miing.

Sementara Indro mengatakan, Paski nantinya akan memberi pengetahuan seputar manajemen, asuransi, selain juga kemampuan seni peran. Bahkan Indro mempunyai gagasan, menurut saya lucu, terkait niatnya memberi pengetahuan seputar tata karma di meja makan, table manner, kepada pelawak. “Selain bisa menjadi bekal mereka dalam pergaulan sosial, table manner, itu kan bisa jadi bahan lawakan,” kata Indro.

Ide table manner itu kemudian ditangkap secara jeli oleh Frans Sartono sebagai penanda perubahan jaman : dari suguhan lawakan berlatar belakang masyarakat agraris menuju transformasi materi lawakan yang sesuai untuk masyarakat industri modern yang lebih kompleks. Ilustrasinya : dagelan seputar cap jae, atau cap jay yang sering terdengar di pentas Srimulat itu, harus disesuaikan dengan kelas masyarakat pemilik kultur table manner, yaitu generasi baru konsumen hiburan di Indonesia.

Mereka itu adalah generasi yang tidak mengenal Basiyo, Kwartet Jaya-nya Bing Slamet (bersama Eddi Sud, Ateng dan Iskak), Bagyo dan Srimulat. Mereka menyerap beragam format komedi mulai dari lawakan stand-up comedian, tampilan komedian tunggal, hingga sitcom, komedi situasi.

Implikasi dari perubahan itu, katanya, pelawak kita harus berbicara dengan bahasa lawak yang baru. Harus menyesuaikan dengan manajemen modern yang berlaku dalam industri hiburan yang menuntut kecepatan produksi. Dituntut lebih sigap tampil di berbagai format tampilan di depan penonton yang berbeda. Juga mampu tetap lucu di segala situasi. Untuk itu, telah dirujuk pendapat Us Us dari D’Bodor yang mengatakan : untuk menghadapi industri hiburan yang terus berkembang, pelawak harus mau belajar soal ilmu pemanggungan.

Spontanitas tetap diperlukan, kata Us Us, tetapi “pelawak juga perlu naskah. Kami memerlukan script writer, penulis naskah, agar tidak stagnan dan terhindar dari pengulangan materi. Kita gabungkan naskah dengan kemampuan improvisasi.” Us Us memberi contoh Bob Hope yang memanfaatkan kekuatan naskah dan improvisasi spontan.

Warkop, juga Bagito, kemudian disebut sebagai contoh oleh Frans Sartono sebagai grup lawak yang mulai tanggap dengan perkembangan atau pergeseran pasar. Mereka mulai menggunakan naskah dan berpakaian jas. Walau, menurutnya, materi lawakannya sebagian masih menyisakan bau agraris warisan generasi Srimulat.


Manusia licik. Kembali ke realitas: kedua contoh di atas, sayangnya, kini tinggal sejarah. Warkop, sepeninggal Dono dan Kasino, praktis tiada lagi sekarang ini. Bagito sudah pula bubar karena habis. “Tinggalkan dunia lawak,” demikian judul berita koran Suara Merdeka (4/11/2008 : 16). Bahkan disebutkan, “meninggalkan dunia lawak seratus persen.” Itu cerita tentang diri Miing Bagito, Sekretaris Jenderal Paski, yang kini sebagai caleg DPR RI suatu partai untuk daerah pemilihan Banten.

Ilustrasi kecil terakhir ini dan gambaran besar lanskap dunia lawak di Indonesia yang diungkap oleh Frans Sartono, semoga dapat menjadi masukan bagi penggagas acara audisi Neo Srimulat tadi. Juga, tentunya, bagi para peserta. Termasuk memperhatikan secara seksama impian Us Us dari D’Bodor mengenai pentingnya para penulis naskah komedi di balik panggung lawakan mereka.

Fihak Jawa Pos dapat pula belajar dari penyelenggaraan dan hasil akhir pelbagai audisi calon pelawak yang pernah diselenggarakan oleh stasiun televisi kita selama ini. Acara yang begitu mahal itu ternyata boleh dibilang gagal menelorkan kelompok-kelompok lawak baru yang andal. Penyebabnya, mereka terutama mengingkari apa yang pernah diungkap oleh Arwah Setiawan dalam bukunya Humor Zaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1997 : hal 379) : “betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukan itu tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati oleh para pemirsa….Keberhasilan suatu pertunjukan komedi memang bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal…Untuk itu perlu diadakan lomba penulisan naskah komedi.”

Sekadar mengilas balik, kiranya masih sangat lekat dalam ingatan kita bahwa pemenang API-4/2008 di stasiun televisi TPI adalah kelompok Abioso dari Pasuruan. Pemanggungan mereka tidak lain sebuah replika seratus persen dari pentas ketoprak dan, tentu saja, bergaya Srimulat juga.

Jadi roh “mayat hidup” Srimulat memang belum mati. Jadi kita boleh berandai-andai : apakah pemanggungan peserta audisi Neo Srimulat nanti masih dimulai dengan lagu instrumentalia “Whiskey & Soda”-nya Roberto Delgado, mengiringi adegan batur, pembantu rumah tangga, dengan serbet terselempang di pundak dan melakukan monolog ngrasani, membicarakan di balik punggung sang majikan ?

Atau mengeksploitasi adegan mayat hidup, atau drakula, yang terus mengejar-ejar korbannya ? Kalau dugaan itu nanti benar, oh, betapa di dunia yang telah berubah itu ternyata mind set pendukung-pendukung baru, neo, dunia komedi kita rupanya tetap tidak berubah. Jalan di tempat.

Bila memang itu nanti yang terjadi, hemat saya, sebaiknya semua pelaku dunia komedi Indonesia mengikuti jejak Miing Bagito atau Eko Patrio saja. Untuk ramai-ramai menjadi anggota legislatif. Menjadi politikus. Karena senyatanya menjadi pelawak yang bener dan andal dewasa ini memang tidak mudah. Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998) menyajikan kutipan inspiratif :

“Tidak seorang pun sengaja memilih menjalani hidup sebagai komedian. Jalan hidup satu ini begitu sulit dan saat ini juga tidak setimpal penghargaannya. Sehingga hanya mereka saja yang sengaja menerjuninya, yaitu mereka yang tidak hanya semata-mata ingin terjun ke dalamnya tetapi dilatarbelakangi alasan dirinya harus menerjuninya.”

Menerjuni komedi demi memenuhi panggilan menegakkan kebenaran. Untuk bergelut dalam penderitaan. Sebab “comedy is truth and pain,” demikian imbuh kesimpulan dari John Vorhaus dalam bukunya The Comic Toolbox (1994).

Sedang politikus ? Walter Williams menegaskan betapa maling dinilainya lebih bermoral dibanding anggota legislatif. Sebab bila ia mencuri uang Anda, maka si maling itu tidak menuntut Anda untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Novelis Skotlandia, Robert Louis Stevenson (1850–1894), mengatakan bahwa politik boleh jadi merupakan satu-satunya profesi dimana persiapan olah pikir tidak diperlukan. Sementara ahli kamus, kritikus dan penyair Inggris, Samuel Johnson (1709–1784) memberikan definisi untuk politikus sebagai a man of artifice. Orang licik.

Tidak aneh bila sebuah lelucon klasik Amerika memberikan ilustrasi yang sungguh tajam dan jitu khusus untuk menggambarkan betapa destruktifnya mereka.

Pertanyaan : Seberapa banyak jenderal atau politikus yang diperlukan untuk mengganti sebuah bola lampu ?

Jawab : Sebanyak 1.000.001. Satu orang bertugas menggantikan bola lampu dan 1.000.000 sisanya membangun kembali peradaban manusia sampai mereka membutuhkan bola lampu berikutnya !


Wonogiri, 14-15/12/2008


ke