Showing posts with label low comedy. Show all posts
Showing posts with label low comedy. Show all posts

Thursday, August 23, 2007

WC Kampus dan Mahasiswa Dalam Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Badut-badut Kampus. Aksi pelawak ternyata bisa juga menjadi motivator tim bola basket. Itulah yang terjadi pada diri Devin O’Connor, mahasiswa senior dari Jurusan Teater Penn State University, AS. Seperti dikutip oleh Megan McKenna dalam situs universitas tersebut, The Collegian, si Devin O’Connor itu selalu hadir dalam pertandingan basket di kampusnya dengan memakai kostum yang aneh-aneh.

“Awalnya hanya untuk lucu-lucuan, tetapi kemudian dirinya menjadi pemandu sorak tidak resmi dari tim universitas kami karena ia mampu menggairahkan suasana pertandingan,” tutur Kevin Scheler, teman Devin, yang mahasiswa Kinesiologi.

Mahasiswa lain, Jason Yanushonis, dari Jurusan Finance dan teman Devin di SMA menimpali bahwa O'Connor mampu membawakan selera humornya yang energetik kemana pun ia berada. “Anda tak dapat menduga apa yang akan meletup dari dirinya,” tegasnya. “Ia adalah sosok yang semua orang menginginkan dirinya hadir dalam pesta mereka, karena O’Connor mampu membuat suasana pesta menjadi berbeda.”

Badut sejak SMA itu kini memantapkan diri sebagai komedian mahasiswa yang berprospek cerah. Ia telah manggung di Universitas Yale dan Pittsburg, dan juga tampil sebagai pemenang dalam kontes Comic Strip Live Comic of the Month Contest di New York. “Saya suka kampus karena tipe komedi saya cocok dan terkait erat dengan situasi kampus,” jelas O’Connor.

Simak juga cerita Susan Johnston tentang Alison Block, cewek mahasiswa tingkat pascasarjana jurnalistik di Universitas Duke. Siangnya kuliah dan kalau malam manggung sebagai komedian. Digambarkan betapa Alison sehari-harinya senantiasa memasang antena otaknya, peka menguping ucapan atau pun situasi sekelilingnya yang mampu memicu imjinasi dan diolahnya menjadi lelucon. Selain menulis leluconnya sendiri, memanggungkannya, ia juga menyanyi, menulis fiksi, skenario dan juga menulis lagu. “Utamanya aktivitas yang tidak menghasilkan uang,” candanya. Tetapi jelas teramat vital bagi dirinya, karena akan mengasah tajam pisau intelektualitasnya.

Bagaimana potret aktual dunia komedi mahasiswa kita ?

Di negeri kita ini pasti akan mudah kita ketemukan badut-badut mahasiswa yang suka membuat ulah lucu atau sok lucu di pelbagai kampus. Mungkin mereka beraksi di dalam kelas saat kuliah atau berani naik panggung-panggung hiburan internal kampus mereka masing-masing. Tetapi di tingkat nasional, di mana kini hidung para pelawak mahasiswa semacam Devin O’Connor atau Alison Block di atas ? Bagimana kalau pertanyaan ini dilontarkan kepada Effendi Gazali ?

Kira-kira, mampukah ia menjawabnya ?

Jawaban telak dan tak terduga-duga, sekaligus mungkin benar, mungkin justru muncrat dari sinyalemen tajam dan sarkastis yang pernah dilontarkan oleh almarhum Sudjoko. Beliau adalah budayawan, ahli bahasa dan guru besar Seni Rupa dari ITB Bandung.

Kebetulan adik saya, Basnendar Heriprilosadoso, saat ini sedang menempuh pascasarjana di Seni Rupa ITB. Ia mengajar di ISI Surakarta, seorang kartunis dan desainer logo, di mana salah satu karya puncaknya adalah logo Galeri Nasional di bilangan Gambir Jakarta Pusat. Ketika merujuk sinyalemen Pak Djoko di atas ia telah saya titipi pesan yang mungkin rada aneh : untuk memotret coreng-moreng yang ada di tembok-tembok WC kampus ITB. Karena di lokasi inilah kejeniusan mahasiswa Indonesia, utamanya mahasiswa ITB, mampu terekspresikan dalam kualitas puncak, sehingga mampu mengundang bahak dan menarik perhatian Pak Djoko itu.


Bawa Pulang Alya Rohali. Di atas saya telah mencoba bertanya kepada Effendi Gazali (EG). Mengapa ? Karena ia seorang doktor dan pengajar di Universitas Indonesia. Seorang intelektual di bidang komunikasi dan menurut penuturan teman dunia maya saya, Ira Lathief, saat menulis buku Kumis Lele Rezeki Arwana dan meminta endorser untuk bukunya itu, tokoh “Dik Pendi” dari Republik Mimpi (RM) tersebut telah menuliskan di bawah namanya, sebuah gelar keren : stand-up comedian.

Di acara Republik Mimpi itu dirinya mendapatkan mitra Iwel Well, yang kebetulan sama-sama berasal dari Sumatra Barat. Tokoh dengan peran redundant di Republik Mimpi ini suka EG promosikan sebagai stand-up comedian pertama di Indonesia. Lucunya, di acara Republik Mimpi itu keduanya selalu nampak hanya berposisi sebagai sit-down (sekaligus sitting duck ?) comedian belaka. Masih muda sekaligus berjulukan the most eligible bachelor tetapi tak mampu “berdiri,” bukankah ini sebuah bencana ke-manusia-an ?

Lupakan lelucon low comedy itu. Saya ingin bertanya juga karena Effendi Gazali adalah kreator acara Republik Mimpi yang selalu menghadirkan para mahasiswa. Mereka hadir berombongan dengan selalu mengenakan jaket alma mater dan bahkan bersama dosen-dosen mereka, dalam siaran langsungnya. Selain acara Republik Mimpi, silakan Anda daftar sendiri acara-acara di televisi yang kurang lebih memiliki genre serupa yang menghadirkan para mahasiswa sebagai audiens dalam acara televisi mereka. Pertanyaan lanjut saya : apakah hanya pantas sebagai audiens acara komedi di televisi sajakah yang bisa diperankan oleh mahasiswa kita sekarang ini ?

Kalau jawabannya memang benar, maka saya mudah teringat pernyataan seorang Robin Day (1923 – ), broadcaster Inggris, yang berkata bahwa televisi itu subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Televisi menyentuh emosi daripada intelek. Apakah acara komedi di televisi kita hanya menjadi etalase ketidaknalaran dan ketidakintelektualan insan-insan cendekia kita ? Pengalaman pribadi saya ketiksa bersentuhan dengan televisi kira-kira memang menegaskan hal-hal miring seperti itu.

“Bawa Pulang Alya Rohali !” adalah tagline yang saya buat ketika mengikuti acara kuis Siapa Berani ? di stasiun televisi Indosiar, 12 Maret 2002. Slogan itu tertulis di kaos dan juga mencuat sebagai lirik lagu yang kami bawakan, sebagai ekspresi kontingen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI), organisasi payung suporter sepakbola Indonesia yang turut saya bidani kelahirannya. Regu lainnya adalah kelompok suporter Aremania (Arema Malang), The Jakmania (Persija Jakarta), Pasoepati (Pelita Solo) dan Viking (Persib Bandung).

Helmy Yahya, kreator acara kuis keroyokan itu, di koran The Jakarta Post bilang bahwa acaranya yang ia pandu bersama Alya Rohali dan diikuti para penggila sepakbola ini merupakan salah satu yang terbaik. Tetapi sekaligus paling tercoreng, karena seusai kuis terjadi keributan parah, perkelahian antara dua kelompok suporter yang secara tradisional telah lama berseteru. Bahkan kemudian diikuti insiden penganiayaan berat saat itu.

Potret yang ingin saya garis bawahi ketika mengikuti kuis itu adalah suasana yang khas televisi : kentalnya rekayasa agar semua hal yang tersaji di layar nampak meriah, heboh, ceria, menggembirakan. Ketika Anda dan kawan-kawan nampak melempem, maka akan ada petugas televisi yang berusaha “membakar” Anda untuk kembali bergairah. Bagaimana kalau teknik rekayasa semacam ini juga dicangkokkan dalam acara komedi di televisi ?


Komedi-komedi kita yang sesat. Rekayasa yang sangat kental itulah yang sekarang tersaji dalam acara komedi di televisi kita. Saya mendapatkan pencerahan akan bahaya rekayasa tersebut dari teman diskusi saya di dunia maya, Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati. Dalam emailnya (20/7/2007) Isman menulis :

“Pada dasarnya, kalau kita sekadar mengandalkan umpan balik penonton untuk menilai apakah komedi itu baik atau buruk, kita akan tersesat. Seperti menanyakan jalan keluar kota kepada orang yang tidak pernah keluar rumah. Extravaganza (acara komedi sketsa di TransTV-BH) masih terjebak pada hal itu. Karena ditayangkan di hadapan penonton asli, hal yang memancing gelak tawa penonton di panggung dianggap (sebagai) formula keberhasilan.

Padahal seperti diamati produser Chuck Barris (yang menciptakan Gong Show dan The Dating Game), perilaku penonton panggung dan penonton TV jauh berbeda. Saya menunggu sketsa komedi Indonesia yang dimainkan tanpa penonton. Seperti yang dirintis Monty Python. Atau jangan-jangan untuk itu harus seperti kru Monty Python sendiri, terdiri dari lulusan universitas dan magister dulu? “

Isman mungkin harus rela menunggu waktu yang teramat panjang agar harapannya yang positif dan ideal itu bisa direalisasikan. Karena para mahasiswa kita yang entah kena suntik borax, formalin atau dicekoki nitrous oxide atau laughing gas, nyatanya lontaran kalimat yang selalu berulang seperti “gitu saja kok repot” atau “piss, man” ternyata sudah mampu menggelegarkan tawa kompak mereka saat menjadi bagian siaran di televisi.

Begitulah kiranya, televisi itu memang subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Begitulah, televisi menyentuh emosi daripada intelek. Termasuk intelektual para mahasiswa kita yang kemudian seperti tumpul karenanya. Kita tunggu saja Isman, siapa tahu sesudah mereka lulus dan juga menempuh magister, akan mampu mendongkrak selera humor mereka jadi lebih meningkat. Walau jangan terlalu optimistis.


Kembali ke Prof. Sudjoko almarhum.

Ketika mengikuti kontes Mandom Resolution Award 2004, saya berkenalan dengan peserta lain, seorang desainer produk, Bambang Kartono Kurniawan (BKK). Asal Jepara. Sambil ngobrol di kamarnya, di Hotel Borobudur, sebelum kami menghadapi dewan juri Sarlito Wirawan Sarwono, Tika Bisono dan Maria Hartiningsih, saya baru tahu dirinya masih memiliki hubungan keluarga dengan Dr. Sudjoko dari ITB itu. Ketika beliau meninggal dunia, saya mendapatkan tembusan isi milis dari BKK yang ditulis para mantan mahasiswanya. Salah satu milis itu ditulis Susiawan (Toronto, Canada), tertanggal 27 Agustus 2006. Isinya antara lain :

Pak Djoko memang suka tak suka harus mengarus dari tanah seberang, namun ketika beliau sudah kukuh sebagai pengajar senior di SR-ITB, saya pribadi sebagai mahasiswa 'bengal saat itu (terutama di periode 1978-1982an) merasakan bahwa beliaulah satu-satunya dosen yang selalu lantang mengkritisi kualitas pendidikan dan sikap mahasiswa-mahasiswanya. Tentu saja beliau disegani bahkan ditakuti banyak mahasiswanya, tapi tak termasuk saya. Setelah beliau, Alm. Prof.Mochtar Apin dan Alm. Dr.Sanento Yuliman merupakan mentor-mentor terbaik saya. Sewaktu saya menjabat Presiden KMSR…pernah terlibat diskusi, ‘ini diskusi antara Susiawan dan Sudjoko, titik !’ tandasnya serius.

Bahkan dengan beliau, kami sempat membahas coretan-coretan iseng mahasiswa-mahasiswa di kamar kecil SR-ITB. Yang mengesankan ketika beliau secara khusus mengkritisi coretan mahasiswa yang berbunyi "Merdeka tapi bingung", "Lapar menyebabkan Perang, Perang menyebabkan Kelaparan", lalu ada yang menjawab "Lapar dan Perang dibuat-buat !" Ditimpa dengan coretan "Siapa dong yang kenyang ?". Ha ha ha ha...menggelikan sekali, kadang-kadang saya terbahak-bahak sambil kencing !

Beliau heran, setiap tembok WC itu diputihkan kembali, esoknya tumbuh coretan-coretan lagi hingga penuh ! Beberapa teman sampai-sampai ketagihan ke WC hanya ingin baca 'pemikiran-pemikiran baru' itu. "Ada yang baru nggak ?" Bahkan di 'edisi 1978' tembok WC itu penuh coretan-coretan yang politis.

Dilain pihak, pak Djoko heran dan bertanya-tanya dengan sinis "Mengapa WC itu penuh dengan coretan-coretan yang kadang sangat cerdas atau filosofis, tapi rata-rata tulisan mahasiswa di skripsi mereka kosong gagasan-gagasan baru ?" "Kalau diformalisir mereka jadi 'gagu', tapi kalau 'lepas pengawasan' justru banyak yang menunjukkan kualitasnya," tambahnya. Itu kata-kata beliau yang tak mudah saya lupakan. Entah, mengapa beliau menyempatkan diri ke WC mahasiswa sambil baca 'buku tembok itu ?

Terima kasih, Mas Susiawan.
Selamat jalan, Pak Djoko.

Kalau saja saya tinggal di Bandung, rasanya saya akan ikut kepingin menikmati isi “buku tembok” WC kampus ITB saat itu. Adik saya juga belum mengirimkan hasil pemotretannya. Ataukah mungkin tembok WC ITB itu kini sudah diputihkan sehingga steril dengan gagasan-gagasan baru ?

Saya yakin, isi tembok WC yang dilukiskan oleh Susiawan itu jauh lebih inspiratif dan humoristis daripada lelucon yang membuat gerombolan demi gerombolan mahasiswa kita ibarat useful idiot yang gagu isi kepalanya, yang bangga memakai jaket alma maternya, tetapi riuh rendah tertawa-tawa hanya dicekoki sajian low comedy yang mekanistis, repetitif sekaligus dangkal, di pelbagai acara televisi kita selama ini.

Tanya kenapa !



Wonogiri, 12/8-9/9/2007


ke

Thursday, May 10, 2007

Indonesian Jokes Are Not Funny

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Skeptisnya Aida. “Lelucon Indonesia itu tidak lucu. Baiklah, saya jelaskan kembali dengan cara lain : lelucon Indonesia, yang disampaikan dalam bahasa Indonesia, tidaklah lucu. Tentu saja, saya mampu berbicara dan memahami bahasa Indonesia secara baik, tetapi tetap saja saya tidak berpendapat bahwa lelucon Indonesia itu menghibur, ” demikian simpul Aida.

Mampuslah dunia komedi Indonesia.

Apakah Anda mengenal Aida ? Dia adalah lulusan Fakultas Teknik Kehutanan UGM, pernah tinggal dan belajar di pelbagai negara di Eropa, dan kini bekerja di bidang industri kehutanan. Menikah dengan ekspatriat, tinggal di Kemang, Jakarta, adalah juga sosok penulis artikel berbahasa Inggris bertopik gaya hidup, lingkungan dan gastronomi untuk media berbahasa Inggris di Indonesia dan mancanegara. Judul tulisan ini saya ambil dari kalimat pertama dalam artikelnya yang berjudul “Comedy in Blanket,” yang isinya sungguh menarik dan menggelitik.

Cerita Aida berlanjut. “Kemarin saya meriset di Internet untuk menemukan lelucon Indonesia. Saya tidak menemukan lelucon sebiji pun yang mampu menggerakkan saya untuk tertawa atau terkikik-kikik tanpa henti dengan air mata berleleran. Memang betul ada merebak air mata di mata saya, tetapi itu merupakan reaksi akibat ungkapan patetik yang saya baca di layar komputer.

Mengapa begitu sulit menemukan lelucon–lelucon lokal yang hebat ? Yang saya maksudkan adalah humor segar yang dihasilkan orang dari pelbagai lapisan masyarakat yang mencerminkan pengalaman hidup mereka sehari-hari, kata-kata cerdas yang mampu membebaskan mereka sejenak dari realitas hidup yang berat di tengah masa krisis ekonomi yang berkepanjangan ini.“

Semakin menarik ketika Aida menggolongkan empat kategori humor di Indonesia, yaitu : (1) lelucon kasar atau slapstick, (2) lelucon rasialis, (3) permainan kata dan, (4) lelucon intelektual.

Lelucon slapstick, menurutnya, sering muncul di TV lokal. Dalam tayangan komedi Bajaj Bajuri, sebagai contoh, munculnya adegan orang terjengkang dari kursi atau bayi yang muntah dianggap sebagai lelucon paling lucu. Lelucon rasialis merupakan tipe favorit kedua di Indonesia, di mana sering memunculkan orang Indonesia bukan keturunan etnis Cina tetapi berdandan pakaian tradisional Cina dengan bahasa beraksen Cina yang berlebihan. Atau orang non-Batak menyerocos dengan kata-kata yang kental beraksen Batak. Juga sering muncul di televisi dan mengudara lewat radio, permainan kata-kata dari etnis tertentu tetapi tidak ditujukan sebagai lelucon rasialis, melainkan digunakan untuk propaganda demi menjaga keutuhan integrasi bangsa. Sementara itu lelucon intelektual, menurutnya, merupakan lelucon yang paling sedikit eksistensinya di Indonesia.


Low comedy. Paparan Aida yang menarik di atas dan kita tidak usah menjadi seorang intelektual humor sekaliber almarhum Arwah Setiawan, kita segera menyetujui pendapat Aida betapa lanskap dunia lelucon Indonesia didominasi oleh apa yang disebut Encyclopedia Brittanica sebagai low comedy, komedi kelas rendah. Yaitu hiburan berwujud drama atau literasi yang tidak ada tujuan pokok kecuali hanya untuk menimbulkan tawa dengan bualan, lelucon hiruk-pikuk, mabuk-mabukan, pertengkaran, badut-badutan dan aksi-aksi gaduh lainnya.

Mungkin memang lelucon low comedy semacam itulah yang dibutuhkan oleh sebagian besar kita. Sebagai ilustrasi, adalah artikel menarik dari Aulia Muhammad, wartawan harian Suara Merdeka, ketika meresensi acara talkshow Empat Mata-nya Tukul Arwana. Ia menyoroti antara lain tentang “tipikalitas” Tukul yang nyaris terjebak dalam rutinitas.

“Gestur, umpatan, salah ucap (dari Tukul) semua jadi terasa memesona, dan menjual. Dan memang begitulah pada mulanya. Seluruh tipikalitas Tukul itu memang membuat perut berguncang. Tapi, ketika Empat Mata tayang nyaris setiap malam, kelucuan rutin itu menjadi terasa ‘menyedihkan,’”demikian tulis Aulia.

Sebabnya satu, Tukul terpancang pada idiomatikal itu-itu saja. Yang lahir kemudian hanya semacam perulangan dari adegan di malam-malam sebelumnya. Nyaris tak ada kreasi, bahkan ketika yang hadir adalah tamu dengan karakter yang sangat berbeda. Tukul tak mampu bermetamorfosa Semesta gelak yang kemudian lahir tak lebih tawa yang kering, tawa dari kelucuan yang sudah menjadi semacam hapalan.“

Akhirnya Aulia Muhammad yang blogger dan pemimpin redaksi Suara Merdeka Cyber itu menyimpulkan, “Tukul mungkin lupa, setiap orang tidak akan pernah puas jika hanya mendapatkan hal yang sama. Kerutinan pasti melahirkan kebosanan. Pemirsa tak pernah bisa setia. Dan jika kemasan Empat Mata tidak berubah, Tukul masih selalu memakai idiom yang nyaris jadi hapalan, kepopulerannya tinggal menghitung masa. Karena tanpa disadari, Tukul mengubah kekuatannya menjadi titik terlemahnya: selalu tampil apa adanya, bermodal kelucuan yang itu-itu saja.“



Tak Hanya Tukul. Tayangan Empat Mata sebagai low comedy kiranya semakin kental ketika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat dengan surat tertanda No.480/K/KPI/10/06 menurut Dyah Pitaloka (Suara Merdeka, 3/5/2007), telah menegur tayangan Empat Mata karena memuat lelucon cabul dan merendahkan perempuan sebagai obyek seks.

Preseden serupa telah terjadi sebelumnya ketika KPI Pusat dalam siaran pers No.: 30/K/KPI/SP/07/06 dengan tegas meminta merombak suatu tayangan komedi di televisi dengan alasan pertimbangan serupa. KPI Pusat pada 12 Juli 2006 meminta stasiun TV Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) untuk segera membenahi secara mendasar program-program komedi yang bermuatan mesum, menonjolkan kecabulan, mengeksploitasi sensualitas, melecehkan perempuan menjadi objek seks, tidak mengindahkan nilai agama, serta mengabaikan keberagaman budaya dalam masyarakat Indonesia.

Hasil pemantauan yang dilakukan oleh KPIP April-Juni 2006 menunjukkan setidaknya terdapat dua program komedi yang bermasalah. Ada pun program tersebut adalah Ngelaba (ngelawak lewat banyolan) dan Chatting (canda itu penting) yang masing-masing disiarkan dua kali dalam seminggu.

Kedua program tersebut sangat lazim menyajikan candaan ataupun gerakan lelucon yang berasosiasi mesum dan cabul. Muatan semacam itu jelas sangat tidak layak disiarkan oleh stasiun televisi nasional yang menjangkau puluhan juta penonton di seluruh Indonesia serta menggunakan frekuensi siaran yang merupakan milik publik. Juga perlu diingat bahwa meski ditayangkan hampir larut malam, isi acara seperti itu tetap tidak layak disiarkan oleh TPI yang siarannya menjangkau daerah-daerah yang memiliki kebudayaan dan standar nilai yang beragam.

Dalam siaran pers yang ditandatangani S. Sinansari ecip ditandaskan, “KPI akan menjadikan hasil pengamatan ini sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam proses pemberian Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) bagi TPI. KPI juga mengingatkan, bahwa bila peringatan ini tidak diindahkan, KPI akan membawa bukti-bukti rekaman ini ke jalur hukum sesuai dengan UU Penyiaran No. 32/2002.”

William K. Zinserr pernah bilang, ”What I want to do is make people laugh so that they’ll see things seriously. Dengan membuat orang-orang menjadi tertawa ia mengharapkan mereka tersebut mampu melihat obyek candanya secara serius. Apakah bagi komunitas komedi Indonesia tuntutan untuk mempromosikan misi mulia tersebut memang terasa berat sekali ? Apakah komunitas komedi Indonesia benar-benar tidak tergerak untuk mulai mengasah “gergaji”-nya demi hadirnya lelucon-lelucon yang lebih bernas kadar intelektualitasnya ?

Kalau ya, saya yakin Aida bakal tidak tertarik menulis lagi tentang topik lelucon atau pun komedi Indonesia. Karena dipastikan dirinya akan hanya kembali mengulang-ulang pernyataannya, bahwa : Indonesian jokes are not funny !


Wonogiri, 10-11 Mei 2007


ke