Showing posts with label komedi televisi. Show all posts
Showing posts with label komedi televisi. Show all posts

Monday, December 01, 2008

Idea Driven Jokes, Anjing Pavlov dan Bangsa Pelupa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Humor Hillary. Pilpres AS 2008 sangat kaya sebagai ladang humor. Tina Daunt dalam artikelnya berjudul “Candidates show they can take a joke” di Los Angeles Times (11/4/ 2008) bahkan menulis, “Inilah pilpres dimana politik sebagai lelucon. Atau barangkali kampanye dimana politik menemukan selera humornya.”

Realitasnya, humor memang tidak hanya menjadi hiburan semata. Humor bahkan menjadi senjata utama dalam pemenangan pilpres 2008 ini pula. Tina Daunt menyebutkan, jarang ada waktu lowong tiap minggunya bagi kandidat yang bertarung untuk tidak muncul dalam salah satu acara komedi di jaringan televisi atau televisi kabel di Amerika Serikat.

Sekedar contoh adalah Hillary Clinton. Kandidat kuat dari Partai Demokrat yang ternyata kemudian dikalahkan oleh Barack Obama, kita tahu, pernah mengaku berbohong tentang peristiwa kunjungannya ke bandara Sarajevo. Saat itu ia mengaku dirinya harus merunduk dan berlari demi menghindari tembakan para penembak jitu.

Ketika hadir dalam acara The Tonight Show with Jay Leno, istri mantan presiden AS itu berujar : “Saya bersyukur mampu sampai di studio ini.” Senator Demokrat dari New York itu ketika tiba di studionya Jay Leno di Burbank, Los Angeles awal April 2008 lalu menambahkan, “Anda tahu, saya kuatir tidak bisa sampai di sini. Karena diri saya terancam para penembak jitu.” Jay Leno menimpali : “Kalau di Los Angeles sini, hal itu memang benar-benar bisa terjadi.”

Ah, Hillary. Seorang politikus ulung yang mampu meledeki dirinya sendiri. Termasuk ketika posisinya terpojok, terlindas popularitasnya Obama. Pada acara debat di St Anselm’s College (5/1/2008) dirinya dicecar pertanyaan, “mengapa orang-orang tampaknya lebih menyukai Obama ?” Hillary menjawab, “itu menyakiti perasaan saya.” Jawaban jujur itu mampu mengundang riuh tawa. Lanjutnya, “Tetapi saya tetap terus maju. Dia (Obama) memang mudah disukai. Namun saya kira, saya tidak terlalu buruk.”

Semangatnya untuk terus maju, mantan ibu negara yang belasan kali juga diolok barisan komedian AS karena getolnya ia berpantalon, kemudian jadi bulan-bulanan komedian Andy Borowitz. Konon, Hillary akan terus bertahan selama ratusan tahun dan milyaran tahun, untuk memenangkan kursi presiden AS. Bahkan untuk meraih kemenangan dalam kampanyenya, Hillary Clinton telah mengeluarkan peranti lunak baru berlabel Hillary 8.0.

Dalam kampanye di Chicago, peranti lunak itu ia katakan sebagai penanda kemenangannya di tahun 08. “Peranti lunak ini akan menampilkan Hillary yang terbaik dari segala apa pun yang Anda harapkan darinya,” tutur ibu dari Chelses Clinton itu. Peranti lunak yang kompatibel untuk PC dan Mac itu memungkinkan pendukungnya merancang sosok Hillary Clinton berdasar versi tiap-tiap pengguna. Karena memang telah tersedia 57.000 posisi Hillary yang terkait beragam program atau isu, dari masalah kesehatan, masalah imigrasi sampai topik perang di Irak.

Sayangnya, peranti lunak itu tidak sepi dari cacat teknis. Ketika diinstal, banyak komputer mengalami crash.. Macet. Kebanyakan karena komputer-komputer itu tidak cukup memori untuk memuat semua posisi Hillary tersebut. Walau pun demikian, pembantu dekat nyonya Clinton ini menyatakan bahwa gangguan teknis itu tetap bermanfaat bagi Hillary. “Rata-rata orang Amerika memang tidak memiliki memori cukup, dan itulah yang sebenarnya diandalkan Hillary meraih kemenangan.”


Menggertak otak. Bagaimana lelucon tentang Obama ? Naiknya warga kulit hitam pertama AS yang juga pernah bersekolah di Jakarta sebagai presiden baru negara adi daya itu, anehnya, tidak semua kalangan menyukainya. Fihak pertama yang meratapi naiknya Obama justru datang dari kalangan komedian Amerika Serikat.

“Jujur saja, sebagai komedian saya merasa kehilangan besar dengan lengsernya Bush,” keluh komedian Jay Leno. “Sebab Barack Obama tidak mudah dijadikan bulan-bulanan lelucon. Ia tidak membuka peluang bagi kita untuk melucukannya. Terima kasih Tuhan, kau anugerahkan sekarang pengganti Bush : seorang Joe Biden bagi kita semua.”

Iklan besar-besaran sebagai senjata pamungkas Obama menjelang pilpres juga jadi sasaran olok-olokan komedian Bill Maher. Tetapi arah tembakannya ke sasaran lain. “Berapa banyak Anda telah menyaksikan iklan televisi besar-besaran Obama minggu ini ? Iklannya tertayang di tujuh stasiun televisi sehingga kita tak bisa menghindarinya. Yang paling menarik, pada iklan sepanjang setengah jam itu Obama sama sekali tidak menyebut nama McCain, tak pernah menyebut nama Palin, tidak pernah menyebut nama George Bush. Atau dalam bahasa Shakespeare : histori, komedi, dan tragedi !”

McCain yang tua, disebut histori. Sarah Palin yang sering melakukan blunder itu didaulat dengan label komedi. George W. Bush yang merusak Amerika dan dunia dijuluki secara tepat sebagai biang tragedi.

Saya suka lelucon cerdas Bill Maher yang satu ini. Kalau saja saya tidak diberi hadiah buku-buku komedi dari Danny Septriadi, saya tidak tahu adanya penggolongan terhadap lelucon a la Jay Leno, Andy Borowitz dan Bill Maher semacam ini. Dalam buku berjudul Zen and the Art of Stand-Up Comedy (1998), Jay Sankey membedah perbedaan antara lelucon berbasis ide dan lelucon lainnya yang berbasis pengalaman.

“Lelucon mengenai pemikiran yang asing, yang menyeruak di kepala Anda, merupakan idea driven, lelucon berbasis ide atau gagasan. Lelucon ini mengharuskan audiens memeras imajinasi mereka. Sementara itu lelucon menceritakan pengalaman Anda pergi ke bioskop atau menghadiri hajat penganten, merupakan experience driven, lelucon berbasis pengalaman. Dalam lelucon ini mensyaratkan audiens merujuk pengalaman diri mereka sendiri, yaitu pengalaman pribadinya terhadap peristiwa yang sama,” jelas Jay Sankey. Lelucon jenis yang kedua lebih mudah memicu tawa ketimbang lelucon jenis yang pertama.

Ranjau salah medan. Untuk mendalami seluk-beluk lelucon jenis pertama, saya akan mengutip pendapat seorang blogger “dEHA” yang menulis komentar di blog saya ini pula : “Saya penggemar stand-up comedy berbagai rupa, yang intelek maupun yang cuma jorok-jorok. Pertama kali saya kenal stand-up adalah waktu nonton video lamanya Eddie Murphy (yang termasuk kategori jorok2 itu tadi hehe) waktu saya di Australia.

Setelah itu sempet nonton beberapa show di tivi sana, dan ngerasa ini style komedi intelek banget, nggak cuma kelakuan minus kayak Tukul atau dasi pendek seperti yang Anda sebut. Salut banget bisa membahas komedi dengan sangat serius, jangan patah semangat karena 'gagal' di API, toh kalau nongol di tivi penontonnya nggak akan ngerti karena segmen yang nonton masih lebih suka lihat slapstick dan komedi keroyokan yang biasa kita lihat.”

Sebelumnya, di blognya ia menulis : "Komedikus Erektus blog (komedian.blogspot.com) is by a guy very seriously wanting to lift Indonesian comedy by introducing standup comedy, complete with his theoretical analysis of great comedians and even Judy Carter writings. He even attempted performing his own act for a comedian competition, although failing really badly (not because he was not funny, but because the judges don't get his solo act, ouch). Mas Bambang, I salute you!"

Terima kasih, “dEHA.” Pelajaran dari Jay Sankey dan tuturan “dEHA” tadi membuka mata saya untuk makin jelas dalam berintrospeksi. Utamanya ketika mengais latar belakang sampai alasan mengapa saya gagal dalam audisi di API-4 yang lalu itu.

Saat itu saya melucukan judul blognya pemain biola cantik Maylaffaiza, heboh asmara Bambang Tri-Halimah-Mayangsari, sakitnya Pak Harto, juga terkait fenomena topik selebritas-politikus versus politikus-selebritas di Indonesia saat itu. Ranjau salah medan telah mem-bom diri saya habis-habisan. Di bawah ini adalah set atau naskah komedi yang saya bawakan saat itu :

“Saya main biola, seperti saya bermain cinta.” Kata pemain biola solo yang cantik dan seksi Maylaffayza di situsnya : maylaffayza.multiply.com.

Saya menyukai Maylaffayza. Ia cantik, seksi, berbakat dan intelektual. Tetapi ketika saya ikuti kata-katanya, akibatnya fatal. Saya kesulitan cari posisi enak. Orgasme pun tidak. Biola itu rusak, berantakan semuanya.

Maylaffayza mungkin lupa, kini selebritis adalah trend-setter. Panutan gaya hidup. Bahkan politisi pun bergaya selebritis. Yusril dan Syaifullah Yusuf, mantan menteri, bermain film. Presiden SBY menelorkan album musik. Anggota DPR main video, bersama Maria Eva.

Kini memang era emasnya para pesohor, para selebritis. Pintu-pintu peluang seolah terbuka bagi mereka untuk BISA MASUK kemana saja. Bintang sinetron Rano Karno, MASUK POLITIK, terpilih jadi Wakil Bupati Tangerang. Bintang sinetron Aji Massaid MASUK Partai Demokrat, jadi anggota DPR. Bintang sinetron Roy Martin, MASUK penjara.

Menjadi selebritis juga mampu membuka pintu-pintu istana. Anissa Pohan jadi menantu Presiden SBY. Lulu Tobing jadi cucu menantu mantan Presiden Soeharto Infotainment mengabarkan artis Revalina Temat kini dekat dengan cucu mantan Presiden Soeharto, Panji Trihatmojo.

Oh, Revalina yang malang. Apa ia tidak tahu kalau Panji Trihatmojo itu sangat membenci selebritis ? Terutama selebritis bernama Mayanksari.

Begitulah, ratusan jam tayangan infotainment setiap minggunya telah membesarkan para selebrities itu. Persaingan antarstasiun yang keras. Begitu kerasnya persaingan, awak TV kini pun mencoba inovasi-inovasi baru : tayangan infotainment dipadu info kedokteran yang canggih, intrik dan perseteruan keluarga yang sengit, dibumbui nuansa-nuansa politik.

Ramuan dahsyat ini bakal terjadi bila Halimah Trihatmojo membezoek Pak Harto, ketemu Bambang Trihatmojo yang disertai Mayangsari. Big news. Big news. Big News.


Bukan untuk TPI. Terkait penampilan saya itu, salah satu dari tiga juri seleksi yang menghakimi saya, Ali Mahmudin (produser API-1 dan API-2) telah berbaik hati menulis komentar di blog saya ini : “Barang kali saya adalah salah satu juri yang tidak meloloskan Mas Bambang di audisi API-4. Terus terang lawakan Mas Bambang bukan berarti tidak berkualitas, tetapi memang saat dibawakan waktu itu tidak lucu (versi kami).

Namun ketika Mas Bambang tampil dihadapan kami (aku berusaha untuk mengerti semua isi lawakan Mas Bambang) ternyata aku secara pribadi melihat isi materi tersebut penuh satir. Dan menurut saya lawakan yang semacam itu memang bukan untuk kalangan penonton TPI.

Itulah sebabnya kami belum bisa merekomendasikan lolos untuk masuk babak berikutnya. Akan tetapi saya pribadi sangat hormat dengan ketajaman Mas Bambang melihat kekinian menjadi topik lawakan Audisi API-4.”

Terima kasih, Mas Ali. Terima kasih Harris dan juga Isman untuk komentar Anda.

Senjata buat Tamara. Masih tentang acara komedi di stasiun televisi lainnya, saya juga gagal sebelumnya. Yaitu ketika diundang untuk tampil di Republik Mimpi, September 2006. Saat itu kreator NewsDotcom-Republik Mimpi, Effendi Gazali, meminta saya untuk menjadi peserta acaranya itu secara in absentia. Tidak tampil di depan kamera, tetapi hadir lewat suara, melalui kontak telepon. Ia telah menetapkan topik mengenai layanan publik. Saya pun kemudian mengirimkan materi yang ia minta sebagai berikut :

“Layanan publik adalah layanan yang diberikan negara untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya, berlandaskan alasan moral bahwa kebutuhan universal mereka harus terpenuhi, bahkan sering dikaitkan dengan hak-hak asasi manusia mereka. Misalnya penyediaan air bersih.

Layanan publik di negara modern meliputi pendidikan, layanan air bersih, kesehatan, transportasi, listrik dan gas (kayaknya mau naik lagi TDL-nya), penyiaran dan komunikasi, manajemen pengolahan limbah (di negara tetangga baru saja terjadi tragedi di Bantargebang), pemadam kebakaran (di negara tetangga, mereka tak berdaya di Sumatera dan Kalimantan), sampai layanan keamanan yang diemban oleh polisi (di negara tetangga, polisi lagi pusing gara-gara ditemukannya 9 karung senjata di jalan tol Kapuk).

Belum ada negara yang kreatif memenuhi kebutuhan warganya di luar tuntutan hak-hak asasi manusia. Misalnya, jasa pengeritingan rambut atau jasa rebounding yang disediakan negara. Atau jasa tato tubuh oleh negara. Maukah para mahasiswa di sini, tubuhnya ditato dengan gambar burung...Garuda Pancasila ?

Bagaimana potret kualitas layanan publik di negeri tetangga ? Kalau saya boleh bilang, sudah sangat-sangat bagus sekali. Dalam arti, PERTAMA : para rakyat kecil telah bagus sekali memberikan pelayanan kepada penguasa dan kemauan para pengusaha.

Tragedi dan bencana lumpur panas di Porong telah diterima oleh rakyat kecil dengan sabar, hingga hampir empat bulan kemudian baru pemerintah turun tangan. Ada yang bilang, kalau proyek pemboran itu milik orang kecil, pasti sudah ditutup sejak dini oleh pemerintah. Saya bilang, kalau orang kecil ya pasti tidak mampu memiliki usaha pemboran !

Contoh orang kecil tanpa pamrih melayani penguasa, juga pemerintah, dapat diteladani dari sosok Pak Wasa. Anda tahu, Pak Wasa ? Dia adalah pemulung yang menemukan 12 senjata api, belasan magazen dan ribuan amunisi di tepi sungai Tanjungan, pinggir jalan tol Kapuk KM 27 (arah Bandara Soekarno Hatta) RW 02, Kapuk Muara, Jakarta Utara, Rabu (8/9) sore. Pak Wasa, melaporkan temuannya ini kepada polisi. (Dari topik ini dapat dikreasi belasan lelucon, di bawah ini saya sertakan beberapa di antaranya-BH).

Bayangkan bila Pak Wasa itu bukan warga negara yang jujur. Bagaimana kalau senjata-senjata itu ia ambil ? Lalu ia tenteng-tenteng ? Wow, seorang pemulung kemana-mana membawa-bawa AK-47 atau pistol Smith & Wesson ?

Bagaimana pula kalau senjata-senjata itu ia serahkan kepada Hambali ? :-) Engga mungkin ya, pemulung kok bisa naik pesawat hingga sampai di Guantanamo, Kuba.

Bagaimana kalau senjata-senjata itu diserahkan kepada pelawak Parto Patrio ?:-) (Catatan BH : Moga-moga audiens “ngeh” dan masih ingat insiden Parto Patrio yang pernah meletuskan senjata ketika diuber-uber kru infotainment). Siapa tahu, Parto berniat meng-update koleksi senjatanya.

Ikhtiar saya ikut mengisi acara parodi politik secara in absentia itu gagal. Karena slot waktunya, menurut Effendi Gazali, terpaksa terpakai untuk menampung uneg-uneg para pamong praja dari seluruh Indonesia, dipimpin Sudir Santoso, yang saat itu berjumlah ribuan orang sedang berdemo, mengadukan nasibnya di Depdagri di Jakarta. Saya bisa mengerti.


Idea driven jokes. Walau pun menuai gagal dan gagal, seperti cerita kecil di atas, aktivitas mengkreasi lelucon berbasis ide itu tetap saja mengusik pikiran saya setiap saat. Satu persatu, bila ia muncul, saya dokumentasikan di bloknot atau di katalog. Siapa tahu kelak bisa saya munculkan di situs YouTube ?

Yang pasti, lelucon semacam ini memang tidak mudah dikreasi. Juga tidak mudah difahami. Membujuk, mengantar atau sampai memaksa audiens untuk merentangkan imajinasi mereka, bukan persoalan mudah. Itulah alasan mengapa Presiden SBY pernah marah sampai dua kali karena audiensnya ngobrol sendiri atau malah tertidur ketika ia sedang berpidato.

Kalau Anda agak jeli mengikuti tayangan beragam parodi politik di televisi, dari Republik Mimpi, Negeri Impian, Democrazy sampai Kabaret, materi yang diluncurkan untuk sengaja memancing tawa seringkali justru TIDAK TERKAIT dengan materi utama pembicaraan. Lelucon-lelucon yang disambut tawa di layar tivi itu merupakan lelucon biasa-biasa saja. Bahkan klise. Mudah ditebak. Padahal ”no surprise, no laughter !,” ini rumus lawakan universal yang diungkapkan Danny Septriadi.

Acara itu akhirnya sering nyaris jadi adegan badut-badutan semata. Lawakannya, menurut Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-Sized Book of Comedy (1999), berada pada tingkat keenam atau ketujuh. Alias kasta paling rendah dalam kiprah kreativitas mengundang tawa.


Anjing Pavlov dan kita. Acara-acara parodi itu, juga acara komedi sketsa lainnya, menjadi terdengar dan terlihat riuh rendah semata karena gelontoran eksesif saus tawa kalengan, canned laughter atau laugh track, yang dimanipulasikan si kreator acara. Itulah excuse atau justru senjata pamungkas para kreator komedi kita yang belum mampu merentang imajinasi pemirsanya. Bahkan manipulasi itu sampai-sampai mengancam tergerusnya akal sehat dan nurani, suara hati bangsa.

Terus terang, saya bukan penonton setia acara beragam komedi di tivi yang dibintangi Effendi Gazali, Iwel Well dan Kelik Sumaryoto, Butet Kartaredjasa dan awak Teater Koma sampai Tukul Arwana itu. Sehingga saya terperanjat menyimaki isi surat pembaca yang ditulis Ali Farkan (Semarang) yang dimuat di Suara Merdeka, 28/11/2008 : M.

Ia menceritakan hadirnya bintang tamu dalam salah satu acara bernuansa komedi populer di televisi. Bintang tamu itu mengaku sebagai mantan pembunuh bayaran yang sudah insaf. Ketika menceritakan bahwa dirinya pernah membunuh sampai 7 orang, spontan ia mendapatkan tepuk tangan dari penonton. “Bagaimana kualitas penonton untuk memahami mana prestasi baik dan buruk ?,” gugat Ali Farkan. Itulah Indonesia. Itulah tayangan televisi kita. Itulah potret wajah tanpa nurani dari bangsa Indonesia.

Buraian tawa-tawa kalengan di televisi kita itu mudah mengingatkan tesis mengenai anjing-anjing Pavlov. Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : apakah penonton komedi di televisi kita, berdasar keluhan Ali Farkan di atas, telah berperilaku tak ubahnya satwa-satwa yang menjadi kajian Pavlov tadi ? Apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, tanpa dikaji benar atau salah secara moral, refleksi otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan bertepuk tangan ? Absurd. Televisi memang menumpulkan.

”Television brought the brutality of war into the comfort of the living room.”, imbuh nabi media, Marshall Mc Luhan (1911-1980). Televisi menyajikan brutalitas peperangan ke dalam ruang tamu keluarga yang nyaman. Itu pendapatnya ketika berkecamuknya Perang Vietnam. Kenyamanan itu bisa berakibat menumpulkan nurani, di mana kebrutalan perang dan korban-korban yang tewas cenderung diperkerdil hanya sebagai objek hiburan belaka.

Di Indonesia, mungkin lebih mengerikan lagi. Brutalitas bahkan juga tersaji dalam acara komedi. Adegan makan kodok hidup-hidup dijadikan sebagai hiburan. Atau menampilkan seorang kanibal dan pembunuh bayaran sebagai hero. Semuanya ditujukan semata untuk mengundang tawa. Pantas saja, mengapa rentetan kejadian pembunuhan dengan mutilasi, kini semakin sering terjadi. Mungkin pelakunya sambil tertawa-tawa ketika sedang menjalankan aksi sadisnya.

Akar tunjangnya, barangkali, karena di Indonesia ini orang langka memiliki tradisi menulis. Termasuk di kalangan komunitas komedi kita. Akhirnya bangsa ini menjadi sangat mudah lupa. Orang-orang Indonesia menjadi sangat pendek ingatannya. Padahal kita tahu, bangsa yang memorinya buruk menjadi makanan empuk bagi politikus busuk.


Mereka yang pernah korupsi uang rakyat dalam jumlah gila-gilaan, membunuhi rakyat, menembaki dan menculik mahasiswa, meracun aktivis HAM, atau bahkan mengebom orang, justru di televisi mereka-mereka itu kita beri tepuk tangan. Kita elu-elukan. Bahkan ada yang sampai dijadikan sebagai vote getter dengan melabelinya sebagai bapak bangsa, sebagai pahlawan.

Indonesia kini dalam bahasa Shakespeare adalah : tragedi, tragedi dan tragedi !


Wonogiri, 20-30/11/2008


ke

Thursday, August 23, 2007

WC Kampus dan Mahasiswa Dalam Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Badut-badut Kampus. Aksi pelawak ternyata bisa juga menjadi motivator tim bola basket. Itulah yang terjadi pada diri Devin O’Connor, mahasiswa senior dari Jurusan Teater Penn State University, AS. Seperti dikutip oleh Megan McKenna dalam situs universitas tersebut, The Collegian, si Devin O’Connor itu selalu hadir dalam pertandingan basket di kampusnya dengan memakai kostum yang aneh-aneh.

“Awalnya hanya untuk lucu-lucuan, tetapi kemudian dirinya menjadi pemandu sorak tidak resmi dari tim universitas kami karena ia mampu menggairahkan suasana pertandingan,” tutur Kevin Scheler, teman Devin, yang mahasiswa Kinesiologi.

Mahasiswa lain, Jason Yanushonis, dari Jurusan Finance dan teman Devin di SMA menimpali bahwa O'Connor mampu membawakan selera humornya yang energetik kemana pun ia berada. “Anda tak dapat menduga apa yang akan meletup dari dirinya,” tegasnya. “Ia adalah sosok yang semua orang menginginkan dirinya hadir dalam pesta mereka, karena O’Connor mampu membuat suasana pesta menjadi berbeda.”

Badut sejak SMA itu kini memantapkan diri sebagai komedian mahasiswa yang berprospek cerah. Ia telah manggung di Universitas Yale dan Pittsburg, dan juga tampil sebagai pemenang dalam kontes Comic Strip Live Comic of the Month Contest di New York. “Saya suka kampus karena tipe komedi saya cocok dan terkait erat dengan situasi kampus,” jelas O’Connor.

Simak juga cerita Susan Johnston tentang Alison Block, cewek mahasiswa tingkat pascasarjana jurnalistik di Universitas Duke. Siangnya kuliah dan kalau malam manggung sebagai komedian. Digambarkan betapa Alison sehari-harinya senantiasa memasang antena otaknya, peka menguping ucapan atau pun situasi sekelilingnya yang mampu memicu imjinasi dan diolahnya menjadi lelucon. Selain menulis leluconnya sendiri, memanggungkannya, ia juga menyanyi, menulis fiksi, skenario dan juga menulis lagu. “Utamanya aktivitas yang tidak menghasilkan uang,” candanya. Tetapi jelas teramat vital bagi dirinya, karena akan mengasah tajam pisau intelektualitasnya.

Bagaimana potret aktual dunia komedi mahasiswa kita ?

Di negeri kita ini pasti akan mudah kita ketemukan badut-badut mahasiswa yang suka membuat ulah lucu atau sok lucu di pelbagai kampus. Mungkin mereka beraksi di dalam kelas saat kuliah atau berani naik panggung-panggung hiburan internal kampus mereka masing-masing. Tetapi di tingkat nasional, di mana kini hidung para pelawak mahasiswa semacam Devin O’Connor atau Alison Block di atas ? Bagimana kalau pertanyaan ini dilontarkan kepada Effendi Gazali ?

Kira-kira, mampukah ia menjawabnya ?

Jawaban telak dan tak terduga-duga, sekaligus mungkin benar, mungkin justru muncrat dari sinyalemen tajam dan sarkastis yang pernah dilontarkan oleh almarhum Sudjoko. Beliau adalah budayawan, ahli bahasa dan guru besar Seni Rupa dari ITB Bandung.

Kebetulan adik saya, Basnendar Heriprilosadoso, saat ini sedang menempuh pascasarjana di Seni Rupa ITB. Ia mengajar di ISI Surakarta, seorang kartunis dan desainer logo, di mana salah satu karya puncaknya adalah logo Galeri Nasional di bilangan Gambir Jakarta Pusat. Ketika merujuk sinyalemen Pak Djoko di atas ia telah saya titipi pesan yang mungkin rada aneh : untuk memotret coreng-moreng yang ada di tembok-tembok WC kampus ITB. Karena di lokasi inilah kejeniusan mahasiswa Indonesia, utamanya mahasiswa ITB, mampu terekspresikan dalam kualitas puncak, sehingga mampu mengundang bahak dan menarik perhatian Pak Djoko itu.


Bawa Pulang Alya Rohali. Di atas saya telah mencoba bertanya kepada Effendi Gazali (EG). Mengapa ? Karena ia seorang doktor dan pengajar di Universitas Indonesia. Seorang intelektual di bidang komunikasi dan menurut penuturan teman dunia maya saya, Ira Lathief, saat menulis buku Kumis Lele Rezeki Arwana dan meminta endorser untuk bukunya itu, tokoh “Dik Pendi” dari Republik Mimpi (RM) tersebut telah menuliskan di bawah namanya, sebuah gelar keren : stand-up comedian.

Di acara Republik Mimpi itu dirinya mendapatkan mitra Iwel Well, yang kebetulan sama-sama berasal dari Sumatra Barat. Tokoh dengan peran redundant di Republik Mimpi ini suka EG promosikan sebagai stand-up comedian pertama di Indonesia. Lucunya, di acara Republik Mimpi itu keduanya selalu nampak hanya berposisi sebagai sit-down (sekaligus sitting duck ?) comedian belaka. Masih muda sekaligus berjulukan the most eligible bachelor tetapi tak mampu “berdiri,” bukankah ini sebuah bencana ke-manusia-an ?

Lupakan lelucon low comedy itu. Saya ingin bertanya juga karena Effendi Gazali adalah kreator acara Republik Mimpi yang selalu menghadirkan para mahasiswa. Mereka hadir berombongan dengan selalu mengenakan jaket alma mater dan bahkan bersama dosen-dosen mereka, dalam siaran langsungnya. Selain acara Republik Mimpi, silakan Anda daftar sendiri acara-acara di televisi yang kurang lebih memiliki genre serupa yang menghadirkan para mahasiswa sebagai audiens dalam acara televisi mereka. Pertanyaan lanjut saya : apakah hanya pantas sebagai audiens acara komedi di televisi sajakah yang bisa diperankan oleh mahasiswa kita sekarang ini ?

Kalau jawabannya memang benar, maka saya mudah teringat pernyataan seorang Robin Day (1923 – ), broadcaster Inggris, yang berkata bahwa televisi itu subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Televisi menyentuh emosi daripada intelek. Apakah acara komedi di televisi kita hanya menjadi etalase ketidaknalaran dan ketidakintelektualan insan-insan cendekia kita ? Pengalaman pribadi saya ketiksa bersentuhan dengan televisi kira-kira memang menegaskan hal-hal miring seperti itu.

“Bawa Pulang Alya Rohali !” adalah tagline yang saya buat ketika mengikuti acara kuis Siapa Berani ? di stasiun televisi Indosiar, 12 Maret 2002. Slogan itu tertulis di kaos dan juga mencuat sebagai lirik lagu yang kami bawakan, sebagai ekspresi kontingen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI), organisasi payung suporter sepakbola Indonesia yang turut saya bidani kelahirannya. Regu lainnya adalah kelompok suporter Aremania (Arema Malang), The Jakmania (Persija Jakarta), Pasoepati (Pelita Solo) dan Viking (Persib Bandung).

Helmy Yahya, kreator acara kuis keroyokan itu, di koran The Jakarta Post bilang bahwa acaranya yang ia pandu bersama Alya Rohali dan diikuti para penggila sepakbola ini merupakan salah satu yang terbaik. Tetapi sekaligus paling tercoreng, karena seusai kuis terjadi keributan parah, perkelahian antara dua kelompok suporter yang secara tradisional telah lama berseteru. Bahkan kemudian diikuti insiden penganiayaan berat saat itu.

Potret yang ingin saya garis bawahi ketika mengikuti kuis itu adalah suasana yang khas televisi : kentalnya rekayasa agar semua hal yang tersaji di layar nampak meriah, heboh, ceria, menggembirakan. Ketika Anda dan kawan-kawan nampak melempem, maka akan ada petugas televisi yang berusaha “membakar” Anda untuk kembali bergairah. Bagaimana kalau teknik rekayasa semacam ini juga dicangkokkan dalam acara komedi di televisi ?


Komedi-komedi kita yang sesat. Rekayasa yang sangat kental itulah yang sekarang tersaji dalam acara komedi di televisi kita. Saya mendapatkan pencerahan akan bahaya rekayasa tersebut dari teman diskusi saya di dunia maya, Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati. Dalam emailnya (20/7/2007) Isman menulis :

“Pada dasarnya, kalau kita sekadar mengandalkan umpan balik penonton untuk menilai apakah komedi itu baik atau buruk, kita akan tersesat. Seperti menanyakan jalan keluar kota kepada orang yang tidak pernah keluar rumah. Extravaganza (acara komedi sketsa di TransTV-BH) masih terjebak pada hal itu. Karena ditayangkan di hadapan penonton asli, hal yang memancing gelak tawa penonton di panggung dianggap (sebagai) formula keberhasilan.

Padahal seperti diamati produser Chuck Barris (yang menciptakan Gong Show dan The Dating Game), perilaku penonton panggung dan penonton TV jauh berbeda. Saya menunggu sketsa komedi Indonesia yang dimainkan tanpa penonton. Seperti yang dirintis Monty Python. Atau jangan-jangan untuk itu harus seperti kru Monty Python sendiri, terdiri dari lulusan universitas dan magister dulu? “

Isman mungkin harus rela menunggu waktu yang teramat panjang agar harapannya yang positif dan ideal itu bisa direalisasikan. Karena para mahasiswa kita yang entah kena suntik borax, formalin atau dicekoki nitrous oxide atau laughing gas, nyatanya lontaran kalimat yang selalu berulang seperti “gitu saja kok repot” atau “piss, man” ternyata sudah mampu menggelegarkan tawa kompak mereka saat menjadi bagian siaran di televisi.

Begitulah kiranya, televisi itu memang subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Begitulah, televisi menyentuh emosi daripada intelek. Termasuk intelektual para mahasiswa kita yang kemudian seperti tumpul karenanya. Kita tunggu saja Isman, siapa tahu sesudah mereka lulus dan juga menempuh magister, akan mampu mendongkrak selera humor mereka jadi lebih meningkat. Walau jangan terlalu optimistis.


Kembali ke Prof. Sudjoko almarhum.

Ketika mengikuti kontes Mandom Resolution Award 2004, saya berkenalan dengan peserta lain, seorang desainer produk, Bambang Kartono Kurniawan (BKK). Asal Jepara. Sambil ngobrol di kamarnya, di Hotel Borobudur, sebelum kami menghadapi dewan juri Sarlito Wirawan Sarwono, Tika Bisono dan Maria Hartiningsih, saya baru tahu dirinya masih memiliki hubungan keluarga dengan Dr. Sudjoko dari ITB itu. Ketika beliau meninggal dunia, saya mendapatkan tembusan isi milis dari BKK yang ditulis para mantan mahasiswanya. Salah satu milis itu ditulis Susiawan (Toronto, Canada), tertanggal 27 Agustus 2006. Isinya antara lain :

Pak Djoko memang suka tak suka harus mengarus dari tanah seberang, namun ketika beliau sudah kukuh sebagai pengajar senior di SR-ITB, saya pribadi sebagai mahasiswa 'bengal saat itu (terutama di periode 1978-1982an) merasakan bahwa beliaulah satu-satunya dosen yang selalu lantang mengkritisi kualitas pendidikan dan sikap mahasiswa-mahasiswanya. Tentu saja beliau disegani bahkan ditakuti banyak mahasiswanya, tapi tak termasuk saya. Setelah beliau, Alm. Prof.Mochtar Apin dan Alm. Dr.Sanento Yuliman merupakan mentor-mentor terbaik saya. Sewaktu saya menjabat Presiden KMSR…pernah terlibat diskusi, ‘ini diskusi antara Susiawan dan Sudjoko, titik !’ tandasnya serius.

Bahkan dengan beliau, kami sempat membahas coretan-coretan iseng mahasiswa-mahasiswa di kamar kecil SR-ITB. Yang mengesankan ketika beliau secara khusus mengkritisi coretan mahasiswa yang berbunyi "Merdeka tapi bingung", "Lapar menyebabkan Perang, Perang menyebabkan Kelaparan", lalu ada yang menjawab "Lapar dan Perang dibuat-buat !" Ditimpa dengan coretan "Siapa dong yang kenyang ?". Ha ha ha ha...menggelikan sekali, kadang-kadang saya terbahak-bahak sambil kencing !

Beliau heran, setiap tembok WC itu diputihkan kembali, esoknya tumbuh coretan-coretan lagi hingga penuh ! Beberapa teman sampai-sampai ketagihan ke WC hanya ingin baca 'pemikiran-pemikiran baru' itu. "Ada yang baru nggak ?" Bahkan di 'edisi 1978' tembok WC itu penuh coretan-coretan yang politis.

Dilain pihak, pak Djoko heran dan bertanya-tanya dengan sinis "Mengapa WC itu penuh dengan coretan-coretan yang kadang sangat cerdas atau filosofis, tapi rata-rata tulisan mahasiswa di skripsi mereka kosong gagasan-gagasan baru ?" "Kalau diformalisir mereka jadi 'gagu', tapi kalau 'lepas pengawasan' justru banyak yang menunjukkan kualitasnya," tambahnya. Itu kata-kata beliau yang tak mudah saya lupakan. Entah, mengapa beliau menyempatkan diri ke WC mahasiswa sambil baca 'buku tembok itu ?

Terima kasih, Mas Susiawan.
Selamat jalan, Pak Djoko.

Kalau saja saya tinggal di Bandung, rasanya saya akan ikut kepingin menikmati isi “buku tembok” WC kampus ITB saat itu. Adik saya juga belum mengirimkan hasil pemotretannya. Ataukah mungkin tembok WC ITB itu kini sudah diputihkan sehingga steril dengan gagasan-gagasan baru ?

Saya yakin, isi tembok WC yang dilukiskan oleh Susiawan itu jauh lebih inspiratif dan humoristis daripada lelucon yang membuat gerombolan demi gerombolan mahasiswa kita ibarat useful idiot yang gagu isi kepalanya, yang bangga memakai jaket alma maternya, tetapi riuh rendah tertawa-tawa hanya dicekoki sajian low comedy yang mekanistis, repetitif sekaligus dangkal, di pelbagai acara televisi kita selama ini.

Tanya kenapa !



Wonogiri, 12/8-9/9/2007


ke