Showing posts with label danny septriadi. Show all posts
Showing posts with label danny septriadi. Show all posts

Tuesday, December 06, 2011

Shazia Mirza, Komedian Islam dan Pesta Natal

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Shazia Mirza.
Anda pernah mendengar namanya ?

Dalam buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010), sosoknya saya ceritakan ketika membahas mengenai warisan penting almarhum Gus Dur bagi dunia komedi Indonesia.

Sekadar Anda tahu, wafatnya Gus Dur dan Dono, sama-sama 30 Desember, saya usulkan sejak tahun lalu sebagai Hari Humor Nasional.

Shazia Mirza adalah pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.

Shazia Mirza itu kini datang ke Indonesia. Sahabat saya, pencinta komedi beraliran garis keras asal Jakarta yang ditunjukkan dengan kepemilikan ratusan buku-buku koleksinya (“semua buku bertopik humor, komedi sampai kartun yang dijual di Amazon.com sepertinya telah pindah ke lemari dia”), Danny, beberapa hari yang lalu memberitahukan kedatangan Shazia Mirza itu.

Bagi saya, kedatangannya itu seperti keajaiban. Ketika tanggal 20/10 sd 17/11/2011 saat saya memperoleh fasilitas dan kemewahan langka di Hilton Humor di Kramat Jaya Baru, saya sudah mengincar buku yang membahas dirinya.

Sekadar info, Hilton Humor itu adalah rumahnya Danny tadi, yang tidak berpenghuni, selain terisi dua almari yang berisi koleksi buku-buku di atas tadi. Hampir sebulan saya mendapat bea siswa dari Danny untuk mengeram di sana, bersama buku-buku tadi.

Buku incaran saya itu berjudul Beyond a Joke : The Limits of Humour (2009). Buku susunan Sharon Lokyer, dosen sosiologi dan komunikasi Universitas Brunel (Inggris) dan Michael Pickering, professor media dan analisis kebudayaan, Universitas Laoghborough (Inggris), bersampulkan wajah Shazia Mirza.

Tidak berjilbab. Shazia Mirza akan tampil bersama Ward Anderson (AS), Kamis, 8 Desember 2011, atas undangan The American Club Jakarta, Hotel Mandarin, Jakarta. Lebih menarik lagi, acara pemanggungan dua komedian tunggal itu bertajuk Jakarta Comedy Club Christmas Party.

Dalam wawancara di buku tersebut (hal.119-120) tersaji dialog menarik :

MP (Michael Pickering) : Apakah Anda masih mengenakan jilbab ketika tampil ?

SM (Shazia Mirza) : Tidak. Ketika tampil pertama kali saya tidak mengenakan jilbab, lalu mengenakan, dan sekarang tidak dan saya berpikir tidak akan mengenakannya lagi.

SL (Sharon Lockyer) : Mengapa ?

MP : Apakah itu kesadaran untuk melepaskan dari masa lalu ?

SM : Sebab saya tidak ingin dilihat sebagai komedian muslim, saya tidak ingin dilihat dari pandangan satu dimensi dan semua hal bisa saya bicarakan dan hal itu pula eksistensi dari hidup saya.

Juga tidaklah sangat luwes ketika orang-orang menjadi berpandangan sempit, ketika mereka melihat Anda berpakaian seperti itu dan mereka lalu berpendapat, “Oh, dia tidak boleh ini, tidak boleh itu, sehingga mereka berpendapat tentang Anda dalam tafsir yang tunggal.

Ketika saya berpikir seperti itu, ini gambaran hanya satu dimensi, dan saya bukanlah pribadi yang hanya satu dimensi.

Humor seksi di Tanah Suci. Itulah sepotong profil Shazia Mirza. Ia lebih lanjut mengaku, “Saya merasa lebih jujur sekarang ini. Ketika saya di awal menginjakkan kaki di dunia komedi adalah menfokuskan bagaimana agar orang-orang menjadi tertawa dan ketika Anda mampu mengerjakannya, Anda akan tertantang untuk melakukan hal lain yang lebih menantang, seperti berbagi cerita-cerita yang lebih menarik.”

Barangkali yang ia sebut menarik itu antara lain tersaji di halaman lain (hal.11) yang menceritakan Shazia Mirza ketika mengunjungi Tanah Suci :

“Tahun lalu, saya pergi ke Mekkah untuk membersihkan dosa-dosa saya, di mana saat itu saya berada di sekeliling Ka’bah. Semua perempuan mengenakan pakaian hitam-hitam, yang menyisakan lubang untuk mata mereka. Kemudian saya merasakan ada yang mencowel pantat saya.

Saya cuekkan saja.
Saya berpikir : ‘Saya sekarang berada di Mekkah, dan apakah yang mencowel saya tadi itu tangan Tuhan.’

Kemudian cowelan itu terjadi kembali. Saya tidak mengeluhkan hal itu lagi. Saya menjadi yakin, bahwa semua doa-doa saya telah terjawab."

Apakah lelucon yang sama akan ia tampilkan lagi, di Jakarta ini ?


Wonogiri, 7/12/2011

Monday, December 01, 2008

Idea Driven Jokes, Anjing Pavlov dan Bangsa Pelupa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Humor Hillary. Pilpres AS 2008 sangat kaya sebagai ladang humor. Tina Daunt dalam artikelnya berjudul “Candidates show they can take a joke” di Los Angeles Times (11/4/ 2008) bahkan menulis, “Inilah pilpres dimana politik sebagai lelucon. Atau barangkali kampanye dimana politik menemukan selera humornya.”

Realitasnya, humor memang tidak hanya menjadi hiburan semata. Humor bahkan menjadi senjata utama dalam pemenangan pilpres 2008 ini pula. Tina Daunt menyebutkan, jarang ada waktu lowong tiap minggunya bagi kandidat yang bertarung untuk tidak muncul dalam salah satu acara komedi di jaringan televisi atau televisi kabel di Amerika Serikat.

Sekedar contoh adalah Hillary Clinton. Kandidat kuat dari Partai Demokrat yang ternyata kemudian dikalahkan oleh Barack Obama, kita tahu, pernah mengaku berbohong tentang peristiwa kunjungannya ke bandara Sarajevo. Saat itu ia mengaku dirinya harus merunduk dan berlari demi menghindari tembakan para penembak jitu.

Ketika hadir dalam acara The Tonight Show with Jay Leno, istri mantan presiden AS itu berujar : “Saya bersyukur mampu sampai di studio ini.” Senator Demokrat dari New York itu ketika tiba di studionya Jay Leno di Burbank, Los Angeles awal April 2008 lalu menambahkan, “Anda tahu, saya kuatir tidak bisa sampai di sini. Karena diri saya terancam para penembak jitu.” Jay Leno menimpali : “Kalau di Los Angeles sini, hal itu memang benar-benar bisa terjadi.”

Ah, Hillary. Seorang politikus ulung yang mampu meledeki dirinya sendiri. Termasuk ketika posisinya terpojok, terlindas popularitasnya Obama. Pada acara debat di St Anselm’s College (5/1/2008) dirinya dicecar pertanyaan, “mengapa orang-orang tampaknya lebih menyukai Obama ?” Hillary menjawab, “itu menyakiti perasaan saya.” Jawaban jujur itu mampu mengundang riuh tawa. Lanjutnya, “Tetapi saya tetap terus maju. Dia (Obama) memang mudah disukai. Namun saya kira, saya tidak terlalu buruk.”

Semangatnya untuk terus maju, mantan ibu negara yang belasan kali juga diolok barisan komedian AS karena getolnya ia berpantalon, kemudian jadi bulan-bulanan komedian Andy Borowitz. Konon, Hillary akan terus bertahan selama ratusan tahun dan milyaran tahun, untuk memenangkan kursi presiden AS. Bahkan untuk meraih kemenangan dalam kampanyenya, Hillary Clinton telah mengeluarkan peranti lunak baru berlabel Hillary 8.0.

Dalam kampanye di Chicago, peranti lunak itu ia katakan sebagai penanda kemenangannya di tahun 08. “Peranti lunak ini akan menampilkan Hillary yang terbaik dari segala apa pun yang Anda harapkan darinya,” tutur ibu dari Chelses Clinton itu. Peranti lunak yang kompatibel untuk PC dan Mac itu memungkinkan pendukungnya merancang sosok Hillary Clinton berdasar versi tiap-tiap pengguna. Karena memang telah tersedia 57.000 posisi Hillary yang terkait beragam program atau isu, dari masalah kesehatan, masalah imigrasi sampai topik perang di Irak.

Sayangnya, peranti lunak itu tidak sepi dari cacat teknis. Ketika diinstal, banyak komputer mengalami crash.. Macet. Kebanyakan karena komputer-komputer itu tidak cukup memori untuk memuat semua posisi Hillary tersebut. Walau pun demikian, pembantu dekat nyonya Clinton ini menyatakan bahwa gangguan teknis itu tetap bermanfaat bagi Hillary. “Rata-rata orang Amerika memang tidak memiliki memori cukup, dan itulah yang sebenarnya diandalkan Hillary meraih kemenangan.”


Menggertak otak. Bagaimana lelucon tentang Obama ? Naiknya warga kulit hitam pertama AS yang juga pernah bersekolah di Jakarta sebagai presiden baru negara adi daya itu, anehnya, tidak semua kalangan menyukainya. Fihak pertama yang meratapi naiknya Obama justru datang dari kalangan komedian Amerika Serikat.

“Jujur saja, sebagai komedian saya merasa kehilangan besar dengan lengsernya Bush,” keluh komedian Jay Leno. “Sebab Barack Obama tidak mudah dijadikan bulan-bulanan lelucon. Ia tidak membuka peluang bagi kita untuk melucukannya. Terima kasih Tuhan, kau anugerahkan sekarang pengganti Bush : seorang Joe Biden bagi kita semua.”

Iklan besar-besaran sebagai senjata pamungkas Obama menjelang pilpres juga jadi sasaran olok-olokan komedian Bill Maher. Tetapi arah tembakannya ke sasaran lain. “Berapa banyak Anda telah menyaksikan iklan televisi besar-besaran Obama minggu ini ? Iklannya tertayang di tujuh stasiun televisi sehingga kita tak bisa menghindarinya. Yang paling menarik, pada iklan sepanjang setengah jam itu Obama sama sekali tidak menyebut nama McCain, tak pernah menyebut nama Palin, tidak pernah menyebut nama George Bush. Atau dalam bahasa Shakespeare : histori, komedi, dan tragedi !”

McCain yang tua, disebut histori. Sarah Palin yang sering melakukan blunder itu didaulat dengan label komedi. George W. Bush yang merusak Amerika dan dunia dijuluki secara tepat sebagai biang tragedi.

Saya suka lelucon cerdas Bill Maher yang satu ini. Kalau saja saya tidak diberi hadiah buku-buku komedi dari Danny Septriadi, saya tidak tahu adanya penggolongan terhadap lelucon a la Jay Leno, Andy Borowitz dan Bill Maher semacam ini. Dalam buku berjudul Zen and the Art of Stand-Up Comedy (1998), Jay Sankey membedah perbedaan antara lelucon berbasis ide dan lelucon lainnya yang berbasis pengalaman.

“Lelucon mengenai pemikiran yang asing, yang menyeruak di kepala Anda, merupakan idea driven, lelucon berbasis ide atau gagasan. Lelucon ini mengharuskan audiens memeras imajinasi mereka. Sementara itu lelucon menceritakan pengalaman Anda pergi ke bioskop atau menghadiri hajat penganten, merupakan experience driven, lelucon berbasis pengalaman. Dalam lelucon ini mensyaratkan audiens merujuk pengalaman diri mereka sendiri, yaitu pengalaman pribadinya terhadap peristiwa yang sama,” jelas Jay Sankey. Lelucon jenis yang kedua lebih mudah memicu tawa ketimbang lelucon jenis yang pertama.

Ranjau salah medan. Untuk mendalami seluk-beluk lelucon jenis pertama, saya akan mengutip pendapat seorang blogger “dEHA” yang menulis komentar di blog saya ini pula : “Saya penggemar stand-up comedy berbagai rupa, yang intelek maupun yang cuma jorok-jorok. Pertama kali saya kenal stand-up adalah waktu nonton video lamanya Eddie Murphy (yang termasuk kategori jorok2 itu tadi hehe) waktu saya di Australia.

Setelah itu sempet nonton beberapa show di tivi sana, dan ngerasa ini style komedi intelek banget, nggak cuma kelakuan minus kayak Tukul atau dasi pendek seperti yang Anda sebut. Salut banget bisa membahas komedi dengan sangat serius, jangan patah semangat karena 'gagal' di API, toh kalau nongol di tivi penontonnya nggak akan ngerti karena segmen yang nonton masih lebih suka lihat slapstick dan komedi keroyokan yang biasa kita lihat.”

Sebelumnya, di blognya ia menulis : "Komedikus Erektus blog (komedian.blogspot.com) is by a guy very seriously wanting to lift Indonesian comedy by introducing standup comedy, complete with his theoretical analysis of great comedians and even Judy Carter writings. He even attempted performing his own act for a comedian competition, although failing really badly (not because he was not funny, but because the judges don't get his solo act, ouch). Mas Bambang, I salute you!"

Terima kasih, “dEHA.” Pelajaran dari Jay Sankey dan tuturan “dEHA” tadi membuka mata saya untuk makin jelas dalam berintrospeksi. Utamanya ketika mengais latar belakang sampai alasan mengapa saya gagal dalam audisi di API-4 yang lalu itu.

Saat itu saya melucukan judul blognya pemain biola cantik Maylaffaiza, heboh asmara Bambang Tri-Halimah-Mayangsari, sakitnya Pak Harto, juga terkait fenomena topik selebritas-politikus versus politikus-selebritas di Indonesia saat itu. Ranjau salah medan telah mem-bom diri saya habis-habisan. Di bawah ini adalah set atau naskah komedi yang saya bawakan saat itu :

“Saya main biola, seperti saya bermain cinta.” Kata pemain biola solo yang cantik dan seksi Maylaffayza di situsnya : maylaffayza.multiply.com.

Saya menyukai Maylaffayza. Ia cantik, seksi, berbakat dan intelektual. Tetapi ketika saya ikuti kata-katanya, akibatnya fatal. Saya kesulitan cari posisi enak. Orgasme pun tidak. Biola itu rusak, berantakan semuanya.

Maylaffayza mungkin lupa, kini selebritis adalah trend-setter. Panutan gaya hidup. Bahkan politisi pun bergaya selebritis. Yusril dan Syaifullah Yusuf, mantan menteri, bermain film. Presiden SBY menelorkan album musik. Anggota DPR main video, bersama Maria Eva.

Kini memang era emasnya para pesohor, para selebritis. Pintu-pintu peluang seolah terbuka bagi mereka untuk BISA MASUK kemana saja. Bintang sinetron Rano Karno, MASUK POLITIK, terpilih jadi Wakil Bupati Tangerang. Bintang sinetron Aji Massaid MASUK Partai Demokrat, jadi anggota DPR. Bintang sinetron Roy Martin, MASUK penjara.

Menjadi selebritis juga mampu membuka pintu-pintu istana. Anissa Pohan jadi menantu Presiden SBY. Lulu Tobing jadi cucu menantu mantan Presiden Soeharto Infotainment mengabarkan artis Revalina Temat kini dekat dengan cucu mantan Presiden Soeharto, Panji Trihatmojo.

Oh, Revalina yang malang. Apa ia tidak tahu kalau Panji Trihatmojo itu sangat membenci selebritis ? Terutama selebritis bernama Mayanksari.

Begitulah, ratusan jam tayangan infotainment setiap minggunya telah membesarkan para selebrities itu. Persaingan antarstasiun yang keras. Begitu kerasnya persaingan, awak TV kini pun mencoba inovasi-inovasi baru : tayangan infotainment dipadu info kedokteran yang canggih, intrik dan perseteruan keluarga yang sengit, dibumbui nuansa-nuansa politik.

Ramuan dahsyat ini bakal terjadi bila Halimah Trihatmojo membezoek Pak Harto, ketemu Bambang Trihatmojo yang disertai Mayangsari. Big news. Big news. Big News.


Bukan untuk TPI. Terkait penampilan saya itu, salah satu dari tiga juri seleksi yang menghakimi saya, Ali Mahmudin (produser API-1 dan API-2) telah berbaik hati menulis komentar di blog saya ini : “Barang kali saya adalah salah satu juri yang tidak meloloskan Mas Bambang di audisi API-4. Terus terang lawakan Mas Bambang bukan berarti tidak berkualitas, tetapi memang saat dibawakan waktu itu tidak lucu (versi kami).

Namun ketika Mas Bambang tampil dihadapan kami (aku berusaha untuk mengerti semua isi lawakan Mas Bambang) ternyata aku secara pribadi melihat isi materi tersebut penuh satir. Dan menurut saya lawakan yang semacam itu memang bukan untuk kalangan penonton TPI.

Itulah sebabnya kami belum bisa merekomendasikan lolos untuk masuk babak berikutnya. Akan tetapi saya pribadi sangat hormat dengan ketajaman Mas Bambang melihat kekinian menjadi topik lawakan Audisi API-4.”

Terima kasih, Mas Ali. Terima kasih Harris dan juga Isman untuk komentar Anda.

Senjata buat Tamara. Masih tentang acara komedi di stasiun televisi lainnya, saya juga gagal sebelumnya. Yaitu ketika diundang untuk tampil di Republik Mimpi, September 2006. Saat itu kreator NewsDotcom-Republik Mimpi, Effendi Gazali, meminta saya untuk menjadi peserta acaranya itu secara in absentia. Tidak tampil di depan kamera, tetapi hadir lewat suara, melalui kontak telepon. Ia telah menetapkan topik mengenai layanan publik. Saya pun kemudian mengirimkan materi yang ia minta sebagai berikut :

“Layanan publik adalah layanan yang diberikan negara untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya, berlandaskan alasan moral bahwa kebutuhan universal mereka harus terpenuhi, bahkan sering dikaitkan dengan hak-hak asasi manusia mereka. Misalnya penyediaan air bersih.

Layanan publik di negara modern meliputi pendidikan, layanan air bersih, kesehatan, transportasi, listrik dan gas (kayaknya mau naik lagi TDL-nya), penyiaran dan komunikasi, manajemen pengolahan limbah (di negara tetangga baru saja terjadi tragedi di Bantargebang), pemadam kebakaran (di negara tetangga, mereka tak berdaya di Sumatera dan Kalimantan), sampai layanan keamanan yang diemban oleh polisi (di negara tetangga, polisi lagi pusing gara-gara ditemukannya 9 karung senjata di jalan tol Kapuk).

Belum ada negara yang kreatif memenuhi kebutuhan warganya di luar tuntutan hak-hak asasi manusia. Misalnya, jasa pengeritingan rambut atau jasa rebounding yang disediakan negara. Atau jasa tato tubuh oleh negara. Maukah para mahasiswa di sini, tubuhnya ditato dengan gambar burung...Garuda Pancasila ?

Bagaimana potret kualitas layanan publik di negeri tetangga ? Kalau saya boleh bilang, sudah sangat-sangat bagus sekali. Dalam arti, PERTAMA : para rakyat kecil telah bagus sekali memberikan pelayanan kepada penguasa dan kemauan para pengusaha.

Tragedi dan bencana lumpur panas di Porong telah diterima oleh rakyat kecil dengan sabar, hingga hampir empat bulan kemudian baru pemerintah turun tangan. Ada yang bilang, kalau proyek pemboran itu milik orang kecil, pasti sudah ditutup sejak dini oleh pemerintah. Saya bilang, kalau orang kecil ya pasti tidak mampu memiliki usaha pemboran !

Contoh orang kecil tanpa pamrih melayani penguasa, juga pemerintah, dapat diteladani dari sosok Pak Wasa. Anda tahu, Pak Wasa ? Dia adalah pemulung yang menemukan 12 senjata api, belasan magazen dan ribuan amunisi di tepi sungai Tanjungan, pinggir jalan tol Kapuk KM 27 (arah Bandara Soekarno Hatta) RW 02, Kapuk Muara, Jakarta Utara, Rabu (8/9) sore. Pak Wasa, melaporkan temuannya ini kepada polisi. (Dari topik ini dapat dikreasi belasan lelucon, di bawah ini saya sertakan beberapa di antaranya-BH).

Bayangkan bila Pak Wasa itu bukan warga negara yang jujur. Bagaimana kalau senjata-senjata itu ia ambil ? Lalu ia tenteng-tenteng ? Wow, seorang pemulung kemana-mana membawa-bawa AK-47 atau pistol Smith & Wesson ?

Bagaimana pula kalau senjata-senjata itu ia serahkan kepada Hambali ? :-) Engga mungkin ya, pemulung kok bisa naik pesawat hingga sampai di Guantanamo, Kuba.

Bagaimana kalau senjata-senjata itu diserahkan kepada pelawak Parto Patrio ?:-) (Catatan BH : Moga-moga audiens “ngeh” dan masih ingat insiden Parto Patrio yang pernah meletuskan senjata ketika diuber-uber kru infotainment). Siapa tahu, Parto berniat meng-update koleksi senjatanya.

Ikhtiar saya ikut mengisi acara parodi politik secara in absentia itu gagal. Karena slot waktunya, menurut Effendi Gazali, terpaksa terpakai untuk menampung uneg-uneg para pamong praja dari seluruh Indonesia, dipimpin Sudir Santoso, yang saat itu berjumlah ribuan orang sedang berdemo, mengadukan nasibnya di Depdagri di Jakarta. Saya bisa mengerti.


Idea driven jokes. Walau pun menuai gagal dan gagal, seperti cerita kecil di atas, aktivitas mengkreasi lelucon berbasis ide itu tetap saja mengusik pikiran saya setiap saat. Satu persatu, bila ia muncul, saya dokumentasikan di bloknot atau di katalog. Siapa tahu kelak bisa saya munculkan di situs YouTube ?

Yang pasti, lelucon semacam ini memang tidak mudah dikreasi. Juga tidak mudah difahami. Membujuk, mengantar atau sampai memaksa audiens untuk merentangkan imajinasi mereka, bukan persoalan mudah. Itulah alasan mengapa Presiden SBY pernah marah sampai dua kali karena audiensnya ngobrol sendiri atau malah tertidur ketika ia sedang berpidato.

Kalau Anda agak jeli mengikuti tayangan beragam parodi politik di televisi, dari Republik Mimpi, Negeri Impian, Democrazy sampai Kabaret, materi yang diluncurkan untuk sengaja memancing tawa seringkali justru TIDAK TERKAIT dengan materi utama pembicaraan. Lelucon-lelucon yang disambut tawa di layar tivi itu merupakan lelucon biasa-biasa saja. Bahkan klise. Mudah ditebak. Padahal ”no surprise, no laughter !,” ini rumus lawakan universal yang diungkapkan Danny Septriadi.

Acara itu akhirnya sering nyaris jadi adegan badut-badutan semata. Lawakannya, menurut Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-Sized Book of Comedy (1999), berada pada tingkat keenam atau ketujuh. Alias kasta paling rendah dalam kiprah kreativitas mengundang tawa.


Anjing Pavlov dan kita. Acara-acara parodi itu, juga acara komedi sketsa lainnya, menjadi terdengar dan terlihat riuh rendah semata karena gelontoran eksesif saus tawa kalengan, canned laughter atau laugh track, yang dimanipulasikan si kreator acara. Itulah excuse atau justru senjata pamungkas para kreator komedi kita yang belum mampu merentang imajinasi pemirsanya. Bahkan manipulasi itu sampai-sampai mengancam tergerusnya akal sehat dan nurani, suara hati bangsa.

Terus terang, saya bukan penonton setia acara beragam komedi di tivi yang dibintangi Effendi Gazali, Iwel Well dan Kelik Sumaryoto, Butet Kartaredjasa dan awak Teater Koma sampai Tukul Arwana itu. Sehingga saya terperanjat menyimaki isi surat pembaca yang ditulis Ali Farkan (Semarang) yang dimuat di Suara Merdeka, 28/11/2008 : M.

Ia menceritakan hadirnya bintang tamu dalam salah satu acara bernuansa komedi populer di televisi. Bintang tamu itu mengaku sebagai mantan pembunuh bayaran yang sudah insaf. Ketika menceritakan bahwa dirinya pernah membunuh sampai 7 orang, spontan ia mendapatkan tepuk tangan dari penonton. “Bagaimana kualitas penonton untuk memahami mana prestasi baik dan buruk ?,” gugat Ali Farkan. Itulah Indonesia. Itulah tayangan televisi kita. Itulah potret wajah tanpa nurani dari bangsa Indonesia.

Buraian tawa-tawa kalengan di televisi kita itu mudah mengingatkan tesis mengenai anjing-anjing Pavlov. Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : apakah penonton komedi di televisi kita, berdasar keluhan Ali Farkan di atas, telah berperilaku tak ubahnya satwa-satwa yang menjadi kajian Pavlov tadi ? Apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, tanpa dikaji benar atau salah secara moral, refleksi otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan bertepuk tangan ? Absurd. Televisi memang menumpulkan.

”Television brought the brutality of war into the comfort of the living room.”, imbuh nabi media, Marshall Mc Luhan (1911-1980). Televisi menyajikan brutalitas peperangan ke dalam ruang tamu keluarga yang nyaman. Itu pendapatnya ketika berkecamuknya Perang Vietnam. Kenyamanan itu bisa berakibat menumpulkan nurani, di mana kebrutalan perang dan korban-korban yang tewas cenderung diperkerdil hanya sebagai objek hiburan belaka.

Di Indonesia, mungkin lebih mengerikan lagi. Brutalitas bahkan juga tersaji dalam acara komedi. Adegan makan kodok hidup-hidup dijadikan sebagai hiburan. Atau menampilkan seorang kanibal dan pembunuh bayaran sebagai hero. Semuanya ditujukan semata untuk mengundang tawa. Pantas saja, mengapa rentetan kejadian pembunuhan dengan mutilasi, kini semakin sering terjadi. Mungkin pelakunya sambil tertawa-tawa ketika sedang menjalankan aksi sadisnya.

Akar tunjangnya, barangkali, karena di Indonesia ini orang langka memiliki tradisi menulis. Termasuk di kalangan komunitas komedi kita. Akhirnya bangsa ini menjadi sangat mudah lupa. Orang-orang Indonesia menjadi sangat pendek ingatannya. Padahal kita tahu, bangsa yang memorinya buruk menjadi makanan empuk bagi politikus busuk.


Mereka yang pernah korupsi uang rakyat dalam jumlah gila-gilaan, membunuhi rakyat, menembaki dan menculik mahasiswa, meracun aktivis HAM, atau bahkan mengebom orang, justru di televisi mereka-mereka itu kita beri tepuk tangan. Kita elu-elukan. Bahkan ada yang sampai dijadikan sebagai vote getter dengan melabelinya sebagai bapak bangsa, sebagai pahlawan.

Indonesia kini dalam bahasa Shakespeare adalah : tragedi, tragedi dan tragedi !


Wonogiri, 20-30/11/2008


ke

Saturday, November 01, 2008

Humor Fakta - Fakta Humor

Oleh : Danny Septriadi dan Darminto M. Sudarmo


Pengantar : Dua kepala lebih bagus daripada satu kepala. Dalam dunia komedi dikenal istilah comedy buddy, mitra komedi untuk berbagi gagasan dan umpan balik dalam membangun dan merampungkan naskah-naskah lawakan yang lebih bertenaga memancing tawa.

Saya beruntung memiliki mitra baru seperti itu, namanya Danny Septriadi (foto), dalam berbagi gagasan dan informasi yang bertujuan ikut memajukan dunia komedi Indonesia. Berikut adalah tulisan yang pernah ia buat tahun 2002/2003 mengenai humor bersama Darminto M.Sudarmo, nama tokoh pemerhati dan penulis komedi terkenal di Indonesia. Apakah Anda juga memiliki niat mulia seperti dirinya ? Saya dengan senang hati bersedia memajang sumbangsih Anda di blog saya ini. Saya tunggu. Selamat menikmati ! (BH)


Rasa humor (sense of humor) sedikitnya menuntut tiga prasyarat kecakapan penikmatnya; yakni, kecakapan untuk melihat, mengakui dan menerima fakta sebagaimana adanya. Memiliki rasa humor dapat menjernihkan pikiran dan memberikan kebebasan untuk menyikapi fakta yang ada. Kecakapan tersebut dapat digunakan untuk mermbantu pengambilan keputusan yang dapat diterima oleh akal sehat. (Gene Perret, Business Humor: Jokes & How to Deliver Them).

SEBUAH berita yang tak jelas porsi fakta dan opininya, dapat membuat orang bingung dan sesat persepsi. Tetapi humor, lain. Humor boleh lahir dari fakta – disebut humor tak sengaja; dapat pula lahir dari opini (kreasi) – disebut humor sengaja. Mana yang lebih berharga, humor fakta atau humor opini? Keduanya sama-sama punya kans untuk berbobot atau tidak berbobot. Tergantung pada muatan nilai atau substansi yang ada di masing-masing humor atau lelucon tersebut. Lagi pula, visi dari berita dan humor sama sekali berbeda.

Sebagai contoh peristiwa yang pernah dituturkan orang dari mulut ke mulut dan konon benar-benar terjadi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tahun 1980-an; yakni tentang seorang bupati yang menjadi inspektur upacara pada peringatan hari besar tertentu, saat membaca teks Pancasila di atas podium, tiba-tiba terhenti beberapa saat di tengah jalan, gara-garanya sang ajudan salah memberi stof map. Seharusnya stof map berisi naskah Pancasila tetapi yang diberikan kepada sang bupati ternyata adalah lembaran daftar hadir.

Akibatnya bisa diduga, sang bupati berhenti di tengah jalan karena beliau tidak begitu hafal lima butir Pancasila yang sangat disakralkan itu. Bagi seorang pejabat tidak hafal Pancasila adalah persoalan serius. Apalagi di zaman rezim Orde Baru. Untunglah, pada saat yang kritis itu, protokol upacara segera menyadari situasi, ia segera berinisiatif menyambung kelanjutan bunyi teks Pancasila lewat pengeras suara secara runtut dan selamatlah upacara yang nyaris menggelincirkan citra sang bupati itu.


***

SYAHDAN, terkait dengan tema humor fakta atau fakta humor sebagaimana disebutkan di atas, Jaya Suprana pernah melontarkan humor yang konon berbasis pada fakta yang ada di lingkungan istana. Khususnya yang terkait dengan wartawan istana di era kepemimpinan Pak Harto dan Gus Dur.
Secara jenaka digambarkan, keadaan kontradiktif berkaitan dengan “sesajen” dan “uba rampe” yang diterima para wartawan istana kala itu. Yang pertama digambarkan sangat “meriah”, sedangkan yang kedua sangat “sepi” dari sesajen dan uba rampe.

Menurut pengakuan Jaya, lelucon ini cukup membuat para peserta yang hadir dalam acara peringatan Hari Pers Nasional yang diadakan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) ketawa tergelak-gelak, kendati ada sebagian wartawan/pemimpin redaksi yang menyambut lelucon itu dengan ketawa kecut. Buntutnya, setelah berita tentang acara tersebut dirilis harian ibukota, ada seorang wartawan TV yang menulis surat pembaca di koran ibukota tersebut dengan nada marah dan menganggap lelucon Jaya itu bernilai rendah.

***

Menurut penulis, munculnya persepsi seperti rekan wartawan TV itu sah-sah saja. Mungkin ia “dibakar” teman diskusinya. Mungkin ia tersinggung kok berani-beraninya membuat lelucon tentang wartawan yang sebenarnya rentan risiko. Mungkin ia belum pernah mendengar ungkapan bahwa besar kecilnya jiwa seseorang tergantung bagaimana ketika ia merespon sebuah kritik; khususnya kritik yang menyangkut dirinya, baik secara pribadi atau kolektif.

Tapi dalam pikiran saya, kemungkinan besar Jaya sudah terlalu jauh dan over estimated tentang wartawan kita. Dianggapnya semua wartawan Indonesia sudah berjiwa besar dan hanya ketawa ketika kepada mereka dilontarkan sebuah kritik yang rada-rada khas: berkaitan dengan amplop, misalnya. Jadi? Itu satu lagi fakta yang tak sengaja juga bernilai lelucon atau humor, di luar lelucon Jaya tentang fakta tadi.

Nilai humor? Emang ada humor bernilai selain ia sebagai hiburan semata? Nah, ngomong-ngomong soal humor mungkin menarik menyimak uraian Melvin Helitzer, pengarang buku Comedy Writing Secrets. Menurutnya, banyak orang yang salah kaprah tentang humor. Orang-orang beranggapan: humor harus lucu, menghibur dan menyenangkan.

Tapi bagi Helitzer, tidak selalu; persepsi kita secara naluri akan mengatakan bahwa humor itu sesuatu yang menyenangkan. Ternyata tidak. Humor adalah suatu kecaman atau kritik, yang terselubung sebagai hiburan, dan diarahkan kepada target yang spesifik. Ia berpendapat humor harus terdiri dari kebenaran (realism) dan sesuatu yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan (exaggeration).

Humor adalah upaya untuk mempertahankan suatu konsep yang tetap sehingga targetnya menguatkan kembali ide-ide, perilaku ataupun prasangka sekelompok orang. Jadi baginya, humor itu tidak adil. Humor akan mengambil sudut pandang yang berprasangka atau berat sebelah . Tidak ada ruang bagi humor untuk argumentasi balasan atau penjelasan. Seperti diuraikan H.L Mencken, “My business is diagnosis, not therapeutics.”

Robin Hemley di dalam bukunya How to Write Funny menguraikan bahwa rasa humor seseorang ditentukan oleh banyak faktor: umur, latar belakang sosial ekonomi, dan budaya. Seorang humoris yang baik memiliki kepekaan terhadap kekurangan dan kelemahan moral dari manusia. Apa yang dirasakan lucu oleh satu orang dapat membuat orang lain menjadi gusar.

George Bernard Shaw pernah menulis, jika kamu ingin mengatakan suatu kebenaran kepada seseorang, buat dia tertawa atau jika tidak, dia akan membunuh kamu. “Hampir semua lelucon yang baik menyatakan kebenaran yang tidak mengenakkan,” kata Larry Gelbart. Sid Caesar kemudian menambahkan bahwa komedi adalah suatu kebenaran yang dibelokkan. Di lain pihak, derajat dari fakta yang ada serta kesimpulannya dibesar-besarkan untuk menarik perhatian.

David Boichier, seorang penulis humor menambahkan bahwa kebenaran itu menyakitkan, dan dengan sangat mudah humoris dipersalahkan karena mengangkat masalah yang tidak diperkenankan tentang perbedaan ras, umur, jenis kelamin, berat badan dan lain sebagainya. Orang-orang menulis kepada saya setiap minggu dan berkomentar, “Betapa beraninya Anda membuat lelucon tentang supir taxi -- atau kolektor barang antik, atau tukang kebun, atau orang yang lebih tua, atau siapa saja.. Saya selalu menjawab dengan sopan bahwa saya tidak sedang berusaha untuk memperolok-olokkan mereka, tetapi hanya menunjukkan adanya suatu fakta yang tidak menyenangkan,” kisah David Boichier lebih lanjut.

Ya, itu semua kan pendapat mereka, para humoris atau intelektual humor dari barat. Karena humor itu medan kajiannya sangat luas tak terbatas, Anda juga berhak untuk membuat penelitian sendiri dan menemukan kesimpulannya berdasarkan fakta-fakta yang ada di negeri ini. Indonesia yang demikian beragam dan kaya kebuadayaan, bisa jadi punya cakupan persepsi yang khas tentang humor atau lelucon tersebut.

Tapi soal lelucon wartawan atau profesi pada umumnya, ada lho, lelucon mengenai profesi, dan sudah disebarkan secara luas melalui internet seperti yang ada di bawah ini. Tetapi tidak pernah ada yang melakukan komplain karena “There is no room in one joke for a balanced argument or explanation”.

Berikut contoh lelucon tentang seorang lawyer yang sangat sukses mengendarai mobil terbarunya yang sangat mewah -- malah untuk profesi ini ada pepatah “Maju tak gentar membela yang bayar”. Pada saat lawyer tersebut keluar dari mobilnya, tiba-tiba pintu mobil ditabrak oleh truk sehingga terlempar beberapa meter. Dengan cepat lawyer tersebut meminta bantuan polisi. Polisi kemudian datang guna memberikan bantuan dan menemukan lawyer tersebut sedang menangisi mobil mewahnya yang hancur.

Polisi itu kemudian berkata, “Sungguh serakah sekali Anda, sampai tidak menyadari salah satu tangan Anda putus saat ditabrak truk tadi.” Kemudian lawyer tersebut menangis lebih keras lagi dan berteriak: “Jam Rolex saya !!!???”

ke