Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com
Music is your own experience,
your thoughts, your wisdom.
If you don't live it,
it won't come out of your horn.
Charlie Parker (1920–1955),
saksofonis jazz Amerika.
Lelucon Pesawat Terbang. Seorang Taufik Savalas rupanya tidak atau belum mengenal Orson Welles atau Judy Carter. Apalagi pendapat-pendapatnya. Kesan ini muncul ketika menonton siaran langsung sepakbola dan tidak sengaja menemukan acara Koki (Komedi Keliling) di stasiun televisi swasta TransTV, Minggu Sore (19/3/2006) yang lalu.
Orson Welles adalah bintang film dan sutradara terkenal Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan koran The Times (6/5/1985) guna memperingati hari ulang tahunnya ke 70, ia telah menyatakan pendapatnya tentang emosi yang ada pada dirinya ketika menaiki pesawat terbang. Boredom and terror. Bosan dan teror, katanya.
Mungkin merujuk getar suara hati yang sama, instruktur lawak Amerika Serikat yang terkenal, Judy Carter, sampai berkesimpulan bahwa lawakan dengan objek pesawat terbang ia beri label sebagai hack. Lelucon picisan. Lelucon bermutu rendah.
Taufik mungkin tidak tahu tentang pendapat semacam itu. Karena dalam acara Koki tersebut Taufik justru menceritakan lelucon tentang jatuhnya sebuah pesawat terbang. Lelucon tentang aksi kentut ketika menjadi penumpang pesawat terbang dalam segmen lain acara Koki itu muncul dari celoteh pelawak Tukul Arwana, sementara Denny Chandra dan Anwar Fuady ikut pula memamerkan lelucon yang paling ia anggap lucu dari koleksi lelucon yang dihafalnya.
Bagi mereka yang sensitif dan tidak mudah lupa, lelucon jatuhnya pesawat terbangnya Taufik itu mudah mengingatkan kita terhadap blunder lelucon yang pernah ia lakukan terkait pasca Tragedi Bom Bali 1. Saat itu, dalam rangka mempromosikan kembali gairah pariwisata Bali yang terpuruk, Garuda Indonesia menawarkan tiket murah bagi wisatawan untuk terbang ke Bali.
Di televisi, Taufik Savalas malah melucukan kebijakan yang mulia ini. Ia seolah mengharapkan terjadinya bom-bom lagi meledak di Bali sehingga tiket terbang ke Bali akan bisa dijual dengan harga yang lebih murah lagi.
Taufik Savalas rupanya gemar melucukan peristiwa yang bagi orang lain adalah tragedi. Kepedihan. Apakah dirinya memang kurang begitu cerdas dalam memilih materi ? Kurang memiliki kepekaan nurani ? Atau bahkan tidak memiliki sensitivitas untuk berempati ?
Andalah yang bisa menilai.
Tetapi sore itu, dalam acara Koki, ia sejatinya berbuat dosa besar lain sebagai komedian. Taufik senyatanya hanya mengulang kembali lelucon tentang pesawat terbang jatuh yang pernah ia tampilkan dalam acara Comedy Club dua tahun yang lalu. Silakan Anda klik di sini, karena saya pernah mengulasnya di situs blog ini pula.
Komedian Wannabe Yang Patah Hati. Bagi saya, acara Koki tersebut rupanya dikemas dengan asumsi atau pemahaman bahwa komedi solo, di Barat dikenal dengan nama keren stand-up comedy, identik dengan aktivitas menceritakan lelucon hafalan di depan sekumpulan audiens.
Dalam Comedy Club, arena penceritaannya di sebuah kafe atau klub. Sementara dalam Koki, arenanya bisa terjadi di pinggir jalan, mal, atau tempat mahasiswa nongkrong di pojokan kampus mereka.
Asumsi yang sama juga pernah berakar dalam diri saya. Bahkan sejak mahasiswa. Ketika berkuliah di kampus Rawamangun, Universitas Indonesia, tahun 1980-an, saya sengaja menyisihkan sebagian honor menulis untuk membeli buku-buku kumpulan humor. Terbitan Amerika, Inggris dan juga India.
Ketika terpesona menonton Steve Martin memandu acara 73rd Annual Academy Awards 2001, saat itu pun saya masih beranggapan bahwa komedi solo adalah semata tampilan untuk menceritakan kisah-kisah lucu belaka.
Tahun 2001 akhir itu saya bekerja di Jakarta. Sebagai direktur komunikasi suatu perusahaan Internet. Akhir tahun, saya diberhentikan karena tidak terdapat kecocokan kimiawi, chemistry, dengan bos saya. Untuk menghibur hati yang lara terkena PHK, saya memutuskan mencari terapi : membeli buku-buku tentang komedi. Melalui bantuan toko buku QB World of Books, saya membeli buku-buku itu langsung dari Amerika Serikat.
Isi buku-buku itu ternyata malah tidak menghibur. Melainkan justru membuat saya semakin dirundung hati yang hancur. Bayangkan, asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan. Harus dihancurkan. Harus ditinggalkan. Semua itu gara-gara isi bukunya Judy Carter yang pesan moralnya tidak bosan untuk selalu saya ceritakan.
“We funny people are not normal”, tegas Judy Carter. Kita para jenakawan senyatanya bukanlah orang-orang yang normal. Orang-orang normal mengekspresikan selera humornya dengan menghafal lelucon-lelucon, sementara kita para jenakawan mentransformasikan seluruh pengalaman hidup kita menjadi lelucon, sekaligus menulis lelucon tentang hidup kita sendiri pula. Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, kita para jenakawan justru mempertontonkan semua cacat dan cela itu kepada dunia !
Ibu Saya Menembak Mati Pacarnya ! Bagi mereka yang menghargai kejujuran dan mau mendalami, aksioma Judy Carter di atas tak pelak menyodorkan realitas betapa dunia komedi senyatanya merupakan dunia yang menakutkan. Mengerikan. Comedy, be afraid. Be very afraid, tandasnya.
Sokurlah, demi upaya mengobati rasa sakit akibat hancurnya paradigma lama saya tentang komedi, justru itu yang mendorong saya untuk meluncurkan situs blog Komedikus Erektus ! ini pula. Saya berusaha mengobati kesakitan itu dengan melaluinya. Ikut berproses di dalamnya. Kemudian menuliskannya.
Dengan semakin menyelami biografi mereka-mereka yang terjun di dalamnya, dari George Burns, Richard Pryor, Rodney Dangerfield, Joan Rivers sampai Jon Stewart yang baru saja memandu acara Oscar 2006, semakin saya menaruh hormat atas kejujuran mereka sebagai manusia. Para jenakawan sejati itu memang senantiasa mampu menemukan humor dalam momen yang serius, juga tragedi hidupnya, dan bahkan dalam momen yang sakral sekali pun.
Sekadar contoh, adalah Christopher Titus. Ia komedian solo dan membintangi cerita seri televisi yang mentransformasikan problem kehidupannya dalam keluarga yang tidak normal menjadi bahan leluconnya. “Saya melucukan ibu saya yang menembak mati pacarnya. Saya juga melucukan ibu saya yang melakukan bunuh diri. Semua itu mampu membuat penonton tertawa.”
Chris Titus melawak dengan bahan yang benar-benar orisinal, yaitu segenap sisi-sisi hidupnya sendiri. Bahkan yang paling kelam sekali pun. Memanglah, komedian sejati memiliki totalitas ketika menerjuni dunianya. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seseorang yang berupaya memperoleh kekayaan hingga dirinya berani bersekutu dan membuat perjanjian dengan setan.
Komedian sejati harus legawa menggadaikan sebagian nyawa atau kehidupannya dalam perjanjian itu. Komedian harus berani merelakan sisi kekurangannya sebagai manusia untuk dibedah, ditonjolkan dan dijajakan, semuanya itu untuk menjadi bahan tertawaan.
“Saya nikmati dikuyo-kuyo, seperti didorong atau kepala dipegang bahkan dikeplak. Itu pekerjaan saya dan saya tidak akan dendam. Kita harus profesional”, kata Saparbe (76) ketika tergolek di rumah sakit, menjelang akhir hidupnya seperti dikutip JawaPos (7/9/2001).
Saparbe itu lebih kita kenal sebagai Pak Bendhot Srimulat. Ia barangkali dapat menjadi contoh kecil suatu totalitas pengorbanan sebagai seorang komedian. Kita juga dapat bercermin dari seorang Charlie Parker, saksofonis jazz legendaris Amerika Serikat. Ia pernah bilang bahwa musik adalah pengalaman Anda pribadi, gagasan dan kebijakan Anda, yang bila tidak Anda geluti secara total di dalamnya, ia tidak akan mampu muncul melalui alat musik Anda.
Bagaimana pemahaman mengenai makna totalitas serupa dalam paradigma alam pikir penghuni dunia komedi kita ? Dalam acara Koki, sekadar ilustrasi lagi, kita hanya melihat kuatnya pemahaman bahwa berpentas komedi adalah semata menceritakan koleksi lelucon hafalan, kreasi orang lain sampai aksi-aksi mengejek orang lain. Memang, semua itu sudah mampu menimbulkan tawa. Juga sudah pula membuat pelakunya menjadi kaya raya.
Tetapi kita tahu, dengan meminjam istilah dari Covey, komedian semacam itu terancam seperti menaiki tangga yang bersandar pada tembok yang keliru. Semua ulah lucunya itu akhirnya seperti hanya menggores tipis di permukaan. Karena tidak pernah mampu membekaskan sosok terdalam dari jati dirinya sebagai manusia untuk menyentuh atau menggetarkan common chord, dawai-dawai hati nurani audiens mereka sebagai manusia.
Kiranya memang sudah terlalu lama, dengan bercermin dari sepak terjang bagaimana pelawak-pelawak Indonesia selama puluhan tahun berkreasi dan menjajakan diri, kita selalu seperti tidak pernah tahu siapa diri mereka yang sebenarnya.
Setiap kali kita kehilangan seseorang pelawak, catatan-catatan atau elegi untuknya seolah selalu kekurangan bahan untuk melukiskan dirinya sebagai persona, sosok pribadi dengan keunikan manusiawi yang mampu meninggalkan warisan keluhuran untuk bisa kita kenang lama sebagai manusia.
Mudah-mudahan saya salah adanya.
Wonogiri, 23 Maret 2006
Thursday, March 23, 2006
Friday, March 03, 2006
Infojunkie, Jon Stewart dan Wawasan Intelektual Komedian Indonesia
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com
Terorisme meningkatkan pariwisata. Anda pasti tidak percaya terhadap pernyataan ini, bukan ? Untuk memahami rumusan kontroversial ini, bayangkanlah diri Anda sebagai Dr. Azahari atau Noordin Mohd. Top. Kemudian bayangkan apa yang segera mereka kerjakan setelah terjadi peristiwa Bom Bali 1 dan Bom Bali 2 ?
Mereka pasti segera aktif melakukan kegiatan pariwisata. Rajin berpindah-pindah lokasi dengan mengunjungi banyak kota di Indonesia. Demi menghindari kejaran agen-agen Detasemen 88 yang hendak meringkus mereka !
Bagi saya, terus terang, pariwisata adalah dunia alien, dunia asing yang tidak terlalu akrab dengan diri saya. Ada salah seorang wanita terindah saya, Widhiana Laneza, berkiprah dalam dunia pariwisata. Menjadi eksekutif pemasaran di Hotel Tugu dan Exotic Spas di Bali. Tetapi hal itu baru saya ketahui ketika ia secara mendadak dan dalam momen menggetarkan, kembali menghadap Illahi, 20 Desember 2005 yang lalu.
Baiklah. Perjalanan pariwisata terakhir yang saya lakukan sudah berlangsung setahun lalu. Januari 2005. Yaitu ketika berperan sebagai seorang football flaneur, istilah eksotis dari kritikus dan penyair Perancis, Charles Baudelaire (1821–1867), yang berarti sebagai wisatawan sepakbola.
Saat itu dalam peran sebagai suporter sepakbola yang mendukung Tim Nasional Indonesia di Final Piala Tiger 2004/2005, saya bersama Mayor Haristanto yang pendiri Pasoepati Solo, ikut mendidih rasa nasionalisme kami ketika bergabung dengan sesama suporter sepakbola Indonesia di National Stadium Kallang, Singapura.
Esoknya, sambil menikmati kopi pagi di lobi Quality Hotel di bilangan Balestier Road, saya senyum-senyum membaca koran The Straits Times (17/1/2005). Karena nama saya dan pendapat saya tentang masa depan sepakbola Indonesia di bawah pelatih kepala Peter Withe, muncul di koran terpandang negaranya Lee Kuan Yew itu.
”The future is still bright.
Peter Withe is a good coach and motivator.
We can bounce back”
(Bambang Haryanto, Indonesia Fan).
Usai sarapan itu kemudian kami melakukan jalan-jalan wajib sebagai “turis melayu.” Tidak lain harus ke Orchard Road. Saya khusus mengunjungi tempat rekreasi paling favorit, yaitu jaringan toko buku kelas dunia : Borders dan Kinokuniya.
Sayang, judul-judul buku yang saya incar dengan subjek menarik yang pernah dikenalkan oleh Tika Bisono dan Mas Ito (Prof. Sarlito Wirawan Sarwono) kepada saya, yaitu knowledge management, tidak saya temui. Padahal toko buku ini benar-benar bikin ngiler karena mampu menampung puluhan ribu judul buku, mengingat luas ruangannya mendekati luas lapangan sepakbola.
Pak Yono Street University. Toko buku memang selalu menjadi tempat main favorit saya. Termasuk ketika belasan tahun memiliki kartu tanda penduduk sebagai warga Jakarta sejak tahun 1980. Semula main saya adalah ke Toko Buku Gramedia di Gajahmada.
Lalu ketika mereka buka di Blok M saya pun pindah ke sana. Di sini saya pernah ketemu dan bertukar lelucon dengan Gus Dur saat saya membeli buku kumpulan humor, 25/10/1986.
Pernah pula bertemu kembali, secara tak terduga, dengan Miduk, putri Solo jelita, berdarah biru, wanita terindah saya lainnya. Pertemuan yang kembali membuat saya patah hati. Matanya masih berkilauan, cinta lama masih berkobaran, tetapi ia kini sudah milik orang.
Ketika Toko Buku Gramedia buka gerai baru di Matraman, saya merasa beruntung. Tinggal saya di Rawamangun, membuat lokasi baru itu lebih dekat untuk dijangkau. Toko Buku Gramedia ini kadang agak terlambat dalam menyediakan buku-buku teknologi informasi terbaru, topik favoritku di tahun 90-an akhir. Saya lalu mencarinya di Times Bookshop, Indonesia Plaza. Judul-judul majalah luar negerinya di sini juga lebih banyak ragamnya.
Selain di toko-toko buku, untuk majalah-majalah luar negeri saya memiliki tempat belanja favorit lain yang juga asyik. Di lapaknya Pak Yono, Bang Japrak dan Mas Solikin, di depan Gedung PMI, Kramat Raya. Saya menyebutnya sebagai kampus baru, tempat kuliah baru. Universitas Jalanan Pak Yono.
Mereka mendapat pasokan majalah-majalah itu dari hotel. Majalah Time, Newsweek, Asiaweek, Far Eastern Economic Review, Business Week, Economist, sampai Fortune, kadang hanya berselang seminggu dari tanggal terbitnya sering sudah bisa terbeli di sini. Kalau di toko harga bandrolnya 6-10 ribu, di lapak ini seribu rupiah bisa mendapat 3-4 majalah.
Majalah Reader’s Digest berjibun. Harganya lebih murah dibanding majalah serupa yang terbit dalam negeri : Intisari. Belum lagi bila serasa mendapat durian runtuh, karena bisa menemukan majalah top seperti Wired sampai Harvard Business Review.
Ketika di Solo terjadi aksi sweeping untuk turis asing dan di Jakarta merebak demo anti Amerika, ternyata memunculkan dampak yang tidak saya duga. Pasokan majalah untuk universitasnya Pak Yono juga ikut macet. Dan saya ikut kesulitan mengakses informasi-informasi baru dari luar negeri pula.
Apalagi Internet saat itu masih hanya dimonopoli pemakaiannya oleh fihak militer AS. Tim Berners-Lee dan kawan-kawan belum meluncurkan teknologi web, karya saktinya ke masyarakat luas.
Begitulah, kalau ada kesempatan main ke Jakarta, selain mampir ke sofa empuknya QB World of Books, toko buku merangkap cafe itu di Jl. Sunda, belakang Sarinah itu, pasti saya menyempatkan bersilaturahmi ke kampus Pak Yono Street University dan koleganya di Kramat ini.
Apalagi pak Yono adalah orang Sragen yang merantau ke Jakarta sejak 1957. Mungkin bagi dia silaturahmi semacam ini bisa agak menggembirakan dirinya, berbau nostalgia, karena kami ngobrolnya memakai bahasa Jawa.
Host Oscar 2006. Kegetolan saya terhadap buku dan majalah itu mungkin dalam bahasa prokem mendapat julukan sebagai infojunkie. Pemabuk informasi. Pemulung informasi. Sebutan tersebut hari-hari ini bisa saya temukan kembali ketika saya membaca-baca di Internet tentang sosok Jon Stewart, komedian Amerika Serikat, yang terpilih untuk memandu acara Oscar 2006, Minggu (5/3/2006).
Deborah White menulis bahwa Jon Stewart adalah komedian politik. Ciri khas shownya membuat ia dijuluki sebagai ikon "the most trusted name in fake news.” Nama terpercaya untuk berita-berita boongan.
Ia berani, brilyan, humor politiknya tajam menggigit dalam menyuarakan rasa frustrasi rakyat Amerika. Terutama terhadap kebijakan salah langkah dan sikap munafik pemerintahan Bush, juga tingkah konyol politisi lainnya dan kebijakan yang mereka jatuhkan.
“Anda tahu, bila saya menghimpun sekeping receh setiap kali Bush menyebut peristiwa 11 September, maka saya dapat mengumpulkan uang cukup besar untuk hadiah memburu Osama Bin Laden.”
Ucapan pedas Jon Stewart itu dinilai kritikus dan kolektor humor terkenal Daniel Kurtzman sebagai satu di antara 25 Kutipan Lelucon Paling Lucu Tahun 2005.
Bush sudah menjadi rahasia umum di Amerika Serikat sebagai presiden yang kedodoran dalam bernalar dan berbahasa. Ketika aktor berotot asal Austria, bintang film Terminator, diangkat menjadi Gubernur California, maka keduanya pun segera menjadi bulan-bulanan lelucon Jon Stewart.
“Presiden Bush minggu lalu melucukan suasana pertemuannya dengan Schwarzenegger dengan menyebut bahwa mereka berdua sering salah ucap dalam berbahasa Inggris. Tuan Presiden, ingatlah, Schwarzenegger itu berasal dari negeri asing.”
Siapakah Jon Stewart ? Deborah White meneruskan bahwa Jon Stewart (aslinya : Jonathan Stuart Leibowitz), pembawa acara talkshow tersohor “The Daily Show” itu adalah warga New York, kelahiran Lawrenceville, New Jersey, 28 November 1962.
Dalam berhumor ia adalah komedian yang suka mengejek dirinya sendiri. Ayahnya adalah ahli fisika dan ibunya seorang guru, sehingga pendidikan dinilai tinggi dalam keluarga ini. Jon Stewart adalah pribadi privat, sangat jarang menceritakan kehidupannya kepada publik.
Ia menikah di tahun 2000 dengan Tracey McShane. Dikaruniai putra, Nathan (Juli 2004) dan anak perempuan, Maggie (Februari 2006). Jon dikenal workaholic, susah tidur, news junkie, pelahap berita, dan bekas perokok berat yang bisa berhenti pada tahun 2000. Untuk ukuran orang Barat, pria keturunan Yahudi ini boleh disebut pendek. Tingginya 170 cm.
Di SMA, gerak-geriknya yang suka humor sudah menunjukkan bakat yang menonjol. Ia meraih ranking ketiga ketika lulus dan terpilih sebagai siswa terbaik selera humornya. Ia kemudian berkuliah di College of William & Mary, Virginia, semula mengambil jurusan kimia, lalu pindah ke Psikologi.
Ia juga aktif menjadi anggota tim sepakbola kampusnya. Menurut Wikipedia, ia tercatat pernah membuat sepuluh gol dan 12 asis. Yang menarik, kependekan dari nama keluarga Yahudinya yang ia buang, “Leibo” kini di kampusnya menjadi nama anugerah tahunan bagi anggota tim sepakbola kampusnya yang menunjukkan kedewasaan dan mampu menghadirkan tawa untuk seluruh anggota timnya.
Jon Stewart bahkan pernah melatih sepakbola di SMA Gloucester di Virginia. Tahun 2006 ini ia memperoleh anugerah kehormatan All-America Award dari Asosiasi Pelatih Sepakbola Nasional Amerika Serikat.
Tahun 1986, ia mengadu nasib dan karier komedinya ke New York. Ia tampil di pelbagai sirkuit komedi di kota yang berjulukan Big Apple tersebut. Kariernya pun melambung.
Tahun 1999 ia tampil sebagai pembawa acara The Daily Show on Comedy Central menggantikan Craig Kilborn. Ia dibantu koresponden yang juga jenakawan seperti Stephen Colbert and Rob Corddry (baca artikel “Dick Cheney, Humor Politik, dan Posisi Tiarap Komedian Indonesia” di posting saya sebelumnya).
Tahun 2005, The Daily Show dan Jon Stewart mendapat anugerah 2 Emmy Awards. Juga anugerah sebagai Best Comedy Album Grammy Award untuk buku audionya yang berjudul America (The Book): A Citizen's Guide to Democracy Inaction. Buku ini masuk daftar buku laris koran The New York Times selama 46 minggu. Juga mendapat penghargaan Thurber Prize kategori Humor Amerika.
Tetapi Jon Stewart pernah pula mengalami peristiwa pahit, ketika menjadi pembawa acara Grammy Award 2001 di mana leluconnya mendapat cemoohan pengunjung. Dengan jujur ia menanggapinya dengan kearifan. “I feel your scorn and I accept it.”. Saya merasakan cemoohan Anda dan saya menerimanya. Kejadian itu justru membuat dirinya semakin tegar untuk meraih kedudukan sebagai komedian besar.
Apa keteladanan dirinya yang dapat dipetik oleh kalangan komedian di Indonesia ? Silakan Anda memberikan pendapat. Saya hanya ingin membuka-buka lagi isi majalah Reader’s Digest (3/1988), yang saya beli dari lapak majalah bekasnya Pak Yono di trotoir jalan bilangan Kramat, Jakarta. Artikel itu membahas seluk-beluk industri hiburan dan terkait dengan daftar artis-artis berpenghasilan tertinggi di Amerika Serikat saat itu pula.
Bill Cosby (57 juta dolar). Michael Jackson (31). Charles “Snoopy” Schulz (30). Eddie Murphy (27). Bruce Springsteen (27). Madonna (26). Whitney Houston (24). Steven Spielberg (23). Sylvester Stallone (21) dan Johnny Carson (20).
Saya kemudian terpana membaca penjelasan dalam bagian akhir artikel tersebut yang secara tegas menyatakan bahwa saat ini entertainment is intellectual property, just like computer software or patented pharmaceuticals. Hiburan merupakan karya cipta intelektual, seperti halnya peranti lunak komputer atau obat-obatan yang dilindungi hak paten.
Hiburan merupakan kiprah yang serius. Merupakan lahan kiprah intelektual. Kalau dalam daftar tadi nama komedian ternyata menduduki peringkat paling tinggi, semoga komunitas komedian Indonesia kini dapat terbuka cakrawala pemikirannya, mampu mencerna penjelasan tadi, dan kemudian bereaksi secara cerdas pula berusaha memenuhi tuntutan perubahan jaman yang terjadi.
Melawak itu mensyaratkan kecerdasan. Jon Stewart telah membuktikannya. Semoga saya tidak hanya bermimpi bahwa pelawak yang cerdas sungguh pula sangat dinanti kehadirannya di negeri ini. Semoga saya tidak sendirian dalam bermimpi !
Wonogiri, 4 Maret 2006.
Email : humorliner@yahoo.com
Terorisme meningkatkan pariwisata. Anda pasti tidak percaya terhadap pernyataan ini, bukan ? Untuk memahami rumusan kontroversial ini, bayangkanlah diri Anda sebagai Dr. Azahari atau Noordin Mohd. Top. Kemudian bayangkan apa yang segera mereka kerjakan setelah terjadi peristiwa Bom Bali 1 dan Bom Bali 2 ?
Mereka pasti segera aktif melakukan kegiatan pariwisata. Rajin berpindah-pindah lokasi dengan mengunjungi banyak kota di Indonesia. Demi menghindari kejaran agen-agen Detasemen 88 yang hendak meringkus mereka !
Bagi saya, terus terang, pariwisata adalah dunia alien, dunia asing yang tidak terlalu akrab dengan diri saya. Ada salah seorang wanita terindah saya, Widhiana Laneza, berkiprah dalam dunia pariwisata. Menjadi eksekutif pemasaran di Hotel Tugu dan Exotic Spas di Bali. Tetapi hal itu baru saya ketahui ketika ia secara mendadak dan dalam momen menggetarkan, kembali menghadap Illahi, 20 Desember 2005 yang lalu.
Baiklah. Perjalanan pariwisata terakhir yang saya lakukan sudah berlangsung setahun lalu. Januari 2005. Yaitu ketika berperan sebagai seorang football flaneur, istilah eksotis dari kritikus dan penyair Perancis, Charles Baudelaire (1821–1867), yang berarti sebagai wisatawan sepakbola.
Saat itu dalam peran sebagai suporter sepakbola yang mendukung Tim Nasional Indonesia di Final Piala Tiger 2004/2005, saya bersama Mayor Haristanto yang pendiri Pasoepati Solo, ikut mendidih rasa nasionalisme kami ketika bergabung dengan sesama suporter sepakbola Indonesia di National Stadium Kallang, Singapura.
Esoknya, sambil menikmati kopi pagi di lobi Quality Hotel di bilangan Balestier Road, saya senyum-senyum membaca koran The Straits Times (17/1/2005). Karena nama saya dan pendapat saya tentang masa depan sepakbola Indonesia di bawah pelatih kepala Peter Withe, muncul di koran terpandang negaranya Lee Kuan Yew itu.
”The future is still bright.
Peter Withe is a good coach and motivator.
We can bounce back”
(Bambang Haryanto, Indonesia Fan).
Usai sarapan itu kemudian kami melakukan jalan-jalan wajib sebagai “turis melayu.” Tidak lain harus ke Orchard Road. Saya khusus mengunjungi tempat rekreasi paling favorit, yaitu jaringan toko buku kelas dunia : Borders dan Kinokuniya.
Sayang, judul-judul buku yang saya incar dengan subjek menarik yang pernah dikenalkan oleh Tika Bisono dan Mas Ito (Prof. Sarlito Wirawan Sarwono) kepada saya, yaitu knowledge management, tidak saya temui. Padahal toko buku ini benar-benar bikin ngiler karena mampu menampung puluhan ribu judul buku, mengingat luas ruangannya mendekati luas lapangan sepakbola.
Pak Yono Street University. Toko buku memang selalu menjadi tempat main favorit saya. Termasuk ketika belasan tahun memiliki kartu tanda penduduk sebagai warga Jakarta sejak tahun 1980. Semula main saya adalah ke Toko Buku Gramedia di Gajahmada.
Lalu ketika mereka buka di Blok M saya pun pindah ke sana. Di sini saya pernah ketemu dan bertukar lelucon dengan Gus Dur saat saya membeli buku kumpulan humor, 25/10/1986.
Pernah pula bertemu kembali, secara tak terduga, dengan Miduk, putri Solo jelita, berdarah biru, wanita terindah saya lainnya. Pertemuan yang kembali membuat saya patah hati. Matanya masih berkilauan, cinta lama masih berkobaran, tetapi ia kini sudah milik orang.
Ketika Toko Buku Gramedia buka gerai baru di Matraman, saya merasa beruntung. Tinggal saya di Rawamangun, membuat lokasi baru itu lebih dekat untuk dijangkau. Toko Buku Gramedia ini kadang agak terlambat dalam menyediakan buku-buku teknologi informasi terbaru, topik favoritku di tahun 90-an akhir. Saya lalu mencarinya di Times Bookshop, Indonesia Plaza. Judul-judul majalah luar negerinya di sini juga lebih banyak ragamnya.
Selain di toko-toko buku, untuk majalah-majalah luar negeri saya memiliki tempat belanja favorit lain yang juga asyik. Di lapaknya Pak Yono, Bang Japrak dan Mas Solikin, di depan Gedung PMI, Kramat Raya. Saya menyebutnya sebagai kampus baru, tempat kuliah baru. Universitas Jalanan Pak Yono.
Mereka mendapat pasokan majalah-majalah itu dari hotel. Majalah Time, Newsweek, Asiaweek, Far Eastern Economic Review, Business Week, Economist, sampai Fortune, kadang hanya berselang seminggu dari tanggal terbitnya sering sudah bisa terbeli di sini. Kalau di toko harga bandrolnya 6-10 ribu, di lapak ini seribu rupiah bisa mendapat 3-4 majalah.
Majalah Reader’s Digest berjibun. Harganya lebih murah dibanding majalah serupa yang terbit dalam negeri : Intisari. Belum lagi bila serasa mendapat durian runtuh, karena bisa menemukan majalah top seperti Wired sampai Harvard Business Review.
Ketika di Solo terjadi aksi sweeping untuk turis asing dan di Jakarta merebak demo anti Amerika, ternyata memunculkan dampak yang tidak saya duga. Pasokan majalah untuk universitasnya Pak Yono juga ikut macet. Dan saya ikut kesulitan mengakses informasi-informasi baru dari luar negeri pula.
Apalagi Internet saat itu masih hanya dimonopoli pemakaiannya oleh fihak militer AS. Tim Berners-Lee dan kawan-kawan belum meluncurkan teknologi web, karya saktinya ke masyarakat luas.
Begitulah, kalau ada kesempatan main ke Jakarta, selain mampir ke sofa empuknya QB World of Books, toko buku merangkap cafe itu di Jl. Sunda, belakang Sarinah itu, pasti saya menyempatkan bersilaturahmi ke kampus Pak Yono Street University dan koleganya di Kramat ini.
Apalagi pak Yono adalah orang Sragen yang merantau ke Jakarta sejak 1957. Mungkin bagi dia silaturahmi semacam ini bisa agak menggembirakan dirinya, berbau nostalgia, karena kami ngobrolnya memakai bahasa Jawa.
Host Oscar 2006. Kegetolan saya terhadap buku dan majalah itu mungkin dalam bahasa prokem mendapat julukan sebagai infojunkie. Pemabuk informasi. Pemulung informasi. Sebutan tersebut hari-hari ini bisa saya temukan kembali ketika saya membaca-baca di Internet tentang sosok Jon Stewart, komedian Amerika Serikat, yang terpilih untuk memandu acara Oscar 2006, Minggu (5/3/2006).
Deborah White menulis bahwa Jon Stewart adalah komedian politik. Ciri khas shownya membuat ia dijuluki sebagai ikon "the most trusted name in fake news.” Nama terpercaya untuk berita-berita boongan.
Ia berani, brilyan, humor politiknya tajam menggigit dalam menyuarakan rasa frustrasi rakyat Amerika. Terutama terhadap kebijakan salah langkah dan sikap munafik pemerintahan Bush, juga tingkah konyol politisi lainnya dan kebijakan yang mereka jatuhkan.
“Anda tahu, bila saya menghimpun sekeping receh setiap kali Bush menyebut peristiwa 11 September, maka saya dapat mengumpulkan uang cukup besar untuk hadiah memburu Osama Bin Laden.”
Ucapan pedas Jon Stewart itu dinilai kritikus dan kolektor humor terkenal Daniel Kurtzman sebagai satu di antara 25 Kutipan Lelucon Paling Lucu Tahun 2005.
Bush sudah menjadi rahasia umum di Amerika Serikat sebagai presiden yang kedodoran dalam bernalar dan berbahasa. Ketika aktor berotot asal Austria, bintang film Terminator, diangkat menjadi Gubernur California, maka keduanya pun segera menjadi bulan-bulanan lelucon Jon Stewart.
“Presiden Bush minggu lalu melucukan suasana pertemuannya dengan Schwarzenegger dengan menyebut bahwa mereka berdua sering salah ucap dalam berbahasa Inggris. Tuan Presiden, ingatlah, Schwarzenegger itu berasal dari negeri asing.”
Siapakah Jon Stewart ? Deborah White meneruskan bahwa Jon Stewart (aslinya : Jonathan Stuart Leibowitz), pembawa acara talkshow tersohor “The Daily Show” itu adalah warga New York, kelahiran Lawrenceville, New Jersey, 28 November 1962.
Dalam berhumor ia adalah komedian yang suka mengejek dirinya sendiri. Ayahnya adalah ahli fisika dan ibunya seorang guru, sehingga pendidikan dinilai tinggi dalam keluarga ini. Jon Stewart adalah pribadi privat, sangat jarang menceritakan kehidupannya kepada publik.
Ia menikah di tahun 2000 dengan Tracey McShane. Dikaruniai putra, Nathan (Juli 2004) dan anak perempuan, Maggie (Februari 2006). Jon dikenal workaholic, susah tidur, news junkie, pelahap berita, dan bekas perokok berat yang bisa berhenti pada tahun 2000. Untuk ukuran orang Barat, pria keturunan Yahudi ini boleh disebut pendek. Tingginya 170 cm.
Di SMA, gerak-geriknya yang suka humor sudah menunjukkan bakat yang menonjol. Ia meraih ranking ketiga ketika lulus dan terpilih sebagai siswa terbaik selera humornya. Ia kemudian berkuliah di College of William & Mary, Virginia, semula mengambil jurusan kimia, lalu pindah ke Psikologi.
Ia juga aktif menjadi anggota tim sepakbola kampusnya. Menurut Wikipedia, ia tercatat pernah membuat sepuluh gol dan 12 asis. Yang menarik, kependekan dari nama keluarga Yahudinya yang ia buang, “Leibo” kini di kampusnya menjadi nama anugerah tahunan bagi anggota tim sepakbola kampusnya yang menunjukkan kedewasaan dan mampu menghadirkan tawa untuk seluruh anggota timnya.
Jon Stewart bahkan pernah melatih sepakbola di SMA Gloucester di Virginia. Tahun 2006 ini ia memperoleh anugerah kehormatan All-America Award dari Asosiasi Pelatih Sepakbola Nasional Amerika Serikat.
Tahun 1986, ia mengadu nasib dan karier komedinya ke New York. Ia tampil di pelbagai sirkuit komedi di kota yang berjulukan Big Apple tersebut. Kariernya pun melambung.
Tahun 1999 ia tampil sebagai pembawa acara The Daily Show on Comedy Central menggantikan Craig Kilborn. Ia dibantu koresponden yang juga jenakawan seperti Stephen Colbert and Rob Corddry (baca artikel “Dick Cheney, Humor Politik, dan Posisi Tiarap Komedian Indonesia” di posting saya sebelumnya).
Tahun 2005, The Daily Show dan Jon Stewart mendapat anugerah 2 Emmy Awards. Juga anugerah sebagai Best Comedy Album Grammy Award untuk buku audionya yang berjudul America (The Book): A Citizen's Guide to Democracy Inaction. Buku ini masuk daftar buku laris koran The New York Times selama 46 minggu. Juga mendapat penghargaan Thurber Prize kategori Humor Amerika.
Tetapi Jon Stewart pernah pula mengalami peristiwa pahit, ketika menjadi pembawa acara Grammy Award 2001 di mana leluconnya mendapat cemoohan pengunjung. Dengan jujur ia menanggapinya dengan kearifan. “I feel your scorn and I accept it.”. Saya merasakan cemoohan Anda dan saya menerimanya. Kejadian itu justru membuat dirinya semakin tegar untuk meraih kedudukan sebagai komedian besar.
Apa keteladanan dirinya yang dapat dipetik oleh kalangan komedian di Indonesia ? Silakan Anda memberikan pendapat. Saya hanya ingin membuka-buka lagi isi majalah Reader’s Digest (3/1988), yang saya beli dari lapak majalah bekasnya Pak Yono di trotoir jalan bilangan Kramat, Jakarta. Artikel itu membahas seluk-beluk industri hiburan dan terkait dengan daftar artis-artis berpenghasilan tertinggi di Amerika Serikat saat itu pula.
Bill Cosby (57 juta dolar). Michael Jackson (31). Charles “Snoopy” Schulz (30). Eddie Murphy (27). Bruce Springsteen (27). Madonna (26). Whitney Houston (24). Steven Spielberg (23). Sylvester Stallone (21) dan Johnny Carson (20).
Saya kemudian terpana membaca penjelasan dalam bagian akhir artikel tersebut yang secara tegas menyatakan bahwa saat ini entertainment is intellectual property, just like computer software or patented pharmaceuticals. Hiburan merupakan karya cipta intelektual, seperti halnya peranti lunak komputer atau obat-obatan yang dilindungi hak paten.
Hiburan merupakan kiprah yang serius. Merupakan lahan kiprah intelektual. Kalau dalam daftar tadi nama komedian ternyata menduduki peringkat paling tinggi, semoga komunitas komedian Indonesia kini dapat terbuka cakrawala pemikirannya, mampu mencerna penjelasan tadi, dan kemudian bereaksi secara cerdas pula berusaha memenuhi tuntutan perubahan jaman yang terjadi.
Melawak itu mensyaratkan kecerdasan. Jon Stewart telah membuktikannya. Semoga saya tidak hanya bermimpi bahwa pelawak yang cerdas sungguh pula sangat dinanti kehadirannya di negeri ini. Semoga saya tidak sendirian dalam bermimpi !
Wonogiri, 4 Maret 2006.
Thursday, February 23, 2006
Dick Cheney, Humor Politik, dan Posisi Tiarap Komedian Indonesia
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com
Brokeback Mountain. Burung puyuh kini sedang menertawai Amerika. Jelasnya, menertawai tindakan ceroboh dan bodoh Dick Cheney, sang Wakil Presiden AS. Semua itu terjadi akibat kekonyolan melakukan salah tembak saat berburu burung puyuh yang dilakukan orang terkuat kedua Amerika Serikat tersebut.
Guyonan tentang dirinya pun meledak.
Komedian Jimmy Kimmel, nyeletuk : “Dengan menyingkirkan segala lelucon dan ketika kita harus adil menilai Dick Cheney, nampaknya setiap lima tahun sekali ia harus menumpahkan darah orang tak berdosa atau dia mencederai perjanjian dirinya dengan setan”
Sementara itu David Letterman, pembawa acara humor di televisi yang terkenal, meledek insiden itu sebagai upaya Wapres AS ikut serta menghentikan penyebaran wabah flu burung. Lelucon lain khas Letterman lalu ganas main sikut sana-sini.
Misalnya dari kondisi Cheney yang jantungnya lemah, ia memiliki anak perempuan yang lesbian, menyangkut kisah percintaan sesama lelaki oleh para koboi dalam film unggulan Oscar, Brokeback Mountain (“Habis, dia mau mencoba ‘koboi gay’ pada diri saya”), sampai isu senjata pemusnah massal Irak yang selama ini tidak pernah ditemukan oleh Amerika Serikat. Celetuk Letterman untuk isu yang satu ini :
“Berita bagus, para hadirin. Akhirnya kita mampu menemukan lokasi senjata pemusnah massal. Pada diri Dick Cheney !”
Mari kita tinggalkan David Letterman.
Kini kita simak obrolan yang sarat sindiran tajam Jon Stewart, seorang stand up comedian terkenal dan pembawa acara “The Daily Show,” ketika melakukan dialog dengan Rob Corddry. Inilah transkripnya :
Jon Stewart (JS) : “Saya sekarang bersama Robb Coddry, analis peristiwa salah tembak yang dilakukan oleh Wakil Presiden kita. Rob, ini nyata-nyata situasi yang sial. Bagaimana Wakil Presiden kita mengatasainya ?”
Robb Coddry (RC) : Jon, semalam Wakil Presiden tetap kukuh pada pendiriannya untuk menembak Harry Whittington. Berdasarkan analisis intelijen terbaik, terdapat burung puyuh di semak tersebut. Semua orang percaya saat itu memang terdapat burung puyuh di semak bersangkutan.
“Dan ketika burung puyuh itu berubah menjadi pria berusia 78 tahun, kita tahu kemudian, Mr. Cheney tetap bersiteguh menembak Mr. Whittington pada bagian wajahnya. Ia percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik bila ia menebarkan peluru
ke seluruh wilayah wajah Mr. Whittington”
JS : “Tetapi mengapa, Rob ? Apabila dia tahu bahwa Mr. Whittington bukan seekor burung, mengapa ia tetap saja menembak dirinya ?”
RC : “Jon, pasca 11 September, bangsa Amerika mengharapkan pemimpinnya bertindak tegas. Dengan tidak melakukan penembakan terhadap seorang teman tepat pada wajahnya akan mengirimkan pesan kepada burung-burung puyuh bahwa bangsa Amerika adalah bangsa yang lemah”
JS : “Sangat mengerikan”
RC : “Lihat, fakta bahwa bagaimana Wakil Presiden kita berkendara dengan sahabat-sahabatnya yang orang kaya menaiki mobil untuk menembaki burung puyuh, burung yang tak punya sayap kuat dan hidup di peternakan, adalah memberi isyarat kepada buruh puyuh itu ‘bagaimana’ kita memburu mereka. Saya yakin, saat ini burung-burung itu sedang menertawakan kita di tengah-tengah kawanan mereka”
JS : “Saya tidak yakin burung-burung itu bisa tertawa, Rob”
RC : “Ya, apa pun yang mereka lakukan, coo (menirukan suara burung), mereka kini sedang meledeki kita, Jon. Sebab kita di sini sedang berbicara blak-blakan tentang rencana kita untuk memburu mereka. Sudah tak ada harapan lagi. Skornya : Buruh Puyuh satu, Amerika nol !”
Library of Congress. Sebelum dialog yang sarat sindiran cerdas di atas, ketika membuka perbincangan Jon Stewart lebih dulu melemparkan guyonan sebagai berikut :
“Wapres AS Dick Cheney secara tidak sengaja menembak seseorang ketika berburu burung puyuh...membuat Harry Whittington sebagai orang pertama ditembak wakil presiden AS sejak Alexander Hamilton. Hamilton terlibat tembak-menembak dengan Aaron Burr demi mempertahankan kehormatan, integritas dan manuver politik. Whittington ? Tertembak karena dikira seekor burung !”
Lelucon Stewart yang satu ini menarik. Terutama karena peristiwa duel antara Hamilton (1755-1804) vs Burr (1756-1836) itu sudah terjadi lebih dari 200 tahun yang lalu. Tetapi peristiwa tersebut masih hidup dalam ingatan bangsa Amerika. Masih juga relevan untuk bahan guyonan. Mengapa ?
Hal ini bisa terjadi, karena harus diakui, Amerika Serikat adalah bangsa yang maju budaya baca dan tulisnya. Sekadar contoh : mereka memiliki Library of Congress, perpustakaan yang terbesar di dunia. Didirikan pada tahun 1800, alias 25 tahun sebelum meletus Perang Diponegoro di negeri kita ini.
Mereka cermat mencatat kejadian bersejarah. Bahkan juga mendokumentasikan hal-hal yang kelihatan remeh-temeh, trivia, juga rewel mendiskusikannya. Tradisi intelektual ini tentu membuat bangsa Amerika tidak mudah melupakan prestasi atau aib seseorang tokoh, ketika mereka hendak menjatuhkan sesuatu pilihan politik.
Seorang komedian, idealnya, juga dituntut untuk memiliki tradisi pendokumentasian yang kuat. Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedian (1998) menyebutkan bahwa seorang komedian adalah seorang pengamat.
Tidak ayal Judy Carter, mentor dan guru pelawak yang terkenal di Amerika Serikat, dalam salah satu ajarannya mewajibkan muridnya memiliki bloknot kecil dan pena. Dua benda “keramat” ini harus selalu dibawa kemana-mana. Lebih bagus lagi, disertai pula sebuah tape recorder kecil.
Antara lain Judy Carter mengutip pendapat komedian George Wallace yang bilang, “Saya menulis lelucon saya dari hal-hal atau kejadian bodoh. Misalnya tanda lalu lintas berbunyi ‘DILARANG BERISIK DI ZONA RUMAH SAKIT.’ Memang tidak ada kejadian yang menimbulkan berisik, sampai suatu saat mobil ambulans muncul dengan sirine yang menggaung..”
Richard Lewis, komedian yang konon telah menciptakan lebih dari 250.000 lawakan, bilang bahwa dirinya selalu membawa bloknot kemana saja. “Bila ada sesuatu yang lucu, saya segera menuliskannya. Beberapa bulan kemudian saya memiliki ribuan premis lawakan, saya beri lingkaran untuk premis-premis yang mampu membuat saya tertawa, dan saya membayangkan bagaimana menyajikannya di panggung”
Menyerang Penguasa. Komedian terkenal di Amerika Serikat seperti Conan O’Brien, Craig Kilborn, David Letterman, Jay Leno, Jimmy Kimmel, Jon Stewart, sampai comedienne Tina Fey, pekerjaan pokoknya memang membulan-bulani para penguasa dengan lelucon. Sasaran tembak nomor satu mereka, pastilah presiden Amerika Serikat.
Melucukan penguasa merupakan salah satu ciri khas bangsa Amerika, yang memiliki gaya hidup getol memperolok diri, membuat satir, sebagai bagian dari budaya masyarakat mereka. Humor politik menjadi makanan sehari-hari mereka.
Gene Perret, kepala penulis lawakannya Bob Hope, pemenang tiga kali Emmy Award, ketika meringkas kaidah-kaidah terpenting dalam menyajikan lawakan antara lain ia sebutkan : lawakan harus merefleksikan kebenaran, melonggarkan tensi atau tekanan, mengejutkan, menyerang otoritas atau penguasa, melibatkan penonton dan menyajikannya secara jenaka.
Bagaimana pelawak Indonesia dalam mengaplikasikan kaidah-kaidah di atas ? Saya kali ini tertarik membahas masalah kaidah bahwa lawakan memang harus menyerang otoritas atau penguasa. Peran yang menantang dan merangsang.
Apalagi lawakan dalam hal ini ikut hadir sebagai mekanisme checks and balances, kontrol terhadap kebijaksanaan pemerintah. Dengan disajikan secara jenaka, sehingga yang mendapat semprotan tidak perlu bermerah muka. Dalam dunia pewayangan kita sudah mengenal para panakawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, yang lawakannya berfungsi sebagai kritik yang mengingatkan para penguasa.
Para penguasa memang pantas menjadi sasaran lawakan, antara lain karena baik dirinya atau kebijakan yang ia ambil, jelas akan diketahui dan mempengaruhi hidup orang banyak. Pemahaman secara bersama oleh masyarakat luas, atau oleh banyak orang, bagi seorang komedian yang cerdas adalah ibarat dirinya berdiri di depan lautan bensin.
Dengan celetukan atau lawakan kecil yang oleh Perret disebut harus merefleksikan kebenaran, juga harus melibatkan penonton, komedian ibarat melemparkan api ke tengahnya. Kobaran tawa dijamin muncul menggelegar dari sana.
Sayang, sepertinya kini tidak banyak, atau justru tidak ada, komedian kita yang berani bermain humor politik saat ini. Mungkin karena mereka telah merasa berkecukupan, lalu berusaha hanya mempertahankan status quo dengan main aman, lebih suka tiarap, apolitik, sehingga membuat peran luhurnya sebagai panakawan yang bertugas mengritik para penguasa sudah musnah entah di mana.
Bagi saya, pantas saja lelucon-lelucon mereka tidak banyak lagi yang lucu. Karena lawakan mereka memang semakin jauh dari greget merefleksikan kebenaran, sekaligus juga tidak melibatkan suara hati kita sebagai rakyat sebagai audiens mereka.
Burung-burung puyuh kini sedang menertawai Amerika. Tetapi di Indonesia, burung-burung menjadi terdakwa karena membuat semakin banyak korban-korban berjatuhan dan meninggal. Akibat flu mereka !
Wonogiri, 24 Februari 2006
Email : humorliner@yahoo.com
Brokeback Mountain. Burung puyuh kini sedang menertawai Amerika. Jelasnya, menertawai tindakan ceroboh dan bodoh Dick Cheney, sang Wakil Presiden AS. Semua itu terjadi akibat kekonyolan melakukan salah tembak saat berburu burung puyuh yang dilakukan orang terkuat kedua Amerika Serikat tersebut.
Guyonan tentang dirinya pun meledak.
Komedian Jimmy Kimmel, nyeletuk : “Dengan menyingkirkan segala lelucon dan ketika kita harus adil menilai Dick Cheney, nampaknya setiap lima tahun sekali ia harus menumpahkan darah orang tak berdosa atau dia mencederai perjanjian dirinya dengan setan”
Sementara itu David Letterman, pembawa acara humor di televisi yang terkenal, meledek insiden itu sebagai upaya Wapres AS ikut serta menghentikan penyebaran wabah flu burung. Lelucon lain khas Letterman lalu ganas main sikut sana-sini.
Misalnya dari kondisi Cheney yang jantungnya lemah, ia memiliki anak perempuan yang lesbian, menyangkut kisah percintaan sesama lelaki oleh para koboi dalam film unggulan Oscar, Brokeback Mountain (“Habis, dia mau mencoba ‘koboi gay’ pada diri saya”), sampai isu senjata pemusnah massal Irak yang selama ini tidak pernah ditemukan oleh Amerika Serikat. Celetuk Letterman untuk isu yang satu ini :
“Berita bagus, para hadirin. Akhirnya kita mampu menemukan lokasi senjata pemusnah massal. Pada diri Dick Cheney !”
Mari kita tinggalkan David Letterman.
Kini kita simak obrolan yang sarat sindiran tajam Jon Stewart, seorang stand up comedian terkenal dan pembawa acara “The Daily Show,” ketika melakukan dialog dengan Rob Corddry. Inilah transkripnya :
Jon Stewart (JS) : “Saya sekarang bersama Robb Coddry, analis peristiwa salah tembak yang dilakukan oleh Wakil Presiden kita. Rob, ini nyata-nyata situasi yang sial. Bagaimana Wakil Presiden kita mengatasainya ?”
Robb Coddry (RC) : Jon, semalam Wakil Presiden tetap kukuh pada pendiriannya untuk menembak Harry Whittington. Berdasarkan analisis intelijen terbaik, terdapat burung puyuh di semak tersebut. Semua orang percaya saat itu memang terdapat burung puyuh di semak bersangkutan.
“Dan ketika burung puyuh itu berubah menjadi pria berusia 78 tahun, kita tahu kemudian, Mr. Cheney tetap bersiteguh menembak Mr. Whittington pada bagian wajahnya. Ia percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik bila ia menebarkan peluru
ke seluruh wilayah wajah Mr. Whittington”
JS : “Tetapi mengapa, Rob ? Apabila dia tahu bahwa Mr. Whittington bukan seekor burung, mengapa ia tetap saja menembak dirinya ?”
RC : “Jon, pasca 11 September, bangsa Amerika mengharapkan pemimpinnya bertindak tegas. Dengan tidak melakukan penembakan terhadap seorang teman tepat pada wajahnya akan mengirimkan pesan kepada burung-burung puyuh bahwa bangsa Amerika adalah bangsa yang lemah”
JS : “Sangat mengerikan”
RC : “Lihat, fakta bahwa bagaimana Wakil Presiden kita berkendara dengan sahabat-sahabatnya yang orang kaya menaiki mobil untuk menembaki burung puyuh, burung yang tak punya sayap kuat dan hidup di peternakan, adalah memberi isyarat kepada buruh puyuh itu ‘bagaimana’ kita memburu mereka. Saya yakin, saat ini burung-burung itu sedang menertawakan kita di tengah-tengah kawanan mereka”
JS : “Saya tidak yakin burung-burung itu bisa tertawa, Rob”
RC : “Ya, apa pun yang mereka lakukan, coo (menirukan suara burung), mereka kini sedang meledeki kita, Jon. Sebab kita di sini sedang berbicara blak-blakan tentang rencana kita untuk memburu mereka. Sudah tak ada harapan lagi. Skornya : Buruh Puyuh satu, Amerika nol !”
Library of Congress. Sebelum dialog yang sarat sindiran cerdas di atas, ketika membuka perbincangan Jon Stewart lebih dulu melemparkan guyonan sebagai berikut :
“Wapres AS Dick Cheney secara tidak sengaja menembak seseorang ketika berburu burung puyuh...membuat Harry Whittington sebagai orang pertama ditembak wakil presiden AS sejak Alexander Hamilton. Hamilton terlibat tembak-menembak dengan Aaron Burr demi mempertahankan kehormatan, integritas dan manuver politik. Whittington ? Tertembak karena dikira seekor burung !”
Lelucon Stewart yang satu ini menarik. Terutama karena peristiwa duel antara Hamilton (1755-1804) vs Burr (1756-1836) itu sudah terjadi lebih dari 200 tahun yang lalu. Tetapi peristiwa tersebut masih hidup dalam ingatan bangsa Amerika. Masih juga relevan untuk bahan guyonan. Mengapa ?
Hal ini bisa terjadi, karena harus diakui, Amerika Serikat adalah bangsa yang maju budaya baca dan tulisnya. Sekadar contoh : mereka memiliki Library of Congress, perpustakaan yang terbesar di dunia. Didirikan pada tahun 1800, alias 25 tahun sebelum meletus Perang Diponegoro di negeri kita ini.
Mereka cermat mencatat kejadian bersejarah. Bahkan juga mendokumentasikan hal-hal yang kelihatan remeh-temeh, trivia, juga rewel mendiskusikannya. Tradisi intelektual ini tentu membuat bangsa Amerika tidak mudah melupakan prestasi atau aib seseorang tokoh, ketika mereka hendak menjatuhkan sesuatu pilihan politik.
Seorang komedian, idealnya, juga dituntut untuk memiliki tradisi pendokumentasian yang kuat. Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedian (1998) menyebutkan bahwa seorang komedian adalah seorang pengamat.
Tidak ayal Judy Carter, mentor dan guru pelawak yang terkenal di Amerika Serikat, dalam salah satu ajarannya mewajibkan muridnya memiliki bloknot kecil dan pena. Dua benda “keramat” ini harus selalu dibawa kemana-mana. Lebih bagus lagi, disertai pula sebuah tape recorder kecil.
Antara lain Judy Carter mengutip pendapat komedian George Wallace yang bilang, “Saya menulis lelucon saya dari hal-hal atau kejadian bodoh. Misalnya tanda lalu lintas berbunyi ‘DILARANG BERISIK DI ZONA RUMAH SAKIT.’ Memang tidak ada kejadian yang menimbulkan berisik, sampai suatu saat mobil ambulans muncul dengan sirine yang menggaung..”
Richard Lewis, komedian yang konon telah menciptakan lebih dari 250.000 lawakan, bilang bahwa dirinya selalu membawa bloknot kemana saja. “Bila ada sesuatu yang lucu, saya segera menuliskannya. Beberapa bulan kemudian saya memiliki ribuan premis lawakan, saya beri lingkaran untuk premis-premis yang mampu membuat saya tertawa, dan saya membayangkan bagaimana menyajikannya di panggung”
Menyerang Penguasa. Komedian terkenal di Amerika Serikat seperti Conan O’Brien, Craig Kilborn, David Letterman, Jay Leno, Jimmy Kimmel, Jon Stewart, sampai comedienne Tina Fey, pekerjaan pokoknya memang membulan-bulani para penguasa dengan lelucon. Sasaran tembak nomor satu mereka, pastilah presiden Amerika Serikat.
Melucukan penguasa merupakan salah satu ciri khas bangsa Amerika, yang memiliki gaya hidup getol memperolok diri, membuat satir, sebagai bagian dari budaya masyarakat mereka. Humor politik menjadi makanan sehari-hari mereka.
Gene Perret, kepala penulis lawakannya Bob Hope, pemenang tiga kali Emmy Award, ketika meringkas kaidah-kaidah terpenting dalam menyajikan lawakan antara lain ia sebutkan : lawakan harus merefleksikan kebenaran, melonggarkan tensi atau tekanan, mengejutkan, menyerang otoritas atau penguasa, melibatkan penonton dan menyajikannya secara jenaka.
Bagaimana pelawak Indonesia dalam mengaplikasikan kaidah-kaidah di atas ? Saya kali ini tertarik membahas masalah kaidah bahwa lawakan memang harus menyerang otoritas atau penguasa. Peran yang menantang dan merangsang.
Apalagi lawakan dalam hal ini ikut hadir sebagai mekanisme checks and balances, kontrol terhadap kebijaksanaan pemerintah. Dengan disajikan secara jenaka, sehingga yang mendapat semprotan tidak perlu bermerah muka. Dalam dunia pewayangan kita sudah mengenal para panakawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, yang lawakannya berfungsi sebagai kritik yang mengingatkan para penguasa.
Para penguasa memang pantas menjadi sasaran lawakan, antara lain karena baik dirinya atau kebijakan yang ia ambil, jelas akan diketahui dan mempengaruhi hidup orang banyak. Pemahaman secara bersama oleh masyarakat luas, atau oleh banyak orang, bagi seorang komedian yang cerdas adalah ibarat dirinya berdiri di depan lautan bensin.
Dengan celetukan atau lawakan kecil yang oleh Perret disebut harus merefleksikan kebenaran, juga harus melibatkan penonton, komedian ibarat melemparkan api ke tengahnya. Kobaran tawa dijamin muncul menggelegar dari sana.
Sayang, sepertinya kini tidak banyak, atau justru tidak ada, komedian kita yang berani bermain humor politik saat ini. Mungkin karena mereka telah merasa berkecukupan, lalu berusaha hanya mempertahankan status quo dengan main aman, lebih suka tiarap, apolitik, sehingga membuat peran luhurnya sebagai panakawan yang bertugas mengritik para penguasa sudah musnah entah di mana.
Bagi saya, pantas saja lelucon-lelucon mereka tidak banyak lagi yang lucu. Karena lawakan mereka memang semakin jauh dari greget merefleksikan kebenaran, sekaligus juga tidak melibatkan suara hati kita sebagai rakyat sebagai audiens mereka.
Burung-burung puyuh kini sedang menertawai Amerika. Tetapi di Indonesia, burung-burung menjadi terdakwa karena membuat semakin banyak korban-korban berjatuhan dan meninggal. Akibat flu mereka !
Wonogiri, 24 Februari 2006
Thursday, February 09, 2006
Bruce Willis, Khadaffy, dan Formula Lawakan TeamLo Solo
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com
Parody is an ideavirus
(Seth Godin, Unleashing The IdeaVirus, 2001)
Wanita Terindah. Film aktor macho Bruce Willis terakhir apa yang telah Anda tonton ? Die Hard ? Atau Armageddon ? Melalui televisi, beberapa waktu lalu, saya nonton The Day of the Jackal.
Ia berakting sebagai pembunuh bayaran mafia Rusia yang bersemboyan “kalian tak bisa melindungi wanita-wanitamu”, karena yang hendak dijadikan sasaran muntahan peluru senapan mesin raksasa otomatis itu adalah Ibu Negara Amerika Serikat.
Film ini, dalam versinya yang asli, pernah saya tonton di tahun 1970-an. Cerita yang diambil dari novel Frederick Forsyth (kalau tak salah) tersebut berkisah tentang pembunuh bayaran asal Inggris (dibintangi Edward Fox), yang diorder kelompok politik di Perancis yang tidak menyetujui kemerdekaan Aljazair. Sasaran pembunuhan dengan peluru bermuatan merkuri itu adalah Presiden Perancis Charles De Gaulle. Momennya : saat peringatan Revolusi Perancis, 14 Juli.
Sebelumnya, beberapa tahun lalu, Bruce Willis telah memperkenalkan diri saya dengan salah satu wanita terindah : Sherry Bilsig. Saat itu Sherry ini tampil dengan rambut di-braided dan tiba-tiba seperti membunyikan bunyi “klik” di benak saya.
Saya menyukainya.
Sherry adalah nama pemain pembantu yang berperan sebagai pramugari dalam film Die Hard 2 : Die Harder yang dibintangi oleh mantan suami aktris Demi Moore itu.
Selain Sherry Bilsig, daftar wanita-wanita terindah itu meliputi : Jacquline Bisset. Isabelle Adjani. Arie Kusmiran. Miduk. Kenil. Cresenthya Hartati. Widhiana “Anez” Laneza. Dwi Retno “Tutut” Setiarti. Erika “Michiko” Diana Rizanti.
Bruce Willis juga saya tonton saat ia bermain dalam film Armageddon. Film ini berkisah tentang ancaman asteroid (menurut ensiklopedi, asteroid atau minor planet itu yang terbesar bernama Ceres, berdiameter 1003 km, ditemukan oleh Piazzi pada tahun 1801) yang hendak menabrak, mengancam bumi menjadi kiamat.
Terkait film ini pernah muncul komentar : “sungguh beruntung Liv Tyler. Ia main film, beradegan main cinta sambil diiringi lagu hit yang dinyanyikan oleh ayahnya sendiri.” Ayah Liv Tyler adalah Steve Tyler, vokalis Aerosmith.
Anda tahu judul lagu terkenal yang dinyanyikan oleh Aerosmith dan menjadi salah satu lagu indah dari film Armageddon ini ? Tentu saja : “I Don't Want To Miss A Thing”. Mari kita nyanyikan bait yang pertama :
I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you
is a moment I treasure
Dalam film yang sama juga terselip lagu lain yang juga tidak kalah indahnya. Bagaimana kalau saya ajak Anda menyanyikan liriknya di bawah ini :
All my bags are packed, I'm ready to go,
I'm standing here outside the door
I hate to wake you up to say goodbye.
But the dawn is breakin', it's early morn',
The Taxi's waitin', he's blowin' his horn.
Already I'm so lonesome I could die.
Kemudian untuk refrein, mari kita nyanyikan yang di bawah ini :
So kiss me and smile for me,
Call my folks in Tripoli,
Tell them that Khadafi made me go.
I'm a Libyan on a jet plane,
Don't know if I'll be back again.
Moammar, I hate to go.
Meniru Untuk Mengejek. Adakah sesuatu hal yang aneh, mungkin lucu, telah Anda rasakan ketika menyanyikan refrein ini ? Lirik itu diilhami serangan pesawat-pesawat jet AS pada tahun 1986 yang menjatuhkan bom-bom di Tripoli. Peristiwa pemboman AS itu menyusul peledakan pesawat PanAm di atas Lockerbie, Skotlandia, oleh teroris Lybia. Lybia harus dihukum karena dituding dunia menjadi sarang teroris saat itu.
Lirik itu menceritakan keengganan seorang pilot Lybia untuk terbang dan berperang melawan pesawat-pesawat tempur AS yang jauh lebih canggih. Tetapi ia harus melakukannya karena dipaksa presiden yang diktator, Moammar Khadaffy.
Judul lagunya : “Lybian on a jet plane ”
Dari judul dan liriknya, kita segera tahu bahwa lagu itu tidak lain merupakan parodi dari lagu “Leaving on a jet plane.” yang aslinya diciptakan oleh penyanyi country John Denver. Kalau Anda mampu tersenyum, atau mungkin terbahak, maka parodi itu berhasil.
Anda masih ingat saat menonton monologis Butet Kertaredjasa menirukan suara mantan Presiden Soeharto, Harmoko atau Susilo Bambang Yudhoyono ? Di dalamnya tidak ada sama sekali ucapan Soeharto, Harmoko atau pun SBY yang bernilai lucu, tetapi Anda sudah tergerak untuk tersenyum simpul ? Bila memang demikian halnya, maka parodinya, atau ulah meniru untuk mengejek yang ia lakukan itu, boleh dibilang berhasil pula.
Demikian pula bila Anda melalui layar televisi menyimak penampilan kelompok musik humor TeamLo yang vokalisnya bernyanyi dengan gaya mengedut-ngedutkan paha. Kalau Anda segera mengingat gaya Freddy Mercury dari kelompok Queen, maka parodi kelompok musik humor asal Solo itu pun bisa dibilang berhasil.
Mari kita bicara khusus tentang TeamLo.
Seperti ditulis oleh wartawan Frans Sartono (Kompas, 17/7/2005), mengutip ucapan vokalis TeamLo bahwa, “musik kami full parodi, jarang main penuh, kecuali ada permintaan.” Maka muncul plesetan dalam lagu dan lirik mereka. Intro lagu “Billie Jean” dari Michael Jackson misalnya, digunakan untuk masuk ke lagu dangdut “Bang Toyib”.
TeamLo yang paham benar kekuatan visual televisi kemudian juga menggarap aspek visual sebagai bahan lawakan, seperti memarodikan sosok artis terkenal. Seperti diungkap lebih lanjut oleh Frans Sartono, Wawan (vokalis Teamlo), pernah tampil dalam sosok dan mimik mirip Chrisye. Jurus ini terbukti berhasil mengundang tawa penonton.
Jurus tersebut kemudian dieksploitasi lebih lanjut oleh TeamLo. Sehingga dalam pentas khususnya di TPI 27/1/2006 yang lalu, mereka mampu memarodikan 23 penyanyi top Indonesia. Sebagai “korban” antara lain Ariel Peter Pan, Arman Maulana, Beby Romeo, Gombloh sampai Koes Plus. Prestasi Wawan Bakwan, vokalis TeamLo itu, membuatnya tercatat dalam MURI (Museum Rekor Indonesia).
Rumus Ampuh Perret. Gene Perret, penulis kepala untuk lawakannya Bob Hope dan pemenang tiga kali Emmy Award, pernah mengungkap resep baku dalam menulis lawakan.
Antara lain telah Perret katakan : It must relate to the audience. Harus relevan dan mempunyai kaitan dengan penonton. Pentas parodi yang dilakoni oleh TeamLo jelas bersandar pada formula ini, bukan ?
Kalau saja TeamLo nekad menyanyikan lagu, katakanlah “Me and Bobby McGee”, mungkin yang tertawa tidak ada. Kecuali hanya Gus Dur saja. Lagu yang isinya inspiratif bagi pejuang demokrasi ini, dinyanyikan oleh Janis Joplin, merupakan lagu kesayangan mantan presiden RI yang humoris itu.
TeamLo tentu lebih memilih lagu dan aksi panggung yang akrab dengan penonton. Kemudian kita merasakannya, bagaimana penonton bereaksi saat menonton suguhan parodi TeamLo itu. Mereka tergerak atau berebutan saling memberitahu. Atau saling menebak karakter yang muncul dari ulah metamorfosis aksi dan lagu yang dibawakan Wawan Bakwan tersebut. Penonton merasa punya kaitan dengan setiap aksi TeamLo.
Dalam pentas lawakan yang bukan parodi, penonton sebenarnya juga merindukan interaksi yang sama. Mereka ingin digelitik dan aktif diajak ikut berperanserta dalam proses identifikasi. Tak ayal seorang pakar pemasaran Seth Godin, menyebut bahwa “parodi adalah virus gagasan.” Maksudnya, parodi merupakan topik atau isu yang mampu menarik dan memancing pembicaraan orang. Dengan dibicarakan, maka ide itu pun kemudian mudah pula menyebar.
Kita lihat dampaknya : ketika penonton mampu mengenali tokoh atau situasi parodi yang muncul dalam benaknya, dan ia nilai lucu, mereka pun akan rela tertawa. Apalagi kalau dalam benaknya yang muncul ternyata dirinya pribadi, maka ia akan terpicu untuk tertawa lebih keras lagi. Tentu saja, mereka kemudian tergerak untuk menceritakannya pula.
Sayang, dalam sajian lawakan yang muncul di televisi-televisi kita, formula Perret yang ampuh dilakoni oleh TeamLo itu seperti tidak berlaku. Lihatlah, di panggung televisi kita inflasi pemunculan pelawak pria dengan berbusana perempuan. Bergaya sebagai waria. Atau muncul sosok-sosok berpakaian aneh, baik pria atau pun perempuan. Mereka dengan tampil memakai wig warna-warni. Bahkan muncul dengan sosok sebagai setan.
Apakah karakter-karakter aneh semacam itu mereka mampu menjadi relevan dan terkait dengan mayoritas penonton ? Saya kira tidak sama sekali. Kalau pun terkait, kebanyakan tidak dalam suguhan cita rasa lawakan yang cerdas. Apalagi elegan. Karena lawakan di televisi kita seolah tak pernah jauh bergeser dari melucukan bau ketiak, cipratan ludah, bunyi dan bau kentut, serta seks yang vulgar.
Formula mendasar. Dunia lawak Indonesia, hemat saya, seyogyanya sudi menyelisik untuk meneladani formula lucu yang amat mendasar dari TeamLo ini. Mula-mula mereka mengajak para penonton untuk mengenali suguhannya, kemudian tiba-tiba membelokkannya secara tidak terduga. Sehingga muncul adalah kelucuan-kelucuan yang eksplosif.
“Hide the joke whenever possible. Get some surprise into the punchline. Don’t let the audience see it coming”, tutur Gene Perret lagi.
Hadirkanlah selalu kejutan. Persis seperti situasi yang telah diulas oleh Frans Sartono tentang ulah TeamLo yang urakan, ketika menjutaksposisikan lagu “Billie Jean” dengan lagu dangdut “Bang Thoyib.”
Proses metamorfosis yang terjadi berupa aksi plesetan, mula-mula berangkat dari lirik lagu yang berbunyi “Billie Jean is not my lover” lalu tiba-tiba menjadi dangdut, kini dengan lirik “Bang Toyib is not my lover”
Baiklah. Sebagai penutup, bagaimana kalau kita lanjutkan menyanyikan lagu “Lybian on a jet plane” tadi ?
Aircraft carrier J.F.K.
Come to blow our chemical plant away,
But we keep telling them it's
just pharmaceutical.
So kiss me and smile for me,
Call my folks in Tripoli,
Tell them that Khadafi made me go.
I'm a Libyan on a jet plane,
Don't know if I'll be back again.
Moammar, I hate to go.
Wonogiri, 6 Februari 2006
Email : humorliner@yahoo.com
Parody is an ideavirus
(Seth Godin, Unleashing The IdeaVirus, 2001)
Wanita Terindah. Film aktor macho Bruce Willis terakhir apa yang telah Anda tonton ? Die Hard ? Atau Armageddon ? Melalui televisi, beberapa waktu lalu, saya nonton The Day of the Jackal.
Ia berakting sebagai pembunuh bayaran mafia Rusia yang bersemboyan “kalian tak bisa melindungi wanita-wanitamu”, karena yang hendak dijadikan sasaran muntahan peluru senapan mesin raksasa otomatis itu adalah Ibu Negara Amerika Serikat.
Film ini, dalam versinya yang asli, pernah saya tonton di tahun 1970-an. Cerita yang diambil dari novel Frederick Forsyth (kalau tak salah) tersebut berkisah tentang pembunuh bayaran asal Inggris (dibintangi Edward Fox), yang diorder kelompok politik di Perancis yang tidak menyetujui kemerdekaan Aljazair. Sasaran pembunuhan dengan peluru bermuatan merkuri itu adalah Presiden Perancis Charles De Gaulle. Momennya : saat peringatan Revolusi Perancis, 14 Juli.
Sebelumnya, beberapa tahun lalu, Bruce Willis telah memperkenalkan diri saya dengan salah satu wanita terindah : Sherry Bilsig. Saat itu Sherry ini tampil dengan rambut di-braided dan tiba-tiba seperti membunyikan bunyi “klik” di benak saya.
Saya menyukainya.
Sherry adalah nama pemain pembantu yang berperan sebagai pramugari dalam film Die Hard 2 : Die Harder yang dibintangi oleh mantan suami aktris Demi Moore itu.
Selain Sherry Bilsig, daftar wanita-wanita terindah itu meliputi : Jacquline Bisset. Isabelle Adjani. Arie Kusmiran. Miduk. Kenil. Cresenthya Hartati. Widhiana “Anez” Laneza. Dwi Retno “Tutut” Setiarti. Erika “Michiko” Diana Rizanti.
Bruce Willis juga saya tonton saat ia bermain dalam film Armageddon. Film ini berkisah tentang ancaman asteroid (menurut ensiklopedi, asteroid atau minor planet itu yang terbesar bernama Ceres, berdiameter 1003 km, ditemukan oleh Piazzi pada tahun 1801) yang hendak menabrak, mengancam bumi menjadi kiamat.
Terkait film ini pernah muncul komentar : “sungguh beruntung Liv Tyler. Ia main film, beradegan main cinta sambil diiringi lagu hit yang dinyanyikan oleh ayahnya sendiri.” Ayah Liv Tyler adalah Steve Tyler, vokalis Aerosmith.
Anda tahu judul lagu terkenal yang dinyanyikan oleh Aerosmith dan menjadi salah satu lagu indah dari film Armageddon ini ? Tentu saja : “I Don't Want To Miss A Thing”. Mari kita nyanyikan bait yang pertama :
I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you
is a moment I treasure
Dalam film yang sama juga terselip lagu lain yang juga tidak kalah indahnya. Bagaimana kalau saya ajak Anda menyanyikan liriknya di bawah ini :
All my bags are packed, I'm ready to go,
I'm standing here outside the door
I hate to wake you up to say goodbye.
But the dawn is breakin', it's early morn',
The Taxi's waitin', he's blowin' his horn.
Already I'm so lonesome I could die.
Kemudian untuk refrein, mari kita nyanyikan yang di bawah ini :
So kiss me and smile for me,
Call my folks in Tripoli,
Tell them that Khadafi made me go.
I'm a Libyan on a jet plane,
Don't know if I'll be back again.
Moammar, I hate to go.
Meniru Untuk Mengejek. Adakah sesuatu hal yang aneh, mungkin lucu, telah Anda rasakan ketika menyanyikan refrein ini ? Lirik itu diilhami serangan pesawat-pesawat jet AS pada tahun 1986 yang menjatuhkan bom-bom di Tripoli. Peristiwa pemboman AS itu menyusul peledakan pesawat PanAm di atas Lockerbie, Skotlandia, oleh teroris Lybia. Lybia harus dihukum karena dituding dunia menjadi sarang teroris saat itu.
Lirik itu menceritakan keengganan seorang pilot Lybia untuk terbang dan berperang melawan pesawat-pesawat tempur AS yang jauh lebih canggih. Tetapi ia harus melakukannya karena dipaksa presiden yang diktator, Moammar Khadaffy.
Judul lagunya : “Lybian on a jet plane ”
Dari judul dan liriknya, kita segera tahu bahwa lagu itu tidak lain merupakan parodi dari lagu “Leaving on a jet plane.” yang aslinya diciptakan oleh penyanyi country John Denver. Kalau Anda mampu tersenyum, atau mungkin terbahak, maka parodi itu berhasil.
Anda masih ingat saat menonton monologis Butet Kertaredjasa menirukan suara mantan Presiden Soeharto, Harmoko atau Susilo Bambang Yudhoyono ? Di dalamnya tidak ada sama sekali ucapan Soeharto, Harmoko atau pun SBY yang bernilai lucu, tetapi Anda sudah tergerak untuk tersenyum simpul ? Bila memang demikian halnya, maka parodinya, atau ulah meniru untuk mengejek yang ia lakukan itu, boleh dibilang berhasil pula.
Demikian pula bila Anda melalui layar televisi menyimak penampilan kelompok musik humor TeamLo yang vokalisnya bernyanyi dengan gaya mengedut-ngedutkan paha. Kalau Anda segera mengingat gaya Freddy Mercury dari kelompok Queen, maka parodi kelompok musik humor asal Solo itu pun bisa dibilang berhasil.
Mari kita bicara khusus tentang TeamLo.
Seperti ditulis oleh wartawan Frans Sartono (Kompas, 17/7/2005), mengutip ucapan vokalis TeamLo bahwa, “musik kami full parodi, jarang main penuh, kecuali ada permintaan.” Maka muncul plesetan dalam lagu dan lirik mereka. Intro lagu “Billie Jean” dari Michael Jackson misalnya, digunakan untuk masuk ke lagu dangdut “Bang Toyib”.
TeamLo yang paham benar kekuatan visual televisi kemudian juga menggarap aspek visual sebagai bahan lawakan, seperti memarodikan sosok artis terkenal. Seperti diungkap lebih lanjut oleh Frans Sartono, Wawan (vokalis Teamlo), pernah tampil dalam sosok dan mimik mirip Chrisye. Jurus ini terbukti berhasil mengundang tawa penonton.
Jurus tersebut kemudian dieksploitasi lebih lanjut oleh TeamLo. Sehingga dalam pentas khususnya di TPI 27/1/2006 yang lalu, mereka mampu memarodikan 23 penyanyi top Indonesia. Sebagai “korban” antara lain Ariel Peter Pan, Arman Maulana, Beby Romeo, Gombloh sampai Koes Plus. Prestasi Wawan Bakwan, vokalis TeamLo itu, membuatnya tercatat dalam MURI (Museum Rekor Indonesia).
Rumus Ampuh Perret. Gene Perret, penulis kepala untuk lawakannya Bob Hope dan pemenang tiga kali Emmy Award, pernah mengungkap resep baku dalam menulis lawakan.
Antara lain telah Perret katakan : It must relate to the audience. Harus relevan dan mempunyai kaitan dengan penonton. Pentas parodi yang dilakoni oleh TeamLo jelas bersandar pada formula ini, bukan ?
Kalau saja TeamLo nekad menyanyikan lagu, katakanlah “Me and Bobby McGee”, mungkin yang tertawa tidak ada. Kecuali hanya Gus Dur saja. Lagu yang isinya inspiratif bagi pejuang demokrasi ini, dinyanyikan oleh Janis Joplin, merupakan lagu kesayangan mantan presiden RI yang humoris itu.
TeamLo tentu lebih memilih lagu dan aksi panggung yang akrab dengan penonton. Kemudian kita merasakannya, bagaimana penonton bereaksi saat menonton suguhan parodi TeamLo itu. Mereka tergerak atau berebutan saling memberitahu. Atau saling menebak karakter yang muncul dari ulah metamorfosis aksi dan lagu yang dibawakan Wawan Bakwan tersebut. Penonton merasa punya kaitan dengan setiap aksi TeamLo.
Dalam pentas lawakan yang bukan parodi, penonton sebenarnya juga merindukan interaksi yang sama. Mereka ingin digelitik dan aktif diajak ikut berperanserta dalam proses identifikasi. Tak ayal seorang pakar pemasaran Seth Godin, menyebut bahwa “parodi adalah virus gagasan.” Maksudnya, parodi merupakan topik atau isu yang mampu menarik dan memancing pembicaraan orang. Dengan dibicarakan, maka ide itu pun kemudian mudah pula menyebar.
Kita lihat dampaknya : ketika penonton mampu mengenali tokoh atau situasi parodi yang muncul dalam benaknya, dan ia nilai lucu, mereka pun akan rela tertawa. Apalagi kalau dalam benaknya yang muncul ternyata dirinya pribadi, maka ia akan terpicu untuk tertawa lebih keras lagi. Tentu saja, mereka kemudian tergerak untuk menceritakannya pula.
Sayang, dalam sajian lawakan yang muncul di televisi-televisi kita, formula Perret yang ampuh dilakoni oleh TeamLo itu seperti tidak berlaku. Lihatlah, di panggung televisi kita inflasi pemunculan pelawak pria dengan berbusana perempuan. Bergaya sebagai waria. Atau muncul sosok-sosok berpakaian aneh, baik pria atau pun perempuan. Mereka dengan tampil memakai wig warna-warni. Bahkan muncul dengan sosok sebagai setan.
Apakah karakter-karakter aneh semacam itu mereka mampu menjadi relevan dan terkait dengan mayoritas penonton ? Saya kira tidak sama sekali. Kalau pun terkait, kebanyakan tidak dalam suguhan cita rasa lawakan yang cerdas. Apalagi elegan. Karena lawakan di televisi kita seolah tak pernah jauh bergeser dari melucukan bau ketiak, cipratan ludah, bunyi dan bau kentut, serta seks yang vulgar.
Formula mendasar. Dunia lawak Indonesia, hemat saya, seyogyanya sudi menyelisik untuk meneladani formula lucu yang amat mendasar dari TeamLo ini. Mula-mula mereka mengajak para penonton untuk mengenali suguhannya, kemudian tiba-tiba membelokkannya secara tidak terduga. Sehingga muncul adalah kelucuan-kelucuan yang eksplosif.
“Hide the joke whenever possible. Get some surprise into the punchline. Don’t let the audience see it coming”, tutur Gene Perret lagi.
Hadirkanlah selalu kejutan. Persis seperti situasi yang telah diulas oleh Frans Sartono tentang ulah TeamLo yang urakan, ketika menjutaksposisikan lagu “Billie Jean” dengan lagu dangdut “Bang Thoyib.”
Proses metamorfosis yang terjadi berupa aksi plesetan, mula-mula berangkat dari lirik lagu yang berbunyi “Billie Jean is not my lover” lalu tiba-tiba menjadi dangdut, kini dengan lirik “Bang Toyib is not my lover”
Baiklah. Sebagai penutup, bagaimana kalau kita lanjutkan menyanyikan lagu “Lybian on a jet plane” tadi ?
Aircraft carrier J.F.K.
Come to blow our chemical plant away,
But we keep telling them it's
just pharmaceutical.
So kiss me and smile for me,
Call my folks in Tripoli,
Tell them that Khadafi made me go.
I'm a Libyan on a jet plane,
Don't know if I'll be back again.
Moammar, I hate to go.
Wonogiri, 6 Februari 2006
Friday, December 23, 2005
Widhiana Laneza : 20 Desember 2005
Oleh : Bambang Haryanto
Email : epsia@plasa.com
Wir haben, wo wir lieben, ja nur dies :
einander lassen; denn dass wir uns halten,
das fällt uns leicht und ist nicht erst zu lernen.
(Rainer Maria Rilke, 1875–1926
Penyair Jerman)
The MySpace Generation. “Mereka hidup secara online. Mereka berbelanja secara online. Mereka bermain secara online. Kekuatan mereka semakin menguat.” Itulah judul laporan utama majalah bisnis terkemuka, Business Week (12/12/2005).
Anak-anak muda kini hidupnya semakin terintegrasi dengan sarana-sarana teknologi informasi dan layanan yang tersedia. Mereka juga semakin tergantung pada apa yang disebut sebagai jaringan sosial online, termasuk bersaranakan blog, untuk menancapkan identitas sosial mereka.
Situs blog seperti MySpace sampai Xanga.com, adalah tempat nongkrong online yang semakin populer. Dalam lingkar pergaulan seperti itu, virtual community center, pusat komunitas maya, mereka dapat curhat, menemukan tempat untuk mengadu saat patah hati, mendapat teman untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah, dan alamat serta acara pesta Sabtu malam.
Walau pun jaringan semacam ini perkembangannya masih dalam tahap awal, tetapi kalangan ahli memperkirakan bahwa kini telah tercipta suatu bentuk kebiasaan sosial yang baru, yang mengaburkan perbedaan antara interaksi secara online dengan interaksi di dunia nyata.
Artikel itu sungguh mengusik saya.
“Apakah diriku juga sudah terjerumus ke kubangan kebiasaan sosial baru di atas ?”
Seperti juga Anda, saya menulis blog untuk kesenangan. Senang pula bisa mengetahui isi kepala blogger lain, seperti Andrew Sullivan, Caterina Fake, Dan Gillmor, Dave Wiener, Glenn Reynolds, Jeff Jarvis, Jeff Rosen (ini professor sekaligus blogger), Joe Trippi, Mickey Kaus, Nick Denton, Peter Rojas, Robert Scoble sampai si rambut jabrik Xeni Jardin.
Bisa puas lagi bebas mengeluarkan uneg-uneg sampai gagasan dengan gaya personal. Semau kita. Tak ada lagi batasan tirani kolom atau diktator media. Aktivitas yang mengasyikkan, terlebih seperti diungkap oleh Bapak Pencipta Snoopy, Charles Schulz, karena pahalanya justru otomatis ternikmati ketika kita lagi mengerjakannya.
The reward is in the doing.
Bila tulisan mendapatkan komentar dari blogger lain, itu adalah bonus. Termasuk bisa berkenalan dengan teman-teman baru, tempat meminta nasehat dan bimbingan. Konsultan blog saya yang baik hatinya, Tina, tinggal di Ulm, Jerman. Atau sekadar saling bertukar cerita-cerita jenaka.
Bahkan saya punya sahabat online, Lasma Siregar, mengaku sebagai TKI di Melbourne, Australia, yang luar biasa. Dia sudah lebih dari setengah lusin kali membanjiri saya dengan hadiah : buku-buku hebat, decoder (buku unik, bukan alat TV), artikel, kaos, sampai majalah-majalah Playboy edisi era Jurrasic.
Mungkin karena saya sudah berumur 53 tahun, oleh Lasma Siregar sengaja dipilihkan edisi majalahnya Hugh Heffner itu yang khusus memuat artis-artis yang kini pasti sudah jadi nenek-nenek.
Anda tahu artis Indonesia, Ratna Assan, puteri Devi Dja dari kelompok hiburan Dardanella, yang satu jaman dengan Tan Tjeng Bok ? Ratna Assan pernah tampil polos saat ikut membintangi film Papillon bersama Steve McQueen. Di majalah Playboy edisi era brontosaurus :-)) itu Ratna Assan berpose dengan penuh pesona.
Well, dengan menulis di blog, kejutan demi kejutan juga mewarnai hidup saya. Disapa oleh seseorang yang tidak dikenal, ternyata mengaku sama-sama sebagai warga WNA. WoNogiri Asli. Atau oleh sesama mahasiswa seangkatan, tapi beda jurusan, yang dulu justru tidak saling kenal.
Blog bagiku kini juga tiba-tiba ibarat mesin waktu. Hal-hal yang selama ini nampak maya, berjarak, seperti main-main dan tidak serius, ternyata ketika menjadi realitas mampu hadir menggetarkan. Karena blog pula, masa lalu tiba-tiba di ujung Desember 2005 ini merenggutku untuk kembali. Dengan bahasa panggil yang sangat berbeda.
Oleh dia. Oleh sebuah nama.
Widhiana Laneza.
Widhiana Laneza
Satu Tahun Lalu : 2004. Kamis, 28 Oktober. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang) Wanita-Wanita Terindah : Jacquline Bisset. Isabelle Adjani. Sherry Bilsig, pramugari dalam Die Hard 2 : Die Harder. Arie Kusmiran. Miduk. Kenil. Cresenthya Hartati. Widhiana Laneza. Dwi Retno “Tutut” Setiarti. Erika "Michiko" Diana Rizanti. (Posting di blog Buka Buka Beha/28 Oktober 2004).
Lima Bulan Lalu : 2005. Senin, 11 Juli. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an) ”WTS-WTS” Yang Memesona. Di komplek kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rawamangun, terdapat taman yang dipayungi rimbun pepohonan yang diisi beberapa kupel dan bangku taman. Di sana-sini mangkal pedagang makanan.
Komplek ini tiap hari kuliah selalu ditaburi sosok-sosok yang mampu melahirkan inspirasi, bukan saja cantik dan jelita, tetapi juga memesona. Mereka itulah yang lajim disebut sebagai para “WTS” : Wanita Taman Sastra.
Misalnya, dari Arkeologi ada Widhiana Laneza. Bercelana jin biru, baju jin biru pula, rambut panjangnya digerai. Mirip penyanyi rock. Kacamatanya frame besar seperti yang dipakai komedian Drew Carrey. Mirip sosok tokoh feminis terkenal, Gloria Steinem. Bagiku, ini pemandangan yang memesona.
Ada pula Deasy Indriati, yang mungil dan gemintang. Dari Ilmu Perpustakaan : Saraswati, Sri Mulungsih, Arlima Mulyono (adik dari pelawak Warkop, almarhum Nanu Mulyono), Poppy sampai Evy yang mengejar-ejar cinta saya.
Dari Sastra Cina, misalnya penyanyi Christine Panjaitan. Teman kentalnya, Prianti Gagarin Singgih, yang seperti cewek bule Amerika. Sosok menawan dari Sastra Inggris antara lain, Siti Rabyah Parvati. Ayahnya dari Padang, ibunya, Ibu Poppy, priyayi dari Solo.
Rumah eyangnya di Solo kini menjadi lokasi berdirinya Balai Sudjatmoko. Intelektual raksasa dan Rektor Universitas PBB di Tokyo tersebut tidak lain adalah oomnya Siti Rabyah Parvati, yang akrab dipanggil Upik ini. Ayah Upik adalah Perdana Menteri Sutan Syahrir. (Posting di blog Esai Epistoholica No. 24/Juli 2005/11 juli 2005).
Tujuh Bulan Lalu : 2005. Selasa, 14 Juni. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an). Rayuan Bu Dosen Perancis. Cita rasa saya terhadap wanita yang ada “bau-bau” Perancisnya, tetapi bukan wanita impian yang hanya bergerak-gerak di layar-layar bioskop, saya temui pada diri seorang Anez.
Mahasiswi Sastra Perancis.
Juga arkeologi.
“Namamu pakai huruf z, terasa eksotis”, pujiku. Ia menerangkan bahwa namanya diilhami dari kosa kata bahasa Spanyol.
Nama Spanyol, cinta Perancis. Saking kentalnya Anez dengan Perancis, anjingnya yang kecil dan lucu, juga punya nama dalam bahasa Perancis : Grigri. Artinya, jimat. Saat itu dengan bantuan teman, saya membuat kop surat dengan komputer. Tertulis “Grigri Petshop” lengkap dengan alamat rumahnya, yang disambut Anez dengan tertawa-tawa.
Sayang, bahasa Perancisku tidaklah canggih. Aku pernah ikut dalam mata kuliah Bahasa Sumber di FSUI, kini Fakultas Ilmu Budaya UI. Di sini setiap mahasiswa, baik Arkeologi, Ilmu Perpustakaan (jurusanku) dan Filsafat (jurusannya Dian Sastro kini), Sastra Arab, Sastra Belanda, Sastra Cina, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jawa, Sastra Jepang, Sastra Jerman, Sastra Perancis, Sastra Rusia dan Sejarah, wajib mengikuti mata kuliah tersebut. Para mahasiswa boleh memilih : bahasa Belanda, Italia atau Perancis.
Aku memilih Perancis. Tetapi karena metode belajarku tidak efektif, selain tuntutan untuk berfokus pada mata kuliah di jurusanku sendiri, membuat mata kuliah Bahasa Perancis ini menjadi kurang membahagiakanku. Apalagi, mungkin ini bisa disebut sebagai ge-er berat, ibu dosen Perancisku yang masih muda dan charmant itu, aku rasa, terlalu berlimpah memberikan perhatian rada khusus pada diriku. Memuat rayuan terselubung. Godaan yang menggairahkan. Mendebarkan dan menggelisahkan.
Teman sekelasku dari jurusan yang berbeda, yaitu cewek-cewek yang radar atau naluri kewanitaannya peka, sering mencandaiku akan hal spesial satu ini. Termasuk pula Upik, anak Sastra Inggris dan putri mantan Perdana Menteri RI Sutan Syahrir, yang sering aku repoti ketika aku sulit mengerjakan PR atau saat tes-tes dadakan Bahasa Perancis.
Semua gunjingan itu membuatku jadi jengah. Aku seperti Benjamin Braddock yang naif di depan Mrs. Robinson yang berpengalaman. Akhirnya, aku melakukan desersi. Hanya ikut kuliah bahasa Perancis itu satu semester. Au Revoir ! Lalu pindah ke mata kuliah Bahasa Belanda.
Kembali ke Anez. Aku belum berani membelai Grigri, anjing kesayangannya itu. Aku merasa kurang yakin bahwa diriku memiliki keramahan alami untuk seekor anjing. Pernah saya bertemu seekor anjing, di mana mulutku tidak berkata apa-apa kepadanya. Hanya sorot mataku ingin berkata : “Hei, kamu anjing jelek”. Kami pun berpapasan dengan damai. Tetapi, sekejap kemudian, saya rasakan sebuah gigitan mencengkeram tumit saya. Anjing itu rupanya memahami bahasa nonverbal saya.
Untung rabies tidak mendera saya.
Grigri dan Anez, sungguh ajaib, menjadi pemicu terbitnya buku kumpulan lelucon satwa, yang saya tulis, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987). Begitulah modal rayuan saya. Perasaan jatuh cinta yang mendalam telah berujung dengan terbitnya sebuah buku.
Kutipan sebagian isinya :
“Apakah Grigri seekor anjing penjaga yang baik, Anis ?” “Yah, lumayan. Kalau mendengar gemerisik di malam hari, aku harus membangunkan dia dan barulah ia menyalak.”
Aku telah menghabiskan waktu 5 bulan untuk melatih anjingku agar menjadi anjing penjaga yang baik dan berani. Istriku juga mengajarinya membawakan keranjang belanjaan dan surat kabar. Suatu hari rumahku didatangi pencuri, dan apa yang terjadi ? Anjing sialan itu memegangi obor dan menerangi pencuri dalam beraksi.
Sebuah perusahaan industri makanan anjing berhasil mengeruk keuntungan yang melimpah lewat produknya yang terbaru. Konon makanan itu cita rasanya persis sama dengan kaki pegawai pengantar pos !
Proses (penulisan buku) yang terjadi memang menggairahkan, mungkin tercampur dengan mabuk, terpagut ekstasi, sekaligus tidak memikirkan apa hasil akhir yang terjadi. Kalau Anda percaya, itulah fenomena menakjubkan yang disebut sebagai flow, mengalir, temuan psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dari Universitas Chicago.
Flow adalah kondisi bahagia dan terkonsentrasi yang seakan-akan tidak dibatasi waktu, yang Anda raih ketika pekerjaan tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu sederhana, namun cukup menarik untuk memikat seluruh perhatian Anda. Flow sering bersamaku ketika menulis surat-surat rayuan yang panjang atau bergulat merampungkan tulisan-tulisan yang membahagiakan.
Mengilas balik di antara momen-momen interaksi yang istimewa dan terjadi dengan Anez, adalah ketika saya ikut makan malam dengan ayah dan ibunya. Beliau adalah seorang duta besar di pelbagai negara francophone, negara-negara yang kuat dipengaruhi budaya Perancis, di benua Afrika. Terakhir menjadi duta besar di Kamboja.
Ketika malam itu obrolan bergulir tentang makanan, saya menyinggung kegemaran orang Perancis yang keranjingan makan escargot. Bekicot. Saya memberanikan diri nyeletuk, “Orang Perancis suka makan bekicot, membuat mereka jadi lamban ketika ditagih bayar hutang”.
Pak dutabesar meledak dalam tawa. Tetapi putrinya saat itu tidak antusias untuk ikut tertawa. Sinyal lampu merah tentang masa depan pdkt, pendekatan saya telah menyala. (Cuplikan dari posting di blog Esai Epistoholica No. 21/Juni 2005/Selasa, 14 Juni 2005).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 September. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun jam 09.00, nerusin halaman 4 surat untuk Ria, tapi ogah memposinnya segera. Jam 12.00 keluar, innerku bilang, “kalau kamu pas goreh begini, tidak sarapan, pucat begini, kisruh begini...jangan-jangan ntar malah kepergok Anez.” Aku ke kantor pos : dapat 5 wesel dan 1 surat untuk ITSC (Ideas T-Shirt Club) dari tetangganya Ria, sama-sama Tawakal ; memposin surat ke Ria.
Aktivitas baru, nongkrong di shelter : jam 12.15. Innerku benar, di seberang sana, jalan sendirian, di mulut gang bertemu teman-temannya, ada cewek berjean dan baju merah kecoklatan :
Itulah Anez, Widhiana Laneza, cewek Arkeologi 82 yang sejak 1981 telah memenjarakanku dalam impian, “aku itu pengin mencintai dia, tapi jalan pengecutku selama ini, udah 5-6 kontak via surat, tak ada hasilnya”.
Saat itu, kerna perfeksionisku, aku memutuskan untuk off, ke fotokopi. “Hati gundah. Oalah, betapa kerdilnya aku ini” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 30 September. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun jam 08.00, ke JIP (kampus FSUI). Ke BAP : aku ambil ijazah SIP-ku, hari ini, dan sudah jadi. Ijazahku itu (baru dua tahun kuambil setelah kelulusanku) tak berdampak apa-apa padaku, “kenapa ya ?”. Keluar dari kampus FSUI... Jam 11.30. aku sudah di shelter, nongkrong. Ada bis 38, kukira 39, dan intuisiku berkedip-kedip, “Anez mana ?”
Dari pintu depan tak ada, ketika panning ke pintu belakang, “Ya Tuhan, itu Anez !”, gadis yang selama 4-5 tahun ini hanya hidup di angan-anganku. Hari ini ia berjean lusuh, t-shirt beige (coklat kemerah-merahan) dengan lengan dipotong, rambut tergerai nampak kusut, ia nampak kurus, berjalan tak acuh.
Seluruh badanku terasa beku : aku mau apa saat itu ? Mulutku tak bisa memanggilnya, aku cuman berjalan untuk memandanginya. Anez terus saja melangkah. Tanpa hirau. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 4 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari ini, beberapa menit yang lalu, aku memberanikan diri untuk ketemu dan ngobrol a la kadarnya dengan Anez, Widhiana Laneza, di shelter Sunan Giri (15.30 WIB). Sebelumnya aku emang nunggu di shelter Rawamangun, eh dia malah lewat bersama temennya, acuh tak acuh di depanku, ke timur. “Apa yang harus aku lakukan ?”
Aku lalu membuntuti. Ia berhenti di shelter Sunan Giri : bercelana panjang warna khaki, baju garis-garis kecil warna coklat merah, menenteng tas kulit, saat itu temennya baru naik. Aku lalu berdiri di kirinya. Aku sapa :
“Anez ya ?”
Ia menengok. Aku mengajak salaman. Ia mau dan ramah. Aku bilang : “Aku yang pernah kirim surat kepada Anez” Dia tanya : “Sekarang kerja dimana ?’ Aku jawab, “bukan dimana, tetapi apa. Aku menulis”
Aku bilang, “aku malu, aku kan sulit ngomong, maka aku tulis surat”. Dia bilang, “iseng saja”. Kusahut : “tapi aku serius lho...”. Sambil ngomong itu aku memukul lembut pundaknya. Ia tak ada kesan benci atau menolak atas perlakuanku ini.
Oh ya aku tadi bilang : “Anez sekarang dimana sih ?” Ia nyebut alamat yang aku sudah tahu. “Saya pengin ngobrol atau main. Boleh engga sih ?”
Ia bilang : “boleh” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Rabu, 12 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Terima kasih, Tuhan, aku telah ketemu lagi sama Anez, di rumahnya. Sepanjang senja dan malam tadi.
Kamar tamu yang sederhana interiornya. Di tembok kiriku ada foto besar, pengangkatan babenya Anez, Taufik Rachman Soedarbo, sebagai duta besar di Senegal (?), 11 Juni 1982. Berfoto bersama Bapak/Ibu Presiden RI. Anez dalam foto itu berkain, nampak langsing, tinggi, di dekat babenya.
Lalu Anez keluar, dikerubuti anjing-anjingnya. Yang hitam bernama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis) dan anjing merah bernama Pancho atau Cakil. Anjing putih yang di luar, galak (yang menyalakku kemarin Sabtu) dia sebut Minggo. Anez saat itu berdress : celana jean biru, baju biru, di kaki ada gelang emas, tangan bergelang, pakai jam tangan seperti di foto opspek.
Anez nampak antusias cerita tentang anjing. Aku berusaha menimpali dengan tanya, “anjingnya Liz Taylor yang bisa dikantongi itu jenis apa ?” sampai cerita humor seputar anjing yang bikin redaksi (koran) kalang kabut. Anez juga cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris, Sekolah Teknik Tinggi dan satunya lagi di komputer. Anez pengin ambil kursus komputer.
Malam itu, hmmm, aku ikut makan malam bersama ayah dan ibunya Anez. “Ini orang Jawa asli”, kata Anez mengenalkanku. Pak Taufik tanya, “Dari mana ? Jawa Timur ?” Aku bilang, Jawa Tengah. Wonogiri. Solo ke selatan. Beliau tidak tahu. “Engga pernah dapat pelajaran ilmu bumi”, kilah beliau.
Bapak dan Ibu Taufik makannya pakai tangan. Muluk. Ketika saya nanya mengenai makanan khas Afrika, cerita Pak Taufik banyak sekali dan aku asyik mendengarkannya. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Kamis, 13 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 19.30 : aku sampai ke rumah Ria. Ngobrol tentang buku humor dokter, juga tentang surat kabar kampus Warta UI (Ria jadi anggota redaksinya). “Kayak baca Suara Karya”, celetukku. Ria bilang, “Makasih Mas Hari”. Sambil ngakak.
Ria bilang (dirinya) udah damai sama papanya. Udah (pula) kursus Perancis. Akhirnya aku buka kartu ke Ria : “aku kini lagi berburu cewek.” Aku suka sama dia engga (ada bumbu) romantisnya, engga ada sexual drive, tapi datar-datar saja. Rasional. Cewek itu anonim bagi Ria. (Kusebut juga) suka Perancis dan aku sebut ia (sebagai) Garuda : terbang sendiri dan mandiri. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 15 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 11.30 berangkat pula jadinya, dan, di shelter Rawamangun terus tergambar Anez di sana. Sampai di JIP-FSUI, temu Ibu Soma (Ketua Jurusan). Hasil revisi skrip (yang aku tulis untuk televisi) diterima.
Engga banyak obrolan. Beliau cuman nawarin ; “mbok kamu belajar komputer, biar komputer ini engga underuse”. Aku jawab ya (dengan hati senang). Pulang. Mampir PO Box : dapat 2 surat ke ITSC, 1 tagihan dari Yani, dan Infokilat PDIN, (isinya antara lain daftar isi ) majalah Discover (September) yang ada artikel arkeologi : “moga-moga Anez bulan ini juga telah menerimanya”. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 29 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Baru saja aku nelpon Anez. “Ada apa ?’, tanya Anez. Aku agak nervous nanya bab seminar Arkeologi Publik, 2-3 Desember 1986. “Sebagai pendengar boleh kok”, katanya.
“Oh ya, kabarnya Grigri ?”, tanyaku. “Baik-baik aja. Sekarang baru mau makan”, jawab Anez. “(Anjing) yang kecil, siapa sih ?”. Anez jawab, “Bobi. Dan makasih untuk fotokopinya. Sudah diterima” Aku : “Yeah, mudah-mudahan ada gunanya” (Anez mengiakan : “ada gunanya, kok”).
“Udahan ya, Anez”
Jawab dia : “Kalau mau nelpon, nelpon aja”
“Yuk. Dadag” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 2 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 9 sudah tiba di (gedung pertemuan di komplek UI Rawamangun) Sarwahita. Upacara seminar dibuka, aku masuk. Suasana orang-orang Arkeologi FSUI adalah, “yeah, suasana jurusan yang kering, tidak favorit, underdog, tersingkir”, gitu kesanku. Seperti juga jurusanku.
Aku ikut mendengarkan makalah pertama, “Museum dan Arkeologi”, oleh Bambang Soemadio dan penanggap Aristides Katopo. Isunya : bagaimana meningkatkan kesadaran publik tentang museum dan arkeologi.
Jam 12, aku cabut, dipelototi banyak mata. Nampaknya Anez tidak ada di antara mereka. Di pintu temu Paulina, Arkeologi 1986, (sebelumnya aku kenal sebagai) anak Himpunan Astronomi Amatir Jakarta/HAAJ. Ngobrol sebentar. Lalu aku off ke (perpustakaan) PPIA.
Melihat cewek berkaki putih, innerku bilang : “Itu Upik kah ?”. Tapi aku membantah sendiri. Tapi ya, ia bener-bener Upik. Kita (lalu) terlibat ngobrol. Ia belum lulus (Sastra Inggris UI). Daftar artikelku dulu (untuknya) mubazir. Ya udahlah.
Aku berkomentar mengenai surat pembaca (yang ia tulis) di majalah Tempo. “Wah, kayak Cory Aquino”. Ia nampak senang, dengan sikap mau memukul. Komentarku lanjut : “mau jadi golput ya ?”
Upik Syahrir pergi ke rak, aku scanning majalah Scientific American. Nampak ia mau cabut, aku pura-pura tak tahu. Eh, Upik menghampiri kursiku dan bilang, “duluan, ya”.
Perpustakaan PPIA tak lagi menarik. Aku pulang, sambil menyapa “mBak PPIA” (yang kukira udah pindah). Ia bilang, “lama tidak ke sini ya ?” Aku jawab : “sore hari”. Pulang, jam 13.30. Scanning shelter UI (Rawamangun) : tak ada Anez. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Senin, 8 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari ketemu banyak orang : Museum Satria Mandala, aku ikut acara Pengarahan Kursus Perpustakaan Mabes ABRI 86/87. Aku tiba on time, temu banyak ABRI : letnan kolonel. Aku duduk di barisan (dosen-dosen) UI.
Ke PDII, temu mbak Jati dan Suwarto. “Untung deh gue”. Riset majalah Romantika Arkeologia (FSUI) : temu berita bagus : Anez baca makalah tentang perkotaan kuno pra-Islam di acara diskusi. “Hebat juga anak satu ini ; dan aku tidak salah pilih ya ? Ia ilmuwan, aku juga, he..he”
Ini mengkhayal bab Anez : “kurasa dia itu juga cinta ilmu seperti juga aku ; dari luar sederhana tapi isi kepalanya cukup kompleks; dan pendekatanku selama ini kira-kira cocok engga ? Ya, embuhlah.....”
Dari PDII, aku tur ke Redaksi Pelita : ambil honor artikelku (“Terorisme Media”), 4 Nov 1986, “dapat Rp. 30.950,00”. Okay. Mampir American Cultural Center (Wisma Metropolitan 2), melamar jadi anggota. Ketemu bu Is Prayoga (kepala perpustakaannya dan dosenku) : “Buset, kerjaku freelance dikaitkan sama status singleku. Dia bilang aku harus cepat-cepat kawin”. Wah, aku menjawab : “Nasehat ibu saya dengarkan”. He-he, status freelance-ku kok tidak bercitra positif ya ?
Haus fotokopi artikel, eh, ketemu bab “melatih anjing”, aku ingat Anez : 24 halaman. Aku sangsi, jadi atau engga ? Akhirnya, demi cinta, harga segitu kupandang murah atau tak seberapa. Okay, aku fotokopi aja (artikel) “Four Ways To Walk a Dog” dari majalah Atlantic Monthly (April 1986) itu. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun pagi, tak ada orientasi. Seharian merampungkan desain (t-shirt) ITSC : Reagan – selesai. Pagi : menyalin dan menyalin surat cinta untuk Anez, “tapi gundah lagi, ditunda lagi”. OK.
Mandi sore untuk meredakan gundah dan bara di kepala dan dadaku sehubungan dengan cintaku pada Anez dan kesepian-kesepianku. Belum reda. Malam : box, blong, dan rasa sepi itu makin merujit-rujit. Ya Tuhan, begini hidupku. Escape : makan soto, kenyang, agak adem hati ini. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu :1986. Senin, 29 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari bersejarah dalam karirku sebagai penulis. Aku menyerahkan naskah kepada penerbit : naskah sebuah buku, buku kumpulan humor satwa, dengan motivasi : mempersembahkan karya itu bagi orang yang ingin aku cintai, Widhiana Laneza ! Anez, sebutannya. (Buku Harian).
Petikan isinya lagi :
”Mengapa engkau menangis, Ani ?”
“Aku sedang sedih karena anjingku mati pagi ini”
“Lho ? Mertuaku juga baru saja mati, tetapi aku tidak bersedih seperti kamu saat ini.”
“Iya, habis kamu tidak membesarkan mertuamu sejak kecil”
”Aku telah menemukan cara terbaru untuk mengusir pinjal dari tubuh anjingku.”
“Bagaimana caranya ?”
”Gampang ! Anjingku kuajak naik pesawat terbang, lalu pilotnya kusuruh untuk berakrobat di udara. Pinjal-pinjal itu menjadi ngeri dan mereka pun berhamburan pergi.”
Seekor ayam babon tua memanggil sekelompok ayam babon muda. “Maukah kalian mendengar nasehatku ?”, tanya si Tua.
“Nasehat apa ?”
“Sehari sebutir telur menjauhkan lehermu dari pisau dapur”
Sembilan Belas Tahun Lalu :1986.Rabu, 31 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Aku nelpon Anez. Ia bilang, fotokopi tentang anjing itu telah ia terima. Juga cerita tentang jadwal ujiannya, awal Januari 1987, dan bahkan ia cerita pengin kerja freelance. “Kerja apa ?”, tanyaku. “Engga tahu. Bapak yang mencarikannya”
“Pada diri Anez apa yang bisa dijual ?”, tanyaku. Bercanda secara otomatis muncul. Terdengar dia tertawa besar. Segar. “Maksudku, skillnya”, jelasku. “Bahasa”, kata Anez.
Anez nanya ; “Apa acara Tahun Baru ?”. “Evaluasi tahun 1986,” kataku, dan “rencana tahun 1987”, Anez menambahkan. Aku bilang : “biasanya semangat tinggi ada di bulan Januari, sesudah itu biasa-biasa lagi” (Buku Harian).
Delapan Belas Tahun Lalu : 1987. Jumat, 9 Januari. Rawamangun, Jakarta Timur. Aku nelpon Anez. Ia cerita anjingnya yang hilang. Si Cakil atau Pancho. Dicuri orang ? Ia cerita tentang pagar rumahnya yang bolong. “Anez nangis engga ?”, godaku. “Engga. Mudah-mudahan dicuri oleh pemiliknya”, kata Anez. “Lalu anjing baru, jenisnya apa ?”, tanyaku. Dan jawabnya : “Biasa. Anjing kampung”
“Jadi semua (anjingmu) serba kampungan ya ?”
Anez tertawa. Aku lalu nanya bab anjing Labrador, Alsatian, dan melucu tentang anjing Dachshund yang bisa dikomersilkan : untuk membersihkan cerobong asap. Anez bilang : “jangan kejam-kejam dong.” Aku me-recall humor tentang cewek yang disukai anjing bukan karena cantiknya, tetapi “she has a good bone structure. Anyway, all the dogs loves her”.
Anez inisiatif buka obrolan lain. Kali ini tentang rencana pertunjukan maestro ballet di Jakarta. “Rudolph Nureyev, kan ?”, sergahku.
Cocok.
“Tapi karcisnya mahal”. Anez menjawab : “Ya. Karcisnya mahal”. Aku usulkan : “lebih baik nonton videonya, lebih murah. Oh ya, Anez, aku sering terkicuh antara Nureyev dengan....”, dan Anez gantian cepat menjawab : “Mikhail Baryshnikov”
Cocok. Nyambung.
Aku nelpon kali ini tanganku yang pegang handle gemetaran. Lapar ? Masih soal Baryshnikov aku berkata : “kan dia kini lagi main film”. Anez kembali cepat menimpali : “White Night”.
Cocok dan nyambung lagi.
“Anez suka film semacam Return To Eden ?” Ia bilang : dulu suka, tapi sesudah melingkar-lingkar, ia bilang tidak mengikuti. “Itulah opera sabun”, kataku, dan kusambung cerita tentang penulis opera sabun versus istri tukang ledeng.
(Konon, ada penulis opera sabun yang pipa ledeng di rumahnya rusak. Ia nelpon tukang ledeng, tetapi yang menerima istrinya. Istri itu surprise setelah tahu yang menelpon itu penulis opera sabun favorit yang sering ia tonton di televisi. Ia lalu tergoda pengin tahu bagaimana kelanjutan kisah si tokoh utama. Katanya, “ kalau saya dibocorin lanjutan kisah si tokoh, saya akan meminta suami saya untuk membantu Anda. Kalau tidak dibocorin, saya akan tutup telepon ini” Si penulis opera sabun itu menyerah.)
Anez terdengar tertawa.
Aku bersiap menutup pembicaraan. Ketika koin keempat jatuh, menit ke 9 -12 mulai, aku bilang : “Tahu engga, bahwa Anez itu menarik ?” Anez tertawa. Surprise. Dapat tembakan rayuan. Tapi dia hendak mengelak : “Engga kok. Tapi engga tahu deh anggapan orang lain”
Saat itu aku hendak nerangin soal Johari Window, tapi tak jadi. Aku bilang lagi : “Bener kok, Anez itu menarik”. Ia tertawa lagi dan dengan cerdas ia berkelit. “Anyway, thank you”, katanya dengan tutur yang luwes. Sambil tertawa gembira. Aku juga.
“Yuk, dadag”, tutup Anez. (Buku Harian).
FAST FORWARD : Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. Saya menulis email balasan berikut ini :
Dear Mas Anto,
Terima kasih untuk email Anda, Mas Anto. Salam kenal. Saya mengingat, kalau tak salah ingat, Anez pernah cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris. Di elektro ? Apakah itu Mas Anto ?
Anez bercerita sepintas hal itu di rumah, sambil direcoki oleh Grigri (kata Anez, artinya "jimat" dalam bahasa Perancis) dan si Cakil, keduanya adalah anjing kesayangannya. Gara-gara anjingnya Anez itu sampai saya tergerak menyusun buku kumpulan humor satwa.
Suatu saat di telepon Anez cerita bahwa si Cakil itu pergi. Saya tanya ke Anez, apa jenis anjingnya itu ? Anez bilang, anjing kampung. Lalu saya tanya : semua anjingmu itu kampungan ya ? Anez hanya tertawa kecil.
Pernah juga saya katakan di telepon : "Anez itu menarik" Kalau saya ketemu sekarang, masih akan saya katakan : "Anez itu menarik" Saya yakin kini Tuhan Yang Maha Penyayang juga akan mengatakan bahwa Widhiana Laneza itu menarik, sehingga ia dipanggil lebih cepat untuk menghadapNya.
Saya ikut merasa kehilangan, Mas Anto.
Semoga Mas Anto, suaminya Anez, Ibu dan Bapak Taufik ("saya senang ketika diberi cerita beliau tentang makanan khas Senegal") dan keluarga besar di sini diberi ketabahan dan kekuatan iman.
"Selamat jalan Anez, semoga kau di surga sana mendapat tugas arkeologi yang lebih menantang"
Wassalam.
Hormat saya,
Bambang Haryanto
FAST FORWARD : Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. Sebelumnya saya mendapat email tak terduga-duga berikut ini :
Mas Bambang,
Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza, google.com memberikan situs blog anda "Buka Buka Beha", dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam list “wanita-wanita terindah” Anda.
Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.
Salam,
Anto,
kakaknya Anez.
Apa Daya Saya Hanya Manusia. Penyair Jerman Rainer Maria Rilke telah bilang, dalam cinta satu-satunya hal yang harus dipraktekkan adalah : berilah kebebasan bagi orang-orang yang Anda cintai. Kalau ingin membelenggunya, itu perkara mudah, kita tidak usah belajar tentangnya.
Kebebasan Anez, kebebasanku dan kebebasan kami, akhirnya membuat jatuh cintaku kepada Anez kandas. Aku bisa mengerti. Karen Carpenter, penyanyi favoritku yang mati muda di usia 33 tahun dalam “When I Fall In Love” seolah mengabadikan kepedihan itu :
In a restless world like this,
love is ended before it’s begun.
Hal ini pun, Anez, juga bisa aku mengerti.
Tetapi memperoleh kabar bahwa Widhiana Laneza telah dijemput kebebasan puncaknya sebagai manusia untuk kembali keharibaan Tuhan di bulan Desember ini, betapa momen menggetarkan dan penuh misteri dariNya tersebut masih terasa sulit untuk bisa aku mengerti.
Apa daya, saya hanya manusia.
Wonogiri, 22-23 Desember 2005
Email : epsia@plasa.com
Wir haben, wo wir lieben, ja nur dies :
einander lassen; denn dass wir uns halten,
das fällt uns leicht und ist nicht erst zu lernen.
(Rainer Maria Rilke, 1875–1926
Penyair Jerman)
The MySpace Generation. “Mereka hidup secara online. Mereka berbelanja secara online. Mereka bermain secara online. Kekuatan mereka semakin menguat.” Itulah judul laporan utama majalah bisnis terkemuka, Business Week (12/12/2005).
Anak-anak muda kini hidupnya semakin terintegrasi dengan sarana-sarana teknologi informasi dan layanan yang tersedia. Mereka juga semakin tergantung pada apa yang disebut sebagai jaringan sosial online, termasuk bersaranakan blog, untuk menancapkan identitas sosial mereka.
Situs blog seperti MySpace sampai Xanga.com, adalah tempat nongkrong online yang semakin populer. Dalam lingkar pergaulan seperti itu, virtual community center, pusat komunitas maya, mereka dapat curhat, menemukan tempat untuk mengadu saat patah hati, mendapat teman untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah, dan alamat serta acara pesta Sabtu malam.
Walau pun jaringan semacam ini perkembangannya masih dalam tahap awal, tetapi kalangan ahli memperkirakan bahwa kini telah tercipta suatu bentuk kebiasaan sosial yang baru, yang mengaburkan perbedaan antara interaksi secara online dengan interaksi di dunia nyata.
Artikel itu sungguh mengusik saya.
“Apakah diriku juga sudah terjerumus ke kubangan kebiasaan sosial baru di atas ?”
Seperti juga Anda, saya menulis blog untuk kesenangan. Senang pula bisa mengetahui isi kepala blogger lain, seperti Andrew Sullivan, Caterina Fake, Dan Gillmor, Dave Wiener, Glenn Reynolds, Jeff Jarvis, Jeff Rosen (ini professor sekaligus blogger), Joe Trippi, Mickey Kaus, Nick Denton, Peter Rojas, Robert Scoble sampai si rambut jabrik Xeni Jardin.
Bisa puas lagi bebas mengeluarkan uneg-uneg sampai gagasan dengan gaya personal. Semau kita. Tak ada lagi batasan tirani kolom atau diktator media. Aktivitas yang mengasyikkan, terlebih seperti diungkap oleh Bapak Pencipta Snoopy, Charles Schulz, karena pahalanya justru otomatis ternikmati ketika kita lagi mengerjakannya.
The reward is in the doing.
Bila tulisan mendapatkan komentar dari blogger lain, itu adalah bonus. Termasuk bisa berkenalan dengan teman-teman baru, tempat meminta nasehat dan bimbingan. Konsultan blog saya yang baik hatinya, Tina, tinggal di Ulm, Jerman. Atau sekadar saling bertukar cerita-cerita jenaka.
Bahkan saya punya sahabat online, Lasma Siregar, mengaku sebagai TKI di Melbourne, Australia, yang luar biasa. Dia sudah lebih dari setengah lusin kali membanjiri saya dengan hadiah : buku-buku hebat, decoder (buku unik, bukan alat TV), artikel, kaos, sampai majalah-majalah Playboy edisi era Jurrasic.
Mungkin karena saya sudah berumur 53 tahun, oleh Lasma Siregar sengaja dipilihkan edisi majalahnya Hugh Heffner itu yang khusus memuat artis-artis yang kini pasti sudah jadi nenek-nenek.
Anda tahu artis Indonesia, Ratna Assan, puteri Devi Dja dari kelompok hiburan Dardanella, yang satu jaman dengan Tan Tjeng Bok ? Ratna Assan pernah tampil polos saat ikut membintangi film Papillon bersama Steve McQueen. Di majalah Playboy edisi era brontosaurus :-)) itu Ratna Assan berpose dengan penuh pesona.
Well, dengan menulis di blog, kejutan demi kejutan juga mewarnai hidup saya. Disapa oleh seseorang yang tidak dikenal, ternyata mengaku sama-sama sebagai warga WNA. WoNogiri Asli. Atau oleh sesama mahasiswa seangkatan, tapi beda jurusan, yang dulu justru tidak saling kenal.
Blog bagiku kini juga tiba-tiba ibarat mesin waktu. Hal-hal yang selama ini nampak maya, berjarak, seperti main-main dan tidak serius, ternyata ketika menjadi realitas mampu hadir menggetarkan. Karena blog pula, masa lalu tiba-tiba di ujung Desember 2005 ini merenggutku untuk kembali. Dengan bahasa panggil yang sangat berbeda.
Oleh dia. Oleh sebuah nama.
Widhiana Laneza.
Widhiana Laneza
Satu Tahun Lalu : 2004. Kamis, 28 Oktober. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang) Wanita-Wanita Terindah : Jacquline Bisset. Isabelle Adjani. Sherry Bilsig, pramugari dalam Die Hard 2 : Die Harder. Arie Kusmiran. Miduk. Kenil. Cresenthya Hartati. Widhiana Laneza. Dwi Retno “Tutut” Setiarti. Erika "Michiko" Diana Rizanti. (Posting di blog Buka Buka Beha/28 Oktober 2004).
Lima Bulan Lalu : 2005. Senin, 11 Juli. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an) ”WTS-WTS” Yang Memesona. Di komplek kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rawamangun, terdapat taman yang dipayungi rimbun pepohonan yang diisi beberapa kupel dan bangku taman. Di sana-sini mangkal pedagang makanan.
Komplek ini tiap hari kuliah selalu ditaburi sosok-sosok yang mampu melahirkan inspirasi, bukan saja cantik dan jelita, tetapi juga memesona. Mereka itulah yang lajim disebut sebagai para “WTS” : Wanita Taman Sastra.
Misalnya, dari Arkeologi ada Widhiana Laneza. Bercelana jin biru, baju jin biru pula, rambut panjangnya digerai. Mirip penyanyi rock. Kacamatanya frame besar seperti yang dipakai komedian Drew Carrey. Mirip sosok tokoh feminis terkenal, Gloria Steinem. Bagiku, ini pemandangan yang memesona.
Ada pula Deasy Indriati, yang mungil dan gemintang. Dari Ilmu Perpustakaan : Saraswati, Sri Mulungsih, Arlima Mulyono (adik dari pelawak Warkop, almarhum Nanu Mulyono), Poppy sampai Evy yang mengejar-ejar cinta saya.
Dari Sastra Cina, misalnya penyanyi Christine Panjaitan. Teman kentalnya, Prianti Gagarin Singgih, yang seperti cewek bule Amerika. Sosok menawan dari Sastra Inggris antara lain, Siti Rabyah Parvati. Ayahnya dari Padang, ibunya, Ibu Poppy, priyayi dari Solo.
Rumah eyangnya di Solo kini menjadi lokasi berdirinya Balai Sudjatmoko. Intelektual raksasa dan Rektor Universitas PBB di Tokyo tersebut tidak lain adalah oomnya Siti Rabyah Parvati, yang akrab dipanggil Upik ini. Ayah Upik adalah Perdana Menteri Sutan Syahrir. (Posting di blog Esai Epistoholica No. 24/Juli 2005/11 juli 2005).
Tujuh Bulan Lalu : 2005. Selasa, 14 Juni. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an). Rayuan Bu Dosen Perancis. Cita rasa saya terhadap wanita yang ada “bau-bau” Perancisnya, tetapi bukan wanita impian yang hanya bergerak-gerak di layar-layar bioskop, saya temui pada diri seorang Anez.
Mahasiswi Sastra Perancis.
Juga arkeologi.
“Namamu pakai huruf z, terasa eksotis”, pujiku. Ia menerangkan bahwa namanya diilhami dari kosa kata bahasa Spanyol.
Nama Spanyol, cinta Perancis. Saking kentalnya Anez dengan Perancis, anjingnya yang kecil dan lucu, juga punya nama dalam bahasa Perancis : Grigri. Artinya, jimat. Saat itu dengan bantuan teman, saya membuat kop surat dengan komputer. Tertulis “Grigri Petshop” lengkap dengan alamat rumahnya, yang disambut Anez dengan tertawa-tawa.
Sayang, bahasa Perancisku tidaklah canggih. Aku pernah ikut dalam mata kuliah Bahasa Sumber di FSUI, kini Fakultas Ilmu Budaya UI. Di sini setiap mahasiswa, baik Arkeologi, Ilmu Perpustakaan (jurusanku) dan Filsafat (jurusannya Dian Sastro kini), Sastra Arab, Sastra Belanda, Sastra Cina, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jawa, Sastra Jepang, Sastra Jerman, Sastra Perancis, Sastra Rusia dan Sejarah, wajib mengikuti mata kuliah tersebut. Para mahasiswa boleh memilih : bahasa Belanda, Italia atau Perancis.
Aku memilih Perancis. Tetapi karena metode belajarku tidak efektif, selain tuntutan untuk berfokus pada mata kuliah di jurusanku sendiri, membuat mata kuliah Bahasa Perancis ini menjadi kurang membahagiakanku. Apalagi, mungkin ini bisa disebut sebagai ge-er berat, ibu dosen Perancisku yang masih muda dan charmant itu, aku rasa, terlalu berlimpah memberikan perhatian rada khusus pada diriku. Memuat rayuan terselubung. Godaan yang menggairahkan. Mendebarkan dan menggelisahkan.
Teman sekelasku dari jurusan yang berbeda, yaitu cewek-cewek yang radar atau naluri kewanitaannya peka, sering mencandaiku akan hal spesial satu ini. Termasuk pula Upik, anak Sastra Inggris dan putri mantan Perdana Menteri RI Sutan Syahrir, yang sering aku repoti ketika aku sulit mengerjakan PR atau saat tes-tes dadakan Bahasa Perancis.
Semua gunjingan itu membuatku jadi jengah. Aku seperti Benjamin Braddock yang naif di depan Mrs. Robinson yang berpengalaman. Akhirnya, aku melakukan desersi. Hanya ikut kuliah bahasa Perancis itu satu semester. Au Revoir ! Lalu pindah ke mata kuliah Bahasa Belanda.
Kembali ke Anez. Aku belum berani membelai Grigri, anjing kesayangannya itu. Aku merasa kurang yakin bahwa diriku memiliki keramahan alami untuk seekor anjing. Pernah saya bertemu seekor anjing, di mana mulutku tidak berkata apa-apa kepadanya. Hanya sorot mataku ingin berkata : “Hei, kamu anjing jelek”. Kami pun berpapasan dengan damai. Tetapi, sekejap kemudian, saya rasakan sebuah gigitan mencengkeram tumit saya. Anjing itu rupanya memahami bahasa nonverbal saya.
Untung rabies tidak mendera saya.
Grigri dan Anez, sungguh ajaib, menjadi pemicu terbitnya buku kumpulan lelucon satwa, yang saya tulis, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987). Begitulah modal rayuan saya. Perasaan jatuh cinta yang mendalam telah berujung dengan terbitnya sebuah buku.
Kutipan sebagian isinya :
“Apakah Grigri seekor anjing penjaga yang baik, Anis ?” “Yah, lumayan. Kalau mendengar gemerisik di malam hari, aku harus membangunkan dia dan barulah ia menyalak.”
Aku telah menghabiskan waktu 5 bulan untuk melatih anjingku agar menjadi anjing penjaga yang baik dan berani. Istriku juga mengajarinya membawakan keranjang belanjaan dan surat kabar. Suatu hari rumahku didatangi pencuri, dan apa yang terjadi ? Anjing sialan itu memegangi obor dan menerangi pencuri dalam beraksi.
Sebuah perusahaan industri makanan anjing berhasil mengeruk keuntungan yang melimpah lewat produknya yang terbaru. Konon makanan itu cita rasanya persis sama dengan kaki pegawai pengantar pos !
Proses (penulisan buku) yang terjadi memang menggairahkan, mungkin tercampur dengan mabuk, terpagut ekstasi, sekaligus tidak memikirkan apa hasil akhir yang terjadi. Kalau Anda percaya, itulah fenomena menakjubkan yang disebut sebagai flow, mengalir, temuan psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dari Universitas Chicago.
Flow adalah kondisi bahagia dan terkonsentrasi yang seakan-akan tidak dibatasi waktu, yang Anda raih ketika pekerjaan tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu sederhana, namun cukup menarik untuk memikat seluruh perhatian Anda. Flow sering bersamaku ketika menulis surat-surat rayuan yang panjang atau bergulat merampungkan tulisan-tulisan yang membahagiakan.
Mengilas balik di antara momen-momen interaksi yang istimewa dan terjadi dengan Anez, adalah ketika saya ikut makan malam dengan ayah dan ibunya. Beliau adalah seorang duta besar di pelbagai negara francophone, negara-negara yang kuat dipengaruhi budaya Perancis, di benua Afrika. Terakhir menjadi duta besar di Kamboja.
Ketika malam itu obrolan bergulir tentang makanan, saya menyinggung kegemaran orang Perancis yang keranjingan makan escargot. Bekicot. Saya memberanikan diri nyeletuk, “Orang Perancis suka makan bekicot, membuat mereka jadi lamban ketika ditagih bayar hutang”.
Pak dutabesar meledak dalam tawa. Tetapi putrinya saat itu tidak antusias untuk ikut tertawa. Sinyal lampu merah tentang masa depan pdkt, pendekatan saya telah menyala. (Cuplikan dari posting di blog Esai Epistoholica No. 21/Juni 2005/Selasa, 14 Juni 2005).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 September. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun jam 09.00, nerusin halaman 4 surat untuk Ria, tapi ogah memposinnya segera. Jam 12.00 keluar, innerku bilang, “kalau kamu pas goreh begini, tidak sarapan, pucat begini, kisruh begini...jangan-jangan ntar malah kepergok Anez.” Aku ke kantor pos : dapat 5 wesel dan 1 surat untuk ITSC (Ideas T-Shirt Club) dari tetangganya Ria, sama-sama Tawakal ; memposin surat ke Ria.
Aktivitas baru, nongkrong di shelter : jam 12.15. Innerku benar, di seberang sana, jalan sendirian, di mulut gang bertemu teman-temannya, ada cewek berjean dan baju merah kecoklatan :
Itulah Anez, Widhiana Laneza, cewek Arkeologi 82 yang sejak 1981 telah memenjarakanku dalam impian, “aku itu pengin mencintai dia, tapi jalan pengecutku selama ini, udah 5-6 kontak via surat, tak ada hasilnya”.
Saat itu, kerna perfeksionisku, aku memutuskan untuk off, ke fotokopi. “Hati gundah. Oalah, betapa kerdilnya aku ini” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 30 September. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun jam 08.00, ke JIP (kampus FSUI). Ke BAP : aku ambil ijazah SIP-ku, hari ini, dan sudah jadi. Ijazahku itu (baru dua tahun kuambil setelah kelulusanku) tak berdampak apa-apa padaku, “kenapa ya ?”. Keluar dari kampus FSUI... Jam 11.30. aku sudah di shelter, nongkrong. Ada bis 38, kukira 39, dan intuisiku berkedip-kedip, “Anez mana ?”
Dari pintu depan tak ada, ketika panning ke pintu belakang, “Ya Tuhan, itu Anez !”, gadis yang selama 4-5 tahun ini hanya hidup di angan-anganku. Hari ini ia berjean lusuh, t-shirt beige (coklat kemerah-merahan) dengan lengan dipotong, rambut tergerai nampak kusut, ia nampak kurus, berjalan tak acuh.
Seluruh badanku terasa beku : aku mau apa saat itu ? Mulutku tak bisa memanggilnya, aku cuman berjalan untuk memandanginya. Anez terus saja melangkah. Tanpa hirau. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 4 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari ini, beberapa menit yang lalu, aku memberanikan diri untuk ketemu dan ngobrol a la kadarnya dengan Anez, Widhiana Laneza, di shelter Sunan Giri (15.30 WIB). Sebelumnya aku emang nunggu di shelter Rawamangun, eh dia malah lewat bersama temennya, acuh tak acuh di depanku, ke timur. “Apa yang harus aku lakukan ?”
Aku lalu membuntuti. Ia berhenti di shelter Sunan Giri : bercelana panjang warna khaki, baju garis-garis kecil warna coklat merah, menenteng tas kulit, saat itu temennya baru naik. Aku lalu berdiri di kirinya. Aku sapa :
“Anez ya ?”
Ia menengok. Aku mengajak salaman. Ia mau dan ramah. Aku bilang : “Aku yang pernah kirim surat kepada Anez” Dia tanya : “Sekarang kerja dimana ?’ Aku jawab, “bukan dimana, tetapi apa. Aku menulis”
Aku bilang, “aku malu, aku kan sulit ngomong, maka aku tulis surat”. Dia bilang, “iseng saja”. Kusahut : “tapi aku serius lho...”. Sambil ngomong itu aku memukul lembut pundaknya. Ia tak ada kesan benci atau menolak atas perlakuanku ini.
Oh ya aku tadi bilang : “Anez sekarang dimana sih ?” Ia nyebut alamat yang aku sudah tahu. “Saya pengin ngobrol atau main. Boleh engga sih ?”
Ia bilang : “boleh” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Rabu, 12 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Terima kasih, Tuhan, aku telah ketemu lagi sama Anez, di rumahnya. Sepanjang senja dan malam tadi.
Kamar tamu yang sederhana interiornya. Di tembok kiriku ada foto besar, pengangkatan babenya Anez, Taufik Rachman Soedarbo, sebagai duta besar di Senegal (?), 11 Juni 1982. Berfoto bersama Bapak/Ibu Presiden RI. Anez dalam foto itu berkain, nampak langsing, tinggi, di dekat babenya.
Lalu Anez keluar, dikerubuti anjing-anjingnya. Yang hitam bernama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis) dan anjing merah bernama Pancho atau Cakil. Anjing putih yang di luar, galak (yang menyalakku kemarin Sabtu) dia sebut Minggo. Anez saat itu berdress : celana jean biru, baju biru, di kaki ada gelang emas, tangan bergelang, pakai jam tangan seperti di foto opspek.
Anez nampak antusias cerita tentang anjing. Aku berusaha menimpali dengan tanya, “anjingnya Liz Taylor yang bisa dikantongi itu jenis apa ?” sampai cerita humor seputar anjing yang bikin redaksi (koran) kalang kabut. Anez juga cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris, Sekolah Teknik Tinggi dan satunya lagi di komputer. Anez pengin ambil kursus komputer.
Malam itu, hmmm, aku ikut makan malam bersama ayah dan ibunya Anez. “Ini orang Jawa asli”, kata Anez mengenalkanku. Pak Taufik tanya, “Dari mana ? Jawa Timur ?” Aku bilang, Jawa Tengah. Wonogiri. Solo ke selatan. Beliau tidak tahu. “Engga pernah dapat pelajaran ilmu bumi”, kilah beliau.
Bapak dan Ibu Taufik makannya pakai tangan. Muluk. Ketika saya nanya mengenai makanan khas Afrika, cerita Pak Taufik banyak sekali dan aku asyik mendengarkannya. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Kamis, 13 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 19.30 : aku sampai ke rumah Ria. Ngobrol tentang buku humor dokter, juga tentang surat kabar kampus Warta UI (Ria jadi anggota redaksinya). “Kayak baca Suara Karya”, celetukku. Ria bilang, “Makasih Mas Hari”. Sambil ngakak.
Ria bilang (dirinya) udah damai sama papanya. Udah (pula) kursus Perancis. Akhirnya aku buka kartu ke Ria : “aku kini lagi berburu cewek.” Aku suka sama dia engga (ada bumbu) romantisnya, engga ada sexual drive, tapi datar-datar saja. Rasional. Cewek itu anonim bagi Ria. (Kusebut juga) suka Perancis dan aku sebut ia (sebagai) Garuda : terbang sendiri dan mandiri. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 15 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 11.30 berangkat pula jadinya, dan, di shelter Rawamangun terus tergambar Anez di sana. Sampai di JIP-FSUI, temu Ibu Soma (Ketua Jurusan). Hasil revisi skrip (yang aku tulis untuk televisi) diterima.
Engga banyak obrolan. Beliau cuman nawarin ; “mbok kamu belajar komputer, biar komputer ini engga underuse”. Aku jawab ya (dengan hati senang). Pulang. Mampir PO Box : dapat 2 surat ke ITSC, 1 tagihan dari Yani, dan Infokilat PDIN, (isinya antara lain daftar isi ) majalah Discover (September) yang ada artikel arkeologi : “moga-moga Anez bulan ini juga telah menerimanya”. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 29 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Baru saja aku nelpon Anez. “Ada apa ?’, tanya Anez. Aku agak nervous nanya bab seminar Arkeologi Publik, 2-3 Desember 1986. “Sebagai pendengar boleh kok”, katanya.
“Oh ya, kabarnya Grigri ?”, tanyaku. “Baik-baik aja. Sekarang baru mau makan”, jawab Anez. “(Anjing) yang kecil, siapa sih ?”. Anez jawab, “Bobi. Dan makasih untuk fotokopinya. Sudah diterima” Aku : “Yeah, mudah-mudahan ada gunanya” (Anez mengiakan : “ada gunanya, kok”).
“Udahan ya, Anez”
Jawab dia : “Kalau mau nelpon, nelpon aja”
“Yuk. Dadag” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 2 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 9 sudah tiba di (gedung pertemuan di komplek UI Rawamangun) Sarwahita. Upacara seminar dibuka, aku masuk. Suasana orang-orang Arkeologi FSUI adalah, “yeah, suasana jurusan yang kering, tidak favorit, underdog, tersingkir”, gitu kesanku. Seperti juga jurusanku.
Aku ikut mendengarkan makalah pertama, “Museum dan Arkeologi”, oleh Bambang Soemadio dan penanggap Aristides Katopo. Isunya : bagaimana meningkatkan kesadaran publik tentang museum dan arkeologi.
Jam 12, aku cabut, dipelototi banyak mata. Nampaknya Anez tidak ada di antara mereka. Di pintu temu Paulina, Arkeologi 1986, (sebelumnya aku kenal sebagai) anak Himpunan Astronomi Amatir Jakarta/HAAJ. Ngobrol sebentar. Lalu aku off ke (perpustakaan) PPIA.
Melihat cewek berkaki putih, innerku bilang : “Itu Upik kah ?”. Tapi aku membantah sendiri. Tapi ya, ia bener-bener Upik. Kita (lalu) terlibat ngobrol. Ia belum lulus (Sastra Inggris UI). Daftar artikelku dulu (untuknya) mubazir. Ya udahlah.
Aku berkomentar mengenai surat pembaca (yang ia tulis) di majalah Tempo. “Wah, kayak Cory Aquino”. Ia nampak senang, dengan sikap mau memukul. Komentarku lanjut : “mau jadi golput ya ?”
Upik Syahrir pergi ke rak, aku scanning majalah Scientific American. Nampak ia mau cabut, aku pura-pura tak tahu. Eh, Upik menghampiri kursiku dan bilang, “duluan, ya”.
Perpustakaan PPIA tak lagi menarik. Aku pulang, sambil menyapa “mBak PPIA” (yang kukira udah pindah). Ia bilang, “lama tidak ke sini ya ?” Aku jawab : “sore hari”. Pulang, jam 13.30. Scanning shelter UI (Rawamangun) : tak ada Anez. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Senin, 8 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari ketemu banyak orang : Museum Satria Mandala, aku ikut acara Pengarahan Kursus Perpustakaan Mabes ABRI 86/87. Aku tiba on time, temu banyak ABRI : letnan kolonel. Aku duduk di barisan (dosen-dosen) UI.
Ke PDII, temu mbak Jati dan Suwarto. “Untung deh gue”. Riset majalah Romantika Arkeologia (FSUI) : temu berita bagus : Anez baca makalah tentang perkotaan kuno pra-Islam di acara diskusi. “Hebat juga anak satu ini ; dan aku tidak salah pilih ya ? Ia ilmuwan, aku juga, he..he”
Ini mengkhayal bab Anez : “kurasa dia itu juga cinta ilmu seperti juga aku ; dari luar sederhana tapi isi kepalanya cukup kompleks; dan pendekatanku selama ini kira-kira cocok engga ? Ya, embuhlah.....”
Dari PDII, aku tur ke Redaksi Pelita : ambil honor artikelku (“Terorisme Media”), 4 Nov 1986, “dapat Rp. 30.950,00”. Okay. Mampir American Cultural Center (Wisma Metropolitan 2), melamar jadi anggota. Ketemu bu Is Prayoga (kepala perpustakaannya dan dosenku) : “Buset, kerjaku freelance dikaitkan sama status singleku. Dia bilang aku harus cepat-cepat kawin”. Wah, aku menjawab : “Nasehat ibu saya dengarkan”. He-he, status freelance-ku kok tidak bercitra positif ya ?
Haus fotokopi artikel, eh, ketemu bab “melatih anjing”, aku ingat Anez : 24 halaman. Aku sangsi, jadi atau engga ? Akhirnya, demi cinta, harga segitu kupandang murah atau tak seberapa. Okay, aku fotokopi aja (artikel) “Four Ways To Walk a Dog” dari majalah Atlantic Monthly (April 1986) itu. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun pagi, tak ada orientasi. Seharian merampungkan desain (t-shirt) ITSC : Reagan – selesai. Pagi : menyalin dan menyalin surat cinta untuk Anez, “tapi gundah lagi, ditunda lagi”. OK.
Mandi sore untuk meredakan gundah dan bara di kepala dan dadaku sehubungan dengan cintaku pada Anez dan kesepian-kesepianku. Belum reda. Malam : box, blong, dan rasa sepi itu makin merujit-rujit. Ya Tuhan, begini hidupku. Escape : makan soto, kenyang, agak adem hati ini. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu :1986. Senin, 29 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari bersejarah dalam karirku sebagai penulis. Aku menyerahkan naskah kepada penerbit : naskah sebuah buku, buku kumpulan humor satwa, dengan motivasi : mempersembahkan karya itu bagi orang yang ingin aku cintai, Widhiana Laneza ! Anez, sebutannya. (Buku Harian).
Petikan isinya lagi :
”Mengapa engkau menangis, Ani ?”
“Aku sedang sedih karena anjingku mati pagi ini”
“Lho ? Mertuaku juga baru saja mati, tetapi aku tidak bersedih seperti kamu saat ini.”
“Iya, habis kamu tidak membesarkan mertuamu sejak kecil”
”Aku telah menemukan cara terbaru untuk mengusir pinjal dari tubuh anjingku.”
“Bagaimana caranya ?”
”Gampang ! Anjingku kuajak naik pesawat terbang, lalu pilotnya kusuruh untuk berakrobat di udara. Pinjal-pinjal itu menjadi ngeri dan mereka pun berhamburan pergi.”
Seekor ayam babon tua memanggil sekelompok ayam babon muda. “Maukah kalian mendengar nasehatku ?”, tanya si Tua.
“Nasehat apa ?”
“Sehari sebutir telur menjauhkan lehermu dari pisau dapur”
Sembilan Belas Tahun Lalu :1986.Rabu, 31 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Aku nelpon Anez. Ia bilang, fotokopi tentang anjing itu telah ia terima. Juga cerita tentang jadwal ujiannya, awal Januari 1987, dan bahkan ia cerita pengin kerja freelance. “Kerja apa ?”, tanyaku. “Engga tahu. Bapak yang mencarikannya”
“Pada diri Anez apa yang bisa dijual ?”, tanyaku. Bercanda secara otomatis muncul. Terdengar dia tertawa besar. Segar. “Maksudku, skillnya”, jelasku. “Bahasa”, kata Anez.
Anez nanya ; “Apa acara Tahun Baru ?”. “Evaluasi tahun 1986,” kataku, dan “rencana tahun 1987”, Anez menambahkan. Aku bilang : “biasanya semangat tinggi ada di bulan Januari, sesudah itu biasa-biasa lagi” (Buku Harian).
Delapan Belas Tahun Lalu : 1987. Jumat, 9 Januari. Rawamangun, Jakarta Timur. Aku nelpon Anez. Ia cerita anjingnya yang hilang. Si Cakil atau Pancho. Dicuri orang ? Ia cerita tentang pagar rumahnya yang bolong. “Anez nangis engga ?”, godaku. “Engga. Mudah-mudahan dicuri oleh pemiliknya”, kata Anez. “Lalu anjing baru, jenisnya apa ?”, tanyaku. Dan jawabnya : “Biasa. Anjing kampung”
“Jadi semua (anjingmu) serba kampungan ya ?”
Anez tertawa. Aku lalu nanya bab anjing Labrador, Alsatian, dan melucu tentang anjing Dachshund yang bisa dikomersilkan : untuk membersihkan cerobong asap. Anez bilang : “jangan kejam-kejam dong.” Aku me-recall humor tentang cewek yang disukai anjing bukan karena cantiknya, tetapi “she has a good bone structure. Anyway, all the dogs loves her”.
Anez inisiatif buka obrolan lain. Kali ini tentang rencana pertunjukan maestro ballet di Jakarta. “Rudolph Nureyev, kan ?”, sergahku.
Cocok.
“Tapi karcisnya mahal”. Anez menjawab : “Ya. Karcisnya mahal”. Aku usulkan : “lebih baik nonton videonya, lebih murah. Oh ya, Anez, aku sering terkicuh antara Nureyev dengan....”, dan Anez gantian cepat menjawab : “Mikhail Baryshnikov”
Cocok. Nyambung.
Aku nelpon kali ini tanganku yang pegang handle gemetaran. Lapar ? Masih soal Baryshnikov aku berkata : “kan dia kini lagi main film”. Anez kembali cepat menimpali : “White Night”.
Cocok dan nyambung lagi.
“Anez suka film semacam Return To Eden ?” Ia bilang : dulu suka, tapi sesudah melingkar-lingkar, ia bilang tidak mengikuti. “Itulah opera sabun”, kataku, dan kusambung cerita tentang penulis opera sabun versus istri tukang ledeng.
(Konon, ada penulis opera sabun yang pipa ledeng di rumahnya rusak. Ia nelpon tukang ledeng, tetapi yang menerima istrinya. Istri itu surprise setelah tahu yang menelpon itu penulis opera sabun favorit yang sering ia tonton di televisi. Ia lalu tergoda pengin tahu bagaimana kelanjutan kisah si tokoh utama. Katanya, “ kalau saya dibocorin lanjutan kisah si tokoh, saya akan meminta suami saya untuk membantu Anda. Kalau tidak dibocorin, saya akan tutup telepon ini” Si penulis opera sabun itu menyerah.)
Anez terdengar tertawa.
Aku bersiap menutup pembicaraan. Ketika koin keempat jatuh, menit ke 9 -12 mulai, aku bilang : “Tahu engga, bahwa Anez itu menarik ?” Anez tertawa. Surprise. Dapat tembakan rayuan. Tapi dia hendak mengelak : “Engga kok. Tapi engga tahu deh anggapan orang lain”
Saat itu aku hendak nerangin soal Johari Window, tapi tak jadi. Aku bilang lagi : “Bener kok, Anez itu menarik”. Ia tertawa lagi dan dengan cerdas ia berkelit. “Anyway, thank you”, katanya dengan tutur yang luwes. Sambil tertawa gembira. Aku juga.
“Yuk, dadag”, tutup Anez. (Buku Harian).
FAST FORWARD : Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. Saya menulis email balasan berikut ini :
Dear Mas Anto,
Terima kasih untuk email Anda, Mas Anto. Salam kenal. Saya mengingat, kalau tak salah ingat, Anez pernah cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris. Di elektro ? Apakah itu Mas Anto ?
Anez bercerita sepintas hal itu di rumah, sambil direcoki oleh Grigri (kata Anez, artinya "jimat" dalam bahasa Perancis) dan si Cakil, keduanya adalah anjing kesayangannya. Gara-gara anjingnya Anez itu sampai saya tergerak menyusun buku kumpulan humor satwa.
Suatu saat di telepon Anez cerita bahwa si Cakil itu pergi. Saya tanya ke Anez, apa jenis anjingnya itu ? Anez bilang, anjing kampung. Lalu saya tanya : semua anjingmu itu kampungan ya ? Anez hanya tertawa kecil.
Pernah juga saya katakan di telepon : "Anez itu menarik" Kalau saya ketemu sekarang, masih akan saya katakan : "Anez itu menarik" Saya yakin kini Tuhan Yang Maha Penyayang juga akan mengatakan bahwa Widhiana Laneza itu menarik, sehingga ia dipanggil lebih cepat untuk menghadapNya.
Saya ikut merasa kehilangan, Mas Anto.
Semoga Mas Anto, suaminya Anez, Ibu dan Bapak Taufik ("saya senang ketika diberi cerita beliau tentang makanan khas Senegal") dan keluarga besar di sini diberi ketabahan dan kekuatan iman.
"Selamat jalan Anez, semoga kau di surga sana mendapat tugas arkeologi yang lebih menantang"
Wassalam.
Hormat saya,
Bambang Haryanto
FAST FORWARD : Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. Sebelumnya saya mendapat email tak terduga-duga berikut ini :
Mas Bambang,
Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza, google.com memberikan situs blog anda "Buka Buka Beha", dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam list “wanita-wanita terindah” Anda.
Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.
Salam,
Anto,
kakaknya Anez.
Apa Daya Saya Hanya Manusia. Penyair Jerman Rainer Maria Rilke telah bilang, dalam cinta satu-satunya hal yang harus dipraktekkan adalah : berilah kebebasan bagi orang-orang yang Anda cintai. Kalau ingin membelenggunya, itu perkara mudah, kita tidak usah belajar tentangnya.
Kebebasan Anez, kebebasanku dan kebebasan kami, akhirnya membuat jatuh cintaku kepada Anez kandas. Aku bisa mengerti. Karen Carpenter, penyanyi favoritku yang mati muda di usia 33 tahun dalam “When I Fall In Love” seolah mengabadikan kepedihan itu :
In a restless world like this,
love is ended before it’s begun.
Hal ini pun, Anez, juga bisa aku mengerti.
Tetapi memperoleh kabar bahwa Widhiana Laneza telah dijemput kebebasan puncaknya sebagai manusia untuk kembali keharibaan Tuhan di bulan Desember ini, betapa momen menggetarkan dan penuh misteri dariNya tersebut masih terasa sulit untuk bisa aku mengerti.
Apa daya, saya hanya manusia.
Wonogiri, 22-23 Desember 2005
Wednesday, December 07, 2005
Erman Suparno Menakertrans Baru Kita Adalah “Bapak Ketoprak Humor” : Bisakah Masa Depan Seni Komedi Indonesia Mengharap Banyak Darinya ?
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com
Era Ekonomi Kreatif. Michael Jordan pasti tidak tahu siapa itu Erman Suparno. Yang satu adalah maha bintang bola basket Amerika Serikat, sedang satunya adalah lelaki kelahiran 20 Maret 1950 asal Desa Duduwetan, Grabag, Purworejo, Jawa Tengah. Lelaki yang melanjutkan sekolah di STM 1 Yogyakarta (satu kompleks dengan sekolah saya, STM 2 Yogyakarta), kini diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang baru, 5 Desember 2005.
Lalu apa kaitan antara si Erman dengan si Jordan ? Simaklah isi bukunya John Howkins, The Creative Economy : How People Make Money From Ideas (2001). Buku ini saya beli 29 Juli 2002, di QB World of Books, Jl. Sunda Jakarta Pusat. Berkat kemenangan menjual gagasan sehingga meraih juara pertama dan hadiah 20 juta di Honda The Power of Dreams Contest 2002.
Pada pengantar, John Howkins menulis : Di tahun 1997 Amerika menghasilkan kekayaan sebesar 414 milyar dollar AS dari penjualan buku, film, musik, acara televisi dan produk-produk hak cipta lainnya. Hak cipta menjadi ekspor nomor satu Amerika, melebihi penjualan pakaian, kimia, mobil, komputer dan pesawat terbang.
Majalah bisnis terkemuka Fortune menghitung bahwa nilai ekonomi pribadi seorang Michael Jordan sebagian besar diperoleh dari penjualan hak cipta dan merchandising yang nilainya melebihi GNP negeri Jordania. Bahkan Naomi Klein, pengarang buku terkenal No Logo (2000), menghitung besaran uang kontrak dari Nike untuk Michael Jordan di tahun 1992 adalah senilai gaji buruh Indonesia sebanyak 30.000 orang sepanjang tahun !
Pak Menakertrans yang baru, dalam wawancara dengan Mohammad Bakir, wartawan harian Kompas (19/2/2002), ketika menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR yang membidangi perhubungan dan prasarana wilayah, berkata : “Kalau boleh memilih, saya sebenarnya suka mengurusi pendidikan. Bidang ini sangat serius, tetapi sekarang masih belum digarap secara serius”
Pak Erman, walau tidak seratus persen harapan Anda di atas terpenuhi, tetapi di bidang ketenagakerjaan dan transmigrasi inilah tentu visi Anda tentang pendidikan dalam arti luas dapat pula diaplikasikan. Perbaikan mutu tenaga kerja kita yang rendah sampai terangkatnya jutaan anak muda dari jeratan pengangguran, menunggu tangan dingin solusi Anda.
Siapa tahu sukses Anda dalam membidani lahirnya Yayasan Samiaji dan Ketoprak Humor (KH) di tengah himpitan krisis berat 1997, menjadi inspirasi yang kuat. Kita sebagai rakyat, hanya bisa berharap.
Manajemen Lawak Modern. Sekadar kilas balik : Ketoprak Humor memang fenomenal saat itu. Majalah Gamma (31/12/2001) dalam sampulnya terpajang wajah pelawak Timbul dan tulisan mencolok, “Menyingkap Industri Humor Ratusan Milyar”. Di dalamnya, antara lain terpajang foto pelawak Leysus, berpakaian sarung. Ia sedang membuka gerbang tinggi dari pagar kayu rumahnya yang menampakkan bagian belakang mobil Mercy. Bernomor polisi B 35 US, yang bisa dibaca sebagai “besus”. Kata itu dalam bahasa Jawa bisa diartikan sebagai “sukses” atau “kaya”.
Kemunculan Ketoprak Humor, konon diawali ketika Erman Suparno mengumpulkan seniman tradisional. Ketika dia belajar dan tinggal di Jepang, ceritanya, dia melihat banyak pertunjukan tradisional yang dikelola secara profesional. Setelah lulus MBA tahun 1993 di Newport University, California, AS, Erman berkeyakinan : agar seniman tradisional bisa bertahan, mereka harus dibantu, khususnya di bidang manajemen, dibarengi peningkatan pengetahuan dan kesejahteraannya.
Seperti dikutip oleh wartawan Kompas Mohammad Bakir, Erman Suparno mengatakan : “Sentuhan yang kami lakukan hanya menyangkut soal manajemen organisasi. Kami melakukan perencanaan produk, evaluasi, keuangan, pengelolaan sumber daya manusia khususnya yang berkaitan dengan peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan, serta marketing”.
Menyangkut pertunjukan, dibentuk satu tim lagi, tim pergelaran, yang terdiri dari seniman yang pada Ketoprak Humor dipimpin Timbul. Mereka yang menulis naskah, kostum, setting pemain, tata panggung. Setiap seminggu sekali, tim profesional manajemen dan tim pergelaran yang mengurus produksi ini bertemu.
“Sebagai pembina, saya mengarahkan dua tim itu. Alhamdullilah, dua tim ini bisa berjalan beriringan selama empat tahun. Seniman sudah merasakan manfaat bagaimana sentuhan manajemen modern bisa meningkatkan kesejahteraan mereka”, ujarnya.
Di Mana Ketoprak Humor Sekarang ? Adakah yang terlupa dari gebrakan Pak Erman Suparno saat itu ? Sebagai lulusan MBA, tentu saja dapat dimaklumi bahwa gebrakannya cenderung myopia, terlalu berfokus pada pembenahan manajemen. Aksinya itu melupakan pentingnya asupan informasi dan pengetahuan mengenai konstelasi seni pertunjukan komedi yang bisa terus seirama dengan tuntutan jaman.
Sekadar contoh, pengajar Fakultas Sastra (kini Fakultas Kajian Budaya) Universitas Indonesia, I. Yudhi Soenarto, dalam esainya berjudul “Andai Tessy Belajar Akting”, sudah memberikan caveat, peringatan, terhadap gaya pemanggungan Ketoprak Humor saat itu.
Ia tulis di Gamma pada edisi yang sama : “Yang paling penting bagi kelompok (KH) ini, mungkin juga bagi sebagian penonton, adalah penampilan para pelawak. Timbul, Tessy, dan Tarzan merupakan bintang-bintang ketoprak ini. Sebagai bintang, mereka bertugas memancing tawa penonton dengan citra kepelawakan yang sudah menjadi identitas mereka. Mereka tak peduli pada peran yang mereka bawakan, misalnya sebagai dewa, adipati, atau punakawan. Pokoknya, penonton tertawa, kurang lebih itulah ukuran sukses mereka”
“Saking semangatnya menjadi mesin ketawa, mereka mengacak-acak cerita dan membuatnya menjadi lamban dan bertele-tele. Di samping penampilan fisik yang unik, jurus-jurus lawak standar seperti mengolok, saling mencela, dan saling mengakali menjadi andalan mereka. Mereka juga menjadikan para pemain lain sebagai objek kelucuan....Mereka, dalam konteks seni peran, telah terjebak untuk hanya memerankan satu karakter. Jika ini kunci keberhasilan mereka, ini pulalah yang akan jadi penyebab kegagalan mereka”
Ketoprak Humor kini di mana ? Pamornya telah memudar atau sudah menjadi sejarah itu memang bisa dibedah dari pelbagai pandangan. Saya ingin mengutip pandangan cendekiawan humor, almarhum Arwah Setiawan dalam bukunya Humor Zaman Edan (1997). Pandangan yang sangat relevan untuk juga dicamkan oleh komunitas komedi kita saat ini.
Dalam tulisan berjudul “Lomba penulisan naskah komedi terlucu”, ia jelaskan : “Semua pengelola dan pengamat televisi tentu menyadari sekali bahwa betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukan itu tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati oleh para pemirsa. Keberhasilan suatu pertunjukan komedi memang bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal.”
Sudahkah tuntutan itu makin mengeras dewasa ini ? Harian Kompas (4/12/2005) yang menampilkan tulisan wartawati Susi Ivvaty dan M. Clara Wresti berjudul “Kekuatan Naskah dalam Komedi”, antara lain menunjukkan bahwa generasi lawak a la Srimulat yang berjaya lewat kekuatan “tahu sama tahu” dan improvisasi panggung, nampaknya semakin ditinggalkan.
Salah satu pelawak alumnus Srimulat, Tarzan, bahkan mengiakannya. “Improvisasi itu kalau dulu memang gampang, namun sekarang susah karena bersaing dengan pelawak yang berkonsep. Sekarang, saya sendiri memilih yang berkonsep dan bernaskah”, kata Tarzan sambil menambahkan, “Srimulat itu menang karena jam terbang. Tetapi ini juga spekulatif, kadang lucu kadang tidak ha-ha-ha”
Harapan spekulatif pula : bila Menakertrans kita yang baru adalah orang yang pernah dekat dengan dunia komedi Indonesia, bisakah kita mengharapkan sesuatu dorongan pembaruan (lagi) yang signifikan dari dirinya bagi perkembangan seni komedi di Indonesia ?
Saya hanya ingin titip satu pesan. Hallo, Bapak Erman Suparno, seperti contoh dari cerita awal tentang sumber kekayaan pebasket Michael Jordan, kita kini hidup dalam era gagasan. Era kreativitas. Dan di lahan ini, mengutip tesis Menaker AS di era Clinton, Robert B. Reich, pekerja yang tahan uji dalam era kreatif tersebut adalah mereka yang berkecimpung dalam kiprah simbolis-analis. Menulis peranti lunak komputer, menulis buku sampai naskah komedi, pasti juga masuk pula dalam kiprah simbolis-analis ini pula.
Sayangnya, terus terang, sepengetahuan saya, komunitas kreatif komedi kita belum pernah mendapatkan penataran atau up grade seputar comedy writing dan sejenisnya. Walau tayangan-tayangan komedi bernaskah, full script, sudah lalu lalang di televisi kita, jangan mimpi untuk membandingkan dengan kekuatan naskah di balik sitkom “Friends” atau “Everybody Loves Raymond”.
Sekadar ilustrasi : Anda sebagai Menakertrans nanti pasti juga berurusan dengan masalah TKW (Tenaga Kerja Wanita). Indonesia kita ini terkenal sebagai pengekspor babu, pembantu rumah tangga berketerampilan rendah, baik ke Hongkong, Singapura sampai Jeddah. Banyak sekali suka dan terutama duka-duka mereka.
Tetapi, tahukah Pak Erman, untuk cerita komedi seputar kehidupan para babu itu ada stasiun televisi kita justru mengadopsi mentah-mentah kehidupan para pembantu dari sitkom “The Nanny”, produk Amerika Serikat ? Itulah, akibat lemahnya kreator komedi televisi kita, sampai-sampai negeri eksportir babu terbesar di dunia (?) ini ketika membuat sitkom tentang babu pun harus impor dari Amerika Serikat !
Bagaimana kalau sekalian impor dari AS untuk hal satu ini ?
Anda kan pernah berkuliah di California, Amerika Serikat ? Alamat klub komedi seperti Improvisation di Melrose., Los Angeles, Comedy Store atau Laugh Factory di West Hollywood, Comedy Spotlight at Hornblowers di Ventura sampai LA Connection Comedy Theatre di Sherman Oaks, semuanya di California, bukankah bisa Anda kontak (berkoordinasi dengan PaSKI) untuk diajak berdiskusi demi memajukan dunia komedi, khususnya comedy writing, di Indonesia ?
Selamat bertugas, Pak Erman. Silakan tertawa, bila berkenan, setelah membaca tulisan saya ini pula.
Wonogiri, 6 Desember 2005
Email : humorliner@yahoo.com
Era Ekonomi Kreatif. Michael Jordan pasti tidak tahu siapa itu Erman Suparno. Yang satu adalah maha bintang bola basket Amerika Serikat, sedang satunya adalah lelaki kelahiran 20 Maret 1950 asal Desa Duduwetan, Grabag, Purworejo, Jawa Tengah. Lelaki yang melanjutkan sekolah di STM 1 Yogyakarta (satu kompleks dengan sekolah saya, STM 2 Yogyakarta), kini diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang baru, 5 Desember 2005.
Lalu apa kaitan antara si Erman dengan si Jordan ? Simaklah isi bukunya John Howkins, The Creative Economy : How People Make Money From Ideas (2001). Buku ini saya beli 29 Juli 2002, di QB World of Books, Jl. Sunda Jakarta Pusat. Berkat kemenangan menjual gagasan sehingga meraih juara pertama dan hadiah 20 juta di Honda The Power of Dreams Contest 2002.
Pada pengantar, John Howkins menulis : Di tahun 1997 Amerika menghasilkan kekayaan sebesar 414 milyar dollar AS dari penjualan buku, film, musik, acara televisi dan produk-produk hak cipta lainnya. Hak cipta menjadi ekspor nomor satu Amerika, melebihi penjualan pakaian, kimia, mobil, komputer dan pesawat terbang.
Majalah bisnis terkemuka Fortune menghitung bahwa nilai ekonomi pribadi seorang Michael Jordan sebagian besar diperoleh dari penjualan hak cipta dan merchandising yang nilainya melebihi GNP negeri Jordania. Bahkan Naomi Klein, pengarang buku terkenal No Logo (2000), menghitung besaran uang kontrak dari Nike untuk Michael Jordan di tahun 1992 adalah senilai gaji buruh Indonesia sebanyak 30.000 orang sepanjang tahun !
Pak Menakertrans yang baru, dalam wawancara dengan Mohammad Bakir, wartawan harian Kompas (19/2/2002), ketika menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR yang membidangi perhubungan dan prasarana wilayah, berkata : “Kalau boleh memilih, saya sebenarnya suka mengurusi pendidikan. Bidang ini sangat serius, tetapi sekarang masih belum digarap secara serius”
Pak Erman, walau tidak seratus persen harapan Anda di atas terpenuhi, tetapi di bidang ketenagakerjaan dan transmigrasi inilah tentu visi Anda tentang pendidikan dalam arti luas dapat pula diaplikasikan. Perbaikan mutu tenaga kerja kita yang rendah sampai terangkatnya jutaan anak muda dari jeratan pengangguran, menunggu tangan dingin solusi Anda.
Siapa tahu sukses Anda dalam membidani lahirnya Yayasan Samiaji dan Ketoprak Humor (KH) di tengah himpitan krisis berat 1997, menjadi inspirasi yang kuat. Kita sebagai rakyat, hanya bisa berharap.
Manajemen Lawak Modern. Sekadar kilas balik : Ketoprak Humor memang fenomenal saat itu. Majalah Gamma (31/12/2001) dalam sampulnya terpajang wajah pelawak Timbul dan tulisan mencolok, “Menyingkap Industri Humor Ratusan Milyar”. Di dalamnya, antara lain terpajang foto pelawak Leysus, berpakaian sarung. Ia sedang membuka gerbang tinggi dari pagar kayu rumahnya yang menampakkan bagian belakang mobil Mercy. Bernomor polisi B 35 US, yang bisa dibaca sebagai “besus”. Kata itu dalam bahasa Jawa bisa diartikan sebagai “sukses” atau “kaya”.
Kemunculan Ketoprak Humor, konon diawali ketika Erman Suparno mengumpulkan seniman tradisional. Ketika dia belajar dan tinggal di Jepang, ceritanya, dia melihat banyak pertunjukan tradisional yang dikelola secara profesional. Setelah lulus MBA tahun 1993 di Newport University, California, AS, Erman berkeyakinan : agar seniman tradisional bisa bertahan, mereka harus dibantu, khususnya di bidang manajemen, dibarengi peningkatan pengetahuan dan kesejahteraannya.
Seperti dikutip oleh wartawan Kompas Mohammad Bakir, Erman Suparno mengatakan : “Sentuhan yang kami lakukan hanya menyangkut soal manajemen organisasi. Kami melakukan perencanaan produk, evaluasi, keuangan, pengelolaan sumber daya manusia khususnya yang berkaitan dengan peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan, serta marketing”.
Menyangkut pertunjukan, dibentuk satu tim lagi, tim pergelaran, yang terdiri dari seniman yang pada Ketoprak Humor dipimpin Timbul. Mereka yang menulis naskah, kostum, setting pemain, tata panggung. Setiap seminggu sekali, tim profesional manajemen dan tim pergelaran yang mengurus produksi ini bertemu.
“Sebagai pembina, saya mengarahkan dua tim itu. Alhamdullilah, dua tim ini bisa berjalan beriringan selama empat tahun. Seniman sudah merasakan manfaat bagaimana sentuhan manajemen modern bisa meningkatkan kesejahteraan mereka”, ujarnya.
Di Mana Ketoprak Humor Sekarang ? Adakah yang terlupa dari gebrakan Pak Erman Suparno saat itu ? Sebagai lulusan MBA, tentu saja dapat dimaklumi bahwa gebrakannya cenderung myopia, terlalu berfokus pada pembenahan manajemen. Aksinya itu melupakan pentingnya asupan informasi dan pengetahuan mengenai konstelasi seni pertunjukan komedi yang bisa terus seirama dengan tuntutan jaman.
Sekadar contoh, pengajar Fakultas Sastra (kini Fakultas Kajian Budaya) Universitas Indonesia, I. Yudhi Soenarto, dalam esainya berjudul “Andai Tessy Belajar Akting”, sudah memberikan caveat, peringatan, terhadap gaya pemanggungan Ketoprak Humor saat itu.
Ia tulis di Gamma pada edisi yang sama : “Yang paling penting bagi kelompok (KH) ini, mungkin juga bagi sebagian penonton, adalah penampilan para pelawak. Timbul, Tessy, dan Tarzan merupakan bintang-bintang ketoprak ini. Sebagai bintang, mereka bertugas memancing tawa penonton dengan citra kepelawakan yang sudah menjadi identitas mereka. Mereka tak peduli pada peran yang mereka bawakan, misalnya sebagai dewa, adipati, atau punakawan. Pokoknya, penonton tertawa, kurang lebih itulah ukuran sukses mereka”
“Saking semangatnya menjadi mesin ketawa, mereka mengacak-acak cerita dan membuatnya menjadi lamban dan bertele-tele. Di samping penampilan fisik yang unik, jurus-jurus lawak standar seperti mengolok, saling mencela, dan saling mengakali menjadi andalan mereka. Mereka juga menjadikan para pemain lain sebagai objek kelucuan....Mereka, dalam konteks seni peran, telah terjebak untuk hanya memerankan satu karakter. Jika ini kunci keberhasilan mereka, ini pulalah yang akan jadi penyebab kegagalan mereka”
Ketoprak Humor kini di mana ? Pamornya telah memudar atau sudah menjadi sejarah itu memang bisa dibedah dari pelbagai pandangan. Saya ingin mengutip pandangan cendekiawan humor, almarhum Arwah Setiawan dalam bukunya Humor Zaman Edan (1997). Pandangan yang sangat relevan untuk juga dicamkan oleh komunitas komedi kita saat ini.
Dalam tulisan berjudul “Lomba penulisan naskah komedi terlucu”, ia jelaskan : “Semua pengelola dan pengamat televisi tentu menyadari sekali bahwa betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukan itu tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati oleh para pemirsa. Keberhasilan suatu pertunjukan komedi memang bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal.”
Sudahkah tuntutan itu makin mengeras dewasa ini ? Harian Kompas (4/12/2005) yang menampilkan tulisan wartawati Susi Ivvaty dan M. Clara Wresti berjudul “Kekuatan Naskah dalam Komedi”, antara lain menunjukkan bahwa generasi lawak a la Srimulat yang berjaya lewat kekuatan “tahu sama tahu” dan improvisasi panggung, nampaknya semakin ditinggalkan.
Salah satu pelawak alumnus Srimulat, Tarzan, bahkan mengiakannya. “Improvisasi itu kalau dulu memang gampang, namun sekarang susah karena bersaing dengan pelawak yang berkonsep. Sekarang, saya sendiri memilih yang berkonsep dan bernaskah”, kata Tarzan sambil menambahkan, “Srimulat itu menang karena jam terbang. Tetapi ini juga spekulatif, kadang lucu kadang tidak ha-ha-ha”
Harapan spekulatif pula : bila Menakertrans kita yang baru adalah orang yang pernah dekat dengan dunia komedi Indonesia, bisakah kita mengharapkan sesuatu dorongan pembaruan (lagi) yang signifikan dari dirinya bagi perkembangan seni komedi di Indonesia ?
Saya hanya ingin titip satu pesan. Hallo, Bapak Erman Suparno, seperti contoh dari cerita awal tentang sumber kekayaan pebasket Michael Jordan, kita kini hidup dalam era gagasan. Era kreativitas. Dan di lahan ini, mengutip tesis Menaker AS di era Clinton, Robert B. Reich, pekerja yang tahan uji dalam era kreatif tersebut adalah mereka yang berkecimpung dalam kiprah simbolis-analis. Menulis peranti lunak komputer, menulis buku sampai naskah komedi, pasti juga masuk pula dalam kiprah simbolis-analis ini pula.
Sayangnya, terus terang, sepengetahuan saya, komunitas kreatif komedi kita belum pernah mendapatkan penataran atau up grade seputar comedy writing dan sejenisnya. Walau tayangan-tayangan komedi bernaskah, full script, sudah lalu lalang di televisi kita, jangan mimpi untuk membandingkan dengan kekuatan naskah di balik sitkom “Friends” atau “Everybody Loves Raymond”.
Sekadar ilustrasi : Anda sebagai Menakertrans nanti pasti juga berurusan dengan masalah TKW (Tenaga Kerja Wanita). Indonesia kita ini terkenal sebagai pengekspor babu, pembantu rumah tangga berketerampilan rendah, baik ke Hongkong, Singapura sampai Jeddah. Banyak sekali suka dan terutama duka-duka mereka.
Tetapi, tahukah Pak Erman, untuk cerita komedi seputar kehidupan para babu itu ada stasiun televisi kita justru mengadopsi mentah-mentah kehidupan para pembantu dari sitkom “The Nanny”, produk Amerika Serikat ? Itulah, akibat lemahnya kreator komedi televisi kita, sampai-sampai negeri eksportir babu terbesar di dunia (?) ini ketika membuat sitkom tentang babu pun harus impor dari Amerika Serikat !
Bagaimana kalau sekalian impor dari AS untuk hal satu ini ?
Anda kan pernah berkuliah di California, Amerika Serikat ? Alamat klub komedi seperti Improvisation di Melrose., Los Angeles, Comedy Store atau Laugh Factory di West Hollywood, Comedy Spotlight at Hornblowers di Ventura sampai LA Connection Comedy Theatre di Sherman Oaks, semuanya di California, bukankah bisa Anda kontak (berkoordinasi dengan PaSKI) untuk diajak berdiskusi demi memajukan dunia komedi, khususnya comedy writing, di Indonesia ?
Selamat bertugas, Pak Erman. Silakan tertawa, bila berkenan, setelah membaca tulisan saya ini pula.
Wonogiri, 6 Desember 2005
Sunday, November 27, 2005
Benturan Peradaban : Promo Islam Lewat Lelucon
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com
-------------
Catatan Bambang Haryanto :
Artikel ini telah dimuat di Rubrik Teroka/Humaniora, Harian Kompas, Jumat, 18 November 2005, Halaman : 14. Kini juga tertayang di situs web Kompas Cybermedia.
Pengasuh rubrik Teroka, sastrawan Radhar Panca Dahana, dalam mengantar tulisan ini antara lain mengatakan :
Masih banyak kita bisa temukan kisah, puncak-puncak sejarah, peradaban, kekuasaan, bahkan pemaknaan manusia berakhir dalam lelucon dan komedi. Satu ‘realitas’ yang jika kita bisa berada di luarnya, terlihat menggelikan.
Maka jika komedi menjadi bahasa yang (bisa jadi, paling) universal, karena memang tak satu pun manusia sehat yang tak menghendakinya. Lantaran di situlah kita kerap menemukan diri sendiri, mengalami katarsis, puncak pencerahan spiritual.
Esai “teroka” kali ini, memberi contoh yang sangat menarik. Satu hal yang tertindas, dicurigai, dinegasi, disudutkan, akan mendapat makna baru dan diterima melalui satu cara : lelucon. Maka, tak berbahagialah Anda yang tak bisa menikmatinya.
Cobalah uji dengan esai dari penulis “baru” kita kali ini”
--------------
Garin Nugroho kepada BBC Siaran Indonesia mengenai keikutsertaan filmnya, Rindu Kami Pada-Mu, ke Festival Film London 2005 mengatakan bahwa dirinya ingin mengembuskan citra yang berbeda mengenai umat Islam di forum kebudayaan internasional.
Kalau selama ini citra Islam selalu digambarkan media massa Barat sebagai umat yang selalu tampil dengan wajah marah, maka filmnya menampilkan kehidupan umat Islam yang bersahaja, ramah dan juga berwarna humor.
Memang, sejak serangan teroris 11 September 2001, prasangka buruk Barat terhadap Islam juga sebaliknya mencapai puncaknya. Presiden Bush dalam upaya melindungi kaum Muslim Amerika sampai mengatakan bahwa teroris itu bukanlah warga Muslim, melainkan pembunuh yang memakai agama Islam untuk melegitimasi tujuan politiknya.
Upaya ini bersambut, misalnya kajian bertahun-tahun yang dilakukan Irfan Omar profesor teologi dari Universitas Marquette dan koleganya, yang mendelegitimasi tindak kaum teroris dengan membedah isi Al Quran yang menentang aksi-aksi kekerasan. Tetapi, ikhtiar mulia semacam tetap tersembunyi, kurang menonjol, karena tidak ada saluran menuju aliran budaya yang utama. Bagaimana agar proyek penting untuk mengelakkan “benturan peradaban” tersebut bisa merasuk dalam kesadaran masyarakat? Jawabnya adalah melalui lelucon!
Sejumlah komedian Muslim Amerika segera tampil ke depan, menggunakan kekuatan komedi sebagai sarana mendefinisikan kembali apa makna sebagai kaum Muslim yang sekaligus warga negara Amerika. Inilah wajah “benturan peradaban” baru itu.
Sesosok pria berjubah, berjenggot lebat, memakai kopiah hitam, mirip pejuang Taliban, menaiki panggung. Ia lalu memberi salam : “Assalamualaikum!” Tidak ada tanggapan atau salam balik yang berarti. Pria tambun itu segera menimpali, “Bagi Anda yang tidak memahami arti salam saya tadi, akan saya beri tahu. Artinya adalah : Saya akan membunuh Anda semua!”
Penonton meledak dalam tawa.
Pejuang Islam bersenjatakan lawakan tadi adalah Azhar Usman (28). Komedian merangkap pengacara dan aktivis itu adalah lulusan ilmu komunikasi dari University of Illinois dan juris doctorate (cum-laude) dari University of Minnesota Law School. Variasi lain lawakannya yang menjurus, seperti : “Apa kesamaan teroris dan komedian Muslim? Keduanya sama-sama mem-bom!”.
Azhar, keturunan India kelahiran Chicago, mengaku, “Saya Muslim Amerika. Ya shalat, tetapi juga makan hamburger”, candanya. “Saya keponakan Osama Bin Laden. Mereka menyebut saya sebagai Bin Laughin” (Bin Ngakak).
Menanggapi sikap hipokrit yang melekat pada masyarakat AS dalam memersepsikan dunia Islam, Azhar menjelaskan bahwa di beberapa negara Islam memang diperintah oleh raja. “Tapi, apakah kita hidup di abad ke-15? Saya tak bisa membayangkan hidup di negara di mana rakyat memilih presiden berdasar siapa dulu ayahnya!”
Audiens kembali tergelak. Mereka tahu bahwa kini George W Bush yang kena tembak. Lawakan Azhar Usman tidak pernah menyinggung materi-materi biru atau porno. Satirnya merambah ke sistem peradilan kriminal. Ia katakan, “Warga kulit hitam di AS tidak pernah merasa diadili secara fair. Tetapi kami, warga keturunan Arab dan warga Muslim bahkan tidak pernah sekalipun memperoleh peradilan!”
Ia pun melucukan terorisme, sensasi di kalangan media, tata cara ibadah, politik internasional sampai prasangka rasial. “Saya berharap, lawakan saya adalah lawakan cerdas. Ini adalah cara untuk memanusiawikan apa yang tersembunyi di balik pintu. Saya pikir, bagi kalangan non-Muslim, masjid merupakan bangunan yang sangat –sangat misterius. Saya kira mereka sangat-sangat terganggu karena menara-menara masjid menyerupai rudal.”
Azhar Usman adalah bagian dari munculnya genre baru dunia komedi muslim di dunia Barat. Nama lain termasuk Ahmed Ahmed asal California yang kelahiran Mesir, Bryant Reginald Moss (Preacher Moss), warga Amerika keturunan Afrika, Maysoon Zayid berasal dari Palestina yang lahir di New Jersey, juga komedian wanita Tissa Hami keturunan Iran.
Sulayman S Nyang, profesor kajian Afrika dari Universitas Howard dan cendekiawan Muslim Amerika, seperti dikutip Caryle Murphy dari Washington Post (25/4/04), menjelaskan bahwa pemunculan komedian Muslim-Amerika merupakan pertanda bahwa komunitas Muslim telah berasimilasi dengan gaya hidup Amerika dalam hal memperolok diri, membuat satir, yang merupakan bagian dari budaya masyarakatnya.
Seperti pendahulunya, pelawak berketurunan Yahudi, Irlandia, dan Afrika, komedian Muslim juga menyuguhkan humor etnis. Tujuannya tidak hanya untuk memancing gelak, tetapi juga untuk mempromosikan penerimaan Islam ke dalam mainstream masyarakat Amerika. Melalui media hiburan, komedian Muslim yakin mampu mengikis pandangan diskriminatif berdasarkan stereotip di kalangan non-Muslim. Juga diharapkan mampu memberikan penyadaran kepada kalangan Muslim sendiri mengenai jati diri, termasuk perilaku merusak diri sendiri dan kekurangannya.
“Misi saya sebagai komedian adalah membuat penonton tertawa. Tetapi kalau saya mampu membuat mereka berpikir, hal itu merupakan bonus tambahan”, tutur Tissa Hami. “Saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita Muslim itu tertindas dan terbungkam”, lanjut master kajian internasional yang kini bekerja di Kennedy School, Universitas Harvard.
Komedi berorientasi Muslim di AS sedang naik daun. Terjadi peningkatan permintaan, baik oleh komunitas Muslim ataupun kelompok non-Muslim. Bulan Mei 2004 misalnya, digelar tur komedi baru, Allah Made Me Funny : The Official Muslim Comedy Tour. Penggagasnya adalah Preacher Moss, sebelumnya sohor sebagai penulis Saturday Night Live yang didukung komedian Azeem dan Azhar Usman.
“Ide tur ini adalah menyediakan wahana di mana kaum Muslim dan non-Muslim dapat saling merasa nyaman, relevan dan inklusif dalam pengalaman bersama ketika humor yang terjadi mampu menjembatani jurang-jurang bias, sikap tidak toleran dan penyakit sosial lainnya”, tutur Moss kepada Hannah K Strange dari UPI (8 Juni 2004).
Ia katakan, sebelum 11 September 2001, isu yang dominan dalam komunitas Muslim AS adalah isolasionisme. “Kita berada di tengah budaya Amerika tetapi kurang progresif dalam menyatakan diri. Kini seluruh komunitas Muslim harus memperbaiki diri, tumbuh, dan kita menginginkan menjadi bagian dari proses.” Komedi, menurutnya, “sarana untuk menenangkan, melucuti senjata, dan membangun jembatan melalui humor.”
Apakah lawakan diperbolehkan dalam Islam ? Menurut Azhar Usman, Nabi Muhammad adalah pribadi yang suka tersenyum dan bercanda. Dalam cerita sufi, juga terdapat tokoh Nasarudin Hoja yang termasyhur dengan lawakannya yang cerdas.
Menjadi komedian, menurutnya, juga diperbolehkan oleh syariah Islam. Pedoman bagi dirinya adalah melawak untuk membuat orang tertawa dan dilandasi niat mulia. Walau ia juga tahu, ada kelompok-kelompok konservatif Islam yang tidak menyetujui ia terjun sebagai komedian Muslim.
Mungkin itulah bedanya, simpul Azhar, dirinya sebagai Muslim Amerika merasa nyaman untuk menertawai diri sendiri dan bahkan umat Muslim lainnya di dunia. Katanya, “Momen paling mengerikan sebagai Muslim di AS adalah saat berwudlu, tertangkap basah oleh bos ketika kita sedang mencelupkan kaki di wastafel.”
Bagaimana dunia lawak Muslim di Indonesia? Kiranya Gus Dur, Mustofa Bisri atau Cak Nun sebagai intelektual Muslim, sumber inspirasi dan pencetus lawakan cerdas, kini tak boleh lagi hanya sendirian. Sangat dinantikan Nasarudin-Nasarudin Hoja baru atau komedian Muslim lahir segera di Indonesia.
Dengan meneladani Azhar Usman dan kawan-kawan, akan mampu membuka perspektif dan wajah segar baru tentang Islam. Apalagi akhir-akhir ini sebagian umat Islam seperti justru senang bersikap reaktif, daripada proaktif, dengan tampil menjadi polisi moral dalam menyikapi sebagian karya-karya kreatif anak bangsa.
Bambang Haryanto, penulis Dua Buku Kumpulan Humor, Tinggal di Wonogiri
Email : humorliner@yahoo.com
-------------
Catatan Bambang Haryanto :
Artikel ini telah dimuat di Rubrik Teroka/Humaniora, Harian Kompas, Jumat, 18 November 2005, Halaman : 14. Kini juga tertayang di situs web Kompas Cybermedia.
Pengasuh rubrik Teroka, sastrawan Radhar Panca Dahana, dalam mengantar tulisan ini antara lain mengatakan :
Masih banyak kita bisa temukan kisah, puncak-puncak sejarah, peradaban, kekuasaan, bahkan pemaknaan manusia berakhir dalam lelucon dan komedi. Satu ‘realitas’ yang jika kita bisa berada di luarnya, terlihat menggelikan.
Maka jika komedi menjadi bahasa yang (bisa jadi, paling) universal, karena memang tak satu pun manusia sehat yang tak menghendakinya. Lantaran di situlah kita kerap menemukan diri sendiri, mengalami katarsis, puncak pencerahan spiritual.
Esai “teroka” kali ini, memberi contoh yang sangat menarik. Satu hal yang tertindas, dicurigai, dinegasi, disudutkan, akan mendapat makna baru dan diterima melalui satu cara : lelucon. Maka, tak berbahagialah Anda yang tak bisa menikmatinya.
Cobalah uji dengan esai dari penulis “baru” kita kali ini”
--------------
Garin Nugroho kepada BBC Siaran Indonesia mengenai keikutsertaan filmnya, Rindu Kami Pada-Mu, ke Festival Film London 2005 mengatakan bahwa dirinya ingin mengembuskan citra yang berbeda mengenai umat Islam di forum kebudayaan internasional.
Kalau selama ini citra Islam selalu digambarkan media massa Barat sebagai umat yang selalu tampil dengan wajah marah, maka filmnya menampilkan kehidupan umat Islam yang bersahaja, ramah dan juga berwarna humor.
Memang, sejak serangan teroris 11 September 2001, prasangka buruk Barat terhadap Islam juga sebaliknya mencapai puncaknya. Presiden Bush dalam upaya melindungi kaum Muslim Amerika sampai mengatakan bahwa teroris itu bukanlah warga Muslim, melainkan pembunuh yang memakai agama Islam untuk melegitimasi tujuan politiknya.
Upaya ini bersambut, misalnya kajian bertahun-tahun yang dilakukan Irfan Omar profesor teologi dari Universitas Marquette dan koleganya, yang mendelegitimasi tindak kaum teroris dengan membedah isi Al Quran yang menentang aksi-aksi kekerasan. Tetapi, ikhtiar mulia semacam tetap tersembunyi, kurang menonjol, karena tidak ada saluran menuju aliran budaya yang utama. Bagaimana agar proyek penting untuk mengelakkan “benturan peradaban” tersebut bisa merasuk dalam kesadaran masyarakat? Jawabnya adalah melalui lelucon!
Sejumlah komedian Muslim Amerika segera tampil ke depan, menggunakan kekuatan komedi sebagai sarana mendefinisikan kembali apa makna sebagai kaum Muslim yang sekaligus warga negara Amerika. Inilah wajah “benturan peradaban” baru itu.
Sesosok pria berjubah, berjenggot lebat, memakai kopiah hitam, mirip pejuang Taliban, menaiki panggung. Ia lalu memberi salam : “Assalamualaikum!” Tidak ada tanggapan atau salam balik yang berarti. Pria tambun itu segera menimpali, “Bagi Anda yang tidak memahami arti salam saya tadi, akan saya beri tahu. Artinya adalah : Saya akan membunuh Anda semua!”
Penonton meledak dalam tawa.
Pejuang Islam bersenjatakan lawakan tadi adalah Azhar Usman (28). Komedian merangkap pengacara dan aktivis itu adalah lulusan ilmu komunikasi dari University of Illinois dan juris doctorate (cum-laude) dari University of Minnesota Law School. Variasi lain lawakannya yang menjurus, seperti : “Apa kesamaan teroris dan komedian Muslim? Keduanya sama-sama mem-bom!”.
Azhar, keturunan India kelahiran Chicago, mengaku, “Saya Muslim Amerika. Ya shalat, tetapi juga makan hamburger”, candanya. “Saya keponakan Osama Bin Laden. Mereka menyebut saya sebagai Bin Laughin” (Bin Ngakak).
Menanggapi sikap hipokrit yang melekat pada masyarakat AS dalam memersepsikan dunia Islam, Azhar menjelaskan bahwa di beberapa negara Islam memang diperintah oleh raja. “Tapi, apakah kita hidup di abad ke-15? Saya tak bisa membayangkan hidup di negara di mana rakyat memilih presiden berdasar siapa dulu ayahnya!”
Audiens kembali tergelak. Mereka tahu bahwa kini George W Bush yang kena tembak. Lawakan Azhar Usman tidak pernah menyinggung materi-materi biru atau porno. Satirnya merambah ke sistem peradilan kriminal. Ia katakan, “Warga kulit hitam di AS tidak pernah merasa diadili secara fair. Tetapi kami, warga keturunan Arab dan warga Muslim bahkan tidak pernah sekalipun memperoleh peradilan!”
Ia pun melucukan terorisme, sensasi di kalangan media, tata cara ibadah, politik internasional sampai prasangka rasial. “Saya berharap, lawakan saya adalah lawakan cerdas. Ini adalah cara untuk memanusiawikan apa yang tersembunyi di balik pintu. Saya pikir, bagi kalangan non-Muslim, masjid merupakan bangunan yang sangat –sangat misterius. Saya kira mereka sangat-sangat terganggu karena menara-menara masjid menyerupai rudal.”
Azhar Usman adalah bagian dari munculnya genre baru dunia komedi muslim di dunia Barat. Nama lain termasuk Ahmed Ahmed asal California yang kelahiran Mesir, Bryant Reginald Moss (Preacher Moss), warga Amerika keturunan Afrika, Maysoon Zayid berasal dari Palestina yang lahir di New Jersey, juga komedian wanita Tissa Hami keturunan Iran.
Sulayman S Nyang, profesor kajian Afrika dari Universitas Howard dan cendekiawan Muslim Amerika, seperti dikutip Caryle Murphy dari Washington Post (25/4/04), menjelaskan bahwa pemunculan komedian Muslim-Amerika merupakan pertanda bahwa komunitas Muslim telah berasimilasi dengan gaya hidup Amerika dalam hal memperolok diri, membuat satir, yang merupakan bagian dari budaya masyarakatnya.
Seperti pendahulunya, pelawak berketurunan Yahudi, Irlandia, dan Afrika, komedian Muslim juga menyuguhkan humor etnis. Tujuannya tidak hanya untuk memancing gelak, tetapi juga untuk mempromosikan penerimaan Islam ke dalam mainstream masyarakat Amerika. Melalui media hiburan, komedian Muslim yakin mampu mengikis pandangan diskriminatif berdasarkan stereotip di kalangan non-Muslim. Juga diharapkan mampu memberikan penyadaran kepada kalangan Muslim sendiri mengenai jati diri, termasuk perilaku merusak diri sendiri dan kekurangannya.
“Misi saya sebagai komedian adalah membuat penonton tertawa. Tetapi kalau saya mampu membuat mereka berpikir, hal itu merupakan bonus tambahan”, tutur Tissa Hami. “Saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita Muslim itu tertindas dan terbungkam”, lanjut master kajian internasional yang kini bekerja di Kennedy School, Universitas Harvard.
Komedi berorientasi Muslim di AS sedang naik daun. Terjadi peningkatan permintaan, baik oleh komunitas Muslim ataupun kelompok non-Muslim. Bulan Mei 2004 misalnya, digelar tur komedi baru, Allah Made Me Funny : The Official Muslim Comedy Tour. Penggagasnya adalah Preacher Moss, sebelumnya sohor sebagai penulis Saturday Night Live yang didukung komedian Azeem dan Azhar Usman.
“Ide tur ini adalah menyediakan wahana di mana kaum Muslim dan non-Muslim dapat saling merasa nyaman, relevan dan inklusif dalam pengalaman bersama ketika humor yang terjadi mampu menjembatani jurang-jurang bias, sikap tidak toleran dan penyakit sosial lainnya”, tutur Moss kepada Hannah K Strange dari UPI (8 Juni 2004).
Ia katakan, sebelum 11 September 2001, isu yang dominan dalam komunitas Muslim AS adalah isolasionisme. “Kita berada di tengah budaya Amerika tetapi kurang progresif dalam menyatakan diri. Kini seluruh komunitas Muslim harus memperbaiki diri, tumbuh, dan kita menginginkan menjadi bagian dari proses.” Komedi, menurutnya, “sarana untuk menenangkan, melucuti senjata, dan membangun jembatan melalui humor.”
Apakah lawakan diperbolehkan dalam Islam ? Menurut Azhar Usman, Nabi Muhammad adalah pribadi yang suka tersenyum dan bercanda. Dalam cerita sufi, juga terdapat tokoh Nasarudin Hoja yang termasyhur dengan lawakannya yang cerdas.
Menjadi komedian, menurutnya, juga diperbolehkan oleh syariah Islam. Pedoman bagi dirinya adalah melawak untuk membuat orang tertawa dan dilandasi niat mulia. Walau ia juga tahu, ada kelompok-kelompok konservatif Islam yang tidak menyetujui ia terjun sebagai komedian Muslim.
Mungkin itulah bedanya, simpul Azhar, dirinya sebagai Muslim Amerika merasa nyaman untuk menertawai diri sendiri dan bahkan umat Muslim lainnya di dunia. Katanya, “Momen paling mengerikan sebagai Muslim di AS adalah saat berwudlu, tertangkap basah oleh bos ketika kita sedang mencelupkan kaki di wastafel.”
Bagaimana dunia lawak Muslim di Indonesia? Kiranya Gus Dur, Mustofa Bisri atau Cak Nun sebagai intelektual Muslim, sumber inspirasi dan pencetus lawakan cerdas, kini tak boleh lagi hanya sendirian. Sangat dinantikan Nasarudin-Nasarudin Hoja baru atau komedian Muslim lahir segera di Indonesia.
Dengan meneladani Azhar Usman dan kawan-kawan, akan mampu membuka perspektif dan wajah segar baru tentang Islam. Apalagi akhir-akhir ini sebagian umat Islam seperti justru senang bersikap reaktif, daripada proaktif, dengan tampil menjadi polisi moral dalam menyikapi sebagian karya-karya kreatif anak bangsa.
Bambang Haryanto, penulis Dua Buku Kumpulan Humor, Tinggal di Wonogiri
Friday, November 25, 2005
Dicari : Komedian Indonesia Yang Marah Dan Frustrasi !
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com
It's such a dirty old shame
When you got to take the blame for a love song
Because the best love songs are written
With a broken heart
(Carpenters, “All You Get From Love Is A Love Song”)
Lagu Lagi Patah Hati. Phoebe Buffay yang dimainkan oleh Lisa Kudrow adalah tokoh dalam sitkom “Friends” yang paling saya sukai. Karakternya jujur, kadang suka menipu, tidak jaim dan suka berterus terang. Karakter yang dalam khasanah comedy writing disebut sebagai outrageous character, karakter nyeleneh, dan urakan. Tetapi justru kehadirannya merupakan formula penting hidupnya suatu komedi situasi.
Sekadar ilustrasi : Phoebe pernah bertamu guna menemui orang tua pacarnya, Mike Hanigan, yang berasal dari golongan elite. Saat ditanya, ia enak saja mengenalkan diri. Katanya, dia pernah mengidap sakit hepatitis gara-gara seorang mucikari meludahi mulutnya. Ibunya ia katakan, terus terang, tewas akibat bunuh diri. Kalau dipuji bahwa dirinya cantik, ia akan polos mengaku, “ya, saya memang cantik”
Ketika Mike, di kesempatan lain, memutuskan bahwa dia tidak ingin menikah akibat trauma dengan kegagalan perkawinannya yang pertama, membuat hubungan Phoebe-Mike merenggang. Phoebe, sebagai wanita pada umumnya, tentu saja ingin menikah.
Tetapi Mike tetap menolak.
Dengan hati hancur, Phoebe mengadu pada Monica. Antara lain, ia mengaku dirinya sampai kesulitan menggubah perasaan galau dan deraan patah hati itu untuk menjadi sebuah lagu !
Bagi Anda yang setia menonton sitkom garapan produser eksekutif David Crane, Marta Kauffman dan Kevin S. Bright (ia kenal sama Artika Sari Devi yang Putri Indonesia), pengakuan sok gaya model Phoebe ini pastilah memicu bahak tawa. Karena senyatanya Phoebe adalah penyanyi dan gitaris yang hanya bermodal nekad.
Coba cerna, kalau judul-judul lagu yang ia ciptakan seperti “Shut Up and Go Home” sampai “The Pervert Parade” ? Nyanyian dan petikan gitarnya jelas kalah kualitas dan jauh dari enak didengar bila dibandingkan, misalnya, dengan para pengamen yang piawai menyanyikan (juga oleh Carpenters) “Ticket To Ride” atau “I Saw You Standing There”-nya The Beatles di Stasiun KRL Bogor.
Phoebe Buffay memang tidak seperti Karen Carpenter yang menyatakan bahwa “lagu cinta terindah justru tercipta ketika seseorang sedang patah hati.” Bahkan mampu pula membuktikannya saat menampilkan lanskap suasana hati khas Carpenters, di mana patah hati pun terasa indah :
“Air mata di mataku selalu membutakanku / masa depan yang terhampar di hadapanku tak mampu kulihat / walau kutahu esok hari matahari kan bersinar / menerangi dunia untuk siapa pun, tetapi bukanlah untuk diriku”
Anjing Hitam Lord Byron. Suasana hati yang kelabu, tidak semata bisa dipicu oleh patah hati. Melainkan juga, misalnya, oleh depresi. Novelis Kanada, Robertson Davies (1913-1995) pernah mengatakan bahwa depresi itu disebut sebagai anjing hitam oleh penyair Inggris legendaris, penulis satir Don Juan, yaitu Lord Byron (1788–1824).
Seperti diungkap Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Berani Berekspresi : Buku Meditasi Untuk Para Penulis ( 2004), betapa depresi itu sering dirasakan oleh para penulis.
Tetapi mereka terus menulis di tengah depresi. Depresi bisa melumpuhkan, tetapi jika Anda dengan disiplin yang kuat, mampu mengalahkannya dan tetap bertahan di tempat Anda menulis, Anda akan tercengang melihat kualitas karya Anda.
Robertson Davies menimpali, “Saya belum pernah tahu atau mendengar ada seorang penulis yang tidak kenal dengan Anjing Hitam itu. Tetapi bagaimana pun, buku itu akhirnya berhasil ditulis, dan kadang-kadang bagian yang ditulis saat Anjing Hitam itu sedang buas-buasnya, merupakan bagian yang terbaik”
Butir Pasir Yang Menyakitkan ! Patah hati, depresi sampai frustrasi, bagi kalangan komedian merupakan bahan mentah yang berharga sebagai materi lawakannya.
Sekadar cerita : tanggal 13/9/2005 saya mendengarkan siaran radio Voice of America (VoA) seksi Indonesia. Siaran jam 18.45 itu mengudarakan Kennedy Muslim sedang menceritakan kelompok musik Switchfoot asal San Diego. Kelompok ini baru-baru ini (13 September) merilis sebuah album baru berjudul "Nothing is Sound" yang diluncurkan di AS.
Kennedy Muslim saat itu mengutip pendapat vokalis Switchfoot, Jon Foreman, bahwa dalam album terbaru mereka menggubah pengalaman hidupnya dengan memakai metafora yang indah.
Yaitu, tentang sebutir pasir yang masuk dalam cangkang kerang. Tentu saja pasir, benda asing itu, sangat menyakitkan bagi kerang bersangkutan. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu membuat hal-hal yang semula menyakitkan tersebut justru mampu mereka olah sehingga akhirnya berubah menjadi mutiara.
Metafora indah itu yang membuat saya tergerak memberanikan diri, mengirimkan email kepada Kennedy Muslim di kantor VoA, di Independence Avenue, Washington D.C., Amerika Serikat. Kennedy Muslim, dan sebelumnya juga penyiar VoA lainnya yaitu Ni Made Yoni, berbeda dari respons yang biasa saya peroleh dari pekerja media, mereka justru bermurah hati. Mereka membalas email saya, juga memberikan cerita sana-sini, yang membuat saya merasa tersanjung dan terhormat.
Butir pasir di cangkang kerang.
Kita semua, baik warga biasa atau pun para komedian pastilah sama-sama pernah mengalami penderitaan atau kesengsaraan. Tetapi yang membedakan antara orang biasa dan komedian adalah bahwa kemarahan sampai penderitaan yang dialami itu, oleh seorang komedian, mampu mereka ubah dan mereka gubah menjadi sebuah hiburan. Di atas panggung, para komedian itu mengusung penderitaan, obsesi kesedihan, nasib buruk, ketakutan sampai bencana, sengaja mereka bedah guna mengguncang tawa audiensnya.
Patah hati mampu menelorkan lagu cinta yang terindah, begitu senandung Karen Carpenter. Lalu kondisi macam apa yang mampu melahirkan seorang komedian ? Steve Silberberg, moderator newsgroup alt.comedy.standup, mengatakan :
“But just as pressure and heat transform coal into diamonds, it's that frustration, social pressure and the heat of anger that transforms us into comedians”.
“Sebagaimana gencetan dan panasnya api mampu mengubah arang menjadi intan, maka frustrasi, tekanan sosial dan panasnya api kemarahan mampu pula mengubah diri kita menjadi seorang komedian”
Apakah hal serupa juga terjadi di kalangan komedian di Indonesia ?
Sayang, di Indonesia dewasa ini, sepertinya hal tersebut tidak terjadi. Sekadar ilustrasi aktual : kenaikan harga BBM yang benar-benar mencekik leher rakyat banyak, tim perekonomian SBY-Kalla yang gagal total, merebaknya wacana penghidupan kembali komando teritorial yang mengancam embrio kehidupan berdemokrasi yang mulai mekar sampai ledakan bom Bali 2, justru tidak nampak memicu empati, kemarahan sampai rasa frustrasi kalangan komedian Indonesia untuk tampil menyuarakan nurani dan akal sehatnya. Lelucon-lelucon mereka tidak pernah memihak kepada rakyat.
Mungkin mereka memang tidak punya nyali. Atau sudah tuli ? Atau sudah tidak pula punya nurani ? Apa pendapat Anda ?
Wonogiri, 3/9 – 18/10/2005
Email : humorliner@yahoo.com
It's such a dirty old shame
When you got to take the blame for a love song
Because the best love songs are written
With a broken heart
(Carpenters, “All You Get From Love Is A Love Song”)
Lagu Lagi Patah Hati. Phoebe Buffay yang dimainkan oleh Lisa Kudrow adalah tokoh dalam sitkom “Friends” yang paling saya sukai. Karakternya jujur, kadang suka menipu, tidak jaim dan suka berterus terang. Karakter yang dalam khasanah comedy writing disebut sebagai outrageous character, karakter nyeleneh, dan urakan. Tetapi justru kehadirannya merupakan formula penting hidupnya suatu komedi situasi.
Sekadar ilustrasi : Phoebe pernah bertamu guna menemui orang tua pacarnya, Mike Hanigan, yang berasal dari golongan elite. Saat ditanya, ia enak saja mengenalkan diri. Katanya, dia pernah mengidap sakit hepatitis gara-gara seorang mucikari meludahi mulutnya. Ibunya ia katakan, terus terang, tewas akibat bunuh diri. Kalau dipuji bahwa dirinya cantik, ia akan polos mengaku, “ya, saya memang cantik”
Ketika Mike, di kesempatan lain, memutuskan bahwa dia tidak ingin menikah akibat trauma dengan kegagalan perkawinannya yang pertama, membuat hubungan Phoebe-Mike merenggang. Phoebe, sebagai wanita pada umumnya, tentu saja ingin menikah.
Tetapi Mike tetap menolak.
Dengan hati hancur, Phoebe mengadu pada Monica. Antara lain, ia mengaku dirinya sampai kesulitan menggubah perasaan galau dan deraan patah hati itu untuk menjadi sebuah lagu !
Bagi Anda yang setia menonton sitkom garapan produser eksekutif David Crane, Marta Kauffman dan Kevin S. Bright (ia kenal sama Artika Sari Devi yang Putri Indonesia), pengakuan sok gaya model Phoebe ini pastilah memicu bahak tawa. Karena senyatanya Phoebe adalah penyanyi dan gitaris yang hanya bermodal nekad.
Coba cerna, kalau judul-judul lagu yang ia ciptakan seperti “Shut Up and Go Home” sampai “The Pervert Parade” ? Nyanyian dan petikan gitarnya jelas kalah kualitas dan jauh dari enak didengar bila dibandingkan, misalnya, dengan para pengamen yang piawai menyanyikan (juga oleh Carpenters) “Ticket To Ride” atau “I Saw You Standing There”-nya The Beatles di Stasiun KRL Bogor.
Phoebe Buffay memang tidak seperti Karen Carpenter yang menyatakan bahwa “lagu cinta terindah justru tercipta ketika seseorang sedang patah hati.” Bahkan mampu pula membuktikannya saat menampilkan lanskap suasana hati khas Carpenters, di mana patah hati pun terasa indah :
“Air mata di mataku selalu membutakanku / masa depan yang terhampar di hadapanku tak mampu kulihat / walau kutahu esok hari matahari kan bersinar / menerangi dunia untuk siapa pun, tetapi bukanlah untuk diriku”
Anjing Hitam Lord Byron. Suasana hati yang kelabu, tidak semata bisa dipicu oleh patah hati. Melainkan juga, misalnya, oleh depresi. Novelis Kanada, Robertson Davies (1913-1995) pernah mengatakan bahwa depresi itu disebut sebagai anjing hitam oleh penyair Inggris legendaris, penulis satir Don Juan, yaitu Lord Byron (1788–1824).
Seperti diungkap Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Berani Berekspresi : Buku Meditasi Untuk Para Penulis ( 2004), betapa depresi itu sering dirasakan oleh para penulis.
Tetapi mereka terus menulis di tengah depresi. Depresi bisa melumpuhkan, tetapi jika Anda dengan disiplin yang kuat, mampu mengalahkannya dan tetap bertahan di tempat Anda menulis, Anda akan tercengang melihat kualitas karya Anda.
Robertson Davies menimpali, “Saya belum pernah tahu atau mendengar ada seorang penulis yang tidak kenal dengan Anjing Hitam itu. Tetapi bagaimana pun, buku itu akhirnya berhasil ditulis, dan kadang-kadang bagian yang ditulis saat Anjing Hitam itu sedang buas-buasnya, merupakan bagian yang terbaik”
Butir Pasir Yang Menyakitkan ! Patah hati, depresi sampai frustrasi, bagi kalangan komedian merupakan bahan mentah yang berharga sebagai materi lawakannya.
Sekadar cerita : tanggal 13/9/2005 saya mendengarkan siaran radio Voice of America (VoA) seksi Indonesia. Siaran jam 18.45 itu mengudarakan Kennedy Muslim sedang menceritakan kelompok musik Switchfoot asal San Diego. Kelompok ini baru-baru ini (13 September) merilis sebuah album baru berjudul "Nothing is Sound" yang diluncurkan di AS.
Kennedy Muslim saat itu mengutip pendapat vokalis Switchfoot, Jon Foreman, bahwa dalam album terbaru mereka menggubah pengalaman hidupnya dengan memakai metafora yang indah.
Yaitu, tentang sebutir pasir yang masuk dalam cangkang kerang. Tentu saja pasir, benda asing itu, sangat menyakitkan bagi kerang bersangkutan. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu membuat hal-hal yang semula menyakitkan tersebut justru mampu mereka olah sehingga akhirnya berubah menjadi mutiara.
Metafora indah itu yang membuat saya tergerak memberanikan diri, mengirimkan email kepada Kennedy Muslim di kantor VoA, di Independence Avenue, Washington D.C., Amerika Serikat. Kennedy Muslim, dan sebelumnya juga penyiar VoA lainnya yaitu Ni Made Yoni, berbeda dari respons yang biasa saya peroleh dari pekerja media, mereka justru bermurah hati. Mereka membalas email saya, juga memberikan cerita sana-sini, yang membuat saya merasa tersanjung dan terhormat.
Butir pasir di cangkang kerang.
Kita semua, baik warga biasa atau pun para komedian pastilah sama-sama pernah mengalami penderitaan atau kesengsaraan. Tetapi yang membedakan antara orang biasa dan komedian adalah bahwa kemarahan sampai penderitaan yang dialami itu, oleh seorang komedian, mampu mereka ubah dan mereka gubah menjadi sebuah hiburan. Di atas panggung, para komedian itu mengusung penderitaan, obsesi kesedihan, nasib buruk, ketakutan sampai bencana, sengaja mereka bedah guna mengguncang tawa audiensnya.
Patah hati mampu menelorkan lagu cinta yang terindah, begitu senandung Karen Carpenter. Lalu kondisi macam apa yang mampu melahirkan seorang komedian ? Steve Silberberg, moderator newsgroup alt.comedy.standup, mengatakan :
“But just as pressure and heat transform coal into diamonds, it's that frustration, social pressure and the heat of anger that transforms us into comedians”.
“Sebagaimana gencetan dan panasnya api mampu mengubah arang menjadi intan, maka frustrasi, tekanan sosial dan panasnya api kemarahan mampu pula mengubah diri kita menjadi seorang komedian”
Apakah hal serupa juga terjadi di kalangan komedian di Indonesia ?
Sayang, di Indonesia dewasa ini, sepertinya hal tersebut tidak terjadi. Sekadar ilustrasi aktual : kenaikan harga BBM yang benar-benar mencekik leher rakyat banyak, tim perekonomian SBY-Kalla yang gagal total, merebaknya wacana penghidupan kembali komando teritorial yang mengancam embrio kehidupan berdemokrasi yang mulai mekar sampai ledakan bom Bali 2, justru tidak nampak memicu empati, kemarahan sampai rasa frustrasi kalangan komedian Indonesia untuk tampil menyuarakan nurani dan akal sehatnya. Lelucon-lelucon mereka tidak pernah memihak kepada rakyat.
Mungkin mereka memang tidak punya nyali. Atau sudah tuli ? Atau sudah tidak pula punya nurani ? Apa pendapat Anda ?
Wonogiri, 3/9 – 18/10/2005
Subscribe to:
Posts (Atom)
