Friday, January 16, 2009

The Harvard Lampoon dan Masa Depan Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Otak lucu dan jenius. “Empat tahun berkuliah di Harvard cukup sudah,” tutur John Updike (1932–2009 ), novelis dan penulis cerita pendek terkenal Amerika. “Saya memang masih harus banyak belajar, tetapi juga mendapatkan gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.”

Ia lulus dari Universitas Harvard pada tahun 1955 dan kariernya kemudian banyak terkait dengan majalah mingguan The New Yorker yang terkenal. Ia masuk jajaran dengan nama-nama penulis besar Amerika yang berkecimpung di majalah yang didirikan oleh Harold W. Ross yang terbit pertama kali tanggal 21 Februari 1925.

Para penulis itu antara lain Robert Benchley (1889-1945), humoris Amerika. Yang menarik dari keduanya adalah : selain sama-sama alumnus Harvard, juga sama-sama digembleng ketajaman ujung penanya ketika terjun mengelola majalah satir, The Harvard Lampoon (THL), saat mereka masih menjadi mahasiswa.

The Harvard Lampoon itu diluncurkan pertama kali tahun 1876 sebagai terbitan majalah humor oleh mahasiswa tingkat sarjana Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts. Terbit setahun lima kali, menurut Wikipedia, THL yang mengambil model majalah satir Inggris Punch itu kini nampak lestari sebagai majalah humor berbahasa Inggris yang mampu berumur panjang.

Yang juga membanggakan, kawah candradimuka THL tersebut kemudian mampu melahirkan alumnus yang menyandang nama-nama terkenal dalam dunia media, sastra dan humor. Sebut saja William Randolph Hearst (1863–1951), nama raksasa dalam dunia penerbitan media di Amerika Serikat. Atau George Santayana (1863–1952), kritikus dan filsuf kelahiran Madrid, Spanyol. Mereka yang berkiprah sebagai penulis buku, selain John Updike juga ada William Gaddis, Cass Sunstein, Simon Rich, George Plimpton, Fred Gwynne sampai Douglas Kenney.

Mereka yang terjun dalam dunia kepenulisan program televisi, selain nama Simon Rich di atas, juga ada B.J. Novak, Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Untuk nama terakhir ini, yang lulusan magna cum laude dari Harvard, saya berlangganan kolom satirnya, The Borowitz Report, sejak 2007. Jejak mereka itu diikuti ratusan alumnus THL lainnya.

Bahkan dapat ditandaskan bahwa hampir setiap program televisi di Amerika yang menjadi hit dalam beberapa dekade terakhir pasti ditongkrongi oleh satu atau lebih otak-otak lucu dan jenius yang alumnus The Harvard Lampoon. Sebut saja acara Saturday Night Live (sejak 1975), Futurama, dan Late Show with David Letterman (1982).

Menurut Encyclopedia of 20th-Century American Humor (2000), buku babon seluk beluk dunia komedi yang dihadiahkan oleh Danny Septriadi kepada saya, alumnus THL juga menulis untuk program televisi seperti Seinfeld, Veronica’s Closet, Murphy Brown, Suddenly Susan, The Larry Sanders Show, Cracker, News Radio, Third Rock from the Sun dan The Naked Truth.

Anda kenal sitkom animasi The Simpsons (1989) ? Disebut sebagai sitkom animasi yang pemutarannya tercatat sebagai terpanjang dalam sejarah televisi, kisah Bart Simpson yang tak pernah naik kelas dari kelas empat sekolah dasar dan keluarganya ini, dalam masa produksinya telah memperkerjakan 36 penulis yang alumnus The Harvard Lampoon tadi.


Humor dipandang rendah. “Humor is serious, not just funny.” Itulah judul artikel almarhum Arwah Setiawan dan Bambang Utomo di koran The Jakarta Post (14/9/1992). Humor memang serius, tidak hanya jenaka. Dengan merujuk nama-nama alumnus pengelola majalah komedi sebuah universitas tersohor di dunia, juga kiprah spektakuler dan kreasi mereka setelah kelulusannya, mungkin kita dapat terinspirasi untuk membuka diskusi tentang bagaimana dunia kepenulisan humor itu, misalnya, bisa ditumbuh kembangkan di kampus-kampus kita.

Dengan mengambil contoh ranah komedi solo, Woody Allen menyatakan bahwa “ultimately, the success of stand-up comic is often determined by his material.” Material itu tidak lain adalah naskah. Begitu pentingnya naskah, tentu saja juga para penulisnya, kita dapat bercermin ketika hampir sepuluh minggu, dari 5 November 2007 hingga 8 Januari 2008 para penulis naskah program dunia hiburan Amerika Serikat melakukan pemogokan secara besar-besaran.

Mereka tergabung dalam organisasi penulis Writers Guild of America, East (WGAE) dan Writers Guild of America, West (WGAW). Kedua organisasi itu yang menghimpun sampai 12.000 anggota merupakan serikat pekerja yang mewakili para penulis untuk film, televisi dan radio yang berkarya di Amerika Serikat. Mereka melakukan pemogokan untuk melawan kebijakan dari Alliance of Motion Picture and Television Producers (AMPTP), organisasi dagang yang mewakili interes para produser film dan acara televisi Amerika Serikat. Isu pokok sengketa mereka adalah menyangkut pembayaran royalti bagi para penulis naskah untuk program-program yang ditayangkan di pelbagai media baru, yaitu media digital, utamanya di Internet.

Karuan saja saat itu dunia televisi Amerika Serikat menjadi kalang kabut. "Writers strike to hit TV first - and hard", tulis koran The Salt Lake Tribune (4/11/2007). Apalagi banyak kaum selebritis yang ikut mendukung mereka sebagaimana ungkap harian USA Today (9/11/2007) : “More celebs show solidarity at writers' picket lines.” Ketika terjadi pemogokan sebelumnya di tahun 1988 yang berlangsung hampir 22 minggu, telah mengakibatkan dunia industri hiburan Amerika Serikat merugi yang diperkirakan mencapai 500 juta dollar.

Mengomentari peristiwa itu, komedian David Letterman mengeluh bahwa tanpa penulis naskah dirinya ibarat Roger Clemens tanpa doping hormon pertumbuhan manusia. Roger Clemens adalah atlet bisbol yang saat itu bikin heboh karena tertangkap menggunakan hormon untuk meningkatkan prestasinya.

Tapi Letterman dalam menanggapi pemogokan itu juga sempat menyodok George W. Bush, sang sumber kaya untuk olok-olok. Ia katakan, para penulis naskah itu sebenarnya hanya punya dua tuntutan : mendapat royalti ketika karya kreatifnya ditayangkan di Internet dan menuntut agar George W. Bush memangku jabatannya empat tahun lagi !

Komedian yang juga alumnus THL, lulus dengan magna cum laude dari Harvard 1985 dengan konsentrasi Sejarah dan Sastra, Conan O’Brien, ketika memandu acaranya Late Night with Conan O'Brien tampil beda. Ia membiarkan brewoknya tumbuh lebat. “Dalam sepanjang hidup saya, saya tak pernah memelihara brewok saya. Kini saya menumbuhkannya sebagai tanda solidaritas kepada para penulis naskah dan sekaligus untuk menunjukkan kejantanan saya. Dua burung dengan satu lemparan batu !,” candanya.

Lain di Amerika, lain pula di negara tercinta kita. “Merujuk pentingnya fungsi humor, sungguh aneh bila humor tidak menjadi kajian yang serius di Indonesia. Bila di Barat humor atau komedi telah menjadi objek kajian sejak jaman Plato, sebaliknya bangsa Indonesia cenderung meremehkannya dan hanya memandangnya sebagai trivia, remeh-temeh belaka,” keluh Arwah Setiawan dan Bambang Utomo lima belas tahun lalu itu. Bagaimana potret aktualnya masa kini ?

Kita Mabuk Komedi. Potret nyata perlakuan dunia intelektual sampai dunia industri hiburan kita terhadap humor atau komedi sebagai hal yang remeh-temeh, mungkin dapat tercermin ketika menghidupkan pesawat televisi Anda. Tayangan komedi kita sebagian besar adalah komedi kasar, slapstick atau riddle, tebak-tebakan.

Sekadar contoh, Kelik Pelipur Lara dalam acara Dunia Dalam Ketawa (Antv), seolah ia sebagai penyiar bertanya kepada temannya : “Mengapa babi bau ?” Temannya menjawab, karena babi suka hidup di habitat yang kotor. Kelik lalu membuat jawaban yang rasa ia benar : “Karena babi mempunyai ketek empat, jadi sangat bau.” Penonton memang boleh tertawa. Tetapi kita tahu, itulah bentuk dari low comedy. Tebak-tebakan adalah lelucon untuk anak-anak.

Gambaran lain dari tayangan komedi kita di layar kaca kita bisa membaca komentar wartawan Kompas Budi Suwarna dan Susi Ivvaty (21/12/2008). Keduanya sempat menulis mengenai acara Empat Mata, kini Bukan Empat Mata : “Dari dulu begitu-begitu saja. Guyonan Tukul Arwana tidak banyak berubah selama 2,5 tahun membawakan acara tersebut.”

Pada laporannya yang terbaru berjudul “Menonton Komedi Sampai Mabuk” (11/1/2009), Budi Suwarna menulis mengenai acara komedi yang saat ini menjadi prima dona acara di televisi kita. Konon karena masyarakat saat ini sedang jenuh terhadap isu-isu politik dan dirundung stres akibat terjepit tekanan ekonomi, maka mereka mencari penghiburan lewat acara-acara komedi di televisi. “Itu sebabnya mereka merespons acara-acara komedi yang ringan dan bisa membuat mereka tertawa,” kata Zoraya Perucha dari Antv yang dikutip dalam laporan itu.

Akibatnya, ragam tontonan di televisi memang kian mengarah kepada hiburan semata. Apa pun acaranya, sebagian besar dikemas dalam bentuk ringan dan diasumsikan dapat menghibur penonton. “Talk show politik pun,” catat Budi Suwarna lebih lanjut, “kini, dikemas sedemikian cairnya hingga mendekati panggung lawak.

Alih-alih memberikan informasi yang berharga dan menjelaskan duduk perkara, talk show semacam itu justru menyajikan sederet kekonyolan. Para pengelola televisi beralasan, penonton sekarang kebanyakan tidak mau berpikir terlalu ruwet ketika menonton televisi. Karena itu televisi memberikan tontonan ringan.”

Premis pengelola televisi itu memang tidak dapat disalahkan. Ketika menonton televisi memang telah terjadi perubahan gelombang dalam otak kita : menurunnya gelombang cepat yang merupakan karakteristik aktivitas berpikir dan meningkatkan jumlah gelombang lemah yang merupakan karakteristik keadaan yang santai. Itulah sebabnya mengapa menonton televisi membuat kita santai, karena otak kita benar-benar dalam kondisi padam.

Liur anjing Pavlov. Menurut kajian Fred Emery dan Merrelyn Emery dalam bukunya A Choice of Futures: To Enlighten or Inform (1976), kondisi merasa santai bagi pemirsa itu menjadikan televisi sebagai kendaraan penyampai iklan yang efektif. Citra-citra dan pesan itu memasuki otak tanpa diproses, tidak dapat diingat kembali, tetapi dapat dikenali, misalnya ketika sang pemirsa itu berada di pasar swalayan.

Kajian ini mungkin memperkuat isi tulisan saya sebelumnya, betapa penonton tayangan komedi kita telah mengalami metamorfosis sehingga perangainya mirip sebagai “anjing Pavlov.” Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : begitu tombol televisi dinyalakan, otak kita pun padam, sehingga yang memandu kita selanjutnya adalah bunyi bel yang membuat anjing-anjing dalam eksperimen Dr. Pavlov itu mengeluarkan air liur masing-masing.

Bunyi bel itu bisa berupa kata-kata “kembali ke laptop”-nya Tukul Arwana. Atau apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, yang tanpa perlu dikaji benar atau salah secara moral, atau berdasar pertimbangan akal sehat, maka refleks otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan kompak bertepuk tangan.

A mob is a group of people with heads, but no brains.

Jadi tidak penting lagi apakah audiens itu punya latar belakang sebagai anggota partai politik, mereka yang dari pakaiannya nampak sebagai umat yang taat beribadah atau pun anak-anak muda yang mengenakan jaket alma maternya, perilaku mereka sebagai gerombolan hampir identik ketika tampil sebagai audiens dalam sesuatu acara komedi dan bahkan juga acara non-komedi di layar kaca kita.


Otak mahasiswa tercecer. Olah kreativitas komedi di Indonesia masih berpeluang diselamatkan masa depannya, dengan mengeksploitasi kedahyatan media-media baru berbasis digital. Seorang Barack Obama bisa meraih kursi Gedung Putih antara lain berkat bantuan situs berbagi video YouTube.com, bahkan ia memerintah kini dengan tetap mengandalkan media yang sama untuk meraih rakyat.

Ide serupa a la Obama itu sudah saya sosialisasikan sebagai gerakan komedi indie sejak saya gagal di audisi API-4. Gagasan itu muncul setelah mengkaji pula sistem perekrutan model API yang nyatanya tidak begitu menjanjikan untuk kemajuan dunia komedi Indonesia. Media mainstream seperti televisi memang memiliki agenda tersendiri, mengejar rating dan iklan, dimana hal itu selalu tidak kompatibel dengan aspirasi baru di dunia komedi. Insan-insan cerdas dari dunia komedi Indonesia harus menempuh jalan alternatif. Jalan baru sesuai tuntutan jaman. Jalan digital. Keampuhan situs YouTube.com menanti mereka manfaatkan secara sepenuh daya untuk pengembangan talenta-talenta baru komedi Indonesia.

“Jangan hanya jadi konsumen industri kreatif.” Itulah kepala berita di harian Kompas (11/12/2008) yang melaporkan seminar bertajuk “Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai Paradigma Keilmuan” yang dilangsungkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sumber daya manusia Indonesia harus juga menjadi produsen industri kreatif. Salah satu nara sumber, Sapardi Djoko Damono, mengatakan bahwa kultur bangsa-bangsa mengarah kepada kultur urban yang ditandai antara lain dengan kreativitas. Kreativitas dan bakat itu dapat dikembangkan. Perguruan tinggi, dalam hal ini Fakultas Ilmu Budaya, menjadi salah satu tempatnya.

Sebagai alumnus fakultas yang sama, saya berharap komedi ikut pula memperoleh porsi yang memadai untuk dikembangkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut. Minimal, dengan merintis penerbitan atau situs yang visi-misinya kurang lebih mirip dengan penerbitan The Harvard Lampoon dari Universitas Harvard itu. Imbauan ini juga berlaku untuk perguruan tinggi lainnya. Termasuk perguruan tinggi yang mahasiswanya suka tawuran, siapa tahu pengembangan seni berkomedi akan mengubah paradigma pikir dan perilaku mereka. Bahwa adu olok-olok lebih berbudaya daripada adu golok.

Kita pun berharap mereka akan terilhami oleh kata-kata John Updike, yang meninggal dunia ketika tulisan ini dipersiapkan, 27 Januari 2009 dalam usia 76 tahun, bahwa kelulusan dari bangku kuliah telah memberinya berkah, berupa “gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.” Bila hal vital itu tidak terjadi, maka tragedilah yang akan terjadi, seperti diceritakan dalam lelucon model Harvard di bawah ini.

Saya kutipkan dari bukunya wartawan brilyan majalah Fortune, Thomas A. Stewart, yang berjudul Intellectual Capital : The New Wealth of Organization (1997). Tentang rektor Universitas Harvard yang menjabat tahun 1909-1933, Abbott Lawrence Lowell. Suatu hari ada seorang tamu yang bertanya di kampusnya, “Bagaimana sedemikian banyak pengetahuan dapat terkumpul di hulu Sungai Charles ini, Tuan Lowell ?”

Lowell menjawab : “Oh, sangat sederhana. Setiap tahun kami menerima pemuda yang paling brilyan di Amerika” – pada masa itu hampir semuanya pemuda, dan hampir semuanya orang Amerika-- dan ketika mereka diwisuda empat tahun kemudian, mereka hampir semuanya tidak tahu dan tidak peduli apa-apa. Jadi, pasti mereka meninggalkan ilmu dan pengetahuannya di sini.”


Wonogiri, 4/1-7/2/2009


ke

Monday, December 15, 2008

Menggugat Masa Depan Neo Srimulat

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Aneh itu lucu. Mayat hidup itu terus mengancam. Berjubah putih dengan bercak darah di sana-sini. Walau geraknya lamban, ia terus memburu sasaran. Di tengak sorak-sorai penonton, pelawak Basuki terus berusaha menyelamatkan diri dari kejarannya. Toh akhirnya ia harus menyerah.

Itulah puncak dari tontonan Anekaria Srimulat malam itu di Taman Ria Senayan, Jakarta. Saya menontonnya saat diajak teman kuliah di UI, Bakhuri Jamaluddin, di tahun 1980-an. Adegan klimaks itu terasa membekas, selain penampilan tak terduga di awal acara malam itu. Kali ini dari sosok pria kurus yang bersurjan Jawa. Wajahnya dilumuri bedak tebal seperti pemain pantomim. Ia berdiri di pinggiran panggung di depan mik. Sejurus kemudian dari mulutnya mengalun lagu hitnya Tommy Bennet, “I Left My Heart in San Francisco” yang indah itu.

Adegan segar serupa rupanya juga membuat terpana intelektual humor Indonesia, almarhum Arwah Setiawan. Dalam buku berjudul Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi tulisan Herry Gendut Janarto, Arwah mencatat penampilan seorang peraga Srimulat, yaitu Budi SR, yang mampu memporakporandakan daya asosiasinya. Budi satu ini tampil di panggung sebagai tukang pijat, lengkap dengan tongkat putih dan bunyi crek...crek. Tetapi kemudian ia melantunkan lagu “And I Love You So”-nya Perry Como dengan artikulasi yang benar dan suara merdu.

Aksi Budi SR itu merupakan salah satu pengejawantahan filosofi atau resep yang ditinggalkan Teguh Srimulat bahwa "yang aneh itu lucu" dan telah melambungkan kelompok lucu Srimulat ini pada puncak kejayaannya, antara tahun 1970-1990-an awal. Kelompok humor ini mampu menyedot penonton hingga memenuhi kapasitas 800 penonton di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Bahkan mereka pun, seperti tertulis di awal tulisan ini, mampu membuka franchise panggungnya yang juga laris di Jakarta dan Solo pula.

Lanskap dunia lawak Indonesia kemudian mengenal nama-nama terkenal antara lain seperti Asmuni, Bambang Gentolet, Basuki, Bendot, Djudjuk, Eko DJ, Gepeng, Gogon, Kadir, Mamiek, Nunung, Nurbuat, Subur, Tarzan, Tessy, Timbul, Triman, Vera, dan masih banyak lagi. Majalah GAMMA (31/12/2001-6/1/2002) menulis kiprah para alumnus Srimulat sebagai penggerak industri humor di televisi bernilai milyaran rupiah (foto) saat itu. Sebagian dari mereka kini sudah almarhum, sementara sebagian kecil alumnus Srimulat itu masih sesekali terlihat di televisi. Aura Srimulat pun nampaknya semakin memudar. Apakah benar-benar sama sekali telah memudar ?


Neo Srimulat ? Rupanya belum. Di perpustakaan umum Wonogiri saya menemukan iklan menarik tentangnya. Muncul di koran Jawa Pos (11/12/2008 : 19) tertulis iklan “Srimulat Manggung Keliling : Jawa Pos dan Srimulat Mencari Neo Srimulat 2009.”

Iklan ini mengundang kelompok calon pengocok perut a la Srimulat untuk mengikuti audisi tanggal 10-11 Januari 2008. Hadiah total 126 juta rupiah. Pendaftaran dibuka 5 – 31 Desember 2008 dengan mengisi formulir dalam iklan tersebut. Juga menyertakan kwitansi langganan koran Jawa Pos terbaru. Setiap kelompok maksimal beranggotakan 5 (lima) orang personel.

Pengumuman Grup Neo Srimulat yang lolos audisi dilakukan pada tanggal 14 Januari 2009. Informasi lebih lanjut dapat mengontak panitia di Graha Pena, Lt. 5, Jl. A. Yani 88 Surabaya, Sdr Deny : 031-8202230. (Data yang saya tulis ini bisa salah, karena cetakan dalam iklan itu, bagi saya, terlalu kecil.-BH).

Ikhtiar untuk memajukan dunia lawak di Indonesia, seperti yang digagas dan dilaksanakan oleh koran Jawa Pos di atas, merupakan upaya yang sangat terpuji. Hari-hari mendatang mungkin kita bisa mengikuti berita yang riuh dan heboh, atau dibuat riuh dan heboh, dari korannya Pak Dahlan Iskan ini mengenai antusias masyarakat kita untuk menjadi pelawak Neo Srimulat itu.


Pelawak meja makan. Kita halal menerka-nerka kini : seperti apa kira-kira manifestasi dari proklamasi slogan “neo” untuk genrekelompok lawak lama tersebut ? Untuk mencoba ikut mencari jawab, saya akan merujuk dulu kepada tulisan wartawan Kompas, Frans Sartono, yang berjudul “Melawak di Tengah Perubahan Zaman” (24/1/2005). Tulisan semacam ini termasuk langka di media massa kita, mungkin untuk menunjukkan betapa dunia komedi kita akhir-akhir ini tidak memiliki daya tarik cukup sebagai wacana intelektual yang berarti. Tulisan tentang komedi Indonesia yang sesekali muncul kebanyakan hanya berupa obituari.

Tulisan Frans Sartono yang menarik itu dihadirkan nampak semata membarengi acara Musyawarah Seniman Komedi Indonesia I di Jakarta. Musyawarah itu akhirnya mengukuhkan berdirinya Persatuan Seniman Komedi Indonesia (Paski), juga memilih Indrojoyo Kusumonegoro (46) alias Indro Warkop sebagai Ketua Umum Paski. Dedi “Miing” Gumelar terpilih sebagai Sekretaris Jenderal, sedangkan Tarzan dan Eko Patrio menjabat sebagai wakil Ketua I dan II.

Begitulah seniman komedi Indonesia membentuk organisasi untuk membenahi profesi mereka di dunia lawak yang saat ini telah menjadi bagian penting dari industri hiburan di Indonesia. Miing Bagito bersama Tarzan dan kawan-kawan, seperti ungkap Frans Sartono, menggagas musyawarah tersebut sebagai upaya agar lawak diperlakukan sebagai pekerjaan profesional layaknya profesi lain di jagat hiburan.

Benang merahnya, selain membenahi kesejahteraan hidup pelawak, Paski juga akan membenahi sumber daya para pelawak. “Kami ini kan engga ada sekolah untuk meningkatkan skill dan knowledge (keterampilan dan pengetahuan). Organisasi ini nantinya diharapkan menjadi fasilitator untuk meningkatkan sumber daya pelawak,” kata Miing.

Sementara Indro mengatakan, Paski nantinya akan memberi pengetahuan seputar manajemen, asuransi, selain juga kemampuan seni peran. Bahkan Indro mempunyai gagasan, menurut saya lucu, terkait niatnya memberi pengetahuan seputar tata karma di meja makan, table manner, kepada pelawak. “Selain bisa menjadi bekal mereka dalam pergaulan sosial, table manner, itu kan bisa jadi bahan lawakan,” kata Indro.

Ide table manner itu kemudian ditangkap secara jeli oleh Frans Sartono sebagai penanda perubahan jaman : dari suguhan lawakan berlatar belakang masyarakat agraris menuju transformasi materi lawakan yang sesuai untuk masyarakat industri modern yang lebih kompleks. Ilustrasinya : dagelan seputar cap jae, atau cap jay yang sering terdengar di pentas Srimulat itu, harus disesuaikan dengan kelas masyarakat pemilik kultur table manner, yaitu generasi baru konsumen hiburan di Indonesia.

Mereka itu adalah generasi yang tidak mengenal Basiyo, Kwartet Jaya-nya Bing Slamet (bersama Eddi Sud, Ateng dan Iskak), Bagyo dan Srimulat. Mereka menyerap beragam format komedi mulai dari lawakan stand-up comedian, tampilan komedian tunggal, hingga sitcom, komedi situasi.

Implikasi dari perubahan itu, katanya, pelawak kita harus berbicara dengan bahasa lawak yang baru. Harus menyesuaikan dengan manajemen modern yang berlaku dalam industri hiburan yang menuntut kecepatan produksi. Dituntut lebih sigap tampil di berbagai format tampilan di depan penonton yang berbeda. Juga mampu tetap lucu di segala situasi. Untuk itu, telah dirujuk pendapat Us Us dari D’Bodor yang mengatakan : untuk menghadapi industri hiburan yang terus berkembang, pelawak harus mau belajar soal ilmu pemanggungan.

Spontanitas tetap diperlukan, kata Us Us, tetapi “pelawak juga perlu naskah. Kami memerlukan script writer, penulis naskah, agar tidak stagnan dan terhindar dari pengulangan materi. Kita gabungkan naskah dengan kemampuan improvisasi.” Us Us memberi contoh Bob Hope yang memanfaatkan kekuatan naskah dan improvisasi spontan.

Warkop, juga Bagito, kemudian disebut sebagai contoh oleh Frans Sartono sebagai grup lawak yang mulai tanggap dengan perkembangan atau pergeseran pasar. Mereka mulai menggunakan naskah dan berpakaian jas. Walau, menurutnya, materi lawakannya sebagian masih menyisakan bau agraris warisan generasi Srimulat.


Manusia licik. Kembali ke realitas: kedua contoh di atas, sayangnya, kini tinggal sejarah. Warkop, sepeninggal Dono dan Kasino, praktis tiada lagi sekarang ini. Bagito sudah pula bubar karena habis. “Tinggalkan dunia lawak,” demikian judul berita koran Suara Merdeka (4/11/2008 : 16). Bahkan disebutkan, “meninggalkan dunia lawak seratus persen.” Itu cerita tentang diri Miing Bagito, Sekretaris Jenderal Paski, yang kini sebagai caleg DPR RI suatu partai untuk daerah pemilihan Banten.

Ilustrasi kecil terakhir ini dan gambaran besar lanskap dunia lawak di Indonesia yang diungkap oleh Frans Sartono, semoga dapat menjadi masukan bagi penggagas acara audisi Neo Srimulat tadi. Juga, tentunya, bagi para peserta. Termasuk memperhatikan secara seksama impian Us Us dari D’Bodor mengenai pentingnya para penulis naskah komedi di balik panggung lawakan mereka.

Fihak Jawa Pos dapat pula belajar dari penyelenggaraan dan hasil akhir pelbagai audisi calon pelawak yang pernah diselenggarakan oleh stasiun televisi kita selama ini. Acara yang begitu mahal itu ternyata boleh dibilang gagal menelorkan kelompok-kelompok lawak baru yang andal. Penyebabnya, mereka terutama mengingkari apa yang pernah diungkap oleh Arwah Setiawan dalam bukunya Humor Zaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1997 : hal 379) : “betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukan itu tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati oleh para pemirsa….Keberhasilan suatu pertunjukan komedi memang bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal…Untuk itu perlu diadakan lomba penulisan naskah komedi.”

Sekadar mengilas balik, kiranya masih sangat lekat dalam ingatan kita bahwa pemenang API-4/2008 di stasiun televisi TPI adalah kelompok Abioso dari Pasuruan. Pemanggungan mereka tidak lain sebuah replika seratus persen dari pentas ketoprak dan, tentu saja, bergaya Srimulat juga.

Jadi roh “mayat hidup” Srimulat memang belum mati. Jadi kita boleh berandai-andai : apakah pemanggungan peserta audisi Neo Srimulat nanti masih dimulai dengan lagu instrumentalia “Whiskey & Soda”-nya Roberto Delgado, mengiringi adegan batur, pembantu rumah tangga, dengan serbet terselempang di pundak dan melakukan monolog ngrasani, membicarakan di balik punggung sang majikan ?

Atau mengeksploitasi adegan mayat hidup, atau drakula, yang terus mengejar-ejar korbannya ? Kalau dugaan itu nanti benar, oh, betapa di dunia yang telah berubah itu ternyata mind set pendukung-pendukung baru, neo, dunia komedi kita rupanya tetap tidak berubah. Jalan di tempat.

Bila memang itu nanti yang terjadi, hemat saya, sebaiknya semua pelaku dunia komedi Indonesia mengikuti jejak Miing Bagito atau Eko Patrio saja. Untuk ramai-ramai menjadi anggota legislatif. Menjadi politikus. Karena senyatanya menjadi pelawak yang bener dan andal dewasa ini memang tidak mudah. Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998) menyajikan kutipan inspiratif :

“Tidak seorang pun sengaja memilih menjalani hidup sebagai komedian. Jalan hidup satu ini begitu sulit dan saat ini juga tidak setimpal penghargaannya. Sehingga hanya mereka saja yang sengaja menerjuninya, yaitu mereka yang tidak hanya semata-mata ingin terjun ke dalamnya tetapi dilatarbelakangi alasan dirinya harus menerjuninya.”

Menerjuni komedi demi memenuhi panggilan menegakkan kebenaran. Untuk bergelut dalam penderitaan. Sebab “comedy is truth and pain,” demikian imbuh kesimpulan dari John Vorhaus dalam bukunya The Comic Toolbox (1994).

Sedang politikus ? Walter Williams menegaskan betapa maling dinilainya lebih bermoral dibanding anggota legislatif. Sebab bila ia mencuri uang Anda, maka si maling itu tidak menuntut Anda untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Novelis Skotlandia, Robert Louis Stevenson (1850–1894), mengatakan bahwa politik boleh jadi merupakan satu-satunya profesi dimana persiapan olah pikir tidak diperlukan. Sementara ahli kamus, kritikus dan penyair Inggris, Samuel Johnson (1709–1784) memberikan definisi untuk politikus sebagai a man of artifice. Orang licik.

Tidak aneh bila sebuah lelucon klasik Amerika memberikan ilustrasi yang sungguh tajam dan jitu khusus untuk menggambarkan betapa destruktifnya mereka.

Pertanyaan : Seberapa banyak jenderal atau politikus yang diperlukan untuk mengganti sebuah bola lampu ?

Jawab : Sebanyak 1.000.001. Satu orang bertugas menggantikan bola lampu dan 1.000.000 sisanya membangun kembali peradaban manusia sampai mereka membutuhkan bola lampu berikutnya !


Wonogiri, 14-15/12/2008


ke

Monday, December 01, 2008

Idea Driven Jokes, Anjing Pavlov dan Bangsa Pelupa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Humor Hillary. Pilpres AS 2008 sangat kaya sebagai ladang humor. Tina Daunt dalam artikelnya berjudul “Candidates show they can take a joke” di Los Angeles Times (11/4/ 2008) bahkan menulis, “Inilah pilpres dimana politik sebagai lelucon. Atau barangkali kampanye dimana politik menemukan selera humornya.”

Realitasnya, humor memang tidak hanya menjadi hiburan semata. Humor bahkan menjadi senjata utama dalam pemenangan pilpres 2008 ini pula. Tina Daunt menyebutkan, jarang ada waktu lowong tiap minggunya bagi kandidat yang bertarung untuk tidak muncul dalam salah satu acara komedi di jaringan televisi atau televisi kabel di Amerika Serikat.

Sekedar contoh adalah Hillary Clinton. Kandidat kuat dari Partai Demokrat yang ternyata kemudian dikalahkan oleh Barack Obama, kita tahu, pernah mengaku berbohong tentang peristiwa kunjungannya ke bandara Sarajevo. Saat itu ia mengaku dirinya harus merunduk dan berlari demi menghindari tembakan para penembak jitu.

Ketika hadir dalam acara The Tonight Show with Jay Leno, istri mantan presiden AS itu berujar : “Saya bersyukur mampu sampai di studio ini.” Senator Demokrat dari New York itu ketika tiba di studionya Jay Leno di Burbank, Los Angeles awal April 2008 lalu menambahkan, “Anda tahu, saya kuatir tidak bisa sampai di sini. Karena diri saya terancam para penembak jitu.” Jay Leno menimpali : “Kalau di Los Angeles sini, hal itu memang benar-benar bisa terjadi.”

Ah, Hillary. Seorang politikus ulung yang mampu meledeki dirinya sendiri. Termasuk ketika posisinya terpojok, terlindas popularitasnya Obama. Pada acara debat di St Anselm’s College (5/1/2008) dirinya dicecar pertanyaan, “mengapa orang-orang tampaknya lebih menyukai Obama ?” Hillary menjawab, “itu menyakiti perasaan saya.” Jawaban jujur itu mampu mengundang riuh tawa. Lanjutnya, “Tetapi saya tetap terus maju. Dia (Obama) memang mudah disukai. Namun saya kira, saya tidak terlalu buruk.”

Semangatnya untuk terus maju, mantan ibu negara yang belasan kali juga diolok barisan komedian AS karena getolnya ia berpantalon, kemudian jadi bulan-bulanan komedian Andy Borowitz. Konon, Hillary akan terus bertahan selama ratusan tahun dan milyaran tahun, untuk memenangkan kursi presiden AS. Bahkan untuk meraih kemenangan dalam kampanyenya, Hillary Clinton telah mengeluarkan peranti lunak baru berlabel Hillary 8.0.

Dalam kampanye di Chicago, peranti lunak itu ia katakan sebagai penanda kemenangannya di tahun 08. “Peranti lunak ini akan menampilkan Hillary yang terbaik dari segala apa pun yang Anda harapkan darinya,” tutur ibu dari Chelses Clinton itu. Peranti lunak yang kompatibel untuk PC dan Mac itu memungkinkan pendukungnya merancang sosok Hillary Clinton berdasar versi tiap-tiap pengguna. Karena memang telah tersedia 57.000 posisi Hillary yang terkait beragam program atau isu, dari masalah kesehatan, masalah imigrasi sampai topik perang di Irak.

Sayangnya, peranti lunak itu tidak sepi dari cacat teknis. Ketika diinstal, banyak komputer mengalami crash.. Macet. Kebanyakan karena komputer-komputer itu tidak cukup memori untuk memuat semua posisi Hillary tersebut. Walau pun demikian, pembantu dekat nyonya Clinton ini menyatakan bahwa gangguan teknis itu tetap bermanfaat bagi Hillary. “Rata-rata orang Amerika memang tidak memiliki memori cukup, dan itulah yang sebenarnya diandalkan Hillary meraih kemenangan.”


Menggertak otak. Bagaimana lelucon tentang Obama ? Naiknya warga kulit hitam pertama AS yang juga pernah bersekolah di Jakarta sebagai presiden baru negara adi daya itu, anehnya, tidak semua kalangan menyukainya. Fihak pertama yang meratapi naiknya Obama justru datang dari kalangan komedian Amerika Serikat.

“Jujur saja, sebagai komedian saya merasa kehilangan besar dengan lengsernya Bush,” keluh komedian Jay Leno. “Sebab Barack Obama tidak mudah dijadikan bulan-bulanan lelucon. Ia tidak membuka peluang bagi kita untuk melucukannya. Terima kasih Tuhan, kau anugerahkan sekarang pengganti Bush : seorang Joe Biden bagi kita semua.”

Iklan besar-besaran sebagai senjata pamungkas Obama menjelang pilpres juga jadi sasaran olok-olokan komedian Bill Maher. Tetapi arah tembakannya ke sasaran lain. “Berapa banyak Anda telah menyaksikan iklan televisi besar-besaran Obama minggu ini ? Iklannya tertayang di tujuh stasiun televisi sehingga kita tak bisa menghindarinya. Yang paling menarik, pada iklan sepanjang setengah jam itu Obama sama sekali tidak menyebut nama McCain, tak pernah menyebut nama Palin, tidak pernah menyebut nama George Bush. Atau dalam bahasa Shakespeare : histori, komedi, dan tragedi !”

McCain yang tua, disebut histori. Sarah Palin yang sering melakukan blunder itu didaulat dengan label komedi. George W. Bush yang merusak Amerika dan dunia dijuluki secara tepat sebagai biang tragedi.

Saya suka lelucon cerdas Bill Maher yang satu ini. Kalau saja saya tidak diberi hadiah buku-buku komedi dari Danny Septriadi, saya tidak tahu adanya penggolongan terhadap lelucon a la Jay Leno, Andy Borowitz dan Bill Maher semacam ini. Dalam buku berjudul Zen and the Art of Stand-Up Comedy (1998), Jay Sankey membedah perbedaan antara lelucon berbasis ide dan lelucon lainnya yang berbasis pengalaman.

“Lelucon mengenai pemikiran yang asing, yang menyeruak di kepala Anda, merupakan idea driven, lelucon berbasis ide atau gagasan. Lelucon ini mengharuskan audiens memeras imajinasi mereka. Sementara itu lelucon menceritakan pengalaman Anda pergi ke bioskop atau menghadiri hajat penganten, merupakan experience driven, lelucon berbasis pengalaman. Dalam lelucon ini mensyaratkan audiens merujuk pengalaman diri mereka sendiri, yaitu pengalaman pribadinya terhadap peristiwa yang sama,” jelas Jay Sankey. Lelucon jenis yang kedua lebih mudah memicu tawa ketimbang lelucon jenis yang pertama.

Ranjau salah medan. Untuk mendalami seluk-beluk lelucon jenis pertama, saya akan mengutip pendapat seorang blogger “dEHA” yang menulis komentar di blog saya ini pula : “Saya penggemar stand-up comedy berbagai rupa, yang intelek maupun yang cuma jorok-jorok. Pertama kali saya kenal stand-up adalah waktu nonton video lamanya Eddie Murphy (yang termasuk kategori jorok2 itu tadi hehe) waktu saya di Australia.

Setelah itu sempet nonton beberapa show di tivi sana, dan ngerasa ini style komedi intelek banget, nggak cuma kelakuan minus kayak Tukul atau dasi pendek seperti yang Anda sebut. Salut banget bisa membahas komedi dengan sangat serius, jangan patah semangat karena 'gagal' di API, toh kalau nongol di tivi penontonnya nggak akan ngerti karena segmen yang nonton masih lebih suka lihat slapstick dan komedi keroyokan yang biasa kita lihat.”

Sebelumnya, di blognya ia menulis : "Komedikus Erektus blog (komedian.blogspot.com) is by a guy very seriously wanting to lift Indonesian comedy by introducing standup comedy, complete with his theoretical analysis of great comedians and even Judy Carter writings. He even attempted performing his own act for a comedian competition, although failing really badly (not because he was not funny, but because the judges don't get his solo act, ouch). Mas Bambang, I salute you!"

Terima kasih, “dEHA.” Pelajaran dari Jay Sankey dan tuturan “dEHA” tadi membuka mata saya untuk makin jelas dalam berintrospeksi. Utamanya ketika mengais latar belakang sampai alasan mengapa saya gagal dalam audisi di API-4 yang lalu itu.

Saat itu saya melucukan judul blognya pemain biola cantik Maylaffaiza, heboh asmara Bambang Tri-Halimah-Mayangsari, sakitnya Pak Harto, juga terkait fenomena topik selebritas-politikus versus politikus-selebritas di Indonesia saat itu. Ranjau salah medan telah mem-bom diri saya habis-habisan. Di bawah ini adalah set atau naskah komedi yang saya bawakan saat itu :

“Saya main biola, seperti saya bermain cinta.” Kata pemain biola solo yang cantik dan seksi Maylaffayza di situsnya : maylaffayza.multiply.com.

Saya menyukai Maylaffayza. Ia cantik, seksi, berbakat dan intelektual. Tetapi ketika saya ikuti kata-katanya, akibatnya fatal. Saya kesulitan cari posisi enak. Orgasme pun tidak. Biola itu rusak, berantakan semuanya.

Maylaffayza mungkin lupa, kini selebritis adalah trend-setter. Panutan gaya hidup. Bahkan politisi pun bergaya selebritis. Yusril dan Syaifullah Yusuf, mantan menteri, bermain film. Presiden SBY menelorkan album musik. Anggota DPR main video, bersama Maria Eva.

Kini memang era emasnya para pesohor, para selebritis. Pintu-pintu peluang seolah terbuka bagi mereka untuk BISA MASUK kemana saja. Bintang sinetron Rano Karno, MASUK POLITIK, terpilih jadi Wakil Bupati Tangerang. Bintang sinetron Aji Massaid MASUK Partai Demokrat, jadi anggota DPR. Bintang sinetron Roy Martin, MASUK penjara.

Menjadi selebritis juga mampu membuka pintu-pintu istana. Anissa Pohan jadi menantu Presiden SBY. Lulu Tobing jadi cucu menantu mantan Presiden Soeharto Infotainment mengabarkan artis Revalina Temat kini dekat dengan cucu mantan Presiden Soeharto, Panji Trihatmojo.

Oh, Revalina yang malang. Apa ia tidak tahu kalau Panji Trihatmojo itu sangat membenci selebritis ? Terutama selebritis bernama Mayanksari.

Begitulah, ratusan jam tayangan infotainment setiap minggunya telah membesarkan para selebrities itu. Persaingan antarstasiun yang keras. Begitu kerasnya persaingan, awak TV kini pun mencoba inovasi-inovasi baru : tayangan infotainment dipadu info kedokteran yang canggih, intrik dan perseteruan keluarga yang sengit, dibumbui nuansa-nuansa politik.

Ramuan dahsyat ini bakal terjadi bila Halimah Trihatmojo membezoek Pak Harto, ketemu Bambang Trihatmojo yang disertai Mayangsari. Big news. Big news. Big News.


Bukan untuk TPI. Terkait penampilan saya itu, salah satu dari tiga juri seleksi yang menghakimi saya, Ali Mahmudin (produser API-1 dan API-2) telah berbaik hati menulis komentar di blog saya ini : “Barang kali saya adalah salah satu juri yang tidak meloloskan Mas Bambang di audisi API-4. Terus terang lawakan Mas Bambang bukan berarti tidak berkualitas, tetapi memang saat dibawakan waktu itu tidak lucu (versi kami).

Namun ketika Mas Bambang tampil dihadapan kami (aku berusaha untuk mengerti semua isi lawakan Mas Bambang) ternyata aku secara pribadi melihat isi materi tersebut penuh satir. Dan menurut saya lawakan yang semacam itu memang bukan untuk kalangan penonton TPI.

Itulah sebabnya kami belum bisa merekomendasikan lolos untuk masuk babak berikutnya. Akan tetapi saya pribadi sangat hormat dengan ketajaman Mas Bambang melihat kekinian menjadi topik lawakan Audisi API-4.”

Terima kasih, Mas Ali. Terima kasih Harris dan juga Isman untuk komentar Anda.

Senjata buat Tamara. Masih tentang acara komedi di stasiun televisi lainnya, saya juga gagal sebelumnya. Yaitu ketika diundang untuk tampil di Republik Mimpi, September 2006. Saat itu kreator NewsDotcom-Republik Mimpi, Effendi Gazali, meminta saya untuk menjadi peserta acaranya itu secara in absentia. Tidak tampil di depan kamera, tetapi hadir lewat suara, melalui kontak telepon. Ia telah menetapkan topik mengenai layanan publik. Saya pun kemudian mengirimkan materi yang ia minta sebagai berikut :

“Layanan publik adalah layanan yang diberikan negara untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya, berlandaskan alasan moral bahwa kebutuhan universal mereka harus terpenuhi, bahkan sering dikaitkan dengan hak-hak asasi manusia mereka. Misalnya penyediaan air bersih.

Layanan publik di negara modern meliputi pendidikan, layanan air bersih, kesehatan, transportasi, listrik dan gas (kayaknya mau naik lagi TDL-nya), penyiaran dan komunikasi, manajemen pengolahan limbah (di negara tetangga baru saja terjadi tragedi di Bantargebang), pemadam kebakaran (di negara tetangga, mereka tak berdaya di Sumatera dan Kalimantan), sampai layanan keamanan yang diemban oleh polisi (di negara tetangga, polisi lagi pusing gara-gara ditemukannya 9 karung senjata di jalan tol Kapuk).

Belum ada negara yang kreatif memenuhi kebutuhan warganya di luar tuntutan hak-hak asasi manusia. Misalnya, jasa pengeritingan rambut atau jasa rebounding yang disediakan negara. Atau jasa tato tubuh oleh negara. Maukah para mahasiswa di sini, tubuhnya ditato dengan gambar burung...Garuda Pancasila ?

Bagaimana potret kualitas layanan publik di negeri tetangga ? Kalau saya boleh bilang, sudah sangat-sangat bagus sekali. Dalam arti, PERTAMA : para rakyat kecil telah bagus sekali memberikan pelayanan kepada penguasa dan kemauan para pengusaha.

Tragedi dan bencana lumpur panas di Porong telah diterima oleh rakyat kecil dengan sabar, hingga hampir empat bulan kemudian baru pemerintah turun tangan. Ada yang bilang, kalau proyek pemboran itu milik orang kecil, pasti sudah ditutup sejak dini oleh pemerintah. Saya bilang, kalau orang kecil ya pasti tidak mampu memiliki usaha pemboran !

Contoh orang kecil tanpa pamrih melayani penguasa, juga pemerintah, dapat diteladani dari sosok Pak Wasa. Anda tahu, Pak Wasa ? Dia adalah pemulung yang menemukan 12 senjata api, belasan magazen dan ribuan amunisi di tepi sungai Tanjungan, pinggir jalan tol Kapuk KM 27 (arah Bandara Soekarno Hatta) RW 02, Kapuk Muara, Jakarta Utara, Rabu (8/9) sore. Pak Wasa, melaporkan temuannya ini kepada polisi. (Dari topik ini dapat dikreasi belasan lelucon, di bawah ini saya sertakan beberapa di antaranya-BH).

Bayangkan bila Pak Wasa itu bukan warga negara yang jujur. Bagaimana kalau senjata-senjata itu ia ambil ? Lalu ia tenteng-tenteng ? Wow, seorang pemulung kemana-mana membawa-bawa AK-47 atau pistol Smith & Wesson ?

Bagaimana pula kalau senjata-senjata itu ia serahkan kepada Hambali ? :-) Engga mungkin ya, pemulung kok bisa naik pesawat hingga sampai di Guantanamo, Kuba.

Bagaimana kalau senjata-senjata itu diserahkan kepada pelawak Parto Patrio ?:-) (Catatan BH : Moga-moga audiens “ngeh” dan masih ingat insiden Parto Patrio yang pernah meletuskan senjata ketika diuber-uber kru infotainment). Siapa tahu, Parto berniat meng-update koleksi senjatanya.

Ikhtiar saya ikut mengisi acara parodi politik secara in absentia itu gagal. Karena slot waktunya, menurut Effendi Gazali, terpaksa terpakai untuk menampung uneg-uneg para pamong praja dari seluruh Indonesia, dipimpin Sudir Santoso, yang saat itu berjumlah ribuan orang sedang berdemo, mengadukan nasibnya di Depdagri di Jakarta. Saya bisa mengerti.


Idea driven jokes. Walau pun menuai gagal dan gagal, seperti cerita kecil di atas, aktivitas mengkreasi lelucon berbasis ide itu tetap saja mengusik pikiran saya setiap saat. Satu persatu, bila ia muncul, saya dokumentasikan di bloknot atau di katalog. Siapa tahu kelak bisa saya munculkan di situs YouTube ?

Yang pasti, lelucon semacam ini memang tidak mudah dikreasi. Juga tidak mudah difahami. Membujuk, mengantar atau sampai memaksa audiens untuk merentangkan imajinasi mereka, bukan persoalan mudah. Itulah alasan mengapa Presiden SBY pernah marah sampai dua kali karena audiensnya ngobrol sendiri atau malah tertidur ketika ia sedang berpidato.

Kalau Anda agak jeli mengikuti tayangan beragam parodi politik di televisi, dari Republik Mimpi, Negeri Impian, Democrazy sampai Kabaret, materi yang diluncurkan untuk sengaja memancing tawa seringkali justru TIDAK TERKAIT dengan materi utama pembicaraan. Lelucon-lelucon yang disambut tawa di layar tivi itu merupakan lelucon biasa-biasa saja. Bahkan klise. Mudah ditebak. Padahal ”no surprise, no laughter !,” ini rumus lawakan universal yang diungkapkan Danny Septriadi.

Acara itu akhirnya sering nyaris jadi adegan badut-badutan semata. Lawakannya, menurut Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-Sized Book of Comedy (1999), berada pada tingkat keenam atau ketujuh. Alias kasta paling rendah dalam kiprah kreativitas mengundang tawa.


Anjing Pavlov dan kita. Acara-acara parodi itu, juga acara komedi sketsa lainnya, menjadi terdengar dan terlihat riuh rendah semata karena gelontoran eksesif saus tawa kalengan, canned laughter atau laugh track, yang dimanipulasikan si kreator acara. Itulah excuse atau justru senjata pamungkas para kreator komedi kita yang belum mampu merentang imajinasi pemirsanya. Bahkan manipulasi itu sampai-sampai mengancam tergerusnya akal sehat dan nurani, suara hati bangsa.

Terus terang, saya bukan penonton setia acara beragam komedi di tivi yang dibintangi Effendi Gazali, Iwel Well dan Kelik Sumaryoto, Butet Kartaredjasa dan awak Teater Koma sampai Tukul Arwana itu. Sehingga saya terperanjat menyimaki isi surat pembaca yang ditulis Ali Farkan (Semarang) yang dimuat di Suara Merdeka, 28/11/2008 : M.

Ia menceritakan hadirnya bintang tamu dalam salah satu acara bernuansa komedi populer di televisi. Bintang tamu itu mengaku sebagai mantan pembunuh bayaran yang sudah insaf. Ketika menceritakan bahwa dirinya pernah membunuh sampai 7 orang, spontan ia mendapatkan tepuk tangan dari penonton. “Bagaimana kualitas penonton untuk memahami mana prestasi baik dan buruk ?,” gugat Ali Farkan. Itulah Indonesia. Itulah tayangan televisi kita. Itulah potret wajah tanpa nurani dari bangsa Indonesia.

Buraian tawa-tawa kalengan di televisi kita itu mudah mengingatkan tesis mengenai anjing-anjing Pavlov. Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : apakah penonton komedi di televisi kita, berdasar keluhan Ali Farkan di atas, telah berperilaku tak ubahnya satwa-satwa yang menjadi kajian Pavlov tadi ? Apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, tanpa dikaji benar atau salah secara moral, refleksi otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan bertepuk tangan ? Absurd. Televisi memang menumpulkan.

”Television brought the brutality of war into the comfort of the living room.”, imbuh nabi media, Marshall Mc Luhan (1911-1980). Televisi menyajikan brutalitas peperangan ke dalam ruang tamu keluarga yang nyaman. Itu pendapatnya ketika berkecamuknya Perang Vietnam. Kenyamanan itu bisa berakibat menumpulkan nurani, di mana kebrutalan perang dan korban-korban yang tewas cenderung diperkerdil hanya sebagai objek hiburan belaka.

Di Indonesia, mungkin lebih mengerikan lagi. Brutalitas bahkan juga tersaji dalam acara komedi. Adegan makan kodok hidup-hidup dijadikan sebagai hiburan. Atau menampilkan seorang kanibal dan pembunuh bayaran sebagai hero. Semuanya ditujukan semata untuk mengundang tawa. Pantas saja, mengapa rentetan kejadian pembunuhan dengan mutilasi, kini semakin sering terjadi. Mungkin pelakunya sambil tertawa-tawa ketika sedang menjalankan aksi sadisnya.

Akar tunjangnya, barangkali, karena di Indonesia ini orang langka memiliki tradisi menulis. Termasuk di kalangan komunitas komedi kita. Akhirnya bangsa ini menjadi sangat mudah lupa. Orang-orang Indonesia menjadi sangat pendek ingatannya. Padahal kita tahu, bangsa yang memorinya buruk menjadi makanan empuk bagi politikus busuk.


Mereka yang pernah korupsi uang rakyat dalam jumlah gila-gilaan, membunuhi rakyat, menembaki dan menculik mahasiswa, meracun aktivis HAM, atau bahkan mengebom orang, justru di televisi mereka-mereka itu kita beri tepuk tangan. Kita elu-elukan. Bahkan ada yang sampai dijadikan sebagai vote getter dengan melabelinya sebagai bapak bangsa, sebagai pahlawan.

Indonesia kini dalam bahasa Shakespeare adalah : tragedi, tragedi dan tragedi !


Wonogiri, 20-30/11/2008


ke

Wednesday, November 19, 2008

Kodok Beracun dan Hari-Hari Komedi Indonesia Mati

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Kodok beracun. “Ada nasib baik, juga ada nasib buruk,” demikian jawab peramal kepada seekor kodok yang ingin mengetahui masa depannya. “Nasib baiknya, kau akan bertemu gadis-gadis SMA.” Hati kodok pun menjadi berbunga-bunga. Lalu apa nasib buruknya ?

Sang peramal pun meneruskan dengan berbisik : “Gadis-gadis itu menemuimu di lab biologi sekolahnya.”

Katak yang malang. Mungkin bisa disebut bernasib kurang beruntung. Atau ia justru lebih beruntung bila dibandingkan nasib katak yang mati secara mengerikan dalam acara talk-show komedi Empat Mata, Rabu 29 Oktober 2008 di stasiun televisi Trans 7 yang lalu itu.

Merujuk cerita AS Ode di Suara Merdeka (2/11/2008 : 32), saat itu Tukul Arwana menghadirkan Sumanto dan Lina. Hadir pula ibu dan guru mengajinya Sumanto, pendamping Lina, serta kriminolog Adrianus Meliala untuk mengomentari kasus mutilasi, yang menurutnya merupakan cantolan berita yang tidak nyambung dengan kasus Sumanto, sang pemakan mayat, yang menghebohkan dulu itu.

Adegan mengerikan terjadi ketika kamera dengan polos mensyut Lina, sang pemakan binatang hidup, menangkap katak dalam toples lalu memakannya hidup-hidup. Tak hanya penonton yang menunjukkan rasa ngeri dan lebih dari itu jijik (hingga ada yang mau muntah), tapi juga Tukul.

Buntut dari tayangan ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah menghentikan sementara program Empat Mata sejak surat itu dikeluarkan, 4/11/2008. KPI menilai adegan makan kodok dalam acara itu sudah kelewat batas. Juga melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) yang antara lain melarang tayangan yang mengandung adegan sadistis, mengagungkan kekerasan dan adegan penyiksaan terhadap binatang.

Dikutip dari Kompas (9/11/2008 : 22) tersaji data bahwa tayangan Empat Mata sebelumnya sudah menerima tiga surat teguran tertulis dari KPI, yakni 5 Mei 2007, 27 September 2007 dan 25 Agustus 2008. Surat-surat teguran itu dilayangkan karena Empat Mata beberapa kali menampilkan adegan dan lelucon berbau seks secara eksplisit.

“Sejak awal memang sudah diramalkan, Empat Mata yang hanya mengandalkan kelucuan-kelucuan artifisial bakal kalah jauh dari talk show lain semacam Kick Andy yang lebih bertumpu pada isi,” catat AS Ode lagi. Sehingga, menurutnya, persaingan yang sengit dalam upaya mempertahankan rating di antara tontonan televisi yang ada telah mendorong tim kreatif Empat Mata malah “terlalu kreatif.”

Beberapa waktu lalu mereka mendandani Tukul berikut Pepi dan kru yang lain dengan pakaian yang aneh-aneh. Mereka membuat latar dengan aksesori yang aneh-aneh juga. Tak berbeda dari cara pelawak “tradisional” menarik perhatian penonton berpakaian mencolok, bahkan kalau perlu di luar kelaziman. Upaya yang ternyata kian menegaskan, demikian simpul AS Ode, bahwa Empat Mata memang tak menyuguhkan isi, tapi cuma wadah.


Perempuan berjanggut. Saya bukan penonton setia tayangan Empat Mata. Pada awal pemunculannya, yang mendapat liputan menggebu dari media, saya pernah menyaksikan ketika menghadirkan bintang tamu pencipta lagu dan penyanyi Melly Guslaw. Saya hanya mampu mengingat untuk menafsirkan senyum-senyum kecil Melly, yang nampak agak terpaksa karena tuntutan sopan santun belaka, ketika Tukul melontarkan lawakan-lawakannya. “Kasihan deh lawakan-lawakan lu.” Hanya kalimat itu yang tergores di benak saya saat itu.

Terkait adegan makan kodok itu, kini menyusul kalimat lain. Dari Susan Shaughnessy. Ia menuliskannya dalam buku Walking on Alligators : A Book of Meditation for Writers (1993). Buku menarik ini telah diterjemahkan menjadi Berani Berekspresi atau Aku Bisa Menulis : Buku Meditasi Untuk Para Penulis (MLC, 2004).

“Anak sapi berkepala dua dan wanita-wanita berjanggut merupakan bahan untuk karnaval dan tabloid di supermarket. Tidak ada salahnya tertarik pada yang luar biasa. Tetapi yang luar biasa itu, anehnya, tidak bertahan lama. Kita tidak membaca tentang itu atau menonton pertunjukan seperti itu setiap hari. Sebentar saja dia sudah membosankan dan kehilangan daya tariknya,” tutur Susan Shaughnessy.

Hal yang biasa, lanjut Susan, menarik minat kita lebih lama. Kehidupan sehari-hari yang biasa, yang kita tahu benar-benar terjadi, merupakan bahan tulisan yang lebih menarik, yang tidak akan membuat kita bosan. Anak-anak pembangkang, kekasih yang dikecewakan, niat terbaik, harapan dan kekecewaan, hal-hal inilah yang diketahui dan dipedulikan pembaca.

Dalam ranah komedi, menurut Gene Perret, topik-topik biasa di atas mencocoki salah satu rumus universal komedi : karena beragam persoalan tersebut relevan bagi kita semua. Semua komedi memang harus relevan. Apa yang mereka sajikan kita dapat memiliki kaitan dengannya.

Atau dalam bahasa Garin Nugroho, dikutip Kompas (16/4/2001 : 28), sambil merujuk komedi situasi Cheers yang ia sebut “ada harunya, ada persahabatan dalam pertentangan yang hebat. Juga ada penerimaan yang tulus ketika mengetahui satu teman dekat kita memiliki preferensi seksual yang berbeda, sehingga dalam tontonan itu kita mendapat suatu hubungan yang bersahaja, tetapi mampu menggerakan indera kita.”

Kreator komedi Indonesia, dengan mengambil contoh tayangan makan kodok dalam Empat Mata itu, menunjukkan mereka masih mengalami kesulitan besar untuk mengolah hal-hal yang biasa, hal-hal yang bersahaja itu. Mereka justru tergoda untuk mengaduk-aduk hal-hal yang artifisial, aneh-aneh, merekayasa segala bentuk kepalsuan, ketidakwajaran, dan segala hal yang bertentangan dengan akal sehat.

“Pikiran picik hanya tertarik pada hal-hal yang luar biasa, pikiran cerdas tertarik pada hal-hal yang biasa,” demikian ucap penulis Amerika Elbert Hubbard (1859–1915) yang juga dikutip oleh Susan Shaughnessy Ucapan itu kiranya paling cocok untuk menggambarkan pola pikir para kreator komedi Indonesia dewasa ini.

Pikiran picik dapat pula diumpamakan sebagai katak dalam peribahasa Jepang, yang selama hidupnya selalu berada di kubangan sehingga dirinya tidak tahu apa-apa tentang lautan luas. Katak dalam tempurung.

Hemat saya, momentum dari tragedi tayangan makan kodok di Trans 7 dan hukuman keras KPI itu, seharusnya mampu mendorong komunitas kreator komedi di televisi-televisi kita untuk mawas diri. Syukur-syukur ikut juga menggandeng PASKI yang mati suri, untuk sama-sama berani keluar dari kubangan ignoransi yang mengungkungnya selama ini.

Tanpa adanya niat untuk melakukan revolusi pola pikir pada diri mereka, maka tidak ada salah kiranya bila tanggal penayangan Empat Mata edisi kelewat batas itu, 29 Oktober 2008, dapat kita daulat sebagai hari puncak dari hari-hari panjang kematian komedi Indonesia !


Wonogiri, 18/11/2008


ke

Saturday, November 01, 2008

Humor Fakta - Fakta Humor

Oleh : Danny Septriadi dan Darminto M. Sudarmo


Pengantar : Dua kepala lebih bagus daripada satu kepala. Dalam dunia komedi dikenal istilah comedy buddy, mitra komedi untuk berbagi gagasan dan umpan balik dalam membangun dan merampungkan naskah-naskah lawakan yang lebih bertenaga memancing tawa.

Saya beruntung memiliki mitra baru seperti itu, namanya Danny Septriadi (foto), dalam berbagi gagasan dan informasi yang bertujuan ikut memajukan dunia komedi Indonesia. Berikut adalah tulisan yang pernah ia buat tahun 2002/2003 mengenai humor bersama Darminto M.Sudarmo, nama tokoh pemerhati dan penulis komedi terkenal di Indonesia. Apakah Anda juga memiliki niat mulia seperti dirinya ? Saya dengan senang hati bersedia memajang sumbangsih Anda di blog saya ini. Saya tunggu. Selamat menikmati ! (BH)


Rasa humor (sense of humor) sedikitnya menuntut tiga prasyarat kecakapan penikmatnya; yakni, kecakapan untuk melihat, mengakui dan menerima fakta sebagaimana adanya. Memiliki rasa humor dapat menjernihkan pikiran dan memberikan kebebasan untuk menyikapi fakta yang ada. Kecakapan tersebut dapat digunakan untuk mermbantu pengambilan keputusan yang dapat diterima oleh akal sehat. (Gene Perret, Business Humor: Jokes & How to Deliver Them).

SEBUAH berita yang tak jelas porsi fakta dan opininya, dapat membuat orang bingung dan sesat persepsi. Tetapi humor, lain. Humor boleh lahir dari fakta – disebut humor tak sengaja; dapat pula lahir dari opini (kreasi) – disebut humor sengaja. Mana yang lebih berharga, humor fakta atau humor opini? Keduanya sama-sama punya kans untuk berbobot atau tidak berbobot. Tergantung pada muatan nilai atau substansi yang ada di masing-masing humor atau lelucon tersebut. Lagi pula, visi dari berita dan humor sama sekali berbeda.

Sebagai contoh peristiwa yang pernah dituturkan orang dari mulut ke mulut dan konon benar-benar terjadi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tahun 1980-an; yakni tentang seorang bupati yang menjadi inspektur upacara pada peringatan hari besar tertentu, saat membaca teks Pancasila di atas podium, tiba-tiba terhenti beberapa saat di tengah jalan, gara-garanya sang ajudan salah memberi stof map. Seharusnya stof map berisi naskah Pancasila tetapi yang diberikan kepada sang bupati ternyata adalah lembaran daftar hadir.

Akibatnya bisa diduga, sang bupati berhenti di tengah jalan karena beliau tidak begitu hafal lima butir Pancasila yang sangat disakralkan itu. Bagi seorang pejabat tidak hafal Pancasila adalah persoalan serius. Apalagi di zaman rezim Orde Baru. Untunglah, pada saat yang kritis itu, protokol upacara segera menyadari situasi, ia segera berinisiatif menyambung kelanjutan bunyi teks Pancasila lewat pengeras suara secara runtut dan selamatlah upacara yang nyaris menggelincirkan citra sang bupati itu.


***

SYAHDAN, terkait dengan tema humor fakta atau fakta humor sebagaimana disebutkan di atas, Jaya Suprana pernah melontarkan humor yang konon berbasis pada fakta yang ada di lingkungan istana. Khususnya yang terkait dengan wartawan istana di era kepemimpinan Pak Harto dan Gus Dur.
Secara jenaka digambarkan, keadaan kontradiktif berkaitan dengan “sesajen” dan “uba rampe” yang diterima para wartawan istana kala itu. Yang pertama digambarkan sangat “meriah”, sedangkan yang kedua sangat “sepi” dari sesajen dan uba rampe.

Menurut pengakuan Jaya, lelucon ini cukup membuat para peserta yang hadir dalam acara peringatan Hari Pers Nasional yang diadakan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) ketawa tergelak-gelak, kendati ada sebagian wartawan/pemimpin redaksi yang menyambut lelucon itu dengan ketawa kecut. Buntutnya, setelah berita tentang acara tersebut dirilis harian ibukota, ada seorang wartawan TV yang menulis surat pembaca di koran ibukota tersebut dengan nada marah dan menganggap lelucon Jaya itu bernilai rendah.

***

Menurut penulis, munculnya persepsi seperti rekan wartawan TV itu sah-sah saja. Mungkin ia “dibakar” teman diskusinya. Mungkin ia tersinggung kok berani-beraninya membuat lelucon tentang wartawan yang sebenarnya rentan risiko. Mungkin ia belum pernah mendengar ungkapan bahwa besar kecilnya jiwa seseorang tergantung bagaimana ketika ia merespon sebuah kritik; khususnya kritik yang menyangkut dirinya, baik secara pribadi atau kolektif.

Tapi dalam pikiran saya, kemungkinan besar Jaya sudah terlalu jauh dan over estimated tentang wartawan kita. Dianggapnya semua wartawan Indonesia sudah berjiwa besar dan hanya ketawa ketika kepada mereka dilontarkan sebuah kritik yang rada-rada khas: berkaitan dengan amplop, misalnya. Jadi? Itu satu lagi fakta yang tak sengaja juga bernilai lelucon atau humor, di luar lelucon Jaya tentang fakta tadi.

Nilai humor? Emang ada humor bernilai selain ia sebagai hiburan semata? Nah, ngomong-ngomong soal humor mungkin menarik menyimak uraian Melvin Helitzer, pengarang buku Comedy Writing Secrets. Menurutnya, banyak orang yang salah kaprah tentang humor. Orang-orang beranggapan: humor harus lucu, menghibur dan menyenangkan.

Tapi bagi Helitzer, tidak selalu; persepsi kita secara naluri akan mengatakan bahwa humor itu sesuatu yang menyenangkan. Ternyata tidak. Humor adalah suatu kecaman atau kritik, yang terselubung sebagai hiburan, dan diarahkan kepada target yang spesifik. Ia berpendapat humor harus terdiri dari kebenaran (realism) dan sesuatu yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan (exaggeration).

Humor adalah upaya untuk mempertahankan suatu konsep yang tetap sehingga targetnya menguatkan kembali ide-ide, perilaku ataupun prasangka sekelompok orang. Jadi baginya, humor itu tidak adil. Humor akan mengambil sudut pandang yang berprasangka atau berat sebelah . Tidak ada ruang bagi humor untuk argumentasi balasan atau penjelasan. Seperti diuraikan H.L Mencken, “My business is diagnosis, not therapeutics.”

Robin Hemley di dalam bukunya How to Write Funny menguraikan bahwa rasa humor seseorang ditentukan oleh banyak faktor: umur, latar belakang sosial ekonomi, dan budaya. Seorang humoris yang baik memiliki kepekaan terhadap kekurangan dan kelemahan moral dari manusia. Apa yang dirasakan lucu oleh satu orang dapat membuat orang lain menjadi gusar.

George Bernard Shaw pernah menulis, jika kamu ingin mengatakan suatu kebenaran kepada seseorang, buat dia tertawa atau jika tidak, dia akan membunuh kamu. “Hampir semua lelucon yang baik menyatakan kebenaran yang tidak mengenakkan,” kata Larry Gelbart. Sid Caesar kemudian menambahkan bahwa komedi adalah suatu kebenaran yang dibelokkan. Di lain pihak, derajat dari fakta yang ada serta kesimpulannya dibesar-besarkan untuk menarik perhatian.

David Boichier, seorang penulis humor menambahkan bahwa kebenaran itu menyakitkan, dan dengan sangat mudah humoris dipersalahkan karena mengangkat masalah yang tidak diperkenankan tentang perbedaan ras, umur, jenis kelamin, berat badan dan lain sebagainya. Orang-orang menulis kepada saya setiap minggu dan berkomentar, “Betapa beraninya Anda membuat lelucon tentang supir taxi -- atau kolektor barang antik, atau tukang kebun, atau orang yang lebih tua, atau siapa saja.. Saya selalu menjawab dengan sopan bahwa saya tidak sedang berusaha untuk memperolok-olokkan mereka, tetapi hanya menunjukkan adanya suatu fakta yang tidak menyenangkan,” kisah David Boichier lebih lanjut.

Ya, itu semua kan pendapat mereka, para humoris atau intelektual humor dari barat. Karena humor itu medan kajiannya sangat luas tak terbatas, Anda juga berhak untuk membuat penelitian sendiri dan menemukan kesimpulannya berdasarkan fakta-fakta yang ada di negeri ini. Indonesia yang demikian beragam dan kaya kebuadayaan, bisa jadi punya cakupan persepsi yang khas tentang humor atau lelucon tersebut.

Tapi soal lelucon wartawan atau profesi pada umumnya, ada lho, lelucon mengenai profesi, dan sudah disebarkan secara luas melalui internet seperti yang ada di bawah ini. Tetapi tidak pernah ada yang melakukan komplain karena “There is no room in one joke for a balanced argument or explanation”.

Berikut contoh lelucon tentang seorang lawyer yang sangat sukses mengendarai mobil terbarunya yang sangat mewah -- malah untuk profesi ini ada pepatah “Maju tak gentar membela yang bayar”. Pada saat lawyer tersebut keluar dari mobilnya, tiba-tiba pintu mobil ditabrak oleh truk sehingga terlempar beberapa meter. Dengan cepat lawyer tersebut meminta bantuan polisi. Polisi kemudian datang guna memberikan bantuan dan menemukan lawyer tersebut sedang menangisi mobil mewahnya yang hancur.

Polisi itu kemudian berkata, “Sungguh serakah sekali Anda, sampai tidak menyadari salah satu tangan Anda putus saat ditabrak truk tadi.” Kemudian lawyer tersebut menangis lebih keras lagi dan berteriak: “Jam Rolex saya !!!???”

ke

Monday, October 27, 2008

Tragedi Kitty, Tragedi Komedi Kita ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Ditusuk berkali-kali. Ada 38 saksi mata ketika Kitty meregang mati. Gadis peserta kontes kecantikan itu dikejar-kejar para pembunuh bayaran dan dianiaya sampai tiga kali di jalanan. Selama lebih dari setengah jam. Tetapi saksi-saksi itu tidak berbuat apa-apa ketika pembunuhan itu terjadi. Bahkan juga berbuat apatis yang sama ketika pembunuhnya itu meninggalkan tempat kejadian dan lalu kembali ke tempat semula untuk menusuk si Kitty yang malang itu berkali lagi.

Kejadian mengerikan yang menimpa Chaterine Genovese pada tahun 1964 di Queens, New York itu, sering diungkap kalangan sosiolog sebagai sisi gelap sebuah kehidupan kota besar yang dingin, tidak pedulian dan rendah responsibilitas sosialnya terhadap warga lainnya. Anonimitas dan keterasingan dalam kehidupan kota besar membuat orang jadi keras dan tidak berperasaan.

Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000), memperkaya analisis peristiwa di atas dengan fenomena yang ia sebut sebagai bystander problem atau masalah kecenderungan sebagai penonton. Ia mengutipnya dari hasil kajian psikolog sosial New York City, Bibb Latane dari Universitas Columbia dan John Darley dari Universitas New York. Temuan keduanya mengejutkan, bahwa kecenderungan orang untuk menolong orang lain ditentukan oleh berapa banyak saksi dalam suatu kejadian.

Dalam sebuah eksperimen, kedua ahli itu mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura kena serangan ayan. Apabila tetangga itu hanya satu orang dan orang itu tahu tidak ada orang lain di sekitar tempat kejadian, peluang dirinya untuk langsung memberikan bantuan adalah 85 persen. Tetapi jika dia tahu ada empat tetangga lain ayng menurut perkiraannya juga mendengar gejala serangan ayan, peluang untuk mendatangi si sakit itu hanya 31 persen.

Kesimpulannya, ketika saksi mata tidak sendirian maka tanggung jawab untuk mengambil tindakan menjadi menyebar. Masing-masing mengandaikan ada seseorang di antara mereka akan menolong atau menelepon. Atau masing-masing mengandaikan bahwa karena tidak ada yang bertindak, berarti peristiwa yang terjadi--suara orang mengerang atau asap mengepul dari bawah pintu—bukan masalah serius. Untuk kasus Kitty Genovese, kedua psikolog social itu berkesimpulan bukan “tidak ada orang menelpon kendati 38 orang mendengar gadis itu berteriak,” melainkan “tidak ada orang menelpon karena ada 38 orang sama-sama mendengarnya berteriak.”

“Ironisnya,” begitu Malcolm Gladwell menggumam, “kalau saja ia diserang di jalanan sepi dan seseorang yang melihatnya tahu tidak ada orang lain menyaksikan atau mendengar kejadian itu, sang gadis mungkin masih hidup.”

Catherine Genovese yang malang. Tragisnya, tragedi bystander problem yang menimpanya itu sepertinya kembali terjadi kini. Memang bukan menimpa seseorang. Tetapi menimpa dunia komedi kita. Komedi Indonesia.

Menihilkan logika. “Sejak dua tahun lalu, mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Andi Hakim Nasution merasa sangat terganggu dengan tayangan serial komedi di televisi yang meremehkan nalar manusia sehat seperti serial Tuyul dan Mbak Yul. Tidak bisa dibayangkan reaksi mantan Rektor IPB itu menyaksikan tayangan sejenis malah bertebaran di berbagai stasiun televisi saat ini.”

Itulah awal tulisan di harian Kompas, 16/4/2001. Surut ke belakang lagi, adalah tulisan Darminto M Soedarmo yang telah pula mengutip pendapat analis politik Wimar Witoelar. Menurut Wimar Witoelar (Kompas, 16/2/1996), dunia lawak kita kian tidak lucu dan cenderung dilucu-lucukan.

Tahun-tahun lalu, catat Darminto, masalah tersebut telah diangkat Kompas dalam serial berita polemis yang mengutip komentar beberapa tokoh dan cukup memberikan ragam warna dan persepsi. Apakah sinyalemen ahli statistik asal IPB yang kini sudah almarhum itu dan kritik analis politik berambut kribo yang masih sehat dan jenaka itu masih relevan dengan konstelasi dunia tayangan komedi kita di media massa saat ini ? Anda bisa menjawabnya.

Yang pasti, mashab menihilkan akan sehat dan cenderung dilucu-lucukan, masih saja lestari sebagai dosa dunia komedi kita yang belum tertebus hingga saat ini. Mungkin beberapa contoh ini cukup menggelitik.


Tanpa kredibilitas ! Awal tahun ini rumah produksi MD Pictures meluncurkan film yang disebut dalam rilis sebagai bergenre komedi romantis. Judulnya, Namaku Dick yang diproduseri Dharmoo dan Manoj Punjabi. Film ini disutradarai Teddy Soeriaatmadja yang sekaligus merangkap sebagai penulis skenario. Inti kelucuan yang ingin diaduk dalam film ini bahwa penis (dick) sang pelaku utama, bisa bicara. Musibah itu terjadi gara-gara ia mendapatkan kutukan dari seseorang gadis yang ia kecewakan karena ulah playboynya selama ini.

Penis bisa bicara, itu lucu ? Mungkin dirasakan lucu oleh Dharmoo, Manoj Punjabi, dan Teddy Soeriaatmadja. Tetapi menurut saya cerita itu tidak lucu. Juga tidak lucu di mata rata-rata audiens yang memiliki akal sehat. Karena cerita itu memang tidak memiliki kredibilitas. Kalau suhu komedi Gene Perret pernah bilang bahwa resep nomor satu dalam komedi haruslah mencerminkan realitas, the truth, maka film Namaku Dick itu telah mengingkari aksioma satu ini. Karena premisnya tidak terpercaya.

Dalam komedi, penonton senantiasa ingin diyakinkan untuk bisa mempercayai apa yang ia tonton atau dengar. Hanya dengan cara ini akan memudahkan penonton dalam meresapi sajian, tontonan atau lawakan tersebut. Untuk kasus semacam ini, kiranya tak ada salahnya bila kita mau bercermin dan belajar dari seorang Tom Shadyac.

Siapakah dia ? Tom telah sukses menyutradarai film-film yang dibintangi para komedian sekelas Eddie Murphy, Jim Carrey, sampai Robin Wiliams. Misalnya saja film The Nutty Professor, Liar Liar, Ace Ventura, dan Patch Adams. Sebelum menjadi sutradara, Tom Shadyac melakoni hidup sebagai komedian tunggal setelah belajar dari Judy Carter, mentor komedi terkenal. Jadi ia tahu akan sari pati dunia komedi. Sedangkan Teddy Soeriaatmadja, misalnya, pernahkah ia belajar secara serius mengenai komedi ?

Nampaknya tidak hanya dia yang perlu memperoleh penyegaran pemahaman mengenai kosmologi dunia komedi. Bahkan seseorang yang punya nama besar di dunia televisi, yaitu Naratama. Juga rekan-rekan se-korpsnya. Ketika ia menulis mengenai resep fenomena suksesnya Tukul Arwana, contoh kecil saja, ia menyebut Tukul sebagai seorang standing comedan. Untung ia kemudian mendapatkan koreksi dari Isman H. Suryaman, termasuk meluruskan pendapatnya mengenai kegagalan Taufik Savalas (oleh Narotama disebut sebagai Mat Solar) dalam berkomedi solo.

Narotama menulis, “Tukul muncul bak seorang standing comedian yang melucu seorang diri, tanpa perlu umpan, tanpa perlu lawan. Gaya melawak standing ini pernah dicoba oleh Mat Solar, tapi gagal ? Karena Mat Solar tidak punya lawan sehingga sering bingung, mencari lawan, akhirnya menjadi basi.”

Isman menjawab : “Menurut saya, stand-up comedian atau komedian solo, justru tidak membutuhkan ‘lawan’. Sejatinya, komedian solo ya sendirian berhadapan dengan penonton. Mengandalkan materi dan latihan. Tidak ada umpan. Dialah yang harus menjadi umpan bagi diri sendiri. Dan seorang komedian solo harus selalu berada dalam karakternya (stay in character). Almarhum Taufik Savalas (bukan Mat Solar) gagal dalam usahanya merintis jalur stand-up ini karena dua hal :

a) Materi yang lemah : Lelucon yang diambil dari Internet lantas dibawakan satu per satu bukanlah materi komedian solo yang baik. Stand-up comedian Barat yang masih bertahan dengan gaya ini bisa dihitung dengan jari. Salah satunya Mitch Hedberg. Yang lainnya sudah beralih ke opini atau pengalaman diri yang dibawakan dengan karakter kuat, seperti Chris Rock, Robin Williams, maupun (Jerry) Seinfeld.

b) Pembawaan dengan gaya komedian berkelompok, yang masih mengandalkan umpan, lelucon, celetukan. Padahal seharusnya mengandalkan kepribadian/karakter. Dalam hal ini, ketidaksiapan ini berlaku di dua sisi. Selain komedian kita belum ada yang siap, penonton kita juga belum terbiasa dengan budaya komedian solo ini. “

Terima kasih, Isman.

Komedian solo, menurut Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998, “thanks Danny Septriadi, untuk hadiah bukunya yang revolusioner ini”), merupakan sosok filsuf bawel, blak-blakan, pemimpi anarkis dan pahlawan sosial. “Strong individuals rather than group members, with a burning desire to share what they think and feel,” tegas Jay Sankey lebih lanjut.

Dalam lanskap komedi Indonesia yang masih kuat dicengkeram budaya Srimulatan atau lenong, memang sulit ditemui komedian dengan kualitas strong individual yang mampu terbang sendirian sebagaimana seekor garuda. Melainkan mereka akan selalu mencari rasa aman, menghindari resiko, sebagai group members yang bermain secara keroyokan. Ibarat barisan sekumpulan bebek-bebek yang riuh belaka.

Sehingga ketika mereka menyajikan suguhan komedi di televisi, yang menihilkan akal sehat sekali pun, respons positif akan pula selalu bisa mereka raup. Tidak lain berupa hamburan tawa-tawa riuh, tawa-tawa kalengan yang gaduh. Baik yang diproduksi secara elektronik atau pun yang bersumber dari orkestrasi puluhan mereka yang bangga berjaket sebagai mahasiswa.

Menyedihkan. Semua itu membuat komedi Indonesia terancam mengalami nasib tragis sebagaimana dialami oleh Kitty juga. Tawa-tawa yang terburai dari tayangan komedi di televisi-televisi kita, tidak lain ibarat tusukan belati demi belati yang mengakhiri hidup komedi itu sendiri. Tragisnya lagi, kita semua yang menonton adegan itu tidak berbuat apa-apa untuk menolongnya.


Wonogiri, 26/10-15/11/2008

ke

Friday, September 26, 2008

Era Ekonomi Kreatif dan Wajah SDM Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner(at) yahoo.com



Komedikus interuptus. Pasuruan dan zakat lagi jadi berita hangat. Kejadian tragis dengan tewasnya 21 calon penerima zakat menjelang lebaran di rumah seorang pengusaha kaya di Pasuruan, memunculkan usikan : apa ada yang salah dari Islam ? Maksudnya, apa ada yang salah pada umat Islam dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam ? Lebih sempit lagi : mengapa niat-niat mulia itu kemudian justru menjadi bencana ?

Antara niat dan implementasi tidaklah otomatis berimpit. Niat baik belum tentu dapat diimplementasikan secara baik pula. Antar keduanya ada jarak. Umat Islam kiranya harus berkaca, betapa implementasi masih belum menjadi keterampilan alami mereka.

Barangkali itulah mengapa, seperti diwartakan Radio BBC (26/9/08) yang mengutip hasil kajian LSI, yang menyimpulkan betapa partai-partai Islam yang ribut berdebat melulu mengenai konsep jati diri tak pernah laku keras. Bahkan cenderung terus menurun, di mata konstituen sejak Pemilu 1955. Pemilih cenderung memilih partai-partai sekuler yang menjual program-program konkrit yang mampu menyejahterakan mereka.

Hasil riset tadi, hemat saya, mudah-mudahan didengar oleh mereka yang ngotot untuk menggolkan Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang kontroversial itu menjadi undang-undang. Juga belajarlah dari kasus Pasuruan, di mana betapa ajaran mulia dan niat-niat mulia, kemudian justru membuahkan bencana.

Ketika warga Bali menyuarakan penentangan hebat atas RUU APP ini, dan mengancam akan melakukan pembangkangan sipil, civil disobedience, mungkin kita dapat memperkirakan apa yang bakal terjadi bagi Indonesia di masa depan. Indonesia yang terancam gosong dan tercerai-berai ?


Misi lucu dan luhur. Syukurlah, kabar dari Pasuruan tidaklah selalu jelek melulu. Dalam ranah dunia komedi, tanah ini telah melahirkan kelompok lucu Abioso yang memenangkan kontes Audisi Pelawak TPI (API)-4 di awal tahun ini. Kalau Anda sempat menengok situs blog mereka, lalu membaca-baca secara teliti prestasi panggung mereka, mungkin Anda akan terheran.

Kelompok yang diotaki Ahmad Aminuddin (Aam, 25), Muhammad Ali Mufadhol (Ali, 25) dan Muhammad Ghufron (GeGe, 23), adalah anak-anak jebolan Pondok Pesantren Ngalah Purwosari Pasuruan. Tetapi mereka pernah manggung lawak di SMP-SMA Advent Purwodadi dan Gereja Katolik Pasuruan. Mengingatkan saya akan petualangan lucu bermisi luhur dari komedian muslim keturunan Mesir, Ahmed Ahmed bersama rabbi Yahudi yang jenaka, Bob Alper, ketika keduanya meluncurkan tur komedi “One Muslim, One Jew, One Stage : Two Very Funny Guys” di AS pasca serangan teroris 11 September 2001.

Ketika saya mengunjungi blog Abioso itu, saya pun menulis pesan. Selain berkenalan, saya ingin memperoleh cerita-cerita apa saja yang pernah mereka reguk selama menjalani API-4 tersebut. Mereka juga saya rujuk untuk membaca isi sidebar, kolom samping blog ini, yang terpasang sejak 20 Juni 2008. Dengan isi mengundang mereka, selain langsung melalui email, kepada mereka yang memiliki minat memajukan dunia komedi Indonesia.

Baik bagi sobat Effendi Gazali dkk (sebagai juri API-4), sobat Harris Cinnamon (Produser Eksekutif API-4) dan kawan-kawan di TPI, terutama para peserta audisi yang sukses menembus 12 Besar di Jakarta. Ada data yang mungkin menarik tentang profil mereka : sebagian besar personelnya lulusan setingkat SMA, 21 orang. Satu orang D-2 dan seorang mengaku mahasiswa. Hanya ada 4 orang yang mengenyam pendidikan setingkat S-1. Ada 10 orang yang tidak mencantumkan sama sekali data pendidikannya.

Seperti tertuang di blog ini, undangan obrolan tentang API-4 itu terbuka pula bagi peminat komedi lainnya. Untuk berbagi cerita, wawasan sampai harapan kepada sesama pendukung dunia komedi Indonesia. Sayang sekali bukan, bila kegiatan yang mahal itu akhirnya sama sekali tidak meninggalkan jejak di dunia maya sebagai rujukan di masa depan.

Sayang, undangan saya untuk Abioso, tak ada sambutan. Juga nama-nama terkenal di atas, mereka tidak terusik ajakan dan permohonan saya. Terima kasih, desis saya. Maka kolom samping itu, setelah terpajang selama empat bulan, akan segera saya non-aktifkan. Komedikus interuptus. Kontak-kontak komedi yang harus terputus.

Sebagai simbol lainnya, seperti Anda lihat di awal tulisan ini, nampak logo API-4 yang gosong. Untuk menggambarkan betapa harapan saya bahwa seiring peristiwa sebesar API-4 memiliki momen bagi pencinta seni komedi di Indonesia untuk bisa saling ngobrol dan berbagi info, kini rupanya harapan itu mungkin tinggal berupa abu belaka.


Mencontek turis Jepang. Aneh juga. Saya yang memiliki nomor peserta “AB 042S” (ikut audisi API-4 di Yogya, nomor urut 42, dan membawakan komedi single/tunggal) yang gagal di langkah pertama, memang kecewa. Tetapi mereka yang lebih sukses dibanding saya, mengapa mereka enggan diajak untuk berbagi cerita ?

Kegagalan itu, bagi saya, tetap merupakan berkah. Tragedi seiring berjalannya waktu adalah komedi. Gagal itu kini justru menerbitkan kenangan menawan, banyak memicu ide cerita dan pikiran-pikiran lanjutan yang kiranya bisa disumbangkan untuk komedi Indonesia. Hulu dari semua itu, tentu saja adalah kecintaan. Kecintaan untuk dunia komedi. Suka menulis. Suka mengobservasi. Suka mencatat hal-hal yang kiranya menarik dari sekitar.

Terkait hal itu ada cerita menarik tentang perilaku turis-turis Jepang. Penutur ceritanya adalah Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa turis-turis Jepang selalu membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi. Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Apa kebiasaan serupa juga berlaku untuk kalangan komedian ? “Get yourself a notebook that you keep by your bed and another, smaller one that can fit in your pocket...write down all ideas within a few minutes of thinking about them,” tegas Judy Carter, mentor komedi terkenal. Antena atau radar seorang komedian sebagai penghuni dunia kreatif memang harus dalam mode on selama dua puluh empat jam seharinya !


Dunia otak kanan. Dari ulah otak-atik materi lawakan itu, kalau ngomong dalam gambar yang lebih besar, sebenarnya dapat menjadi salah satu rel bangsa ini untuk menuju era baru, era konseptual. Seperti diungkap oleh Daniel H. Pink bahwa era pertanian dan industri telah lewat, sementara era informasi sedang menuju uzur, maka sektor-sektor yang dikembangkan oleh negara-negara maju dan sulit ditiru oleh bangsa lain adalah sektor yang lebih banyak melibatkan otak kanan manusia.

Dalam bukunya A Whole New Mind : Why Right-Brainers Will Rule the Future (2006), ia katakan bahwa dalam era konseptual yang melibatkan kreativitas, keahlian dan bakat itu mayoritas pekerjaan di masa depan (era ekonomi kreatif) akan dikuasai mereka yang menciptakan sesuatu atau mereka yang mampu berempati kepada orang lain. Sebagian besar pekerjaan itu mensyaratkan ketelatenan, rasa humor , imajinasi, orisinalitas, naluri, kegembiraan, kedekatan pribadi dan kelenturan sosial.

Gambaran kemilau tentang masa depan di era konseptual itu mungkin dapat digambarkan dari perjalanan karier seorang Rowan “Mr. Bean” Atkinson. Ia lahir tanggal 6 Januari 1955 di Consett, County Durham, Inggris. Ia seorang sarjana elektro lulusan dari Newcastle University dan meraih gelar MSc di Oxford (Queen's College). Di kampus inilah, ketika main komedi untuk klub di kampusnya, ia bertemu penulis Richard Curtis dan komposer Howard Goodall, trio kompak yang bekerjasama dalam pengembangan karier Mr. Bean berikutnya.

Bila saja Rowan Atkinson tetap berprofesi sebagai “tukang insinyur” yang banyak berkutat dengan otak kiri yang linear dan mekanistik, kita mungkin tidak akan mengenalnya. Tetapi ketika ia lebih senang memilih mengejar karier berdasarkan bakat yang ia miliki, mengembangkan secara optimal kreativitas dari ranah otak kanannya, dunia pun kini mengenalnya.

Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi kreatif. Demikian simpul artikel yang berjudul “Era Creative Economy dan SDM Berkarakter” yang ditulis Gunawan di koran Seputar Indonesia (21/3/2008). “Industri kreatif saat ini bagian penting dari perekonomian Indonesia,” bunyi pembuka berita mengenai kuliah umum Memperdag Mari Elka Pangestu di Universitas Multimedia Nusantara Jakarta (Kompas, 6/9/2008).

Sayang, lanjut Gunawan, praktik pembelajaran di sekolah (kita) menghambat kreativitas anak-anak. Merujuk pendapat ahli psikologi Universitas Harvard, Howard Gardner, sistem yang salah itu akan membunuh kreativitas anak tinggal 10 persen dari potensinya ketika mencapai usia 8 tahun. Dan bila berlangsung sampai umur 12 tahun maka potensi kreativitasnya hanya tinggal 2 persen saja. Di sekolah-sekolah Indonesia, tiap tahun berapa juta embrio calon-calon Einstein (“Imajinasi lebih hebat dibanding pengetahuan,” katanya), Picasso, Charlie Chaplin, sampai Robin Williams masa depan yang telah terbantai di dalamnya ?

Tumbuh kembangnya ekonomi kreatif juga tidak hanya terancam terjegal akibat sistem yang salah di sekolah. Novelis Ayu Utami dalam kolomnya berjudul “Bangkitnya Kelas Kreatif” (Seputar Indonesia, 14/9/2008) mengutip Richard Florida bahwa kelas (pendukung ekonomi) kreatif itu hanya bisa tumbuh bersama sikap tertentu di sebuah masyarakat. Richard Florida dalam bukunya The Rise of Creative Class (2002) kemudian mensyaratkan adanya 3 T : teknologi, talenta dan toleransi.

Menurut Ayu Utami, T yang terakhir itulah yang menyurut di negara kita akhir-akhir ini. Terutama toleransi kepada kaum minoritas. “Lihat saja bahasa kekerasan dan bahasa kebencian yang kerap disebarkan dalam dasawarsa belakangan ini,” keluhnya. Boleh jadi kita semakin khawatir : apakah api kekerasan dan kebencian yang lebih besar akan semakin menjadi-jadi kobarnya bila saja RUU Pornografi dan Pornoaksi itu akan diundangkan di negeri ini ?

Impian mengenai mekarnya ekonomi kreatif di negeri ini mungkin menjadi gosong. Tinggal hanya abu kenangan. Pasti ikut juga hangus di dalamnya ide-ide cemerlang komedi dimana melucukan dan melecehkan sering tipis batasnya, yang sebenarnya mampu mendewasakan kita sebagai bangsa.



Wonogiri, 26/9-23/10/2008


ke

Tuesday, August 26, 2008

Kejujuran dan Komedian Baru di Senayan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Olok-olok tulang tua. John McCain, 71 tahun, empuk jadi bulan-bulanan komedian Amerika Serikat. Terutama karena usia bakal calon presiden dari Partai Republik AS tersebut.

Pernah ia memasang iklan besar-besaran yang menyamakan saingannya, Barack Obama, dengan artis-artis pembuat heboh seperti Britney Spears atau pun Paris Hilton. Maksudnya, Obama memang populer, tetapi tidak berbobot, dan disangsikan mampu memimpin Amerika.

Para komedian AS segera menelikungnya. Misalnya, Jay Leno. “Apakah Anda telah melihat iklan baru ? Iklan kampanye McCain yang menyamakan Barack Obama dengan Britney Spears dan Paris Hilton. Dan sekarang kampanye Obama mengeluarkan iklan yang menyamakan John McCain dengan Zsa Zsa Gabor dan Bea Arthur.”

McCain tetap bersikukuh. Ia mempertahankan iklannya yang menyamakan Barack Obama dengan Paris Hilton sebagai terlalu banyak ngomong dan kurang action.. Jay Leno kembali mengolok McCain. “Apakah McCain telah menonton video seksnya Paris Hilton ? Di video itu tak ada kata-kata. Yang ada action semuanya,” tegasnya.

Masih terkait tentang seks. Usia tua, kita tahu, juga berpengaruh terhadap perubahan fisik. Termasuk organ reproduksi kita. Komedian Conan 0’Brien membidik McCain dari sisi itu. Oloknya, “Putri John McCain mengumumkan bahwa ia akan menulis buku anak-anak berdasarkan riwayat hidup ayahnya. Aku pikir bagus sekali. Buku anak-anak itu nantinya akan berjudul, ‘James dan Prostat Raksasa .’”

Usia tua juga dapat diperolok dari,perspektif sejarah sampai teknologi. Ketika Obama mengunjungi Irak, McCain merasa tidak mengenal Irak. Yang ia kenal bahwa daerah itu bernama Mesopotamia. Dikabarkan pula bahwa McCain itu gaptek. Ia tak pernah menggunakan email atau pun Internet. Jay Leno pun menembaknya : McCain merasa tak perlu menggunakan email karena orang dapat menghubunginya sekarang melalui radio CB-nya.

Konteks olokan serupa mari kita coba pindah ke Indonesia : ketika pemilihan presiden akan digelar tahun depan, mungkin kita akan disuguhi calon-calon berusia tua. Abdurachman Wahid, Amien Rais, Megawati, Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, sampai Sutiyoso.

Bagaimana kalau mereka itu didampingi calon wakil presiden yang berusia lebih muda ? Misalnya Rizal Ramli, Soetrisno Bachir, Yusril Ihza Mahendra, Yudi Chrisnandi, Rizal Mallarangeng, Fadjroel Rachman sampai Ratna Sarumpaet ? Saya pribadi tidak setuju. Untuk mendampingi calon-calon presiden kita yang tua-tua itu bisa dipilih siapa saja. Syarat pokoknya : asal mereka dokter !

Gosip politik yang baru kini juga terdengar. Selain Obama, kini Anwar Ibrahim juga menjadi inspirasi politisi muda kita untuk mengincar kursi RI-1. Kampanye hitam dengan uduhan sodomi dari kubu lawan politiknya tak mampu menghalangi Anwar Ibrahim ke kursi parlemen, konon para politisi kita juga ingin disiarkan media bahwa mereka telah siap-siap melakukan sodomi pula !

Kelucuan vs kejujuran. Apakah kita dapat memperoleh pelajaran dari parade lelucon politik di Amerika Serikat tersebut ? “Kita semua ada lemahnya,” begitu bunyi penggalan lirik dari lagu tema tayangan parodi politik Republik Mimpi. Artinya, calon pemimpin-pemimpin kita pun, sebenarnya dan sebaiknya, tidak ada yang terlalu suci untuk diperolok.

Apalagi kini di negara kita sedang terjadi “arus besar,” ketika para selebritis atau mantan selebritis ramai-ramai memasuki ranah politik, kiranya semakin banyak dibutuhkan komedian-komedian cerdas baru Indonesia untuk mengkritisi mereka. Atau justru para wakil rakyat wajah baru itu mau membawa ruh kejujuran seorang komedian sebagai bekal misi suci mereka di gedung para wakil rakyat di Senayan.

Ini bukan himbauan lucu. Atau untuk lucu-lucuan. Karena komedi senyatanya merupakan bisnis atau binatang yang serius. Terlebih lagi, intisari komedi adalah kejujuran, di mana makhluk satu ini serasa makin langka keberadaannya di bumi Indonesia. Karena komedi di Indonesia selama ini senantiasa mengejar kelucuan, bukan kejujuran. Hanya puas bermain-main di permukaan, tidak mau capek-capek menyuruk ke kedalaman.

Sekadar ilustrasi, simaklah pendapat Brahmanto Anindito yang menulis betapa sebagian orang yang dilahirkan normal sekarang ini justru berlomba-lomba membencongkan diri di televisi. Gugatnya lebih lanjut :


“Kepada yang terhormat penulis skenario komedi dan aktor komedi. Kalau boleh, ijinkanlah saya di sini berpesan sedikit kepada Anda. Sebuah pesan sederhana dari lubuk hati yang terdalam :

Tolong, melawaklah sebagai lelaki sejati. Kocoklah perut kami, penggemar kalian, dengan silat logika yang kreatif. Bukan dengan tokoh pria yang didandani perempuan. Bukan dengan adegan-adegan “jeruk” mengejar “jeruk”.

Masih kurangkah tokoh waria (wanita pria), alias wadam (wanita adam), alias banci, alias bencong, di pertelevisian kita? Di film fiksi. Di reality show. Baik pemerannya bencong sungguhan, atau dibuat-buat. Masih kurangkah? Berapa tokoh waria lagi yang harus disajikan sampai Anda puas? “

Pembaca Kompas, Tri Haryanto, Jatimulya, Depok, Jawa Barat, menulis surat pembaca di Kompas (22/1/ Januari 2007) menyatakan diri muak terhadap acara yang yang melecehkan perempuan. Di komedi parodi, variety show, kini tak hanya pada acara lawak saja ketika tokoh-tokoh banci itu muncul di televisi. Sebagai penonton televisi di Singapura, Malaysia, Australia, Taipei sd UEA, ia mengatakan bahwa sedikit sekali acara seperti itu. Tetapi di Indonesia, tokoh yang memerankan banci malah didaulat sebagai aktor terbaik untuk kategori tertentu.

"Comedy is about truth,” kata Shazia Mirza, komedian wanita Inggris keturunan Pakistan. Menurutnya, komedi senyatanya berakar dari realitas, kesejatian, kebenaran. Anda tidak perlu mereka-rekanya, karena semua bahan itu sudah terpendam dalam diri Anda. Komedian akan tampil terbaik bila ia menulis atau mengungkapkan mengenai penderitaan, kemalangan dan kesepiannya.

Komedian kita belum mampu berkiblat kesana. Apalagi melangkah untuk memasukinya. Sehingga ketika bercermin dari pendapat di Shazia Mirza diatas, kiranya kita dapat menguak betapa komedi Indonesia selama ini didominasi oleh kepalsuan dan kepalsuan semata. Pria menjadi wanita palsu. Wanita menjadi pria palsu.

Bayangkan kemudian betapa sebagian para pengusung kepalsuan itu kini sedang berbaris dan berusaha untuk memasuki gedung di Senayan, untuk kelak bisa didaulat sebagai wakil-wakil rakyat Indonesia. Dalam dunia komputer ada lingo atau bahasa prokem yang berbunyi garbage in, garbage out. Bila yang masuk Senayan kelak adalah sampah, maka luarannya pun juga sampah, bukan ?



Wonogiri, 27/8-8/9/2008

ke

Sunday, July 27, 2008

Boneka Rusia, Ogilvy dan Effendi Gazali

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com




Tikus The Circus. George Smiley tak bisa lama-lama menikmati masa pensiunnya. Baru setahun ia pensiun dari dinas rahasia Inggris, teman kerja lamanya sudah nongkrong di ruang tamu. Tamu itu membawa kabar penting dan gawat dari Perdana Menteri Inggris bahwa pada badan intelijen tersebut telah disusupi oleh agen Rusia. Tidak tanggung-tanggung, bahwa si tikus Rusia itu berpangkat tinggi di lingkungan badan intelijen Inggris. Smiley memperoleh tugas untuk membongkar siapa agen itu sebenarnya.

Itulah plot film seri Tinker, Tailor, Soldier, Spy (1979). Diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya John le Carre, yang pertama kali diterbitkan tahun 1974. Saya menontonnya di Rawamangun, Jakarta, di layar hitam putih TVRI awal tahun 1980-an. Film ini asyik, menegangkan, mengajak penonton sibuk berpikir dan menduga-duga, walau sajiannya lebih banyak bicara dan bicara. Bukan aksi seperti film spionase model Ian Fleming dengan James Bond-nya. Didukung oleh oleh maha bintang Sir Alec Guinnes yang memerankan sebagai George Smiley.

Adonan misteri dan teka-teki yang merampok rasa penasaran penonton itu diawali dengan adegan pembuka yang menawan. Yaitu tampilan boneka Rusia, yang dikenal sebagai matryoshka. Terdapat empat boneka Rusia yang muncul berturutan, dimana boneka yang keempat tidak memiliki wajah. Tayangan visual tersebut memberikan pesan bahwa boneka yang terakhir tersebut merupakan agen rahasia yang masih misterius, yang justru berada dalam lingkaran terdalam dari badan rahasia Inggris yang disusupinya.


Boneka politik. Boneka matryoshka merupakan satu set boneka yang seringkali terdiri atas lima atau enam boneka yang saling bertumpuk satu sama lain. Ketika boneka pertama diangkat, didalamnya terdapat boneka lain dengan ukuran lebih kecil, dan demikian boneka-boneka berikutnya. Nama matryoshka menurut Wikipedia merupakan turunan dari matryona, nama pertama wanita Rusia, yang sering diasosiasikan sebagai perempuan yang berbadan gemuk.


Ketika masa Perang Dingin masih berkecamuk, di dunia barat sering muncul ejekan bahwa semua perempuan Rusia itu memiliki tubuh seperti bis. Syukurlah, perang dingin itu kini jadi telah sejarah, dan kita bisa menikmati realita bahwa perempuan Rusia ada juga yang sosoknya indah, jelita dan penuh pesona, seperti Anna Kournikova atau Maria Sharapova.

Di masa perestroika, boneka-boneka Rusia itu sering menampilkan tokoh-tokoh pimpinan negaranya. Dimulai dari boneka yang terbesar, Mikhail Gorbachev, disusul Leonid Brezhnev, lalu Nikita Khrushchev, Josef Stalin dan akhirnya boneka yang terkecil adalah Vladimir Lenin. Versi yang baru menampilkan Vladimir Putin sebagai boneka terbesar, kemudian Boris Yeltsin, Mikhail Gorbachev, Joseph Stalin dan terakhir Vladimir Lenin.

Mari kita berandai-andai dalam kacamata jenaka. Apabila boneka-boneka Rusia itu diproduksi di Indonesia, dengan tokoh-tokoh para presiden kita, boneka siapakah yang wajarnya paling besar ? Misalnya kita pilih urutan menurut sejarah : Soekarno, disusul Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kira-kira relakah SBY bila ia dihadirkan sebagai boneka yang paling kecil dengan segala multi-tafsirnya ? Bila ia tidak suka, bukankah dirinya mengingkari sejarah ? Kalau dibuat terbalik, dengan SBY sebagai boneka terbesar dan Soekarno sebagai boneka terkecil, apa kira-kita kata dunia ?

Skenario lain. Misalnya kita memproduksi boneka matryoshka dengan setting yang berbeda : diurutkan berdasar tingkah laku korupsi yang dilakukan oleh para presiden, atau yang marak terjadi ketika presiden-presiden bersangkutan memerintah. Bukankah keenam presiden kita itu justru akan menghindari terpilih sebagai boneka yang terbesar, dan suka memilih untuk ditampilkan sebagai boneka yang terkecil ?

Boneka matryoshka memang kaya dengan metafora. Di era Perang Dingin ada yang menggambarkan bahwa boneka itu merupakan cerminan jiwa Rusia. Setiap kali kulitnya dilepas, selalu saja ada jiwa Rusia dengan faham komunismenya tertinggal di sana.

Ada juga yang melukiskan bahwa tampilan boneka itu merupakan replika dari bawang merah, yang mencerminkan perjalanan hidup manusia. Setiap lapisan adalah tahun-tahun yang kita jalani. Ia mengelupas satu demi satu dan akhirnya hanya berupa ketiadaan. Kesia-siaan.

Melestarikan kekerdilan. David Ogilvy, jenius periklanan, juga punya cerita menarik tentang boneka Rusia. Saya membacanya dari artikel berjudul “Memos From an Advertising Man” di Reader’s Digest (11/1987). Petikannya :

“Kalau Anda merekrut karyawan dari luar, adalah sangat penting untuk memperhatikan bagaimana perekrutan itu dilangsungkan. Dalam pertemuan dengan dewan direksi, pada setiap anggotanya menghadap satu set boneka-boneka Rusia.

Saya berkata : ‘Boneka-boneka itu Anda. Bukalah.”

Mereka kemudian membukanya, untuk menemukan boneka yang lebih kecil di dalamnya. Setiap kali membuka, akan mereka temui boneka yang lebih kecil dan lebih kecil lagi ukurannya. Akhirnya di dalam tubuh boneka yang paling kecil akan mereka temukan sebuah kertas kecil. Saya tuliskan di kertas itu sebuah motto. Tertulis :

‘Apabila Anda senantiasa merekrut karyawan yang lebih kecil dibanding diri Anda, maka perusahaan kita akhirnya akan hanya menjadi perusahaan orang-orang kerdil. Sebaliknya, bila Anda memperkerjakan karyawan yang lebih besar dibanding Anda, maka kita akan menjadi perusahaan raksasa.’


Terkubur lumpur Lapindo. Ucapan Ogilvy di atas melintas di benak ketika via Google saya menemukan berita agak mutakhir tentang Effendi Gazali. Di sms saya menyebutnya dengan “boss.” Ia pun membalas, mungkin dengan bayangan saya adalah warga Wonogiri yang terasing, terpencil, dan pantas masuk konservasi selayak warga suku Indian, maka ia sebut saya dengan sebutan “chief.”

Satu hal yang paling tidak saya sukai darinya adalah, ia agak gaptek rupanya. Ia malas untuk menulis email. Pernah saya berbusa-busa setelah ia meminta saya mengomentari situs webnya, setelah itu tak ada komentar balik darinya. Padahal ketika “marah,” saat ia saya provokasi ketika Republik BBM-nya melakukan debutnya, ia mampu menulis SMS lembar demi lembar.

Berita di Internet itu menyebutkan ia dan timnya dari Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia mundur dari tayangan parodi politik Sidang Kabinet Republik Mimpi dari TVOne. Konon penyebabnya, karena materi tentang bencana lumpur panas Lapindo ditolak oleh fihak televisi. Komentar yang muncul bahwa masa represi model Orde Baru terhadap kebebasan media kini muncul kembali. Entah itu berita serius atau hanya gimmick pemasaran, yang nyata bahwa hari-hari ini dunia komedi Indonesia pun kehilangan sosok Effendi Gazali.

Tetapi toh ia mampu meninggalkan jejak dan warisan berharga. Lanskap dunia komedi menjadi diperkaya dengan kreasinya. Baik tayangan parodi politik berupa copy cat yang tayang di MetroTV atau pun di TVOne, jejak Effendi Gazali masih kental di sana. Tetapi bila metafora boneka Rusia dari David Ogilvy itu diterapkan kepada dirinya dan para “Brutus”-nya, bagaimana pendapat Anda tentangnya ?

Berita tentang dirinya di Internet yang terbaru, lebih membahagiakan. Ia kini tak bisa lagi memperolok dirinya sebagai seorang jomblo, dengan label an eligible bachelor yang prestisius itu. Ia pernah kirim sms, “saya lagi di Padang nih, mencari jodoh.” Toh nasib mempertemukan belahan jiwanya bukan di Padang, tetapi di Depok, di kampus Universitas Indonesia. Ia dikabarkan mempersunting mahasiswi cantik yang bernama Ima.

Selamat menempuh hidup baru, boss EG.
Selamat berbahagia.


Wonogiri, 27-28 Juli 2008

ke

Wednesday, June 25, 2008

Masa Depan Komedi Tidak (Hanya) di Televisi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Photobucket

Sumber foto : Harian Suara Merdeka, Rabu, 18 Juni 2008 : hal. 1


ke