Sunday, March 25, 2007

Robin Williams dan Tes Kecerdasan Komedi Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




When all you have is a hammer, everything looks like a nail. Apabila yang Anda miliki hanya sebuah palu, maka semua hal selalu terlihat sebagai paku. Pepatah akhir abad 20 ini manjur sekali ketika rezim Orde Baru berkuasa. Ketika militer begitu kuat, maka semua masalah senantiasa mereka selesaikan dengan kekuatan. Kekerasan. Tindakan represif.

Mengapa bencana lumpur panas di Sidoarjo tidak meledak di era Orde Baru, barangkali karena lumpur-lumpur panas tersebut sudah takut duluan dengan Pak Harto dan anak-anak buahnya. Lumpur panas tersebut kini muncul, karena mungkin mereka tahu pemimpin negeri ini adalah tokoh yang selalu berselimutkan pendekatan “akan” dan “akan,” sarat rasa bimbang dan penuh keraguan.

Baiklah. Pepatah tentang palu dan paku di atas juga berlaku bagi saya di tahun 80-an. Bunyinya berubah. Ketika jatuh cinta sama Tutut, maka semua perempuan cantik akan terlihat mirip seperti Tutut. Maaf, Tutut yang satu ini bukan putrinya Pak Harto. Ia mantan pramugari, lalu keluar untuk melanjutkan kuliah di Sastra Indonesia, FSUI, di Rawamangun. Saya pernah memotretnya, saat tak sengaja ketemu di perpustakaan. Sayang, karena mabuk cinta, saat motret yang spontan itu tidak mempertimbangkan sinar yang back lighted, sehingga hasilnya tidak memuaskan.

Salah satu korban fanatisme saya terhadap Tututisme saat itu adalah Pam Dawber. Saat itu saya tinggal di Jl. Balai Pustaka Timur 24 B, Rawamangun (kini sudah jadi ruko), dimana melalui tayangan hitam putih TVRI, kalau tak salah setiap Sabtu sore, saya bisa melihat sosoknya. Saya suka rambutnya yang poni itu. Ketika di layar muncul Pam Dawber, langsung saja yang hadir di kepala saya adalah Tutut.

Pam Dawber. Tutut.
Pam Dawber. Tutut.
Pam Dawber. Tutut.

Pam Dawber (foto) saat itu tampil membintangi serial komedi situasi yang bercampur fiksi ilmiah, Mork & Mindy. Pam Dawber, kelahiran 18 Oktober 1951 di Farmington Hills, Michigan, memerankan tokoh Mindy McConnell. Lawan mainnya (lihat foto) adalah aktor pemenang Oscar dan komedian ternama, Robin Williams.

Film seri produksi stasiun televisi ABC (1978 – 1982) tersebut melambungkan nama Robin Williams. Keduanya menjadi sangat terkenal karena ditopang kemampuan Robin Williams yang jenial dalam hal improvisasi bakat komedinya. Sampai-sampai dikisahkan bahwa dalam pelbagai adegan nampak Pam Dawber terlihat menggigit bibirnya. Ia terpaksa melakukan hal itu agar dirinya tidak ikut-ikutan tertawa yang bila ia lakukan pasti merusak adegan sitkomnya tersebut.

Tahun pun berlalu. Saat ini, saya tidak mengikuti cerita kariernya Pam Dawber lagi. Juga tidak tahu tentang diri Tutut saat ini. Tetapi tidak demikian halnya dengan Robin Williams. Ketika membongkar-bongkar tumpukan majalah lama, saya bisa kembali menemukan dirinya lagi.

Banyak hal yang menarik dari sosok komedian yang sahabat sejati Christopher Reeve, almarhum yang pemeran Superman, kolektor sepeda dan teman dari pembalap sepeda legendaris asal AS Lance Armstrong ini, terutama tentang keakraban tingkat tinggi diri Robin Williams dengan teknologi informasi. Juga, tentu saja, terkait kiprah kreatifnya yang mengagumkan dalam dunia komedi.


Mentalitus Komedikus. Judy Carter dalam bukunya The Comedy Bible (2001) telah mengajukan kuis berisikan 16 pertanyaan untuk mengungkap apakah seseorang atau Anda sendiri punya kecenderungan sebagai komedian. Salah satu pertanyaan tersebut adalah : Apakah Anda suka menirukan tingkah laku keluarga Anda, di belakang punggungnya ?

Kalau jawaban Anda “ya,” oleh Judy Carter dikatakan bahwa Anda sedang mempraktekkan act-outs, salah satu mata rantai penting dalam konstruksi lawakan. John Culhane di majalah Reader’s Digest (12/1988) secara menarik telah menceritakan teknik act-outs itu ketika dipanggungkan oleh seorang Robin Williams.

Suatu hari, Robin Williams hendak pergi keluar rumah, meninggalkan putranya Zachary yang baru berumur dua tahun bersama pengasuhnya. Ketika menstarter mobilnya, Robin menengok ke jendela rumahnya. Ia lihat Zachary menempelkan wajahnya di kaca, dengan air mata berlelehan. Setahun kemudian ketika melakukan tur 23 kota di AS, Robin William di atas panggung Metropolitan Opera House di New York berkisah tentang momen mengharukan itu.

“Ketika Anda melangkah keluar dari rumah,” tuturnya, “pemandangan terakhir yang Anda lihat adalah seraut wajah mungil yang menekan dinding kaca, dan..,” Robin mengangkat kedua telapak tangan di atas telinganya seperti ketika sedang menekan dinding kaca, memencongkan bibir untuk menunjukkan tangisan keras anak kecil, tetapi Anda tidak dapat mendengarkannya karena terhalang oleh jendela.

Para orang tua yang menonton pertunjukan segera meledak dalam tawa. Mereka merasakan syok, sekaligus kegembiraan, ketika diingatkan kembali terhadap momen yang akrab bagi kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tergelak karena melihat diri mereka sendiri dalam sajian lawakan itu. Robin Williams berhasil menggabungkan unsur lawakan berupa kata-kata dan pantomim untuk menggambarkan tangisan seorang anak kepada penontonnya.

Tidak hanya tentang anak kecil. Dalam satu seri lawakan atau pun obrolan, diri Robin Williams mampu tampil dalam pelbagai peran yang mengalir, berubah-ubah, dan selalu mengejutkan. Dengan julukan sebagai robinwacky, beragam suara yang terdapat dalam dirinya bila dikumpulkan, menurut John Culhane, akan setebal buku telepon kota kecil.

Ia dapat hadir sebagai ahli ramalan cuaca, seks terapis berkulit hitam, bayi dalam kandungan (“Enak. Kecuali bila ibu berdansa”), kritikus restoran, desainer pakaian Vietnam, dan lebih banyak lagi. “Pantat lagi, pantat lagi !,” begitu keluhnya ketika ia memosisikan dirinya sebagai sebuah kursi.

Seperti didemonstrasikan oleh seorang Robin Williams di atas, menjadi pelawak menurut Judy Carter adalah masalah sikap mental. ”Mentalitus komedikus,” demikian istilah saya untuk itu. Bagaimana kita berpikir, bagaimana kita memandang dunia, bagaimana sikap kita terhadap pelbagai absurditas yang terpapar di hadapan kita, dan tentu saja, bagaimana kita membuat semua itu hingga mampu membuat orang menjadi tertawa.

Lanjut Judy Carter, Anda dapat bekerja sebagai seorang akuntan tetapi jalan berpikir Anda dapat saja seperti sebagaimana seorang komedian. Apa manfaat besar bagi kita, yang orang kebanyakan ini, ketika mampu berpikir sebagai seorang komedian ?

Silakan camkan kata-kata David Ogilvy (1911–1999), tokoh kelahiran Inggris dan pemikir raksasa, sosok begawan dalam dunia periklanan. Ia pernah bersabda : The best ideas come from jokes. Make your thinking as funny as possible. Pandanglah dunia ini dari kacamata humor. Lihatlah dunia dari sudut pandang atau perspektif yang berbeda, yang mampu menerbitkan tawa. Semua itu akan mampu membuat diri Anda sebagai pribadi yang berbeda pula.

Menjadi lebih baik.


Menurun dari ibu. Kita tidak hanya dapat belajar banyak dari teknik melucunya Robin Williams. Kita juga dapat menengok masa lalunya, betapa bakat komedi itu bisa terasah dari rumah. Sejak ia kecil.

Robin adalah anak tunggal dari perkawinan yang kedua dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Robert Williams, eksekutif perusahaan mobil Ford Motor Company, yang tinggal di kawasan keluarga terpandang di Lake Forest, di luar Chicago, kemudian pindah dan Bloomfiled Hills, dekat Detroit. Di kota terakhir ini ia menempuh pendidikan di Detroit Country Day School, di mana alumnusnya termasuk Steve Ballmer, tokoh kunci raksasa piranti lunak Microsoft dan Courtney Vance, bintang film seri Law and Order: Criminal Intent.

Robin Williams memperoleh gagasan mengenai komedi dari ibunya, Laurie. Ibunya adalah mantan model, kelahiran New Orleans, keturunan Perancis. “Komedi merupakan jenis komunikasi untuk ibu dan saya. Ia selalu menceritakan lelucon-lelucon yang dapat membuat ayah malu tetapi membuat saya tertawa,” katanya.

Tetapi sejatinya Robin kecil seorang penyendiri, suka bermain sendiri, berfantasi membangun dunianya dengan boneka-boneka serdadunya. Ia sangat menyukai buku, menonton film kartun, dan mengidolakan komedian Jonathan Winters yang muncul dalam acara The Jack Paar Show di televisi. Ia terinspirasi keterampilan Winter dalam berimprovisasi dan mimikri.

Robin yang pemalu itu pecah pamornya ketika bermain drama di SMA Marin Country, San Francisco. “Saya memainkan tokoh gila dan saya memperoleh sambutan tawa,” katanya. Saat itu dirinya tidak dan belum sadar bahwa ada jiwa komedi dalam dirinya sedang berontak untuk keluar. Walau pun demikian, di sekolah yang sama ia memperoleh penghargaan sebagai “Siswa Yang Paling Tidak Memiliki Sukses Di Masa Depan.”

Setelah lulus, ia menetapkan berkuliah di Claremont Men’s College, Los Angeles, mengambil jurusan politik dan ekonomi. Juga ikut kursus improvisasi karena gurunya cantik, dan ia baru sadar bahwa seluruh kelasnya tertawa melihat aksis-aksi spontannya. Ia tidak lama di kampus ini, Robin lalu pindah ke College of Marin untuk belajar akting. Kemudian berebut 20 tempat dari dua ribu calon untuk bisa berkuliah di sekolah akting terkenal, Juilliard di New York. Ia lulus dalam audisi berbarengan dengan Christopher Reeve, almarhum pemeran Superman yang terkenal. Keduanya menjalin persahabatan sejati yang kental.


Na-no-na-no ! Di tahun 1978 kreator acara televisi Happy Days melakukan audisi untuk Robin Williams agar memerankan sebagai mahluk angkasa luar. Ia diminta untuk duduk dengan gaya mahluk angkasa luar. Segera Robin melompat ke kursi dan memposisikan badannya dengan kepala di bawah.

Itulah adegan orisinal Robin Williams dari film seri televisi hitnya, Mork & Mindy. Sambutan penonton atas tayangan episode tersebut begitu antusias, padahal adegan yang terjadi tidak terencana, semua mengalir keluar begitu saja dari diri seorang Robin Williams. Termasuk ucapan salam halo atau selamat tinggal dari makhluk angkasa luar khas kreasinya, yaitu na-no-na-no, kemudian menjadi ucapan yang sangat populer saat itu. Sejak film seri itu ia seperti menemukan kesejatian dari keaktoran dan komedinya : dirinya dapat berbicara sebagai pria, malaikat, binatang, sayuran dan juga sebagai mineral.

Ia menyabet Oscar pada tahun 1997 sebagai aktor pembantu terbaik dalam film Good Will Hunting. Juga mengesankan ketika bermain sebagai guru John Keating yang menyuntikkan perspektif baru dalam pemikiran murid-muridnya dalam film Dead Poets Society (1989). Di balik keberhasilannya, ia juga pernah memiliki sejarah hitam : kecanduan alkohol dan narkotika. Menyangkut hal buruk itu Robin pernah meledeki dirinya, bahwa “Narkotik merupakan cara Tuhan memperingatkan dirimu bahwa kau terlalu banyak menghasilkan uang !.”

Robin Williams adalah seorang gamer sejati dan ia melek terhadap teknologi informasi. Ketika majalah Yahoo Internet Life (2/1997) menanyakan apakah dirinya menggunakan email, simak jawabannya : “Ya, dan email itu menggaumkan. Email membawa kita untuk kembali mengalami seni menulis surat…. Dalam surat kita dapat mengekspresikan diri kita pribadi secara mendalam dan penuh makna. Surat merupakan perpanjangan dari filosofi Anda.”

“Apakah kami yang pertama mengatakan bahwa pikiran Anda bekerja seperti Internet, hyperlinking untuk menuju tempat atau situs yang paling tidak terduga-duga ?,” tanya David Sheff dari Yahoo Internet Life.

“Itulah realitas diri saya,” jawab Robin Williams. “Itulah pula realitas dunia komedi. Inilah hiperkomedi yang nampaknya persis sama dengan hiperteks. Saya merujuk ke sesuatu hal dan lalu diri saya memuntir, memelintir, untuk mengubah menuju ke arah yang baru. Ketika pertama kali saya melihat hiperteks, saya langsung memahaminya. Inilah ujud asosiasi bebas.”

Asosiasi bebas itulah yang membuat dunia komedi terbuka luas, menarik dan menantang untuk dijelajahi. Tanpa batas. Di padang luas itulah kita dapat menggali atau mengeksplorasi ide-ide baru, baik untuk kemaslahatan dunia komedi sendiri mau pun untuk dunia kemanusiaan yang lebih luas lagi. Ingat sekali lagi kata-kata David Ogilvy di atas, bahwa “Ide-ide terbaik muncul dari lelucon. Jadikanlah modus berpikir Anda selucu mungkin. “

Merujuk tesis nabi periklanan tersebut, ijinkanlah saya melakukan tes sederhana untuk dunia pemikiran Anda, pembaca blog saya yang budiman, terkait dengan realitas dunia komedi kita yang Anda alami dan rasakan selama ini. Ada dua pendapat dua komedian mengenai apa makna komedi dan sajian komedinya bagi pribadinya sendiri dan bagi orang lain.

Ada seorang komedian berpendapat, “Orang kan senang kalau disanjung-sanjung. Kalau saya sih lebih senang njelek-njelekin diri sendiri. Soalnya dari situ saya dapat duit. Kalau tidak dapat duit ya percuma.”

Lainnya berpendapat : “Saya menggunakan komedi untuk menetralisir rasa takut yang lumrah ada pada diri setiap orang. Saya bisa berkata pada mereka bahwa saya juga punya rasa takut seperti Anda, tetapi saya mempunyai pandangan menarik, sehingga saya berpikir bahwa kita akan mampu mengalahkan rasa takut itu secara bersama-sama.”

Kuis saya untuk Anda : pandangan mana yang paling tepat untuk menggambarkan sosok komedian dari Indonesia ? Mengapa Anda berpendapat demikian ? Saya tunggu !


Wonogiri, 26/3-17/4/2007

ke

Tuesday, February 27, 2007

I Love You Ellen, Ellen DeGeneres !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Rumus Anda Tidak Berlaku ! Margaret Hilda Thatcher, perdana menteri Inggris (1979-1990), pernah dikutip majalah People (15/9/1975) mengatakan, “In politics if you want anything said, ask a man. If you want anything done, ask a woman.”. Apabila dalam politik Anda menginginkan segala sesuatunya hanya jadi bahan omong-omongan, pilihan politikus pria. Apabila Anda menginginkan segala sesuatunya dikerjakan, pilihlah politisi wanita.

Rumusan bagus.

Mendongkrak rasa percaya diri kaum perempuan. Sayang, Lady Thatcher, rumus Anda tersebut tidak berlaku seratus persen di Indonesia. Karena Indonesia pernah dipimpin politisi perempuan, tetapi dirinya nampak menonjol tidak tertarik untuk melakukan aktivitas omong-omongan, sementara prestasi kerja pemerintahannya pun diragukan.

Seorang linguis, Deborah Tannen dalam bukunya You Just Don’t Understand : Women and Men In Conversation (1990), menekankan bahwa perempuan secara alami mempererat hubungan mereka dengan terang-terangan dalam menyalurkan informasi, petunjuk, atau bantuan dengan sepenuh hati. Aneh juga ketika kita justru mendapati betapa politisi perempuan kita malah lebih suka berdiam diri.

Politisi perempuan di Amerika Serikat yang tidak suka selalu berdiam diri, mungkin bisa kita temui pada sosok Hillary Rodham Clinton. Ia sudah disebut-sebut oleh surat kabar The New York Times sejak Oktober 2002 sebagai calon kuat presiden AS masa depan. Disusul Majalah Forbes mendata dirinya sebagai salah satu figur kuat dunia dan jajak pendapat mendudukkan Hillary masuk daftar 100 tokoh pilihan Majalah TIME.

Ketika suaminya, Presiden Bill Clinton, dilanda rumor skandal seks dengan Gennifer Flowers sampai Monica Lewinsky, Hillary bersedia muncul untuk wawancara dalam acara terkenal 60 Minutes di televisi CBS.

Ujarnya saat itu, “I am not standing by my man, like Tammy Wynette.” Ia menjelaskan bahwa dirinya bersedia hadir pada acara ini karena ia mencintai suaminya, ia menghormatinya, dan dirinya menghargai apa yang suaminya putuskan dan, “kami berdua akan bertanggung jawab secara bersama-sama.” Dalam bukunya Living History (2003), setebal 562 halaman dan laku lebih dari sejuta eksemplar setelah sebulan diluncurkan, Hillary menjelaskan bahwa cinta yang menjadi alasan dirinya tetap bersama suaminya tersebut.

“Tidak ada orang yang mampu memahami diri saya secara lebih baik dan mampu membuat diri saya tertawa sebagaimana Bill kerjakan. Setelah waktu dan waktu berlalu, ia tetap pria yang paling menarik, energizing, dan sosok penuh gembira yang pernah saya temukan. Bill dan saya memulai mengobrol di musim semi tahun 1971, dan lebih dari tiga puluh tahun kemudian kita berdua tetap saja saling berbicara”


Salah satu tokoh ternama di dunia hiburan AS yang mungkin bersorak atas majunya Hillary Clinton tersebut adalah comedienne Ellen DeGeneres (foto di bawah ini) yang baru saja memandu acara Oscar 2007.


Photobucket - Video and Image Hosting


Memandu Oscar 2007. Ellen DeGeneres saat tampil dalam memandu acara penganugerahan Oscar atau Academy Awards ke-79, 25 Februari 2007 yang lalu.

Ellen DeGeneres, lahir tanggal 26 Januar1 1958 di Ochsner Hospital, Metairie, Louisiana dan memiliki darah campuran Perancis, Inggris, Jerman dan Irlandia itu pernah mengemukakan, “masa depan Amerika yang lebih baik harus dipimpin oleh seorang presiden perempuan.”
"Kekurangan Amerika sekarang ini adalah terletak pada pedoman dan kepemimpinan yang hanya bisa diberikan oleh sosok perempuan bijaksana serta pengasih. Mengapa tidak? Perempuan bisa bekerja lebih cekatan, belajar lebih lama serta berusaha lebih keras untuk berhasil di dunia pria ini.

Kita harus belajar untuk sukses tanpa merasa terancam, mengajak tanpa menuntut serta memimpin tanpa merasa tertinggal di belakang. Kami adalah politisi alami. Persyaratan usia minimum adalah 35 tahun. Di usia inilah perempuan sedang berada di puncak intelektualnya. Bukan matang karena krisis paroh baya," ujar komedian ini.

Tetapi dalam penampilannya di malam Oscar, ia tidak menyuarakan pandangan politiknya tersebut. Ia justru meledek kehadiran mantan wakil presiden AS, Al Gore, yang malam itu menyabet Oscar untuk film dokumentasi, An Inconvenient Truth, yang mengampanyekan ancaman pemanasan global bagi masa depan umat manusia.

Photobucket - Video and Image Hosting


Ellen DeGeneres melucukan Al Gore dengan memperbandingkannya dengan nasib artis Jennifer Hudson. Audiens telah tahu, Jennifer Hudson sebelumnya gagal dalam ajang American Idol. “Tetapi kini,” seru Ellen DeGeneres, “ia sekarang ada disini sebagai nominator Piala Oscar.” Lalu ia menunjuk ke Al Gore, yang juga hadir sebagai nominator Oscar, terkait pemilihan presiden di AS tahun 2000.

“Amerika telah memilih dirinya sebagai presiden, dan...” di tengah gemuruh sorak dan tepuk tangan hadirin, Ellen melepaskan punchline-nya : “Sangat-sangat sarat komplikasi !”

Kekalahan Al Gore dari George W. Bush dalam pilpres waktu itu memang kontroversial. Angka perolehan keduanya bersaing sangat ketat. Bahkan kemudian sengketa itu harus dibawa ke Kejaksaan Agung, dan Al Gore lebih memilih mundur dan memberikan kemenangan bagi Bush. Pemilu yang kontroversial. Dan bagi komunitas komedian, segala hal yang berbau kontroversial merupakan menu lezat yang harus disantap untuk dijadikan bahan bulan-bulanan lawakan.

Merujuk rumusan di atas maka ketika mengomentari acara Republik Mimpi yang menampilkan tokoh SBY, hal itu saya sebut sebagai blunder. Karena SBY adalah tokoh yang kurang “bergerigi” dan lembek untuk dijadikan lawakan, terutama bila konstruksi lelucon tentangnya hanya berputar-putar menguliti sisi-sisi wadag, hanya permukaan, seperti yang hanya mampu dilakukan oleh Butet selama ini. Butet memang tidak salah, tetapi tim kreatif acara bersangkutan yang kurang tajam wawasannya tentang isi acara parodi politik !

Bandingkan misalnya dengan karya satir dari Van Gross, MD dalam situs BongoNews ketika mengolok kemenangan Al Gore di malam Oscar 2007 tersebut. Ia tuliskan bahwa kemenangan Al Gore itu ternyata kemudian harus dibatalkan oleh hakim. Karena Piala Oscar untuk kategori Film Dokumentasi Terbaik justru dianugerahkan kepada George Bush untuk film politiknya yang berjudul Mounting Mr. Cheney.

Bahkan ketika pesta Oscar itu berlangsung, pemerintahan Bush justru merayakan kemenangan setelah menjatuhkan bom nuklir di Iran, juga menculik presiden Mahmud Ahmadinejad, sehingga Bush dapat membintangi film dokumentasinya yang terbaru, berjudul : An Inconvenient Idiot.


Telepon Ellen Kepada Tuhan. Malam Oscar tersebut telah merambah kemana-mana, termasuk mengangkat isu tentang Bush yang kontroversial. Juga Al Gore. Demikian pula sebenarnya tentang diri Ellen DeGeneres sendiri.

Ellen saya kenal pertama kali 13 Februari 2002. Di stasiun kereta api Gondangdia, Jakarta Pusat. Dari buku The Comedy Bible (2001)-nya Judy Carter. Saat itu buku tersebut baru saya ambil dari toko buku QB World of Books, Jalan Sunda, setelah sebulan sebelumnya saya memesannya dari Amerika Serikat.

Dalam buku itu Ellen DeGeneres dijadikan contoh proses kreatif seorang komedian. Lelucon, demikian kata Judy Carter, harus dimulai dari gagasan dan semua orang punya gagasan jenaka. Sebagai contoh, “Ellen DeGeneres mampu mengubah tragedi menjadi komedi. Ketika (saat itu Ellen berumur 19 tahun) teman perempuannya meninggal dunia, ia sendirian dan terganggu oleh kutu, memunculkan gagasannya untuk menulis rutin atau naskah lelucon yang berjudul : Bertelepon Kepada Tuhan.”


”Hallo, Tuhan, ini Ellen....Begini, Tuhan, ada kepastian di dunia ini. Tetapi saya tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Bukan, bukan tentang Fabio. Bukan. Tetapi hal yang pasti, maksud saya, Jesus Kristus. Bukan, bukan ia yang saya maksudkan. Ia sosok yang agung. Kita masih sering membicarakannya. Tetapi tidak kali ini, saya lagi berpikir mengenai serangga. Bukan lebah. Mereka hebat. Madunya. Serangga cerdas.

Terima kasih, Tuhan. Saya berpikir tentang kutu.. yang menurut saya tidak ada manfaatnya....(menunggu). Tidak, saya tidak menyadari betapa banyak orang yang bekerja di bidang industri kutu di kerah baju...belum lagi tentang obat semprot. Baiklah, aku pikir kau yang benar. Tentu saja kau selalu benar.....”


Demikianlah, gara-gara kutu, diimbuhi perhatian, kejelian dalam melakukan observasi, dan kemudian menuliskannya, akhirnya mampu melambungkan seorang Ellen menjadi komedian ternama. ”You’ve probably been thinking up ideas for many, many years. Well, now it’s time to write them down.”, begitu nasehat Judy Carter. Manfaat mengobservasi dan catat-mencatat juga berlaku untuk bidang lain. Sebagai seorang epistoholik, saya telah menulis surat pembaca di bawah ini :


Bloknotmania !
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Jumat, 12 Agustus 2005


Apa yang terjadi bila satu bus penuh turis Jepang dibajak teroris ? Polisi akan memperoleh 50 foto diri teroris dari pelbagai sudut. Lelucon ini menunjukkan kegetolan turis Jepang yang kemana-mana memotret obyek wisata yang mereka kunjungi. Ternyata kebiasaan hebat turis Jepang bukan hanya itu.

Menurut Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, turis-turis Jepang itu juga membawa-bawa bloknot. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi. Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mereka mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki oleh setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.


BAMBANG HARYANTO
Warga Epistoholik Indonesia
Jl.Kajen Timur 72
Wonogiri 57612


Dekat Dengan Tuhan ? Ellen DeGeneres rupanyai dikaruniai untuk “akrab” secara kontroversial dengan Tuhan. Tahun kemarin, 2006, ia membintangi film daur ulangnya komedian panjang umur George Burns di tahun 1977, berjudul Oh, God. Ellen berperan sebagai Tuhan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Ketika dirinya (foto di atas) terpilih sebagai salah satu dari 100 tokoh Majalah TIME (artis dan penghibur lainnya : George Clooney, Dixie Chicks, Ang Lee, Will Smith, Meryl Streep, Reese Witherspoon sampai komedian Stephen Colbert), Bob Newhart, juga komedian, penulis buku I Shouldn't Even Be Doing This (2006) dalam artikelnya di majalah TIME (8/5/2006) menyebut Ellen DeGeneres sebagai “Komedian Perempuan Paling Berani dan Paling Jujur Dalam Dunia Hiburan.”

Pujian Bob Newhart itu merujuk penampilan Ellen dalam acara sitkomnya, juga berjudul Ellen (1994-1998) di televisi ABC, ketika di tahun 1997 ia secara terus terang mengatakan dirinya sebagai lesbian. “Pengakuan tersebut dapat beresiko menamatkan kariernya, sebagaimana Ellen sendiri juga menyadarinya, tetapi ia telah berlaku sejujurnya. Terima kasih Tuhan, untuk Ellen DeGeneres. Dan ini bukan hal yang sering terjadi ketika menemukan nama seorang lesbian dan Tuhan berada dalam satu kalimat dewasa ini,” kata Bob Newhart.

Di malam Oscar 2007, sambil merujuk keragaman audiens dan hadirnya 177 nominator, ia tak lupa meledek status orientasi seksnya tersebut. “Apabila tidak ada orang-orang berkulit hitam, Yahudi dan lesbian,” di tengah pikuk keramaian sambutan ia menegaskan, “maka akan tidak ada anugerah Oscar.”

Kejujuran seorang komedian, seperti telah ditunjukkan Ellen DeGeneres secara berani dan setulus hati itu, sungguh mengharukan dan mengesankan untuk bisa dijadikan sebagai cermin renungan. Oleh kita, bagi kita semua, baik mereka yang terlibat dalam dunia komedi Indonesia, atau pun dalam bidang-bidang kehidupan lainnya.

I love you, Ellen.


Wonogiri, 27/2-7/3/2007


ke

Sunday, January 28, 2007

Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Pengantar penulis : Bulan puasa senantiasa menjadi bulan saat televisi kita sarat dengan acara-acara lawakan. Merespons fenomena tersebut, tanggal 26 September 2006 saya mengirimkan artikel ke halaman Humaniora-Teroka di harian Kompas, yang diasuh oleh sastrawan Radhar Panca Dahana. Judulnya adalah “Dosa-Dosa Komedi Kita.” Ternyata artikel tersebut tidak muncul di bulan Ramadhan, melainkan baru saja dimuat pada tanggal 27 Januari 2007. Judulnya diubah oleh Mas Radhar Panca Dahana menjadi lebih menarik. Di bawah ini saya sajikan versi tulisan aslinya. Artikel saya sebelumnya yang berjudul “Benturan Peradaban : Promo Islam Lewat Lelucon,” muncul di Kompas, Jumat, 18 November 2005, Halaman : 14. Terima kasih untuk perhatian Anda. (BH)


Photobucket - Video and Image Hosting


Ucapan Gus Dur ibarat teka-teki. Ia saya pergoki di Toko Buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan, 25 Oktober 1986. Dua puluh tahun yang lalu. Saat itu, ketika melihat sosoknya memasuki toko, mendorong saya memberanikan diri untuk memperlihatkan buku yang baru saya beli, karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions (1980), kepadanya.

Melihat kesamaan sebagai penikmat humor, setelah saling bertukar koleksi lelucon, Gus Dur mengeluarkan pernyataan yang saat itu berupa misteri. “Hanya kita saja yang masih waras,” cetusnya.

Belasan tahun kemudian teka-teki Gus Dur itu bisa saya mengerti. Hal itu terjadi di akhir 2001 ketika saya kena PHK pada sebuah perusahaan Internet di Jakarta. Untuk pengobat gundah, saya memutuskan membeli buku-buku panduan menjadi komedian. Isi buku-buku itu malah tidak menghibur. Justru membuat saya makin dirundung hati yang hancur. Terutama oleh bukunya Judy Carter, The Comedy Bible (2001). Asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah saya anggap benar selama ini, bahkan karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan. Harus dihancurkan.

Pemahaman bahwa menjadi komedian itu sekadar tampil di panggung menceritakan lelucon tentang orang lain atau karya orang lain, ternyata menurut Judy Carter hal itu merupakan kekeliruan yang sangat fundamental. Karena menurutnya, setiap komedian wajib dituntut orisinalitasnya. Di panggung dirinya harus berani dan jujur dalam membeberkan otobiografi mereka masing-masing.

“We funny people are not normal”, tegasnya. Orang normal mengekspresikan selera humornya dengan menghafalkan lelucon, sementara jenakawan sejati mentransformasikan pengalaman hidupnya.menjadi lelucon. Ia menulis lelucon tentang hidupnya sendiri pula. Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, para jenakawan justru mempertontonkannya semua itu kepada dunia. “Comedy...be afraid, be very afraid !”, tandas lanjutnya.

Keterusterangan, kejujuran, memang menakutkan. Tetapi semakin dalam menyelami riwayat hidup para komedian, sedari George Burns, Richard Pryor, Rodney Dangerfield, Joan Rivers sampai Jon Stewart yang baru saja memandu acara Oscar 2006, semakin saya menaruh hormat atas kejujuran mereka sebagai manusia. Para jenakawan sejati senantiasa mampu menemukan humor dalam momen yang serius, juga tragedi hidupnya, dan bahkan pada momen yang paling pribadi sekali pun.

Sekadar contoh adalah Christopher Titus. Ia komedian solo dan membintangi cerita seri televisi yang mentransformasikan problem kehidupannya dalam keluarga yang tidak normal menjadi bahan leluconnya. “Saya melucukan ibu saya yang menembak mati pacarnya. Saya juga melucukan ibu saya yang melakukan bunuh diri. Semua itu mampu membuat penonton tertawa.”

Chris Titus melawak dengan bahan yang benar-benar orisinal, segenap sisi hidupnya sendiri. Yang paling gelap sekali pun. Memanglah, komedian sejati memiliki totalitas ketika menerjuni dunianya. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seseorang yang berupaya memperoleh kekayaan hingga dirinya berani bersekutu dan membuat “perjanjian dengan setan.” Karena komedian sejati harus ikhlas menggadaikan sebagian nyawa atau kehidupannya dalam perjanjian itu. Komedian harus berani merelakan semua kekurangannya sebagai manusia untuk dibedah, ditonjolkan dan dijajakan semuanya untuk menjadi bahan tertawaan.

Seorang Gus Dur, seperti diungkap Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tinggi menghumori dirinya sendiri. Alkisah, ketika berceramah di depan kerumunan massa, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras.

Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir. “Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya.

Keikhlasan Gus Dur mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi. Menu serupa juga jadi andalan komedian muslim di Amerika Serikat dan Inggris yang sedang berjuang menegakkan citra Islam sebagai agama yang cinta damai pasca serangan teroris 11 September 2001.

Sebagai contoh adalah Shazia Mirza, pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.

Tissa Hami adalah komedian perempuan lain, tetapi di Amerika Serikat. Ia bergelar Master Kajian Internasional dan bekerja di John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard.

Dengan melawak, “saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim tertindas dan terbungkam,” katanya.
Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini (AS), sering jadi lawakan. Katanya, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera!”


Bagaimana lanskap lawakan di Indonesia selama ini ? Kiranya kita dapat bercermin dari pengalaman pelawak Basuki Srimulat. Seperti tertuang di JawaPos (3/3/2006), ia baru pulang dari naik haji. Ia satu pesawat dengan KH Zainuddin MZ, Ustadz Iskandar dan satu lagi pria yang disebut Basuki sebagai Ketua Dewan Syuro.

Pria yang terakhir ini bertanya kepada Basuki : “Apa akan terus melawak meski sudah menyandang predikat haji ?” Basuki balik bertanya : “Lho, memangnya kenapa ?” Beliau menjawab : “Melawak itu kan identik dengan mencela orang lain ?” Mendengar hal itu Basuki tidak bisa langsung menjawab.

Miftah Faridl dari ITB dalam bukunya Pokok-Pokok Ajaran Islam (2004) telah menderetkan daftar dosa atau hal-hal yang tidak baik terkait afatul lisan, bahaya lidah. Bahaya lidah termasuk mencaci maki, membuka kesalahan orang lain, memanggil nama jelek terhadap orang lain, sampai menghina dan mencemooh. Kalau saja perbuatan negatif tersebut selama ini justru merupakan modus lawakan yang lajim sekaligus berpotensi mengandung dosa, lalu apa solusinya ?

Pernyataan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi (Suara Merdeka, 4/2/2006) mungkin dapat dipakai sebagai panduan. Ia mensinyalir rentetan bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tidak lepas dari perilaku spiritual manusia Indonesia. Menurutnya, kebanyakan bangsa Indonesia dewasa ini lebih sibuk mengurusi cacat orang lain sehingga kerap lupa pada cacat sendiri.

Padahal, dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda, berbahagialah orang yang repot mengurusi cacatnya sendiri hingga lupa dan tidak sempat menghitung cacat orang lain.

Rentetan bencana yang terjadi di Tanah Air pasti bukan akibat dosa komedian kita semata. Tetapi sinyal menuju sajian komedi yang lebih baik telah ditorehkan. Terlebih di bulan Ramadhan, di mana tayangan televisi kita identik pesta tayangan komedi, kiranya bulan suci ini bisa dijadikan sebagai momen bagi komunitas komedi kita untuk introspeksi. Agar mampu menemukan (kembali) jalan lurus dan bersih dari “dosa” dalam berkarya, dimana keteladanan pribadi Gus Dur sampai nasehat KH Hazim Musyadi diharapkan sebagai pencerahan. Bagi dunia komedi dan juga bagi bangsa kita di masa depan.

Ketika terlalu banyak pemimpin dan pejabat negeri ini semakin sulit ditemui memiliki kewarasan, dalam arti berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan dirinya sendiri, mungkin kita masih punya sandaran agar mampu bertahan. Yaitu sense of humor kita dan kejujuran para komedian !


Bambang Haryanto, pengelola blog Komedikus Erektus ! (http://komedian.blogspot.com/). Penulis Dua Buku Kumpulan Humor. Tinggal di Wonogiri

Wonogiri,29 Januari 2007

ke

Sunday, December 17, 2006

Buku-Buku Humor : Dari Politik, Perkawinan, dan Tempelengan di Kepala Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Si Terminator itu jadi bahan olok-olokan. Siapa lagi kalau bukan mantan atlet binaraga asal Austria, yang lalu terkenal sebagai bintang film sekuel Terminator, dan kini menjabat sebagai Gubernur California.

Arnold Schwarzenegger.

"Arnold Schwarzenegger berpidato semalam dalam Konvensi (Partai Republik). Rencananya ia berpidato pada malam yang sama berurutan dengan Presiden Bush, tetapi dibatalkan karena penerjemah bahasa dikuatirkan akan meledak kepalanya.”

Itulah lelucon komedian Jay Leno. Orang Amerika akan terbahak karena kedua tokoh ini memang dikenal luas memiliki kecakapan, baik aksen atau pun logika bahasa, yang ganjil di mata mereka. Lelucon lain yang populer tentang Arnold, tentu saja tentang pengakuannya di masa muda : ia senang groping, menggerayangi, ngowol, payudara kaum wanita. Jay Leno pun meledeknya lagi :

“Dalam pengumuman yang mengejutkan, Gubernur Schwarzenegger mendukung perubahan konstitusi sehingga orang seperti dia boleh mencalonkan diri sebagai presiden AS. Saya sungguh terkejut atas cita-citanya itu. Apakah Anda yakin ia bakal bisa menang ? Baiklah, ini sungguh menarik, karena ia memiliki pesona Ronald Reagan sebagai aktor dan kesamaan dengan George W. Bush dalam penguasaan bahasa Inggris. Dan, jangan lupa, ia pun memiliki perangai Clinton kecil, sehingga ia berpeluang menang.”

Apa yang disebut Jay Leno sebagai “perangai Clinton kecil” ?
Jawaban saya : semoga Anda tidak lupa akan nama satu ini : Monica Lewinsky.

Contoh-contoh lelucon politik di atas dihimpun oleh
Daniel Kurtzman. Nama ini aku kenal baru satu-dua tahun belakangan, lewat Internet. Sehingga dari buku-buku saya seputar topik lelucon, yang saya himpun sejak tahun 1980-an, tak ada nama dirinya. Juga dalam buku-buku tersebut belum ada lelucon-lelucon yang “menjurus” terkait perilaku binal pelbagai tokoh terkenal, semisal para politisi, termasuk presiden Amerika Serikat.


5600 Lelucon. Topik politisi dalam buku karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions : Over 550 Subjects To Help You Entertain, Insult, and Amuse Any Audience (Avenel,1980), hanya terdapat 12 lelucon saja. Buku ini saya beli seharga Rp. 16.350,00 tanggal 25 Oktober 1986. Saat itu saya ketemu dengan Gus Dur, di antara rak-rak buku Toko Buku Gramedia, Blok M, Jakarta Selatan. Kami pun bertukar lelucon.

Tanggal pertemuan dan lelucon Gus Dur telah saya torehkan di salah satu halaman depan buku ini. Sementara ucapan bijaknya yang terkait manfaat luhur humor bagi pengembangan kedewasaan setiap pribadi, bahwa “hanya kita (penggemar humor) yang masih waras,” selalu berpijar-pijar di sanubari saya pribadi. Terima kasih, Gus Dur.

Image hosted by Photobucket.com



Kembali ke isi buku bersampul merah ini. Lelucon No.5104 dan 5108 di bawah ini kiranya bakal sulit menjadi lucu bila diterjemahkan ke dalam bahasa kita :

My uncle’s a politician.
What is he running for ?They just looked up his record and he’s running for a train.

My father was a great Western politician in his day.
What did he run for ?
The border.

Sebagaimana kita tahu betapa “kotor”-nya citra kehidupan kaum politisi, maka topik tersebut juga dirujuk dengan ketidakjujuran, pemilihan umum dan uang. Lelucon No. 2500 tentang ketidakjujuran dan No. 5124 bertopik pemilu yang curang, cukup menggelitik :

Dia begitu jahatnya sehingga saya selalu menghitung jari-jemari saya sesudah berjabat tangan dengannya.

Pemilihan umum ini telah dicurangi.
Bagaimana Anda tahu ?
Ketika ke TPS saya melihat Jim dan Roy memasukkan kertas-kertas suara ilegal ke kotak suara.
Kapan kau melihat kejadian itu ?
Ketika saya mencoblos untuk ketiga kalinya.


2500 Anekdot. Berbeda dari buku pertama, buku suntingan Edmund Fuller, 2500 Anecdotes For All Occasions : An Invaluable Aid to Speakers, Toastmasters, Speechwriters, Teachers, Storytellers, Entertainers (Avenel,1980) berisi kisah-kisah dan opini lucu pelbagai tokoh terkenal.

Misalnya John Quincy Adams (1767-1848), presiden AS keenam, Napoleon Bonaparte, Oliver Cromwell (1599-1658), Emily Dickinson (1830-1886) yang penyair AS, Mark Twain (1835-1910), Noah Webster sampai Orson Welles.

Photobucket - Video and Image Hosting



Buku ini saya beli seharga Rp. 16.350,00 tanggal 30 Oktober 1986 di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Saat itu saya memperoleh honor setelah rancangan poster saya yang menceritakan makna angka-angka klasifikasi desimal Dewey (Dewey Decimal Classification), yaitu panduan sistematis untuk menyusun koleksi buku di perpustakaan, diterbitkan oleh KPI/Balai Pustaka, Jakarta.

Tidak mudah menikmati lelucon dalam buku ini. Karena pembaca ditodong untuk memiliki pemahaman konteks terkait latar belakang, baik masa mau pun sang tokoh itu sendiri. Contoh lelucon No. 1900 dan dalam topik pemerintah dan penguasa :

Ketika Oliver Cromwell menerbitkan mata uang, seorang prajurit tua mengamati mata uang logam itu yang pada satu sisi tertulis, “Tuhan Bersama Kita” dan di sisi lain “Persemakmuran Inggris.” “Saya faham kini,” celetuknya, “bahwa Tuhan dan Persemakmuran berada pada sisi yang berbeda.”

Menyeberang ke AS, ini lelucon tentang kampanyenya Theodore Roosevelt (1858–1919), dari Partai Demokrat, yang menjadi presiden AS ke 26. Lelucon No. 1911 ini menghentak :

Ketika dalam berkampanye, Theodore Roosevelt agak merasa terganggu oleh teriakan seseorang yang berulang-ulang berkata, “Saya Demokrat.” Ia menghentikan pidatonya dan bertanya kepada orang itu, mengapa dirinya memilih Partai Demokrat. Si orang tersebut menjawab, karena kakeknya, ayahnya dan dirinya adalah pendukung Demokrat. Theodore Roosevelt ingin mengetahui lebih lanjut. Katanya, “Teman, umpama saja kakek Anda itu seekor keledai, ayah Anda juga seekor keledai, maka Anda ini mau jadi apa ?”

Kerumunan itu segera kompak menyahut : “Republikan !”


Buku cendekia dan canda. Kedua buku di atas terbitan Amerika Serikat. Saya merasa beruntung memiliki buku The Book of Wit and Humour : A Public Speaker’s Treasury (Thorson,1984). Harganya Rp. 18.825,00 dan dibeli tanggal 16 November 1986 di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Saat itu saya memperoleh honor dari koran Suara Karya yang telah memuat artikel saya, “Kentut Kerbau Sebagai Terdakwa Perusak Lapisan Ozon Bumi.”

Image hosted by Photobucket.com



Buku ini terbitan Inggris, ditulis oleh Peter Cagney, penulis naskah komedi terkenal yang memiliki biro jasa naskah komedi Peter Cagney Script Service yang bercakupan internasional. Biro ini, yang di Indonesia kiranya belum ada, telah memasok materi-materi lucu untuk ratusan komedian.

Memuat 4008 lelucon cerdas, buku ini pembagian isinya lebih beragam. Misalnya dari lelucon sebaris kata yang bernas, lelucon yang memelesetkan antara lain definisi, istilah kolektor perangko, judul buku, pepatah, astrologi, syair, frasa dari bahasa asing, lalu lelucon seperti dua buku sebelumnya, dan bahkan juga ada artikel.

Lelucon sebaris kata itu misalnya : Never lend money to an optimist. He’ll expect to get it back. Jangan sekali-kali meminjamkan uang kepada orang optimis. Ia akan yakin mampu mengembalikannya (No. 146).

Marriage is mutual partnership. The mute is the husband. (No.715).
Irony is when a woman runs off with the milkman and leaves a note for her husband telling him about it, but signs it “Yours Faithfully.” (No.717).
How to tell if a man is married. Watch him when he is driving a car, with a woman beside him. If he drives with both hands on the wheel, he’s married. (No.733).
Bill saved at least four lives yesterday. He wouldn’t let his wife have the car. (No.1417).


Kamus lelucon. Buku saku berikut ini saya beli dua buah. Harganya Rp. 8.750,00 di Toko Buku Gramedia Matraman, 25 Oktober 1986. Buku yang pertama saya berikan sebagai hadiah ulang tahun Riaty Raffiudin, yang saat itu kuliah di Jurusan Ilmu Politik FISIP UI.

Buku karya Leonard Louis Levinson berjudul Webster’s Unafraid Dictionary (Collier, 1967) ini, seperti Anda cerna dari judulnya, rupanya ingin mengejek kamus Webster yang besarnya seukuran bantal dan sering membuat takut kita membuka-bukanya.

Pengarangnya telah menulis sepuluh buku bertopik masak-memasak, Wall Street, humor dan Cassanova, dan pengarang atau penyunting untuk 500 skrip siaran radio, 200 pertunjukan televisi, cerita pendek, naskah drama musik yang dua diantaranya dipentaskan di Broadway. Bukan main.

Image hosted by Photobucket.com

Seperti halnya kamus, urutannya disusun secara alfabetis, semisal dari huruf A, Altar : A place where a bachelor loses control of himself, sampai Z, Zionist : A New Yorker who pays someone else to live in Israel.

Tidak semua lema, entry, yang ada tersebut mampu secara otomatis menimbulkan ledak gelak bagi kita. Perbedaan budaya, boleh jadi sebagai salah satu penyebabnya. Walau pun demikian, berbeda dengan lelucon pun atau plesetan kata yang dangkal itu (contoh : Tequilla Mockingbird adalah plesetan untuk judul novel terkenal To Kill a Mockingbird dari Harper Lee yang tanggal kelahirannya 28 April sama dengan mendiang salah satu perempuan terindah, Widhiana “
Anez” Laneza. Anez ini meninggal tepat setahun lalu, 20 Desember 2005 di Denpasar) banyak lelucon definisi dalam kamus ini pesannya benar-benar mengunjam ke sanubari. Karena lelucon itu memang buah pikir tokoh-tokoh terkenal.

Simak definisi “Marriage” berikut ini :

Mutual misunderstanding. Oscar Wilde.
One long stupidity. Nietzsche.
A cage. The birds without try desperately to get ini, and those within try desperately to get out. Montaigne (1533-1592).
Like a violin. After the beautiful music is over, the strings are still attached. Irish Independent.
The original duet-yourself project. Kenneth J. Shively.
Not only another mouth to feed, but a great big one to listen to.
A system of producing motors for tricycles. Harold Orben.


Harta karun humor. Barbra Streisand, artis serba bisa yang bermain bersama Robert Redford dalam The Way We Were dan lagu indahnya dengan judul sama adalah lagu favorit saya, pernah keliru mengutip. Maunya ia mengutip kata mutiaranya Shakespeare saat mengritik pedas Presiden George W. Bush yang saat itu bersiap menyerang Irak dalam acara pengumpulan dana Partai Demokrat di Hollywood, 29/9/2002.

Dalam kata-kata William Shakespeare : hati-hati kepada pemimpin yang memukul genderang peperangan untuk mencambuk warganya bagi munculnya semangat patriotik, karena patriotisme itu sendiri pedang bermata dua. Dia mendorong darah sekaligus menyempitkan pikiran,” tegas Streisand.

Ternyata kutipan yang ia peroleh dari Internet tersebut bukankah kata-kata pujangga Inggris sohor itu. Seperti dikutip Kompas (3/10/2002), “tapi, itu kan tidak mengurangi fakta bahwa kata-kata itu sendiri sangat bertenaga, benar dan ditulis dengan indah,” kilah Streisand.

Saya setuju, Barbra. Saya juga menyukai kata-kata mutiara. Salah satu harta karun untuk kutipan, kata-kata indah, yang dalam dan sarat makna, saya temukan dalam buku yang disusun oleh Herbert V. Prochnow dan Herbert V. Prochnow, Jr berjudul A Chest Treasure of Quotations for All Occasions (Harper & Row, 1983). Buku ini juga merupakan sumber yang kaya dengan muatan humor dengan kualitas prima.

Image hosted by Photobucket.com

Buku setebal 472 halaman itu luas topiknya. Masa muda dan usia, bisnis, pendidikan, harapan, kehidupan, keluarga, keuangan, sukses, kebahagiaan, pekerjaan, sampai pemerintahan dan politik. Tokoh-tokoh bijak yang dikutip sejak dari Henry Adams, Ambrose Bierce, Abraham Lincoln, Margaret Thatcher, Thomas Wolfe, sampai Frank Lloyd Wright.

Sebagai seorang epistoholik, pencandu penulisan surat-surat pembaca di surat kabar, dan pendiri komunitas Epistoholik Indonesia (EI), saya telah menulis surat pembaca di Kompas Jawa Tengah (2/1/2006) di bawah ini :


Diktator Menanti


Pembayaran kompensasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang dijadwalkan 1 Januari 2006, diundur 23 Januari 2006. Alasan pemerintah, untuk memverifikasi lebih teliti data penerima yang bertambah 10 juta jiwa. Tujuannya, menghindarkan gesekan dan konflik sosial di tingkat bawah, seperti pengalaman masa lalu.

Kenaikan harga BBM, apa boleh buat, ternyata juga menurunkan harkat diri sebagian bangsa ini. Mode ramai-ramai mengaku sebagai warga miskin kian marak. Perubahan pola pikir yang terjadi pada masyarakat kita ini, pada spektrum yang lain sebenarnya juga merupakan ancaman serius bagi demokrasi kita yang belum kokoh.

Silakan camkan kata-kata mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Amerika Serikat, Henry Cabot Lodge, Jr, “Apabila terlalu banyak rakyat tergantung pada pemerintah untuk kehidupannya, demokrasi akan terbantai, kebebasan hilang, dan kehadiran diktator telah mengintai di pojokan !”


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri
Warga Epistoholik Indonesia

Ucapan Henry Cabot Lodge, Jr di atas saya kutip dari buku susunan Herbert V. Prochnow dan putranya ini. Ia yang bankir dan pernah menjabat posisi puncak di First National Bank of Chicago dan direktur Graduate School of Banking di Universitas Wisconsin, menunjukkan bobot penyusunnya sehingga semakin menjadikan buku ini merupakan sumber yang inspiratif untuk melontarkan lelucon dan kutipan cerdas.

Himpunan harta karun kutipan dan lelucon ini penting terutama bagi para pembicara, juga pelawak, yang tidak ingin membuat pendengarnya mengantuk, merasa muak atau bosan dan ketika pulang hanya dengan kepala hampa.


Meloncat ke masa depan. Ronald Wolfe dalam bukunya Writing Comedy : A Guide to Scriptwriting for TV, Radio, Film and Stage (1992) antara lain menyebut salah satu dari 8 formula dalam mengkonstruksi lelucon, humor crafting, adalah dengan melompat ke masa depan. Kalau dalam penulisan fiksi ilmiah disebut sebagai teknik ekstrapolasi. Khayal tetapi tetap masuk akal, sehingga hadirlah film seri seperti Star Trek yang intronya di tayangan televisi begitu legendaris seperti ucap produsernya, Gene Roddenberry (1921–1991), ”these are the voyages of the starship Enterprise. Its five-year mission…to boldly go where no man has gone before.”


Ucapan dari film seri sohor Star Trek ini pernah menjadi sarana olok-olok komedian Amerika Serikat, Jay Leno, ketika Menteri Luar Negerinya yang lajang, Condoleezza Rice, dikabarkan menjalin hubungan asmara dengan Menteri Luar Negeri Kanada :

"It's rumored in Washington that Condoleezza Rice has a new boyfriend. Allegedly, he's Canada's Foreign Minister, Peter MacKay. Since he's a diplomat and he visits her at the White House, he has to have a Secret Service code name. Do you know what his Secret Service code name is? 'Captain Kirk.' You know why they call him that? Because he's going where no man has gone before."

Untuk tujuan melompat ke masa depan tersebut Anda mungkin bisa mereguk isi buku-buku karya kaum futuris, seperti Alvin Toffler, Faith Popcorn sampai John Naisbitt. Pelawak Miing Bagito pernah berujar dengan gagah, “Makanya jangan kaget, kalau pelawak pun tak salah membaca Alvin Toffler, Machiavelli, atau malah John Naisbitt.” (Kompas 10/10/1999).

Memang tidak salah. Tetapi kalau mereka benar-benar telah membacanya, apakah mereka telah pula meramalkan posisi Bagito seperti sekarang ini ? Yaitu Bagito yang kini hanya mampu memiliki masa lalu belaka ?

Image hosted by Photobucket.com

Salah satu buku tentang masa depan yang ditulis sebagai satir adalah karya kartunis Scott Adams, berjudul The Dilbert Future (Mitra Media, 1998). Ia menulis tentang masa depan rekayasa genetika, teknologi (antara lain adanya “teknologi untuk menghindari pekerjaan”), masa depan Internet, kehidupan di planet lain, masa depan demokrasi, gender, pekerjaan, pemasaran, masalah sosial, sampai spesies yang terancam.

Memang tidak begitu mudah untuk memahami satir dalam buku ini. Antara lain Scott Adams menulis, ia mengeluh karena setiap hari kebanjiran email yang bertanya dari mana ia memperoleh ide untuk kartun-kartunnya. Ia tak tahu harus menjawab bagaimana. Walau ia tidak ingin berkata, “Maafkan saya, jika otak Anda tidak dapat mencari ide, matilah Anda.” Atau menjawab, “Setiap orang mendapatkan ide. Jika Anda mendapatkan ide yang jelek, pasti karena otak Anda cacat.” (h.48).

Mudah-mudahan salah satu yang pernah mengirim email dengan pertanyaan di atas kepada Scott Adams bukanlah pelawak atau komedian dari Indonesia.



(BERSAMBUNG : Masih ada beberapa buku lagi)

Thursday, November 16, 2006

George W. Bush, SBY, Komedi Amerika dan Komedi Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Setan Berbau Belerang. “Setan,” demikian Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menyebut George W. Bush dalam pidatonya di PBB, bulan September 2006 lalu. Sehari setelah presiden AS itu berpidato di PBB, Chavez menyatakan, “Setan telah datang kesini, kemarin. Dan bau belerangnya masih menguar sampai saat ini.”

Bahkan Hugo Chavez katakan, Bush berpidato kemarin itu seolah ia yang memiliki dunia dan para psikiater harus menganalisisnya. “Sebagai juru bicara imperialisme, ia datang berbagi obat ajaibnya untuk mempertahankan pola dominasi, eksploitasi dan aksi penjarahannya terhadap warga dunia. Dan film-film Alfred Hitchcock dapat menggunakannya sebagai skenario. Bahkan saya ajukan judulnya “Resep Setan.”

Chavez berpidato sambil mengacung-acungkan buku karya linguis dan aktivis politik AS terkenal Noam Chomsky yang berjudul Hegemony or Survival: America's Quest for Global Dominance, dan merekomendasikan peserta Sidang Umum PBB dan rakyat AS untuk membacanya. “Kerajaan Amerika berusaha sekuat tenaga untuk mengkonsolidasikan sistem dominasi kekuatan hegemoninya dan kita harus mencegahnya. Kita tidak ingin dikator dunia itu mengkonsolidasikan kekuatannya !”

Imbuh Chavez : “Rakyat AS harus membaca buku ini, ketimbang menonton film Superman.” Imbauan itu ampuh. Buku yang terbit tahun 2003 tersebut sontak meroket untuk masuk dalam daftar 10 buku laris dari daftar Amazon.com dan juga Barnes & Nobel.com.

George W. Bush tidak hanya menjadi bulan-bulanan Hugo Chavez. Aktivis dan sutradara film AS, Michael Moore, dalam film dokumenternya berjudul Fahrenheit 9/11 menuduh Bush membelokkan sentimen publik sesudah kejadian 9/11 untuk kepentingan politiknya dan berdusta mengenai alasannya menyerang Irak. Rakyat Amerika Serikat pun tidak mau terus-menerus dibodohi presidennya.


Presiden Bebek Lumpuh. Ketika saatnya tiba, rakyat AS akhirnya menjatuhkan hukuman yang setimpal. Dalam Pemilu Sela (midterm election) yang baru saja berlangung, palu godam telah mereka jatuhkan, dengan tumbangnya dominasi Partai Republik, partainya Bush, baik di Konggres atau pun Senat. Bush kini memperoleh predikat baru sebagai presiden bebek lumpuh.

Peristiwa tragis baginya itu memang sudah lama teramalkan. Komedian Seth Meyers sudah melucukan tragedi itu dengan berkata : “ Apabila jajak pendapat itu benar dan Partai Demokrat kembali menguasai Konggres dan Senat, maka pemerintahan presiden George Bush akan bertransformasi menjadi bebek lumpuh terlalu awal. Celakanya, Wapres Cheney akan menembaknya pula.”

Jay Leno meluncurkan lelucon cerdas pula untuk topik serupa : “Menurut surat kabar USA Today, kota-kota besar di negeri kita tidak mampu melakukan evakuasi secara memadai bila terjadi bencana. Kota Washington, D.C. pun mendapatkan nilai F sebagai kota yang berhasil melakukan evakuasi besar-besaran. Kecuali Anda Partai Republik di bulan November nanti. Itu mudah sekali ?”

Evakuasi atau peminggatan Partai Republik dari Washington, D.C. secara besar-besaran pun lalu terjadi. “Partai Demokrat difavoritkan meraih kemenangan. Sehingga faktanya, satu-satunya wakil Partai Republik di Washington yang utuh kursinya hanyalah milik Lincoln,” cetus komedian David Letterman.

Komediene Amy Poehler menimpali : “Minggu ini, hari Selasa ini, pergeseran sejarah yang ironis telah terjadi, ketika Irak menjadi penyebab pergantian rejim di Amerika Serikat.”
Jay Leno makin menggigit dalam meledeki partainya George Bush : “Sungguh suatu ironi ketika Partai Republik selalu berusaha mendekati kaum minoritas. Kini mereka pun menjadi minoritas .”

Toh ada sedikit hiburan bagi pendukung Partai Republik. Mantan aktor film fiksi ilmiah Terminator 1 sampai Terminator 3, Arnold Schwarzenegger, terpilih untuk kedua kalinya sebagai Gubernur California. Komedian Jay Leno lalu menjadikannya sebagai lelucon : “Di California ini, para pemilih secara telak memutuskan bahwa mereka tidak mengijinkan Arnold Schwarzenegger untuk bermain film lagi.” Ketika mengumumkan kemenangannya, Arnold pun ikut bercanda : “I love do sequels.”


Presiden Bercitra Dungu ? George Walker Bush yang lahir 6 Juli 1946 adalah presiden AS ke 43 dan masih menjabat sampai saat ini. Dilantik 20 Januari 2001 dan terpilih kembali di tahun 2004. Ia adalah putra mantan presiden George H.W. Bush dan kakak Jeb Bush, gubernur Florida.

George W. Bush adalah presiden AS pertama yang juga pelari marathon. Sebelum terpilih sebagai gubernur Texas, ia ikut Houston Marathon 1993 dengan catatan waktu 3 : 44 : 52. Ia memelihara hobinya berlari itu sejak berumur 26 tahun. Sebelum masuk kantor ia berlari 15-30 mil setiap minggunya.

Ia adalah orang kedua dari putra mantan presiden yang menjadi presiden. Yang pertama adalah John Quincy Adams, putra presiden John Adams, menjadi presiden pada tahun 1825. Juga presiden AS kedua yang lahir sesudah Perang Dunia II. Presiden pertama adalah Bill Clinton yang ia gantikan. Bill Clinton dan George W. Bush sama-sama lahir tahun 1946. George W. Bush adalah gubernur Texas pertama yang terpilih sebagai presiden.

Ia mengikuti ayahnya dengan berkuliah di Universitas Yale, lulus menggondol gelar Bachelor of Arts bidang Sejarah, 1968. Ia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi rata-rata, an average student. Setelah meraih gelar MBA dari Universitas Harvard (Bush satu-satunya presiden AS yang memiliki gelar Master of Business Administration), Bush bekerja pada perusahaan minyak di Texas.

Tahun 1977, ia dikenalkan rekannya dengan guru dan pustakawan sekolah, Laura Welch. Setelah berpacaran selama tiga bulan, Bush menikahi Laura, dan tinggal di Midland, Texas. Keluarga ini dikaruniai putri kembar, Jenna and Barbara, yang lahir tahun 1981.

Pasangan ini juga menjadi amunisi bagi komedian AS untuk mencandainya. Ketika berkunjung ke Markas PBB di New York, komedian Conan O’Brien menyikutnya : “Presiden Bush ketika berkunjung ke perpustakaan umum telah memberikan pidato mengenai melek huruf dan demikian pula Ibu Negara. Yang pasti, Ibu Negara mendukung pentingnya melek huruf dan presiden menentangnya.”

“Hari yang sibuk bagi Presiden Bush di New York. Ia berbicara di Mimbar Sidang Umum PBB dan kemudian mengunjungi Perpustakaan Umum. Ini merupakan kunjung ke PBB yang keenam kali, tetapi kunjungannya yang pertama kali ke perpustakaan,” ledek Jay Leno.

“Rencana telah diumumkan untuk menghimpun dana sebesar 300 juta dollar untuk membangun Perpustakaan Kepresidenan George W. Bush. Tiga ratus juta dollar. Pasti sekitar 150 juta dollar per bukunya,” canda sinis Jay Leno lagi. Jadi, perpustakaan untuk Bush itu pantasnya hanya berisi dua buku ya ?

Komedian berwajah sayu, Conan O’Brien, lain lagi sodokannya : “Ibu Negara Laura Bush terbang dari Washington ke New York tidak dengan pesawat kepresidenan Air Force One, tetapi dengan Delta Shuttle. Ibu Negara berkata bahwa penerbangan sipil lebih murah, menghemat bahan bakar, dan dia tidak tersiksa karena harus terpatok duduk di sebelah pria bodoh.”

Ketika tanggal 1 April menjelang tiba, yang di AS dikenal sebagai Fool’s Day dan bagi kita terkenal sebagai April Mop, sekali lagi Jay Leno menggelitiki audiens televisi Amerika Serikat dengan Presiden Bush sebagai sasaran tembaknya : “Besok adalah Hari April Bodoh atau sebagaimana banyak orang menyebutnya sebagai : Hari Presiden.”

Komedian David Letterman melucukan citra bodoh Bush itu dengan sudut pandang lain. Ia katakan, “Berita bagus dari Gedung Putih. Minggu lalu Presiden Bush telah menjalani cek kesehatan tahunan dan ia lulus. Ia lulus cek kesehatan tahunannya.. Belum ada kabar mengenai cek kesehatan mentalnya.”

Dalam suatu adegan upacara menyanyikan lagu kebangsaan, Ibu Negara nampak meletakkan tangannya di posisi jantung, tetapi Presiden Bush meletakkan tangan di perutnya. Komedian Bill Maher langsung menembaknya, terkait invasi ngawur AS ke Irak :

“Peraturan Baru : Seseorang harus menjelaskan kepada Presiden Bush di mana letak jantungnya...Sebagian besar orang tidak pernah salah dalam meraba organ tubuhnya, tetapi sekali lagi, sebagian besar orang juga tidak menyerang negara lain secara keliru pula.”

Dari waktu ke waktu, kapasitas intelektual Presiden Bush memang menjadi bahan gojlokan media dan juga politisi lain, yang menjurus ke arah spekulasi seberapa tinggi tingkat kecerdasan (IQ), yang memang tidak ada catatan resminya. Tukang olok dirinya cenderung mengutip pelbagai kesalahan bahasa yang ia lakukan ketika berbicara di depan umum, bahkan bencana salah ucap yang menjadi kebiasaan ini kemudian terkenal dengan sebutan sebagai Bushisms.

Salah satu salah ucap Bush yang terkenal adalah ketika ia menyebut nucular padahal nuclear yang seharusnya ia katakan. Kesalahan semacam ini memang bukan hanya dia saja yang melakukannya, tetapi kekonyolan semacam menjadi amunisi gurih untuk diledakkan para komedian, antara lain dalam acara komedi skets semacam Saturday Night Live yang sohor itu.

Contoh mutakhir ledekan tentang tradisi salah ucap Bush itu adalah canda David Letterman : “Presiden Bush menyatakan ia sekarang tidak peduli terhadap program nuklir Iran, sepanjang Iran tidak mengembangkan program nuke-ular.”


Budaya satir Amerika Semua presiden Amerika Serikat memang mudah menjadi sasaran tembak para komedian. Sebagai cerminan budaya negara demokrasi, canda politik dan budaya satir yang dilakoni para komedian sampai politisi, sudah menjadi makanan sehari-hari rakyat Amerika Serikat. Tidak ada komedian yang kemudian ditangkap, atau dijebloskan ke dalam penjara, misalnya dengan tuduhan penghinaan atau pun melakukan pencemaran nama baik.

Presiden George W. Bush akan berkunjung ke Indonesia, 20 November 2006. Banyak demo menentang kunjungannya itu, tetapi juga ada demo yang justru menyambut kedatangan Bush dengan alasan, “kita sebagai bangsa Timur harus ramah terhadap tamu negara.”

Pengamat ekonomi dan calon Gubernur DKI Jakarta, Faisal Basri, menyebut kunjungan Bush itu hanya sebagai “numpang pipis” di Indonesia. Kunjungan yang tidak ada manfaatnya bagi perkembangan bisnis atau pun investasi AS di Indonesia.

Bagi komedian Indonesia, bisakah momen ini dijadikan sebagai bahan mentah olokan atau bahkan parodi politik ? Bukankah selama ini ada acara komedi politik di MetroTV yang konon digarap kaum intelektual tetapi hanya bisa memelesetkan singkatan nama presiden kita dengan singkatan pula, lalu hanya bisa mengimitasi gesture-nya semata, sekaligus masih cupet dalam menjelajahi sisi-sisi komedis pada segi perangai pribadi dan kebijakannya ?

Contoh-contoh olokan cerdas Conan O’Brien dkk yang berkelas dan dikoleksi Daniel Kurtzman terhadap Presiden Bush di atas, ah siapa tahu, mampu menjadi ilham bagi komunitas komedi kita dalam menguak cakrawala-cakrawala lawakan baru, yang cerdas dan juga berkelas ?


Wonogiri, 15-16 November 2006


ke

Monday, October 02, 2006

Dosa-Dosa Dunia Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Religion & Democracy : Face-to-Face adalah topik diskusi di dunia maya yang menarik di situs http://www.islamonline.net/, 7 Maret 2005. Nara sumber yang tampil adalah Caspar Melville, Direktur Eksternal situs www.openDemocracy.net.


Salah satu peserta diskusi adalah “doaa,” yang mengaku sebagai mahasiswa teknik asal Mesir. Ia meminta penjelasan bagaimana kaum muslim dapat menjelaskan kepada dunia bahwa Islam memiliki budaya demokrasi.


Caspar Melville yang mengaku sebagai sekuler dan tidak tahu banyak tentang Islam, memahami rasa frustrasi yang dialami dunia Islam pasca 11 September 2001, yang mendapatkan tekanan untuk menjelaskan bahwa Islam bukan identik sebagai agama kekerasan. Ia berterus terang bahwa untuk membahas topik menarik tersebut dirinya belajar dari artikel yang ditulis Fareena Alam, editor Q News, majalah muslim terpandang dari Inggris.


Fareena Alam, kelahiran London 1978, keturunan Bangladesh dan besar di Singapura itu, telah dikutip oleh Caspar Melville bahwa dalam Islam dikenal budaya demokrasi yang ia sebutkan sebagai tradisi “moderasi, tidak berlebih-lebihan dan keinginan untuk mencari jalan tengah.”

Caspar Melville juga merujuk perbincangannya dengan jurnalis dan tokoh muslim Inggris lainnya, Fuad Nahdi, pendiri Q News yang kelahiran Mombasa, Kenya, yang telah malang melintang di dunia pers seperti International Islamic News Agency, Associate Press, Los Angeles Times, Guardian dan BBC.


Dari keduanya Caspar Melville memperoleh pemahaman betapa sangat kayanya dan beragamnya sejarah pemikiran Islam yang menampung segala macam gagasan, termasuk sekularisme, nihilisme, hedonisme, juga sejarah sistem pemerintahan Islam yang mampu secara tegas memisahkan antara negara dan agama.


Secara khusus, Caspar Melville menyatakan bahwa dirinya selalu menemukan kejutan ketika berbincang dengan tokoh-tokoh yang relijius, yang menurutnya selalu lebih jenaka, lebih terbuka pikirannya, dan jauh dari pola pikir kaku yang semula ia duga. Pendek kata, usulnya kepada penanya, berdiskusilah dengan tokoh-tokoh tersebut.


Humor Cerdas Gus Dur. Usulan Caspar Melville yang simpatik. Bagi saya, tokoh yang muncul di benak saya terkait perbincangan seputar topik Islam dan demokrasi, tidak lain adalah Gus Dur.


Cakrawala itu menyeruak antara lain setelah mengikuti perbincangan menarik Abdul Moqsith Ghazali dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Dr. Rumadi di JawaPos (29/9/2006 : 10), ketika membicarakan buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), karya Gus Dur yang terbaru. Gus Dur oleh Dr. Rumadi disebutnya memiliki keteguhan dalam membela demokrasi.


Penjelasan Caspar Melville lainnya bahwa sosok-sosok relijius itu disebutnya selalu lebih jenaka, bagi saya, kembali lagi betapa Gus Dur merupakan sosok yang pas untuk kriteria tersebut. Siapa orang di Indonesia yang mampu menandingi kelucuan dan kebernasan lelucon Gus Dur ?


Seorang Gus Dur, seperti diceritakan oleh Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tingkat tinggi dalam menghumori dirinya sendiri.


Alkisah, ketika berceramah di depan kerumunan massa, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir. “Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya.


Keikhlasan Gus Dur untuk mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi. Menu tersebut adalah hukum universal bagi kaum komedian. Termasuk juga menjadi andalan komedian muslim di Amerika Serikat dan Inggris yang dewasa ini sedang berjuang menegakkan citra Islam sebagai agama yang cinta damai pasca serangan teroris 11 September 2001.


Sebagai contoh adalah Shazia Mirza, pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin sukses membuat bom,” cetusnya.


Tissa Hami adalah komedian perempuan lain, tetapi di Amerika Serikat. Ia bergelar Master Kajian Internasional dan bekerja di John F. Kennedy School of Government., Universitas Harvard. Dengan melawak, “saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim tertindas dan terbungkam,” katanya.


Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini (AS), sering jadi lawakan. Katanya, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera!”


Pelawak Indonesia Berlumuran Dosa ? Bagaimana lanskap lawakan di Indonesia selama ini ? Kiranya kita dapat bercermin dari pengalaman pelawak Basuki Srimulat. Seperti tertuang di JawaPos (3/3/2006), ia baru pulang dari naik haji. Ia satu pesawat dengan KH Zainuddin MZ, Ustadz Iskandar dan satu lagi pria yang disebut Basuki sebagai Ketua Dewan Syuro.


Pria yang terakhir ini bertanya kepada Basuki : “Apa akan terus melawak meski sudah menyandang predikat haji ?” Basuki balik bertanya : “Lho, memangnya kenapa ?” Beliau menjawab : “Melawak itu kan identik dengan mencela orang lain ?”


Mendengar hal itu Basuki tidak bisa langsung menjawab.


Miftah Faridl dari ITB dalam bukunya Pokok-Pokok Ajaran Islam (2004) telah menderetkan daftar dosa atau hal-hal yang tidak baik terkait afatul lisan, bahaya lidah. Bahaya lidah termasuk mencaci maki, membuka kesalahan orang lain, memanggil nama jelek terhadap orang lain, sampai menghina dan mencemooh.


Pasanglah mikroskop untuk setiap acara lawak di televisi-televisi kita. Kalau saja perbuatan-perbuatan negatif di atas selama ini justru merupakan modus lawakan yang lajim bagi kebanyakan pelawak Indonesia, yang sekaligus berpotensi melumuri dirinya dengan dosa-dosa, lalu bagaimana solusinya ?


Pernyataan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi (Suara Merdeka, 4/2/2006) mungkin dapat dipakai sebagai panduan. Ia mensinyalir rentetan bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tidak lepas dari perilaku spiritual manusia Indonesia.


Menurutnya, kebanyakan bangsa Indonesia dewasa ini lebih sibuk mengurusi cacat orang lain sehingga kerap lupa pada cacat sendiri. Padahal, dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda, berbahagialah orang yang repot mengurusi cacatnya sendiri hingga lupa dan tidak sempat menghitung cacat orang lain.


Memang terlalu gegabah bila komunitas pelawak Indonesia dituding sebagai satu-satunya fihak yang memicu terjadinya rentetan bencana yang melanda Tanah Air akhir-akhir ini. Tetapi, paling tidak, sinyal dan panduan arah menuju sajian komedi yang lebih baik telah ditorehkan.
Mungkin di tengah-tengah suasana Ramadhan seperti saat ini pesan-pesan untuk introspeksi, juga keberanian untuk merehabilitasi wawasan diri, pantas menjadi bahan renungan bagi setiap insan komunitas dunia kepelawakan kita.


Apalagi, kita tahu dan hampir menjadi tradisi, bulan Ramadhan di televisi-televisi kita identik dengan pesta tayangan komedi. Di antara gelimang tebaran uang, kemeriahan tawa dan gelak artifisial, kiranya di bulan suci ini juga tepat dijadikan sebagai momen bagi komunitas komedi kita untuk berhenti berlari, lalu merenung, memperbarui diri. Agar mampu menemukan (kembali) jalan lurus, jalan jenaka yang luhur, sekaligus jalan yang semakin bersih dari “dosa-dosa” dalam berkarya.


Keteladanan pribadi Gus Dur yang cerdas, jujur sekaligus jenaka, sampai nasehat KH Hazim Musyadi, diharapkan mampu sebagai pencerahan. Baik bagi dunia komedi Indonesia khususnya, dan juga bagi bangsa Indonesia dalam melangkah ke masa depan. Komedi, mungkin tidak seperti disangka oleh banyak orang, senyatanya merupakan dunia luhur yang mengedepankan kejujuran.


Sehingga ketika terlalu banyak pemimpin dan pejabat negeri susah ini semakin sulit ditemui memiliki kewarasan, dalam arti berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan dirinya sendiri, mungkin kita masih punya sandaran agar mampu untuk terus bertahan.


Yaitu sense of humor kita.
Juga kejujuran para komedian.


Wonogiri, 1-2 Oktober 2006


ke


Tuesday, September 05, 2006

Conan O’Brien, SBY dan Blunder Besar Republik Mimpi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



September Tidak Ceria. Anda kenal Conan O’Brien ? Kalau Anda sempat menonton siaran tunda MetroTV (3/9/2006) yang menyiarkan Malam Penghargaan Emmy ke 58, Anda akan bertemu dengannya. Saya baru pertama kali melihat sosoknya yang punya tinggi badan 193 cm dan penampilannya dalam menembakkan lelucon-lelucon cerdas khas Amerika.

Pria berwajah agak sayu ini lulusan magna cum laude dari Jurusan Sejarah dan Sastra Universitas Harvard di tahun 1985. Pria cerdas, tentu saja. Boleh jadi Conan O’Brien merupakan tipikal komedian seperti yang pernah dideskripsikan oleh Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998). Bisakah judul itu mengingatkan Anda tentang Robert M. Pirsig ?

Jay Sankey bilang, “In my experience, most comics are extremely sensitive, relative unsecure, very insightful, highly intelligent people. Strong individuals rather than group members, with burning desire to share what they think and feel.”

Merujuk pengalaman saya, sebagian besar komedian adalah pribadi-pribadi yang peka, relatif gelisah, berwawasan dalam, orang-orang yang sangat cerdas. Lebih condong sebagai sosok berciri individualis dibanding sebagai anggota suatu kelompok, dirinya memiliki gairah berkobaran untuk berbagi segala hal yang ia pikirkan dan ia rasakan.

Catat penilaian Jay Sankey di atas terhadap apa yang dilakukan Conan O’Brien ketika gedung kembar World Trade Center di New York roboh oleh serangan teroris yang dahsyat, 11 September 2001. Baru seminggu kemudian acara Late Night with Conan O'Brien muncul kembali. Merujuk peristiwa tragis itu telah membuat pria yang lahir 18 April 1963 ini memberikan pengakuan :

“Saya akan berkata jujur kepada Anda : Saya tidak tahu bagaimana harus mengerjakan ini semua. Malam ini saya tidak memiliki gagasan untuk melakukannya. Untuk esok, juga tak ada gagasan. Dan bahkan untuk sepanjang sisa minggu ini saya juga memiliki gagasan bagaimana bisa kembali mengerjakan hal yang sama pula. Itulah semua hal yang kami rasakan.”

Bulan September 2001 di Amerika Serikat memang bukan bulan September ceria. Bahkan seorang Daniel Kurztman menyebutkan terjadinya “pergeseran seismik dalam lanskap budaya kita dan matinya humor.” Amerika memang menghentikan aliran budaya ciri khasnya dalam membuat satir. Amerika dipaksa berhenti untuk tertawa.


Bush Kini Cerdas! Momen duka itu memang tidak terus berlangsung selamanya. Ketika George W. Bush memicu perang untuk menggulingkan Taliban di Afghanistan, sesudah bangsa Amerika melampiaskan duka dan melakukan refleksi, humoris Amerika bangkit kembali. Peluru-peluru satir dan lelucon mereka berledakan kembali.

Humor ternyata sangat diperlukan dalam proses penyembuhan luka nurani bangsa. Bahkan Rudy Giuliani, Walikota New York, pada malam amal di bulan Oktober 2001 berseru : “Saya di sini mengijinkan Anda semua untuk bisa tertawa. Kalau tidak, Anda akan kami tangkap !”

Daniel Kutzman menyimpulkan : “Jauh dari termarginalisasi sebagai hal yang asal-asalan, sembrono dan tidak relevan, komedi terus membantu kita dalam menyembuhkan luka bangsa dan dalam pelbagai hal merupakan barometer bagaimana mood bangsa ini berubah.” Menurutnya, berdasar fakta warga Amerika kini dapat melucukan kebijakan seperti peringatan tentang ancaman serangan teroris, pengetatan keamanan dalam negeri yang berlebihan, tingkah beragam blunder Presiden Bush sampai kemunafikan politik luar negeri AS, semuanya merupakan garis bawah atas semua hal yang terjadi.

Memang belum ada sinyal kembalinya olok-olokan politik seperti yang biasa, tetapi pendekatan untuk selalu mengritisi diri sendiri dengan kacamata humor merupakan satu isyarat bahwa bangsa Amerika telah menjadi normal kembali. Komedian Jay Leno pun segera menimpali : “Kita tidak dapat menampilkan lelucon-lelucon tentang Presiden Bush lagi. Sebab ia cerdas kini !”


SBY : Bener, Pinter, Blunder. Berbeda dengan citra Presiden Bush yang telmi, bloon dan menjadi bulan-bulanan empuk para komedian, kita mungkin bisa disebut beruntung karena memiliki presiden SBY yang dicitrakan sebagai pribadi pinter, pandai dan bener, jujur. Orangnya pun santun. Sosoknya tinggi besar, gagah dan tampan.

Merujuk kualitas pribadinya seperti tersebut di atas, sebenarnya agak buntunglah komunitas komedi Indonesia. Karena dalam kacamata komedi, sosok SBY seperti itu justru merupakan sumber lawakan yang relatif miskin dan kering. Pribadinya yang kurang “bergerigi,” terutama karena karena tidak kontroversial, membuat dirinya relatif lebih sulit untuk dijadikan sebagai sasaran tembak lawakan yang biasa-biasa saja.

Menurut saya, itulah salah satu blunder besar yang terjadi dalam tayangan komedi Republik Mimpi di stasiun televisi swasta MetroTV. Karena tayangan komedi yang berniat melucukan SBY dan Jusuf Kalla, juga pemerintahannya, nampak hanya mengandalkan menu lawakan yang tidak, atau belum, mengolah esensi komedi atau parodi dengan sentuhan kecerdasan yang dibutuhkan.

Sungguh mengherankan, karena berdasarkan latar belakang penggagas dan tim kreatif Republik Mimpi, kita sebenarnya boleh berharap banyak. Karena rasanya baru kali ini orang-orang kampus terjun ikut membidani acara komedi di televisi.

Kita lihat, di sana ada seorang Effendi Gazali, Ph.D, pakar komunikasi yang seolah boleh menulis “apa saja” untuk harian Kompas. Dosen Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi UI ini pernah menjadi juara lawak yang paling “sesumbar,” se-Sumatera Barat. Dalam tayangan ia menjabat sebagai Penasehat Komunikasi Politik Republik Mimpi.

Kemudian, Suko Widodo, MA. Direktur Pusat Kajian Komunikasi Unair serta mantan Fellow VIP (Visitor International Program) dengan Fokus Demokratisasi Media di AS. Dalam acara ini Suko tampil sebagai Penasehat Spiritual Republik Mimpi dan menjadi salah satu think tank untuk tayangan ini.

Orang pintar lainnya yang berada di balik layar sebagai penanggung jawab adalah kolega Effendi Gazali yang sesama pengajar di UI, yaitu Dedy N. Hidayat, Ph.D. dan Pinckey Triputra, Ph.D. Ditambah eksekutif Media Group, Andi F. Noya.

Anggota tim kreatif dan sekaligus sebagai pelakon adalah Butet Kertaradjasa yang memerankan sebagai “SBY” (Si Butet Yogya), Presiden Republik Mimpi. Kemudian Kelik Pelipur Lara sebagai “Ucup Kelik,” Wakil Presiden Republik Mimpi dan kini ditambah pemanis, artis cantik Olga Lydia sebagai Sekretaris Kantor Wakil Presiden.

Apakah ada yang salah dalam tayangan Republik Mimpi ini ?


Character is 98% of Comedy ! Karakter adalah 98 persen komedi. Ini merupakan Hukum Komedi Evans Ketiga. Komedi bukan ibarat tusuk sate, atau untaian tasbih, yang berupa jajaran atau untaian lelucon demi lelucon. Bahkan dalam Hukum Komedi Evans Pertama justru mengatakan, buanglah lelucon-lelucon yang paling lucu sekali pun !

Nampak paradoks. Karena setiap orang tahu skrip komedi melibatkan lelucon, tetapi juga melibatkan karakter, pengembangan, dialog dan cerita. Lelucon yang sensasional tetapi dalam skrip yang salah, berpotensi menghancurkan segalanya, merusak irama dan aliran cerita. Menurutnya, yang dibutuhkan bukan ledakan bom demi bom lelucon, tetapi lelucon yang empan papan, lelucon yang tepat pada tempat yang tepat pula.

Lelucon yang hebat dan alamiah bila muncul dari karakter. Merujuk hal ini maka dalam tayangan komedi sering ditampilkan tokoh-tokoh berseragam kerja yang khas. Mungkin polisi, tentara, dokter, sampai hansip. Melihat seragam mereka, pada benak penonton sudah mengeram pemahaman atau referensi mengenai karakter tipikal tokoh-tokoh tersebut.

Begitu tokoh bersangkutan dihadapkan pada situasi atau setting tertentu, reaksi khas mereka masing-masing berpotensi diolah menjadi komedi yang alamiah. Dirinya tidak perlu melucu. Apalagi bila dirinya ditabrakkan dengan jalan pikiran tokoh lainnya mengenai topik yang sama, potensi kelucuan akan semakin mencuat.

Dalam tayangan Republik Mimpi, karakter masing-masing pelaku belum memperoleh garapan atau pendalaman secara maksimal. Kita para penonton belum memperoleh gambaran tipikal karakter masing-masing tokohnya.

Sekadar contoh, Butet dalam melakukan mimicking sosok Presiden SBY nampak masih terbatas pada ucapan atau pun gesture belaka. Pendekatannya masih secara wadag, fisik belaka. Sampai-sampai untuk mengejar efek tawa dirinya sampai pernah mengeluarkan lelucon berkonotasi seks, menyangkut “burung” dalam isu masalah flu burung. Tetapi karena penonton tidak mempunyai referensi kaitan antara burung dalam pidato SBY, lelucon itu tidak menghasilkan sensasi tawa yang diharapkan.

Butet dan tim kreatif Republik Mimpi nampak belum mampu mengeksplorasi karakter SBY yang, misalnya oleh Sukardi Rinakit (Kompas, 31/8/2006 :6) disebut sebagai pinter, bener (jujur), tetapi tidak banter, alias tidak cepat dan tidak berani menyerempet-nyerempet bahaya. Sementara Tamrin Amal Tomagola (Kompas, 4 September 2006 :7) menjuluki SBY sebagai “pribadi santun” yang “terpuruk dalam kebimbangan.”

Kalau saya menjadi tim kreatif Republik Mimpi saya akan “menembak” SBY sebagai berikut : “Sebagian orang berpendapat, Presiden SBY gantengnya mirip bintang film. Anda setuju ? Saya senang menyamakan dia dengan Lee Majors dalam film seri Six-Million-Dollar Man. Bedanya, di film itu Lee Majors digambarkan secara slow motion untuk larinya yang cepat, sementara SBY harus digambarkan beradegan slow motion untuk aksinya yang selalu saja slow motion !”

Humor memang agresif. Freud pernah menggariskan bahwa humor bersumber dari naluri manusia untuk melakukan agresi, tindak kekerasan. Merujuk hukum itulah, Butet lumayan tampil lucu ketika melakukan mimicking terhadap Soeharto. Kita tertawa karena kuatnya unsur vendetta, ingin melakukan membalas dendam lewat tertawa kepada penguasa Orde Baru yang represif itu. Tetapi ketika Butet melakukan mimicking yang sama terhadap SBY, hasilnya jelas hanya hambar-hambar adanya.

Tokoh Jusuf Kalla sebenarnya lebih menjanjikan untuk menjadi sasaran tembak lawakan. Pribadinya lebih warna-warni dan pendapatnya sering kontroversial. Ide Jusuf Kalla yang menyarankan terjadinya kawin kontrak antara pria Timur Tengah dengan perempuan daerah Puncak, hingga anak keturunannya kelak layak sebagai pemain sinetron, adalah harta karun bahan lelucon yang potensial untuk digali. Sayang, dalam Republik Mimpi, sosok Ucup Kelik lebih senang asyik bermain sebagai dirinya sendiri, dengan modal lelucon-lelucon akronim dan plesetannya belaka.


Freeport vs Freesex. Dalam artikelnya di Kompas (12/8/2006 : 6) Effendi Gazali menulis bahwa yang paling inti dari parodi politik adalah bagian updating . Tanpa itu kadarnya berkurang drastis, atau bukan lagi genre itu. Menurutnya, John Stewart (tepatnya Jon Stewart, pembawa acara The Daily Show with Jon Stewart) menggunakan data dan potongan berita asli untuk dianalisis. Tanpa konteks dengan peristiwa politik yang riil dalam berita, sebuah parodi bisa jatuh pada slapstick, seperti parodi politik pertama di Nippon TV.”

Mungkin saya keliru apabila menyamakan apa yang ia sebut sebagai updating itu dalam konstruksi lawakan adalah yang lajim disebut sebagai premis. Ini bagian lawakan yang tidak lucu, tetapi sangat penting. Karena ini merupakan bagian yang mampu membuat penonton terkait dengan materi lawakan.

Gus Dur ketika muncul di Republik Mimpi (28/8/2006) mengajukan premis, “Apa persamaan antara Ginandjar Kartasasmita dengan Sutrisno Bachir ?” Kita sebagai penonton merasa terkait, karena kedua orang itu sungguh terkenal. Kita pun terbahak ketika Gus Dur meluncurkan jawabannya sendiri, yang lucu, yang lajim disebut sebagai punchline :

“Ginandjar Kartasasmista sibuk dengan Freeport. Sutrisno Bachir sibuk dengan free sex.”

Dalam Republik Mimpi, Effendi Gazali sebagai Penasehat Komunikasi Politik, punya peran sebagai pengumpan. Tukang melontarkan premis demi premis. Sementara punchline diharapkan mampu diledakkan oleh Presiden atau Wakil Presiden.

Ketika ia melemparkan premis bahwa artis Bella Saphira ingin segera menikah, saya telah mengirimkan SMS kepadanya, : “Kehadiran GusDur di RM, bagus sekali. Ia melucukan figur2 dimana kita bs terkait (Perret’s Comedy Law No.2), smentara ‘Bella Saphira’ tak ada apa2nya.”

Buang saja isu-isu gincu semacam “Bella Saphira” itu. Tetapi pilihlah topik-topik updating yang terkait dengan hajat hidup orang banyak. Ketika dalam tayangan 4/9/2006 Effendi Gazali menampilkan kliping acara Global Inter-Media Dialogue di Bali, ini jelas sebuah bias. Juga blunder. Peristiwa semacam ini hanya dianggap besar kalangan esoterik, akademisi dan praktisi komunikasi, tetapi bukan isu yang menarik dan mampu menjangkau hajat hidup orang banyak.

Hemat saya, sebenarnya bencana lumpur panas di Sidoarjo, juga flu burung, masih merupakan isu panas yang tetap lezat untuk bahan lawakan politik. Dengan bercermin dan merujuk contoh kelambanan pemerintah AS dan FEMA ketika mengatasi bencana Badai Katrina, kedua bencana di negara kita itu merupakan topik hangat yang dapat diaduk-aduk sisi-sisi lelucon dan tragikanya.

Merujuk Lapindo Brantas adalah anak perusahaan kelompok Bakrie dan Freedom Institute merupakan organisasi himpunan kaum intelektual dimana keberadaannya juga didukung oleh kelompok bisnis Bakrie, kita dapat mengajukan pertanyaan kritis :

“Apa yang bisa diperbuat oleh Freedom Institute untuk mengatasi bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo ? Memasang iklan satu halaman penuh berisi kajian bahwa kenaikan lumpur panas itu baik bagi rakyat. “


Republik Mimpi Kuatkah Bertahan ? Conan O’Brien mengampu acara Late Night with Conan O'Brien sejak tahun 1993. O'Brien dijadwalkan akan menggantikan Jay Leno sebagai pembawa acara The Tonight Show pada tahun 2009. Dirinya berpredikat sebagai komedian, produser acara televisi dan penulis naskah televisi.

Apa predikat seorang Jon Stewart, yang acaranya The Daily Show With Jon Stewart berusaha dicontek idenya oleh Republik Mimpi ? Ia seorang penulis, produser dan sekaligus pembawa acara. Dalam penganugerahan Emmy 2006 untuk kategori Outstanding Variety, Music or Comedy Series, acaranya meraih penghargaan tersebut. Ia berhasil mengalahkan nominator lainnya seperti The Colbert Report, Late Night With Conan O’Brien, Late Show With David Letterman, dan Real Time With Bill Maher.

Terkait keteladanan sosok Conan O’Brien dan Jon Stewart di atas, maka tayangan komedi di televisi-televisi Indonesia seperti kritik pedas almarhum Prof. Dr. Sudjoko dari ITB (baca “Komedi Banal Indonesia” di bawah ini), haruslah mengandalkan para gag writer, penulis naskah lawakan. Bukan jamannya lagi hanya melulu menyerahkan kepada para pelawak atau artis-artis yang tidak memiliki tradisi dalam kiprah penulisan kreatif. Tanpa revolusi semacam, tayangan Republik Mimpi dijamin bakal tidak mampu lama bertahan.

Sebagai penutup kita mungkin kita dapat belajar bagaimana canggihnya seorang Conan O’Brien mengejek seorang presiden negara adidaya, yang juga pernah kuliah di Universitas Harvard, walau sering digambarkan karakternya sebagai pribadi yang dungu :

“Hari Selasa depan stasiun televisi NBC menjadwalkan edisi acara prime time Meet The Press dengan mengundang kandidat presiden Al Gore dan George W. Bush untuk acara debat pertama mereka. Acara Meet The Press yang normal biasanya diudarakan hari Minggu pagi, tetapi itu merupakan jadwal tetap bagi George W.Bush menonton film kartun.”



Wonogiri, 6-7 September 2006



ke

Komedi Banal Indonesia

Budayawan senior Prof. Dr. Sudjoko ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Jl. Golf Barat XX No. 7 Arcamanik Kota Bandung, Jumat (25/8) pukul 17.30 WIB. Diperkirakan budayawan yang terkenal dengan wawasan dan minatnya yang luas ini, meninggal sejak tiga hari sebelumnya.

Sebagai pemerhati dunia komedi, saya teringat kritik beliau tentang karut-marut dunia komedi Indonesia yang menyedihkan. Pendapatnya ia tulis dalam mengantar buku karya Arwah Setiawan, Humor Jaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1977).

Menurut beliau, dunia komedi Indonesia itu keblinger. Karena kita selalu mencari pelawak dulu, atau artis-artis dulu yang mengaku gampang melucu, sebab toh sama saja dengan celoteh sehari-hari. Modus acara reality show model API (TPI) dan dulu Meteor Kampus (AnTV) merujuk pada sikap keblinger tersebut. Toh dari ajang tersebut ternyata dewasa ini tidak mampu melahirkan bakat-bakat baru pelawak yang patut dibanggakan.

Menurut Prof. Sudjoko, yang paling utama untuk digenjot kreativitasnya adalah para penulis lakon. Sebuah tantangan berat. Karena selama ini penulis, seperti halnya sosok almarhum Arwah Setiawan, tidak pernah masuk pikiran dan bayangan bangsa kita tentang pembanyol.

Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah pelakon, orang panggung, orang tontonan. Mereka itu bukan penulis, bukan sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua (mereka itu) tidak mampu menulis.

Merujuk tingginya ketidakmampuan menulis dan tingginya budaya mohbaca (istilah unik dari beliau yang juga seorang munsyi, ahli bahasa) sebagai akibatnya canda bangsa Indonesia sehari-hari cuman sentilan, olokan dan ejekan lepas-lepas. Dan supaya tawanya sering, banyak olokan cuma dibuat-buat saja, tanpa ditopang oleh akal pikir atau renungan.

Tayangan komedi model tayangan Extravaganza di TransTV, misalnya, jelas merupakan tayangan yang mencerminkan kebanalan atau kedangkalan bangsa ini seperti yang disinyalir oleh almarhum sejak lama itu. Sampai kapan ada perbaikan dan kemajuan ?

Selamat jalan, Pak Djoko. Semoga Anda kini damai dan sejahtera di sisiNya.


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Warga Epistoholik Indonesia


Catatan : Tulisan ini dengan penyuntingan telah dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Kompas Jawa Tengah, Selasa, 5 September 2006.



ke