Saturday, October 24, 2009

Tiga, Angka Sial dan Trilogi Bagi Sang Jenderal

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Nyawa tercabut. Dalam Perang Dunia I, angka tiga terkenal sebagai angka sial.

Tahyul itu beredar luas di kalangan tentara yang berlindung di parit-parit pertahanan saat didesak rasa ngebet untuk merokok guna mengusir pelukan kantuk atau rasa bosan di waktu malam.

Mereka percaya bahwa tentara yang menyalakan pemantik api yang sama pada urutan ketiga, maut berpeluang besar mencabut nyawanya.

Rumusnya, juga rumus tiga. Ready. Aim. Fire ! Penjelasannya : para penembak jitu pada kubu musuh mungkin dapat melihat nyala yang pertama. Lalu ia membidik saat melihat nyala yang kedua. Kemudian melepaskan tembakan untuk nyala pemantik api yang ketiga.

Presiden SBY, purnawirawan jenderal, mungkin tersenyum membaca cerita ini. Mungkin ia tergerak untuk membayangkan apa yang terjadi pada foto dirinya, foto dramatis yang ia tunjukkan dengan wajah geram ke seluruh warga Indonesia. Moga momen itu masih Anda ingat. Saat Indonesia diguncang teror bom oleh komplotan Noordin M Top di hotel J.W. Marriott dan Ritz-Carlton, momen itu oleh kalangan luas dinilai telah dimanfaatkan SBY untuk “menembak” sana-sini.

Utamanya, patut diduga, untuk menghantam kompetitornya dalam Pilpres 2009 yang saat itu gencar memasalahkan keabsahan Pemilu. Oleh SBY, teror bom kedua hotel itu seolah ia kait-kaitkan dengan upaya konspiratif para pesaing dalam menghalangi langkahnya memerintah Indonesia untuk kedua kalinya.

Bumbunya pun teatrikal, saat ia menjelaskan bahwa dirinya pun menjadi latihan sasaran tembak kaum teroris. Dengan “bukti” yang dramatis. Wajahnya berlubang di pipi, ditembus peluru, yang ia tunjukkan dalam foto kepada para wartawan. Apakah pada hitungan yang ketiga juga saat peluru kaum teroris itu melubangi foto dirinya ?

Kita tidak tahu. Yang pasti, kalau Anda rada jeli menyimak konstruksi pidato-pidato SBY selama ini, angka tiga nampaknya bukan ia anggap sebagai angka sial. Sebaliknya merupakan angka favorit. Angka keberuntungan !

Sejak mendapat mandat dari rakyat, melalui pemilu paling demokratis dalam sejarah Indonesia di tahun 2004, SBY merumuskan new deal dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang tertuang dalam prinsip triple track strategy : pro-growth, pro-job, dan pro-poor.

Loncatlah kemudian ke tahun 2009. Dalam pidato setelah disumpah menjadi Presiden Republik Indonesia 2009-2014, SBY meluncurkan visi tugas konstitusional kabinetnya untuk lima tahun mendatang dalam tiga pilar : Kemakmuran. Demokrasi. Keadilan. Sebagaimana dirinya yang getol menggunakan bahasa Inggris, rumus tiganya itu menjadi : Prosperity. Democracy. Justice.

Bahkan menurut Kompas (24/10/2009), selanjutnya SBY membuat semboyan dengan juga berunsurkan hitungan tiga. Pertama, change and continuity, perubahan dan keberlanjutan. Kedua, de-bottlenecking, acceleration and enhancement, penguraian hambatan, percepatan dan peningkatan. Dan ketiga, unity, together we can, bersatu, bersama kita bisa.

Trimurti sampai komedi. Dalam era pemerintahan Soeharto yang Orde Baru, angka favorit yang sering muncul adalah lima. Hal ini kiranya terkait dengan Pancasila. Tetapi mengapa SBY memilih tiga ? Mungkin saja ia terilhami oleh trimurti, tiga dewa Hindu : Brahma, dewa pencipta, Wisnu, dewa pemelihara, dan Shiwa, dewa perusak.

Sebagai perwira militer yang pernah digembleng di negeri Paman Sam, mungkin saja SBY juga teringat mantra sakti tentang tiga pilar demokrasi dari presiden AS ke-16, Abraham Lincoln (1809–1865).Hal tiga itu ia sampaikan dalam pidato terkenalnya, Gettysburg Address, 19 November 1863, di Pennsylvania.

Pidato Lincoln di tengah kecamuk Perang Sipil itu diakhiri dengan : “bangsa ini, di bawah naungan Tuhan, akan mendapat kelahiran baru kebebasan dan pemerintahan rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tidak akan menghilang dari muka bumi.”

Tetapi angka tiga bukan melulu sebagai cerminan angka mujur. Seratus tiga puluh dua tahun plus sehari dari saat Lincoln berpidato itu, 20 November 1995, dalam acara Panorama di BBC-1 TV almarhumah Putri Diana (1961-1997) menumpahkan keluh kesahnya. Terkait ulah perselingkuhan suaminya, Pangeran Charles dengan kekasih lamanya, Camilla Parker Bowles. “Terdapat tiga sosok dalam perkawinan ini, sehingga membuatnya menjadi begitu sesak,” ujar Diana.

Angka tiga dalam dunia literasi seringkali digunakan untuk memprovokasi keberadaan hal-hal ganjil. Sebagai kontras dari angka dua yang merupakan cerminan keadaan yang alami, seperti belahan dunia, anggota badan misalnya kaki, tangan sampai mata kita.

Sekadar contoh, dalam film War of The Worlds (2005), makhluk angkasa luar dan mesinnya dihadirkan sebagai sosok serba tiga : bermata tiga, berkaki tiga, sampai berjari tiga. Juru sihir dalam sandiwara Macbeth-nya Shakespeare, berjumlah tiga.

[Keajaiban tiga, yang bahkan berupa ancaman bagi rusaknya demokrasi di Indonesia akibat si tiga itu, akan diceritakan lanjutannya kemudian].


ke

Monday, September 28, 2009

Bir Obama, Polisi Korup dan Ketegasan SBY Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Polisi yang brutal. Polisi kulit putih dan profesor Harvard berkulit hitam hampir saja memicu berkobarnya sentimen rasial di Amerika Serikat.

Peristiwa itu bermula ketika Henry Louis Gates, profesor dari Universitas Harvard dibekuk oleh seorang polisi berkulit putih, Sersan James Crowley, ketika sang guru besar itu mau masuk ke rumahnya sendiri.

Aneh tapi nyata. Mengingatkan kasus yang menjadi contoh dalam bukunya Malcolm Gladwell, Blink : The Power of Thinking without Thinking (2005) : pemuda 20 tahunan, Amadou Diallo, keturunan Guinea tewas setelah digerebeg oleh empat polisi kulit putih di New York, 3 Februari 1999.

Apa kesalahan Diallo ? Tak ada. Ia hanya mencari angin segar malam itu di luar rumahnya. Malam yang membawa sial baginya, gara-gara keempat polisi yang sebenarnya tidak tergolong rasis, melakukan serial terkaan, critical misjudgment yang fatal, sehingga ia tewas.

Peristiwa ini memicu demo warga kulit hitam, termasuk akhirnya berhasil mengganti nama jalan lokasi kejadian itu. Semula adalah Wheeler Avenue dan digantikan menjadi Amadou Diallo Place. Peristiwa itu mengilhami penyanyi rock AS, Bruce Springsteen menciptakan lagu berjudul “41 Shots” yang dalam refrennya tergurat lirik : “You can get killed just for living in your American skin.

Bir perdamaian. Kembali ke masalah Gates versus Crowley. Kasusnya semakin memanas ketika Presiden Obama ikut berkomentar atas kejadian itu. Ia mengecam tindakan polisi yang gegabah. Langsung saja, komedian AS pun lalu ramai mengomentari peristiwa yang substansinya masih peka dalam sanubari rakyat Amerika.

Misalnya Bill Maher. “Maling macam apa yang hendak membobol rumah sambil membawa bagasi ? Itulah hal yang saya ingin tahu,” katanya. “Dan petugas polisi itu, Sersan Crowley bilang, bahwa Henry Louis Gate mengancam. Dan mengancam itu, yang ia maksud adalah : seorang berkulit hitam yang berpendidikan.”

obama's   beer summit,henry louis gates,james crowley,christian science monitor

Isu rasial lalu agak mereda ketika Presiden Obama mengambil prakarsa lanjutan, dengan mempertemukan keduanya, untuk mengobrol sambil minum bir di Gedung Putih (foto). Para komedian ribut lagi.

Komedian Conan O'Brien berkata bahwa dalam pertemuan perdamaian itu Obama menyuguhkan bir buatan Budweiser. Ledeknya kemudian : “Untuk mendorong semangat harmoni ras, pabrik bir Budweiser telah merubah julukannya. Dari semula King of Beers menjadi Martin Luther King of Beers.”

Lelucon tentang bir itu lalu menyikut sana-sini. Kali ini menyodok ingatan rakyat AS terkait peristiwa ketika George W. Bush yang pernah tersedak saat makan kue pretzel, seperti diungkap lagi oleh Conan O’Brien :

“Sungguh mengesankan, Presiden Obama menyuguhi Profesor Gates dan Sersan Crowley minuman bir dan pretzel. Pretzel. Ya, inilah saat kali pertama pretzel disuguhkan di Gedung Putih sejak kue itu menyerang Presiden Bush. Anda masih ingat, bukan ?.”

David Letterman menimpali : “Presiden Obama bukan satu-satunya presiden yang menikmati bir sesekali waktu. Bill Clinton juga. Menurut cerita, Bill Clinton masuk bar dan memesan segelas bir dingin. Lalu apa jawab sang pelayan ? ‘Oh, pulanglah, dan temui Hillary saja.’”

Andy Borowitz di kolomnya edisi 28/7/2009, ikut bergunjing bahwa hari minum-minum bir itu sebaiknya didaulat sebagai hari libur baru : Hari Minum Bir Bersama Seseorang Yang Anda Tangkap.

Untuk menjelaskan momen itu, Obama seperti direka-reka secara jenaka oleh Andy Borowitz, konon telah berkata kepada para wartawan : “Ketika kemarahan sedikit memuncak, maka akan selalu ada penolong agar seseorang mampu berpikir lebih rasional : bir.”

Presiden Obama berharap bahwa proklamasinya itu akan menggiring terselenggaranya pesta di seantero negeri yang melibatkan polisi dan orang-orang tidak bersalah yang baru saja mereka tangkap.

Lain di AS, lain di Indonesia. Pesta bir perdamaian di Gedung Putih itu mungkin sama sekali tidak pernah terdengar oleh telinga Presiden SBY. Bila saja ia mendengar, siapa tahu, Presiden SBY akan meneladani sikap Obama itu. Apalagi SBY yang temperamen budaya Jawanya masih kental dalam menjaga harmoni, sehingga mengesankan sebagai peragu, diharapkan mampu berlaku bijak dengan mengundang para petinggi Polisi dan KPK untuk bertemu dan minum-minum bersama.

Untuk mendamaikan konflik cicak melawan buaya.

Tetapi yang terpenting adalah menunjukkan ketegasan SBY di momen krusial ini. Dan bukan seolah tutup mata dan tutup telinga terhadap berubah-ubahnya sangkaan yang terkesan artifisial, seperti yang diajukan oleh polisi terhadap kedua pimpinan KPK yang mereka seret ke ranah hukum itu selama ini.

Ketegasan SBY kini disorot oleh nurani hukum bangsa ini. Saatnya ia menentukan secara jernih fihak mana yang menjadi biang kerok pengganjal angin perubahan aksi pemberantasan korupsi di negeri sarang para koruptor ini. Lalu dengan kuasanya, melakukan kebijakan untuk menghukum mereka yang sebenarnya bertindak korup. Tanpa pandang bulu !


Wonogiri, 28/9/2009

ke

Friday, August 28, 2009

Twitter Jenaka dan Konyol Ala Hoekstra

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humor liner (at) yahoo.com


pete hoekstra,twitter konyol

Politik dan Twitter. John McCain (73) nampak simpatik ketika tertawa. Dalam acara State of Union di CNN (2/8/2009) ia diwawancarai oleh John King tentang situasi mutakhir dunia perpolitikan di Amerika Serikat. Termasuk berkomentar mengenai mundurnya mitra bertarung dalam merebut kursi presiden AS, Sarah Palin dari jabatannya sebagai gubernur Negara bagian alaska.

Di bagian terakhir ia ditanya tentang akun Twitternya yang memiliki 1,1 juta pengikut. McCain, mantan capres Partai Republik dalam Pilpres 2008 itu berkata bahwa Twitter merupakan sarana yang hebat untuk berkomunikasi.

Saking hebatnya Twitter, di AS kini muncul istilah sindrom TMT : Too Much Twitter. Terlalu banyak ber-Twitter-ria. Sindrom ini bulan Juni lalu makan korban, yaitu Pete Hoekstra, senator Partai Republik dari Michigan.

Gara-garanya, ia menyombongkan diri ketika menulis pesan Twitter (foto). Ia katakan bahwa gerakan aktivis proreformasi di Iran yang gencar mengirimkan pesan-pesan Twitter ke seluruh dunia terkait Pilpres yang bermasalah ia klaim sama dengan apa yang dilakukan anggota Konggres dari Partai Republik yang berhasil menunda sidang tentang energi sampai Agustus ini.

Kontan saja, pesan idiotik Pete Hoekstra ini segera menjadi bulan-bulanan pengguna Twitter di Amerika Serikat. Istilah “To Hoekstra” kini memiliki definisi tersendiri, sebagai “rengekan yang menggunakan bahasa perbandingan dan keagungan yang berlebih-lebihan.”

Rumus komedi. Definisi terkait dengan pernyataan secara berlebihan itu klik dengan dunia komedi. Karena identik dengan salah satu kiat mengkreasi lawakan. Materi lawakan memang harus dibuat berlebihan bila ingin memicu ledakan tawa.

Salah satu contohnya adalah di bawah ini : jari yang tersentuh piring panas saja dibayangkan sama dengan penderitaan pahlawan Perancis, Joan of Arc, St (1412–1431) yang meninggal dibakar oleh tentara Inggris saat itu.

twitter joke

Beragam contoh lainnya dari pesan Twitter jenaka yang memakai rumus model Pete Hoekstra tersebut dapat Anda jelajahi dengan mengklik disini.

Anda segera tahu pula bahwa pesan-pesan jenaka itu juga memakai rumus universal dalam mengkreasi lawakan. Karena terdiri dari set up, jebakan, dan disusul dengan punchline, tonjokan, untuk mengundang tawa.

Tergiur dengan krida kreasi lawakan Twitter model Pete Hoekstra itu, yang dibatasi oleh 140 karakter saja itu, di bawah ini saya telah menulis beberapa untuk Anda.

Di Facebook kuunduh teks doa malam pertama Ramadhan tetapi aku malas membacanya. Aku copy-paste 99 kali saja agar aku tetap mendapat pahala

Satu bingkai kacamataku akan aku blok kertas hitam selama Ramadhan. Inilah caraku untuk mengurangi separo dosa saat menunaikan ibadah puasa

Memergoki anak-anak tak berpuasa aku mengkotbahinya tentang dosa dan neraka. Aku seperti Taliban atau pembom bunuh diri militan di Jakarta

Malam menjelang 17 Agustus kulkasku kosong dan aku kelaparan, membuatku merasa mirip derita para pejuang 45 saat merebut kemerdekaan

Ramai-ramai jalan santai keliling kampung saat 17 Agustusan membuatku merasa seperti pejuang yang bersatu saat berperang melawan Sekutu

Malam-malam kelaparan pulang dari begadang 17 Agustusan aku buka-buka kulkas dan ada donat plus pizza yang membuatku berteriak : Merdeka !

Cat rambut pirangku membuatku dimarahi guru.Saat mencucinya aku merasa seperti tentara KNIL Belanda yang terpaksa membelot ke kubu Indonesia

Dalam gelap aku sukses menampar nyamuk yang mendenging di kuping. Aku merasa seperti pejuang 45 yang berhasil menembak jatuh pesawat Belanda

Karena diare berat aku pakai WC umum kelamaan.Orang pd antri gedor-gedor pintu.Aku seperti Noordin M Top (?) dikepung polisi di Temanggung

Ide Pilpres Satu Putaran Denny JA terkenal dimana-mana. Tetanggaku ingin memakai jasanya saat ikut dalam pemilihan Ketua RT di kampungnya

Saat sakit gigi dokter memberiku obat penahan rasa nyeri. Aku tak mau meminumnya, takut seperti Michael Jackson menemui ajalnya

Teman-teman mengajakku latihan karate dan tinju. Aku tak mau karena takut bila kelak menjadi suami tabiatku seperti Pasha Ungu

Lebaran masih jauh, anak-anak tetangga sudah ramai membunyikan petasan. Aku seperti Ibrohim dikepung pasukan Densus 88 di Temanggung

Kamar dua kakakku lagi kosong dan aku bisa berpindah-pindah untuk menidurinya. Aksiku seperti Noordin M Top menghindari kejaran polisi

Aku mau kirim email protes ke ayahku karena uang jajanku dikurangi. Tetapi tak jadi karena aku takut diadili seperti Prita Mulyasari

Saat seorang diri di lift aku kentut tak bersuara.Baunya maut sekali.Aku seperti teroris dengan bom bunuh diri dalam perang kimia & biologi

Saat latihan renang aku gelagepan dan ditolong. Aku merasa bersama Leonardo di Caprio syuting film tentang kapal Titanic yang tenggelam

Di jalan aku menemukan sebungkus rokok dan membuangnya. Aku merasa seperti menolong banyak orang dari ancaman sakit kanker yang berbahaya

Saya memencet jerawat di pipi kiri. Saya jadi bisa merasakan saat foto SBY dijadikan latihan menembak teroris

Saat menyeterika, tanganku tersentuh besi panasnya. Aku jadi tahu rasanya menjadi korban bom teroris laknat di Kuningan itu

Temanku curang saat main kartu. Aku jadi tahu mengapa Mega-Prabowo dan JK-Wiranto ngotot menggugat keabsahan Pilpres yang lalu

Kerikil memasuki sepatuku yang bolong solnya. Aku jadi tahu perasaan SBY hari-hari ini terkait sengketa hasil Pemilu

Aku ketahuan curang beli permen di toko. Aku merasa seperti mahasiswa ITB yang tertangkap jadi joki seleksi mahasiswa baru tahun ini

Masa aktif HPku hampir habis saat tak punya uang untuk beli pulsa. Aku bisa merasakan bila negara kita berhutang pada IMF dan Bank Dunia

Apabila Anda ingin berteman dalam Twitter dan mengikuti lelucon model Hoekstra, silakan klik saja disini. Terima kasih.

Wonogiri, 29/8/2009

ke

Wednesday, July 22, 2009

Naisbitt dan It’s a Comedy, Stupid !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Miing, masihkah dia mengingat nama John Naisbitt ? Pelawak dari kelompok Bagito yang sudah bubar itu di tahun 1999, sepuluh tahun lalu, pernah sesumbar yang seolah menunjukkan bahwa bacaannya termasuk buku-buku karya futuris John Naisbitt kelahiran Utah, Amerika Serikat itu.

“Makanya jangan kaget, kalau pelawak pun tak salah membaca Alvin Toffler, Machiavelli, atau malah John Naisbitt”, kata si empunya nama asli Tubagus Dedi Suwandi Gumelar atau yang bernama komersial Miing Bagito.

Pernyataan dan omongan “kelas atas” ini termuat dalam wawancara yang dilakukan oleh wartawan Kompas Retno Bintarti, Agus Hermawan dan Rudy Badil, dan dimuat dalam Harian Kompas, 10 Oktober 1999.

Miing, ketika dirinya kini menjadi politisi, masihkah dia mengingat nama John Naisbitt tersebut ? Sekaligus isi buku-bukunya, terutama yang terbaru, Mind Set ! (2007), akankah menjadi panduan isi otaknya sebagai seorang politisi ? Pertanyaan ini menurut saya relevan diajukan.

Karena dulu, seingat saya sebagai penonton yang jelek untuk tayangan komedi di televisi, Miing dan kawan-kawan sepertinya tak pernah melawak yang materinya ada bau-bau isi buku, baik karya Toffler, Machiavelli atau John Naisbitt tadi.

Bahkan saya juga tidak pernah ingat apakah ia pernah mempraktekkan asas wajib self-deprecating yang lajim dilakoni para komedian terkenal dan intelektual. Misalnya dengan mengolok-olok kekurangan dirinya sendiri, termasuk melucukan pendidikannya di STM atau MBA (?)-nya. Saya memang penonton yang jelek untuk sajian komedi di televisi kita. Hingga saat ini.

Yang saya ingat, Miing suka bicara yang tinggi-tinggi. Mungkin karena hal itu ia sukses kini menjadi politisi. Melalui jalur PKS gagal, lalu berpindah partai, sehingga kini sukses melalui jalur PDIP untuk berkiprah di Senayan. Selamat bertugas menjadi politisi.

Semoga saja ia kelak mampu mengikuti jejak dan kiprah jenaka sekaligus cerdas dari Al Franken, komedian AS yang kini menjabat sebagai senator Partai Demokrat dari Minnesota.

Al Franken menjadi sorotan media baru-baru ini ketika melakukan hearing terkait proses pengangkatan hakim agung Sonia Sotomayor. Larry Neumeister, wartawan hukum kantor berita Associated Press dan sebagai trained comedian itu, menyebutkan bahwa aksi Al Franken dalam menginterogasi Sotomayor telah menerapkan comedic techniques (for) serious business dengan hasil bahwa : Al Franken memperoleh tawa besar di ujung sesinya.

Ia secara jitu memakai jurus yang oleh kalangan komedian disebut sebagai callback, keputusan untuk mengulang kembali subjek yang sebelumnya telah mengundang tawa dengan harapan memperoleh sambutan bahak yang lebih meledak lagi. Al Franken sukses dengan jurus callback itu.



[Maaf, tulisan ini belum selesai. Harap maklum].

ke

Wednesday, July 08, 2009

Pilpres 2009, Tirai Akhir Karier Politik Mega !

And now, the end is near
And so I face the final curtain

Frank Sinatra, “My Way.”


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Dilema kita semua. “Ketika saya memasuki bilik suara,” demikian kata kartunis Amerika Serikat, Mike Peters, sebagaimana dikutip koran Wall Street Journal 20/1/1993, “apakah saya harus memilih seseorang yang terbaik untuk menjabat sebagai presiden ?

Ataukah memilih seember belangkrah yang membuat hidup saya sebagai kartunis menjadi lebih makmur dan indah ?”

Dilema di atas, tabrakan kepentingan antara pilihan untuk bangsa atau untuk motif keuntungan pribadi, apakah juga menghantui isi kepala warga komunitas komedi di Indonesia saat berlangsung Pilpres 2009 ini ? Saya tidak tahu. Tetapi dari hasil perhitungan cepat yang menunjukkan kemenangan SBY-Boediono, seharusnya warga komunitas komedi Indonesia berduka.

Karena kemenangannya itu membuat panggung politik Indonesia serasa kehilangan sosok yang lebih warna-warni, yang selama ini nampak potensial dijadikan sebagai sasaran tembak kaum komedian. Dunia komedi masa depan Indonesia akan merasa kehilangan Megawati, Prabowo, Jusuf Kalla dan juga Wiranto. Apa pasal ?

Megawati, misalnya. Di situs Huffingtonpost.com (7/7/2009) ia menjadi sasaran pendapat “yudzz88” yang berbunyi : ”A vote for Megawati is a vote for Sarah Palin and Pauline Hanson.”

Anda tahu Sarah Palin ?
Juga si rambut merah, Pauline Hanson, tokoh ultranasionalis dari Australia ?


Bulan-bulanan komedian. Sarah Palin adalah Gubernur Alaska, AS. Ia calon wakil presiden yang mendampingi calon presiden John McCain dari kubu Partai Republik dalam Pilpres AS 2008. Palin terkenal sebagai objek ejekan karena antara lain pernah bilang dari depan rumahnya ia bisa melihat Rusia.

Tak ayal ketika saat ini Presiden Obama sedang berada di Rusia, komedian David Letterman (“musuh bebuyutan Sarah Palin”) meluncurkan tembakan : “Presiden Obama sedang di Rusia. Dan kita tahu hal itu karena Sarah Palin berkata ia dapat melihat Obama dari rumahnya.”

Komedian Conan O'Brien ikut menimpali : "Presiden Obama saat ini berada di Rusia. Obama pergi ke sini sebab dari Rusia Anda benar-benar dapat melihat Sarah Palin sedang mengemasi barang-barang untuk segera keluar dari kantornya di Alaska."

Sarah Palin, memang bikin kejutan baru-baru saja ini. Ia mengundurkan diri sebagai gubernur Alaska, konon mempersiapkan diri sebagai capres 2012. Kontan komedian Andy Borowitz pun menulis dalam kolom fake news-nya yang terkenal, The Andy Borowitz Report :

“Begitu Sarah Palin mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya, komedian (AS) dari pantai barat sampai timur berjajar apel siaga membawa lilin sebagai tanda berduka yang oleh seseorang komedian disebut sebagai a devastating loss, kehilangan yang teramat besar sekali.”

“Mengatakan bahwa kami patah hati merupakan pernyataan yang sangat merendahkan,” timpal Shecky Sheinbaum, komedian dari klub komedi Laugh Hut di Cincinnati. “Saya seperti ayam yang melintas di jalan, lalu terlindas truk sebelum saya sampai ke seberang.”

Pernyataan Sheinbaum itu mengulang kata banyak komedian AS bahwa, “dunia komedi kehilangan salah satu sasaran terbesarnya. Kita akan mengalami masa-masa susah dalam jangka waktu lama. Pertama, kita kehilangan Michael Jackson, sekarang dia.”

Selamat jalan, Mega. Indonesia kini juga kehilangan. Kehilangan Megawati Sukarnoputri. Dalam Pilpres 2009, ia hanya nampak dominan di Bali dengan warna merahnya. Tetapi pada sebagian besar propinsi di Indonesia lainnya, warna biru, warna pasangan SBY-Boediono ibaratnya sebagai landslide yang mengubur para pesaingnya.

Kita saksikan misalnya, Jusuf Kalla di propinsi asalnya, Sulawesi Selatan, tidak juga unggul mutlak atas SBY-Boediono. Silent revolution a la SBY benar-benar meruyak ke seluruh Indonesia. Termasuk Nanggroe Aceh Darussalam yang semula diperkirakan menjadi pendulang suara bagi JK, tokoh yang gencar mengklaim sebagai pemrakarsa utama perdamaian di Aceh. Tetapi rakyat Aceh rupanya melihat adanya sosok Wiranto yang mantan jenderal sebagai mitra JK, membuat rakyat Serambi Mekah itu lebih memilih SBY-Boediono.

Mari kita bersangka baik untuk masa depan mereka-mereka yang kalah. Megawati, seperti lirik awal lagu kesayangannya, My Way-nya Frank Sinatra, harus legawa bahwa era tutup layar sekarang ini benar-benar menjadi kenyataan dalam karier politiknya. Selamat jalan, Mega.

PDIP harus segera mencari tokoh baru. Juga memakai gaya dan bahasa yang baru pula. Slogan pro-rakyat sampai pakaian mitranya Prabowo yang bergaya mentah-mentah mengimitasi ayahnya Soekarno, hanya menjadi sebuah relik yang tidak menjual lagi di era blog dan Facebook seperti saat ini.

Mau atau tidak mau, PDIP harus berubah. Karena rakyat Indonesia telah memutuskannya. Ketegaran Mega ketika kalah di Pilpres 2004, yang tetap kuat mendorongnya untuk berjuang tetapi tetap kalah lagi di tahun 2009 ini, sudah saatnya berubah menjadi sikap kenegarawanan yang sejati.

Menjadi lebih arif sebagai guru bangsa. Mega yang pernah juga menyatakan diri sebagai humoris, kini tiba saatnya pula untuk lebih terbuka sebagai manusia. Sering-seringlah kini melakukan self-deprecating, legawa untuk menertawai kekurangan dirinya. Insya Allah, humor akan mampu menyembuhkan lukanya, juga luka-luka pengikut fanatiknya yang kecewa.

Bagasi masa lalu. Majalah asing pernah menulis, sebelum momen reformasi meletus, dikabarkan bahwa Mega gemar belajar bahasa Spanyol secara otodidak. Ia bercita-cita merangkul bangsa Amerika Latin. Sementara dalam kajian psikografi, ia digambarkan tidak punya daya tahan lama untuk berpikir hal-hal yang rumit. Sumber lain lagi mengatakan, ia hanya suka menonton film-film kartun. Mungkin film kartun berbahasa Spanyol ?

Tes kita : menyambut perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-64 mendatang, 17 Agustus 2009, apakah Mega tetap tidak akan hadir di Istana Negara seperti ketika SBY memerintah selama ini ? Jangan keburu menvonis ketidakhadiran Mega itu sebagai cerminan sikap kenegarawanan yang rendah. Mungkin saja, mungkin, di hari itu di televisi sedang ditayangkan film-film kartun Spanyol favoritnya.

Kembali kepada Mike Peters, sosok kartunis AS dalam awal tulisan ini. Mungkin kita bisa memberinya nasehat : bila saja ia warga negara Indonesia dan ingin karier kartunisnya makmur dan indah, di bilik suara nampaknya Mike Peters cenderung mencontreng untuk Mega.

Nampaknya lagi, ia tidak sendirian. Karena sebagian pelaku dunia seni Indonesia juga melakukan hal yang sama. Misalnya, mungkin saja Butet Kertaradjasa, Rendra, bekas pelawak kini jadi politisi PDIP Miing dan artis-aktivis yang juga berubah jadi politisi, Rieke Dyah Pitaloka. Ternyata merujuk pada hasil perhitungan cepat, pilihan mereka salah. Mereka kalah.

Tetapi kekalahan itu justru membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi ? Semoga. Lima tahun mendatang. Semoga. Antara lain, utamanya, karena sosok-sosok yang membawa sisa-sisa bagasi besar berisi kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu kini berpeluang tidak wira-wiri lagi di panggung politik Indonesia. Syukurlah, rupanya rakyat Indonesia tidak lupa, walau segencar apa pun bujukan dalam keindahan patriotisme pada bungkus iklan-iklan mereka.

Walau pun demikian, pekerjaan rumah kita masih banyak. Termasuk bagi kaum komedian Indonesia. Mereka mau tak mau harus terus mengasah pisau humornya untuk lebih tajam dan lebih intelektual lagi.

Pasalnya, sosok SBY-Boediono yang kelihatan santun itu, relatif lebih susah untuk dijadikan sebagai sasaran tembak olok-olokan kita. Apalagi dalam masa pengabdiannya SBY yang terakhir, ia tidak bisa maju lagi di tahun 2014, godaan bagi diri dan keluarganya untuk menjadi tiran sangat besar sekali !

Komedian Indonesia, rakyat Indonesia, mulai panaskan lagi mesin-mesin kritismu !


Wonogiri, 8-9/7/2009

ke

Thursday, July 02, 2009

Pilpres 2009 : The Good, The Bad and The Ugly

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Politik goblog dan degil. Anda kenal nama Jimmy Wales ? Tidak ? Saya maklum. Tetapi Anda mengenal Wikipedia ?

Jimmy Wales adalah penemu ensiklopedia dunia maya, Wikipedia tersebut. “Saya bukan orang yang cakap dan orang yang mampu menjelaskan mengapa Wikipedia itu berhasil. Para kontributor Wikipedia itulah yang mengetahui,” katanya kepada Ethan Zuckerman dengan rendah hati.

Jimmy Wales kemudian melontarkan gagasan revolusioner berikutnya. Ia berambisi memperbaiki kehidupan politik. Kembali, memakai metode wiki juga. Mungkin ide ini ide edan, tetapi Ethan Zuckerman berpendapat bahwa Jimmy Wales telah jitu dalam membidik problem utama dalam perpolitikan selama ini, yaitu tentang bagaimana warganegara memperoleh informasi mengenai beragam isu dan tentang para kandidat.


“Media broadcast (selama ini) membawa kita ke politik broadcast. Secara gampangan dan terus terang tentangnya, baik itu kubu kanan atau kiri, kubu konservatif atau liberal, politik broadcast itu dungu, goblog dan degil Broadcast politics are dumb,dumb, dumb !,” tegas Jimmy Wales. [Untuk info lebih lanjut tentang isu krusial ini silakan klik disini].


Menjaga harmoni. Saya tidak tahu apa juga demikian pendapatnya tentang lima seri debat capres-cawapres di Indonesia di Pilpres 2009 ini. Tetapi yang paling banyak menyeruak adalah keluhan betapa audiens tidak memperoleh pembeda yang jelas dan tajam dari pembeberan visi-misi antara satu kandidat dengan kandidat lainnya.

Rekan-rekan sesama bangsa Indonesia, itulah Indonesia kita. Simak analisis Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, yang menarik ketika mengungkap jati diri bangsa kita, walau dalam hal ini terkait dengan sepakbola.

Dalam artikel berjudul "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia memakai pisau bedah dari perspektif budaya dan politik untuk menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Ditilik dari kajian budaya, Indonesia kuat dipengaruhi budaya suku mayoritas, Jawa. Budaya Jawa memiliki pandangan ketat mengenai pentingnya keselarasan. Perasaan yang terinternalisasi secara mendalam dalam jiwa orang Jawa adalah kepekaan untuk tidak dipermalukan di muka umum. Perasaan demikian memupuk konformitas, pengendalian tingkah laku dan menjaga ketat harmoni sosial. Konflik yang terjadi diredam sekuat tenaga.

Reaksi normal setiap orang Jawa dalam menanggapi konflik adalah penghindaran, wegah rame, dan mediasi oleh fihak ketiga. Apabila meletus konflik, terutama ketika saling ejek dan saling hina terjadi, maka yang muncul adalah perasaan malu dan kehilangan muka. Para kandidat itu rupanya tidak tega untuk sampai ke tahap konflik semacam ini. Sehingga tak ayal kepala berita di media massa nasional tentang peristiwa di televisi itu sebagai “debat tanpa perdebatan.”

Film koboi. Rekan-rekan bangsa Indonesia, ijinkanlah saya membantu. Kalau Anda belum mampu menjatuhkan pilihan untuk kandidat yang tertentu, ikutilah akal sehat atau naluri dasar Anda.

Untuk calon wakil presiden, simak rekam jejak mereka terkait dengan hak asasi manusia di Indonesia. Kemudian pilihlah mereka sesuai judul film koboi Clint Eastwood yang terkenal itu : the good, the bad, and the ugly.

Untuk calon presiden, Anda bebas memilih : apakah kandidat yang lelaki, atau yang perempuan, atau yang banci !


Pilpres satu putaran. Untuk menghemat biaya, juga agar pemerintahan yang terpilih segera bekerja, kubu SBY-Boediono gencar mengembuskan wacana agar Pilpres 2009 dapat berlangsung dalam satu putaran. “Apakah kampanye semacam itu mencerminkan sikap seseorang yang menjunjung tinggi demokrasi ?,” demikian serang kubu Jusuf Kalla-Wiranto. Siapa yang benar ?

Sesudah tangggal 8 Juli 2009 kita baru akan memperoleh bukti. Tetapi merasa memperoleh inspirasi yang kuat dari apa yang terjadi di Iran, kubu incumbent terus menggencarkan isu pilpres satu putaran. Bahkan seperti ujar komedian David Letterman bahwa Mahmoud Ahmadinejad telah mengaku menang besar dengan perolehan suara hingga 148 persen, kubu SBY-Boediono juga berkeyakinan serupa.

Kunci untuk meraih sukses spektakuler itu dengan memacu keras kinerja partai koalisi sayap kanannya, yaitu PKS. Apalagi sebelumnya ucapan salah satu pimpinan PKS yang mempersoalkan istri capres-cawapres yang mereka dukung tidak mengenakan jilbab, dianggap melemahkan kinerja mesin politik partai yang gemar tampil mengusung warna putih-putih itu. Kini dukungan dari PKS harus dimaksimalkan.

Tim sukses SBY-Boediono yang terkenal dengan aksi silent revolution itu segera bergerak diam-diam. Mereka embuskan isu ke seluruh jajaran anggota partai PKS, bahwa agar warga PKS sepenuh hati mendukung sukses pilpres satu putaran untuk kemenangan SBY-Boediono, dikabarkan SBY telah mengganti namanya dengan SBYA. Susilo Bambang Yudhoyono Ahmadinejad.


Inspirasi Michael Jackson. Apakah penyanyi legendaris MJ yang konon berganti nama menjadi Mikhail itu akan dimakamkan secara Islam ? Di Neverland ? Apakah hal itu juga tertulis dalam surat wasiatnya, selain ia menyebut-nyebut nama penyanyi Diana Ross yang ia pilih untuk membesarkan ketiga anaknya bila ibunya tidak sanggup mengasuhnya ?

Bila Anda penasaran, ikutilah terus program Larry King Live di CNN. Termasuk berita mengenai tiga album lagu-lagu lama MJ yang melonjak, dan kini menempati peringkat teratas. Album-album itu menggusur album Black Eyed Peas yang semula nangkring di tangga Billboard yang pertama.

MJ memang fenomenal. Kemasyhurannya yang meroket bahkan ketika ia meninggal dunia telah menjadi inspirasi kubu JK-Wiranto dalam menggebrak kampanye mereka di tahap akhir ini. Wiranto yang pandai menyanyi nampak menggembleng keras agar JK segera pula pintar menyanyi. Mereka berencana mengeluarkan album yang akan diputar selama minggu tenang nanti.

Judul albumnya :”Relakan MJ Pergi.Sambut Kini MJK Sebagai Pengganti.”


SBY Presidenkuuuuu.. “Lagu-lagu pop manis, sweet song, sesuai dengan gaya politik Partai Demokrat,” demikian kata SBY di depan pendukungnya di tahun 2007 ketika berkonsolidasi menuju Pilpres 2009.

Itulah sekelumit catatan wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, yang sejak lama mengikuti aktivitas sehari-hari presiden SBS dalam blognya. Lanjutnya, bahwa “gaya politik pak BY dan demokrat adalah gaya politik yang manis seperti lagu-lagu pop manis kegemaran Pak BY..Karena itu, jarang mendapati pernyataan-pernyataan bersifat menyerang atau provokatif dari pak BY atau Partai Demokrat kepada lawan politik atau kompetitornya.”

Terima kasih, Mas Inu. Berdasar rujukan itu, apakah lagu “manis” yang aslinya merupakan jingle iklan mi instan dan lalu dipakai untuk kampanye di televisi itu, sebenarnya merupakan ide dan pilihan SBY pribadi ? Anda silakan menebak.

Tetapi menurut Kompas, penggagas ide lagu mi instan itu adalah Choel Mallarangeng. Ia yang termuda di antara tiga sosok Mallarangeng yang pimpinan FoxIndonesia, biro jasa penanggung jawab kampanye kubu SBY-Boediono.

Iklan itu konon berdampak luar biasa. Presiden Obama dikabarkan meminta bantuan FoxIndonesia untuk mengarang lagu guna kampanyenya pada tahun 2013 mendatang. Presiden Iran yang baru-baru ini terpilih kembali secara kontroversial, Mahmoud Ahmadinejad, merencanakan juga meminta lagu darinya untuk senjata memenangkan pilpresnya yang ketiga.

Konon kubu Choel Mallarangeng segera bergerak cepat. Ia dikabarkan segera memperoleh lisensi dari Sony Corporation untuk menggunakan lagunya Michael Jackson. Isi lirik lagu itu akan digunakan sebagai ilham bagi polisi dan anggota milisi garda revolusi dalam membubarkan aksi kubu reformis yang berunjuk rasa :

But my friend, you have seen nothin'
just wait 'til I get through...

Because I'm bad, I'm bad, come on
You know I'm bad, I'm bad, you know it
You know I'm bad, I'm bad, come on, you know

Sementara itu kalangan lobi bisnis gandum internasional, International Wheat Flour Consortium (IWC) yang berbasis di Brussel, menganugerahi bintang tertinggi kepadanya. Dalam situs webnya tertulis pernyataan :

“Sesuai keluhuran dari asas-asas ekonomi neoliberal, ia kami anggap telah berjasa memasukkan ide-ide baru sampai gaya hidup baru bagi ratusan juta penduduk Indonesia pada momen yang sangat menentukan, agar mereka semakin akrab dengan diversifikasi produk-produk gandum yang terbuka untuk diolah dan disajikan secara kreatif dan bergengsi, yang oleh karenanya dengan pelahan tetapi pasti mendorong warga meninggalkan konsumsi beras, sagu, jagung dan umbi-umbian, sehingga semakin meningkatkan homogenitas sumber makanan tunggal di masa depan bagi bangsa Indonesia yang pada akhirnya membuka peluang lebih prospektif bagi bisnis kami di masa depan.”

Badan internasional lain juga memberi penghargaan serupa. Misalnya Brakot Burgers Brotherhood International (BBBI), World’s Chicken Noodle Enthusiasts (WCNE), White Wheat Wagon (WWW), Italiano Spaghetti Clandestino (ISC) sampai Malaysian’s Mihon Maniacs (MMC).

Night at the Museum. Bagaimana aksi kubu Mega-Prabowo ? Dikabarkan mereka akan meluncurkan dua film untuk menyukseskan kampanyenya. Film pertama adalah cerita klasik yang menjadi film seri di televisi tahun 1987, Beauty and The Beast. Si Cantik dan Si Buruk Rupa. Si Jelita dan Si Buasas.

Kisah yang juga konon menjadi ilham bagi buku terkenal Women Who Love Too Much (1985, foto di atas) karya Robin Norwood itu berisikan angan-angan utopis seorang perempuan yang bersenjatakan cinta, juga penderitaan, yakin dirinya mampu mengubah perangai buruk pria yang ia cintai untuk menjadi pria berkepribadian lebih baik.

Film kedua yang direncanakan diproduksi oleh kubu Mega-Prabowo adalah Night at the Museum III. Seri pertama dan kedua film ini dibintangi Ben Stiller diproduksi tahun 2006 dan 2009. Film campuran komedi dan fiksi-ilmiah ini menceritakan tentang seorang duda, yang pengangguran, dengan satu anak lelaki yang tidak begitu menaruh hormat kepadanya, terjun dalam petualangan yang mendebarkan.

Ia menerima pekerjaan tidak bergengsi, sebagai penjaga malam suatu museum. Keajaiban terjadi, ketika isi museum itu menjadi hidup di malam hari. Ada singa berkeliaran, ulah kera julig, Tyranosaurus Rex yang mengajaknya main-main, sampai boneka tokoh koboi kuno Jedediah yang berantem melawan boneka panglima tentara Romawi, Octavus.

Mengulang alur cerita di seri pertama, tokoh penjaga malam itu akhirnya mampu mengatasi masalah berkat nasehat dari boneka lilin yang hidup, yaitu tokoh presiden AS ke 26, Theodore Roosevelt (1858–1919). Dalam Night at the Museum III, tokoh presiden yang kembali hidup, tentu saja, adalah Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Juga mereka yang hilang akibat diculik atau terbunuh menjelang meletusnya reformasi tahun 1998, semuanya, sungguh ajaib, bisa hidup kembali. Almarhum Hery Hartanto, Elang Mulyana, Hafidin Royan dan Hendriawan Lesmana yang terenggut nyawanya di Universitas Trisakti, juga mahasiswa lainya di insiden Semanggi I-II, semuanya hidup kembali.

Tokoh-tokoh masa lalu itu, yang sebelumnya dalam beberapa hal berseberangan atau berseteru, kini menjadi rukun. Mereka semuanya bersatu-padu, bahu-membahu, bekerja sama berusaha memenangkan kandidat Megawati-Prabowo dalam Pilpres 2009.

Orang-orang presiden. Kubu SBY-Boediono tak mau kalah dalam menggunakan film sebagai kampanyenya. Mereka telah memperoleh ijin kontrak untuk membuat sekuel film yang melambungkan nama dua wartawan dari The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein, All the President's Men (1976).

Kalau dalam versi aslinya dikisahkan kedua wartawan itu berhasil mengungkap aksi rahasia kubu Partai Republik yang menyadap gedung Watergate yang pusat aktivitas Partai Demokrat AS saat itu, cerita film versi kubu SBY-Boediono itu lebih seru. Intinya terpusat kepada gerak-gerik aktivitas tiga pembantu setianya, yaitu Andi Mallarangeng, Rizal Mallarangeng dan Choel Mallarangeng.

Termasuk berita heboh terakhir tentang mereka, bahwa di Makassar muncul demo besar yang mencekal Mallarangeng Bersaudara. Andi Mallarangeng dituding mengucapkan kalimat bermuatan SARA yang dinilai merendahkan sukunya sendiri. Dirinya dilarang menginjakkan kaki di tanah kelahiran ayah-ibunya, di Makassar, sebelum meminta maaf kepada masyarakat yang didominasi warga Bugis itu atas ucapan yang dilontarkan Andi sebelumnya.

Konon akhir film ini menunjukkan Mallarangeng Bersaudara minta suaka. Ada tiga alternatif. Ke Grobogan, Purwodadi, tempat almarhum ayahnya pernah menjabat sebagai bupati. Ke Yogya tempat Andi dan Rizal berkuliah sekaligus memperoleh istri. Atau alternatif ketiga : di kota bossnya berasal.

Pacitan.


Wonogiri, 3/7/2009

ke

Monday, June 29, 2009

Lagu Michael Jackson dan Inspirasi Pilpres 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Berbakat abad 20. “Tragedi kematian Michael Jackson dalam usia 50 tahun, dikabarkan akibat serangan jantung, hanya menjadi gambaran yang pucat bila dibandingkan dengan tragedi dalam hidupnya.”

Itulah tulisan pembuka dari Josh Tyrangiel dari majalah TIME, yang berjudul “Michael Jackson, 1958-2009: The Talent and the Tragedy.”

Lanjutnya : “ Untuk memahami semua kisah jatuh-bangun dirinya memerlukan kita menelusuri masa tiga puluh tahun sejak operasi plastik yang mendeformasi dirinya, tingkah laku eratik yang membuat namanya sinonim dengan pembengkokan daya sebuah ketenaran, dan pengadilan tahun 2005 dengan tuduhan pelecehan terhadap anak-anak, walau pun ia tak terbukti bersalah, membuat dirinya sebagai paria dan mencuci otak seluruh penggemarnya.”

“Tetapi bila Anda dapat memaafkan atau melupakan hal di atas itu semua, Michael Jackson merupakan salah satu penghibur yang paling berbakat pada abad ke-20.”

Inspirasi kampanye. Berita yang mendunia terkait meninggalnya King of Pop itu di Indonesia segera menjadi perbincangan. Juga di kalangan pendukung capres-cawapres yang kini makin panas berkompetisi menjelang pilpres 8 Juli 2009. Para spin doctors yang nampak kelaparan untuk memanfaatkan momen apa saja demi diolah menjadi bahan iklan memenangkan capres-cawapres yang dibelanya, momen tragedi Jackson itu segera mereka sambar juga.

Desas-desus yang beredar, kesigapan semacam itu semula dimiliki oleh kubu SBY-Boediono. Tetapi kubu-kubu rivalnya, berkat peran intelijennya yang julig, keunggulan kubu Cikeas itu segera terendus dan segera bukan jadi rahasia lagi. Inilah yang terjadi :

Di markas besar masing-masing kubu terpasang boneka-boneka (effigy) dari tokoh kompetitor mereka. Di kubu Mega-Prabowo terdapat boneka SBY-Boediono dan boneka JK-Wiranto. Di markas kubu SBY-Boediono terpajang boneka Mega, Prabowo, JK dan Wiranto. Demikian juga di markas kampanye kubu JK dan Wiranto terdapat boneka Mega, Prabowo, SBY dan Boediono.

Setiap malam, dari masing-masing markas besar tim sukses itu selalu terdengar lagu hitnya Michael Jackson yang terkenal. Refrennya diputar berulang-ulang : “Beat it ! Beat it ! Beat it !

Mungkin karena merasa memiliki musuh bersama, yaitu sang incumbent atau karena memang telah LEBIH terbiasa melakukannya, ada hal istimewa terjadi pada kubu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Bunyi refren lagu itu selalu diikuti suara koor dari tim suksesnya dan juga suara gebukan yang lebih keras dari mereka.

Menengok sejarah, lagunya Michael Jackson itu juga pernah menjadi inspirasi bagi Presiden Soeharto saat berkuasa. Bukankah beliau pernah mengeluarkan ancaman “gebuk” itu bagi kaum kritis yang mengganggunya ?

Lagu itu kini juga laris menjadi ilham bagi sebagian majikan di Malaysia yang memiliki pembantu asal Indonesia.

ke