Sunday, March 11, 2012

Lady Gaga dan Tragedi Dalam Sepotong Roti

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Dalam konsernya di Indonesia pada bulan Juni 2012 mendatang
Lady Gaga berencana bikin sensasi.

Lady Gaga kembali mengenakan pakaian show yang terbuat dari daging.

Tetapi rencana itu ia gagalkan.

Karena daging di Indonesia
semuanya daging gelonggongan.

Sepotong roti adalah solusi ketika kelaparan di tengah malam.

Sialnya, baru ditinggal sebentar untuk bikin kopi, ratusan semut-semut laknat sudah mengerubunginya.

Syukurlah, solusi win-win segera ditemukan.
Matikan saja lampu.
Masalah saya pun selesai.

Semut-semut itu kemudian berwisata
untuk mengenal enzim dan lika-liku usus saya.


Wonogiri,12/3/2012

Monday, January 23, 2012

Hantu Mabuk Sabu Mengamuk Di Hari Minggu

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tanggal 22 diusulkan sebagai Hari Pejalan Kaki.

Yang mengusulkan arsitek dan ahli tata kota Marco Kusumawijaya, terkait terjadinya kecelakaan maut di Jl. Ridwan Rais di Gambir, Jakarta.

Lokasi tepatnya di depan kantor Kementerian Perdagangan dan Ekonomi Kreatif. Pada hari Minggu pagi yang cerah pukul 11.00, tanggal 22 Januari 2012.

Sebagai hobiis jalan kaki, usulan Mas Marco itu ikut saya dukung.Tanggal itu dapat dijadikan sebagai pengingat.

Bukan hanya tentang pentingnya perlindungan atas hak-hak demokratis para pejalan kaki dan pengendara sepeda di ruang publik (baca bukunya Ivan Illich, Energy & Equity,1973), tetapi juga untuk membangun kesadaran betapa jalan raya (kita masih) merupakan tempat yang berbahaya.

Kematian sia-sia di jalanan. Kesadaran ini bukan sikap paranoid, melainkan pilihan yang rasional. Data dari WHO tahun 2000 menyebutkan seluruh dunia tercatat 1,26 juta jiwa melayang akibat kecelakaan di jalan raya. Di Indonesia tercatat 16,2 kecelakaan tiap 100.000 penduduk dan 210,4 kecelakaan tiap 100.000 kepemilikan kendaraan bermotor.

Angka itu di AS 12,3 dan 15 ; Malaysia,24,1 dan 36,5 ; Thailand, 19,6 dan 118,8 dan Singapura, 4,8 dan 30,4. Data selengkapnya bisa Anda klik disini.

Data PBB menunjukkan, bahwa lebih dari 90 persen kecelakaan lalu lintas marak terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Indonesia jelas termasuk di dalamnya.

Kecelakaan maut yang dipicu oleh kecerobohan seorang Afriani Susanti di Minggu siang 22 Januari 2012 itu, memang menghebohkan. Unsur bizarre dan horor sebagai produk berita, terpenuhi. Tetapi kita sering melupakan atau merendahkan pesan dibalik berita-berita atau kabar kecelakaan yang tidak se-spektakuler tragedi di Jakarta itu.

Kita sering mendengar tentang warga kota kita, anak tetangga atau kerabat kita sendiri,yang mengalami kecelakaan, cacat atau tewas di jalan raya, sebagai hal yang terasa biasa-biasa saja. Namun bila angka-angka ini dijumlah, angka itu sangat membuat bulu kuduk mereka yang peka akan berdiri.

Jalan raya senyatanya adalah tempat yang berbahaya.Kajian menunjukkan,kecelakaan lalu lintas tersebut akan menjadi penyumbang nomor lima dari semua kematian pada tahun 2030 mendatang.

Sehingga di tahun 2005 Sidang Umum PBB menyetujui pencetusan Hari Dunia Untuk Mengenang Para Korban Kecelakaan Jalan Raya, The World Day of Remembrance for Road Traffic Victims. Diperingati pada setiap hari minggu ketiga bulan November. Hari itu juga ditujukan sebagai perwujudan rasa empati kita bagi para keluarga korban.

Resapi pesan logonya (foto atas) untuk peringatan hari itu tahun 2010 yang lalu.Pesan yang sungguh menyentuh kalbu mereka yang peka.

Kelopak bunga indah ada yang terkoyak.
Kepingannya melayang bak cucuran darah.
Dan kalimat : "Ingatlah saya."

Bukan suratan Tuhan. Memang, sebagian orang akan menilai kecelakaan di jalan raya itu sebagai takdir. Sebagai suratan Tuhan. Tetapi, sebaiknya rasa pasrah itu diimbangi dengan akal sehat.

Kecelakaan banyak terjadi karena kesalahan manusia. Kajian tahun 1983 menunjukkan angka sebesar 93 persen. Kesalahan itu, bila kita mau, akan mampu diminimalisir.

Tak ayal, merujuk tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang misalnya dipicu oleh mabuk akibat minuman keras,kaum ibu di AS misalnya, telah membentuk organisasi MADD (Mother Against Drunk Driver). Mereka ambil prakarsa untuk berusaha melindungi keluarganya menjadi pelaku atau korban sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya.

Kita juga mampu melakukan hal mulia yang sama.

Moga-moga energi kita saat ini tidak dihabiskan untuk mem-bully, menghamburkan sumpah serapah dan melontarkan hujatan kepada pelaku kecelakaan maut di Jakarta itu. Apalagi itu dilontarkan semata sebagai wujud sikap denial, ingkar apalagi arogan, bahwa diri kita merasa tidak mungkin akan mengalami hal serupa, baik sebagai pelaku atau pun kurban.

Seyogyanya sudah saatnya kita juga mulai merintis berbuat sesuatu untuk perbaikan di masa depan.Dimulai dari kita sendiri. Maka ide mulia Mas Marco Kusumawijaya itu ikut saya dukung karenanya.

Bagaimana dengan Anda ?

Catatan : Pada tanggal 16 November 2011, saya sempat keluyuran di Jl. Ridwan Rais itu. Menjepret baliho yang menarik, yang mempromosikan pentingnya kreativitas. Baliho itu terpasang di Kantor Kementerian Perdagangan dan Ekonomi Kreatif, yang menurut berita, merupakan lokasi kecelakaan maut yang tragis di Hari Minggu, 22 Februari 2012 yang lalu.

Semoga tidak muncul dari sana kreativitas yang tidak pada tempatnya.

Misalnya sebagai tempat syuting film "Hantu Mabuk Sabu Mengamuk Di Hari Minggu" dan sejenisnya.

Semoga sembilan korban yang meninggal dunia ini kini senantiasa sejahtera disisiNya.
Semoga pula kami tidak akan melupakannya.


Wonogiri, 24/1/2012

Thursday, December 29, 2011

Legasi Gus Dur dan Hari Humor Nasional 2011

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Islam Warna-Warni. “Religion and Democracy : Face-to-Face “ merupakan topik diskusi di dunia maya yang menarik. Saya temui dan tersaji di situs islamonline.net, 7 Maret 2005. Sayang, sumber informasi ini sudah terhapus.

Saat itu nara sumbernya adalah Caspar Melville, Direktur Eksternal situs openDemocracy.net, yang kini sebagai editor majalah The New Humanist.

Salah satu peserta diskusi adalah “doaa” yang mengaku sebagai mahasiswa teknik asal Mesir. Ia meminta penjelasan bagaimana kaum muslim dapat menjelaskan kepada dunia bahwa Islam memiliki budaya demokrasi.

Caspar Melville yang mengaku sebagai sekuler dan tidak tahu banyak tentang Islam, memahami rasa frustrasi yang dialami dunia Islam pasca 11 September 2001, yang mendapatkan tekanan untuk menjelaskan bahwa Islam bukan identik sebagai agama kekerasan.

Ia berterus terang bahwa untuk membahas topik menarik tersebut dirinya belajar dari artikel yang ditulis Fareena Alam, editor Q News, majalah muslim terpandang dari Inggris.

Fareena Alam, kelahiran London 1978, keturunan Bangladesh dan besar di Singapura itu, telah dikutip oleh Caspar Melville bahwa dalam Islam dikenal budaya demokrasi yang ia sebutkan sebagai tradisi “moderasi, tidak berlebih-lebihan dan keinginan untuk mencari jalan tengah.”

Caspar Melville juga merujuk perbincangannya dengan jurnalis dan tokoh muslim Inggris lainnya, Fuad Nahdi, pendiri Q News yang kelahiran Mombasa, Kenya, yang telah malang melintang di dunia pers seperti International Islamic News Agency, Associate Press, Los Angeles Times, Guardian dan BBC.

Dari keduanya Caspar Melville memperoleh pemahaman betapa sangat kayanya dan beragamnya sejarah pemikiran Islam yang menampung segala macam gagasan. Termasuk sekularisme, nihilisme, hedonisme, juga sejarah sistem pemerintahan Islam yang mampu secara tegas memisahkan antara negara dan agama.

Secara khusus, Caspar Melville menyatakan bahwa dirinya selalu menemukan kejutan ketika berbincang dengan tokoh-tokoh yang relijius, yang menurutnya selalu lebih jenaka, lebih terbuka pikirannya, dan jauh dari pola pikir kaku yang semula ia duga. Pendek kata, usulnya kepada sang penanya, berdiskusilah dengan tokoh-tokoh tersebut.

Warisan Gus Dur. Usulan Caspar Melville yang simpatik. Bagi saya, tokoh Indonesia yang muncul di benak saya terkait perbincangan seputar topik Islam, demokrasi dan kejenakaan, tidak lain adalah Gus Dur.

Gambaran sosok-sosok relijius sekaligus humoris selain Gus Dur, tentu saja juga mudah tertuju kepada Amin Rais, Gus Mus, Said Agil Siradj, Cak Nun, Ulil Abshar Abdalla, Zuhairi Misrawi, dan beberapa tokoh lainnya.

Hari ini, 30 Desember 2011, adalah tepat dua tahun wafatnya Gus Dur. Pada tanggal yang sama adalah tepat 10 tahun meninggalnya pelawak Wahyu Sardono alias Dono Warkop. Semoga kini keduanya senantiasa dikaruniai hidayah di sisiNya.

Sebagaimana tercetus tahun lalu, tanggal 30 Desember telah saya usulkan sebagai Hari Humor Nasional.

Dengan harapan, di momen tersebut makna luhur humor bagi kemanusiaan dapat kita kemukakan.
Kita renungkan.
Kita rayakan.
Juga kita reguki kedahsyatannya.

Semoga kita semakin yakin betapa humor pantas sekali sebagai harta jiwa yang senantiasa kita perjuangkan sebagai bekal bangsa Indonesia dalam mengarungi peradaban.


Wonogiri, 30/12/2011

Tuesday, December 06, 2011

Shazia Mirza, Komedian Islam dan Pesta Natal

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Shazia Mirza.
Anda pernah mendengar namanya ?

Dalam buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010), sosoknya saya ceritakan ketika membahas mengenai warisan penting almarhum Gus Dur bagi dunia komedi Indonesia.

Sekadar Anda tahu, wafatnya Gus Dur dan Dono, sama-sama 30 Desember, saya usulkan sejak tahun lalu sebagai Hari Humor Nasional.

Shazia Mirza adalah pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.

Shazia Mirza itu kini datang ke Indonesia. Sahabat saya, pencinta komedi beraliran garis keras asal Jakarta yang ditunjukkan dengan kepemilikan ratusan buku-buku koleksinya (“semua buku bertopik humor, komedi sampai kartun yang dijual di Amazon.com sepertinya telah pindah ke lemari dia”), Danny, beberapa hari yang lalu memberitahukan kedatangan Shazia Mirza itu.

Bagi saya, kedatangannya itu seperti keajaiban. Ketika tanggal 20/10 sd 17/11/2011 saat saya memperoleh fasilitas dan kemewahan langka di Hilton Humor di Kramat Jaya Baru, saya sudah mengincar buku yang membahas dirinya.

Sekadar info, Hilton Humor itu adalah rumahnya Danny tadi, yang tidak berpenghuni, selain terisi dua almari yang berisi koleksi buku-buku di atas tadi. Hampir sebulan saya mendapat bea siswa dari Danny untuk mengeram di sana, bersama buku-buku tadi.

Buku incaran saya itu berjudul Beyond a Joke : The Limits of Humour (2009). Buku susunan Sharon Lokyer, dosen sosiologi dan komunikasi Universitas Brunel (Inggris) dan Michael Pickering, professor media dan analisis kebudayaan, Universitas Laoghborough (Inggris), bersampulkan wajah Shazia Mirza.

Tidak berjilbab. Shazia Mirza akan tampil bersama Ward Anderson (AS), Kamis, 8 Desember 2011, atas undangan The American Club Jakarta, Hotel Mandarin, Jakarta. Lebih menarik lagi, acara pemanggungan dua komedian tunggal itu bertajuk Jakarta Comedy Club Christmas Party.

Dalam wawancara di buku tersebut (hal.119-120) tersaji dialog menarik :

MP (Michael Pickering) : Apakah Anda masih mengenakan jilbab ketika tampil ?

SM (Shazia Mirza) : Tidak. Ketika tampil pertama kali saya tidak mengenakan jilbab, lalu mengenakan, dan sekarang tidak dan saya berpikir tidak akan mengenakannya lagi.

SL (Sharon Lockyer) : Mengapa ?

MP : Apakah itu kesadaran untuk melepaskan dari masa lalu ?

SM : Sebab saya tidak ingin dilihat sebagai komedian muslim, saya tidak ingin dilihat dari pandangan satu dimensi dan semua hal bisa saya bicarakan dan hal itu pula eksistensi dari hidup saya.

Juga tidaklah sangat luwes ketika orang-orang menjadi berpandangan sempit, ketika mereka melihat Anda berpakaian seperti itu dan mereka lalu berpendapat, “Oh, dia tidak boleh ini, tidak boleh itu, sehingga mereka berpendapat tentang Anda dalam tafsir yang tunggal.

Ketika saya berpikir seperti itu, ini gambaran hanya satu dimensi, dan saya bukanlah pribadi yang hanya satu dimensi.

Humor seksi di Tanah Suci. Itulah sepotong profil Shazia Mirza. Ia lebih lanjut mengaku, “Saya merasa lebih jujur sekarang ini. Ketika saya di awal menginjakkan kaki di dunia komedi adalah menfokuskan bagaimana agar orang-orang menjadi tertawa dan ketika Anda mampu mengerjakannya, Anda akan tertantang untuk melakukan hal lain yang lebih menantang, seperti berbagi cerita-cerita yang lebih menarik.”

Barangkali yang ia sebut menarik itu antara lain tersaji di halaman lain (hal.11) yang menceritakan Shazia Mirza ketika mengunjungi Tanah Suci :

“Tahun lalu, saya pergi ke Mekkah untuk membersihkan dosa-dosa saya, di mana saat itu saya berada di sekeliling Ka’bah. Semua perempuan mengenakan pakaian hitam-hitam, yang menyisakan lubang untuk mata mereka. Kemudian saya merasakan ada yang mencowel pantat saya.

Saya cuekkan saja.
Saya berpikir : ‘Saya sekarang berada di Mekkah, dan apakah yang mencowel saya tadi itu tangan Tuhan.’

Kemudian cowelan itu terjadi kembali. Saya tidak mengeluhkan hal itu lagi. Saya menjadi yakin, bahwa semua doa-doa saya telah terjawab."

Apakah lelucon yang sama akan ia tampilkan lagi, di Jakarta ini ?


Wonogiri, 7/12/2011

Friday, October 28, 2011

Pojok Gus Dur, Warisan Guru Bangsa dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



If today there are people calling Islam bad names, we will teach them that Islam is peaceful.

“Islam janganlah dihayati sebagai ideologi alternatif. Ia harus dilihat sebagai hanya salah satu elemen ideologis yang melengkapi bangunan keindonesiaan yang telah terbentuk.”

“Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang ras, suku, agama dan asal muasal, di muka undang-undang.”

“Demokrasi itu bukan hanya tak haram, tapi wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi itu salah satu prinsip Islam, yaitu syuro.”

Demikian isi beberapa banner yang menyambut Anda bila hendak memasuki ruang Pojok Gus Dur, di gedung PB NU di kawasan Kramat Jakarta. Semua itu meruapan kutipan ucapan Gus Dur sebagai negarawan, budayawan, tokoh Islam, tokoh demokrasi, dan juga tokoh perdamaian dunia.

Ruang guru bangsa. Hari Jumat (28/10/2011) sesudah sholat Jumat di Masjid Arif Rahman Hakim Kampus UI Salemba (“kunjungan terakhir di tahun 1998, saat hendak menyerahkan biaya transport bagi Dr. Sri Mulyani Indrawati untuk berbicara dalam seminar ekonomi 14/8/1998 di Solo”), saya bisa melongoki ruang Pojok Gus Dur (PGD) tersebut.

Kalau dalam tradisi kepresidenan di Amerika Serikat, Pojok Gus Dur mungkin seperti Presidential Library, yaitu warisan perpustakaan dari presiden yang pernah menjabat. Tetapi seorang Gus Dur, bangsa Indonesia dan dunia tidak hanya mengenangnya sebagai seorang mantan presiden. Beliau adalah juga guru bangsa. Dari daftar buku tamu, tidak sedikit pengunjung yang berlatar belakang organisasi atau perorangan yang bukan umat muslim.

Pojok Gus Dur ini masih dalam pengembangan. Belum ada brosur. Bahkan koleksi buku yang ada juga belum ditata layaknya koleksi perpustakaan. Tersedia akses Internet. Juga beberapa kali pernah diselenggarakan diskusi. Ketika saya memberikan kartu nama, malah Mas Mustiko Dwipoyono dan Yudi Yono sebagai relawan pengelola PGD, sempat mencetuskan niat untuk mengundang saya sebagai pembicara bertopik humor.

Sebuah kehormatan, kata saya.

Hanya beberapa menit saya berada di PGD, karena harus meluncur ke Ratu Plaza, saya minta pamit. Saya harus mengunjungi lagi tempat ini. Untuk melihat secara detil koleksi buku yang ada di ruangan peninggalan mantan presiden yang humoris itu.

Dan bukan sebuah kebetulan karena warisan pemikirannya ikut pula menjadi isi buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) dan juga Komedikus Erektus 2 : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Segera terbit, 2011).


Kramat Jaya Baru,Jakarta, 29/10/2011

Monday, October 17, 2011

SBY : Heboh Reshuffle, Masokhis, Mak Plekethis !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Cliff hanging.
Menggantung di tepian jurang.
Kata-kata itu justru mungkin malah mengingatkan Anda akan judul filmnya Sylvester Stallone ?

Dalam dunia kepenulisan, istilah itu merupakan teknik untuk mengakhiri cerita yang mengundang penasaran para pembaca terkait nasib selanjutnya dari pelaku utama cerita.

Teknik ini sekarang dipakai SBY menjelang hari pengumuman reshuffle kabinetnya. Hari demi hari masyarakat dibuat penasaran atas pelbagai pemunculan dirinya, aktivitas orang-orang yang datang dan pergi dari rumah Cikeasnya, juga berita-berita yang teruar dari sana.

Menyikapi suasana itu, penyair dan esais terkenal Goenawan Mohamad telah menuliskan uneg-uneg di akun Twitternya :

Laporan cuaca Indonesia: Politik menyebalkan. Musik, teater, film, puisi, mencerahkan

Selamat pagi, wahai orang2 yg bahagia! Selamat pagi kpd mereka yg tak peduli soal reshuffle!

Nampak pada diri SBY mencuat sikap masokhis, suatu kelainan psikologis bagi mereka yang gemar melakukan penyiksaaan. Tentu saja kali ini terhadap benak warga Indonesia dengan melakukan pemanggungan isu reshuffle yang diulur-ulur dan dipoles sana-sini agar lebih panjang jalannya cerita. Ia sebagai selebritas, tentu hari-hari ini ia sangat menikmati dirinya sebagai pusat perhatian.

Jangan berharap banyak.

Orang Jawa punya istilah betapa harapan yang melambung dari wacana-wacana yang selama ini ia lontarkan, tetapi realitasnya jauh dari kenyataan.
Istilah itu adalah : Mak plekethis.


Wonogiri, 18/10/2011

Saturday, August 27, 2011

Komodo, Komedikus dan SBY

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pemerintah RI menarik Komodo dari daftar nominasi Kontes 7 Keajaiban Alam Baru Dunia. Digantikan Nazaruddin. Atau Marzuki Alie.

Tak mau kalah, Partai Demokrat juga menyelenggarakan layanan mudik massal Lebaran. Warga yang ikut boleh memilih : Singapura atau Kolombia.

Substansi surat SBY kepada Nazaruddin membuatnya segera dinominasikan untuk memenangkan Hadiah Nobel 2012. Kategori Fiksi-ka.

Organisasi pengantar surat sedunia melayangkan protes keras kepada SBY. Karena korespondensinya dengan Nazaruddin tidak memakai perangko.

Sikap murah hati SBY membalas surat Nazaruddin membuatnya dibanjiri jutaan surat dari seantero dunia. Sebanyak 99,999999 % dari Nigeria.

Korespondensi mesra SBY-Nazaruddin sebenarnya akan berlanjut di Facebook dan Twitter.Sayang, BB Nazaruddin di Mako Brimob keburu disita KPK.

Ketua KPK Busyro Muqoddas bilang bahwa Nazaruddin diindikasikan terlibat 31 kasus korupsi. Anda masih ingat makna angka ‘kutukan’ 31 ini ?

Nomor kode jet Gulfstream yang ditumpangi Nazaruddin N913PD. Buku saya Komedikus Erektus-2 akan membongkar misteri angka-2 tadi untuk Anda.

Apa yang terjadi bila Nazaruddin satu sel dengan Gayus Tambunan ? Bakal terdengar mirip obrolan ahli-ahli astronomi.Milyar, milyar, milyar.

Nazaruddin tetap bungkam diperiksa KPK. Mungkin akan kooperatif bila dijanjikan setiap buka mulut akan dihadiahi surat SBY untuknya.

Ketenaran Nazaruddin konon mengilhami Surya Paloh untuk mengubah nama ormas yang kemudian juga menjadi nama partai. Dari Nasdem ke Nazdem.


Sumber foto : http://www.hefamily.org/3287/horeee-nazaruddin-akhirnya-tertangkap-di-kolombia