Thursday, August 23, 2007

WC Kampus dan Mahasiswa Dalam Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Badut-badut Kampus. Aksi pelawak ternyata bisa juga menjadi motivator tim bola basket. Itulah yang terjadi pada diri Devin O’Connor, mahasiswa senior dari Jurusan Teater Penn State University, AS. Seperti dikutip oleh Megan McKenna dalam situs universitas tersebut, The Collegian, si Devin O’Connor itu selalu hadir dalam pertandingan basket di kampusnya dengan memakai kostum yang aneh-aneh.

“Awalnya hanya untuk lucu-lucuan, tetapi kemudian dirinya menjadi pemandu sorak tidak resmi dari tim universitas kami karena ia mampu menggairahkan suasana pertandingan,” tutur Kevin Scheler, teman Devin, yang mahasiswa Kinesiologi.

Mahasiswa lain, Jason Yanushonis, dari Jurusan Finance dan teman Devin di SMA menimpali bahwa O'Connor mampu membawakan selera humornya yang energetik kemana pun ia berada. “Anda tak dapat menduga apa yang akan meletup dari dirinya,” tegasnya. “Ia adalah sosok yang semua orang menginginkan dirinya hadir dalam pesta mereka, karena O’Connor mampu membuat suasana pesta menjadi berbeda.”

Badut sejak SMA itu kini memantapkan diri sebagai komedian mahasiswa yang berprospek cerah. Ia telah manggung di Universitas Yale dan Pittsburg, dan juga tampil sebagai pemenang dalam kontes Comic Strip Live Comic of the Month Contest di New York. “Saya suka kampus karena tipe komedi saya cocok dan terkait erat dengan situasi kampus,” jelas O’Connor.

Simak juga cerita Susan Johnston tentang Alison Block, cewek mahasiswa tingkat pascasarjana jurnalistik di Universitas Duke. Siangnya kuliah dan kalau malam manggung sebagai komedian. Digambarkan betapa Alison sehari-harinya senantiasa memasang antena otaknya, peka menguping ucapan atau pun situasi sekelilingnya yang mampu memicu imjinasi dan diolahnya menjadi lelucon. Selain menulis leluconnya sendiri, memanggungkannya, ia juga menyanyi, menulis fiksi, skenario dan juga menulis lagu. “Utamanya aktivitas yang tidak menghasilkan uang,” candanya. Tetapi jelas teramat vital bagi dirinya, karena akan mengasah tajam pisau intelektualitasnya.

Bagaimana potret aktual dunia komedi mahasiswa kita ?

Di negeri kita ini pasti akan mudah kita ketemukan badut-badut mahasiswa yang suka membuat ulah lucu atau sok lucu di pelbagai kampus. Mungkin mereka beraksi di dalam kelas saat kuliah atau berani naik panggung-panggung hiburan internal kampus mereka masing-masing. Tetapi di tingkat nasional, di mana kini hidung para pelawak mahasiswa semacam Devin O’Connor atau Alison Block di atas ? Bagimana kalau pertanyaan ini dilontarkan kepada Effendi Gazali ?

Kira-kira, mampukah ia menjawabnya ?

Jawaban telak dan tak terduga-duga, sekaligus mungkin benar, mungkin justru muncrat dari sinyalemen tajam dan sarkastis yang pernah dilontarkan oleh almarhum Sudjoko. Beliau adalah budayawan, ahli bahasa dan guru besar Seni Rupa dari ITB Bandung.

Kebetulan adik saya, Basnendar Heriprilosadoso, saat ini sedang menempuh pascasarjana di Seni Rupa ITB. Ia mengajar di ISI Surakarta, seorang kartunis dan desainer logo, di mana salah satu karya puncaknya adalah logo Galeri Nasional di bilangan Gambir Jakarta Pusat. Ketika merujuk sinyalemen Pak Djoko di atas ia telah saya titipi pesan yang mungkin rada aneh : untuk memotret coreng-moreng yang ada di tembok-tembok WC kampus ITB. Karena di lokasi inilah kejeniusan mahasiswa Indonesia, utamanya mahasiswa ITB, mampu terekspresikan dalam kualitas puncak, sehingga mampu mengundang bahak dan menarik perhatian Pak Djoko itu.


Bawa Pulang Alya Rohali. Di atas saya telah mencoba bertanya kepada Effendi Gazali (EG). Mengapa ? Karena ia seorang doktor dan pengajar di Universitas Indonesia. Seorang intelektual di bidang komunikasi dan menurut penuturan teman dunia maya saya, Ira Lathief, saat menulis buku Kumis Lele Rezeki Arwana dan meminta endorser untuk bukunya itu, tokoh “Dik Pendi” dari Republik Mimpi (RM) tersebut telah menuliskan di bawah namanya, sebuah gelar keren : stand-up comedian.

Di acara Republik Mimpi itu dirinya mendapatkan mitra Iwel Well, yang kebetulan sama-sama berasal dari Sumatra Barat. Tokoh dengan peran redundant di Republik Mimpi ini suka EG promosikan sebagai stand-up comedian pertama di Indonesia. Lucunya, di acara Republik Mimpi itu keduanya selalu nampak hanya berposisi sebagai sit-down (sekaligus sitting duck ?) comedian belaka. Masih muda sekaligus berjulukan the most eligible bachelor tetapi tak mampu “berdiri,” bukankah ini sebuah bencana ke-manusia-an ?

Lupakan lelucon low comedy itu. Saya ingin bertanya juga karena Effendi Gazali adalah kreator acara Republik Mimpi yang selalu menghadirkan para mahasiswa. Mereka hadir berombongan dengan selalu mengenakan jaket alma mater dan bahkan bersama dosen-dosen mereka, dalam siaran langsungnya. Selain acara Republik Mimpi, silakan Anda daftar sendiri acara-acara di televisi yang kurang lebih memiliki genre serupa yang menghadirkan para mahasiswa sebagai audiens dalam acara televisi mereka. Pertanyaan lanjut saya : apakah hanya pantas sebagai audiens acara komedi di televisi sajakah yang bisa diperankan oleh mahasiswa kita sekarang ini ?

Kalau jawabannya memang benar, maka saya mudah teringat pernyataan seorang Robin Day (1923 – ), broadcaster Inggris, yang berkata bahwa televisi itu subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Televisi menyentuh emosi daripada intelek. Apakah acara komedi di televisi kita hanya menjadi etalase ketidaknalaran dan ketidakintelektualan insan-insan cendekia kita ? Pengalaman pribadi saya ketiksa bersentuhan dengan televisi kira-kira memang menegaskan hal-hal miring seperti itu.

“Bawa Pulang Alya Rohali !” adalah tagline yang saya buat ketika mengikuti acara kuis Siapa Berani ? di stasiun televisi Indosiar, 12 Maret 2002. Slogan itu tertulis di kaos dan juga mencuat sebagai lirik lagu yang kami bawakan, sebagai ekspresi kontingen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI), organisasi payung suporter sepakbola Indonesia yang turut saya bidani kelahirannya. Regu lainnya adalah kelompok suporter Aremania (Arema Malang), The Jakmania (Persija Jakarta), Pasoepati (Pelita Solo) dan Viking (Persib Bandung).

Helmy Yahya, kreator acara kuis keroyokan itu, di koran The Jakarta Post bilang bahwa acaranya yang ia pandu bersama Alya Rohali dan diikuti para penggila sepakbola ini merupakan salah satu yang terbaik. Tetapi sekaligus paling tercoreng, karena seusai kuis terjadi keributan parah, perkelahian antara dua kelompok suporter yang secara tradisional telah lama berseteru. Bahkan kemudian diikuti insiden penganiayaan berat saat itu.

Potret yang ingin saya garis bawahi ketika mengikuti kuis itu adalah suasana yang khas televisi : kentalnya rekayasa agar semua hal yang tersaji di layar nampak meriah, heboh, ceria, menggembirakan. Ketika Anda dan kawan-kawan nampak melempem, maka akan ada petugas televisi yang berusaha “membakar” Anda untuk kembali bergairah. Bagaimana kalau teknik rekayasa semacam ini juga dicangkokkan dalam acara komedi di televisi ?


Komedi-komedi kita yang sesat. Rekayasa yang sangat kental itulah yang sekarang tersaji dalam acara komedi di televisi kita. Saya mendapatkan pencerahan akan bahaya rekayasa tersebut dari teman diskusi saya di dunia maya, Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati. Dalam emailnya (20/7/2007) Isman menulis :

“Pada dasarnya, kalau kita sekadar mengandalkan umpan balik penonton untuk menilai apakah komedi itu baik atau buruk, kita akan tersesat. Seperti menanyakan jalan keluar kota kepada orang yang tidak pernah keluar rumah. Extravaganza (acara komedi sketsa di TransTV-BH) masih terjebak pada hal itu. Karena ditayangkan di hadapan penonton asli, hal yang memancing gelak tawa penonton di panggung dianggap (sebagai) formula keberhasilan.

Padahal seperti diamati produser Chuck Barris (yang menciptakan Gong Show dan The Dating Game), perilaku penonton panggung dan penonton TV jauh berbeda. Saya menunggu sketsa komedi Indonesia yang dimainkan tanpa penonton. Seperti yang dirintis Monty Python. Atau jangan-jangan untuk itu harus seperti kru Monty Python sendiri, terdiri dari lulusan universitas dan magister dulu? “

Isman mungkin harus rela menunggu waktu yang teramat panjang agar harapannya yang positif dan ideal itu bisa direalisasikan. Karena para mahasiswa kita yang entah kena suntik borax, formalin atau dicekoki nitrous oxide atau laughing gas, nyatanya lontaran kalimat yang selalu berulang seperti “gitu saja kok repot” atau “piss, man” ternyata sudah mampu menggelegarkan tawa kompak mereka saat menjadi bagian siaran di televisi.

Begitulah kiranya, televisi itu memang subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Begitulah, televisi menyentuh emosi daripada intelek. Termasuk intelektual para mahasiswa kita yang kemudian seperti tumpul karenanya. Kita tunggu saja Isman, siapa tahu sesudah mereka lulus dan juga menempuh magister, akan mampu mendongkrak selera humor mereka jadi lebih meningkat. Walau jangan terlalu optimistis.


Kembali ke Prof. Sudjoko almarhum.

Ketika mengikuti kontes Mandom Resolution Award 2004, saya berkenalan dengan peserta lain, seorang desainer produk, Bambang Kartono Kurniawan (BKK). Asal Jepara. Sambil ngobrol di kamarnya, di Hotel Borobudur, sebelum kami menghadapi dewan juri Sarlito Wirawan Sarwono, Tika Bisono dan Maria Hartiningsih, saya baru tahu dirinya masih memiliki hubungan keluarga dengan Dr. Sudjoko dari ITB itu. Ketika beliau meninggal dunia, saya mendapatkan tembusan isi milis dari BKK yang ditulis para mantan mahasiswanya. Salah satu milis itu ditulis Susiawan (Toronto, Canada), tertanggal 27 Agustus 2006. Isinya antara lain :

Pak Djoko memang suka tak suka harus mengarus dari tanah seberang, namun ketika beliau sudah kukuh sebagai pengajar senior di SR-ITB, saya pribadi sebagai mahasiswa 'bengal saat itu (terutama di periode 1978-1982an) merasakan bahwa beliaulah satu-satunya dosen yang selalu lantang mengkritisi kualitas pendidikan dan sikap mahasiswa-mahasiswanya. Tentu saja beliau disegani bahkan ditakuti banyak mahasiswanya, tapi tak termasuk saya. Setelah beliau, Alm. Prof.Mochtar Apin dan Alm. Dr.Sanento Yuliman merupakan mentor-mentor terbaik saya. Sewaktu saya menjabat Presiden KMSR…pernah terlibat diskusi, ‘ini diskusi antara Susiawan dan Sudjoko, titik !’ tandasnya serius.

Bahkan dengan beliau, kami sempat membahas coretan-coretan iseng mahasiswa-mahasiswa di kamar kecil SR-ITB. Yang mengesankan ketika beliau secara khusus mengkritisi coretan mahasiswa yang berbunyi "Merdeka tapi bingung", "Lapar menyebabkan Perang, Perang menyebabkan Kelaparan", lalu ada yang menjawab "Lapar dan Perang dibuat-buat !" Ditimpa dengan coretan "Siapa dong yang kenyang ?". Ha ha ha ha...menggelikan sekali, kadang-kadang saya terbahak-bahak sambil kencing !

Beliau heran, setiap tembok WC itu diputihkan kembali, esoknya tumbuh coretan-coretan lagi hingga penuh ! Beberapa teman sampai-sampai ketagihan ke WC hanya ingin baca 'pemikiran-pemikiran baru' itu. "Ada yang baru nggak ?" Bahkan di 'edisi 1978' tembok WC itu penuh coretan-coretan yang politis.

Dilain pihak, pak Djoko heran dan bertanya-tanya dengan sinis "Mengapa WC itu penuh dengan coretan-coretan yang kadang sangat cerdas atau filosofis, tapi rata-rata tulisan mahasiswa di skripsi mereka kosong gagasan-gagasan baru ?" "Kalau diformalisir mereka jadi 'gagu', tapi kalau 'lepas pengawasan' justru banyak yang menunjukkan kualitasnya," tambahnya. Itu kata-kata beliau yang tak mudah saya lupakan. Entah, mengapa beliau menyempatkan diri ke WC mahasiswa sambil baca 'buku tembok itu ?

Terima kasih, Mas Susiawan.
Selamat jalan, Pak Djoko.

Kalau saja saya tinggal di Bandung, rasanya saya akan ikut kepingin menikmati isi “buku tembok” WC kampus ITB saat itu. Adik saya juga belum mengirimkan hasil pemotretannya. Ataukah mungkin tembok WC ITB itu kini sudah diputihkan sehingga steril dengan gagasan-gagasan baru ?

Saya yakin, isi tembok WC yang dilukiskan oleh Susiawan itu jauh lebih inspiratif dan humoristis daripada lelucon yang membuat gerombolan demi gerombolan mahasiswa kita ibarat useful idiot yang gagu isi kepalanya, yang bangga memakai jaket alma maternya, tetapi riuh rendah tertawa-tawa hanya dicekoki sajian low comedy yang mekanistis, repetitif sekaligus dangkal, di pelbagai acara televisi kita selama ini.

Tanya kenapa !



Wonogiri, 12/8-9/9/2007


ke

Thursday, July 26, 2007

Melawak Menari Bersama Tengkorak

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com





Anti Siksa Neraka. Banyak orang Indonesia suka ngomong, tetapi benci menulis. Bisa dimaklumi, karena jarak antara otak dengan mulut lebih pendek dibanding jarak otak dengan jari-jemari yang mampu bergerak untuk menulis.

Menulis memang sulit.

Tidak ayal bila seorang Jessamyn West, seperti dikutip Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang diterjemahkan dengan judul Berani Berekspresi (MLC, 2004), menegaskan bahwa, “menulis itu begitu sulit sehingga saya sering merasa bahwa para penulis, karena sudah merasakan neraka dunia, akan terbebas dari semua siksa di akhirat nanti.”

Simpati diri para penulis di atas memang boleh disebut berlebihan. Tetapi menulis memang sulit. Apalagi menulis lawakan. Saya suka mengutip berkali-kali perkataan almarhum Dono Warkop (Kompas, 22/3/1996) ketika mengeluhkan tiadanya penulis–penulis naskah komedi yang dapat meringankan bebannya.

“Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja setengah mati. Kondisi lawak di Indonesia saat ini : ia adalah pemikir, penulis, penampil, sekaligus pengurus keuangan....Bagaimana mau selalu prima ?” cetusnya. Padahal kita tahu, Dono adalah juga seorang kolumnis dan novelis.

Merujuk realitas di atas, dan untuk mencoba ikut serta mengatasi keluhan yang diutarakan Dono di atas, saya pernah kirim surat kepada sobatnya yang sama-sama di Warkop DKI, Indro, yang saat itu baru terpilih sebagai Ketua Umum PASKI. Saya usulkan agar dalam program kerja PASKI itu diadakan pelatihan menulis komedi, comedy writing, sokur-sokur bila mampu mendatangkan mentor dari luar negeri. Mungkin surat saya itu tidak sampai, karena tak ada balasan dari Ketua Umum PASKI itu. Atau memang organisasi ini kini sudah bangkrut, mati suri, jadi tak mampu membeli kertas dan perangko balasan.


Monumen Komedian. Mengobrolkan tentang pentingnya comedy writing, tentu komunitas komedi Indonesia tidak bisa melupakan kiprah sosok Arwah Setiawan. Bagi saya, beliau adalah seorang thinker dan doer raksasa bagi dunia komedi Indonesia yang sampai sekarang sulit dicarikan penggantinya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

BALAI BUDAYA, JAKARTA. Dalam pameran kartun karya anak-anak Brigade Kelompok Kecil dari Wonogiri asuhan Mayor Haristanto di Balai Budaya Jakarta, 2 September 1982, mempertemukan aktivis dan pencinta dunia komedi Indonesia. Dari kanan, Jaya Suprana, Tris Sakeh (kartunis), Suyadi Pak Raden, tak dikenal, Arwah Setiawan dan Bambang Haryanto.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

BERSAMA PAK RADEN. Kartunis cilik asal Wonogiri, Basnendar Heriprilosadoso, bersama Suyadi yang terkenal sebagai Pak Raden, mengamati kartun karyanya yang ikut dipamerkan.


Sebagai sedikit pengakuan pribadi, ketika Arwah Setiawan masih hidup, kok saya merasa belum ketiban pulung atau wangsit, terpanggil untuk bisa dekat-dekat dengan beliau sehingga mampu menyerap khasanah ilmu komedinya yang kaya, ketika Mas Arwah Setiawan berkiprah dalam Lembaga Humor Indonesia. Untunglah, antara lain lewat bukunya yang berjudul Humor Jaman Edan (Grasindo, 1977), saya masih bisa mendapatkan warisannya. Tepat kiranya ungkap Thomas Fuller (1654–1734), seorang dokter dan penulis Inggris, yang berujar bahwa monumen yang abadi adalah monumen yang terbuat dari kertas. Alias berwujud buku, yang isinya mampu diwariskan dari generasi ke generasi.


Tetapi bagaimana dengan almarhum Taufik Savalas atau Toto Asmuni, yang baru saja meninggalkan kita ? Keduanya meninggalkan kita, sepertinya belum sempat mewariskan catatan-catatan pribadinya berisi pengetahuan selama berkarier sebagai komedian. Semoga nanti akan ada penulis yang tergerak untuk melakukannya. Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati, dalam emailnya (21/7/2007) kepada saya menulis :

“Kepergian almarhum Taufik Savalas yang tiba-tiba saya rasa merupakan kerugian besar bagi dunia komedi kita. Walaupun tidak berhasil dengan baik, rintisan dia sebagai komedi solo itu seharusnya menghasilkan pengetahuan, lessons learnt, tentang mengapa Comedy Club (acara Taufik Savalas berkomedi solo di TransTV) itu gagal. Itu dikombinasikan dengan pengalaman beliau dalam tampil di depan umum dapat menjadi kontribusi yang sangat penting bagi (calon) komedian solo berikutnya. Sayang sekali pengetahuan itu hilang tiba-tiba. Salah satu kekurangan komedi Indonesia mungkin memang di manajemen pengetahuannya, Mas.”

(Thanks, saya setuju, Isman).


IdeaVirus ! Istilah manajemen pengetahuan atau knowledge management dalam dunia komedi kita pasti terasa sebagai istilah asing. Saya mendengar pertama kali istilah itu dari Tika Bisono dan Mas Ito (Sarlito Wirawan Sarwono) tatkala mengikuti Mandom Resolution Award 2004 di Jakarta. Keduanya, ditambah Maria Hartiningsih yang wartawan senior Kompas, menjadi juri saat saya sebagai peserta kontes menjual gagasan blog sebagai sarana kaum epistoholik dalam mendokumentasikan dan berbagi wawasan, kearifan dan ilmu pengetahuan untuk menjadi salah satu pilar kehidupan berdemokrasi.

Melissie Clemmons Rumizen, Ph.D., Knowledge Strategist dari Buckman Labs dalam bukunya The Complete Idiot's Guide to Knowledge Management (Penguin Putnam, 2001), ringkasnya membeberkan aplikasi manajemen ilmu pengetahuan yang antara lain berupa kiat-kiat berbagi informasi antarkolega sehingga perusahaan tempat mereka bekerja mampu meraih keberhasilan. Manajemen ilmu pengetahuan, salah satu intinya memang berbagi.

Sayangnya, mungkin saya keliru, saling berbagi itulah yang justru nampak disingkiri oleh warga komunitas komedi kita selama ini. Karena kebanyakan mereka, mungkin kecuali Butet Kertarajasa, Kelik Pelipur Lara atau pun Effendi Gazali, memang tidak hidup dalam tradisi budaya menulis. Saya sebenarnya menaruh harapan kepada Tamara Geraldine, bukan Ulfa Dwiyati, sebagai komediene. Karena Tamara terbiasa menulis dan tidak segan-segan di panggung ketika sebagai pembawa acara sering mengejutkan ketika meledeki dirinya sendiri.

Selebihnya, mayoritas warga komunitas komedi kita berbagi informasi secara lisan. “Taufik memberi banyak ilmu bagaimana tetap bertahan dan stabil, tak kehabisan ide,” tutur artis Melly Zamri yang belajar bagaimana bisa survive dalam dunia entertainment dari Taufik Savalas seperti dikutip Kompas (13/7/2007).

Ilmu yang dibagikan Taufik Savalas di atas bersifat pribadi. Mirip ilmu dukun. Memiliki jangkauan diseminasi yang terbatas. Apalagi bila dibandingkan dengan aksi berbagi informasi di media maya, seperti melalui blog ini, yang berpotensi menjadi ideavirus (“makasih, Seth Godin !”) karena mudahnya untuk dibagi dan disebarluaskan secara instan ke seluruh dunia.


Intel Melayu Lawakan. Ada ilustrasi lain yang menarik tentang potret dunia komedi kita. Adalah tulisan H. Sujiwo Tejo dan Efix Mulyadi yang menurut saya merupakan wartawan terbaik Kompas dalam membahas dunia komedi, dalam artikel berjudul “Jiplak-menjiplak Dalam Lawakan” (Kompas, 30/10/1994). Sekarang, tak mudah ditemui tulisan dalam koran yang sama yang memiliki frekuensi, variasi dan kedalaman minat dalam mengupas pernak-pernik dunia komedi kita dewasa ini.


Artikel tersebut, yang juga bisa sebagai nostalgia bagi kita untuk mengenang lawakan tempo dulu, antara lain mengangkat tuduhan jiplak-menjiplak antarkelompok lawak di Indonesia. Misalnya, Warkop DKI (Warung Kopi Dono Kasino Indro) menurut Darto Helm dari eks kelompok Bagio CS, pernah meniru lawakan mereka tentang marga orang Batak.

“Waktu itu kami pentas di Taman Ismail Marzuki. Karena di Teater Terbuka, hawanya dingin. Diran bilang, wah, hawanya Siregar. Saya sahut, rasanya jadi berjalan di Tobing-Tobing. Sol Saleh menyahut, hati-hati, jangan sampai celana sobek, nanti ke Panjahitan,” kata Darto Helm. Diran dan Sol Saleh anggota Bagio CS. Kata Darto, almarhum Nanu dari Warkop telah meminta maaf untuk itu. Sebaliknya, Dono Warkop DKI yang mengatakan bahwa sulit bagi pelawak mengklaim sebagai yang pertama mengangkat suatu lawakan, juga sering diambil gaya lawakannya.

Misalnya Us Us mengaku pernah mengambil gaya Warkop DKI, yakni dalam hal pembelokan logika berpidato. Qomar dari Empat Sekawan malah mengaku sebagai “fotokopi yang baik dari Bagio CS dan Srimulat,” terutama pada awal kariernya bersama Tom Tam. Deddy (Mi’ing) Gumelar dari Bagito dituding oleh beberapa pihak sebagai peniru Srimulat, terutama pad acara rutin televisinya Ba-sho. “Mungkin secara kebetulan saja, karena Unang (anggota Bagito) sering berpakaian Jawa,” kata Mi’ing.

Silang-sengkarut tentang jiplak-menjiplak itu sampai membuat Dono dalam kehidupan sehari-hari di luar panggung, memilih tidak melawak. Mi’ing juga serius di luar panggung. Qomar kadang-kadang melucu, meski pun menurut consensus Empat sekawan, tidak boleh membawakan rencana lawakan panggung dalam pergaulan sehari-hari.

“Saya kalau lagi manggung dan melihat ada pelawak menonton, langsung mengambil langkah pencegahan. Yaitu tidak mengeluarkan lawakan yang hebat. Saya tahu mereka datang untuk ‘berbelanja’, menghafal penampilan, bahkan ada yang merekam dengan kaset,” kata Darto Helm. Kadang-kadang bukan pelawak yang datang. Meminjam istilah Qomar, yang datang adalah “intel-intel” pelawak yang biasanya wajahnya tidak asing bagi pelawak.


Memandang keruwetan dalam dunia lawak ini, akhirnya Dono dan Mi’ing sependapat bahwa biarlah lawakan dijiplak oleh pelawak lain. Biar saja, toh cara pembawaan seperti irama dan muatan pesannya pasti berbeda.

Keputusan yang bijak, terutama karena sistem manajemen ilmu pengetahuan kita, termasuk karya-karya lawakan, katakanlah belum secanggih di Amerika Serikat. Di AS ada lembaga yang disebut The Writers Guild yang bertugas mengarsip dan melindungi karya cipta seseorang, meliputi skrip, sinopsis, treatment, outline, sampai gagasan tertulis yang khusus sebagai materi produksi untuk radio, televisi, teater, film, video dan media interaktif.


Dampak Komedi Keroyokan. Artikel Kompas 13 tahun lalu itu menghadirkan potret betapa dunia lawak kita adalah dunia keroyokan. Apa pun nama kelompok mereka, sepertinya sulit dicari apa yang mampu membedakan karakter lawakan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Dalam kerumunan sulit memunculkan kepribadian. Lawakan pria dengan berdandan sebagai perempuan, bukankah sudah ada sejak Mama Henky, Esther, dan terus saja lestari dipanggungkan kelompok Tora Sudiro dkk yang hura-hura di ExtraVaganza dewasa ini ?

Pelawak-pelawak “tanpa kepribadian” itu boleh jadi terjun berprofesi sebagai pelawak mungkin akibat kebetulan. Karena dikejar-kejar harimau luar, yang menurut istilah sastrawan dan dramawan Putu Wijaya, adalah kebutuhan perut. Tataran paling bawah dari hirarki kebutuhan manusia menurut piramidanya Abraham Maslow. Bukan dikejar oleh harimau dalam, yaitu dorongan tertinggi manusia untuk aktualisasi diri.

Mereka masuk begitu saja, tanpa didahului oleh semacam soul searching, perjalanan ke dalam untuk melongok dirinya sendiri, guna menemukan jati diri, persona, yang istimewa dan unik di tengah dunia ini.

Padahal kita tahu, keharusan melakukan self-assesment di atas itu berlaku untuk semua profesi. Kalau Anda pernah menempuh kuliah di Amerika Serikat, Anda mau tak mau “diharuskan” membaca bukunya Richard Nelson Bolles sebelum memutuskan berburu pekerjaan selepas wisuda. Dalam buku berjudul What Color Is Your Parachute ? : A Practical Manual for Job-Hunters & Career Changers (Ten Speed Press, Tahunan) ini, Anda akan di-drill dengan sejumlah tes dan pertanyaan guna menguak keterampilan apa saja yang Anda miliki dan juga menyenangkan bagi Anda ketika menggunakannya.

Dalam Anda menjawab, Anda harus menuliskannya !

Dalam dunia komedian, ketahuilah bahwa jago improvisasi sekaliber Robin Wiliams pun pertama kali harus pula menulis leluconnya sendiri. Kalau Anda masih bingung bagaimana memperoleh materi lelucon itu, jawabannya tergantung dari jenis komedi yang hendak Anda terjuni. Tetapi langkah universal yang utama adalah : longokilah dalam diri pribadi Anda sendiri.

Kembali mengutip isi buku menariknya Susan Shaughnessy yang kali ini memajang ucapan Carolyn MacKenzie. Ia berkata, kalau Anda punya kerangka manusia di dalam lemari Anda, keluarkanlah, dan menarilah bersamanya. Begitulah, penulis dan juga pelawak sejati, berani menari bersama tulang kerangka, kerangka mereka sendiri.

Kerangka manusia tersebut adalah hal yang paling Anda hindari untuk dituliskan atau diceritakan, seperti rasa malu yang membuat Anda bergidik dan menciut. Tetapi pada akhirnya hal itu akan muncul juga dalam tulisan dan juga dalam lawakan Anda. Mengapa ? Karena di sanalah energi jiwa Anda tertimbun. Dengan menuliskannya, Anda meratakannya. Energi itu akan mengalir dalam tulisan dan lawakan Anda, dan membuatnya hidup.

Anda pernah menonton tayangan talkshownya Oprah Winfrey ? Setiap tamu yang hadir senantiasa membawa tulang kerangkanya sendiri. Mereka rela dan berani mengeluarkannya dari dalam peti atau almarinya pribadi, kemudian mereka ajak tengkoraknya itu untuk menari dan berdansa di muka dunia.

Tawa yang hadir dari sana, atau lelehan air mata, semata membuat diri kita merasa sebagai manusia. Bukan robot atau useful idiot yang patuh terhadap komando untuk tertawa-tawa kosong dan hampa, dalam acara komedi atau talkshow dengan host orang-orang yang sok lucu di pelbagai televisi kita.


Wonogiri, 26/7/2007


ke





Tuesday, July 03, 2007

Joker, Writer, Blogger !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Komedian Meniti Bahaya. Diskusi tentang lawak itu terkirim dari Salzburg, Austria, akhir Mei 2007. Pengirimnya Agung Pramono, warga Wonogiri yang kini tinggal di Jakarta dan biasa keliling dunia. Beberapa bulan lalu ia kirim lelucon dari Pattaya, Thailand. Juga cerita tentang acara komedi Gags sampai Just for Laugh yang sering ia tonton dari tayangan televisi di Kanada.

Obrolan dari Salzburg itu langsung mengingatkan saya akan nomor Musical Joke, karya komposer jenius kelahiran Salzburg. Ia sering disebut sebagai darling of the world, yang tidak lain adalah Wolfgang Amadeus Mozart. Dalam film Amadeus (1984) yang menyabet 8 Oscar garapan Milos Forman, Mozart digambarkan memiliki selera humor cabul dan vulgar.

”Forgive me, Majesty. I am a vulgar man! But I assure you, my music is not,” begitu akunya kepada Kaisar Josef II. Pada nomor karyanya Musical Joke itu kita dapat membuktikan ucapannya

Pada awalnya Anda akan dibelai oleh harmoni dua french horn berpadu dengan empat alat musik gesek yang indah. Tetapi kemudian tiba-tiba Anda digerojok alunan musik liar, edan-edanan, chaotic, yang menggelitik kita untuk tertawa.

Karya Mozart yang tanggal lahirnya sama dengan Jaya Suprana, 27 Januari, dan sama pula dengan Hari Epistoholik Indonesia yang saya deklarasikan dua tahun lalu di acara HUT MURI ke-15 di Semarang, harus saya dengarkan berkali-kali. Terus terang, mencoba menikmati lelucon dari musik klasik, ternyata memang tidak mudah. Sama halnya, kita semua tahu, bahwa mengkreasi lelucon yang bermutu juga tidak mudah.

Agung Pramono, alumnus ITB, dalam emailnya itu menyatakan apriori terhadap perkembangan lawak di Indonesia. Menurutnya, isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan) merupakan musuh dari kreatifitas pelawak. Belum lagi isu SAMPAH (Sex, Anatomi, Moral, Partai, Adat dan Humanisme), menurutnya lagi, adalah pula mimpi buruk bila kaum lucu itu bertindak “kebablasan” dalam meledakkan lawakan-lawakan mereka.

Saya bisa memahami kerisauannya. Kelompok lawak Bagito, sebagai contoh, pernah terperosok ke dalam tong SAMPAH ketika mereka melucukan kekurangan yang bersifat “anatomi” dari seorang Gus Dur. Gus Durnya sendiri, sebagai humoris sejati (“siapa yang punya rekaman acara Kongkow Bareng Gus Dur, Radio 68H, 24 Juni 2007 yang bertopik lawakan vs keberingasan dalam Islam ?”), tidak apa-apa. Tetapi para pendukungnya, yang tidak memiliki selera humor setinggi Gus Dur, saat itu langsung menjadi berang beramai-ramai.

Mungkin saya salah, tetapi sejak insiden “lelucon anatomi” itu meletup pamor Bagito pun meredup. Mereka mungkin trauma, lalu melakukan sensor diri sendiri, sehingga ketajamanan leluconnya yang lain pun pelan tetapi pasti tergerus habis daya ledaknya. Sementara itu lelucon yang menjurus ke seks dan diskriminasi jender seperti saya tulis sebelumnya, telah membuat tayangan Chatting di TPI dan Empat Mata-nya Tukul Arwana di Trans7 mendapat somasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.

Begitulah, melucukan dan melecehkan kadang batasnya memang tipis sekali. Justru itu, menurut saya, di situlah tantangan yang menarik dan sangat unik bagi seorang komedian. Mereka ibarat atlet akrobat yang berani meniti tali di atas ketinggian. Atau berjalan dan menari di atas sisi keping tajam pisau silet raksasa. Humor always plays very close to the hot fire of truth. Hidup komedian selalu dalam bahaya. Tetapi sebagaimana ciri komedian sejati yang memiliki kejujuran dan keberanian, terutama dalam mengolok kekurangan dirinya sendiri, pengalaman dan tantangan semacam itu bahkan kemudian ibarat candu bagi mereka.


Komedian Itu Komando. Billy Crystal pernah menegaskan bahwa sebagian besar komedian adalah sosok orang-orang pemalu yang menggunakan panggung untuk mengalahkan rasa takutnya terhadap orang lain. Komedian solo perempuan terkenal Joan Rivers bertutur, “My routines come out of total unhappiness. My audiences are my group therapy.”

Dengan melawak Joan Rivers mengharapkan rasa tidak bahagianya yang kronis itu menjadi tersembuhkan ketika dirinya berbaur di tengah penontonnya. Louie Anderson memberi garis bawah : “Komedi sejati adalah kemampuan dan keberanian Anda untuk membuka diri sehingga audiens dapat melongoki isinya dan percaya mereka tidak akan mencoba menyakiti Anda.”

Komedian seperti Joan Rivers atau Louie Anderson, memang ibarat anggota pasukan komando. Dirinya berani berperang sendirian. Selain untuk menaklukkan rasa takut pada dirinya sendiri, sekaligus berjuang mengalahkan hujan bom dan berusaha membunuh belasan sampai ratusan pengunjung pentasnya.

Anda jangan merasa serem dulu. Harap Anda maklum, istilah bom dalam dunia komedi adalah slang untuk cemoohan penonton yang tidak puas terhadap lawakannya. Sementara membunuh adalah lawakan yang mampu mengundang gelegar tawa.

Mungkin seperti sosok Arnold Schwarzenegger dalam film Commando, komedian dituntut memiliki amunisi dan trik yang banyak, juga selalu baru, dalam melawak. Dan sebagaimana anjuran dari para pelawak terkenal dan mentor pelawak yang mumpuni, kepemilikan amunisi dan trik-trik lawakan itu harus dimulai dari aktivitas menulis. Komedian Jerry Seinfeld memberi nasehat : “Menulislah (lelucon) hingga tanganmu terasa sakit !”


Mengapa menulis ? Karena menurut Mark Rutherford, dalam diri setiap orang ada sebuah mata air yang terus menyemburkan kehidupan, energi, cinta, apa pun sebutan yang Anda berikan padanya. Mata air apa yang menyembur dari dalam diri Anda ? Menulis merupakan cara yang baik untuk menyalurkannya.

Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang diterjemahkan (“menurut saya menjadi lebih jelek”) dengan judul Berani Berekspresi (MLC, 2004), menegaskan bahwa dengan menulis penulis (mampu) menangkap hal-hal yang tidak teramati oleh orang lain. Penulis menangkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi.

Penulis kemudian menariknya dari sudut remang-remang tempat kebenaran itu suka bersembunyi, membawanya ke tempat terang, menangkapnya ketika mereka sedang mengawang terbang. Di bagian lain juga ia tegaskan, “jika Anda punya kejujuran diri yang mendasar, Anda kemudian akan menulis. Anda akan melaksanakan kegiatan yang Anda kaitkan dengan jati diri Anda yang paling dalam.”

Pelawak juga memiliki landasan eksistensi yang sama : dirinya melawak untuk mengekspresikan sisi relung terdalam dari dirinya sebagai manusia. Ia pun memiliki misi mulia seperti halnya penulis, untuk berani mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi.

Sekadar contoh, simak ledekan Jay Leno berikut ini : “Walikota New York Michael Bloomberg memutuskan keluar dari Partai Republik dan menjadi independen. Ia bilang tidak memiliki rencana untuk jadi presiden. Sekarang jangan campur adukkan perkataan dia dengan Presiden Bush, yaitu seseorang yang tidak memiliki rencana sebagai presiden.”

Ketika Bush diam-diam berkunjung ke Baghdad, David Letterman berkomentar : “Saya pikir ini menarik sebagai perbandingan. Presiden Bush secara diam-diam mengendap ke Baghdad dan tidak seorang pun tahu. Sebaliknya Bill Clinton, ketika ia mengendap pegawai magang Gedung Putih (Monica Lewinsky-BH), semua orang justru tahu tentangnya.”

Lengsernya Tony Blair juga menjadi bahan olok-olokan komedian Conan O’Brien : “Perdana Menteri Tony Blair dari Inggris baru saja mengumumkan diri akan lengser dalam waktu dekat, yang berarti Presiden Bush akan kehilangan sekutu terdekatnya dalam urusan luar negeri. Bush merasa sedih dan berkata, ‘Kini pemimpin asing yang saya percayai adalah Arnold Schwarzenegger.’”

Masih tentang Bush, Bill Maher mengolok kualitasnya yang terkenal sebagai presiden “dungu” : “Majalah TIME baru saja menerbitkan Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh Di Dunia dan Presiden Bush tidak masuk di dalamnya. Ia pun marah. Ia menghentikan langganan dan berhenti dari kursus privat membaca.”

Lalu adakah hubungan antara politikus dan kriminalitas ?

“Kelompok lembaga konsumen menegaskan harus tersedianya kolom isian dalam kartu suara untuk memastikan bahwa pajak yang tersalur digunakan untuk memerangi kriminalitas dan bukan mengalir ke kantong para calon presiden. Saya pikir ini ide hebat. Yang saya maksudkan, setiap kali Anda menarik uang Anda dari kantong politikus, berarti Anda memerangi kriminalitas, bukan ?,” kata Jay Leno.


Sekolah Lawak di Indonesia. Selain email dari Salzburg di atas, diskusi mengenai lanskap komedi Indonesia dewasa ini juga dipicu oleh email yang saya terima dari Tri Agus S. Siswowiharjo (17/6/2007) dari Depok. Sebagai aktivis LSM, penulis lepas dan kegemarannya terhadap humor, ia telah menghasilkan buku antara lain Mati Ketawa Cara Timor Leste (2001) dengan kata pengantar Xanana Gusmao, GAM: Gerr Aceh Merdeka (2003), Humor Pemilu 2004 (2004), dan Senyum Dikulum, Tsunami (2005).

Prestasi yang hebat. Saya balas emailnya, antara lain : “saya salut untuk telah terbitnya beberapa buku kumpulan humor Anda. Melihat topik dan judulnya, sungguh bikin iri (bukan dengki) karena Anda telah mengetahui jeroan orang Aceh sampai Timor Timur dalam bingkai humor. Kalau Clemence Dane pernah bilang bahwa “make us laugh and you can pick all pockets,” maka bayangkan betapa banyak kantong orang Aceh dan Timor Timur yang berpotensi untuk bebas Anda “gogohi” selama ini ?

Diskusi email Depok-Wonogiri ini meningkat ke topik menarik. Yaitu tentang cita-cita Tri Agus dan juga cita-cita tokoh pemerhati dan penulis humor Darminto M. Soedarmo, di mana keduanya sama-sama ingin mendirikan sekolah atau kursus pelawak. Ungkapnya, “Dia (Darminto M. Soedarmo) bilang semuanya sudah siap. Cuma ada gak orang gila (investor) yang mau membiayai. Saya bilang, tak perlu harus gila, cukup setengah gila untuk mewujudkan gagasan itu. Mengapa banyak kursus menyanyi, presenter, kepribadian dan lain-lain bisa eksis, sementara komedi/lawak tak ?”

Cita-cita bagus itu tentu saja saya dukung. “Terima kasih untuk obrolan tentang cita-cita Anda dan Mas Darminto untuk membangun kursus lawak. Tetapi ketika mendengar harus ada uang milyaran, waduh, saya ikut keder. Apa engga modal dengkul saja, yaitu reputasi Anda, lalu kerjasama menyewa ruko atau rumah dengan bagi hasil, lalu berdirilah kursus itu. Simpel tapi mungkin gak simpel ya ? Sori, ini logika made in Wonogiri.

Hal lain, boleh dianggap serius atau guyon : kalau saya jadi pengelola kursus, semua siswa saya harus menjadi blogger dulu. Karena semua komedian, menurut saya, harus menjadi penulis dulu. Persyaratan semacam ini yang mungkin akan membuat banyak dari mereka pikir-pikir atau bahkan mundur ya ?”

Obrolan dengan topik yang sama, sebelumnya telah pula saya kirimkan kepada Agung Pramono. Antara lain saya tuliskan : “Email Agung dari Salzburg itu, terkait aspirasi tentang dunia komedi, mengingatkan saya cerita dari bukunya Aribowo Prijosaksono dan Marlan Mardianto, Self-Management : 12 Langkah Manajemen Diri : Guru Terbaik Sekaligus Musuh Terbesar Manusia (Elex Media Komputindo, 2002).

Aribowo itu kakaknya musikus Piyu/Padi. Aribowo menceritakan seorang temannya, sama-sama alumnus IPB, tetapi si teman itu kini sudah jadi doktor dengan spesialisasi keuangan. Si doktor ini punya cita-cita terpendam, yaitu ingin jadi : komedian solo, alias stand up comedian !

Karena di tv kita sampai saat ini belum ada kabar adanya komedian solo yang bergelar doktor, maka sampai kini ya kayaknya dirinya masih saja memendam ambisinya itu. Mungkin cita-cita itu sudah ia lupakan.

Cerita kecil itu mengingatkan bahwa mungkin harus ada sesuatu pulung tertentu untuk menjadi komedian. Mungkin paduan antara keberanian, kenekadan, lalu luck juga. Seperti temanmu yang manajer PT Johnson Indonesia itu, bila saja ia ketiban pulung dan jadi pelawak, mungkin ia akan menjawab lain bila mendapat pertanyaan yang sama dengan yang Agung sms-kan itu. Mungkin lho.

Sang doktor yang teman Aribowo sampai manajer PT Johnson Indonesia itu, juga bagi Agung sendiri, bila pun kini terbuka peluang untuk terjun ke dunia lawak dan prospeknya gilang-gemilang, apakah mereka dan Agung berani menerjuni “hutan belantara” yang satu ini, sekarang ini ? Mungkin itu pertanyaan berat ya ?

Yang tidak berat, dan bisa kita nikmati, bahwa apa pun profesi kita, maka pulung itu, yaitu sense of humor, merupakan aset yang berharga untuk setiap pribadi. Sokur-sokur kalau humornya itu bukan yang mengejek orang lain, tetapi mengejek (a la Gus Dur) dirinya sendiri. Dengan humor kita sukarela menunjukkan sisi-sisi rawan, vulnerable, dari diri kita sendiri. Hal ini justru berdampak magical. Orang menjadi tersentuh, dan mau mendekat kepada kita. Beda dengan lawakan jahilnya Komeng bin Spontan. Orang akan cenderung memilih menjauh, karena takut dijahilinya.

Terakhir, harta karun sense of humor kita memang tidak selalu hanya pantas diaktualisasikan semata menjadi aksi komedian solo yang tampil di panggung. Gene Perret dapat Emmy Award karena menulis naskah. Kita kan juga bisa menjadi kritikus komedi ? Menjadi sutradara, seperti Teguh Srimulat ? Menjadi pendidik calon pelawak ? Menjadi manajer ?

Yang paling saya harapkan segera, ya segera, dari Agung : luncurkan blog komedimu. Segera. Dua emailmu kepada saya, itu sudah menjadi bahan awal tulisan yang menarik. Pengalamanmu nonton sajian komedi di tv Kanada atau bahkan tv Austria, tak ada yang menyamaimu di Indonesia, kan ? Maka, PD aja, Gung, ayo tuliskan saja – apa pun pendapatmu, ungkapkan menurutmu yang terbaik tentang komedi-komedi yang telah kau tonton itu. OK ?

Kalau Agung benar-benar menyukai komedi dan Agung ingin memberikan andil perbaikan kepada komedi di Indonesia, maka bloglah yang bisa kau garap – mulai hari ini. Bukankah ini tidak menyita pekerjaan dan gajimu, bukan ? Entah, kalau hari ini kau malah telah bulat-bulat memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanmu, lalu terjun 100 persen ke dunia komedi ?”

Moga obrolan ini bermanfaat.

Salam dari anak buah mBok Bende
(sama-sama Wonogirinya),

Bambang Haryanto


Email terakhir saya ini, mengenai tuntutan saya bahwa seorang komedian harus juga seorang blogger, baik yang saya kirimkan kepada Agung Pramono mau pun Tri Agus S. Siswowiharjo, sampai saat ini belum mendapat balasan.


Wonogiri, 29/6 - 3/7/2007


ke

Thursday, May 31, 2007

Dunia Canda Kita, Dunia Tanpa Cendekia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Naskah Srimulat Yang Hilang. Tukul Arwana jangan dibandingkan dengan Richard Lewis. Tukul baru saja meluncurkan biografinya, yang ditulis oleh Ahmad Bahar. Mengapa tidak Tukul sendiri yang menulisnya ? Realitas ini menunjukkan betapa dunia komedi kita kekurangan sumber kreatif yang utama, yaitu komediwan yang juga penulis. Simak cerita terkait dengan Richard Lewis, komediwan yang juga penulis.

Komediwan Richard Lewis pernah stres berat. Seperti diwartakan US News & World Report (12/9/1988), ia stres akibat provokasi temannya yang bertanya : apa yang ia kerjakan apabila harta karun yang ia miliki, naskah-naskah lelucon yang ia tulis selama 16 tahun terakhir, terbakar bersama rumahnya ? Dengan dibumbui paranoid Lewis segera bergegas menuju kantor bank terdekat di Beverly Hills. Ia kemudian menyewa safe deposit box untuk mengamankan lebih dari 250.000 judul lelucon karyanya.

Tidak setiap komediwan seperti Richard Lewis yang memiliki perhatian tinggi terhadap karya-karya tertulis komedinya. Di Indonesia pernah terbetik kabar bahwa naskah pemanggungan lawakan Srimulat yang ditulis almarhum Teguh Srimulat, telah hilang. Bahkan kabar angin yang berhembus kemudian mewartakan bahwa ada kelompok lawak tertentu, yang saat itu lagi ngetop di televisi, diduga menjiplak naskah milik kelompok lawak Srimulat yang hilang tersebut. Kontroversi ini sepertinya belum tuntas sampai saat ini, tetapi fakta tersebut menandakan bahwa naskah komedi merupakan komoditas yang tetap saja langka, sekaligus terbengkalai di negeri kita selama ini.


Pelakon Nomor Satu ! Seorang budayawan almarhum Dr. Sudjoko dari ITB pernah menorehkan catatan tajam tentang potret dunia tulis-menulis yang terkait dengan dunia komedi kita. Pendapatnya ia tulis ketika mengantar buku karya Arwah Setiawan, Humor Jaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1977). Menurut Sudjoko, untuk memajukan dunia komedi Indonesia yang paling utama harus digenjot kreativitasnya adalah para penulis lakon. Jelas itu merupakan tantangan berat.

Karena selama ini penulis, seperti halnya sosok almarhum Arwah Setiawan, tidak pernah masuk pikiran dan bayangan bangsa kita tentang komediwan. Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah sosok-sosok pelakon, orang-orang panggung, orang tontonan. Mereka itu bukan penulis, bukan pula sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua mereka itu tidak mampu menulis.


Sambil merujuk tingginya ketidakmampuan menulis dan tingginya budaya mohbaca (istilah unik Dr. Sudjoko yang juga seorang munsyi, ahli bahasa) bangsa Indonesia, sebagai akibatnya canda bangsa ini sehari-hari dikatakannya cuman sentilan, olokan dan ejekan lepas-lepas. Agar frekuensi tawanya menjadi lebih sering, banyak olokan cuma dibuat-buat saja, tanpa ditopang oleh akal pikiran atau pun renungan. Lihatlah acara-acara lawakan di televisi kita saat ini dan betapa kritikan Sudjoko sejak sepuluh tahun lalu itu tetap tajam dan relevan. Dunia komedi kita hanya berjalan di tempat.


Arwah Setiawan (1997) ikut pula menimpali terkait pemanggungan lawakan di televisi. Ia katakan, pengelola dan pengamat televisi menyadari betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukannya tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati para pemirsa. Keberhasilan pertunjukan komedi, menurut keyakinannya, haruslah bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal.

Siapa yang masih mau mendengar pesan kedua tokoh tersebut ? Nyatanya para pengelola televisi kita selalu lebih memilih mencari pelawak-pelawak dulu. Kita jadi saksi bahwa acara reality show seperti Audisi Pelawak TPI (API) oleh stasiun televisi swasta TPI dan Meteor Kampus oleh AnTV, jelas merujuk pemahaman yang sedikit banyak melecehkan arti penting naskah komedi sebagai nyawa pemanggungan lawakan. Impian luhur dan cerdas seorang Arwah Setiawan mengenai pentingnya lomba penulisan naskah komedi, terkubur entah ada di mana.


Me Too Product. Blunder besar pengelola televisi itu bisa dimaklumi karena acara seperti API tidak lain merupakan program me too, membebek keberhasilan reality show yang lebih dulu terkenal seperti AFI (Akademi Fantasi Indosiar) atau pun Indonesia Idol-nya RCTI. Kedua program kontes untuk menemukan bintang-bintang baru tarik suara tersebut hanya dicontek mentah-mentah oleh para konseptor acara kontes lawakan. Mereka hanya mengganti pelakunya, yang semula calon penyanyi digantikan para calon pelawak. Mereka melupakan bahwa sebenarnya bernyanyi dengan melawak terdapat perbedaan mencolok, walau pun keduanya dapat sama–sama dipanggungkan di layar televisi.

Senyatanya dunia komedi tidak sama dengan dunia tarik suara. Dunia komedi memiliki tuntutan jauh lebih keras. Sebab dalam dunia tarik suara sebuah lagu dapat dan halal secara mudah diulang-ulang, dinyanyikan beragam penyanyi, dalam pelbagai kesempatan. Dalam dunia menyanyi, bakal tidak ada penonton yang berteriak melarang seseorang menyanyikan sesuatu lagu karena lagu tersebut pernah didengarnya. Tetapi dalam lawakan, pengulangan adalah pantangan. Kalau Anda di panggung melucukan sesuatu yang penonton sudah tahu, Anda terancam diteriaki tanpa ampun. Dan itu jelas bencana !

Realitas kejam ini menandakan bahwa tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan, membuatnya terasa semakin langka dalam peredaran. Apalagi materi lawakan baru begitu tampil di media akan langsung menjadi usang. Faktanya, tidak hanya materi lawakan spesifik tersebut, juga premisnya, bahkan semua lawakan yang mirip juga ikut menjadi usang karenanya. Tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan tersebut membuat banyak sekali kelompok lawak kita tidak punya nafas panjang.

Contoh aktual : ada di mana sebagian besar komediwan muda kita yang dulu pernah tampil hiruk-pikuk di ajang Audisi Pelawak TPI (API) yang baru saja merampungkan sesi ketiganya ? Sebagian besar hilang begitu cepat dan segera pula lenyap terkubur oleh waktu.

“Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja setengah mati. Kondisi lawak di Indonesia saat ini : ia adalah pemikir, penulis, penampil, sekaligus pengurus keuangan....Bagaimana mau selalu prima ?”, cetus almarhum Dono Warkop (Kompas, 22/3/1996) ketika mengeluhkan tiadanya penulis–penulis naskah komedi yang dapat meringankan bebannya. Keluhan kronis almarhun Dono yang bisa dimaklumi. Apalagi karena komedi memang seni yang rumit. Edmund Gwenn, aktor komedi Hollywood era 1940-an saat menjelang ajalnya berbisik kepada aktor Hollywood terkenal lainnya, Jack Lemmon, bahwa menuju kematian itu menyakitkan, tetapi tidak sebegitu menyakitkan dibandingkan berpentas sebagai komedian.


Komedi Ibarat Jazz ! Sementara itu Gene Perret (foto), pemenang tiga Emmy Award dalam penulisan naskah komedi yang sekaligus penulis lawakan komediwan sohor Bob Hope yang terkenal, menyatakan bahwa penulisan naskah komedi ibarat jazz dalam musik. Selain harus inovatif, sarat pemberontakan, ketimbang berlaku normal. Bahkan cenderung menghancurkan tradisi yang ada ketimbang membebeknya. Walau pun demikian, imbuh Perret, penulisan naskah komedi dapat dipelajari. Menjadi komediwan juga dapat dipelajari. Kalau kita sudi melebarkan wawasan terhadap dunia komedi di negara-negara maju, seperti di Amerika Serikat, tidak sedikit ditemui pelbagai workshop untuk calon komedian dan workshop pelatihan bagi penulis naskah-naskah komedi.


Untuk perkembangan masa depan dunia komedi kita, apalagi setelah hadirnya organisasi PASKI (Persatuan Artis Seni Komedi Indionesia), diharapkan kontes semacam API haruslah dibarengi dengan kegiatan yang bermenukan intelektualitas. Misalnya dengan menyelenggarakan workshop penulisan naskah komedi sampai kiat-kiat menjadi komediwan dengan nara sumber dari manca negara.


Terlebih lagi, di antara pelaku dunia kreativitas dan hiburan, dunia lawak kita yang paling seret atau macet memperoleh aliran darah segar dibanding dunia sineas, sulap, penulis naskah sinetron, pemusik, komik sampai kreator video klip. Di kancah tersebut telah muncul pekerja-pekerja kreatif baru, bahkan lulusan perguruan tinggi luar negeri dan memiliki komunitas dengan bangunan tradisi olah intelektual yang memadai.

Upaya pembelajaran yang lebih serius dan komprehensif dalam komunitas dunia komedi kita yang selama ini sangat terbengkalai, bahkan selama puluhan tahun ini, menunggu segera untuk direalisasikan ! (Catatan : Artikel ini pernah dimuat di majalah Gong (Yogyakarta), edisi No. 90/VIII/2007. Foto).



Wonogiri, 1 Juni 2007

ke

Thursday, May 10, 2007

Indonesian Jokes Are Not Funny

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Skeptisnya Aida. “Lelucon Indonesia itu tidak lucu. Baiklah, saya jelaskan kembali dengan cara lain : lelucon Indonesia, yang disampaikan dalam bahasa Indonesia, tidaklah lucu. Tentu saja, saya mampu berbicara dan memahami bahasa Indonesia secara baik, tetapi tetap saja saya tidak berpendapat bahwa lelucon Indonesia itu menghibur, ” demikian simpul Aida.

Mampuslah dunia komedi Indonesia.

Apakah Anda mengenal Aida ? Dia adalah lulusan Fakultas Teknik Kehutanan UGM, pernah tinggal dan belajar di pelbagai negara di Eropa, dan kini bekerja di bidang industri kehutanan. Menikah dengan ekspatriat, tinggal di Kemang, Jakarta, adalah juga sosok penulis artikel berbahasa Inggris bertopik gaya hidup, lingkungan dan gastronomi untuk media berbahasa Inggris di Indonesia dan mancanegara. Judul tulisan ini saya ambil dari kalimat pertama dalam artikelnya yang berjudul “Comedy in Blanket,” yang isinya sungguh menarik dan menggelitik.

Cerita Aida berlanjut. “Kemarin saya meriset di Internet untuk menemukan lelucon Indonesia. Saya tidak menemukan lelucon sebiji pun yang mampu menggerakkan saya untuk tertawa atau terkikik-kikik tanpa henti dengan air mata berleleran. Memang betul ada merebak air mata di mata saya, tetapi itu merupakan reaksi akibat ungkapan patetik yang saya baca di layar komputer.

Mengapa begitu sulit menemukan lelucon–lelucon lokal yang hebat ? Yang saya maksudkan adalah humor segar yang dihasilkan orang dari pelbagai lapisan masyarakat yang mencerminkan pengalaman hidup mereka sehari-hari, kata-kata cerdas yang mampu membebaskan mereka sejenak dari realitas hidup yang berat di tengah masa krisis ekonomi yang berkepanjangan ini.“

Semakin menarik ketika Aida menggolongkan empat kategori humor di Indonesia, yaitu : (1) lelucon kasar atau slapstick, (2) lelucon rasialis, (3) permainan kata dan, (4) lelucon intelektual.

Lelucon slapstick, menurutnya, sering muncul di TV lokal. Dalam tayangan komedi Bajaj Bajuri, sebagai contoh, munculnya adegan orang terjengkang dari kursi atau bayi yang muntah dianggap sebagai lelucon paling lucu. Lelucon rasialis merupakan tipe favorit kedua di Indonesia, di mana sering memunculkan orang Indonesia bukan keturunan etnis Cina tetapi berdandan pakaian tradisional Cina dengan bahasa beraksen Cina yang berlebihan. Atau orang non-Batak menyerocos dengan kata-kata yang kental beraksen Batak. Juga sering muncul di televisi dan mengudara lewat radio, permainan kata-kata dari etnis tertentu tetapi tidak ditujukan sebagai lelucon rasialis, melainkan digunakan untuk propaganda demi menjaga keutuhan integrasi bangsa. Sementara itu lelucon intelektual, menurutnya, merupakan lelucon yang paling sedikit eksistensinya di Indonesia.


Low comedy. Paparan Aida yang menarik di atas dan kita tidak usah menjadi seorang intelektual humor sekaliber almarhum Arwah Setiawan, kita segera menyetujui pendapat Aida betapa lanskap dunia lelucon Indonesia didominasi oleh apa yang disebut Encyclopedia Brittanica sebagai low comedy, komedi kelas rendah. Yaitu hiburan berwujud drama atau literasi yang tidak ada tujuan pokok kecuali hanya untuk menimbulkan tawa dengan bualan, lelucon hiruk-pikuk, mabuk-mabukan, pertengkaran, badut-badutan dan aksi-aksi gaduh lainnya.

Mungkin memang lelucon low comedy semacam itulah yang dibutuhkan oleh sebagian besar kita. Sebagai ilustrasi, adalah artikel menarik dari Aulia Muhammad, wartawan harian Suara Merdeka, ketika meresensi acara talkshow Empat Mata-nya Tukul Arwana. Ia menyoroti antara lain tentang “tipikalitas” Tukul yang nyaris terjebak dalam rutinitas.

“Gestur, umpatan, salah ucap (dari Tukul) semua jadi terasa memesona, dan menjual. Dan memang begitulah pada mulanya. Seluruh tipikalitas Tukul itu memang membuat perut berguncang. Tapi, ketika Empat Mata tayang nyaris setiap malam, kelucuan rutin itu menjadi terasa ‘menyedihkan,’”demikian tulis Aulia.

Sebabnya satu, Tukul terpancang pada idiomatikal itu-itu saja. Yang lahir kemudian hanya semacam perulangan dari adegan di malam-malam sebelumnya. Nyaris tak ada kreasi, bahkan ketika yang hadir adalah tamu dengan karakter yang sangat berbeda. Tukul tak mampu bermetamorfosa Semesta gelak yang kemudian lahir tak lebih tawa yang kering, tawa dari kelucuan yang sudah menjadi semacam hapalan.“

Akhirnya Aulia Muhammad yang blogger dan pemimpin redaksi Suara Merdeka Cyber itu menyimpulkan, “Tukul mungkin lupa, setiap orang tidak akan pernah puas jika hanya mendapatkan hal yang sama. Kerutinan pasti melahirkan kebosanan. Pemirsa tak pernah bisa setia. Dan jika kemasan Empat Mata tidak berubah, Tukul masih selalu memakai idiom yang nyaris jadi hapalan, kepopulerannya tinggal menghitung masa. Karena tanpa disadari, Tukul mengubah kekuatannya menjadi titik terlemahnya: selalu tampil apa adanya, bermodal kelucuan yang itu-itu saja.“



Tak Hanya Tukul. Tayangan Empat Mata sebagai low comedy kiranya semakin kental ketika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat dengan surat tertanda No.480/K/KPI/10/06 menurut Dyah Pitaloka (Suara Merdeka, 3/5/2007), telah menegur tayangan Empat Mata karena memuat lelucon cabul dan merendahkan perempuan sebagai obyek seks.

Preseden serupa telah terjadi sebelumnya ketika KPI Pusat dalam siaran pers No.: 30/K/KPI/SP/07/06 dengan tegas meminta merombak suatu tayangan komedi di televisi dengan alasan pertimbangan serupa. KPI Pusat pada 12 Juli 2006 meminta stasiun TV Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) untuk segera membenahi secara mendasar program-program komedi yang bermuatan mesum, menonjolkan kecabulan, mengeksploitasi sensualitas, melecehkan perempuan menjadi objek seks, tidak mengindahkan nilai agama, serta mengabaikan keberagaman budaya dalam masyarakat Indonesia.

Hasil pemantauan yang dilakukan oleh KPIP April-Juni 2006 menunjukkan setidaknya terdapat dua program komedi yang bermasalah. Ada pun program tersebut adalah Ngelaba (ngelawak lewat banyolan) dan Chatting (canda itu penting) yang masing-masing disiarkan dua kali dalam seminggu.

Kedua program tersebut sangat lazim menyajikan candaan ataupun gerakan lelucon yang berasosiasi mesum dan cabul. Muatan semacam itu jelas sangat tidak layak disiarkan oleh stasiun televisi nasional yang menjangkau puluhan juta penonton di seluruh Indonesia serta menggunakan frekuensi siaran yang merupakan milik publik. Juga perlu diingat bahwa meski ditayangkan hampir larut malam, isi acara seperti itu tetap tidak layak disiarkan oleh TPI yang siarannya menjangkau daerah-daerah yang memiliki kebudayaan dan standar nilai yang beragam.

Dalam siaran pers yang ditandatangani S. Sinansari ecip ditandaskan, “KPI akan menjadikan hasil pengamatan ini sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam proses pemberian Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) bagi TPI. KPI juga mengingatkan, bahwa bila peringatan ini tidak diindahkan, KPI akan membawa bukti-bukti rekaman ini ke jalur hukum sesuai dengan UU Penyiaran No. 32/2002.”

William K. Zinserr pernah bilang, ”What I want to do is make people laugh so that they’ll see things seriously. Dengan membuat orang-orang menjadi tertawa ia mengharapkan mereka tersebut mampu melihat obyek candanya secara serius. Apakah bagi komunitas komedi Indonesia tuntutan untuk mempromosikan misi mulia tersebut memang terasa berat sekali ? Apakah komunitas komedi Indonesia benar-benar tidak tergerak untuk mulai mengasah “gergaji”-nya demi hadirnya lelucon-lelucon yang lebih bernas kadar intelektualitasnya ?

Kalau ya, saya yakin Aida bakal tidak tertarik menulis lagi tentang topik lelucon atau pun komedi Indonesia. Karena dipastikan dirinya akan hanya kembali mengulang-ulang pernyataannya, bahwa : Indonesian jokes are not funny !


Wonogiri, 10-11 Mei 2007


ke


Tuesday, April 24, 2007

Bila Wayne Rooney Lebih Cocok Main Komedi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Guillotine Untuk Anda ! Seorang pemuda punk memasuki restoran. Rambutnya bergaya spike, ibarat hiasan kepala suku Indian Mohawk, dengan dicat warna-warni. Ia segera menarik perhatian sebagian pengunjung restoran lainnya, tetapi tidak lama. Kecuali seorang pria setengah baya yang persis duduk di seberang meja si pemuda punk tadi.

Pria itu terus saja mengamati dan memperhatikan gerak-gerik si punk sejak memesan makanan sampai selesai makan.

Merasa jengkel, pemuda punk itu lalu mendekati sang pria paruh baya tadi. Katanya, “Pak, apa Anda belum pernah menjadi muda dan berbuat gila dalam hidup Anda ?” Pak tua tadi matanya berbinar. Lalu menjawab : “Pernah, nak. Sehabis mabuk-mabukan berat bersama teman, saya memperkosa burung merak. Lalu kini saya berpikir, jangan-jangan kau itu anakku.”

Itulah salah satu contoh konstruksi lelucon. Saya sebagai penutur cerita berusaha membangun ketegangan, dengan mengilik-ilik rasa tahu Anda, yang semakin memuncak. Tetapi perjalanan itu tidak sampai mencapai puncak yang Anda duga karena dicegat oleh guilotin verbal berupa punchline, titik ledak lawakan, yang telah memotong logika pengembangan cerita bersangkutan. Harapan dramatis Anda menjadi dilecehkan, ketegangan yang Anda investasikan sejak awal menjadi sia-sia, dan yang hadir kemudian adalah ledakan tawa.

Tidak terduga-duga. Surprise. Kejutan. Serangan dadakan.

Semua itu merupakan menu utama konstruksi lawakan. Merujuk rumusan itu, bagaimana kalau saya berpendapat bahwa pemain sepakbola Manchester United, Wayne Rooney (foto kiri), sebenarnya lebih ideal untuk menjadi seorang komedian ?


Wayne Mark Rooney, kelahiran 24 Oktober 1985 di Liverpool adalah pesepakbola muda Inggris yang kontroversial. Pemakai kaos nomor 8 ketika main di MU dan nomor 9 di tim nasional Inggris sejatinya adalah fans berat tim Everton. Ia bangga memakai kaos sebagai suporter tim Everton yang berslogan "Once a blue, Always a blue.” Ia hanya bermain dua musim di tim biru asal Liverpool itu dan pada tahun 2004 Rooney berpindah main di Manchester United. Uang transfernya konon mencapai 27 juta pounds sterling.


Si Muka Bulat. Apabila Wayne Rooney bermain sepakbola sedemikian hebat, sehingga mampu memperoleh bayaran setinggi itu, mengapa ia diprediksikan mampu berhasil dalam karier sebagai komedian pula ? Pendapat kontroversial di atas muncul berdasarkan hasil riset Universitas Stirling di Inggris. Dipimpin oleh seorang psikolog, Dr Anthony Little, timnya menggunakan peranti lunak komputer untuk menemukan apa yang ia sebut sebagai wajah komedian yang sempurna. Untuk maksud tersebut tim telah memadukan 179 aspek wajah yang berbeda dari 20 komedian top Inggris. Apa kesimpulan mereka ?

Mereka berkesimpulan bahwa wajah yang lembut dan feminin, seperti wajah sosok komedian Inggris terkenal Ricky Gervais (foto kiri ), disebutnya sebagai paling berpotensi membuat penonton tertawa. Periset juga menyebut bahwa pemimpin partai konservatif Inggris, David Cameron, juga berwajah komedis.

Sementara Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan calon penggantinya, Gordon Brown, memiliki wajah sebaliknya. Tetapi tim mengungkapkan keraguan apakah wajah jenaka memiliki nilai lebih sebagai modal untuk memenangkan suatu pemilihan umum.

Dalam riset yang disponsori klub komedi Jongleurs, sebagaimana diwartakan oleh BBC, periset menunjukkan pelbagai wajah dengan ciri yang berbeda-beda kepada para relawan. Responden itu kemudian diminta membuat peringkat tingkat kelucuan sosok-sosok bersangkutan menurut pendapat mereka masing-masing.

Dr Anthony Little mengatakan : “Gambaran paling mencolok untuk mencirikan komedian pria yang sukses didominasi oleh ciri wajah yang lembut dan feminin.” Lanjutnya, bahwa wajah merupakan indikasi kuat dari watak dan kajian kami nampaknya menjelaskan mengapa komedian dengan ciri wajah tertentu melejit dalam kariernya.

“Karakteristik wajah feminin menunjukkan bahwa sosok bersangkutan ramah dan kooperatif, penyebab hadirnya kesan pertama bahwa komedian bersangkutan memiliki sikap bersahabat dan jenaka,” tandasnya.

Dr Little menegaskan bahwa wajah David Cameron (foto kiri ) yang bulat dan lebar, bermata besar dan lembut, memiliki ciri-ciri alamiah yang serasi memenuhi tuntutan profil seorang komedian.

Merujuk ciri-ciri yang terungkap maka ia pun memasukkan pesepakbola Wayne Rooney dan selebritis juru masak di televisi Inggris, Jamie Oliver, sebagai pemilik wajah yang komedis.



Wajah jagoan. Untuk memberikan kontras, periset juga menyimpulkan adanya wajah-wajah non-komedis. Mereka sebut sebagai wajah jagoan dengan contoh wajah Tony Blair aan Gordon Brown, di mana keduanya memiliki wajah "terlalu klasik dan maskuline" untuk menerbitkan tawa. “Secara tipikal, wajah maskulin itu menurutnya memiliki paduan antara rahang yang ibarat dipahat dan dahi tinggi, yang kurang “menghibur” dan pemiliknya dinilai kurang berhasil bila menekuni karier di dunia komedi.

“Wajah sosok jagoan itu lebih sempit dibanding wajah komedian, detilnya lebih mencolok, matanya kecil, dengan rahang yang menonjol. Secara totalitas penampilannya sangat maskulin, yang sangat kontras dengan kelembutan, kualitas feminin wajah seorang komedian.”

Apa komentar para komedian sendiri ?

Ricky Gervais (44), bintang sitkom “The Office” (bukunya terlampir) asal Inggris yang sukses dan pengarang buku anak-anak serial Flanimals dan More Flanimals yang laris, mengatakan : “Selama bertahun-tahun saya beranggapan bahwa sukses global saya bermodalkan hasil dari observasi yang tajam, keahlian dalam menerjemahkan observasi itu seirama jaman dan keterampilan paling prima sebagai penampil. Semua itu bisa terjadi karena saya dikaruniai wajah bulat, wajah seorang gadis.”

Komedian lainnya, Hal Cruttenden, mengatakan bahwa hasil riset tersebut memiliki nilai yang menarik. “Komedian senantiasa menabrak rambu-rambu tabu, melipir di bibir pinggiran tebing, dan lawakan yang terbaik senantiasa muncul dari hal-hal yang tidak membuat kita merasa nyaman. Sehingga bila semua itu muncul dari seseorang yang memiliki mata besar, wajah gendut, pria dengan sosok feminin, barangkali hal tersebutlah yang memudahkan para audiens untuk terpicu meledak dalam tawa.”

Terakhir : inilah foto (kanan) hasil rekayasa komputer dari Universitas Stirling yang menunjukkan wajah ideal sebagai seorang komedian. Mari kita coba berandai-andai saja : siapakah komedian Indonesia yang memiliki wajah dengan karakteristik serupa, atau mendekatinya ? Adakah wajah tokoh-tokoh nasional kita ada yang justru berkesesuaian dengannya ?

Apakah wajah presiden kita SBY justru memiliki karakteristik yang lebih serasi apabila dirinya tampil bukan sebagai seorang presiden, tetapi lebih cocok sebagai seorang aktor komedi ?


Wonogiri,25-26/4/2007


ke

Sunday, March 25, 2007

Robin Williams dan Tes Kecerdasan Komedi Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




When all you have is a hammer, everything looks like a nail. Apabila yang Anda miliki hanya sebuah palu, maka semua hal selalu terlihat sebagai paku. Pepatah akhir abad 20 ini manjur sekali ketika rezim Orde Baru berkuasa. Ketika militer begitu kuat, maka semua masalah senantiasa mereka selesaikan dengan kekuatan. Kekerasan. Tindakan represif.

Mengapa bencana lumpur panas di Sidoarjo tidak meledak di era Orde Baru, barangkali karena lumpur-lumpur panas tersebut sudah takut duluan dengan Pak Harto dan anak-anak buahnya. Lumpur panas tersebut kini muncul, karena mungkin mereka tahu pemimpin negeri ini adalah tokoh yang selalu berselimutkan pendekatan “akan” dan “akan,” sarat rasa bimbang dan penuh keraguan.

Baiklah. Pepatah tentang palu dan paku di atas juga berlaku bagi saya di tahun 80-an. Bunyinya berubah. Ketika jatuh cinta sama Tutut, maka semua perempuan cantik akan terlihat mirip seperti Tutut. Maaf, Tutut yang satu ini bukan putrinya Pak Harto. Ia mantan pramugari, lalu keluar untuk melanjutkan kuliah di Sastra Indonesia, FSUI, di Rawamangun. Saya pernah memotretnya, saat tak sengaja ketemu di perpustakaan. Sayang, karena mabuk cinta, saat motret yang spontan itu tidak mempertimbangkan sinar yang back lighted, sehingga hasilnya tidak memuaskan.

Salah satu korban fanatisme saya terhadap Tututisme saat itu adalah Pam Dawber. Saat itu saya tinggal di Jl. Balai Pustaka Timur 24 B, Rawamangun (kini sudah jadi ruko), dimana melalui tayangan hitam putih TVRI, kalau tak salah setiap Sabtu sore, saya bisa melihat sosoknya. Saya suka rambutnya yang poni itu. Ketika di layar muncul Pam Dawber, langsung saja yang hadir di kepala saya adalah Tutut.

Pam Dawber. Tutut.
Pam Dawber. Tutut.
Pam Dawber. Tutut.

Pam Dawber (foto) saat itu tampil membintangi serial komedi situasi yang bercampur fiksi ilmiah, Mork & Mindy. Pam Dawber, kelahiran 18 Oktober 1951 di Farmington Hills, Michigan, memerankan tokoh Mindy McConnell. Lawan mainnya (lihat foto) adalah aktor pemenang Oscar dan komedian ternama, Robin Williams.

Film seri produksi stasiun televisi ABC (1978 – 1982) tersebut melambungkan nama Robin Williams. Keduanya menjadi sangat terkenal karena ditopang kemampuan Robin Williams yang jenial dalam hal improvisasi bakat komedinya. Sampai-sampai dikisahkan bahwa dalam pelbagai adegan nampak Pam Dawber terlihat menggigit bibirnya. Ia terpaksa melakukan hal itu agar dirinya tidak ikut-ikutan tertawa yang bila ia lakukan pasti merusak adegan sitkomnya tersebut.

Tahun pun berlalu. Saat ini, saya tidak mengikuti cerita kariernya Pam Dawber lagi. Juga tidak tahu tentang diri Tutut saat ini. Tetapi tidak demikian halnya dengan Robin Williams. Ketika membongkar-bongkar tumpukan majalah lama, saya bisa kembali menemukan dirinya lagi.

Banyak hal yang menarik dari sosok komedian yang sahabat sejati Christopher Reeve, almarhum yang pemeran Superman, kolektor sepeda dan teman dari pembalap sepeda legendaris asal AS Lance Armstrong ini, terutama tentang keakraban tingkat tinggi diri Robin Williams dengan teknologi informasi. Juga, tentu saja, terkait kiprah kreatifnya yang mengagumkan dalam dunia komedi.


Mentalitus Komedikus. Judy Carter dalam bukunya The Comedy Bible (2001) telah mengajukan kuis berisikan 16 pertanyaan untuk mengungkap apakah seseorang atau Anda sendiri punya kecenderungan sebagai komedian. Salah satu pertanyaan tersebut adalah : Apakah Anda suka menirukan tingkah laku keluarga Anda, di belakang punggungnya ?

Kalau jawaban Anda “ya,” oleh Judy Carter dikatakan bahwa Anda sedang mempraktekkan act-outs, salah satu mata rantai penting dalam konstruksi lawakan. John Culhane di majalah Reader’s Digest (12/1988) secara menarik telah menceritakan teknik act-outs itu ketika dipanggungkan oleh seorang Robin Williams.

Suatu hari, Robin Williams hendak pergi keluar rumah, meninggalkan putranya Zachary yang baru berumur dua tahun bersama pengasuhnya. Ketika menstarter mobilnya, Robin menengok ke jendela rumahnya. Ia lihat Zachary menempelkan wajahnya di kaca, dengan air mata berlelehan. Setahun kemudian ketika melakukan tur 23 kota di AS, Robin William di atas panggung Metropolitan Opera House di New York berkisah tentang momen mengharukan itu.

“Ketika Anda melangkah keluar dari rumah,” tuturnya, “pemandangan terakhir yang Anda lihat adalah seraut wajah mungil yang menekan dinding kaca, dan..,” Robin mengangkat kedua telapak tangan di atas telinganya seperti ketika sedang menekan dinding kaca, memencongkan bibir untuk menunjukkan tangisan keras anak kecil, tetapi Anda tidak dapat mendengarkannya karena terhalang oleh jendela.

Para orang tua yang menonton pertunjukan segera meledak dalam tawa. Mereka merasakan syok, sekaligus kegembiraan, ketika diingatkan kembali terhadap momen yang akrab bagi kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tergelak karena melihat diri mereka sendiri dalam sajian lawakan itu. Robin Williams berhasil menggabungkan unsur lawakan berupa kata-kata dan pantomim untuk menggambarkan tangisan seorang anak kepada penontonnya.

Tidak hanya tentang anak kecil. Dalam satu seri lawakan atau pun obrolan, diri Robin Williams mampu tampil dalam pelbagai peran yang mengalir, berubah-ubah, dan selalu mengejutkan. Dengan julukan sebagai robinwacky, beragam suara yang terdapat dalam dirinya bila dikumpulkan, menurut John Culhane, akan setebal buku telepon kota kecil.

Ia dapat hadir sebagai ahli ramalan cuaca, seks terapis berkulit hitam, bayi dalam kandungan (“Enak. Kecuali bila ibu berdansa”), kritikus restoran, desainer pakaian Vietnam, dan lebih banyak lagi. “Pantat lagi, pantat lagi !,” begitu keluhnya ketika ia memosisikan dirinya sebagai sebuah kursi.

Seperti didemonstrasikan oleh seorang Robin Williams di atas, menjadi pelawak menurut Judy Carter adalah masalah sikap mental. ”Mentalitus komedikus,” demikian istilah saya untuk itu. Bagaimana kita berpikir, bagaimana kita memandang dunia, bagaimana sikap kita terhadap pelbagai absurditas yang terpapar di hadapan kita, dan tentu saja, bagaimana kita membuat semua itu hingga mampu membuat orang menjadi tertawa.

Lanjut Judy Carter, Anda dapat bekerja sebagai seorang akuntan tetapi jalan berpikir Anda dapat saja seperti sebagaimana seorang komedian. Apa manfaat besar bagi kita, yang orang kebanyakan ini, ketika mampu berpikir sebagai seorang komedian ?

Silakan camkan kata-kata David Ogilvy (1911–1999), tokoh kelahiran Inggris dan pemikir raksasa, sosok begawan dalam dunia periklanan. Ia pernah bersabda : The best ideas come from jokes. Make your thinking as funny as possible. Pandanglah dunia ini dari kacamata humor. Lihatlah dunia dari sudut pandang atau perspektif yang berbeda, yang mampu menerbitkan tawa. Semua itu akan mampu membuat diri Anda sebagai pribadi yang berbeda pula.

Menjadi lebih baik.


Menurun dari ibu. Kita tidak hanya dapat belajar banyak dari teknik melucunya Robin Williams. Kita juga dapat menengok masa lalunya, betapa bakat komedi itu bisa terasah dari rumah. Sejak ia kecil.

Robin adalah anak tunggal dari perkawinan yang kedua dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Robert Williams, eksekutif perusahaan mobil Ford Motor Company, yang tinggal di kawasan keluarga terpandang di Lake Forest, di luar Chicago, kemudian pindah dan Bloomfiled Hills, dekat Detroit. Di kota terakhir ini ia menempuh pendidikan di Detroit Country Day School, di mana alumnusnya termasuk Steve Ballmer, tokoh kunci raksasa piranti lunak Microsoft dan Courtney Vance, bintang film seri Law and Order: Criminal Intent.

Robin Williams memperoleh gagasan mengenai komedi dari ibunya, Laurie. Ibunya adalah mantan model, kelahiran New Orleans, keturunan Perancis. “Komedi merupakan jenis komunikasi untuk ibu dan saya. Ia selalu menceritakan lelucon-lelucon yang dapat membuat ayah malu tetapi membuat saya tertawa,” katanya.

Tetapi sejatinya Robin kecil seorang penyendiri, suka bermain sendiri, berfantasi membangun dunianya dengan boneka-boneka serdadunya. Ia sangat menyukai buku, menonton film kartun, dan mengidolakan komedian Jonathan Winters yang muncul dalam acara The Jack Paar Show di televisi. Ia terinspirasi keterampilan Winter dalam berimprovisasi dan mimikri.

Robin yang pemalu itu pecah pamornya ketika bermain drama di SMA Marin Country, San Francisco. “Saya memainkan tokoh gila dan saya memperoleh sambutan tawa,” katanya. Saat itu dirinya tidak dan belum sadar bahwa ada jiwa komedi dalam dirinya sedang berontak untuk keluar. Walau pun demikian, di sekolah yang sama ia memperoleh penghargaan sebagai “Siswa Yang Paling Tidak Memiliki Sukses Di Masa Depan.”

Setelah lulus, ia menetapkan berkuliah di Claremont Men’s College, Los Angeles, mengambil jurusan politik dan ekonomi. Juga ikut kursus improvisasi karena gurunya cantik, dan ia baru sadar bahwa seluruh kelasnya tertawa melihat aksis-aksi spontannya. Ia tidak lama di kampus ini, Robin lalu pindah ke College of Marin untuk belajar akting. Kemudian berebut 20 tempat dari dua ribu calon untuk bisa berkuliah di sekolah akting terkenal, Juilliard di New York. Ia lulus dalam audisi berbarengan dengan Christopher Reeve, almarhum pemeran Superman yang terkenal. Keduanya menjalin persahabatan sejati yang kental.


Na-no-na-no ! Di tahun 1978 kreator acara televisi Happy Days melakukan audisi untuk Robin Williams agar memerankan sebagai mahluk angkasa luar. Ia diminta untuk duduk dengan gaya mahluk angkasa luar. Segera Robin melompat ke kursi dan memposisikan badannya dengan kepala di bawah.

Itulah adegan orisinal Robin Williams dari film seri televisi hitnya, Mork & Mindy. Sambutan penonton atas tayangan episode tersebut begitu antusias, padahal adegan yang terjadi tidak terencana, semua mengalir keluar begitu saja dari diri seorang Robin Williams. Termasuk ucapan salam halo atau selamat tinggal dari makhluk angkasa luar khas kreasinya, yaitu na-no-na-no, kemudian menjadi ucapan yang sangat populer saat itu. Sejak film seri itu ia seperti menemukan kesejatian dari keaktoran dan komedinya : dirinya dapat berbicara sebagai pria, malaikat, binatang, sayuran dan juga sebagai mineral.

Ia menyabet Oscar pada tahun 1997 sebagai aktor pembantu terbaik dalam film Good Will Hunting. Juga mengesankan ketika bermain sebagai guru John Keating yang menyuntikkan perspektif baru dalam pemikiran murid-muridnya dalam film Dead Poets Society (1989). Di balik keberhasilannya, ia juga pernah memiliki sejarah hitam : kecanduan alkohol dan narkotika. Menyangkut hal buruk itu Robin pernah meledeki dirinya, bahwa “Narkotik merupakan cara Tuhan memperingatkan dirimu bahwa kau terlalu banyak menghasilkan uang !.”

Robin Williams adalah seorang gamer sejati dan ia melek terhadap teknologi informasi. Ketika majalah Yahoo Internet Life (2/1997) menanyakan apakah dirinya menggunakan email, simak jawabannya : “Ya, dan email itu menggaumkan. Email membawa kita untuk kembali mengalami seni menulis surat…. Dalam surat kita dapat mengekspresikan diri kita pribadi secara mendalam dan penuh makna. Surat merupakan perpanjangan dari filosofi Anda.”

“Apakah kami yang pertama mengatakan bahwa pikiran Anda bekerja seperti Internet, hyperlinking untuk menuju tempat atau situs yang paling tidak terduga-duga ?,” tanya David Sheff dari Yahoo Internet Life.

“Itulah realitas diri saya,” jawab Robin Williams. “Itulah pula realitas dunia komedi. Inilah hiperkomedi yang nampaknya persis sama dengan hiperteks. Saya merujuk ke sesuatu hal dan lalu diri saya memuntir, memelintir, untuk mengubah menuju ke arah yang baru. Ketika pertama kali saya melihat hiperteks, saya langsung memahaminya. Inilah ujud asosiasi bebas.”

Asosiasi bebas itulah yang membuat dunia komedi terbuka luas, menarik dan menantang untuk dijelajahi. Tanpa batas. Di padang luas itulah kita dapat menggali atau mengeksplorasi ide-ide baru, baik untuk kemaslahatan dunia komedi sendiri mau pun untuk dunia kemanusiaan yang lebih luas lagi. Ingat sekali lagi kata-kata David Ogilvy di atas, bahwa “Ide-ide terbaik muncul dari lelucon. Jadikanlah modus berpikir Anda selucu mungkin. “

Merujuk tesis nabi periklanan tersebut, ijinkanlah saya melakukan tes sederhana untuk dunia pemikiran Anda, pembaca blog saya yang budiman, terkait dengan realitas dunia komedi kita yang Anda alami dan rasakan selama ini. Ada dua pendapat dua komedian mengenai apa makna komedi dan sajian komedinya bagi pribadinya sendiri dan bagi orang lain.

Ada seorang komedian berpendapat, “Orang kan senang kalau disanjung-sanjung. Kalau saya sih lebih senang njelek-njelekin diri sendiri. Soalnya dari situ saya dapat duit. Kalau tidak dapat duit ya percuma.”

Lainnya berpendapat : “Saya menggunakan komedi untuk menetralisir rasa takut yang lumrah ada pada diri setiap orang. Saya bisa berkata pada mereka bahwa saya juga punya rasa takut seperti Anda, tetapi saya mempunyai pandangan menarik, sehingga saya berpikir bahwa kita akan mampu mengalahkan rasa takut itu secara bersama-sama.”

Kuis saya untuk Anda : pandangan mana yang paling tepat untuk menggambarkan sosok komedian dari Indonesia ? Mengapa Anda berpendapat demikian ? Saya tunggu !


Wonogiri, 26/3-17/4/2007

ke

Tuesday, February 27, 2007

I Love You Ellen, Ellen DeGeneres !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Rumus Anda Tidak Berlaku ! Margaret Hilda Thatcher, perdana menteri Inggris (1979-1990), pernah dikutip majalah People (15/9/1975) mengatakan, “In politics if you want anything said, ask a man. If you want anything done, ask a woman.”. Apabila dalam politik Anda menginginkan segala sesuatunya hanya jadi bahan omong-omongan, pilihan politikus pria. Apabila Anda menginginkan segala sesuatunya dikerjakan, pilihlah politisi wanita.

Rumusan bagus.

Mendongkrak rasa percaya diri kaum perempuan. Sayang, Lady Thatcher, rumus Anda tersebut tidak berlaku seratus persen di Indonesia. Karena Indonesia pernah dipimpin politisi perempuan, tetapi dirinya nampak menonjol tidak tertarik untuk melakukan aktivitas omong-omongan, sementara prestasi kerja pemerintahannya pun diragukan.

Seorang linguis, Deborah Tannen dalam bukunya You Just Don’t Understand : Women and Men In Conversation (1990), menekankan bahwa perempuan secara alami mempererat hubungan mereka dengan terang-terangan dalam menyalurkan informasi, petunjuk, atau bantuan dengan sepenuh hati. Aneh juga ketika kita justru mendapati betapa politisi perempuan kita malah lebih suka berdiam diri.

Politisi perempuan di Amerika Serikat yang tidak suka selalu berdiam diri, mungkin bisa kita temui pada sosok Hillary Rodham Clinton. Ia sudah disebut-sebut oleh surat kabar The New York Times sejak Oktober 2002 sebagai calon kuat presiden AS masa depan. Disusul Majalah Forbes mendata dirinya sebagai salah satu figur kuat dunia dan jajak pendapat mendudukkan Hillary masuk daftar 100 tokoh pilihan Majalah TIME.

Ketika suaminya, Presiden Bill Clinton, dilanda rumor skandal seks dengan Gennifer Flowers sampai Monica Lewinsky, Hillary bersedia muncul untuk wawancara dalam acara terkenal 60 Minutes di televisi CBS.

Ujarnya saat itu, “I am not standing by my man, like Tammy Wynette.” Ia menjelaskan bahwa dirinya bersedia hadir pada acara ini karena ia mencintai suaminya, ia menghormatinya, dan dirinya menghargai apa yang suaminya putuskan dan, “kami berdua akan bertanggung jawab secara bersama-sama.” Dalam bukunya Living History (2003), setebal 562 halaman dan laku lebih dari sejuta eksemplar setelah sebulan diluncurkan, Hillary menjelaskan bahwa cinta yang menjadi alasan dirinya tetap bersama suaminya tersebut.

“Tidak ada orang yang mampu memahami diri saya secara lebih baik dan mampu membuat diri saya tertawa sebagaimana Bill kerjakan. Setelah waktu dan waktu berlalu, ia tetap pria yang paling menarik, energizing, dan sosok penuh gembira yang pernah saya temukan. Bill dan saya memulai mengobrol di musim semi tahun 1971, dan lebih dari tiga puluh tahun kemudian kita berdua tetap saja saling berbicara”


Salah satu tokoh ternama di dunia hiburan AS yang mungkin bersorak atas majunya Hillary Clinton tersebut adalah comedienne Ellen DeGeneres (foto di bawah ini) yang baru saja memandu acara Oscar 2007.


Photobucket - Video and Image Hosting


Memandu Oscar 2007. Ellen DeGeneres saat tampil dalam memandu acara penganugerahan Oscar atau Academy Awards ke-79, 25 Februari 2007 yang lalu.

Ellen DeGeneres, lahir tanggal 26 Januar1 1958 di Ochsner Hospital, Metairie, Louisiana dan memiliki darah campuran Perancis, Inggris, Jerman dan Irlandia itu pernah mengemukakan, “masa depan Amerika yang lebih baik harus dipimpin oleh seorang presiden perempuan.”
"Kekurangan Amerika sekarang ini adalah terletak pada pedoman dan kepemimpinan yang hanya bisa diberikan oleh sosok perempuan bijaksana serta pengasih. Mengapa tidak? Perempuan bisa bekerja lebih cekatan, belajar lebih lama serta berusaha lebih keras untuk berhasil di dunia pria ini.

Kita harus belajar untuk sukses tanpa merasa terancam, mengajak tanpa menuntut serta memimpin tanpa merasa tertinggal di belakang. Kami adalah politisi alami. Persyaratan usia minimum adalah 35 tahun. Di usia inilah perempuan sedang berada di puncak intelektualnya. Bukan matang karena krisis paroh baya," ujar komedian ini.

Tetapi dalam penampilannya di malam Oscar, ia tidak menyuarakan pandangan politiknya tersebut. Ia justru meledek kehadiran mantan wakil presiden AS, Al Gore, yang malam itu menyabet Oscar untuk film dokumentasi, An Inconvenient Truth, yang mengampanyekan ancaman pemanasan global bagi masa depan umat manusia.

Photobucket - Video and Image Hosting


Ellen DeGeneres melucukan Al Gore dengan memperbandingkannya dengan nasib artis Jennifer Hudson. Audiens telah tahu, Jennifer Hudson sebelumnya gagal dalam ajang American Idol. “Tetapi kini,” seru Ellen DeGeneres, “ia sekarang ada disini sebagai nominator Piala Oscar.” Lalu ia menunjuk ke Al Gore, yang juga hadir sebagai nominator Oscar, terkait pemilihan presiden di AS tahun 2000.

“Amerika telah memilih dirinya sebagai presiden, dan...” di tengah gemuruh sorak dan tepuk tangan hadirin, Ellen melepaskan punchline-nya : “Sangat-sangat sarat komplikasi !”

Kekalahan Al Gore dari George W. Bush dalam pilpres waktu itu memang kontroversial. Angka perolehan keduanya bersaing sangat ketat. Bahkan kemudian sengketa itu harus dibawa ke Kejaksaan Agung, dan Al Gore lebih memilih mundur dan memberikan kemenangan bagi Bush. Pemilu yang kontroversial. Dan bagi komunitas komedian, segala hal yang berbau kontroversial merupakan menu lezat yang harus disantap untuk dijadikan bahan bulan-bulanan lawakan.

Merujuk rumusan di atas maka ketika mengomentari acara Republik Mimpi yang menampilkan tokoh SBY, hal itu saya sebut sebagai blunder. Karena SBY adalah tokoh yang kurang “bergerigi” dan lembek untuk dijadikan lawakan, terutama bila konstruksi lelucon tentangnya hanya berputar-putar menguliti sisi-sisi wadag, hanya permukaan, seperti yang hanya mampu dilakukan oleh Butet selama ini. Butet memang tidak salah, tetapi tim kreatif acara bersangkutan yang kurang tajam wawasannya tentang isi acara parodi politik !

Bandingkan misalnya dengan karya satir dari Van Gross, MD dalam situs BongoNews ketika mengolok kemenangan Al Gore di malam Oscar 2007 tersebut. Ia tuliskan bahwa kemenangan Al Gore itu ternyata kemudian harus dibatalkan oleh hakim. Karena Piala Oscar untuk kategori Film Dokumentasi Terbaik justru dianugerahkan kepada George Bush untuk film politiknya yang berjudul Mounting Mr. Cheney.

Bahkan ketika pesta Oscar itu berlangsung, pemerintahan Bush justru merayakan kemenangan setelah menjatuhkan bom nuklir di Iran, juga menculik presiden Mahmud Ahmadinejad, sehingga Bush dapat membintangi film dokumentasinya yang terbaru, berjudul : An Inconvenient Idiot.


Telepon Ellen Kepada Tuhan. Malam Oscar tersebut telah merambah kemana-mana, termasuk mengangkat isu tentang Bush yang kontroversial. Juga Al Gore. Demikian pula sebenarnya tentang diri Ellen DeGeneres sendiri.

Ellen saya kenal pertama kali 13 Februari 2002. Di stasiun kereta api Gondangdia, Jakarta Pusat. Dari buku The Comedy Bible (2001)-nya Judy Carter. Saat itu buku tersebut baru saya ambil dari toko buku QB World of Books, Jalan Sunda, setelah sebulan sebelumnya saya memesannya dari Amerika Serikat.

Dalam buku itu Ellen DeGeneres dijadikan contoh proses kreatif seorang komedian. Lelucon, demikian kata Judy Carter, harus dimulai dari gagasan dan semua orang punya gagasan jenaka. Sebagai contoh, “Ellen DeGeneres mampu mengubah tragedi menjadi komedi. Ketika (saat itu Ellen berumur 19 tahun) teman perempuannya meninggal dunia, ia sendirian dan terganggu oleh kutu, memunculkan gagasannya untuk menulis rutin atau naskah lelucon yang berjudul : Bertelepon Kepada Tuhan.”


”Hallo, Tuhan, ini Ellen....Begini, Tuhan, ada kepastian di dunia ini. Tetapi saya tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Bukan, bukan tentang Fabio. Bukan. Tetapi hal yang pasti, maksud saya, Jesus Kristus. Bukan, bukan ia yang saya maksudkan. Ia sosok yang agung. Kita masih sering membicarakannya. Tetapi tidak kali ini, saya lagi berpikir mengenai serangga. Bukan lebah. Mereka hebat. Madunya. Serangga cerdas.

Terima kasih, Tuhan. Saya berpikir tentang kutu.. yang menurut saya tidak ada manfaatnya....(menunggu). Tidak, saya tidak menyadari betapa banyak orang yang bekerja di bidang industri kutu di kerah baju...belum lagi tentang obat semprot. Baiklah, aku pikir kau yang benar. Tentu saja kau selalu benar.....”


Demikianlah, gara-gara kutu, diimbuhi perhatian, kejelian dalam melakukan observasi, dan kemudian menuliskannya, akhirnya mampu melambungkan seorang Ellen menjadi komedian ternama. ”You’ve probably been thinking up ideas for many, many years. Well, now it’s time to write them down.”, begitu nasehat Judy Carter. Manfaat mengobservasi dan catat-mencatat juga berlaku untuk bidang lain. Sebagai seorang epistoholik, saya telah menulis surat pembaca di bawah ini :


Bloknotmania !
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Jumat, 12 Agustus 2005


Apa yang terjadi bila satu bus penuh turis Jepang dibajak teroris ? Polisi akan memperoleh 50 foto diri teroris dari pelbagai sudut. Lelucon ini menunjukkan kegetolan turis Jepang yang kemana-mana memotret obyek wisata yang mereka kunjungi. Ternyata kebiasaan hebat turis Jepang bukan hanya itu.

Menurut Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, turis-turis Jepang itu juga membawa-bawa bloknot. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi. Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mereka mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki oleh setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.


BAMBANG HARYANTO
Warga Epistoholik Indonesia
Jl.Kajen Timur 72
Wonogiri 57612


Dekat Dengan Tuhan ? Ellen DeGeneres rupanyai dikaruniai untuk “akrab” secara kontroversial dengan Tuhan. Tahun kemarin, 2006, ia membintangi film daur ulangnya komedian panjang umur George Burns di tahun 1977, berjudul Oh, God. Ellen berperan sebagai Tuhan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Ketika dirinya (foto di atas) terpilih sebagai salah satu dari 100 tokoh Majalah TIME (artis dan penghibur lainnya : George Clooney, Dixie Chicks, Ang Lee, Will Smith, Meryl Streep, Reese Witherspoon sampai komedian Stephen Colbert), Bob Newhart, juga komedian, penulis buku I Shouldn't Even Be Doing This (2006) dalam artikelnya di majalah TIME (8/5/2006) menyebut Ellen DeGeneres sebagai “Komedian Perempuan Paling Berani dan Paling Jujur Dalam Dunia Hiburan.”

Pujian Bob Newhart itu merujuk penampilan Ellen dalam acara sitkomnya, juga berjudul Ellen (1994-1998) di televisi ABC, ketika di tahun 1997 ia secara terus terang mengatakan dirinya sebagai lesbian. “Pengakuan tersebut dapat beresiko menamatkan kariernya, sebagaimana Ellen sendiri juga menyadarinya, tetapi ia telah berlaku sejujurnya. Terima kasih Tuhan, untuk Ellen DeGeneres. Dan ini bukan hal yang sering terjadi ketika menemukan nama seorang lesbian dan Tuhan berada dalam satu kalimat dewasa ini,” kata Bob Newhart.

Di malam Oscar 2007, sambil merujuk keragaman audiens dan hadirnya 177 nominator, ia tak lupa meledek status orientasi seksnya tersebut. “Apabila tidak ada orang-orang berkulit hitam, Yahudi dan lesbian,” di tengah pikuk keramaian sambutan ia menegaskan, “maka akan tidak ada anugerah Oscar.”

Kejujuran seorang komedian, seperti telah ditunjukkan Ellen DeGeneres secara berani dan setulus hati itu, sungguh mengharukan dan mengesankan untuk bisa dijadikan sebagai cermin renungan. Oleh kita, bagi kita semua, baik mereka yang terlibat dalam dunia komedi Indonesia, atau pun dalam bidang-bidang kehidupan lainnya.

I love you, Ellen.


Wonogiri, 27/2-7/3/2007


ke