Sunday, January 27, 2008

Bom API-4, The Long Tail dan Impian Maylaffayza

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



I Have A Dream. Keras, sepi dan bengis. Itulah pendapat aktor dan komedian solo dari Amerika Serikat, Will Ferrer, mengenai komedi tunggal. Hard, lonely and vicious. Karena dalam pertunjukan si komedian tunggal itu ibarat terus-menerus meminta belas kasihan penonton yang merupakan bagian integral dari keseluruhan pementasan. Dirinya pun harus pandai-pandai membaca mood atau pun selera penontonnya, kemudian harus tangkas pula dalam menyesuaikan materi lawakannya.

Semua keterampilan hebat itu belum saya miliki.

Kalau pun ada, jelas belum terasah secara maksimal. Konsekuensinya kemudian, saya salah menempatkan diri dan berakibat fatal. Saya terkena ledakan bomb API-4 saat itu. Jangan kaget dulu, ini merupakan lingo, bahasa prokem dalam sirkuit dunia komedi, untuk menyatakan tentang pemanggungan lawakan yang yang tidak mampu menimbulkan tawa. Saya pun terkapar. Saya tereliminasi sejak awal dalam Audisi Pelawak TPI ke-4 (API-4), Sabtu, 26 Januari 2008, di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Saya ikhlas dan nyaman menerimanya.

Photobucket

Lolos Jakarta. Kelompok lawak Presto asal Semarang yang terdiri Agit, Furry, Muhtohar dan Kurnia, sedang beraksi. Mereka mengirim SMS kepada saya bahwa setelah melewati babak final audisi di Yogya (28/1/08), Presto : The Laughmaker berhasil lolos ke Jakarta. Untuk menyemangati mereka, Anda dapat kontak via email ke : setya_raharja@yahoo.com. Juga ke +628156693505 (Agit) atau ke +6281390967744.

Photobucket

Pebisnis Komedi. Saya bersama Soenarno (tengah) penjual map dan formulir pendaftaran untuk mengikuti audisi API-4. Ia berasal dari Semanggi Solo.


Secara guyon, bencana kegagalan saya itu terjadi mungkin karena saya “berdosa” kepada Maylaffayza. Karena saya melucukan pemain biola cantik dan seksi itu di depan awak televisi TPI, stasiun televisi yang mainstream-nya lagu-lagu dangdut. Atau “berdosa” kepada mantan presiden Soeharto karena melucukan ulah asmara anak dan cucunya. Atau “berdosa” kepada kalangan politisi yang bergaya sebagai selebriti atau selebriti yang merambah kiprah sebagai politisi.

Konsekuensi berpeluang ditimpuki beragam “dosa” itu sudah saya ambil. Karena impian saya memang ingin sebagai komedian solo. Utamanya sebagai headliner alias komedian yang melucukan berita-berita atau isu utama yang mewarnai pemberitaan nasional yang aktual. Oleh karena itu di formulir pendaftaran API-4 ada pertanyaan “gaya melawak Anda,” maka tanda cek saya bubuhkan di kolom “Lain-Lain.” Kemudian saya tambahi nama Jon Stewart serta Conan O’Brien. Seharusnya saya tambahi lagi dengan Andy Borowitz. Mudah-mudahan para juri sudah pernah mendengar nama-nama ini.

Sebagai headliner, saya menulis set atau naskah lawakan yang diilhami artikel “Politisi Selebriti” yang ditulis Eep Saefulloh Fatah di Kompas, 22/1/2008. Lalu pintu masuk yang saya gunakan adalah memanipulasi secara “bergerigi” judul situs blog milik selebriti, yaitu pemain biola cantik, seksi dan intelektual, Maylaffayza Permata Fitri Wiguna. Mengapa dia ? Semata menuruti kata hati. Saya menyukai dia. Sejak tahun 2002.

Pilihan masuk yang salah.

Ide itu berawal ketika secara serendipity saya menemukan blognya Maylaffayza yang terdaftar di direktori blog dalam ranah situs milik Harian Kompas. Tajuk direktori itu Citizen Journalism. Jurnalisme Warga. Menurut saya, setelah melongoki isinya, aneh juga Kompas ini : jurnalisme warga kok yang mengisi sebagian besar warga Indonesia yang tinggal di luar negeri ? Padahal menurut hasil laporan J-Lab : The Institute for Interactive Journalism, jurnalisme warga itu khittah wajibnya adalah jurnalisme hiperlokal !

Ah, lupakan dulu situs Kompas yang rancu itu.
Tetapi jangan lupakan Maylaffayza.

Saya belum melupakannya. Terkait komedi, di tahun 2005-2006 saya melakukan obrolan bolak-balik via email dengan orang dalam istana Republik Mimpi-nya Effendi Gazali. Yaitu Welnady alias Iwel Well. Dampak sampingnya, malah saya bisa “ketemu” dengan Maylaffayza lagi. Karena dia dan Iwel berada dalam lingkup manajemen artis yang sama, yaitu Camelia & Melinda Artist Management.

Saya pernah mengusulkan ke Camelia & Melinda Artist Management agar Iwel, Maylaffayza dan artis lainnya, memiliki situs blog tersendiri. Sehingga dapat menggalang kontak dengan para fans mereka. Bahkan sempat pula saya ceritakan tentang “pentas” bersama saya dengan pemain biola solo cantik itu dalam sebuah acara di Jakarta. Di bawah ini adalah flashback peristiwa berkesan itu, ketika saya bisa “pentas bersama” Maylaffayza di tahun 2002.

Saat itu saya ikut memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan oleh PT Honda Prospect Motor. Upacara selebrasinya berlangsung megah, 8 April 2002, di Balairung Hotel Kempinsky Jakarta. Pada acara puncak, para kontestan, juri (Arswendo Atmowiloto, Mien Uno, Riri Riza sampai Susi Susanti), panitia dan eksekutif Honda, naik panggung bersama-sama. Kemudian dipandu oleh violis jelita Maylaffayza dan band pengiringnya, kami semua kompak menyanyikan lagu yang kaya inspirasi, yaitu “I Have A Dream”-nya ABBA.

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

I believe in angels
Something good in everything I see


Saya persis berada di belakang Maylaffayza. Sebagai lelaki, ya jujur saja, saya tergetar menyaksikan perempuan muda penuh pesona itu. Apalagi bidadari dengan tinggi badan 169 cm dan berat 49 kg itu meliuk-liukkan tubuh indahnya seirama gesekan biola, dengan punggung backless-nya yang menggoda. Silakan kaitkan dan berfantasilah secara liar antara lirik ABBA, something good in everything I see, saat itu, dengan judul situs blognya Maylaffayza yang tidak kalah sensualnya : I Play My Violin Like I Make Love. Saya main biola, seperti saya bermain cinta.


Blogger Berburu API. Gagasan saya untuk mengikuti API-4 itu baru muncul sekitar seminggu sebelum D-Day. Sebagai blogger, momen API-4 itu ingin saya gunakan untuk mencari bahan tulisan untuk blog ini. Anda bisa lihat, isi blog saya ini tidak saya perbarui sejak Oktober 2007. Saya kehilangan isu atau pun ide. Biasanya bulan Januari saya tergerak mengulas siapa komedian yang akan memandu acara Oscar. Karena yang terpilih tahun 2008 ini adalah Jon Stewart, dan saya pernah menulisnya di tahun 2005, maka greget untuk kembali menulis tentang dirinya meredup.

Photobucket

Pemimpi Menjadi Komedian. Bertemu teman-teman baru. Dari kiri, Imran Pratama (Magelang), Ari Wibowo dari Kelompok Mur (Magelang), saya, kemudian Trio Burjo dari Yogya yang terdiri dari Dan, Deden dan Ifan, beserta kontestan lainnya.


Pamrih puncak sebagai blogger, syukur-syukur kalau saya bisa mengikuti proses API-4 itu hingga Jakarta. Sehingga bisa berinteraksi secara lebih intensif dengan para comedian wannabe dari pelbagai kota tanah air. Kemudian bisa menuliskannya di sini.

Beberapa hari sebelum berangkat ke Yogya, saya telah mencari bahan awal tulisan dengan mengirim email ke alumnus API, yaitu Isa Wahyu dkk. dari Bajaj, Jakarta dan Jonie Hermanto dkk dari SQL, Surabaya. Saya minta apa tips dan nasehat mereka bagi para calon peserta API-4 hingga dapat menyajikan lawakan yang (lebih) baik. Keduanya sama sekali tidak membalas email saya tersebut. Mungkin “takut” ilmu lawak mereka akan dicuri ? Up date 1/2/08 : Jonie Hermanto dkk. yang konon akan meluncurkan acara Kolusi (Komedi Ilusi), baru membalas tanggal 31 Januari 2008. Thanks, Jonie.

Sementara itu untuk pamrih yang lain lagi, keinginan berinteraksi dengan para kreatif acara komedi yang berkiprah di televisi, saya sedikit-banyak justru sudah mendapatkannya. Bahkan persis sesudah saya beraksi dalam audisi. Yaitu ketika salah satu juri menegur diri saya, dan kita lanjutkan mengobrol sesudah audisi di Yogya itu usai.

Peserta audisi tunggal lainnya, Wawan, yang berambut model Gogon berkomentar bahwa dengan disapa oleh juri, katanya, saya pasti berpeluang untuk lolos ke babak berikutnya. Saya diam dan senyum-senyum saja. Dia kemudian yang lolos, tetapi diminta bergabung dengan peserta lainnya untuk membentuk kelompok baru.


Cantik, Sintal, Intelektual. Dalam mengikuti audisi saya mendapatkan nomor urut AB 042 S. Huruf AB untuk menunjukkan nomor polisi Yogya dan S, singkatan dari solo atau tunggal. Di bawah ini adalah set atau naskah komedi yang saya bawakan :

“Saya main biola, seperti saya bermain cinta.” Kata pemain biola solo yang cantik dan seksi Maylaffayza di situsnya : maylaffayza.multiply.com.

Saya menyukai Maylaffayza. Ia cantik, seksi, berbakat dan intelektual. Tetapi ketika saya ikuti kata-katanya, akibatnya fatal. Saya kesulitan cari posisi enak. Orgasme pun tidak. Biola itu rusak, berantakan semuanya.

Maylaffayza mungkin lupa, kini selebrities adalah trend-setter. Panutan gaya hidup. Bahkan politisi pun bergaya selebrities. Yusril dan Syaifullah Yusuf, mantan menteri, bermain film. Presiden SBY menelorkan album musik. Anggota DPR main video, bersama Maria Eva.

Kini memang era emasnya para pesohor, para selebrities. Pintu-pintu peluang seolah terbuka bagi mereka untuk BISA MASUK kemana saja. Bintang sinetron Rano Karno, MASUK POLITIK, terpilih jadi Wakil Bupati Tangerang. Bintang sinetron Aji Massaid MASUK Partai Demokrat, jadi anggota DPR. Bintang sinetron Roy Martin, MASUK penjara.

Menjadi selebrities juga mampu membuka pintu-pintu istana. Anissa Pohan jadi menantu Presiden SBY. Lulu Tobing jadi cucu menantu mantan Presiden Soeharto. Infotainment mengabarkan artis Revalina Temat kini dekat dengan cucu mantan Presiden Soeharto, Panji Trihatmojo.

Oh, Revalina yang malang. Apa ia tidak tahu kalau Panji Trihatmojo itu sangat membenci selebrities ? Terutama selebrities bernama Mayanksari.

Begitulah, ratusan jam tayangan infotainment setiap minggunya telah membesarkan para selebrities itu. Persaingan antarstasiun yang keras. Begitu kerasnya persaingan, awak TV kini pun mencoba inovasi-inovasi baru : tayangan infotainment dipadu info kedokteran yang canggih, intrik dan perseteruan keluarga yang sengit, dibumbui nuansa-nuansa politik. Ramuan dahsyat ini bakal terjadi bila Halimah Trihatmojo membezoek Pak Harto, ketemu Bambang Trihatmojo yang disertai Mayanksari.

Big news. Big news. Big News.


Menelantarkan Karunia. Jam 13.40 saya keluar dari “ruang neraka” itu. Saya merasa telah diwisuda menjadi komedian tunggal, dengan segala resiko yang ada. Yang penting bagi pribadi saya, kapak untuk membongkar bongkah es itu telah saya ayunkan. Saya telah mengeluarkan kata hati.

Dalam literatur mengenai panduan menjadi komedian tunggal, pertama kali muncul petunjuk semacam ini : bagilah secarik kertas dengan tiga bagian. Masing-masing bagian itu tulislah apa saja yang membuat Anda marah, cemas dan takut. Itulah sumber utama lelucon Anda. Dengan membaca set saya tadi, mungkinkah Anda dapat menentukan seperti apa atmosfir jiwa saya ketika menulis naskah tadi ? Harapan saya, mudah-mudahan set itu telah sesuai arahan penulis komedi terkenal Danny Simon yang bilang, “it doesn’t always have to be funny, it has to be interesting. ” Tidak harus selalu jenaka, tetapi haruslah menarik.

Sakitnya toh tetaplah ada. Saya bukan robot. Manusiawi. Karena saya sekali pun tidak memperoleh tawa. Baik dari ketiga juri, belasan audiens, juga calon kontestan nomor berikutnya yang ikut antri saat itu. Justru mereka semua nampak tegang. Duh. Nilai nol bagi saya untuk komedi. Mungkin dalam situasi semacam itu saya lebih cocok sebagai militer. Karena tidak mampu menciptakan atmosfir santai.

Hanya di bagian akhir, juri paling kanan dan kemudian menegur saya itu nampak senyum-senyum kecil. Saya berkesimpulan, saya telah tamat, gagal, selesai, gepeng, lumat, hancur lebur, karena kejatuhan bomb yang besar di Yogya siang itu. Tetapi saya tidak sendirian. Dari nomor urut yang saya pantau, ada sekitar 100-an peserta audisi saat itu, dan sebagian besar akan tereliminasi, bukan ?

Photobucket

Setelah Tereliminasi, Mau Apa Lagi ? Dari kiri, saya, Imran Pratama dan Mubarok dari Kelompok Mur, sama-sama dari Magelang. Kapan kita bisa bertemu lagi sebagai pelaku dunia komedi ?


Muncul usikan pertanyaan : sesudah tereliminasi, apakah mereka akan tetap menekuni karunia Allah, yaitu bakat-bakat dan keinginan menjadi pelawak, yang telah ada pada setiap diri peserta audisi itu ? Atau lalu menelantarkannya ? Lalu kemana pula mereka yang telah berhasil memasuki GrenPinal API-API sebelumnya, tetapi tak ada kabarnya sama sekali dewasa ini ?

Sambil menunggu empat jam saat akan diumumkan peserta yang lolos ke final, saya tiduran di lantai, emperan gedung sebelah selatan tempat audisi. Membuat catatan. Membaca-baca buku. Sebelumnya, sesekali saya menemui peserta audisi lainnya, bertukar kartu nama. Sayang, sebagian besar mereka belum bersiap untuk “menjual diri,” karena tidak memiliki kartu nama. Kelompok Presto Semarang, memiliki stiker.

Dalam gerombolan calon pelawak itu saya temui beberapa anak muda pria yang berpakaian sebagai banci atau perempuan dengan pakaian seksi. Pemuda dengan tubuh-tubuh gendut. Kelompok lain berpakaian hansip, atau bersarung dengan kopiah menyilang model Kabayan, sampai berkostum pemain sepak bola.


Untuk membunuh waktu, saya meneruskan membaca bukunya Chris Anderson, The Long Tail (2007) yang saya bawa dari rumah. Subjek ini sebelumnya telah saya baca di majalah Wired (2004), majalah gaya hidup Internet yang menjadi favorit sejak tahun 90-an.

Saat membaca-baca itu, sempat terlintas di pikiran : lawakan solo yang bertema politik, cocok kah untuk TPI dan TV-TV lainnya di Indonesia ? Juga, oh, di audisi tadi saya rupanya telah menggigit kaki Goliath. Saya telah melucukan ulah kerabat keluarga Cendana, sementara bukankah TPI itu milik mereka juga ?

Pertanyaan lain muncul : dengan penyelenggaraan API sampai keempat ini, lalu diapakan data para calon pelawak yang telah dihimpun oleh TPI selama ini ? TPI sebagai lembaga komersial, memang sulit diharapkan mereka mau mengurusi masa depan ribuan calon pelawak yang sebagian besar tereliminasi itu. Pendekatan semacam itu juga terungkap dari isi bukunya Chris Anderson (lihat grafis di bawah), di mana TPI hanya berminat berurusan dengan head (kepala, merah) dan membiarkan tail (buntut, kuning) yang panjang itu.

Dalam bahasanya Anderson, TPI melaksanakan API berlandaskan prinsip hit-driven economics, ekonomi pembuat hit, dengan memfokuskan bisnisnya hanya menggarap calon-calon pelawak yang menurut mereka potensial untuk dijual. Ekonomi pembuat hit merupakan kreasi di mana tidak cukup ruang untuk menampung segala hal dan tidak mampu memenuhi kebutuhan setiap orang pula.

Rinciannya : tidak cukup ruang di rak-rak toko untuk mampu menampung semua CD, DVD atau games yang diproduksi. Tidak cukup layar bioskop untuk menayangkan semua film yang ada. Tidak cukup saluran untuk menyiarkan semua acara televisi yang ada. Tidak cukup pula gelombang radio untuk mengudarakan seluruh ciptaan musik yang ada, dan tidak cukup jam setiap harinya bagi kita untuk menyapu semuanya itu di pelbagai slot-slot yang tersedia.

Itulah potret diri dunia kelangkaan, the world of scarcity. Dewasa ini, berkat Internet yang membuka distribusi dan eceran secara online, kita memasuki jaman limpah ruah, a world of abundance. Dan perbedaannya sangatlah dahsyat.

Photobucket

Peluang Besar Terbuka : Berkarier Komedi Secara Indie. Internet membuka jalan baru untuk berkarir sebagai komedian. Kalau TPI membuka pintu hanya di bagian kepala (merah), maka Internet terbuka untuk dieskploitasi secara lebih tak terbatas, di bagian ekor (kuning) yang teramat panjangnya.Beranikah kita ?


Chris Anderson menunjukkan bahwa masa depan dunia bisnis bukan bertumpu pada produk-produk best seller, alias pembuat hit di bagian kepala (head), bagian paling tebal dalam kurva permintaan tradisional. Melainkan pada produk-produk yang sampai belum lama ini dianggap gagal atau sampah, yaitu produk-produk di bagian ekor panjang (the long tail) yang tak ada habisnya, pada kurva yang sama.

Dalam bahasa industri musik, bagian kepala adalah ranahnya major label dan bagian buntut merupakan lahan kiprahnya kaum indie, kaum yang berkarya sesuai kata hati mereka. Dan tidak sedikit dari mereka yang menuai sukses besar pula.

Perbedaan dan gambaran bisnis masa depan itu rupanya masih berada di luar jangkauan TPI. Bisa dimaklumi. Implementasi filosofi ekonomi pembuat hit dalam program komedi yang mereka kukuhi, misalnya jelas dicerminkan dalam formulir pendaftaran API-4. Para calon peserta pagi-pagi digiring untuk memilih gaya lawakan tertentu : apa seperti Warkop, Srimulat, Bagito, Patrio, Cagur, Taufik Savalas, SOS, Bajaj dan Lainnya. Kita ingat, itulah sebagian besar nama-nama kelompok lawak mainstream kita yang mainnya secara keroyokan. Dan jujur saja, bisakah kita membedakan karakter atau comedy signature yang khas antara satu dengan lainnya ?

Pencantuman nama-nama itu semata memudahkan untuk seleksi. Tetapi mungkin dilupakan, hal itu jelas membatasi imajinasi calon peserta audisi. Mereka cenderung mengira, gaya-gaya lawakan kelompok di atas yang dikehendaki oleh juri, lalu mereka mencoba menyesuaikannya. Buntutnya, sikap kompromistis senantiasa membunuh kreativitas, melumpuhkan orisinalitas, dan itu penyakit lama dunia komedi kita selama ini. Dalam API-3 yang lalu ada peserta yang bergaya model Kang Ibing atau Jim Carrey, merupakan bukti kuat akan hal itu.

Sekadar contoh kasus lain. Dalam audisi API-4 di Bandung, Beni, seorang juri mengatakan bahwa masih banyak peserta yang memasukkan guyonan atau lawakan khas Sunda. "Parahnya lawakan tersebut sudah banyak dilakukan oleh para senior mereka dan kami anggap basi," ujarnya. Menurut Beni, pemirsa TPI bukan hanya orang Sunda dan mengerti bahasa Sunda. Oleh karenanya, mereka yang dipilih adalah grup atau peserta yang lawakannya menggunakan bahasa Sunda, tetapi benar-benar masih orisinal.

Photobucket

Menunggu Inovasi TPI. Harris Cinnamon, Eksekutif Produser TPI, sedang memberikan bekal kepada kontestan. Ia antara lain berpesan agar kontestan membuat lawakan yang beda. Maukah TPI melakukan hal yang juga berbeda, mendayagunakan pangkalan data calon komedian yang mereka himpun untuk mendidik mereka ?


Dalam tesisnya Anderson, para pelawak khas Sunda itu, juga ribuan anak muda yang ingin terjun sebagai pelawak dan gagal di API, sebenarnya bakat-bakat dan kemampuan mereka tidak selayaknya ditelantarkan. TPI kini memiliki pangkalan data mereka, dan sangatlah ditunggu eksploitasi positif dari TPI untuk masa depan mereka.

Misalkan membuat newsletter, berisi tips dan panduan berkomedi untuk televisi, untuk mereka. Baik materinya ditulis pengelola acara komedi TPI, alumnus GrenPinal API, atau akademisi dan pemerhati dunia komedi lainnya. Mungkin TPI dapat mengambil sedikit peran yang seharusnya milik PASKI, organisasi profesi kaum komediwan yang lumpuh, loyo dan impoten begitu diresmikan.

Menurut hemat saya, berkat ilham buku hebat di atas, bagi mereka dan Anda yang gagal di audisi tetapi bertekad baja ingin serius ingin berkomedi, seharusnya tidak lalu menjadi putus nyali. Kreasi Anda masih dapat tertampung dan terasah secara indie, dengan terjun ke dalam “buntut panjang”-nya Chris Anderson itu. Buntut itu merupakan dunia melimpah-ruah di Internet, yang mampu menampung kreasi apa saja dari Anda.

Dengan mengelola situs video sharing YouTube, yang gratisan, bermodalkan naskah dan handycam, mereka dapat memproduksi acara komedinya sendiri. Ibarat memiliki sendiri acara televisi yang mandiri, untuk mampu langsung menyapa dunia. Hadirlah dahulu, daripada hilang sama sekali dan sulit dilacak. Sebab bila memang bagus maka dunia televisi tradisional pasti juga suatu saat memperhatikan kreasi komedi Anda. Bukunya Anderson kaya dengan contoh-contoh yang inspiratif mengenai keberhasilan aksi bergaya indie semacam itu yang dapat Anda teladani.

Photobucket

Saya Beraksi, Ditegur Juri. Usai beraksi, saya ditegur oleh juri (membelakangi lensa). Sungguh suatu kejutan, juri itu telah mengenalku dan aku malah belum tahu. Siapakah dia ? Rahasia terbuka setelah audisi usai. Internet masih saja memberikan kejutan padaku.

Sekitar jam 15.03, juri yang menegur saya tadi, menemui saya. “Assalamualaikum,” tegurnya kali ini. Kalau teguran dia sesudah saya beraksi tadi adalah, “Apakah Anda Mas Bambang yang mengelola blog Komedikus Erektus ?” Tentu saya jawab : “Ya.” Lalu saya teruskan. “Dalam komedi, ada ilmu air dan ilmu madu. Ilmu air adalah teori, seperti yang saya tulis di blog saya, dan ilmu madu adalah milik Anda, praktisi dunia komedi. Saya kesini ingin belajar dari Anda.”

Juri yang menegur saya dua kali itu kemudian mengenalkan diri : Ade Tao. Ia memiliki kelompok lawak Decaer Group. Saya terkaget. Ia adalah teman yang saya kenal melalui Internet, melalui blog ini pula. Kita pernah mengobrolkan cita-citanya yang ingin terjun sebagai komedian solo juga. Ade Sofyan Intan, nama lengkapnya, bersama kelompok “69” termasuk 16 besar GrenPinal API I/2005. Satu angkatan dengan SOS dan Bajaj, Ade sudah banyak berpentas dengan pelbagai personil lawak Jakarta lainnya.

Kita hanya sempat mengobrol sebentar. Tetapi saya ingat kata-katanya saat itu bahwa “dunia komedi adalah dunia yang berat” sampai ujaran filosofis bahwa “idealnya kita melawak juga dengan hati.” Terima kasih, Ade. Ia pamitan. Sayang kita tak sempat berfoto bareng, karena Ade harus segera masuk ruang lagi, untuk rapat penjurian. Pertemuan yang aneh, tetapi menyenangkan. Up date 1/2/08 : Ade kirim SMS : “Thanks mas, tulisan Anda membawa perubahan dalam hidup dan karier saya sebagai pelawak.” Saya malah jadi bingung. Moga menjadi lebih baik ya, Ade ?


Jam 15.50 diumumkan 14 kelompok yang masuk final. Pertama lolos, nomor 017, disusul 005, 038, 046. Ketika mencapai nomor enam, mungkin karena saya terlalu GR, dan berharap, sepertinya nomor yang disebut adalah AB 042 S. Itu nomor saya. Saya sudah melakukan selebrasi, dengan melemparkan rompi saya ke udara.

Satu sosok pemuda lagi maju ke depan, menghampiri pembaca pengumuman. Saya juga mendekat, ingin memastikan. Saya dengar seseorang awak TPI yang berbadan tinggi, hitam dan berwajah Timur Tengah, sempat berucap, “tunggal.” Tetapi yang disebutkan untuk lolos kemudian kok justru nomor 052 ?

Saya tanyakan hal kekacauan penyebutan nomor itu ke Ade Tao. Ia angkat tangan. Ia bilang, “yang jadi juri enam orang.” Aku mengerti. Aku bukan hendak memprotes bahwa ia mengenal diriku dan harus memenangkanku, tetapi untuk mencari tahu kejelasan nomor kontestan yang lolos. Saat itu mungkin Ade juga tidak begitu memperhatikan bunyi pengumuman itu. Aku dari rumah sebenarnya bawa tape recorder, tetapi tidak saya hidupkan untuk merekam momen itu. Sori, Ade.

Pemuda yang mendekat tadi saya tanya nomornya. Ia menyebut 062. Lalu saya mencoba merekonstruksi : kalau ia dan saya merasa nomornya lolos, bukankah karena penyebutan lafal angka “EM-pat” (nomor saya) dan “EN-am” (nomor dia) hampir sama terdengar di telinga kita ? Bukankah berbeda jauh dengan lafal penyebutan “LI-ma” yang merupakan nomor yang kemudian ditentukan panitia untuk lolos ke final ?

Dunia tak bisa diputar kembali.

Yogya sore itu segera terguyur hujan deras. Ini kotaku ketika di tahun 1970-an aku pernah bersekolah di sini. Sebelum kembali ke Wonogiri, saya memutuskan pergi ke mushola, masih di komplek yang sama, untuk sholat Ashar. Aku bersyukur, karena telah menjalani salah satu hari yang terbaik dalam hidupku, di tengah proses merintis cita-cita sebagai komedian.

Apa pun hasilnya.

SMS yang aku terima kemudian juga ikut memberikan peneguhan. Di atas bis Sedya Mulya yang membawa saya kembali ke Solo, saya memperoleh SMS itu. Dari Niz, yang kedua hari ini. Mantan tercinta saya itu baru beberapa hari tiba dari rumahnya di London Tenggara dan kini berada di Aceh.

Di bumi Serambi Mekkah itu ia hendak meresmikan sekaligus menyerahkan proyek sosialnya kepada masyarakat Aceh korban tsunami. Tahun lalu, ia memberi saya oleh-oleh inspiratif, CD komedian kelahiran Mesir yang besar di California, Ahmed Ahmed, yang berjudul “I Believe I Can’t Fly.” Lawakannya antara lain mengenai perilaku diskriminatif AS terhadap warga Arab, juga Islam, pasca 11 September.

SMS Niz itu merupakan kado yang indah. Berbunyi : Im sorry you’ve lost, but never mindlah. Some other time, don’t give up. Saya ikut sedih karena kau gagal, tetapi jangan kecil hati. Kau akan berhasil suatu saat nanti, jangan menyerah.

Terima kasih, Niz.

Lirik lagu “I Have A Dream”-nya ABBA yang enam tahun lalu dinyanyikan Maylaffayza ikut menggema kembali di tengah derasnya hujan. If you see the wonder of a fairy tale, you can take the future even if you fail. Bila kau melihat keajaiban sebuah dongeng, kau akan mampu meraih masa depan, sungguh pun kau terantuk oleh kegagalan.

Sebuah pesan yang juga menawan. Optimistis. Menguatkan tekad kita semua dalam berjuang mengejar impian. Utamanya yang ingin berkiprah di ranah komedi tunggal yang medan perangnya berkarakter khas :

Bengis.
Sepi.
Keras.




Wonogiri, 26-29 Januari 2008.


ke

Wednesday, October 17, 2007

Don't Try To Be Funny !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Otak yang luka. Ketikkan sekarang “comedy writing” di mesin pencari Google. Semoga Anda masih beruntung menemukan artikel berjudul The “Seven Laws of Comedy Writing” oleh David Evans. Artikel yang menurut saya, sungguh bernas dan menarik.

Saking bersemangatnya saya untuk bisa ikut memberi andil bagi perbaikan kualitas dunia komedi Indonesia, artikel itu pernah saya kirimkan kepada warga komunitas komedi Indonesia. Tidak kepada Miing Bagito. Tidak kepada Aming atau Tora Sudiro. Tidak kepada Indro Warkop DKI. Tidak pula kepada Tukul Arwana. Apalagi Gogon atau pun Basuki. Bukan bermaksud meremehkan mereka, tetapi karena saya memang tidak memiliki data email mereka.

Saya kirimkan artikel itu kepada Effendi Gazali. Juga kepada Denny Chandra. Keduanya tidak membalas. Apalagi berkomentar tentangnya. Saya pikir, hal itu terjadi karena mereka memang sudah memiliki artikel bersangkutan. Kalau itu yang terjadi, saya bersyukur.

Dalam artikel tersebut David Evans antara lain menceritakan sosok komedian keturunan Latin, bernama Chris Fonseca. Ia kurang beruntung, karena menderita penyakit yang disebut sebagai cerebral palsy, adanya luka di otaknya. Penyakit itu pula yang membuatnya sulit berbicara dan tidak mampu meninggalkan kursi roda.

Tetapi di atas kursi roda itulah Chris Fonseca memanggungkan lawakannya. Sebagian besar leluconnya, menurut Evans, merupakan ungkapan sisi-sisi komedis hidup Chris Fonseca yang terkungkung dan tertelikung oleh jeruji keterbatasan fisiknya.

“He is wonderfully funny, because his comedy grows directly out of his own real life,” tandas David Evans bernada tulus dan sarat pujian. Chris Fonseca yang menurutnya memang bener-bener lucu abis., karena sajian komedinya tumbuh langsung dari kehidupan nyata dirinya pribadi.


Panggung pembantaian. Artikel David Evans dan kisah Chris Fonseca serasa tertayang kembali di benak saya, ketika menguping acara Seni dan Budaya Radio BBC Siaran Indonesia, Minggu Sore, 14 Oktober 2007 yang lalu. Dengan dipandu oleh reporternya, Donny Maulana, disajikan perbincangan menarik berkisar peranan klub komedi dalam sumbangsihnya terhadap perkembangan dunia komedi Indonesia. Topik satu ini seingat saya belum pernah muncul dalam perbincangan di pelbagai media mainstream Indonesia. Di harian Suara Merdeka, 19 Februari 2007, saya telah menulis topik bersangkutan.

Nara sumber yang sempat dikontak Donny Maulana untuk berbicara meliputi Ramon P. Tommybens, Dodik Hamster, Apung dan Bambang Haryanto. Sebagai orang kampung dalam belantara komedi Indonesia, saya merasa beruntung. Kalau menurut Gene Perret, penulis komedi untuk Bob Hope, saya selama ini ibaratnya mengenal dunia komedi baru terbatas sebagai “ilmu air,” hal-hal yang bersifat teori. Malam itu saya mendapatkan padanannya.

Pernyataan saya yang dikutip dalam liputan BBC itu berfokus pada topik manfaat klub komedi. Menurut saya., klub komedi merupakan fenomena urban yang selain sebagai outlet alternatif bagi penggemar komedi berkelas, terutama bagi mereka yang bosan atau muak dengan tayangan-tayangan komedi yang ada di televisi, juga sebagai wahana asah diri bagi calon-calon komedian solo Indonesia.

Kita tahu, kalau dalam tayangan komedi di televisi terlalu banyak unsur kepalsuan dan rekayasa dalam mengundang tawa, maka dalam klub komedi para komedian terjun langsung sendirian, secara head to head dengan audiens. Di pentas itu dirinya akan merasakan panasnya sambutan atau pun cemoohan penonton, dan itulah penggemblengan sejati bagi mereka. Tak ayal ini merupakan arena pembantaian yang mengerikan. Dan mungkin karena hal itulah karier komedi solo tidak nampak diminati oleh komedian Indonesia, karena mereka lebih merasa aman untuk tampil secara keroyokan.

Mungkin itulah akibat terlalu banyaknya warga komunitas komedi Indonesia yang tidak tahu kata mutiara dari seorang Judy Carter, mentor komedi terkenal. Ia bilang, komedi solo merupakan bentuk padat, intisarinya komedi. Kalau Anda faham mengenai prinsip-prinsip dasar lelucon, maka Anda akan mampu menerjemahkan keterampilan itu dalam pelbagai ranah yang beragam, apakah dalam penulisan naskah komedi, pementasan, sampai kepada pemasarannya. Karena semuanya itu terpusat pada upaya untuk menghadirkan gelak tawa.

Sokurlah, “ilmu air” saya di atas tentang komedi itu diperkaya dengan nara sumber lainnya yang mengenal “ilmu madu” dari komedi Indonesia. Karena mereka mengenalnya secara nyata. Dalam pergulatan hidupnya. Terutama untuk sosok seorang Ramon P. Tommybens.

Ia selain menulis naskah komedi untuk tayangan televisi dan pementasan, tercatat bersama Harry de Fretes mendirikan PT HdF Corporation yang di antaranya membawahi Grup Lenong Rumpi, Tegar Cipta Paramuda Film, Boim Cafe, dll Ketika itulah ia mulai membina banyak artis muda untuk produksi serial komedi yang di produserinya seperti Lenong Rumpi, Hari Harry Gila (Anteve), Hari Harry Mau (Anteve), F-2 (TPI), dll.

Bersama aktor Tio Pakusadewo dan Ryan Hidayat, Ramon juga membuat beberapa produksi sinetron dan juga menjadi pemain (aktor). Selain mencari bakat baru, melatih dan membimbing, Ramon P Tommybens juga banyak bekerja sama dalam produksi program komedinya dengan beberapa artis yang di kemudian hari menjadi terkenal seperti Tukul Arwana, Becky Tumewu, Indra Safera, Jodi, Tenny, Trio OIO, Ade Juwita, Ade Namnung, Dilla Dil, dan lain-lainnya.



Malam itu Ramon didaulat oleh BBC Siaran Indonesia terutama karena sejak tahun 1997 ia menciptakan konsep unik comedy cafe a la Indonesia dengan mendirikan Comedy Cafe Indonesia untuk pertama kalinya di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Sejak 1 Februari 2006 Comedy Cafe beroperasi di lokasi Ground Floor 06 Pasar Festival Jl. HR Rasuna Said Kuningan Jakarta.

Dodik Hamster, stage manager Comedy Café, menjelaskan bahwa kafenya disebutnya baru menciptakan suasana yang komedis untuk para pengunjungnya, termasuk juga para pengelolanya. Tetapi bila dibandingkan dengan klub komedi di AS, yang mampu melahirkan komedian solo atau stand up comedian seperti Bill Cosby, Robin Williams sampai Jim Carrey, Dodik Hamster mengakui bahwa hal itu masih terbatas sebagai cita-cita besarnya. Walau kafenya sudah berjalan selama sepuluh tahun, ia mengatakan masih menunggu-nunggu, sambil terus belajar, hingga munculnya komedian solo di Indonesia.


Tidak ada rambut Gogon. Pemilik Comedy Café, Ramon P. Tommybens, bahkan menegaskan bahwa sejumlah pelawak terkenal yang alumnus kafe atau hasil didikannya, belum bisa disebut sebagai seorang stand up comedian. Karena memang sulit menemukannya di Indonesia. “Kenapa sulit sekali di Indonesia memiliki stand up comedian walau banyak sekali yang berusaha ?,” tanyanya.

Ia menjawabnya dengan memberi ilustrasi seputar perjuangan seorang Taufik Savalas almarhum. “Dia itu minjam DVD, koleksi buku, (juga) belajar teorinya dari saya. Beberapa tahun lalu saya dengar ada Iwel (Well) yang nyoba di Gedung Kesenian tampil sendirian. Nah masalahnya, ada kesalahan. Kesalahan belajar,” tutur Ramon P. Tommybens. Menurut pendapatnya, pelawak solo Indonesia bisa segera muncul, kalau mereka belajarnya benar. Dalam rinciannya terdapat lima syarat :

1. Don’t try to be funny.
2. Don’t tell a jokes.
3. Don’t tell a story.
4. Be serious.
5. Relax.


Sebelumnya Ramon menyebut bahwa bahannya, yaitu si pelawak atau orangnya, harus pintar Cerdas. Dalam wawancara melalui telepon terkait persyaratan satu ini, kepada Donny Maulana saya memberi ilustrasi mengenai seberapa cerdas sosok komedian solo di AS. Yaitu Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Sekadar Anda tahu saja, keduanya sama-sama lulusan magna cum laude dari Universitas Harvard.

Ramon kemudian merinci sebagian dari kelima syarat di atas dengan ilustrasi menarik. Misalnya, ketika merujuk syarat yang pertama, mungkin terasa sangat antagonistik. Ia katakan, “padahal mau menjadi pelawak tetapi (kok) tidak boleh melucu ? Bahkan jangan coba-coba menjadi lucu !” Mungkin memang tidak mudah bagi kita untuk mencerna penjelasannya yang provokatif ini.

Kita simak, ketika ia mengilustrasikannya dengan merujuk sosok pelawak solo di luar negeri. Mereka itu, menurutnya, tampil seperti businessman. Hadir dengan jas rapi, memakai jam emas, pakai berlian, gayanya mewah. “Tak ada lagi yang memakai dasi pendek, celananya diangkat, kumisnya kecil atau rambutnya diapain. Engga ada lagi yang rambutnya kayak Gogon gitu,” tandasnya.


Siapa mendengar kritik Ramon ? Beberapa hari sebelum acara di radio BBC Siaran Indonesia diudarakan, saya telah menulis email ke Ramon P. Tommybens. Juga saya tembuskan kepada beberapa individu warga komunitas komedi dan pelaku industri komedi di Indonesia. Semoga mereka mendengar kritikan Ramon di atas. Saya ragu.

Karena walau pun mendengar, saya terlanjur pesimistis bahwa mereka mampu memahami rumus-rumus yang dipaparkan oleh Ramon P. Tommybens di atas. Lebih pesimistis lagi bila mampu memberinya inspirasi untuk mau belajar dan memicunya untuk berubah. Karena pemahaman komunitas komedi di Indonesia terhadap sajian komedi sepertinya sudah mengakar sebagai pertunjukan bergaya keroyokan, tidak menganggap penting otensitas diri tiap individu pelawak, dan terutama mereka baru mampu berjalan di tempat dengan prinsip selalu tampil untuk berusaha lucu.

Tayangan Republik Mimpi di MetroTV misalnya, yang diolah otak-otak terdidik dari jurusan pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, juga masih terjebak sangat tendensius ingin melucu dan melucu. Pemberian nama-nama tokohnya, seperti Jarwo Kuwat (JK) untuk memparodikan sosok Jusuf Kalla, Gus Pur untuk Gus Dur, sampai Megakarti untuk Megawati, adalah impuls kelucuan yang teramat tipis, hanya mengapung di permukaan saja.

Begitulah, lelucon atau komedi di Indonesia memang masih sibuk menggaruk-garuk impuls-impuls dangkal yang mampu memicu tawa. Juga hanya menerbitkan tawa yang dangkal pula. Suka atau tidak suka, modus operandi atau formula semacam ini yang justru merajai tayangan-tayangan komedi di layar-layar televisi kita selama ini.


Selamat tinggal televisi ! Kita kembali ke David Evans. Obat atau antidote bagi nafsu mencoba melucu dan tampil lucu, barangkali bisa kita temukan pada pernyataannya berikut ini : “Saya percaya adanya kekuatan dahsyat ketika Anda memiliki kejujuran dalam visi komedi Anda, yang dipadukan dengan inspirasi komedi yang bersumberkan pada diri individu Anda.”

Inspirasi komedi itu bisa hadir secara wadag, misalnya kekurangan fisik seorang Chris Fonseca. Tetapi bisa juga lebih halus keberadaannya. Bagi saya, kejujuran seperti yang ia syaratkan masih hal langka bagi komedian Indonesia dalam mengkonstruksi lawakan-lawakan mereka.

Speak your truth. You can say what you think an audience wants to hear, and they may think you're funny, but you won't pioneer anything new unless you use that one thing that makes you different, your own personality.

Talk about your own fears and faults. By presenting what is most personal for yourself, you actually touch a common chord among more people. You can illuminate what it means to be human, and bring more humanity out of yourself and others. And that's what great stand-up is all about.


Kuncinya, sekali lagi, tengoklah diri Anda sendiri. Lalu perhatikan orang-orang di sekitar hidup Anda. Orang-orang, absurditas dan kebodohan dari kehidupan nyata merupakan sumber inspirasi komedi yang paling kaya. Mengingat tingginya nilai keaslian, ia anjurkan kepada para calon komedian untuk tidak menonton televisi. Tegas David Evans : “Jangan berbelanja inspirasi atau model komedi Anda dari televisi !”

Sebagai calon komedian, mungkin sudah saatnya Anda mau menyiksa diri dengan mengoreksi secara total kesalahan belajar komedi Anda selama ini. Termasuk untuk berkata dan bertindak : Selamat tinggal Empat Mata. Selamat tinggal, Republik Mimpi. Selamat tinggal, ExtraVaganza. Kalau tidak, mungkin Anda sebenarnya sudah mengidap cerebral palsy, tanpa Anda sadari.

Dalam konteks seperti ini mungkin saya, yang tinggal di kampung ini, agak-agak boleh disebut sebagai beruntung. Karena saya memang tidak memiliki pesawat televisi.



Wonogiri, 14-17 Oktober 2007


ke

Thursday, August 23, 2007

WC Kampus dan Mahasiswa Dalam Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Badut-badut Kampus. Aksi pelawak ternyata bisa juga menjadi motivator tim bola basket. Itulah yang terjadi pada diri Devin O’Connor, mahasiswa senior dari Jurusan Teater Penn State University, AS. Seperti dikutip oleh Megan McKenna dalam situs universitas tersebut, The Collegian, si Devin O’Connor itu selalu hadir dalam pertandingan basket di kampusnya dengan memakai kostum yang aneh-aneh.

“Awalnya hanya untuk lucu-lucuan, tetapi kemudian dirinya menjadi pemandu sorak tidak resmi dari tim universitas kami karena ia mampu menggairahkan suasana pertandingan,” tutur Kevin Scheler, teman Devin, yang mahasiswa Kinesiologi.

Mahasiswa lain, Jason Yanushonis, dari Jurusan Finance dan teman Devin di SMA menimpali bahwa O'Connor mampu membawakan selera humornya yang energetik kemana pun ia berada. “Anda tak dapat menduga apa yang akan meletup dari dirinya,” tegasnya. “Ia adalah sosok yang semua orang menginginkan dirinya hadir dalam pesta mereka, karena O’Connor mampu membuat suasana pesta menjadi berbeda.”

Badut sejak SMA itu kini memantapkan diri sebagai komedian mahasiswa yang berprospek cerah. Ia telah manggung di Universitas Yale dan Pittsburg, dan juga tampil sebagai pemenang dalam kontes Comic Strip Live Comic of the Month Contest di New York. “Saya suka kampus karena tipe komedi saya cocok dan terkait erat dengan situasi kampus,” jelas O’Connor.

Simak juga cerita Susan Johnston tentang Alison Block, cewek mahasiswa tingkat pascasarjana jurnalistik di Universitas Duke. Siangnya kuliah dan kalau malam manggung sebagai komedian. Digambarkan betapa Alison sehari-harinya senantiasa memasang antena otaknya, peka menguping ucapan atau pun situasi sekelilingnya yang mampu memicu imjinasi dan diolahnya menjadi lelucon. Selain menulis leluconnya sendiri, memanggungkannya, ia juga menyanyi, menulis fiksi, skenario dan juga menulis lagu. “Utamanya aktivitas yang tidak menghasilkan uang,” candanya. Tetapi jelas teramat vital bagi dirinya, karena akan mengasah tajam pisau intelektualitasnya.

Bagaimana potret aktual dunia komedi mahasiswa kita ?

Di negeri kita ini pasti akan mudah kita ketemukan badut-badut mahasiswa yang suka membuat ulah lucu atau sok lucu di pelbagai kampus. Mungkin mereka beraksi di dalam kelas saat kuliah atau berani naik panggung-panggung hiburan internal kampus mereka masing-masing. Tetapi di tingkat nasional, di mana kini hidung para pelawak mahasiswa semacam Devin O’Connor atau Alison Block di atas ? Bagimana kalau pertanyaan ini dilontarkan kepada Effendi Gazali ?

Kira-kira, mampukah ia menjawabnya ?

Jawaban telak dan tak terduga-duga, sekaligus mungkin benar, mungkin justru muncrat dari sinyalemen tajam dan sarkastis yang pernah dilontarkan oleh almarhum Sudjoko. Beliau adalah budayawan, ahli bahasa dan guru besar Seni Rupa dari ITB Bandung.

Kebetulan adik saya, Basnendar Heriprilosadoso, saat ini sedang menempuh pascasarjana di Seni Rupa ITB. Ia mengajar di ISI Surakarta, seorang kartunis dan desainer logo, di mana salah satu karya puncaknya adalah logo Galeri Nasional di bilangan Gambir Jakarta Pusat. Ketika merujuk sinyalemen Pak Djoko di atas ia telah saya titipi pesan yang mungkin rada aneh : untuk memotret coreng-moreng yang ada di tembok-tembok WC kampus ITB. Karena di lokasi inilah kejeniusan mahasiswa Indonesia, utamanya mahasiswa ITB, mampu terekspresikan dalam kualitas puncak, sehingga mampu mengundang bahak dan menarik perhatian Pak Djoko itu.


Bawa Pulang Alya Rohali. Di atas saya telah mencoba bertanya kepada Effendi Gazali (EG). Mengapa ? Karena ia seorang doktor dan pengajar di Universitas Indonesia. Seorang intelektual di bidang komunikasi dan menurut penuturan teman dunia maya saya, Ira Lathief, saat menulis buku Kumis Lele Rezeki Arwana dan meminta endorser untuk bukunya itu, tokoh “Dik Pendi” dari Republik Mimpi (RM) tersebut telah menuliskan di bawah namanya, sebuah gelar keren : stand-up comedian.

Di acara Republik Mimpi itu dirinya mendapatkan mitra Iwel Well, yang kebetulan sama-sama berasal dari Sumatra Barat. Tokoh dengan peran redundant di Republik Mimpi ini suka EG promosikan sebagai stand-up comedian pertama di Indonesia. Lucunya, di acara Republik Mimpi itu keduanya selalu nampak hanya berposisi sebagai sit-down (sekaligus sitting duck ?) comedian belaka. Masih muda sekaligus berjulukan the most eligible bachelor tetapi tak mampu “berdiri,” bukankah ini sebuah bencana ke-manusia-an ?

Lupakan lelucon low comedy itu. Saya ingin bertanya juga karena Effendi Gazali adalah kreator acara Republik Mimpi yang selalu menghadirkan para mahasiswa. Mereka hadir berombongan dengan selalu mengenakan jaket alma mater dan bahkan bersama dosen-dosen mereka, dalam siaran langsungnya. Selain acara Republik Mimpi, silakan Anda daftar sendiri acara-acara di televisi yang kurang lebih memiliki genre serupa yang menghadirkan para mahasiswa sebagai audiens dalam acara televisi mereka. Pertanyaan lanjut saya : apakah hanya pantas sebagai audiens acara komedi di televisi sajakah yang bisa diperankan oleh mahasiswa kita sekarang ini ?

Kalau jawabannya memang benar, maka saya mudah teringat pernyataan seorang Robin Day (1923 – ), broadcaster Inggris, yang berkata bahwa televisi itu subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Televisi menyentuh emosi daripada intelek. Apakah acara komedi di televisi kita hanya menjadi etalase ketidaknalaran dan ketidakintelektualan insan-insan cendekia kita ? Pengalaman pribadi saya ketiksa bersentuhan dengan televisi kira-kira memang menegaskan hal-hal miring seperti itu.

“Bawa Pulang Alya Rohali !” adalah tagline yang saya buat ketika mengikuti acara kuis Siapa Berani ? di stasiun televisi Indosiar, 12 Maret 2002. Slogan itu tertulis di kaos dan juga mencuat sebagai lirik lagu yang kami bawakan, sebagai ekspresi kontingen Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI), organisasi payung suporter sepakbola Indonesia yang turut saya bidani kelahirannya. Regu lainnya adalah kelompok suporter Aremania (Arema Malang), The Jakmania (Persija Jakarta), Pasoepati (Pelita Solo) dan Viking (Persib Bandung).

Helmy Yahya, kreator acara kuis keroyokan itu, di koran The Jakarta Post bilang bahwa acaranya yang ia pandu bersama Alya Rohali dan diikuti para penggila sepakbola ini merupakan salah satu yang terbaik. Tetapi sekaligus paling tercoreng, karena seusai kuis terjadi keributan parah, perkelahian antara dua kelompok suporter yang secara tradisional telah lama berseteru. Bahkan kemudian diikuti insiden penganiayaan berat saat itu.

Potret yang ingin saya garis bawahi ketika mengikuti kuis itu adalah suasana yang khas televisi : kentalnya rekayasa agar semua hal yang tersaji di layar nampak meriah, heboh, ceria, menggembirakan. Ketika Anda dan kawan-kawan nampak melempem, maka akan ada petugas televisi yang berusaha “membakar” Anda untuk kembali bergairah. Bagaimana kalau teknik rekayasa semacam ini juga dicangkokkan dalam acara komedi di televisi ?


Komedi-komedi kita yang sesat. Rekayasa yang sangat kental itulah yang sekarang tersaji dalam acara komedi di televisi kita. Saya mendapatkan pencerahan akan bahaya rekayasa tersebut dari teman diskusi saya di dunia maya, Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati. Dalam emailnya (20/7/2007) Isman menulis :

“Pada dasarnya, kalau kita sekadar mengandalkan umpan balik penonton untuk menilai apakah komedi itu baik atau buruk, kita akan tersesat. Seperti menanyakan jalan keluar kota kepada orang yang tidak pernah keluar rumah. Extravaganza (acara komedi sketsa di TransTV-BH) masih terjebak pada hal itu. Karena ditayangkan di hadapan penonton asli, hal yang memancing gelak tawa penonton di panggung dianggap (sebagai) formula keberhasilan.

Padahal seperti diamati produser Chuck Barris (yang menciptakan Gong Show dan The Dating Game), perilaku penonton panggung dan penonton TV jauh berbeda. Saya menunggu sketsa komedi Indonesia yang dimainkan tanpa penonton. Seperti yang dirintis Monty Python. Atau jangan-jangan untuk itu harus seperti kru Monty Python sendiri, terdiri dari lulusan universitas dan magister dulu? “

Isman mungkin harus rela menunggu waktu yang teramat panjang agar harapannya yang positif dan ideal itu bisa direalisasikan. Karena para mahasiswa kita yang entah kena suntik borax, formalin atau dicekoki nitrous oxide atau laughing gas, nyatanya lontaran kalimat yang selalu berulang seperti “gitu saja kok repot” atau “piss, man” ternyata sudah mampu menggelegarkan tawa kompak mereka saat menjadi bagian siaran di televisi.

Begitulah kiranya, televisi itu memang subur berlandaskan ketidaknalaran dan ketidaknalaran juga subur di televisi. Begitulah, televisi menyentuh emosi daripada intelek. Termasuk intelektual para mahasiswa kita yang kemudian seperti tumpul karenanya. Kita tunggu saja Isman, siapa tahu sesudah mereka lulus dan juga menempuh magister, akan mampu mendongkrak selera humor mereka jadi lebih meningkat. Walau jangan terlalu optimistis.


Kembali ke Prof. Sudjoko almarhum.

Ketika mengikuti kontes Mandom Resolution Award 2004, saya berkenalan dengan peserta lain, seorang desainer produk, Bambang Kartono Kurniawan (BKK). Asal Jepara. Sambil ngobrol di kamarnya, di Hotel Borobudur, sebelum kami menghadapi dewan juri Sarlito Wirawan Sarwono, Tika Bisono dan Maria Hartiningsih, saya baru tahu dirinya masih memiliki hubungan keluarga dengan Dr. Sudjoko dari ITB itu. Ketika beliau meninggal dunia, saya mendapatkan tembusan isi milis dari BKK yang ditulis para mantan mahasiswanya. Salah satu milis itu ditulis Susiawan (Toronto, Canada), tertanggal 27 Agustus 2006. Isinya antara lain :

Pak Djoko memang suka tak suka harus mengarus dari tanah seberang, namun ketika beliau sudah kukuh sebagai pengajar senior di SR-ITB, saya pribadi sebagai mahasiswa 'bengal saat itu (terutama di periode 1978-1982an) merasakan bahwa beliaulah satu-satunya dosen yang selalu lantang mengkritisi kualitas pendidikan dan sikap mahasiswa-mahasiswanya. Tentu saja beliau disegani bahkan ditakuti banyak mahasiswanya, tapi tak termasuk saya. Setelah beliau, Alm. Prof.Mochtar Apin dan Alm. Dr.Sanento Yuliman merupakan mentor-mentor terbaik saya. Sewaktu saya menjabat Presiden KMSR…pernah terlibat diskusi, ‘ini diskusi antara Susiawan dan Sudjoko, titik !’ tandasnya serius.

Bahkan dengan beliau, kami sempat membahas coretan-coretan iseng mahasiswa-mahasiswa di kamar kecil SR-ITB. Yang mengesankan ketika beliau secara khusus mengkritisi coretan mahasiswa yang berbunyi "Merdeka tapi bingung", "Lapar menyebabkan Perang, Perang menyebabkan Kelaparan", lalu ada yang menjawab "Lapar dan Perang dibuat-buat !" Ditimpa dengan coretan "Siapa dong yang kenyang ?". Ha ha ha ha...menggelikan sekali, kadang-kadang saya terbahak-bahak sambil kencing !

Beliau heran, setiap tembok WC itu diputihkan kembali, esoknya tumbuh coretan-coretan lagi hingga penuh ! Beberapa teman sampai-sampai ketagihan ke WC hanya ingin baca 'pemikiran-pemikiran baru' itu. "Ada yang baru nggak ?" Bahkan di 'edisi 1978' tembok WC itu penuh coretan-coretan yang politis.

Dilain pihak, pak Djoko heran dan bertanya-tanya dengan sinis "Mengapa WC itu penuh dengan coretan-coretan yang kadang sangat cerdas atau filosofis, tapi rata-rata tulisan mahasiswa di skripsi mereka kosong gagasan-gagasan baru ?" "Kalau diformalisir mereka jadi 'gagu', tapi kalau 'lepas pengawasan' justru banyak yang menunjukkan kualitasnya," tambahnya. Itu kata-kata beliau yang tak mudah saya lupakan. Entah, mengapa beliau menyempatkan diri ke WC mahasiswa sambil baca 'buku tembok itu ?

Terima kasih, Mas Susiawan.
Selamat jalan, Pak Djoko.

Kalau saja saya tinggal di Bandung, rasanya saya akan ikut kepingin menikmati isi “buku tembok” WC kampus ITB saat itu. Adik saya juga belum mengirimkan hasil pemotretannya. Ataukah mungkin tembok WC ITB itu kini sudah diputihkan sehingga steril dengan gagasan-gagasan baru ?

Saya yakin, isi tembok WC yang dilukiskan oleh Susiawan itu jauh lebih inspiratif dan humoristis daripada lelucon yang membuat gerombolan demi gerombolan mahasiswa kita ibarat useful idiot yang gagu isi kepalanya, yang bangga memakai jaket alma maternya, tetapi riuh rendah tertawa-tawa hanya dicekoki sajian low comedy yang mekanistis, repetitif sekaligus dangkal, di pelbagai acara televisi kita selama ini.

Tanya kenapa !



Wonogiri, 12/8-9/9/2007


ke

Thursday, July 26, 2007

Melawak Menari Bersama Tengkorak

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com





Anti Siksa Neraka. Banyak orang Indonesia suka ngomong, tetapi benci menulis. Bisa dimaklumi, karena jarak antara otak dengan mulut lebih pendek dibanding jarak otak dengan jari-jemari yang mampu bergerak untuk menulis.

Menulis memang sulit.

Tidak ayal bila seorang Jessamyn West, seperti dikutip Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang diterjemahkan dengan judul Berani Berekspresi (MLC, 2004), menegaskan bahwa, “menulis itu begitu sulit sehingga saya sering merasa bahwa para penulis, karena sudah merasakan neraka dunia, akan terbebas dari semua siksa di akhirat nanti.”

Simpati diri para penulis di atas memang boleh disebut berlebihan. Tetapi menulis memang sulit. Apalagi menulis lawakan. Saya suka mengutip berkali-kali perkataan almarhum Dono Warkop (Kompas, 22/3/1996) ketika mengeluhkan tiadanya penulis–penulis naskah komedi yang dapat meringankan bebannya.

“Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja setengah mati. Kondisi lawak di Indonesia saat ini : ia adalah pemikir, penulis, penampil, sekaligus pengurus keuangan....Bagaimana mau selalu prima ?” cetusnya. Padahal kita tahu, Dono adalah juga seorang kolumnis dan novelis.

Merujuk realitas di atas, dan untuk mencoba ikut serta mengatasi keluhan yang diutarakan Dono di atas, saya pernah kirim surat kepada sobatnya yang sama-sama di Warkop DKI, Indro, yang saat itu baru terpilih sebagai Ketua Umum PASKI. Saya usulkan agar dalam program kerja PASKI itu diadakan pelatihan menulis komedi, comedy writing, sokur-sokur bila mampu mendatangkan mentor dari luar negeri. Mungkin surat saya itu tidak sampai, karena tak ada balasan dari Ketua Umum PASKI itu. Atau memang organisasi ini kini sudah bangkrut, mati suri, jadi tak mampu membeli kertas dan perangko balasan.


Monumen Komedian. Mengobrolkan tentang pentingnya comedy writing, tentu komunitas komedi Indonesia tidak bisa melupakan kiprah sosok Arwah Setiawan. Bagi saya, beliau adalah seorang thinker dan doer raksasa bagi dunia komedi Indonesia yang sampai sekarang sulit dicarikan penggantinya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

BALAI BUDAYA, JAKARTA. Dalam pameran kartun karya anak-anak Brigade Kelompok Kecil dari Wonogiri asuhan Mayor Haristanto di Balai Budaya Jakarta, 2 September 1982, mempertemukan aktivis dan pencinta dunia komedi Indonesia. Dari kanan, Jaya Suprana, Tris Sakeh (kartunis), Suyadi Pak Raden, tak dikenal, Arwah Setiawan dan Bambang Haryanto.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

BERSAMA PAK RADEN. Kartunis cilik asal Wonogiri, Basnendar Heriprilosadoso, bersama Suyadi yang terkenal sebagai Pak Raden, mengamati kartun karyanya yang ikut dipamerkan.


Sebagai sedikit pengakuan pribadi, ketika Arwah Setiawan masih hidup, kok saya merasa belum ketiban pulung atau wangsit, terpanggil untuk bisa dekat-dekat dengan beliau sehingga mampu menyerap khasanah ilmu komedinya yang kaya, ketika Mas Arwah Setiawan berkiprah dalam Lembaga Humor Indonesia. Untunglah, antara lain lewat bukunya yang berjudul Humor Jaman Edan (Grasindo, 1977), saya masih bisa mendapatkan warisannya. Tepat kiranya ungkap Thomas Fuller (1654–1734), seorang dokter dan penulis Inggris, yang berujar bahwa monumen yang abadi adalah monumen yang terbuat dari kertas. Alias berwujud buku, yang isinya mampu diwariskan dari generasi ke generasi.


Tetapi bagaimana dengan almarhum Taufik Savalas atau Toto Asmuni, yang baru saja meninggalkan kita ? Keduanya meninggalkan kita, sepertinya belum sempat mewariskan catatan-catatan pribadinya berisi pengetahuan selama berkarier sebagai komedian. Semoga nanti akan ada penulis yang tergerak untuk melakukannya. Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati, dalam emailnya (21/7/2007) kepada saya menulis :

“Kepergian almarhum Taufik Savalas yang tiba-tiba saya rasa merupakan kerugian besar bagi dunia komedi kita. Walaupun tidak berhasil dengan baik, rintisan dia sebagai komedi solo itu seharusnya menghasilkan pengetahuan, lessons learnt, tentang mengapa Comedy Club (acara Taufik Savalas berkomedi solo di TransTV) itu gagal. Itu dikombinasikan dengan pengalaman beliau dalam tampil di depan umum dapat menjadi kontribusi yang sangat penting bagi (calon) komedian solo berikutnya. Sayang sekali pengetahuan itu hilang tiba-tiba. Salah satu kekurangan komedi Indonesia mungkin memang di manajemen pengetahuannya, Mas.”

(Thanks, saya setuju, Isman).


IdeaVirus ! Istilah manajemen pengetahuan atau knowledge management dalam dunia komedi kita pasti terasa sebagai istilah asing. Saya mendengar pertama kali istilah itu dari Tika Bisono dan Mas Ito (Sarlito Wirawan Sarwono) tatkala mengikuti Mandom Resolution Award 2004 di Jakarta. Keduanya, ditambah Maria Hartiningsih yang wartawan senior Kompas, menjadi juri saat saya sebagai peserta kontes menjual gagasan blog sebagai sarana kaum epistoholik dalam mendokumentasikan dan berbagi wawasan, kearifan dan ilmu pengetahuan untuk menjadi salah satu pilar kehidupan berdemokrasi.

Melissie Clemmons Rumizen, Ph.D., Knowledge Strategist dari Buckman Labs dalam bukunya The Complete Idiot's Guide to Knowledge Management (Penguin Putnam, 2001), ringkasnya membeberkan aplikasi manajemen ilmu pengetahuan yang antara lain berupa kiat-kiat berbagi informasi antarkolega sehingga perusahaan tempat mereka bekerja mampu meraih keberhasilan. Manajemen ilmu pengetahuan, salah satu intinya memang berbagi.

Sayangnya, mungkin saya keliru, saling berbagi itulah yang justru nampak disingkiri oleh warga komunitas komedi kita selama ini. Karena kebanyakan mereka, mungkin kecuali Butet Kertarajasa, Kelik Pelipur Lara atau pun Effendi Gazali, memang tidak hidup dalam tradisi budaya menulis. Saya sebenarnya menaruh harapan kepada Tamara Geraldine, bukan Ulfa Dwiyati, sebagai komediene. Karena Tamara terbiasa menulis dan tidak segan-segan di panggung ketika sebagai pembawa acara sering mengejutkan ketika meledeki dirinya sendiri.

Selebihnya, mayoritas warga komunitas komedi kita berbagi informasi secara lisan. “Taufik memberi banyak ilmu bagaimana tetap bertahan dan stabil, tak kehabisan ide,” tutur artis Melly Zamri yang belajar bagaimana bisa survive dalam dunia entertainment dari Taufik Savalas seperti dikutip Kompas (13/7/2007).

Ilmu yang dibagikan Taufik Savalas di atas bersifat pribadi. Mirip ilmu dukun. Memiliki jangkauan diseminasi yang terbatas. Apalagi bila dibandingkan dengan aksi berbagi informasi di media maya, seperti melalui blog ini, yang berpotensi menjadi ideavirus (“makasih, Seth Godin !”) karena mudahnya untuk dibagi dan disebarluaskan secara instan ke seluruh dunia.


Intel Melayu Lawakan. Ada ilustrasi lain yang menarik tentang potret dunia komedi kita. Adalah tulisan H. Sujiwo Tejo dan Efix Mulyadi yang menurut saya merupakan wartawan terbaik Kompas dalam membahas dunia komedi, dalam artikel berjudul “Jiplak-menjiplak Dalam Lawakan” (Kompas, 30/10/1994). Sekarang, tak mudah ditemui tulisan dalam koran yang sama yang memiliki frekuensi, variasi dan kedalaman minat dalam mengupas pernak-pernik dunia komedi kita dewasa ini.


Artikel tersebut, yang juga bisa sebagai nostalgia bagi kita untuk mengenang lawakan tempo dulu, antara lain mengangkat tuduhan jiplak-menjiplak antarkelompok lawak di Indonesia. Misalnya, Warkop DKI (Warung Kopi Dono Kasino Indro) menurut Darto Helm dari eks kelompok Bagio CS, pernah meniru lawakan mereka tentang marga orang Batak.

“Waktu itu kami pentas di Taman Ismail Marzuki. Karena di Teater Terbuka, hawanya dingin. Diran bilang, wah, hawanya Siregar. Saya sahut, rasanya jadi berjalan di Tobing-Tobing. Sol Saleh menyahut, hati-hati, jangan sampai celana sobek, nanti ke Panjahitan,” kata Darto Helm. Diran dan Sol Saleh anggota Bagio CS. Kata Darto, almarhum Nanu dari Warkop telah meminta maaf untuk itu. Sebaliknya, Dono Warkop DKI yang mengatakan bahwa sulit bagi pelawak mengklaim sebagai yang pertama mengangkat suatu lawakan, juga sering diambil gaya lawakannya.

Misalnya Us Us mengaku pernah mengambil gaya Warkop DKI, yakni dalam hal pembelokan logika berpidato. Qomar dari Empat Sekawan malah mengaku sebagai “fotokopi yang baik dari Bagio CS dan Srimulat,” terutama pada awal kariernya bersama Tom Tam. Deddy (Mi’ing) Gumelar dari Bagito dituding oleh beberapa pihak sebagai peniru Srimulat, terutama pad acara rutin televisinya Ba-sho. “Mungkin secara kebetulan saja, karena Unang (anggota Bagito) sering berpakaian Jawa,” kata Mi’ing.

Silang-sengkarut tentang jiplak-menjiplak itu sampai membuat Dono dalam kehidupan sehari-hari di luar panggung, memilih tidak melawak. Mi’ing juga serius di luar panggung. Qomar kadang-kadang melucu, meski pun menurut consensus Empat sekawan, tidak boleh membawakan rencana lawakan panggung dalam pergaulan sehari-hari.

“Saya kalau lagi manggung dan melihat ada pelawak menonton, langsung mengambil langkah pencegahan. Yaitu tidak mengeluarkan lawakan yang hebat. Saya tahu mereka datang untuk ‘berbelanja’, menghafal penampilan, bahkan ada yang merekam dengan kaset,” kata Darto Helm. Kadang-kadang bukan pelawak yang datang. Meminjam istilah Qomar, yang datang adalah “intel-intel” pelawak yang biasanya wajahnya tidak asing bagi pelawak.


Memandang keruwetan dalam dunia lawak ini, akhirnya Dono dan Mi’ing sependapat bahwa biarlah lawakan dijiplak oleh pelawak lain. Biar saja, toh cara pembawaan seperti irama dan muatan pesannya pasti berbeda.

Keputusan yang bijak, terutama karena sistem manajemen ilmu pengetahuan kita, termasuk karya-karya lawakan, katakanlah belum secanggih di Amerika Serikat. Di AS ada lembaga yang disebut The Writers Guild yang bertugas mengarsip dan melindungi karya cipta seseorang, meliputi skrip, sinopsis, treatment, outline, sampai gagasan tertulis yang khusus sebagai materi produksi untuk radio, televisi, teater, film, video dan media interaktif.


Dampak Komedi Keroyokan. Artikel Kompas 13 tahun lalu itu menghadirkan potret betapa dunia lawak kita adalah dunia keroyokan. Apa pun nama kelompok mereka, sepertinya sulit dicari apa yang mampu membedakan karakter lawakan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Dalam kerumunan sulit memunculkan kepribadian. Lawakan pria dengan berdandan sebagai perempuan, bukankah sudah ada sejak Mama Henky, Esther, dan terus saja lestari dipanggungkan kelompok Tora Sudiro dkk yang hura-hura di ExtraVaganza dewasa ini ?

Pelawak-pelawak “tanpa kepribadian” itu boleh jadi terjun berprofesi sebagai pelawak mungkin akibat kebetulan. Karena dikejar-kejar harimau luar, yang menurut istilah sastrawan dan dramawan Putu Wijaya, adalah kebutuhan perut. Tataran paling bawah dari hirarki kebutuhan manusia menurut piramidanya Abraham Maslow. Bukan dikejar oleh harimau dalam, yaitu dorongan tertinggi manusia untuk aktualisasi diri.

Mereka masuk begitu saja, tanpa didahului oleh semacam soul searching, perjalanan ke dalam untuk melongok dirinya sendiri, guna menemukan jati diri, persona, yang istimewa dan unik di tengah dunia ini.

Padahal kita tahu, keharusan melakukan self-assesment di atas itu berlaku untuk semua profesi. Kalau Anda pernah menempuh kuliah di Amerika Serikat, Anda mau tak mau “diharuskan” membaca bukunya Richard Nelson Bolles sebelum memutuskan berburu pekerjaan selepas wisuda. Dalam buku berjudul What Color Is Your Parachute ? : A Practical Manual for Job-Hunters & Career Changers (Ten Speed Press, Tahunan) ini, Anda akan di-drill dengan sejumlah tes dan pertanyaan guna menguak keterampilan apa saja yang Anda miliki dan juga menyenangkan bagi Anda ketika menggunakannya.

Dalam Anda menjawab, Anda harus menuliskannya !

Dalam dunia komedian, ketahuilah bahwa jago improvisasi sekaliber Robin Wiliams pun pertama kali harus pula menulis leluconnya sendiri. Kalau Anda masih bingung bagaimana memperoleh materi lelucon itu, jawabannya tergantung dari jenis komedi yang hendak Anda terjuni. Tetapi langkah universal yang utama adalah : longokilah dalam diri pribadi Anda sendiri.

Kembali mengutip isi buku menariknya Susan Shaughnessy yang kali ini memajang ucapan Carolyn MacKenzie. Ia berkata, kalau Anda punya kerangka manusia di dalam lemari Anda, keluarkanlah, dan menarilah bersamanya. Begitulah, penulis dan juga pelawak sejati, berani menari bersama tulang kerangka, kerangka mereka sendiri.

Kerangka manusia tersebut adalah hal yang paling Anda hindari untuk dituliskan atau diceritakan, seperti rasa malu yang membuat Anda bergidik dan menciut. Tetapi pada akhirnya hal itu akan muncul juga dalam tulisan dan juga dalam lawakan Anda. Mengapa ? Karena di sanalah energi jiwa Anda tertimbun. Dengan menuliskannya, Anda meratakannya. Energi itu akan mengalir dalam tulisan dan lawakan Anda, dan membuatnya hidup.

Anda pernah menonton tayangan talkshownya Oprah Winfrey ? Setiap tamu yang hadir senantiasa membawa tulang kerangkanya sendiri. Mereka rela dan berani mengeluarkannya dari dalam peti atau almarinya pribadi, kemudian mereka ajak tengkoraknya itu untuk menari dan berdansa di muka dunia.

Tawa yang hadir dari sana, atau lelehan air mata, semata membuat diri kita merasa sebagai manusia. Bukan robot atau useful idiot yang patuh terhadap komando untuk tertawa-tawa kosong dan hampa, dalam acara komedi atau talkshow dengan host orang-orang yang sok lucu di pelbagai televisi kita.


Wonogiri, 26/7/2007


ke





Tuesday, July 03, 2007

Joker, Writer, Blogger !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Komedian Meniti Bahaya. Diskusi tentang lawak itu terkirim dari Salzburg, Austria, akhir Mei 2007. Pengirimnya Agung Pramono, warga Wonogiri yang kini tinggal di Jakarta dan biasa keliling dunia. Beberapa bulan lalu ia kirim lelucon dari Pattaya, Thailand. Juga cerita tentang acara komedi Gags sampai Just for Laugh yang sering ia tonton dari tayangan televisi di Kanada.

Obrolan dari Salzburg itu langsung mengingatkan saya akan nomor Musical Joke, karya komposer jenius kelahiran Salzburg. Ia sering disebut sebagai darling of the world, yang tidak lain adalah Wolfgang Amadeus Mozart. Dalam film Amadeus (1984) yang menyabet 8 Oscar garapan Milos Forman, Mozart digambarkan memiliki selera humor cabul dan vulgar.

”Forgive me, Majesty. I am a vulgar man! But I assure you, my music is not,” begitu akunya kepada Kaisar Josef II. Pada nomor karyanya Musical Joke itu kita dapat membuktikan ucapannya

Pada awalnya Anda akan dibelai oleh harmoni dua french horn berpadu dengan empat alat musik gesek yang indah. Tetapi kemudian tiba-tiba Anda digerojok alunan musik liar, edan-edanan, chaotic, yang menggelitik kita untuk tertawa.

Karya Mozart yang tanggal lahirnya sama dengan Jaya Suprana, 27 Januari, dan sama pula dengan Hari Epistoholik Indonesia yang saya deklarasikan dua tahun lalu di acara HUT MURI ke-15 di Semarang, harus saya dengarkan berkali-kali. Terus terang, mencoba menikmati lelucon dari musik klasik, ternyata memang tidak mudah. Sama halnya, kita semua tahu, bahwa mengkreasi lelucon yang bermutu juga tidak mudah.

Agung Pramono, alumnus ITB, dalam emailnya itu menyatakan apriori terhadap perkembangan lawak di Indonesia. Menurutnya, isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan) merupakan musuh dari kreatifitas pelawak. Belum lagi isu SAMPAH (Sex, Anatomi, Moral, Partai, Adat dan Humanisme), menurutnya lagi, adalah pula mimpi buruk bila kaum lucu itu bertindak “kebablasan” dalam meledakkan lawakan-lawakan mereka.

Saya bisa memahami kerisauannya. Kelompok lawak Bagito, sebagai contoh, pernah terperosok ke dalam tong SAMPAH ketika mereka melucukan kekurangan yang bersifat “anatomi” dari seorang Gus Dur. Gus Durnya sendiri, sebagai humoris sejati (“siapa yang punya rekaman acara Kongkow Bareng Gus Dur, Radio 68H, 24 Juni 2007 yang bertopik lawakan vs keberingasan dalam Islam ?”), tidak apa-apa. Tetapi para pendukungnya, yang tidak memiliki selera humor setinggi Gus Dur, saat itu langsung menjadi berang beramai-ramai.

Mungkin saya salah, tetapi sejak insiden “lelucon anatomi” itu meletup pamor Bagito pun meredup. Mereka mungkin trauma, lalu melakukan sensor diri sendiri, sehingga ketajamanan leluconnya yang lain pun pelan tetapi pasti tergerus habis daya ledaknya. Sementara itu lelucon yang menjurus ke seks dan diskriminasi jender seperti saya tulis sebelumnya, telah membuat tayangan Chatting di TPI dan Empat Mata-nya Tukul Arwana di Trans7 mendapat somasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.

Begitulah, melucukan dan melecehkan kadang batasnya memang tipis sekali. Justru itu, menurut saya, di situlah tantangan yang menarik dan sangat unik bagi seorang komedian. Mereka ibarat atlet akrobat yang berani meniti tali di atas ketinggian. Atau berjalan dan menari di atas sisi keping tajam pisau silet raksasa. Humor always plays very close to the hot fire of truth. Hidup komedian selalu dalam bahaya. Tetapi sebagaimana ciri komedian sejati yang memiliki kejujuran dan keberanian, terutama dalam mengolok kekurangan dirinya sendiri, pengalaman dan tantangan semacam itu bahkan kemudian ibarat candu bagi mereka.


Komedian Itu Komando. Billy Crystal pernah menegaskan bahwa sebagian besar komedian adalah sosok orang-orang pemalu yang menggunakan panggung untuk mengalahkan rasa takutnya terhadap orang lain. Komedian solo perempuan terkenal Joan Rivers bertutur, “My routines come out of total unhappiness. My audiences are my group therapy.”

Dengan melawak Joan Rivers mengharapkan rasa tidak bahagianya yang kronis itu menjadi tersembuhkan ketika dirinya berbaur di tengah penontonnya. Louie Anderson memberi garis bawah : “Komedi sejati adalah kemampuan dan keberanian Anda untuk membuka diri sehingga audiens dapat melongoki isinya dan percaya mereka tidak akan mencoba menyakiti Anda.”

Komedian seperti Joan Rivers atau Louie Anderson, memang ibarat anggota pasukan komando. Dirinya berani berperang sendirian. Selain untuk menaklukkan rasa takut pada dirinya sendiri, sekaligus berjuang mengalahkan hujan bom dan berusaha membunuh belasan sampai ratusan pengunjung pentasnya.

Anda jangan merasa serem dulu. Harap Anda maklum, istilah bom dalam dunia komedi adalah slang untuk cemoohan penonton yang tidak puas terhadap lawakannya. Sementara membunuh adalah lawakan yang mampu mengundang gelegar tawa.

Mungkin seperti sosok Arnold Schwarzenegger dalam film Commando, komedian dituntut memiliki amunisi dan trik yang banyak, juga selalu baru, dalam melawak. Dan sebagaimana anjuran dari para pelawak terkenal dan mentor pelawak yang mumpuni, kepemilikan amunisi dan trik-trik lawakan itu harus dimulai dari aktivitas menulis. Komedian Jerry Seinfeld memberi nasehat : “Menulislah (lelucon) hingga tanganmu terasa sakit !”


Mengapa menulis ? Karena menurut Mark Rutherford, dalam diri setiap orang ada sebuah mata air yang terus menyemburkan kehidupan, energi, cinta, apa pun sebutan yang Anda berikan padanya. Mata air apa yang menyembur dari dalam diri Anda ? Menulis merupakan cara yang baik untuk menyalurkannya.

Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang diterjemahkan (“menurut saya menjadi lebih jelek”) dengan judul Berani Berekspresi (MLC, 2004), menegaskan bahwa dengan menulis penulis (mampu) menangkap hal-hal yang tidak teramati oleh orang lain. Penulis menangkap kebenaran-kebenaran yang tersembunyi.

Penulis kemudian menariknya dari sudut remang-remang tempat kebenaran itu suka bersembunyi, membawanya ke tempat terang, menangkapnya ketika mereka sedang mengawang terbang. Di bagian lain juga ia tegaskan, “jika Anda punya kejujuran diri yang mendasar, Anda kemudian akan menulis. Anda akan melaksanakan kegiatan yang Anda kaitkan dengan jati diri Anda yang paling dalam.”

Pelawak juga memiliki landasan eksistensi yang sama : dirinya melawak untuk mengekspresikan sisi relung terdalam dari dirinya sebagai manusia. Ia pun memiliki misi mulia seperti halnya penulis, untuk berani mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi.

Sekadar contoh, simak ledekan Jay Leno berikut ini : “Walikota New York Michael Bloomberg memutuskan keluar dari Partai Republik dan menjadi independen. Ia bilang tidak memiliki rencana untuk jadi presiden. Sekarang jangan campur adukkan perkataan dia dengan Presiden Bush, yaitu seseorang yang tidak memiliki rencana sebagai presiden.”

Ketika Bush diam-diam berkunjung ke Baghdad, David Letterman berkomentar : “Saya pikir ini menarik sebagai perbandingan. Presiden Bush secara diam-diam mengendap ke Baghdad dan tidak seorang pun tahu. Sebaliknya Bill Clinton, ketika ia mengendap pegawai magang Gedung Putih (Monica Lewinsky-BH), semua orang justru tahu tentangnya.”

Lengsernya Tony Blair juga menjadi bahan olok-olokan komedian Conan O’Brien : “Perdana Menteri Tony Blair dari Inggris baru saja mengumumkan diri akan lengser dalam waktu dekat, yang berarti Presiden Bush akan kehilangan sekutu terdekatnya dalam urusan luar negeri. Bush merasa sedih dan berkata, ‘Kini pemimpin asing yang saya percayai adalah Arnold Schwarzenegger.’”

Masih tentang Bush, Bill Maher mengolok kualitasnya yang terkenal sebagai presiden “dungu” : “Majalah TIME baru saja menerbitkan Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh Di Dunia dan Presiden Bush tidak masuk di dalamnya. Ia pun marah. Ia menghentikan langganan dan berhenti dari kursus privat membaca.”

Lalu adakah hubungan antara politikus dan kriminalitas ?

“Kelompok lembaga konsumen menegaskan harus tersedianya kolom isian dalam kartu suara untuk memastikan bahwa pajak yang tersalur digunakan untuk memerangi kriminalitas dan bukan mengalir ke kantong para calon presiden. Saya pikir ini ide hebat. Yang saya maksudkan, setiap kali Anda menarik uang Anda dari kantong politikus, berarti Anda memerangi kriminalitas, bukan ?,” kata Jay Leno.


Sekolah Lawak di Indonesia. Selain email dari Salzburg di atas, diskusi mengenai lanskap komedi Indonesia dewasa ini juga dipicu oleh email yang saya terima dari Tri Agus S. Siswowiharjo (17/6/2007) dari Depok. Sebagai aktivis LSM, penulis lepas dan kegemarannya terhadap humor, ia telah menghasilkan buku antara lain Mati Ketawa Cara Timor Leste (2001) dengan kata pengantar Xanana Gusmao, GAM: Gerr Aceh Merdeka (2003), Humor Pemilu 2004 (2004), dan Senyum Dikulum, Tsunami (2005).

Prestasi yang hebat. Saya balas emailnya, antara lain : “saya salut untuk telah terbitnya beberapa buku kumpulan humor Anda. Melihat topik dan judulnya, sungguh bikin iri (bukan dengki) karena Anda telah mengetahui jeroan orang Aceh sampai Timor Timur dalam bingkai humor. Kalau Clemence Dane pernah bilang bahwa “make us laugh and you can pick all pockets,” maka bayangkan betapa banyak kantong orang Aceh dan Timor Timur yang berpotensi untuk bebas Anda “gogohi” selama ini ?

Diskusi email Depok-Wonogiri ini meningkat ke topik menarik. Yaitu tentang cita-cita Tri Agus dan juga cita-cita tokoh pemerhati dan penulis humor Darminto M. Soedarmo, di mana keduanya sama-sama ingin mendirikan sekolah atau kursus pelawak. Ungkapnya, “Dia (Darminto M. Soedarmo) bilang semuanya sudah siap. Cuma ada gak orang gila (investor) yang mau membiayai. Saya bilang, tak perlu harus gila, cukup setengah gila untuk mewujudkan gagasan itu. Mengapa banyak kursus menyanyi, presenter, kepribadian dan lain-lain bisa eksis, sementara komedi/lawak tak ?”

Cita-cita bagus itu tentu saja saya dukung. “Terima kasih untuk obrolan tentang cita-cita Anda dan Mas Darminto untuk membangun kursus lawak. Tetapi ketika mendengar harus ada uang milyaran, waduh, saya ikut keder. Apa engga modal dengkul saja, yaitu reputasi Anda, lalu kerjasama menyewa ruko atau rumah dengan bagi hasil, lalu berdirilah kursus itu. Simpel tapi mungkin gak simpel ya ? Sori, ini logika made in Wonogiri.

Hal lain, boleh dianggap serius atau guyon : kalau saya jadi pengelola kursus, semua siswa saya harus menjadi blogger dulu. Karena semua komedian, menurut saya, harus menjadi penulis dulu. Persyaratan semacam ini yang mungkin akan membuat banyak dari mereka pikir-pikir atau bahkan mundur ya ?”

Obrolan dengan topik yang sama, sebelumnya telah pula saya kirimkan kepada Agung Pramono. Antara lain saya tuliskan : “Email Agung dari Salzburg itu, terkait aspirasi tentang dunia komedi, mengingatkan saya cerita dari bukunya Aribowo Prijosaksono dan Marlan Mardianto, Self-Management : 12 Langkah Manajemen Diri : Guru Terbaik Sekaligus Musuh Terbesar Manusia (Elex Media Komputindo, 2002).

Aribowo itu kakaknya musikus Piyu/Padi. Aribowo menceritakan seorang temannya, sama-sama alumnus IPB, tetapi si teman itu kini sudah jadi doktor dengan spesialisasi keuangan. Si doktor ini punya cita-cita terpendam, yaitu ingin jadi : komedian solo, alias stand up comedian !

Karena di tv kita sampai saat ini belum ada kabar adanya komedian solo yang bergelar doktor, maka sampai kini ya kayaknya dirinya masih saja memendam ambisinya itu. Mungkin cita-cita itu sudah ia lupakan.

Cerita kecil itu mengingatkan bahwa mungkin harus ada sesuatu pulung tertentu untuk menjadi komedian. Mungkin paduan antara keberanian, kenekadan, lalu luck juga. Seperti temanmu yang manajer PT Johnson Indonesia itu, bila saja ia ketiban pulung dan jadi pelawak, mungkin ia akan menjawab lain bila mendapat pertanyaan yang sama dengan yang Agung sms-kan itu. Mungkin lho.

Sang doktor yang teman Aribowo sampai manajer PT Johnson Indonesia itu, juga bagi Agung sendiri, bila pun kini terbuka peluang untuk terjun ke dunia lawak dan prospeknya gilang-gemilang, apakah mereka dan Agung berani menerjuni “hutan belantara” yang satu ini, sekarang ini ? Mungkin itu pertanyaan berat ya ?

Yang tidak berat, dan bisa kita nikmati, bahwa apa pun profesi kita, maka pulung itu, yaitu sense of humor, merupakan aset yang berharga untuk setiap pribadi. Sokur-sokur kalau humornya itu bukan yang mengejek orang lain, tetapi mengejek (a la Gus Dur) dirinya sendiri. Dengan humor kita sukarela menunjukkan sisi-sisi rawan, vulnerable, dari diri kita sendiri. Hal ini justru berdampak magical. Orang menjadi tersentuh, dan mau mendekat kepada kita. Beda dengan lawakan jahilnya Komeng bin Spontan. Orang akan cenderung memilih menjauh, karena takut dijahilinya.

Terakhir, harta karun sense of humor kita memang tidak selalu hanya pantas diaktualisasikan semata menjadi aksi komedian solo yang tampil di panggung. Gene Perret dapat Emmy Award karena menulis naskah. Kita kan juga bisa menjadi kritikus komedi ? Menjadi sutradara, seperti Teguh Srimulat ? Menjadi pendidik calon pelawak ? Menjadi manajer ?

Yang paling saya harapkan segera, ya segera, dari Agung : luncurkan blog komedimu. Segera. Dua emailmu kepada saya, itu sudah menjadi bahan awal tulisan yang menarik. Pengalamanmu nonton sajian komedi di tv Kanada atau bahkan tv Austria, tak ada yang menyamaimu di Indonesia, kan ? Maka, PD aja, Gung, ayo tuliskan saja – apa pun pendapatmu, ungkapkan menurutmu yang terbaik tentang komedi-komedi yang telah kau tonton itu. OK ?

Kalau Agung benar-benar menyukai komedi dan Agung ingin memberikan andil perbaikan kepada komedi di Indonesia, maka bloglah yang bisa kau garap – mulai hari ini. Bukankah ini tidak menyita pekerjaan dan gajimu, bukan ? Entah, kalau hari ini kau malah telah bulat-bulat memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanmu, lalu terjun 100 persen ke dunia komedi ?”

Moga obrolan ini bermanfaat.

Salam dari anak buah mBok Bende
(sama-sama Wonogirinya),

Bambang Haryanto


Email terakhir saya ini, mengenai tuntutan saya bahwa seorang komedian harus juga seorang blogger, baik yang saya kirimkan kepada Agung Pramono mau pun Tri Agus S. Siswowiharjo, sampai saat ini belum mendapat balasan.


Wonogiri, 29/6 - 3/7/2007


ke

Thursday, May 31, 2007

Dunia Canda Kita, Dunia Tanpa Cendekia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Naskah Srimulat Yang Hilang. Tukul Arwana jangan dibandingkan dengan Richard Lewis. Tukul baru saja meluncurkan biografinya, yang ditulis oleh Ahmad Bahar. Mengapa tidak Tukul sendiri yang menulisnya ? Realitas ini menunjukkan betapa dunia komedi kita kekurangan sumber kreatif yang utama, yaitu komediwan yang juga penulis. Simak cerita terkait dengan Richard Lewis, komediwan yang juga penulis.

Komediwan Richard Lewis pernah stres berat. Seperti diwartakan US News & World Report (12/9/1988), ia stres akibat provokasi temannya yang bertanya : apa yang ia kerjakan apabila harta karun yang ia miliki, naskah-naskah lelucon yang ia tulis selama 16 tahun terakhir, terbakar bersama rumahnya ? Dengan dibumbui paranoid Lewis segera bergegas menuju kantor bank terdekat di Beverly Hills. Ia kemudian menyewa safe deposit box untuk mengamankan lebih dari 250.000 judul lelucon karyanya.

Tidak setiap komediwan seperti Richard Lewis yang memiliki perhatian tinggi terhadap karya-karya tertulis komedinya. Di Indonesia pernah terbetik kabar bahwa naskah pemanggungan lawakan Srimulat yang ditulis almarhum Teguh Srimulat, telah hilang. Bahkan kabar angin yang berhembus kemudian mewartakan bahwa ada kelompok lawak tertentu, yang saat itu lagi ngetop di televisi, diduga menjiplak naskah milik kelompok lawak Srimulat yang hilang tersebut. Kontroversi ini sepertinya belum tuntas sampai saat ini, tetapi fakta tersebut menandakan bahwa naskah komedi merupakan komoditas yang tetap saja langka, sekaligus terbengkalai di negeri kita selama ini.


Pelakon Nomor Satu ! Seorang budayawan almarhum Dr. Sudjoko dari ITB pernah menorehkan catatan tajam tentang potret dunia tulis-menulis yang terkait dengan dunia komedi kita. Pendapatnya ia tulis ketika mengantar buku karya Arwah Setiawan, Humor Jaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1977). Menurut Sudjoko, untuk memajukan dunia komedi Indonesia yang paling utama harus digenjot kreativitasnya adalah para penulis lakon. Jelas itu merupakan tantangan berat.

Karena selama ini penulis, seperti halnya sosok almarhum Arwah Setiawan, tidak pernah masuk pikiran dan bayangan bangsa kita tentang komediwan. Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah sosok-sosok pelakon, orang-orang panggung, orang tontonan. Mereka itu bukan penulis, bukan pula sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua mereka itu tidak mampu menulis.


Sambil merujuk tingginya ketidakmampuan menulis dan tingginya budaya mohbaca (istilah unik Dr. Sudjoko yang juga seorang munsyi, ahli bahasa) bangsa Indonesia, sebagai akibatnya canda bangsa ini sehari-hari dikatakannya cuman sentilan, olokan dan ejekan lepas-lepas. Agar frekuensi tawanya menjadi lebih sering, banyak olokan cuma dibuat-buat saja, tanpa ditopang oleh akal pikiran atau pun renungan. Lihatlah acara-acara lawakan di televisi kita saat ini dan betapa kritikan Sudjoko sejak sepuluh tahun lalu itu tetap tajam dan relevan. Dunia komedi kita hanya berjalan di tempat.


Arwah Setiawan (1997) ikut pula menimpali terkait pemanggungan lawakan di televisi. Ia katakan, pengelola dan pengamat televisi menyadari betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukannya tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati para pemirsa. Keberhasilan pertunjukan komedi, menurut keyakinannya, haruslah bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal.

Siapa yang masih mau mendengar pesan kedua tokoh tersebut ? Nyatanya para pengelola televisi kita selalu lebih memilih mencari pelawak-pelawak dulu. Kita jadi saksi bahwa acara reality show seperti Audisi Pelawak TPI (API) oleh stasiun televisi swasta TPI dan Meteor Kampus oleh AnTV, jelas merujuk pemahaman yang sedikit banyak melecehkan arti penting naskah komedi sebagai nyawa pemanggungan lawakan. Impian luhur dan cerdas seorang Arwah Setiawan mengenai pentingnya lomba penulisan naskah komedi, terkubur entah ada di mana.


Me Too Product. Blunder besar pengelola televisi itu bisa dimaklumi karena acara seperti API tidak lain merupakan program me too, membebek keberhasilan reality show yang lebih dulu terkenal seperti AFI (Akademi Fantasi Indosiar) atau pun Indonesia Idol-nya RCTI. Kedua program kontes untuk menemukan bintang-bintang baru tarik suara tersebut hanya dicontek mentah-mentah oleh para konseptor acara kontes lawakan. Mereka hanya mengganti pelakunya, yang semula calon penyanyi digantikan para calon pelawak. Mereka melupakan bahwa sebenarnya bernyanyi dengan melawak terdapat perbedaan mencolok, walau pun keduanya dapat sama–sama dipanggungkan di layar televisi.

Senyatanya dunia komedi tidak sama dengan dunia tarik suara. Dunia komedi memiliki tuntutan jauh lebih keras. Sebab dalam dunia tarik suara sebuah lagu dapat dan halal secara mudah diulang-ulang, dinyanyikan beragam penyanyi, dalam pelbagai kesempatan. Dalam dunia menyanyi, bakal tidak ada penonton yang berteriak melarang seseorang menyanyikan sesuatu lagu karena lagu tersebut pernah didengarnya. Tetapi dalam lawakan, pengulangan adalah pantangan. Kalau Anda di panggung melucukan sesuatu yang penonton sudah tahu, Anda terancam diteriaki tanpa ampun. Dan itu jelas bencana !

Realitas kejam ini menandakan bahwa tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan, membuatnya terasa semakin langka dalam peredaran. Apalagi materi lawakan baru begitu tampil di media akan langsung menjadi usang. Faktanya, tidak hanya materi lawakan spesifik tersebut, juga premisnya, bahkan semua lawakan yang mirip juga ikut menjadi usang karenanya. Tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan tersebut membuat banyak sekali kelompok lawak kita tidak punya nafas panjang.

Contoh aktual : ada di mana sebagian besar komediwan muda kita yang dulu pernah tampil hiruk-pikuk di ajang Audisi Pelawak TPI (API) yang baru saja merampungkan sesi ketiganya ? Sebagian besar hilang begitu cepat dan segera pula lenyap terkubur oleh waktu.

“Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja setengah mati. Kondisi lawak di Indonesia saat ini : ia adalah pemikir, penulis, penampil, sekaligus pengurus keuangan....Bagaimana mau selalu prima ?”, cetus almarhum Dono Warkop (Kompas, 22/3/1996) ketika mengeluhkan tiadanya penulis–penulis naskah komedi yang dapat meringankan bebannya. Keluhan kronis almarhun Dono yang bisa dimaklumi. Apalagi karena komedi memang seni yang rumit. Edmund Gwenn, aktor komedi Hollywood era 1940-an saat menjelang ajalnya berbisik kepada aktor Hollywood terkenal lainnya, Jack Lemmon, bahwa menuju kematian itu menyakitkan, tetapi tidak sebegitu menyakitkan dibandingkan berpentas sebagai komedian.


Komedi Ibarat Jazz ! Sementara itu Gene Perret (foto), pemenang tiga Emmy Award dalam penulisan naskah komedi yang sekaligus penulis lawakan komediwan sohor Bob Hope yang terkenal, menyatakan bahwa penulisan naskah komedi ibarat jazz dalam musik. Selain harus inovatif, sarat pemberontakan, ketimbang berlaku normal. Bahkan cenderung menghancurkan tradisi yang ada ketimbang membebeknya. Walau pun demikian, imbuh Perret, penulisan naskah komedi dapat dipelajari. Menjadi komediwan juga dapat dipelajari. Kalau kita sudi melebarkan wawasan terhadap dunia komedi di negara-negara maju, seperti di Amerika Serikat, tidak sedikit ditemui pelbagai workshop untuk calon komedian dan workshop pelatihan bagi penulis naskah-naskah komedi.


Untuk perkembangan masa depan dunia komedi kita, apalagi setelah hadirnya organisasi PASKI (Persatuan Artis Seni Komedi Indionesia), diharapkan kontes semacam API haruslah dibarengi dengan kegiatan yang bermenukan intelektualitas. Misalnya dengan menyelenggarakan workshop penulisan naskah komedi sampai kiat-kiat menjadi komediwan dengan nara sumber dari manca negara.


Terlebih lagi, di antara pelaku dunia kreativitas dan hiburan, dunia lawak kita yang paling seret atau macet memperoleh aliran darah segar dibanding dunia sineas, sulap, penulis naskah sinetron, pemusik, komik sampai kreator video klip. Di kancah tersebut telah muncul pekerja-pekerja kreatif baru, bahkan lulusan perguruan tinggi luar negeri dan memiliki komunitas dengan bangunan tradisi olah intelektual yang memadai.

Upaya pembelajaran yang lebih serius dan komprehensif dalam komunitas dunia komedi kita yang selama ini sangat terbengkalai, bahkan selama puluhan tahun ini, menunggu segera untuk direalisasikan ! (Catatan : Artikel ini pernah dimuat di majalah Gong (Yogyakarta), edisi No. 90/VIII/2007. Foto).



Wonogiri, 1 Juni 2007

ke