Wednesday, November 19, 2008

Kodok Beracun dan Hari-Hari Komedi Indonesia Mati

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Kodok beracun. “Ada nasib baik, juga ada nasib buruk,” demikian jawab peramal kepada seekor kodok yang ingin mengetahui masa depannya. “Nasib baiknya, kau akan bertemu gadis-gadis SMA.” Hati kodok pun menjadi berbunga-bunga. Lalu apa nasib buruknya ?

Sang peramal pun meneruskan dengan berbisik : “Gadis-gadis itu menemuimu di lab biologi sekolahnya.”

Katak yang malang. Mungkin bisa disebut bernasib kurang beruntung. Atau ia justru lebih beruntung bila dibandingkan nasib katak yang mati secara mengerikan dalam acara talk-show komedi Empat Mata, Rabu 29 Oktober 2008 di stasiun televisi Trans 7 yang lalu itu.

Merujuk cerita AS Ode di Suara Merdeka (2/11/2008 : 32), saat itu Tukul Arwana menghadirkan Sumanto dan Lina. Hadir pula ibu dan guru mengajinya Sumanto, pendamping Lina, serta kriminolog Adrianus Meliala untuk mengomentari kasus mutilasi, yang menurutnya merupakan cantolan berita yang tidak nyambung dengan kasus Sumanto, sang pemakan mayat, yang menghebohkan dulu itu.

Adegan mengerikan terjadi ketika kamera dengan polos mensyut Lina, sang pemakan binatang hidup, menangkap katak dalam toples lalu memakannya hidup-hidup. Tak hanya penonton yang menunjukkan rasa ngeri dan lebih dari itu jijik (hingga ada yang mau muntah), tapi juga Tukul.

Buntut dari tayangan ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah menghentikan sementara program Empat Mata sejak surat itu dikeluarkan, 4/11/2008. KPI menilai adegan makan kodok dalam acara itu sudah kelewat batas. Juga melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) yang antara lain melarang tayangan yang mengandung adegan sadistis, mengagungkan kekerasan dan adegan penyiksaan terhadap binatang.

Dikutip dari Kompas (9/11/2008 : 22) tersaji data bahwa tayangan Empat Mata sebelumnya sudah menerima tiga surat teguran tertulis dari KPI, yakni 5 Mei 2007, 27 September 2007 dan 25 Agustus 2008. Surat-surat teguran itu dilayangkan karena Empat Mata beberapa kali menampilkan adegan dan lelucon berbau seks secara eksplisit.

“Sejak awal memang sudah diramalkan, Empat Mata yang hanya mengandalkan kelucuan-kelucuan artifisial bakal kalah jauh dari talk show lain semacam Kick Andy yang lebih bertumpu pada isi,” catat AS Ode lagi. Sehingga, menurutnya, persaingan yang sengit dalam upaya mempertahankan rating di antara tontonan televisi yang ada telah mendorong tim kreatif Empat Mata malah “terlalu kreatif.”

Beberapa waktu lalu mereka mendandani Tukul berikut Pepi dan kru yang lain dengan pakaian yang aneh-aneh. Mereka membuat latar dengan aksesori yang aneh-aneh juga. Tak berbeda dari cara pelawak “tradisional” menarik perhatian penonton berpakaian mencolok, bahkan kalau perlu di luar kelaziman. Upaya yang ternyata kian menegaskan, demikian simpul AS Ode, bahwa Empat Mata memang tak menyuguhkan isi, tapi cuma wadah.


Perempuan berjanggut. Saya bukan penonton setia tayangan Empat Mata. Pada awal pemunculannya, yang mendapat liputan menggebu dari media, saya pernah menyaksikan ketika menghadirkan bintang tamu pencipta lagu dan penyanyi Melly Guslaw. Saya hanya mampu mengingat untuk menafsirkan senyum-senyum kecil Melly, yang nampak agak terpaksa karena tuntutan sopan santun belaka, ketika Tukul melontarkan lawakan-lawakannya. “Kasihan deh lawakan-lawakan lu.” Hanya kalimat itu yang tergores di benak saya saat itu.

Terkait adegan makan kodok itu, kini menyusul kalimat lain. Dari Susan Shaughnessy. Ia menuliskannya dalam buku Walking on Alligators : A Book of Meditation for Writers (1993). Buku menarik ini telah diterjemahkan menjadi Berani Berekspresi atau Aku Bisa Menulis : Buku Meditasi Untuk Para Penulis (MLC, 2004).

“Anak sapi berkepala dua dan wanita-wanita berjanggut merupakan bahan untuk karnaval dan tabloid di supermarket. Tidak ada salahnya tertarik pada yang luar biasa. Tetapi yang luar biasa itu, anehnya, tidak bertahan lama. Kita tidak membaca tentang itu atau menonton pertunjukan seperti itu setiap hari. Sebentar saja dia sudah membosankan dan kehilangan daya tariknya,” tutur Susan Shaughnessy.

Hal yang biasa, lanjut Susan, menarik minat kita lebih lama. Kehidupan sehari-hari yang biasa, yang kita tahu benar-benar terjadi, merupakan bahan tulisan yang lebih menarik, yang tidak akan membuat kita bosan. Anak-anak pembangkang, kekasih yang dikecewakan, niat terbaik, harapan dan kekecewaan, hal-hal inilah yang diketahui dan dipedulikan pembaca.

Dalam ranah komedi, menurut Gene Perret, topik-topik biasa di atas mencocoki salah satu rumus universal komedi : karena beragam persoalan tersebut relevan bagi kita semua. Semua komedi memang harus relevan. Apa yang mereka sajikan kita dapat memiliki kaitan dengannya.

Atau dalam bahasa Garin Nugroho, dikutip Kompas (16/4/2001 : 28), sambil merujuk komedi situasi Cheers yang ia sebut “ada harunya, ada persahabatan dalam pertentangan yang hebat. Juga ada penerimaan yang tulus ketika mengetahui satu teman dekat kita memiliki preferensi seksual yang berbeda, sehingga dalam tontonan itu kita mendapat suatu hubungan yang bersahaja, tetapi mampu menggerakan indera kita.”

Kreator komedi Indonesia, dengan mengambil contoh tayangan makan kodok dalam Empat Mata itu, menunjukkan mereka masih mengalami kesulitan besar untuk mengolah hal-hal yang biasa, hal-hal yang bersahaja itu. Mereka justru tergoda untuk mengaduk-aduk hal-hal yang artifisial, aneh-aneh, merekayasa segala bentuk kepalsuan, ketidakwajaran, dan segala hal yang bertentangan dengan akal sehat.

“Pikiran picik hanya tertarik pada hal-hal yang luar biasa, pikiran cerdas tertarik pada hal-hal yang biasa,” demikian ucap penulis Amerika Elbert Hubbard (1859–1915) yang juga dikutip oleh Susan Shaughnessy Ucapan itu kiranya paling cocok untuk menggambarkan pola pikir para kreator komedi Indonesia dewasa ini.

Pikiran picik dapat pula diumpamakan sebagai katak dalam peribahasa Jepang, yang selama hidupnya selalu berada di kubangan sehingga dirinya tidak tahu apa-apa tentang lautan luas. Katak dalam tempurung.

Hemat saya, momentum dari tragedi tayangan makan kodok di Trans 7 dan hukuman keras KPI itu, seharusnya mampu mendorong komunitas kreator komedi di televisi-televisi kita untuk mawas diri. Syukur-syukur ikut juga menggandeng PASKI yang mati suri, untuk sama-sama berani keluar dari kubangan ignoransi yang mengungkungnya selama ini.

Tanpa adanya niat untuk melakukan revolusi pola pikir pada diri mereka, maka tidak ada salah kiranya bila tanggal penayangan Empat Mata edisi kelewat batas itu, 29 Oktober 2008, dapat kita daulat sebagai hari puncak dari hari-hari panjang kematian komedi Indonesia !


Wonogiri, 18/11/2008


ke

Saturday, November 01, 2008

Humor Fakta - Fakta Humor

Oleh : Danny Septriadi dan Darminto M. Sudarmo


Pengantar : Dua kepala lebih bagus daripada satu kepala. Dalam dunia komedi dikenal istilah comedy buddy, mitra komedi untuk berbagi gagasan dan umpan balik dalam membangun dan merampungkan naskah-naskah lawakan yang lebih bertenaga memancing tawa.

Saya beruntung memiliki mitra baru seperti itu, namanya Danny Septriadi (foto), dalam berbagi gagasan dan informasi yang bertujuan ikut memajukan dunia komedi Indonesia. Berikut adalah tulisan yang pernah ia buat tahun 2002/2003 mengenai humor bersama Darminto M.Sudarmo, nama tokoh pemerhati dan penulis komedi terkenal di Indonesia. Apakah Anda juga memiliki niat mulia seperti dirinya ? Saya dengan senang hati bersedia memajang sumbangsih Anda di blog saya ini. Saya tunggu. Selamat menikmati ! (BH)


Rasa humor (sense of humor) sedikitnya menuntut tiga prasyarat kecakapan penikmatnya; yakni, kecakapan untuk melihat, mengakui dan menerima fakta sebagaimana adanya. Memiliki rasa humor dapat menjernihkan pikiran dan memberikan kebebasan untuk menyikapi fakta yang ada. Kecakapan tersebut dapat digunakan untuk mermbantu pengambilan keputusan yang dapat diterima oleh akal sehat. (Gene Perret, Business Humor: Jokes & How to Deliver Them).

SEBUAH berita yang tak jelas porsi fakta dan opininya, dapat membuat orang bingung dan sesat persepsi. Tetapi humor, lain. Humor boleh lahir dari fakta – disebut humor tak sengaja; dapat pula lahir dari opini (kreasi) – disebut humor sengaja. Mana yang lebih berharga, humor fakta atau humor opini? Keduanya sama-sama punya kans untuk berbobot atau tidak berbobot. Tergantung pada muatan nilai atau substansi yang ada di masing-masing humor atau lelucon tersebut. Lagi pula, visi dari berita dan humor sama sekali berbeda.

Sebagai contoh peristiwa yang pernah dituturkan orang dari mulut ke mulut dan konon benar-benar terjadi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tahun 1980-an; yakni tentang seorang bupati yang menjadi inspektur upacara pada peringatan hari besar tertentu, saat membaca teks Pancasila di atas podium, tiba-tiba terhenti beberapa saat di tengah jalan, gara-garanya sang ajudan salah memberi stof map. Seharusnya stof map berisi naskah Pancasila tetapi yang diberikan kepada sang bupati ternyata adalah lembaran daftar hadir.

Akibatnya bisa diduga, sang bupati berhenti di tengah jalan karena beliau tidak begitu hafal lima butir Pancasila yang sangat disakralkan itu. Bagi seorang pejabat tidak hafal Pancasila adalah persoalan serius. Apalagi di zaman rezim Orde Baru. Untunglah, pada saat yang kritis itu, protokol upacara segera menyadari situasi, ia segera berinisiatif menyambung kelanjutan bunyi teks Pancasila lewat pengeras suara secara runtut dan selamatlah upacara yang nyaris menggelincirkan citra sang bupati itu.


***

SYAHDAN, terkait dengan tema humor fakta atau fakta humor sebagaimana disebutkan di atas, Jaya Suprana pernah melontarkan humor yang konon berbasis pada fakta yang ada di lingkungan istana. Khususnya yang terkait dengan wartawan istana di era kepemimpinan Pak Harto dan Gus Dur.
Secara jenaka digambarkan, keadaan kontradiktif berkaitan dengan “sesajen” dan “uba rampe” yang diterima para wartawan istana kala itu. Yang pertama digambarkan sangat “meriah”, sedangkan yang kedua sangat “sepi” dari sesajen dan uba rampe.

Menurut pengakuan Jaya, lelucon ini cukup membuat para peserta yang hadir dalam acara peringatan Hari Pers Nasional yang diadakan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) ketawa tergelak-gelak, kendati ada sebagian wartawan/pemimpin redaksi yang menyambut lelucon itu dengan ketawa kecut. Buntutnya, setelah berita tentang acara tersebut dirilis harian ibukota, ada seorang wartawan TV yang menulis surat pembaca di koran ibukota tersebut dengan nada marah dan menganggap lelucon Jaya itu bernilai rendah.

***

Menurut penulis, munculnya persepsi seperti rekan wartawan TV itu sah-sah saja. Mungkin ia “dibakar” teman diskusinya. Mungkin ia tersinggung kok berani-beraninya membuat lelucon tentang wartawan yang sebenarnya rentan risiko. Mungkin ia belum pernah mendengar ungkapan bahwa besar kecilnya jiwa seseorang tergantung bagaimana ketika ia merespon sebuah kritik; khususnya kritik yang menyangkut dirinya, baik secara pribadi atau kolektif.

Tapi dalam pikiran saya, kemungkinan besar Jaya sudah terlalu jauh dan over estimated tentang wartawan kita. Dianggapnya semua wartawan Indonesia sudah berjiwa besar dan hanya ketawa ketika kepada mereka dilontarkan sebuah kritik yang rada-rada khas: berkaitan dengan amplop, misalnya. Jadi? Itu satu lagi fakta yang tak sengaja juga bernilai lelucon atau humor, di luar lelucon Jaya tentang fakta tadi.

Nilai humor? Emang ada humor bernilai selain ia sebagai hiburan semata? Nah, ngomong-ngomong soal humor mungkin menarik menyimak uraian Melvin Helitzer, pengarang buku Comedy Writing Secrets. Menurutnya, banyak orang yang salah kaprah tentang humor. Orang-orang beranggapan: humor harus lucu, menghibur dan menyenangkan.

Tapi bagi Helitzer, tidak selalu; persepsi kita secara naluri akan mengatakan bahwa humor itu sesuatu yang menyenangkan. Ternyata tidak. Humor adalah suatu kecaman atau kritik, yang terselubung sebagai hiburan, dan diarahkan kepada target yang spesifik. Ia berpendapat humor harus terdiri dari kebenaran (realism) dan sesuatu yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan (exaggeration).

Humor adalah upaya untuk mempertahankan suatu konsep yang tetap sehingga targetnya menguatkan kembali ide-ide, perilaku ataupun prasangka sekelompok orang. Jadi baginya, humor itu tidak adil. Humor akan mengambil sudut pandang yang berprasangka atau berat sebelah . Tidak ada ruang bagi humor untuk argumentasi balasan atau penjelasan. Seperti diuraikan H.L Mencken, “My business is diagnosis, not therapeutics.”

Robin Hemley di dalam bukunya How to Write Funny menguraikan bahwa rasa humor seseorang ditentukan oleh banyak faktor: umur, latar belakang sosial ekonomi, dan budaya. Seorang humoris yang baik memiliki kepekaan terhadap kekurangan dan kelemahan moral dari manusia. Apa yang dirasakan lucu oleh satu orang dapat membuat orang lain menjadi gusar.

George Bernard Shaw pernah menulis, jika kamu ingin mengatakan suatu kebenaran kepada seseorang, buat dia tertawa atau jika tidak, dia akan membunuh kamu. “Hampir semua lelucon yang baik menyatakan kebenaran yang tidak mengenakkan,” kata Larry Gelbart. Sid Caesar kemudian menambahkan bahwa komedi adalah suatu kebenaran yang dibelokkan. Di lain pihak, derajat dari fakta yang ada serta kesimpulannya dibesar-besarkan untuk menarik perhatian.

David Boichier, seorang penulis humor menambahkan bahwa kebenaran itu menyakitkan, dan dengan sangat mudah humoris dipersalahkan karena mengangkat masalah yang tidak diperkenankan tentang perbedaan ras, umur, jenis kelamin, berat badan dan lain sebagainya. Orang-orang menulis kepada saya setiap minggu dan berkomentar, “Betapa beraninya Anda membuat lelucon tentang supir taxi -- atau kolektor barang antik, atau tukang kebun, atau orang yang lebih tua, atau siapa saja.. Saya selalu menjawab dengan sopan bahwa saya tidak sedang berusaha untuk memperolok-olokkan mereka, tetapi hanya menunjukkan adanya suatu fakta yang tidak menyenangkan,” kisah David Boichier lebih lanjut.

Ya, itu semua kan pendapat mereka, para humoris atau intelektual humor dari barat. Karena humor itu medan kajiannya sangat luas tak terbatas, Anda juga berhak untuk membuat penelitian sendiri dan menemukan kesimpulannya berdasarkan fakta-fakta yang ada di negeri ini. Indonesia yang demikian beragam dan kaya kebuadayaan, bisa jadi punya cakupan persepsi yang khas tentang humor atau lelucon tersebut.

Tapi soal lelucon wartawan atau profesi pada umumnya, ada lho, lelucon mengenai profesi, dan sudah disebarkan secara luas melalui internet seperti yang ada di bawah ini. Tetapi tidak pernah ada yang melakukan komplain karena “There is no room in one joke for a balanced argument or explanation”.

Berikut contoh lelucon tentang seorang lawyer yang sangat sukses mengendarai mobil terbarunya yang sangat mewah -- malah untuk profesi ini ada pepatah “Maju tak gentar membela yang bayar”. Pada saat lawyer tersebut keluar dari mobilnya, tiba-tiba pintu mobil ditabrak oleh truk sehingga terlempar beberapa meter. Dengan cepat lawyer tersebut meminta bantuan polisi. Polisi kemudian datang guna memberikan bantuan dan menemukan lawyer tersebut sedang menangisi mobil mewahnya yang hancur.

Polisi itu kemudian berkata, “Sungguh serakah sekali Anda, sampai tidak menyadari salah satu tangan Anda putus saat ditabrak truk tadi.” Kemudian lawyer tersebut menangis lebih keras lagi dan berteriak: “Jam Rolex saya !!!???”

ke

Monday, October 27, 2008

Tragedi Kitty, Tragedi Komedi Kita ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Ditusuk berkali-kali. Ada 38 saksi mata ketika Kitty meregang mati. Gadis peserta kontes kecantikan itu dikejar-kejar para pembunuh bayaran dan dianiaya sampai tiga kali di jalanan. Selama lebih dari setengah jam. Tetapi saksi-saksi itu tidak berbuat apa-apa ketika pembunuhan itu terjadi. Bahkan juga berbuat apatis yang sama ketika pembunuhnya itu meninggalkan tempat kejadian dan lalu kembali ke tempat semula untuk menusuk si Kitty yang malang itu berkali lagi.

Kejadian mengerikan yang menimpa Chaterine Genovese pada tahun 1964 di Queens, New York itu, sering diungkap kalangan sosiolog sebagai sisi gelap sebuah kehidupan kota besar yang dingin, tidak pedulian dan rendah responsibilitas sosialnya terhadap warga lainnya. Anonimitas dan keterasingan dalam kehidupan kota besar membuat orang jadi keras dan tidak berperasaan.

Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000), memperkaya analisis peristiwa di atas dengan fenomena yang ia sebut sebagai bystander problem atau masalah kecenderungan sebagai penonton. Ia mengutipnya dari hasil kajian psikolog sosial New York City, Bibb Latane dari Universitas Columbia dan John Darley dari Universitas New York. Temuan keduanya mengejutkan, bahwa kecenderungan orang untuk menolong orang lain ditentukan oleh berapa banyak saksi dalam suatu kejadian.

Dalam sebuah eksperimen, kedua ahli itu mengatur agar seorang mahasiswa di sebuah apartemen berpura-pura kena serangan ayan. Apabila tetangga itu hanya satu orang dan orang itu tahu tidak ada orang lain di sekitar tempat kejadian, peluang dirinya untuk langsung memberikan bantuan adalah 85 persen. Tetapi jika dia tahu ada empat tetangga lain ayng menurut perkiraannya juga mendengar gejala serangan ayan, peluang untuk mendatangi si sakit itu hanya 31 persen.

Kesimpulannya, ketika saksi mata tidak sendirian maka tanggung jawab untuk mengambil tindakan menjadi menyebar. Masing-masing mengandaikan ada seseorang di antara mereka akan menolong atau menelepon. Atau masing-masing mengandaikan bahwa karena tidak ada yang bertindak, berarti peristiwa yang terjadi--suara orang mengerang atau asap mengepul dari bawah pintu—bukan masalah serius. Untuk kasus Kitty Genovese, kedua psikolog social itu berkesimpulan bukan “tidak ada orang menelpon kendati 38 orang mendengar gadis itu berteriak,” melainkan “tidak ada orang menelpon karena ada 38 orang sama-sama mendengarnya berteriak.”

“Ironisnya,” begitu Malcolm Gladwell menggumam, “kalau saja ia diserang di jalanan sepi dan seseorang yang melihatnya tahu tidak ada orang lain menyaksikan atau mendengar kejadian itu, sang gadis mungkin masih hidup.”

Catherine Genovese yang malang. Tragisnya, tragedi bystander problem yang menimpanya itu sepertinya kembali terjadi kini. Memang bukan menimpa seseorang. Tetapi menimpa dunia komedi kita. Komedi Indonesia.

Menihilkan logika. “Sejak dua tahun lalu, mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Andi Hakim Nasution merasa sangat terganggu dengan tayangan serial komedi di televisi yang meremehkan nalar manusia sehat seperti serial Tuyul dan Mbak Yul. Tidak bisa dibayangkan reaksi mantan Rektor IPB itu menyaksikan tayangan sejenis malah bertebaran di berbagai stasiun televisi saat ini.”

Itulah awal tulisan di harian Kompas, 16/4/2001. Surut ke belakang lagi, adalah tulisan Darminto M Soedarmo yang telah pula mengutip pendapat analis politik Wimar Witoelar. Menurut Wimar Witoelar (Kompas, 16/2/1996), dunia lawak kita kian tidak lucu dan cenderung dilucu-lucukan.

Tahun-tahun lalu, catat Darminto, masalah tersebut telah diangkat Kompas dalam serial berita polemis yang mengutip komentar beberapa tokoh dan cukup memberikan ragam warna dan persepsi. Apakah sinyalemen ahli statistik asal IPB yang kini sudah almarhum itu dan kritik analis politik berambut kribo yang masih sehat dan jenaka itu masih relevan dengan konstelasi dunia tayangan komedi kita di media massa saat ini ? Anda bisa menjawabnya.

Yang pasti, mashab menihilkan akan sehat dan cenderung dilucu-lucukan, masih saja lestari sebagai dosa dunia komedi kita yang belum tertebus hingga saat ini. Mungkin beberapa contoh ini cukup menggelitik.


Tanpa kredibilitas ! Awal tahun ini rumah produksi MD Pictures meluncurkan film yang disebut dalam rilis sebagai bergenre komedi romantis. Judulnya, Namaku Dick yang diproduseri Dharmoo dan Manoj Punjabi. Film ini disutradarai Teddy Soeriaatmadja yang sekaligus merangkap sebagai penulis skenario. Inti kelucuan yang ingin diaduk dalam film ini bahwa penis (dick) sang pelaku utama, bisa bicara. Musibah itu terjadi gara-gara ia mendapatkan kutukan dari seseorang gadis yang ia kecewakan karena ulah playboynya selama ini.

Penis bisa bicara, itu lucu ? Mungkin dirasakan lucu oleh Dharmoo, Manoj Punjabi, dan Teddy Soeriaatmadja. Tetapi menurut saya cerita itu tidak lucu. Juga tidak lucu di mata rata-rata audiens yang memiliki akal sehat. Karena cerita itu memang tidak memiliki kredibilitas. Kalau suhu komedi Gene Perret pernah bilang bahwa resep nomor satu dalam komedi haruslah mencerminkan realitas, the truth, maka film Namaku Dick itu telah mengingkari aksioma satu ini. Karena premisnya tidak terpercaya.

Dalam komedi, penonton senantiasa ingin diyakinkan untuk bisa mempercayai apa yang ia tonton atau dengar. Hanya dengan cara ini akan memudahkan penonton dalam meresapi sajian, tontonan atau lawakan tersebut. Untuk kasus semacam ini, kiranya tak ada salahnya bila kita mau bercermin dan belajar dari seorang Tom Shadyac.

Siapakah dia ? Tom telah sukses menyutradarai film-film yang dibintangi para komedian sekelas Eddie Murphy, Jim Carrey, sampai Robin Wiliams. Misalnya saja film The Nutty Professor, Liar Liar, Ace Ventura, dan Patch Adams. Sebelum menjadi sutradara, Tom Shadyac melakoni hidup sebagai komedian tunggal setelah belajar dari Judy Carter, mentor komedi terkenal. Jadi ia tahu akan sari pati dunia komedi. Sedangkan Teddy Soeriaatmadja, misalnya, pernahkah ia belajar secara serius mengenai komedi ?

Nampaknya tidak hanya dia yang perlu memperoleh penyegaran pemahaman mengenai kosmologi dunia komedi. Bahkan seseorang yang punya nama besar di dunia televisi, yaitu Naratama. Juga rekan-rekan se-korpsnya. Ketika ia menulis mengenai resep fenomena suksesnya Tukul Arwana, contoh kecil saja, ia menyebut Tukul sebagai seorang standing comedan. Untung ia kemudian mendapatkan koreksi dari Isman H. Suryaman, termasuk meluruskan pendapatnya mengenai kegagalan Taufik Savalas (oleh Narotama disebut sebagai Mat Solar) dalam berkomedi solo.

Narotama menulis, “Tukul muncul bak seorang standing comedian yang melucu seorang diri, tanpa perlu umpan, tanpa perlu lawan. Gaya melawak standing ini pernah dicoba oleh Mat Solar, tapi gagal ? Karena Mat Solar tidak punya lawan sehingga sering bingung, mencari lawan, akhirnya menjadi basi.”

Isman menjawab : “Menurut saya, stand-up comedian atau komedian solo, justru tidak membutuhkan ‘lawan’. Sejatinya, komedian solo ya sendirian berhadapan dengan penonton. Mengandalkan materi dan latihan. Tidak ada umpan. Dialah yang harus menjadi umpan bagi diri sendiri. Dan seorang komedian solo harus selalu berada dalam karakternya (stay in character). Almarhum Taufik Savalas (bukan Mat Solar) gagal dalam usahanya merintis jalur stand-up ini karena dua hal :

a) Materi yang lemah : Lelucon yang diambil dari Internet lantas dibawakan satu per satu bukanlah materi komedian solo yang baik. Stand-up comedian Barat yang masih bertahan dengan gaya ini bisa dihitung dengan jari. Salah satunya Mitch Hedberg. Yang lainnya sudah beralih ke opini atau pengalaman diri yang dibawakan dengan karakter kuat, seperti Chris Rock, Robin Williams, maupun (Jerry) Seinfeld.

b) Pembawaan dengan gaya komedian berkelompok, yang masih mengandalkan umpan, lelucon, celetukan. Padahal seharusnya mengandalkan kepribadian/karakter. Dalam hal ini, ketidaksiapan ini berlaku di dua sisi. Selain komedian kita belum ada yang siap, penonton kita juga belum terbiasa dengan budaya komedian solo ini. “

Terima kasih, Isman.

Komedian solo, menurut Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998, “thanks Danny Septriadi, untuk hadiah bukunya yang revolusioner ini”), merupakan sosok filsuf bawel, blak-blakan, pemimpi anarkis dan pahlawan sosial. “Strong individuals rather than group members, with a burning desire to share what they think and feel,” tegas Jay Sankey lebih lanjut.

Dalam lanskap komedi Indonesia yang masih kuat dicengkeram budaya Srimulatan atau lenong, memang sulit ditemui komedian dengan kualitas strong individual yang mampu terbang sendirian sebagaimana seekor garuda. Melainkan mereka akan selalu mencari rasa aman, menghindari resiko, sebagai group members yang bermain secara keroyokan. Ibarat barisan sekumpulan bebek-bebek yang riuh belaka.

Sehingga ketika mereka menyajikan suguhan komedi di televisi, yang menihilkan akal sehat sekali pun, respons positif akan pula selalu bisa mereka raup. Tidak lain berupa hamburan tawa-tawa riuh, tawa-tawa kalengan yang gaduh. Baik yang diproduksi secara elektronik atau pun yang bersumber dari orkestrasi puluhan mereka yang bangga berjaket sebagai mahasiswa.

Menyedihkan. Semua itu membuat komedi Indonesia terancam mengalami nasib tragis sebagaimana dialami oleh Kitty juga. Tawa-tawa yang terburai dari tayangan komedi di televisi-televisi kita, tidak lain ibarat tusukan belati demi belati yang mengakhiri hidup komedi itu sendiri. Tragisnya lagi, kita semua yang menonton adegan itu tidak berbuat apa-apa untuk menolongnya.


Wonogiri, 26/10-15/11/2008

ke

Friday, September 26, 2008

Era Ekonomi Kreatif dan Wajah SDM Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner(at) yahoo.com



Komedikus interuptus. Pasuruan dan zakat lagi jadi berita hangat. Kejadian tragis dengan tewasnya 21 calon penerima zakat menjelang lebaran di rumah seorang pengusaha kaya di Pasuruan, memunculkan usikan : apa ada yang salah dari Islam ? Maksudnya, apa ada yang salah pada umat Islam dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam ? Lebih sempit lagi : mengapa niat-niat mulia itu kemudian justru menjadi bencana ?

Antara niat dan implementasi tidaklah otomatis berimpit. Niat baik belum tentu dapat diimplementasikan secara baik pula. Antar keduanya ada jarak. Umat Islam kiranya harus berkaca, betapa implementasi masih belum menjadi keterampilan alami mereka.

Barangkali itulah mengapa, seperti diwartakan Radio BBC (26/9/08) yang mengutip hasil kajian LSI, yang menyimpulkan betapa partai-partai Islam yang ribut berdebat melulu mengenai konsep jati diri tak pernah laku keras. Bahkan cenderung terus menurun, di mata konstituen sejak Pemilu 1955. Pemilih cenderung memilih partai-partai sekuler yang menjual program-program konkrit yang mampu menyejahterakan mereka.

Hasil riset tadi, hemat saya, mudah-mudahan didengar oleh mereka yang ngotot untuk menggolkan Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang kontroversial itu menjadi undang-undang. Juga belajarlah dari kasus Pasuruan, di mana betapa ajaran mulia dan niat-niat mulia, kemudian justru membuahkan bencana.

Ketika warga Bali menyuarakan penentangan hebat atas RUU APP ini, dan mengancam akan melakukan pembangkangan sipil, civil disobedience, mungkin kita dapat memperkirakan apa yang bakal terjadi bagi Indonesia di masa depan. Indonesia yang terancam gosong dan tercerai-berai ?


Misi lucu dan luhur. Syukurlah, kabar dari Pasuruan tidaklah selalu jelek melulu. Dalam ranah dunia komedi, tanah ini telah melahirkan kelompok lucu Abioso yang memenangkan kontes Audisi Pelawak TPI (API)-4 di awal tahun ini. Kalau Anda sempat menengok situs blog mereka, lalu membaca-baca secara teliti prestasi panggung mereka, mungkin Anda akan terheran.

Kelompok yang diotaki Ahmad Aminuddin (Aam, 25), Muhammad Ali Mufadhol (Ali, 25) dan Muhammad Ghufron (GeGe, 23), adalah anak-anak jebolan Pondok Pesantren Ngalah Purwosari Pasuruan. Tetapi mereka pernah manggung lawak di SMP-SMA Advent Purwodadi dan Gereja Katolik Pasuruan. Mengingatkan saya akan petualangan lucu bermisi luhur dari komedian muslim keturunan Mesir, Ahmed Ahmed bersama rabbi Yahudi yang jenaka, Bob Alper, ketika keduanya meluncurkan tur komedi “One Muslim, One Jew, One Stage : Two Very Funny Guys” di AS pasca serangan teroris 11 September 2001.

Ketika saya mengunjungi blog Abioso itu, saya pun menulis pesan. Selain berkenalan, saya ingin memperoleh cerita-cerita apa saja yang pernah mereka reguk selama menjalani API-4 tersebut. Mereka juga saya rujuk untuk membaca isi sidebar, kolom samping blog ini, yang terpasang sejak 20 Juni 2008. Dengan isi mengundang mereka, selain langsung melalui email, kepada mereka yang memiliki minat memajukan dunia komedi Indonesia.

Baik bagi sobat Effendi Gazali dkk (sebagai juri API-4), sobat Harris Cinnamon (Produser Eksekutif API-4) dan kawan-kawan di TPI, terutama para peserta audisi yang sukses menembus 12 Besar di Jakarta. Ada data yang mungkin menarik tentang profil mereka : sebagian besar personelnya lulusan setingkat SMA, 21 orang. Satu orang D-2 dan seorang mengaku mahasiswa. Hanya ada 4 orang yang mengenyam pendidikan setingkat S-1. Ada 10 orang yang tidak mencantumkan sama sekali data pendidikannya.

Seperti tertuang di blog ini, undangan obrolan tentang API-4 itu terbuka pula bagi peminat komedi lainnya. Untuk berbagi cerita, wawasan sampai harapan kepada sesama pendukung dunia komedi Indonesia. Sayang sekali bukan, bila kegiatan yang mahal itu akhirnya sama sekali tidak meninggalkan jejak di dunia maya sebagai rujukan di masa depan.

Sayang, undangan saya untuk Abioso, tak ada sambutan. Juga nama-nama terkenal di atas, mereka tidak terusik ajakan dan permohonan saya. Terima kasih, desis saya. Maka kolom samping itu, setelah terpajang selama empat bulan, akan segera saya non-aktifkan. Komedikus interuptus. Kontak-kontak komedi yang harus terputus.

Sebagai simbol lainnya, seperti Anda lihat di awal tulisan ini, nampak logo API-4 yang gosong. Untuk menggambarkan betapa harapan saya bahwa seiring peristiwa sebesar API-4 memiliki momen bagi pencinta seni komedi di Indonesia untuk bisa saling ngobrol dan berbagi info, kini rupanya harapan itu mungkin tinggal berupa abu belaka.


Mencontek turis Jepang. Aneh juga. Saya yang memiliki nomor peserta “AB 042S” (ikut audisi API-4 di Yogya, nomor urut 42, dan membawakan komedi single/tunggal) yang gagal di langkah pertama, memang kecewa. Tetapi mereka yang lebih sukses dibanding saya, mengapa mereka enggan diajak untuk berbagi cerita ?

Kegagalan itu, bagi saya, tetap merupakan berkah. Tragedi seiring berjalannya waktu adalah komedi. Gagal itu kini justru menerbitkan kenangan menawan, banyak memicu ide cerita dan pikiran-pikiran lanjutan yang kiranya bisa disumbangkan untuk komedi Indonesia. Hulu dari semua itu, tentu saja adalah kecintaan. Kecintaan untuk dunia komedi. Suka menulis. Suka mengobservasi. Suka mencatat hal-hal yang kiranya menarik dari sekitar.

Terkait hal itu ada cerita menarik tentang perilaku turis-turis Jepang. Penutur ceritanya adalah Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa turis-turis Jepang selalu membawa-bawa bloknot ketika keliling dunia. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi. Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk membawa-bawa bloknot sepanjang waktu. Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya.

Apa kebiasaan serupa juga berlaku untuk kalangan komedian ? “Get yourself a notebook that you keep by your bed and another, smaller one that can fit in your pocket...write down all ideas within a few minutes of thinking about them,” tegas Judy Carter, mentor komedi terkenal. Antena atau radar seorang komedian sebagai penghuni dunia kreatif memang harus dalam mode on selama dua puluh empat jam seharinya !


Dunia otak kanan. Dari ulah otak-atik materi lawakan itu, kalau ngomong dalam gambar yang lebih besar, sebenarnya dapat menjadi salah satu rel bangsa ini untuk menuju era baru, era konseptual. Seperti diungkap oleh Daniel H. Pink bahwa era pertanian dan industri telah lewat, sementara era informasi sedang menuju uzur, maka sektor-sektor yang dikembangkan oleh negara-negara maju dan sulit ditiru oleh bangsa lain adalah sektor yang lebih banyak melibatkan otak kanan manusia.

Dalam bukunya A Whole New Mind : Why Right-Brainers Will Rule the Future (2006), ia katakan bahwa dalam era konseptual yang melibatkan kreativitas, keahlian dan bakat itu mayoritas pekerjaan di masa depan (era ekonomi kreatif) akan dikuasai mereka yang menciptakan sesuatu atau mereka yang mampu berempati kepada orang lain. Sebagian besar pekerjaan itu mensyaratkan ketelatenan, rasa humor , imajinasi, orisinalitas, naluri, kegembiraan, kedekatan pribadi dan kelenturan sosial.

Gambaran kemilau tentang masa depan di era konseptual itu mungkin dapat digambarkan dari perjalanan karier seorang Rowan “Mr. Bean” Atkinson. Ia lahir tanggal 6 Januari 1955 di Consett, County Durham, Inggris. Ia seorang sarjana elektro lulusan dari Newcastle University dan meraih gelar MSc di Oxford (Queen's College). Di kampus inilah, ketika main komedi untuk klub di kampusnya, ia bertemu penulis Richard Curtis dan komposer Howard Goodall, trio kompak yang bekerjasama dalam pengembangan karier Mr. Bean berikutnya.

Bila saja Rowan Atkinson tetap berprofesi sebagai “tukang insinyur” yang banyak berkutat dengan otak kiri yang linear dan mekanistik, kita mungkin tidak akan mengenalnya. Tetapi ketika ia lebih senang memilih mengejar karier berdasarkan bakat yang ia miliki, mengembangkan secara optimal kreativitas dari ranah otak kanannya, dunia pun kini mengenalnya.

Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi kreatif. Demikian simpul artikel yang berjudul “Era Creative Economy dan SDM Berkarakter” yang ditulis Gunawan di koran Seputar Indonesia (21/3/2008). “Industri kreatif saat ini bagian penting dari perekonomian Indonesia,” bunyi pembuka berita mengenai kuliah umum Memperdag Mari Elka Pangestu di Universitas Multimedia Nusantara Jakarta (Kompas, 6/9/2008).

Sayang, lanjut Gunawan, praktik pembelajaran di sekolah (kita) menghambat kreativitas anak-anak. Merujuk pendapat ahli psikologi Universitas Harvard, Howard Gardner, sistem yang salah itu akan membunuh kreativitas anak tinggal 10 persen dari potensinya ketika mencapai usia 8 tahun. Dan bila berlangsung sampai umur 12 tahun maka potensi kreativitasnya hanya tinggal 2 persen saja. Di sekolah-sekolah Indonesia, tiap tahun berapa juta embrio calon-calon Einstein (“Imajinasi lebih hebat dibanding pengetahuan,” katanya), Picasso, Charlie Chaplin, sampai Robin Williams masa depan yang telah terbantai di dalamnya ?

Tumbuh kembangnya ekonomi kreatif juga tidak hanya terancam terjegal akibat sistem yang salah di sekolah. Novelis Ayu Utami dalam kolomnya berjudul “Bangkitnya Kelas Kreatif” (Seputar Indonesia, 14/9/2008) mengutip Richard Florida bahwa kelas (pendukung ekonomi) kreatif itu hanya bisa tumbuh bersama sikap tertentu di sebuah masyarakat. Richard Florida dalam bukunya The Rise of Creative Class (2002) kemudian mensyaratkan adanya 3 T : teknologi, talenta dan toleransi.

Menurut Ayu Utami, T yang terakhir itulah yang menyurut di negara kita akhir-akhir ini. Terutama toleransi kepada kaum minoritas. “Lihat saja bahasa kekerasan dan bahasa kebencian yang kerap disebarkan dalam dasawarsa belakangan ini,” keluhnya. Boleh jadi kita semakin khawatir : apakah api kekerasan dan kebencian yang lebih besar akan semakin menjadi-jadi kobarnya bila saja RUU Pornografi dan Pornoaksi itu akan diundangkan di negeri ini ?

Impian mengenai mekarnya ekonomi kreatif di negeri ini mungkin menjadi gosong. Tinggal hanya abu kenangan. Pasti ikut juga hangus di dalamnya ide-ide cemerlang komedi dimana melucukan dan melecehkan sering tipis batasnya, yang sebenarnya mampu mendewasakan kita sebagai bangsa.



Wonogiri, 26/9-23/10/2008


ke

Tuesday, August 26, 2008

Kejujuran dan Komedian Baru di Senayan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Olok-olok tulang tua. John McCain, 71 tahun, empuk jadi bulan-bulanan komedian Amerika Serikat. Terutama karena usia bakal calon presiden dari Partai Republik AS tersebut.

Pernah ia memasang iklan besar-besaran yang menyamakan saingannya, Barack Obama, dengan artis-artis pembuat heboh seperti Britney Spears atau pun Paris Hilton. Maksudnya, Obama memang populer, tetapi tidak berbobot, dan disangsikan mampu memimpin Amerika.

Para komedian AS segera menelikungnya. Misalnya, Jay Leno. “Apakah Anda telah melihat iklan baru ? Iklan kampanye McCain yang menyamakan Barack Obama dengan Britney Spears dan Paris Hilton. Dan sekarang kampanye Obama mengeluarkan iklan yang menyamakan John McCain dengan Zsa Zsa Gabor dan Bea Arthur.”

McCain tetap bersikukuh. Ia mempertahankan iklannya yang menyamakan Barack Obama dengan Paris Hilton sebagai terlalu banyak ngomong dan kurang action.. Jay Leno kembali mengolok McCain. “Apakah McCain telah menonton video seksnya Paris Hilton ? Di video itu tak ada kata-kata. Yang ada action semuanya,” tegasnya.

Masih terkait tentang seks. Usia tua, kita tahu, juga berpengaruh terhadap perubahan fisik. Termasuk organ reproduksi kita. Komedian Conan 0’Brien membidik McCain dari sisi itu. Oloknya, “Putri John McCain mengumumkan bahwa ia akan menulis buku anak-anak berdasarkan riwayat hidup ayahnya. Aku pikir bagus sekali. Buku anak-anak itu nantinya akan berjudul, ‘James dan Prostat Raksasa .’”

Usia tua juga dapat diperolok dari,perspektif sejarah sampai teknologi. Ketika Obama mengunjungi Irak, McCain merasa tidak mengenal Irak. Yang ia kenal bahwa daerah itu bernama Mesopotamia. Dikabarkan pula bahwa McCain itu gaptek. Ia tak pernah menggunakan email atau pun Internet. Jay Leno pun menembaknya : McCain merasa tak perlu menggunakan email karena orang dapat menghubunginya sekarang melalui radio CB-nya.

Konteks olokan serupa mari kita coba pindah ke Indonesia : ketika pemilihan presiden akan digelar tahun depan, mungkin kita akan disuguhi calon-calon berusia tua. Abdurachman Wahid, Amien Rais, Megawati, Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, sampai Sutiyoso.

Bagaimana kalau mereka itu didampingi calon wakil presiden yang berusia lebih muda ? Misalnya Rizal Ramli, Soetrisno Bachir, Yusril Ihza Mahendra, Yudi Chrisnandi, Rizal Mallarangeng, Fadjroel Rachman sampai Ratna Sarumpaet ? Saya pribadi tidak setuju. Untuk mendampingi calon-calon presiden kita yang tua-tua itu bisa dipilih siapa saja. Syarat pokoknya : asal mereka dokter !

Gosip politik yang baru kini juga terdengar. Selain Obama, kini Anwar Ibrahim juga menjadi inspirasi politisi muda kita untuk mengincar kursi RI-1. Kampanye hitam dengan uduhan sodomi dari kubu lawan politiknya tak mampu menghalangi Anwar Ibrahim ke kursi parlemen, konon para politisi kita juga ingin disiarkan media bahwa mereka telah siap-siap melakukan sodomi pula !

Kelucuan vs kejujuran. Apakah kita dapat memperoleh pelajaran dari parade lelucon politik di Amerika Serikat tersebut ? “Kita semua ada lemahnya,” begitu bunyi penggalan lirik dari lagu tema tayangan parodi politik Republik Mimpi. Artinya, calon pemimpin-pemimpin kita pun, sebenarnya dan sebaiknya, tidak ada yang terlalu suci untuk diperolok.

Apalagi kini di negara kita sedang terjadi “arus besar,” ketika para selebritis atau mantan selebritis ramai-ramai memasuki ranah politik, kiranya semakin banyak dibutuhkan komedian-komedian cerdas baru Indonesia untuk mengkritisi mereka. Atau justru para wakil rakyat wajah baru itu mau membawa ruh kejujuran seorang komedian sebagai bekal misi suci mereka di gedung para wakil rakyat di Senayan.

Ini bukan himbauan lucu. Atau untuk lucu-lucuan. Karena komedi senyatanya merupakan bisnis atau binatang yang serius. Terlebih lagi, intisari komedi adalah kejujuran, di mana makhluk satu ini serasa makin langka keberadaannya di bumi Indonesia. Karena komedi di Indonesia selama ini senantiasa mengejar kelucuan, bukan kejujuran. Hanya puas bermain-main di permukaan, tidak mau capek-capek menyuruk ke kedalaman.

Sekadar ilustrasi, simaklah pendapat Brahmanto Anindito yang menulis betapa sebagian orang yang dilahirkan normal sekarang ini justru berlomba-lomba membencongkan diri di televisi. Gugatnya lebih lanjut :


“Kepada yang terhormat penulis skenario komedi dan aktor komedi. Kalau boleh, ijinkanlah saya di sini berpesan sedikit kepada Anda. Sebuah pesan sederhana dari lubuk hati yang terdalam :

Tolong, melawaklah sebagai lelaki sejati. Kocoklah perut kami, penggemar kalian, dengan silat logika yang kreatif. Bukan dengan tokoh pria yang didandani perempuan. Bukan dengan adegan-adegan “jeruk” mengejar “jeruk”.

Masih kurangkah tokoh waria (wanita pria), alias wadam (wanita adam), alias banci, alias bencong, di pertelevisian kita? Di film fiksi. Di reality show. Baik pemerannya bencong sungguhan, atau dibuat-buat. Masih kurangkah? Berapa tokoh waria lagi yang harus disajikan sampai Anda puas? “

Pembaca Kompas, Tri Haryanto, Jatimulya, Depok, Jawa Barat, menulis surat pembaca di Kompas (22/1/ Januari 2007) menyatakan diri muak terhadap acara yang yang melecehkan perempuan. Di komedi parodi, variety show, kini tak hanya pada acara lawak saja ketika tokoh-tokoh banci itu muncul di televisi. Sebagai penonton televisi di Singapura, Malaysia, Australia, Taipei sd UEA, ia mengatakan bahwa sedikit sekali acara seperti itu. Tetapi di Indonesia, tokoh yang memerankan banci malah didaulat sebagai aktor terbaik untuk kategori tertentu.

"Comedy is about truth,” kata Shazia Mirza, komedian wanita Inggris keturunan Pakistan. Menurutnya, komedi senyatanya berakar dari realitas, kesejatian, kebenaran. Anda tidak perlu mereka-rekanya, karena semua bahan itu sudah terpendam dalam diri Anda. Komedian akan tampil terbaik bila ia menulis atau mengungkapkan mengenai penderitaan, kemalangan dan kesepiannya.

Komedian kita belum mampu berkiblat kesana. Apalagi melangkah untuk memasukinya. Sehingga ketika bercermin dari pendapat di Shazia Mirza diatas, kiranya kita dapat menguak betapa komedi Indonesia selama ini didominasi oleh kepalsuan dan kepalsuan semata. Pria menjadi wanita palsu. Wanita menjadi pria palsu.

Bayangkan kemudian betapa sebagian para pengusung kepalsuan itu kini sedang berbaris dan berusaha untuk memasuki gedung di Senayan, untuk kelak bisa didaulat sebagai wakil-wakil rakyat Indonesia. Dalam dunia komputer ada lingo atau bahasa prokem yang berbunyi garbage in, garbage out. Bila yang masuk Senayan kelak adalah sampah, maka luarannya pun juga sampah, bukan ?



Wonogiri, 27/8-8/9/2008

ke

Sunday, July 27, 2008

Boneka Rusia, Ogilvy dan Effendi Gazali

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com




Tikus The Circus. George Smiley tak bisa lama-lama menikmati masa pensiunnya. Baru setahun ia pensiun dari dinas rahasia Inggris, teman kerja lamanya sudah nongkrong di ruang tamu. Tamu itu membawa kabar penting dan gawat dari Perdana Menteri Inggris bahwa pada badan intelijen tersebut telah disusupi oleh agen Rusia. Tidak tanggung-tanggung, bahwa si tikus Rusia itu berpangkat tinggi di lingkungan badan intelijen Inggris. Smiley memperoleh tugas untuk membongkar siapa agen itu sebenarnya.

Itulah plot film seri Tinker, Tailor, Soldier, Spy (1979). Diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya John le Carre, yang pertama kali diterbitkan tahun 1974. Saya menontonnya di Rawamangun, Jakarta, di layar hitam putih TVRI awal tahun 1980-an. Film ini asyik, menegangkan, mengajak penonton sibuk berpikir dan menduga-duga, walau sajiannya lebih banyak bicara dan bicara. Bukan aksi seperti film spionase model Ian Fleming dengan James Bond-nya. Didukung oleh oleh maha bintang Sir Alec Guinnes yang memerankan sebagai George Smiley.

Adonan misteri dan teka-teki yang merampok rasa penasaran penonton itu diawali dengan adegan pembuka yang menawan. Yaitu tampilan boneka Rusia, yang dikenal sebagai matryoshka. Terdapat empat boneka Rusia yang muncul berturutan, dimana boneka yang keempat tidak memiliki wajah. Tayangan visual tersebut memberikan pesan bahwa boneka yang terakhir tersebut merupakan agen rahasia yang masih misterius, yang justru berada dalam lingkaran terdalam dari badan rahasia Inggris yang disusupinya.


Boneka politik. Boneka matryoshka merupakan satu set boneka yang seringkali terdiri atas lima atau enam boneka yang saling bertumpuk satu sama lain. Ketika boneka pertama diangkat, didalamnya terdapat boneka lain dengan ukuran lebih kecil, dan demikian boneka-boneka berikutnya. Nama matryoshka menurut Wikipedia merupakan turunan dari matryona, nama pertama wanita Rusia, yang sering diasosiasikan sebagai perempuan yang berbadan gemuk.


Ketika masa Perang Dingin masih berkecamuk, di dunia barat sering muncul ejekan bahwa semua perempuan Rusia itu memiliki tubuh seperti bis. Syukurlah, perang dingin itu kini jadi telah sejarah, dan kita bisa menikmati realita bahwa perempuan Rusia ada juga yang sosoknya indah, jelita dan penuh pesona, seperti Anna Kournikova atau Maria Sharapova.

Di masa perestroika, boneka-boneka Rusia itu sering menampilkan tokoh-tokoh pimpinan negaranya. Dimulai dari boneka yang terbesar, Mikhail Gorbachev, disusul Leonid Brezhnev, lalu Nikita Khrushchev, Josef Stalin dan akhirnya boneka yang terkecil adalah Vladimir Lenin. Versi yang baru menampilkan Vladimir Putin sebagai boneka terbesar, kemudian Boris Yeltsin, Mikhail Gorbachev, Joseph Stalin dan terakhir Vladimir Lenin.

Mari kita berandai-andai dalam kacamata jenaka. Apabila boneka-boneka Rusia itu diproduksi di Indonesia, dengan tokoh-tokoh para presiden kita, boneka siapakah yang wajarnya paling besar ? Misalnya kita pilih urutan menurut sejarah : Soekarno, disusul Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kira-kira relakah SBY bila ia dihadirkan sebagai boneka yang paling kecil dengan segala multi-tafsirnya ? Bila ia tidak suka, bukankah dirinya mengingkari sejarah ? Kalau dibuat terbalik, dengan SBY sebagai boneka terbesar dan Soekarno sebagai boneka terkecil, apa kira-kita kata dunia ?

Skenario lain. Misalnya kita memproduksi boneka matryoshka dengan setting yang berbeda : diurutkan berdasar tingkah laku korupsi yang dilakukan oleh para presiden, atau yang marak terjadi ketika presiden-presiden bersangkutan memerintah. Bukankah keenam presiden kita itu justru akan menghindari terpilih sebagai boneka yang terbesar, dan suka memilih untuk ditampilkan sebagai boneka yang terkecil ?

Boneka matryoshka memang kaya dengan metafora. Di era Perang Dingin ada yang menggambarkan bahwa boneka itu merupakan cerminan jiwa Rusia. Setiap kali kulitnya dilepas, selalu saja ada jiwa Rusia dengan faham komunismenya tertinggal di sana.

Ada juga yang melukiskan bahwa tampilan boneka itu merupakan replika dari bawang merah, yang mencerminkan perjalanan hidup manusia. Setiap lapisan adalah tahun-tahun yang kita jalani. Ia mengelupas satu demi satu dan akhirnya hanya berupa ketiadaan. Kesia-siaan.

Melestarikan kekerdilan. David Ogilvy, jenius periklanan, juga punya cerita menarik tentang boneka Rusia. Saya membacanya dari artikel berjudul “Memos From an Advertising Man” di Reader’s Digest (11/1987). Petikannya :

“Kalau Anda merekrut karyawan dari luar, adalah sangat penting untuk memperhatikan bagaimana perekrutan itu dilangsungkan. Dalam pertemuan dengan dewan direksi, pada setiap anggotanya menghadap satu set boneka-boneka Rusia.

Saya berkata : ‘Boneka-boneka itu Anda. Bukalah.”

Mereka kemudian membukanya, untuk menemukan boneka yang lebih kecil di dalamnya. Setiap kali membuka, akan mereka temui boneka yang lebih kecil dan lebih kecil lagi ukurannya. Akhirnya di dalam tubuh boneka yang paling kecil akan mereka temukan sebuah kertas kecil. Saya tuliskan di kertas itu sebuah motto. Tertulis :

‘Apabila Anda senantiasa merekrut karyawan yang lebih kecil dibanding diri Anda, maka perusahaan kita akhirnya akan hanya menjadi perusahaan orang-orang kerdil. Sebaliknya, bila Anda memperkerjakan karyawan yang lebih besar dibanding Anda, maka kita akan menjadi perusahaan raksasa.’


Terkubur lumpur Lapindo. Ucapan Ogilvy di atas melintas di benak ketika via Google saya menemukan berita agak mutakhir tentang Effendi Gazali. Di sms saya menyebutnya dengan “boss.” Ia pun membalas, mungkin dengan bayangan saya adalah warga Wonogiri yang terasing, terpencil, dan pantas masuk konservasi selayak warga suku Indian, maka ia sebut saya dengan sebutan “chief.”

Satu hal yang paling tidak saya sukai darinya adalah, ia agak gaptek rupanya. Ia malas untuk menulis email. Pernah saya berbusa-busa setelah ia meminta saya mengomentari situs webnya, setelah itu tak ada komentar balik darinya. Padahal ketika “marah,” saat ia saya provokasi ketika Republik BBM-nya melakukan debutnya, ia mampu menulis SMS lembar demi lembar.

Berita di Internet itu menyebutkan ia dan timnya dari Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia mundur dari tayangan parodi politik Sidang Kabinet Republik Mimpi dari TVOne. Konon penyebabnya, karena materi tentang bencana lumpur panas Lapindo ditolak oleh fihak televisi. Komentar yang muncul bahwa masa represi model Orde Baru terhadap kebebasan media kini muncul kembali. Entah itu berita serius atau hanya gimmick pemasaran, yang nyata bahwa hari-hari ini dunia komedi Indonesia pun kehilangan sosok Effendi Gazali.

Tetapi toh ia mampu meninggalkan jejak dan warisan berharga. Lanskap dunia komedi menjadi diperkaya dengan kreasinya. Baik tayangan parodi politik berupa copy cat yang tayang di MetroTV atau pun di TVOne, jejak Effendi Gazali masih kental di sana. Tetapi bila metafora boneka Rusia dari David Ogilvy itu diterapkan kepada dirinya dan para “Brutus”-nya, bagaimana pendapat Anda tentangnya ?

Berita tentang dirinya di Internet yang terbaru, lebih membahagiakan. Ia kini tak bisa lagi memperolok dirinya sebagai seorang jomblo, dengan label an eligible bachelor yang prestisius itu. Ia pernah kirim sms, “saya lagi di Padang nih, mencari jodoh.” Toh nasib mempertemukan belahan jiwanya bukan di Padang, tetapi di Depok, di kampus Universitas Indonesia. Ia dikabarkan mempersunting mahasiswi cantik yang bernama Ima.

Selamat menempuh hidup baru, boss EG.
Selamat berbahagia.


Wonogiri, 27-28 Juli 2008

ke

Wednesday, June 25, 2008

Masa Depan Komedi Tidak (Hanya) di Televisi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Photobucket

Sumber foto : Harian Suara Merdeka, Rabu, 18 Juni 2008 : hal. 1


ke

Thursday, May 22, 2008

Komedi Kita, Budaya Hero dan Selebritas

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Perang dua budaya. Perang sengit itu sedang terjadi. Kita semua terlibat di dalamnya. Kalangan sosiolog berpendapat bahwa di dunia saat ini sedang bertempur antara dua budaya. Yaitu budaya hero, pahlawan, melawan budaya pesohor, selebritas.

Budaya hero bercirikan suatu upaya pencapaian prestasi dengan bekerja keras, tekun, sabar, berproses langkah demi langkah, alami dan memakan waktu. Hal universal ini, menurut Stephen R. Covey dalam bukunya Seven Habits of Highly Effective People (1989), berlaku untuk semua tahap kehidupan, pada semua bidang perkembangan. Apakah dalam belajar main piano atau berkomunikasi. Juga berlaku untuk setiap individu, dalam perkawinan, keluarga, atau pun organisasi.

Prinsip atau fakta mengenai pentingnya proses ini kita fahami dan kita terima bila berlaku pada bidang yang bersifat fisik. Tetapi untuk memahaminya di bidang emosional, hubungan antar manusia dan bahkan dalam karakter pribadi, ternyata tidak mudah dan lebih sulit. Bahkan ketika pun kita memahaminya, menerimanya dan hidup selaras dengan prinsip tersebut, ternyata merupakan hal yang lebih sulit lagi.

Akibatnya, kita selalu mudah tergoda untuk mencari terobosan, jalan pintas, mengharap dengan melompati beberapa langkah vital guna menghemat waktu dan usaha, tetapi tetap mampu meraih hasil yang maksimal.

Sikap mental getol mengambil jalan pintas, itulah perwujudan budaya selebritas, yang cenderung ingin sukses secara instan dengan mengingkari proses alami suatu perkembangan. Anda ingin kaya raya tanpa perlu dibarengi kerja keras dalam waktu lama ? Maka tak ayal, mewabahlah budaya korupsi. Ingin nampak berpendidikan tinggi, tetapi tak mau bersusah payah berkuliah ? Budaya jual-beli gelar akademi palsu pun meruyak dimana-mana.

Sebagai ilustrasi lagi, beberapa tahun lalu terpapar realitas penerimaan kita terhadap budaya hero vs. budaya selebritas. Itu tergambar saat seorang selebritas, penyanyi perempuan muda, terkenal, yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas karena diduga habis mengkonsumsi narkoba. Lokasinya di Bandung. Liputan media begitu hebat dan ribuan pelayat berjubelan menghadiri pemakamannya.

Sementara pada saat yang hampir bersamaan, wafatnya sosok hero, pekerja keras dan intelektual, pujangga Angkatan 30, Sutan Takdir Alisjahbana, hanya diantar belasan orang ketika menuju peristirahatannya yang terakhir .

Gelegak budaya selebritas itu, kini, suka atau tidak suka telah mengepung hidup kita. Mungkin kita tidak mampu mengingkarinya. Demikian pula hal yang sama kiranya juga terjadi di dunia komedi. Kalau Anda ingin menjadi pelaku dunia komedi, berbondonglah melalui jalan pintas : ikutlah API-nya TPI. Atau kontes-kontes serupa yang diadakan oleh televisi swasta lainnya. Kalau Anda gagal di ajang ini maka habislah peluang Anda untuk selamanya. Benarkah ?


Petani Jeruk Bali Madu. Kisah mengenai perang dua kubu budaya ini telah saya tulis di Kompas Jogya-Jateng (22 Mei 2004). Saat itu di kota Solo sedang dimabuk eforia. Pasalnya, ada seorang warganya yang dengan sebutan Tia AFI sedang berkibar-kibar menjadi favorit dalam kontes nyanyi yang diselenggarakan oleh stasiun televisi Indosiar.

Pelbagai lapisan masyarakat dari Walikota Solo dan istrinya, beragam institusi bisnis, sosial dan kemasyarakatan, juga sekolah, terus menggencarkan kampanye agar warga Solo dan sekitarnya mendukung Tia AFI dengan mengirimkan SMS ketika kontes berlangsung

Empat tahun kemudian, artikel di atas ingin saya ungkap kembali ketika saya berkenalan dengan seorang petani jeruk bali madu asal Pati. Namanya, Pak Sukir. (foto). Ia juga guru sekolah dasar di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Ia membuka stan yang memamerkan dan menjual produk buah dan bibit jeruk bali madu.

Gerainya itu jadi nampak menonjol. Karena berbeda dibanding puluhan stan lain yang meramaikan perhelatan Wonogiri Puspa Gumelar 1/2008 : Ajang Kontes dan Bursa Tanaman Hias Nasional yang berlangsung 27 April sd 4 Mei 2008 di Lapangan Giri Kridha Bhakti, Alun-Alun Kabupaten Wonogiri.

Pameran tanaman hias kali ini auranya tak segemerlap tahun lalu. Saat itu orang memang sedang dilanda mabuk tanaman hias yang dari obrolan mulut ke mulut bisa mencapai harga-harga fantastis. Juga cerita yang aneh-aneh. Misalnya pasangan yang bercerai karena sang suami menjual hartanya untuk berspekulasi jual-beli tanaman hias. Ada pria yang konon pergi kemana saja, tanaman hiasnya yang mahal itu selalu dibawa di mobilnya, juga berada disamping tempat tidurnya.

“Tahun lalu ada tanaman Jenmanii Gelombang Cinta dihargai 700 juta di Surabaya,” tutur Giyarto, supir Pak Sukir. Ketika saya tanyakan mengapa hal itu bisa terjadi, ia hanya menjawab dengan satu kata : “Permainan.”

Di kolom surat pembaca harian Kompas Jawa Tengah (Jumat, 21 September 2007), saya mencoba ikut menganalisis apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Di bawah ini adalah surat pembaca yang saya kirimkan secara lengkap, yang ketika dimuat telah mengalami penyuntingan.


Pria Mabuk Gelombang Cinta

Kalau Anda menonton pameran tanaman hias, cermatlah melihat sekeliling. Semoga saya tidak salah, karena menurut pengamatan saya, sebagian besar yang menjaga pelbagai stan itu kebanyakan kaum pria. Ada apa ini ? Kalau selama ini bunga, tanaman hias dan hal yang indah-indah sering dikonotasikan sebagai ranahnya kaum perempuan, tetapi di jaman orang mabuk Jenmanii dan asyik masyuk dalam ayunan pesona Gelombang Cinta, justru kaum pria yang mendominasinya.

Ada dugaan, karena dalam gejolak tanaman hias saat ini sangat kental bau bisnisnya. Juga bau spekulasinya. Tentu saja menyangkut perputaran uang yang tinggi. Apalagi bila mengingat tesisnya Deborah Tannen bahwa di kalangan pria itu lajim terjadi hubungan secara hirarkis, ada yang di atas dan ada yang harus di bawah, kalah-menang, persaingan, maka hal itu pula yang terjadi dalam boom tanaman hias dewasa ini.

Secara spekulatif dapat diartikan, dalam boom tanaman hias dewasa ini orientasi utamanya adalah kalah atau menang, untung atau rugi, dalam arti memperoleh atau kehilangan lembaran-lembaran rupiah. Hubungan semacam itu justru yang sering disingkiri kaum perempuan.

Tidak ada yang salah dengan pendekatan bisnis semacam itu. Tetapi alangkah mulianya, bila nilai-nilai keindahan, sentuhan feminitas yang lembut dan manfaat ekologis dari tanaman hias itu juga dimunculkan.

Misalnya bagaimana mereka-mereka yang sudah menjadi jutawan itu sukarela menghias arena publik terbuka dengan tanaman-tanaman yang mampu menyedapkan mata, memperteduh suasana dan menyehatkan kita semua warga. Apalagi di tengah ancaman serius bahaya pemanasan global dewasa ini terhadap satu-satunya bumi yang kita huni ini, ikhtiar menanam satu pohon saja sudah merupakan usaha yang bermakna.


Bambang Haryanto
Pemilik Tanaman Lavender (Anti Nyamuk)
Warga Epistoholik Indonesia


Sebagian dari para pebisnis tanaman hias itu memiliki sikap mental sebagai selebritas. Mereka ingin sukses berbisnis melalui cara instan, dengan melakukian jalan pintas. Tetapi ketika membaca-baca kliping tentang kiprah Pak Sukir selama ini, saya berpendapat, beliau dapat digolongkan bukan sebagai mereka yang bermental sebagai selebritas.

Majalah pertanian berwibawa, Trubus (No.446, Januari 2007 : hal.62- 63), memuat liku-liku menarik tentang asal-muasal tanaman jeruk bali madu dan kiprah Pak Sukir sejak tahun 1988. Menurut awal cerita, dua pohon jeruk yang buahnya besar dan terasa manis, tanpa rasa getir, yang berada di kebun milik mertuanya itu ia tangkar dengan cangkokan. Ada sebanyak 10 bibit untuk ditanam di lahan seluas ¼ ha.

Ia tertarik menanam karena pada 1986, saat baru menikah, dari 2 pohon indukan itu diperoleh 1.000 buah. Total pendapatan Rp. 500-ribu. “Nilai itu setara dengan 2 anak sapi,” tutur Sukir.

Prediksinya tepat. Saat panen pertama kali, pada 1997, ia memperoleh pendapatan Rp. 10-juta dari 10 pohon. Nilai itu luar biasa karena tanah seluas ¼ ha miliknya hanya dihargai Rp. 6-juta. Masyarakat Gembong gempar melihat harga jeruk bisa melampaui harga tanah. Sejak itulah tetangga Sukir mengikuti jejak menanam jeruk besar. Sang pionir pun memperluas penanaman hingga 2 ha sejak 1995-2003. Total jenderal ia memiliki 270 tanaman berbagai umur. Dari sanalah pada 2005 guru Sekolah Dasar itu memperoleh 5 ton setara Rp. 35-juta. Pada 2006, total panen dan pendapatan berlipat dua kali. Sukir menduga, saat ini di Kabupaten Pati tersebar 125.000 tanaman berumur 3-4 tahun.

Dengan jeruk, kata Pak Sukir, ia ingin ikut andil menyejahterakan warganya dan menciptakan lapangan kerja untuk anak-anak muda di desanya. Anda ingin tahu seperti apa rasa jeruknya ? Ketika Pak Sukir memboyong 2 truk --setara 8 ton-- jeruk besar ke Pameran Trubus Agro Expo 2006 di Taman Bunga Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur, produknya itu telah menyedot perhatian pengunjung dan sesama peserta stan. “Luar biasa. Itu jeruk paling enak yang pernah saya cicipi. Manis tanpa rasa asam,” kata Ganis Harsono, pemilik Garfazh Utama Nurseri, di Jakarta, seperti dikutip oleh majalah Trubus.

Pak Sukir sempat mampir ke rumah saya. Selain jeruk bali madu, ia juga membudidayakan avokad dan buah naga. Saat itu ia sempat saya pameri buah avokad yang tumbuh di halaman belakang rumah saya. Saya yang tidak tahu menahu mengenai seluk-beluk tanaman avokad, yang pohonnya ditanam oleh om saya, Mulyono almarhum sekitar dua puluh tahun lalu, ternyata memberikan kejutan.

“Baru kali ini saya menemui buah avokad yang besar seperti ini,” tutur Pak Sukir. Dalam foto ia membandingkan dengan ukuran gelas es. Saya merasa tersanjung dengan pendapatnya itu. Dengan senang hati, saya memberikan dua buah avokad yang bijinya siap untuk ditanam dan juga bibit tanaman avokad. Sebaliknya, saya memperoleh dua tanaman jeruk bali madu dan tanaman buah naga.

Sungguh, tidak saya sangka, di halaman belakang rumah saya ada tanaman istimewa. Kenyataan ini semakin mengingatkan kata-kata Pak Sukir di stannya, sebelum ia mampir ke rumah saya, bahwa di sekitar kita itu selalu terdapat hal-hal istimewa yang dapat kita temukan, kita eksploitasi, untuk memperoleh kemajuan dan kemakmuran. Untuk itu dibutuhkan kejelian, cara pandang baru dan ketekunan.

Pak Sukir pantas mengungkapkan pendapat itu. Ketekunannya telah membuahkan hasil nyata. Ia meraihnya bukan melalui jalan pintas, tetapi dengan perjuangan panjang, meraih prestasi dengan bekerja keras, tekun, sabar, berproses langkah demi langkah, alami dan memakan waktu.


Kaca cermin komedian. Pak Sukir adalah sosok seorang hero. Di tengah meruyaknya budaya selebritas yang mengepung kita saat ini, di mana kalangan sosiolog menyimpulkan betapa budaya selebritas tersebut sangat berimpit ketat dengan budaya kriminalitas, ia menjadi semacam sosok yang langka. Saya bangga bisa mengenalnya.

Bukankah budaya kriminalitas juga meruyak dalam dunia komedi kita ? Silakan hitung, berapa sosok-sosok pelawak kita yang terlibat dengan pemakaian narkoba. Bahkan pernah heboh, seseorang pelawak yang memiliki akting dan kumis bergaya wapres kita, konon terlibat penipuan uang. Kalau boleh jujur, bukankah penyelenggaraan kontes pelawak model API-nya TPI itu juga model yang menempuh jalan pintas ? Lihat saja hasilnya, baik mereka yang juara atau mereka yang gagal : di manakah mereka kini ?

Oleh karena itu, kiranya tak ada salahnya bila saya kali ini sok mengimbau untuk kalangan pendukung dunia komedi kita, terutama yang muda-muda dan alumnus API, untuk menengok sosok hero seorang petani jeruk dari Pati ini. Syukur-syukur kalau bisa meneladani perjuangan hidupnya.

Karena seperti kata Mariah Carey, selalu ada sosok hero pada diri kita masing-masing : “So when you feel like hope is gone, look inside you and be strong / And you'll finally see the truth, that a hero lies in you.” Sementara itu Judy Carter, mentor komedian terkenal, telah juga bilang, “You are as funny as you think.

Secara kasar, bila menurut saya, kalau Anda berpikir bahwa diri Anda jenaka, maka jenakalah Anda pula. Kemudian untuk meraih cita-cita mengejawantahkan kemampuan jenaka Anda itu, selalulah menengok ke dalam diri Anda sendiri. Eksploitasilah harta karun dalam diri Anda sendiri itu. Temukanlah kebenaran, kesejatian diri Anda sendiri. Temukanlah nilai-nilai kepahlawanan.

Ujudkanlah cita-cita itu dalam bingkai budaya hero. Bukan melalui budaya atau cara jalan pintas, cara meraih tujuan yang berimpit dekat dengan budaya kriminalitas.



ke

Tuesday, April 15, 2008

Mr. Bean, Presiden SBY, dan Komedi Kalengan Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com




Khotbah vs komedi. Abin selalu berangkat lebih awal ke tempat peribadatan dibanding umat lainnya. Ketika ditanya mengapa hal itu ia lakukan, ia menjawab : dengan datang lebih awal memungkinkan dirinya leluasa memilih tempat duduk yang paling belakang.

Cerita di atas dapat saja Anda anggap sebagai lelucon. Tetapi dapat juga Anda nilai sebagai realita sehari-hari yang jujur. Karena senyatanya mendengarkan khotbah atau pun pidato merupakan peristiwa yang tidak selalu mengenakkan. Bahkan cenderung membosankan.

Bukankah kita punya kecenderungan untuk benci dinasehati, apalagi dikuliahi ? Seorang Thomas Fuller (1608-1661), sejarawan dan pengkhotbah, pernah mengatakan bahwa “perut membenci khotbah-khotbah yang berkepanjangan.”

Albert Einstein (1879–1955) ketika mengikuti pidato yang juga berkepanjangan dalam sebuah pesta perjamuan, ahli fisika legendaris dan penemu teori relativitas itu seperti dikutip koran The Washington Post (12/12/1978) pernah berujar jengkel : “Saya baru saja menemukan teori baru mengenai keabadian.”

Komedian Inggris, Rowan Atkinson ketika berperan sebagai Mr. Bean punya resep tersendiri melawan kebosanan di tengah khotbah. Dalam film pendek yang beberapa kali diputar ulang di stasiun TV kita pernah menyajikan adegan di mana Mr. Bean mengantuk berat hingga ulahnya merepotkan umat di sebelahnya. Padahal saat itu khotbah sedang dilangsungkan.

Khotbah juga jadi cerita tersendiri bagi komedian Afrika-Amerika yang semula Nasrani dan berpindah sebagai muslim, yaitu Bryant Reginald "Preacher" Moss (41). Dia yang sudah malang melintang sebagai penulis komedi untuk Saturday Night Live, Politically Incorrect, The George Lopez Show, punya cerita menarik tentang khotbah.

Utamanya, mengapa ia punya sebutan sebagai Preacher, sang pengkhotbah, bagi nama panggungnya sekarang ini ? Cerita Moss, ia mendapat nama itu dari teman-teman masa kecilnya sesama umat gereja ibunya. “Karena saat kecil itu saya sering menirukan pendeta yang memberikan khotbahnya secara jelek.”

Begitulah, mungkin saja akibat pengalaman masa kecilnya itulah yang memicu Moss ketika dewasa berusaha menyebarkan pesan-pesan luhur Islam tidak melalui jalur khotbah. Tetapi melalui jalur komedi. Pada tahun 2004 ketika umat Islam di Amerika Serikat mendapat perlakuan berbau rasisme yang kental sebagai buntut peristiwa 11 September 2001, ia menggagas tur komedi yang bertajuk (foto) “Allah Made Me Funny : The Official Muslim Comedy Tour.”

Antara lain bersama Azeem, juga komedian muslim keturunan India asal Chicago, Azhar Usman, Preacher Moss berkeliling AS untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama damai melalui komedi. Menurut pengalamannya, lawakan ternyata jauh lebih efektif dibanding khotbah dalam memberikan pemahaman tentang Islam, baik bagi warga non-muslim atau pun warga muslim sendiri. "Well, if anyone issues a fatwa, they can just get up and leave," simpul Preacher Moss.

Lawakan yang mereka luncurkan bahkan tidak jarang sengaja meledeki dirinya sendiri. Sebagai contoh adalah ulah komedian solo Azhar Usman yang lulusan fakultas hukum Universitas Minnesota. Ia berkeyakinan bahwa komedi merupakan bentuk komunikasi yang canggih untuk menghilangkan mitos-mitos dalam Islam dan sekaligus untuk melawan stereotip fihak luar terhadap Islam itu sendiri. Dalam salah satu sajian komedinya ia menirukan keluhan berat seorang warga Amerika Serikat yang baru saja berpindah agama dan menjadi muslim :

“Anda yakin semuanya ini disebut Islam ? Saya tidak boleh minum minuman beralkohol, saya tidak boleh dekat bergaul dengan cewek-cewek, bahkan saya tidak boleh makan sandwich yang ada daging babinya. Semuanya itu sebaiknya bukan disebut Islam, tetapi Is-hard !”

Sebagai muslim sekaligus warga Amerika, Azhar Usman pun berujar bahwa ia memiliki kebanggaan terhadap sikap patriotismenya yang tinggi. “Untuk negara dan bangsa saya Amerika, saya selalu siap berkorban dengan meledakkan perut saya .…di kedai Dunkin’s Donat,” ujarnya.

Berbeda dibanding khotbah, begitu Moss berkeyakinan, lawakan mampu mengajak audiens untuk berpikir, berperanserta dan terlibat dalam dialog dengan komedian bersangkutan. Moss memang tidak memilih cara penyampaian pesan dengan istilah memukul kepala audiensnya, melainkan memberikan peluang agar ide-idenya meresap melalui humor.

“Biarlah terjadi proses pematangan. Karena Anda tidak dapat memaksakan mereka untuk memikirkan sesuatu. Kalau pemaksaan yang terjadi, itu disebut komedi Gestapo,” tegasnya.

Menurutnya, ”banyak orang tidak mau mendengar khotbah-khotbah tentang kebenaran, tetapi mereka berpeluang mau mendengar kebenaran tersebut bila Anda mampu membuat mereka tertawa.”

Pendekatan Moss itu mendapatkan apresiasi. Misalnya, komedian George Lopez dari The George Lopez Show (NBC) berkomentar bahwa “Preacher Moss bukan hanya komedian bagi komunitas muslim, tetapi juga sebagai guru bagi dunia.” Darrell Hammond dari Saturday Night Live (NBC), menimpali : “Seberapa sering kejadian semacam menyapa Anda ketika pertunjukan komedi mampu membuat Anda merasa sebagai orang yang lebih baik ketika usai menontonnya ?”


Bangsa pemarah. Mari kita buka kartu dan berjujur diri : bisakah kita terapkan penilaian Darrel Hammond di atas bagi krida komedian atau pun acara-acara komedi di Indonesia dewasa ini ? Juga bagi acara komedi yang didukung personil yang sudah mengenyam pendidikan paling tinggi sekali pun ?

Mungkin harapan saya itu terlalu melambung-lambung. Atau terlalu prematur ? Karena tidak jarang IQ # HQ. Kecerdasan intelektual memang bukan selalu berbanding lurus dengan kecerdasan ber-humor-ria.

Yang pasti, dengan meminjam istilah sahabat dunia maya saya Isman H. Suryaman yang seorang blogger dan penulis buku humor canggih a la Scott Adams atau Dave Barry yang hard fun berjudul Bertanya atau Mati ? (Gramedia Pustaka Utama, 2004), tayangan komedi di televisi kita terlalu belepotan dengan dimanjakan apa yang ia sebut sebagai laugh track, canned laugh, atau tawa kalengan.

Dengan merujuk pendapat Stevie Ray dalam bukunya Medium-Sized Book of Comedy: What We Laugh At and Why, Isman menjelaskan bahwa penggunaan tawa kalengan yang tepat adalah untuk menyediakan sesuatu yang disebut Stevie Ray sebagai "izin untuk tertawa".

Di Indonesia, menurutnya, humor sering digunakan sebagai kompetisi sosial. Siapa yang mengerti lelucon dianggap lebih pintar daripada yang nggak. Dan siapa yang bisa membuat orang lain tertawa itu dianggap lebih piawai daripada yang tidak. Karena itu, tak jarang seseorang perlu "izin untuk tertawa" dengan melihat keadaan sekitar. Jika ada orang lain yang tertawa, berarti aman untuk ikutan. Apalagi jika orang yang dianggap "berkuasa" sudah tertawa, berarti sangat aman.

Teori Isman ini mengingatkan saya akan adegan temu wicara yang sering dilakukan Pak Harto dengan warga Kelompencapir di masa Orde Baru. Kalau penguasa Orde Baru itu tertawa terhadap leluconnya sendiri, walau tidak lucu sekali pun, maka otomatis hadirin akan segera ramai-ramai ikut tertawa secara massal pula. Anda masih ingat adegan khas era masa Orde Baru ini, bukan ?

Dalam komedi di televisi, lanjut Isman, tawa kalengan dimanfaatkan untuk itu. Agar penonton benar-benar menangkap mana nuansa yang lucu, diberilah sinyal melalui tawa kalengan. Sekaligus izin : mari kita tertawa, atau ayolah tertawalah, karena orang lain juga tertawa.

Sayangnya di TV, menurut Isman, penggunaan tawa kalengan ini salah kaprah. Seringkali pada adegan yang tidak lucu sama sekali, tawa sudah memburai. Jadinya malah kering. Membingungkan. Membuat bertanya-bertanya. Dan sebal. "Apa yang lucu?" Hilanglah kredibilitas tawa kalengan bersangkutan.

Terima kasih, Isman.

Bagi saya, mewabahnya tawa kalengan dalam sajian komedi di televisi kita hanya menunjukkan maraknya wabah komedi Gestapo yang disebut Preacher Moss di atas. Negara kita adalah negara demokrasi, tetapi sajian lawakan di televisi memakai formula represif model polisi rahasia di era Hitler itu. Lucu yang hadir dipaksakan “dari atas” sehingga senyatanya benar-benar merendahkan kemampuan penonton untuk menangkap humor.


Dimana duta komedi Indonesia ? Walau pun demikian, cerita keteladanan Preacher Moss dkk. di atas itu pastilah masih dapat berguna sebagai cermin. Ia yang berada di tengah masyarakat yang oleh sebagian tokoh fundamentalis disebut sebagai masyarakat “kafir,” ia hadapi semua tudingan stereotip tentang Islam itu dengan solusi yang cerdas dan berani.

Bukan dengan aksi demo membakar bendera, menginjak-injak foto atau boneka presiden atau pun melilitkan bom di badannya yang siap meledak di kerumunan. Melainkan, sekali lagi, melalui jalur komedi. Untuk memperoleh pemahaman dari fihak lain, demi meraih harmoni interaksi sosial yang saling menghargai di tengah pluralitas Amerika Serikat sebagai the melting pot yang tak mungkin ia ingkari.

Kekaguman itulah yang tiga tahun lalu memicu saya untuk menulis kiprah Azhar Usman dan kawan-kawan di halaman Teroka, Kompas (18/11/2005). Pada bagian penutup saya ajukan pertanyaan : “Bagaimana dunia lawak muslim di Indonesia ? Kiranya Gus Dur, Mustofa Bisri atau Cak Nun sebagai intelektual muslim, sumber inspirasi dan pencetus lawakan cerdas, kini tak boleh lagi hanya sendirian. Sangat dinantikan Nasarudin Hoja-Nasarudin Hoja baru atau komedian muslim, lahir segera di Indonesia.

Dengan meneladani Azhar Usman dan kawan-kawan, akan mampu membuka perspektif dan wajah segar baru tentang Islam. Apalagi akhir-akhir ini sebagian umat Islam seperti justru senang bersikap reaktif, daripada proaktif, dengan tampil menjadi polisi moral dalam menyikapi sebagian karya-karya kreatif anak bangsa.”

Setelah tiga tahun berlalu, impian saya itu kiranya masih tetap sebagai impian. Kiranya tetap belum muncul komedian muslim andal di negeri demokrasi yang memiliki umat Islam terbesar di dunia ini. Juga belum muncul komedian muslim dengan perspektif muslim a la Indonesia yang berani berperang melawan stereotip dan kebencian ras di Amerika Serikat sana.

Bahkan bila diperlebar keluar dari panggung komedi, sepertinya bangsa ini, khususnya umat Islam, masih memiliki kiat yang terbatas dalam menghadapi “benturan kebudayaan” yang terjadi. Ketika heboh kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW muncul di koran Denmark, reaksi tipikal kita adalah marah-marah. Sampai muncul seruan untuk memboikot produk dari Denmark.

Sebagian besar dari kita tidak tahu atau tidak hirau bahwa isu kartun tersebut ketika muncul untuk kedua kalinya telah membelah rakyat Denmark dalam dua kubu. Yaitu kubu yang membela umat Islam dan mengecam mereka yang memiliki sikap yang tidak toleran, sementara kubu lain berpihak kepada keyakinan yang menjunjung kebebasan berekspresi.

Kemudian ketika baru-baru ini muncul heboh film pendek Fitna yang buatan politisi sayap kanan Belanda, Geert Wilders, reaksi kita hampir tak berubah. Hanya bisa kembali marah-marah. Muncul lagi seruan untuk memboikot produk Belanda. Yang agak baru adalah sikap denial, penyangkalan diri, seperti tercermin dari upaya Menkominfo kita yang mengultimatum Google sebagai pemilik layanan video sharing YouTube untuk memblok permintaan akses film Fitna dari Indonesia.

Presiden SBY juga mengancam akan menghukum mereka yang mengedarkan Fitna di Indonesia. Ketika Google menyetujui pemblokiran akses itu, kita sepertinya sudah merasa bahwa misi kita telah berhasil dengan gilang-gemilang. Padahal Internet tak bisa ditaklukkan seratus persen, apalagi hanya dengan surat keputusan !

Kegetolan kita untuk melakukan penyangkalan itu menjadi ulasan menarik Herman Elia dalam artikel “Pemimpin Menjawab Cemooh” (Kompas, 5/4/2008). Artikel ini mengomentari pendapat Presiden SBY sebelumnya bahwa para pemimpin bangsa ini harus tabah menghadapi cemoohan dan kritik dari rakyat yang tidak sabar melihat datangnya perubahan.

Dalam pendapat Herman Elia, protes, cerca dan cemoohan itu memang dibutuhkan. Karena memperlihatkan substansi yang lebih gamblang dibanding hanya sajian fakta dan data. Apalagi, menurutnya, fenomena penyangkalan diri para pemimpin kita sudah demikian meruyak, bahkan hingga sampai pada tahap menyalahkan korban.

Ketika seorang ibu dan anak balitanya meninggal karena kelaparan di Sulawesi Selatan, yang ditonjolkan adalah karena sang suami yang seorang tukang becak suka minum-minuman keras dan tidak memperhatikan keluarganya. Ketika sebuah perguruan tinggi mengumumkan penelitian adanya kandungan enterobacter sakazakii dalam susu formula, disangkal fihak pemerintah dengan mempertanyakan validitas penelitian mereka. Akar dari tindak penyangkalan itu, menurutnya, karena para pemimpin kita memandang diri positif secara berlebihan.


Indonesia yang tidak bergerak. Ilustrasi menarik mengenai pemimpin kita yang memandang diri positif secara berlebihan dapat kita simak dari peristiwa di Lemhanas, yang juga disentil oleh karikatur Om Pasikom di Kompas (12/4/2008) yang lalu. Peristiwa yang terjadi adalah kemarahan Presiden SBY ketika menemui audiens yang tertidur di tengah pidatonya. Bahkan sosok yang tertidur itu sempat ia sebut sebagai “berdosa kepada rakyat.”

Tetapi dalam perspektif fihak yang mengantuk sebagai cerminan rasa bosan mengikuti pidato itu, barangkali pendapat ekonom sohor John Kenneth Galbraith jadi relevan baginya. Sebagaimana pidatonya di American University, Washington DC dan dikutip majalah Time (18/6/1984), Galbraith berujar : “Speeches in our culture are the vacuum that fills a vacuum.” Pidato dalam kultur Amerika adalah kekosongan untuk mengisi kekosongan.

Pidato Presiden SBY tentu saja bukan berisi kekosongan belaka. Walau kemudian ternyata pidatonya menyebabkan audiens mengantuk barangkali karena cara penyampaiannya. Anda pasti punya pendapat sendiri tentang gaya berpidato presiden kita itu. Hal lainnya, tentu saja mengenai naskah pidatonya, di mana saya punya sedikit cerita tentang hal satu ini.

Semua itu diawali ketika saya diiming-imingi sebagai calon “bintang tamu” dalam tayangan parodi politik di televisi. Tawaran ini saya anggap sebagai lelucon, tidak tulus dan tidak serius, tetapi sempat juga mendorong saya melakukan selancar di Internet guna mengunjungi situs yang tidak lajim saya tengok selama ini : situs web Presiden SBY.

Di situs yang dieksekusi dengan pendekatan kuno sehingga ibarat papan pengumuman yang dipasang di tempat sepi itu, saya bisa menemukan pidato Presiden SBY ketika meluncurkan buku kumpulan pidato yang berjudul Indonesia On The Move (Indonesia Bergerak) sekaligus meresmikan perluasan Toko Buku Gramedia di Matraman Raya, Jakarta, 28 Desember 2007.


Bagi saya, baik judul atau pun isi pidatonya itu merupakan bahan mentah yang menarik untuk ditekuk sana-sini sebagai bahan humor. Sebagai contoh, dalam pidatonya tersebut SBY sempat bertanya : “Mengapa saya sampai sekarang terus membeli buku ?”

Dalam humor crafting, pertanyaan itu bisa disebut sebagai set-up, umpan atau jebakan. Ini bagian dari konstruksi lawakan yang pasti tidak lucu, tetapi sangat penting perannya. Bagian inilah yang harus dikreasi sangat cermat guna mampu merenggut perhatian pemirsa. Kemudian disusul ledakan, tonjokan lucunya, punchline, misalnya dapat kita berikan : “Hukum ekuilibrium, Bapak Presiden. Karena Anda kini telah jualan buku pula !”

Judul buku SBY itu sendiri, Indonesia On The Move (Indonesia Bergerak), yang disusun juru bicaranya yang Staf Khusus Hubungan Luar Negeri, Dino Patti Djalal, dapat dikontraskan secara sarkastis dengan judul buku Dari 0,0 Kilometer yang ditulis juru bicara presiden yang lain, Andi A. Mallarangeng.

Misalnya : Mustahil Indonesia mampu bergerak maju. Bukankah kedua orang dekat presiden justru saling bertentangan ? Yang satu ingin bergerak sementara yang lainnya ingin terpatok di titik 0,0 kilometer saja ?

Bocoran info : transkrip pidato Presiden SBY itu berisi sekitar 3300 kata. Terdiri delapan halaman kuarto dengan ketikan berspasi tunggal. Pidato yang menurut saya teramat panjang. Mudah memicu pendengarnya untuk menjadi bosan. Lalu mengantuk dan menjadi tertidur. Sehingga bila Presiden SBY mewacanakan agar pemimpin Indonesia tabah menghadapi cemoohan dan kritik dari rakyat, sepertinya secara pribadi, seperti kasus kemarahannya di Lembahas itu, menunjukkan ia belum siap menghadapinya.

Minimal bila dikontraskan dengan pendapat William Phillips dalam bukunya A Sense of the Present (Chilmark, 1967), yang berujar : boredom, after all is a form of criticism. Kebosanan sesungguhnya merupakan bentuk sebuah kritik. Dalam hal ini tentu saja kritik terhadap gaya pidato, panjang naskah dan isi naskah pidato presiden kita.

Usul-usil saya : kiranya peranserta penulis lelucon atau gag writer sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk menjadi bagian dari tim penulis naskah pidato presiden kita di masa-masa mendatang.


Lawakan sebagai kata hati. “Kritik ibarat sikat untuk membersihkan jas para bangsawan,” demikian tutur penyair dan diplomat Inggris, Henry Wotton (1568–1639). Nasehat hebat. Walau pun demikian kritik itu sendiri menjadi hal yang tidak selalu ditanggapi secara elegan oleh mereka yang menjadi sasaran. Kaum agamawan mudah tergoda untuk menampik kritik karena merasa membawakan kebenaran, yaitu wahyu-wahyu dari Tuhan. Para pemimpin bisa juga anti kritik karena merasa paling tahu dan karena memiliki kekuasaan.

Bagaimana dengan komedian ?

Seorang Jon Stewart, penulis dan komedian terkenal yang mengasuh acara The Daily Show with Jon Stewart, pernah dicemooh dalam acara akbar penganugerahan Grammy Award 2001. Ia yang acara televisinya melaporkan kekurangan dan kemunafikan dunia politik Amerika Serikat dengan pisau satir yang tajam dan pernah berujar sebagai komedian ia selalu melucukan segala hal yang absurd dari pemerintah AS, menanggapi cemoohan itu dengan rendah hati : “Saya merasakan cemoohan Anda dan saya ikhlas menerimanya.”

Keikhlasan itu boleh jadi menunjukkan betapa jalan hidup komedian sejati nampaknya memang berbeda dibanding jalan hidup agamawan atau pun tokoh pemerintahan. Komedian dianugerahi keluwesan sikap yang tidak boleh fanatik, sok berkuasa atau pun sok absolut dalam memegang sesuatu kebenaran. Walau pahit, kritik harus menjadi bagian dari eksistensinya.

“Hargai semua kritik. Jangan remehkan kritik. Walau kritik itu salah sekali pun, selalu ada hal-hal positif darinya. Anda harus mencermati bagaimana persepsi orang terhadap diri Anda,” demikian kata John Cantu, mentor humor yang terkenal. Sementara itu Don Stevens memberi masukan kepada komedian tunggal untuk selalu berkeyakinan bahwa sajian komedinya itu akan lebih banyak salah daripada benarnya. Komedian, selalulah berendah hati.

Nasehat-nasehat berharga itu memang tertuju kepada komedian tunggal, stand-up comedian, yang oleh Azhar Usman disebutnya sebagai binatang yang berbeda. "It's a very sophisticated art. Stand-up is different than formula jokes. I was very intimidated at first; you have to do a lot of talking about yourself, " tuturnya.

Komedi tunggal adalah seni yang sangat canggih. Berbeda dari lawakan ketengan. Komedian tunggal memang dituntut selalu untuk melakukan penjelajahan ke dalam diri mereka sendiri sehingga lawakan yang muncul tidak lain merupakan isi kata hati.


Kaleng-kaleng yang berjaket. Bagaimana kritik dalam konstelasi dunia komedi kita ? Kiranya tak ada atau belum ada sosok semacam Simon Cowel, si mulut pedas tetapi jujur dan cerdas dalam American Idol. Media massa kita telah terlalu lama kehilangan sosok wartawan sekualitas Efix Mulyadi atau H. Sujiwo Tejo di Kompas yang berpena tajam dan setia dalam mengorek kekurangan dunia komedi kita. Bagaimana suara para akademisi kita ? Sepi.

Apa pula peran PASKI di sini ? Lupakanlah, karena begitu berdiri PASKI sudah langsung mati suri dengan alasan yang logis : karena dunia komedi kita adalah dunia Hobbesian. Juga terlalu banyak warga komunitas komedi kita yang berkerak dalam mengukuhi sikap mental kelangkaan, scarcity mentality dan belum mengenal paradigma baru, fenomena buntut panjang yang berpendekatan abundance mentality, sikap mental berkelimpahan. Atmosfir iri hati dan menilai komedian lain sebagai saingan masih kental menyelimuti kosmis dunia komedi kita..


Tanpa kritik dan tanpa kerjasama, membuat komedian-komedian kita tidak mampu seperti layang-layang di mana tiupan angin yang keras justru mampu membuatnya terbang dan membubung tinggi. Berlian-berlian calon komedian yang bertebaran di tanah air tidak pula mendapatkan gosokan yang keras dan berkelanjutan sehingga bisa terkelupas bagian luarnya, lalu mampu menunjukkan intinya yang berkilauan.

Yang menonjol dalam dunia komedi kita dewasa ini adalah complacency, rasa puas diri, walau tawa audiens yang mereka peroleh hanyalah tawa kepalsuan atau tawa kalengan belaka. Para kreator acara komedi di televisi-televisi kita nampaknya cukup berbangga dengan hadirnya barisan kaleng-kaleng berisik yang selalu menyemarakkan acaranya itu.

Mungkin karena kaleng-kaleng itu datang secara sukarela dengan rasa bangga. Dengan masing-masing membalut diri secara warna-warni. Dengan jaket-jaket almamater mereka.


Wonogiri, 12-16 April 2008


ke

Sunday, March 30, 2008

Get The Killer Instinct, Comedian !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com




Sensor Porno Di Internet. Komedian senang mencari gagasan leluconnya dari para pejabat. Komedian dan aktor terkenal, Will Rogers (1879–1935), punya kredo yang juga terkenal : I don’t make jokes; I just watch the government and report the facts . Dirinya berujar, bahwa ia tidak membuat lelucon, tetapi hanya menyimak tingkah laku atau kinerja pemerintah dan kemudian melaporkan segala fakta yang ada.

Yang dimaksud pemerintah itu, tentu saja, diwakili oleh para pejabatnya. Maka di negara liberal seperti Amerika Serikat misalnya, para pejabat itu senantiasa menjadi bulan-bulanan para komedian. Bahkan hampir tiap malam. Terlebih-lebih bila pejabat bersangkutan melakukan tindakan yang konyol, atau hipokrit, ia ibarat menjadi bonus besar bagi para komedian untuk ramai-ramai mengulitinya hidup-hidup. Komedian pun ikut aktif pula menjadi pilar penegakan demokrasi.

Bagaimana bila hal yang sama juga terjadi di Indonesia ? Dengan mengkhayalkan kecerdasan komedian kita dan atmosfir kehidupan berdemokrasi kita di Indonesia sudah seperti di AS, hari-hari ini saya ingin mendengar banyak lelucon tentang kebijakan Menkominfo kita, Prof. Dr. Ir. Muhammad Noeh, DEA, yang berambisi menyensor situs-situs porno di Internet.


Sokurlah saya memperoleh lelucon cerdas itu dari komentar “Yahya Kurniawan,” “gagahput3ra” dan “Intox” di situsnya Wimar Witoelar ketika memperbincangkan sensor situs porno di Internet. Menyikapi disahkannya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka “Intox” (#42) tersebut mengaum :

Aaaaand we're back to stone age, ladies and gentlemen. Seriously, this bill is as ambiguous as it can get. The next thing you know we might as well frankensteined Soeharto back from the grave.

Menurutnya, dengan UU ITE itu, Indonesia kembali ke jaman batu. UU itu menurutnya ambigu, kabur, bila diterapkan kelak. Bahkan ia menguatirkan betapa tindak represif model era Soeharto akan bangkit dari kubur untuk kembali hadir menghantui kita semua. Lucu ga, bila kita tak terasa diam-diam digiring untuk terjerumus menjadi bangsa yang hanya bisa mundur ke belakang, ke masa lalu ? Padahal kita tahu, Presiden SBY membanggakan bukunya yang berjudul Indonesia On The Move.

Backward, Mr. President ?

Komentar menarik lainnya disumbangkan “gagahput3ra” (#7), berupa pertanyaan : Dengan UU ITE ini, pemerintah yang akan 'memilih' hiburan untuk rakyatnya. Bukankah ini anti demokrasi? Lalu apa Depkominfo tidak takut Indonesia akan masuk daftar enemies of the internet seperti China, Arab Saudi, Burma, Cuba, dan Korea Utara?

Kalau saya yang mendapat pertanyaan itu maka akan saya jawab : “Kita sekarang memang sudah sama dengan China dan Arab. Contohnya : dulu Wulandari, lalu Mulan Kwok, dan kini Mulan Jameela !” (*)

Sementara itu “Yahya Kurniawan” (#24) menyikapi UU ITE yang gencar mewacanakan ambisi pemerintah untuk menyensor situs-situs porno di Internet, dibalas dengan cerita menggelitik. Ceritanya, ada seorang suami didakwa membunuh istrinya. Ketika ditanya hakim kenapa dia membunuh istrinya, suami itu menjawab: “Pak Hakim, lebih bijaksana mana : saya membunuh istri saya atau membunuhi lelaki-lelaki selingkuhannya setiap minggunya ?”

Inti moral cerita itu, mana yang lebih bijaksana : membatasi akses ke situs-situs negatif itu satu persatu, padahal situs-situs seperti itu tidak akan pernah habis ? Atau memperkuat akhlak dan iman bangsa hingga mampu bertahan dari berbagai serangan budaya negatif ?


Ekonomi kreatif baru. Tetapi menurut saya ada sisi positif dari ambisi Menkominfo kita yang ingin membentuk badan baru yang khusus bertugas menyensor situs-situs porno itu. Ide menteri kita yang mantan rektor ITS 10 November itu sungguh sesuai dengan era ekonomi kreatif yang mengandalkan produktivitas berdasarkan gagasan dan berjangkauan futuristik, diharapkan sebagai antidote cespleng di tengah pengangguran kaum muda kita yang merajalela di negeri ini. Bukankah kebijakannya itu jelas akan membuka lapangan kerja baru di kementeriannya ? Tentu saja, terutama bagi pencinta berat situs-situs porno di Internet !

If you can't beat them, join them.
If you can't beat them, lick them.

Apalagi mengingat realita terdapatnya puluhan juta situs-situs porno di Internet, maka badan baru itu kiranya akan mampu menampung ribuan atau jutaan tenaga kerja baru juga. Badan itu akan berkinerja hebat karena karyawannya dijamin memiliki dedikasi tinggi dalam melakukan pekerjaan rutinnya : menemukan situs-situs porno, menikmatinya, membloknya, dan lalu menemukan situs-situs porno baru berikutnya, menikmatinya, lalu membloknya, dan begitulah seterusnya dan seterusnya.

Sampai akhir jaman. Mungkin mirip adegan perburuan penuh nafsu dan tanpa henti model Wille E. Coyote yang mengejar, beep, beep, si Road Runner. Atau seperti nasib Sisyphus, tokoh mitologi Yunani, yang dihukum dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung untuk hanya menemui kenyataan bahwa batu itu menggelinding kembali ke bawah. Lalu ia harus memulai mendorong lagi batu itu ke atas. Begitulah seterusnya dan seterusnya. Sebuah kesia-siaan ?

Tetapi mengingat pekerjaan itu bakal tidak akan ada habis-habisnya, jangan-jangan di kementerian itu hari-hari ini sudah menggelegak persaingan terselubung antar elit pejabatnya untuk memimpin tugas baru menyensor situs-situs porno di Internet itu ? Agar fair, sebaiknya dijabat oleh orang di luar kementerian itu. Saya usulkan : bagaimana kalau dijabat oleh mantan politisi Golkar yang mengundurkan diri dari DPR gara-gara video pornonya dengan Maria Eva tersebar di Internet ?

Katakanlah, dengan dijiwai semangat rekonsiliasi, ia mendapat rehabilitasi dengan cara berbakti kepada negara, sekaligus menebus dosa, dengan cara melampiaskan balas dendamnya : setiap hari ia menghabisi situs-situs porno dimana aksi dirinya dulu pernah menjadi bagian isi situs-situs bersangkutan. Jadi kalau kelak (“saya mengharapkannya : sekarang ini !”) muncul heboh lagi tentang foto-foto atau video porno serupa yang melibatkan tokoh-tokoh politik Indonesia, ia kemudian merupakan fihak pertama yang akan mengumumkannya. Win-win solution, bukan ?

Sebaiknya lagi dia yang (mantan) politikus itu, yang sepertinya nampak awam dan buta terhadap kedigdayaan perangkat hi-tech IT, termasuk handphone berkamera (“apalagi bila sedang terbakar api horny”), sekiranya bisa mengangkat deputi untuk membantu tugasnya. Saya rekomendasikan pakar telematika yang sering menjajarkan kata blogger dan hacker dalam satu tarikan nafas. Ia juga sohor sebagai ahli handphone dan ahli membedakan foto porno asli dari foto porno rekayasa yang terkenal di kalangan artis-artis kita itu.

Sehingga nanti keputusan akhir mengenai situs yang benar-benar kena gunting sensor kementerian itu dijamin benar-benar situs porno yang benar-benar asli. Bukan situs-situs porno yang sepertinya asli tapi benar-benar palsu. Dan bukan pula situs yang benar-benar asli palsu. Bukankah kita mempercayai kredibilitas beliau selama ini ?

Agar badan itu selalu visible, nampak menarik perhatian dan menonjol, sebaiknya mengangkat deputi lainnya yang bertugas di bidang kehumasan. Saya merekomendasikan : Mayangsari dibantu Halimah Bambang Trihadmojo. Atau sebaliknyalah. Bisa diaturlah. Atau digilirlah. Sehingga ketika keduanya muncul berbarengan secara rukun-rukun karena telah mencontoh dan meneladani keikhlasan serta keserasian dua istri dai yang kondang itu, saya tidak bisa membayangkan betapa sibuk dan heboh para pelaku entertainment journalism kita dalam meliput dan mewartakannya.

Kalau keduanya pas sedang tidak akur, yang membuat mereka tidak siap tampil secara serasi di depan wartawan, keduanya bisa saja mewakilkan kepada pembantu khusus sang pimpinan badan itu. Yaitu figur yang juga terkenal dan telah terbukti dengan akting dan trik-trik kehumasannya yang andal di layar televisi dulu-dulu itu. Maria Eva. Apalagi ia mampu menghibur wartawan dengan menyanyi.

Jangan lupa, dengan dijiwai semangat mikul duwur mendem jero dan rekonsiliasi nasional, termasuk mempertimbangkan rekam jejaknya yang sukses melakukan tindakan sensor informasi di era yang lewat, badan itu perlu mengangkat dewan penasehat yang diketuai, saya rekomendasikan, Harmoko. Sehingga badan itu akan mampu bekerja secara maksimal sepanjang selalu minta atau memohon petunjuk kepadanya terlebih dulu.


Oh, Indonesiaku. Itukah potret Indonesiaku di masa depan nanti ? Yaitu Indonesia yang lebih memilih melakukan mission impossible, misi tidak mungkin dalam upayanya menyensor atau memurnikan (talibanization ?) Internet demi ambisi menjaga perkembangan moral bangsa Indonesia ?

Kalau boleh bertamsil, saya akan mengutip satu ajaran Covey. Menurutnya, setelah tergigit oleh ular berbisa kita biasanya lebih suka memilih melampiaskan amarah dengan aksi mengejar dan memburu ular itu, bahkan kalau bisa sampai membunuhnya sekali pun. Kita lupa bahwa dalam masa pengejaran itu bisa atau racun sang ular itu terus berjalan di pembuluh darah kita, meracuni tubuh kita, dan mampu membunuh kita pula.

Sebaiknyalah, menurut Covey, setelah tergigit kita lebih berkonsentrasi untuk mengeluarkan racun ular yang bersarang di tubuh kita sendiri. Berusaha agar tubuh kita bisa menjadi pulih, sehat kembali, kuat lagi, dan kita tidak usah memikirkan untuk mengejar sampai upaya membunuh sang ular itu lagi.

Pak Menteri Kominfo, apa kita tidak sebaiknya berhenti mengejar ular-ular dari dunia maya itu, Pak Menteri ? Karena ular-ular itu pasti akan datang lagi dan lagi. Belum selesai masalah pemblokiran situs-situs porno, bukankah Anda harus meradang dengan memberi ultimatum kepada layanan video sharing YouTube di Internet terkait tayangan film pendek Fitna buatan politisi sayap kanan Belanda ?

Mungkin sebentar lagi Anda akan berbuat serupa lagi, dengan kemarahan yang lebih besar lagi, karena Radio BBC sudah pula mewartakan adanya seseorang yang berasal dari Iran, seorang muslim yang berpindah ke agama lain, saat ini sedang membuat film kartun yang memparodikan malam pertama Nabi Muhammad SAW ketika menikahi Aisah, istrinya yang paling muda.


Suara-suara rakyat. Kembali ke masalah komedi. Diskusi mengenai hak-hak sipil, sensor Internet sampai hak-hak asasi manusia, mungkin masih merupakan materi yang terlalu berat dan belum mengundang selera komunitas komedian kita untuk mewacanakannya dalam pentas-pentas lawakan mereka.

Mereka masih takut atau tidak tahu caranya untuk mampu menyuarakan suara-suara rakyat, baik mereka yang kelaparan hingga mati atau bunuh diri karena tiada harapan terbelit kelaparan, susah mencari minyak tanah, sampai menyimaki ulah pejabat yang hipokrit atau terlibat korupsi.

Tidak banyak atau bahkan mungkin tidak ada komedian kita yang marah-marah dengan melampiaskannya di panggung bila hal-hal seperti ketimpangan sosial sampai hak-hak warga dunia yang dilanggar dan dilecehkan oleh penguasa. Termasuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang berambisi melakukan sensor atau blokir situs-situs porno di Internet, yang tidak lain sebagai manifestasi seorang big brother, fihak yang merasa paling tahu, walau pun dikatakan sebagai upaya untuk melindungi dan menjaga moral anak bangsa ini.

Bukankah hal itu mengingatkan analisis klasik dari ahli politik George McTurnan Kahin yang menjelaskan bahwa salah satu penghalang demokrasi di Indonesia adalah kultur politik masyarakat yang senantiasa menyandarkan segala sesuatu kepada arahan dari atas ?

Jadi kebijakan model “polisi moral” dari atas itu jelas merupakan penghalang bagi demokrasi. Halo, komunitas komedi Indonesia, bukan suatu kekuatiran yang tidak beralasan bila suatu saat kelak rambu-rambu yang ambigu dan tak jelas itu juga menjarah ke dunia Anda. Apakah Anda tidak tergerak sebagaimana Iwan Fals telah tak letih menyanyikan lagunya dengan lirik satu ini : “Soal moral, biarlah kami cari sendiri ?”

Komedian sebagai seniman ibaratnya juga sebagai antene peradaban, idealnya mampu mengasah kepekaan untuk mengenali ancaman-ancaman yang membahayakan gerak laju peradaban. Kemudian paling duluan bersuara walau tetap dalam aura jenaka. Sayang, pelaku dunia komedi kita rupanya masih terus asyik sendiri, bersibuk-ria untuk bisa hadir secara lucu belaka. Maksud saya, berlucu-lucu, melucu-lucukan, sok lucu. Lucu artifisial.

Mungkin karena mashab teguhism, dari Teguh Srimulat, bahwa aneh itu lucu masih berurat, berakar dan diyakini sebagai mashab tunggal. Pelawak-pelawak kita jadinya masih lebih tergiur untuk memiliki comedy signature dengan bersibuk menata kumis tipis a la Jusuf Kalla, jenggot model Oma Irama, rambut model Gogon atau suku Mohawk, ketimbang mengolah ketajaman, kekayaan khasanah dan kewaskitaan organ penting titipan Tuhan yang berada di bawah rambut mereka.

Sehingga akhir-akhir ini suguhan komedi yang berlabel parodi politik pun terasa digarap secara business as usual, asal muncul rutin. Lebih kental sebagai parade cengengesan yang dangkal, sepi greget, sepi substansi, tak ada nyala api pemberontakan. Cemplang. Tak terpancar kobaran inspirasi yang mampu menggugah dari sana.

Guru lawak Gene Perret yang legendaris pernah bilang, the best humor is based on truth. Lawakan paling hebat adalah lawakan yang berlandaskan pada realita, kasunyatan, pada kebenaran. Dengan formula lawakan yang berpijak di bumi, yang memiliki relevansi dan kaitan dengan denyut hidup audiensnya, komedian bersangkutan berpotensi menyalurkan instink membunuhnya yang ultima prima. Bukan membunuh secara sadis seperti ulah kaum teroris, tetapi seperti ujar Mark Lonow : you really want to hurt these people – to laugh so hard it hurts !

Pendek kata : jadikan penonton benar-benar mati karena tertawa. Penggemar lawak, Anda tak usah kuatir, karena sejarah hanya mencatat seorang Zeuxis, pelukis Yunani pada abad 5 sebelum Masehi, yang mati karena tertawa. Bukan karena melihat lawakan, tetapi melihat lukisan seorang nenek tua buruk rupa, hasil lukisannya sendiri. Ia terbahak-bahak sendiri. Pembuluh darahnya pecah, dan ia pun mati.


Apakah hal serupa akan terjadi bagi komedian Indonesia, yang puas menertawai lelucon mereka sendiri ?



Wonogiri, 31/3 - 4/4/2008


ke