Monday, June 29, 2009

Lagu Michael Jackson dan Inspirasi Pilpres 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Berbakat abad 20. “Tragedi kematian Michael Jackson dalam usia 50 tahun, dikabarkan akibat serangan jantung, hanya menjadi gambaran yang pucat bila dibandingkan dengan tragedi dalam hidupnya.”

Itulah tulisan pembuka dari Josh Tyrangiel dari majalah TIME, yang berjudul “Michael Jackson, 1958-2009: The Talent and the Tragedy.”

Lanjutnya : “ Untuk memahami semua kisah jatuh-bangun dirinya memerlukan kita menelusuri masa tiga puluh tahun sejak operasi plastik yang mendeformasi dirinya, tingkah laku eratik yang membuat namanya sinonim dengan pembengkokan daya sebuah ketenaran, dan pengadilan tahun 2005 dengan tuduhan pelecehan terhadap anak-anak, walau pun ia tak terbukti bersalah, membuat dirinya sebagai paria dan mencuci otak seluruh penggemarnya.”

“Tetapi bila Anda dapat memaafkan atau melupakan hal di atas itu semua, Michael Jackson merupakan salah satu penghibur yang paling berbakat pada abad ke-20.”

Inspirasi kampanye. Berita yang mendunia terkait meninggalnya King of Pop itu di Indonesia segera menjadi perbincangan. Juga di kalangan pendukung capres-cawapres yang kini makin panas berkompetisi menjelang pilpres 8 Juli 2009. Para spin doctors yang nampak kelaparan untuk memanfaatkan momen apa saja demi diolah menjadi bahan iklan memenangkan capres-cawapres yang dibelanya, momen tragedi Jackson itu segera mereka sambar juga.

Desas-desus yang beredar, kesigapan semacam itu semula dimiliki oleh kubu SBY-Boediono. Tetapi kubu-kubu rivalnya, berkat peran intelijennya yang julig, keunggulan kubu Cikeas itu segera terendus dan segera bukan jadi rahasia lagi. Inilah yang terjadi :

Di markas besar masing-masing kubu terpasang boneka-boneka (effigy) dari tokoh kompetitor mereka. Di kubu Mega-Prabowo terdapat boneka SBY-Boediono dan boneka JK-Wiranto. Di markas kubu SBY-Boediono terpajang boneka Mega, Prabowo, JK dan Wiranto. Demikian juga di markas kampanye kubu JK dan Wiranto terdapat boneka Mega, Prabowo, SBY dan Boediono.

Setiap malam, dari masing-masing markas besar tim sukses itu selalu terdengar lagu hitnya Michael Jackson yang terkenal. Refrennya diputar berulang-ulang : “Beat it ! Beat it ! Beat it !

Mungkin karena merasa memiliki musuh bersama, yaitu sang incumbent atau karena memang telah LEBIH terbiasa melakukannya, ada hal istimewa terjadi pada kubu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Bunyi refren lagu itu selalu diikuti suara koor dari tim suksesnya dan juga suara gebukan yang lebih keras dari mereka.

Menengok sejarah, lagunya Michael Jackson itu juga pernah menjadi inspirasi bagi Presiden Soeharto saat berkuasa. Bukankah beliau pernah mengeluarkan ancaman “gebuk” itu bagi kaum kritis yang mengganggunya ?

Lagu itu kini juga laris menjadi ilham bagi sebagian majikan di Malaysia yang memiliki pembantu asal Indonesia.

ke

Wednesday, June 10, 2009

General Elections 2009’s Guffaw

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Politik berisik. Meksiko negeri dirundung malang. Belum surut perbincangan tentang negeri sombrero sebagai asal-muasal menyebarnya virus flu babi, musibah muncul lagi.

Sebuah panti penitipan anak-anak terbakar. Sekitar 30 balita meninggal dunia, sebagian besar tercekik oleh asap beracun. Penyebab kebakaran diduga dari hubungan arus pendek listrik.

Masih tentang Meksiko yang terkait dengan arus listrik dan hawa panas, seorang Len Deighton dalam bukunya Mexico Set (1985) pernah berujar tentang hal yang relevan dengan lanskap dunia perpolitikan kita hari-hari ini. Katanya, di Meksiko mesin pendingin ruangan disebut sebagai politikus karena mereka hanya mampu mengeluarkan banyak sekali keberisikan sementara kinerjanya sangatlah tidak memuaskan.

Di Indonesia, mesin-mesin pendingin itu kini sedang meraung-raung mengisi udara hidup kita kini. Panggungnya adalah pemilihan umum presiden. Ada tiga pasang. Mereka sengit berkompetisi dalam menebar pesona, menebar janji, juga berusaha mengingkari, menutup-nutupi sampai mengubur kejelekan masing-masing di masa lalu.

Rakyat yang punya ingatan kuat melihat akrobat politik dengan rasa teraduk-aduk. Mereka mengasyikkan untuk diamati, dicatat, dan banyak sekali yang mampu memancing gelak tawa kita secara beramai-ramai.

Kita tidak sendirian. Simak kata komedian dan aktor terkenal, Will Rogers (1879–1935) dari AS. Ia punya kredo yang juga terkenal untuk aksi kita : I don’t make jokes; I just watch the government and report the facts. .

Ia tidak membuat lelucon, tetapi hanya menyimak tingkah laku atau kinerja pemerintah dan kemudian melaporkan segala fakta yang ada. Yang dimaksud pemerintah itu, tentu saja, diwakili para pejabatnya. Juga calon-calonnya.

Bukan pemilu. Lelucon pertama : pemilihan umum di Indonesia harus dan sebaiknya disebut sebagai general elections saja. Tidak usah diterjemahkan. Titik. Pemilihan para jenderal. Tak kurang dan tak lebih. Sebab sejak era Soeharto yang selalu menang berkali-kali itu, bahkan sebutannya pun harus general elections with his family and cronies. Titik.

Sebut saja, siapa anak Soeharto yang tidak terpilih sebagai anggota MPR saat itu ?. Istri dan anak Jenderal Wiranto, pernah juga masuk sebagai anggota MPR, bukan ? Sementara itu di tahun 2009 saat ini, separo dari mereka yang bertarung adalah para (mantan) jenderal.

Ingin lebih banyak bukti yang valid ? Simak saja data tim sukses masing-masing pasangan itu. Bertaburan di sana para mantan jenderal. Pemilihan umum sepertinya menjadi ajang reuni terbaik bagi mereka. Personalia tim-tim sukses itu tak lebih dari organisasi-organisasi olahraga kita. Entah KONI sebelum Rita Subowo sampai PB PBSI, misalnya, di mana banyak mantan petinggi tentara berhimpun di sana.

Tak ada yang salah dengan itu semua. Tetapi ada yang lucu karena ironi. Seorang jenius periklanan David Ogilvy ketika menjalani masa sepuh, dalam bukunya Confessions of an Advertising Man (1963), jujur berucap : like everyone my age, I talk to much about the past. Sebagaimana tiap-tiap orang seumuran saya, saya akan banyak berbicara mengenai masa lalu.

Para mantan-mantan jenderal itu bila berkumpul, pasti juga lebih suka saling bercerita mengenai masa lalu. Padahal pemilihan umum berfokus merencanakan peta jalan bangsa untuk berorientasi ke masa depan.

Insan analog. Masih tentang tim-tim sukses yang berjubelan mantan jenderal itu. Tak banyak dari mereka yang seperti Marsekal Chappy Hakim, yang masih aktif menulis dan dan bahkan mengelola blog. Dapat diduga, sebagian besar mereka bisa diberi label sebagai insan-insan analog yang hidup di era digital.

Simak saja tim sukses SBY-Boediono, yang keduanya memiliki gelar doktor. Dan di sekelilingnya juga banyak doktor. Tetapi, lihatlah, nama-nama tim sukses mereka memakai kode-kode era jaman radio CB. Era komunikasi jadul, masa lalu.

Menurut Kompas (23/52009), ada tim Echo dikepalai mantan Panglima TNI Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, tim Delta dikomandani Mayjen (Purn) Abikusno, tim Romeo dipimpin Mayjen (Purn) Sardan Marbun, sampai tim Foxtrot yang punya sebutan sebagai Bravo Media dengan pengasuh utamanya Choel Mallarangeng yang juga direktur Utama Fox Indonesia.

“Sierra Bravo Yankee, Sierra Bravo Yankee, kontak Delta Papa Delta, bisa dikopi ? Ganti !” Grrrk. Grrrk. Grrrk. “OK, Sierra Bravo Yankee, bisa dikopi. Delta Papa Delta menunggu instruksi. Ganti !”

Itulah contoh obrolan di udara antara SBY dan juru bicaranya, Dino Patti Djalal. Bahasa dan kode serupa malah juga dipakai untuk komunikasi via sms, Twitter dan email mereka. Untuk email contohnya :

“Yang terhormat Bapak Sierra Bravo Yankee dan Ibu Alpha November India Sierra Bravo Yankee. Bagaimana kabar cucu tersayang Anda, Alpha Mike India Romeo Alpha ?”

Intelijen militer. Operasi Senyap Diantisipasi : Tim Kampanye Calon Presiden Libatkan Pensiunan Jenderal. Selain merupakan pertempuran para calon presiden dan calon wakil presiden, Pemilu Presiden 2009 juga pertarungan antartim sukses. Perang intelijen pun tak bisa dielakkan akan terjadi. (Kompas, 23/5/09 : 4).

Perang intelijen militer akan terjadi ? Komedian jenius George Carlin menyikut istilah itu. Katanya, intelijen militer merupakan istilah yang kontradiktif. Intelijen militer adalah oxymoron, dan intelijen militer merupakan kombinasi dua kata yang tidak masuk akal.

Kasihanilah, Indonesiaku. Masa depannya sekarang ini bakal ditentukan oleh aksi-aksi dan peperangan yang tidak masuk akal itu !


Siapa menguntit siapa. Jerman Timur sebelum runtuh, dikenal sebagai negara polisi. Di bawah kekuasaan Stasi, dinas polisi rahasia atau intelijen yang cakarnya menjarah kemana-mana, setiap orang bahkan direkrut untuk menjadi intelijen guna mengawasi orang lain. Itukah yang sekarang terjadi menjelang Pemilu Pilpres 2009 ? Medan perang intelijen dalam senyap itu tergambar sebagai berikut :

Intel-intel kubu SBY-Boediono akan selalu diawasi oleh intel bloknya JK-Wiranto dan juga intel front Mega-Prabowo. Intel-intel blok JK-Wiranto akan diinteli intel front Mega-Prabowo dan intel-intel kubu SBY-Boediono. Intel-intel front Mega-Pabowo juga tidak akan luput dari intaian intel kubu SBY-Boediono dan intel blok JK-Wiranto.

Ada fenomena luar biasa terjadi. Intel-intel kubu SBY-Boediono kali ini bisa bekerja sama dengan intel bloknya JK-Wiranto, bahkan juga merangkul intel front Mega-Prabowo. Gabungan ketiganya bahu-membahu siang dan malam selalu menguntit gerak-gerik musuh bersama mereka : Sri Bintang Pamungkas dan gerakan Golputnya !


Operasi senyap. Kata operasi sangat akrab untuk dunia militer. Membayangkan banyaknya pensiunan-pensiunan jenderal itu saling sering ketemuan di markas masing-masing kubu antartim sukses, pasti kata operasi tersebut tidak jarang keluar dalam percakapan mereka.

Tetapi mengingat usia-usia mereka pasti akan sering muncul juga kata-kata operasi yang bermakna lain dalam obrolan mereka : Operasi prostat. Operasi jantung. Operasi ginjal. Operasi kanker.


Jenderal vs Facebook. Anda sudah punya akun media jaringan sosial, Facebook ? Sudahkah Anda bergabung di cause ini, http://apps.facebook.com/causes/290597, untuk mendukung pembebasan Prita Mulyasari ?

Diilhami oleh sukses Barack Obama, pasangan yang bertarung dalam Pemilu Presiden 2009tak ketinggalan memanfaatkan Facebook itu pula. Lihatlah, para pensiunan jenderal yang berbaris dalam masing-masing tim sukses itu dikabarkan memiliki akun Facebook juga. Bahkan mereka setiap hari selalu memperbaiki isi status-nya dengan data mutakhir pribadi mereka :

Data tekanan darah, denyut jantung, kadar gula darah, kadar kolesterol, sampai kadar PSA dari prostat masing-masing !


Janji sorga. Markas besar kampanyenya Bill Clinton tahun 1992, oleh manajer kampanyenya James Carville, dipasangi banner besar. Isinya slogan : It's the economy, stupid. Memang itulah jantung persoalan Amerika saat itu, dan Clinton memenangkan pilpresnya.

Slogan serupa harusnya juga dipasang di markas besar ketiga pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2009. Syukur-syukur juga dipasangi angka-angka persentase pertumbuhan ekonomi yang mereka janjikan, entah satu digit atau dua digit.

Rakyat akan mencatatnya. Di tengah situasi ekonomi global yang suram, perusahaan bertumbangan dan PHK meruyak dimana-mana, siapa tahu angka-angka janji sorga mereka itu kelak hanya cerminan dari kenaikan tensi darah mereka !


Run, generals, run ! Pencipta lagu dan penyanyi rok Amerika Bruce Springsteen dalam lagunya Born to Run (1974) berisi lirik “cause tramps like us, baby, we were born to run.

Politisi Indonesia sebagai petualang kiranya cocok pula masuk dalam deskripsi itu. Mereka terlahir untuk selalu ngacir. Dalam Pilpres 2009, semua kandidat bahkan berebutan mencuri start agar lebih dulu bisa ngacir. Bungkus, alasan dan pembenaran untuk aksi pengaciran itu mudah dicari-cari.

Hari Minggu pagi, 7 Juni 2009, dengan bergabung dalam kegiatan komunitas Bike to Work, SBY dan istri ikut ramai-ramai mengayuh sepeda di Jakarta. Agak luput dari liputan media, di sepanjang jalan yang dilewati SBY terhimpun ribuan warga berbagai bangsa keras berseru sambil mengacung-acungkan spanduk berbunyi : Run, run, SBY, run, run ! Run, run, SBY, run, run ! Run, run, SBY, run, run !

Sebelumnya mereka juga pernah memenuhi badan jalan di Jl. Teuku Umar, Jakarta, untuk berseru pula : Run, run, Mega, run, run ! Run, run, Mega, run, run ! Run, run, Mega, run, run !

Juru bicara kampanye masing-masing kubu kemudian dengan bangga mengklaim bahwa calon presiden mereka telah di-endorse oleh komunitas internasional. Mereka tidak tahu bahwa kelompok itu bernama International Runners Brotherhood Against Overweight and Obesity. Misi mereka mengajak SBY dan Mega untuk rajin olahraga lari, guna mengurangi kegemukan mereka.

Tokoh-tokoh calon wakil presiden juga mengalami demo yang sama. Ketika utusan khusus, special envoy dari Komisi HAM PBB datang ke Indonesia untuk menyelidiki secara lebih detil dugaan pelanggaran HAM di Indonesia 1998 dan Timor Timur 1999, teriakan serupa juga muncul.

Tetapi kali ini bukan dari kelompok International Runners Brotherhood Against Overweight and Obesity. Teriakan dan spanduk kelompok sangat besar satu ini berbunyi :

“Lari, jenderal ! Lari !”


Sepeda dan politisi. Politisi konservatif Inggris, Norman Tebbit, punya cerita tentang sepeda. Seperti dikutip koran Daily Telegraph (15/10/1981) ia bercerita saat ia hidup ditahun 1930-an dengan ayah yang pengangguran. “Ia tidak membuat huru-hara, ia hanya naik sepeda untuk berangkat mencari kerja,” cetusnya.

Di Indonesia kini, kondisinya mungkinkah lebih baik ? Sepeda kini gencar dikampanyekan sebagai kendaraan untuk menuju tempat kerja. Komunitas Bike to Work, adalah contohnya. Kehadiran SBY di tengah komunitas ini merupakan tanda empati bagi mereka.

Empati bagi mereka yang sejatinya merupakan warga Indonesia yang terpaksa menyimpan mobil atau sepeda motor karena harga BBM mahal. Mereka yang takut sakit akibat stres di saat macet dan macet di jalanan yang dipicu biaya pengobatan mahal. Mereka yang bila naik mobil atau motor di jalanan jengkel terkena pungli. Juga bagi mereka yang naik sepeda untuk nglembur kerja di hari Minggu agar bisa makan dengan keluarganya.

Suntikan SBY itu memicu inspirasi lain. Komunitas ini sekarang sangat-sangat mengharap Gede Prama, penulis laris buku-buku motivasi, untuk segera bisa bergabung di dalam komunitas mereka. Alasannya, warga komunitas ini ingin memperoleh suntikan motivasi, sambil bareng-bareng bersepeda, karena terkesan isi artikel-artikel inspiratif dari Gede Prama di harian Kompas.

Dorongan paling utama komunitas ini bersemangat mengajak Gede Prama untuk bergabung karena pada bagian akhir artikelnya selalu tertulis keterangan : Gede Prama, tinggal di Bali, bekerja di Jakarta.

Kabar lain. Seorang teman, juga anggota komunitas itu mengeluh, karena berkali-kali sepeda mahalnya dicuri orang. Ia kini membentuk komunitas baru untuk rekan senasibnya, bernama : Bike to Walk !


Menu sang presiden. Ini bukan lelucon. Prof. DR. Ir Made Astawan, dosen IPB, dalam bukunya Kandungan Gizi Aneka Bahan Makanan (2004) punya pendapat tentang mi instan. Bahan baku utamanya adalah tepung terigu, menjadikan mi bukan merupakan makanan asli Indonesia.

Sebungkus mi instan 75 gram, tulisnya, menghasilkan total energi sekitar 350 kilo kalori. Sementara kebutuhan energi orang dewasa 2.500 kilo kalori dan anak balita 1.300 kilokalori per harinya. Jadi sumbangan energi dari semangkuk mi instan hanya 14 persen untuk orang dewasa dan 27 persen anak balita per harinya.

Jadi : mengandalkan hanya sebungkus mi instan sebagai sumber energi utama dalam kehidupan sehari-hari harus dihindari karena hal tersebut cepat atau lambat akan berpengaruh terhadap stamina tubuh dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, terlalu sering menggunakan mi sebagai “pengganjal perut” satu-satunya setelah seharian bekerja keras adalah tindakan yang sangat keliru.

Mi instan saat ini memasuki ranah nutripolitico complex, persilangan antara komersialisasi gizi dan interes politik. Selain penduduk Indonesia digencarkan untuk mengonsumsi pangan dari bahan terigu itu, sesuai tuntutan pasar bebas yang dianut neoliberalisme, asupan sesering mungkin dari pangan yang nilai gizinya tidak adekuat ini, akan membuat daya tahan pikir bangsa kita menjadi melemah, tidak kritis, sehingga rentan terhadap bujukan dan rayuan bermotif politik.

Peringatan ini sebaiknya didengar oleh seluruh warga negara Indonesia. Perhatikanlah, seorang doktor yang juga lulusan IPB akhir-akhir ini sosoknya setiap saat selalu membombardir benak warga Indonesia dengan pesan-pesan nutripolitico complex itu melalui iklan-iklan di televisi.

“Ketika menghidupkan komputer, otak Anda bekerja. Ketika menghidupkan televisi, otak Anda berhenti.” Demikian kata pendiri Apple Corps., Steve Jobs.

Tanda lampu merah ini sebaiknya menyala dalam kesadaran publik kita saat mendengar bujukan, ajakan, dan rayuan agar warga Indonesia mau beramai-ramai mengonsumsi “mi instan politik” sesering mungkin, setiap hari, sampai tanggal 8 Juli 2009 nanti !


Bertabur doktor. Politisi Partai Buruh Inggris, Neil Kinnock, dalam pidato partainya yang disiarkan televisi telah mengunggulkan makna pendidikan. Ia melempar retorika : “Mengapa saya merupakan Kinnock pertama di antara ribuan generasi Kinnock yang mampu berkuliah di perguruan tinggi ?” Pidato ini kemudian dijiplak oleh Joe Biden, yang kini merupakan Wakil Presiden Amerika Serikat.

Di Indonesia, status lulusan vs bukan lulusan perguruan tinggi pernah menjadi isu perdebatan untuk calon presiden. Kini, lihatlah sekarang, calon-calon presiden dan calon-calon wakilnya yang maju dalam Pilpres 2009. Kalau saja SBY-Boediono nanti terpilih, Indonesia kita memiliki petinggi yang sama-sama bergelar doktor.

Tetapi untuk wakil presiden, bila terpilih, Boediono tak boleh menepuk dada. Sebab di era presiden Megawati kita pernah memiliki wakil presiden yang juga bergelar doktor. Doktor (HC) Hamzah Haz.


Penculikan Rengasdengklok. Megawati juga bergelar doktor honoris causa. Ayahnya, Ir. Soekarno, bahkan banyak mengumpulkan gelar doktor kehormatan dari banyak universitas. Bukan karena gelar-gelar akademis kehormatan semata bila tanggal lahir Bung Karno diperingati pada tanggal 6 Juni 2009 di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Kota ini memang bersejarah. Tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda dipimpin Sukarni sengaja menculik Soekarno dan Hatta. Keduanya dibawa ke Rengasdengklok ini, didesak agar segera memproklamirkan bangsa Indonesia saat itu juga. Namun Bung Karno menolak.

Ketika kembali ke Jakarta malam harinya, keduanya langsung merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamada Maeda, Jalan Imam Bonjol. Naskah inilah yang akan dibacakan esok harinya.

Semula proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (Monas). Tapi, demi menghindari bentrokan dengan tentara Jepang, akhirnya teks proklamasi itu dibacakan –sekitar pukul 09.00 pagi—di kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta Pusat.

Peringatan hari ulang tahun Bung Karno ke-108 itu, tentu saja, juga dihadiri oleh pasangan calon presiden Megawati, juga calon wakil presidennya, Prabowo Subianto. Milis pembela HAM ada yang nyeletuk : Kalau bicara tentang peristiwa penculikan, mengapa nama Prabowo Subianto selalu bisa saja terkait di dalamnya ?


Pura-pura orang kecil. Pasangan Mega-Prabowo mendeklarasikan pencalonannya untuk maju dalam Pilpres 2009 di lokasi pembuangan sampah, Bantargebang. Lalu saat memperingati harlah Bung Karno ke-108 di Rengasdengklok. Termasuk aksi SBY mengunjungi pabrik tempe di Malang atau pun Jusuf Kalla rajin mengunjung pasar-pasar tradisional.

Masih ingatkah Anda, Harmoko menggendong seorang tukang becak di Solo ? Soeharto dan anggota kabinetnya makan thiwul beramai-ramai. mBak Tutut saat menjabat sebagai Menteri Sosial makan di warung tegal. Wiranto bahkan makan nasi aking baru-baru ini pula.

Sunu Wasono, pengajar Fakultas Ilmu Pengtahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam bukunya Sastra Propaganda (2007) menyebut ulah para petinggi tadi sebagai aksi propaganda yang memanfaatkan jurus pura-pura sebagai orang kecil.Disorot oleh televisi, aksi mereka itu untuk membangun citra bahwa mereka merakyat, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat kecil, mencoba menarik simpati dan dukungan massa dengan cara menempatkan dirinya (seolah-olah) mereka juga.

Para kontestan Pilpres 2009 dalam liputan media ada yang konsisten menunjukkan kedekatannya pada rakyat kecil. Tetapi kebanyakan tidak. Megawati, tidak. Jusuf Kalla, tidak. Wiranto, tidak. Boediono, juga tidak. Apalagi Prabowo.

Yang nampak paling dekat dengan rakyat kecil adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Rakyat kecil yang paling dekat dengan dirinya bernama : Amira.


Kerbau dicocok hidung. George Burns almarhum, komedian sepuh dan dihormati, yang biografinya (foto di atas) ditulis Martin Gottfried berjudul George Burns and The Hundred Years Dash (1996), mengakui kemuliaan rakyat kecil.

Seperti dikutip majalah Life (Desember 1979) ia berujar, “too bad that all people who know how to run the country are busy driving taxicabs and cutting hair ”. Sangat disayangkan bahwa mereka-mereka yang tahu bagaimana mengelola negeri ini sibuk sebagai sopir taksi dan tukang cukur.

Orang-orang kecil tersebut di Indonesia saat menjelang Pilpres 2009 ini, sekarang ini lagi gencar didekati para kandidat. Dengan beragam jurus propaganda. Di antaranya adalah jurus umpatan. Jurus umpatan yang lagi laris manis dijajakan antara lain sebutan neoliberalisme dan pengungkapan mengenai pembengkakan utang negara.

Istilah-istilah itu diucapkan untuk menyerang fihak lain guna mendapatkan simpati. Tetapi dasar dari semua itu, ketika menggunakan jurus umpatan tersebut si pengguna tidak menginginkan kita berpikir, tetapi hanya bereaksi, membabi buta, dan tidak memiliki keraguan.

Kita sebagai rakyat mereka harapkan berlaku seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Menerima begitu saja isu tersebut, tanpa mempermasalahkan atau mengujinya dengan sikap kritis. Propaganda jurus satu ini sudah kita akrabi sejak jaman Orde Lama, Orde Baru, dan sampai saat ini pula. Termasuk slogan “Ganyang Malaysia !” yang muncul kembali di televisi ketika kasus Ambalat akhir-akhir ini mengemuka.


Tak ada lagi rumah angin. Novelis dan penyair Inggris D. H. Lawrence (1885–1930) pernah berujar : Never trust the artist. Trust the tale. Jangan mempercayai sang seniman, tetapi percayai karya-karyanya. Nasehat ini relevan di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2009 yang nampak ramai-ramai melibatkan para seniman.

Effendi Gazali dan Sujiwo Tejo memproklamasikan dukungannya untuk pasangan Jusuf Kalla-Wiranto ketika nonton bareng film Capres (Calo Presiden). Butet ikut berbaris di kubu Mega-Prabowo ketika disewa untuk melontarkan bom-bom kritik untuk pemerintahan SBY. Dan lihatlah, Rendra membaca puisi dan menyatakan dukungan dalam acara deklarasi Mega-Prabowo di Bantargebang.

Seniman kini memang tak lagi betah tinggal di atas angin. Ketika umur semakin menua, atau ketika idealisme memudar, mereka memilih turun untuk semakin dekat dengan tanah. Bahkan tanah tempat Rendra membacakan sajak Krawang-Bekasi-nya Chairil Anwar itu adalah tanah tempat pembuangan sampah.


Agenda rahasia Butet. Malam Deklarasi Pemilu Damai yang diselenggarakan KPU di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Rabu 10 Juni 2009, memicu kontroversi. Acara yang seharusnya penuh suasana persahabatan berubah jadi tegang lantaran sajian monolog Butet Kartaredjasa.

Butet menyampaikan monolog mewakili tim kesenian pasangan capres Mega-Prabowo dalam Deklarasi Pemilu Damai. Butet tampil memukau, tapi menyentil salah satu capres, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia memberondongkan sindiran terhadap pemerintah yang berkuasa, SBY, dan dilontarkan di depan SBY sendiri.

Tanpa tendeng aling-aling. Kritikan Butet membombardir mulai dari masalah utang negara, korupsi, hingga banyaknya pesawat Indonesia yang sering jatuh sebelum perang terjadi.

Mengapa Butet berani melakukan aksi itu ? Seorang pengamat politik, Dr. Sukardi Hambali dari Politika Humorista Institut Jakarta, memberikan analisisnya. Pertama, Butet berani melakukan hal itu untuk kubu Mega-Prabowo karena ia ketakutan. Takut menjadi korban aksi penculikan.

Kedua, Butet lagi terkena Omni-Prita Syndrome. Butet sebenarnya menginginkan sesudah melakukan orasi itu akan ditangkap, lalu diinterogasi fihak keamanan. Dengan modus ini, ia akan semakin terkenal di dunia Internasional.

Ketiga, dengan menyerang SBY, ia memang berharap tokoh yang menyewanya akan memenangkan Pilpres 2009. Sebagai aktivis kebudayaan, bila Mega-Prabowo menang, Butet mampu memiliki link khusus yang ia kira akan membantunya dalam merampungkan agenda kebudayaan yang ia pendam selama ini.

Semoga agenda kebudayaan Butet itu sukses. Antara lain mampu mencari kejelasan tentang nasib penyair Wiji Thukul, aktivis era reformasi sampai Deddy Hamdun, suami aktris cantik Eva Arnaz, yang tidak ada kabarnya sampai kini.


Polusi demokrasi. Agenda Butet di atas hanyalah fiksi. Ia yang mengaku sebagai profesional, yang siap disewa oleh pasangan mana saja, boleh jadi merupakan sejimpit gambaran bagaimana kekuatan uang mampu berbicara dalam sebuah pesta demokrasi.

Untuk fenomena satu ini, penulis dan wartawan Amerika Serikat, Theodore H. White (1915–1986) pernah bilang wanti-wanti, bahwa banjir uang yang digelontorkan dalam kancah perpolitikan dewasa ini merupakan polusi bagi demokrasi. Sepertinya, ancaman polusi itu kini sedang pula terjadi di tanah air kita. Termasuk fenomena lembaga survei yang dibayar oleh kandidat. Kita lihat dan saksikan semuanya harus dengan waspada.

Sebab bila polusi demokrasi itu meruyak kemana-mana, maka kita kelak akan hanya mendapati apa yang pernah disinyalir oleh tokoh serba bisa, ya ilmuwan, penemu dan juga politisi Amerika serikat, Benjamin Franklin (1706–1790), yang bersabda :

Di aliran sungai dan pemerintahan yang jelek, benda yang paling ringan saja yang mengapung di atasnya !


Wonogiri, 11-15/6/2009


ke

Sidang Ke-2 Prita Mulyasari : Ketika Hukum Membungkam Hati Nurani ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Photobucket



Wonogiri, 11/4/ 2009

ee

Monday, May 18, 2009

Pemilihan Presiden Indonesia 2009 : Satire

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Bangkit dari abu dan api. Indonesia ibarat dongeng burung phoenix. Ketika dirinya merasa menua, ia akan masuk ke dalam kobaran api. Bulan Mei sebelas tahun lalu jadilah Indonesia yang terbakar mengiringi tumbangnya rejim Orde Baru.

Majalah AsiaWeek edisi 5 Juni 1998, memuat kartun yang menggambarkan sebuah mobil dengan nama “Indonesia” sedang terbalik, terbakar, bersama sang sopir, yaitu Soeharto didalamnya. Teksnya berbunyi : Famous last words : “Vrooom, vrooooomm…”

Seperti halnya legenda burung phoenix, dari reruntuhan abu bekas kebakaran itu muncul kemudian burung phoenix baru. Di bulan Mei 2009 kini, sebagian dari aktor yang bermain di balik kobaran abu dan terbakarnya Indonesia sebelas tahun yang lalu itu, telah muncul menjadi calon-calon pemimpin Indonesia masa depan. Bangsa Indonesia memang bangsa yang menakjubkan. Bangsa yang pelupa, yang mudah memaafkan, sekaligus mudah termakan iklan.

Hari-hari mendatang kita semua akan semakin dijejali dengan iklan, iklan dan iklan. Juga oleh janji, janji, dan janji. Karena sebagaimana ujar penyair, kritikus dan ahli kamus asal Inggris, Samuel Johnson (1709-1784), bahwa promise, large promise, is the soul of an advertisement. Pelbagai janji besar itu mulai meluncur ketika mereka melakukan deklarasi.

Merebut Bung Karno. Adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang pertama kali melakukan deklarasi. Slogan “lebih cepat dan lebih baik” diusung dan dipraktekkan oleh pasangan tersebut. Mereka melakukan secara gerak cepat. Termasuk dalam hal memperebutkan semboyan dan slogan. Misalnya, ketika mereka memosisikan diri sebagai pasangan dwi tunggal.

Kita tahu, jargon ini terlanjur melekat di benak bangsa Indonesia untuk pasangan proklamator Soekarno-Hatta. Untuk mendekati realitas, bahkan mereka pun mendeklarasikan diri di komplek patung proklamator di Pegangsaan. Partainya Megawati, PDIP, dalam hal ini kalah cepat dalam merebut simbol-simbol politik masa lalu yang justru dicetuskan dan lekat bagi ayahnya, Bung Karno.

JK sendiri mengatakan bahwa perpaduan dirinya dengan Wiranto sebagai sesuatu yang cocok dan saling mengisi. Ilmu numerologi muncul lagi. “Hanura itu nomor 1. Golkar itu nomor 23. Jadi kalau digabung menjadi 1, 2, 3,” ujar JK.

Urutan nomor semacam itu mudah mengingatkan kita akan merek peranti lunak terkenal di masa lalu, Lotus 1-2-3. Tetapi kini merek tersebut tinggal mengisi sejarah, sudah kedaluwarsa dan tidak lagi digunakan oleh pemakai.

Pasangan JK-Wiranto sepertinya memang suka bernostalgia akan masa lalu. Ketika mendaftar di KPU, seperti ditulis oleh Seputar Indonesia (17/5/2009), JK sempat menyindir pasangan lain yang berasal dari daerah yang sama. “Kami pasangan pilpres, bukan pasangan pilkada,” tandasnya. Sasaran tembaknya adalah SBY yang berasal dari Pacitan dan Boediono dari Blitar, sama-sama dari Jawa Timur.

JK-Wiranto, menurutnya, merupakan pasangan yang merepresentasikan wilayah Indonesia yang luas. Kalla dari Sulawesi Selatan, istrinya dari Sumatera Barat, sedangkan Wiranto dari Jawa Tengah dan istrinya dari Gorontalo, Sulawesi Utara. Seorang pengamat politik, Dr. Sukardi Hambali dari Politika Humorista Institut Jakarta, nyeletuk :

“Kalau tesis JK-Wiranto semacam itu disetujui banyak orang dan agar berkesesuaian dengan dinamika geopolitik berskala regional dan global masa kini, maka pasangan yang ideal adalah pasangan yang bukan mereka berdua. Melainkan pasangan Yusril Ihza Mahendra sebagai calon presiden dan istri keduanya, Rika Tolentino Kato, sebagai calon wakil presiden. Keduanya sungguh merepresentasikan Indonesia, Filipina dan bahkan Jepang !”


Kaos McBoed di Bandung. Kita pindah ke Bandung. Kembali Megawati Soekarnoputri dan PDIP harus kehilangan semboyan perjuangan masa lalu ayahnya. Jargon terkenal dari Bung Karno, yaitu Indonesia Menggugat, telah digunakan oleh calon wakil presiden Boediono ketika berpidato dalam acara deklarasi yang bernuansa a la kampanye Obama-Biden di Amerika Serikat.

Bahkan pasangan SBY-Boediono, beserta istri masing-masing, naik ke panggung dengan mengenakan pakaian berwarna merah. Kita tahu, warna merah selama ini lekat disimbolkan sebagai warna seragam partainya Mega. “Slogan lebih cepat dan lebih baik juga bisa kami wujudkan. Itu bukan monopoli pasangan JK-Wiranto saja,” tutur salah satu anggota tim sukses SBY Berbudi.

Deklarasi SBY-Boediono di Sabuga ITB Bandung, memang meriah. Tepuk tangan dari hadirin, terutama anggota partai dan simpatisan, terkesan nampak rapi dan terorganisir. Tambahan lagi, seolah Rizal Mallarangeng bersaudara dari FoxIndonesia ingin menfotokopi persis hura-hura a la Obama-Biden, bahkan termasuk ketika rombongan undangan untuk menghadiri deklarasi menggunakan kereta api dari Jakarta ke Bandung.

Hanya saja, kalau Obama naik kereta api dari Philadelphia ke Washington DC dalam rangka mengikuti jejak rute Abraham Lincoln sebelum inaugurasi, rombongan pasangan SBY Berbudi naik kereta api Parahyangan sebelum deklarasi.

“Ini kereta api murah dan merakyat,” papar Rizal Mallarangeng di depan kamera televisi. Penggunaan kereta api yang bukan dicarter khusus itu dimanfaatkan untuk melunakkan tuduhan gencar politikus senior Amin Rais bahwa pemilihan Boediono sebagai cawapres merupakan penubuhan dari mashab ekonomi neoliberalisme yang diusung SBY.

Tudingan tentang mashab neoliberalisme ini memancing kalangan profesional kehumasan yang mewakili perusahaan besar berkomentar. Mereka menyayangkan bahwa, “duet SBY-Boediono malam itu benar-benar melewatkan momen televisi yang berharga. Dalam deklarasi, SBY Berbudi telah berani tidak lagi mengenakan baju biru, warna Partai Demokrat, maka sebaiknya mereka juga berani untuk tidak mengenakan peci. Dengan rambut tertata rapi, yang menjadi ciri khas keduanya, mereka berpeluang menjadi bintang iklan dari produsen minyak rambut. Yardley atau Mandom, pasti tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Tambahnya sengit : “Kalau pun pakai peci, sembari mengambil muatan lokal Sunda, kenakanlah seperti posisi pecinya si Kabayan. Pecinya melintang. Biarkan sebagian rambut menyembul sebagai sarana masuk untuk menjadi bintang iklan minyak rambut. Jadi ada simbiosis ideal antara muatan lokal, nasionalisme dan sekaligus neoliberalisme !”

Acara deklarasi SBY Berbudi sampai menit-menit terakhir konon dibayang-bayangi aksi pembelotan kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Beberapa hari sebelumnya PKS menyatakan tidak setuju atas pengangkatan Boediono karena tidak merepresentasikan golongan Islam. Presiden PKS Tifatul Sembiring gencar bicara, bahwa dalam Islam ada gradasinya, sementara perwakilan Jawa-Non Jawa harus diperhitungkan, bahkan tak langsung menyebutkan adanya bibit-bibit “pemberontakan” bila keberadaan mereka tidak diwakili.

Ancaman itu merupakan permainan kartu untuk menegosiasikan posisi. Menurut kabar burung, PKS konon ingin memperoleh posisi kuat bagi kader-kadernya untuk memimpin departemen di bidang ekonomi, khususnya industri dan perdagangan. “Agar pasok kain putih tidak tersendat,” kata seorang pengamat. Karena jutaan konstituen PKS membutuhkan bahan pokok, kain putih itu.

“Lihat saja demo-demo mereka. Kain putih, seragam putih, itu ciri mereka. Bahkan demo untuk memprotes Israel dan demo memprotes ketidakadilan AS di Timur Tengah, telah menjadi merek dagang yang telah dipatenkan oleh mereka,” tuturnya lebih lanjut. PKS juga ingin memperoleh konsesi dalam hal memproduksi bendera-bendera Israel dan bendera Amerika Serikat.

“Kalau beli yang asli kan mahal. Kami harus mampu memproduksinya sendiri, guna memenuhi kebutuhan konstituen kami. Konstelasi geopolitik secara global mensyaratkan setiap kantor cabang kami di seluruh Indonesia memiliki cadangan cukup bendera-bendera Israel dan AS tersebut,” tegas salah satu fungsionaris PKS yang berlatar pendidikan S-3 di Jepang.

“Ketika Timur Tengah bergolak, kami bisa segera berdemo. Bendera negeri Zionis dan pendukungnya itu bisa dibakar oleh mitra dan konstituen kami untuk menjadi bahan liputan televisi yang dramatis dan mendunia !,” simpul akhirnya.

Malam itu, demo menentang SBY Berbudi juga terjadi di Bandung. Sekitar satu kilometer dari arena deklarasi di Sasana Budaya Ganesha ITB Bandung, ribuan mahasiswa berdemonstrasi. Antara lain mereka menolak penggunaan fasilitas kampus untuk sarana kampanye politik.

Sebagian mereka memakai kaos yang berisikan slogan-slogan menentang mashab neoliberalisme. Tergambar, dengan latar belakang logo golden arch-nya produsen makanan cepat saji McDonald, terpampang wajah SBY, Boediono, Hatta Radjasa, Sudi Silalahi, Sri Mulyani Indrawati, Rizal Mallarangeng, Andi Mallarangeng, sampai Dino Patti Djalal.

Di bawah wajah-wajah tersebut terdapat tulisan : McBY, McBoed, McHatta, McSilalahi, McMulyani, McMallarangeng sampai McDino. Sambil berdemo, para mahasiswa itu menenggak Coca Cola. Mereka pun agak lama menunggu kiriman burger dari gerai McDonald terdekat, karena lalu lintas Bandung tambah macet saat itu.

Malam yang alot. Di Bandung ada pesta, sementara di Jakarta dan Bogor malam itu terjadi negosiasi yang alot. Jadi benarlah bila beberapa hari sebelumnya kalangan intelektual Indonesia menyebut-nyebut adanya fenomena politisi malam.

Yaitu politikus yang menggalang dan menegosiasikan kekuasaan secara misterius, dalam kegelapan, melakukan politik dagang sapi yang tidak transparan, dengan tujuan semata-mata berbagi kekuasaan dengan tidak menghiraukan kepentingan bangsa dalam jangka panjang.

“Saya prihatin melihat mating season, musim cari jodoh yang menjadi ajang dagang. Tawar-menawar perjodohan kandidat presiden-wakil hanya merupakan tawar-menawar kekuasaan dan jabatan…Karena hanya kepentingan jangka pendek yang jadi pertimbangan, dua jenderal yang menyimpan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu diterima…Menerima dua sosok itu berarti menerima kembalinya pelanggaran hak asasi manusia,” demikian tulis Ayu Utami dalam kolomnya berjudul “Naik kereta dengan Pak Boed” (Seputar Indonesia, 17/5/2009).

Di ujung malam, Jumat 15/5/2009 itu, akhirnya Megawati dan Prabowo sepakat maju sebagai capres dan cawapres PDIP-Gerindra. Di BBC, pengamat politik Daniel Sparingga dari Unair berkomentar, Mega membutuhkan Prabowo karena tokoh ini banyak duitnya untuk membiayai pemasangan iklan-iklan mereka kelak.

Sesuatu yang aneh kemudian terjadi. Misalnya, kita bisa melihat sosok Boediman Sudjatmiko, aktivis PRD yang lalu menyeberang ke barisan Mega, atau aktivis HAM seperti Rieke Dyah Pitaloka, sejak malam itu diri mereka berada dalam satu kubu dengan Prabowo Subianto.

Pengikatnya, kedua kubu mengaku memiliki platform yang sama, utamanya dalam mengusung jargon ekonomi kerakyatan. Mega dan Prabowo tentu juga sama-sama mengenal nama-nama yang patut diduga menderita Stockholm Syndrome, yaitu Haryanto Taslam dan Pius Lustri Lanang.

Menurut desas-desus, tokoh Haryanto Taslam itulah yang sempat menjadi salah satu bahan negosiasi yang tidak mudah. Bila menang, kubu Prabowo menginginkan Departemen Hukum dan HAM ingin dijabat oleh Muchdi PR. Tokoh ini memang segera meroket ke publik sebagai tokoh yang sangat sadar hukum. Ketika dibebaskan dari tuduhan sebagai aktor intelektual dibalik terbunuhnya aktivis HAM, Munir, ia berencana menggugat balik kepada istri Munir dan pelbagai LSM lainnya.

Sementara itu kubu Mega, walau merasa pernah dikhianati atau ditinggalkan oleh kadernya yang bernama Haryanto Taslam, naluri keibuan dari Mega yang berbicara. Pengalaman diculik dan segala duka-derita yang dialami Haryanto Taslam ia anggap sebagai aset. Maka Mega menginginkan Haryanto Taslam, bila menang pilpres, untuk menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM.

Akhirnya diperoleh kompromi. Muchdi PR diplot sebagai Menteri Hukum dan Haryanto Taslam kelak diproyeksikan sebagai Menteri HAM. Win-win terjadilah.

Antitesa neoliberalisme. Negosiasi kedua tokoh ini memang paling alot. Isu yang beredar, kealotan terjadi bukan hanya karena Gerindra ingin mendominasi di bidang ekuin untuk mewujudkan mashab ekonomi kerakyatan. Tetapi kealotan itu bahkan merembet ke masalah kereta api dan lokasi seremoni deklarasi.

Konon, karena ingin menyaingi hebohnya kubu SBY-Berbudi, PDIP ingin menyewa kereta api dari Bali ke Jakarta. “Kebalikan dari rutenya Daendels. Sebagai isyarat dan simbol perlawanan kami berdua terhadap neoliberalisme yang diusung rival kami,” demikian tulis sebuah milis politik yang dekat dengan kubu Mega.

Lanjutnya, kereta api itu akan berhenti di Blitar. Untuk melayani ritus Mega yang terkenal, yaitu nyekar ke makam Bung Karno. Aksi itu juga merupakan gestur manis agar rakyat Blitar akan memilih dirinya di pilpres. Bukan memilih kubu Boediono dan Anas Urbaningrum, walau keduanya adalah orang asli Blitar.

Prabowo juga minta agar kereta berhenti di Solo dulu. Agar dia bisa nyekar ke makam pak Harto di Giribangun, Mangadeg. Juga sekaligus memberi pesan agar warga Solo dan sekitarnya, yang memang basis tradisionalnya Mega, agar memilih dirinya. Bukan memilih jenderal saingannya, yang orang Solo dan kini menjadi cawapresnya JK.

Kabar burung ia ingin mengunjungi Candi Sukuh, agar enteng jodoh sebagai kandidat wakil presiden. Tetapi kabar itu segera dibantah oleh fihak-fihak terdekatnya. “Hal satu itu bukan masalah kenegaraan yang mendesak. Ingat kasus Presiden Sarkozy. Ia menyunting Carla Bruni sesudah duduk di kursi presiden, bukan ?,” kata sumber tersebut.

Kebijakan tersebut dipilih demi menjaga keotentikan makna slogan triumvirat baru Indonesia yang diusung pasangan ini. Slogan satu ini, ketika slogan dan simbol-simbol terkenal dari Bung Karno keburu direbut pasangan pesaing, memang diilhami oleh keharmonisan para founding fathers Indonesia yang harmonis dan inklusif antara Soekarno, Hatta dan Sjahrir, ketika Indonesia masih berusia muda.

Semangat itu pula yang akan ditonjolkan saat deklarasi. Ketika di puncak seremoni deklarasi mereka, warga Republik Indonesia akan melihat triumvirat baru Indonesia di layar televisi mereka. Yaitu Megawati Soekarnoputri, pasangannya Taufik Kiemas, dan Prabowo Subianto.

Adegan herois tersebut akan terpancar dari lokasi tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang, Bekasi. Salah satu pentas sejarah politik Indonesia 2009 akhirnya berpihak ke tempat satu ini. Lokasi ini dipilih untuk mencerminkan keberfihakan PDIP-Gerindra kepada rakyat kecil.

Walau ada ganjalan, dari Jakarta, kedua tokoh itu akan sampai di lokasi upacara dengan menaiki mobil yang selama ini mereka gunakan. Mereknya pun sama : Lexus. Kubu konsultan politiknya Mega-Prabowo berkilah. “Karena mobil MR keluaran Mazda tahun 1980-an sudah tak diproduksi lagi. Padahal kami ingin memakainya.” MR adalah singkatan Mobil Rakyat.

Ekonomi kerakyatan. Sebelum kompromi bab lokasi deklarasi diteken, sebenarnya Gerindra mengajukan ide menarik. Agar seremoni deklarasi mereka juga bernuansa atmosfir perguruan tinggi seperti halnya SBY-Boediono di Sabuga ITB, kubu Prabowo minta seremoni deklarasi dilangsungkan di kampus Universitas Trisakti. Sekaligus untuk memperingati Tragedi Mei 1998. Keinginan ini, di kalangan ahli psikoanalis, disebutnya sebagai manifestasi sindrom burung phoenix.

Ketika itu, sebelas tahun lalu, 12-14 Mei 1998, saat pusat-pusat bisnis Jakarta sampai Solo yang merupakan wajah depan ekonomi liberal menjadi membara dan terbakar, dari asap hitam yang mengepul itu ternyata telah menerbitkan embrio gagasan jenial. Gagasan itu kini menjadi platform andalan para pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang berebutan tampil sebagai kampiun dalam mengusung mashab ekonomi kerakyatan.

Implementasi dari mashab ekonomi kerakyatan itu, pada satu sisi, dimaknai dengan berulangnya kejadian di Indonesia seperti di tahun 1974, 1982 sampai 1998. Ketika huru-hara membara di perkotaan terjadi, ketika rakyat miskin kota berani menjarah sana-sini guna mencoba memperoleh pembagian roti pertumbuhan ekonomi, bukankah itu merupakan salah satu wujud dari mashab “ekonomi kerakyatan” yang aktual dan nyata bagi rakyat Indonesia ?

Apalagi di antara tiga pasangan yang berlomba dalam Pilpres 2009, kita belum lupa tentang mereka, terdapat sosok-sosok yang ahli dalam merekayasa wajah “ekonomi kerakyatan” di atas. Huru-hara menjelang Soeharto jatuh 21 Mei 1998, menunjukkan hal itu pula. Bahkan huru-hara serupa juga sempat menjalar sampai di Timor Timur 1999 pula. Apakah semua itu kini mudah bagi kita untuk melupakannya ?

Filsuf dan kritikus kelahiran Spanyol, George Santayana (1863–1952), berujar : mereka yang tidak mampu mengingat masa lampau akan dihukum untuk mengulanginya. Fenomena legenda mengenai burung phoenix nampaknya memperoleh tempat yang sentosa dan nyata bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Tragedi itu berpeluang kembali untuk terjadi dan terjadi lagi, ketika memori lama kita mudah menjadi luntur, tatkala dibombardir oleh iklan-iklan dan janji-janji yang akan sangat gencar kita terima pada hari-hari mendatang ini.


Wonogiri, 16-21/5/2009

ke

Saturday, May 09, 2009

Ancaman Flu Babi, Golput dan Album SBY 2014

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Numerologi sembilan. Komisi Pemilihan Umum (9/5/2009) sudah mengumumkan hasil pileg 2009. Tercatat sembilan partai yang memperoleh kursi di DPR. Partai Demokrat, partainya Presiden SBY, tampil di puncak. Kemenangan partai berwarna biru ini seolah mengukuhkan perhitungan yang menjadi rumor hot di kalangan paranormal yang menekuni numerologi selama ini.

Bahwa pemilu yang dilaksanakan pada tanggal 9 April (atau bulan ke-4), diumumkan 9 Mei, akhirnya mendaulat partai dari tokoh yang lahir tanggal 9, bulan 9, tahun 1949 dalam posisi nomor 1.

Kebetulan menarik lainnya, partai urutan nomor ke sembilan adalah Partai Hanura, juga partainya pensiunan jenderal, Wiranto. Ucapan negarawan Winston Churchill (1874–1965) dari Inggris memperoleh relevansi di Indonesia saat ini. Ia yang pernah menjabat sebagai perdana menteri Inggris tahun 1940-1945 dan tahun 1951-1955 pernah berujar, “dalam perang Anda hanya dapat terbunuh satu kali. Dalam politik, bisa berkali-kali.”

Ucapan itu mungkin dapat menjadi inspirasi bagi Sutiyoso. Juga tokoh berlatar belakang militer lainnya. Bahwa bila seseorang jenderal purnawirawan ingin maju sebagai calon presiden, haruslah mendirikan partai politik terlebih dulu. Nasehat serupa juga berlaku untuk Jenderal Nagabonar.

Dr. Subharata Singh, pengamat politik dari Universitas Nasional Singapura, memiliki komentar menarik. “Batas atas dan batas bawah penguasaan kursi di parlemen didominasi oleh partai mantan militer. Ini menjadi perkembangan menarik bagi masa depan kehidupan demokrasi di Indonesia. Battle of generals kini merambah ke gedung parlemen. ”

Sementara itu kalangan industri musik berpendapat lain. “Lanskap politik Indonesia kini diwarnai para jenderal yang suka menyanyi. Jenderal SBY begitu menjabat sebagai presiden sudah menelorkan dua album. Hal serupa pasti akan segera diikuti oleh Wiranto. Industri musik kita akan lebih semarak, karena bertaburan artis-artis berbobot penuh bintang,” kata Richardo Salindehoy dari EMBB Records.


Mutasi genetik. Menjelang pengumuman KPU itu, di Yogya juga muncul bintang yang lain. Bintang politik gerakan pro-demokrasi sejak era Suharto. Sri Bintang Pamungkas. Acara pertemuan nasional yang ia gagas bersama para pendukung gerakan golongan putih (golput), dibubarkan dengan paksa oleh aparat keamanan.

Alasan fihak yang berwajib karena pertemuan itu tidak memiliki ijin polisi. Obrolan yang beredar di milis-milis politik menyatakan bahwa fihak keamanan turun tangan karena mengkuatirkan dampak samping dari gerakan Sri Bintang Pamungkas itu.

“Ia mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia, pernah mencanangkan sebagai calon presiden, dan kini mengompori kembali gerakan golput di Indonesia. Sebagai negara demokrasi apa yang ia lakukan sebenarnya sah-sah saja. Tetapi kami berpikir dalam skala luas, yaitu mengkuatirkan mutasi genetika dari DNA politiknya tersebut akan menular ke sendi-sendi kehidupan lainnya. Misalnya menjadi gerakan yang bertujuan mendelegitimasi hasil pemilu. Termasuk potensi menyebarluaskan ancaman wabah flu. Kalau ia sedang flu dan berpidato kemana-mana, apalagi di depan jutaan pendukung golput, apakah bukan beresiko mengancam kesehatan masyarakat ?,” tegas seorang aparat keamanan berbintang dua yang tidak mau disebut namanya.

“Lihatlah apa yang terjadi dengan wabah flu babi dewasa ini. Beritanya jauh lebih menular daripada penyebaran penyakitnya sendiri. Kalau Anda membaca bukunya ahli pemasaran digital Seth Godin, The Unleashing IdeaVirus (2001), Anda akan tahu pilihan kami itu. Kami harus mewaspadai virus gagasan Sri Bintang dan kawan-kawan itu yang berpotensi mampu menyebar sebagaimana berita mengenai flu babi,” katanya memberikan alasan.

Proteksionisme terselubung. Begitulah, aparat berbintang dua itu tidak salah. Berita tentang Sri Bintang Pamungkas tersebut memang telah menyebar. BBC menyiarkannya. Yang kuatir berat kini justru pemerintah Meksiko. Beberapa hari yang lalu, terbetik kabar di BBC bahwa pemerintah menyatakan kesanggupan Indonesia untuk membantu Meksiko dalam mengendalikan ancaman flu babi.

Indonesia menurut duta besar Meksiko kepada Menteri Kesehatan RI, dipandang sukses mengendalikan wabah flu yang lebih ganas, yaitu flu burung. Meksiko ingin belajar dari Indonesia dan juga minta bantuan dari Indonesia. BBC mewartakan, bantuan itu bisa meliputi penyediaan masker. Tetapi tentang penyediaan masker tersebut dibantah oleh pejabat dari berwenang. Mexico pun jadi cemas.

Apalagi rumor pun kembali muncul dalam milis-milis politik. Terkait aksi pembubaran pertemuan aktivis golput di Yogyakarta semakin menimbulkan keyakinan kuat di kalangan aparat keamanan bahwa masker-masker tersebut lebih dibutuhkan oleh warga Indonesia saat ini. Demi alasan nasionalisme, demi aksi proteksionisme terselubung dan demi menjaga kestabilan ipoleksosbud dalam negeri.

“Dalam masa krisis ekonomi global dewasa ini, kita mau tak mau harus mendahulukan inward looking policy,” tutur Dr. Sumardiawan Jalingga, pengamat dari lembaga pemikir Hen, Cow & Swine Institute, Jakarta.

“Penguasa Indonesia cerdik. Dalam era pemerintahan Orde Baru yang represif selama 32 tahun, rakyat Indonesia sudah mampu terbungkam mulutnya hanya dengan pidato. Dengan mengangkat isu ekstrim kiri, ekstrim kanan, sampai isu organisasi tanpa bentuk, rakyat pun terdiam,” kembali analisis dari Dr. Subharata Singh, pengamat politik, dari Universitas Nasional, Singapura.

“Kini di era reformasi yang bebas, mereka yang vokal harus dibujuk untuk tutup mulut dengan cara yang lebih kreatif, edukatif, lateral, hieginis dan koersif. Ancaman wabah global flu babi manjur untuk tujuan politis semacam ini,” tegasnya lagi.

Di depan kamera televisi ia secara demonstratif menunjukkan sampul buku bergambar babi sebagai diktator dari novel Animal Farm-nya George Orwell yang diterbitkan pada tahun 1945. “Sama dengan tahun kemerdekaan negara Anda, bukan ?” katanya disambung senyum penuh arti.

Begitulah Indonesia. Sepertinya negara kita terancam tergelincir menjadi negara paradoks. Ketika tokoh yang berpeluang menjadi pemimpin nomor satu dan nomor dua adalah mereka yang suka membuka mulut, dengan menyanyi, rakyat yang kritis secara demonstratif justru terancam untuk menggunakan masker. Agar mereka tidak membuka mulut. Kepentingan untuk menjaga stabilitas politik dan menghindari ancaman wabah flu babi kini berkoalisi menjadi ramuan kimia pengambilan keputusan yang unik, sehingga menarik kajian para analis politik dan kekuasaan dari pelbagai negara..

Indonesia bernyanyi. Untung masih ada kabar baik. Richardo Salindehoy dari EMBB Records memberikan bocoran informasi Kalau saja nanti Presiden SBY akan terpilih kembali, tim suksesnya sudah mempersiapkan album lagu-lagu ketiganya. Album ini direncanakan diluncurkan pada tahun 2014, sebagai album kenangan untuk menandai akhir dari dua kali masa pemerintahan SBY.

Sebagai penggemar fanatik kelompok musik The Bee Gees di masa mudanya, SBY telah memilih salah satu lagu yang akan direkam dari milik kelompok Gibbs Bersaudara asal Australia itu. Judulnya : Swan Song. Memang lagu perpisahan.

Tetapi agar tidak mudah didakwa sebagai menjiplak, sebagaimana berita panas seputar lagu-lagu kelompok DeMassive dan Changcutters saat ini, lagu itu akan memperoleh intrepretasi, lirik, dan bahkan judul baru. Sayangnya, di negeri yang kaya pembajak ini, nomor lagu indah tersebut sekarang sudah beredar di luas masyarakat.

Bahkan ada kelompok musik baru The Fake Changcutters merilis parodi dari lagu itu dan ditayangkan di situs berbagi video YouTube. Salah satu bintang tamunya adalah Miss Piggy-nya Jim Henson. Kermit Si Kodok Hijau tidak nongol, konon sedang sakit flu babi. Lihatlah, judul lagu parodi tersebut sungguh aktual dengan realitas masa kini : Swine Song.

Siapa saja boleh secara gratis mengunduh video itu. Demi menghindari kejadian penularan virus flu babi yang bermutasi menjadi virus komputer, maka komputer dan penggunanya harus tetap mengenakan masker. Juga harus mengaktifkan peranti lunak anti virus yang mutakhir.

Ada sedikit warning tetapi simpatik : seluruh warga Indonesia dianjurkan bisa menyanyikan lagu itu bersama-sama. Asal, dan asal, tetap mengenakan masker yang menutupi mulut-mulut mereka.


Wonogiri, 9 Mei 2009

Wednesday, April 29, 2009

Elvis Presley vs Frank Sinatra Di Pilpres 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Masuk radar. Mahabintang bola basket dunia Michael Jordan punya kaitan erat dengan Indonesia. Walau jangan dulu dibayangkan seerat kaitan antara Barack Obama dengan negeri kita. Adalah seorang John Howkins dalam bukunya The Creative Economy : How People Make Money From Ideas (2001) yang punya cerita itu.

Ia mengutip isi majalah Fortune 22/6/1998, bahwa nilai ekonomi pribadi seorang Michael Jordan, utamanya yang diperoleh dari hak cipta dan bisnis merchandising melebihi GNP negara kerajaan Jordania.

Pengarang lainnya yang juga terkenal, Naomi Klein dalam bukunya No Logo (2000), punya perbandingan yang mengentak. Ia telah menghitung bahwa pada tahun 1992, Nike, perusahaan busana olahraga (termasuk sepatu) raksasa dunia, telah membayar Michael Jordan setara dengan gaji setahun 30.000 buruh tangguh Indonesia.

Selamat datang di jagad ekonomi kreatif. Kita baru saja membaca kisah spektakuler mengenai betapa tinggi nilai ekonomi suatu hak cipta. Bahkan ekspor hak cipta dari AS menempati peringkat pertama, melebihi nilai ekspor pakaian, kimia, mobil, komputer atau pun pesawat terbang.

Seorang teman saya dalam media sosial Facebook, David Parrish dari Inggris yang berstatus sebagai international business adviser for creative people, telah menulis : agar Anda tidak menjadi pionir yang melarat, don't be a 'poor pioneer’ maka setiap ciptaan kreatif Anda harus didaftarkan hak ciptanya. Hak karya intelektual Anda tersebut merupakan benteng pertahanan bagi Anda sebagai kaum entrepreneur kreatif untuk melawan para predator komersial.

Diktator selera. Industriawan sepatu Indonesia, baru-baru ini, sigap melakukan strategi yang sama. Kita tahu gebrakan wakil presiden Jusuf Kalla akhir-akhir ini, yang gencar menganjurkan para menteri sampai rakyat agar menggunakan sepatu produk dalam negeri. Momen ini segera ditangkap kalangan industriawan sepatu Indonesia dengan meluncurkan produk sepatu dengan merek JK Collection. Koleksi Jusuf Kalla.

Berita itu membuat Imelda Marcos, mantan Ibu Negara Filipina, tersentak. Konon ia segera mengirim ajudannya ke Cibaduyut, ingin mencari tahu apa JK Collection juga mengeluarkan koleksi sepatu untuk kaum perempuan. Khususnya yang mencocoki selera perempuan mantan istri dikator negeri Istana Malacanang yang tersohor punya koleksi ribuan sepatu itu.

“Saya sudah bosan dengan sepatu-sepatu buatan Manolo Blahnik atau Jimmy Choo. Apalagi buatan Nike atau Converse. Semuanya sudah ribuan pasang yang saya miliki. Saya kini ingin lebih merakyat. Sebagai sesama negeri pendiri Asean, kami mendukung usaha apa pun yang dilakukan oleh negeri sahabat. Apalagi hal ini termasuk urusan favorit saya di masa lalu,” demikian tulis Imelda di wall Facebook-nya. Ia kini juga cerita sedang mengoleksi jamu-jamuan agar terus awet muda.

Tak hanya Imelda Marcos, kalangan dunia industri dunia mode persepatuan, ikut geger. “Indonesia akhir-akhir ini selalu menyita dunia. Apa yang terjadi di sana, memengaruhi dunia. Runtuhnya Orde Baru merupakan contoh pertama penggunaan Internet sebagai senjata untuk menumbangkan diktator. Bencana tsunami 2004 merupakan kiprah pertama yang fenomenal dari kedahsyatan jurnalisme warga yang melebihi kemampuan jurnalisme konvensional.”

Lanjutnya, “Belum lagi flu burung, korban terbanyak tercatat di Indonesia. Belum lagi peringkat korupsinya. Apa serangan flu babi akan juga menaikkan prestasi Indonesia ? Kita selalu memantau Indonesia. Apalagi kini menyangkut hidup-mati industri kami,” tulis Roger Shoesmaker juru bicara dari World Shoes Council, badan persepatuan dunia, bermarkas di Zurich, Swiss, di situs blog mereka.

Diktator warna. Tokoh lain dari badan yang sama, yang menolak disebutkan jati dirinya berbicara, bahwa kalau kampanye penggunaan merek JK Collection itu efektif, dipatuhi oleh seluruh rakyat Indonesia, dikuatirkan industri sepatu dunia akan mengalami kolaps. Sebagian menteri Indonesia yang suka memakai sepatu merek terkenal, seperti Feragamo (lihat foto sepatu itu dari wartawan Kompas, Wisnu Nugroho), akan tak lagi tampil trendi. Dunia mode sepatu yang selalu menomorsatukan keragaman, ikut kuatir berat bahwa di Indonesia nanti akan terjadi kesewenang-wenangan karena meluasnya diktatorisasi selera. Utamanya diktatorisasi warna.

“Demokratisasi di Indonesia bisa berada di ujung tanduk. Bisa kembali ke era represif di jaman Orde Baru,” kata Virgina Olega Fashionesta, petugas humas rumah mode sepatu Red and Blue Swings di Paris.

“Seperti halnya Henry Ford dulu yang pernah bilang tentang mobil buatannya, bahwa apa pun warnanya yang Anda pilih asal berwarna hitam, bagaimana bila hal itu kini diterapkan oleh Vice President Anda tersebut ?,” tanyanya dengan menambahkan emotikon :-( dalam emailnya.

Jelasnya, perempuan blasteran Spanyol, Madagaskar dan Rusia itu menguatirkan bila JK Collection nantinya hanya mengeluarkan satu jenis sepatu dengan satu warna : kuning, kuning dan kuning semata.

Syukurlah kekuatirannya itu belum dan tidak terjadi di ranah politik. Karena partai JK yang mengusung warna kuning sepanjang laporan dari televisi, ternyata menduduki nomor dua dalam pemilu legislatif 9 April 2009 yang lalu. Sementara warna biru berada di puncak dan warna merah berada di peringkat ketiga.

Melejitnya sebanyak 300 persen dari partai berwarna dasar biru itu memicu rumor politik yang sama, lagi-lagi tentang sepatu. Konon pasangan industriawan sepatu Indonesia terkenal, yang memiliki pabrik Nike di Indonesia, dan pendukung setia kampanyenya SBY, yaitu suami-istri PM dan HM, akan mengeluarkan sepatu dengan merek SBY Collection. Warna dominannya biru.

Bahkan jutaan kader partai pendukung SBY kini sedang berlatih bertepuk tangan dan menari yang nanti semuanya mengenakan seragam sepatu biru itu. Di bawah supervisi ketat dari penasehat kampanye SBY, yaitu FoxIndonesia, latihan-latihan semi militerisme itu merupakan strategi ampuh Partai Demokrat untuk memenangkan pemilihan umum presiden nanti. Tagline sementara untuk kampanye yang beredar di milis-milis politik adalah berbunyi : Dengan Biru Indonesia Melangkah Maju.

Tema besar kampanyenya tetap sama : perubahan, dan tetap lanjutkan. Artinya, kalau dulu SBY sebelum Pilpres 2004 sering menyanyikan lagu favoritnya dari album The Bee Gees, yaitu “Words,” yang oleh para pengritik disebut cerminan dirinya yang hanya mengandalkan kepada citra dan kesantunan kata-kata untuk memikat hati rakyat (“It's only words, and words are all I have, to take your heart away ”), di kampanye Pilpres 2009 ia akan berubah. Akan lebih punya aksi.

“Gaya panggung The Bee Gees itu kuno. Gaya Elvis Presley yang harus jadi pilihan gaya SBY masa kini. Apalagi bila ia mau meraup suara dari kalangan muda yang kini menggemari aliran retro. Belajarlah dari fenomena Ridho Irama,” begitu kata ahli strategi komunikasi pemasaran yang dekat dengan kalangan istana tetapi menolak untuk disebut jati dirinya.

Dalam detil rancangan strategi kampanye yang bocor ke media, SBY dan putra keduanya Edhie Baskoro, nanti setiap kampanye memang akan berdandan seperti Elvis Presley. Duo Elvis.

Luar biasa !

Mereka akan mengajak seluruh kader dan simpatisannya, dengan ratusan gadis penari latar mengenakan rok mini biru yang dikomandani oleh Angelina Sondakh, untuk ramai-ramai menari sambil menyanyikan lagu sohornya Elvis Presley : Blue Suede Shoes !

You can knock me down, step on my face
Slam my name all over the place
Do anything that you're going to do
But uh uh honey lay off of my shoes


Menggerayangi melankolia. Sementara itu di kubu Blok M (Megawati) konon justru berlatih menyanyikan lagu favoritnya, yaitu “My Way” dari Frank Sinatra : And now, the end is near /And so I face the final curtain. Lagu sedih, yang sekaligus menunjukkan ketegaran.

“Masyarakat Indonesia itu pengidap melankolia, suka hal yang sedih-sedih. Dengan menyentuh lubuk terdalam yang satu itu, yang menunjukkan bahwa Pilpres 2009 ini merupakan pertempuran terakhir bagi karier politik Mega, maka lagunya Frank Sinatra itu diharapkan punya pengaruh yang positif. Rakyat akan menaruh empati kepada Mega dan memilihnya. Kita lihat saja nanti. Ring back tone lagu ini akan kami bagikan secara gratis. Bahkan pendukung mantan PM Thaksin di Thailand yang selalu berdemo dengan kaos merah, bila mereka minta, akan kami layani juga. Tunggu saja.” Demikian penjelasan salah satu juru kampanye Blok M yang minta tak diungkap namanya.

Ia pun juga wanti-wanti berpesan. Bila layar politik Mega nanti benar-benar turun, toh anaknya Puan Maharani telah sukses sebagai anggota DPR. “Karier politik Trah Bung Karno akan sinambung, terus berlanjut,” tegasnya. Panggung politik Indonesia memang akan segera heboh : menyaksikan pertarungan antara Elvis Presley melawan Frank Sinatra !

Bagaimana dengan strategi dua pensiunan jenderal yang pernah berseteru menjelang kejatuhan Soeharto, tetapi kini sama-sama mengincar sebagai orang nomor satu atau dua di negeri ini mendatang ? Menurut kabar burung mereka sangat risau karena tiba-tiba banyak radio mahasiswa memutar lagu lamanya Kate Bush, “Army Dreamers” dan lagunya Queen, “We Will, We Will, Rock You” :


What could he do ?
Should have been a politician ?
But he never had a proper education
What a waste, army dreamers, army dreamers.


Wonogiri, 25-30/4/2009


ke

Tuesday, March 24, 2009

Facebook, Lumpur Lapindo dan Politikus Kita 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humor liner (at) yahoo.com


Dibawah karpet. Pernah nonton film An Inconvenient Truth (2006)-nya Al Gore ? Karena ancaman pemanasan global yang membuat antara lain permukaan air laut naik, maka ia memprediksikan akan ada ratusan jutaan pengungsi di negeri sendiri karena bencana lingkungan. "It is now clear that we face a deepening global climate crisis that requires us to act boldly, quickly, and wisely," kata Al Gore.

Gambaran Al Gore mengenai pengungsi akibat bencana lingkungan itu sebenarnya sudah terjadi. Contohnya jelas di depan mata kita. Di Porong, Sidoarjo, akibat luapan lumpur panas Lapindo. Radio BBC (23/3) mewartakan betapa para korban lumpur panas itu di mata penguasa kita sekarang ini seolah hanya sebagai kotoran yang terus disapu ke bawah karpet.

Tidak seperti anjuran Gore agar masalah segenting itu diselesaikan secara berani, cepat dan bijaksana, malah semua orang kini ramai-ramai cuci tangan. Nasib mereka tak dihiraukan. Termasuk, tidak adanya para caleg lokal atau nasional yang berani berkampanye di sana saat ini.

Gitu saja kok repot ? Bagaimana para capres dan politisi kita dalam menyikapi hal yang sama ? Ini kira-kira bunyi “status” dalam facebook mereka :

Megawati : ke Jawa Timur fokus saya hanya ke Blitar.Biasalah, untuk nyekar. Merdeka !
SBY : me too, tapi ke Pacitan, juga untuk nyekar.
Jusuf Kalla : di Porong sudah banyak bloggernya belum ? Juga yang memiliki Blackberry ? Kalau sudah banyak, saya pasti akan ke sana.
Wiranto : saya sih hanya ke Malang, seperti saat peristiwa 12-13 Mei 1998.
Prabowo : saya kuatir ada manipulasi dan penggelembungan DPT di Porong itu, seperti terjadi di Madura saat Pilgub lalu.
Aburizal Bakrie : kalau Prabowo benar, makin berat beban perusahaan saya untuk bayar ganti rugi bagi mereka. Maaf, belum bisa ke Porong. Saya lagi sibuk berusaha menghapus angka “666” dalam foto saya di Tempo.
Gus Dur : kalau dugaan Mas Bowo benar, ya ga usah kuatirlah. Warga Porong kan akan ikut saya ? Ramai-ramai jadi golput. Gitu saja kok repot ?


Wonogiri, 25/3/2009

ke

Sumber foto : http://daus1975.files.wordpress.com/2008/11/korban-lumpur-lapindo.jpg

Monday, March 23, 2009

Kandidat Hadiah Nobel Kedokteran 2009 Dari Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Heboh baru. Akademi Ilmu Pengetahuan Swedia dikabarkan telah mendaftar nama tokoh asal Indonesia yang akan ikut dinominasikan sebegai penerima Hadiah Nobel Kedokteran 2009. Tokoh itu bernama : Ponari. Sementara itu pelbagai partai besar sedang berusaha membuat akte kelahiran baru bagi Ponari sehingga ia bisa ikut kampanye secara legal , baik untuk pemilu caleg atau pun pemilu presiden kelak.

Terobosan teknologi. Inilah kedahsyatan media massa. Memicu ide produk baru. Karena sering melihat liputan media massa yang memajang foto Ponari sedang asyik memegang telepon genggam, maka Research In Motion (RIM), perusahaan pembuat telepon genggam canggih Blackberry di Kanada, kini bekerja keras membuat telepon genggam generasi baru super canggih khusus untuk Ponari. Melalui telepon itu Ponari bisa menyembuhkan segala penyakit kliennya. Jadi ia mampu mendemokratisasikan layanannya, ke seluruh dunia.

Pesawat telepon super canggih ini memang belum punya nama resmi, tetapi memiliki nama kode : Black Magic !

Friday, January 16, 2009

The Harvard Lampoon dan Masa Depan Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Otak lucu dan jenius. “Empat tahun berkuliah di Harvard cukup sudah,” tutur John Updike (1932–2009 ), novelis dan penulis cerita pendek terkenal Amerika. “Saya memang masih harus banyak belajar, tetapi juga mendapatkan gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.”

Ia lulus dari Universitas Harvard pada tahun 1955 dan kariernya kemudian banyak terkait dengan majalah mingguan The New Yorker yang terkenal. Ia masuk jajaran dengan nama-nama penulis besar Amerika yang berkecimpung di majalah yang didirikan oleh Harold W. Ross yang terbit pertama kali tanggal 21 Februari 1925.

Para penulis itu antara lain Robert Benchley (1889-1945), humoris Amerika. Yang menarik dari keduanya adalah : selain sama-sama alumnus Harvard, juga sama-sama digembleng ketajaman ujung penanya ketika terjun mengelola majalah satir, The Harvard Lampoon (THL), saat mereka masih menjadi mahasiswa.

The Harvard Lampoon itu diluncurkan pertama kali tahun 1876 sebagai terbitan majalah humor oleh mahasiswa tingkat sarjana Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts. Terbit setahun lima kali, menurut Wikipedia, THL yang mengambil model majalah satir Inggris Punch itu kini nampak lestari sebagai majalah humor berbahasa Inggris yang mampu berumur panjang.

Yang juga membanggakan, kawah candradimuka THL tersebut kemudian mampu melahirkan alumnus yang menyandang nama-nama terkenal dalam dunia media, sastra dan humor. Sebut saja William Randolph Hearst (1863–1951), nama raksasa dalam dunia penerbitan media di Amerika Serikat. Atau George Santayana (1863–1952), kritikus dan filsuf kelahiran Madrid, Spanyol. Mereka yang berkiprah sebagai penulis buku, selain John Updike juga ada William Gaddis, Cass Sunstein, Simon Rich, George Plimpton, Fred Gwynne sampai Douglas Kenney.

Mereka yang terjun dalam dunia kepenulisan program televisi, selain nama Simon Rich di atas, juga ada B.J. Novak, Conan O’Brien dan Andy Borowitz. Untuk nama terakhir ini, yang lulusan magna cum laude dari Harvard, saya berlangganan kolom satirnya, The Borowitz Report, sejak 2007. Jejak mereka itu diikuti ratusan alumnus THL lainnya.

Bahkan dapat ditandaskan bahwa hampir setiap program televisi di Amerika yang menjadi hit dalam beberapa dekade terakhir pasti ditongkrongi oleh satu atau lebih otak-otak lucu dan jenius yang alumnus The Harvard Lampoon. Sebut saja acara Saturday Night Live (sejak 1975), Futurama, dan Late Show with David Letterman (1982).

Menurut Encyclopedia of 20th-Century American Humor (2000), buku babon seluk beluk dunia komedi yang dihadiahkan oleh Danny Septriadi kepada saya, alumnus THL juga menulis untuk program televisi seperti Seinfeld, Veronica’s Closet, Murphy Brown, Suddenly Susan, The Larry Sanders Show, Cracker, News Radio, Third Rock from the Sun dan The Naked Truth.

Anda kenal sitkom animasi The Simpsons (1989) ? Disebut sebagai sitkom animasi yang pemutarannya tercatat sebagai terpanjang dalam sejarah televisi, kisah Bart Simpson yang tak pernah naik kelas dari kelas empat sekolah dasar dan keluarganya ini, dalam masa produksinya telah memperkerjakan 36 penulis yang alumnus The Harvard Lampoon tadi.


Humor dipandang rendah. “Humor is serious, not just funny.” Itulah judul artikel almarhum Arwah Setiawan dan Bambang Utomo di koran The Jakarta Post (14/9/1992). Humor memang serius, tidak hanya jenaka. Dengan merujuk nama-nama alumnus pengelola majalah komedi sebuah universitas tersohor di dunia, juga kiprah spektakuler dan kreasi mereka setelah kelulusannya, mungkin kita dapat terinspirasi untuk membuka diskusi tentang bagaimana dunia kepenulisan humor itu, misalnya, bisa ditumbuh kembangkan di kampus-kampus kita.

Dengan mengambil contoh ranah komedi solo, Woody Allen menyatakan bahwa “ultimately, the success of stand-up comic is often determined by his material.” Material itu tidak lain adalah naskah. Begitu pentingnya naskah, tentu saja juga para penulisnya, kita dapat bercermin ketika hampir sepuluh minggu, dari 5 November 2007 hingga 8 Januari 2008 para penulis naskah program dunia hiburan Amerika Serikat melakukan pemogokan secara besar-besaran.

Mereka tergabung dalam organisasi penulis Writers Guild of America, East (WGAE) dan Writers Guild of America, West (WGAW). Kedua organisasi itu yang menghimpun sampai 12.000 anggota merupakan serikat pekerja yang mewakili para penulis untuk film, televisi dan radio yang berkarya di Amerika Serikat. Mereka melakukan pemogokan untuk melawan kebijakan dari Alliance of Motion Picture and Television Producers (AMPTP), organisasi dagang yang mewakili interes para produser film dan acara televisi Amerika Serikat. Isu pokok sengketa mereka adalah menyangkut pembayaran royalti bagi para penulis naskah untuk program-program yang ditayangkan di pelbagai media baru, yaitu media digital, utamanya di Internet.

Karuan saja saat itu dunia televisi Amerika Serikat menjadi kalang kabut. "Writers strike to hit TV first - and hard", tulis koran The Salt Lake Tribune (4/11/2007). Apalagi banyak kaum selebritis yang ikut mendukung mereka sebagaimana ungkap harian USA Today (9/11/2007) : “More celebs show solidarity at writers' picket lines.” Ketika terjadi pemogokan sebelumnya di tahun 1988 yang berlangsung hampir 22 minggu, telah mengakibatkan dunia industri hiburan Amerika Serikat merugi yang diperkirakan mencapai 500 juta dollar.

Mengomentari peristiwa itu, komedian David Letterman mengeluh bahwa tanpa penulis naskah dirinya ibarat Roger Clemens tanpa doping hormon pertumbuhan manusia. Roger Clemens adalah atlet bisbol yang saat itu bikin heboh karena tertangkap menggunakan hormon untuk meningkatkan prestasinya.

Tapi Letterman dalam menanggapi pemogokan itu juga sempat menyodok George W. Bush, sang sumber kaya untuk olok-olok. Ia katakan, para penulis naskah itu sebenarnya hanya punya dua tuntutan : mendapat royalti ketika karya kreatifnya ditayangkan di Internet dan menuntut agar George W. Bush memangku jabatannya empat tahun lagi !

Komedian yang juga alumnus THL, lulus dengan magna cum laude dari Harvard 1985 dengan konsentrasi Sejarah dan Sastra, Conan O’Brien, ketika memandu acaranya Late Night with Conan O'Brien tampil beda. Ia membiarkan brewoknya tumbuh lebat. “Dalam sepanjang hidup saya, saya tak pernah memelihara brewok saya. Kini saya menumbuhkannya sebagai tanda solidaritas kepada para penulis naskah dan sekaligus untuk menunjukkan kejantanan saya. Dua burung dengan satu lemparan batu !,” candanya.

Lain di Amerika, lain pula di negara tercinta kita. “Merujuk pentingnya fungsi humor, sungguh aneh bila humor tidak menjadi kajian yang serius di Indonesia. Bila di Barat humor atau komedi telah menjadi objek kajian sejak jaman Plato, sebaliknya bangsa Indonesia cenderung meremehkannya dan hanya memandangnya sebagai trivia, remeh-temeh belaka,” keluh Arwah Setiawan dan Bambang Utomo lima belas tahun lalu itu. Bagaimana potret aktualnya masa kini ?

Kita Mabuk Komedi. Potret nyata perlakuan dunia intelektual sampai dunia industri hiburan kita terhadap humor atau komedi sebagai hal yang remeh-temeh, mungkin dapat tercermin ketika menghidupkan pesawat televisi Anda. Tayangan komedi kita sebagian besar adalah komedi kasar, slapstick atau riddle, tebak-tebakan.

Sekadar contoh, Kelik Pelipur Lara dalam acara Dunia Dalam Ketawa (Antv), seolah ia sebagai penyiar bertanya kepada temannya : “Mengapa babi bau ?” Temannya menjawab, karena babi suka hidup di habitat yang kotor. Kelik lalu membuat jawaban yang rasa ia benar : “Karena babi mempunyai ketek empat, jadi sangat bau.” Penonton memang boleh tertawa. Tetapi kita tahu, itulah bentuk dari low comedy. Tebak-tebakan adalah lelucon untuk anak-anak.

Gambaran lain dari tayangan komedi kita di layar kaca kita bisa membaca komentar wartawan Kompas Budi Suwarna dan Susi Ivvaty (21/12/2008). Keduanya sempat menulis mengenai acara Empat Mata, kini Bukan Empat Mata : “Dari dulu begitu-begitu saja. Guyonan Tukul Arwana tidak banyak berubah selama 2,5 tahun membawakan acara tersebut.”

Pada laporannya yang terbaru berjudul “Menonton Komedi Sampai Mabuk” (11/1/2009), Budi Suwarna menulis mengenai acara komedi yang saat ini menjadi prima dona acara di televisi kita. Konon karena masyarakat saat ini sedang jenuh terhadap isu-isu politik dan dirundung stres akibat terjepit tekanan ekonomi, maka mereka mencari penghiburan lewat acara-acara komedi di televisi. “Itu sebabnya mereka merespons acara-acara komedi yang ringan dan bisa membuat mereka tertawa,” kata Zoraya Perucha dari Antv yang dikutip dalam laporan itu.

Akibatnya, ragam tontonan di televisi memang kian mengarah kepada hiburan semata. Apa pun acaranya, sebagian besar dikemas dalam bentuk ringan dan diasumsikan dapat menghibur penonton. “Talk show politik pun,” catat Budi Suwarna lebih lanjut, “kini, dikemas sedemikian cairnya hingga mendekati panggung lawak.

Alih-alih memberikan informasi yang berharga dan menjelaskan duduk perkara, talk show semacam itu justru menyajikan sederet kekonyolan. Para pengelola televisi beralasan, penonton sekarang kebanyakan tidak mau berpikir terlalu ruwet ketika menonton televisi. Karena itu televisi memberikan tontonan ringan.”

Premis pengelola televisi itu memang tidak dapat disalahkan. Ketika menonton televisi memang telah terjadi perubahan gelombang dalam otak kita : menurunnya gelombang cepat yang merupakan karakteristik aktivitas berpikir dan meningkatkan jumlah gelombang lemah yang merupakan karakteristik keadaan yang santai. Itulah sebabnya mengapa menonton televisi membuat kita santai, karena otak kita benar-benar dalam kondisi padam.

Liur anjing Pavlov. Menurut kajian Fred Emery dan Merrelyn Emery dalam bukunya A Choice of Futures: To Enlighten or Inform (1976), kondisi merasa santai bagi pemirsa itu menjadikan televisi sebagai kendaraan penyampai iklan yang efektif. Citra-citra dan pesan itu memasuki otak tanpa diproses, tidak dapat diingat kembali, tetapi dapat dikenali, misalnya ketika sang pemirsa itu berada di pasar swalayan.

Kajian ini mungkin memperkuat isi tulisan saya sebelumnya, betapa penonton tayangan komedi kita telah mengalami metamorfosis sehingga perangainya mirip sebagai “anjing Pavlov.” Sebutan itu diambil dari nama dokter Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), yang terkenal sebagai pelopor kajian mengenal refleks yang terkondisikan. Percobaannya yang melegenda melibatkan anjing-anjing yang kelaparan. Kepada satwa-satwa itu diperlihatkan makanan dan pada saat yang sama dibunyikan bel. Anjing-anjing itu mengeluarkan air liurnya.

Percobaan dilakukan berulang kali, sehingga akhirnya terbukti bahwa satwa tersebut ternyata tetap mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, walau kepada mereka tanpa disodorkan makanan sama sekali. Alhasil, kita bisa bercermin : begitu tombol televisi dinyalakan, otak kita pun padam, sehingga yang memandu kita selanjutnya adalah bunyi bel yang membuat anjing-anjing dalam eksperimen Dr. Pavlov itu mengeluarkan air liur masing-masing.

Bunyi bel itu bisa berupa kata-kata “kembali ke laptop”-nya Tukul Arwana. Atau apa pun isi omongan si komedian atau nara sumber, yang tanpa perlu dikaji benar atau salah secara moral, atau berdasar pertimbangan akal sehat, maka refleks otomatis penonton komedi kita harus selalu tertawa dan kompak bertepuk tangan.

A mob is a group of people with heads, but no brains.

Jadi tidak penting lagi apakah audiens itu punya latar belakang sebagai anggota partai politik, mereka yang dari pakaiannya nampak sebagai umat yang taat beribadah atau pun anak-anak muda yang mengenakan jaket alma maternya, perilaku mereka sebagai gerombolan hampir identik ketika tampil sebagai audiens dalam sesuatu acara komedi dan bahkan juga acara non-komedi di layar kaca kita.


Otak mahasiswa tercecer. Olah kreativitas komedi di Indonesia masih berpeluang diselamatkan masa depannya, dengan mengeksploitasi kedahyatan media-media baru berbasis digital. Seorang Barack Obama bisa meraih kursi Gedung Putih antara lain berkat bantuan situs berbagi video YouTube.com, bahkan ia memerintah kini dengan tetap mengandalkan media yang sama untuk meraih rakyat.

Ide serupa a la Obama itu sudah saya sosialisasikan sebagai gerakan komedi indie sejak saya gagal di audisi API-4. Gagasan itu muncul setelah mengkaji pula sistem perekrutan model API yang nyatanya tidak begitu menjanjikan untuk kemajuan dunia komedi Indonesia. Media mainstream seperti televisi memang memiliki agenda tersendiri, mengejar rating dan iklan, dimana hal itu selalu tidak kompatibel dengan aspirasi baru di dunia komedi. Insan-insan cerdas dari dunia komedi Indonesia harus menempuh jalan alternatif. Jalan baru sesuai tuntutan jaman. Jalan digital. Keampuhan situs YouTube.com menanti mereka manfaatkan secara sepenuh daya untuk pengembangan talenta-talenta baru komedi Indonesia.

“Jangan hanya jadi konsumen industri kreatif.” Itulah kepala berita di harian Kompas (11/12/2008) yang melaporkan seminar bertajuk “Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai Paradigma Keilmuan” yang dilangsungkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sumber daya manusia Indonesia harus juga menjadi produsen industri kreatif. Salah satu nara sumber, Sapardi Djoko Damono, mengatakan bahwa kultur bangsa-bangsa mengarah kepada kultur urban yang ditandai antara lain dengan kreativitas. Kreativitas dan bakat itu dapat dikembangkan. Perguruan tinggi, dalam hal ini Fakultas Ilmu Budaya, menjadi salah satu tempatnya.

Sebagai alumnus fakultas yang sama, saya berharap komedi ikut pula memperoleh porsi yang memadai untuk dikembangkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut. Minimal, dengan merintis penerbitan atau situs yang visi-misinya kurang lebih mirip dengan penerbitan The Harvard Lampoon dari Universitas Harvard itu. Imbauan ini juga berlaku untuk perguruan tinggi lainnya. Termasuk perguruan tinggi yang mahasiswanya suka tawuran, siapa tahu pengembangan seni berkomedi akan mengubah paradigma pikir dan perilaku mereka. Bahwa adu olok-olok lebih berbudaya daripada adu golok.

Kita pun berharap mereka akan terilhami oleh kata-kata John Updike, yang meninggal dunia ketika tulisan ini dipersiapkan, 27 Januari 2009 dalam usia 76 tahun, bahwa kelulusan dari bangku kuliah telah memberinya berkah, berupa “gagasan yang membebaskan bahwa sekarang saya mampu mendidik diri saya sendiri.” Bila hal vital itu tidak terjadi, maka tragedilah yang akan terjadi, seperti diceritakan dalam lelucon model Harvard di bawah ini.

Saya kutipkan dari bukunya wartawan brilyan majalah Fortune, Thomas A. Stewart, yang berjudul Intellectual Capital : The New Wealth of Organization (1997). Tentang rektor Universitas Harvard yang menjabat tahun 1909-1933, Abbott Lawrence Lowell. Suatu hari ada seorang tamu yang bertanya di kampusnya, “Bagaimana sedemikian banyak pengetahuan dapat terkumpul di hulu Sungai Charles ini, Tuan Lowell ?”

Lowell menjawab : “Oh, sangat sederhana. Setiap tahun kami menerima pemuda yang paling brilyan di Amerika” – pada masa itu hampir semuanya pemuda, dan hampir semuanya orang Amerika-- dan ketika mereka diwisuda empat tahun kemudian, mereka hampir semuanya tidak tahu dan tidak peduli apa-apa. Jadi, pasti mereka meninggalkan ilmu dan pengetahuannya di sini.”


Wonogiri, 4/1-7/2/2009


ke

Monday, December 15, 2008

Menggugat Masa Depan Neo Srimulat

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Aneh itu lucu. Mayat hidup itu terus mengancam. Berjubah putih dengan bercak darah di sana-sini. Walau geraknya lamban, ia terus memburu sasaran. Di tengak sorak-sorai penonton, pelawak Basuki terus berusaha menyelamatkan diri dari kejarannya. Toh akhirnya ia harus menyerah.

Itulah puncak dari tontonan Anekaria Srimulat malam itu di Taman Ria Senayan, Jakarta. Saya menontonnya saat diajak teman kuliah di UI, Bakhuri Jamaluddin, di tahun 1980-an. Adegan klimaks itu terasa membekas, selain penampilan tak terduga di awal acara malam itu. Kali ini dari sosok pria kurus yang bersurjan Jawa. Wajahnya dilumuri bedak tebal seperti pemain pantomim. Ia berdiri di pinggiran panggung di depan mik. Sejurus kemudian dari mulutnya mengalun lagu hitnya Tommy Bennet, “I Left My Heart in San Francisco” yang indah itu.

Adegan segar serupa rupanya juga membuat terpana intelektual humor Indonesia, almarhum Arwah Setiawan. Dalam buku berjudul Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi tulisan Herry Gendut Janarto, Arwah mencatat penampilan seorang peraga Srimulat, yaitu Budi SR, yang mampu memporakporandakan daya asosiasinya. Budi satu ini tampil di panggung sebagai tukang pijat, lengkap dengan tongkat putih dan bunyi crek...crek. Tetapi kemudian ia melantunkan lagu “And I Love You So”-nya Perry Como dengan artikulasi yang benar dan suara merdu.

Aksi Budi SR itu merupakan salah satu pengejawantahan filosofi atau resep yang ditinggalkan Teguh Srimulat bahwa "yang aneh itu lucu" dan telah melambungkan kelompok lucu Srimulat ini pada puncak kejayaannya, antara tahun 1970-1990-an awal. Kelompok humor ini mampu menyedot penonton hingga memenuhi kapasitas 800 penonton di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Bahkan mereka pun, seperti tertulis di awal tulisan ini, mampu membuka franchise panggungnya yang juga laris di Jakarta dan Solo pula.

Lanskap dunia lawak Indonesia kemudian mengenal nama-nama terkenal antara lain seperti Asmuni, Bambang Gentolet, Basuki, Bendot, Djudjuk, Eko DJ, Gepeng, Gogon, Kadir, Mamiek, Nunung, Nurbuat, Subur, Tarzan, Tessy, Timbul, Triman, Vera, dan masih banyak lagi. Majalah GAMMA (31/12/2001-6/1/2002) menulis kiprah para alumnus Srimulat sebagai penggerak industri humor di televisi bernilai milyaran rupiah (foto) saat itu. Sebagian dari mereka kini sudah almarhum, sementara sebagian kecil alumnus Srimulat itu masih sesekali terlihat di televisi. Aura Srimulat pun nampaknya semakin memudar. Apakah benar-benar sama sekali telah memudar ?


Neo Srimulat ? Rupanya belum. Di perpustakaan umum Wonogiri saya menemukan iklan menarik tentangnya. Muncul di koran Jawa Pos (11/12/2008 : 19) tertulis iklan “Srimulat Manggung Keliling : Jawa Pos dan Srimulat Mencari Neo Srimulat 2009.”

Iklan ini mengundang kelompok calon pengocok perut a la Srimulat untuk mengikuti audisi tanggal 10-11 Januari 2008. Hadiah total 126 juta rupiah. Pendaftaran dibuka 5 – 31 Desember 2008 dengan mengisi formulir dalam iklan tersebut. Juga menyertakan kwitansi langganan koran Jawa Pos terbaru. Setiap kelompok maksimal beranggotakan 5 (lima) orang personel.

Pengumuman Grup Neo Srimulat yang lolos audisi dilakukan pada tanggal 14 Januari 2009. Informasi lebih lanjut dapat mengontak panitia di Graha Pena, Lt. 5, Jl. A. Yani 88 Surabaya, Sdr Deny : 031-8202230. (Data yang saya tulis ini bisa salah, karena cetakan dalam iklan itu, bagi saya, terlalu kecil.-BH).

Ikhtiar untuk memajukan dunia lawak di Indonesia, seperti yang digagas dan dilaksanakan oleh koran Jawa Pos di atas, merupakan upaya yang sangat terpuji. Hari-hari mendatang mungkin kita bisa mengikuti berita yang riuh dan heboh, atau dibuat riuh dan heboh, dari korannya Pak Dahlan Iskan ini mengenai antusias masyarakat kita untuk menjadi pelawak Neo Srimulat itu.


Pelawak meja makan. Kita halal menerka-nerka kini : seperti apa kira-kira manifestasi dari proklamasi slogan “neo” untuk genrekelompok lawak lama tersebut ? Untuk mencoba ikut mencari jawab, saya akan merujuk dulu kepada tulisan wartawan Kompas, Frans Sartono, yang berjudul “Melawak di Tengah Perubahan Zaman” (24/1/2005). Tulisan semacam ini termasuk langka di media massa kita, mungkin untuk menunjukkan betapa dunia komedi kita akhir-akhir ini tidak memiliki daya tarik cukup sebagai wacana intelektual yang berarti. Tulisan tentang komedi Indonesia yang sesekali muncul kebanyakan hanya berupa obituari.

Tulisan Frans Sartono yang menarik itu dihadirkan nampak semata membarengi acara Musyawarah Seniman Komedi Indonesia I di Jakarta. Musyawarah itu akhirnya mengukuhkan berdirinya Persatuan Seniman Komedi Indonesia (Paski), juga memilih Indrojoyo Kusumonegoro (46) alias Indro Warkop sebagai Ketua Umum Paski. Dedi “Miing” Gumelar terpilih sebagai Sekretaris Jenderal, sedangkan Tarzan dan Eko Patrio menjabat sebagai wakil Ketua I dan II.

Begitulah seniman komedi Indonesia membentuk organisasi untuk membenahi profesi mereka di dunia lawak yang saat ini telah menjadi bagian penting dari industri hiburan di Indonesia. Miing Bagito bersama Tarzan dan kawan-kawan, seperti ungkap Frans Sartono, menggagas musyawarah tersebut sebagai upaya agar lawak diperlakukan sebagai pekerjaan profesional layaknya profesi lain di jagat hiburan.

Benang merahnya, selain membenahi kesejahteraan hidup pelawak, Paski juga akan membenahi sumber daya para pelawak. “Kami ini kan engga ada sekolah untuk meningkatkan skill dan knowledge (keterampilan dan pengetahuan). Organisasi ini nantinya diharapkan menjadi fasilitator untuk meningkatkan sumber daya pelawak,” kata Miing.

Sementara Indro mengatakan, Paski nantinya akan memberi pengetahuan seputar manajemen, asuransi, selain juga kemampuan seni peran. Bahkan Indro mempunyai gagasan, menurut saya lucu, terkait niatnya memberi pengetahuan seputar tata karma di meja makan, table manner, kepada pelawak. “Selain bisa menjadi bekal mereka dalam pergaulan sosial, table manner, itu kan bisa jadi bahan lawakan,” kata Indro.

Ide table manner itu kemudian ditangkap secara jeli oleh Frans Sartono sebagai penanda perubahan jaman : dari suguhan lawakan berlatar belakang masyarakat agraris menuju transformasi materi lawakan yang sesuai untuk masyarakat industri modern yang lebih kompleks. Ilustrasinya : dagelan seputar cap jae, atau cap jay yang sering terdengar di pentas Srimulat itu, harus disesuaikan dengan kelas masyarakat pemilik kultur table manner, yaitu generasi baru konsumen hiburan di Indonesia.

Mereka itu adalah generasi yang tidak mengenal Basiyo, Kwartet Jaya-nya Bing Slamet (bersama Eddi Sud, Ateng dan Iskak), Bagyo dan Srimulat. Mereka menyerap beragam format komedi mulai dari lawakan stand-up comedian, tampilan komedian tunggal, hingga sitcom, komedi situasi.

Implikasi dari perubahan itu, katanya, pelawak kita harus berbicara dengan bahasa lawak yang baru. Harus menyesuaikan dengan manajemen modern yang berlaku dalam industri hiburan yang menuntut kecepatan produksi. Dituntut lebih sigap tampil di berbagai format tampilan di depan penonton yang berbeda. Juga mampu tetap lucu di segala situasi. Untuk itu, telah dirujuk pendapat Us Us dari D’Bodor yang mengatakan : untuk menghadapi industri hiburan yang terus berkembang, pelawak harus mau belajar soal ilmu pemanggungan.

Spontanitas tetap diperlukan, kata Us Us, tetapi “pelawak juga perlu naskah. Kami memerlukan script writer, penulis naskah, agar tidak stagnan dan terhindar dari pengulangan materi. Kita gabungkan naskah dengan kemampuan improvisasi.” Us Us memberi contoh Bob Hope yang memanfaatkan kekuatan naskah dan improvisasi spontan.

Warkop, juga Bagito, kemudian disebut sebagai contoh oleh Frans Sartono sebagai grup lawak yang mulai tanggap dengan perkembangan atau pergeseran pasar. Mereka mulai menggunakan naskah dan berpakaian jas. Walau, menurutnya, materi lawakannya sebagian masih menyisakan bau agraris warisan generasi Srimulat.


Manusia licik. Kembali ke realitas: kedua contoh di atas, sayangnya, kini tinggal sejarah. Warkop, sepeninggal Dono dan Kasino, praktis tiada lagi sekarang ini. Bagito sudah pula bubar karena habis. “Tinggalkan dunia lawak,” demikian judul berita koran Suara Merdeka (4/11/2008 : 16). Bahkan disebutkan, “meninggalkan dunia lawak seratus persen.” Itu cerita tentang diri Miing Bagito, Sekretaris Jenderal Paski, yang kini sebagai caleg DPR RI suatu partai untuk daerah pemilihan Banten.

Ilustrasi kecil terakhir ini dan gambaran besar lanskap dunia lawak di Indonesia yang diungkap oleh Frans Sartono, semoga dapat menjadi masukan bagi penggagas acara audisi Neo Srimulat tadi. Juga, tentunya, bagi para peserta. Termasuk memperhatikan secara seksama impian Us Us dari D’Bodor mengenai pentingnya para penulis naskah komedi di balik panggung lawakan mereka.

Fihak Jawa Pos dapat pula belajar dari penyelenggaraan dan hasil akhir pelbagai audisi calon pelawak yang pernah diselenggarakan oleh stasiun televisi kita selama ini. Acara yang begitu mahal itu ternyata boleh dibilang gagal menelorkan kelompok-kelompok lawak baru yang andal. Penyebabnya, mereka terutama mengingkari apa yang pernah diungkap oleh Arwah Setiawan dalam bukunya Humor Zaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1997 : hal 379) : “betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukan itu tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati oleh para pemirsa….Keberhasilan suatu pertunjukan komedi memang bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal…Untuk itu perlu diadakan lomba penulisan naskah komedi.”

Sekadar mengilas balik, kiranya masih sangat lekat dalam ingatan kita bahwa pemenang API-4/2008 di stasiun televisi TPI adalah kelompok Abioso dari Pasuruan. Pemanggungan mereka tidak lain sebuah replika seratus persen dari pentas ketoprak dan, tentu saja, bergaya Srimulat juga.

Jadi roh “mayat hidup” Srimulat memang belum mati. Jadi kita boleh berandai-andai : apakah pemanggungan peserta audisi Neo Srimulat nanti masih dimulai dengan lagu instrumentalia “Whiskey & Soda”-nya Roberto Delgado, mengiringi adegan batur, pembantu rumah tangga, dengan serbet terselempang di pundak dan melakukan monolog ngrasani, membicarakan di balik punggung sang majikan ?

Atau mengeksploitasi adegan mayat hidup, atau drakula, yang terus mengejar-ejar korbannya ? Kalau dugaan itu nanti benar, oh, betapa di dunia yang telah berubah itu ternyata mind set pendukung-pendukung baru, neo, dunia komedi kita rupanya tetap tidak berubah. Jalan di tempat.

Bila memang itu nanti yang terjadi, hemat saya, sebaiknya semua pelaku dunia komedi Indonesia mengikuti jejak Miing Bagito atau Eko Patrio saja. Untuk ramai-ramai menjadi anggota legislatif. Menjadi politikus. Karena senyatanya menjadi pelawak yang bener dan andal dewasa ini memang tidak mudah. Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998) menyajikan kutipan inspiratif :

“Tidak seorang pun sengaja memilih menjalani hidup sebagai komedian. Jalan hidup satu ini begitu sulit dan saat ini juga tidak setimpal penghargaannya. Sehingga hanya mereka saja yang sengaja menerjuninya, yaitu mereka yang tidak hanya semata-mata ingin terjun ke dalamnya tetapi dilatarbelakangi alasan dirinya harus menerjuninya.”

Menerjuni komedi demi memenuhi panggilan menegakkan kebenaran. Untuk bergelut dalam penderitaan. Sebab “comedy is truth and pain,” demikian imbuh kesimpulan dari John Vorhaus dalam bukunya The Comic Toolbox (1994).

Sedang politikus ? Walter Williams menegaskan betapa maling dinilainya lebih bermoral dibanding anggota legislatif. Sebab bila ia mencuri uang Anda, maka si maling itu tidak menuntut Anda untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Novelis Skotlandia, Robert Louis Stevenson (1850–1894), mengatakan bahwa politik boleh jadi merupakan satu-satunya profesi dimana persiapan olah pikir tidak diperlukan. Sementara ahli kamus, kritikus dan penyair Inggris, Samuel Johnson (1709–1784) memberikan definisi untuk politikus sebagai a man of artifice. Orang licik.

Tidak aneh bila sebuah lelucon klasik Amerika memberikan ilustrasi yang sungguh tajam dan jitu khusus untuk menggambarkan betapa destruktifnya mereka.

Pertanyaan : Seberapa banyak jenderal atau politikus yang diperlukan untuk mengganti sebuah bola lampu ?

Jawab : Sebanyak 1.000.001. Satu orang bertugas menggantikan bola lampu dan 1.000.000 sisanya membangun kembali peradaban manusia sampai mereka membutuhkan bola lampu berikutnya !


Wonogiri, 14-15/12/2008


ke