Sunday, April 04, 2010

Ketika Marylin Monroe Bangkit Dari Kubur

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pohon PHK. Angka indeks stres sesudah meninggalnya pasangan hidup, 100. Perceraian, 73. Pensiun, 45. Pindah pekerjaan, 36. Pindah jabatan, 29.

Akhir tahun 2001, saya memiliki indeks stres di bawah angka meninggalnya pasangan hidup dan perceraian. Indeks saya 47. Saat itu saya baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja pada suatu perusahaan Internet di Jakarta.

Amplop berisi surat pemberitahuan PHK itu saya baca di sebuah bangku kayu, di bawah pohon kecil, di pinggiran jalan Kebon Sirih, Jakarta.Sore hari. Antara sikap menerima dan ingkar, campur aduk. Tetapi begitu semakin menjauh dari lokasi itu,dan melalui proses self-talk yang intensif, akhirnya rasa sakit dan marah itu akhirnya bisa reda juga.

Kira-kira setahun kemudian, saya datangi kembali bangku kayu dan tanaman kecil yang menjadi saksi saat saya kehilangan pekerjaan di Jakarta itu. Rumus dari Nora Ephron, sutradara film komedi romantis Sleepless in Seattle (1993), benar adanya.

Tragedi + waktu = komedi.

Sejarah serupa rupanya berulang lagi. Kali ini di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Di gedung tersebut pada hari Sabtu, 26 Januari 2008, saya tereliminasi sejak awal ketika ikut Audisi Pelawak TPI ke-4 (API-4). Kemarin, 2 April 2010, saya bisa kembali ke gedung yang sama, dalam suasana yang hampir sama. Tetapi membawa perspektif yang berbeda.


Gundah gulana saya akibat kegagalan dua tahun itu kiranya pantas menjadi bahan tertawaan. Senyatanya, karena cengkeraman perasaan egosentris memang sering membuat kita, tak terasa, mudah tergoda memberi harga terlalu tinggi bagi diri sendiri. Akibatnya, cedera atau terbarut sedikit saja sering membuat kita merasa betapa dunia terancam kiamat. Kecongkakan semacam itu, sekali lagi, memang pantas untuk menjadi bahan tertawaan.

Diam-diam, buah dari kesadaran semacam itu adalah berkah. Kita bisa membumi kembali. Dengan bekal isi jiwa seperti itu saya memenuhi undangan sobat maya saya, Harris Cinnamon (foto, kaos hitam) dari TPI, untuk ketemuan di Yogya. Saat itu, 2-3 April 2010, TPI mengadakan audisi memilih calon penghibur dalam tajuk Piala Dunia Tawa.

Memasuki gedung itu, saya seperti sedang pulang ke rumah. Gedung ini mudah diakrabi. Tanggal 12 Oktober 2002, ketika Bali diguncang bom Amrozy dkk, adik saya menjadi pengantin di gedung ini pula. Dan ketika mencoba bertegur sapa dengan sebagian peserta audisi, sungguh mengejutkan, sebagian dari mereka adalah alumnus API-4 juga. Seingat saya, di tahun 2008 itu rasanya belum pernah berkenalan, toh hari ini sebagian mereka pernah merasa mengenal saya. Nampaknya sirkuit dunia komedi kita memang benar sebagai dunia yang sempit.

“Baru tiga,” kata Harris Cinnamon yang beringsut dari kursi jurinya, untuk menyalami saya. Saya terlambat, sehingga tiga penampil pertama terlewat dari saya. Tahun 2008 lalu, Momon (dalam hati ia saya sebut sebagai da’i rocker) yang kini rambutnya lebih pendek, memberikan pengarahan kepada para peserta audisi API-4, termasuk saya. Ia bos, saya peserta. Kini saya datang sebagai kawan. Sebagai tukang catat. Tukang lapor. Tukang cerita.

Kalau boleh diberi label sebagai gagah-gagahan, saya datang ingin juga sebagai “sejarawan” komedi Indonesia. Saya datang dengan bekal, seturut ujaran sejarawan Perancis, Ferdinand Lot, bahwa sejarawan harus memiliki empati terhadap obyek kajiannya. Karena tanpa itu tak ada wawasan yang imajinatif untuk menggali masa lampau. Idealnya lagi, menurutnya, sejarawan harus menunjukkan kemampuannya sejajar dengan apa yang dimiliki para penyair dan seniman.

lawakan drakula,kelompok sandal jepit,solo,drakula banci,piala dunia tawa tpi 2010

Rendang kerbau. Lanskap apa yang nampak ketika anak-anak muda masa kini ingin terjun dalam dunia hiburan, khususnya lawak ? Lawakan tentang drakula dan kuntilanak, masih ada. Banci-bancian, juga masih ada. Lawakan hansip, juga ada. Plesetan kata, tetap muncul lagi juga. Penampilan komedian tunggal dengan gaya bercerita, mungkin ini warisan almarhum Taufik Savalas, juga ada. Lawakan dengan menyemprotkan air dari mulut ke wajah lawan main, juga ada.

Tontonan duplikasi adegan fotonya Marilyn Monroe dengan rok tersibak, juga ada. Dibawakan oleh Sarita (2009), diceritakan bahwa bintang film dan dewi seks AS itu bangkit dari kubur, menari dan menyanyi dan lalu kembali ke liang lahat.

Walau pesertanya tidak segegap gempita API-4, di mana ruang penjurian terdapat dua dan kini hanya satu, semangat peserta untuk berlawak-lawak-ria pantas diberi tepuk tangan. “Kali ini pendekatannya rada berbeda, Bang,” tutur Harris Cinnamon, saat kami usai sholat Jumat, sebelum sesi penjurian dilanjutkan.

Kalau dalam API-4, kata Momon, yang direkrut untuk dibina adalah kelompok yang menonjol, kini yang dicari adalah individu yang istimewa. Mereka-mereka itu selanjutnya akan dilakukan pairing, pencocokan dengan individu yang lain, sehingga diharapkan hadir sinergi yang lebih saling memperkuat.Pendekatan itu yang membuat suasana audisi terasa lebih hidup. Walau juga kadang konyol.

tony tanuwijaya,nurbati,harris cinnamon,erick tamalagi,nala rinaldo,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Godfather komedi televisi Indonesia. TPI nampak serius dalam merekrut talenta-talenta baru dunia hiburan televisi di Indonesia. Mereka menerjunkan personil kunci mereka. Dari kiri : Tony Tanuwijaya, eksekutif produser, Nurbati, Harris Cinnamon, direktur kreatif, dan Erick Tamalagi, produser. Dan juga ditongkrongi oleh GM Produksi, Nala Rinaldo (tidak nampak dalam foto).



Seperti Sajimin (2006), alias Pak Min (foto, berblangkon), yang mengaku sebagai dalang cangkeman alias bermain wayang dengan instrumen mulut belaka, digojlok habis-habisan di panggung oleh para juri.

Dibuat dirinya agar terpojok, sehingga Pak Min itu mampu mengeluarkan kesaktiannya, katakanlah jeroannya secara lahir batin. Ketika ia dipaksa keluar dari sarang kosmologi Jawanya dan diminta menyanyi lagu pop, yang muncul adalah lagu tentang perempuan yang hidup dalam lumpur noda. Malah ia sempat terloncat perkataan, bahwa “istri saya juga berasal dari sana.”

Andri Balung (2018, foto) yang tampil sendirian, juga mendapat teror serupa. “Wah, pengin dadi wong kondang kok yo rekoso,” keluhnya di panggung. Ketika disodori sisir besar terbuat dari styrofoam, apa yang akan ia perbuat ? Andri menggigit pinggir sisir itu sampai somplak. Audiens di ruangan pun terbahak.

Lawakan tunggal yang merambah gagasan coba ditampilkan oleh Andika Putra (2008). Ia tampil di panggung dengan jas dan berdasi. Tetapi celananya, aneh. Separo lengkap, sewarna dengan jas, bersepatu resmi. Separo celana satunya lagi adalah celana pemain sepak bola, dan bersepatu pemain sepak bola.

“Jauh-jauh dari Padang,” katanya mengenalkan diri, dan rupanya ia sekaligus pula membawa sudut pandang budaya Ranah Minang ketika menyentil ulah para penguasa dan politisi kita. Nampak merujuk demo mahasiswa yang mengusung binatang kerbau beberapa waktu lalu, Andika menggertak : “Banyak penguasa kita yang seperti kerbau. Nampaknya gagah dan kuat, tetapi segera menjadi lembek ketika berubah menjadi rendang.”

Tentang pakaiannya ? “Ini cerminan ulah politikus kita. Di depan nampak bersopan-sopan, tetapi di belakang layar mereka saling main tendang, sepak-sepakan !”

rokayatun,suwanto,eko,bs,sarjoe,phh,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Lelucon yang juga bersinggungan dengan wacana politik juga diusung oleh kelompok BS, Barang Sortiran (2025, foto). Trio ini terdiri dari Rokayatun (baju oranye), Suwanto dan Eko. Sebelumnya, saya sempat mengobrol dengan mereka. Rokayatun (cowok) adalah alumnus audisi API-4 yang kelompoknya bernama PHH ikut lolos ke Jakarta.

Ia memberi saya kartu nama, dengan tajuk MC Kocak/Lawak “Sardjoe” yang siap ditanggap untuk hajatan pertemuan, seminar, acara promosi, pesta reuni sampai ulang tahun. No HP mereka yang bisa dihubungi : 085640234449.

Pada kartu nama itu juga tertera logo API-4. Tetapi ketika para juri saat itu sempat menanyakan, apakah kelompok ini “orang lama,” membuat saya tersenyum-senyum. Karena nampak trio awak BS itu menjadi sibuk berkelit, dan bagi saya ini adalah komedi pula.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya kirim sms ke Rokayatun, berkomentar bahwa penampilan mereka jauh lebih unggul dibanding peserta lain yang sempat saya tonton.

Trio BS itu membawakan lakon “Rampok,” yang tidak lain merupakan satir bagi para politisi, birokrat sampai penegak hukum kita yang korup, yang merampok uang rakyat. Sempat terlontar ketika mengenalkan anggota termuda dari trio perampok itu, dengan ujaran : “Adik saya yang terkecil ini adalah perampok yang masih berstatus honorer.”

Siang itu saya sempat menonton 22 dari 58 peserta audisi yang terdaftar siang itu. Di tengah acara, tiba-tiba saya memperoleh sms dari nomor yang asing. Ia menanyakan, apakah saya ikut dalam audisi siang itu pula. Tentu saja, saya jawab : saya tidak ikut.

Pengirim sms itu bernama Burhan, asal Sukoharjo, memperoleh nomor urut 2033. Saya keburu pulang, dan mengirim sms agar ia berhasil. Burhan menjawab antara lain : “Waduh, padahal saya belum ketemu mas loh. Ehm, kemarin saya masuk ke blognya mas. See you.”


Awal perjalanan. Kabar dari Burhan itu lumayan membuat senang. Tahun 2008 lalu, gara-gara blog ini pula, saya bisa bereuni darat dengan Ade Tao, juri saya yang sebelumnya saling ketemuan di dunia maya. Kini, dengan pelaku lain, yang pasti atas bantuan kedahsyatan Google, hal serupa rupanya terjadi lagi.

Blog ini ternyata memiliki power yang tak terduga-duga bagi saya. Mungkin karena belum banyaknya blog dengan topik komedi, akhirnya blog saya ini boleh jadi terdongkrak menjadi semacam gerbang. Gerbang itu pula yang mau tak mau harus dilirik :-( dan dilewati oleh mereka yang ingin mengenal atau pun menerjuni dunia komedi.

Melegakan, bila isinya memang mampu memberi manfaat. Walau boleh jadi terlalu sangat hiperbolik bila power semacam itu yang membuat sobat saya Effendi Gazali, setelah bermurah hati menuliskan endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya, menambahinya saat menulis sms (16/3/2010 ) kepada saya. Isinya berbunyi : “Anda tetap supervisor or guardian dunia humor Indonesia.”

Hari Minggu pagi (4/4/2010), ketika saya melakukan olah raga jalan kaki pagi di bendungan waduk Gajah Mungkur, saya mendapatkan sms lagi. Bunyinya antara lain : “Thanks atas doanya, BS lolos Jakarta bersama 2 grup lainnya.” Saya segera membalas, mengucapkan selamat dan dorongan agar mereka mampu lebih berprestasi nantinya.

Demikianlah, hari Jumat di Gedung Wanitatama Yogyakarta itu, menjadi hari yang menggembirakan bagi saya. Mereguki semangat anak-anak muda yang bergairah menerjuni karier di dunia hiburan, utamanya lawak, ibarat memperoleh tetes air dari oasis yang menyegarkan jiwa. Sebagai bekal dalam menempuh, serta melanjutkan perjalanan yang masih panjang di depan.

Ikhtiar TPI merupakan sebuah pintu yang terbuka. Pantas diberikan akolade. Tetapi bagi mereka yang mampu masuk, atau pun bagi mereka yang belum beruntung, perjalanan meraih sukses dalam komedi senantiasa akan selalu terpulang kepada masing-masing individu. Seberapa keras, tangguh dan tahan uji, dalam menempa diri mereka sendiri.

Utamanya, seperti tak bosan saya tulis dalam blog ini, adalah ikhtiar menempa diri sendiri untuk mampu menjadi pribadi atau persona yang unik, orisinal, di antara wajah-wajah komedian yang lalu lalang selama ini, di negeri ini pula.

Satu-satunya cara yang harus ditempuh agar mampu meraih status terhormat itu adalah dengan mentransformasikan masing-masing hidup mereka, untuk menjadi komedi itu sendiri. Bert Williams telah menulis : “Orang yang memiliki selera humor sejati adalah orang yang mampu menempatkan dirinya di depan para penonton dan mampu menertawakan kehidupan malangnya sendiri di depan mereka.”

Dalang cangkeman Pak Min, secara tak sengaja telah melakukannya. Tetapi seturut nasihat Bert Williams di atas, apakah ia akan berani bila harus melakukannya secara sengaja ? Berapa banyak komedian Indonesia yang berani melakukan hal yang sama ?

Bagaimana dengan Anda sendiri pula ? Kalau Anda mendapat todongan semacam ini, kira-kira berapa angka indeks stres Anda ?


Wonogiri, 3-5/4/2010


ke

Sunday, March 14, 2010

Ejek dan Tawa Dibalik Kunjungan Obama

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Obama Harus Jadi Humas Indonesia.”

Demikian harapan pengamat politik Anis Baswedan terkait rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia. Kunjungan itu menurutnya, merupakan momen terpenting bagi bangsa Indonesia. Menurut Anis, pemerintah harus bisa memanfaatkan waktu kedatangan Obama ini dengan menjadikannya humas atau juru bicara bagi Indonesia.

"(Obama) harus bisa mengatakan, Indonesia memiliki potensi, ekonominya maju, kebhinekaannya dijamin. Kalau yang ngomong itu Obama, dia tentu menjadi public relation (PR) kita. Kalau kita tidak punya agenda itu, ya nanti kita malah menjadi PR-nya Obama," kata Anis Baswedan kepada para wartawan seusai menjadi pembicara Sarasehan Nasional ISNU Pra Muktamar NU ke-32 di kediaman Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (13/3/2010).

Liar ! Liar ! Liar ! Humoris dan satiris terkenal Amerika Serikat Art Buchwald (1925-2007) yang tak pernah lulus SMA, punya lidah tajam mengenai humas. Ia pernah bilang, kalau dirinya tidak menjadi humoris pasti akan petugas humas. Dan itu, menurutnya, bakal tidak membahagiakan dirinya sepanjang hidupnya.

Karena, “tugas humas adalah mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.”

Bila Barack Obama benar-benar menjadi humasnya Indonesia, inilah sebagian hal yang kira-kira bakal ia katakan untuk memromosikan keadaan sebenarnya Indonesia, tempat ia pernah mengenyam kehidupan di masa kecilnya, kepada dunia :


Oleh-oleh dari Australia. Barack Obama dan Susilo Bambang Yudhoyono pernah saling ketemu. Tetapi kunjungan Obama ke Indonesia merupakan momentum terbaik bagi SBY untuk memulihkan citranya setelah babak-belur kena “gebuk” DPR terkait skandal Bank Century.

Jadi pertemuan itu sungguh dinanti oleh SBY. Termasuk keinginannya berbagi trik politik sebagai oleh-oleh saat ia berkunjung ke Australia, baru-baru saja. Di tanah leluhur suku Aborigin itu, begitu laporan intelijen yang bocor ke media, ternyata SBY secara khusus berlatih melempar bumerang.

Dengan spesialisasi, bagaimana melempar bumerang yang dijamin tidak akan bisa kembali lagi kepada dirinya !


Takut teror dokter. Obama akan menyatakan penyesalan karena istrinya, Michele Obama, tidak jadi ikut berkunjung ke Indonesia. Alasannya, sebagai first lady sekaligus public figure, istrinya kuatir terancam pelukan dan ciuman dari belakang secara tiba-tiba oleh dokter Rasyidin dari RSUD Labuang Baji, Sulawesi Selatan.


Modis, membangkrutkan. Pembatalan kehadiran Michele Obama diam-diam disyukuri para pebisnis tekstil dan pakaian jadi di Indonesia. Karena sosoknya sebagai ibu negara adi kuasa dan secara tidak resmi menjadi inspirasi, bahkan penentu selera banyak wanita dalam berbusana, liputan tentang Michele Obama justru mereka kuatirkan dampaknya.

Pebisnis tekstil menilai, selera berpakaian Michele Obama berpotensi menurunkan konsumsi rakyat Indonesia secara drastis terhadap produk-produk tekstil dan pakaian jadi, utamanya busana muslimah Indonesia. Karena di Amerika Serikat, Michele Obama sering tampil memakai baju tanpa lengan, bahkan pada pelbagai acara-acara resmi negara.

Protes umat. Obama dalam berpidato nanti isinya memahami aspirasi sebagian rakyat Indonesia yang menggalang kampanye melalui Facebook agar patung dirinya dipindah.

Yang semula berada di Taman Menteng, Jakarta Pusat, dan sekarang menempati lokasi baru di SDN 01 Menteng, di Jalan Besuki Nomor 4, Jakarta Pusat. Sebab, di sekolah itulah Obama kecil pernah mengenyam pendidikan sehingga patungnya akan dibuat permanen.

Tak lupa Obama akan nyeletuk bahwa patung itu berpindah ke kompleks sekolah dasar, karena ada sebagian golongan umat keberatan patung “Impian Barry” berada di taman umum. Utamanya, karena status sosok patung itu dalam keadaan belum pernah disunat.

Masa depan Gitmo. Dalam berpidato untuk merengkuh hati mayoritas negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia, Obama akan menegaskan sekali lagi janji kampanyenya dulu. Bahwa ia ingin menutup penjara kontroversial, Guantanamo, selama-lamanya.

“Penjara mengerikan itu akan kami sulap menjadi resor pariwisata,” katanya. Bahkan tempat itu nanti, katanya, dirancang menjadi spot istimewa bagi kalangan militer Indonesia yang diduga berat melakukan pelanggaran HAM berat sehingga mereka resmi dicekal masuk Amerika Serikat. Bahkan dicekal untuk sepanjang hidupnya.

“Kebijakan kami berubah. Mereka kelak kami terima di Guantanamo dengan sebaik-baiknya,” kata sumber terpercaya dari Gedung Putih. “Kami akan berusaha membuat mereka tidak tergiur lagi untuk kembali ke Indonesia. Sepanjang hidup mereka.”

Judul-judul lanjutannya seperti di bawah ini akan dicantumkan dalam buku Komedikus Erektus yang akan segera terbit.

Bertukar cenderamata.
Pasangan cocok.
Demagog di demokrat.
Pedagang kematian Paman Sam
Good advice for Tiger Woods.
Tarian presiden kita.


Wonogiri, 14/3/2010

Thursday, March 11, 2010

Komedikus Erektus ! : The Book

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Payah matematika. Majalah Forbes memasukkan 7 nama orang Indonesia yang masuk milyarder kelas dunia di tahun 2010.

Yang paling tinggi peringkatnya di antara ketujuh nama tadi adalah Budi Hartono dan Michael Hartono (posisi 258 dunia), pemilik perusahaan rokok raksasa Djarum Kudus. Ada nama Sukanto Tanoto, dan kemudian Chairul Tanjung, pemilik Bank Mega dan Transcorp. Bill Gates dari Microsoft berada di peringkat 2 dunia.

Mengapa mereka begitu kaya dan apa resepnya ? Tahun lalu di majalah yang sama, seorang wartawannya Duncan Greenberg menulis artikel berjudul “A Recipe for Riches.” Artikel yang membuat saya patah hati. Karena pada diri saya ternyata tidak ada ciri-ciri untuk menjadi kaya-raya.

Duncan Greenberg menyatakan bahwa ciri pertama seseorang yang punya bakat kaya-raya adalah memiliki orang tua yang kariernya terkait dengan matematika. “Kemampuan mengolah angka-angka merupakan kunci tipikal untuk menjadi seorang milyarder. Seringkali, keterampilan matematika itu diperoleh dari keturunan. Profesi yang lajim bagi kalangan orang tua para milyarder Amerika Serikat adalah mereka yang bekerja sebagai insinyur, akuntan dan pemilik usaha kecil dan menengah.”

Ciri kedua, adalah mereka yang lahir di bulan September. Dari 380 orang sosok kaya raya daftar milyarder Forbes itu selama tiga tahun, terdapat 42 orang yang lahir di bulan September, yang lebih banyak dibanding bulan lainnya.

Cukup sudah. Mampuslah kamu, Pak Greenberg.
Saya benci membaca uraian Anda.

Terutama karena ternyata orang tua saya tak ada sangkut paut dengan matematika. Bapak saya, seorang tentara dan ibu pengelola warung makan di Kodim Wonogiri, kios di pasar dan kemudian jualan bahan pakaian secara kredit di kantor pos Wonogiri. Lahir saya pun bukan September, tetapi Agustus. Tetapi kira-kira hal terpokok dari keterseyokan saya itu untuk menjadi insan rangkayo adalah, jujur saja, saya payah dalam matematika.

Selepas lulus di SMP Negeri 1 Wonogiri, saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Tahun 1970 sampai tahun 1972. Jurusan Mesin. Menengoki dokumen rapor saya, walau sudah dilaminasi plastik oleh ayah saya Kastanto Hendrowiharso toh bagian tengahnya sudah dimakan rayap, tercatat banyak sekali angka-angka yang tidak membanggakan bagi orang tua saat saya bersekolah yang terletak di Jetis itu.

Saat duduk di kelas 1 Mesin C, pada semester satu, untuk pelajaran Mesin Uap saya mendapat nilai 4. Mohon maaf kepada James Watt, bapak penemu mesin uap. Mohon maaf pula kepada Bapak Sumarto, guru saya. Yang saya ingat dari beliau, selain sosok kurus dan berkacamata, adalah keusilannya untuk mau mengomentari judul lagu yang saya cantumkan di bagian bawah kertas ulangan.

Saat itu saya menggemari duo Simon & Garfunkel. Pada bagian akhir kertas ulangan mesin uap itu saya tulis judul lagunya, “The Only Living Boy in New York.” Ketika kertas ulangan dikembalikan, ada tulisan tambahan dari Pak Sumarto : “But, why do you live in Yogya ?

Pelajaran Motor Bakar juga mendapat nilai 4. Saat itu, seingat saya, saya lebih mudah mengingat nama-nama “indah” para pembalap F-1 saat itu, seperti Clay Reggazoni atau Emerson Fittipaldi, daripada menghafal rumus-rumus pelajaran dari Pak Sardjiman itu.

Nilai kursi terbalik juga saya sandang untuk Ilmu Ukur Ruang dan Proyeksi. Turbin Uap, 5. Peraturan Keselamatan Kerja, 5. Praktek Bengkel, 5. Aljabar dan Ilmu Ukur Analyt, 5. Di semester satu itu ada 7 angka merah. Syukurlah hanya ada dua merah di semester kedua : Motor Bakar dapat 5 dan Ilmu Gaya, yang sebelumnya dapat 6 kini merosot jadi 4. Saya bisa naik kelas dengan terseyok-seyok.


Fast Forward 2010. Beberapa puluh tahun kemudian, ketika menjadi seorang blogger, ternyata saya tetap tidak bisa menghindari matematika. Di situs penerbit besar HarperCollins, saya menemukan posting berjudul “Lunchtime Laughs” yang menarik.

Tidak ada teksnya, hanya semata berupa diagram Venn, yang temuan tokoh logika Inggris, John Venn (1834–1923). Nampak diagram Venn di bawah ini memperlihatkan kaitan antara buku dan blogger di era digital ini.

buku,blog,blogger,penerbitan mati,penerbitan hidup,diagram venn

Diagram yang mengundang senyum.
Memajang sebuah ironi.

Betapa di tengah embusan keyakinan bahwa penerbitan cetak diambang kematian dengan hadirnya blog, yang terjadi justru para blogger berbondong-bondong ingin menerbitkan buku. Sehingga salah satu komentar yang muncul adalah, “apakah lingkaran sebelah kiri akan bergerak menuju ke kanan, atau, lingkaran yang kanan justru yang bergerak ke arah kiri ?”

Kita tengah berada di jaman yang masih serba bingung.
Saya juga.

Sebagai blogger, yang termasuk meluncurkan blog ini sejak Agustus 2004, saya menjalaninya dengan senang-senang saja. Tak ada sasaran khusus atau cita-cita. Ternyata pada tanggal 4 Februari 2010, kelucuan yang digambarkan dalam diagram Venn di atas benar-benar menyapa hidup saya sebagai seorang blogger. Email di bawah ini pemicunya :

“Saya Wijdan Fr. , manajer Penerbit Imania, Imprint baru dari Pustaka Iman. Saya baru saja berselancar mengunjungi Blog Anda: http://komedian.blogspot.com/. Jujur saya baca postingan blog Anda ini saya tertawa dan kepingkel-pingkel. Tak hanya itu yang saya dapat banyak informasi, pencerahan saya dapat dari tulisan-tulisan Anda.

Referensi tulisan Anda sangat kaya. Benar-benar high-joke saya bilang. Saya berminat untuk menerbitkan kumpulan tulisan-tulisan Anda di blog Anda ini. Judul blog Anda sangat bagus dan mencengangkan Komedikus Erektus, dan ini sangat cocok untuk judul buku Anda nanti. Semoga Anda berkenan.

Besar harapan saya Anda dapat memenuhi undangan ini, buku semacam dan pasti diminati pembaca Indonesia.”

Membunuh blog. Tawaran tersebut malah menimbulkan kecemasan pada diri saya. Apakah kemudian saya harus membunuh blog saya ini ? Kecemasan ini merujuk kepada seorang blogger muda, produktif menulis dan terkenal jenaka, begitu blognya diterbitkan sebagai buku maka ia “bunuh” blognya itu. Seorang aktor teater yang suka bermonolog menirukan lagak-gaya Soeharto, Harmoko dan Habibie, juga begitu. Ia membunuh blognya saat isinya diterbitkan menjadi buku.

Ternyata dalam mengobrol dengan Mas Wijdan, juga dalam meneliti isi kontrak, ternyata tak ada klausul agar blog saya tersebut dimatikan. Bahkan ia mengembuskan angin surga, “bila nanti terkumpul tulisan-tulisan baru, kita berpeluang menerbitkan buku sekuelnya yang kedua, dan selanjutnya.”

Ketika membaca-baca isi kontrak yang menyangkut jumlah eksemplar yang akan diterbitkan, saya sungguh tidak mempercayai. Saya merasa seperti sedang melambung ke awan, bak seorang selebritis dengan melihat jumlah itu.

Tetapi itu memang hak prerogatif penerbit, yang tentunya memiliki wawasan, pertimbangan dan keterampilan tersendiri dalam membaca pasar. Saya sebagai penulis, membantunya dengan bertugas mempersiapkan materi sebaik-baiknya. Termasuk semula berambisi agar semua isi blog ini diterbitkan semua. Perkiraan Mas Wijdan, itu bisa mencapai 1000 halaman. Agar sesuai dengan dinamika pasar maka memang harus dilakukan seleksi.

Juga penambahan isi, berupa isu-isu yang mutakhir. Berhubung lelucon dalam blog saya ini sebagian berupa fake news, berita yang seolah-olah benar walau sebenarnya palsu, plus lebay sebagaimana karakter khas suatu lelucon, heboh skandal Bank Century harus tidak dilupakan. Maka dalam bab awal parade lelucon seputar heboh Pansus DPR Terkait Bank Century menjadi gebrakan pertama isi buku tersebut nantinya.

Bila terbit, akan menjadi buku humor saya yang ketiga. Tetapi dalam penerbitan kali ini saya memperoleh wawasan baru, mengenai sebuah ritual, yaitu pemuatan pernyataan dari mereka yang sukses guna mendukung mitra yang juga sukses. Siklus win-win yang menarik.

Saya yang merasa sukses karena berhasil menulis buku ini, telah meminta kerjasama dukungan kepada pelbagai fihak, untuk menulis endorsement untuk buku saya ini. Bukti sukses mereka akan terpajang di buku saya, guna menunjang sukses diri mereka dan juga sukses saya pula. Pelbagai fihak yang saya kontak selama ini antara lain :

Andrias Harefa, Antyo Rentjoko, Ayu Utami, Arswendo Atmowiloto, Budiarto Shambazy, Danny Septriadi, Darminto M Sudarmo, Denny Chandra, Diana AV Sasa, Donny Maulana, Effendi Gazali, Harris Cinnamon, Ira Lathief, Isman H Suryaman,Jaya Suprana, Jerry Gogapasha, Jonie Hermanto, Onno W. Poerbo, Sarlito Wirawan Sarwono, Sholahuddin Norazmy, Welnady, dan Wimar Witoelar. Daftar ini bisa bertambah.

Terima kasih untuk Antyo Rentjoko, Danny Septriadi, Darminto, Diana AV Sasa, Jerry Gogapasha, Jonie Hermanto SQL, Harris Cinnamon, dan Bang Wimar, untuk kebaikan Anda. Saya yakin, nama-nama lain di atas akan segera menyusul. Sukses selalu untuk Anda !

Untuk menyertai penerbitan buku tersebut saya telah meluncurkan blog baru, Komedikus Erektus ! : The Book. Dalam blog ini saya akan berbagi cerita terkait latar belakang buku tersebut, kaitan antara saya dengan para endorsers, cerita masa lalu saya sebagai penulis, blogger, dan tentu saja tentang dunia buku, blog dan komedi.

Kalau Anda memiliki komentar dan saran, saya tunggu di :
humorliner (at) yahoo.com.

Terima kasih.

Moga-moga buku itu nanti dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Walau saya realistis, buku tersebut tidak akan membuat saya sebagai orang Indoneia yang akan masuk dalam daftar Forbes sampai abad 22 mendatang !


Wonogiri, 11/3/2010

Thursday, February 25, 2010

Jaya Suprana, Lawakan Idiot Olga dan Low Comedy

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Sarkas Jaya Suprana. Bangsat merupakan parasit yang kosmopolit. Dirinya mudah ditemui di mana saja, di tempat manusia biasa berada.

Ia menggunakan taktik gerilya dalam beroperasi.

Bersembunyi di waktu siang hari, menyerang di waktu malam. Sesudah puas menghisap darah manusia targetnya, ia lalu mundur ke tempat persembunyian, guna mencerna santapannya itu dalam beberapa hari.

Bangsat adalah kutu busuk. Encyclopedia Britannica menyebutnya sebagai bed bug. Kutu ranjang. Serangga malam ini termasuk dalam keluarga Cimicidae. Tetapi di Indonesia, baru-baru ini, kutu busuk itu “masuk” sebagai keluarga seorang wakil rakyat.

Gara-garanya, kata bangsat itu menjadi ramai diperbincangkan masyarakat. Utamanya setelah muncul sebagai umpatan yang dilontarkan anggota DPR dari Partai Demokrat, Ruhut Poltak Sitompul, dalam kesempatan suatu rapat Pansus DPR terkait kasus Bank Century.

“Di luar negeri, kata-kata yang lebih jorok lebih sering dimunculkan di lembaga-lembaga wakil rakyat,” cetus budayawan, kolumnis, kelirumolog, penguasaha, Jaya Suprana. Ia hadir sebagai panelis dalam acara Mata Najwa di MetroTV beberapa saat yang lalu. Acara bincang-bincang itu juga dihadiri pengamat ekonomi Faisal Basri, Hendri Saparini, artis yang mau jadi calon wakil bupati Sukabumi Ayu Azhari, dan juga si pelontar kata bangsat itu sendiri, Ruhut Sitompul.

Audiens bertepuk tangan. Tetapi segera Jaya Suprana memperingatkan mereka.“Jangan buru-buru tepuk tangan. Karena terdapat juga sarkas dalam pernyataan saya.”

Saya tersenyum. Umpama saat itu Jaya Suprana melakonkan diri sebagai komedian tunggal, nampaknya ia telah melakukan kesalahan fatal. Karena ia berambisi untuk menjelas-jelaskan makna dari materi lawakannya. Tetapi syukurlah, ia tidak sedang tampil sebagai komedian. Selebihnya, memang nampak betapa audiens yang sebagian besar mahasiswa itu tidak ngeh dalam mencerna lawakan sarkas tingkat tinggi model Jaya Suprana.

Lawakan kasar. Momen semacam itu, ketika para cendekiawan muda kita nampak telmi dalam mengikuti lawakan-lawakan yang cerdas, apakah seringkali ditemui dalam pelbagai acara-acara televisi ?

Mungkin pembaca dapat berbagi informasi kepada saya. Maafkan saya, saya bukan penonton televisi Indonesia yang taat dan baik. Hiruk-pikuk komentar pembaca terhadap mutu tayangan televisi hanya bisa saya ikuti lewat media massa. Itu pun hanya dari 4 koran, yaitu Kompas, JawaPos, Solopos dan Suara Merdeka, yang saya baca-baca di Perpustakaan Umum Wonogiri.

Sebagai seorang epistoholik, saya telah membaca surat pembaca yang ditulis Leonardo Paskah (Grogol, Jakarta). Judulnya “Lawakan Berbau Anarkis” di Kompas (9/2/2010 :7). Ia tulis bahwa dalam acara Oh My God dan Segerr Benerr di ANTV, dengan pembawa acara Olga Syahputra, sebagai tayangan lelucon anarkis dan kasar. “Olok-olokan kasar, jambakan rambut, memukul dan menghantamkan barang yang tiba-tiba dari belakang,” begitu antara lain tulisnya.

Soraya Perucha, pejabat humas dari ANTV di kolom yang sama (15/2/2009) kemudian memberikan jawaban. “Kami merasa masukan yang disampaikan cukup positif. Itu menjadi perhatian kami untuk memperbaiki kualitas tayangan. Kami senantiasa melakukan evaluasi untuk setiap program agar dapat dinikmati dan bermanfaat bagi keluarga Indonesia.” Anda percaya dengan kata-kata klise kehumasan semacam ini ?

Surat pembaca kedua, lebih dramatis. Dengan judul “Siaran Televisi Mengepung Relung Hati dan Pikiran” (Kompas, 13/2/2010 : 7) warga Kemang Pratama, Bekasi, Bambang Sudiono menulis keluhan berat. Antara lain tentang bagaimana humor menjelma menjadi tontonan kebodohan di pelbagai televisi-televisi kita.

“Kebodohan dipamerkan dengan penuh suka cita lewat acara yang disebut ‘humor.’ Humor sesungguhnya, yaitu menertawakan kelemahan dan kebodohan diri sendiri, dimaknai oleh para ‘pelawak’ dan produser televisi dengan menghina orang, melecehkan orang, mengejek orang lain, bahkan dengan melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain.

Pada saat seseorang diperlakukan secara tidak sopan dan kemudian merintih-rintih, penonton tertawa. Itu yang disebut ‘humor’ oleh televisi kita : menghina dan menyakiti orang lain ? “

Kasta terendah. Kritik pedas Bambang Sudiono di atas belum ada yang menjawab dari fihak televisi. Orang-orang televisi mungkin menganggap keluhan semacam itu pantas untuk dibaca, kemudian segera untuk dilupakan.

Saya juga meminta seorang networker yang memiliki LSM dengan inti kiprah dalam bidang humor untuk mem-posting kritik di atas pada akun Facebook-nya, nampaknya hanya “ya” tetapi tidak ia lakukan. Mungkin permintaan semacam ini harus disertai pengucuran dana, suatu langgam yang mungkin biasa bagi organisasi yang berfilfasafat no money, no project itu.

Yang pasti, nampaknya upaya melakukan peningkatan, up grade terhadap diri sendiri, merupakan hal yang teramat sulit untuk dilakukan. Apalagi meningkatkan diri di bidang kiprah kreatif yang begitu elusive seperti komedi, yang mungkin secara ekstrim dan guyon hanya dapat dilakukan bila terjadi melalui cara operasi cangkok pada otak mereka sendiri.

Orang-orang televisi tidak mau repot. Apalagi orang-orang komedi. Mereka alergi untuk merenung. Tak mau berkontemplasi. Mereka seperti bajing di kandang, sibuk berlari di atas treadmill mereka sendiri. Demi memenuhi kejar tayang.

Meminjam sinyalemen Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-Sized Book of Comedy : What We Laugh At…And Why ( 1999), bahwa “Ketidakmampuan dalam mencerna bagaimana rumus lelucon dapat berhasil, membuat para penampil komedi lebih suka melakukan cara awur-awuran, trial and error, dengan berharap bahwa waktu dan pengalamanlah yang akan mampu menempa naluri mereka agar selamat melewati padang penuh ranjau sajian komedi yang tidak menghasilkan tawa. Dengan sikap mental semacam ini maka tidak aneh bila profesi komedi menjadi begitu sulit dan penuh ketidakpastian.”

Akibatnya, fatal.

Komedi-komedi yang dominan hadir di televisi kita, masih menurut Stevie Ray tadi, adalah komedi-komedi fisik semata. Seperti yang kental diwakili sajian komedi pada diri Olga itu. Kita simak urutan kasta dalam komedi menurut Stevie Ray : komedi fisik, komedi porno, cerita, bahasa, imitasi, kontradiksi karakter dan satir.

Komedi fisik berada pada tingkat kasta yang terendah. Ia termasuk dalam kategori low comedy, “karena membutuhkan intelektual yang minim untuk memahami lelucon yang muncul. [Sementara] semakin tinggi kadar intelektual seseorang, akan semakin luas rentang pengalaman-pengalaman komedi yang dapat mereka nikmati.”

Sebagian pebisnis televisi di Indonesia nampak memahami adanya tuntutan semacam itu. Di masyarakat kita terdapat segmen penonton yang menginginkan tontonan komedi alternatif. Maka tidak ayal, bila sejak 26 Januari 2010 telah diluncurkan saluran Vision Comedy, tayangan berbayar yang menyanyikan tayangan-tayangan komedi 24 jam.

Kita dapat bernostalgia mendengarkan lagunya Bob James, “Angela” dalam film seri komedi “Taxi” yang dibintangi Judd Hirsch dan Danny deVito, “Lucy Show,” “Growing Pains,” sampai “Suddenly Susan.”

Siapa tahu tayangan itu mampu menjadi arena belajar yang baik bagi para pemangku kepentingan yang ingin memajukan dunia komedi Indonesia. Kalau tetap tak mau belajar, apa mungkin bisa katakan kepada mereka ucapan ini : bangsat ?


Wonogiri, 26/2/2010

ke

Monday, January 25, 2010

Balsem Cap Mario Teguh

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Otak saya ?
Merupakan organ favorit saya yang kedua.”

Saya suka humornya Woody Allen. Ia penulis, aktor, dan juga sutradara film kaliber Oscar. Dialog di atas itu muncul dalam filmnya yang berjudul Sleeper (1973).

Humor seksnya yang senada juga muncul dalam filmnya Bullet Over Broadway (1994) yang dibintangi John Cusack. Anda sudah nonton film 2012 ? Pak Cusack ini menjadi bintang utama film yang di Indonesia bikin heboh karena menggambarkan kiamat itu.

Humor Allen dalam Bullet Over Broadway terucap dari tokoh Rita (Stacey Nelkin) yang bilang : “Bagi saya, cinta itu sangat-sangat dalam, sementara seks hanya menembus beberapa inci saja.”

Anda ingin tahu lebih banyak tentang humor cerdasnya Woody Allen ? Silakan mencarinya sendiri melalui Google. Saya kali ini berminat mengobrolkan tentang “organ favoritnya yang kedua.”

Otak. Milik Anda.
Milik saya. Milik kita semua.

Tentang otak itu, ada humornya pula. Kali ini terlontar dari penyair kesayangan Presiden John F. Kennedy, yaitu Robert Frost (1874–1963). Ia bilang, “otak itu organ yang ajaib. Ia mulai aktif sejak Anda bangun di pagi hari, dan terus saja bekerja tanpa henti sampai saat Anda tiba di kantor.”

Juga saat tiba sekolah. Di bangku kuliah. Juga saat menonton acara The Golden Ways-nya Mario Teguh. Ucapan terakhir ini bukan dari Robert Frost. Tetapi dari saya pribadi. Tentu saja ini penilaian subjektif. Oleh karena itu, bila perlu, Anda dapat dan juga saya undang untuk menulis bantahan.

The Goofy Ways. Kalau Anda menonton acaranya Mario Teguh di Metro TV, dapatkah Anda menilai seberapa tinggi tingkat pendidikan mereka yang hadir di studio itu ? SLTA ? Sarjana ? Pascasarjana ?

Dari melihat aktivitas audiens saat berlangsungnya acara, saya malah berpendapat mereka itu mungkin layak berpendidikan di bawah tingkat SLTA. Karena jarang, jarang sekali terlihat, ada yang serius melakukan aktivitas mencatat semburan demi semburan kata-kata mutiara dari Mario Teguh saat itu. Semua mendengarkan saja. Terlongo. Bahkan sering terlambat menyambar humor Pak Mario yang super itu.

Tanpa dicatat, begitu acara selesai dan kita keluar ruangan, sebagian besar ajaran Mario Teguh itu akan hilang. Dua hari kemudian, semuanya benar-benar tidak berbekas.

Aktivitas mencatat itu bukan hal remeh. Majalah Reader’s Digest pernah menulis lelucon : “Apa yang terjadi bila satu bus penuh turis Jepang dibajak teroris ? Polisi akan memperoleh 50 foto diri teroris dari pelbagai sudut. “

Lelucon ini menunjukkan kegetolan turis Jepang yang kemana-mana memotret obyek wisata yang mereka kunjungi. Ternyata kebiasaan hebat turis Jepang bukan hanya itu.

Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengatakan bahwa turis-turis Jepang itu juga membawa-bawa bloknot. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.

Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mereka mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki oleh setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk selalu membawa-bawa bloknot sepanjang waktu.

Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya. Judy Carter, mentor komedi asal Amerika Serikat (foto) juga bilang, bahwa setiap calon komedian harus membawa-bawa bloknot dan bolpoin, setiap saat. Bahkan kedua sarana itu harus berada di dekat bantal tempat tidur mereka !


Bukan hanya mencatat. Agar kekayaan yang ditumpahkan oleh Mario Teguh itu mampu menjadi milik kita sendiri, pengetahuan itu harus dituliskan. Bisa di buku harian, surat, artikel, sampai blog. Pengetahuan bersangkutan berpeluang abadi menjadi milik kita pribadi apabila kita dengan cinta bersedia membagikannya kepada orang lain. Bahkan sebaiknya pula harus secara publik.

Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo, mengatakan : seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman secara lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Terima kasih, Rebbeca.

Masukan-masukan bernas Mario Teguh tanpa upaya dan tanpa ikhtiar lebih lanjut seperti ditulis di atas, hanya ibarat olesan balsem belaka. Saya ingat kata-kata seorang (mantan ?) petinju kita, Pino Bahari, saat menjadi komentator dalam suatu siaran tinju di televisi.

Ia bilang, nasehat atau masukan pelatih untuk petinju hanya berumur beberapa detik saja. Begitu masuk ring untuk melanjutkan ronde sisanya, petinju bersangkutan akan bertarung dengan pola berdasar cetak biru (lama), orang Jawa bilang sebagai gawan bayen, karakter yang sudah menyatu dengan dirinya.

Akhirnya, terkait kata-kata mutiara Mario Teguh itu saya pernah tiba-tiba memperoleh banjir SMS. Dari kenalan lama tetapi kemudian menjadi teman baru di Facebook. Antara lain berbunyi :

“Kekayaan yang bisa ditambang dari sumber emas dan berlian di bumi, tidak bisa mengalahkan ukuran kekayaan yang ditambang dari penggunaan pikiran Anda.”

Saya setuju. Terima kasih, Pak Mario.

Tetapi ujung dari banjir kata-kata motivasi tersebut adalah, bahwa dirinya nampak ingin merekrut diri saya sebagai downline dari bisnis MLM-nya. Bagi saya, aksi ini ibarat dirinya memanfaatkan ajaran telemotivator itu bukan hanya sebagai balsem untuk dioleskan kulit, tetapi balsem itu juga ia telan di perut.

Mungkin agar perutnya, juga isi tubuhnya bisa menjadi lebih nyaman, lebih kuat. Tetapi bukankah malah berpeluang menjadi racun ? Sebuah pepatah dari abad keenam belas boleh jadi menegaskan hal itu :

One man's meat is another man's poison.

Anda setuju ?
Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 26 Januari 2010


ke

Wednesday, December 30, 2009

In Memoriam Gus Dur (1940-2009) : “Hanya Kita Saja Yang Masih Waras”

Oleh Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Ucapan Gus Dur ibarat teka-teki. Ia saya pergoki di Toko Buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan, 25 Oktober 1986. Dua puluh tahun yang lalu.

Saat itu, ketika melihat sosoknya memasuki toko, mendorong saya memberanikan diri untuk memperlihatkan buku yang baru saya beli, karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions (1980), kepadanya.

Melihat kesamaan sebagai penikmat humor, setelah saling bertukar koleksi lelucon, Gus Dur mengeluarkan pernyataan yang saat itu berupa misteri. “Hanya kita saja yang masih waras,” cetusnya.

Belasan tahun kemudian teka-teki Gus Dur itu bisa saya mengerti. Hal itu terjadi di akhir 2001 ketika saya kena PHK pada sebuah perusahaan Internet di Jakarta.

Untuk pengobat gundah, saya memutuskan membeli buku-buku panduan menjadi komedian. Isi buku-buku itu malah tidak menghibur. Justru membuat saya makin dirundung hati yang hancur. Terutama oleh bukunya Judy Carter, The Comedy Bible (2001).

Asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah saya anggap benar selama ini, bahkan karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan. Harus dihancurkan.

Pemahaman bahwa menjadi komedian itu sekadar tampil di panggung menceritakan lelucon tentang orang lain atau karya orang lain, ternyata menurut Judy Carter hal itu merupakan kekeliruan yang sangat fundamental. Karena menurutnya, setiap komedian wajib dituntut orisinalitasnya. Di panggung dirinya harus berani dan jujur dalam membeberkan otobiografi mereka masing-masing.

“We funny people are not normal”, tegasnya. Orang normal mengekspresikan selera humornya dengan menghafalkan lelucon, sementara jenakawan sejati mentransformasikan pengalaman hidupnya.menjadi lelucon. Ia menulis lelucon tentang hidupnya sendiri pula.

Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, para jenakawan justru mempertontonkannya semua itu kepada dunia. “Comedy...be afraid, be very afraid !”, tandas lanjutnya.

Keterusterangan, kejujuran, memang menakutkan. Tetapi semakin dalam menyelami riwayat hidup para komedian, sedari George Burns, Richard Pryor, Rodney Dangerfield, Joan Rivers sampai Jon Stewart yang baru saja memandu acara Oscar 2006, semakin saya menaruh hormat atas kejujuran mereka sebagai manusia. Para jenakawan sejati senantiasa mampu menemukan humor dalam momen yang serius, juga tragedi hidupnya, dan bahkan pada momen yang paling pribadi sekali pun.

Sekadar contoh adalah Christopher Titus. Ia komedian solo dan membintangi cerita seri televisi yang mentransformasikan problem kehidupannya dalam keluarga yang tidak normal menjadi bahan leluconnya. “Saya melucukan ibu saya yang menembak mati pacarnya. Saya juga melucukan ibu saya yang melakukan bunuh diri. Semua itu mampu membuat penonton tertawa.”

Chris Titus melawak dengan bahan yang benar-benar orisinal, segenap sisi hidupnya sendiri. Yang paling gelap sekali pun. Memanglah, komedian sejati memiliki totalitas ketika menerjuni dunianya. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seseorang yang berupaya memperoleh kekayaan hingga dirinya berani bersekutu dan membuat “perjanjian dengan setan.”

Karena komedian sejati harus ikhlas menggadaikan sebagian nyawa atau kehidupannya dalam perjanjian itu. Komedian harus berani merelakan semua kekurangannya sebagai manusia untuk dibedah, ditonjolkan dan dijajakan semuanya untuk menjadi bahan tertawaan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Self-deprecating. Seorang Gus Dur, seperti diungkap Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tinggi dalam menghumori dirinya sendiri.

Alkisah, ketika berceramah di depan kerumunan massa, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir.

“Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya.

Keikhlasan Gus Dur mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi. Menu serupa juga jadi andalan komedian muslim di Amerika Serikat dan Inggris yang sedang berjuang menegakkan citra Islam sebagai agama yang cinta damai pasca serangan teroris 11 September 2001.

Sebagai contoh adalah Shazia Mirza, pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya.

“Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.

Tissa Hami adalah komedian perempuan lain, tetapi di Amerika Serikat. Ia bergelar Master Kajian Internasional dan bekerja di John F. Kennedy School of Government., Universitas Harvard. Dengan melawak, “saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim tertindas dan terbungkam,” katanya.

Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini (AS), sering jadi lawakan. Katanya, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera!”


Mencela orang lain. Bagaimana lanskap lawakan di Indonesia selama ini ? Kiranya kita dapat bercermin dari pengalaman pelawak Basuki Srimulat. Seperti tertuang di JawaPos (3/3/2006), ia baru pulang dari naik haji. Ia satu pesawat dengan KH Zainuddin MZ, Ustadz Iskandar dan satu lagi pria yang disebut Basuki sebagai Ketua Dewan Syuro.

Pria yang terakhir ini bertanya kepada Basuki : “Apa akan terus melawak meski sudah menyandang predikat haji ?” Basuki balik bertanya : “Lho, memangnya kenapa ?” Beliau menjawab : “Melawak itu kan identik dengan mencela orang lain ?” Mendengar hal itu Basuki tidak bisa langsung menjawab.

Miftah Faridl dari ITB dalam bukunya Pokok-Pokok Ajaran Islam (2004) telah menderetkan daftar dosa atau hal-hal yang tidak baik terkait afatul lisan, bahaya lidah. Bahaya lidah termasuk mencaci maki, membuka kesalahan orang lain, memanggil nama jelek terhadap orang lain, sampai menghina dan mencemooh.

Kalau saja perbuatan negatif tersebut selama ini justru merupakan modus lawakan yang lajim sekaligus berpotensi mengandung dosa, lalu apa solusinya ?

Pernyataan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi (Suara Merdeka, 4/2/2006) mungkin dapat dipakai sebagai panduan. Ia mensinyalir rentetan bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tidak lepas dari perilaku spiritual manusia Indonesia.

Menurutnya, kebanyakan bangsa Indonesia dewasa ini lebih sibuk mengurusi cacat orang lain sehingga kerap lupa pada cacat sendiri. Padahal, dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda, berbahagialah orang yang repot mengurusi cacatnya sendiri hingga lupa dan tidak sempat menghitung cacat orang lain.

Rentetan bencana yang terjadi di Tanah Air pasti bukan akibat dosa komedian kita semata. Tetapi sinyal menuju sajian komedi yang lebih baik telah ditorehkan. Terlebih di bulan Ramadhan, di mana tayangan televisi kita identik pesta tayangan komedi, kiranya bulan suci ini bisa dijadikan sebagai momen bagi komunitas komedi kita untuk introspeksi.

Agar mampu menemukan (kembali) jalan lurus dan bersih dari “dosa” dalam berkarya, dimana keteladanan pribadi Gus Dur sampai nasehat KH Hazim Musyadi diharapkan sebagai pencerahan. Bagi dunia komedi dan juga bagi bangsa kita di masa depan.

Ketika terlalu banyak pemimpin dan pejabat negeri ini semakin sulit ditemui memiliki kewarasan, dalam arti berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan dirinya sendiri, mungkin kita masih punya sandaran agar mampu bertahan. Yaitu sense of humor kita dan kejujuran para komedian !


Pengantar Bambang Haryanto : Artikel ini dengan judul “Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri” dengan penyuntingan pernah dimuat pada halaman Humaniora-Teroka di harian Kompas, 27 Januari 2007, yang saat itu penjaga rubriknya adalah sastrawan Radhar Panca Dahana.

Artikel ini dimuat kembali sebagai catatan kenangan pribadi penulis terhadap Gus Dur, humoris dan guru bangsa, yang meninggal dunia 30 Desember 2009. Di tengah kemelut bangsa yang dilanda krisis moral, krisis keteladanan, dan krisis sikap pluralis, kau telah meninggalkan bangsa ini. Selamat jalan, Gus.

Artikel ini sebelumnya juga disajikan di : http://komedian.blogspot.com/2007/01/komedi-dan-komedian-kejujuran-mengolok.html




Wonogiri, 31 Desember 2009

Sunday, November 29, 2009

The SBY Way

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Mati kelaparan. “Makanan yang cukup,” demikian tulis dramawan komedi Perancis Molliere (1622-1673), “dan bukan kata-kata indah yang membuat saya bisa terus hidup."

Molliere itu, dan kata-katanya itu, mungkin tidak dikenal oleh Muhammad Jusuf Kalla atau pun Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi sepertinya kita mampu menarik garis pembeda antara kedua pemimpin bangsa kita tersebut apabila mereka dipergoki oleh seseorang yang kelaparan.

JK, mantan wakil presieden kita yang berpendekatan lurus, praktis dan apa adanya, barangkali akan segera memberi seseorang yang kelaparan itu dengan sepiring nasi. Bagaimana pula dengan SBY ? Ia akan memberi seseorang yang lapar itu dengan kuliah panjang lebar tentang ilmu gizi.

Perbandingan di atas itu boleh jadi tidak akurat. Tetapi kalau Anda mengikuti siaran langsung televisi Senin malam 23 November 2009, saat SBY menyatakan pendapatnya terkait rekomendasi Tim 8 mengenai kasus Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, kiranya terdapat puluhan juta warga Indonesia yang kelaparan.

Tetapi, bagaimana lagi, nampaknya kita semua harus merasa puas setelah memperoleh kuliah dari SBY mengenai ilmu gizi itu. Itulah solusi manajemen konflik a la SBY.


[Masih bersambung]


ke

Saturday, October 24, 2009

Tiga, Angka Sial dan Trilogi Bagi Sang Jenderal

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Nyawa tercabut. Dalam Perang Dunia I, angka tiga terkenal sebagai angka sial.

Tahyul itu beredar luas di kalangan tentara yang berlindung di parit-parit pertahanan saat didesak rasa ngebet untuk merokok guna mengusir pelukan kantuk atau rasa bosan di waktu malam.

Mereka percaya bahwa tentara yang menyalakan pemantik api yang sama pada urutan ketiga, maut berpeluang besar mencabut nyawanya.

Rumusnya, juga rumus tiga. Ready. Aim. Fire ! Penjelasannya : para penembak jitu pada kubu musuh mungkin dapat melihat nyala yang pertama. Lalu ia membidik saat melihat nyala yang kedua. Kemudian melepaskan tembakan untuk nyala pemantik api yang ketiga.

Presiden SBY, purnawirawan jenderal, mungkin tersenyum membaca cerita ini. Mungkin ia tergerak untuk membayangkan apa yang terjadi pada foto dirinya, foto dramatis yang ia tunjukkan dengan wajah geram ke seluruh warga Indonesia. Moga momen itu masih Anda ingat. Saat Indonesia diguncang teror bom oleh komplotan Noordin M Top di hotel J.W. Marriott dan Ritz-Carlton, momen itu oleh kalangan luas dinilai telah dimanfaatkan SBY untuk “menembak” sana-sini.

Utamanya, patut diduga, untuk menghantam kompetitornya dalam Pilpres 2009 yang saat itu gencar memasalahkan keabsahan Pemilu. Oleh SBY, teror bom kedua hotel itu seolah ia kait-kaitkan dengan upaya konspiratif para pesaing dalam menghalangi langkahnya memerintah Indonesia untuk kedua kalinya.

Bumbunya pun teatrikal, saat ia menjelaskan bahwa dirinya pun menjadi latihan sasaran tembak kaum teroris. Dengan “bukti” yang dramatis. Wajahnya berlubang di pipi, ditembus peluru, yang ia tunjukkan dalam foto kepada para wartawan. Apakah pada hitungan yang ketiga juga saat peluru kaum teroris itu melubangi foto dirinya ?

Kita tidak tahu. Yang pasti, kalau Anda rada jeli menyimak konstruksi pidato-pidato SBY selama ini, angka tiga nampaknya bukan ia anggap sebagai angka sial. Sebaliknya merupakan angka favorit. Angka keberuntungan !

Sejak mendapat mandat dari rakyat, melalui pemilu paling demokratis dalam sejarah Indonesia di tahun 2004, SBY merumuskan new deal dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang tertuang dalam prinsip triple track strategy : pro-growth, pro-job, dan pro-poor.

Loncatlah kemudian ke tahun 2009. Dalam pidato setelah disumpah menjadi Presiden Republik Indonesia 2009-2014, SBY meluncurkan visi tugas konstitusional kabinetnya untuk lima tahun mendatang dalam tiga pilar : Kemakmuran. Demokrasi. Keadilan. Sebagaimana dirinya yang getol menggunakan bahasa Inggris, rumus tiganya itu menjadi : Prosperity. Democracy. Justice.

Bahkan menurut Kompas (24/10/2009), selanjutnya SBY membuat semboyan dengan juga berunsurkan hitungan tiga. Pertama, change and continuity, perubahan dan keberlanjutan. Kedua, de-bottlenecking, acceleration and enhancement, penguraian hambatan, percepatan dan peningkatan. Dan ketiga, unity, together we can, bersatu, bersama kita bisa.

Trimurti sampai komedi. Dalam era pemerintahan Soeharto yang Orde Baru, angka favorit yang sering muncul adalah lima. Hal ini kiranya terkait dengan Pancasila. Tetapi mengapa SBY memilih tiga ? Mungkin saja ia terilhami oleh trimurti, tiga dewa Hindu : Brahma, dewa pencipta, Wisnu, dewa pemelihara, dan Shiwa, dewa perusak.

Sebagai perwira militer yang pernah digembleng di negeri Paman Sam, mungkin saja SBY juga teringat mantra sakti tentang tiga pilar demokrasi dari presiden AS ke-16, Abraham Lincoln (1809–1865).Hal tiga itu ia sampaikan dalam pidato terkenalnya, Gettysburg Address, 19 November 1863, di Pennsylvania.

Pidato Lincoln di tengah kecamuk Perang Sipil itu diakhiri dengan : “bangsa ini, di bawah naungan Tuhan, akan mendapat kelahiran baru kebebasan dan pemerintahan rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tidak akan menghilang dari muka bumi.”

Tetapi angka tiga bukan melulu sebagai cerminan angka mujur. Seratus tiga puluh dua tahun plus sehari dari saat Lincoln berpidato itu, 20 November 1995, dalam acara Panorama di BBC-1 TV almarhumah Putri Diana (1961-1997) menumpahkan keluh kesahnya. Terkait ulah perselingkuhan suaminya, Pangeran Charles dengan kekasih lamanya, Camilla Parker Bowles. “Terdapat tiga sosok dalam perkawinan ini, sehingga membuatnya menjadi begitu sesak,” ujar Diana.

Angka tiga dalam dunia literasi seringkali digunakan untuk memprovokasi keberadaan hal-hal ganjil. Sebagai kontras dari angka dua yang merupakan cerminan keadaan yang alami, seperti belahan dunia, anggota badan misalnya kaki, tangan sampai mata kita.

Sekadar contoh, dalam film War of The Worlds (2005), makhluk angkasa luar dan mesinnya dihadirkan sebagai sosok serba tiga : bermata tiga, berkaki tiga, sampai berjari tiga. Juru sihir dalam sandiwara Macbeth-nya Shakespeare, berjumlah tiga.

[Keajaiban tiga, yang bahkan berupa ancaman bagi rusaknya demokrasi di Indonesia akibat si tiga itu, akan diceritakan lanjutannya kemudian].


ke

Monday, September 28, 2009

Bir Obama, Polisi Korup dan Ketegasan SBY Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Polisi yang brutal. Polisi kulit putih dan profesor Harvard berkulit hitam hampir saja memicu berkobarnya sentimen rasial di Amerika Serikat.

Peristiwa itu bermula ketika Henry Louis Gates, profesor dari Universitas Harvard dibekuk oleh seorang polisi berkulit putih, Sersan James Crowley, ketika sang guru besar itu mau masuk ke rumahnya sendiri.

Aneh tapi nyata. Mengingatkan kasus yang menjadi contoh dalam bukunya Malcolm Gladwell, Blink : The Power of Thinking without Thinking (2005) : pemuda 20 tahunan, Amadou Diallo, keturunan Guinea tewas setelah digerebeg oleh empat polisi kulit putih di New York, 3 Februari 1999.

Apa kesalahan Diallo ? Tak ada. Ia hanya mencari angin segar malam itu di luar rumahnya. Malam yang membawa sial baginya, gara-gara keempat polisi yang sebenarnya tidak tergolong rasis, melakukan serial terkaan, critical misjudgment yang fatal, sehingga ia tewas.

Peristiwa ini memicu demo warga kulit hitam, termasuk akhirnya berhasil mengganti nama jalan lokasi kejadian itu. Semula adalah Wheeler Avenue dan digantikan menjadi Amadou Diallo Place. Peristiwa itu mengilhami penyanyi rock AS, Bruce Springsteen menciptakan lagu berjudul “41 Shots” yang dalam refrennya tergurat lirik : “You can get killed just for living in your American skin.

Bir perdamaian. Kembali ke masalah Gates versus Crowley. Kasusnya semakin memanas ketika Presiden Obama ikut berkomentar atas kejadian itu. Ia mengecam tindakan polisi yang gegabah. Langsung saja, komedian AS pun lalu ramai mengomentari peristiwa yang substansinya masih peka dalam sanubari rakyat Amerika.

Misalnya Bill Maher. “Maling macam apa yang hendak membobol rumah sambil membawa bagasi ? Itulah hal yang saya ingin tahu,” katanya. “Dan petugas polisi itu, Sersan Crowley bilang, bahwa Henry Louis Gate mengancam. Dan mengancam itu, yang ia maksud adalah : seorang berkulit hitam yang berpendidikan.”

obama's   beer summit,henry louis gates,james crowley,christian science monitor

Isu rasial lalu agak mereda ketika Presiden Obama mengambil prakarsa lanjutan, dengan mempertemukan keduanya, untuk mengobrol sambil minum bir di Gedung Putih (foto). Para komedian ribut lagi.

Komedian Conan O'Brien berkata bahwa dalam pertemuan perdamaian itu Obama menyuguhkan bir buatan Budweiser. Ledeknya kemudian : “Untuk mendorong semangat harmoni ras, pabrik bir Budweiser telah merubah julukannya. Dari semula King of Beers menjadi Martin Luther King of Beers.”

Lelucon tentang bir itu lalu menyikut sana-sini. Kali ini menyodok ingatan rakyat AS terkait peristiwa ketika George W. Bush yang pernah tersedak saat makan kue pretzel, seperti diungkap lagi oleh Conan O’Brien :

“Sungguh mengesankan, Presiden Obama menyuguhi Profesor Gates dan Sersan Crowley minuman bir dan pretzel. Pretzel. Ya, inilah saat kali pertama pretzel disuguhkan di Gedung Putih sejak kue itu menyerang Presiden Bush. Anda masih ingat, bukan ?.”

David Letterman menimpali : “Presiden Obama bukan satu-satunya presiden yang menikmati bir sesekali waktu. Bill Clinton juga. Menurut cerita, Bill Clinton masuk bar dan memesan segelas bir dingin. Lalu apa jawab sang pelayan ? ‘Oh, pulanglah, dan temui Hillary saja.’”

Andy Borowitz di kolomnya edisi 28/7/2009, ikut bergunjing bahwa hari minum-minum bir itu sebaiknya didaulat sebagai hari libur baru : Hari Minum Bir Bersama Seseorang Yang Anda Tangkap.

Untuk menjelaskan momen itu, Obama seperti direka-reka secara jenaka oleh Andy Borowitz, konon telah berkata kepada para wartawan : “Ketika kemarahan sedikit memuncak, maka akan selalu ada penolong agar seseorang mampu berpikir lebih rasional : bir.”

Presiden Obama berharap bahwa proklamasinya itu akan menggiring terselenggaranya pesta di seantero negeri yang melibatkan polisi dan orang-orang tidak bersalah yang baru saja mereka tangkap.

Lain di AS, lain di Indonesia. Pesta bir perdamaian di Gedung Putih itu mungkin sama sekali tidak pernah terdengar oleh telinga Presiden SBY. Bila saja ia mendengar, siapa tahu, Presiden SBY akan meneladani sikap Obama itu. Apalagi SBY yang temperamen budaya Jawanya masih kental dalam menjaga harmoni, sehingga mengesankan sebagai peragu, diharapkan mampu berlaku bijak dengan mengundang para petinggi Polisi dan KPK untuk bertemu dan minum-minum bersama.

Untuk mendamaikan konflik cicak melawan buaya.

Tetapi yang terpenting adalah menunjukkan ketegasan SBY di momen krusial ini. Dan bukan seolah tutup mata dan tutup telinga terhadap berubah-ubahnya sangkaan yang terkesan artifisial, seperti yang diajukan oleh polisi terhadap kedua pimpinan KPK yang mereka seret ke ranah hukum itu selama ini.

Ketegasan SBY kini disorot oleh nurani hukum bangsa ini. Saatnya ia menentukan secara jernih fihak mana yang menjadi biang kerok pengganjal angin perubahan aksi pemberantasan korupsi di negeri sarang para koruptor ini. Lalu dengan kuasanya, melakukan kebijakan untuk menghukum mereka yang sebenarnya bertindak korup. Tanpa pandang bulu !


Wonogiri, 28/9/2009

ke

Friday, August 28, 2009

Twitter Jenaka dan Konyol Ala Hoekstra

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humor liner (at) yahoo.com


pete hoekstra,twitter konyol

Politik dan Twitter. John McCain (73) nampak simpatik ketika tertawa. Dalam acara State of Union di CNN (2/8/2009) ia diwawancarai oleh John King tentang situasi mutakhir dunia perpolitikan di Amerika Serikat. Termasuk berkomentar mengenai mundurnya mitra bertarung dalam merebut kursi presiden AS, Sarah Palin dari jabatannya sebagai gubernur Negara bagian alaska.

Di bagian terakhir ia ditanya tentang akun Twitternya yang memiliki 1,1 juta pengikut. McCain, mantan capres Partai Republik dalam Pilpres 2008 itu berkata bahwa Twitter merupakan sarana yang hebat untuk berkomunikasi.

Saking hebatnya Twitter, di AS kini muncul istilah sindrom TMT : Too Much Twitter. Terlalu banyak ber-Twitter-ria. Sindrom ini bulan Juni lalu makan korban, yaitu Pete Hoekstra, senator Partai Republik dari Michigan.

Gara-garanya, ia menyombongkan diri ketika menulis pesan Twitter (foto). Ia katakan bahwa gerakan aktivis proreformasi di Iran yang gencar mengirimkan pesan-pesan Twitter ke seluruh dunia terkait Pilpres yang bermasalah ia klaim sama dengan apa yang dilakukan anggota Konggres dari Partai Republik yang berhasil menunda sidang tentang energi sampai Agustus ini.

Kontan saja, pesan idiotik Pete Hoekstra ini segera menjadi bulan-bulanan pengguna Twitter di Amerika Serikat. Istilah “To Hoekstra” kini memiliki definisi tersendiri, sebagai “rengekan yang menggunakan bahasa perbandingan dan keagungan yang berlebih-lebihan.”

Rumus komedi. Definisi terkait dengan pernyataan secara berlebihan itu klik dengan dunia komedi. Karena identik dengan salah satu kiat mengkreasi lawakan. Materi lawakan memang harus dibuat berlebihan bila ingin memicu ledakan tawa.

Salah satu contohnya adalah di bawah ini : jari yang tersentuh piring panas saja dibayangkan sama dengan penderitaan pahlawan Perancis, Joan of Arc, St (1412–1431) yang meninggal dibakar oleh tentara Inggris saat itu.

twitter joke

Beragam contoh lainnya dari pesan Twitter jenaka yang memakai rumus model Pete Hoekstra tersebut dapat Anda jelajahi dengan mengklik disini.

Anda segera tahu pula bahwa pesan-pesan jenaka itu juga memakai rumus universal dalam mengkreasi lawakan. Karena terdiri dari set up, jebakan, dan disusul dengan punchline, tonjokan, untuk mengundang tawa.

Tergiur dengan krida kreasi lawakan Twitter model Pete Hoekstra itu, yang dibatasi oleh 140 karakter saja itu, di bawah ini saya telah menulis beberapa untuk Anda.

Di Facebook kuunduh teks doa malam pertama Ramadhan tetapi aku malas membacanya. Aku copy-paste 99 kali saja agar aku tetap mendapat pahala

Satu bingkai kacamataku akan aku blok kertas hitam selama Ramadhan. Inilah caraku untuk mengurangi separo dosa saat menunaikan ibadah puasa

Memergoki anak-anak tak berpuasa aku mengkotbahinya tentang dosa dan neraka. Aku seperti Taliban atau pembom bunuh diri militan di Jakarta

Malam menjelang 17 Agustus kulkasku kosong dan aku kelaparan, membuatku merasa mirip derita para pejuang 45 saat merebut kemerdekaan

Ramai-ramai jalan santai keliling kampung saat 17 Agustusan membuatku merasa seperti pejuang yang bersatu saat berperang melawan Sekutu

Malam-malam kelaparan pulang dari begadang 17 Agustusan aku buka-buka kulkas dan ada donat plus pizza yang membuatku berteriak : Merdeka !

Cat rambut pirangku membuatku dimarahi guru.Saat mencucinya aku merasa seperti tentara KNIL Belanda yang terpaksa membelot ke kubu Indonesia

Dalam gelap aku sukses menampar nyamuk yang mendenging di kuping. Aku merasa seperti pejuang 45 yang berhasil menembak jatuh pesawat Belanda

Karena diare berat aku pakai WC umum kelamaan.Orang pd antri gedor-gedor pintu.Aku seperti Noordin M Top (?) dikepung polisi di Temanggung

Ide Pilpres Satu Putaran Denny JA terkenal dimana-mana. Tetanggaku ingin memakai jasanya saat ikut dalam pemilihan Ketua RT di kampungnya

Saat sakit gigi dokter memberiku obat penahan rasa nyeri. Aku tak mau meminumnya, takut seperti Michael Jackson menemui ajalnya

Teman-teman mengajakku latihan karate dan tinju. Aku tak mau karena takut bila kelak menjadi suami tabiatku seperti Pasha Ungu

Lebaran masih jauh, anak-anak tetangga sudah ramai membunyikan petasan. Aku seperti Ibrohim dikepung pasukan Densus 88 di Temanggung

Kamar dua kakakku lagi kosong dan aku bisa berpindah-pindah untuk menidurinya. Aksiku seperti Noordin M Top menghindari kejaran polisi

Aku mau kirim email protes ke ayahku karena uang jajanku dikurangi. Tetapi tak jadi karena aku takut diadili seperti Prita Mulyasari

Saat seorang diri di lift aku kentut tak bersuara.Baunya maut sekali.Aku seperti teroris dengan bom bunuh diri dalam perang kimia & biologi

Saat latihan renang aku gelagepan dan ditolong. Aku merasa bersama Leonardo di Caprio syuting film tentang kapal Titanic yang tenggelam

Di jalan aku menemukan sebungkus rokok dan membuangnya. Aku merasa seperti menolong banyak orang dari ancaman sakit kanker yang berbahaya

Saya memencet jerawat di pipi kiri. Saya jadi bisa merasakan saat foto SBY dijadikan latihan menembak teroris

Saat menyeterika, tanganku tersentuh besi panasnya. Aku jadi tahu rasanya menjadi korban bom teroris laknat di Kuningan itu

Temanku curang saat main kartu. Aku jadi tahu mengapa Mega-Prabowo dan JK-Wiranto ngotot menggugat keabsahan Pilpres yang lalu

Kerikil memasuki sepatuku yang bolong solnya. Aku jadi tahu perasaan SBY hari-hari ini terkait sengketa hasil Pemilu

Aku ketahuan curang beli permen di toko. Aku merasa seperti mahasiswa ITB yang tertangkap jadi joki seleksi mahasiswa baru tahun ini

Masa aktif HPku hampir habis saat tak punya uang untuk beli pulsa. Aku bisa merasakan bila negara kita berhutang pada IMF dan Bank Dunia

Apabila Anda ingin berteman dalam Twitter dan mengikuti lelucon model Hoekstra, silakan klik saja disini. Terima kasih.

Wonogiri, 29/8/2009

ke

Wednesday, July 22, 2009

Naisbitt dan It’s a Comedy, Stupid !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Miing, masihkah dia mengingat nama John Naisbitt ? Pelawak dari kelompok Bagito yang sudah bubar itu di tahun 1999, sepuluh tahun lalu, pernah sesumbar yang seolah menunjukkan bahwa bacaannya termasuk buku-buku karya futuris John Naisbitt kelahiran Utah, Amerika Serikat itu.

“Makanya jangan kaget, kalau pelawak pun tak salah membaca Alvin Toffler, Machiavelli, atau malah John Naisbitt”, kata si empunya nama asli Tubagus Dedi Suwandi Gumelar atau yang bernama komersial Miing Bagito.

Pernyataan dan omongan “kelas atas” ini termuat dalam wawancara yang dilakukan oleh wartawan Kompas Retno Bintarti, Agus Hermawan dan Rudy Badil, dan dimuat dalam Harian Kompas, 10 Oktober 1999.

Miing, ketika dirinya kini menjadi politisi, masihkah dia mengingat nama John Naisbitt tersebut ? Sekaligus isi buku-bukunya, terutama yang terbaru, Mind Set ! (2007), akankah menjadi panduan isi otaknya sebagai seorang politisi ? Pertanyaan ini menurut saya relevan diajukan.

Karena dulu, seingat saya sebagai penonton yang jelek untuk tayangan komedi di televisi, Miing dan kawan-kawan sepertinya tak pernah melawak yang materinya ada bau-bau isi buku, baik karya Toffler, Machiavelli atau John Naisbitt tadi.

Bahkan saya juga tidak pernah ingat apakah ia pernah mempraktekkan asas wajib self-deprecating yang lajim dilakoni para komedian terkenal dan intelektual. Misalnya dengan mengolok-olok kekurangan dirinya sendiri, termasuk melucukan pendidikannya di STM atau MBA (?)-nya. Saya memang penonton yang jelek untuk sajian komedi di televisi kita. Hingga saat ini.

Yang saya ingat, Miing suka bicara yang tinggi-tinggi. Mungkin karena hal itu ia sukses kini menjadi politisi. Melalui jalur PKS gagal, lalu berpindah partai, sehingga kini sukses melalui jalur PDIP untuk berkiprah di Senayan. Selamat bertugas menjadi politisi.

Semoga saja ia kelak mampu mengikuti jejak dan kiprah jenaka sekaligus cerdas dari Al Franken, komedian AS yang kini menjabat sebagai senator Partai Demokrat dari Minnesota.

Al Franken menjadi sorotan media baru-baru ini ketika melakukan hearing terkait proses pengangkatan hakim agung Sonia Sotomayor. Larry Neumeister, wartawan hukum kantor berita Associated Press dan sebagai trained comedian itu, menyebutkan bahwa aksi Al Franken dalam menginterogasi Sotomayor telah menerapkan comedic techniques (for) serious business dengan hasil bahwa : Al Franken memperoleh tawa besar di ujung sesinya.

Ia secara jitu memakai jurus yang oleh kalangan komedian disebut sebagai callback, keputusan untuk mengulang kembali subjek yang sebelumnya telah mengundang tawa dengan harapan memperoleh sambutan bahak yang lebih meledak lagi. Al Franken sukses dengan jurus callback itu.



[Maaf, tulisan ini belum selesai. Harap maklum].

ke

Wednesday, July 08, 2009

Pilpres 2009, Tirai Akhir Karier Politik Mega !

And now, the end is near
And so I face the final curtain

Frank Sinatra, “My Way.”


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Dilema kita semua. “Ketika saya memasuki bilik suara,” demikian kata kartunis Amerika Serikat, Mike Peters, sebagaimana dikutip koran Wall Street Journal 20/1/1993, “apakah saya harus memilih seseorang yang terbaik untuk menjabat sebagai presiden ?

Ataukah memilih seember belangkrah yang membuat hidup saya sebagai kartunis menjadi lebih makmur dan indah ?”

Dilema di atas, tabrakan kepentingan antara pilihan untuk bangsa atau untuk motif keuntungan pribadi, apakah juga menghantui isi kepala warga komunitas komedi di Indonesia saat berlangsung Pilpres 2009 ini ? Saya tidak tahu. Tetapi dari hasil perhitungan cepat yang menunjukkan kemenangan SBY-Boediono, seharusnya warga komunitas komedi Indonesia berduka.

Karena kemenangannya itu membuat panggung politik Indonesia serasa kehilangan sosok yang lebih warna-warni, yang selama ini nampak potensial dijadikan sebagai sasaran tembak kaum komedian. Dunia komedi masa depan Indonesia akan merasa kehilangan Megawati, Prabowo, Jusuf Kalla dan juga Wiranto. Apa pasal ?

Megawati, misalnya. Di situs Huffingtonpost.com (7/7/2009) ia menjadi sasaran pendapat “yudzz88” yang berbunyi : ”A vote for Megawati is a vote for Sarah Palin and Pauline Hanson.”

Anda tahu Sarah Palin ?
Juga si rambut merah, Pauline Hanson, tokoh ultranasionalis dari Australia ?


Bulan-bulanan komedian. Sarah Palin adalah Gubernur Alaska, AS. Ia calon wakil presiden yang mendampingi calon presiden John McCain dari kubu Partai Republik dalam Pilpres AS 2008. Palin terkenal sebagai objek ejekan karena antara lain pernah bilang dari depan rumahnya ia bisa melihat Rusia.

Tak ayal ketika saat ini Presiden Obama sedang berada di Rusia, komedian David Letterman (“musuh bebuyutan Sarah Palin”) meluncurkan tembakan : “Presiden Obama sedang di Rusia. Dan kita tahu hal itu karena Sarah Palin berkata ia dapat melihat Obama dari rumahnya.”

Komedian Conan O'Brien ikut menimpali : "Presiden Obama saat ini berada di Rusia. Obama pergi ke sini sebab dari Rusia Anda benar-benar dapat melihat Sarah Palin sedang mengemasi barang-barang untuk segera keluar dari kantornya di Alaska."

Sarah Palin, memang bikin kejutan baru-baru saja ini. Ia mengundurkan diri sebagai gubernur Alaska, konon mempersiapkan diri sebagai capres 2012. Kontan komedian Andy Borowitz pun menulis dalam kolom fake news-nya yang terkenal, The Andy Borowitz Report :

“Begitu Sarah Palin mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya, komedian (AS) dari pantai barat sampai timur berjajar apel siaga membawa lilin sebagai tanda berduka yang oleh seseorang komedian disebut sebagai a devastating loss, kehilangan yang teramat besar sekali.”

“Mengatakan bahwa kami patah hati merupakan pernyataan yang sangat merendahkan,” timpal Shecky Sheinbaum, komedian dari klub komedi Laugh Hut di Cincinnati. “Saya seperti ayam yang melintas di jalan, lalu terlindas truk sebelum saya sampai ke seberang.”

Pernyataan Sheinbaum itu mengulang kata banyak komedian AS bahwa, “dunia komedi kehilangan salah satu sasaran terbesarnya. Kita akan mengalami masa-masa susah dalam jangka waktu lama. Pertama, kita kehilangan Michael Jackson, sekarang dia.”

Selamat jalan, Mega. Indonesia kini juga kehilangan. Kehilangan Megawati Sukarnoputri. Dalam Pilpres 2009, ia hanya nampak dominan di Bali dengan warna merahnya. Tetapi pada sebagian besar propinsi di Indonesia lainnya, warna biru, warna pasangan SBY-Boediono ibaratnya sebagai landslide yang mengubur para pesaingnya.

Kita saksikan misalnya, Jusuf Kalla di propinsi asalnya, Sulawesi Selatan, tidak juga unggul mutlak atas SBY-Boediono. Silent revolution a la SBY benar-benar meruyak ke seluruh Indonesia. Termasuk Nanggroe Aceh Darussalam yang semula diperkirakan menjadi pendulang suara bagi JK, tokoh yang gencar mengklaim sebagai pemrakarsa utama perdamaian di Aceh. Tetapi rakyat Aceh rupanya melihat adanya sosok Wiranto yang mantan jenderal sebagai mitra JK, membuat rakyat Serambi Mekah itu lebih memilih SBY-Boediono.

Mari kita bersangka baik untuk masa depan mereka-mereka yang kalah. Megawati, seperti lirik awal lagu kesayangannya, My Way-nya Frank Sinatra, harus legawa bahwa era tutup layar sekarang ini benar-benar menjadi kenyataan dalam karier politiknya. Selamat jalan, Mega.

PDIP harus segera mencari tokoh baru. Juga memakai gaya dan bahasa yang baru pula. Slogan pro-rakyat sampai pakaian mitranya Prabowo yang bergaya mentah-mentah mengimitasi ayahnya Soekarno, hanya menjadi sebuah relik yang tidak menjual lagi di era blog dan Facebook seperti saat ini.

Mau atau tidak mau, PDIP harus berubah. Karena rakyat Indonesia telah memutuskannya. Ketegaran Mega ketika kalah di Pilpres 2004, yang tetap kuat mendorongnya untuk berjuang tetapi tetap kalah lagi di tahun 2009 ini, sudah saatnya berubah menjadi sikap kenegarawanan yang sejati.

Menjadi lebih arif sebagai guru bangsa. Mega yang pernah juga menyatakan diri sebagai humoris, kini tiba saatnya pula untuk lebih terbuka sebagai manusia. Sering-seringlah kini melakukan self-deprecating, legawa untuk menertawai kekurangan dirinya. Insya Allah, humor akan mampu menyembuhkan lukanya, juga luka-luka pengikut fanatiknya yang kecewa.

Bagasi masa lalu. Majalah asing pernah menulis, sebelum momen reformasi meletus, dikabarkan bahwa Mega gemar belajar bahasa Spanyol secara otodidak. Ia bercita-cita merangkul bangsa Amerika Latin. Sementara dalam kajian psikografi, ia digambarkan tidak punya daya tahan lama untuk berpikir hal-hal yang rumit. Sumber lain lagi mengatakan, ia hanya suka menonton film-film kartun. Mungkin film kartun berbahasa Spanyol ?

Tes kita : menyambut perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-64 mendatang, 17 Agustus 2009, apakah Mega tetap tidak akan hadir di Istana Negara seperti ketika SBY memerintah selama ini ? Jangan keburu menvonis ketidakhadiran Mega itu sebagai cerminan sikap kenegarawanan yang rendah. Mungkin saja, mungkin, di hari itu di televisi sedang ditayangkan film-film kartun Spanyol favoritnya.

Kembali kepada Mike Peters, sosok kartunis AS dalam awal tulisan ini. Mungkin kita bisa memberinya nasehat : bila saja ia warga negara Indonesia dan ingin karier kartunisnya makmur dan indah, di bilik suara nampaknya Mike Peters cenderung mencontreng untuk Mega.

Nampaknya lagi, ia tidak sendirian. Karena sebagian pelaku dunia seni Indonesia juga melakukan hal yang sama. Misalnya, mungkin saja Butet Kertaradjasa, Rendra, bekas pelawak kini jadi politisi PDIP Miing dan artis-aktivis yang juga berubah jadi politisi, Rieke Dyah Pitaloka. Ternyata merujuk pada hasil perhitungan cepat, pilihan mereka salah. Mereka kalah.

Tetapi kekalahan itu justru membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi ? Semoga. Lima tahun mendatang. Semoga. Antara lain, utamanya, karena sosok-sosok yang membawa sisa-sisa bagasi besar berisi kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu kini berpeluang tidak wira-wiri lagi di panggung politik Indonesia. Syukurlah, rupanya rakyat Indonesia tidak lupa, walau segencar apa pun bujukan dalam keindahan patriotisme pada bungkus iklan-iklan mereka.

Walau pun demikian, pekerjaan rumah kita masih banyak. Termasuk bagi kaum komedian Indonesia. Mereka mau tak mau harus terus mengasah pisau humornya untuk lebih tajam dan lebih intelektual lagi.

Pasalnya, sosok SBY-Boediono yang kelihatan santun itu, relatif lebih susah untuk dijadikan sebagai sasaran tembak olok-olokan kita. Apalagi dalam masa pengabdiannya SBY yang terakhir, ia tidak bisa maju lagi di tahun 2014, godaan bagi diri dan keluarganya untuk menjadi tiran sangat besar sekali !

Komedian Indonesia, rakyat Indonesia, mulai panaskan lagi mesin-mesin kritismu !


Wonogiri, 8-9/7/2009

ke

Thursday, July 02, 2009

Pilpres 2009 : The Good, The Bad and The Ugly

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Politik goblog dan degil. Anda kenal nama Jimmy Wales ? Tidak ? Saya maklum. Tetapi Anda mengenal Wikipedia ?

Jimmy Wales adalah penemu ensiklopedia dunia maya, Wikipedia tersebut. “Saya bukan orang yang cakap dan orang yang mampu menjelaskan mengapa Wikipedia itu berhasil. Para kontributor Wikipedia itulah yang mengetahui,” katanya kepada Ethan Zuckerman dengan rendah hati.

Jimmy Wales kemudian melontarkan gagasan revolusioner berikutnya. Ia berambisi memperbaiki kehidupan politik. Kembali, memakai metode wiki juga. Mungkin ide ini ide edan, tetapi Ethan Zuckerman berpendapat bahwa Jimmy Wales telah jitu dalam membidik problem utama dalam perpolitikan selama ini, yaitu tentang bagaimana warganegara memperoleh informasi mengenai beragam isu dan tentang para kandidat.


“Media broadcast (selama ini) membawa kita ke politik broadcast. Secara gampangan dan terus terang tentangnya, baik itu kubu kanan atau kiri, kubu konservatif atau liberal, politik broadcast itu dungu, goblog dan degil Broadcast politics are dumb,dumb, dumb !,” tegas Jimmy Wales. [Untuk info lebih lanjut tentang isu krusial ini silakan klik disini].


Menjaga harmoni. Saya tidak tahu apa juga demikian pendapatnya tentang lima seri debat capres-cawapres di Indonesia di Pilpres 2009 ini. Tetapi yang paling banyak menyeruak adalah keluhan betapa audiens tidak memperoleh pembeda yang jelas dan tajam dari pembeberan visi-misi antara satu kandidat dengan kandidat lainnya.

Rekan-rekan sesama bangsa Indonesia, itulah Indonesia kita. Simak analisis Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, yang menarik ketika mengungkap jati diri bangsa kita, walau dalam hal ini terkait dengan sepakbola.

Dalam artikel berjudul "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia memakai pisau bedah dari perspektif budaya dan politik untuk menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Ditilik dari kajian budaya, Indonesia kuat dipengaruhi budaya suku mayoritas, Jawa. Budaya Jawa memiliki pandangan ketat mengenai pentingnya keselarasan. Perasaan yang terinternalisasi secara mendalam dalam jiwa orang Jawa adalah kepekaan untuk tidak dipermalukan di muka umum. Perasaan demikian memupuk konformitas, pengendalian tingkah laku dan menjaga ketat harmoni sosial. Konflik yang terjadi diredam sekuat tenaga.

Reaksi normal setiap orang Jawa dalam menanggapi konflik adalah penghindaran, wegah rame, dan mediasi oleh fihak ketiga. Apabila meletus konflik, terutama ketika saling ejek dan saling hina terjadi, maka yang muncul adalah perasaan malu dan kehilangan muka. Para kandidat itu rupanya tidak tega untuk sampai ke tahap konflik semacam ini. Sehingga tak ayal kepala berita di media massa nasional tentang peristiwa di televisi itu sebagai “debat tanpa perdebatan.”

Film koboi. Rekan-rekan bangsa Indonesia, ijinkanlah saya membantu. Kalau Anda belum mampu menjatuhkan pilihan untuk kandidat yang tertentu, ikutilah akal sehat atau naluri dasar Anda.

Untuk calon wakil presiden, simak rekam jejak mereka terkait dengan hak asasi manusia di Indonesia. Kemudian pilihlah mereka sesuai judul film koboi Clint Eastwood yang terkenal itu : the good, the bad, and the ugly.

Untuk calon presiden, Anda bebas memilih : apakah kandidat yang lelaki, atau yang perempuan, atau yang banci !


Pilpres satu putaran. Untuk menghemat biaya, juga agar pemerintahan yang terpilih segera bekerja, kubu SBY-Boediono gencar mengembuskan wacana agar Pilpres 2009 dapat berlangsung dalam satu putaran. “Apakah kampanye semacam itu mencerminkan sikap seseorang yang menjunjung tinggi demokrasi ?,” demikian serang kubu Jusuf Kalla-Wiranto. Siapa yang benar ?

Sesudah tangggal 8 Juli 2009 kita baru akan memperoleh bukti. Tetapi merasa memperoleh inspirasi yang kuat dari apa yang terjadi di Iran, kubu incumbent terus menggencarkan isu pilpres satu putaran. Bahkan seperti ujar komedian David Letterman bahwa Mahmoud Ahmadinejad telah mengaku menang besar dengan perolehan suara hingga 148 persen, kubu SBY-Boediono juga berkeyakinan serupa.

Kunci untuk meraih sukses spektakuler itu dengan memacu keras kinerja partai koalisi sayap kanannya, yaitu PKS. Apalagi sebelumnya ucapan salah satu pimpinan PKS yang mempersoalkan istri capres-cawapres yang mereka dukung tidak mengenakan jilbab, dianggap melemahkan kinerja mesin politik partai yang gemar tampil mengusung warna putih-putih itu. Kini dukungan dari PKS harus dimaksimalkan.

Tim sukses SBY-Boediono yang terkenal dengan aksi silent revolution itu segera bergerak diam-diam. Mereka embuskan isu ke seluruh jajaran anggota partai PKS, bahwa agar warga PKS sepenuh hati mendukung sukses pilpres satu putaran untuk kemenangan SBY-Boediono, dikabarkan SBY telah mengganti namanya dengan SBYA. Susilo Bambang Yudhoyono Ahmadinejad.


Inspirasi Michael Jackson. Apakah penyanyi legendaris MJ yang konon berganti nama menjadi Mikhail itu akan dimakamkan secara Islam ? Di Neverland ? Apakah hal itu juga tertulis dalam surat wasiatnya, selain ia menyebut-nyebut nama penyanyi Diana Ross yang ia pilih untuk membesarkan ketiga anaknya bila ibunya tidak sanggup mengasuhnya ?

Bila Anda penasaran, ikutilah terus program Larry King Live di CNN. Termasuk berita mengenai tiga album lagu-lagu lama MJ yang melonjak, dan kini menempati peringkat teratas. Album-album itu menggusur album Black Eyed Peas yang semula nangkring di tangga Billboard yang pertama.

MJ memang fenomenal. Kemasyhurannya yang meroket bahkan ketika ia meninggal dunia telah menjadi inspirasi kubu JK-Wiranto dalam menggebrak kampanye mereka di tahap akhir ini. Wiranto yang pandai menyanyi nampak menggembleng keras agar JK segera pula pintar menyanyi. Mereka berencana mengeluarkan album yang akan diputar selama minggu tenang nanti.

Judul albumnya :”Relakan MJ Pergi.Sambut Kini MJK Sebagai Pengganti.”


SBY Presidenkuuuuu.. “Lagu-lagu pop manis, sweet song, sesuai dengan gaya politik Partai Demokrat,” demikian kata SBY di depan pendukungnya di tahun 2007 ketika berkonsolidasi menuju Pilpres 2009.

Itulah sekelumit catatan wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, yang sejak lama mengikuti aktivitas sehari-hari presiden SBS dalam blognya. Lanjutnya, bahwa “gaya politik pak BY dan demokrat adalah gaya politik yang manis seperti lagu-lagu pop manis kegemaran Pak BY..Karena itu, jarang mendapati pernyataan-pernyataan bersifat menyerang atau provokatif dari pak BY atau Partai Demokrat kepada lawan politik atau kompetitornya.”

Terima kasih, Mas Inu. Berdasar rujukan itu, apakah lagu “manis” yang aslinya merupakan jingle iklan mi instan dan lalu dipakai untuk kampanye di televisi itu, sebenarnya merupakan ide dan pilihan SBY pribadi ? Anda silakan menebak.

Tetapi menurut Kompas, penggagas ide lagu mi instan itu adalah Choel Mallarangeng. Ia yang termuda di antara tiga sosok Mallarangeng yang pimpinan FoxIndonesia, biro jasa penanggung jawab kampanye kubu SBY-Boediono.

Iklan itu konon berdampak luar biasa. Presiden Obama dikabarkan meminta bantuan FoxIndonesia untuk mengarang lagu guna kampanyenya pada tahun 2013 mendatang. Presiden Iran yang baru-baru ini terpilih kembali secara kontroversial, Mahmoud Ahmadinejad, merencanakan juga meminta lagu darinya untuk senjata memenangkan pilpresnya yang ketiga.

Konon kubu Choel Mallarangeng segera bergerak cepat. Ia dikabarkan segera memperoleh lisensi dari Sony Corporation untuk menggunakan lagunya Michael Jackson. Isi lirik lagu itu akan digunakan sebagai ilham bagi polisi dan anggota milisi garda revolusi dalam membubarkan aksi kubu reformis yang berunjuk rasa :

But my friend, you have seen nothin'
just wait 'til I get through...

Because I'm bad, I'm bad, come on
You know I'm bad, I'm bad, you know it
You know I'm bad, I'm bad, come on, you know

Sementara itu kalangan lobi bisnis gandum internasional, International Wheat Flour Consortium (IWC) yang berbasis di Brussel, menganugerahi bintang tertinggi kepadanya. Dalam situs webnya tertulis pernyataan :

“Sesuai keluhuran dari asas-asas ekonomi neoliberal, ia kami anggap telah berjasa memasukkan ide-ide baru sampai gaya hidup baru bagi ratusan juta penduduk Indonesia pada momen yang sangat menentukan, agar mereka semakin akrab dengan diversifikasi produk-produk gandum yang terbuka untuk diolah dan disajikan secara kreatif dan bergengsi, yang oleh karenanya dengan pelahan tetapi pasti mendorong warga meninggalkan konsumsi beras, sagu, jagung dan umbi-umbian, sehingga semakin meningkatkan homogenitas sumber makanan tunggal di masa depan bagi bangsa Indonesia yang pada akhirnya membuka peluang lebih prospektif bagi bisnis kami di masa depan.”

Badan internasional lain juga memberi penghargaan serupa. Misalnya Brakot Burgers Brotherhood International (BBBI), World’s Chicken Noodle Enthusiasts (WCNE), White Wheat Wagon (WWW), Italiano Spaghetti Clandestino (ISC) sampai Malaysian’s Mihon Maniacs (MMC).

Night at the Museum. Bagaimana aksi kubu Mega-Prabowo ? Dikabarkan mereka akan meluncurkan dua film untuk menyukseskan kampanyenya. Film pertama adalah cerita klasik yang menjadi film seri di televisi tahun 1987, Beauty and The Beast. Si Cantik dan Si Buruk Rupa. Si Jelita dan Si Buasas.

Kisah yang juga konon menjadi ilham bagi buku terkenal Women Who Love Too Much (1985, foto di atas) karya Robin Norwood itu berisikan angan-angan utopis seorang perempuan yang bersenjatakan cinta, juga penderitaan, yakin dirinya mampu mengubah perangai buruk pria yang ia cintai untuk menjadi pria berkepribadian lebih baik.

Film kedua yang direncanakan diproduksi oleh kubu Mega-Prabowo adalah Night at the Museum III. Seri pertama dan kedua film ini dibintangi Ben Stiller diproduksi tahun 2006 dan 2009. Film campuran komedi dan fiksi-ilmiah ini menceritakan tentang seorang duda, yang pengangguran, dengan satu anak lelaki yang tidak begitu menaruh hormat kepadanya, terjun dalam petualangan yang mendebarkan.

Ia menerima pekerjaan tidak bergengsi, sebagai penjaga malam suatu museum. Keajaiban terjadi, ketika isi museum itu menjadi hidup di malam hari. Ada singa berkeliaran, ulah kera julig, Tyranosaurus Rex yang mengajaknya main-main, sampai boneka tokoh koboi kuno Jedediah yang berantem melawan boneka panglima tentara Romawi, Octavus.

Mengulang alur cerita di seri pertama, tokoh penjaga malam itu akhirnya mampu mengatasi masalah berkat nasehat dari boneka lilin yang hidup, yaitu tokoh presiden AS ke 26, Theodore Roosevelt (1858–1919). Dalam Night at the Museum III, tokoh presiden yang kembali hidup, tentu saja, adalah Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Juga mereka yang hilang akibat diculik atau terbunuh menjelang meletusnya reformasi tahun 1998, semuanya, sungguh ajaib, bisa hidup kembali. Almarhum Hery Hartanto, Elang Mulyana, Hafidin Royan dan Hendriawan Lesmana yang terenggut nyawanya di Universitas Trisakti, juga mahasiswa lainya di insiden Semanggi I-II, semuanya hidup kembali.

Tokoh-tokoh masa lalu itu, yang sebelumnya dalam beberapa hal berseberangan atau berseteru, kini menjadi rukun. Mereka semuanya bersatu-padu, bahu-membahu, bekerja sama berusaha memenangkan kandidat Megawati-Prabowo dalam Pilpres 2009.

Orang-orang presiden. Kubu SBY-Boediono tak mau kalah dalam menggunakan film sebagai kampanyenya. Mereka telah memperoleh ijin kontrak untuk membuat sekuel film yang melambungkan nama dua wartawan dari The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein, All the President's Men (1976).

Kalau dalam versi aslinya dikisahkan kedua wartawan itu berhasil mengungkap aksi rahasia kubu Partai Republik yang menyadap gedung Watergate yang pusat aktivitas Partai Demokrat AS saat itu, cerita film versi kubu SBY-Boediono itu lebih seru. Intinya terpusat kepada gerak-gerik aktivitas tiga pembantu setianya, yaitu Andi Mallarangeng, Rizal Mallarangeng dan Choel Mallarangeng.

Termasuk berita heboh terakhir tentang mereka, bahwa di Makassar muncul demo besar yang mencekal Mallarangeng Bersaudara. Andi Mallarangeng dituding mengucapkan kalimat bermuatan SARA yang dinilai merendahkan sukunya sendiri. Dirinya dilarang menginjakkan kaki di tanah kelahiran ayah-ibunya, di Makassar, sebelum meminta maaf kepada masyarakat yang didominasi warga Bugis itu atas ucapan yang dilontarkan Andi sebelumnya.

Konon akhir film ini menunjukkan Mallarangeng Bersaudara minta suaka. Ada tiga alternatif. Ke Grobogan, Purwodadi, tempat almarhum ayahnya pernah menjabat sebagai bupati. Ke Yogya tempat Andi dan Rizal berkuliah sekaligus memperoleh istri. Atau alternatif ketiga : di kota bossnya berasal.

Pacitan.


Wonogiri, 3/7/2009

ke