Thursday, December 09, 2010

30 Desember 2010 : Hari Humor Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


"Narcoleptic."
Julukan majalah The Economist untuk Gus Dur.

Itu terkait kebiasaan Gus Dur yang nampak tertidur dalam suatu acara, tetapi begitu terbangun dirinya mampu menjawab secara tajam segala hal-ihwal yang ditanyakan para wartawan.

Paparan di atas tercakup dalam tulisan obituari majalah tersebut, yang ditulis setahun lalu itu. Tulisan itu membuat saya sadar betapa sangat sedikit yang telah saya ketahui tentang Gus Dur.

Kesadaran tersebut meruyak ketika saya memperoleh SMS (9/12/2010) dari Yogyakarta. Dari pengirim yang tidak saya kenal.

Nama pengirimnya : Sudaryanto. Mahasiswa S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. Rupanya ia menemukan blog saya ini. "Kebetulan saya sedang menulis tesis tentang wacana humor Gus Dur. Kapan-kapan saya silaturahmi dengan panjenengan," tulisnya.

Saya terenyak.

Rasanya tidak banyak yang saya ketahui dari humor-humor Gus Dur. Saya hanya langsung teringat peristiwa yang terjadi pada tahun 1986. Tidak bosan saya selalu mengulang cerita ini, ketika memergokinya di toko buku Gramedia Blok M, tepatnya tanggal 25 Oktober 1986. Saat itu Gus Dur memberi saya sebuah riddle, teka-teki, cangkriman yang menjurus.

Di halaman dalam buku karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions : Over 550 Subjects to Help You Entertain, Insult, and Amuse Any Audience (1980), buku yang saya beli saat itu, saya tuliskan cangkriman Gus Dur tersebut :

"Rambut wanita MANA yang paling lebat, paling hitam dan paling keriting ?" Itu tanya Gus Dur kepada saya.

Saya langsung tergelak. Sekaligus wajah saya pasti nampak bodoh, karena saat itu saya memang tidak tahu apa jawaban yang pasti. Syukurlah Gus Dur segera menimpali :

"Rambut wanita Papua Nugini."

Saya kembali tergelak. Kini lebih keras. Beberapa pasang mata langsung nampak mencereng ke arah saya. Saya tak peduli. Sebelum berpisah, saat itu Gus Dur masih juga memberikan teka-teki dan misteri kepada saya. Melalui ujaran : "Hanya kita-kita saja yang masih waras."

Teka-teki ini baru saya ketahui maknanya belasan tahun kemudian. Jawaban dari teka-teki itu, kini menjadi bagian dari isi buku saya yang baru terbit, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010).

Sibuk memoles citra. Isi artikel obituari majalah bisnis Inggris ternama itu juga menampilkan cerita tentang kewarasan beliau sebagai insan. Waras yang ia maksudkan adalah keberanian dan ketulusan untuk menunjukkan, dan bahkan melucukan kekurangan dirinya sendiri.

Benar-benar sebuah kualitas keluhuran yang langka ditemui di antara pemimpin-pemimpin kita masa kini. Karena mereka selalu nampak sibuk mempraktekkan strategi kehumasan untuk memoles diri, agar selalu tampil kinclong dan sempurna di muka rakyatnya.

Kewarasan Gus Dur itu tegas mencuat dan menginspirasi ketika dirinya dipaksa lengser dari kursi kepresidenan di tahun 2001. Saat ditanya wartawan apakah hal itu akan disesalinya, dengan enteng Gus Dur menjawab : "Sama sekali tidak. Saya lebih menyesal ketika saya kehilangan 27 rekaman Simfoni Kesembilan dari Beethoven."

Bahkan begitu lengser Gus Dur segera memberi kabar kepada para wartawan : "Mulai esok, saya akan menceritakan lelucon-lelucon lagi."

Presiden RI ke-4 yang oleh Bill Clinton dijuluki sebagai presiden paling lucu di dunia itu meninggal dunia dalam usia 69 tahun.Tanggal 30 Desember 2009.

Delapan tahun sebelumnya, 30 Desember 2001, pelawak Dono Warkop, juga meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Adakah kesamaan tanggal meninggal ini hanya sebagai suatu kebetulan belaka ?

Bagi saya, hal itu ternyata mampu menerbitkan gagasan. Bahwa untuk mengenang keduanya, dan demi menunjang kemajuan dunia humor Indonesia sebagai pilar penjaga kewarasan nurani bangsa, bersama ini dengan rendah hati mengusulkan agar tanggal 30 Desember diproklamasikan oleh para pencinta humor Indonesia sebagai hari bersejarah.

Hari Humor Nasional.
Atau Hari Humor Indonesia.

Dengan harapan, di momen tersebut makna luhur humor bagi kemanusiaan dapat kita kemukakan.
Kita renungkan.
Kita rayakan.
Juga kita reguki kedahsyatannya.

Sambil merujuk beberapa ucapan bernas berikut ini tentang humor, maka kita semoga semakin yakin betapa humor pantas sekali sebagai harta jiwa yang senantiasa kita perjuangkan sebagai bekal bangsa Indonesia dalam mengarungi peradaban.

"Humor is mankind's greatest blessing."
Humor merupakan rahmat terbesar bagi kemanusiaan.
- Mark Twain

"If I had no sense of humor, I would long ago have committed suicide."

Apabila saya tidak memiliki sense of humor maka saya telah melakukan bunuh diri pada waktu yang telah lalu.
- Mahatma Gandhi

"Humor is something that thrives between man's aspirations and his limitations. There is more logic in humor than in anything else. Because, you see, humor is truth. "

Humor merupakan sesuatu yang tumbuh subur di antara aspirasi manusia dan keterbatasannya. Terdapat lebih banyak logika pada humor dibanding hal-hal lainnya. Karena seperti Anda tahu, humor adalah kebenaran.
- Victor Borge

"When humor goes, there goes civilization."
Ketika humor lenyap, lenyap juga peradaban.
- Erma Bombeck

"You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it."

Anda mampu mengubah keadaan yang penuh penderitaan dengan humor. Apabila Anda mampu menghumori segala hal, bahkan kemiskinan, Anda akan mampu bertahan.
- Bill Cosby


Refleksi tutup tahun. Terlebih lagi momen yang mendekati tutup tahun itu merupakan waktu yang tepat bagi warga bangsa ini untuk berefleksi. Untuk menyadari kekurangan-kekurangan diri sendiri. Dan kemudian bersepakat menancapkan tekad untuk berbuat yang lebih baik di tahun depan yang siap dijelang.


Wonogiri, 10 Desember 2010

PS : Terima kasih kepada Basnendar HPS, kartunis dan desainer logo dari ISI Surakarta, yang telah bersedia merancang logo sebagai tetenger atau paraf visual untuk Hari Humor Nasional 2010.

Tuesday, December 07, 2010

Petisi Darminto, PASKI dan Mutu Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


PASKI.
Persatuan Seniman Komedi Indonesia.
Ketua Umum : Indro Warkop.
Sekretaris Jenderal : Miing Bagito.

"Jujur saja, selama periode kepengurusan mereka, saya belum melihat atau mendengar ada sesuatu yang penting dicatat, sebutlah tonggak atau jejak yang penting bagi peningkatan kualitatif SDM pelawak kita."

Penilaian di atas itu telah disampaikan oleh Darminto M Sudarmo (foto) dalam catatan di akun Facebooknya (7/12/2010) yang berjudul Menjadi Pelawak, Enak atau Tidak Enakkah?

Judul artikel itu mungkin dibuat agar provokatif bagi pembaca, walau senyatanya topik tulisannya menukik ke hal yang lebih fundamental. Karena sarat berisi gugatan dirinya tentang kondisi dunia komedi kita saat ini.

Dengan tajam mantan pemimpin redaksi majalah HumOr ini mengungkap meruyaknya pola pikir kalangan pelaku dunia komedi kita yang pada umumnya mencampuradukkan kualitas karya dengan kualitas dalam parameter dagang.

"Di dalam parameter dagang, apa yang disebut bagus, bermutu adalah yang DISUKAI atau BISA MEMUASKAN konsumen. Di sinilah paradoks itu terjadi. Silang sengkarut pendapat merebak, salah paham, saling menafikan dan mau menangnya sendiri tak terelakkan lagi," tandasnya.

Bahkan ia pun merujuk ucapan Miing misalnya : "Eh, kalau dengan begini lawakan gue udah laku, ngapain sih repot-repot mikirin yang aneh2 dan belum tentu laku."

Pesan penting lainnya yang ia gelar adalah wacana mengenai kerasnya pergulatan seniman, seniman apa pun termasuk kreator komedi, dalam proses penciptaan karya-karya yang unggul.

Ia merujuk contoh kartunis andal kita, G.M. Sudarta, di mana "di balik tiap karya kartun/karikatur yang bagus, berjejer rak-rak buku tebal yang memaksa si kartunis rajin-rajin menyimak dan menelaahnya."

Kreator memang nampak seperti perangai seekor bebek. Ia nampak tenang mengapung di permukaan air, tetapi yang di bawah permukaan terdapat ribuan ayunan gerak dua kaki yang bekerja sangat keras untuk membuat dirinya melaju.

250 Ribu Karya Lawakan. Kaki-kaki yang bekerja keras di bawah permukaan itu, bila merujuk para pelaku dunia komedi di negara maju, dapat tercermin dari beberapa pendapat mereka.

Misalnya, seorang Jerry Seinfeld punya kredo : "Menulislah sampai jari-jarimu sakit !" Mentor komedi Judy Carter selalu berseru : "Menulislah setiap kali bangun pagi, bahkan sebelum kau pergi ke belakang untuk beol atau mandi."

Bahkan sudah menjadi rumus pekerjaan, penulis komedi harus bekerja delapan jam dalam sehari !

Pentingnya drill secara spartan yang ditujukan untuk memperkuat muscle memory (myelin) itu, demikian kata Rhenald Kasali, merupakan kunci setiap insan dan juga bangsa dalam meraih keunggulan dan keberhasilan. Dunia pendidikan kita yang terlalu berat sebelah dengan menganakemaskan olah untuk memperkuat brain memory, tak lagi cukup.

Tak ayal, di manca negara terdapat sosok seorang komedian bernama Richard Lewis yang harus menyewa safe deposit box di bank. Agar koleksi 250.000 judul lelucon karyanya aman tersimpan di dalamnya !

Bagaimana komedian kita ?

Ada dua kelompok komedian terkenal, di mana untuk menulis biografi mereka sendiri saja harus menyewa penulis. Komedian yang tidak menulis itu jelas bakal tidak mampu menghayati apa yang menjadi pergulatan seorang GM Sudarta, kartunis senior Indonesia, seperti diungkap Mas Darminto di atas.

Di Indonesia memang begitulah panggungnya. Saya kutipkan lagi (karena memang sering saya kutip) ujaran Dr. Sudjoko (almarhum) dari ITB, bahwa : "Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah pelakon, orang panggung, orang tontonan. Bukan penulis, bukan sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua tidak mampu menulis."

Serigala saling cakar. Semoga gedoran dari Mas Dar ini bisa sampai ke telinga PASKI yang konon akan berkonggres.

Untuk momen penting itu saya ingin titip bisikan. Tentang ujaran seorang Patrick Bromley, pengelola blog komedi di bawah koran The New York Times. Ia berkata bahwa komedi itu komunitas, warganya guyub, saling membantu untuk meraih sukses secara bersama.

Gotong royong ternyata malah subur di Amerika Serikat sana. Contoh ekstrim : komedian muslim Amerika Serikat keturunan Mesir, Ahmed Ahmed ("bila divonis sebagai teroris Islam, saya akan dihukum DUA kali lipat," guyonnya) dan Rabbi Bob Alper yang jelas-jelas Yahudi, berkolaborasi melakukan tur lawak bareng untuk menyiarkan kerukunan beragama melalui komedi.

Semangat guyub antarkomedian kita di sini, boleh jadi dicerminkan dari kehadiran dan ketidakhadiran organisasi mereka, yaitu Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PASKI). Begitu diresmikan langsung mati suri.

Hal itu terjadi mungkin karena pola gaul antarkomedian kita yang justru masih dikerangkeng oleh hukum Hobbesian : "komedian satu merupakan serigala untuk komedian lainnya."

Tak ada guyub. Tak ada keinginan untuk saling mengedukasi satu dengan yang lainnya. Yang ada adalah rivalitas. Saling mencerca dibalik punggung masing-masing.

Akibatnya,sejak diresmikan kegiatan wajib fungsionaris PASKI yang paling menonjol adalah melakukan amal yang sangat mulia. Menengok komedian yang sakit parah dan yang meninggal dunia.

Mungkin dengan rasa sedih yang tulus, tapi mungkin juga, merujuk hukum Thomas Hobbes di atas, justru dengan rasa "bergembira" : karena telah hilang satu lagi saingan dalam membuat periuk nasi mereka bisa ngebul sehari-harinya ?


Wonogiri, 7-8 Desember 2010

ke

Wednesday, November 10, 2010

Obama Frenzy Melanda Indonesia !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kunci sukses berpidato ada tiga.
Berlatih, berlatih dan berlatih.

Demosthenes (384 -322 SM), jago orator dan negarawan Athena, konon suka berlatih berpidato di dekat air terjun. Atau di pinggir laut, untuk beradu keras dengan suara deburan gelombang.

Ia berlatih keras mengasah vokal dengan berusaha mengalahkan suara gemuruh-gemuruh air tersebut.

Tak ayal, beribu tahun kemudian seorang maha pakar pemasaran Tom Peters mengatakan bahwa, "bila pidato Plato mampu menginspirasi, maka pidatonya Demosthenes membuat kita tergerak untuk beraksi !"

Barack Obama memang bukan Demosthenes. Tetapi menyimak gaya dan isi pidatonya di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 10 November 2010, kita seperti memperoleh setrum yang hebat.

Setelah era Soekarno, sepertinya Indonesia belum lagi memiliki politisi dengan pidato yang mampu menggerakkan isi jiwa, serta memberikan inspirasi bahwa kita mampu berbuat sesuatu untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

Pidato Obama itu bergaung kemana-mana !
Mengembuskan badai perubahan dimana-mana pula !

Bisnis sampai artis. Pemerintahan SBY seperti memperoleh inspirasi baru dalam pencitraan kinerja mereka. Kedatangan Barack Obama dijadikan momen untuk menarik garis batas, ditandai dengan munculnya jargon SBB versus SSB : Sebelum Barack dan Sesudah Barack.

Kita bisa lihat nanti perbedaan itu dalam gaya pidato SBY di era Sesudah Barack ini. Juga gaya berpidatonya tokoh Nasional Demokrat, Surya Paloh, yang seolah memperoleh durasi semaunya di saluran MetroTV.

Perusahaan jasa pengangkutan bus yang biasa menyingkat jenis usahanya dari PO, perusahaan otobus, kini berubah menjadi BO. Bisnis otobus.

Bank BCA mengumumkan nama barunya : Baracbank Central Asia.

Kota Bogor menjadi : Bogorobama !

Model bisnis yang hampir mirip dengan franchise yang bisa dikenal sebagai BO, business opportunity, sekarang menjadi : barack opportunity.

Danau di Sumatera Barat, Singkarak, berganti nama menjadi : Singbarak.

Pembawa acara yang ceriwis di televisi mengubah namanya menjadi : Indy Barackends.

Bahan bakar fosil yang masih melimpah di Indonesia, batu bara, sontak kini semakin dihargai di pasar dunia setelah berubah sebutannya menjadi : batu barack.

Kantor catatan sipil juga diserbu ratusan ribu warga Tapanuli yang ingin mengubah nama marganya yang lama menjadi Batubarack.

Restoran dan pusat hiburan di Jl. Blora, Jakarta Pusat, sepakat mengganti nama jalan tempat mereka berbisnis selama ini menjadi Jl. Blorack Obama. Termasuk nama masakan satenya, menjadi Sate Blorack.

Kata-kata yang diungkapkan Obama di UI itu segera menjadi trending topic di Twitter. Yaitu kata "bakso," "sate" dan "enak." Kontan saja para selebritis, politikus dan pedagang segera menyabet momen itu untuk mendongkrak popularitas dirinya.

Nama SBY di kalangan asosiasi pedagang sate dan bakso memiliki makna baru : Sate Bakso Yahud. Penyanyi cantik asal Malaysia segera mengeluarkan album dengan nama baru : Sate Nurhaliza. Berduet dengan Sate KD.

Mantan ketua umum PAN yang konon sedang merintis berdirinya partai baru, diperkirakan akan meluncurkan nama barunya yang lebih berkarisma : Sutrisno Barachir.

Disusul ketua umum Partai Golkar : Aburizal Barackie !

Di luar heboh di atas, Barack Obama berkunjung ke Indonesia sebenarnya lebih dari 18 jam dan tidak seperti yang resmi diberitahukan. Sebab beberapa hari sebelumnya dirinya telah tertangkap kamera dengan mengenakan wig dan berkacamata, sedang nampak asyik menonton turnamen tenis internasional di Bali.

Ketika dikonfirmasi wartawan, Obama keras menyangkal : "Saya suka main basket, bukan tenis. Saya juga suka makan nasi goreng, sate, bakso, emping dan krupuk, tetapi masakan enak itu tidak disajikan di turnamen tenis itu. Karenanya, pasti saya tidak ada di sana !"

Kehebohan belum usai.

Surat kabar negara bagian AS tempat Barack Obama dilahirkan,  The Hawaii Inquirer, mewartakan bahwa ada sosok pria  mirip Gayus Tambunan sedang berselancar di pantai Oahu, Hawaii.


Wonogiri, 11 November 2010

Friday, October 29, 2010

Menggeber Badai Twitter Beiber Di Bulan Oktober

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Justin Beiber.
Beiberisasi sedang meruyak di mana-mana.

Siapa tidak kenal dia ? Saat membaca-baca naskah surat-surat siswa SMP Negeri 1 Wonogiri yang berisi cita-cita dan harapan mereka dan ditujukan ke kakak alumnus sekolahnya, Danar Rahmanto (Bupati Wonogiri 2010-2015), sering Justin Beiber disebut sebagai idola mereka.

Tak aneh, karena wabah “beiberisasi” kini juga melanda para politisi dan elit kita. Silakan menikmati tweet tentang mereka :

SBY nama standar. Pak Beye mencitrakan degradasi. Tim humas presiden segera meluncurkan nama bercitra baru. SBbY : Susilo Beiber Yudhoyono.

Slogan saat SBY berkampanye juga diperbarui. Dengarkan kini di radio-radio seruan heroik seperti ini : “Beibersama kita bisa !”

Untuk mendongkrak citra di kalangan anak muda,Ketua Umum Partai Golkar tak mau kalah.Dia kini ngetop di Facebook sebagai : Abubeiber Bakrie.

Tak ketinggalan pula Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Anas Urbeiberningrum dan Edhie Beiber-koro :-(

Kelompok musik gaek Koes Plus juga berniat melakukan revitalisasi dengan nama yang trendi. Koes Bersaudara menjadi Koes Beibersaudara.

Band Panjaitan Bersaudara yang dikenal sebagai Panbers, kini siap merilis album baru dengan nama baru pula : Panbeibers !

Untuk mendongkrak popularitasnya kembali, Barack Obama pun, menurut David Letterman, segera berganti nama menjadi : Bajustin Obieber !

“Beibersatu kita teguh, beibercerai kita runtuh !”


Wonogiri, 30 Oktober 2010

Thursday, September 30, 2010

Belajar Cerdas dan Jenaka Dari Raditya Dika

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Indy Barends terlalu narsis.
Mitranya, Farhan, juga serupa.

Mereka berdua adalah host acara pamer cakap "Opini" pada sebuah televisi swasta. Hari Selasa (28/9/2010) sore itu acara ini menghadirkan topik tentang Twitter dengan bintang tamu Enda "Bapak Blogger Indonesia" Nasution, Raditya "Kambing Jantan" Dika, dan bintang remaja Jessica Iskandar.

Saya bukan penonton setia acara ini. Tetapi pemunculan Enda dan Radith, kiranya menarik untuk saya ikuti. Harapan yang tak kesampaian. Karena Indy dan Farhan lebih banyak berkicau tentang lelucon yang mungkin hanya mereka berdua yang tahu mengapa ocehan itu lucu.

Juga nampak serakah mendominasi obrolan. Sekaligus menunjukkan mereka tidak mengerjakan pekerjaan rumah secara pantas yang hanya membuat sisi-sisi terbaik dari Twitter, diri Enda dan Radith tidak muncul maksimal sore itu.

Mungkin saya menuntut berlebihan. Berharap hadir obrolan cerdas mengenai peran media-media sosial sebagai sarana untuk mengaktualisasikan diri. Utamanya bagi pribadi yang memiliki bakat komedi seperti yang dilakoni oleh Radith selama ini.

Sedikit banyak, sebenarnya saya sudah membahasnya. Walau bukan semata-mata tentang komedinya Dika. Tetapi tentang karier menulisnya. Dalam artikel berjudul "Kambing Jantan Mengamuk di STMIK SiNus Surakarta" di blog Epistoholik Indonesia No. 86/Oktober 2009, saya mencoba menjual iming-iming agar mahasiswa baru STMIK SiNus Surakarta mau memanfaatkan blog, Facebook sampai Twitter, sebagai sarana eksis dengan menuliskan segala hal yang melintas dan terjadi dalam hidup mereka.

Himbauan saya itu belakangan dikristalkan secara lebih bernas dan lebih menarik oleh konsultan karier Rene Suhardono. Ia telah menulis di halaman Klasika Kompas, 7 Agustus 2010 : 37, berjudul : "Cashing-in on Your Passion (2) : Tell Your Story & Change the World !"

Dalam perspektif Rene Suhardono itu, Raditya Dika memang telah berhasil mengubah dunia. Saya mencoba untuk mempelajarinya, dan menceritakan apa yang bisa saya mamah dari kiprah dirinya selama ini.

[Kisah akan berlanjut].

Friday, July 30, 2010

Aura Yogya, Humor Becak dan Mindset Komedian Kita

Catatan Samping Mengikuti Jagongan Media Rakyat 2010 Yogyakarta


Oleh : Bambang Haryanto
Email: humorliner (at) yahoo.com


"Komedi di Indonesia tidaklah mencerdaskan."
Ini bukan kata saya. Melainkan kata orang Turen, Malang, teman yang tahun 1978 saya kenal di Solo. Alumnus UGM. Namanya, Veven Sp Wardhana. Tahun 2009.

"Komedian Indonesia Tidak Cerdas."
Juga bukan kata saya. Tetapi kata Ramon Tommy Bens. Tahun 2010. Ia pernah bersama saya menjadi narasumber tentang komedi saat diwawancarai Radio BBC Siaran Indonesia. Disiarkan, 14 Oktober 2007. Ia tambahkan, pelawak-pelawak Indonesia pada umumnya tidak memiliki intelegensia yang tinggi. Alias kurang cerdas.

"Lawak Indonesia tidak cerdas."
Bukan kata saya lagi. Melainkan kesimpulan penggiat komedi di Jawa Barat saat mereka membentuk Paguyuban Pelawak Sunda. Tahun 2010. Selain untuk bersilaturahmi, juga untuk memacu kreativitas baru dalam menciptakan lawakan-lawakan yang segar, cerdas, dan menghibur.

"Dunia lawak semakin suram."
Sekali lagi, bukan kesimpulan saya. Melainkan kata mBah Guno, alias KRT Susanto Gunoprawiro, ikon lawak Yogyakarta. Ia yang kini memasuki usia 83 tahun itu telah dinobatkan sebagai figur inspiratif oleh harian Kompas. Kesuraman dunia lawak kita itu, menurutnya, karena "pelawak yang ada cenderung suka meniru lawakan yang sudah ada sebelumnya" (Kompas, 14/6/2010).

Matur nuwun, Eyang Guno.

Selisih orbit dengan mBah Guno. Saya baru saja kembali dari Yogya. Mewakili komunitas saya, Epistoholik Indonesia, saya diundang mengisi acara talkshow tentang kiprah kaum epistoholik dalam acara pasar media rakyat bertajuk Jagongan Media Rakyat 2010, yang digerakkan oleh Combine Resource Institution Yogyakarta.

Berlangsung tanggal 22-25 Juli 2010 di Jogja National Museum (bekas kampus ASRI) Gampingan, saya kebagian manggung di pendopo, Jumat malam, 23 Juli 2010. Terjun saya dalam acara itu saya gambarkan ibarat anak kecil diceburkan di tengah-tengah toko permen. Kehadiran beragam stan dan reli jagongan dengan beragam topik menarik, membuat saya benar-benar tak ada kesempatan untuk keluar dari "kampus" itu pula.

Jadi keinginan terpendam ingin mengunjungi Bank Sampah Gemah Ripah yang dipelopori oleh Bambang Suwerda di Dusun Badegan, Trirenggo, Bantul, tidak kesampaian.

Apalagi bisa mengunjungi rekan-rekan satu sekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta, di mana pada tahun 1969-1971 saya menjadi murid di sekolah Jetis ini. Atau sanjang ke pelbagai kerabat trah saya yang banyak tinggal di Kota Gudeg ini pula. Juga urung niat bersilaturahmi dengan mBah Guno yang tinggal di Jeron Beteng, Keraton Yogyakarta.

Kilas balik ke belakang, pada tahun-tahun saya bersekolah di Yogya ini sebenarnya mBah Guno mengorbit di kawasan Jetis juga. Beliau mengajar STM Negeri Jetis pula, tahun 1952-1987. Tetapi walau sama-sama dalam kompleks bangunan yang sama, beliau mengajarnya di STM Negeri I yang memiliki jurusan kimia, sedang saya bersekolah di STM Negeri 2 yang memiliki jurusan listrik dan mesin.

Saat itu kecenderungan minat saya terhadap humor dan lawakan tersalur dalam bentuk menulis lelucon-lelucon pendek yang saya kirimkan ke majalah Aktuil dan Varianada dan memperoleh honor. Juga kebanggaan.

Sehingga ketika di malam perpisahan STM Negeri 2 kami dihibur lawak D2S (Djunaidi sering diledek karena gigi mrongos-nya, Djadi dan Sardju) di Gedung PPBI, sebelah timur Alun-Alun Utara Yogya, sampai saat ini saya belum pernah menonton atau mendengar lawakan mBah Guno. Itulah, mungkin sudah dasar nasib saya yang super-apes (gorila ?) karena tidak memiliki kesempatan sejarah untuk mengenal, juga berinteraksi dengannya.


[Tulisan belum selesai. Mohon sabar menanti kelanjutannya.]


Wonogiri, 29-30/7/2010

Sunday, June 20, 2010

Video Porno dan Nobel Perdamaian 2010

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kasus video porno mirip Ariel-LM-CT menurut kabar burung akan diputuskan lewat jajak pendapat. Ada politikus bilang, biar keren, sebut saja referendum.

Semua warga negara Republik Indonesia, tua-muda, akan memperoleh CD video porno itu, diberi kesempatan menonton hingga 11 Juli 2010 mendatang, lalu bebas menentukan apakah aktor-aktris dalam video porno itu asli atau bukan.

Langkah ini merupakan langkah paling demokratis. Juga paling monumental di dunia. Bahkan Indonesia berpeluang tercatat di Guiness Book of Records sebagai negara pertama yang akan mengaplikasikan Hukum Linus Pertama, hukum yang mengilhami gerakan open source yang kini dampaknya meluas kemana-mana.

Hukum itu diambil dari nama Linus Benedict Torvalds, seorang perancang peranti lunak kelahiran 28 Desember 1969, Helsinki, Finlandia. Dalam merancang peranti lunak Linux yang terkenal itu ia sengaja membuka kode-kode temuannya itu kepada masyarakat luas. Dengan langkah ini dapat ditemukan cacat, kekurangan, dan kemudian banyak orang akan mampu memperbaikinya.

Kolaborasi yang melibatkan banyak fihak tersebut membuat piranti lunak Linux semakin berguna bagi banyak kalangan. Fenomena dahsyat ini kemudian memunculkan Hukum Linus Pertama yang berbunyi, "given enough eyeballs, all bugs are shallow." Dengan mata yang cukup, kutu pun bisa ditemukan dengan mudah.

Langkah referendum ini menjadi titik sejarah Indonesia dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi. Penentuan pendapat secara massal ini, juga mengaplikasikan tesis tentang wisdom of crowds seperti dirujuk dalam buku The Wisdom of Crowds : Why the Many Are Smarter Than the Few and How Collective Wisdom Shapes Business, Economies, Societies and Nations (2004) karya James Surowiecki.

Agar pelaksanaannya fair, maka tokoh telematika dan kini anggota DPR dari Partai Demokrat yang sering jadi rujukan tentang keaslian video dan foto-foto porno, tak boleh berkomentar dulu.

Bukan karena dikuatirkan komentarnya akan memengaruhi opini publik, tetapi dikuatirkan apa pun ucapannya akan hanya memerosotkan perolehan suara partai Demokrat dalam Pilpres 2014 mendatang. Utamanya untuk para pemilih di kalangan blogger Indonesia. Walau partai yang dikenal cerdas itu, terkait reputasi tokoh di atas, sudah melakukan antisipasi dini. Yaitu dengan merekrut blogger yang pernah kuliah di Universitas Harvard, yang juga tokoh gerakan Islam Liberal terkenal.

Terlebih lagi di media massa anggota DPR dari Partai Demokrat itu dilaporkan telah bertukar SMS dengan salah satu aktris yang diduga terkait dengan pelaku aksi mesum dalam video porno itu. Bahkan dikabarkan berusaha melakukan pemerasan terhadapnya.

Syukurlah, di SMS itu ia juga cerita bahwa dirinya akan terbang dulu ke Amsterdam. Diperkirakan ia akan tinggal di sana selama 350 tahun. Kehadirannya itu sebagai hadiah bangsa Indonesia bagi kemenangan Robin van Persie dan kawan-kawan yang telah sukses menaklukkan bangsa penjajah Indonesia lainnya di kancah Piala Dunia 2010.

Jadi pelaksanaan referendum secara teoritis tidak akan dicemari oleh opini-opini yang akan ia sebarkan. Dengan catatan, di Amsterdam ia tak boleh menggunakan gadget elektronika apa pun, kecuali beragam gadget erotika yang dijajakan dari daerah lampu merah “De Dam,” yang mirip komplek pertokoan Pasar Baru Jakarta yang berimpit sungai, dan amat terkenal dari Negeri Kincir Angin itu pula.

Rakyat Indonesia pun berdoa, semoga dalam penerbangannya ke Amsterdam ia tidak tergoda rayuan seorang pilot yang berlaku sok akrab yang kemudian mengajaknya makan nasi goreng atau jus jeruk mengandung arsenik di bandara Changi Singapura.

Pelaksanaan referendum itu masih terancam gagal. Oleh Menkominfo Tifatul Sembiring. Karena ia pernah mengeluarkan tesis yang menggegerkan, bahwa bencana alam yang bertubi-tubi menghantam Indonesia itu karena kemaksiatan telah merajalela di negeri ini. Mungkin ia hendak mengingatkan akan cerita Sodom dan Gomorah.

Persoalannya jadi komplikatif.

Kalau semua warga Republik Indonesia semalaman asyik menonton video porno mirip artis menjelang pelaksanaan referendum, bahkan men-cuek-kan siaran Piala Dunia 2010, lalu esoknya muncul banjir dan gempa bumi dahsyat, lalu bagaimana ? Lalu apa kira-kira kata Pak Menteri yang berasal dari PKS itu nantinya ?

Jangan remehkan ucapannya. Singapura yang begitu rapi dan teratur mengelola negerinya, toh Orchard Road yang menjadi jantung Singapura tergenang banjir besar, bukankah itu membuktikan betapa negeri itu telah pula menjadi sarang maksiat, yang antara lain karena menjadi pusat foya-foya sekaligus sebagai safe haven bagi para koruptor Indonesia ?

Untuk tesisnya tersebut, konon Akademi Swedia akan segera menominasikan Tifatul Sembiring sebagai calon penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2010. Jadi bulan November nanti, saat Obama datang, kita akan melihat dua sosok pemenang Nobel Perdamaian yang terkait erat dengan Indonesia.

Siapa tahu, rasa bangga tentang prestasi itu akan mengurungkan sebagian warga Papua yang kini meminta referendum untuk masa depan mereka.


Wonogiri, 21 Juni 2010

Thursday, May 27, 2010

Andi Kalah,Komedian Demo, Koran Terancam Bangkrut

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Partai Demokrat memberi kejutan.

Kekalahan mencolok Andi Mallarangeng dalam pemilihan ketua umum Partai Demokrat, langsung mengguncang industri komunikasi dan media.

Yang paling terpukul pertama kali adalah sirkuit industri komedi di Indonesia.

Begitu mendengar Andi Mallarangeng tersingkir pada putaran pertama, yang hanya berhasil mengantungi suara 16 persen, sontak organisasi Akposi (Asosiasi Komedian Politik Seluruh Indonesia) mengadakan ritual tuguran.


Para anggotanya dengan pakaian hitam-hitam langsung berhimpun, menyalakan ribuan lilin, dan mereka berbaris dengan muka muram memutari tugu Monas sampai pagi dalam keheningan. Bahkan mereka akan merencanakan melakukan long march serupa, Jakarta-Makassar pulang-pergi.

"Kekalahan Andi, yang digadang-gadang banyak orang untuk bisa maju sebagai kandidat presiden 2014, merupakan pukulan berat bagi kami. Komedian politik Indonesia benar-benar kehilangan salah satu target terbaiknya untuk dijadikan sebagai sumber lawakan. Untuk kualitas yang satu ini, Andi jelas lebih menarik dibanding Anas Urbaningrum yang tampil santun," ujar Herman "Joker" Hermawan, aktivis Akposi.

"Gara-gara Andi kalah, komedian politik Indonesia benar-benar menuju kebangkrutan yang serius. Kondisinya melebihi pengaruh resesi global 1930, 1997 dan 2007 di gabung sekaligus menjadi satu," imbuh Sofia Tegurasakya, sekretaris jenderal Akposi. Keduanya secara terpisah dihubungi melalui email oleh reporter Fake News Komedikus Erektus, beberapa hari yang lalu.

Rusaknya reputasi. "Kami juga tak kalah kuatir," timpal Dicky Amordani, ketua Indonesia Spin Doctors Association (ISDA), lembaga yang mewadahi kiprah konsultan politik di Indonesia.

"Kekalahan Andi benar-benar merusak reputasi bisnis kami. Dan multiplier effect-nya sangat serius. Angka pengangguran nasional akan meroket lagi," lanjut Dicky Amordani.

Ia lalu merinci betapa para pemikir komunikasi politik, tenaga survei, ahli statistik, penulis naskah, desainer logo, desainer grafis, pelaku industri percetakan digital, wartawan-wartawan humas, tukang pasang spanduk sampai pelaku cheer leader dan demo bayaran, semuanya akan terancam kehilangan pekerjaan.

Salah satu solusi untuk terhindar dari bencana itu, menurutnya, konsultan politik FoxIndonesia yang menjadi mesin kampanye Andi Mallarangeng, yang dikelola dirinya bersaudara itu harus segera berganti nama. Menjadi : Lame FoxIndonesia.

Malah lebih baik, usulnya, mereka harus kembali menata model bisnisnya secara radikal. Misalnya berubah menjadi jasa penyedia sembako untuk menunjang sukses kandidat apa pun ketika terjun berkampanye dalam pemilihan apa pun.

"Back to basic ! Sebab itulah yang diharapkan oleh sebagian besar rakyat Indonesia sejak era reformasi bergulir," tegas Dicky Amordani. Ia sendiri menyatakan niatnya segera lengser sebagai konsultan politik dan berganti profesi sebagai pemasok sembako.

Efek domino dikuatirkan berlanjut. "Iklan-iklan politik di media massa juga akan anjlok. Omsetnya diperkirakan hanya mampu mencapai 2 persen setelah kekalahan Andi itu," kata Leo S. Moronagua, pengamat bisnis media.

"Setelah kehadiran Internet, kekalahan Andi jelas semakin membuat rapuh eksistensi bisnis media-media utama yang mengandalkan iklan. Karena ia yakini, kaum politisi akan hanya tertarik memasang iklan bila ada politisi lain meninggal dunia. Itu pun bila yang meninggal dunia adalah para politisi saingan mereka. Itu pun hanya berupa iklan baris, iklan berita gembira yang ditulis dengan gaya alay pula. Benar-benar menyiutkan hati !"

Industri buku-buku otobiografi ikut pula dibekap meriang berat. Partai Demokrat adalah partai yang intensif menerbitkan buku untuk menunjang sukses kampanye revolusi sunyi mereka.

"Begitu menjabat sebagai tangan kanan presiden SBY selama enam tahun terakhir, kami mengharap sosok Andi Mallarangeng akan banyak menulis buku sehingga mampu menghidupkan roda industri kami," kata Rina Publikatadewata dari White Lies Publication, penerbit khusus otobiografi para tokoh politik.

"Kini, kami kuatirkan, tak ada lagi politisi yang mau menulis buku untuk kampanye politik mereka. Hal itu memang baik untuk mengurangi polusi informasi-informasi yang penuh puji-pujian palsu dan juga klaim-klaim yang sarat kebohongan. Tetapi itu jelas jelek banget bagi bisnis kami," keluh Rina dengan lesu.

Seperti diketahui, menjelang konggres Partai Demokrat ia meluncurkan buku berjudul Merebut Masa Depan (2010). Sebelumnya, ketika menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng telah menulis buku Dari Kilometer 0,0 (2007).

Orangtua dari Kenya. "Kegagalan Andi, antara lain karena ia tidak meneladani jejak hidup Obama," sahut Julius Sendangkalimat, penulis biografi terkenal. Ia membicarakan kegagalan Andi sambil merujuk isi biodata dalam buku-buku yang ditulis pemilik gelar Master of Science di bidang sosiologi dan Doctor of Philosophy di bidang ilmu politik dari Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, Amerika Serikat itu.

"Seharusnya ada sedikit modifikasi dalam penulisan riwayat hidup Andi Mallarangeng. Sebaiknya ia mengaku memiliki orang tua yang berasal dari Kenya, lalu besar di Amerika Serikat, dan kemudian berjuang untuk berusaha menjadi presiden Republik Indonesia !"

Nasi memang sudah menjadi bubur.

Tetapi toh masih ada kabar baik. Menurut desas-desus, setelah kalah merebut kursi nomor satu Partai Demokrat, Andi Mallarangeng akan kembali menulis buku. Sambutan hangat pun segera terdengar. "Kalau isu buku itu benar, kami pantas tidak pesimis lagi terhadap masa depan profesi kami," tegas Herman "Joker" Hermawan, aktivis Asosiasi Komedian Politik Seluruh Indonesia (Akposi) dengan wajah berbinar.

"Karena kami akan merasa memiliki teman seiring dalam menghumori diri sendiri, berani menertawakan kekurangan diri sendiri atau self-deprecating, suatu kualitas kemanusiaan luhur yang nyaris hilang pada diri para penguasa dan bangsa Indonesia setelah Gus Dur meninggal dunia."

"Gesture yang langka itu pasti akan menjadi ilham untuk memperkuat tekad kami dalam membesarkan profesi langka ini di Indonesia di masa-masa mendatang. Syukur-syukur bila dengan gelar doktornya Bung Andi itu mampu mengajari kami untuk membuat lawakan-lawakan tingkat tinggi. Utamanya untuk menghumori sasaran tembak yang sulit bagi kami selama ini. Yaitu Presiden SBY, dan Anas Urbaningrum nantinya."

Buku yang dihebohkan kalangan komedian politik itu diperkirakan berjudul : Merebut Masa Depan Yang Gagal Kesampaian dan Kembali Ke Kilometer 0,0 Lagi.


Wonogiri, 27 Mei 2010

ke

Thursday, May 13, 2010

Komedian Berdiri Di Bahu Raksasa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Stand on the shoulders of giants.
Berdiri di bahu raksasa.

Anda sebagai pengguna Internet, sudahkah Anda akrab dengan slogan di atas ? Kata-kata indah dan dahsyat itu merupakan slogan situs Google Scholar. Edisinya berbahasa Indonesia disebut sebagai Google Cendekia. Situs tersebut merupakan situs mesin pencari untuk menemukan karya-karya ilmiah dunia.

Anda kenal Isaac Newton (1642–1727) ? Bagi Anda yang mencandui kata-kata mutiara, mungkin tidak akan menemui kesulitan memahami bahwa slogan itu diilhami oleh kata-kata ilmuwan raksasa bidang fisika dan matematika asal Inggris tersebut.

Bagi saya, kata mutiara ini pertama kali saya dengar di tahun 1980. Dari dosen saya, almarhumah Ibu Lily Koeshartini Soemadikarta, di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ucapan beliau itu begitu membekas, sehingga setiap kali akan menulis sesuatu, ujaran Newton tersebut senantiasa berdering di kepala ini pula.

Pastinya adalah, ketika saat itu Isaac Newton sering ditanya mengapa dirinya mampu melihat jauh ke masa depan, ia menjawab dalam sepucuk surat yang ia kirimkan kepada koleganya, Robert Hooke, pada tanggal 5 Februari 1676. Ujarnya : “If I have seen further it is by standing on the shoulders of giants .” Apabila saya mampu melihat jauh ke depan karena saya berdiri di bahu para raksasa.

Raksasa yang ia maksud adalah para ilmuwan dan buah karyanya yang telah mereka sumbangkan sejak berabad-abad lalu. Himpunan ilmu pengetahuan tersebut merupakan fondasi bagi ilmuwan-ilmuwan berikutnya, dalam kiprah pencapaian-pencapaian karya ilmiah berikutnya pula.

Sebagai kalangan terpelajar, bila kita menggunakan karya-karya mereka, kita harus melakukan ritual penghormatan. Dalam ranah komunikasi ilmiah, bentuk rasa hormat dan pernyataan utang budi kepada ilmuwan-ilmuwan pendahulu itu diwujudkan berupa kutipan, rujukan, sampai daftar pustaka dalam karya ilmiah seseorang ilmuwan.

Dalam berkomunikasi di Internet, rujukan itu diwujudkan dalam bentuk hyperlink atau tautan. Merujuk pentingnya tautan ini sampai seorang konsultan bisnis di Internet, B.L. Ochman, memberikan saran, link like a crazy.

“Satu hal yang membedakan antara tulisan di blog dan di jurnalisme pohon mati (kertas) bahwa para blogger membuat tautan sedemikian luar biasa banyaknya. Tampilkan tautan yang merujuk ke blog atau situs yang Anda sebut. Tautkan dengan artikel, buku, produk, biodata, materi penjelasan dari situs lain yang Anda sebutkan pada blog Anda. Buatkan senantiasa tautan untuk informasi yang memberikan klarifikasi atau informasi latar belakang atau pun opini dari tulisan pada blog Anda,” begitu tandasnya.

Sayangnya, perilaku mulia itu justru seringkali diingkari. Atau dilecehkan. Saya pernah menulis untuk blog lain, tautan-tautan yang saya sertakan itu justru dipreteli. Itulah pola pikir kaum pendekar kertas, yang bermental kelangkaan, yang mungkin takut pembaca situsnya akan lari ke situs lain. Mereka tidak tahu bagaimana cara kerja Google, yang kehadirannya membantu siapa saja agar mampu lari ke jutaan situs-situs lainnya. Dan karena hal itu justru membuat Google menjadi kaya raya !

Dalam dunia akademisi kita, tindak pelecehan terhadap pentingnya ungkapan rasa hormat dan pernyataan utang budi kepada ilmuwan-ilmuwan pendahulu, membuat komunitas ilmuwan Indonesia tercoreng di muka dunia. Momen memalukan itu terjadi ketika seorang MZ, doktor lulusan ITB, terkuak melakukan skandal plagiasi yang kabarnya meledak seantero dunia.

Semua itu terjadi karena dirinya memperlakukan karya ilmuwan sebelumnya secara tidak semestinya. Alih-alih menunjukkan kejujuran dan rasa hormat dengan mencantumkan karya itu sebagai rujukan, tetapi dirinya justru melakukan klaim, mendakunya, sebagai karyanya sendiri. Fatal akibatnya.

Pusat humor dunia. Nasehat Newton itu merupakan perwujudan dari sikap rendah hati. Juga bermanfaat untuk mencegah pemborosan. Sekaligus memicu inovasi. Dengan mempelajari apa-apa saja yang telah dihasilkan oleh generasi sebelumnya, kita tercegah melakukan pengulangan, yang berarti mencegah pemborosan. Sehingga kemudian ilmu pengetahuan mampu bergerak terus menuju kemajuan.

Kiat universal serupa seharusnya juga berlaku untuk dunia komedi kita. Seorang blogger komedi dari kelompok suratkabar The New York Times, Patrick Bromley, telah mengudar pesan kepada mereka yang bercita-cita memilih “jalan pedang” sebagai seorang calon komedian. Nasehatnya : “Dunia sudah memiliki seorang Mitch Hedberg atau seorang Chris Rock. Anda harus membawakan sesuatu yang baru di atas meja.”

Untuk mengetahui apa saja hal-hal yang baru tersebut, seperti Anda ketika menulis skripsi, mau tak mau Anda harus melakukan riset terdahulu. Untuk mengetahui apakah topik skripsi Anda itu sudah pernah dikaji orang atau belum. Kalau sudah pernah, Anda dapat melakukan penajaman atau memfokuskan pada kajian yang berbeda. Begitulah idealnya. Tetapi tradisi ilmiah yang wajib itu dalam dunia komedi kita seringkali tidak berjalan.

Sekadar ilustrasi, di koran Kompas Jawa Tengah (21/6/2005) pernah muncul artikel berjudul “Universitas Humor.” Ringkas kata, artikel itu melambungkan klaim gagah bahwa “jurusan lawak belum dibuka di muka bumi ini,” sehingga Indonesia berpeluang menjadi proyek percontohan kajian ilmu humor di dunia.

Artikel yang lucu. Sekaligus menggaris bawahi betapa tradisi ilmiah nampaknya memang bukan, atau belum menjadi, perilaku wajib komunitas komedi kita. Kalau seorang Jay Sankey menggambarkan rata-rata komedian itu sebagai sosok yang “very insightful, highly intelligent people,” sebaliknya komedian kita justru sering nampak tidak mau (tidak mampu ?) tampil sebagai insan yang cendekia.

Silakan simak acara Democrazy di MetroTV. Silakan perhatikan kualitas celetukan para “komedian” yang menurut saya sungguh selalu tidak sepadan dengan materi yang dibicarakan oleh nara sumber dalam acara itu.

Merujuk sedikit ilustrasi itu, kita berspekulasi bahwa para pemangku kepentingan dunia komedi kita boleh jadi tidak tahu pentingnya, atau bahkan tidak tertarik sama sekali, untuk berusaha mampu “berdiri di atas bahu raksasa.” Mereka rupanya memang sudah cukup puas dengan wawasan sampai pengetahuan warisan yang mereka miliki. Puas pula untuk terus-menerus memeluk dunia kecilnya sendiri.

Sindrom dunia kecil itu yang membuat tayangan-tayangan komedi kita, utamanya di televisi-televisi, nampak tidak pernah terkait dengan problem aktual masyarakatnya. Komedian kita tidak terpanggil untuk membicarakan nasib bangsanya. Padahal, “semua komedi harus relevan,” begitu tutur Gene Perret. Nasehat luhur yang masih sia-sia. Karena komedi kita selalu saja tidak relevan adanya.

Mereka, misalnya, tidak merasa berdosa karena tidak menyuarakan jerit penderitaan para korban akibat lumpur panas di Sidoarjo. Tidak tergerak meledeki fihak yang bertanggung jawab tetapi lebih suka cuci tangan. Termasuk pula tidak hirau terhadap tuntutan keluarga korban Insiden Trisakti dan Semanggi yang kasusnya terkatung-katung belasan tahun hingga kini.

Boleh jadi, dengan meminjam tamsil dari Piramida Maslow, penyebab tidak relevannya dunia komedi kita karena mereka memang baru sibuk berurusan pada tataran terbawah dari hirarki kebutuhan manusia itu. Mereka bersibuk guna memenuhi kebutuhan sendiri untuk bertahan hidup. Kebutuhan akan makan dan minum. Kebutuhan primitif bagi diri mereka sendiri. Semata mementingkan diri sendiri. Egosentris. Me, me, and me. Seperti sikap mental pemilik akun Facebook pada tingkat pemula.

Fatal dampaknya.

Kalau seorang Patrick Bromley pernah menegaskan bahwa comedy is a community, komedi adalah paguyuban, maka jangan harap hal-hal yang guyub itu, suburnya interaksi yang rukun dan saling mendukung antarsesama komedian, mampu berkembang dalam komunitas komedi kita. Akibat belenggu pola pikir primitif itu maka yang marak adalah pola pikir Hobbesian. Homo homini lupus. Komedian yang satu merupakan serigala bagi komedian lainnya.

Sehingga entah sudah berapa kali saya ulang dan ulang lagi pernyataan ini, betapa pola pikir primitif itu pula yang membuat organisasi mereka, PaSKI (2005), langsung mati suri ketika diumumkan berdiri hingga kini.

Matinya Angsa Emas. Pendekatan untuk selalu mementingkan diri sendiri itu, boleh jadi di luar dugaan mereka, sebenarnya justru semakin mempercepat proses bunuh diri mereka pula. Sebuah ilustrasi kasar, adalah cerita tentang kelompok komedi yang pernah berjaya di tahun 80-an. Bahkan mereka mampu mencapai rekor kontrak televisi hingga satu milyar, tetapi kini tinggal sebagai catatan kaki sejarah komedi Indonesia.

Merujuk tamsil tentang sindrom angsa emas dari Stephen R. Covey, saat itu sang angsa bersangkutan, yaitu kelompok komedi tersebut, dituntut pasar, diburu-buru dan dipaksa agar selalu mampu bertelur emas. Yaitu hadirnya lawakan-lawakan yang inovatif dan lucu. Tetapi ada satu hal vital yang mereka lupakan. Angsa emas itu tidak pernah memperoleh asupan gizi yang cukup.

Kelompok komedi itu, sepertinya, tidak pernah atau tidak sungguh-sungguh men-charge isi kepalanya dengan asupan-asupan wawasan, pengetahuan sampai sumber daya kreatif yang memadai. Akibatnya, semakin hari, angsa emas itu menjadi sakit karenanya. Lawakan kelompok itu pun kemudian tidak menggigit lagi. Ketika kontrak usai, sang angsa emas itu pun secara klinis tervonis mati pula. Sebuah tragedi. Karena sukses justru menimbulkan akibat yang mematikan.

Think big !.” Itulah pendapat konglomerat flamboyan Donald Trump. Nasehat yang tulis bersama Robert T. Kiyosaki dalam buku berjudul Why We Want You to Be Rich: Two Men - One Message (2008), kiranya cocok untuk semua fihak yang ingin memperoleh sukses. Saya fikir, nasehat itu juga berlaku bagi komedian dan calon komedian Indonesia. Agar mereka mampu berpikir besar, bercita-cita besar, dan tidak semata terus berada di bawah tempurung dunia kecilnya selama ini.

Merujuk maraknya acara kontes mencari bakat di pelbagai stasiun televisi kita, hal itu semata menunjukkan betapa mereka kelaparan dan kehausan guna menemukan talenta-talenta baru dalam dunia hiburan. Termasuk talenta di bidang pengocok tawa !

Hanya saja, camkanlah hal penting ini. Mereka yang beruntung terpilih, tetapi tanpa visi dan tanpa bekal cukup untuk merevitalisasi dirinya sendiri, akan hanya bernasib sebagai seonggok kapur barus belaka. Dirinya hanya mampu bertahan sebentar, dan sesudah itu berubah menjadi gas yang lenyap di udara untuk seterusnya.

Nenek bercita-cita besar. Boleh jadi kita dapat belajar sesuatu hal dari tokoh yang satu ini. Ia lahir tahun 1934. Kini usianya 75 tahun. Janda seorang marinir itu beranak 4 dan pernah berkeliling dunia. Ia pernah pula menjadi wartawan. Tahun 1995, suaminya meninggal karena kanker. Tahun lalu, ia memutuskan untuk mengikuti ajang mencari bakat dan sebagai bekal ia pun nekad belajar komedi. Itulah : Grandma Lee.

Anda tahu, leluconnya cenderung nakal dan sensual. Salah seorang jurinya, Piers Morgan, pernah secara nakal bertanya, apakah Eyang Lee itu mempunyai cowok. Ia menjawab ya, dan cowoknya itu bernama Norbert. Lebih lanjut ia ceritakan, Norbert lebih muda dibanding dirinya. Berumur 74 tahun. Tetapi, ngocolnya lebih lanjut, “Norbert memiliki tubuh seorang pria berumur 72 tahun.”

Juri lainnya, bintang film seri Baywatch, David Hasselhoff, ikut nimbrung. Apakah Eyang Lee dan cowoknya itu berhubungan intim, begitu pertanyaan David. Eyang Lee tergelak. Menurutnya, terbatuk-batuk adalah permainan seks awal, bersin-bersin adalah permainan berikutnya, dan menyentuh siku merupakan permainan yang sebenarnya.

Sejak tampil di acara kontes itu, lulusan Otterbein College di Ohio tersebut menjadi terkenal di Amerika Serikat. Dalam usia yang sudah begitu sepuh itu toh ia juga mampu pula berpikir besar. Karena ia membawa misi luhur ketika bertarung dalam ajang "America's Got Talent" yang terkenal itu.

Grandma Lee (foto) yang mengagumkan. Ia benar-benar menjadi komedian raksasa yang berdiri di bahu raksasa, karena membawa misi yang lebih besar dibanding dirinya sendiri. Inilah cita-cita besar Grandma Lee ketika terjun dalam kontes sebagai seorang komedian :

“Berusaha menyadarkan kaum lansia bahwa tidak ada kata terlambat untuk berusaha merealisasikan impian, meraih cita-cita, dan mampu mengajak dunia untuk tertawa !”

Dengan bercita-cita besar, semua hal justru lebih mudah diraih.
Grandma Lee yang sepuh itu sudah membuktikannya !


Wonogiri, 13 Mei 2010

Sunday, April 04, 2010

Ketika Marylin Monroe Bangkit Dari Kubur

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pohon PHK. Angka indeks stres sesudah meninggalnya pasangan hidup, 100. Perceraian, 73. Pensiun, 45. Pindah pekerjaan, 36. Pindah jabatan, 29.

Akhir tahun 2001, saya memiliki indeks stres di bawah angka meninggalnya pasangan hidup dan perceraian. Indeks saya 47. Saat itu saya baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja pada suatu perusahaan Internet di Jakarta.

Amplop berisi surat pemberitahuan PHK itu saya baca di sebuah bangku kayu, di bawah pohon kecil, di pinggiran jalan Kebon Sirih, Jakarta.Sore hari. Antara sikap menerima dan ingkar, campur aduk. Tetapi begitu semakin menjauh dari lokasi itu,dan melalui proses self-talk yang intensif, akhirnya rasa sakit dan marah itu akhirnya bisa reda juga.

Kira-kira setahun kemudian, saya datangi kembali bangku kayu dan tanaman kecil yang menjadi saksi saat saya kehilangan pekerjaan di Jakarta itu. Rumus dari Nora Ephron, sutradara film komedi romantis Sleepless in Seattle (1993), benar adanya.

Tragedi + waktu = komedi.

Sejarah serupa rupanya berulang lagi. Kali ini di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Di gedung tersebut pada hari Sabtu, 26 Januari 2008, saya tereliminasi sejak awal ketika ikut Audisi Pelawak TPI ke-4 (API-4). Kemarin, 2 April 2010, saya bisa kembali ke gedung yang sama, dalam suasana yang hampir sama. Tetapi membawa perspektif yang berbeda.


Gundah gulana saya akibat kegagalan dua tahun itu kiranya pantas menjadi bahan tertawaan. Senyatanya, karena cengkeraman perasaan egosentris memang sering membuat kita, tak terasa, mudah tergoda memberi harga terlalu tinggi bagi diri sendiri. Akibatnya, cedera atau terbarut sedikit saja sering membuat kita merasa betapa dunia terancam kiamat. Kecongkakan semacam itu, sekali lagi, memang pantas untuk menjadi bahan tertawaan.

Diam-diam, buah dari kesadaran semacam itu adalah berkah. Kita bisa membumi kembali. Dengan bekal isi jiwa seperti itu saya memenuhi undangan sobat maya saya, Harris Cinnamon (foto, kaos hitam) dari TPI, untuk ketemuan di Yogya. Saat itu, 2-3 April 2010, TPI mengadakan audisi memilih calon penghibur dalam tajuk Piala Dunia Tawa.

Memasuki gedung itu, saya seperti sedang pulang ke rumah. Gedung ini mudah diakrabi. Tanggal 12 Oktober 2002, ketika Bali diguncang bom Amrozy dkk, adik saya menjadi pengantin di gedung ini pula. Dan ketika mencoba bertegur sapa dengan sebagian peserta audisi, sungguh mengejutkan, sebagian dari mereka adalah alumnus API-4 juga. Seingat saya, di tahun 2008 itu rasanya belum pernah berkenalan, toh hari ini sebagian mereka pernah merasa mengenal saya. Nampaknya sirkuit dunia komedi kita memang benar sebagai dunia yang sempit.

“Baru tiga,” kata Harris Cinnamon yang beringsut dari kursi jurinya, untuk menyalami saya. Saya terlambat, sehingga tiga penampil pertama terlewat dari saya. Tahun 2008 lalu, Momon (dalam hati ia saya sebut sebagai da’i rocker) yang kini rambutnya lebih pendek, memberikan pengarahan kepada para peserta audisi API-4, termasuk saya. Ia bos, saya peserta. Kini saya datang sebagai kawan. Sebagai tukang catat. Tukang lapor. Tukang cerita.

Kalau boleh diberi label sebagai gagah-gagahan, saya datang ingin juga sebagai “sejarawan” komedi Indonesia. Saya datang dengan bekal, seturut ujaran sejarawan Perancis, Ferdinand Lot, bahwa sejarawan harus memiliki empati terhadap obyek kajiannya. Karena tanpa itu tak ada wawasan yang imajinatif untuk menggali masa lampau. Idealnya lagi, menurutnya, sejarawan harus menunjukkan kemampuannya sejajar dengan apa yang dimiliki para penyair dan seniman.

lawakan drakula,kelompok sandal jepit,solo,drakula banci,piala dunia tawa tpi 2010

Rendang kerbau. Lanskap apa yang nampak ketika anak-anak muda masa kini ingin terjun dalam dunia hiburan, khususnya lawak ? Lawakan tentang drakula dan kuntilanak, masih ada. Banci-bancian, juga masih ada. Lawakan hansip, juga ada. Plesetan kata, tetap muncul lagi juga. Penampilan komedian tunggal dengan gaya bercerita, mungkin ini warisan almarhum Taufik Savalas, juga ada. Lawakan dengan menyemprotkan air dari mulut ke wajah lawan main, juga ada.

Tontonan duplikasi adegan fotonya Marilyn Monroe dengan rok tersibak, juga ada. Dibawakan oleh Sarita (2009), diceritakan bahwa bintang film dan dewi seks AS itu bangkit dari kubur, menari dan menyanyi dan lalu kembali ke liang lahat.

Walau pesertanya tidak segegap gempita API-4, di mana ruang penjurian terdapat dua dan kini hanya satu, semangat peserta untuk berlawak-lawak-ria pantas diberi tepuk tangan. “Kali ini pendekatannya rada berbeda, Bang,” tutur Harris Cinnamon, saat kami usai sholat Jumat, sebelum sesi penjurian dilanjutkan.

Kalau dalam API-4, kata Momon, yang direkrut untuk dibina adalah kelompok yang menonjol, kini yang dicari adalah individu yang istimewa. Mereka-mereka itu selanjutnya akan dilakukan pairing, pencocokan dengan individu yang lain, sehingga diharapkan hadir sinergi yang lebih saling memperkuat.Pendekatan itu yang membuat suasana audisi terasa lebih hidup. Walau juga kadang konyol.

tony tanuwijaya,nurbati,harris cinnamon,erick tamalagi,nala rinaldo,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Godfather komedi televisi Indonesia. TPI nampak serius dalam merekrut talenta-talenta baru dunia hiburan televisi di Indonesia. Mereka menerjunkan personil kunci mereka. Dari kiri : Tony Tanuwijaya, eksekutif produser, Nurbati, Harris Cinnamon, direktur kreatif, dan Erick Tamalagi, produser. Dan juga ditongkrongi oleh GM Produksi, Nala Rinaldo (tidak nampak dalam foto).



Seperti Sajimin (2006), alias Pak Min (foto, berblangkon), yang mengaku sebagai dalang cangkeman alias bermain wayang dengan instrumen mulut belaka, digojlok habis-habisan di panggung oleh para juri.

Dibuat dirinya agar terpojok, sehingga Pak Min itu mampu mengeluarkan kesaktiannya, katakanlah jeroannya secara lahir batin. Ketika ia dipaksa keluar dari sarang kosmologi Jawanya dan diminta menyanyi lagu pop, yang muncul adalah lagu tentang perempuan yang hidup dalam lumpur noda. Malah ia sempat terloncat perkataan, bahwa “istri saya juga berasal dari sana.”

Andri Balung (2018, foto) yang tampil sendirian, juga mendapat teror serupa. “Wah, pengin dadi wong kondang kok yo rekoso,” keluhnya di panggung. Ketika disodori sisir besar terbuat dari styrofoam, apa yang akan ia perbuat ? Andri menggigit pinggir sisir itu sampai somplak. Audiens di ruangan pun terbahak.

Lawakan tunggal yang merambah gagasan coba ditampilkan oleh Andika Putra (2008). Ia tampil di panggung dengan jas dan berdasi. Tetapi celananya, aneh. Separo lengkap, sewarna dengan jas, bersepatu resmi. Separo celana satunya lagi adalah celana pemain sepak bola, dan bersepatu pemain sepak bola.

“Jauh-jauh dari Padang,” katanya mengenalkan diri, dan rupanya ia sekaligus pula membawa sudut pandang budaya Ranah Minang ketika menyentil ulah para penguasa dan politisi kita. Nampak merujuk demo mahasiswa yang mengusung binatang kerbau beberapa waktu lalu, Andika menggertak : “Banyak penguasa kita yang seperti kerbau. Nampaknya gagah dan kuat, tetapi segera menjadi lembek ketika berubah menjadi rendang.”

Tentang pakaiannya ? “Ini cerminan ulah politikus kita. Di depan nampak bersopan-sopan, tetapi di belakang layar mereka saling main tendang, sepak-sepakan !”

rokayatun,suwanto,eko,bs,sarjoe,phh,bambang haryanto,piala dunia tawa tpi 2010

Lelucon yang juga bersinggungan dengan wacana politik juga diusung oleh kelompok BS, Barang Sortiran (2025, foto). Trio ini terdiri dari Rokayatun (baju oranye), Suwanto dan Eko. Sebelumnya, saya sempat mengobrol dengan mereka. Rokayatun (cowok) adalah alumnus audisi API-4 yang kelompoknya bernama PHH ikut lolos ke Jakarta.

Ia memberi saya kartu nama, dengan tajuk MC Kocak/Lawak “Sardjoe” yang siap ditanggap untuk hajatan pertemuan, seminar, acara promosi, pesta reuni sampai ulang tahun. No HP mereka yang bisa dihubungi : 085640234449.

Pada kartu nama itu juga tertera logo API-4. Tetapi ketika para juri saat itu sempat menanyakan, apakah kelompok ini “orang lama,” membuat saya tersenyum-senyum. Karena nampak trio awak BS itu menjadi sibuk berkelit, dan bagi saya ini adalah komedi pula.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya kirim sms ke Rokayatun, berkomentar bahwa penampilan mereka jauh lebih unggul dibanding peserta lain yang sempat saya tonton.

Trio BS itu membawakan lakon “Rampok,” yang tidak lain merupakan satir bagi para politisi, birokrat sampai penegak hukum kita yang korup, yang merampok uang rakyat. Sempat terlontar ketika mengenalkan anggota termuda dari trio perampok itu, dengan ujaran : “Adik saya yang terkecil ini adalah perampok yang masih berstatus honorer.”

Siang itu saya sempat menonton 22 dari 58 peserta audisi yang terdaftar siang itu. Di tengah acara, tiba-tiba saya memperoleh sms dari nomor yang asing. Ia menanyakan, apakah saya ikut dalam audisi siang itu pula. Tentu saja, saya jawab : saya tidak ikut.

Pengirim sms itu bernama Burhan, asal Sukoharjo, memperoleh nomor urut 2033. Saya keburu pulang, dan mengirim sms agar ia berhasil. Burhan menjawab antara lain : “Waduh, padahal saya belum ketemu mas loh. Ehm, kemarin saya masuk ke blognya mas. See you.”


Awal perjalanan. Kabar dari Burhan itu lumayan membuat senang. Tahun 2008 lalu, gara-gara blog ini pula, saya bisa bereuni darat dengan Ade Tao, juri saya yang sebelumnya saling ketemuan di dunia maya. Kini, dengan pelaku lain, yang pasti atas bantuan kedahsyatan Google, hal serupa rupanya terjadi lagi.

Blog ini ternyata memiliki power yang tak terduga-duga bagi saya. Mungkin karena belum banyaknya blog dengan topik komedi, akhirnya blog saya ini boleh jadi terdongkrak menjadi semacam gerbang. Gerbang itu pula yang mau tak mau harus dilirik :-( dan dilewati oleh mereka yang ingin mengenal atau pun menerjuni dunia komedi.

Melegakan, bila isinya memang mampu memberi manfaat. Walau boleh jadi terlalu sangat hiperbolik bila power semacam itu yang membuat sobat saya Effendi Gazali, setelah bermurah hati menuliskan endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya, menambahinya saat menulis sms (16/3/2010 ) kepada saya. Isinya berbunyi : “Anda tetap supervisor or guardian dunia humor Indonesia.”

Hari Minggu pagi (4/4/2010), ketika saya melakukan olah raga jalan kaki pagi di bendungan waduk Gajah Mungkur, saya mendapatkan sms lagi. Bunyinya antara lain : “Thanks atas doanya, BS lolos Jakarta bersama 2 grup lainnya.” Saya segera membalas, mengucapkan selamat dan dorongan agar mereka mampu lebih berprestasi nantinya.

Demikianlah, hari Jumat di Gedung Wanitatama Yogyakarta itu, menjadi hari yang menggembirakan bagi saya. Mereguki semangat anak-anak muda yang bergairah menerjuni karier di dunia hiburan, utamanya lawak, ibarat memperoleh tetes air dari oasis yang menyegarkan jiwa. Sebagai bekal dalam menempuh, serta melanjutkan perjalanan yang masih panjang di depan.

Ikhtiar TPI merupakan sebuah pintu yang terbuka. Pantas diberikan akolade. Tetapi bagi mereka yang mampu masuk, atau pun bagi mereka yang belum beruntung, perjalanan meraih sukses dalam komedi senantiasa akan selalu terpulang kepada masing-masing individu. Seberapa keras, tangguh dan tahan uji, dalam menempa diri mereka sendiri.

Utamanya, seperti tak bosan saya tulis dalam blog ini, adalah ikhtiar menempa diri sendiri untuk mampu menjadi pribadi atau persona yang unik, orisinal, di antara wajah-wajah komedian yang lalu lalang selama ini, di negeri ini pula.

Satu-satunya cara yang harus ditempuh agar mampu meraih status terhormat itu adalah dengan mentransformasikan masing-masing hidup mereka, untuk menjadi komedi itu sendiri. Bert Williams telah menulis : “Orang yang memiliki selera humor sejati adalah orang yang mampu menempatkan dirinya di depan para penonton dan mampu menertawakan kehidupan malangnya sendiri di depan mereka.”

Dalang cangkeman Pak Min, secara tak sengaja telah melakukannya. Tetapi seturut nasihat Bert Williams di atas, apakah ia akan berani bila harus melakukannya secara sengaja ? Berapa banyak komedian Indonesia yang berani melakukan hal yang sama ?

Bagaimana dengan Anda sendiri pula ? Kalau Anda mendapat todongan semacam ini, kira-kira berapa angka indeks stres Anda ?


Wonogiri, 3-5/4/2010


ke

Sunday, March 14, 2010

Ejek dan Tawa Dibalik Kunjungan Obama

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Obama Harus Jadi Humas Indonesia.”

Demikian harapan pengamat politik Anis Baswedan terkait rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia. Kunjungan itu menurutnya, merupakan momen terpenting bagi bangsa Indonesia. Menurut Anis, pemerintah harus bisa memanfaatkan waktu kedatangan Obama ini dengan menjadikannya humas atau juru bicara bagi Indonesia.

"(Obama) harus bisa mengatakan, Indonesia memiliki potensi, ekonominya maju, kebhinekaannya dijamin. Kalau yang ngomong itu Obama, dia tentu menjadi public relation (PR) kita. Kalau kita tidak punya agenda itu, ya nanti kita malah menjadi PR-nya Obama," kata Anis Baswedan kepada para wartawan seusai menjadi pembicara Sarasehan Nasional ISNU Pra Muktamar NU ke-32 di kediaman Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (13/3/2010).

Liar ! Liar ! Liar ! Humoris dan satiris terkenal Amerika Serikat Art Buchwald (1925-2007) yang tak pernah lulus SMA, punya lidah tajam mengenai humas. Ia pernah bilang, kalau dirinya tidak menjadi humoris pasti akan petugas humas. Dan itu, menurutnya, bakal tidak membahagiakan dirinya sepanjang hidupnya.

Karena, “tugas humas adalah mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.”

Bila Barack Obama benar-benar menjadi humasnya Indonesia, inilah sebagian hal yang kira-kira bakal ia katakan untuk memromosikan keadaan sebenarnya Indonesia, tempat ia pernah mengenyam kehidupan di masa kecilnya, kepada dunia :


Oleh-oleh dari Australia. Barack Obama dan Susilo Bambang Yudhoyono pernah saling ketemu. Tetapi kunjungan Obama ke Indonesia merupakan momentum terbaik bagi SBY untuk memulihkan citranya setelah babak-belur kena “gebuk” DPR terkait skandal Bank Century.

Jadi pertemuan itu sungguh dinanti oleh SBY. Termasuk keinginannya berbagi trik politik sebagai oleh-oleh saat ia berkunjung ke Australia, baru-baru saja. Di tanah leluhur suku Aborigin itu, begitu laporan intelijen yang bocor ke media, ternyata SBY secara khusus berlatih melempar bumerang.

Dengan spesialisasi, bagaimana melempar bumerang yang dijamin tidak akan bisa kembali lagi kepada dirinya !


Takut teror dokter. Obama akan menyatakan penyesalan karena istrinya, Michele Obama, tidak jadi ikut berkunjung ke Indonesia. Alasannya, sebagai first lady sekaligus public figure, istrinya kuatir terancam pelukan dan ciuman dari belakang secara tiba-tiba oleh dokter Rasyidin dari RSUD Labuang Baji, Sulawesi Selatan.


Modis, membangkrutkan. Pembatalan kehadiran Michele Obama diam-diam disyukuri para pebisnis tekstil dan pakaian jadi di Indonesia. Karena sosoknya sebagai ibu negara adi kuasa dan secara tidak resmi menjadi inspirasi, bahkan penentu selera banyak wanita dalam berbusana, liputan tentang Michele Obama justru mereka kuatirkan dampaknya.

Pebisnis tekstil menilai, selera berpakaian Michele Obama berpotensi menurunkan konsumsi rakyat Indonesia secara drastis terhadap produk-produk tekstil dan pakaian jadi, utamanya busana muslimah Indonesia. Karena di Amerika Serikat, Michele Obama sering tampil memakai baju tanpa lengan, bahkan pada pelbagai acara-acara resmi negara.

Protes umat. Obama dalam berpidato nanti isinya memahami aspirasi sebagian rakyat Indonesia yang menggalang kampanye melalui Facebook agar patung dirinya dipindah.

Yang semula berada di Taman Menteng, Jakarta Pusat, dan sekarang menempati lokasi baru di SDN 01 Menteng, di Jalan Besuki Nomor 4, Jakarta Pusat. Sebab, di sekolah itulah Obama kecil pernah mengenyam pendidikan sehingga patungnya akan dibuat permanen.

Tak lupa Obama akan nyeletuk bahwa patung itu berpindah ke kompleks sekolah dasar, karena ada sebagian golongan umat keberatan patung “Impian Barry” berada di taman umum. Utamanya, karena status sosok patung itu dalam keadaan belum pernah disunat.

Masa depan Gitmo. Dalam berpidato untuk merengkuh hati mayoritas negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia, Obama akan menegaskan sekali lagi janji kampanyenya dulu. Bahwa ia ingin menutup penjara kontroversial, Guantanamo, selama-lamanya.

“Penjara mengerikan itu akan kami sulap menjadi resor pariwisata,” katanya. Bahkan tempat itu nanti, katanya, dirancang menjadi spot istimewa bagi kalangan militer Indonesia yang diduga berat melakukan pelanggaran HAM berat sehingga mereka resmi dicekal masuk Amerika Serikat. Bahkan dicekal untuk sepanjang hidupnya.

“Kebijakan kami berubah. Mereka kelak kami terima di Guantanamo dengan sebaik-baiknya,” kata sumber terpercaya dari Gedung Putih. “Kami akan berusaha membuat mereka tidak tergiur lagi untuk kembali ke Indonesia. Sepanjang hidup mereka.”

Judul-judul lanjutannya seperti di bawah ini akan dicantumkan dalam buku Komedikus Erektus yang akan segera terbit.

Bertukar cenderamata.
Pasangan cocok.
Demagog di demokrat.
Pedagang kematian Paman Sam
Good advice for Tiger Woods.
Tarian presiden kita.


Wonogiri, 14/3/2010

Thursday, March 11, 2010

Komedikus Erektus ! : The Book

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Payah matematika. Majalah Forbes memasukkan 7 nama orang Indonesia yang masuk milyarder kelas dunia di tahun 2010.

Yang paling tinggi peringkatnya di antara ketujuh nama tadi adalah Budi Hartono dan Michael Hartono (posisi 258 dunia), pemilik perusahaan rokok raksasa Djarum Kudus. Ada nama Sukanto Tanoto, dan kemudian Chairul Tanjung, pemilik Bank Mega dan Transcorp. Bill Gates dari Microsoft berada di peringkat 2 dunia.

Mengapa mereka begitu kaya dan apa resepnya ? Tahun lalu di majalah yang sama, seorang wartawannya Duncan Greenberg menulis artikel berjudul “A Recipe for Riches.” Artikel yang membuat saya patah hati. Karena pada diri saya ternyata tidak ada ciri-ciri untuk menjadi kaya-raya.

Duncan Greenberg menyatakan bahwa ciri pertama seseorang yang punya bakat kaya-raya adalah memiliki orang tua yang kariernya terkait dengan matematika. “Kemampuan mengolah angka-angka merupakan kunci tipikal untuk menjadi seorang milyarder. Seringkali, keterampilan matematika itu diperoleh dari keturunan. Profesi yang lajim bagi kalangan orang tua para milyarder Amerika Serikat adalah mereka yang bekerja sebagai insinyur, akuntan dan pemilik usaha kecil dan menengah.”

Ciri kedua, adalah mereka yang lahir di bulan September. Dari 380 orang sosok kaya raya daftar milyarder Forbes itu selama tiga tahun, terdapat 42 orang yang lahir di bulan September, yang lebih banyak dibanding bulan lainnya.

Cukup sudah. Mampuslah kamu, Pak Greenberg.
Saya benci membaca uraian Anda.

Terutama karena ternyata orang tua saya tak ada sangkut paut dengan matematika. Bapak saya, seorang tentara dan ibu pengelola warung makan di Kodim Wonogiri, kios di pasar dan kemudian jualan bahan pakaian secara kredit di kantor pos Wonogiri. Lahir saya pun bukan September, tetapi Agustus. Tetapi kira-kira hal terpokok dari keterseyokan saya itu untuk menjadi insan rangkayo adalah, jujur saja, saya payah dalam matematika.

Selepas lulus di SMP Negeri 1 Wonogiri, saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Tahun 1970 sampai tahun 1972. Jurusan Mesin. Menengoki dokumen rapor saya, walau sudah dilaminasi plastik oleh ayah saya Kastanto Hendrowiharso toh bagian tengahnya sudah dimakan rayap, tercatat banyak sekali angka-angka yang tidak membanggakan bagi orang tua saat saya bersekolah yang terletak di Jetis itu.

Saat duduk di kelas 1 Mesin C, pada semester satu, untuk pelajaran Mesin Uap saya mendapat nilai 4. Mohon maaf kepada James Watt, bapak penemu mesin uap. Mohon maaf pula kepada Bapak Sumarto, guru saya. Yang saya ingat dari beliau, selain sosok kurus dan berkacamata, adalah keusilannya untuk mau mengomentari judul lagu yang saya cantumkan di bagian bawah kertas ulangan.

Saat itu saya menggemari duo Simon & Garfunkel. Pada bagian akhir kertas ulangan mesin uap itu saya tulis judul lagunya, “The Only Living Boy in New York.” Ketika kertas ulangan dikembalikan, ada tulisan tambahan dari Pak Sumarto : “But, why do you live in Yogya ?

Pelajaran Motor Bakar juga mendapat nilai 4. Saat itu, seingat saya, saya lebih mudah mengingat nama-nama “indah” para pembalap F-1 saat itu, seperti Clay Reggazoni atau Emerson Fittipaldi, daripada menghafal rumus-rumus pelajaran dari Pak Sardjiman itu.

Nilai kursi terbalik juga saya sandang untuk Ilmu Ukur Ruang dan Proyeksi. Turbin Uap, 5. Peraturan Keselamatan Kerja, 5. Praktek Bengkel, 5. Aljabar dan Ilmu Ukur Analyt, 5. Di semester satu itu ada 7 angka merah. Syukurlah hanya ada dua merah di semester kedua : Motor Bakar dapat 5 dan Ilmu Gaya, yang sebelumnya dapat 6 kini merosot jadi 4. Saya bisa naik kelas dengan terseyok-seyok.


Fast Forward 2010. Beberapa puluh tahun kemudian, ketika menjadi seorang blogger, ternyata saya tetap tidak bisa menghindari matematika. Di situs penerbit besar HarperCollins, saya menemukan posting berjudul “Lunchtime Laughs” yang menarik.

Tidak ada teksnya, hanya semata berupa diagram Venn, yang temuan tokoh logika Inggris, John Venn (1834–1923). Nampak diagram Venn di bawah ini memperlihatkan kaitan antara buku dan blogger di era digital ini.

buku,blog,blogger,penerbitan mati,penerbitan hidup,diagram venn

Diagram yang mengundang senyum.
Memajang sebuah ironi.

Betapa di tengah embusan keyakinan bahwa penerbitan cetak diambang kematian dengan hadirnya blog, yang terjadi justru para blogger berbondong-bondong ingin menerbitkan buku. Sehingga salah satu komentar yang muncul adalah, “apakah lingkaran sebelah kiri akan bergerak menuju ke kanan, atau, lingkaran yang kanan justru yang bergerak ke arah kiri ?”

Kita tengah berada di jaman yang masih serba bingung.
Saya juga.

Sebagai blogger, yang termasuk meluncurkan blog ini sejak Agustus 2004, saya menjalaninya dengan senang-senang saja. Tak ada sasaran khusus atau cita-cita. Ternyata pada tanggal 4 Februari 2010, kelucuan yang digambarkan dalam diagram Venn di atas benar-benar menyapa hidup saya sebagai seorang blogger. Email di bawah ini pemicunya :

“Saya Wijdan Fr. , manajer Penerbit Imania, Imprint baru dari Pustaka Iman. Saya baru saja berselancar mengunjungi Blog Anda: http://komedian.blogspot.com/. Jujur saya baca postingan blog Anda ini saya tertawa dan kepingkel-pingkel. Tak hanya itu yang saya dapat banyak informasi, pencerahan saya dapat dari tulisan-tulisan Anda.

Referensi tulisan Anda sangat kaya. Benar-benar high-joke saya bilang. Saya berminat untuk menerbitkan kumpulan tulisan-tulisan Anda di blog Anda ini. Judul blog Anda sangat bagus dan mencengangkan Komedikus Erektus, dan ini sangat cocok untuk judul buku Anda nanti. Semoga Anda berkenan.

Besar harapan saya Anda dapat memenuhi undangan ini, buku semacam dan pasti diminati pembaca Indonesia.”

Membunuh blog. Tawaran tersebut malah menimbulkan kecemasan pada diri saya. Apakah kemudian saya harus membunuh blog saya ini ? Kecemasan ini merujuk kepada seorang blogger muda, produktif menulis dan terkenal jenaka, begitu blognya diterbitkan sebagai buku maka ia “bunuh” blognya itu. Seorang aktor teater yang suka bermonolog menirukan lagak-gaya Soeharto, Harmoko dan Habibie, juga begitu. Ia membunuh blognya saat isinya diterbitkan menjadi buku.

Ternyata dalam mengobrol dengan Mas Wijdan, juga dalam meneliti isi kontrak, ternyata tak ada klausul agar blog saya tersebut dimatikan. Bahkan ia mengembuskan angin surga, “bila nanti terkumpul tulisan-tulisan baru, kita berpeluang menerbitkan buku sekuelnya yang kedua, dan selanjutnya.”

Ketika membaca-baca isi kontrak yang menyangkut jumlah eksemplar yang akan diterbitkan, saya sungguh tidak mempercayai. Saya merasa seperti sedang melambung ke awan, bak seorang selebritis dengan melihat jumlah itu.

Tetapi itu memang hak prerogatif penerbit, yang tentunya memiliki wawasan, pertimbangan dan keterampilan tersendiri dalam membaca pasar. Saya sebagai penulis, membantunya dengan bertugas mempersiapkan materi sebaik-baiknya. Termasuk semula berambisi agar semua isi blog ini diterbitkan semua. Perkiraan Mas Wijdan, itu bisa mencapai 1000 halaman. Agar sesuai dengan dinamika pasar maka memang harus dilakukan seleksi.

Juga penambahan isi, berupa isu-isu yang mutakhir. Berhubung lelucon dalam blog saya ini sebagian berupa fake news, berita yang seolah-olah benar walau sebenarnya palsu, plus lebay sebagaimana karakter khas suatu lelucon, heboh skandal Bank Century harus tidak dilupakan. Maka dalam bab awal parade lelucon seputar heboh Pansus DPR Terkait Bank Century menjadi gebrakan pertama isi buku tersebut nantinya.

Bila terbit, akan menjadi buku humor saya yang ketiga. Tetapi dalam penerbitan kali ini saya memperoleh wawasan baru, mengenai sebuah ritual, yaitu pemuatan pernyataan dari mereka yang sukses guna mendukung mitra yang juga sukses. Siklus win-win yang menarik.

Saya yang merasa sukses karena berhasil menulis buku ini, telah meminta kerjasama dukungan kepada pelbagai fihak, untuk menulis endorsement untuk buku saya ini. Bukti sukses mereka akan terpajang di buku saya, guna menunjang sukses diri mereka dan juga sukses saya pula. Pelbagai fihak yang saya kontak selama ini antara lain :

Andrias Harefa, Antyo Rentjoko, Ayu Utami, Arswendo Atmowiloto, Budiarto Shambazy, Danny Septriadi, Darminto M Sudarmo, Denny Chandra, Diana AV Sasa, Donny Maulana, Effendi Gazali, Harris Cinnamon, Ira Lathief, Isman H Suryaman,Jaya Suprana, Jerry Gogapasha, Jonie Hermanto, Onno W. Poerbo, Sarlito Wirawan Sarwono, Sholahuddin Norazmy, Welnady, dan Wimar Witoelar. Daftar ini bisa bertambah.

Terima kasih untuk Antyo Rentjoko, Danny Septriadi, Darminto, Diana AV Sasa, Jerry Gogapasha, Jonie Hermanto SQL, Harris Cinnamon, dan Bang Wimar, untuk kebaikan Anda. Saya yakin, nama-nama lain di atas akan segera menyusul. Sukses selalu untuk Anda !

Untuk menyertai penerbitan buku tersebut saya telah meluncurkan blog baru, Komedikus Erektus ! : The Book. Dalam blog ini saya akan berbagi cerita terkait latar belakang buku tersebut, kaitan antara saya dengan para endorsers, cerita masa lalu saya sebagai penulis, blogger, dan tentu saja tentang dunia buku, blog dan komedi.

Kalau Anda memiliki komentar dan saran, saya tunggu di :
humorliner (at) yahoo.com.

Terima kasih.

Moga-moga buku itu nanti dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Walau saya realistis, buku tersebut tidak akan membuat saya sebagai orang Indoneia yang akan masuk dalam daftar Forbes sampai abad 22 mendatang !


Wonogiri, 11/3/2010

Thursday, February 25, 2010

Jaya Suprana, Lawakan Idiot Olga dan Low Comedy

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Sarkas Jaya Suprana. Bangsat merupakan parasit yang kosmopolit. Dirinya mudah ditemui di mana saja, di tempat manusia biasa berada.

Ia menggunakan taktik gerilya dalam beroperasi.

Bersembunyi di waktu siang hari, menyerang di waktu malam. Sesudah puas menghisap darah manusia targetnya, ia lalu mundur ke tempat persembunyian, guna mencerna santapannya itu dalam beberapa hari.

Bangsat adalah kutu busuk. Encyclopedia Britannica menyebutnya sebagai bed bug. Kutu ranjang. Serangga malam ini termasuk dalam keluarga Cimicidae. Tetapi di Indonesia, baru-baru ini, kutu busuk itu “masuk” sebagai keluarga seorang wakil rakyat.

Gara-garanya, kata bangsat itu menjadi ramai diperbincangkan masyarakat. Utamanya setelah muncul sebagai umpatan yang dilontarkan anggota DPR dari Partai Demokrat, Ruhut Poltak Sitompul, dalam kesempatan suatu rapat Pansus DPR terkait kasus Bank Century.

“Di luar negeri, kata-kata yang lebih jorok lebih sering dimunculkan di lembaga-lembaga wakil rakyat,” cetus budayawan, kolumnis, kelirumolog, penguasaha, Jaya Suprana. Ia hadir sebagai panelis dalam acara Mata Najwa di MetroTV beberapa saat yang lalu. Acara bincang-bincang itu juga dihadiri pengamat ekonomi Faisal Basri, Hendri Saparini, artis yang mau jadi calon wakil bupati Sukabumi Ayu Azhari, dan juga si pelontar kata bangsat itu sendiri, Ruhut Sitompul.

Audiens bertepuk tangan. Tetapi segera Jaya Suprana memperingatkan mereka.“Jangan buru-buru tepuk tangan. Karena terdapat juga sarkas dalam pernyataan saya.”

Saya tersenyum. Umpama saat itu Jaya Suprana melakonkan diri sebagai komedian tunggal, nampaknya ia telah melakukan kesalahan fatal. Karena ia berambisi untuk menjelas-jelaskan makna dari materi lawakannya. Tetapi syukurlah, ia tidak sedang tampil sebagai komedian. Selebihnya, memang nampak betapa audiens yang sebagian besar mahasiswa itu tidak ngeh dalam mencerna lawakan sarkas tingkat tinggi model Jaya Suprana.

Lawakan kasar. Momen semacam itu, ketika para cendekiawan muda kita nampak telmi dalam mengikuti lawakan-lawakan yang cerdas, apakah seringkali ditemui dalam pelbagai acara-acara televisi ?

Mungkin pembaca dapat berbagi informasi kepada saya. Maafkan saya, saya bukan penonton televisi Indonesia yang taat dan baik. Hiruk-pikuk komentar pembaca terhadap mutu tayangan televisi hanya bisa saya ikuti lewat media massa. Itu pun hanya dari 4 koran, yaitu Kompas, JawaPos, Solopos dan Suara Merdeka, yang saya baca-baca di Perpustakaan Umum Wonogiri.

Sebagai seorang epistoholik, saya telah membaca surat pembaca yang ditulis Leonardo Paskah (Grogol, Jakarta). Judulnya “Lawakan Berbau Anarkis” di Kompas (9/2/2010 :7). Ia tulis bahwa dalam acara Oh My God dan Segerr Benerr di ANTV, dengan pembawa acara Olga Syahputra, sebagai tayangan lelucon anarkis dan kasar. “Olok-olokan kasar, jambakan rambut, memukul dan menghantamkan barang yang tiba-tiba dari belakang,” begitu antara lain tulisnya.

Soraya Perucha, pejabat humas dari ANTV di kolom yang sama (15/2/2009) kemudian memberikan jawaban. “Kami merasa masukan yang disampaikan cukup positif. Itu menjadi perhatian kami untuk memperbaiki kualitas tayangan. Kami senantiasa melakukan evaluasi untuk setiap program agar dapat dinikmati dan bermanfaat bagi keluarga Indonesia.” Anda percaya dengan kata-kata klise kehumasan semacam ini ?

Surat pembaca kedua, lebih dramatis. Dengan judul “Siaran Televisi Mengepung Relung Hati dan Pikiran” (Kompas, 13/2/2010 : 7) warga Kemang Pratama, Bekasi, Bambang Sudiono menulis keluhan berat. Antara lain tentang bagaimana humor menjelma menjadi tontonan kebodohan di pelbagai televisi-televisi kita.

“Kebodohan dipamerkan dengan penuh suka cita lewat acara yang disebut ‘humor.’ Humor sesungguhnya, yaitu menertawakan kelemahan dan kebodohan diri sendiri, dimaknai oleh para ‘pelawak’ dan produser televisi dengan menghina orang, melecehkan orang, mengejek orang lain, bahkan dengan melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain.

Pada saat seseorang diperlakukan secara tidak sopan dan kemudian merintih-rintih, penonton tertawa. Itu yang disebut ‘humor’ oleh televisi kita : menghina dan menyakiti orang lain ? “

Kasta terendah. Kritik pedas Bambang Sudiono di atas belum ada yang menjawab dari fihak televisi. Orang-orang televisi mungkin menganggap keluhan semacam itu pantas untuk dibaca, kemudian segera untuk dilupakan.

Saya juga meminta seorang networker yang memiliki LSM dengan inti kiprah dalam bidang humor untuk mem-posting kritik di atas pada akun Facebook-nya, nampaknya hanya “ya” tetapi tidak ia lakukan. Mungkin permintaan semacam ini harus disertai pengucuran dana, suatu langgam yang mungkin biasa bagi organisasi yang berfilfasafat no money, no project itu.

Yang pasti, nampaknya upaya melakukan peningkatan, up grade terhadap diri sendiri, merupakan hal yang teramat sulit untuk dilakukan. Apalagi meningkatkan diri di bidang kiprah kreatif yang begitu elusive seperti komedi, yang mungkin secara ekstrim dan guyon hanya dapat dilakukan bila terjadi melalui cara operasi cangkok pada otak mereka sendiri.

Orang-orang televisi tidak mau repot. Apalagi orang-orang komedi. Mereka alergi untuk merenung. Tak mau berkontemplasi. Mereka seperti bajing di kandang, sibuk berlari di atas treadmill mereka sendiri. Demi memenuhi kejar tayang.

Meminjam sinyalemen Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-Sized Book of Comedy : What We Laugh At…And Why ( 1999), bahwa “Ketidakmampuan dalam mencerna bagaimana rumus lelucon dapat berhasil, membuat para penampil komedi lebih suka melakukan cara awur-awuran, trial and error, dengan berharap bahwa waktu dan pengalamanlah yang akan mampu menempa naluri mereka agar selamat melewati padang penuh ranjau sajian komedi yang tidak menghasilkan tawa. Dengan sikap mental semacam ini maka tidak aneh bila profesi komedi menjadi begitu sulit dan penuh ketidakpastian.”

Akibatnya, fatal.

Komedi-komedi yang dominan hadir di televisi kita, masih menurut Stevie Ray tadi, adalah komedi-komedi fisik semata. Seperti yang kental diwakili sajian komedi pada diri Olga itu. Kita simak urutan kasta dalam komedi menurut Stevie Ray : komedi fisik, komedi porno, cerita, bahasa, imitasi, kontradiksi karakter dan satir.

Komedi fisik berada pada tingkat kasta yang terendah. Ia termasuk dalam kategori low comedy, “karena membutuhkan intelektual yang minim untuk memahami lelucon yang muncul. [Sementara] semakin tinggi kadar intelektual seseorang, akan semakin luas rentang pengalaman-pengalaman komedi yang dapat mereka nikmati.”

Sebagian pebisnis televisi di Indonesia nampak memahami adanya tuntutan semacam itu. Di masyarakat kita terdapat segmen penonton yang menginginkan tontonan komedi alternatif. Maka tidak ayal, bila sejak 26 Januari 2010 telah diluncurkan saluran Vision Comedy, tayangan berbayar yang menyanyikan tayangan-tayangan komedi 24 jam.

Kita dapat bernostalgia mendengarkan lagunya Bob James, “Angela” dalam film seri komedi “Taxi” yang dibintangi Judd Hirsch dan Danny deVito, “Lucy Show,” “Growing Pains,” sampai “Suddenly Susan.”

Siapa tahu tayangan itu mampu menjadi arena belajar yang baik bagi para pemangku kepentingan yang ingin memajukan dunia komedi Indonesia. Kalau tetap tak mau belajar, apa mungkin bisa katakan kepada mereka ucapan ini : bangsat ?


Wonogiri, 26/2/2010

ke