Thursday, November 16, 2006

George W. Bush, SBY, Komedi Amerika dan Komedi Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Setan Berbau Belerang. “Setan,” demikian Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menyebut George W. Bush dalam pidatonya di PBB, bulan September 2006 lalu. Sehari setelah presiden AS itu berpidato di PBB, Chavez menyatakan, “Setan telah datang kesini, kemarin. Dan bau belerangnya masih menguar sampai saat ini.”

Bahkan Hugo Chavez katakan, Bush berpidato kemarin itu seolah ia yang memiliki dunia dan para psikiater harus menganalisisnya. “Sebagai juru bicara imperialisme, ia datang berbagi obat ajaibnya untuk mempertahankan pola dominasi, eksploitasi dan aksi penjarahannya terhadap warga dunia. Dan film-film Alfred Hitchcock dapat menggunakannya sebagai skenario. Bahkan saya ajukan judulnya “Resep Setan.”

Chavez berpidato sambil mengacung-acungkan buku karya linguis dan aktivis politik AS terkenal Noam Chomsky yang berjudul Hegemony or Survival: America's Quest for Global Dominance, dan merekomendasikan peserta Sidang Umum PBB dan rakyat AS untuk membacanya. “Kerajaan Amerika berusaha sekuat tenaga untuk mengkonsolidasikan sistem dominasi kekuatan hegemoninya dan kita harus mencegahnya. Kita tidak ingin dikator dunia itu mengkonsolidasikan kekuatannya !”

Imbuh Chavez : “Rakyat AS harus membaca buku ini, ketimbang menonton film Superman.” Imbauan itu ampuh. Buku yang terbit tahun 2003 tersebut sontak meroket untuk masuk dalam daftar 10 buku laris dari daftar Amazon.com dan juga Barnes & Nobel.com.

George W. Bush tidak hanya menjadi bulan-bulanan Hugo Chavez. Aktivis dan sutradara film AS, Michael Moore, dalam film dokumenternya berjudul Fahrenheit 9/11 menuduh Bush membelokkan sentimen publik sesudah kejadian 9/11 untuk kepentingan politiknya dan berdusta mengenai alasannya menyerang Irak. Rakyat Amerika Serikat pun tidak mau terus-menerus dibodohi presidennya.


Presiden Bebek Lumpuh. Ketika saatnya tiba, rakyat AS akhirnya menjatuhkan hukuman yang setimpal. Dalam Pemilu Sela (midterm election) yang baru saja berlangung, palu godam telah mereka jatuhkan, dengan tumbangnya dominasi Partai Republik, partainya Bush, baik di Konggres atau pun Senat. Bush kini memperoleh predikat baru sebagai presiden bebek lumpuh.

Peristiwa tragis baginya itu memang sudah lama teramalkan. Komedian Seth Meyers sudah melucukan tragedi itu dengan berkata : “ Apabila jajak pendapat itu benar dan Partai Demokrat kembali menguasai Konggres dan Senat, maka pemerintahan presiden George Bush akan bertransformasi menjadi bebek lumpuh terlalu awal. Celakanya, Wapres Cheney akan menembaknya pula.”

Jay Leno meluncurkan lelucon cerdas pula untuk topik serupa : “Menurut surat kabar USA Today, kota-kota besar di negeri kita tidak mampu melakukan evakuasi secara memadai bila terjadi bencana. Kota Washington, D.C. pun mendapatkan nilai F sebagai kota yang berhasil melakukan evakuasi besar-besaran. Kecuali Anda Partai Republik di bulan November nanti. Itu mudah sekali ?”

Evakuasi atau peminggatan Partai Republik dari Washington, D.C. secara besar-besaran pun lalu terjadi. “Partai Demokrat difavoritkan meraih kemenangan. Sehingga faktanya, satu-satunya wakil Partai Republik di Washington yang utuh kursinya hanyalah milik Lincoln,” cetus komedian David Letterman.

Komediene Amy Poehler menimpali : “Minggu ini, hari Selasa ini, pergeseran sejarah yang ironis telah terjadi, ketika Irak menjadi penyebab pergantian rejim di Amerika Serikat.”
Jay Leno makin menggigit dalam meledeki partainya George Bush : “Sungguh suatu ironi ketika Partai Republik selalu berusaha mendekati kaum minoritas. Kini mereka pun menjadi minoritas .”

Toh ada sedikit hiburan bagi pendukung Partai Republik. Mantan aktor film fiksi ilmiah Terminator 1 sampai Terminator 3, Arnold Schwarzenegger, terpilih untuk kedua kalinya sebagai Gubernur California. Komedian Jay Leno lalu menjadikannya sebagai lelucon : “Di California ini, para pemilih secara telak memutuskan bahwa mereka tidak mengijinkan Arnold Schwarzenegger untuk bermain film lagi.” Ketika mengumumkan kemenangannya, Arnold pun ikut bercanda : “I love do sequels.”


Presiden Bercitra Dungu ? George Walker Bush yang lahir 6 Juli 1946 adalah presiden AS ke 43 dan masih menjabat sampai saat ini. Dilantik 20 Januari 2001 dan terpilih kembali di tahun 2004. Ia adalah putra mantan presiden George H.W. Bush dan kakak Jeb Bush, gubernur Florida.

George W. Bush adalah presiden AS pertama yang juga pelari marathon. Sebelum terpilih sebagai gubernur Texas, ia ikut Houston Marathon 1993 dengan catatan waktu 3 : 44 : 52. Ia memelihara hobinya berlari itu sejak berumur 26 tahun. Sebelum masuk kantor ia berlari 15-30 mil setiap minggunya.

Ia adalah orang kedua dari putra mantan presiden yang menjadi presiden. Yang pertama adalah John Quincy Adams, putra presiden John Adams, menjadi presiden pada tahun 1825. Juga presiden AS kedua yang lahir sesudah Perang Dunia II. Presiden pertama adalah Bill Clinton yang ia gantikan. Bill Clinton dan George W. Bush sama-sama lahir tahun 1946. George W. Bush adalah gubernur Texas pertama yang terpilih sebagai presiden.

Ia mengikuti ayahnya dengan berkuliah di Universitas Yale, lulus menggondol gelar Bachelor of Arts bidang Sejarah, 1968. Ia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi rata-rata, an average student. Setelah meraih gelar MBA dari Universitas Harvard (Bush satu-satunya presiden AS yang memiliki gelar Master of Business Administration), Bush bekerja pada perusahaan minyak di Texas.

Tahun 1977, ia dikenalkan rekannya dengan guru dan pustakawan sekolah, Laura Welch. Setelah berpacaran selama tiga bulan, Bush menikahi Laura, dan tinggal di Midland, Texas. Keluarga ini dikaruniai putri kembar, Jenna and Barbara, yang lahir tahun 1981.

Pasangan ini juga menjadi amunisi bagi komedian AS untuk mencandainya. Ketika berkunjung ke Markas PBB di New York, komedian Conan O’Brien menyikutnya : “Presiden Bush ketika berkunjung ke perpustakaan umum telah memberikan pidato mengenai melek huruf dan demikian pula Ibu Negara. Yang pasti, Ibu Negara mendukung pentingnya melek huruf dan presiden menentangnya.”

“Hari yang sibuk bagi Presiden Bush di New York. Ia berbicara di Mimbar Sidang Umum PBB dan kemudian mengunjungi Perpustakaan Umum. Ini merupakan kunjung ke PBB yang keenam kali, tetapi kunjungannya yang pertama kali ke perpustakaan,” ledek Jay Leno.

“Rencana telah diumumkan untuk menghimpun dana sebesar 300 juta dollar untuk membangun Perpustakaan Kepresidenan George W. Bush. Tiga ratus juta dollar. Pasti sekitar 150 juta dollar per bukunya,” canda sinis Jay Leno lagi. Jadi, perpustakaan untuk Bush itu pantasnya hanya berisi dua buku ya ?

Komedian berwajah sayu, Conan O’Brien, lain lagi sodokannya : “Ibu Negara Laura Bush terbang dari Washington ke New York tidak dengan pesawat kepresidenan Air Force One, tetapi dengan Delta Shuttle. Ibu Negara berkata bahwa penerbangan sipil lebih murah, menghemat bahan bakar, dan dia tidak tersiksa karena harus terpatok duduk di sebelah pria bodoh.”

Ketika tanggal 1 April menjelang tiba, yang di AS dikenal sebagai Fool’s Day dan bagi kita terkenal sebagai April Mop, sekali lagi Jay Leno menggelitiki audiens televisi Amerika Serikat dengan Presiden Bush sebagai sasaran tembaknya : “Besok adalah Hari April Bodoh atau sebagaimana banyak orang menyebutnya sebagai : Hari Presiden.”

Komedian David Letterman melucukan citra bodoh Bush itu dengan sudut pandang lain. Ia katakan, “Berita bagus dari Gedung Putih. Minggu lalu Presiden Bush telah menjalani cek kesehatan tahunan dan ia lulus. Ia lulus cek kesehatan tahunannya.. Belum ada kabar mengenai cek kesehatan mentalnya.”

Dalam suatu adegan upacara menyanyikan lagu kebangsaan, Ibu Negara nampak meletakkan tangannya di posisi jantung, tetapi Presiden Bush meletakkan tangan di perutnya. Komedian Bill Maher langsung menembaknya, terkait invasi ngawur AS ke Irak :

“Peraturan Baru : Seseorang harus menjelaskan kepada Presiden Bush di mana letak jantungnya...Sebagian besar orang tidak pernah salah dalam meraba organ tubuhnya, tetapi sekali lagi, sebagian besar orang juga tidak menyerang negara lain secara keliru pula.”

Dari waktu ke waktu, kapasitas intelektual Presiden Bush memang menjadi bahan gojlokan media dan juga politisi lain, yang menjurus ke arah spekulasi seberapa tinggi tingkat kecerdasan (IQ), yang memang tidak ada catatan resminya. Tukang olok dirinya cenderung mengutip pelbagai kesalahan bahasa yang ia lakukan ketika berbicara di depan umum, bahkan bencana salah ucap yang menjadi kebiasaan ini kemudian terkenal dengan sebutan sebagai Bushisms.

Salah satu salah ucap Bush yang terkenal adalah ketika ia menyebut nucular padahal nuclear yang seharusnya ia katakan. Kesalahan semacam ini memang bukan hanya dia saja yang melakukannya, tetapi kekonyolan semacam menjadi amunisi gurih untuk diledakkan para komedian, antara lain dalam acara komedi skets semacam Saturday Night Live yang sohor itu.

Contoh mutakhir ledekan tentang tradisi salah ucap Bush itu adalah canda David Letterman : “Presiden Bush menyatakan ia sekarang tidak peduli terhadap program nuklir Iran, sepanjang Iran tidak mengembangkan program nuke-ular.”


Budaya satir Amerika Semua presiden Amerika Serikat memang mudah menjadi sasaran tembak para komedian. Sebagai cerminan budaya negara demokrasi, canda politik dan budaya satir yang dilakoni para komedian sampai politisi, sudah menjadi makanan sehari-hari rakyat Amerika Serikat. Tidak ada komedian yang kemudian ditangkap, atau dijebloskan ke dalam penjara, misalnya dengan tuduhan penghinaan atau pun melakukan pencemaran nama baik.

Presiden George W. Bush akan berkunjung ke Indonesia, 20 November 2006. Banyak demo menentang kunjungannya itu, tetapi juga ada demo yang justru menyambut kedatangan Bush dengan alasan, “kita sebagai bangsa Timur harus ramah terhadap tamu negara.”

Pengamat ekonomi dan calon Gubernur DKI Jakarta, Faisal Basri, menyebut kunjungan Bush itu hanya sebagai “numpang pipis” di Indonesia. Kunjungan yang tidak ada manfaatnya bagi perkembangan bisnis atau pun investasi AS di Indonesia.

Bagi komedian Indonesia, bisakah momen ini dijadikan sebagai bahan mentah olokan atau bahkan parodi politik ? Bukankah selama ini ada acara komedi politik di MetroTV yang konon digarap kaum intelektual tetapi hanya bisa memelesetkan singkatan nama presiden kita dengan singkatan pula, lalu hanya bisa mengimitasi gesture-nya semata, sekaligus masih cupet dalam menjelajahi sisi-sisi komedis pada segi perangai pribadi dan kebijakannya ?

Contoh-contoh olokan cerdas Conan O’Brien dkk yang berkelas dan dikoleksi Daniel Kurtzman terhadap Presiden Bush di atas, ah siapa tahu, mampu menjadi ilham bagi komunitas komedi kita dalam menguak cakrawala-cakrawala lawakan baru, yang cerdas dan juga berkelas ?


Wonogiri, 15-16 November 2006


ke

Monday, October 02, 2006

Dosa-Dosa Dunia Komedi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Religion & Democracy : Face-to-Face adalah topik diskusi di dunia maya yang menarik di situs http://www.islamonline.net/, 7 Maret 2005. Nara sumber yang tampil adalah Caspar Melville, Direktur Eksternal situs www.openDemocracy.net.


Salah satu peserta diskusi adalah “doaa,” yang mengaku sebagai mahasiswa teknik asal Mesir. Ia meminta penjelasan bagaimana kaum muslim dapat menjelaskan kepada dunia bahwa Islam memiliki budaya demokrasi.


Caspar Melville yang mengaku sebagai sekuler dan tidak tahu banyak tentang Islam, memahami rasa frustrasi yang dialami dunia Islam pasca 11 September 2001, yang mendapatkan tekanan untuk menjelaskan bahwa Islam bukan identik sebagai agama kekerasan. Ia berterus terang bahwa untuk membahas topik menarik tersebut dirinya belajar dari artikel yang ditulis Fareena Alam, editor Q News, majalah muslim terpandang dari Inggris.


Fareena Alam, kelahiran London 1978, keturunan Bangladesh dan besar di Singapura itu, telah dikutip oleh Caspar Melville bahwa dalam Islam dikenal budaya demokrasi yang ia sebutkan sebagai tradisi “moderasi, tidak berlebih-lebihan dan keinginan untuk mencari jalan tengah.”

Caspar Melville juga merujuk perbincangannya dengan jurnalis dan tokoh muslim Inggris lainnya, Fuad Nahdi, pendiri Q News yang kelahiran Mombasa, Kenya, yang telah malang melintang di dunia pers seperti International Islamic News Agency, Associate Press, Los Angeles Times, Guardian dan BBC.


Dari keduanya Caspar Melville memperoleh pemahaman betapa sangat kayanya dan beragamnya sejarah pemikiran Islam yang menampung segala macam gagasan, termasuk sekularisme, nihilisme, hedonisme, juga sejarah sistem pemerintahan Islam yang mampu secara tegas memisahkan antara negara dan agama.


Secara khusus, Caspar Melville menyatakan bahwa dirinya selalu menemukan kejutan ketika berbincang dengan tokoh-tokoh yang relijius, yang menurutnya selalu lebih jenaka, lebih terbuka pikirannya, dan jauh dari pola pikir kaku yang semula ia duga. Pendek kata, usulnya kepada penanya, berdiskusilah dengan tokoh-tokoh tersebut.


Humor Cerdas Gus Dur. Usulan Caspar Melville yang simpatik. Bagi saya, tokoh yang muncul di benak saya terkait perbincangan seputar topik Islam dan demokrasi, tidak lain adalah Gus Dur.


Cakrawala itu menyeruak antara lain setelah mengikuti perbincangan menarik Abdul Moqsith Ghazali dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Dr. Rumadi di JawaPos (29/9/2006 : 10), ketika membicarakan buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), karya Gus Dur yang terbaru. Gus Dur oleh Dr. Rumadi disebutnya memiliki keteguhan dalam membela demokrasi.


Penjelasan Caspar Melville lainnya bahwa sosok-sosok relijius itu disebutnya selalu lebih jenaka, bagi saya, kembali lagi betapa Gus Dur merupakan sosok yang pas untuk kriteria tersebut. Siapa orang di Indonesia yang mampu menandingi kelucuan dan kebernasan lelucon Gus Dur ?


Seorang Gus Dur, seperti diceritakan oleh Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tingkat tinggi dalam menghumori dirinya sendiri.


Alkisah, ketika berceramah di depan kerumunan massa, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir. “Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya.


Keikhlasan Gus Dur untuk mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi. Menu tersebut adalah hukum universal bagi kaum komedian. Termasuk juga menjadi andalan komedian muslim di Amerika Serikat dan Inggris yang dewasa ini sedang berjuang menegakkan citra Islam sebagai agama yang cinta damai pasca serangan teroris 11 September 2001.


Sebagai contoh adalah Shazia Mirza, pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin sukses membuat bom,” cetusnya.


Tissa Hami adalah komedian perempuan lain, tetapi di Amerika Serikat. Ia bergelar Master Kajian Internasional dan bekerja di John F. Kennedy School of Government., Universitas Harvard. Dengan melawak, “saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim tertindas dan terbungkam,” katanya.


Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini (AS), sering jadi lawakan. Katanya, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera!”


Pelawak Indonesia Berlumuran Dosa ? Bagaimana lanskap lawakan di Indonesia selama ini ? Kiranya kita dapat bercermin dari pengalaman pelawak Basuki Srimulat. Seperti tertuang di JawaPos (3/3/2006), ia baru pulang dari naik haji. Ia satu pesawat dengan KH Zainuddin MZ, Ustadz Iskandar dan satu lagi pria yang disebut Basuki sebagai Ketua Dewan Syuro.


Pria yang terakhir ini bertanya kepada Basuki : “Apa akan terus melawak meski sudah menyandang predikat haji ?” Basuki balik bertanya : “Lho, memangnya kenapa ?” Beliau menjawab : “Melawak itu kan identik dengan mencela orang lain ?”


Mendengar hal itu Basuki tidak bisa langsung menjawab.


Miftah Faridl dari ITB dalam bukunya Pokok-Pokok Ajaran Islam (2004) telah menderetkan daftar dosa atau hal-hal yang tidak baik terkait afatul lisan, bahaya lidah. Bahaya lidah termasuk mencaci maki, membuka kesalahan orang lain, memanggil nama jelek terhadap orang lain, sampai menghina dan mencemooh.


Pasanglah mikroskop untuk setiap acara lawak di televisi-televisi kita. Kalau saja perbuatan-perbuatan negatif di atas selama ini justru merupakan modus lawakan yang lajim bagi kebanyakan pelawak Indonesia, yang sekaligus berpotensi melumuri dirinya dengan dosa-dosa, lalu bagaimana solusinya ?


Pernyataan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi (Suara Merdeka, 4/2/2006) mungkin dapat dipakai sebagai panduan. Ia mensinyalir rentetan bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tidak lepas dari perilaku spiritual manusia Indonesia.


Menurutnya, kebanyakan bangsa Indonesia dewasa ini lebih sibuk mengurusi cacat orang lain sehingga kerap lupa pada cacat sendiri. Padahal, dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda, berbahagialah orang yang repot mengurusi cacatnya sendiri hingga lupa dan tidak sempat menghitung cacat orang lain.


Memang terlalu gegabah bila komunitas pelawak Indonesia dituding sebagai satu-satunya fihak yang memicu terjadinya rentetan bencana yang melanda Tanah Air akhir-akhir ini. Tetapi, paling tidak, sinyal dan panduan arah menuju sajian komedi yang lebih baik telah ditorehkan.
Mungkin di tengah-tengah suasana Ramadhan seperti saat ini pesan-pesan untuk introspeksi, juga keberanian untuk merehabilitasi wawasan diri, pantas menjadi bahan renungan bagi setiap insan komunitas dunia kepelawakan kita.


Apalagi, kita tahu dan hampir menjadi tradisi, bulan Ramadhan di televisi-televisi kita identik dengan pesta tayangan komedi. Di antara gelimang tebaran uang, kemeriahan tawa dan gelak artifisial, kiranya di bulan suci ini juga tepat dijadikan sebagai momen bagi komunitas komedi kita untuk berhenti berlari, lalu merenung, memperbarui diri. Agar mampu menemukan (kembali) jalan lurus, jalan jenaka yang luhur, sekaligus jalan yang semakin bersih dari “dosa-dosa” dalam berkarya.


Keteladanan pribadi Gus Dur yang cerdas, jujur sekaligus jenaka, sampai nasehat KH Hazim Musyadi, diharapkan mampu sebagai pencerahan. Baik bagi dunia komedi Indonesia khususnya, dan juga bagi bangsa Indonesia dalam melangkah ke masa depan. Komedi, mungkin tidak seperti disangka oleh banyak orang, senyatanya merupakan dunia luhur yang mengedepankan kejujuran.


Sehingga ketika terlalu banyak pemimpin dan pejabat negeri susah ini semakin sulit ditemui memiliki kewarasan, dalam arti berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan dirinya sendiri, mungkin kita masih punya sandaran agar mampu untuk terus bertahan.


Yaitu sense of humor kita.
Juga kejujuran para komedian.


Wonogiri, 1-2 Oktober 2006


ke


Tuesday, September 05, 2006

Conan O’Brien, SBY dan Blunder Besar Republik Mimpi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



September Tidak Ceria. Anda kenal Conan O’Brien ? Kalau Anda sempat menonton siaran tunda MetroTV (3/9/2006) yang menyiarkan Malam Penghargaan Emmy ke 58, Anda akan bertemu dengannya. Saya baru pertama kali melihat sosoknya yang punya tinggi badan 193 cm dan penampilannya dalam menembakkan lelucon-lelucon cerdas khas Amerika.

Pria berwajah agak sayu ini lulusan magna cum laude dari Jurusan Sejarah dan Sastra Universitas Harvard di tahun 1985. Pria cerdas, tentu saja. Boleh jadi Conan O’Brien merupakan tipikal komedian seperti yang pernah dideskripsikan oleh Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998). Bisakah judul itu mengingatkan Anda tentang Robert M. Pirsig ?

Jay Sankey bilang, “In my experience, most comics are extremely sensitive, relative unsecure, very insightful, highly intelligent people. Strong individuals rather than group members, with burning desire to share what they think and feel.”

Merujuk pengalaman saya, sebagian besar komedian adalah pribadi-pribadi yang peka, relatif gelisah, berwawasan dalam, orang-orang yang sangat cerdas. Lebih condong sebagai sosok berciri individualis dibanding sebagai anggota suatu kelompok, dirinya memiliki gairah berkobaran untuk berbagi segala hal yang ia pikirkan dan ia rasakan.

Catat penilaian Jay Sankey di atas terhadap apa yang dilakukan Conan O’Brien ketika gedung kembar World Trade Center di New York roboh oleh serangan teroris yang dahsyat, 11 September 2001. Baru seminggu kemudian acara Late Night with Conan O'Brien muncul kembali. Merujuk peristiwa tragis itu telah membuat pria yang lahir 18 April 1963 ini memberikan pengakuan :

“Saya akan berkata jujur kepada Anda : Saya tidak tahu bagaimana harus mengerjakan ini semua. Malam ini saya tidak memiliki gagasan untuk melakukannya. Untuk esok, juga tak ada gagasan. Dan bahkan untuk sepanjang sisa minggu ini saya juga memiliki gagasan bagaimana bisa kembali mengerjakan hal yang sama pula. Itulah semua hal yang kami rasakan.”

Bulan September 2001 di Amerika Serikat memang bukan bulan September ceria. Bahkan seorang Daniel Kurztman menyebutkan terjadinya “pergeseran seismik dalam lanskap budaya kita dan matinya humor.” Amerika memang menghentikan aliran budaya ciri khasnya dalam membuat satir. Amerika dipaksa berhenti untuk tertawa.


Bush Kini Cerdas! Momen duka itu memang tidak terus berlangsung selamanya. Ketika George W. Bush memicu perang untuk menggulingkan Taliban di Afghanistan, sesudah bangsa Amerika melampiaskan duka dan melakukan refleksi, humoris Amerika bangkit kembali. Peluru-peluru satir dan lelucon mereka berledakan kembali.

Humor ternyata sangat diperlukan dalam proses penyembuhan luka nurani bangsa. Bahkan Rudy Giuliani, Walikota New York, pada malam amal di bulan Oktober 2001 berseru : “Saya di sini mengijinkan Anda semua untuk bisa tertawa. Kalau tidak, Anda akan kami tangkap !”

Daniel Kutzman menyimpulkan : “Jauh dari termarginalisasi sebagai hal yang asal-asalan, sembrono dan tidak relevan, komedi terus membantu kita dalam menyembuhkan luka bangsa dan dalam pelbagai hal merupakan barometer bagaimana mood bangsa ini berubah.” Menurutnya, berdasar fakta warga Amerika kini dapat melucukan kebijakan seperti peringatan tentang ancaman serangan teroris, pengetatan keamanan dalam negeri yang berlebihan, tingkah beragam blunder Presiden Bush sampai kemunafikan politik luar negeri AS, semuanya merupakan garis bawah atas semua hal yang terjadi.

Memang belum ada sinyal kembalinya olok-olokan politik seperti yang biasa, tetapi pendekatan untuk selalu mengritisi diri sendiri dengan kacamata humor merupakan satu isyarat bahwa bangsa Amerika telah menjadi normal kembali. Komedian Jay Leno pun segera menimpali : “Kita tidak dapat menampilkan lelucon-lelucon tentang Presiden Bush lagi. Sebab ia cerdas kini !”


SBY : Bener, Pinter, Blunder. Berbeda dengan citra Presiden Bush yang telmi, bloon dan menjadi bulan-bulanan empuk para komedian, kita mungkin bisa disebut beruntung karena memiliki presiden SBY yang dicitrakan sebagai pribadi pinter, pandai dan bener, jujur. Orangnya pun santun. Sosoknya tinggi besar, gagah dan tampan.

Merujuk kualitas pribadinya seperti tersebut di atas, sebenarnya agak buntunglah komunitas komedi Indonesia. Karena dalam kacamata komedi, sosok SBY seperti itu justru merupakan sumber lawakan yang relatif miskin dan kering. Pribadinya yang kurang “bergerigi,” terutama karena karena tidak kontroversial, membuat dirinya relatif lebih sulit untuk dijadikan sebagai sasaran tembak lawakan yang biasa-biasa saja.

Menurut saya, itulah salah satu blunder besar yang terjadi dalam tayangan komedi Republik Mimpi di stasiun televisi swasta MetroTV. Karena tayangan komedi yang berniat melucukan SBY dan Jusuf Kalla, juga pemerintahannya, nampak hanya mengandalkan menu lawakan yang tidak, atau belum, mengolah esensi komedi atau parodi dengan sentuhan kecerdasan yang dibutuhkan.

Sungguh mengherankan, karena berdasarkan latar belakang penggagas dan tim kreatif Republik Mimpi, kita sebenarnya boleh berharap banyak. Karena rasanya baru kali ini orang-orang kampus terjun ikut membidani acara komedi di televisi.

Kita lihat, di sana ada seorang Effendi Gazali, Ph.D, pakar komunikasi yang seolah boleh menulis “apa saja” untuk harian Kompas. Dosen Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi UI ini pernah menjadi juara lawak yang paling “sesumbar,” se-Sumatera Barat. Dalam tayangan ia menjabat sebagai Penasehat Komunikasi Politik Republik Mimpi.

Kemudian, Suko Widodo, MA. Direktur Pusat Kajian Komunikasi Unair serta mantan Fellow VIP (Visitor International Program) dengan Fokus Demokratisasi Media di AS. Dalam acara ini Suko tampil sebagai Penasehat Spiritual Republik Mimpi dan menjadi salah satu think tank untuk tayangan ini.

Orang pintar lainnya yang berada di balik layar sebagai penanggung jawab adalah kolega Effendi Gazali yang sesama pengajar di UI, yaitu Dedy N. Hidayat, Ph.D. dan Pinckey Triputra, Ph.D. Ditambah eksekutif Media Group, Andi F. Noya.

Anggota tim kreatif dan sekaligus sebagai pelakon adalah Butet Kertaradjasa yang memerankan sebagai “SBY” (Si Butet Yogya), Presiden Republik Mimpi. Kemudian Kelik Pelipur Lara sebagai “Ucup Kelik,” Wakil Presiden Republik Mimpi dan kini ditambah pemanis, artis cantik Olga Lydia sebagai Sekretaris Kantor Wakil Presiden.

Apakah ada yang salah dalam tayangan Republik Mimpi ini ?


Character is 98% of Comedy ! Karakter adalah 98 persen komedi. Ini merupakan Hukum Komedi Evans Ketiga. Komedi bukan ibarat tusuk sate, atau untaian tasbih, yang berupa jajaran atau untaian lelucon demi lelucon. Bahkan dalam Hukum Komedi Evans Pertama justru mengatakan, buanglah lelucon-lelucon yang paling lucu sekali pun !

Nampak paradoks. Karena setiap orang tahu skrip komedi melibatkan lelucon, tetapi juga melibatkan karakter, pengembangan, dialog dan cerita. Lelucon yang sensasional tetapi dalam skrip yang salah, berpotensi menghancurkan segalanya, merusak irama dan aliran cerita. Menurutnya, yang dibutuhkan bukan ledakan bom demi bom lelucon, tetapi lelucon yang empan papan, lelucon yang tepat pada tempat yang tepat pula.

Lelucon yang hebat dan alamiah bila muncul dari karakter. Merujuk hal ini maka dalam tayangan komedi sering ditampilkan tokoh-tokoh berseragam kerja yang khas. Mungkin polisi, tentara, dokter, sampai hansip. Melihat seragam mereka, pada benak penonton sudah mengeram pemahaman atau referensi mengenai karakter tipikal tokoh-tokoh tersebut.

Begitu tokoh bersangkutan dihadapkan pada situasi atau setting tertentu, reaksi khas mereka masing-masing berpotensi diolah menjadi komedi yang alamiah. Dirinya tidak perlu melucu. Apalagi bila dirinya ditabrakkan dengan jalan pikiran tokoh lainnya mengenai topik yang sama, potensi kelucuan akan semakin mencuat.

Dalam tayangan Republik Mimpi, karakter masing-masing pelaku belum memperoleh garapan atau pendalaman secara maksimal. Kita para penonton belum memperoleh gambaran tipikal karakter masing-masing tokohnya.

Sekadar contoh, Butet dalam melakukan mimicking sosok Presiden SBY nampak masih terbatas pada ucapan atau pun gesture belaka. Pendekatannya masih secara wadag, fisik belaka. Sampai-sampai untuk mengejar efek tawa dirinya sampai pernah mengeluarkan lelucon berkonotasi seks, menyangkut “burung” dalam isu masalah flu burung. Tetapi karena penonton tidak mempunyai referensi kaitan antara burung dalam pidato SBY, lelucon itu tidak menghasilkan sensasi tawa yang diharapkan.

Butet dan tim kreatif Republik Mimpi nampak belum mampu mengeksplorasi karakter SBY yang, misalnya oleh Sukardi Rinakit (Kompas, 31/8/2006 :6) disebut sebagai pinter, bener (jujur), tetapi tidak banter, alias tidak cepat dan tidak berani menyerempet-nyerempet bahaya. Sementara Tamrin Amal Tomagola (Kompas, 4 September 2006 :7) menjuluki SBY sebagai “pribadi santun” yang “terpuruk dalam kebimbangan.”

Kalau saya menjadi tim kreatif Republik Mimpi saya akan “menembak” SBY sebagai berikut : “Sebagian orang berpendapat, Presiden SBY gantengnya mirip bintang film. Anda setuju ? Saya senang menyamakan dia dengan Lee Majors dalam film seri Six-Million-Dollar Man. Bedanya, di film itu Lee Majors digambarkan secara slow motion untuk larinya yang cepat, sementara SBY harus digambarkan beradegan slow motion untuk aksinya yang selalu saja slow motion !”

Humor memang agresif. Freud pernah menggariskan bahwa humor bersumber dari naluri manusia untuk melakukan agresi, tindak kekerasan. Merujuk hukum itulah, Butet lumayan tampil lucu ketika melakukan mimicking terhadap Soeharto. Kita tertawa karena kuatnya unsur vendetta, ingin melakukan membalas dendam lewat tertawa kepada penguasa Orde Baru yang represif itu. Tetapi ketika Butet melakukan mimicking yang sama terhadap SBY, hasilnya jelas hanya hambar-hambar adanya.

Tokoh Jusuf Kalla sebenarnya lebih menjanjikan untuk menjadi sasaran tembak lawakan. Pribadinya lebih warna-warni dan pendapatnya sering kontroversial. Ide Jusuf Kalla yang menyarankan terjadinya kawin kontrak antara pria Timur Tengah dengan perempuan daerah Puncak, hingga anak keturunannya kelak layak sebagai pemain sinetron, adalah harta karun bahan lelucon yang potensial untuk digali. Sayang, dalam Republik Mimpi, sosok Ucup Kelik lebih senang asyik bermain sebagai dirinya sendiri, dengan modal lelucon-lelucon akronim dan plesetannya belaka.


Freeport vs Freesex. Dalam artikelnya di Kompas (12/8/2006 : 6) Effendi Gazali menulis bahwa yang paling inti dari parodi politik adalah bagian updating . Tanpa itu kadarnya berkurang drastis, atau bukan lagi genre itu. Menurutnya, John Stewart (tepatnya Jon Stewart, pembawa acara The Daily Show with Jon Stewart) menggunakan data dan potongan berita asli untuk dianalisis. Tanpa konteks dengan peristiwa politik yang riil dalam berita, sebuah parodi bisa jatuh pada slapstick, seperti parodi politik pertama di Nippon TV.”

Mungkin saya keliru apabila menyamakan apa yang ia sebut sebagai updating itu dalam konstruksi lawakan adalah yang lajim disebut sebagai premis. Ini bagian lawakan yang tidak lucu, tetapi sangat penting. Karena ini merupakan bagian yang mampu membuat penonton terkait dengan materi lawakan.

Gus Dur ketika muncul di Republik Mimpi (28/8/2006) mengajukan premis, “Apa persamaan antara Ginandjar Kartasasmita dengan Sutrisno Bachir ?” Kita sebagai penonton merasa terkait, karena kedua orang itu sungguh terkenal. Kita pun terbahak ketika Gus Dur meluncurkan jawabannya sendiri, yang lucu, yang lajim disebut sebagai punchline :

“Ginandjar Kartasasmista sibuk dengan Freeport. Sutrisno Bachir sibuk dengan free sex.”

Dalam Republik Mimpi, Effendi Gazali sebagai Penasehat Komunikasi Politik, punya peran sebagai pengumpan. Tukang melontarkan premis demi premis. Sementara punchline diharapkan mampu diledakkan oleh Presiden atau Wakil Presiden.

Ketika ia melemparkan premis bahwa artis Bella Saphira ingin segera menikah, saya telah mengirimkan SMS kepadanya, : “Kehadiran GusDur di RM, bagus sekali. Ia melucukan figur2 dimana kita bs terkait (Perret’s Comedy Law No.2), smentara ‘Bella Saphira’ tak ada apa2nya.”

Buang saja isu-isu gincu semacam “Bella Saphira” itu. Tetapi pilihlah topik-topik updating yang terkait dengan hajat hidup orang banyak. Ketika dalam tayangan 4/9/2006 Effendi Gazali menampilkan kliping acara Global Inter-Media Dialogue di Bali, ini jelas sebuah bias. Juga blunder. Peristiwa semacam ini hanya dianggap besar kalangan esoterik, akademisi dan praktisi komunikasi, tetapi bukan isu yang menarik dan mampu menjangkau hajat hidup orang banyak.

Hemat saya, sebenarnya bencana lumpur panas di Sidoarjo, juga flu burung, masih merupakan isu panas yang tetap lezat untuk bahan lawakan politik. Dengan bercermin dan merujuk contoh kelambanan pemerintah AS dan FEMA ketika mengatasi bencana Badai Katrina, kedua bencana di negara kita itu merupakan topik hangat yang dapat diaduk-aduk sisi-sisi lelucon dan tragikanya.

Merujuk Lapindo Brantas adalah anak perusahaan kelompok Bakrie dan Freedom Institute merupakan organisasi himpunan kaum intelektual dimana keberadaannya juga didukung oleh kelompok bisnis Bakrie, kita dapat mengajukan pertanyaan kritis :

“Apa yang bisa diperbuat oleh Freedom Institute untuk mengatasi bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo ? Memasang iklan satu halaman penuh berisi kajian bahwa kenaikan lumpur panas itu baik bagi rakyat. “


Republik Mimpi Kuatkah Bertahan ? Conan O’Brien mengampu acara Late Night with Conan O'Brien sejak tahun 1993. O'Brien dijadwalkan akan menggantikan Jay Leno sebagai pembawa acara The Tonight Show pada tahun 2009. Dirinya berpredikat sebagai komedian, produser acara televisi dan penulis naskah televisi.

Apa predikat seorang Jon Stewart, yang acaranya The Daily Show With Jon Stewart berusaha dicontek idenya oleh Republik Mimpi ? Ia seorang penulis, produser dan sekaligus pembawa acara. Dalam penganugerahan Emmy 2006 untuk kategori Outstanding Variety, Music or Comedy Series, acaranya meraih penghargaan tersebut. Ia berhasil mengalahkan nominator lainnya seperti The Colbert Report, Late Night With Conan O’Brien, Late Show With David Letterman, dan Real Time With Bill Maher.

Terkait keteladanan sosok Conan O’Brien dan Jon Stewart di atas, maka tayangan komedi di televisi-televisi Indonesia seperti kritik pedas almarhum Prof. Dr. Sudjoko dari ITB (baca “Komedi Banal Indonesia” di bawah ini), haruslah mengandalkan para gag writer, penulis naskah lawakan. Bukan jamannya lagi hanya melulu menyerahkan kepada para pelawak atau artis-artis yang tidak memiliki tradisi dalam kiprah penulisan kreatif. Tanpa revolusi semacam, tayangan Republik Mimpi dijamin bakal tidak mampu lama bertahan.

Sebagai penutup kita mungkin kita dapat belajar bagaimana canggihnya seorang Conan O’Brien mengejek seorang presiden negara adidaya, yang juga pernah kuliah di Universitas Harvard, walau sering digambarkan karakternya sebagai pribadi yang dungu :

“Hari Selasa depan stasiun televisi NBC menjadwalkan edisi acara prime time Meet The Press dengan mengundang kandidat presiden Al Gore dan George W. Bush untuk acara debat pertama mereka. Acara Meet The Press yang normal biasanya diudarakan hari Minggu pagi, tetapi itu merupakan jadwal tetap bagi George W.Bush menonton film kartun.”



Wonogiri, 6-7 September 2006



ke

Komedi Banal Indonesia

Budayawan senior Prof. Dr. Sudjoko ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Jl. Golf Barat XX No. 7 Arcamanik Kota Bandung, Jumat (25/8) pukul 17.30 WIB. Diperkirakan budayawan yang terkenal dengan wawasan dan minatnya yang luas ini, meninggal sejak tiga hari sebelumnya.

Sebagai pemerhati dunia komedi, saya teringat kritik beliau tentang karut-marut dunia komedi Indonesia yang menyedihkan. Pendapatnya ia tulis dalam mengantar buku karya Arwah Setiawan, Humor Jaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1977).

Menurut beliau, dunia komedi Indonesia itu keblinger. Karena kita selalu mencari pelawak dulu, atau artis-artis dulu yang mengaku gampang melucu, sebab toh sama saja dengan celoteh sehari-hari. Modus acara reality show model API (TPI) dan dulu Meteor Kampus (AnTV) merujuk pada sikap keblinger tersebut. Toh dari ajang tersebut ternyata dewasa ini tidak mampu melahirkan bakat-bakat baru pelawak yang patut dibanggakan.

Menurut Prof. Sudjoko, yang paling utama untuk digenjot kreativitasnya adalah para penulis lakon. Sebuah tantangan berat. Karena selama ini penulis, seperti halnya sosok almarhum Arwah Setiawan, tidak pernah masuk pikiran dan bayangan bangsa kita tentang pembanyol.

Semua yang kita kenal sebagai pelawak, badut, bodor, klontangan, ludruk dan sebagainya adalah pelakon, orang panggung, orang tontonan. Mereka itu bukan penulis, bukan sastrawan. Dalang juga bukan penulis. Semua (mereka itu) tidak mampu menulis.

Merujuk tingginya ketidakmampuan menulis dan tingginya budaya mohbaca (istilah unik dari beliau yang juga seorang munsyi, ahli bahasa) sebagai akibatnya canda bangsa Indonesia sehari-hari cuman sentilan, olokan dan ejekan lepas-lepas. Dan supaya tawanya sering, banyak olokan cuma dibuat-buat saja, tanpa ditopang oleh akal pikir atau renungan.

Tayangan komedi model tayangan Extravaganza di TransTV, misalnya, jelas merupakan tayangan yang mencerminkan kebanalan atau kedangkalan bangsa ini seperti yang disinyalir oleh almarhum sejak lama itu. Sampai kapan ada perbaikan dan kemajuan ?

Selamat jalan, Pak Djoko. Semoga Anda kini damai dan sejahtera di sisiNya.


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Warga Epistoholik Indonesia


Catatan : Tulisan ini dengan penyuntingan telah dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Kompas Jawa Tengah, Selasa, 5 September 2006.



ke

Monday, August 21, 2006

Republik Mimpi di MetroTV : Seleksi Topik, Kasta Plesetan dan Humor Crafting Yang Perlu Diasah Lagi

Wonogiri, 22 Agustus 2006


Yth. Bos Effendi Gazali,


Salam sejahtera. Seperti isi obrolan saya via SMS yang lalu, saya ingin memberikan usul-usil untuk tayangan Republik Mimpi kreasi Anda. BTW, Anda sudah atau belum, membaca email saya sebelumnya ?

Di situ saya katakan bahwa saya telah mengutip pendapat Anda (“Dono dan Tolak Politisi Busuk”, Kompas, 30/12/2003) untuk menangkis pendapat Aming ExtraVaganza yang mengatakan penonton komedi kita belum cerdas, masih suka lelucon yang slapstick.
Kutipan pendapat Anda itu telah saya pajang dalam artikel mengenai lawakan dan pendapat Aming ExtraVaganza di blog Komedikus Erektus ! ini pula.

Humor memang merupakan seni yang subyektif. Merujuk hal tersebut, maka kalau ramuan tayangan Republik Mimpi (RM) yang ada selama dua tayangan ini sudah Anda anggap baik dan OK, itu memang privilege Anda. Ijinkanlah saya ingin sedikit menambah dengan memberikan usul-usil berikut ini :


MEMILIH TOPIK YANG HOT DAN RELEVAN :

“All comedy must be relevant. People like Erma Bombeck and Bill Cosby are realistic. They talk about things we can relate,” itu rumus dari Gene Perret, kepala penulis lawakan untuk Bob Hope.

Dalam ajang Oscar, bertahun-tahun Bruce Villanch (penulis lawakan) dkk. harus mengamati ribuan adegan-adegan film Hollywood yang monumental, yang memorable, sepanjang tahun. Mereka kemudian menggubahnya, membelokkannya menjadi lelucon, lalu mengoleksikannya. Ketika menjelang malam penobatan Oscar, mereka tinggal mendiskusikannya bersama host acara, termasuk dengan Jon Stewart bersama timnya untuk Malam Oscar 2006 yang lalu.

Redaksi News.com/RM punya tugas serupa, yaitu memilih topik-topik berita tertentu seminggu terakhir dimana sebagian besar penonton mampu terkait dengan topik tayangan RM. Dalam dua tayangan RM, topik-topik news-nya, menurut saya, terlalu banyak. Mungkin karena topik-topik itu Anda pandang dapat dijadikan sebagai premis lawakan ?

Topik “tsunami” dan “Sumanto,” menurut saya juga sudah sangat “tipis” di benak masyarakat untuk dijadikan sebagai papan loncat atau premis lawakan. Dapat dikatakan sebagai kurang relevan lagi.

Topik kemarin yang rada hot sebenarnya adalah “how to lie with statistics” dalam pidatonya Presiden RI. Kalau presiden SBY mengungkapkan data bahwa angka kemiskinan berkurang, mengapa tidak dibelokkan secara humor, “karena penduduk miskin Indonesia memang berkurang. Sebab mereka itu MATI akibat kelaparan sebagai dampak kenaikan BBM, busung lapar, kena flu burung, kena tsunami dan bahkan gempa bumi.”



HUMOR/JOKE CRAFTING : FORMULA DELAPAN

Kalau satu-dua topik relevan itu sudah ditetapkan, maka ia bisa diaduk, diselami atau direntang kesana-kemari untuk bisa dijadikan bahan ledekan/lawakan dan parodi.

Saya kutipkan dari Wikipedia : “parody can occur when whole elements of one work are lifted out of their context and reused... and parody can also occur when characters or settings belonging to one work are used in a humorous or ironic way in another.” Parodi terjadi ketika seluruh elemen suatu karya dicerabut dari konteksnya dan digunakan kembali (dalam karya lain...)... dan parodi juga dapat hadir ketika tokoh-tokoh atau setting suatu karya digunakan secara humor atau secara ironi dalam karya-karya yang lainnya.

Parodi dalam Republik Mimpi (21/8/2006) kemarin, saat Butet melakukan adegan mimicking pidato SBY-RI, menurut saya kok tidak lucu. Beda kalau ia menirukan Soeharto. Mungkin karena sosok SBY-RI itu terlalu “santun” untuk dijadikan lelucon. Dirinya kurang “bergerigi” dibanding JK yang sering mengeluarkan ucapan-ucapan kontroversial.

Tetapi hal ini bisa ditambal bila tim RM memiliki skill dalam hal humor crafting yang standar, sehingga mampu membengkak-bengkokkan isi atau sambutan SBY/Butet itu sehingga menjadi lucu.

Tetapi upaya bengkak-bengkok model Ucup Kelik yang melulu berkutat seputar akronim, plesetan, dan apalagi asosiatif yang menjurus ke lelucon seks, menurut saya (seperti saya kirim via SMS lalu) tetap merupakan the lowest form of wit, bentuk atau kasta terendah humor.

Gene Perret bilang, “humor itu grafis.” Lelucon itu mampu memunculkan gambar di kepala atau benak pemirsa. Bila gambar itu lucu, mereka tertawa. Bila gambar lucu itu ternyata “dirinya,” mereka akan terbahak lebih keras lagi. Menurut saya, hukum dasar humor crafting yang satu ini belum banyak diketahui oleh para kreator lawakan di Indonesia.

Ronald Wolfe dalam Writing Comedy (1992) antara lain menyebut formula humor crafting itu meliputi : pembelokan hal normal (reversal), perbandingan, melebih-lebihkan, pemindahan (switching), pemindahan /pembelokan peran (role reversal), kejutan, kembali ke masa lalu dan melompat ke masa depan.

Dono Warkop pernah bilang, menulis lawakan itu setengah mati. Ia benar. Karena dia sepertinya belum pernah mempelajari teknik humor crafting yang baku. Kalau skill satu ini sudah ia kuasai, semua peristiwa yang TIDAK SERTA MERTA NAMPAK LUCU, dapat diubah menjadi lucu. Semua berita di media massa dapat menjadi berita lucu. Tetapi untuk memperoleh efek tawa yang paling monumental, dibutuhkan seleksi topik-topik tertentu yang paling terkait dengan mayoritas audiens.


Sekian dulu usul-usil saya. Semoga bermanfaat.
Sukses selalu untuk tayangan Republik Mimpi.


Hormat saya,


Bambang Haryanto


PS : Bung Effendi, saya punya teman baru (kenalnya via baca blog saya ini), Budianto Hamuddin yang kini sedang belajar di Fakultas Sastra dan Linguistik University Malaya, Kuala Lumpur. Dia sedang meneliti karakteristik lelucon/lawakan pelbagai etnis di Indonesia. Dia saya rujuk antara lain untuk mencoba mengontak Dr. James Danandjaja, ahli folklor di Jurusan Antropologi FISI-UI dan juga pada Anda. Bersediakah bung Effendi, bila mungkin menjadi nara sumber dia ? Terima kasih sebelumnya.


ke
.

Thursday, August 17, 2006

Wapres Jusuf Kalla Sebagai Sumber Lawakan Jenaka : Surat Untuk republikmimpi.com

Wonogiri, 15 Agustus 2006



Yth. Bung Effendi Gazali

Salam humor. Selamat untuk pemunculan kreasi acara komedi cerdas Anda di MetroTV semalam. Oh ya, saya sebelumnya telah mengutip pendapat Anda (“Dono dan Tolak Politisi Busuk”, Kompas, 30/12/2003) untuk menangkis pendapat Aming ExtraVaganza yang mengatakan penonton komedi kita belum cerdas, masih suka lelucon yang slapstick. Kutipan pendapat Anda itu telah saya pajang di blog saya, Komedikus Erektus ! (http://komedian.blogspot.com).

Untuk ikut urun rembug demi memajukan acara Anda, saya berpendapat bahwa memparodikan Jusuf Kalla mengingatkan saya betapa wapres-wapres di AS, seperti Dan Quayle sampai Dick Cheney, merupakan objek empuk untuk jadi bulan-bulanan komedi.

Menurut saya, komunitas komedi Indonesia sungguh beruntung, karena wapres kita saat ini adalah Jusuf Kalla, pribadi unik yang secara natural merupakan sumber tak kering untuk kita jadikan bulan-bulanan lelucon cerdas. Ide JK yang membolehkan kawin kontrak para imigran Arab di Puncak, hingga diperoleh keturunan yang pantas untuk main sinetron, merupakan bahan lelucon yang kaya.

Masalahnya, tentu terpulang kepada kita sebagai kreator lelucon, mampu tidak untuk mengeksploitasi bahan-bahan mentah yang tersedia secara melimpah pada diri Pak JK itu ?

Usul saya, Bung Effendi, isu dominan dalam acara Anda itu sebaiknya yang terkait dengan sepak terjang Jusuf Kalla. Bukankah sosok Ucup Kelik merupakan tokoh jangkar, sentral, untuk memparodikan sosok JK ? Ucup Kelik Anda gagas sebagai “deformed mirror” dari Wapres kita yang hiperaktif itu, bukan ?

Seperti kata bertuah dari komedian Will Rogers bahwa dirinya tidak melucu tetapi hanya mewartakan apa-apa yang dikerjakan oleh pemerintah, maka menirukan ucapan JK saja sudah berpotensi mengguncang tawa.

Apalagi, kata Gene Perret, kepala penulis lawakan Bob Hope, semua lawakan itu harus memiliki kaitan dengan penonton (baca : rakyat Indonesia), maka ucapan apa pun dari Wapres JK, sebagai RI-2, pasti memenuhi kriteria untuk mampu mengundang kaitan dan sekaligus memicu tawa tersebut.

Bagaimana membangun kaitan tersebut ? Contoh : JK pernah berkata, setiap rumah yang rusak akibat gempa bumi di Yogya/Klaten akan diganti dengan uang sebesar 30 juta. Usul saya : hadirkan 1-2 penduduk korban gempa ke studio. Silakan mereka Anda interview seputar “janji sorga JK” itu. Saya yakin, apa pun jawaban polos para korban gempa itu akan mengundang tawa. Juga, ini tak kalah penting, penuturan mereka itu sekaligus menyampaikan pesan betapa implementasi sebuah kebijakan tak seperti yang mudah atau enteng ducapkan oleh pejabat publik !

Contoh lain : mengundang penduduk yang rumahnya terendam lumpur panas di Sidoarjo ke studio, sudah merupakan parodi tersendiri. Jauh lebih lucu dibanding menyebut Sidoarjo sebagai “Kuala Lumpur,” sampai mengundang mahasiswa-mahasiswa Makassar yang suka tawuran untuk mengetahui apa yang terjadi dalam mind mereka.

Mengundang para korban flu burung, tetapi tetap sensitif terhadap korban-korban yang meninggal dunia, karena sasaran tembak kita adalah pemerintah, pasti mampu menjadi sajian tontonan dan tuntunan (kata-kata a la Harmoko) yang menarik. Mengundang tokoh anonim, karena wajahnya tertutup sorban, yakni mereka-mereka yang ingin berjihad ke Lebanon, bisa menjadi bahan lelucon tersendiri.

Begitulah, asal-usul-usil saya.

Saya masih menyimpan gagasan lain, bagaimana audiens yang mahasiswa itu menjadi partisipan yang lebih aktif, tidak sekadar sebagai pihak yang tertawa dalam acara Anda itu. Idenya masih dalam taraf inkubasi.


Sukses untuk Anda.


Hormat saya,


Bambang Haryanto
+6281329306300

---------------------


BANGGA PUNYA MAFIA
Surat Pembaca – Harian Kompas Jawa Tengah
Dimuat : Sabtu, 8 Oktober 2005


Komedian AS terkenal Will Rogers (1879–1935) pernah bilang, dirinya tidak melucu tetapi hanya mewartakan apa-apa yang dikerjakan oleh pemerintah. Begitulah kiranya sebaiknya sikap kita dewasa ini. Daripada stres memikirkan kehidupan yang semakin sulit pasca kenaikan BBM dan segala produk dan jasa, lebih baik bersikap mirip Rogers tersebut tadi. Ramai-ramai, tidak memberontak, melainkan menertawakan pemerintah.

Salah satu amunisi untuk melucukan mereka adalah perkataan Ronald Reagan, bahwa di pemerintahan itu tidak ada orang-orang yang cerdas. Karena bila cerdas, mereka sudah disabet oleh fihak swasta. Pemerintahan kita saat ini tampak juga seperti itu. Mereka ibarat hanya memiliki sebuah palu sehingga semua masalah selalu cenderung dianggap sebagai paku. Pukul, pukul dan pukul.

Pemerintah tidak kreatif menggali sumber-sumber dana alternatif yang tidak membebani rakyat. Pemerintah hanya punya satu resep, naikkan harga dan nasib rakyat kebanyakan, silakan berserah diri saja pada Tuhan. Tidak aneh bila saat kenaikan harga elpiji yang lalu, tanpa memiliki seulas empati dengan enak seorang Menko Perekonomian bilang, “kalau tak mampu beli gas ya tak usah pakai gas”. Ucapan itu bisa diperluas : “kalau tak mampu beli beras atau minyak tanah ya tak usah makan pakai beras dan tak usah memakai minyak tanah !”

Kehidupan kita jelas makin sulit. Mungkin hari-hari ini kita terpaksa harus mau belajar dari rakyat bekas Uni Soviet saat diperintah rejim komunis yang represif dengan kehidupan perekonomian yang sulit dan morat-marit. Mereka mampu bertahan antara lain dengan humor, termasuk menghumori pemerintah dan pejabat-pejabatnya.

Salah satu lelucon paling lucu saat itu adalah ketika mereka, dalam kemelaratan dan ketertindasannya, tetapi tidak mau kalah gengsi atau kalah bersaing melawan negara seterunya saat itu, Amerika Serikat. Orang dari negeri Beruang Merah itu berkata dengan bangga : “Orang Amerika boleh bangga memiliki Mafia. Kami juga memilikinya. Namanya, prikaziwat. Pemerintah !”


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Situs Blog Esai Epistoholica (http://esaiei.blogspot.com).
Jl. Kajen Timur 72
Wonogiri 57612


ke

Monday, May 29, 2006

Sepuluh Perintah Kitab Suci Komedi dan Artikel Yusuf Maulana : “Komedian : Kalahkan Politisi !” (Kompas, Sabtu, 27 Mei 2006)

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Akhir tahun 2001, saya terkena PHK. Pekerjaan saya sebagai direktur komunikasi sebuah perusahaan Internet di Jakarta, yang model bisnisnya merupakan agregator opini konsumen, harus rela saya lepaskan. Tentu, muncul amarah, kekecewaan, ingin membalas dendam, dan bahkan perasaan putus asa.

Saya kemudian ingat rumus DABDA. Menurut kajian kalangan psikologi, ketika seseorang mengalami kejadian yang paling kritis, terminal, dirinya pasti akan mengalami fenomena dari akronim DABDA itu : denial, anger, bargaining, depression, acceptance. Ingkar, marah, tawar-menawar, depresi dan akhirnya pasrah.

Sokurlah, hanya dalam hitungan hari, saya sudah mampu mencapai tahapan pasrah. Saya menerima konsekuensi yang terjadi. Pekerjaan boleh hilang atau pergi, tetapi saya harus bersyukur bahwa diri saya masih utuh.

Saya harus mencoba melihat masa depan, dengan melongoki modal-modal apa saja yang selama ini ada dalam diri sendiri.Saya harus merintis cita-cita baru. Saya kemudian bersandar kepada sesuatu harta karun pribadi yang selama ini agak terbengkalai.

Humor.
Selera humor.

Itulah harta karun saya. Saya ingin merealisasikan impian lama, yang sering muncul dan tenggelam, yaitu ingin menjadi komedian. Langkah pertama yang saya putuskan adalah berusaha me-recharge aki pengetahuan saya tentang humor. Saya harus kembali dari nol lagi. Belajar lagi.

Ada beberapa buku menarik yang saya temukan di perpustakaan British Council. Tetapi setelah keliling beberapa toko buku terkenal di Jakarta saya tidak menemukan buku yang saya maksud. Di tahun 1997-an, saya pernah menemukan beberapa buku kumpulan lelucon dari Gene Perret di Times Bookshop di Indonesia Plaza. Ketika ditengok lagi, tentu saja, sudah tidak ada lagi.

Setelah meriset di Internet, mau tak mau, saya harus membelinya dari luar negeri. Melalui bantuan toko buku QB World of Books-nya Richard Oh, Jl. Sunda, Jakarta Pusat, akgirnya saya bisa memperoleh buku-buku itu. Pertama, bukunya Judy Carter, The Comedy Bible : From Stand-Up to Sitcom – The Comedy Writer’s Ultimate How-To Guide (2001). Kedua, bukunya Gene Perret, Comedy Writing Step By Step : How to Write and Sell Your Sense of Humor (1990). Ada beberapa judul buku lainnya yang ingin saya beli dan pelajari apabila rencana saya untuk bermukim di Inggris, menemani Niniz dalam beberapa bulan kemudian, menjadi kenyataan.

Buku yang pertama benar-benar mampu membuat gempa bumi pemahaman saya mengenai komedi. Ibarat gempa bumi, ia berkekuatan 10 pada skala Richter. Kiamat. Belasan buku kumpulan lelucon yang saya himpun sejak berkuliah di Universitas Indonesia, sejak 1980, seolah tak ada lagi gunanya.

Pemahaman kuno saya bahwa menjadi komedian itu sekadar menceritakan lelucon orang lain, dan karya orang lain, ternyata menurut Judy Carter hal itu sebagai kekeliruan yang sangat besar. Fundamental. Karena setiap komedian dituntut orisinalitasnya. Dirinya dituntut mampu menceritakan sisi-sisi gelap diri pribadinya SENDIRI, juga ketakutan sampai cacat cela dirinya pula, di muka dunia. Comedy...Be Afraid, Be Very Afraid !, tandas Judy Carter.


Kejujuran memang menakutkan. Saya benar-benar shock ketika menyimaki ajarannya Judy Carter itu. Apalagi ketika ia menjajar isi sepuluh perintah, ten commandments, dari kitab suci komedinya itu. Perintah pertamanya adalah : Anda jangan mencuri materi lelucon milik orang lain.

When you rip off somebody else’s material, you are not only robbing them ; you’re also stealing from yourself because you’re not pursuing your own creative process...You’ll cheat yourself from developing your own unique perspective.


Artikel Komedi Yang Menerbitkan Sangsi. Ajaran Judy Carter itu hari ini kembali muncul di benak ketika saya membaca artikel di halaman Teroka-Humaniora harian Kompas (Sabtu, 27 Mei 2006 : Hal. 14). Saya sendiri pernah menulis di kolom ini pula, juga artikel berjudul “Benturan Peradaban : Promo Islam Lewat Lelucon.” (Harian Kompas, Jumat, 18 November 2005). Saya mengisahkan pergulatan komedian muslim di Amerika Serikat dalam upaya mencari cara menghindari benturan peradaban antara Barat vs Islam pasca kejadian 11 September.

Artikel di harian Kompas (Sabtu, 27 Mei 2006 : Hal. 14) yang menarik perhatian saya itu berjudul “Komedian : Kalahkan Politisi !” Ditulis oleh Yusuf Maulana. Keterangan dirinya adalah bekerja pada Institut Analis Propaganda.

Sebagai pemerhati dunia komedi, tentu tulisan semacam sangat saya harapkan agar semakin sering bermunculan. Apalagi terbetik niatan saya untuk semakin aktif menggalang silaturahmi dan networking dengan para teoritikus sampai praktisi dunia komedi di Indonesia. Tentu saja, termasuk Sdr. Yusuf Maulana tersebut pula.

Tetapi begitu mencermati apa yang ia tulis, saya seperti mengalami apa yang lajim dikenal sebagai deja vu. Pada alinea tertentu dari artikel Yusuf Maulana itu sepertinya pernah saya tulis dalam blog saya ini pula !

Mari kita telusuri. Dalam artikel yang saya tulis tertanggal 23 Februari 2006 berjudul Dick Cheney, Humor Politik, dan Posisi Tiarap Komedian Indonesia, telah saya tulis alinea seperti di bawah ini :

Menyerang Penguasa. Komedian terkenal di Amerika Serikat seperti Conan O’Brien, Craig Kilborn, David Letterman, Jay Leno, Jimmy Kimmel, Jon Stewart, sampai comedienne Tina Fey, pekerjaan pokoknya memang membulan-bulani para penguasa dengan lelucon. Sasaran tembak nomor satu mereka, pastilah presiden Amerika Serikat.

Melucukan penguasa merupakan salah satu ciri khas bangsa Amerika, yang memiliki gaya hidup getol memperolok diri, membuat satir, sebagai bagian dari budaya masyarakat mereka. Humor politik menjadi makanan sehari-hari mereka.

Gene Perret, kepala penulis lawakannya Bob Hope, pemenang tiga kali Emmy Award, ketika meringkas kaidah-kaidah terpenting dalam menyajikan lawakan antara lain ia sebutkan : lawakan harus merefleksikan kebenaran, melonggarkan tensi atau tekanan, mengejutkan, menyerang otoritas atau penguasa, melibatkan penonton dan menyajikannya secara jenaka.



Apa yang Sdr. Yusuf Maulana tulis dalam artikelnya ? Antara lain sebagai berikut :

Hal ini persis dengan salah satu resep yang diberikan Gene Perret, kepala penulis lawakan Bob Hope, pemenang tiga kali Emmy Award. Dalam kaidah-kaidah penting menyajikan lawakan, menurut Perret, lawakan berisikan serangan kepada otoritas atau penguasa, selain harus merefleksikan kebenaran, melonggarkan tekanan, mengejutkan, melibatkan penonton, juga mesti disajikan secara jenaka.

Pada alinea lain ia tulis pula :

Komedian AS, seperti Conan O’Brien, Craig Kilborn, David Letterman, Jay leno, Jimmy Kimmel, Jon Stewart, atau Tina Fey, “pekerjaan pokok”-nya memang membulan-bulani para penguasa dengan lelucon. Sasaran nomor satu mereka : Presiden Amerika Serikat, toh sejauh ini mereka juga masih hidup !


Apakah Sdr. Yusuf Maulana telah mengutip sebagian isi artikel saya dalam blog saya tersebut ? Silakan Anda sendiri yang menilai.

Bagi saya : saya sih punya sangka baik bahwa Yusuf Maulana kebetulan juga memiliki informasi atau bukunya Gene Perret, sehingga dirinya mampu menulis artikel sebagaimana yang dimuat di harian Kompas tersebut. Saya sebagai blogger atau penulis blog, yang juga menyukai prinsip yang disebut sebagai Creative Commons, senang-senang saja apabila buah pikiran saya dikutip oleh orang lain dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Walau untuk kelajiman dan demi penegakan etika dalam penulisan, nama penulis asli dan asal tulisan seharusnya juga dicantumkan.

Biarkanlah hal itu kini terjadi. Sdr. Yusuf Maulana, sejauh yang tangkap, sepertinya seorang penulis artikel biasa. Dirinya pun nampak pula tidak memiliki cita-cita sebagai seorang komedian sebagaimana diri saya. Mungkin karena hal itu pula dirinya, sepertinya, boleh-boleh saja tidak perlu hirau untuk mencoba memahami masing-masing ajaran dari sepuluh perintah kitab suci pelaku komedi yang telah digariskan oleh guru saya, Judy Carter, seperti yang saya tulis di atas tadi.

Dirinya toh bukan komedian. Bukan pula praktisi atau tenaga kreatif dunia komedi pula. Dalam konteks isi blog ini, juga konteks sumbangan gagasan untuk dunia komedi di Indonesia, dirinya tidak punya harga cukup tinggi untuk terus dibicarakan.


Baiklah. Di tahun 2001 saya terkena PHK dan humor adalah tempat saya bersandar untuk menjaga kewarasan diri. Menghadapi kasus tulisan Yusuf Maulana di atas, saya juga akan kembali ke humor untuk menstabilkan diri. Dengan melucukan kekurangan diri saya sendiri.

Artikel terakhir saya dalam blog ini saya tulis tertanggal akhir Maret 2006. Hampir dua bulan, karena sedang jatuh cinta terhadap Ninizku yang menawan, saya tidak mampu menulis isu-isu baru dari ranah komedi. Terlebih lagi, senyatanya dibanding blog-blog saya lainnnya, menulis artikel bertopik komedi memang selalu tidak mudah bagi saya. Sulit. Karena begitu sulitnya, sehingga kalau ada penulis lain me-rip off sebagian isi tulisan komedi, apakah hal itu berarti masih bisa terus dimaklumi ?

Anda punya pendapat tentang preseden semacam ini ?



Wonogiri, 29 Mei 2006



ke

Thursday, March 23, 2006

Berkarier Komedian Ibarat Bersekutu Dengan Setan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Music is your own experience,
your thoughts, your wisdom.
If you don't live it,
it won't come out of your horn.

Charlie Parker (1920–1955),
saksofonis jazz Amerika.



Lelucon Pesawat Terbang. Seorang Taufik Savalas rupanya tidak atau belum mengenal Orson Welles atau Judy Carter. Apalagi pendapat-pendapatnya. Kesan ini muncul ketika menonton siaran langsung sepakbola dan tidak sengaja menemukan acara Koki (Komedi Keliling) di stasiun televisi swasta TransTV, Minggu Sore (19/3/2006) yang lalu.

Orson Welles adalah bintang film dan sutradara terkenal Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan koran The Times (6/5/1985) guna memperingati hari ulang tahunnya ke 70, ia telah menyatakan pendapatnya tentang emosi yang ada pada dirinya ketika menaiki pesawat terbang. Boredom and terror. Bosan dan teror, katanya.

Mungkin merujuk getar suara hati yang sama, instruktur lawak Amerika Serikat yang terkenal, Judy Carter, sampai berkesimpulan bahwa lawakan dengan objek pesawat terbang ia beri label sebagai hack. Lelucon picisan. Lelucon bermutu rendah.

Taufik mungkin tidak tahu tentang pendapat semacam itu. Karena dalam acara Koki tersebut Taufik justru menceritakan lelucon tentang jatuhnya sebuah pesawat terbang. Lelucon tentang aksi kentut ketika menjadi penumpang pesawat terbang dalam segmen lain acara Koki itu muncul dari celoteh pelawak Tukul Arwana, sementara Denny Chandra dan Anwar Fuady ikut pula memamerkan lelucon yang paling ia anggap lucu dari koleksi lelucon yang dihafalnya.

Bagi mereka yang sensitif dan tidak mudah lupa, lelucon jatuhnya pesawat terbangnya Taufik itu mudah mengingatkan kita terhadap blunder lelucon yang pernah ia lakukan terkait pasca Tragedi Bom Bali 1. Saat itu, dalam rangka mempromosikan kembali gairah pariwisata Bali yang terpuruk, Garuda Indonesia menawarkan tiket murah bagi wisatawan untuk terbang ke Bali.

Di televisi, Taufik Savalas malah melucukan kebijakan yang mulia ini. Ia seolah mengharapkan terjadinya bom-bom lagi meledak di Bali sehingga tiket terbang ke Bali akan bisa dijual dengan harga yang lebih murah lagi.

Taufik Savalas rupanya gemar melucukan peristiwa yang bagi orang lain adalah tragedi. Kepedihan. Apakah dirinya memang kurang begitu cerdas dalam memilih materi ? Kurang memiliki kepekaan nurani ? Atau bahkan tidak memiliki sensitivitas untuk berempati ?

Andalah yang bisa menilai.

Tetapi sore itu, dalam acara Koki, ia sejatinya berbuat dosa besar lain sebagai komedian. Taufik senyatanya hanya mengulang kembali lelucon tentang pesawat terbang jatuh yang pernah ia tampilkan dalam acara Comedy Club dua tahun yang lalu. Silakan Anda klik di sini, karena saya pernah mengulasnya di situs blog ini pula.


Komedian Wannabe Yang Patah Hati. Bagi saya, acara Koki tersebut rupanya dikemas dengan asumsi atau pemahaman bahwa komedi solo, di Barat dikenal dengan nama keren stand-up comedy, identik dengan aktivitas menceritakan lelucon hafalan di depan sekumpulan audiens.

Dalam Comedy Club, arena penceritaannya di sebuah kafe atau klub. Sementara dalam Koki, arenanya bisa terjadi di pinggir jalan, mal, atau tempat mahasiswa nongkrong di pojokan kampus mereka.

Asumsi yang sama juga pernah berakar dalam diri saya. Bahkan sejak mahasiswa. Ketika berkuliah di kampus Rawamangun, Universitas Indonesia, tahun 1980-an, saya sengaja menyisihkan sebagian honor menulis untuk membeli buku-buku kumpulan humor. Terbitan Amerika, Inggris dan juga India.

Ketika terpesona menonton Steve Martin memandu acara 73rd Annual Academy Awards 2001, saat itu pun saya masih beranggapan bahwa komedi solo adalah semata tampilan untuk menceritakan kisah-kisah lucu belaka.

Tahun 2001 akhir itu saya bekerja di Jakarta. Sebagai direktur komunikasi suatu perusahaan Internet. Akhir tahun, saya diberhentikan karena tidak terdapat kecocokan kimiawi, chemistry, dengan bos saya. Untuk menghibur hati yang lara terkena PHK, saya memutuskan mencari terapi : membeli buku-buku tentang komedi. Melalui bantuan toko buku QB World of Books, saya membeli buku-buku itu langsung dari Amerika Serikat.

Isi buku-buku itu ternyata malah tidak menghibur. Melainkan justru membuat saya semakin dirundung hati yang hancur. Bayangkan, asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan. Harus dihancurkan. Harus ditinggalkan. Semua itu gara-gara isi bukunya Judy Carter yang pesan moralnya tidak bosan untuk selalu saya ceritakan.

“We funny people are not normal”, tegas Judy Carter. Kita para jenakawan senyatanya bukanlah orang-orang yang normal. Orang-orang normal mengekspresikan selera humornya dengan menghafal lelucon-lelucon, sementara kita para jenakawan mentransformasikan seluruh pengalaman hidup kita menjadi lelucon, sekaligus menulis lelucon tentang hidup kita sendiri pula. Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, kita para jenakawan justru mempertontonkan semua cacat dan cela itu kepada dunia !


Ibu Saya Menembak Mati Pacarnya ! Bagi mereka yang menghargai kejujuran dan mau mendalami, aksioma Judy Carter di atas tak pelak menyodorkan realitas betapa dunia komedi senyatanya merupakan dunia yang menakutkan. Mengerikan. Comedy, be afraid. Be very afraid, tandasnya.

Sokurlah, demi upaya mengobati rasa sakit akibat hancurnya paradigma lama saya tentang komedi, justru itu yang mendorong saya untuk meluncurkan situs blog Komedikus Erektus ! ini pula. Saya berusaha mengobati kesakitan itu dengan melaluinya. Ikut berproses di dalamnya. Kemudian menuliskannya.

Dengan semakin menyelami biografi mereka-mereka yang terjun di dalamnya, dari George Burns, Richard Pryor, Rodney Dangerfield, Joan Rivers sampai Jon Stewart yang baru saja memandu acara Oscar 2006, semakin saya menaruh hormat atas kejujuran mereka sebagai manusia. Para jenakawan sejati itu memang senantiasa mampu menemukan humor dalam momen yang serius, juga tragedi hidupnya, dan bahkan dalam momen yang sakral sekali pun.

Sekadar contoh, adalah Christopher Titus. Ia komedian solo dan membintangi cerita seri televisi yang mentransformasikan problem kehidupannya dalam keluarga yang tidak normal menjadi bahan leluconnya. “Saya melucukan ibu saya yang menembak mati pacarnya. Saya juga melucukan ibu saya yang melakukan bunuh diri. Semua itu mampu membuat penonton tertawa.”

Chris Titus melawak dengan bahan yang benar-benar orisinal, yaitu segenap sisi-sisi hidupnya sendiri. Bahkan yang paling kelam sekali pun. Memanglah, komedian sejati memiliki totalitas ketika menerjuni dunianya. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seseorang yang berupaya memperoleh kekayaan hingga dirinya berani bersekutu dan membuat perjanjian dengan setan.

Komedian sejati harus legawa menggadaikan sebagian nyawa atau kehidupannya dalam perjanjian itu. Komedian harus berani merelakan sisi kekurangannya sebagai manusia untuk dibedah, ditonjolkan dan dijajakan, semuanya itu untuk menjadi bahan tertawaan.

“Saya nikmati dikuyo-kuyo, seperti didorong atau kepala dipegang bahkan dikeplak. Itu pekerjaan saya dan saya tidak akan dendam. Kita harus profesional”, kata Saparbe (76) ketika tergolek di rumah sakit, menjelang akhir hidupnya seperti dikutip JawaPos (7/9/2001).

Saparbe itu lebih kita kenal sebagai Pak Bendhot Srimulat. Ia barangkali dapat menjadi contoh kecil suatu totalitas pengorbanan sebagai seorang komedian. Kita juga dapat bercermin dari seorang Charlie Parker, saksofonis jazz legendaris Amerika Serikat. Ia pernah bilang bahwa musik adalah pengalaman Anda pribadi, gagasan dan kebijakan Anda, yang bila tidak Anda geluti secara total di dalamnya, ia tidak akan mampu muncul melalui alat musik Anda.

Bagaimana pemahaman mengenai makna totalitas serupa dalam paradigma alam pikir penghuni dunia komedi kita ? Dalam acara Koki, sekadar ilustrasi lagi, kita hanya melihat kuatnya pemahaman bahwa berpentas komedi adalah semata menceritakan koleksi lelucon hafalan, kreasi orang lain sampai aksi-aksi mengejek orang lain. Memang, semua itu sudah mampu menimbulkan tawa. Juga sudah pula membuat pelakunya menjadi kaya raya.

Tetapi kita tahu, dengan meminjam istilah dari Covey, komedian semacam itu terancam seperti menaiki tangga yang bersandar pada tembok yang keliru. Semua ulah lucunya itu akhirnya seperti hanya menggores tipis di permukaan. Karena tidak pernah mampu membekaskan sosok terdalam dari jati dirinya sebagai manusia untuk menyentuh atau menggetarkan common chord, dawai-dawai hati nurani audiens mereka sebagai manusia.

Kiranya memang sudah terlalu lama, dengan bercermin dari sepak terjang bagaimana pelawak-pelawak Indonesia selama puluhan tahun berkreasi dan menjajakan diri, kita selalu seperti tidak pernah tahu siapa diri mereka yang sebenarnya.

Setiap kali kita kehilangan seseorang pelawak, catatan-catatan atau elegi untuknya seolah selalu kekurangan bahan untuk melukiskan dirinya sebagai persona, sosok pribadi dengan keunikan manusiawi yang mampu meninggalkan warisan keluhuran untuk bisa kita kenang lama sebagai manusia.

Mudah-mudahan saya salah adanya.



Wonogiri, 23 Maret 2006

Friday, March 03, 2006

Infojunkie, Jon Stewart dan Wawasan Intelektual Komedian Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Terorisme meningkatkan pariwisata. Anda pasti tidak percaya terhadap pernyataan ini, bukan ? Untuk memahami rumusan kontroversial ini, bayangkanlah diri Anda sebagai Dr. Azahari atau Noordin Mohd. Top. Kemudian bayangkan apa yang segera mereka kerjakan setelah terjadi peristiwa Bom Bali 1 dan Bom Bali 2 ?

Mereka pasti segera aktif melakukan kegiatan pariwisata. Rajin berpindah-pindah lokasi dengan mengunjungi banyak kota di Indonesia. Demi menghindari kejaran agen-agen Detasemen 88 yang hendak meringkus mereka !

Bagi saya, terus terang, pariwisata adalah dunia alien, dunia asing yang tidak terlalu akrab dengan diri saya. Ada salah seorang wanita terindah saya, Widhiana Laneza, berkiprah dalam dunia pariwisata. Menjadi eksekutif pemasaran di Hotel Tugu dan Exotic Spas di Bali. Tetapi hal itu baru saya ketahui ketika ia secara mendadak dan dalam momen menggetarkan, kembali menghadap Illahi, 20 Desember 2005 yang lalu.


Baiklah. Perjalanan pariwisata terakhir yang saya lakukan sudah berlangsung setahun lalu. Januari 2005. Yaitu ketika berperan sebagai seorang football flaneur, istilah eksotis dari kritikus dan penyair Perancis, Charles Baudelaire (1821–1867), yang berarti sebagai wisatawan sepakbola.

Saat itu dalam peran sebagai suporter sepakbola yang mendukung Tim Nasional Indonesia di Final Piala Tiger 2004/2005, saya bersama Mayor Haristanto yang pendiri Pasoepati Solo, ikut mendidih rasa nasionalisme kami ketika bergabung dengan sesama suporter sepakbola Indonesia di National Stadium Kallang, Singapura.

Esoknya, sambil menikmati kopi pagi di lobi Quality Hotel di bilangan Balestier Road, saya senyum-senyum membaca koran The Straits Times (17/1/2005). Karena nama saya dan pendapat saya tentang masa depan sepakbola Indonesia di bawah pelatih kepala Peter Withe, muncul di koran terpandang negaranya Lee Kuan Yew itu.

”The future is still bright.
Peter Withe is a good coach and motivator.
We can bounce back”

(Bambang Haryanto, Indonesia Fan).

Usai sarapan itu kemudian kami melakukan jalan-jalan wajib sebagai “turis melayu.” Tidak lain harus ke Orchard Road. Saya khusus mengunjungi tempat rekreasi paling favorit, yaitu jaringan toko buku kelas dunia : Borders dan Kinokuniya.

Sayang, judul-judul buku yang saya incar dengan subjek menarik yang pernah dikenalkan oleh Tika Bisono dan Mas Ito (Prof. Sarlito Wirawan Sarwono) kepada saya, yaitu knowledge management, tidak saya temui. Padahal toko buku ini benar-benar bikin ngiler karena mampu menampung puluhan ribu judul buku, mengingat luas ruangannya mendekati luas lapangan sepakbola.


Pak Yono Street University. Toko buku memang selalu menjadi tempat main favorit saya. Termasuk ketika belasan tahun memiliki kartu tanda penduduk sebagai warga Jakarta sejak tahun 1980. Semula main saya adalah ke Toko Buku Gramedia di Gajahmada.

Lalu ketika mereka buka di Blok M saya pun pindah ke sana. Di sini saya pernah ketemu dan bertukar lelucon dengan Gus Dur saat saya membeli buku kumpulan humor, 25/10/1986.

Pernah pula bertemu kembali, secara tak terduga, dengan Miduk, putri Solo jelita, berdarah biru, wanita terindah saya lainnya. Pertemuan yang kembali membuat saya patah hati. Matanya masih berkilauan, cinta lama masih berkobaran, tetapi ia kini sudah milik orang.

Ketika Toko Buku Gramedia buka gerai baru di Matraman, saya merasa beruntung. Tinggal saya di Rawamangun, membuat lokasi baru itu lebih dekat untuk dijangkau. Toko Buku Gramedia ini kadang agak terlambat dalam menyediakan buku-buku teknologi informasi terbaru, topik favoritku di tahun 90-an akhir. Saya lalu mencarinya di Times Bookshop, Indonesia Plaza. Judul-judul majalah luar negerinya di sini juga lebih banyak ragamnya.

Selain di toko-toko buku, untuk majalah-majalah luar negeri saya memiliki tempat belanja favorit lain yang juga asyik. Di lapaknya Pak Yono, Bang Japrak dan Mas Solikin, di depan Gedung PMI, Kramat Raya. Saya menyebutnya sebagai kampus baru, tempat kuliah baru. Universitas Jalanan Pak Yono.

Mereka mendapat pasokan majalah-majalah itu dari hotel. Majalah Time, Newsweek, Asiaweek, Far Eastern Economic Review, Business Week, Economist, sampai Fortune, kadang hanya berselang seminggu dari tanggal terbitnya sering sudah bisa terbeli di sini. Kalau di toko harga bandrolnya 6-10 ribu, di lapak ini seribu rupiah bisa mendapat 3-4 majalah.

Majalah Reader’s Digest berjibun. Harganya lebih murah dibanding majalah serupa yang terbit dalam negeri : Intisari. Belum lagi bila serasa mendapat durian runtuh, karena bisa menemukan majalah top seperti Wired sampai Harvard Business Review.


Ketika di Solo terjadi aksi sweeping untuk turis asing dan di Jakarta merebak demo anti Amerika, ternyata memunculkan dampak yang tidak saya duga. Pasokan majalah untuk universitasnya Pak Yono juga ikut macet. Dan saya ikut kesulitan mengakses informasi-informasi baru dari luar negeri pula.

Apalagi Internet saat itu masih hanya dimonopoli pemakaiannya oleh fihak militer AS. Tim Berners-Lee dan kawan-kawan belum meluncurkan teknologi web, karya saktinya ke masyarakat luas.

Begitulah, kalau ada kesempatan main ke Jakarta, selain mampir ke sofa empuknya QB World of Books, toko buku merangkap cafe itu di Jl. Sunda, belakang Sarinah itu, pasti saya menyempatkan bersilaturahmi ke kampus Pak Yono Street University dan koleganya di Kramat ini.

Apalagi pak Yono adalah orang Sragen yang merantau ke Jakarta sejak 1957. Mungkin bagi dia silaturahmi semacam ini bisa agak menggembirakan dirinya, berbau nostalgia, karena kami ngobrolnya memakai bahasa Jawa.


Host Oscar 2006. Kegetolan saya terhadap buku dan majalah itu mungkin dalam bahasa prokem mendapat julukan sebagai infojunkie. Pemabuk informasi. Pemulung informasi. Sebutan tersebut hari-hari ini bisa saya temukan kembali ketika saya membaca-baca di Internet tentang sosok Jon Stewart, komedian Amerika Serikat, yang terpilih untuk memandu acara Oscar 2006, Minggu (5/3/2006).

Deborah White menulis bahwa Jon Stewart adalah komedian politik. Ciri khas shownya membuat ia dijuluki sebagai ikon "the most trusted name in fake news.” Nama terpercaya untuk berita-berita boongan.

Ia berani, brilyan, humor politiknya tajam menggigit dalam menyuarakan rasa frustrasi rakyat Amerika. Terutama terhadap kebijakan salah langkah dan sikap munafik pemerintahan Bush, juga tingkah konyol politisi lainnya dan kebijakan yang mereka jatuhkan.

“Anda tahu, bila saya menghimpun sekeping receh setiap kali Bush menyebut peristiwa 11 September, maka saya dapat mengumpulkan uang cukup besar untuk hadiah memburu Osama Bin Laden.”

Ucapan pedas Jon Stewart itu dinilai kritikus dan kolektor humor terkenal Daniel Kurtzman sebagai satu di antara 25 Kutipan Lelucon Paling Lucu Tahun 2005.

Bush sudah menjadi rahasia umum di Amerika Serikat sebagai presiden yang kedodoran dalam bernalar dan berbahasa. Ketika aktor berotot asal Austria, bintang film Terminator, diangkat menjadi Gubernur California, maka keduanya pun segera menjadi bulan-bulanan lelucon Jon Stewart.

“Presiden Bush minggu lalu melucukan suasana pertemuannya dengan Schwarzenegger dengan menyebut bahwa mereka berdua sering salah ucap dalam berbahasa Inggris. Tuan Presiden, ingatlah, Schwarzenegger itu berasal dari negeri asing.”


Siapakah Jon Stewart ? Deborah White meneruskan bahwa Jon Stewart (aslinya : Jonathan Stuart Leibowitz), pembawa acara talkshow tersohor “The Daily Show” itu adalah warga New York, kelahiran Lawrenceville, New Jersey, 28 November 1962.

Dalam berhumor ia adalah komedian yang suka mengejek dirinya sendiri. Ayahnya adalah ahli fisika dan ibunya seorang guru, sehingga pendidikan dinilai tinggi dalam keluarga ini. Jon Stewart adalah pribadi privat, sangat jarang menceritakan kehidupannya kepada publik.

Ia menikah di tahun 2000 dengan Tracey McShane. Dikaruniai putra, Nathan (Juli 2004) dan anak perempuan, Maggie (Februari 2006). Jon dikenal workaholic, susah tidur, news junkie, pelahap berita, dan bekas perokok berat yang bisa berhenti pada tahun 2000. Untuk ukuran orang Barat, pria keturunan Yahudi ini boleh disebut pendek. Tingginya 170 cm.

Di SMA, gerak-geriknya yang suka humor sudah menunjukkan bakat yang menonjol. Ia meraih ranking ketiga ketika lulus dan terpilih sebagai siswa terbaik selera humornya. Ia kemudian berkuliah di College of William & Mary, Virginia, semula mengambil jurusan kimia, lalu pindah ke Psikologi.

Ia juga aktif menjadi anggota tim sepakbola kampusnya. Menurut Wikipedia, ia tercatat pernah membuat sepuluh gol dan 12 asis. Yang menarik, kependekan dari nama keluarga Yahudinya yang ia buang, “Leibo” kini di kampusnya menjadi nama anugerah tahunan bagi anggota tim sepakbola kampusnya yang menunjukkan kedewasaan dan mampu menghadirkan tawa untuk seluruh anggota timnya.

Jon Stewart bahkan pernah melatih sepakbola di SMA Gloucester di Virginia. Tahun 2006 ini ia memperoleh anugerah kehormatan All-America Award dari Asosiasi Pelatih Sepakbola Nasional Amerika Serikat.

Tahun 1986, ia mengadu nasib dan karier komedinya ke New York. Ia tampil di pelbagai sirkuit komedi di kota yang berjulukan Big Apple tersebut. Kariernya pun melambung.

Tahun 1999 ia tampil sebagai pembawa acara The Daily Show on Comedy Central menggantikan Craig Kilborn. Ia dibantu koresponden yang juga jenakawan seperti Stephen Colbert and Rob Corddry (baca artikel “Dick Cheney, Humor Politik, dan Posisi Tiarap Komedian Indonesia” di posting saya sebelumnya).

Tahun 2005, The Daily Show dan Jon Stewart mendapat anugerah 2 Emmy Awards. Juga anugerah sebagai Best Comedy Album Grammy Award untuk buku audionya yang berjudul America (The Book): A Citizen's Guide to Democracy Inaction. Buku ini masuk daftar buku laris koran The New York Times selama 46 minggu. Juga mendapat penghargaan Thurber Prize kategori Humor Amerika.

Tetapi Jon Stewart pernah pula mengalami peristiwa pahit, ketika menjadi pembawa acara Grammy Award 2001 di mana leluconnya mendapat cemoohan pengunjung. Dengan jujur ia menanggapinya dengan kearifan. “I feel your scorn and I accept it.”. Saya merasakan cemoohan Anda dan saya menerimanya. Kejadian itu justru membuat dirinya semakin tegar untuk meraih kedudukan sebagai komedian besar.


Apa keteladanan dirinya yang dapat dipetik oleh kalangan komedian di Indonesia ? Silakan Anda memberikan pendapat. Saya hanya ingin membuka-buka lagi isi majalah Reader’s Digest (3/1988), yang saya beli dari lapak majalah bekasnya Pak Yono di trotoir jalan bilangan Kramat, Jakarta. Artikel itu membahas seluk-beluk industri hiburan dan terkait dengan daftar artis-artis berpenghasilan tertinggi di Amerika Serikat saat itu pula.

Bill Cosby (57 juta dolar). Michael Jackson (31). Charles “Snoopy” Schulz (30). Eddie Murphy (27). Bruce Springsteen (27). Madonna (26). Whitney Houston (24). Steven Spielberg (23). Sylvester Stallone (21) dan Johnny Carson (20).

Saya kemudian terpana membaca penjelasan dalam bagian akhir artikel tersebut yang secara tegas menyatakan bahwa saat ini entertainment is intellectual property, just like computer software or patented pharmaceuticals. Hiburan merupakan karya cipta intelektual, seperti halnya peranti lunak komputer atau obat-obatan yang dilindungi hak paten.

Hiburan merupakan kiprah yang serius. Merupakan lahan kiprah intelektual. Kalau dalam daftar tadi nama komedian ternyata menduduki peringkat paling tinggi, semoga komunitas komedian Indonesia kini dapat terbuka cakrawala pemikirannya, mampu mencerna penjelasan tadi, dan kemudian bereaksi secara cerdas pula berusaha memenuhi tuntutan perubahan jaman yang terjadi.

Melawak itu mensyaratkan kecerdasan. Jon Stewart telah membuktikannya. Semoga saya tidak hanya bermimpi bahwa pelawak yang cerdas sungguh pula sangat dinanti kehadirannya di negeri ini. Semoga saya tidak sendirian dalam bermimpi !



Wonogiri, 4 Maret 2006.

Thursday, February 23, 2006

Dick Cheney, Humor Politik, dan Posisi Tiarap Komedian Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Brokeback Mountain. Burung puyuh kini sedang menertawai Amerika. Jelasnya, menertawai tindakan ceroboh dan bodoh Dick Cheney, sang Wakil Presiden AS. Semua itu terjadi akibat kekonyolan melakukan salah tembak saat berburu burung puyuh yang dilakukan orang terkuat kedua Amerika Serikat tersebut.

Guyonan tentang dirinya pun meledak.

Komedian Jimmy Kimmel, nyeletuk : “Dengan menyingkirkan segala lelucon dan ketika kita harus adil menilai Dick Cheney, nampaknya setiap lima tahun sekali ia harus menumpahkan darah orang tak berdosa atau dia mencederai perjanjian dirinya dengan setan”

Sementara itu David Letterman, pembawa acara humor di televisi yang terkenal, meledek insiden itu sebagai upaya Wapres AS ikut serta menghentikan penyebaran wabah flu burung. Lelucon lain khas Letterman lalu ganas main sikut sana-sini.

Misalnya dari kondisi Cheney yang jantungnya lemah, ia memiliki anak perempuan yang lesbian, menyangkut kisah percintaan sesama lelaki oleh para koboi dalam film unggulan Oscar, Brokeback Mountain (“Habis, dia mau mencoba ‘koboi gay’ pada diri saya”), sampai isu senjata pemusnah massal Irak yang selama ini tidak pernah ditemukan oleh Amerika Serikat. Celetuk Letterman untuk isu yang satu ini :

“Berita bagus, para hadirin. Akhirnya kita mampu menemukan lokasi senjata pemusnah massal. Pada diri Dick Cheney !”

Mari kita tinggalkan David Letterman.

Kini kita simak obrolan yang sarat sindiran tajam Jon Stewart, seorang stand up comedian terkenal dan pembawa acara “The Daily Show,” ketika melakukan dialog dengan Rob Corddry. Inilah transkripnya :

Jon Stewart (JS) : “Saya sekarang bersama Robb Coddry, analis peristiwa salah tembak yang dilakukan oleh Wakil Presiden kita. Rob, ini nyata-nyata situasi yang sial. Bagaimana Wakil Presiden kita mengatasainya ?”

Robb Coddry (RC) : Jon, semalam Wakil Presiden tetap kukuh pada pendiriannya untuk menembak Harry Whittington. Berdasarkan analisis intelijen terbaik, terdapat burung puyuh di semak tersebut. Semua orang percaya saat itu memang terdapat burung puyuh di semak bersangkutan.

“Dan ketika burung puyuh itu berubah menjadi pria berusia 78 tahun, kita tahu kemudian, Mr. Cheney tetap bersiteguh menembak Mr. Whittington pada bagian wajahnya. Ia percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik bila ia menebarkan peluru
ke seluruh wilayah wajah Mr. Whittington”

JS : “Tetapi mengapa, Rob ? Apabila dia tahu bahwa Mr. Whittington bukan seekor burung, mengapa ia tetap saja menembak dirinya ?”

RC : “Jon, pasca 11 September, bangsa Amerika mengharapkan pemimpinnya bertindak tegas. Dengan tidak melakukan penembakan terhadap seorang teman tepat pada wajahnya akan mengirimkan pesan kepada burung-burung puyuh bahwa bangsa Amerika adalah bangsa yang lemah”

JS : “Sangat mengerikan”

RC : “Lihat, fakta bahwa bagaimana Wakil Presiden kita berkendara dengan sahabat-sahabatnya yang orang kaya menaiki mobil untuk menembaki burung puyuh, burung yang tak punya sayap kuat dan hidup di peternakan, adalah memberi isyarat kepada buruh puyuh itu ‘bagaimana’ kita memburu mereka. Saya yakin, saat ini burung-burung itu sedang menertawakan kita di tengah-tengah kawanan mereka”

JS : “Saya tidak yakin burung-burung itu bisa tertawa, Rob”

RC : “Ya, apa pun yang mereka lakukan, coo (menirukan suara burung), mereka kini sedang meledeki kita, Jon. Sebab kita di sini sedang berbicara blak-blakan tentang rencana kita untuk memburu mereka. Sudah tak ada harapan lagi. Skornya : Buruh Puyuh satu, Amerika nol !”


Library of Congress. Sebelum dialog yang sarat sindiran cerdas di atas, ketika membuka perbincangan Jon Stewart lebih dulu melemparkan guyonan sebagai berikut :

“Wapres AS Dick Cheney secara tidak sengaja menembak seseorang ketika berburu burung puyuh...membuat Harry Whittington sebagai orang pertama ditembak wakil presiden AS sejak Alexander Hamilton. Hamilton terlibat tembak-menembak dengan Aaron Burr demi mempertahankan kehormatan, integritas dan manuver politik. Whittington ? Tertembak karena dikira seekor burung !”

Lelucon Stewart yang satu ini menarik. Terutama karena peristiwa duel antara Hamilton (1755-1804) vs Burr (1756-1836) itu sudah terjadi lebih dari 200 tahun yang lalu. Tetapi peristiwa tersebut masih hidup dalam ingatan bangsa Amerika. Masih juga relevan untuk bahan guyonan. Mengapa ?

Hal ini bisa terjadi, karena harus diakui, Amerika Serikat adalah bangsa yang maju budaya baca dan tulisnya. Sekadar contoh : mereka memiliki Library of Congress, perpustakaan yang terbesar di dunia. Didirikan pada tahun 1800, alias 25 tahun sebelum meletus Perang Diponegoro di negeri kita ini.

Mereka cermat mencatat kejadian bersejarah. Bahkan juga mendokumentasikan hal-hal yang kelihatan remeh-temeh, trivia, juga rewel mendiskusikannya. Tradisi intelektual ini tentu membuat bangsa Amerika tidak mudah melupakan prestasi atau aib seseorang tokoh, ketika mereka hendak menjatuhkan sesuatu pilihan politik.


Seorang komedian, idealnya, juga dituntut untuk memiliki tradisi pendokumentasian yang kuat. Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedian (1998) menyebutkan bahwa seorang komedian adalah seorang pengamat.

Tidak ayal Judy Carter, mentor dan guru pelawak yang terkenal di Amerika Serikat, dalam salah satu ajarannya mewajibkan muridnya memiliki bloknot kecil dan pena. Dua benda “keramat” ini harus selalu dibawa kemana-mana. Lebih bagus lagi, disertai pula sebuah tape recorder kecil.

Antara lain Judy Carter mengutip pendapat komedian George Wallace yang bilang, “Saya menulis lelucon saya dari hal-hal atau kejadian bodoh. Misalnya tanda lalu lintas berbunyi ‘DILARANG BERISIK DI ZONA RUMAH SAKIT.’ Memang tidak ada kejadian yang menimbulkan berisik, sampai suatu saat mobil ambulans muncul dengan sirine yang menggaung..”

Richard Lewis, komedian yang konon telah menciptakan lebih dari 250.000 lawakan, bilang bahwa dirinya selalu membawa bloknot kemana saja. “Bila ada sesuatu yang lucu, saya segera menuliskannya. Beberapa bulan kemudian saya memiliki ribuan premis lawakan, saya beri lingkaran untuk premis-premis yang mampu membuat saya tertawa, dan saya membayangkan bagaimana menyajikannya di panggung”


Menyerang Penguasa. Komedian terkenal di Amerika Serikat seperti Conan O’Brien, Craig Kilborn, David Letterman, Jay Leno, Jimmy Kimmel, Jon Stewart, sampai comedienne Tina Fey, pekerjaan pokoknya memang membulan-bulani para penguasa dengan lelucon. Sasaran tembak nomor satu mereka, pastilah presiden Amerika Serikat.

Melucukan penguasa merupakan salah satu ciri khas bangsa Amerika, yang memiliki gaya hidup getol memperolok diri, membuat satir, sebagai bagian dari budaya masyarakat mereka. Humor politik menjadi makanan sehari-hari mereka.

Gene Perret, kepala penulis lawakannya Bob Hope, pemenang tiga kali Emmy Award, ketika meringkas kaidah-kaidah terpenting dalam menyajikan lawakan antara lain ia sebutkan : lawakan harus merefleksikan kebenaran, melonggarkan tensi atau tekanan, mengejutkan, menyerang otoritas atau penguasa, melibatkan penonton dan menyajikannya secara jenaka.

Bagaimana pelawak Indonesia dalam mengaplikasikan kaidah-kaidah di atas ? Saya kali ini tertarik membahas masalah kaidah bahwa lawakan memang harus menyerang otoritas atau penguasa. Peran yang menantang dan merangsang.

Apalagi lawakan dalam hal ini ikut hadir sebagai mekanisme checks and balances, kontrol terhadap kebijaksanaan pemerintah. Dengan disajikan secara jenaka, sehingga yang mendapat semprotan tidak perlu bermerah muka. Dalam dunia pewayangan kita sudah mengenal para panakawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, yang lawakannya berfungsi sebagai kritik yang mengingatkan para penguasa.

Para penguasa memang pantas menjadi sasaran lawakan, antara lain karena baik dirinya atau kebijakan yang ia ambil, jelas akan diketahui dan mempengaruhi hidup orang banyak. Pemahaman secara bersama oleh masyarakat luas, atau oleh banyak orang, bagi seorang komedian yang cerdas adalah ibarat dirinya berdiri di depan lautan bensin.

Dengan celetukan atau lawakan kecil yang oleh Perret disebut harus merefleksikan kebenaran, juga harus melibatkan penonton, komedian ibarat melemparkan api ke tengahnya. Kobaran tawa dijamin muncul menggelegar dari sana.

Sayang, sepertinya kini tidak banyak, atau justru tidak ada, komedian kita yang berani bermain humor politik saat ini. Mungkin karena mereka telah merasa berkecukupan, lalu berusaha hanya mempertahankan status quo dengan main aman, lebih suka tiarap, apolitik, sehingga membuat peran luhurnya sebagai panakawan yang bertugas mengritik para penguasa sudah musnah entah di mana.

Bagi saya, pantas saja lelucon-lelucon mereka tidak banyak lagi yang lucu. Karena lawakan mereka memang semakin jauh dari greget merefleksikan kebenaran, sekaligus juga tidak melibatkan suara hati kita sebagai rakyat sebagai audiens mereka.

Burung-burung puyuh kini sedang menertawai Amerika. Tetapi di Indonesia, burung-burung menjadi terdakwa karena membuat semakin banyak korban-korban berjatuhan dan meninggal. Akibat flu mereka !



Wonogiri, 24 Februari 2006

Thursday, February 09, 2006

Bruce Willis, Khadaffy, dan Formula Lawakan TeamLo Solo

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com


Parody is an ideavirus
(Seth Godin, Unleashing The IdeaVirus, 2001)



Wanita Terindah. Film aktor macho Bruce Willis terakhir apa yang telah Anda tonton ? Die Hard ? Atau Armageddon ? Melalui televisi, beberapa waktu lalu, saya nonton The Day of the Jackal.

Ia berakting sebagai pembunuh bayaran mafia Rusia yang bersemboyan “kalian tak bisa melindungi wanita-wanitamu”, karena yang hendak dijadikan sasaran muntahan peluru senapan mesin raksasa otomatis itu adalah Ibu Negara Amerika Serikat.

Film ini, dalam versinya yang asli, pernah saya tonton di tahun 1970-an. Cerita yang diambil dari novel Frederick Forsyth (kalau tak salah) tersebut berkisah tentang pembunuh bayaran asal Inggris (dibintangi Edward Fox), yang diorder kelompok politik di Perancis yang tidak menyetujui kemerdekaan Aljazair. Sasaran pembunuhan dengan peluru bermuatan merkuri itu adalah Presiden Perancis Charles De Gaulle. Momennya : saat peringatan Revolusi Perancis, 14 Juli.

Sebelumnya, beberapa tahun lalu, Bruce Willis telah memperkenalkan diri saya dengan salah satu wanita terindah : Sherry Bilsig. Saat itu Sherry ini tampil dengan rambut di-braided dan tiba-tiba seperti membunyikan bunyi “klik” di benak saya.

Saya menyukainya.

Sherry adalah nama pemain pembantu yang berperan sebagai pramugari dalam film Die Hard 2 : Die Harder yang dibintangi oleh mantan suami aktris Demi Moore itu.

Selain Sherry Bilsig, daftar wanita-wanita terindah itu meliputi : Jacquline Bisset. Isabelle Adjani. Arie Kusmiran. Miduk. Kenil. Cresenthya Hartati. Widhiana “Anez” Laneza. Dwi Retno “Tutut” Setiarti. Erika “Michiko” Diana Rizanti.

Bruce Willis juga saya tonton saat ia bermain dalam film Armageddon. Film ini berkisah tentang ancaman asteroid (menurut ensiklopedi, asteroid atau minor planet itu yang terbesar bernama Ceres, berdiameter 1003 km, ditemukan oleh Piazzi pada tahun 1801) yang hendak menabrak, mengancam bumi menjadi kiamat.

Terkait film ini pernah muncul komentar : “sungguh beruntung Liv Tyler. Ia main film, beradegan main cinta sambil diiringi lagu hit yang dinyanyikan oleh ayahnya sendiri.” Ayah Liv Tyler adalah Steve Tyler, vokalis Aerosmith.

Anda tahu judul lagu terkenal yang dinyanyikan oleh Aerosmith dan menjadi salah satu lagu indah dari film Armageddon ini ? Tentu saja : “I Don't Want To Miss A Thing”. Mari kita nyanyikan bait yang pertama :


I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you
is a moment I treasure


Dalam film yang sama juga terselip lagu lain yang juga tidak kalah indahnya. Bagaimana kalau saya ajak Anda menyanyikan liriknya di bawah ini :

All my bags are packed, I'm ready to go,
I'm standing here outside the door
I hate to wake you up to say goodbye.

But the dawn is breakin', it's early morn',
The Taxi's waitin', he's blowin' his horn.
Already I'm so lonesome I could die.


Kemudian untuk refrein, mari kita nyanyikan yang di bawah ini :

So kiss me and smile for me,
Call my folks in Tripoli,
Tell them that Khadafi made me go.

I'm a Libyan on a jet plane,
Don't know if I'll be back again.
Moammar, I hate to go.


Meniru Untuk Mengejek. Adakah sesuatu hal yang aneh, mungkin lucu, telah Anda rasakan ketika menyanyikan refrein ini ? Lirik itu diilhami serangan pesawat-pesawat jet AS pada tahun 1986 yang menjatuhkan bom-bom di Tripoli. Peristiwa pemboman AS itu menyusul peledakan pesawat PanAm di atas Lockerbie, Skotlandia, oleh teroris Lybia. Lybia harus dihukum karena dituding dunia menjadi sarang teroris saat itu.

Lirik itu menceritakan keengganan seorang pilot Lybia untuk terbang dan berperang melawan pesawat-pesawat tempur AS yang jauh lebih canggih. Tetapi ia harus melakukannya karena dipaksa presiden yang diktator, Moammar Khadaffy.

Judul lagunya : “Lybian on a jet plane ”

Dari judul dan liriknya, kita segera tahu bahwa lagu itu tidak lain merupakan parodi dari lagu “Leaving on a jet plane.” yang aslinya diciptakan oleh penyanyi country John Denver. Kalau Anda mampu tersenyum, atau mungkin terbahak, maka parodi itu berhasil.

Anda masih ingat saat menonton monologis Butet Kertaredjasa menirukan suara mantan Presiden Soeharto, Harmoko atau Susilo Bambang Yudhoyono ? Di dalamnya tidak ada sama sekali ucapan Soeharto, Harmoko atau pun SBY yang bernilai lucu, tetapi Anda sudah tergerak untuk tersenyum simpul ? Bila memang demikian halnya, maka parodinya, atau ulah meniru untuk mengejek yang ia lakukan itu, boleh dibilang berhasil pula.

Demikian pula bila Anda melalui layar televisi menyimak penampilan kelompok musik humor TeamLo yang vokalisnya bernyanyi dengan gaya mengedut-ngedutkan paha. Kalau Anda segera mengingat gaya Freddy Mercury dari kelompok Queen, maka parodi kelompok musik humor asal Solo itu pun bisa dibilang berhasil.

Mari kita bicara khusus tentang TeamLo.

Seperti ditulis oleh wartawan Frans Sartono (Kompas, 17/7/2005), mengutip ucapan vokalis TeamLo bahwa, “musik kami full parodi, jarang main penuh, kecuali ada permintaan.” Maka muncul plesetan dalam lagu dan lirik mereka. Intro lagu “Billie Jean” dari Michael Jackson misalnya, digunakan untuk masuk ke lagu dangdut “Bang Toyib”.

TeamLo yang paham benar kekuatan visual televisi kemudian juga menggarap aspek visual sebagai bahan lawakan, seperti memarodikan sosok artis terkenal. Seperti diungkap lebih lanjut oleh Frans Sartono, Wawan (vokalis Teamlo), pernah tampil dalam sosok dan mimik mirip Chrisye. Jurus ini terbukti berhasil mengundang tawa penonton.

Jurus tersebut kemudian dieksploitasi lebih lanjut oleh TeamLo. Sehingga dalam pentas khususnya di TPI 27/1/2006 yang lalu, mereka mampu memarodikan 23 penyanyi top Indonesia. Sebagai “korban” antara lain Ariel Peter Pan, Arman Maulana, Beby Romeo, Gombloh sampai Koes Plus. Prestasi Wawan Bakwan, vokalis TeamLo itu, membuatnya tercatat dalam MURI (Museum Rekor Indonesia).


Rumus Ampuh Perret. Gene Perret, penulis kepala untuk lawakannya Bob Hope dan pemenang tiga kali Emmy Award, pernah mengungkap resep baku dalam menulis lawakan.

Antara lain telah Perret katakan : It must relate to the audience. Harus relevan dan mempunyai kaitan dengan penonton. Pentas parodi yang dilakoni oleh TeamLo jelas bersandar pada formula ini, bukan ?

Kalau saja TeamLo nekad menyanyikan lagu, katakanlah “Me and Bobby McGee”, mungkin yang tertawa tidak ada. Kecuali hanya Gus Dur saja. Lagu yang isinya inspiratif bagi pejuang demokrasi ini, dinyanyikan oleh Janis Joplin, merupakan lagu kesayangan mantan presiden RI yang humoris itu.

TeamLo tentu lebih memilih lagu dan aksi panggung yang akrab dengan penonton. Kemudian kita merasakannya, bagaimana penonton bereaksi saat menonton suguhan parodi TeamLo itu. Mereka tergerak atau berebutan saling memberitahu. Atau saling menebak karakter yang muncul dari ulah metamorfosis aksi dan lagu yang dibawakan Wawan Bakwan tersebut. Penonton merasa punya kaitan dengan setiap aksi TeamLo.

Dalam pentas lawakan yang bukan parodi, penonton sebenarnya juga merindukan interaksi yang sama. Mereka ingin digelitik dan aktif diajak ikut berperanserta dalam proses identifikasi. Tak ayal seorang pakar pemasaran Seth Godin, menyebut bahwa “parodi adalah virus gagasan.” Maksudnya, parodi merupakan topik atau isu yang mampu menarik dan memancing pembicaraan orang. Dengan dibicarakan, maka ide itu pun kemudian mudah pula menyebar.

Kita lihat dampaknya : ketika penonton mampu mengenali tokoh atau situasi parodi yang muncul dalam benaknya, dan ia nilai lucu, mereka pun akan rela tertawa. Apalagi kalau dalam benaknya yang muncul ternyata dirinya pribadi, maka ia akan terpicu untuk tertawa lebih keras lagi. Tentu saja, mereka kemudian tergerak untuk menceritakannya pula.

Sayang, dalam sajian lawakan yang muncul di televisi-televisi kita, formula Perret yang ampuh dilakoni oleh TeamLo itu seperti tidak berlaku. Lihatlah, di panggung televisi kita inflasi pemunculan pelawak pria dengan berbusana perempuan. Bergaya sebagai waria. Atau muncul sosok-sosok berpakaian aneh, baik pria atau pun perempuan. Mereka dengan tampil memakai wig warna-warni. Bahkan muncul dengan sosok sebagai setan.

Apakah karakter-karakter aneh semacam itu mereka mampu menjadi relevan dan terkait dengan mayoritas penonton ? Saya kira tidak sama sekali. Kalau pun terkait, kebanyakan tidak dalam suguhan cita rasa lawakan yang cerdas. Apalagi elegan. Karena lawakan di televisi kita seolah tak pernah jauh bergeser dari melucukan bau ketiak, cipratan ludah, bunyi dan bau kentut, serta seks yang vulgar.


Formula mendasar. Dunia lawak Indonesia, hemat saya, seyogyanya sudi menyelisik untuk meneladani formula lucu yang amat mendasar dari TeamLo ini. Mula-mula mereka mengajak para penonton untuk mengenali suguhannya, kemudian tiba-tiba membelokkannya secara tidak terduga. Sehingga muncul adalah kelucuan-kelucuan yang eksplosif.

“Hide the joke whenever possible. Get some surprise into the punchline. Don’t let the audience see it coming”, tutur Gene Perret lagi.

Hadirkanlah selalu kejutan. Persis seperti situasi yang telah diulas oleh Frans Sartono tentang ulah TeamLo yang urakan, ketika menjutaksposisikan lagu “Billie Jean” dengan lagu dangdut “Bang Thoyib.”

Proses metamorfosis yang terjadi berupa aksi plesetan, mula-mula berangkat dari lirik lagu yang berbunyi “Billie Jean is not my lover” lalu tiba-tiba menjadi dangdut, kini dengan lirik “Bang Toyib is not my lover”

Baiklah. Sebagai penutup, bagaimana kalau kita lanjutkan menyanyikan lagu “Lybian on a jet plane” tadi ?

Aircraft carrier J.F.K.
Come to blow our chemical plant away,
But we keep telling them it's
just pharmaceutical.

So kiss me and smile for me,
Call my folks in Tripoli,
Tell them that Khadafi made me go.

I'm a Libyan on a jet plane,
Don't know if I'll be back again.
Moammar, I hate to go.



Wonogiri, 6 Februari 2006