Monday, January 25, 2010

Balsem Cap Mario Teguh

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Otak saya ?
Merupakan organ favorit saya yang kedua.”

Saya suka humornya Woody Allen. Ia penulis, aktor, dan juga sutradara film kaliber Oscar. Dialog di atas itu muncul dalam filmnya yang berjudul Sleeper (1973).

Humor seksnya yang senada juga muncul dalam filmnya Bullet Over Broadway (1994) yang dibintangi John Cusack. Anda sudah nonton film 2012 ? Pak Cusack ini menjadi bintang utama film yang di Indonesia bikin heboh karena menggambarkan kiamat itu.

Humor Allen dalam Bullet Over Broadway terucap dari tokoh Rita (Stacey Nelkin) yang bilang : “Bagi saya, cinta itu sangat-sangat dalam, sementara seks hanya menembus beberapa inci saja.”

Anda ingin tahu lebih banyak tentang humor cerdasnya Woody Allen ? Silakan mencarinya sendiri melalui Google. Saya kali ini berminat mengobrolkan tentang “organ favoritnya yang kedua.”

Otak. Milik Anda.
Milik saya. Milik kita semua.

Tentang otak itu, ada humornya pula. Kali ini terlontar dari penyair kesayangan Presiden John F. Kennedy, yaitu Robert Frost (1874–1963). Ia bilang, “otak itu organ yang ajaib. Ia mulai aktif sejak Anda bangun di pagi hari, dan terus saja bekerja tanpa henti sampai saat Anda tiba di kantor.”

Juga saat tiba sekolah. Di bangku kuliah. Juga saat menonton acara The Golden Ways-nya Mario Teguh. Ucapan terakhir ini bukan dari Robert Frost. Tetapi dari saya pribadi. Tentu saja ini penilaian subjektif. Oleh karena itu, bila perlu, Anda dapat dan juga saya undang untuk menulis bantahan.

The Goofy Ways. Kalau Anda menonton acaranya Mario Teguh di Metro TV, dapatkah Anda menilai seberapa tinggi tingkat pendidikan mereka yang hadir di studio itu ? SLTA ? Sarjana ? Pascasarjana ?

Dari melihat aktivitas audiens saat berlangsungnya acara, saya malah berpendapat mereka itu mungkin layak berpendidikan di bawah tingkat SLTA. Karena jarang, jarang sekali terlihat, ada yang serius melakukan aktivitas mencatat semburan demi semburan kata-kata mutiara dari Mario Teguh saat itu. Semua mendengarkan saja. Terlongo. Bahkan sering terlambat menyambar humor Pak Mario yang super itu.

Tanpa dicatat, begitu acara selesai dan kita keluar ruangan, sebagian besar ajaran Mario Teguh itu akan hilang. Dua hari kemudian, semuanya benar-benar tidak berbekas.

Aktivitas mencatat itu bukan hal remeh. Majalah Reader’s Digest pernah menulis lelucon : “Apa yang terjadi bila satu bus penuh turis Jepang dibajak teroris ? Polisi akan memperoleh 50 foto diri teroris dari pelbagai sudut. “

Lelucon ini menunjukkan kegetolan turis Jepang yang kemana-mana memotret obyek wisata yang mereka kunjungi. Ternyata kebiasaan hebat turis Jepang bukan hanya itu.

Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengatakan bahwa turis-turis Jepang itu juga membawa-bawa bloknot. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.

Mereka melakukan tindak intelijen secara legal, mereka mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Itulah cara Jepang menguasai ekonomi dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki oleh setiap insan yang produktif, utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan untuk selalu membawa-bawa bloknot sepanjang waktu.

Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun kehidupan pribadinya. Judy Carter, mentor komedi asal Amerika Serikat (foto) juga bilang, bahwa setiap calon komedian harus membawa-bawa bloknot dan bolpoin, setiap saat. Bahkan kedua sarana itu harus berada di dekat bantal tempat tidur mereka !


Bukan hanya mencatat. Agar kekayaan yang ditumpahkan oleh Mario Teguh itu mampu menjadi milik kita sendiri, pengetahuan itu harus dituliskan. Bisa di buku harian, surat, artikel, sampai blog. Pengetahuan bersangkutan berpeluang abadi menjadi milik kita pribadi apabila kita dengan cinta bersedia membagikannya kepada orang lain. Bahkan sebaiknya pula harus secara publik.

Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo, mengatakan : seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman secara lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Terima kasih, Rebbeca.

Masukan-masukan bernas Mario Teguh tanpa upaya dan tanpa ikhtiar lebih lanjut seperti ditulis di atas, hanya ibarat olesan balsem belaka. Saya ingat kata-kata seorang (mantan ?) petinju kita, Pino Bahari, saat menjadi komentator dalam suatu siaran tinju di televisi.

Ia bilang, nasehat atau masukan pelatih untuk petinju hanya berumur beberapa detik saja. Begitu masuk ring untuk melanjutkan ronde sisanya, petinju bersangkutan akan bertarung dengan pola berdasar cetak biru (lama), orang Jawa bilang sebagai gawan bayen, karakter yang sudah menyatu dengan dirinya.

Akhirnya, terkait kata-kata mutiara Mario Teguh itu saya pernah tiba-tiba memperoleh banjir SMS. Dari kenalan lama tetapi kemudian menjadi teman baru di Facebook. Antara lain berbunyi :

“Kekayaan yang bisa ditambang dari sumber emas dan berlian di bumi, tidak bisa mengalahkan ukuran kekayaan yang ditambang dari penggunaan pikiran Anda.”

Saya setuju. Terima kasih, Pak Mario.

Tetapi ujung dari banjir kata-kata motivasi tersebut adalah, bahwa dirinya nampak ingin merekrut diri saya sebagai downline dari bisnis MLM-nya. Bagi saya, aksi ini ibarat dirinya memanfaatkan ajaran telemotivator itu bukan hanya sebagai balsem untuk dioleskan kulit, tetapi balsem itu juga ia telan di perut.

Mungkin agar perutnya, juga isi tubuhnya bisa menjadi lebih nyaman, lebih kuat. Tetapi bukankah malah berpeluang menjadi racun ? Sebuah pepatah dari abad keenam belas boleh jadi menegaskan hal itu :

One man's meat is another man's poison.

Anda setuju ?
Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 26 Januari 2010


ke

Wednesday, December 30, 2009

In Memoriam Gus Dur (1940-2009) : “Hanya Kita Saja Yang Masih Waras”

Oleh Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Ucapan Gus Dur ibarat teka-teki. Ia saya pergoki di Toko Buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan, 25 Oktober 1986. Dua puluh tahun yang lalu.

Saat itu, ketika melihat sosoknya memasuki toko, mendorong saya memberanikan diri untuk memperlihatkan buku yang baru saya beli, karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions (1980), kepadanya.

Melihat kesamaan sebagai penikmat humor, setelah saling bertukar koleksi lelucon, Gus Dur mengeluarkan pernyataan yang saat itu berupa misteri. “Hanya kita saja yang masih waras,” cetusnya.

Belasan tahun kemudian teka-teki Gus Dur itu bisa saya mengerti. Hal itu terjadi di akhir 2001 ketika saya kena PHK pada sebuah perusahaan Internet di Jakarta.

Untuk pengobat gundah, saya memutuskan membeli buku-buku panduan menjadi komedian. Isi buku-buku itu malah tidak menghibur. Justru membuat saya makin dirundung hati yang hancur. Terutama oleh bukunya Judy Carter, The Comedy Bible (2001).

Asumsi dan bahkan paradigma saya tentang komedi yang sudah saya anggap benar selama ini, bahkan karatan, berurat dan berakar, harus diruntuhkan. Harus dihancurkan.

Pemahaman bahwa menjadi komedian itu sekadar tampil di panggung menceritakan lelucon tentang orang lain atau karya orang lain, ternyata menurut Judy Carter hal itu merupakan kekeliruan yang sangat fundamental. Karena menurutnya, setiap komedian wajib dituntut orisinalitasnya. Di panggung dirinya harus berani dan jujur dalam membeberkan otobiografi mereka masing-masing.

“We funny people are not normal”, tegasnya. Orang normal mengekspresikan selera humornya dengan menghafalkan lelucon, sementara jenakawan sejati mentransformasikan pengalaman hidupnya.menjadi lelucon. Ia menulis lelucon tentang hidupnya sendiri pula.

Tambah Judy Carter, kalau sebagian besar orang cenderung menyembunyikan cacat dan cela dirinya, para jenakawan justru mempertontonkannya semua itu kepada dunia. “Comedy...be afraid, be very afraid !”, tandas lanjutnya.

Keterusterangan, kejujuran, memang menakutkan. Tetapi semakin dalam menyelami riwayat hidup para komedian, sedari George Burns, Richard Pryor, Rodney Dangerfield, Joan Rivers sampai Jon Stewart yang baru saja memandu acara Oscar 2006, semakin saya menaruh hormat atas kejujuran mereka sebagai manusia. Para jenakawan sejati senantiasa mampu menemukan humor dalam momen yang serius, juga tragedi hidupnya, dan bahkan pada momen yang paling pribadi sekali pun.

Sekadar contoh adalah Christopher Titus. Ia komedian solo dan membintangi cerita seri televisi yang mentransformasikan problem kehidupannya dalam keluarga yang tidak normal menjadi bahan leluconnya. “Saya melucukan ibu saya yang menembak mati pacarnya. Saya juga melucukan ibu saya yang melakukan bunuh diri. Semua itu mampu membuat penonton tertawa.”

Chris Titus melawak dengan bahan yang benar-benar orisinal, segenap sisi hidupnya sendiri. Yang paling gelap sekali pun. Memanglah, komedian sejati memiliki totalitas ketika menerjuni dunianya. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seseorang yang berupaya memperoleh kekayaan hingga dirinya berani bersekutu dan membuat “perjanjian dengan setan.”

Karena komedian sejati harus ikhlas menggadaikan sebagian nyawa atau kehidupannya dalam perjanjian itu. Komedian harus berani merelakan semua kekurangannya sebagai manusia untuk dibedah, ditonjolkan dan dijajakan semuanya untuk menjadi bahan tertawaan.

Photobucket - Video and Image Hosting

Self-deprecating. Seorang Gus Dur, seperti diungkap Moh. Mahfud M.D. dalam artikelnya “Politik Humor Gus Dur” (JawaPos,15/3/2006), memiliki kepiawaian tinggi dalam menghumori dirinya sendiri.

Alkisah, ketika berceramah di depan kerumunan massa, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir.

“Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya.

Keikhlasan Gus Dur mengolok kekurangan diri sendiri, self-deprecating, merupakan ujud kewarasan dirinya sebagai pribadi. Menu serupa juga jadi andalan komedian muslim di Amerika Serikat dan Inggris yang sedang berjuang menegakkan citra Islam sebagai agama yang cinta damai pasca serangan teroris 11 September 2001.

Sebagai contoh adalah Shazia Mirza, pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya.

“Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.

Tissa Hami adalah komedian perempuan lain, tetapi di Amerika Serikat. Ia bergelar Master Kajian Internasional dan bekerja di John F. Kennedy School of Government., Universitas Harvard. Dengan melawak, “saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim tertindas dan terbungkam,” katanya.

Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini (AS), sering jadi lawakan. Katanya, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera!”


Mencela orang lain. Bagaimana lanskap lawakan di Indonesia selama ini ? Kiranya kita dapat bercermin dari pengalaman pelawak Basuki Srimulat. Seperti tertuang di JawaPos (3/3/2006), ia baru pulang dari naik haji. Ia satu pesawat dengan KH Zainuddin MZ, Ustadz Iskandar dan satu lagi pria yang disebut Basuki sebagai Ketua Dewan Syuro.

Pria yang terakhir ini bertanya kepada Basuki : “Apa akan terus melawak meski sudah menyandang predikat haji ?” Basuki balik bertanya : “Lho, memangnya kenapa ?” Beliau menjawab : “Melawak itu kan identik dengan mencela orang lain ?” Mendengar hal itu Basuki tidak bisa langsung menjawab.

Miftah Faridl dari ITB dalam bukunya Pokok-Pokok Ajaran Islam (2004) telah menderetkan daftar dosa atau hal-hal yang tidak baik terkait afatul lisan, bahaya lidah. Bahaya lidah termasuk mencaci maki, membuka kesalahan orang lain, memanggil nama jelek terhadap orang lain, sampai menghina dan mencemooh.

Kalau saja perbuatan negatif tersebut selama ini justru merupakan modus lawakan yang lajim sekaligus berpotensi mengandung dosa, lalu apa solusinya ?

Pernyataan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi (Suara Merdeka, 4/2/2006) mungkin dapat dipakai sebagai panduan. Ia mensinyalir rentetan bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini tidak lepas dari perilaku spiritual manusia Indonesia.

Menurutnya, kebanyakan bangsa Indonesia dewasa ini lebih sibuk mengurusi cacat orang lain sehingga kerap lupa pada cacat sendiri. Padahal, dalam salah satu hadis Rasulullah bersabda, berbahagialah orang yang repot mengurusi cacatnya sendiri hingga lupa dan tidak sempat menghitung cacat orang lain.

Rentetan bencana yang terjadi di Tanah Air pasti bukan akibat dosa komedian kita semata. Tetapi sinyal menuju sajian komedi yang lebih baik telah ditorehkan. Terlebih di bulan Ramadhan, di mana tayangan televisi kita identik pesta tayangan komedi, kiranya bulan suci ini bisa dijadikan sebagai momen bagi komunitas komedi kita untuk introspeksi.

Agar mampu menemukan (kembali) jalan lurus dan bersih dari “dosa” dalam berkarya, dimana keteladanan pribadi Gus Dur sampai nasehat KH Hazim Musyadi diharapkan sebagai pencerahan. Bagi dunia komedi dan juga bagi bangsa kita di masa depan.

Ketika terlalu banyak pemimpin dan pejabat negeri ini semakin sulit ditemui memiliki kewarasan, dalam arti berani jujur mengakui dan berani menertawai kekurangan dirinya sendiri, mungkin kita masih punya sandaran agar mampu bertahan. Yaitu sense of humor kita dan kejujuran para komedian !


Pengantar Bambang Haryanto : Artikel ini dengan judul “Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri” dengan penyuntingan pernah dimuat pada halaman Humaniora-Teroka di harian Kompas, 27 Januari 2007, yang saat itu penjaga rubriknya adalah sastrawan Radhar Panca Dahana.

Artikel ini dimuat kembali sebagai catatan kenangan pribadi penulis terhadap Gus Dur, humoris dan guru bangsa, yang meninggal dunia 30 Desember 2009. Di tengah kemelut bangsa yang dilanda krisis moral, krisis keteladanan, dan krisis sikap pluralis, kau telah meninggalkan bangsa ini. Selamat jalan, Gus.

Artikel ini sebelumnya juga disajikan di : http://komedian.blogspot.com/2007/01/komedi-dan-komedian-kejujuran-mengolok.html




Wonogiri, 31 Desember 2009

Sunday, November 29, 2009

The SBY Way

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Mati kelaparan. “Makanan yang cukup,” demikian tulis dramawan komedi Perancis Molliere (1622-1673), “dan bukan kata-kata indah yang membuat saya bisa terus hidup."

Molliere itu, dan kata-katanya itu, mungkin tidak dikenal oleh Muhammad Jusuf Kalla atau pun Susilo Bambang Yudhoyono. Tetapi sepertinya kita mampu menarik garis pembeda antara kedua pemimpin bangsa kita tersebut apabila mereka dipergoki oleh seseorang yang kelaparan.

JK, mantan wakil presieden kita yang berpendekatan lurus, praktis dan apa adanya, barangkali akan segera memberi seseorang yang kelaparan itu dengan sepiring nasi. Bagaimana pula dengan SBY ? Ia akan memberi seseorang yang lapar itu dengan kuliah panjang lebar tentang ilmu gizi.

Perbandingan di atas itu boleh jadi tidak akurat. Tetapi kalau Anda mengikuti siaran langsung televisi Senin malam 23 November 2009, saat SBY menyatakan pendapatnya terkait rekomendasi Tim 8 mengenai kasus Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, kiranya terdapat puluhan juta warga Indonesia yang kelaparan.

Tetapi, bagaimana lagi, nampaknya kita semua harus merasa puas setelah memperoleh kuliah dari SBY mengenai ilmu gizi itu. Itulah solusi manajemen konflik a la SBY.


[Masih bersambung]


ke

Saturday, October 24, 2009

Tiga, Angka Sial dan Trilogi Bagi Sang Jenderal

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Nyawa tercabut. Dalam Perang Dunia I, angka tiga terkenal sebagai angka sial.

Tahyul itu beredar luas di kalangan tentara yang berlindung di parit-parit pertahanan saat didesak rasa ngebet untuk merokok guna mengusir pelukan kantuk atau rasa bosan di waktu malam.

Mereka percaya bahwa tentara yang menyalakan pemantik api yang sama pada urutan ketiga, maut berpeluang besar mencabut nyawanya.

Rumusnya, juga rumus tiga. Ready. Aim. Fire ! Penjelasannya : para penembak jitu pada kubu musuh mungkin dapat melihat nyala yang pertama. Lalu ia membidik saat melihat nyala yang kedua. Kemudian melepaskan tembakan untuk nyala pemantik api yang ketiga.

Presiden SBY, purnawirawan jenderal, mungkin tersenyum membaca cerita ini. Mungkin ia tergerak untuk membayangkan apa yang terjadi pada foto dirinya, foto dramatis yang ia tunjukkan dengan wajah geram ke seluruh warga Indonesia. Moga momen itu masih Anda ingat. Saat Indonesia diguncang teror bom oleh komplotan Noordin M Top di hotel J.W. Marriott dan Ritz-Carlton, momen itu oleh kalangan luas dinilai telah dimanfaatkan SBY untuk “menembak” sana-sini.

Utamanya, patut diduga, untuk menghantam kompetitornya dalam Pilpres 2009 yang saat itu gencar memasalahkan keabsahan Pemilu. Oleh SBY, teror bom kedua hotel itu seolah ia kait-kaitkan dengan upaya konspiratif para pesaing dalam menghalangi langkahnya memerintah Indonesia untuk kedua kalinya.

Bumbunya pun teatrikal, saat ia menjelaskan bahwa dirinya pun menjadi latihan sasaran tembak kaum teroris. Dengan “bukti” yang dramatis. Wajahnya berlubang di pipi, ditembus peluru, yang ia tunjukkan dalam foto kepada para wartawan. Apakah pada hitungan yang ketiga juga saat peluru kaum teroris itu melubangi foto dirinya ?

Kita tidak tahu. Yang pasti, kalau Anda rada jeli menyimak konstruksi pidato-pidato SBY selama ini, angka tiga nampaknya bukan ia anggap sebagai angka sial. Sebaliknya merupakan angka favorit. Angka keberuntungan !

Sejak mendapat mandat dari rakyat, melalui pemilu paling demokratis dalam sejarah Indonesia di tahun 2004, SBY merumuskan new deal dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang tertuang dalam prinsip triple track strategy : pro-growth, pro-job, dan pro-poor.

Loncatlah kemudian ke tahun 2009. Dalam pidato setelah disumpah menjadi Presiden Republik Indonesia 2009-2014, SBY meluncurkan visi tugas konstitusional kabinetnya untuk lima tahun mendatang dalam tiga pilar : Kemakmuran. Demokrasi. Keadilan. Sebagaimana dirinya yang getol menggunakan bahasa Inggris, rumus tiganya itu menjadi : Prosperity. Democracy. Justice.

Bahkan menurut Kompas (24/10/2009), selanjutnya SBY membuat semboyan dengan juga berunsurkan hitungan tiga. Pertama, change and continuity, perubahan dan keberlanjutan. Kedua, de-bottlenecking, acceleration and enhancement, penguraian hambatan, percepatan dan peningkatan. Dan ketiga, unity, together we can, bersatu, bersama kita bisa.

Trimurti sampai komedi. Dalam era pemerintahan Soeharto yang Orde Baru, angka favorit yang sering muncul adalah lima. Hal ini kiranya terkait dengan Pancasila. Tetapi mengapa SBY memilih tiga ? Mungkin saja ia terilhami oleh trimurti, tiga dewa Hindu : Brahma, dewa pencipta, Wisnu, dewa pemelihara, dan Shiwa, dewa perusak.

Sebagai perwira militer yang pernah digembleng di negeri Paman Sam, mungkin saja SBY juga teringat mantra sakti tentang tiga pilar demokrasi dari presiden AS ke-16, Abraham Lincoln (1809–1865).Hal tiga itu ia sampaikan dalam pidato terkenalnya, Gettysburg Address, 19 November 1863, di Pennsylvania.

Pidato Lincoln di tengah kecamuk Perang Sipil itu diakhiri dengan : “bangsa ini, di bawah naungan Tuhan, akan mendapat kelahiran baru kebebasan dan pemerintahan rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tidak akan menghilang dari muka bumi.”

Tetapi angka tiga bukan melulu sebagai cerminan angka mujur. Seratus tiga puluh dua tahun plus sehari dari saat Lincoln berpidato itu, 20 November 1995, dalam acara Panorama di BBC-1 TV almarhumah Putri Diana (1961-1997) menumpahkan keluh kesahnya. Terkait ulah perselingkuhan suaminya, Pangeran Charles dengan kekasih lamanya, Camilla Parker Bowles. “Terdapat tiga sosok dalam perkawinan ini, sehingga membuatnya menjadi begitu sesak,” ujar Diana.

Angka tiga dalam dunia literasi seringkali digunakan untuk memprovokasi keberadaan hal-hal ganjil. Sebagai kontras dari angka dua yang merupakan cerminan keadaan yang alami, seperti belahan dunia, anggota badan misalnya kaki, tangan sampai mata kita.

Sekadar contoh, dalam film War of The Worlds (2005), makhluk angkasa luar dan mesinnya dihadirkan sebagai sosok serba tiga : bermata tiga, berkaki tiga, sampai berjari tiga. Juru sihir dalam sandiwara Macbeth-nya Shakespeare, berjumlah tiga.

[Keajaiban tiga, yang bahkan berupa ancaman bagi rusaknya demokrasi di Indonesia akibat si tiga itu, akan diceritakan lanjutannya kemudian].


ke

Monday, September 28, 2009

Bir Obama, Polisi Korup dan Ketegasan SBY Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Polisi yang brutal. Polisi kulit putih dan profesor Harvard berkulit hitam hampir saja memicu berkobarnya sentimen rasial di Amerika Serikat.

Peristiwa itu bermula ketika Henry Louis Gates, profesor dari Universitas Harvard dibekuk oleh seorang polisi berkulit putih, Sersan James Crowley, ketika sang guru besar itu mau masuk ke rumahnya sendiri.

Aneh tapi nyata. Mengingatkan kasus yang menjadi contoh dalam bukunya Malcolm Gladwell, Blink : The Power of Thinking without Thinking (2005) : pemuda 20 tahunan, Amadou Diallo, keturunan Guinea tewas setelah digerebeg oleh empat polisi kulit putih di New York, 3 Februari 1999.

Apa kesalahan Diallo ? Tak ada. Ia hanya mencari angin segar malam itu di luar rumahnya. Malam yang membawa sial baginya, gara-gara keempat polisi yang sebenarnya tidak tergolong rasis, melakukan serial terkaan, critical misjudgment yang fatal, sehingga ia tewas.

Peristiwa ini memicu demo warga kulit hitam, termasuk akhirnya berhasil mengganti nama jalan lokasi kejadian itu. Semula adalah Wheeler Avenue dan digantikan menjadi Amadou Diallo Place. Peristiwa itu mengilhami penyanyi rock AS, Bruce Springsteen menciptakan lagu berjudul “41 Shots” yang dalam refrennya tergurat lirik : “You can get killed just for living in your American skin.

Bir perdamaian. Kembali ke masalah Gates versus Crowley. Kasusnya semakin memanas ketika Presiden Obama ikut berkomentar atas kejadian itu. Ia mengecam tindakan polisi yang gegabah. Langsung saja, komedian AS pun lalu ramai mengomentari peristiwa yang substansinya masih peka dalam sanubari rakyat Amerika.

Misalnya Bill Maher. “Maling macam apa yang hendak membobol rumah sambil membawa bagasi ? Itulah hal yang saya ingin tahu,” katanya. “Dan petugas polisi itu, Sersan Crowley bilang, bahwa Henry Louis Gate mengancam. Dan mengancam itu, yang ia maksud adalah : seorang berkulit hitam yang berpendidikan.”

obama's   beer summit,henry louis gates,james crowley,christian science monitor

Isu rasial lalu agak mereda ketika Presiden Obama mengambil prakarsa lanjutan, dengan mempertemukan keduanya, untuk mengobrol sambil minum bir di Gedung Putih (foto). Para komedian ribut lagi.

Komedian Conan O'Brien berkata bahwa dalam pertemuan perdamaian itu Obama menyuguhkan bir buatan Budweiser. Ledeknya kemudian : “Untuk mendorong semangat harmoni ras, pabrik bir Budweiser telah merubah julukannya. Dari semula King of Beers menjadi Martin Luther King of Beers.”

Lelucon tentang bir itu lalu menyikut sana-sini. Kali ini menyodok ingatan rakyat AS terkait peristiwa ketika George W. Bush yang pernah tersedak saat makan kue pretzel, seperti diungkap lagi oleh Conan O’Brien :

“Sungguh mengesankan, Presiden Obama menyuguhi Profesor Gates dan Sersan Crowley minuman bir dan pretzel. Pretzel. Ya, inilah saat kali pertama pretzel disuguhkan di Gedung Putih sejak kue itu menyerang Presiden Bush. Anda masih ingat, bukan ?.”

David Letterman menimpali : “Presiden Obama bukan satu-satunya presiden yang menikmati bir sesekali waktu. Bill Clinton juga. Menurut cerita, Bill Clinton masuk bar dan memesan segelas bir dingin. Lalu apa jawab sang pelayan ? ‘Oh, pulanglah, dan temui Hillary saja.’”

Andy Borowitz di kolomnya edisi 28/7/2009, ikut bergunjing bahwa hari minum-minum bir itu sebaiknya didaulat sebagai hari libur baru : Hari Minum Bir Bersama Seseorang Yang Anda Tangkap.

Untuk menjelaskan momen itu, Obama seperti direka-reka secara jenaka oleh Andy Borowitz, konon telah berkata kepada para wartawan : “Ketika kemarahan sedikit memuncak, maka akan selalu ada penolong agar seseorang mampu berpikir lebih rasional : bir.”

Presiden Obama berharap bahwa proklamasinya itu akan menggiring terselenggaranya pesta di seantero negeri yang melibatkan polisi dan orang-orang tidak bersalah yang baru saja mereka tangkap.

Lain di AS, lain di Indonesia. Pesta bir perdamaian di Gedung Putih itu mungkin sama sekali tidak pernah terdengar oleh telinga Presiden SBY. Bila saja ia mendengar, siapa tahu, Presiden SBY akan meneladani sikap Obama itu. Apalagi SBY yang temperamen budaya Jawanya masih kental dalam menjaga harmoni, sehingga mengesankan sebagai peragu, diharapkan mampu berlaku bijak dengan mengundang para petinggi Polisi dan KPK untuk bertemu dan minum-minum bersama.

Untuk mendamaikan konflik cicak melawan buaya.

Tetapi yang terpenting adalah menunjukkan ketegasan SBY di momen krusial ini. Dan bukan seolah tutup mata dan tutup telinga terhadap berubah-ubahnya sangkaan yang terkesan artifisial, seperti yang diajukan oleh polisi terhadap kedua pimpinan KPK yang mereka seret ke ranah hukum itu selama ini.

Ketegasan SBY kini disorot oleh nurani hukum bangsa ini. Saatnya ia menentukan secara jernih fihak mana yang menjadi biang kerok pengganjal angin perubahan aksi pemberantasan korupsi di negeri sarang para koruptor ini. Lalu dengan kuasanya, melakukan kebijakan untuk menghukum mereka yang sebenarnya bertindak korup. Tanpa pandang bulu !


Wonogiri, 28/9/2009

ke

Friday, August 28, 2009

Twitter Jenaka dan Konyol Ala Hoekstra

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humor liner (at) yahoo.com


pete hoekstra,twitter konyol

Politik dan Twitter. John McCain (73) nampak simpatik ketika tertawa. Dalam acara State of Union di CNN (2/8/2009) ia diwawancarai oleh John King tentang situasi mutakhir dunia perpolitikan di Amerika Serikat. Termasuk berkomentar mengenai mundurnya mitra bertarung dalam merebut kursi presiden AS, Sarah Palin dari jabatannya sebagai gubernur Negara bagian alaska.

Di bagian terakhir ia ditanya tentang akun Twitternya yang memiliki 1,1 juta pengikut. McCain, mantan capres Partai Republik dalam Pilpres 2008 itu berkata bahwa Twitter merupakan sarana yang hebat untuk berkomunikasi.

Saking hebatnya Twitter, di AS kini muncul istilah sindrom TMT : Too Much Twitter. Terlalu banyak ber-Twitter-ria. Sindrom ini bulan Juni lalu makan korban, yaitu Pete Hoekstra, senator Partai Republik dari Michigan.

Gara-garanya, ia menyombongkan diri ketika menulis pesan Twitter (foto). Ia katakan bahwa gerakan aktivis proreformasi di Iran yang gencar mengirimkan pesan-pesan Twitter ke seluruh dunia terkait Pilpres yang bermasalah ia klaim sama dengan apa yang dilakukan anggota Konggres dari Partai Republik yang berhasil menunda sidang tentang energi sampai Agustus ini.

Kontan saja, pesan idiotik Pete Hoekstra ini segera menjadi bulan-bulanan pengguna Twitter di Amerika Serikat. Istilah “To Hoekstra” kini memiliki definisi tersendiri, sebagai “rengekan yang menggunakan bahasa perbandingan dan keagungan yang berlebih-lebihan.”

Rumus komedi. Definisi terkait dengan pernyataan secara berlebihan itu klik dengan dunia komedi. Karena identik dengan salah satu kiat mengkreasi lawakan. Materi lawakan memang harus dibuat berlebihan bila ingin memicu ledakan tawa.

Salah satu contohnya adalah di bawah ini : jari yang tersentuh piring panas saja dibayangkan sama dengan penderitaan pahlawan Perancis, Joan of Arc, St (1412–1431) yang meninggal dibakar oleh tentara Inggris saat itu.

twitter joke

Beragam contoh lainnya dari pesan Twitter jenaka yang memakai rumus model Pete Hoekstra tersebut dapat Anda jelajahi dengan mengklik disini.

Anda segera tahu pula bahwa pesan-pesan jenaka itu juga memakai rumus universal dalam mengkreasi lawakan. Karena terdiri dari set up, jebakan, dan disusul dengan punchline, tonjokan, untuk mengundang tawa.

Tergiur dengan krida kreasi lawakan Twitter model Pete Hoekstra itu, yang dibatasi oleh 140 karakter saja itu, di bawah ini saya telah menulis beberapa untuk Anda.

Di Facebook kuunduh teks doa malam pertama Ramadhan tetapi aku malas membacanya. Aku copy-paste 99 kali saja agar aku tetap mendapat pahala

Satu bingkai kacamataku akan aku blok kertas hitam selama Ramadhan. Inilah caraku untuk mengurangi separo dosa saat menunaikan ibadah puasa

Memergoki anak-anak tak berpuasa aku mengkotbahinya tentang dosa dan neraka. Aku seperti Taliban atau pembom bunuh diri militan di Jakarta

Malam menjelang 17 Agustus kulkasku kosong dan aku kelaparan, membuatku merasa mirip derita para pejuang 45 saat merebut kemerdekaan

Ramai-ramai jalan santai keliling kampung saat 17 Agustusan membuatku merasa seperti pejuang yang bersatu saat berperang melawan Sekutu

Malam-malam kelaparan pulang dari begadang 17 Agustusan aku buka-buka kulkas dan ada donat plus pizza yang membuatku berteriak : Merdeka !

Cat rambut pirangku membuatku dimarahi guru.Saat mencucinya aku merasa seperti tentara KNIL Belanda yang terpaksa membelot ke kubu Indonesia

Dalam gelap aku sukses menampar nyamuk yang mendenging di kuping. Aku merasa seperti pejuang 45 yang berhasil menembak jatuh pesawat Belanda

Karena diare berat aku pakai WC umum kelamaan.Orang pd antri gedor-gedor pintu.Aku seperti Noordin M Top (?) dikepung polisi di Temanggung

Ide Pilpres Satu Putaran Denny JA terkenal dimana-mana. Tetanggaku ingin memakai jasanya saat ikut dalam pemilihan Ketua RT di kampungnya

Saat sakit gigi dokter memberiku obat penahan rasa nyeri. Aku tak mau meminumnya, takut seperti Michael Jackson menemui ajalnya

Teman-teman mengajakku latihan karate dan tinju. Aku tak mau karena takut bila kelak menjadi suami tabiatku seperti Pasha Ungu

Lebaran masih jauh, anak-anak tetangga sudah ramai membunyikan petasan. Aku seperti Ibrohim dikepung pasukan Densus 88 di Temanggung

Kamar dua kakakku lagi kosong dan aku bisa berpindah-pindah untuk menidurinya. Aksiku seperti Noordin M Top menghindari kejaran polisi

Aku mau kirim email protes ke ayahku karena uang jajanku dikurangi. Tetapi tak jadi karena aku takut diadili seperti Prita Mulyasari

Saat seorang diri di lift aku kentut tak bersuara.Baunya maut sekali.Aku seperti teroris dengan bom bunuh diri dalam perang kimia & biologi

Saat latihan renang aku gelagepan dan ditolong. Aku merasa bersama Leonardo di Caprio syuting film tentang kapal Titanic yang tenggelam

Di jalan aku menemukan sebungkus rokok dan membuangnya. Aku merasa seperti menolong banyak orang dari ancaman sakit kanker yang berbahaya

Saya memencet jerawat di pipi kiri. Saya jadi bisa merasakan saat foto SBY dijadikan latihan menembak teroris

Saat menyeterika, tanganku tersentuh besi panasnya. Aku jadi tahu rasanya menjadi korban bom teroris laknat di Kuningan itu

Temanku curang saat main kartu. Aku jadi tahu mengapa Mega-Prabowo dan JK-Wiranto ngotot menggugat keabsahan Pilpres yang lalu

Kerikil memasuki sepatuku yang bolong solnya. Aku jadi tahu perasaan SBY hari-hari ini terkait sengketa hasil Pemilu

Aku ketahuan curang beli permen di toko. Aku merasa seperti mahasiswa ITB yang tertangkap jadi joki seleksi mahasiswa baru tahun ini

Masa aktif HPku hampir habis saat tak punya uang untuk beli pulsa. Aku bisa merasakan bila negara kita berhutang pada IMF dan Bank Dunia

Apabila Anda ingin berteman dalam Twitter dan mengikuti lelucon model Hoekstra, silakan klik saja disini. Terima kasih.

Wonogiri, 29/8/2009

ke

Wednesday, July 22, 2009

Naisbitt dan It’s a Comedy, Stupid !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Miing, masihkah dia mengingat nama John Naisbitt ? Pelawak dari kelompok Bagito yang sudah bubar itu di tahun 1999, sepuluh tahun lalu, pernah sesumbar yang seolah menunjukkan bahwa bacaannya termasuk buku-buku karya futuris John Naisbitt kelahiran Utah, Amerika Serikat itu.

“Makanya jangan kaget, kalau pelawak pun tak salah membaca Alvin Toffler, Machiavelli, atau malah John Naisbitt”, kata si empunya nama asli Tubagus Dedi Suwandi Gumelar atau yang bernama komersial Miing Bagito.

Pernyataan dan omongan “kelas atas” ini termuat dalam wawancara yang dilakukan oleh wartawan Kompas Retno Bintarti, Agus Hermawan dan Rudy Badil, dan dimuat dalam Harian Kompas, 10 Oktober 1999.

Miing, ketika dirinya kini menjadi politisi, masihkah dia mengingat nama John Naisbitt tersebut ? Sekaligus isi buku-bukunya, terutama yang terbaru, Mind Set ! (2007), akankah menjadi panduan isi otaknya sebagai seorang politisi ? Pertanyaan ini menurut saya relevan diajukan.

Karena dulu, seingat saya sebagai penonton yang jelek untuk tayangan komedi di televisi, Miing dan kawan-kawan sepertinya tak pernah melawak yang materinya ada bau-bau isi buku, baik karya Toffler, Machiavelli atau John Naisbitt tadi.

Bahkan saya juga tidak pernah ingat apakah ia pernah mempraktekkan asas wajib self-deprecating yang lajim dilakoni para komedian terkenal dan intelektual. Misalnya dengan mengolok-olok kekurangan dirinya sendiri, termasuk melucukan pendidikannya di STM atau MBA (?)-nya. Saya memang penonton yang jelek untuk sajian komedi di televisi kita. Hingga saat ini.

Yang saya ingat, Miing suka bicara yang tinggi-tinggi. Mungkin karena hal itu ia sukses kini menjadi politisi. Melalui jalur PKS gagal, lalu berpindah partai, sehingga kini sukses melalui jalur PDIP untuk berkiprah di Senayan. Selamat bertugas menjadi politisi.

Semoga saja ia kelak mampu mengikuti jejak dan kiprah jenaka sekaligus cerdas dari Al Franken, komedian AS yang kini menjabat sebagai senator Partai Demokrat dari Minnesota.

Al Franken menjadi sorotan media baru-baru ini ketika melakukan hearing terkait proses pengangkatan hakim agung Sonia Sotomayor. Larry Neumeister, wartawan hukum kantor berita Associated Press dan sebagai trained comedian itu, menyebutkan bahwa aksi Al Franken dalam menginterogasi Sotomayor telah menerapkan comedic techniques (for) serious business dengan hasil bahwa : Al Franken memperoleh tawa besar di ujung sesinya.

Ia secara jitu memakai jurus yang oleh kalangan komedian disebut sebagai callback, keputusan untuk mengulang kembali subjek yang sebelumnya telah mengundang tawa dengan harapan memperoleh sambutan bahak yang lebih meledak lagi. Al Franken sukses dengan jurus callback itu.



[Maaf, tulisan ini belum selesai. Harap maklum].

ke

Wednesday, July 08, 2009

Pilpres 2009, Tirai Akhir Karier Politik Mega !

And now, the end is near
And so I face the final curtain

Frank Sinatra, “My Way.”


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Dilema kita semua. “Ketika saya memasuki bilik suara,” demikian kata kartunis Amerika Serikat, Mike Peters, sebagaimana dikutip koran Wall Street Journal 20/1/1993, “apakah saya harus memilih seseorang yang terbaik untuk menjabat sebagai presiden ?

Ataukah memilih seember belangkrah yang membuat hidup saya sebagai kartunis menjadi lebih makmur dan indah ?”

Dilema di atas, tabrakan kepentingan antara pilihan untuk bangsa atau untuk motif keuntungan pribadi, apakah juga menghantui isi kepala warga komunitas komedi di Indonesia saat berlangsung Pilpres 2009 ini ? Saya tidak tahu. Tetapi dari hasil perhitungan cepat yang menunjukkan kemenangan SBY-Boediono, seharusnya warga komunitas komedi Indonesia berduka.

Karena kemenangannya itu membuat panggung politik Indonesia serasa kehilangan sosok yang lebih warna-warni, yang selama ini nampak potensial dijadikan sebagai sasaran tembak kaum komedian. Dunia komedi masa depan Indonesia akan merasa kehilangan Megawati, Prabowo, Jusuf Kalla dan juga Wiranto. Apa pasal ?

Megawati, misalnya. Di situs Huffingtonpost.com (7/7/2009) ia menjadi sasaran pendapat “yudzz88” yang berbunyi : ”A vote for Megawati is a vote for Sarah Palin and Pauline Hanson.”

Anda tahu Sarah Palin ?
Juga si rambut merah, Pauline Hanson, tokoh ultranasionalis dari Australia ?


Bulan-bulanan komedian. Sarah Palin adalah Gubernur Alaska, AS. Ia calon wakil presiden yang mendampingi calon presiden John McCain dari kubu Partai Republik dalam Pilpres AS 2008. Palin terkenal sebagai objek ejekan karena antara lain pernah bilang dari depan rumahnya ia bisa melihat Rusia.

Tak ayal ketika saat ini Presiden Obama sedang berada di Rusia, komedian David Letterman (“musuh bebuyutan Sarah Palin”) meluncurkan tembakan : “Presiden Obama sedang di Rusia. Dan kita tahu hal itu karena Sarah Palin berkata ia dapat melihat Obama dari rumahnya.”

Komedian Conan O'Brien ikut menimpali : "Presiden Obama saat ini berada di Rusia. Obama pergi ke sini sebab dari Rusia Anda benar-benar dapat melihat Sarah Palin sedang mengemasi barang-barang untuk segera keluar dari kantornya di Alaska."

Sarah Palin, memang bikin kejutan baru-baru saja ini. Ia mengundurkan diri sebagai gubernur Alaska, konon mempersiapkan diri sebagai capres 2012. Kontan komedian Andy Borowitz pun menulis dalam kolom fake news-nya yang terkenal, The Andy Borowitz Report :

“Begitu Sarah Palin mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya, komedian (AS) dari pantai barat sampai timur berjajar apel siaga membawa lilin sebagai tanda berduka yang oleh seseorang komedian disebut sebagai a devastating loss, kehilangan yang teramat besar sekali.”

“Mengatakan bahwa kami patah hati merupakan pernyataan yang sangat merendahkan,” timpal Shecky Sheinbaum, komedian dari klub komedi Laugh Hut di Cincinnati. “Saya seperti ayam yang melintas di jalan, lalu terlindas truk sebelum saya sampai ke seberang.”

Pernyataan Sheinbaum itu mengulang kata banyak komedian AS bahwa, “dunia komedi kehilangan salah satu sasaran terbesarnya. Kita akan mengalami masa-masa susah dalam jangka waktu lama. Pertama, kita kehilangan Michael Jackson, sekarang dia.”

Selamat jalan, Mega. Indonesia kini juga kehilangan. Kehilangan Megawati Sukarnoputri. Dalam Pilpres 2009, ia hanya nampak dominan di Bali dengan warna merahnya. Tetapi pada sebagian besar propinsi di Indonesia lainnya, warna biru, warna pasangan SBY-Boediono ibaratnya sebagai landslide yang mengubur para pesaingnya.

Kita saksikan misalnya, Jusuf Kalla di propinsi asalnya, Sulawesi Selatan, tidak juga unggul mutlak atas SBY-Boediono. Silent revolution a la SBY benar-benar meruyak ke seluruh Indonesia. Termasuk Nanggroe Aceh Darussalam yang semula diperkirakan menjadi pendulang suara bagi JK, tokoh yang gencar mengklaim sebagai pemrakarsa utama perdamaian di Aceh. Tetapi rakyat Aceh rupanya melihat adanya sosok Wiranto yang mantan jenderal sebagai mitra JK, membuat rakyat Serambi Mekah itu lebih memilih SBY-Boediono.

Mari kita bersangka baik untuk masa depan mereka-mereka yang kalah. Megawati, seperti lirik awal lagu kesayangannya, My Way-nya Frank Sinatra, harus legawa bahwa era tutup layar sekarang ini benar-benar menjadi kenyataan dalam karier politiknya. Selamat jalan, Mega.

PDIP harus segera mencari tokoh baru. Juga memakai gaya dan bahasa yang baru pula. Slogan pro-rakyat sampai pakaian mitranya Prabowo yang bergaya mentah-mentah mengimitasi ayahnya Soekarno, hanya menjadi sebuah relik yang tidak menjual lagi di era blog dan Facebook seperti saat ini.

Mau atau tidak mau, PDIP harus berubah. Karena rakyat Indonesia telah memutuskannya. Ketegaran Mega ketika kalah di Pilpres 2004, yang tetap kuat mendorongnya untuk berjuang tetapi tetap kalah lagi di tahun 2009 ini, sudah saatnya berubah menjadi sikap kenegarawanan yang sejati.

Menjadi lebih arif sebagai guru bangsa. Mega yang pernah juga menyatakan diri sebagai humoris, kini tiba saatnya pula untuk lebih terbuka sebagai manusia. Sering-seringlah kini melakukan self-deprecating, legawa untuk menertawai kekurangan dirinya. Insya Allah, humor akan mampu menyembuhkan lukanya, juga luka-luka pengikut fanatiknya yang kecewa.

Bagasi masa lalu. Majalah asing pernah menulis, sebelum momen reformasi meletus, dikabarkan bahwa Mega gemar belajar bahasa Spanyol secara otodidak. Ia bercita-cita merangkul bangsa Amerika Latin. Sementara dalam kajian psikografi, ia digambarkan tidak punya daya tahan lama untuk berpikir hal-hal yang rumit. Sumber lain lagi mengatakan, ia hanya suka menonton film-film kartun. Mungkin film kartun berbahasa Spanyol ?

Tes kita : menyambut perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-64 mendatang, 17 Agustus 2009, apakah Mega tetap tidak akan hadir di Istana Negara seperti ketika SBY memerintah selama ini ? Jangan keburu menvonis ketidakhadiran Mega itu sebagai cerminan sikap kenegarawanan yang rendah. Mungkin saja, mungkin, di hari itu di televisi sedang ditayangkan film-film kartun Spanyol favoritnya.

Kembali kepada Mike Peters, sosok kartunis AS dalam awal tulisan ini. Mungkin kita bisa memberinya nasehat : bila saja ia warga negara Indonesia dan ingin karier kartunisnya makmur dan indah, di bilik suara nampaknya Mike Peters cenderung mencontreng untuk Mega.

Nampaknya lagi, ia tidak sendirian. Karena sebagian pelaku dunia seni Indonesia juga melakukan hal yang sama. Misalnya, mungkin saja Butet Kertaradjasa, Rendra, bekas pelawak kini jadi politisi PDIP Miing dan artis-aktivis yang juga berubah jadi politisi, Rieke Dyah Pitaloka. Ternyata merujuk pada hasil perhitungan cepat, pilihan mereka salah. Mereka kalah.

Tetapi kekalahan itu justru membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi ? Semoga. Lima tahun mendatang. Semoga. Antara lain, utamanya, karena sosok-sosok yang membawa sisa-sisa bagasi besar berisi kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu kini berpeluang tidak wira-wiri lagi di panggung politik Indonesia. Syukurlah, rupanya rakyat Indonesia tidak lupa, walau segencar apa pun bujukan dalam keindahan patriotisme pada bungkus iklan-iklan mereka.

Walau pun demikian, pekerjaan rumah kita masih banyak. Termasuk bagi kaum komedian Indonesia. Mereka mau tak mau harus terus mengasah pisau humornya untuk lebih tajam dan lebih intelektual lagi.

Pasalnya, sosok SBY-Boediono yang kelihatan santun itu, relatif lebih susah untuk dijadikan sebagai sasaran tembak olok-olokan kita. Apalagi dalam masa pengabdiannya SBY yang terakhir, ia tidak bisa maju lagi di tahun 2014, godaan bagi diri dan keluarganya untuk menjadi tiran sangat besar sekali !

Komedian Indonesia, rakyat Indonesia, mulai panaskan lagi mesin-mesin kritismu !


Wonogiri, 8-9/7/2009

ke

Thursday, July 02, 2009

Pilpres 2009 : The Good, The Bad and The Ugly

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Politik goblog dan degil. Anda kenal nama Jimmy Wales ? Tidak ? Saya maklum. Tetapi Anda mengenal Wikipedia ?

Jimmy Wales adalah penemu ensiklopedia dunia maya, Wikipedia tersebut. “Saya bukan orang yang cakap dan orang yang mampu menjelaskan mengapa Wikipedia itu berhasil. Para kontributor Wikipedia itulah yang mengetahui,” katanya kepada Ethan Zuckerman dengan rendah hati.

Jimmy Wales kemudian melontarkan gagasan revolusioner berikutnya. Ia berambisi memperbaiki kehidupan politik. Kembali, memakai metode wiki juga. Mungkin ide ini ide edan, tetapi Ethan Zuckerman berpendapat bahwa Jimmy Wales telah jitu dalam membidik problem utama dalam perpolitikan selama ini, yaitu tentang bagaimana warganegara memperoleh informasi mengenai beragam isu dan tentang para kandidat.


“Media broadcast (selama ini) membawa kita ke politik broadcast. Secara gampangan dan terus terang tentangnya, baik itu kubu kanan atau kiri, kubu konservatif atau liberal, politik broadcast itu dungu, goblog dan degil Broadcast politics are dumb,dumb, dumb !,” tegas Jimmy Wales. [Untuk info lebih lanjut tentang isu krusial ini silakan klik disini].


Menjaga harmoni. Saya tidak tahu apa juga demikian pendapatnya tentang lima seri debat capres-cawapres di Indonesia di Pilpres 2009 ini. Tetapi yang paling banyak menyeruak adalah keluhan betapa audiens tidak memperoleh pembeda yang jelas dan tajam dari pembeberan visi-misi antara satu kandidat dengan kandidat lainnya.

Rekan-rekan sesama bangsa Indonesia, itulah Indonesia kita. Simak analisis Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, yang menarik ketika mengungkap jati diri bangsa kita, walau dalam hal ini terkait dengan sepakbola.

Dalam artikel berjudul "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia memakai pisau bedah dari perspektif budaya dan politik untuk menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Ditilik dari kajian budaya, Indonesia kuat dipengaruhi budaya suku mayoritas, Jawa. Budaya Jawa memiliki pandangan ketat mengenai pentingnya keselarasan. Perasaan yang terinternalisasi secara mendalam dalam jiwa orang Jawa adalah kepekaan untuk tidak dipermalukan di muka umum. Perasaan demikian memupuk konformitas, pengendalian tingkah laku dan menjaga ketat harmoni sosial. Konflik yang terjadi diredam sekuat tenaga.

Reaksi normal setiap orang Jawa dalam menanggapi konflik adalah penghindaran, wegah rame, dan mediasi oleh fihak ketiga. Apabila meletus konflik, terutama ketika saling ejek dan saling hina terjadi, maka yang muncul adalah perasaan malu dan kehilangan muka. Para kandidat itu rupanya tidak tega untuk sampai ke tahap konflik semacam ini. Sehingga tak ayal kepala berita di media massa nasional tentang peristiwa di televisi itu sebagai “debat tanpa perdebatan.”

Film koboi. Rekan-rekan bangsa Indonesia, ijinkanlah saya membantu. Kalau Anda belum mampu menjatuhkan pilihan untuk kandidat yang tertentu, ikutilah akal sehat atau naluri dasar Anda.

Untuk calon wakil presiden, simak rekam jejak mereka terkait dengan hak asasi manusia di Indonesia. Kemudian pilihlah mereka sesuai judul film koboi Clint Eastwood yang terkenal itu : the good, the bad, and the ugly.

Untuk calon presiden, Anda bebas memilih : apakah kandidat yang lelaki, atau yang perempuan, atau yang banci !


Pilpres satu putaran. Untuk menghemat biaya, juga agar pemerintahan yang terpilih segera bekerja, kubu SBY-Boediono gencar mengembuskan wacana agar Pilpres 2009 dapat berlangsung dalam satu putaran. “Apakah kampanye semacam itu mencerminkan sikap seseorang yang menjunjung tinggi demokrasi ?,” demikian serang kubu Jusuf Kalla-Wiranto. Siapa yang benar ?

Sesudah tangggal 8 Juli 2009 kita baru akan memperoleh bukti. Tetapi merasa memperoleh inspirasi yang kuat dari apa yang terjadi di Iran, kubu incumbent terus menggencarkan isu pilpres satu putaran. Bahkan seperti ujar komedian David Letterman bahwa Mahmoud Ahmadinejad telah mengaku menang besar dengan perolehan suara hingga 148 persen, kubu SBY-Boediono juga berkeyakinan serupa.

Kunci untuk meraih sukses spektakuler itu dengan memacu keras kinerja partai koalisi sayap kanannya, yaitu PKS. Apalagi sebelumnya ucapan salah satu pimpinan PKS yang mempersoalkan istri capres-cawapres yang mereka dukung tidak mengenakan jilbab, dianggap melemahkan kinerja mesin politik partai yang gemar tampil mengusung warna putih-putih itu. Kini dukungan dari PKS harus dimaksimalkan.

Tim sukses SBY-Boediono yang terkenal dengan aksi silent revolution itu segera bergerak diam-diam. Mereka embuskan isu ke seluruh jajaran anggota partai PKS, bahwa agar warga PKS sepenuh hati mendukung sukses pilpres satu putaran untuk kemenangan SBY-Boediono, dikabarkan SBY telah mengganti namanya dengan SBYA. Susilo Bambang Yudhoyono Ahmadinejad.


Inspirasi Michael Jackson. Apakah penyanyi legendaris MJ yang konon berganti nama menjadi Mikhail itu akan dimakamkan secara Islam ? Di Neverland ? Apakah hal itu juga tertulis dalam surat wasiatnya, selain ia menyebut-nyebut nama penyanyi Diana Ross yang ia pilih untuk membesarkan ketiga anaknya bila ibunya tidak sanggup mengasuhnya ?

Bila Anda penasaran, ikutilah terus program Larry King Live di CNN. Termasuk berita mengenai tiga album lagu-lagu lama MJ yang melonjak, dan kini menempati peringkat teratas. Album-album itu menggusur album Black Eyed Peas yang semula nangkring di tangga Billboard yang pertama.

MJ memang fenomenal. Kemasyhurannya yang meroket bahkan ketika ia meninggal dunia telah menjadi inspirasi kubu JK-Wiranto dalam menggebrak kampanye mereka di tahap akhir ini. Wiranto yang pandai menyanyi nampak menggembleng keras agar JK segera pula pintar menyanyi. Mereka berencana mengeluarkan album yang akan diputar selama minggu tenang nanti.

Judul albumnya :”Relakan MJ Pergi.Sambut Kini MJK Sebagai Pengganti.”


SBY Presidenkuuuuu.. “Lagu-lagu pop manis, sweet song, sesuai dengan gaya politik Partai Demokrat,” demikian kata SBY di depan pendukungnya di tahun 2007 ketika berkonsolidasi menuju Pilpres 2009.

Itulah sekelumit catatan wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, yang sejak lama mengikuti aktivitas sehari-hari presiden SBS dalam blognya. Lanjutnya, bahwa “gaya politik pak BY dan demokrat adalah gaya politik yang manis seperti lagu-lagu pop manis kegemaran Pak BY..Karena itu, jarang mendapati pernyataan-pernyataan bersifat menyerang atau provokatif dari pak BY atau Partai Demokrat kepada lawan politik atau kompetitornya.”

Terima kasih, Mas Inu. Berdasar rujukan itu, apakah lagu “manis” yang aslinya merupakan jingle iklan mi instan dan lalu dipakai untuk kampanye di televisi itu, sebenarnya merupakan ide dan pilihan SBY pribadi ? Anda silakan menebak.

Tetapi menurut Kompas, penggagas ide lagu mi instan itu adalah Choel Mallarangeng. Ia yang termuda di antara tiga sosok Mallarangeng yang pimpinan FoxIndonesia, biro jasa penanggung jawab kampanye kubu SBY-Boediono.

Iklan itu konon berdampak luar biasa. Presiden Obama dikabarkan meminta bantuan FoxIndonesia untuk mengarang lagu guna kampanyenya pada tahun 2013 mendatang. Presiden Iran yang baru-baru ini terpilih kembali secara kontroversial, Mahmoud Ahmadinejad, merencanakan juga meminta lagu darinya untuk senjata memenangkan pilpresnya yang ketiga.

Konon kubu Choel Mallarangeng segera bergerak cepat. Ia dikabarkan segera memperoleh lisensi dari Sony Corporation untuk menggunakan lagunya Michael Jackson. Isi lirik lagu itu akan digunakan sebagai ilham bagi polisi dan anggota milisi garda revolusi dalam membubarkan aksi kubu reformis yang berunjuk rasa :

But my friend, you have seen nothin'
just wait 'til I get through...

Because I'm bad, I'm bad, come on
You know I'm bad, I'm bad, you know it
You know I'm bad, I'm bad, come on, you know

Sementara itu kalangan lobi bisnis gandum internasional, International Wheat Flour Consortium (IWC) yang berbasis di Brussel, menganugerahi bintang tertinggi kepadanya. Dalam situs webnya tertulis pernyataan :

“Sesuai keluhuran dari asas-asas ekonomi neoliberal, ia kami anggap telah berjasa memasukkan ide-ide baru sampai gaya hidup baru bagi ratusan juta penduduk Indonesia pada momen yang sangat menentukan, agar mereka semakin akrab dengan diversifikasi produk-produk gandum yang terbuka untuk diolah dan disajikan secara kreatif dan bergengsi, yang oleh karenanya dengan pelahan tetapi pasti mendorong warga meninggalkan konsumsi beras, sagu, jagung dan umbi-umbian, sehingga semakin meningkatkan homogenitas sumber makanan tunggal di masa depan bagi bangsa Indonesia yang pada akhirnya membuka peluang lebih prospektif bagi bisnis kami di masa depan.”

Badan internasional lain juga memberi penghargaan serupa. Misalnya Brakot Burgers Brotherhood International (BBBI), World’s Chicken Noodle Enthusiasts (WCNE), White Wheat Wagon (WWW), Italiano Spaghetti Clandestino (ISC) sampai Malaysian’s Mihon Maniacs (MMC).

Night at the Museum. Bagaimana aksi kubu Mega-Prabowo ? Dikabarkan mereka akan meluncurkan dua film untuk menyukseskan kampanyenya. Film pertama adalah cerita klasik yang menjadi film seri di televisi tahun 1987, Beauty and The Beast. Si Cantik dan Si Buruk Rupa. Si Jelita dan Si Buasas.

Kisah yang juga konon menjadi ilham bagi buku terkenal Women Who Love Too Much (1985, foto di atas) karya Robin Norwood itu berisikan angan-angan utopis seorang perempuan yang bersenjatakan cinta, juga penderitaan, yakin dirinya mampu mengubah perangai buruk pria yang ia cintai untuk menjadi pria berkepribadian lebih baik.

Film kedua yang direncanakan diproduksi oleh kubu Mega-Prabowo adalah Night at the Museum III. Seri pertama dan kedua film ini dibintangi Ben Stiller diproduksi tahun 2006 dan 2009. Film campuran komedi dan fiksi-ilmiah ini menceritakan tentang seorang duda, yang pengangguran, dengan satu anak lelaki yang tidak begitu menaruh hormat kepadanya, terjun dalam petualangan yang mendebarkan.

Ia menerima pekerjaan tidak bergengsi, sebagai penjaga malam suatu museum. Keajaiban terjadi, ketika isi museum itu menjadi hidup di malam hari. Ada singa berkeliaran, ulah kera julig, Tyranosaurus Rex yang mengajaknya main-main, sampai boneka tokoh koboi kuno Jedediah yang berantem melawan boneka panglima tentara Romawi, Octavus.

Mengulang alur cerita di seri pertama, tokoh penjaga malam itu akhirnya mampu mengatasi masalah berkat nasehat dari boneka lilin yang hidup, yaitu tokoh presiden AS ke 26, Theodore Roosevelt (1858–1919). Dalam Night at the Museum III, tokoh presiden yang kembali hidup, tentu saja, adalah Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Juga mereka yang hilang akibat diculik atau terbunuh menjelang meletusnya reformasi tahun 1998, semuanya, sungguh ajaib, bisa hidup kembali. Almarhum Hery Hartanto, Elang Mulyana, Hafidin Royan dan Hendriawan Lesmana yang terenggut nyawanya di Universitas Trisakti, juga mahasiswa lainya di insiden Semanggi I-II, semuanya hidup kembali.

Tokoh-tokoh masa lalu itu, yang sebelumnya dalam beberapa hal berseberangan atau berseteru, kini menjadi rukun. Mereka semuanya bersatu-padu, bahu-membahu, bekerja sama berusaha memenangkan kandidat Megawati-Prabowo dalam Pilpres 2009.

Orang-orang presiden. Kubu SBY-Boediono tak mau kalah dalam menggunakan film sebagai kampanyenya. Mereka telah memperoleh ijin kontrak untuk membuat sekuel film yang melambungkan nama dua wartawan dari The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein, All the President's Men (1976).

Kalau dalam versi aslinya dikisahkan kedua wartawan itu berhasil mengungkap aksi rahasia kubu Partai Republik yang menyadap gedung Watergate yang pusat aktivitas Partai Demokrat AS saat itu, cerita film versi kubu SBY-Boediono itu lebih seru. Intinya terpusat kepada gerak-gerik aktivitas tiga pembantu setianya, yaitu Andi Mallarangeng, Rizal Mallarangeng dan Choel Mallarangeng.

Termasuk berita heboh terakhir tentang mereka, bahwa di Makassar muncul demo besar yang mencekal Mallarangeng Bersaudara. Andi Mallarangeng dituding mengucapkan kalimat bermuatan SARA yang dinilai merendahkan sukunya sendiri. Dirinya dilarang menginjakkan kaki di tanah kelahiran ayah-ibunya, di Makassar, sebelum meminta maaf kepada masyarakat yang didominasi warga Bugis itu atas ucapan yang dilontarkan Andi sebelumnya.

Konon akhir film ini menunjukkan Mallarangeng Bersaudara minta suaka. Ada tiga alternatif. Ke Grobogan, Purwodadi, tempat almarhum ayahnya pernah menjabat sebagai bupati. Ke Yogya tempat Andi dan Rizal berkuliah sekaligus memperoleh istri. Atau alternatif ketiga : di kota bossnya berasal.

Pacitan.


Wonogiri, 3/7/2009

ke

Monday, June 29, 2009

Lagu Michael Jackson dan Inspirasi Pilpres 2009

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Berbakat abad 20. “Tragedi kematian Michael Jackson dalam usia 50 tahun, dikabarkan akibat serangan jantung, hanya menjadi gambaran yang pucat bila dibandingkan dengan tragedi dalam hidupnya.”

Itulah tulisan pembuka dari Josh Tyrangiel dari majalah TIME, yang berjudul “Michael Jackson, 1958-2009: The Talent and the Tragedy.”

Lanjutnya : “ Untuk memahami semua kisah jatuh-bangun dirinya memerlukan kita menelusuri masa tiga puluh tahun sejak operasi plastik yang mendeformasi dirinya, tingkah laku eratik yang membuat namanya sinonim dengan pembengkokan daya sebuah ketenaran, dan pengadilan tahun 2005 dengan tuduhan pelecehan terhadap anak-anak, walau pun ia tak terbukti bersalah, membuat dirinya sebagai paria dan mencuci otak seluruh penggemarnya.”

“Tetapi bila Anda dapat memaafkan atau melupakan hal di atas itu semua, Michael Jackson merupakan salah satu penghibur yang paling berbakat pada abad ke-20.”

Inspirasi kampanye. Berita yang mendunia terkait meninggalnya King of Pop itu di Indonesia segera menjadi perbincangan. Juga di kalangan pendukung capres-cawapres yang kini makin panas berkompetisi menjelang pilpres 8 Juli 2009. Para spin doctors yang nampak kelaparan untuk memanfaatkan momen apa saja demi diolah menjadi bahan iklan memenangkan capres-cawapres yang dibelanya, momen tragedi Jackson itu segera mereka sambar juga.

Desas-desus yang beredar, kesigapan semacam itu semula dimiliki oleh kubu SBY-Boediono. Tetapi kubu-kubu rivalnya, berkat peran intelijennya yang julig, keunggulan kubu Cikeas itu segera terendus dan segera bukan jadi rahasia lagi. Inilah yang terjadi :

Di markas besar masing-masing kubu terpasang boneka-boneka (effigy) dari tokoh kompetitor mereka. Di kubu Mega-Prabowo terdapat boneka SBY-Boediono dan boneka JK-Wiranto. Di markas kubu SBY-Boediono terpajang boneka Mega, Prabowo, JK dan Wiranto. Demikian juga di markas kampanye kubu JK dan Wiranto terdapat boneka Mega, Prabowo, SBY dan Boediono.

Setiap malam, dari masing-masing markas besar tim sukses itu selalu terdengar lagu hitnya Michael Jackson yang terkenal. Refrennya diputar berulang-ulang : “Beat it ! Beat it ! Beat it !

Mungkin karena merasa memiliki musuh bersama, yaitu sang incumbent atau karena memang telah LEBIH terbiasa melakukannya, ada hal istimewa terjadi pada kubu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Bunyi refren lagu itu selalu diikuti suara koor dari tim suksesnya dan juga suara gebukan yang lebih keras dari mereka.

Menengok sejarah, lagunya Michael Jackson itu juga pernah menjadi inspirasi bagi Presiden Soeharto saat berkuasa. Bukankah beliau pernah mengeluarkan ancaman “gebuk” itu bagi kaum kritis yang mengganggunya ?

Lagu itu kini juga laris menjadi ilham bagi sebagian majikan di Malaysia yang memiliki pembantu asal Indonesia.

ke

Wednesday, June 10, 2009

General Elections 2009’s Guffaw

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Politik berisik. Meksiko negeri dirundung malang. Belum surut perbincangan tentang negeri sombrero sebagai asal-muasal menyebarnya virus flu babi, musibah muncul lagi.

Sebuah panti penitipan anak-anak terbakar. Sekitar 30 balita meninggal dunia, sebagian besar tercekik oleh asap beracun. Penyebab kebakaran diduga dari hubungan arus pendek listrik.

Masih tentang Meksiko yang terkait dengan arus listrik dan hawa panas, seorang Len Deighton dalam bukunya Mexico Set (1985) pernah berujar tentang hal yang relevan dengan lanskap dunia perpolitikan kita hari-hari ini. Katanya, di Meksiko mesin pendingin ruangan disebut sebagai politikus karena mereka hanya mampu mengeluarkan banyak sekali keberisikan sementara kinerjanya sangatlah tidak memuaskan.

Di Indonesia, mesin-mesin pendingin itu kini sedang meraung-raung mengisi udara hidup kita kini. Panggungnya adalah pemilihan umum presiden. Ada tiga pasang. Mereka sengit berkompetisi dalam menebar pesona, menebar janji, juga berusaha mengingkari, menutup-nutupi sampai mengubur kejelekan masing-masing di masa lalu.

Rakyat yang punya ingatan kuat melihat akrobat politik dengan rasa teraduk-aduk. Mereka mengasyikkan untuk diamati, dicatat, dan banyak sekali yang mampu memancing gelak tawa kita secara beramai-ramai.

Kita tidak sendirian. Simak kata komedian dan aktor terkenal, Will Rogers (1879–1935) dari AS. Ia punya kredo yang juga terkenal untuk aksi kita : I don’t make jokes; I just watch the government and report the facts. .

Ia tidak membuat lelucon, tetapi hanya menyimak tingkah laku atau kinerja pemerintah dan kemudian melaporkan segala fakta yang ada. Yang dimaksud pemerintah itu, tentu saja, diwakili para pejabatnya. Juga calon-calonnya.

Bukan pemilu. Lelucon pertama : pemilihan umum di Indonesia harus dan sebaiknya disebut sebagai general elections saja. Tidak usah diterjemahkan. Titik. Pemilihan para jenderal. Tak kurang dan tak lebih. Sebab sejak era Soeharto yang selalu menang berkali-kali itu, bahkan sebutannya pun harus general elections with his family and cronies. Titik.

Sebut saja, siapa anak Soeharto yang tidak terpilih sebagai anggota MPR saat itu ?. Istri dan anak Jenderal Wiranto, pernah juga masuk sebagai anggota MPR, bukan ? Sementara itu di tahun 2009 saat ini, separo dari mereka yang bertarung adalah para (mantan) jenderal.

Ingin lebih banyak bukti yang valid ? Simak saja data tim sukses masing-masing pasangan itu. Bertaburan di sana para mantan jenderal. Pemilihan umum sepertinya menjadi ajang reuni terbaik bagi mereka. Personalia tim-tim sukses itu tak lebih dari organisasi-organisasi olahraga kita. Entah KONI sebelum Rita Subowo sampai PB PBSI, misalnya, di mana banyak mantan petinggi tentara berhimpun di sana.

Tak ada yang salah dengan itu semua. Tetapi ada yang lucu karena ironi. Seorang jenius periklanan David Ogilvy ketika menjalani masa sepuh, dalam bukunya Confessions of an Advertising Man (1963), jujur berucap : like everyone my age, I talk to much about the past. Sebagaimana tiap-tiap orang seumuran saya, saya akan banyak berbicara mengenai masa lalu.

Para mantan-mantan jenderal itu bila berkumpul, pasti juga lebih suka saling bercerita mengenai masa lalu. Padahal pemilihan umum berfokus merencanakan peta jalan bangsa untuk berorientasi ke masa depan.

Insan analog. Masih tentang tim-tim sukses yang berjubelan mantan jenderal itu. Tak banyak dari mereka yang seperti Marsekal Chappy Hakim, yang masih aktif menulis dan dan bahkan mengelola blog. Dapat diduga, sebagian besar mereka bisa diberi label sebagai insan-insan analog yang hidup di era digital.

Simak saja tim sukses SBY-Boediono, yang keduanya memiliki gelar doktor. Dan di sekelilingnya juga banyak doktor. Tetapi, lihatlah, nama-nama tim sukses mereka memakai kode-kode era jaman radio CB. Era komunikasi jadul, masa lalu.

Menurut Kompas (23/52009), ada tim Echo dikepalai mantan Panglima TNI Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, tim Delta dikomandani Mayjen (Purn) Abikusno, tim Romeo dipimpin Mayjen (Purn) Sardan Marbun, sampai tim Foxtrot yang punya sebutan sebagai Bravo Media dengan pengasuh utamanya Choel Mallarangeng yang juga direktur Utama Fox Indonesia.

“Sierra Bravo Yankee, Sierra Bravo Yankee, kontak Delta Papa Delta, bisa dikopi ? Ganti !” Grrrk. Grrrk. Grrrk. “OK, Sierra Bravo Yankee, bisa dikopi. Delta Papa Delta menunggu instruksi. Ganti !”

Itulah contoh obrolan di udara antara SBY dan juru bicaranya, Dino Patti Djalal. Bahasa dan kode serupa malah juga dipakai untuk komunikasi via sms, Twitter dan email mereka. Untuk email contohnya :

“Yang terhormat Bapak Sierra Bravo Yankee dan Ibu Alpha November India Sierra Bravo Yankee. Bagaimana kabar cucu tersayang Anda, Alpha Mike India Romeo Alpha ?”

Intelijen militer. Operasi Senyap Diantisipasi : Tim Kampanye Calon Presiden Libatkan Pensiunan Jenderal. Selain merupakan pertempuran para calon presiden dan calon wakil presiden, Pemilu Presiden 2009 juga pertarungan antartim sukses. Perang intelijen pun tak bisa dielakkan akan terjadi. (Kompas, 23/5/09 : 4).

Perang intelijen militer akan terjadi ? Komedian jenius George Carlin menyikut istilah itu. Katanya, intelijen militer merupakan istilah yang kontradiktif. Intelijen militer adalah oxymoron, dan intelijen militer merupakan kombinasi dua kata yang tidak masuk akal.

Kasihanilah, Indonesiaku. Masa depannya sekarang ini bakal ditentukan oleh aksi-aksi dan peperangan yang tidak masuk akal itu !


Siapa menguntit siapa. Jerman Timur sebelum runtuh, dikenal sebagai negara polisi. Di bawah kekuasaan Stasi, dinas polisi rahasia atau intelijen yang cakarnya menjarah kemana-mana, setiap orang bahkan direkrut untuk menjadi intelijen guna mengawasi orang lain. Itukah yang sekarang terjadi menjelang Pemilu Pilpres 2009 ? Medan perang intelijen dalam senyap itu tergambar sebagai berikut :

Intel-intel kubu SBY-Boediono akan selalu diawasi oleh intel bloknya JK-Wiranto dan juga intel front Mega-Prabowo. Intel-intel blok JK-Wiranto akan diinteli intel front Mega-Prabowo dan intel-intel kubu SBY-Boediono. Intel-intel front Mega-Pabowo juga tidak akan luput dari intaian intel kubu SBY-Boediono dan intel blok JK-Wiranto.

Ada fenomena luar biasa terjadi. Intel-intel kubu SBY-Boediono kali ini bisa bekerja sama dengan intel bloknya JK-Wiranto, bahkan juga merangkul intel front Mega-Prabowo. Gabungan ketiganya bahu-membahu siang dan malam selalu menguntit gerak-gerik musuh bersama mereka : Sri Bintang Pamungkas dan gerakan Golputnya !


Operasi senyap. Kata operasi sangat akrab untuk dunia militer. Membayangkan banyaknya pensiunan-pensiunan jenderal itu saling sering ketemuan di markas masing-masing kubu antartim sukses, pasti kata operasi tersebut tidak jarang keluar dalam percakapan mereka.

Tetapi mengingat usia-usia mereka pasti akan sering muncul juga kata-kata operasi yang bermakna lain dalam obrolan mereka : Operasi prostat. Operasi jantung. Operasi ginjal. Operasi kanker.


Jenderal vs Facebook. Anda sudah punya akun media jaringan sosial, Facebook ? Sudahkah Anda bergabung di cause ini, http://apps.facebook.com/causes/290597, untuk mendukung pembebasan Prita Mulyasari ?

Diilhami oleh sukses Barack Obama, pasangan yang bertarung dalam Pemilu Presiden 2009tak ketinggalan memanfaatkan Facebook itu pula. Lihatlah, para pensiunan jenderal yang berbaris dalam masing-masing tim sukses itu dikabarkan memiliki akun Facebook juga. Bahkan mereka setiap hari selalu memperbaiki isi status-nya dengan data mutakhir pribadi mereka :

Data tekanan darah, denyut jantung, kadar gula darah, kadar kolesterol, sampai kadar PSA dari prostat masing-masing !


Janji sorga. Markas besar kampanyenya Bill Clinton tahun 1992, oleh manajer kampanyenya James Carville, dipasangi banner besar. Isinya slogan : It's the economy, stupid. Memang itulah jantung persoalan Amerika saat itu, dan Clinton memenangkan pilpresnya.

Slogan serupa harusnya juga dipasang di markas besar ketiga pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2009. Syukur-syukur juga dipasangi angka-angka persentase pertumbuhan ekonomi yang mereka janjikan, entah satu digit atau dua digit.

Rakyat akan mencatatnya. Di tengah situasi ekonomi global yang suram, perusahaan bertumbangan dan PHK meruyak dimana-mana, siapa tahu angka-angka janji sorga mereka itu kelak hanya cerminan dari kenaikan tensi darah mereka !


Run, generals, run ! Pencipta lagu dan penyanyi rok Amerika Bruce Springsteen dalam lagunya Born to Run (1974) berisi lirik “cause tramps like us, baby, we were born to run.

Politisi Indonesia sebagai petualang kiranya cocok pula masuk dalam deskripsi itu. Mereka terlahir untuk selalu ngacir. Dalam Pilpres 2009, semua kandidat bahkan berebutan mencuri start agar lebih dulu bisa ngacir. Bungkus, alasan dan pembenaran untuk aksi pengaciran itu mudah dicari-cari.

Hari Minggu pagi, 7 Juni 2009, dengan bergabung dalam kegiatan komunitas Bike to Work, SBY dan istri ikut ramai-ramai mengayuh sepeda di Jakarta. Agak luput dari liputan media, di sepanjang jalan yang dilewati SBY terhimpun ribuan warga berbagai bangsa keras berseru sambil mengacung-acungkan spanduk berbunyi : Run, run, SBY, run, run ! Run, run, SBY, run, run ! Run, run, SBY, run, run !

Sebelumnya mereka juga pernah memenuhi badan jalan di Jl. Teuku Umar, Jakarta, untuk berseru pula : Run, run, Mega, run, run ! Run, run, Mega, run, run ! Run, run, Mega, run, run !

Juru bicara kampanye masing-masing kubu kemudian dengan bangga mengklaim bahwa calon presiden mereka telah di-endorse oleh komunitas internasional. Mereka tidak tahu bahwa kelompok itu bernama International Runners Brotherhood Against Overweight and Obesity. Misi mereka mengajak SBY dan Mega untuk rajin olahraga lari, guna mengurangi kegemukan mereka.

Tokoh-tokoh calon wakil presiden juga mengalami demo yang sama. Ketika utusan khusus, special envoy dari Komisi HAM PBB datang ke Indonesia untuk menyelidiki secara lebih detil dugaan pelanggaran HAM di Indonesia 1998 dan Timor Timur 1999, teriakan serupa juga muncul.

Tetapi kali ini bukan dari kelompok International Runners Brotherhood Against Overweight and Obesity. Teriakan dan spanduk kelompok sangat besar satu ini berbunyi :

“Lari, jenderal ! Lari !”


Sepeda dan politisi. Politisi konservatif Inggris, Norman Tebbit, punya cerita tentang sepeda. Seperti dikutip koran Daily Telegraph (15/10/1981) ia bercerita saat ia hidup ditahun 1930-an dengan ayah yang pengangguran. “Ia tidak membuat huru-hara, ia hanya naik sepeda untuk berangkat mencari kerja,” cetusnya.

Di Indonesia kini, kondisinya mungkinkah lebih baik ? Sepeda kini gencar dikampanyekan sebagai kendaraan untuk menuju tempat kerja. Komunitas Bike to Work, adalah contohnya. Kehadiran SBY di tengah komunitas ini merupakan tanda empati bagi mereka.

Empati bagi mereka yang sejatinya merupakan warga Indonesia yang terpaksa menyimpan mobil atau sepeda motor karena harga BBM mahal. Mereka yang takut sakit akibat stres di saat macet dan macet di jalanan yang dipicu biaya pengobatan mahal. Mereka yang bila naik mobil atau motor di jalanan jengkel terkena pungli. Juga bagi mereka yang naik sepeda untuk nglembur kerja di hari Minggu agar bisa makan dengan keluarganya.

Suntikan SBY itu memicu inspirasi lain. Komunitas ini sekarang sangat-sangat mengharap Gede Prama, penulis laris buku-buku motivasi, untuk segera bisa bergabung di dalam komunitas mereka. Alasannya, warga komunitas ini ingin memperoleh suntikan motivasi, sambil bareng-bareng bersepeda, karena terkesan isi artikel-artikel inspiratif dari Gede Prama di harian Kompas.

Dorongan paling utama komunitas ini bersemangat mengajak Gede Prama untuk bergabung karena pada bagian akhir artikelnya selalu tertulis keterangan : Gede Prama, tinggal di Bali, bekerja di Jakarta.

Kabar lain. Seorang teman, juga anggota komunitas itu mengeluh, karena berkali-kali sepeda mahalnya dicuri orang. Ia kini membentuk komunitas baru untuk rekan senasibnya, bernama : Bike to Walk !


Menu sang presiden. Ini bukan lelucon. Prof. DR. Ir Made Astawan, dosen IPB, dalam bukunya Kandungan Gizi Aneka Bahan Makanan (2004) punya pendapat tentang mi instan. Bahan baku utamanya adalah tepung terigu, menjadikan mi bukan merupakan makanan asli Indonesia.

Sebungkus mi instan 75 gram, tulisnya, menghasilkan total energi sekitar 350 kilo kalori. Sementara kebutuhan energi orang dewasa 2.500 kilo kalori dan anak balita 1.300 kilokalori per harinya. Jadi sumbangan energi dari semangkuk mi instan hanya 14 persen untuk orang dewasa dan 27 persen anak balita per harinya.

Jadi : mengandalkan hanya sebungkus mi instan sebagai sumber energi utama dalam kehidupan sehari-hari harus dihindari karena hal tersebut cepat atau lambat akan berpengaruh terhadap stamina tubuh dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, terlalu sering menggunakan mi sebagai “pengganjal perut” satu-satunya setelah seharian bekerja keras adalah tindakan yang sangat keliru.

Mi instan saat ini memasuki ranah nutripolitico complex, persilangan antara komersialisasi gizi dan interes politik. Selain penduduk Indonesia digencarkan untuk mengonsumsi pangan dari bahan terigu itu, sesuai tuntutan pasar bebas yang dianut neoliberalisme, asupan sesering mungkin dari pangan yang nilai gizinya tidak adekuat ini, akan membuat daya tahan pikir bangsa kita menjadi melemah, tidak kritis, sehingga rentan terhadap bujukan dan rayuan bermotif politik.

Peringatan ini sebaiknya didengar oleh seluruh warga negara Indonesia. Perhatikanlah, seorang doktor yang juga lulusan IPB akhir-akhir ini sosoknya setiap saat selalu membombardir benak warga Indonesia dengan pesan-pesan nutripolitico complex itu melalui iklan-iklan di televisi.

“Ketika menghidupkan komputer, otak Anda bekerja. Ketika menghidupkan televisi, otak Anda berhenti.” Demikian kata pendiri Apple Corps., Steve Jobs.

Tanda lampu merah ini sebaiknya menyala dalam kesadaran publik kita saat mendengar bujukan, ajakan, dan rayuan agar warga Indonesia mau beramai-ramai mengonsumsi “mi instan politik” sesering mungkin, setiap hari, sampai tanggal 8 Juli 2009 nanti !


Bertabur doktor. Politisi Partai Buruh Inggris, Neil Kinnock, dalam pidato partainya yang disiarkan televisi telah mengunggulkan makna pendidikan. Ia melempar retorika : “Mengapa saya merupakan Kinnock pertama di antara ribuan generasi Kinnock yang mampu berkuliah di perguruan tinggi ?” Pidato ini kemudian dijiplak oleh Joe Biden, yang kini merupakan Wakil Presiden Amerika Serikat.

Di Indonesia, status lulusan vs bukan lulusan perguruan tinggi pernah menjadi isu perdebatan untuk calon presiden. Kini, lihatlah sekarang, calon-calon presiden dan calon-calon wakilnya yang maju dalam Pilpres 2009. Kalau saja SBY-Boediono nanti terpilih, Indonesia kita memiliki petinggi yang sama-sama bergelar doktor.

Tetapi untuk wakil presiden, bila terpilih, Boediono tak boleh menepuk dada. Sebab di era presiden Megawati kita pernah memiliki wakil presiden yang juga bergelar doktor. Doktor (HC) Hamzah Haz.


Penculikan Rengasdengklok. Megawati juga bergelar doktor honoris causa. Ayahnya, Ir. Soekarno, bahkan banyak mengumpulkan gelar doktor kehormatan dari banyak universitas. Bukan karena gelar-gelar akademis kehormatan semata bila tanggal lahir Bung Karno diperingati pada tanggal 6 Juni 2009 di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Kota ini memang bersejarah. Tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda dipimpin Sukarni sengaja menculik Soekarno dan Hatta. Keduanya dibawa ke Rengasdengklok ini, didesak agar segera memproklamirkan bangsa Indonesia saat itu juga. Namun Bung Karno menolak.

Ketika kembali ke Jakarta malam harinya, keduanya langsung merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamada Maeda, Jalan Imam Bonjol. Naskah inilah yang akan dibacakan esok harinya.

Semula proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (Monas). Tapi, demi menghindari bentrokan dengan tentara Jepang, akhirnya teks proklamasi itu dibacakan –sekitar pukul 09.00 pagi—di kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (kini Jalan Proklamasi), Jakarta Pusat.

Peringatan hari ulang tahun Bung Karno ke-108 itu, tentu saja, juga dihadiri oleh pasangan calon presiden Megawati, juga calon wakil presidennya, Prabowo Subianto. Milis pembela HAM ada yang nyeletuk : Kalau bicara tentang peristiwa penculikan, mengapa nama Prabowo Subianto selalu bisa saja terkait di dalamnya ?


Pura-pura orang kecil. Pasangan Mega-Prabowo mendeklarasikan pencalonannya untuk maju dalam Pilpres 2009 di lokasi pembuangan sampah, Bantargebang. Lalu saat memperingati harlah Bung Karno ke-108 di Rengasdengklok. Termasuk aksi SBY mengunjungi pabrik tempe di Malang atau pun Jusuf Kalla rajin mengunjung pasar-pasar tradisional.

Masih ingatkah Anda, Harmoko menggendong seorang tukang becak di Solo ? Soeharto dan anggota kabinetnya makan thiwul beramai-ramai. mBak Tutut saat menjabat sebagai Menteri Sosial makan di warung tegal. Wiranto bahkan makan nasi aking baru-baru ini pula.

Sunu Wasono, pengajar Fakultas Ilmu Pengtahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam bukunya Sastra Propaganda (2007) menyebut ulah para petinggi tadi sebagai aksi propaganda yang memanfaatkan jurus pura-pura sebagai orang kecil.Disorot oleh televisi, aksi mereka itu untuk membangun citra bahwa mereka merakyat, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat kecil, mencoba menarik simpati dan dukungan massa dengan cara menempatkan dirinya (seolah-olah) mereka juga.

Para kontestan Pilpres 2009 dalam liputan media ada yang konsisten menunjukkan kedekatannya pada rakyat kecil. Tetapi kebanyakan tidak. Megawati, tidak. Jusuf Kalla, tidak. Wiranto, tidak. Boediono, juga tidak. Apalagi Prabowo.

Yang nampak paling dekat dengan rakyat kecil adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Rakyat kecil yang paling dekat dengan dirinya bernama : Amira.


Kerbau dicocok hidung. George Burns almarhum, komedian sepuh dan dihormati, yang biografinya (foto di atas) ditulis Martin Gottfried berjudul George Burns and The Hundred Years Dash (1996), mengakui kemuliaan rakyat kecil.

Seperti dikutip majalah Life (Desember 1979) ia berujar, “too bad that all people who know how to run the country are busy driving taxicabs and cutting hair ”. Sangat disayangkan bahwa mereka-mereka yang tahu bagaimana mengelola negeri ini sibuk sebagai sopir taksi dan tukang cukur.

Orang-orang kecil tersebut di Indonesia saat menjelang Pilpres 2009 ini, sekarang ini lagi gencar didekati para kandidat. Dengan beragam jurus propaganda. Di antaranya adalah jurus umpatan. Jurus umpatan yang lagi laris manis dijajakan antara lain sebutan neoliberalisme dan pengungkapan mengenai pembengkakan utang negara.

Istilah-istilah itu diucapkan untuk menyerang fihak lain guna mendapatkan simpati. Tetapi dasar dari semua itu, ketika menggunakan jurus umpatan tersebut si pengguna tidak menginginkan kita berpikir, tetapi hanya bereaksi, membabi buta, dan tidak memiliki keraguan.

Kita sebagai rakyat mereka harapkan berlaku seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Menerima begitu saja isu tersebut, tanpa mempermasalahkan atau mengujinya dengan sikap kritis. Propaganda jurus satu ini sudah kita akrabi sejak jaman Orde Lama, Orde Baru, dan sampai saat ini pula. Termasuk slogan “Ganyang Malaysia !” yang muncul kembali di televisi ketika kasus Ambalat akhir-akhir ini mengemuka.


Tak ada lagi rumah angin. Novelis dan penyair Inggris D. H. Lawrence (1885–1930) pernah berujar : Never trust the artist. Trust the tale. Jangan mempercayai sang seniman, tetapi percayai karya-karyanya. Nasehat ini relevan di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2009 yang nampak ramai-ramai melibatkan para seniman.

Effendi Gazali dan Sujiwo Tejo memproklamasikan dukungannya untuk pasangan Jusuf Kalla-Wiranto ketika nonton bareng film Capres (Calo Presiden). Butet ikut berbaris di kubu Mega-Prabowo ketika disewa untuk melontarkan bom-bom kritik untuk pemerintahan SBY. Dan lihatlah, Rendra membaca puisi dan menyatakan dukungan dalam acara deklarasi Mega-Prabowo di Bantargebang.

Seniman kini memang tak lagi betah tinggal di atas angin. Ketika umur semakin menua, atau ketika idealisme memudar, mereka memilih turun untuk semakin dekat dengan tanah. Bahkan tanah tempat Rendra membacakan sajak Krawang-Bekasi-nya Chairil Anwar itu adalah tanah tempat pembuangan sampah.


Agenda rahasia Butet. Malam Deklarasi Pemilu Damai yang diselenggarakan KPU di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, Rabu 10 Juni 2009, memicu kontroversi. Acara yang seharusnya penuh suasana persahabatan berubah jadi tegang lantaran sajian monolog Butet Kartaredjasa.

Butet menyampaikan monolog mewakili tim kesenian pasangan capres Mega-Prabowo dalam Deklarasi Pemilu Damai. Butet tampil memukau, tapi menyentil salah satu capres, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia memberondongkan sindiran terhadap pemerintah yang berkuasa, SBY, dan dilontarkan di depan SBY sendiri.

Tanpa tendeng aling-aling. Kritikan Butet membombardir mulai dari masalah utang negara, korupsi, hingga banyaknya pesawat Indonesia yang sering jatuh sebelum perang terjadi.

Mengapa Butet berani melakukan aksi itu ? Seorang pengamat politik, Dr. Sukardi Hambali dari Politika Humorista Institut Jakarta, memberikan analisisnya. Pertama, Butet berani melakukan hal itu untuk kubu Mega-Prabowo karena ia ketakutan. Takut menjadi korban aksi penculikan.

Kedua, Butet lagi terkena Omni-Prita Syndrome. Butet sebenarnya menginginkan sesudah melakukan orasi itu akan ditangkap, lalu diinterogasi fihak keamanan. Dengan modus ini, ia akan semakin terkenal di dunia Internasional.

Ketiga, dengan menyerang SBY, ia memang berharap tokoh yang menyewanya akan memenangkan Pilpres 2009. Sebagai aktivis kebudayaan, bila Mega-Prabowo menang, Butet mampu memiliki link khusus yang ia kira akan membantunya dalam merampungkan agenda kebudayaan yang ia pendam selama ini.

Semoga agenda kebudayaan Butet itu sukses. Antara lain mampu mencari kejelasan tentang nasib penyair Wiji Thukul, aktivis era reformasi sampai Deddy Hamdun, suami aktris cantik Eva Arnaz, yang tidak ada kabarnya sampai kini.


Polusi demokrasi. Agenda Butet di atas hanyalah fiksi. Ia yang mengaku sebagai profesional, yang siap disewa oleh pasangan mana saja, boleh jadi merupakan sejimpit gambaran bagaimana kekuatan uang mampu berbicara dalam sebuah pesta demokrasi.

Untuk fenomena satu ini, penulis dan wartawan Amerika Serikat, Theodore H. White (1915–1986) pernah bilang wanti-wanti, bahwa banjir uang yang digelontorkan dalam kancah perpolitikan dewasa ini merupakan polusi bagi demokrasi. Sepertinya, ancaman polusi itu kini sedang pula terjadi di tanah air kita. Termasuk fenomena lembaga survei yang dibayar oleh kandidat. Kita lihat dan saksikan semuanya harus dengan waspada.

Sebab bila polusi demokrasi itu meruyak kemana-mana, maka kita kelak akan hanya mendapati apa yang pernah disinyalir oleh tokoh serba bisa, ya ilmuwan, penemu dan juga politisi Amerika serikat, Benjamin Franklin (1706–1790), yang bersabda :

Di aliran sungai dan pemerintahan yang jelek, benda yang paling ringan saja yang mengapung di atasnya !


Wonogiri, 11-15/6/2009


ke

Sidang Ke-2 Prita Mulyasari : Ketika Hukum Membungkam Hati Nurani ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Photobucket



Wonogiri, 11/4/ 2009

ee

Monday, May 18, 2009

Pemilihan Presiden Indonesia 2009 : Satire

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Bangkit dari abu dan api. Indonesia ibarat dongeng burung phoenix. Ketika dirinya merasa menua, ia akan masuk ke dalam kobaran api. Bulan Mei sebelas tahun lalu jadilah Indonesia yang terbakar mengiringi tumbangnya rejim Orde Baru.

Majalah AsiaWeek edisi 5 Juni 1998, memuat kartun yang menggambarkan sebuah mobil dengan nama “Indonesia” sedang terbalik, terbakar, bersama sang sopir, yaitu Soeharto didalamnya. Teksnya berbunyi : Famous last words : “Vrooom, vrooooomm…”

Seperti halnya legenda burung phoenix, dari reruntuhan abu bekas kebakaran itu muncul kemudian burung phoenix baru. Di bulan Mei 2009 kini, sebagian dari aktor yang bermain di balik kobaran abu dan terbakarnya Indonesia sebelas tahun yang lalu itu, telah muncul menjadi calon-calon pemimpin Indonesia masa depan. Bangsa Indonesia memang bangsa yang menakjubkan. Bangsa yang pelupa, yang mudah memaafkan, sekaligus mudah termakan iklan.

Hari-hari mendatang kita semua akan semakin dijejali dengan iklan, iklan dan iklan. Juga oleh janji, janji, dan janji. Karena sebagaimana ujar penyair, kritikus dan ahli kamus asal Inggris, Samuel Johnson (1709-1784), bahwa promise, large promise, is the soul of an advertisement. Pelbagai janji besar itu mulai meluncur ketika mereka melakukan deklarasi.

Merebut Bung Karno. Adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto yang pertama kali melakukan deklarasi. Slogan “lebih cepat dan lebih baik” diusung dan dipraktekkan oleh pasangan tersebut. Mereka melakukan secara gerak cepat. Termasuk dalam hal memperebutkan semboyan dan slogan. Misalnya, ketika mereka memosisikan diri sebagai pasangan dwi tunggal.

Kita tahu, jargon ini terlanjur melekat di benak bangsa Indonesia untuk pasangan proklamator Soekarno-Hatta. Untuk mendekati realitas, bahkan mereka pun mendeklarasikan diri di komplek patung proklamator di Pegangsaan. Partainya Megawati, PDIP, dalam hal ini kalah cepat dalam merebut simbol-simbol politik masa lalu yang justru dicetuskan dan lekat bagi ayahnya, Bung Karno.

JK sendiri mengatakan bahwa perpaduan dirinya dengan Wiranto sebagai sesuatu yang cocok dan saling mengisi. Ilmu numerologi muncul lagi. “Hanura itu nomor 1. Golkar itu nomor 23. Jadi kalau digabung menjadi 1, 2, 3,” ujar JK.

Urutan nomor semacam itu mudah mengingatkan kita akan merek peranti lunak terkenal di masa lalu, Lotus 1-2-3. Tetapi kini merek tersebut tinggal mengisi sejarah, sudah kedaluwarsa dan tidak lagi digunakan oleh pemakai.

Pasangan JK-Wiranto sepertinya memang suka bernostalgia akan masa lalu. Ketika mendaftar di KPU, seperti ditulis oleh Seputar Indonesia (17/5/2009), JK sempat menyindir pasangan lain yang berasal dari daerah yang sama. “Kami pasangan pilpres, bukan pasangan pilkada,” tandasnya. Sasaran tembaknya adalah SBY yang berasal dari Pacitan dan Boediono dari Blitar, sama-sama dari Jawa Timur.

JK-Wiranto, menurutnya, merupakan pasangan yang merepresentasikan wilayah Indonesia yang luas. Kalla dari Sulawesi Selatan, istrinya dari Sumatera Barat, sedangkan Wiranto dari Jawa Tengah dan istrinya dari Gorontalo, Sulawesi Utara. Seorang pengamat politik, Dr. Sukardi Hambali dari Politika Humorista Institut Jakarta, nyeletuk :

“Kalau tesis JK-Wiranto semacam itu disetujui banyak orang dan agar berkesesuaian dengan dinamika geopolitik berskala regional dan global masa kini, maka pasangan yang ideal adalah pasangan yang bukan mereka berdua. Melainkan pasangan Yusril Ihza Mahendra sebagai calon presiden dan istri keduanya, Rika Tolentino Kato, sebagai calon wakil presiden. Keduanya sungguh merepresentasikan Indonesia, Filipina dan bahkan Jepang !”


Kaos McBoed di Bandung. Kita pindah ke Bandung. Kembali Megawati Soekarnoputri dan PDIP harus kehilangan semboyan perjuangan masa lalu ayahnya. Jargon terkenal dari Bung Karno, yaitu Indonesia Menggugat, telah digunakan oleh calon wakil presiden Boediono ketika berpidato dalam acara deklarasi yang bernuansa a la kampanye Obama-Biden di Amerika Serikat.

Bahkan pasangan SBY-Boediono, beserta istri masing-masing, naik ke panggung dengan mengenakan pakaian berwarna merah. Kita tahu, warna merah selama ini lekat disimbolkan sebagai warna seragam partainya Mega. “Slogan lebih cepat dan lebih baik juga bisa kami wujudkan. Itu bukan monopoli pasangan JK-Wiranto saja,” tutur salah satu anggota tim sukses SBY Berbudi.

Deklarasi SBY-Boediono di Sabuga ITB Bandung, memang meriah. Tepuk tangan dari hadirin, terutama anggota partai dan simpatisan, terkesan nampak rapi dan terorganisir. Tambahan lagi, seolah Rizal Mallarangeng bersaudara dari FoxIndonesia ingin menfotokopi persis hura-hura a la Obama-Biden, bahkan termasuk ketika rombongan undangan untuk menghadiri deklarasi menggunakan kereta api dari Jakarta ke Bandung.

Hanya saja, kalau Obama naik kereta api dari Philadelphia ke Washington DC dalam rangka mengikuti jejak rute Abraham Lincoln sebelum inaugurasi, rombongan pasangan SBY Berbudi naik kereta api Parahyangan sebelum deklarasi.

“Ini kereta api murah dan merakyat,” papar Rizal Mallarangeng di depan kamera televisi. Penggunaan kereta api yang bukan dicarter khusus itu dimanfaatkan untuk melunakkan tuduhan gencar politikus senior Amin Rais bahwa pemilihan Boediono sebagai cawapres merupakan penubuhan dari mashab ekonomi neoliberalisme yang diusung SBY.

Tudingan tentang mashab neoliberalisme ini memancing kalangan profesional kehumasan yang mewakili perusahaan besar berkomentar. Mereka menyayangkan bahwa, “duet SBY-Boediono malam itu benar-benar melewatkan momen televisi yang berharga. Dalam deklarasi, SBY Berbudi telah berani tidak lagi mengenakan baju biru, warna Partai Demokrat, maka sebaiknya mereka juga berani untuk tidak mengenakan peci. Dengan rambut tertata rapi, yang menjadi ciri khas keduanya, mereka berpeluang menjadi bintang iklan dari produsen minyak rambut. Yardley atau Mandom, pasti tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.”

Tambahnya sengit : “Kalau pun pakai peci, sembari mengambil muatan lokal Sunda, kenakanlah seperti posisi pecinya si Kabayan. Pecinya melintang. Biarkan sebagian rambut menyembul sebagai sarana masuk untuk menjadi bintang iklan minyak rambut. Jadi ada simbiosis ideal antara muatan lokal, nasionalisme dan sekaligus neoliberalisme !”

Acara deklarasi SBY Berbudi sampai menit-menit terakhir konon dibayang-bayangi aksi pembelotan kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Beberapa hari sebelumnya PKS menyatakan tidak setuju atas pengangkatan Boediono karena tidak merepresentasikan golongan Islam. Presiden PKS Tifatul Sembiring gencar bicara, bahwa dalam Islam ada gradasinya, sementara perwakilan Jawa-Non Jawa harus diperhitungkan, bahkan tak langsung menyebutkan adanya bibit-bibit “pemberontakan” bila keberadaan mereka tidak diwakili.

Ancaman itu merupakan permainan kartu untuk menegosiasikan posisi. Menurut kabar burung, PKS konon ingin memperoleh posisi kuat bagi kader-kadernya untuk memimpin departemen di bidang ekonomi, khususnya industri dan perdagangan. “Agar pasok kain putih tidak tersendat,” kata seorang pengamat. Karena jutaan konstituen PKS membutuhkan bahan pokok, kain putih itu.

“Lihat saja demo-demo mereka. Kain putih, seragam putih, itu ciri mereka. Bahkan demo untuk memprotes Israel dan demo memprotes ketidakadilan AS di Timur Tengah, telah menjadi merek dagang yang telah dipatenkan oleh mereka,” tuturnya lebih lanjut. PKS juga ingin memperoleh konsesi dalam hal memproduksi bendera-bendera Israel dan bendera Amerika Serikat.

“Kalau beli yang asli kan mahal. Kami harus mampu memproduksinya sendiri, guna memenuhi kebutuhan konstituen kami. Konstelasi geopolitik secara global mensyaratkan setiap kantor cabang kami di seluruh Indonesia memiliki cadangan cukup bendera-bendera Israel dan AS tersebut,” tegas salah satu fungsionaris PKS yang berlatar pendidikan S-3 di Jepang.

“Ketika Timur Tengah bergolak, kami bisa segera berdemo. Bendera negeri Zionis dan pendukungnya itu bisa dibakar oleh mitra dan konstituen kami untuk menjadi bahan liputan televisi yang dramatis dan mendunia !,” simpul akhirnya.

Malam itu, demo menentang SBY Berbudi juga terjadi di Bandung. Sekitar satu kilometer dari arena deklarasi di Sasana Budaya Ganesha ITB Bandung, ribuan mahasiswa berdemonstrasi. Antara lain mereka menolak penggunaan fasilitas kampus untuk sarana kampanye politik.

Sebagian mereka memakai kaos yang berisikan slogan-slogan menentang mashab neoliberalisme. Tergambar, dengan latar belakang logo golden arch-nya produsen makanan cepat saji McDonald, terpampang wajah SBY, Boediono, Hatta Radjasa, Sudi Silalahi, Sri Mulyani Indrawati, Rizal Mallarangeng, Andi Mallarangeng, sampai Dino Patti Djalal.

Di bawah wajah-wajah tersebut terdapat tulisan : McBY, McBoed, McHatta, McSilalahi, McMulyani, McMallarangeng sampai McDino. Sambil berdemo, para mahasiswa itu menenggak Coca Cola. Mereka pun agak lama menunggu kiriman burger dari gerai McDonald terdekat, karena lalu lintas Bandung tambah macet saat itu.

Malam yang alot. Di Bandung ada pesta, sementara di Jakarta dan Bogor malam itu terjadi negosiasi yang alot. Jadi benarlah bila beberapa hari sebelumnya kalangan intelektual Indonesia menyebut-nyebut adanya fenomena politisi malam.

Yaitu politikus yang menggalang dan menegosiasikan kekuasaan secara misterius, dalam kegelapan, melakukan politik dagang sapi yang tidak transparan, dengan tujuan semata-mata berbagi kekuasaan dengan tidak menghiraukan kepentingan bangsa dalam jangka panjang.

“Saya prihatin melihat mating season, musim cari jodoh yang menjadi ajang dagang. Tawar-menawar perjodohan kandidat presiden-wakil hanya merupakan tawar-menawar kekuasaan dan jabatan…Karena hanya kepentingan jangka pendek yang jadi pertimbangan, dua jenderal yang menyimpan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu diterima…Menerima dua sosok itu berarti menerima kembalinya pelanggaran hak asasi manusia,” demikian tulis Ayu Utami dalam kolomnya berjudul “Naik kereta dengan Pak Boed” (Seputar Indonesia, 17/5/2009).

Di ujung malam, Jumat 15/5/2009 itu, akhirnya Megawati dan Prabowo sepakat maju sebagai capres dan cawapres PDIP-Gerindra. Di BBC, pengamat politik Daniel Sparingga dari Unair berkomentar, Mega membutuhkan Prabowo karena tokoh ini banyak duitnya untuk membiayai pemasangan iklan-iklan mereka kelak.

Sesuatu yang aneh kemudian terjadi. Misalnya, kita bisa melihat sosok Boediman Sudjatmiko, aktivis PRD yang lalu menyeberang ke barisan Mega, atau aktivis HAM seperti Rieke Dyah Pitaloka, sejak malam itu diri mereka berada dalam satu kubu dengan Prabowo Subianto.

Pengikatnya, kedua kubu mengaku memiliki platform yang sama, utamanya dalam mengusung jargon ekonomi kerakyatan. Mega dan Prabowo tentu juga sama-sama mengenal nama-nama yang patut diduga menderita Stockholm Syndrome, yaitu Haryanto Taslam dan Pius Lustri Lanang.

Menurut desas-desus, tokoh Haryanto Taslam itulah yang sempat menjadi salah satu bahan negosiasi yang tidak mudah. Bila menang, kubu Prabowo menginginkan Departemen Hukum dan HAM ingin dijabat oleh Muchdi PR. Tokoh ini memang segera meroket ke publik sebagai tokoh yang sangat sadar hukum. Ketika dibebaskan dari tuduhan sebagai aktor intelektual dibalik terbunuhnya aktivis HAM, Munir, ia berencana menggugat balik kepada istri Munir dan pelbagai LSM lainnya.

Sementara itu kubu Mega, walau merasa pernah dikhianati atau ditinggalkan oleh kadernya yang bernama Haryanto Taslam, naluri keibuan dari Mega yang berbicara. Pengalaman diculik dan segala duka-derita yang dialami Haryanto Taslam ia anggap sebagai aset. Maka Mega menginginkan Haryanto Taslam, bila menang pilpres, untuk menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM.

Akhirnya diperoleh kompromi. Muchdi PR diplot sebagai Menteri Hukum dan Haryanto Taslam kelak diproyeksikan sebagai Menteri HAM. Win-win terjadilah.

Antitesa neoliberalisme. Negosiasi kedua tokoh ini memang paling alot. Isu yang beredar, kealotan terjadi bukan hanya karena Gerindra ingin mendominasi di bidang ekuin untuk mewujudkan mashab ekonomi kerakyatan. Tetapi kealotan itu bahkan merembet ke masalah kereta api dan lokasi seremoni deklarasi.

Konon, karena ingin menyaingi hebohnya kubu SBY-Berbudi, PDIP ingin menyewa kereta api dari Bali ke Jakarta. “Kebalikan dari rutenya Daendels. Sebagai isyarat dan simbol perlawanan kami berdua terhadap neoliberalisme yang diusung rival kami,” demikian tulis sebuah milis politik yang dekat dengan kubu Mega.

Lanjutnya, kereta api itu akan berhenti di Blitar. Untuk melayani ritus Mega yang terkenal, yaitu nyekar ke makam Bung Karno. Aksi itu juga merupakan gestur manis agar rakyat Blitar akan memilih dirinya di pilpres. Bukan memilih kubu Boediono dan Anas Urbaningrum, walau keduanya adalah orang asli Blitar.

Prabowo juga minta agar kereta berhenti di Solo dulu. Agar dia bisa nyekar ke makam pak Harto di Giribangun, Mangadeg. Juga sekaligus memberi pesan agar warga Solo dan sekitarnya, yang memang basis tradisionalnya Mega, agar memilih dirinya. Bukan memilih jenderal saingannya, yang orang Solo dan kini menjadi cawapresnya JK.

Kabar burung ia ingin mengunjungi Candi Sukuh, agar enteng jodoh sebagai kandidat wakil presiden. Tetapi kabar itu segera dibantah oleh fihak-fihak terdekatnya. “Hal satu itu bukan masalah kenegaraan yang mendesak. Ingat kasus Presiden Sarkozy. Ia menyunting Carla Bruni sesudah duduk di kursi presiden, bukan ?,” kata sumber tersebut.

Kebijakan tersebut dipilih demi menjaga keotentikan makna slogan triumvirat baru Indonesia yang diusung pasangan ini. Slogan satu ini, ketika slogan dan simbol-simbol terkenal dari Bung Karno keburu direbut pasangan pesaing, memang diilhami oleh keharmonisan para founding fathers Indonesia yang harmonis dan inklusif antara Soekarno, Hatta dan Sjahrir, ketika Indonesia masih berusia muda.

Semangat itu pula yang akan ditonjolkan saat deklarasi. Ketika di puncak seremoni deklarasi mereka, warga Republik Indonesia akan melihat triumvirat baru Indonesia di layar televisi mereka. Yaitu Megawati Soekarnoputri, pasangannya Taufik Kiemas, dan Prabowo Subianto.

Adegan herois tersebut akan terpancar dari lokasi tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang, Bekasi. Salah satu pentas sejarah politik Indonesia 2009 akhirnya berpihak ke tempat satu ini. Lokasi ini dipilih untuk mencerminkan keberfihakan PDIP-Gerindra kepada rakyat kecil.

Walau ada ganjalan, dari Jakarta, kedua tokoh itu akan sampai di lokasi upacara dengan menaiki mobil yang selama ini mereka gunakan. Mereknya pun sama : Lexus. Kubu konsultan politiknya Mega-Prabowo berkilah. “Karena mobil MR keluaran Mazda tahun 1980-an sudah tak diproduksi lagi. Padahal kami ingin memakainya.” MR adalah singkatan Mobil Rakyat.

Ekonomi kerakyatan. Sebelum kompromi bab lokasi deklarasi diteken, sebenarnya Gerindra mengajukan ide menarik. Agar seremoni deklarasi mereka juga bernuansa atmosfir perguruan tinggi seperti halnya SBY-Boediono di Sabuga ITB, kubu Prabowo minta seremoni deklarasi dilangsungkan di kampus Universitas Trisakti. Sekaligus untuk memperingati Tragedi Mei 1998. Keinginan ini, di kalangan ahli psikoanalis, disebutnya sebagai manifestasi sindrom burung phoenix.

Ketika itu, sebelas tahun lalu, 12-14 Mei 1998, saat pusat-pusat bisnis Jakarta sampai Solo yang merupakan wajah depan ekonomi liberal menjadi membara dan terbakar, dari asap hitam yang mengepul itu ternyata telah menerbitkan embrio gagasan jenial. Gagasan itu kini menjadi platform andalan para pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang berebutan tampil sebagai kampiun dalam mengusung mashab ekonomi kerakyatan.

Implementasi dari mashab ekonomi kerakyatan itu, pada satu sisi, dimaknai dengan berulangnya kejadian di Indonesia seperti di tahun 1974, 1982 sampai 1998. Ketika huru-hara membara di perkotaan terjadi, ketika rakyat miskin kota berani menjarah sana-sini guna mencoba memperoleh pembagian roti pertumbuhan ekonomi, bukankah itu merupakan salah satu wujud dari mashab “ekonomi kerakyatan” yang aktual dan nyata bagi rakyat Indonesia ?

Apalagi di antara tiga pasangan yang berlomba dalam Pilpres 2009, kita belum lupa tentang mereka, terdapat sosok-sosok yang ahli dalam merekayasa wajah “ekonomi kerakyatan” di atas. Huru-hara menjelang Soeharto jatuh 21 Mei 1998, menunjukkan hal itu pula. Bahkan huru-hara serupa juga sempat menjalar sampai di Timor Timur 1999 pula. Apakah semua itu kini mudah bagi kita untuk melupakannya ?

Filsuf dan kritikus kelahiran Spanyol, George Santayana (1863–1952), berujar : mereka yang tidak mampu mengingat masa lampau akan dihukum untuk mengulanginya. Fenomena legenda mengenai burung phoenix nampaknya memperoleh tempat yang sentosa dan nyata bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Tragedi itu berpeluang kembali untuk terjadi dan terjadi lagi, ketika memori lama kita mudah menjadi luntur, tatkala dibombardir oleh iklan-iklan dan janji-janji yang akan sangat gencar kita terima pada hari-hari mendatang ini.


Wonogiri, 16-21/5/2009

ke