Monday, July 25, 2005

Konon Sitkom “So What Gitu Lho ?!?” Epigon Dari “Friends”, Tetapi Di mana Kemiripannya ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com


Ternyata Lesbian ! Lelaki itu makhluk visual. Mengandalkan pada mata untuk jatuh cinta. Mudah kesengsem pada wanita-wanita cantik. Dari mata turun ke hati. Saya adalah salah satunya, dan sekaligus kena batunya.

Perempuan yang pernah membikin saya jatuh cinta kesan pertamanya nampak inosen. Kentara memproyeksikan dirinya sebagai insan yang lurus, sekaligus menjaga imej agar terlihat sebagai perempuan berstatus lajang. Suka mencopot-pakai cincin kawinnya pada saat tertentu. Rada paranoid. Ketika saya mengobrol dengan kolega kerjanya, ia kira kami sedang menggosip tentang dirinya. Ia menyembunyikan intelektualnya pula, yang berarti juga cenderung menyembunyikan hal-hal lain dari keadaan diri yang sebenarnya.

Saya memang bodoh. Lalu apa konsekuensinya ? Kaget. Kecewa. Bertanya-tanya. Patah hati. Sudahlah. Dasar nasib. Bukan jodoh. Upayaku kemudian untuk meraih kembali kenormalan (“Tornera la neve”, begitu istilah dari Andrea Bocelli), adalah dengan memelihara selera humor.

Termasuk memperbandingkan kemalangan saya tersebut dengan peristiwa pahit yang menimpa tokoh Joey Tribbiani (Matt LeBlanc) dalam salah satu episode sitkom “Friends” yang terkenal itu. Episode untuk musim ke-10 atau yang terakhir dari sitkom ini sekarang masih ditayangkan di RCTI, setiap Minggu malam, jam 23.00.

Semoga Anda masih ingat, tokoh Joey sebagai aktor opera sabun, keturunan Italia, dikarakterisasikan sebagai lelaki muda yang mata keranjang. Suatu saat ia dikisahkan terpesona berat kepada kecantikan Molly, seorang pengasuh bayi yang bekerja mengasuh Emma, anak balita hasil kumpul kebo Ross dan Rachel. Penampilan Molly memang nampak hot dan senang mengirim sinyal-sinyal bahwa dirinya available bagi pria yang berusaha mendekatinya. Kita sebagai penonton juga menjadi terhanyut karenanya.

Gairah asmara atau libido Joey langsung terbakar. Ross cepat-cepat curiga mengamati bahasa tubuh Joey. Ia pun secara terus terang meminta agar Joey tidak mengganggu pembantunya itu. Ross juga harus minta tolong sahabat lainnya, Chandler, agar menghalangi aksi Joey yang semakin gencar mengadakan pendekatan terhadap Molly.

Tetapi Joey malah tidak gentar. Ia membayangkan dirinya sebagai ksatria yang kini dimusuhi orang seluruh dunia gara-gara ingin memperoleh sang puteri yang membuatnya jatuh cinta. Cerita menjadi klimaks ketika teman wanita Molly, yang bernama Tabitha datang menjemput dirinya di apartemen Ross. Saat itu juga ada Joey dan Chandler. Molly dan teman wanitanya itu begitu bertemu langsung mesra, berciuman. Ternyata Molly seorang lesbian. Joey pun jadi patah hati, tetapi penonton meledak dalam ger-geran.

Komedi memang demikian formulanya. Istilahnya, bangunan setup-nya harus meyakinkan, sehingga kita sejak awal terbawa untuk mengikuti cara berpikirnya Joey yang menduga Molly adalah perempuan normal. Tetapi kemudian pada bagian klimaksnya, disebut dengan istilah punchline, kita dikejutkan dengan realitas yang tidak terduga-duga.

Formula baku lawakan, yaitu setup dan punchline tersebut, seingat saya, tidak atau belum pernah muncul sebagai wacana dalam reportase tentang lawakan di media massa kita selama ini. Dalam hiruk-pikuk Audisi Pelawak TPI 1 (API 1), formula itu hanya pernah keluar satu kali dari salah seorang pencelanya, yaitu Arswendo Atmowiloto.

Rumus pemicu untuk tertawa juga pernah diungkapkan oleh seorang novelis Inggris, Angela Carter (1940–1992). Ia pernah bilang bahwa comedy is tragedy that happens to other people. Komedi adalah tragedi yang terjadi pada orang lain.

Will Rogers (1879–1935), aktor dan humoris Amerika, malah menegaskan everything is funny as long as it is happening to somebody else. Semua hal menjadi lucu sepanjang hal tersebut menimpa orang lain. Begitulah, kita-kita ini, manusia yang banyak memiliki kekurangan ini, memang sangat mudah tertawa bila bencana jatuh menimpa bukan diri kita sendiri. Tragedi bagi Joey, adalah komedi bagi kita semua !


Outrageous Characters ! Nasib malang Joey mudah memancing kita tertawa karena sejak awal kita sudah mengenal karakter pribadinya. Joey, selain mata keranjang, penakluk wanita, ia sering pula digambarkan sebagai sosok yang tidak begitu cerdas. Serius mengidap penyakit telmi, telat mikir, sekaligus juga suka sok intelektual bermodalkan pada trik penguasaannya terhadap sesuatu pengetahuan secara hafalan. Menghafal memang keterampilan spesifik Joey sebagai aktor opera sabun. Tetapi ketika pengetahuannya tersebut sering muncul di luar konteks yang sesuai, kita kembali diguncang tawa.

Dalam khasanah literatur comedy writing, karakter Joey dan sepertinya lebih cocok untuk tokoh Phoebe Buffay (Lisa Kudrow), diberi label sebagai outrageous characters. Alias tokoh-tokoh urakan, nyeleneh, tetapi vital, karena kehadirannya sangatlah dibutuhkan dalam bangunan cerita komedi situasi. Karena tokoh-tokoh unik semacam ini mampu menghidupkan alur cerita dan memicu ledakan tawa

Sementara tokoh lain seperti pria berambut putih yang pelayan kafe Central Perk, tempat Ross dan kawan-kawan ngumpul dan ngerumpi tiap hari, yaitu Gunther (James Michael Tyler), menurut Ronald Wolfe dalam bukunya Writing Comedy : A Guide to Scripwriting for TV, Radio, Film and Stage (1992), punya label lain. Dirinya adalah sosok pemicu hadirnya Doberman Effect.

Sekadar catatan, Doberman adalah tokoh tolol yang muncul dalam komedi situasi berjudul “Sergeant Bilko” yang terkenal di Inggris. Sosoknya merupakan gambaran seorang figuran, cameo, yang muncul khusus untuk meluncurkan kata atau adegan yang memancing tawa. Hanya saja, berbeda dibanding para pelaku utama, diri mereka hanya muncul sekilas-lintas, lalu menghilang. Kedigdayaan Efek Doberman sebagai pemicu bom tawa ini belum nampak muncul atau digarap dalam sinetron SWGL di TransTV itu.

Karakter, pantas untuk dicatat, merupakan faktor paling penting (!) dari bangunan komedi situasi. Sebab komedi situasi, tidak seperti diduga oleh banyak orang, sekali-kali bukanlah pementasan berderet lelucon atau jokes yang dirangkai seperti irisan daging pada sebuah tusuk sate. Lelucon justru bukan hal yang paling penting dalam suguhan komedi situasi.

David Evans, penulis skrip untuk komedi situasi seperti “The Monkees”, “Love American Style” sampai “The Bill Cosby Show”, mengatakan dalam artikelnya, “The Seven Laws of Comedy Writing”, betapa hukum pertamanya menentukan bahwa seseorang penulis komedi harus berani, saat diperlukan, membuang lelucon ciptaannya yang terbaik sekali pun.

Mengapa ? Skrip komedi situasi memang mencakup lelucon, tetapi juga unsur-unsur lain seperti karakter, scene, situasi, pengembangan, dialog dan cerita. Sebuah lelucon dahsyat tetapi penempatannya dalam skrip keliru, justru dapat merusak sampai menghancurkan ritme dan aliran cerita secara keseluruhan.

Yang dibutuhkan, menurut Evans, bukanlah berondongan rangkaian lelucon, melainkan lelucon yang tepat pada momen atau tempat yang tepat pula. Karena ledakan tawa dari komedi situasi diharapkan muncul dari situasi yang terjadi dan dari tingkah laku para pelakonnya secara natural dan logis dalam menanggapi jepitan situasi yang terjadi.

Dengan latar belakang pemahaman terhadap pentingnya karakter tersebut, mungkin kita dapat memaklumi mengapa suguhan komedi situasi berjudul (jelek !) “So What Gitu Lho ?1?” (SWGL) di TransTV, sejak 16/7/2005 tiap Sabtu Malam, Jam 22.00, digembar-gemborkan di media sebagai epigon komedi situasi “Friends” garapan David Crane dan Marta Kauffman yang sukses ditayangkan 10 musim di stasiun NBC, Amerika Serikat.

Wartawan Kompas, Dahono Fitrianto (24/7/2005) sampai perlu mengingatkan pembaca bahwa tokoh-tokoh dalam SWGL memiliki kemiripan dengan Joey dan kawan-kawan. Sinetron dalam negeri ini menceritakan persahabatan enam anak muda yang tinggal di rumah kontrakan. Ada tiga cowok : Adam (Indra Herlambang), Ivan (Fedy Nuril) dan Leo (Arie K. Untung) dan tiga cewek : Rara (Cut Tary), Mia (Nadya Mulya) dan Putri (Sissy Prescilla). Adam adalah kakak kandung Mia.

Adam bekerja sebagai dosen dan ditampilkan seperti kutu buku, berpotongan rambut pendek, dan selalu rapi. Sementara Mia adalah gadis yang tergila-gila pada kerapian. Ivan adalah teman lama Adam sejak masa SMA. Rara adalah gadis cantik anak orang kaya yang agak kegenit-genitan, manja, pesolek, dan modis. Adam naksir berat. Putri adalah perempuan yang agak aneh, liar, suka musik metal, dan berasal dari keluarga broken home. Sedangkan Leo seorang yang konyol dan ingin terkenal melalui layar televisi.

Tidak dibutuhkan seorang genius pun, tulis Dahono Fitrianto, untuk segera melihat bahwa tokoh Adam adalah “jelmaan” tokoh Ross Geller (David Schwimmer) dalam “Friends”. Kemudian berturut-turut Mia adalah Monica Geller (Courteney Cox Arquette), Rara adalah Rachel Green (Jennifer Aniston), Ivan adalah Chandler Bing (Matthew Perry), Leo adalah Joey Tribbiani (Matt LeBlanc) dan Putri adalah Phoebe (Lisa Kudrow).

Tidak tanggung-tanggung (dan tentu saja tanpa malu-malu), tulis Dahono lebih lanjut, hampir seluruh elemen “Friends” ditampilkan secara polos di SWGL, mulai dari kebiasaan nongkrong di sebuah kafe yang tempat duduknya berupa sofa panjang empuk sampai musik pengiring film saat adegan jeda dengan menampilkan rumah kontrakan mereka tersebut dari luar kemudian di-zoom-in.

Tunggu dulu. Dari mana Dahono mampu mendeskripsikan karakter masing-masing tokoh dalam SWGL itu ? Dari kesan saat dirinya menonton pemutaran perdana SWGL, 16/7/2005, menyimak secara takjim monolog introduksi tokoh Rara (Cut Tary) yang sedang menelpon di awal tayangannya itu ?

Kalau betul demikian, Dahono sungguh seorang penonton sitkom yang hebat. Atau kita harus salut kepada sutradaranya yang mampu dalam waktu hitungan menit, idealnya memang demikian, telah berhasil menghadirkan karakter yang mampu dikenali penonton untuk keenam tokoh SWGL tersebut.

Tetapi saya ragu. Informasi tentang karakter-karakerr SWGL itu pasti berasal dari siaran pers stasiun TransTV. Saya sendiri kalau tidak disuapi informasi dari media massa bahwa tokoh-tokoh dalam SWGL disebut-sebut memiliki kemiripan dengan tokoh dalam “Friends”, kesulitan berat memahami karakter masing-masing dari mereka pada dua tayangan perdananya.

Termasuk tidak tertawa mendengar ucapan plesetan dari tokoh Leo saat ia membandingkan sabuk Harley Davidsonnya dengan milik Ivan, yang disebutnya buatan kota asalnya, Puerto Rico alias Purwokerto. Selain plesetan yang tidak lucu itu, Anda tahu kaitan antara Harley Davidson dengan Puerto Rico, atau pun Purwokerto, yang mampu memicu tawa ?

Peniruan Dangkal. Tayangan SWGL di TransTV patut dihargai dalam satu hal. Mereka berani memproduksi sinetron komedi situasi tanpa harus perlu menghadirkan sosok seorang pelawak pun. Ini kemajuan. Sebab selama ini, seperti tulis Dr. Sudjoko dari ITB ketika mengantar buku karya Arwah Setiawan, Humor Jaman Edan (1977), “kita selalu mencari pelawak dulu, atau artis-artis dulu yang mengaku gampang melucu, sebab toh sama saja dengan celoteh sehari-hari”. Padahal menurut pendapat Arwah Setiawan yang dia kutip, “kunci comedy itu pertama-tama ada di tangan penulis lakon. Nah, inilah yang sampai sekarang kita tidak tahu“

Kita juga tidak tahu masa depan tayangan SWGL ini. Tetapi sembari tidak mengecilkan peran penting para pelakonnya, masa depan SWGL sungguh bertumpu kepada seberapa hebat dan cerdas jalinan cerita sekaligus adonan lelucon yang digarap oleh tim penulisnya. Apa yang bisa dicatat dari dua tayangannya, 16/7 dan 23/7, yang lalu ?

Ada pepatah mengatakan, membuat penonton tertawa itu lebih sulit dibanding membuat mereka menangis. Ada pula rumus penulisan naskah komedi situasi yang pantas dicamkan : struktur adegannya berganti setiap tujuh halaman ketik naskah dan tiap halamannya harus mengandung 3 lelucon. Atau setiap 28 detik harus meledakkan satu lelucon.

Pepatah pertama, dalam SWGL, jelas nampak benarnya. Para kreator SWGL masih kesulitan menemukan suguhan yang mampu memicu tawa. Kemudian menyangkut rumus berikutnya, bila dihitung-hitung, nampak jelas bahwa SWGL masih jauh untuk mampu meraih kuota lelucon yang ideal. Ledakan tawa yang genuine jarang muncul dari sana. Ini baru mengandalkan hitungan kuantitas, belum lagi pada kualitas lelucon yang ditampilkan.

Tambahan lagi, walau penonton sudah dijejali masukan dari media massa bahwa pelaku-pelaku dalam SWGL merupakan “jelmaan” tokoh komedi situasi “Friends” yang terkenal itu, kita (sedikitnya saya sendiri) merasa tidak mudah menemukan kemiripannya.

Sekadar contoh, simak tuturan Rachel Green (Jennifer Aniston) ketika mengejek Ross yang tidak mau solider, ogah ramai-ramai bersama para sahabatnya untuk membeli lotere Powerball Lottery berhadiah 300 Juta Dollar .

Rachel membayangkan menang lotere itu, lalu berkhayal sambil mengejek Ross : “Sobat, ayo kita bareng-bareng naik helikopter untuk terbang menuju Tanjung Canaveral. Lalu kamu (Ross) hanya akan bilang, ‘Oh, saya tak ikut sobat. Kita akan bertemu di sana saja. Saya lebih senang memacu mobil Hyundai saya !’”

Ujaran Rachel itu yang dalam literatur comedy writing disebut sebagai formula comparison untuk memicu tawa, muncul dari bangunan naskah yang cerdas dan rapi. Dan maafkan saya, kalau saya pesimis bila lelucon yang cerdasnya hampir sama bakal dapat Anda temui dari seorang Rara (Cut Tary) dalam episode-episode SWGL mendatang. Semoga saja saya keliru.


Mana Konfliknya ? Harapan saya lagi : semoga di minggu-minggu mendatang penonton masih cukup sabar untuk mengenal secara lebih dalam karakter masing-masing tokoh dalam SWGL. Lalu sabar pula menunggu masing-masing dari mereka terbenam atau terbelit sesuatu konflik. Sebab konflik memang ibarat percik api yang membakar sumbu amunisi, lalu meledak sebagai rentetan hal tak terduga yang berpotensi memicu timbulnya tawa.

Ingatlah, bangunan cerita komedi situasi selalu sama : ketika terjadi sesuatu yang salah akan muncul konflik atau persoalan. Komedi kemudian muncul dari reaksi para tokoh-tokohnya dalam menanggapi masalah yang terjadi. Apabila tidak ada sesuatu yang keliru, tidak akan muncul masalah, dan tidak akan pula hadir komedi.

Dalam tayangan “Friends”, seperti cerita saat Joey jatuh cinta buta pada seorang cewek lesbian, merupakan sekadar contoh masalah yang muncul, menggelitik dan berhasil dieksploitasi oleh tenaga kreatifnya untuk mengundang tawa.

Semoga kreator SWGL mau mencamkan formula di atas. Termasuk mau mendengarkan jeweran dari Dahono Fitrianto : Di tengah kekayaan kultural dan karakter masyarakat Indonesia yang terdiri dari ratusan suku bangsa, yang tentunya memiliki kisah kehidupan yang khas, para penyaji hiburan kita terlihat kesulitan menemukan gagasan baru dari semuanya itu sehingga untuk membuat sitkom yang menceritakan kehidupan sehari-hari saja, masih diperlukan “inspirasi” dari sebuah sitkom yang menceritakan kehidupan masyarakat di belahan dunia lain.

Dahono Fitrianto mungkin agak khilaf. Para penyaji hiburan di televisi kita sebenarnya sudah berusaha mengeduk khasanah lokal, tetapi mereka kebablasan sasarannya. Mereka selama ini bukankah telah bersemangat menghadirkan jin, tuyul, setan bahkan genderuwo, antara lain untuk mereka eksploitasi habis-habisan guna memperoleh efek tawa ?

Wishnutama sampai produser SWGL Reno “Irin” S. Junirman dari TransTV, adakah Anda masih mau mendengarkan teguran yang mencerahkan di atas ? Jangan kecil hati, lho. Sebab teguran tersebut juga berlaku untuk semua pelaku dunia hiburan di televisi-televisi kita !



Wonogiri, 25 Juli 2005

1 comment:

  1. Waaaaaa... saya suka pas mbaca ini, ulasannya tajam dan mengena banget, dan saya perhatikan tulisan dari Mas Bambang ini sangat unik dan menarik, membuat saya terinspirasi utk menulis lagi, keren dah.. Salute buat Mas Bambang, okeh Keep Blogging ya Mas (walapun saya nda usah nyuruh kek gini sampeyan juga tetep nge-Blog)

    *salam kenal*

    ReplyDelete