Thursday, March 11, 2010

Komedikus Erektus ! : The Book

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Payah matematika. Majalah Forbes memasukkan 7 nama orang Indonesia yang masuk milyarder kelas dunia di tahun 2010.

Yang paling tinggi peringkatnya di antara ketujuh nama tadi adalah Budi Hartono dan Michael Hartono (posisi 258 dunia), pemilik perusahaan rokok raksasa Djarum Kudus. Ada nama Sukanto Tanoto, dan kemudian Chairul Tanjung, pemilik Bank Mega dan Transcorp. Bill Gates dari Microsoft berada di peringkat 2 dunia.

Mengapa mereka begitu kaya dan apa resepnya ? Tahun lalu di majalah yang sama, seorang wartawannya Duncan Greenberg menulis artikel berjudul “A Recipe for Riches.” Artikel yang membuat saya patah hati. Karena pada diri saya ternyata tidak ada ciri-ciri untuk menjadi kaya-raya.

Duncan Greenberg menyatakan bahwa ciri pertama seseorang yang punya bakat kaya-raya adalah memiliki orang tua yang kariernya terkait dengan matematika. “Kemampuan mengolah angka-angka merupakan kunci tipikal untuk menjadi seorang milyarder. Seringkali, keterampilan matematika itu diperoleh dari keturunan. Profesi yang lajim bagi kalangan orang tua para milyarder Amerika Serikat adalah mereka yang bekerja sebagai insinyur, akuntan dan pemilik usaha kecil dan menengah.”

Ciri kedua, adalah mereka yang lahir di bulan September. Dari 380 orang sosok kaya raya daftar milyarder Forbes itu selama tiga tahun, terdapat 42 orang yang lahir di bulan September, yang lebih banyak dibanding bulan lainnya.

Cukup sudah. Mampuslah kamu, Pak Greenberg.
Saya benci membaca uraian Anda.

Terutama karena ternyata orang tua saya tak ada sangkut paut dengan matematika. Bapak saya, seorang tentara dan ibu pengelola warung makan di Kodim Wonogiri, kios di pasar dan kemudian jualan bahan pakaian secara kredit di kantor pos Wonogiri. Lahir saya pun bukan September, tetapi Agustus. Tetapi kira-kira hal terpokok dari keterseyokan saya itu untuk menjadi insan rangkayo adalah, jujur saja, saya payah dalam matematika.

Selepas lulus di SMP Negeri 1 Wonogiri, saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta. Tahun 1970 sampai tahun 1972. Jurusan Mesin. Menengoki dokumen rapor saya, walau sudah dilaminasi plastik oleh ayah saya Kastanto Hendrowiharso toh bagian tengahnya sudah dimakan rayap, tercatat banyak sekali angka-angka yang tidak membanggakan bagi orang tua saat saya bersekolah yang terletak di Jetis itu.

Saat duduk di kelas 1 Mesin C, pada semester satu, untuk pelajaran Mesin Uap saya mendapat nilai 4. Mohon maaf kepada James Watt, bapak penemu mesin uap. Mohon maaf pula kepada Bapak Sumarto, guru saya. Yang saya ingat dari beliau, selain sosok kurus dan berkacamata, adalah keusilannya untuk mau mengomentari judul lagu yang saya cantumkan di bagian bawah kertas ulangan.

Saat itu saya menggemari duo Simon & Garfunkel. Pada bagian akhir kertas ulangan mesin uap itu saya tulis judul lagunya, “The Only Living Boy in New York.” Ketika kertas ulangan dikembalikan, ada tulisan tambahan dari Pak Sumarto : “But, why do you live in Yogya ?

Pelajaran Motor Bakar juga mendapat nilai 4. Saat itu, seingat saya, saya lebih mudah mengingat nama-nama “indah” para pembalap F-1 saat itu, seperti Clay Reggazoni atau Emerson Fittipaldi, daripada menghafal rumus-rumus pelajaran dari Pak Sardjiman itu.

Nilai kursi terbalik juga saya sandang untuk Ilmu Ukur Ruang dan Proyeksi. Turbin Uap, 5. Peraturan Keselamatan Kerja, 5. Praktek Bengkel, 5. Aljabar dan Ilmu Ukur Analyt, 5. Di semester satu itu ada 7 angka merah. Syukurlah hanya ada dua merah di semester kedua : Motor Bakar dapat 5 dan Ilmu Gaya, yang sebelumnya dapat 6 kini merosot jadi 4. Saya bisa naik kelas dengan terseyok-seyok.


Fast Forward 2010. Beberapa puluh tahun kemudian, ketika menjadi seorang blogger, ternyata saya tetap tidak bisa menghindari matematika. Di situs penerbit besar HarperCollins, saya menemukan posting berjudul “Lunchtime Laughs” yang menarik.

Tidak ada teksnya, hanya semata berupa diagram Venn, yang temuan tokoh logika Inggris, John Venn (1834–1923). Nampak diagram Venn di bawah ini memperlihatkan kaitan antara buku dan blogger di era digital ini.

buku,blog,blogger,penerbitan mati,penerbitan hidup,diagram venn

Diagram yang mengundang senyum.
Memajang sebuah ironi.

Betapa di tengah embusan keyakinan bahwa penerbitan cetak diambang kematian dengan hadirnya blog, yang terjadi justru para blogger berbondong-bondong ingin menerbitkan buku. Sehingga salah satu komentar yang muncul adalah, “apakah lingkaran sebelah kiri akan bergerak menuju ke kanan, atau, lingkaran yang kanan justru yang bergerak ke arah kiri ?”

Kita tengah berada di jaman yang masih serba bingung.
Saya juga.

Sebagai blogger, yang termasuk meluncurkan blog ini sejak Agustus 2004, saya menjalaninya dengan senang-senang saja. Tak ada sasaran khusus atau cita-cita. Ternyata pada tanggal 4 Februari 2010, kelucuan yang digambarkan dalam diagram Venn di atas benar-benar menyapa hidup saya sebagai seorang blogger. Email di bawah ini pemicunya :

“Saya Wijdan Fr. , manajer Penerbit Imania, Imprint baru dari Pustaka Iman. Saya baru saja berselancar mengunjungi Blog Anda: http://komedian.blogspot.com/. Jujur saya baca postingan blog Anda ini saya tertawa dan kepingkel-pingkel. Tak hanya itu yang saya dapat banyak informasi, pencerahan saya dapat dari tulisan-tulisan Anda.

Referensi tulisan Anda sangat kaya. Benar-benar high-joke saya bilang. Saya berminat untuk menerbitkan kumpulan tulisan-tulisan Anda di blog Anda ini. Judul blog Anda sangat bagus dan mencengangkan Komedikus Erektus, dan ini sangat cocok untuk judul buku Anda nanti. Semoga Anda berkenan.

Besar harapan saya Anda dapat memenuhi undangan ini, buku semacam dan pasti diminati pembaca Indonesia.”

Membunuh blog. Tawaran tersebut malah menimbulkan kecemasan pada diri saya. Apakah kemudian saya harus membunuh blog saya ini ? Kecemasan ini merujuk kepada seorang blogger muda, produktif menulis dan terkenal jenaka, begitu blognya diterbitkan sebagai buku maka ia “bunuh” blognya itu. Seorang aktor teater yang suka bermonolog menirukan lagak-gaya Soeharto, Harmoko dan Habibie, juga begitu. Ia membunuh blognya saat isinya diterbitkan menjadi buku.

Ternyata dalam mengobrol dengan Mas Wijdan, juga dalam meneliti isi kontrak, ternyata tak ada klausul agar blog saya tersebut dimatikan. Bahkan ia mengembuskan angin surga, “bila nanti terkumpul tulisan-tulisan baru, kita berpeluang menerbitkan buku sekuelnya yang kedua, dan selanjutnya.”

Ketika membaca-baca isi kontrak yang menyangkut jumlah eksemplar yang akan diterbitkan, saya sungguh tidak mempercayai. Saya merasa seperti sedang melambung ke awan, bak seorang selebritis dengan melihat jumlah itu.

Tetapi itu memang hak prerogatif penerbit, yang tentunya memiliki wawasan, pertimbangan dan keterampilan tersendiri dalam membaca pasar. Saya sebagai penulis, membantunya dengan bertugas mempersiapkan materi sebaik-baiknya. Termasuk semula berambisi agar semua isi blog ini diterbitkan semua. Perkiraan Mas Wijdan, itu bisa mencapai 1000 halaman. Agar sesuai dengan dinamika pasar maka memang harus dilakukan seleksi.

Juga penambahan isi, berupa isu-isu yang mutakhir. Berhubung lelucon dalam blog saya ini sebagian berupa fake news, berita yang seolah-olah benar walau sebenarnya palsu, plus lebay sebagaimana karakter khas suatu lelucon, heboh skandal Bank Century harus tidak dilupakan. Maka dalam bab awal parade lelucon seputar heboh Pansus DPR Terkait Bank Century menjadi gebrakan pertama isi buku tersebut nantinya.

Bila terbit, akan menjadi buku humor saya yang ketiga. Tetapi dalam penerbitan kali ini saya memperoleh wawasan baru, mengenai sebuah ritual, yaitu pemuatan pernyataan dari mereka yang sukses guna mendukung mitra yang juga sukses. Siklus win-win yang menarik.

Saya yang merasa sukses karena berhasil menulis buku ini, telah meminta kerjasama dukungan kepada pelbagai fihak, untuk menulis endorsement untuk buku saya ini. Bukti sukses mereka akan terpajang di buku saya, guna menunjang sukses diri mereka dan juga sukses saya pula. Pelbagai fihak yang saya kontak selama ini antara lain :

Andrias Harefa, Antyo Rentjoko, Ayu Utami, Arswendo Atmowiloto, Budiarto Shambazy, Danny Septriadi, Darminto M Sudarmo, Denny Chandra, Diana AV Sasa, Donny Maulana, Effendi Gazali, Harris Cinnamon, Ira Lathief, Isman H Suryaman,Jaya Suprana, Jerry Gogapasha, Jonie Hermanto, Onno W. Poerbo, Sarlito Wirawan Sarwono, Sholahuddin Norazmy, Welnady, dan Wimar Witoelar. Daftar ini bisa bertambah.

Terima kasih untuk Antyo Rentjoko, Danny Septriadi, Darminto, Diana AV Sasa, Jerry Gogapasha, Jonie Hermanto SQL, Harris Cinnamon, dan Bang Wimar, untuk kebaikan Anda. Saya yakin, nama-nama lain di atas akan segera menyusul. Sukses selalu untuk Anda !

Untuk menyertai penerbitan buku tersebut saya telah meluncurkan blog baru, Komedikus Erektus ! : The Book. Dalam blog ini saya akan berbagi cerita terkait latar belakang buku tersebut, kaitan antara saya dengan para endorsers, cerita masa lalu saya sebagai penulis, blogger, dan tentu saja tentang dunia buku, blog dan komedi.

Kalau Anda memiliki komentar dan saran, saya tunggu di :
humorliner (at) yahoo.com.

Terima kasih.

Moga-moga buku itu nanti dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Walau saya realistis, buku tersebut tidak akan membuat saya sebagai orang Indoneia yang akan masuk dalam daftar Forbes sampai abad 22 mendatang !


Wonogiri, 11/3/2010

2 comments:

  1. udah terbit belum mas? siap-siap ngramed nih kalau udah :p

    btw, iya tuh temen kuliah saya si isman itu sejak buku keempatnya terbit blognya jadi ga aktif :p

    ReplyDelete
  2. Thanks, Kang Jodhi. Harap sabar, nanti saya kabari. Tentang Isman, wah, menarik juga ya ? Kira-kira apa penyebabnya....

    ReplyDelete