Thursday, April 21, 2005

Berbiak Pelawak

Oleh : Bambang Haryanto

Kelompok lawak Glopot asal Semarang telah gosong dalam pentas API di TPI (15/4) yang lalu. Nampak diilhami film kartun Donal Bebek, mereka bertiga pentas dengan dandanan sebagai bebek-bebek, tetapi nyerocosnya seputar tema dunia selebritis yang diajukan oleh panitia. Pendekatan Glopot yang berakibat fatal.Mereka, seperti halnya banyak kelompok lawak di negeri ini, sering melupakan prinsip dasar lawakan yang utama, yaitu harus berlandaskan premis kebenaran. Lawakan memang harus merefleksikan kebenaran, kenyataan, karena audiens akan tertawa apabila mereka merasa mengetahui objek lawakannya.

Lihatlah, dramawan Butet Kertarajasa. Walau isi kalimatnya sama sekali tidak ada yang lucu, tetapi dengan hanya menirukan ucapan khas Pak Harto atau Harmoko, audiens sudah meledak dalam tawa. Butet tidak melakukan rekayasa, ia hanya mengedepankan kenyataan. Persis seperti ulah burung beo yang terlatih, ketika beo menyanyikan sesuatu lagu atau memberi salam, kita sudah tertawa dibuatnya !S

ementara itu bebek-bebek Glopot ketika berbicara seputar gaya hidup kaum selebritis menjadi tidak lucu, karena premisnya cacat. Tidak meyakinkan. Penonton sulit mencari-cari perbendaharaan pengetahuan atau pengalaman pribadi atau pun bersama untuk menemukan kaitan antara bebek-bebek dengan dunia selebritis. Umpama saja temanya bebas dan bebek-bebek Glopot itu tampil untuk hanya melucukan dunia binatang bebek, baik yang berkaitan dengan binatang lain, manusia, sampai sepeda motor misalnya, mungkin nasib Glopot akan lain.Kedodoran dalam hal fondasi lawakan, tentu saja Glopot tidak sendirian.

Pada pentas sebelum dan sesudahnya, sebagian besar kelompok lawak peserta kontes API ini berusaha menjual lawakan dominan dengan modal utama plesetan kata-kata sampai ucapan yang asosiatif ke wilayah-wilayah biru (porno). Penulis Eswe Winarto sampai mengatakan bahwa para kelompok lawak generasi baru itu tidak tampil dengan gaya baru, gaya yang belum pernah dimainkan pendahulu mereka. Materi lawakan, walau tematis, disebutnya tak jauh dari dari lawakan model Srimulat, Warkop DKI, Bagito, Ngelaba atau Chatting. Ada yang mencoba mengisi lawakan dengan kritik sosial, namun masih sebatas bumbu penyedap, bukan masakan utama. Ia pun pesimis bahwa dari arena API itu akan muncul grup lawak baru dengan gaya dan penampilan baru pula ! (Suara Merdeka,6/3/2005).

Apa yang salah dari dunia lawak kita ? Wartawan budaya Kompas, Efix Mulyadi (Kompas, 30/8/2001) menulis bahwa dunia lawak kita miskin orang-orang pintar. Mencolok tidak ada kesungguhan dan energi untuk mengembangkan lawak, di mana penulisan naskah lakon komedi sangat tersendat dan tidak menarik minat para penulis pintar dan berbakat. Akibat fatalnya, dunia lawak kita terus saja berjalan di tempat.

Kendala itu bisa dimaklumi karena komedi adalah seni yang rumit. Penulisan naskah komedi ibarat jazz dalam musik, yang harus inovatif, seringkali sarat pemberontakan, ketimbang berlaku normal. Serta cenderung menghancurkan tradisi yang ada ketimbang membebeknya. Itulah kata Gene Perret, penulis lawakan komedian Bob Hope yang terkenal. Walau pun demikian, imbuh Perret, penulisan naskah komedi dapat dipelajari. Menjadi komedian juga dapat dipelajari. Kalau kita sudi melebarkan wawasan terhadap dunia komedi di negara-negara maju, tidak sedikit ditemui pelbagai workshop untuk calon komedian dan workshop pelatihan bagi penulis naskah-naskah komedi.

Problem kita kemudian : bagaimana mencari dan menghimpun orang-orang pintar untuk mau berkiprah di dunia komedi kita ? Kontes semacam API di TPI, haruslah dibarengi dengan kegiatan yang bermenukan intelektualitas. Misalnya menyelenggarakan workshop penulisan naskah komedi sampai kiat-kiat menjadi komedian. Untuk membuka wawasan yang lebih luas, sudah saatnya bila didatangkan pembicara dari luar negeri.

Upaya pembelajaran inilah yang selama ini sangat terbengkalai dalam dunia lawak kita.Terlebih lagi dunia komedi tidak sama dengan dunia tarik suara. Dunia komedi memiliki tuntutan yang jauh lebih keras. Sebab dalam dunia tarik suara sebuah lagu dapat dan halal secara mudah diulang-ulang, untuk dinyanyikan oleh beragam penyanyi, dalam pelbagai kesempatan.

Tetapi lawakan tidak. Kalau Anda melucukan sesuatu, mungkin di antara kawan-kawan ada yang menyeletuk bahwa ia sudah pernah mendengarnya. Dalam dunia menyanyi, tak ada penonton yang berteriak melarang seseorang menyanyikan sesuatu lagu karena lagu tersebut pernah didengarnya. Realitas ini menandakan bahwa tuntutan orisinalitas yang tinggi terhadap materi lawakan, membuatnya terasa semakin langka dalam peredaran. Apalagi materi lawakan baru, ketika begitu tampil di media akan langsung menjadi usang. Faktanya, tidak hanya lawakan spesifik tersebut, juga premisnya, bahkan semua lawakan yang mirip juga ikut menjadi usang karenanya. Materi lawakan kita, yang berupa plesetan, sebenarnya termasuk kategori lawakan yang telah pula lama daluwarsa !

Tuntutan orisinalitas terhadap materi lawakan tersebut membuat banyak kelompok lawak kita tak punya nafas panjang. Apalagi dengan mengambil tamsil dari Stephen Covey, para pelawak kita selama ini ibarat angsa bertelur emas. Begitu melejit, angsa tersebut mendapat tekanan kuat dari publik agar terus-menerus bertelur emas secepatnya. Para pelawak kita dengan sikap mental aji mumpung, menanggapi kebutuhan tadi dengan tak kalah rakusnya. Mereka jadi mudah lupa hal yang sangat penting bahwa angsa itu juga butuh makan, butuh asupan gizi yang berkualitas tinggi. Misalnya ide-ide, suntikan kreativitas, memperluas wawasan, termasuk memperoleh suntikan rohani. Tanpa adanya keseimbangan antara masukan dan luaran, angsa-angsa yang pernah menjadi petelur emas tersebut cepat layu, mandul, jalan di tempat dan mati suri sekali pun. Silakan mendata nama-nama kelompok pelawak yang kini tinggal nama, walau pun personil-personilnya masih hidup berseliweran di tengah kita.

Kini sudah saatnya dunia komedi kita berkaca dari dunia film kita saat ini. Karena dalam dunia sineas kita tersebut kini telah muncul pekerja-pekerja baru, bahkan lulusan perguruan tinggi luar negeri, dan memiliki tradisi olah intelektual yang canggih. Hal serupa nampaknya sedang terjadi, misalnya dalam dunia hiburan sulap, penulis naskah sinetron, pemusik sampai kreator videoklip.

Jawa Tengah dan Yogyakarta yang dalam ranah lawakan kesenian tradisional selama ini banyak memunculkan pelawak legendaris seperti Basiyo, Pak Guno, D2S, Marwoto, Yati Pesek, pemikir lawak almarhum Teguh Srimulat sampai Arswendo Atmowilotoo, Basuki sampai Mamiek Prakoso, kini saatnya bangkit. Industri televisi yang marak sangat haus akan bakat-bakat baru, baik penulis lawak atau pelawak, dalam jumlah yang luar biasa.

Jadi sungguh mengherankan bila insan-insan perguruan tinggi kita, baik lembaga pendidikan tinggi kesenian seperti STSI (Solo) sampai fakultas-fakultas sastra di pelbagai perguruan tinggi negeri atau swasta DIY/Jawa Tengah, enggan untuk proaktif turun tangan guna mencari solusi atas persoalan kronis dunia komedi kita yang terlalu lama berjalan di tempat ini !


Bambang Haryanto, penulis komedi dan dua buku kumpulan humor. Alumnus UI.

Friday, April 15, 2005

Sersan Prambors 2005

Oleh : Bambang Haryanto


Masihkah Anda mengenal nama Sersan Prambors ? Hari Minggu (10/4/2005) sebagian besar dari mereka tampil sebagai bintang tamu dalam acara Ceriwis ..Yo Wis di stasiun televisi TransTV yang dipandu oleh Indi Barends.

Bagi generasi saat ini, sekedar mengingatkan, Sersan Prambors adalah nama kelompok pengisi acara bebodoran, lawakan, untuk Radio Prambors, Jakarta, pada dekade 1980-an. Kebetulan pada saat itu saya berkuliah di Universitas Indonesia, suka menguping radio Prambors, tetapi terus terang tidak begitu intensif atau khusuk mengikuti acara lawakan yang satu ini.

Kelompok ini terdiri dari Sys NS, Pepeng Ferasta, Krishna, Mukhlis, dan satu lagi yang sering bergaya sebagai preman. Istilah “sersan” merupakan singkatan dari “serius tapi santai”, yang di tahun 80-an sering menjadi buzz word atau bahasa gaul banyak kalangan saat itu.

Kalau tidak salah, acara Sersan Prambors ini diupayakan menjadi pengganti acara lawakan sebelumnya, Warung Kopi Prambors dengan pengisi acara Dono, Kasino, Indro, Nanu Mulyono (adik Nanu, Ipiet, adalah teman satu kelas saya di JIP-FSUI), juga Rudy Badil yang kini wartawan Kompas. Almarhum Dono, almarhum Kasino dan Indro kemudian berganti merek menjadi Warkop DKI !

Acara Sersan Prambors kemudian juga diangkat ke layar lebar, dibintangi oleh artis seksi saat itu, Nena Rosier. Lagu yang terkenal dalam film tersebut antara lain, “Ninety Nine Red Baloons”. Sepertinya kurang berhasil, misalnya bila dibandingkan dengan film-filmnya Warkop DKI.


MODAL EJEKAN. Saya kurang menyukai lawakan model Warkop DKI atau pun Sersan Prambors ini. Seperti halnya Dono yang pernah jadi dosen di UI, sementara Mukhlis (pernah jadi pemimpin redaksi majalah bisnis) dan dianggap sebagai otaknya Sersan Prambors, entah kenapa, mereka-mereka itu kurang mampu menghasilkan lawakan yang cerdas dan pantas untuk dikenang (memorable) lebih lama.

Pernah suatu saat, ketika kampus saya Fakultas Sastra Universitas Indonesia mengadakan malam kesenian di Taman Sastra UI Rawamangun (kalau siang di taman ini banyak nongkrong WTS : Wanita Taman Sastra. Salah satu yang terkenal saat itu adalah penyanyi Christine Panjaitan, peragawati Pinkan Vemy Runtu, sementara favorit saya St. Hanifah Misa Lestari dan Dwiretno Setiarti), antara lain tampil mengisi acara adalah Pepeng Ferasta. Saat itu Pepeng masih kuliah di Jurusan Antropologi FSUI, yang beberapa waktu kemudian jurusan ini bergabung di FISIP UI. Pepeng tampil melawak. Seperti halnya tipikal lawakan di televisi, menu pokoknya adalah saling mengejek antara penampil lawak satu dengan yang lainnya.

Suatu saat lain, Krishna menjadi emce lomba lukis anak-anak di Hotel Sahid Jaya, 1986. Adik saya Basnendar, saat itu SMP, sengaja didatangkan dari Wonogiri untuk ikut lomba. Ia menang, tetapi oleh ketua panitia, yaitu Rae Sita (artis merangkap Humas Hotel Sahid Jaya), kemenangan Basnendar itu digugurkan. Karena lomba ini, katanya, khusus untuk anak-anak Jakarta. Merespons ini, ketika Basnendar tampil ke panggung, justru emce Krishna, mungkin bertjuan mengundang tawa, tetapi meledek penampilan Basnendar dengan pemakaian kata-kata berdialek Tegal.


MASIH DICARI : PELAWAK SEJATI. Saat tampil di TransTV, hari Minggu itu, mereka (Sys NS tak hadir) memang sudah nampak tidak muda lagi. Pepeng Ferasta, rambutnya pun sudah hampir semua memutih. Kelompok ini pun sudah lama bubar. Sokurlah, mereka belum dilupakan.

Yang bisa dipelajari dari mereka, agaknya, kelompok lawak Sersan Prambors tersebut seperti halnya kelompok-kelompok lainnya di Indonesia, sepertinya terlupa untuk belajar dan memiliki rasa ingin tahu kuat tentang kriteria utama yang dibutuhkan oleh sosok pelawak sejati. Pelawak sejati adalah mereka yang mampu menggelar kesakitan, duka nestapa, obsesi patetik dan pelbagai cacat-kekurangan diri mereka di depan audiens, dan bahkan dengan sukarela membedahnya pula.

Mungkin baru Pak Basiyo, Bendot atau Ateng Suripto, yang kesemuanya kini almarhum, merupakan sebagian kecil saja dari pelawak Indonesia yang mampu mencapai tataran luhur sebagai sosok pelawak yang sejati !


Wonogiri, 12 April 2005

Thursday, March 17, 2005

Komedian Muslim Sebagai Syuhada Baru Di Amerika Serikat : Babak Baru Benturan Peradaban Islam Vs Amerika

Oleh : Bambang Haryanto


MODEL TALIBAN. Diselimuti bayang-bayang sikap bermusuhan dan prasangka rasial berat akibat tragedi 11 September 2001, di Amerika Serikat meletus benturan peradaban baru antara Islam vs Uncle Sam.

Inilah gambaran front tersebut : Sesosok pria berbusana muslim, berjenggot lebat, memakai kopiah hitam dan bertampang model pejuang Taliban, menaiki panggung. Ia memberi salam : “Assalamu alaikum !”. Tidak ada salam balik yang berarti. Pria tambun itu segera menimpali, “Bagi Anda yang tidak memahami arti salam saya tadi, akan saya beritahu. Artinya adalah : Saya akan membunuh Anda semua !”

Penonton meledak dalam tawa.

Pejuang Islam berpeluru lawakan tadi adalah Azhar Usman (28). Komedian, juga pengacara dan aktivis itu adalah lulusan BA Ilmu Komunikasi dari University of Illinois dan Juris Doctorate, cum-laude, dari University of Minnesota Law School. Pujian koran bergengsi The New York Times terpajang di situsnya (www.azhar.com ) : “He is on stage, killing !”.

Pujian itu menunjukkan, sebagaimana komedian cerdas lainnya, Azhar Usman terampil mengolah makna ganda suatu kata. Kata membunuh (killing) dalam lingo komunitas komedian biasa diartikan sebagai lawakan yang disambut ger-geran, secara cerdas ia tempatkan dalam konteks suasana batin warga Amerika Serikat yang menaruh kebencian dan permusuhan terhadap Islam akibat serangan teroris 11 September 2001.

Azhar Usman, keturunan India kelahiran Chicago, mengaku, “Saya Muslim Amerika. Ya sholat, tetapi juga makan hamburger”, candanya. “Saya keponakan Osama Bin Ladin. Mereka menyebut saya sebagai Bin Laughin” (Bin Ngakak).

Menanggapi budaya munafik masyarakat AS dalam mempersepsikan dunia Islam, Azhar menjelaskan bahwa di beberapa negara Islam memang ada yang diperintah raja. “Tetapi, apakah kita (di AS) hidup di Abad 15 ? Saya tak bisa membayangkan hidup di negara dimana rakyat memilih presiden berdasar siapa dulu ayahnya !”. Audiens kembali tergelak. Mereka tahu kini George W. Bush yang kena tembak.


Lawakan Azhar Usman tidak pernah menyinggung materi-materi biru atau porno. Satirnya juga merambah ke sistem peradilan. Sindirnya, “warga kulit hitam di AS merasa tidak pernah diadili secara fair. Tetapi kami warga keturunan Arab dan muslim bahkan tidak pernah sekali pun memperoleh peradilan !”. Ia pun melucukan terorisme, kegemaran sensasi di kalangan media, tata cara ibadah, politik internasional sampai prasangka agama.

“Saya berharap, lawakan saya adalah lawakan cerdas. Ini adalah cara untuk memanusiawikan apa yang tersembunyi di balik pintu. Saya pikir, bagi kalangan non-muslim, masjid merupakan bangunan yang sangat misterius. Saya kira mereka sangat terganggu karena menara-menara mesjid mirip rudal”


MENGHAPUS STEREOTIP. Azhar Usman adalah bagian dari munculnya genre baru dunia komedi muslim di dunia Barat. Nama lainnya, Ahmed Ahmed asal California kelahiran Mesir, Bryant Reginald Moss (Preacher Moss), warga Afrika-Amerika, Maysoon Zayid asal Palestina yang lahir di New Jersey, juga komedian wanita Tissa Hami keturunan Iran.

Sulayman S. Nyang, profesor Kajian Afrika dari Universitas Howard dan cendekiawan muslim Amerika seperti dikutip Caryle Murphy dari Washington Post (25/4/04), menjelaskan bahwa pemunculan komedian-komedian Muslim-Amerika merupakan pertanda bahwa komunitas Muslim telah berasimilasi dengan gaya hidup Amerika dalam hal memperolok diri, membuat satir, yang merupakan bagian dari budaya masyarakatnya.

Seperti para pendahulunya, pelawak berketurunan Yahudi, Irlandia dan Afrika, komedian muslim juga menyuguhkan humor etnis. Tujuannya tidak hanya untuk memancing gelak, tetapi juga untuk mempromosikan penerimaan Islam ke dalam mainstream masyarakat Amerika.

Melalui media hiburan, komedian muslim berkeyakinan mampu mengikis pandangan diskriminatif berdasarkan stereotip di kalangan non-muslim. Juga diharapkan mampu memberikan penyadaran kepada kalangan muslim sendiri mengenai jati diri, termasuk perilaku merusak diri sendiri dan kekurangannya.

“Misi saya sebagai komedian adalah membuat penonton tertawa. Tetapi kalau saya mampu membuat mereka berfikir, itu merupakan bonus tambahan”, tutur Tissa Hami. “Saya ingin menunjukkan bahwa umat Islam bukanlah teroris, tidak semuanya fanatik. Juga tidak semua wanita muslim itu tertindas dan terbungkam”, lanjutnya.

Tissa Hami bergelar Master Kajian Internasional dari universitas ternama dan kini bekerja sebagai staf admisi di Kennedy School, Universitas Harvard. Latar belakang asalnya dari Iran dan referensi buruk hubungan antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini, sering jadi lawakannya. Tissa mengancam, “kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, mereka akan saya jadikan sandera!”


ALLAH MADE ME FUNNY. Komedi berorientasi muslim di AS sedang naik daun. Terjadi peningkatan permintaan, baik oleh komunitas muslim atau pun kelompok non-muslim. Sineas wanita Kanada Zarqa Nawaz sampai berencana memproduksi film yang ia sebut sebagai “terrodies”, atau komedi tentang terorisme. Bahkan perusahaan filmnya pun ia namakan unik : FUNdamentalist Film.


Bulan Mei 2004 juga mulai digelar tur komedi baru keliling Amerika, Allah Made Me Funny, The Official Muslim Comedy Tour. Penggagasnya Preacher Moss, sebelumnya sohor sebagai penulis Saturday Night Live yang didukung komedian Azeem dan Azhar Usman. Misi tur untuk menunjukkan keberagaman kaum muslim dan menunjukkan bahwa warga Afrika-Amerika merupakan salah satu kelompok besar warga Muslim di Amerika Serikat.

“Ide tur ini adalah menyediakan wahana di mana kaum muslim dan non-muslim dapat saling merasa nyaman, relevan dan inklusif dalam pengalaman bersama ketika humor yang terjadi mampu menjembatani jurang-jurang bias, sikap tidak toleran dan penyakit sosial lainnya”, tutur Moss kepada Hannah K. Strange dari UPI (8/6/2004).

Ia katakan, sebelum peristiwa 11 September 2001, isu yang dominan dalam komunitas muslim AS adalah isolasionisme. “Kita berada di tengah budaya Amerika tetapi kurang progresif dalam menyatakan diri. Kini seluruh komunitas muslim harus memperbaiki diri, tumbuh, dan kita menginginkan menjadi bagian dari proses. Komedi adalah sarana untuk menenangkan, melucuti senjata dan membangun jembatan melalui humor.”


Terlebih setelah kejadian 11/9 Moss prihatin berat, karena Islam dibajak segolongan orang untuk kepentingannya sendiri. Kini saatnya muslim Amerika menemukan kembali tujuan, kemuliaan dan kemanusiaannya dari hal-hal nonsens atau pun kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Komedian Azeem menambahkan, “Siapa saja dapat membunuh fihak yang tidak berdosa...tetapi itu bukanlah perilaku muslim karena tidak Islami”.


POLISI MORAL . Apakah lawakan diperbolehkan dalam Islam ? Menurut Azhar Usman, Nabi Muhammad adalah pribadi yang suka tersenyum dan bercanda. Dalam cerita sufi, juga terdapat tokoh Nasarudin Hoja yang termashur dengan lawakannya yang cerdas. Menjadi komedian, menurutnya, juga diperbolehkan oleh syariah Islam. Pedoman bagi dirinya adalah melawak untuk membuat orang tertawa dan dilandasi niat mulia. Walau ia juga tahu, ada kelompok konservatif Islam yang tidak menyetujui terjun dia sebagai komedian muslim.

Mungkin itulah bedanya, simpul Azhar Usman, dirinya sebagai muslim Amerika merasa nyaman untuk mentertawai diri sendiri dan umat muslim lainnya di dunia. Contohnya, “momen paling mengerikan dalam hidup sebagai karyawan muslim (di Amerika) adalah saat berwudlu dan tertangkap basah oleh bos ketika sedang mencelupkan kaki kita di wastafel”.


Bagaimana dunia lawak muslim di Indonesia ? Kiranya Gus Dur, Mustofa Bisri atau Emha Ainun Nadjib sebagai intelektual, sumber inspirasi dan pencetus humor-humor cerdas, kini tak boleh lagi hanya sendirian. Sangat dinantikan komedian-komedian muslim profesional lahir segera di Indonesia.


Siapa tahu dengan meneladani Azhar Usman dan kawan-kawan, akan terbuka perspektif dan wajah segar baru tentang Islam. Apalagi akhir-akhir ini sebagian umat Islam seperti justru senang bersikap reaktif, daripada proaktif, dengan tampil menjadi polisi moral dalam menyikapi sebagian karya-karya kreatif anak bangsa.


Wonogiri, 16 September 2004

P.S. Tulisan ini juga dimuat di situs blog saya Esai Epistoholica No. 12/Oktober 2004, sejak 17 Oktober 2004.

Tuesday, March 15, 2005

You Broke My Heart, Erika !

Oleh : Bambang Haryanto



BUKU YANG MEMBUATKU MENANGIS. Hari ini, 14/3, aku bisa kembali melakukan olah raga jalan kaki pagi. Ditemani siaran radio BBC lewat telepon seluler, yang antara lain yang mewartakan bahwa Cina merebut 4 dari 5 gelar di All England. Indonesia pulang dengan tangan hampa. Juga berita Newcastle United dan Blackburn Rovers berhasil lolos ke semifinal Piala FA, menyusul Arsenal dan MU.

Jalan kaki pagi adalah ritus, ah apa bisa disebut ritus, karena aku akhir-akhir ini tidak begitu teratur mengerjakannya. Walau pun demikian, sejak 1989, aku melakukannya, sebagai perayaan pribadi setelah aku berhasil berhenti merokok (Oh, BBC juga mewartakan pabrik rokok Sampoerna diakuisisi oleh pabrik rokok raksasa AS, Phillip Morris, produser Marlboro. Indonesia adalah surga bagi the merchant of death asal AS itu, bukan ?).

Kalau di Jakarta, favoritku untuk jalan kaki pagi di hari Minggu adalah area seputar lapangan pacuan kuda, di Pulomas. Ada senam disko. Juga senam pernafasan. Pagi cerah, rumput menghijau, suara ringkik dan derap kaki-kaki kuda, derai suara anak-anak atau teriakan anak-anak ABG main bola. Sementara aku, setelah muter lapangan 3-4 kali, di tribun sesekali tenggelam dalam lembar demi lembar Being Digital-nya Nicholas Negroponte. Buku teknologi informasi ini saking optimistis isinya sampai membuatku rela menangis, mengalirkan air mata.

Jalan kakiku pagi ini dengan penampilan baru. Semalam aku mencukur habis kumisku. Melirik kliping koran yang tertempel di dinding, Radar Solo (29/9/2000), yang memajang fotoku saat menerima penghargaan MURI, ternyata aku telah memelihara kumis itu selama lima tahun terakhir. “Karena tidak ngopeni istri, maka aku ngopeni saja kumis ini”, kilahku sambil berha-ha bila ada seseorang yang usil “mengusik-usik” status bujangan tuaku ini.

Selain menebas habis kumis, semalam aku mencoba mengirim email kepada salah seorang kandidat walikota Solo. Namanya DR. Achmad Purnomo, APT. Dosen di UGM Yogyakarta. Aku tak tahu account email Pak Purnomo. Aku pernah mencoba mengobok-obok situs UGM, tapi tak ketemu jua. Universitas dalam negeri masih sangat payah dalam menfasilitasi saluran informasi untuk menghubungkan sivitas akademikanya dengan masyarakat luas.

Berbeda, misalnya, dengan perguruan tinggi di AS. Ketika seorang mahasiswa pasca sarjana, Roby Muhamad dari Universitas Columbia di New York menulis artikel mengenai ilmu jaringan di Kompas (5/9/2003), maka lewat Google saya segera memperoleh data komplet dari sosok yang bersangkutan. Baik biodatanya, alamat suratnya, sekaligus alamat emailnya. Saya kirimkan email, diskusi ilmiah pun antara kita terjadi. Bahkan saya mendapatkan kopi PDF artikelnya yang telah dimuat di majalah Science yang bergengsi. Benarlah kata pustakawan dan penulis Daniel Boorstin, teknologi komunikasi mampu mendekatkan yang jauh tetapi sekaligus menjauhkan yang dekat.

Rumah DR. Achmad Purnomo, APT di Solo itu berseberangan dengan warnet, dimana antara dirinya dengan pemilik warnet itu masih ada kaitan famili yang dekat. Sekali lagi, aku tak tahu account email Pak Purnomo, tapi tahu account email warnet tersebut yang aku catat dari desktop komputer-komputernya. Aku kirim emailku ke warnet itu , dengan harapan mereka sudi mem-forward kepada Pak Pur bersangkutan. Ternyata email warnet tersebut bodong adanya. Emailku gagal. Dasar nasib. Mungkin aku harus coba lagi dengan cara snail-mail saja !

Emailku itu sebenarnya cuman berisi rasa gatal saya melihat strategi komunikasi dia dalam mengenalkan diri melalui media massa Solo akhir-akhir ini. Aku belum mengenalnya, demikian juga diriku tak dia kenal. Aku mengenalnya hanya dari media massa. Satu contoh saja : ia muncul dengan foto dalam iklan keroyokan guna mengucapkan selamat Dies Natalis UNS Sebelas Maret. Data dirinya hanya menyebutkan nama DR. A. Purnomo, alumnus UGM dan pengusaha sukses Solo.

Hemat saya data itu harusnya ditambah alamat, nomor telepon, sebaiknya juga email. Tetapi strategi komunikasi model mumi ini, yang bersedakap, berbalut ketat kain dan tidak mau dijamah, juga umum dijumpai dalam iklan-iklan pencalonan kepala daerah yang makin marak akhir-akhir ini. Iklan-iklan mereka sungguh untouchable, tidak membuka peluang interaksi lebih lanjut antara diri mereka dengan konstituennya.

Orang-orang yang belum punya mindset dunia digital berpikir bahwa pemunculan iklan atau berita di media berbasis atom, alias kertas, merupakan terminal akhir suatu informasi. Padahal, agar pesan informasi tersebut makin komprehensif dan tidak bias, pemuatan itu hanyalah awal. Lanjutannya adalah percakapan, interaksi langsung, antara pencetus dengan konsumen informasi. “Markets are conversations”, begitu kredo Rick Levine, Christopher Locke , Doc Searls dan David Weinberger dalam Cluetrain Manifesto : The End of Business as Usual (1999), manifesto baru untuk dunia bisnis dalam era digital.

Kegatalan saya yang lain, adalah melihat Pak Purnomo itu nampaknya memakai “kendaraan” Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA) Solo, di mana ia juga ketuanya, sebagai sarana untuk sosialisasi diri menuju kursi AD-1, Walikota Solo itu. Apakah strategi kampanye semacam ini bukan sebuah blunder besar ?

KAGAMA itu bukankah kuat mencitrakan Jogja ? Apakah isi pikiran warga Solo rela diinvasi “produk” dari Jogja ? Bayangkan : alumni Universitas Sebelas Maret yang tinggal di Yogya, lalu mereka ramai-ramai menyalonkan ketua organisasi alumninya untuk menjadi walikota Jogja, apa kira-kira reaksi tipikal warga Jogja sendiri ? Pagi-pagi hal ini mudah memicu penolakan mereka !


IT WAS DESTINY'S GAME, ERIKA !. Cerita-cerita tentang Jogja dan mungkin penolakan untukku, mudah terkait dengan seseorang yang berdomisili di Jogja, yang memesona. Eureka, Erika ! Oh, mungkin bukan penolakan (sok optimis), tetapi belum adanya ramuan kimia yang serasi dalam pola berkomunikasi antara kita. OK, mungkin kita (tegasnya, saya), yang dipaksa harus melakukan cooling down guna memperoleh perspektif yang lebih memadai dalam membangun komunikasi lanjutan. Atau terhenti sementara untuk saat ini.

Repotnya, komunikasi yang satu ini tidak melulu rasional. Tetapi juga melibatkan emosional. Emotion lead to action, begitu kata ahli pemasaran untuk kaum Venus, kaum wanita, Hermawan Kartajaya. Ketika saya memergokinya pertama kali, 27 Januari 2005, di hiruk-piluk HUT Ke-15 Muri, Hotel Grasia, Semarang, secara instinktif (emosi bukan ?), hatiku berkata : I like her. So much !.

Ini nampaknya jatuh cinta kilat (man can be compared to pile of dry leaves, strike a match to the leaves, and they catch fire immediately) dan sepihak, tetapi aku harus bangga untuk mengungkapkannya. Cinta itu anugerah, kata Dul Sumbang.

Pemicunya memang begitu deras. Sebab kalau diungkit-ungkit pakai rumus Oedipus Complex, memang telah muncul sekelebat wajah ibu saya ketika muda saat diriku terpana wajah Erika. Diakah soul mate yang tiba-tiba jatuh dari surga ? Meminjam lirik salah satu lagunya Spice Girls : fly like an angel/ have ever sent to me ?.

Buku harianku pun 27 Januari 2005 mencatat : Aku juga memberikan press kit ke wartawati Wawasan dan juga wartawati TV7, mengena di hati (“rada jatuh cinta”), berjilbab hitam, kaus hitam dan celana hitam, “waduh, kok menarik juga ya ?” Ia meliput untuk acara Busettt, “tapi tak aku ketahui namanya”, ia tanya alamat (ada di selebaran) dan, bila layak tentunya, ia yang akan mendatangiku. Bisakah kita jumpa lagi, orang cantik ? .

Si orang cantik Erika itu, ya Tuhan, ternyata bisa aku jumpai lagi. Bahkan, demi pekerjaannya, ia yang menemuiku. Bahkan ketika sopirnya bilang bahwa mudah menemukan rumahku di Wonogiri ini, Erika pun menimpali, “dasar sudah jodoh...”.Kembali emosi yang mendorong aksiku beberapa hari kemudian.

Sekadar contoh, inilah SMS tiga porsi pulsa yang aku kirim kepadanya :

Eureka, Erika ! FYI : 1. DION D. 0274-54xxxx. Ia kan “militer”, mk SMSku yl pesan : “You akan diinterview wtwt TV yg cantik skl, Erika. Jgn disandera ya ?” Wah SMSku ini msk ke HP his X-wife. Sori, Erika. 2. JUNAIDI SYAM, 081 56807xxx, 0274-580xxx. Kartunis Muri, terpanjang (2002). 3. Emailku 2 hal, cerita teori Blink saat aku menjual ide/diri kpd Lady In Black, 27/1/05 di Smg,... koq ya sd 7 hr dicuekin. Oh, sbg epistoholik, “You broke my heart, Erika...” BH (Dikirim : Sabtu, 12-Mar-2005, 09:00:39).

SMS Erika : Maaf, sy kan anak jalanan, lum sempat di dpn komputer....Td mlm sy dah ke rmh mas Dion. Suwun (Dikirim : Sabtu, 12-Mar-2005, 09:03:50).

Hello, Pak John Gottman, apakah relationship semacam ini ada peluang di masa depannya ? “In a restless world like this is, love is ended before it's begun”, rintih Karen Carpenters. Sudahlah. Break dulu. Dan di masa depan dekat ini dicari-cari saja segi positifnya. Termasuk harus mensyukuri karena masih ada brief encounter yang indah (filmnya yang juga indah dibintangi Sophia Loren dan Richard Burton, di jaman kuda gigit besi ya ?) semacam ini dalam hidupku.

Jose Mari Chan dalam “Beautiful Girl” memberiku pencerahan. Atau bahkan mungkin kesimpulan :

It was destiny's game
For when love finally came on
I rushed in line only to find
That you were gone.


PR BARU : MABUK FRIENDS. Semalam juga saya baru mampu menonton 6 episode sitkom Friends-nya Jennifer Aniston dan kawan-kawan. Impian untuk menjadi stand-up comedian yang timbul sedikit tetapi lebih banyak tenggelamnya di dada ini, baru besar di niat tetapi tak ada action selama ini, mencoba mencari vitamin dari tayangan DVD ini. Masih ada 42 lagi episode yang harus ditonton. Lalu harus diulangi lagi guna mampu meraih esens atau inti d isebalik humor-humor cerdas mereka.

Sekilasan, yang menonjol adalah formula The Comparison seperti diungkap Ronald Wolfe dalam Writing Comedy (1992). Srimulat juga sering melakukannya. Misalnya Basuki menunjuk tiga lawan mainnya, bintang tamu cantik Lyra Virna, Nunung dan Gogon, dengan perbandingan : emas, perak, dan pantat kuali.

Ketika Joey Tribiani di Hari Thanksgivings harus menghabiskan panggang kalkun seeart hampir sepuluh kilo, ia pun menyambutnya dengan bersemangat : “Kalkun adalah binatang bertampang jelek, dan goblog dan lezat”.

Lanjutnya : “Kita mungkin bukan pemikir hebat atau pemimpin dunia, kita tidak banyak membaca buku, kita pun tidak mampu berlari cepat, tetapi, brengsek, kita dapat makan !”

Tayangan Friends ini merupakan setitik oasis, setelah sebelumnya saya mencoba bertahan 2 menit untuk menonton reality show API di stasiun televisi swasta TPI. Aku engga ngerti mengapa kaum-kaum moron itu bisa berhaha-hihi di layar televisi. Mungkin mereka memiliki keberanian, dimana hal sangat penting ini justru belum aku miliki.

Covey punya istilah yang aku kira cocok, bahwa aku kena sindrom mahasiswa abadi. Terlalu banyak belajar, terlalu banyak teori, tetapi kurang aksi. I Know, I know.


UJUNG OLAH RAGA JALAN KAKI PAGI INI : PASAR WONOGIRI. Saya senang jalan-jalan ke pasar tradisional. Juga karena terpaksa, sebab sebagai bujangan, aku kadang harus mau masak sendiri. Tahun 1999 aku pernah memimpikan menang dalam lomba karya tulis bersubjek teknologi komunikasi dan informasi yang diadakan oleh PT Indosat. Kalau juara pertama, saya bisa membeli komputer. Ternyata, hanya juara harapan, sehingga bukan komputer yang terbeli, tetapi sebuah kompor Butterfly.

Kompor minyak itu pula, sudah 5 tahun lebih ini, yang jadi andalanku untuk ritus sebagai koki. Masakanku semuanya memakai menu diktator, dimana orang lain harus mau memberikan komentar “enak” dan haram untuk komentar lainnya sesudah merasakannya. Aku tidak bisa membayangkan apa komentar orang yang membuka PDA-ku yang hilang di Singapura, Januari 2005 yang lalu. Sebab dalam kolom “Expense” akan mereka temui daftar belanja : cabe merah, bawang merah, bawang putih, terasi, ketumbar, tahu, tempe, bumbu masak, kangkung, wortel, tomat.....

Kesenangan untuk blusukan pasar, mungkin juga karena bakat turunan. Turunan sebagai “orang pasar”, karena ibu saya pernah memiliki kios di pasar Wonogiri. Pernah ia membuka kantin di Kodim 0728 Wonogiri. Juga pada tiap hari penerimaan gaji untuk pensiunan, ibu saya membuka penjualan pakaian secara kredit untuk para pensiunan di Kantor Pos Wonogiri . Berbeda dengan diriku yang introver, ibuku seorang yang ekstrover. Banyak temannya. Banyak kegiatannya. “Untuk memelihara silaturahmi, juga untuk hiburan”, katanya.

Untuk tujuan serupa, ia pernah pula naik panggung dengan berdandan sebagai Petruk. Saya terkesan bila melihat kembali foto-fotonya. Diilhami pentas Ria Jenaka di TVRI, dia dan kawan-kawan sesama anggota istri pensiunan TNI/AD, tampil melawak dan menyampaikan informasi. Tepatnya, ya memberikan indoktrinasi model Orde Baru di jaman itu. Ibu saya, Sukarni, meninggal tahun 1993.

Pentas melawak itulah yang belum mampu diwujudkan secara resmi oleh putranya ini, walau terus mencita-citakannya. Seperti impian sangat besar yang tertulis dalam poster mini dalam bingkai, tertanggal 1 Februari 2004 (Mungkin akan nampak close-up dalam tayangan profilku di program Bussseeettt-nya TV7. Mungkin lho..) berbunyi :

Bambang Haryanto tak pelak adalah komedian Indonesia modern yang cerdas, rendah hati, jujur, simpatik, lucu dan bijak, sehingga pantaslah kalau tarifnya kini milyaran !


“JANGKAU IMPIAN SETINGGI BINTANG”, demikian bunyi inskripsi dalam trofi berbentuk tiga anak tangga dari bahan resin warna tosca yang aku terima sebagai seorang epistoholik yang mendapat penghargaan Mandom Resolution Award 2004. Sebelahnya berdiri kokoh trofi yang ada tulisan Jepang Kanji, ada terjemahan “Dreams” dan tanda tangan pendiri imperium mobil Jepang, Soichiro Honda. Aku memperolehnya ketika memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diselenggarakan oleh PT Honda Prospect Motor.

Trofi-trofi itu berada di mejaku. Seharusnya trofi itu setiap hari bisa hidup, lalu menamparku setiap hari, ketika aku lalai dalam menghidup-hidupkan sebuah impian dalam wujud tindakan dan tindakan yang berkesinambungan. Alangkah indah, oh, bila tamparan itu bukan hanya datang dari benda bernama trofi, tetapi juga dari sesungging senyuman seorang Erika.


Halo, halo : sadarkah bahwa Anda sedang menikmati sebuah pentas tragedi-komedi ?


Wonogiri, 14-15 Maret 2000

Monday, December 06, 2004

Wonogiri, 6 Desember 2004


Impianku adalah ingin menjadi stand-up comedian. Diilhami oleh penampilan Steve Martin di acara Anugerah Oscar 2001,impian itu datang dan pergi.

Solusi untuk meraih impian hebat itu, seperti telah aku alami di kancah yang lain, misalnya dunia suporter sepakbola Indonesia dan dunia Epistoholik Indonesia, adalah pertama kali dengan memberikan kontribusi bagi komunitas yang saya cita-citakan itu.

OK. Situs blog ini adalah upaya untuk memberikan kontribusi tersebut.


Salam,


Bambang Haryanto