Thursday, July 26, 2007

Melawak Menari Bersama Tengkorak

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com





Anti Siksa Neraka. Banyak orang Indonesia suka ngomong, tetapi benci menulis. Bisa dimaklumi, karena jarak antara otak dengan mulut lebih pendek dibanding jarak otak dengan jari-jemari yang mampu bergerak untuk menulis.

Menulis memang sulit.

Tidak ayal bila seorang Jessamyn West, seperti dikutip Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang diterjemahkan dengan judul Berani Berekspresi (MLC, 2004), menegaskan bahwa, “menulis itu begitu sulit sehingga saya sering merasa bahwa para penulis, karena sudah merasakan neraka dunia, akan terbebas dari semua siksa di akhirat nanti.”

Simpati diri para penulis di atas memang boleh disebut berlebihan. Tetapi menulis memang sulit. Apalagi menulis lawakan. Saya suka mengutip berkali-kali perkataan almarhum Dono Warkop (Kompas, 22/3/1996) ketika mengeluhkan tiadanya penulis–penulis naskah komedi yang dapat meringankan bebannya.

“Membuat lucuan yang benar-benar lucu saja setengah mati. Kondisi lawak di Indonesia saat ini : ia adalah pemikir, penulis, penampil, sekaligus pengurus keuangan....Bagaimana mau selalu prima ?” cetusnya. Padahal kita tahu, Dono adalah juga seorang kolumnis dan novelis.

Merujuk realitas di atas, dan untuk mencoba ikut serta mengatasi keluhan yang diutarakan Dono di atas, saya pernah kirim surat kepada sobatnya yang sama-sama di Warkop DKI, Indro, yang saat itu baru terpilih sebagai Ketua Umum PASKI. Saya usulkan agar dalam program kerja PASKI itu diadakan pelatihan menulis komedi, comedy writing, sokur-sokur bila mampu mendatangkan mentor dari luar negeri. Mungkin surat saya itu tidak sampai, karena tak ada balasan dari Ketua Umum PASKI itu. Atau memang organisasi ini kini sudah bangkrut, mati suri, jadi tak mampu membeli kertas dan perangko balasan.


Monumen Komedian. Mengobrolkan tentang pentingnya comedy writing, tentu komunitas komedi Indonesia tidak bisa melupakan kiprah sosok Arwah Setiawan. Bagi saya, beliau adalah seorang thinker dan doer raksasa bagi dunia komedi Indonesia yang sampai sekarang sulit dicarikan penggantinya.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

BALAI BUDAYA, JAKARTA. Dalam pameran kartun karya anak-anak Brigade Kelompok Kecil dari Wonogiri asuhan Mayor Haristanto di Balai Budaya Jakarta, 2 September 1982, mempertemukan aktivis dan pencinta dunia komedi Indonesia. Dari kanan, Jaya Suprana, Tris Sakeh (kartunis), Suyadi Pak Raden, tak dikenal, Arwah Setiawan dan Bambang Haryanto.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

BERSAMA PAK RADEN. Kartunis cilik asal Wonogiri, Basnendar Heriprilosadoso, bersama Suyadi yang terkenal sebagai Pak Raden, mengamati kartun karyanya yang ikut dipamerkan.


Sebagai sedikit pengakuan pribadi, ketika Arwah Setiawan masih hidup, kok saya merasa belum ketiban pulung atau wangsit, terpanggil untuk bisa dekat-dekat dengan beliau sehingga mampu menyerap khasanah ilmu komedinya yang kaya, ketika Mas Arwah Setiawan berkiprah dalam Lembaga Humor Indonesia. Untunglah, antara lain lewat bukunya yang berjudul Humor Jaman Edan (Grasindo, 1977), saya masih bisa mendapatkan warisannya. Tepat kiranya ungkap Thomas Fuller (1654–1734), seorang dokter dan penulis Inggris, yang berujar bahwa monumen yang abadi adalah monumen yang terbuat dari kertas. Alias berwujud buku, yang isinya mampu diwariskan dari generasi ke generasi.


Tetapi bagaimana dengan almarhum Taufik Savalas atau Toto Asmuni, yang baru saja meninggalkan kita ? Keduanya meninggalkan kita, sepertinya belum sempat mewariskan catatan-catatan pribadinya berisi pengetahuan selama berkarier sebagai komedian. Semoga nanti akan ada penulis yang tergerak untuk melakukannya. Isman H. Suryaman, pemilik blog The Fool dan penulis buku Bertanya atau Mati, dalam emailnya (21/7/2007) kepada saya menulis :

“Kepergian almarhum Taufik Savalas yang tiba-tiba saya rasa merupakan kerugian besar bagi dunia komedi kita. Walaupun tidak berhasil dengan baik, rintisan dia sebagai komedi solo itu seharusnya menghasilkan pengetahuan, lessons learnt, tentang mengapa Comedy Club (acara Taufik Savalas berkomedi solo di TransTV) itu gagal. Itu dikombinasikan dengan pengalaman beliau dalam tampil di depan umum dapat menjadi kontribusi yang sangat penting bagi (calon) komedian solo berikutnya. Sayang sekali pengetahuan itu hilang tiba-tiba. Salah satu kekurangan komedi Indonesia mungkin memang di manajemen pengetahuannya, Mas.”

(Thanks, saya setuju, Isman).


IdeaVirus ! Istilah manajemen pengetahuan atau knowledge management dalam dunia komedi kita pasti terasa sebagai istilah asing. Saya mendengar pertama kali istilah itu dari Tika Bisono dan Mas Ito (Sarlito Wirawan Sarwono) tatkala mengikuti Mandom Resolution Award 2004 di Jakarta. Keduanya, ditambah Maria Hartiningsih yang wartawan senior Kompas, menjadi juri saat saya sebagai peserta kontes menjual gagasan blog sebagai sarana kaum epistoholik dalam mendokumentasikan dan berbagi wawasan, kearifan dan ilmu pengetahuan untuk menjadi salah satu pilar kehidupan berdemokrasi.

Melissie Clemmons Rumizen, Ph.D., Knowledge Strategist dari Buckman Labs dalam bukunya The Complete Idiot's Guide to Knowledge Management (Penguin Putnam, 2001), ringkasnya membeberkan aplikasi manajemen ilmu pengetahuan yang antara lain berupa kiat-kiat berbagi informasi antarkolega sehingga perusahaan tempat mereka bekerja mampu meraih keberhasilan. Manajemen ilmu pengetahuan, salah satu intinya memang berbagi.

Sayangnya, mungkin saya keliru, saling berbagi itulah yang justru nampak disingkiri oleh warga komunitas komedi kita selama ini. Karena kebanyakan mereka, mungkin kecuali Butet Kertarajasa, Kelik Pelipur Lara atau pun Effendi Gazali, memang tidak hidup dalam tradisi budaya menulis. Saya sebenarnya menaruh harapan kepada Tamara Geraldine, bukan Ulfa Dwiyati, sebagai komediene. Karena Tamara terbiasa menulis dan tidak segan-segan di panggung ketika sebagai pembawa acara sering mengejutkan ketika meledeki dirinya sendiri.

Selebihnya, mayoritas warga komunitas komedi kita berbagi informasi secara lisan. “Taufik memberi banyak ilmu bagaimana tetap bertahan dan stabil, tak kehabisan ide,” tutur artis Melly Zamri yang belajar bagaimana bisa survive dalam dunia entertainment dari Taufik Savalas seperti dikutip Kompas (13/7/2007).

Ilmu yang dibagikan Taufik Savalas di atas bersifat pribadi. Mirip ilmu dukun. Memiliki jangkauan diseminasi yang terbatas. Apalagi bila dibandingkan dengan aksi berbagi informasi di media maya, seperti melalui blog ini, yang berpotensi menjadi ideavirus (“makasih, Seth Godin !”) karena mudahnya untuk dibagi dan disebarluaskan secara instan ke seluruh dunia.


Intel Melayu Lawakan. Ada ilustrasi lain yang menarik tentang potret dunia komedi kita. Adalah tulisan H. Sujiwo Tejo dan Efix Mulyadi yang menurut saya merupakan wartawan terbaik Kompas dalam membahas dunia komedi, dalam artikel berjudul “Jiplak-menjiplak Dalam Lawakan” (Kompas, 30/10/1994). Sekarang, tak mudah ditemui tulisan dalam koran yang sama yang memiliki frekuensi, variasi dan kedalaman minat dalam mengupas pernak-pernik dunia komedi kita dewasa ini.


Artikel tersebut, yang juga bisa sebagai nostalgia bagi kita untuk mengenang lawakan tempo dulu, antara lain mengangkat tuduhan jiplak-menjiplak antarkelompok lawak di Indonesia. Misalnya, Warkop DKI (Warung Kopi Dono Kasino Indro) menurut Darto Helm dari eks kelompok Bagio CS, pernah meniru lawakan mereka tentang marga orang Batak.

“Waktu itu kami pentas di Taman Ismail Marzuki. Karena di Teater Terbuka, hawanya dingin. Diran bilang, wah, hawanya Siregar. Saya sahut, rasanya jadi berjalan di Tobing-Tobing. Sol Saleh menyahut, hati-hati, jangan sampai celana sobek, nanti ke Panjahitan,” kata Darto Helm. Diran dan Sol Saleh anggota Bagio CS. Kata Darto, almarhum Nanu dari Warkop telah meminta maaf untuk itu. Sebaliknya, Dono Warkop DKI yang mengatakan bahwa sulit bagi pelawak mengklaim sebagai yang pertama mengangkat suatu lawakan, juga sering diambil gaya lawakannya.

Misalnya Us Us mengaku pernah mengambil gaya Warkop DKI, yakni dalam hal pembelokan logika berpidato. Qomar dari Empat Sekawan malah mengaku sebagai “fotokopi yang baik dari Bagio CS dan Srimulat,” terutama pada awal kariernya bersama Tom Tam. Deddy (Mi’ing) Gumelar dari Bagito dituding oleh beberapa pihak sebagai peniru Srimulat, terutama pad acara rutin televisinya Ba-sho. “Mungkin secara kebetulan saja, karena Unang (anggota Bagito) sering berpakaian Jawa,” kata Mi’ing.

Silang-sengkarut tentang jiplak-menjiplak itu sampai membuat Dono dalam kehidupan sehari-hari di luar panggung, memilih tidak melawak. Mi’ing juga serius di luar panggung. Qomar kadang-kadang melucu, meski pun menurut consensus Empat sekawan, tidak boleh membawakan rencana lawakan panggung dalam pergaulan sehari-hari.

“Saya kalau lagi manggung dan melihat ada pelawak menonton, langsung mengambil langkah pencegahan. Yaitu tidak mengeluarkan lawakan yang hebat. Saya tahu mereka datang untuk ‘berbelanja’, menghafal penampilan, bahkan ada yang merekam dengan kaset,” kata Darto Helm. Kadang-kadang bukan pelawak yang datang. Meminjam istilah Qomar, yang datang adalah “intel-intel” pelawak yang biasanya wajahnya tidak asing bagi pelawak.


Memandang keruwetan dalam dunia lawak ini, akhirnya Dono dan Mi’ing sependapat bahwa biarlah lawakan dijiplak oleh pelawak lain. Biar saja, toh cara pembawaan seperti irama dan muatan pesannya pasti berbeda.

Keputusan yang bijak, terutama karena sistem manajemen ilmu pengetahuan kita, termasuk karya-karya lawakan, katakanlah belum secanggih di Amerika Serikat. Di AS ada lembaga yang disebut The Writers Guild yang bertugas mengarsip dan melindungi karya cipta seseorang, meliputi skrip, sinopsis, treatment, outline, sampai gagasan tertulis yang khusus sebagai materi produksi untuk radio, televisi, teater, film, video dan media interaktif.


Dampak Komedi Keroyokan. Artikel Kompas 13 tahun lalu itu menghadirkan potret betapa dunia lawak kita adalah dunia keroyokan. Apa pun nama kelompok mereka, sepertinya sulit dicari apa yang mampu membedakan karakter lawakan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Dalam kerumunan sulit memunculkan kepribadian. Lawakan pria dengan berdandan sebagai perempuan, bukankah sudah ada sejak Mama Henky, Esther, dan terus saja lestari dipanggungkan kelompok Tora Sudiro dkk yang hura-hura di ExtraVaganza dewasa ini ?

Pelawak-pelawak “tanpa kepribadian” itu boleh jadi terjun berprofesi sebagai pelawak mungkin akibat kebetulan. Karena dikejar-kejar harimau luar, yang menurut istilah sastrawan dan dramawan Putu Wijaya, adalah kebutuhan perut. Tataran paling bawah dari hirarki kebutuhan manusia menurut piramidanya Abraham Maslow. Bukan dikejar oleh harimau dalam, yaitu dorongan tertinggi manusia untuk aktualisasi diri.

Mereka masuk begitu saja, tanpa didahului oleh semacam soul searching, perjalanan ke dalam untuk melongok dirinya sendiri, guna menemukan jati diri, persona, yang istimewa dan unik di tengah dunia ini.

Padahal kita tahu, keharusan melakukan self-assesment di atas itu berlaku untuk semua profesi. Kalau Anda pernah menempuh kuliah di Amerika Serikat, Anda mau tak mau “diharuskan” membaca bukunya Richard Nelson Bolles sebelum memutuskan berburu pekerjaan selepas wisuda. Dalam buku berjudul What Color Is Your Parachute ? : A Practical Manual for Job-Hunters & Career Changers (Ten Speed Press, Tahunan) ini, Anda akan di-drill dengan sejumlah tes dan pertanyaan guna menguak keterampilan apa saja yang Anda miliki dan juga menyenangkan bagi Anda ketika menggunakannya.

Dalam Anda menjawab, Anda harus menuliskannya !

Dalam dunia komedian, ketahuilah bahwa jago improvisasi sekaliber Robin Wiliams pun pertama kali harus pula menulis leluconnya sendiri. Kalau Anda masih bingung bagaimana memperoleh materi lelucon itu, jawabannya tergantung dari jenis komedi yang hendak Anda terjuni. Tetapi langkah universal yang utama adalah : longokilah dalam diri pribadi Anda sendiri.

Kembali mengutip isi buku menariknya Susan Shaughnessy yang kali ini memajang ucapan Carolyn MacKenzie. Ia berkata, kalau Anda punya kerangka manusia di dalam lemari Anda, keluarkanlah, dan menarilah bersamanya. Begitulah, penulis dan juga pelawak sejati, berani menari bersama tulang kerangka, kerangka mereka sendiri.

Kerangka manusia tersebut adalah hal yang paling Anda hindari untuk dituliskan atau diceritakan, seperti rasa malu yang membuat Anda bergidik dan menciut. Tetapi pada akhirnya hal itu akan muncul juga dalam tulisan dan juga dalam lawakan Anda. Mengapa ? Karena di sanalah energi jiwa Anda tertimbun. Dengan menuliskannya, Anda meratakannya. Energi itu akan mengalir dalam tulisan dan lawakan Anda, dan membuatnya hidup.

Anda pernah menonton tayangan talkshownya Oprah Winfrey ? Setiap tamu yang hadir senantiasa membawa tulang kerangkanya sendiri. Mereka rela dan berani mengeluarkannya dari dalam peti atau almarinya pribadi, kemudian mereka ajak tengkoraknya itu untuk menari dan berdansa di muka dunia.

Tawa yang hadir dari sana, atau lelehan air mata, semata membuat diri kita merasa sebagai manusia. Bukan robot atau useful idiot yang patuh terhadap komando untuk tertawa-tawa kosong dan hampa, dalam acara komedi atau talkshow dengan host orang-orang yang sok lucu di pelbagai televisi kita.


Wonogiri, 26/7/2007


ke





3 comments:

  1. Aduh-aduuuuh. Blog ini bener2 deh. Salam buat pengelolanya. Ulasan Anda bagus pol.

    ReplyDelete
  2. Satu lagi bahasan topik komedi yang hebat dan menyeluruh, Mas Bambang. Saya baru dengar malah soal intel lawak. Lucu juga.

    Dalam dunia komedi solo Amerika, hal ini juga sering terjadi. Karena nggak semua komedian ikut Writer's Guild. Dua solusi mereka sebenarnya sederhana:

    Pertama, majulah sebagai kepribadian yang kuat. Bukan sekadar "komedian".

    Dengan kata lain, lelucon Ray Romano otomatis tidak bisa digunakan oleh Titus. Walaupun keduanya membahas kehidupan berumah tangga dan kehidupan bersama orangtua. Namun, kepribadian keduanya sangat berbeda.

    Tentu saja masih ada beberapa lelucon yang bisa bekerja di kedua kepribadian. Karena itu ada solusi kedua; personalisasi lelucon.

    Dengan kepribadian yang kuat dan lelucon yang hanya bekerja untuk situasi atau kondisi khusus pribadi, kemungkinan dicuri makin kecil. Mencuri lelucon ini akan sulit karena si pencuri harus menulis ulang lelucon. Lantas, karena sudah terpersonalisasi, lelucon ini jadi makin lekat dalam benak hadirin dengan kepribadian komedian bersangkutan.

    Kalau ada yang berani mencuri, langsung ketahuan.

    Ini pun tentunya tidak 100% kebal. Karena masih ada kasus di mana orang yang lebih terkenal dapat mencuri lelucon komedian yang masih hijau. Di sinilah kunci organisasi profesi.

    ReplyDelete
  3. Salam humor,

    Terima kasih untuk Bung Hendro D. Laksono yang sudi "keblasuk" ke blog ini. Sukses selalu untuk Anda.

    Untuk Isman, artikel ini adalah juga hasil penyerbukan silang dengan isi emailmu yang lalu. Semula aku ingin mengangkat topik (darimu) "komedi yang tersesat," lalu kok aku tergiur ke masalah KM (knowledge management) yang juga kau sampaikan itu. Keduanya sama pentingnya bagi lanskap komedi kita di masa datang. Tentang iuran gagasanmu kali ini, yang juga brilyan, yaitu masalah kepribadian yang kuat bagi komedian, saya sangat setuju. Tetapi untuk menuju kesana butuh perjuangan seumur hidup, misalnya seperti keteladanan George Burns, Bob Hope atau George Carlin. Bisakah komedian kita mampu menuju ke arah sana, sehingga bila ia meninggal kita akan tahu "gading" atau "belang"-nya yang abadi, unik, dan tidak dimiliki oleh komedian lainnya ?

    ReplyDelete