Friday, November 25, 2005

Dicari : Komedian Indonesia Yang Marah Dan Frustrasi !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com


It's such a dirty old shame
When you got to take the blame for a love song
Because the best love songs are written
With a broken heart

(Carpenters, “All You Get From Love Is A Love Song”)


Lagu Lagi Patah Hati. Phoebe Buffay yang dimainkan oleh Lisa Kudrow adalah tokoh dalam sitkom “Friends” yang paling saya sukai. Karakternya jujur, kadang suka menipu, tidak jaim dan suka berterus terang. Karakter yang dalam khasanah comedy writing disebut sebagai outrageous character, karakter nyeleneh, dan urakan. Tetapi justru kehadirannya merupakan formula penting hidupnya suatu komedi situasi.

Sekadar ilustrasi : Phoebe pernah bertamu guna menemui orang tua pacarnya, Mike Hanigan, yang berasal dari golongan elite. Saat ditanya, ia enak saja mengenalkan diri. Katanya, dia pernah mengidap sakit hepatitis gara-gara seorang mucikari meludahi mulutnya. Ibunya ia katakan, terus terang, tewas akibat bunuh diri. Kalau dipuji bahwa dirinya cantik, ia akan polos mengaku, “ya, saya memang cantik”

Ketika Mike, di kesempatan lain, memutuskan bahwa dia tidak ingin menikah akibat trauma dengan kegagalan perkawinannya yang pertama, membuat hubungan Phoebe-Mike merenggang. Phoebe, sebagai wanita pada umumnya, tentu saja ingin menikah.

Tetapi Mike tetap menolak.

Dengan hati hancur, Phoebe mengadu pada Monica. Antara lain, ia mengaku dirinya sampai kesulitan menggubah perasaan galau dan deraan patah hati itu untuk menjadi sebuah lagu !

Bagi Anda yang setia menonton sitkom garapan produser eksekutif David Crane, Marta Kauffman dan Kevin S. Bright (ia kenal sama Artika Sari Devi yang Putri Indonesia), pengakuan sok gaya model Phoebe ini pastilah memicu bahak tawa. Karena senyatanya Phoebe adalah penyanyi dan gitaris yang hanya bermodal nekad.

Coba cerna, kalau judul-judul lagu yang ia ciptakan seperti “Shut Up and Go Home” sampai “The Pervert Parade” ? Nyanyian dan petikan gitarnya jelas kalah kualitas dan jauh dari enak didengar bila dibandingkan, misalnya, dengan para pengamen yang piawai menyanyikan (juga oleh Carpenters) “Ticket To Ride” atau “I Saw You Standing There”-nya The Beatles di Stasiun KRL Bogor.

Phoebe Buffay memang tidak seperti Karen Carpenter yang menyatakan bahwa “lagu cinta terindah justru tercipta ketika seseorang sedang patah hati.” Bahkan mampu pula membuktikannya saat menampilkan lanskap suasana hati khas Carpenters, di mana patah hati pun terasa indah :

“Air mata di mataku selalu membutakanku / masa depan yang terhampar di hadapanku tak mampu kulihat / walau kutahu esok hari matahari kan bersinar / menerangi dunia untuk siapa pun, tetapi bukanlah untuk diriku”


Anjing Hitam Lord Byron. Suasana hati yang kelabu, tidak semata bisa dipicu oleh patah hati. Melainkan juga, misalnya, oleh depresi. Novelis Kanada, Robertson Davies (1913-1995) pernah mengatakan bahwa depresi itu disebut sebagai anjing hitam oleh penyair Inggris legendaris, penulis satir Don Juan, yaitu Lord Byron (1788–1824).

Seperti diungkap Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Berani Berekspresi : Buku Meditasi Untuk Para Penulis ( 2004), betapa depresi itu sering dirasakan oleh para penulis.

Tetapi mereka terus menulis di tengah depresi. Depresi bisa melumpuhkan, tetapi jika Anda dengan disiplin yang kuat, mampu mengalahkannya dan tetap bertahan di tempat Anda menulis, Anda akan tercengang melihat kualitas karya Anda.

Robertson Davies menimpali, “Saya belum pernah tahu atau mendengar ada seorang penulis yang tidak kenal dengan Anjing Hitam itu. Tetapi bagaimana pun, buku itu akhirnya berhasil ditulis, dan kadang-kadang bagian yang ditulis saat Anjing Hitam itu sedang buas-buasnya, merupakan bagian yang terbaik”


Butir Pasir Yang Menyakitkan ! Patah hati, depresi sampai frustrasi, bagi kalangan komedian merupakan bahan mentah yang berharga sebagai materi lawakannya.

Sekadar cerita : tanggal 13/9/2005 saya mendengarkan siaran radio Voice of America (VoA) seksi Indonesia. Siaran jam 18.45 itu mengudarakan Kennedy Muslim sedang menceritakan kelompok musik Switchfoot asal San Diego. Kelompok ini baru-baru ini (13 September) merilis sebuah album baru berjudul "Nothing is Sound" yang diluncurkan di AS.

Kennedy Muslim saat itu mengutip pendapat vokalis Switchfoot, Jon Foreman, bahwa dalam album terbaru mereka menggubah pengalaman hidupnya dengan memakai metafora yang indah.

Yaitu, tentang sebutir pasir yang masuk dalam cangkang kerang. Tentu saja pasir, benda asing itu, sangat menyakitkan bagi kerang bersangkutan. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu membuat hal-hal yang semula menyakitkan tersebut justru mampu mereka olah sehingga akhirnya berubah menjadi mutiara.

Metafora indah itu yang membuat saya tergerak memberanikan diri, mengirimkan email kepada Kennedy Muslim di kantor VoA, di Independence Avenue, Washington D.C., Amerika Serikat. Kennedy Muslim, dan sebelumnya juga penyiar VoA lainnya yaitu Ni Made Yoni, berbeda dari respons yang biasa saya peroleh dari pekerja media, mereka justru bermurah hati. Mereka membalas email saya, juga memberikan cerita sana-sini, yang membuat saya merasa tersanjung dan terhormat.

Butir pasir di cangkang kerang.

Kita semua, baik warga biasa atau pun para komedian pastilah sama-sama pernah mengalami penderitaan atau kesengsaraan. Tetapi yang membedakan antara orang biasa dan komedian adalah bahwa kemarahan sampai penderitaan yang dialami itu, oleh seorang komedian, mampu mereka ubah dan mereka gubah menjadi sebuah hiburan. Di atas panggung, para komedian itu mengusung penderitaan, obsesi kesedihan, nasib buruk, ketakutan sampai bencana, sengaja mereka bedah guna mengguncang tawa audiensnya.

Patah hati mampu menelorkan lagu cinta yang terindah, begitu senandung Karen Carpenter. Lalu kondisi macam apa yang mampu melahirkan seorang komedian ? Steve Silberberg, moderator newsgroup alt.comedy.standup, mengatakan :

“But just as pressure and heat transform coal into diamonds, it's that frustration, social pressure and the heat of anger that transforms us into comedians”.

“Sebagaimana gencetan dan panasnya api mampu mengubah arang menjadi intan, maka frustrasi, tekanan sosial dan panasnya api kemarahan mampu pula mengubah diri kita menjadi seorang komedian”

Apakah hal serupa juga terjadi di kalangan komedian di Indonesia ?

Sayang, di Indonesia dewasa ini, sepertinya hal tersebut tidak terjadi. Sekadar ilustrasi aktual : kenaikan harga BBM yang benar-benar mencekik leher rakyat banyak, tim perekonomian SBY-Kalla yang gagal total, merebaknya wacana penghidupan kembali komando teritorial yang mengancam embrio kehidupan berdemokrasi yang mulai mekar sampai ledakan bom Bali 2, justru tidak nampak memicu empati, kemarahan sampai rasa frustrasi kalangan komedian Indonesia untuk tampil menyuarakan nurani dan akal sehatnya. Lelucon-lelucon mereka tidak pernah memihak kepada rakyat.

Mungkin mereka memang tidak punya nyali. Atau sudah tuli ? Atau sudah tidak pula punya nurani ? Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 3/9 – 18/10/2005

Thursday, November 03, 2005

Komedian Itu Hadir Untuk Menjual Gagasan, Bukan Hanya Lawakan !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Kena Marah Ibu Mien Uno. Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, 8 April 2002. Hari penganugerahan bagi pemenang Honda : The Power of Dream Contest 2002. Di acara penutup, para kontestan, juri, panitia dan eksekutif PT Honda Prospect Motor, naik panggung. Dipandu violis jelita Maylaffayza Permata Fitri Wiguna dan ben pengiringnya, kami ramai-ramai menyanyikan lagu “I Have A Dream”-nya ABBA.

Sebelumnya kami dan ratusan tamu bersantap siang, dengan menu seperti grilled chicken salad with field greens and walnut oil vinaigrette, pumpkin bisque with red curry and coriander sampai pan fried seabass on creamed spinach and potato with mushroom salsa.

Saya adalah salah satu dari enam pemenang kontes meraih impian yang diadakan oleh pabrikan mobil Honda di Indonesia tersebut. Sebelum resepsi dimulai, saya sibuk menemui para juri. Minta tanda tangan kenangan. Antara lain dari Susi Susanti, peraih medali emas bulutangkis Olimpiade Barcelona, sampai Satoshi Okamoto yang Vice President PT Honda Prospect Motor. Ia menuliskan kata-kata berhuruf kanji, yang terjemahannya “Semua Kawan”.

Sutradara film Riri Riza menuliskan pesan dan tanda tangan di buku yang khusus saya beli, Ada Apa Dengan Cinta ? : Skenario Jujur Prananto (2002) di mana Riri bersama Mira Lesmana adalah produser film laris ini. Ketua juri, Arswendo Atmowiloto, menuliskan hal yang sama di bukunya yang rada sulit saya temukan, yaitu Menghitung Hari (1996). Sementara tokoh pendidik Mien Uno dengan senang hati pula membubuhkan pesan dan tanda tangan di buku Menjadi Wanita Indonesia yang merupakan buku biografi beliau yang disusun oleh Herry Gendut Janarto.

Ibu Mien Uno sebelum membubuhkan tanda tangan, sempat meminta kartu namaku. Sejurus saya ambil segepok kartu yang seukuran kartu nama, polos, lalu saya tulis dengan bolpoin nama dan alamatku. Ternyata Ibu Mien Uno tak begitu berkenan dengan kartu nama “manual” itu. Beliau memberiku nasehat agar aku membuat kartu nama yang tercetak. Nasehat beliau itu aku camkan.

Sebenarnya kartu-kartu polos yang aku bawa-bawa itu, selain sebagai kartu nama darurat, juga saya gunakan untuk mendokumentasikan lelucon. Dari pengamatan terhadap corat-coret di dinding sampai menguping perbincangan orang, bila kuanggap lucu, akan segera aku tuliskan di kartu. Tetapi tidak jarang, upayaku ini memunculkan kesalahpahaman.

Seseorang yang mengetahui bahwa saya sedang menghimpun lelucon, sering dirinya tiba-tiba antusias untuk mengeluarkan koleksi lelucon yang ia miliki. Sebagian besar merupakan lelucon yang bukan berdasar pengalamannya sendiri. Segian besar lelucon itu dihafalkan dari sumber lain. Keadaan yang lajim kita temui tersebut mengingatkan saya “sinyal lampu merah” untuk para komedian dan calon komedian yang dilansir oleh seorang instruktur komedi yang terkenal, Judy Carter seperti berikut ini :

”We funny people are not normal. In my workshops, the normal ones are not the funny ones. We think differently. Normal people express their sense of humor by memorizing jokes ; comics transform their life experiences into punchlines and write their own jokes”

“Kita para jenakawan bukanlah pribadi normal. Dalam workshop komedian yang saya adakan, orang-orang normal bukan jenakawan. Kita berpikir secara berbeda. Orang-orang normal mengekspresikan selera humornya dengan menghafalkan lelucon, sementara komedian mentransformasikan pengalaman hidupnya menjadi bahan lawakan dan menulis lelucon-leluconnya sendiri”


Menghumori Diri Sendiri. Rumusan Judy Carter itu segera mengingatkan saya akan sosok stand-up comedian yang tergolong sebagai legenda, Rodney Dangerfileld (81), yang meninggal tahun lalu. Seperti diwartakan Solopos (11/5/2003), begitu keluar dari rumah sakit UCLA Los Angeles selama dua minggu, ia sudah mendagel tentang dirinya. Menanggapi operasi otaknya, di acara konferensi pers Rodney ringan saja bilang : “Jika kamu ingin mengurangi berat badan, lakukan apa yang saya lakukan : diet untuk operasi otak”

Pelawak Indonesia yang tidak sungkan menertawai kekurangan dirinya adalah almarhum Ateng Suripto. Ia meninggal pada usia 61 tahun, 6 Mei 2003 di Jakarta. Pengamat lawak Herry Gendut Janarto yang dikutip Kompas (7/5/2003) mengatakan bahwa Ateng adalah tipe humoris, bukan joker. Ia mampu menertawakan diri sendiri, dan mungkin itu yang membuatnya awet.

Kalau Anda nonton lawak di televisi, lalu untuk memancing tawa antara mereka saling berolok mengenai kekurangan masing-masing, terutama fisik, jelaslah mereka hanyalah kumpulan para joker semata. Lihatlah, ketika manggung, mereka suka berpakaian sebagai badut-badut. Pelawak laki-laki tetapi memakai baju perempuan. Memakai rambut palsu warna-warni. Memakai pakaian yang tidak lajim. Mereka suka sekali menyembunyikan diri mereka sebenarnya. Oleh karena itu, mereka senyatanya belum berkaliber sebagai humoris atau pun komedian.

Para joker tersebut memang sering tampil ramai-ramai. Minimal bertiga. Kwartet Jaya. Jayakarta. Warkop Dono Kasino Indro (DKI). Bagito. Patrio. Cagur. Saya tidak tahu mengapa sajian lawakan di Indonesia selalu tampil dengan gaya Srimulatan, yang beramai-ramai itu. Mungkinkah ini cerminan dari budaya gotong royong bangsa Indonesia, sebagai ciri masyarakat yang agraris ? Silakan berspekulasi.

Hal yang praktis, ramai-ramai tampil di panggung memang mengurangi tekanan bagi sang pelaku bersangkutan. Tetapi pada saat yang sama, demi menjaga harmoni pemanggungan, seseorang dari mereka tidak “diijinkan” untuk tampil lebih menonjol, lebih bersinar, dibanding yang lainnya. Konstruksi pemanggungan lawakan di Indonesia semacam itu membuat tiap individu komedian tidak memiliki saluran untuk mentransformasikan pengalaman hidupnya menjadi bahan lawakan mereka !

Akhirnya tak dapat dielakkan : kerumunan itu memang telah meniadakan atau membunuh pribadi. Akibatnya, sampai akhir hayat rata-rata para pelawak Indonesia tidak banyak yang mewariskan pengetahuan sampai kenangan tentang jati diri atau kepribadian tertentu yang menjadi ciri khasnya sebagai humoris atau komedian. Jarang dari mereka mampu atau bisa dikenang sebagai persona, tetapi kebanyakan akan hanya disebut-sebut sebagai sosok joker belaka.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengoreksi “kekeliruan fatal” semacam ini ? Orang luar tidak bisa melakukan apa-apa. Para joker yang lalu-lalang di layar-layar televisi kita selama ini tentu tidak pula merasakan tuntutan untuk berubah. Dengan situasi yang ada selama ini toh mereka sudah merasa sukses, merasa diuntungkan, lalu mengapa ada yang harus berubah ?

Baiklah. Biarkanlah mereka. Tetapi hemat saya, pentas lawakan di Indonesia membutuhkan darah-darah segar yang baru. Cakrawala baru. Dunia sinema kita, dan dunia kepengarangan kita, telah menghadirkan wajah-wajah dan potensi-potensi baru. Dunia komedi kita, tidak. Walau ada reality show oleh pelbagai stasiun televisi swasta yang bertujuan untuk merekrut pelawak-pelawak baru, seperti Audisi Pelawak TPI (TPI) sampai Meteor Kampus (antv), tetapi fondasi pemikirannya masih berurat pada pola-pola lama belaka.

Judy Carter berpesan untuk para komedian dan calon komedian : ”You must go on stage with a passionate desire and the intent to communicate your thought and feelings, not just to make people laugh”

“Anda harus tampil di panggung dengan hasrat yang membara dan niat untuk mengomunikasikan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan Anda, dan bukan hanya untuk membuat para penonton tertawa”

Pekerjaan rumah bagi Anda, para komedian dan calon komedian Indonesia !




Wonogiri, 1-3 November 2005

Friday, October 28, 2005

Extravaganza Sampai Buka Pake Tertawa : Lawakan Di Televisi Kok Maksa-Maksa Kita Untuk Tertawa ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




5600 Jokes For All Occasions. Republik Indonesia pernah memiliki seorang presiden yang humoris ulung. Tepat sembilan belas tahun lalu, 25 Oktober 1986, saya sempat menjadi “korban” dirinya. Hari itu, Sabtu Malam, saya melongoki isi rak buku humor di Toko Buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan. Tiba-tiba masuk seseorang yang saya kenal, melalui media massa atau pun forum seminar.

Sejurus kemudian, saya ambil sebuah buku dari rak, karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions (Avenel Books, 1980). Kepada seseorang itu buku tersebut saya angsurkan kepadanya, dengan berkata : “Buku ini untuk Anda”. Merasa dirinya dikenali dan seleranya tertebak, ia hanya tertawa kecil. Tiba-tiba ia malah memberi saya suatu cangkriman, tebakan, kepada saya :

“Rambut wanita BAGIAN MANA yang paling lebat, paling hitam dan paling keriting ?” Saya tak siap dengan riddle semacam itu. Saya hanya meringis gelagepan, sambil berasosiasi jawaban yang bukan-bukan. Akhirnya saya hanya mampu mendengar sang penanya itu membocorkan rahasianya :

“Rambut Wanita BAGIAN Papua Nugini !”

Pemberi cangkriman itu adalah Gus Dur, yang ketika menjadi presiden sempat menghumori diri sendiri sebagai “presiden Indonesia yang membuat banyak orang menjadi crazy”. Momen di toko buku itu saya ingat, karena memang tercatat dalam bukunya Mildred Meiers dan Jack Knapp yang menjadi koleksi buku kumpulan lelucon saya.

Bagi saya, walau humorn-humornya kelas satu premium, Gus Dur kadang tampil bukan sebagai penutur lelucon yang baik. Karena pada momen kritis, saat terjadinya titik ledak lelucon bersangkutan, punchline, dirinya nampak sering tergoda untuk ikut atau bahkan memelopori tertawa. Idealnya sih, seperti halnya pemanggungan komedian profesional, dirinya memasang wajah pemain poker, dingin, dan membiarkan penonton yang terguncang dalam tawa.

Gus Dur tidaklah sendirian. Konsultan merek dan kolumnis Kafi Kurnia, juga hampir sama. Kalau Anda mendengar acaranya di radio, tertawa ngakaknya melegenda. Lelucon yang biasa-biasa saja sudah membuat dirinya terbahak, berderai-derai. Apakah dengan royal menghamburkan tawa itu dirinya merasa para pendengarnya lalu juga ketularan untuk ikut-ikut tertawa ?


Korban Komedi Kasar Modus operandi memancing tawa “model” Gus Dur atau Kafi Kurnia itu sepertinya kini merajalela di stasiun-stasiun televisi kita. Tonton saja, misalnya, acara komedi skets Extravaganza yang rutin dipanggungkan di stasiun televisi TransTV.

Saat nonton tayangan satu ini, di tengah para pelakon menembakkan lelucon, kita bertubi-tubi disuguhi adegan di mana para penonton di studio nampak kompak dan tiba-tiba tertawa. Adegan penonton yang tertawa itu lumayan mencolok, dijejalkan lewat shoot yang menohok. Tetapi adegan ini, termasuk munculnya efek suara tertawa, nampak tidak genuine, artifisial dan kentara dibuat-buat.

Akibatnya fatal. Kita sebagai penonton di rumah selalu merasa tidak ngeh, sulit nyambung, terhadap lawakan yang terjadi. Apalagi sebagaimana formula lawakan di televisi di mana konstruksi setup sampai punchline lawakan sering kurang/tidak bagus, audionya pun sering kedodoran, trik teknik televisi di atas jelas tak mampu mengangkat Extravaganza menjadi tontonan komedi yang punya kelas..

Tertawa memang menular. Tetapi pemanggungan lawakan model Extravaganza semata bermotif pemaksaan, bukan penularan. Karena trik mereka dalam memancing dan menularkan tawa penonton itu hanya semata akal-akalan teknik gambar televisi yang dangkal, dan bukan berdasar bangunan formula suguhan komedi yang andal.

Trik bermotif pemaksaan agar penonton tertawa, dengan formula yang lebih parah, terjadi pada acara berjudul Buka Pake Tertawa (BPK) yang disiarkan oleh stasiun televisi TPI. Dengan memanfaatkan teknik-teknik animasi kelas elementer, ulah para personil kelompok musik lawak TeamLo dari Solo yang tidak ada juntrung, seperti dua personil yang tiba-tiba tabrakan, jatuh berguling-guling atau terpeleset, sampai kena timpuk entah apa dan oleh siapa, dicoba menjadi adonan humor visual. Bumbu penyedapnya antara lain musik, efek suara, teks, dan rekaman suara audiens yang riuh tertawa.

Inilah lagi-lagi suguhan slapstick di televisi kita lagi.

Sebagai wong kelahiran Solo, saya hanya merasa kasihan sama kelompok musik TeamLo asal Solo ini. Mereka hanya manut-manut saja, ikut tanpa berpikir kritis, ibarat kerbau dicocok hidung, untuk membintangi acara televisi yang sama sekali tidak menunjukkan kekuatan artistik dan komedik mereka yang sebenarnya. Mereka kok ya mau-maunya menjadi korban pertunjukan komedi kasar, slapstick, yang senyata-nyatanya hanya lucu di benak para kreatornya sendiri.

Pada tahun 80-an di TVRI pernah ditampilkan sajian humor visual, kalau tak salah berjudul Football Circus atau Football Comedy. Isinya seri adegan para pemain sampai wasit saat pertandingan sepakbola berlangsung. Misalnya adegan pemain yang meludah, lalu memakai teknik pengulangan adegan, sehingga tervisualisasikan pemain bersangkutan sedang meludah berkali-kali. Berbeda dibanding adegan dalam BPT yang dibuat-buat, tidak alamiah, adegan sepakbola yang benar-benar terjadi itu mampu mengundang penonton untuk memiliki relation, kaitan, atas peristiwa yang terjadi. Penonton merasa akrab dengan momen-momen yang ada, sehingga ketika terjadi pembengkokan adegan atau nalar, mereka pun ikhlas memberikan tawa.

Humor visual yang terkenal, selain film-film bisunya Charlie Chaplin, yang mutakhir adalah serial Mr. Bean. Sajiannya terorkestrasi secara rapi, nalar, sehingga memunculkan kejutan yang mampu mengundang tawa. Di RCTI (2001) pernah ada lawakan yang pengin meniru humor visualnya Rowan Atkinson, yaitu Toples, dibintangi oleh Topan dan Lesus, tetapi hanya menunjukkan bahwa merancang sajian komedi yang menonjolkan humor visual itu tidaklah mudah !


Bicara Bahasa Penonton. Para kreator acara komedi di stasiun-stasiun televisi kita, hemat saya, sebaiknya membaca buku How To Sell Yourself-nya Joe Girard (1981). Ia tercatat di The Guinness Book of World Record sebagai penjaja, salesman terhebat di dunia.

Joe Girard dalam bukunya itu telah mengutip kiat kampiun pemasaran lainnya, yaitu Buck Rodgers dari perusahaan raksasa komputer IBM. Tercatat bahwa Buck Rodgers selalu menuntut armada penjualan komputernya agar mampu berbahasa seperti calon pembelinya. Bayangkan betapa membingungkan apabila penjual komputer IBM itu berkata seperti berikut ini kepada calon pembelinya :

“Saya ingin menjual kepada Anda sistem elektronik transistor yang unitnya saling terintegrasi, mampu diprogram dengan masukan ribuan input, terentang dari kontrol inventarisasi, membuat faktur, sampai fasilitas penyimpanan bank memori, data yang mudah diakses, kemampuan antarmuka dengan seluruh fasilitas pendukung”.

Paparan berbau teknis itu mungkin terdengar keren, tetapi para konsumen jelas tidak memahaminya. Buck Rodgers meralatnya, dengan pernyataan bahwa hal tersebut merupakan kekeliruan yang fatal. “Kita berbisnis adalah memberikan solusi untuk memecahkan problem para pelanggan kita”, tuturnya. Ia menekankan bahwa perusahaannya tidaklah menjual komputer, melainkan menjual manfaat komputer bersangkutan.

Rodgers pun memberikan koreksi terhadap bahasa penjualan yang berbau teknis tadi ke dalam bahasa yang lebih mudah difahami oleh konsumen kebanyakan :

“Saya memiliki sarana yang mampu mendukung Anda mengerjakan pekerjaan secara lebih mudah, mampu mengurangi biaya operasional, sehingga perusahaan Anda mampu memberikan layanan yang lebih baik lagi kepada para pelanggan Anda”


DALAM KONTEKS PEMANGGUNGAN KOMEDI di televisi, jelas merupakan suatu keniscayaan apabila para kreator tayangan di televisi itu mampu meneladani apa yang dilakukan oleh Buck Rodgers dalam hal penjualan komputer IBM-nya. Mereka harus merancang tayangan komedi dari kacamata penonton, yaitu tontonan di mana para penonton mampu mengaitkannya dengan kehidupan mereka sehari-hari. Gene Perret, pemenang 3 Grammy Award untuk penulisan komedi di televisi telah berbaik hati memberikan formula ampuhnya :

”All comedy must be relevant. People like Erma Bombeck and Bill Cosby are realistic. They talk about things we can relate. Every family recognizes itself in The Cosby Show”

Semua komedi harus relevan. Orang-orang seperti Erma Bombeck atau Bill Cosby adalah orang-orang yang nyata. Mereka membicarakan hal-hal yang kita dapat terkait. Setiap keluarga dapat melihat potret diri masing-masing dari tayangan The Cosby Show.


Wonogiri, 25 – 27 Oktober 2005

Tuesday, October 18, 2005

Ketika Komedian Melawak Tanpa Kejujuran : Catatan Kecil dari Reality Show Meteor Kampus di AnTV

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Perempuan Diintip Di Kamar Mandi. Mahasiswi itu sedang melawak. Ia mengenakan jilbab. Bercelana panjang jin dan berkacamata. Wajahnya biasa saja. Tetapi saat di panggung, rupanya ia sedang memanggungkan monolog yang punya titik ledak, punchline-nya, berujung pada lelucon seputar seks.

Bagi saya, ini sebuah kejutan !

Mahasiswi itu merupakan salah satu peserta acara bertajuk Meteor Kampus, yaitu acara reality show yang digulirkan oleh stasiun televisi swasta AnTV, dalam upaya merekrut bibit-bibit pelawak baru dari dunia mahasiswa. Tujuan yang mulia dan pantas didukung.

Mahasiswi yang berasal dari perguruan tinggi pendidikan asal Bandung itu memanggungkan monolog bertema “biografi”. Riwayat hidup tentang dirinya macam apa yang hendak ia tuturkan pada pentasnya tersebut ? Bagi saya, sungguh mengagetkan lagi, ketika dirinya justru tidak menceritakan riwayat hidupnya sebagai seorang mahasiswa. Melainkan sebagai buruh perempuan !

Ia berkisah tentang nasib dirinya sebagai buruh yang terpaksa harus berpindah-pindah pekerjaan. Pasalnya, karena menjadi korban tindakan pelecehan seksual. Semula bekerja di pabrik coklat, pabrik krupuk dan akhirnya pada pabrik bantal. Ia terpaksa berpindah-pindah bekerja karena setiap dirinya ke kamar kecil, ia merasa selalu diintip oleh mandornya.

Pada dua pekerjaan sebelumnya, begitu ceritanya, ia tentu saja marah atas tindakan itu. Dirinya sempat mendobrak dinding yang dipakai mandornya untuk mengintip. Pada tempat kerjanya yang terakhir, ia melakukan hal yang sama, tetapi tidak ada insiden dengan mandornya. Kali ini, ia mengaku, justru menyerah untuk mau dan rela di-“apa-apa”-kan oleh sang mandor lelaki, sang pengintipnya tersebut.

L u c u ?
Terserah Anda.


Seks Dan Kebohongan. Lelucon mengenai seks memang terus saja menggiurkan didaulat sebagai topik yang populer untuk dipanggungkan. Para pemula dalam dunia komedi atau lawakan sepertinya suka terjerumus untuk melakoni aksi yang satu ini.

Hal ini bisa dimaklumi. Karena jam terbang mereka belum banyak. Pengalaman masih hijau. Mesin kreativitas dalam menggali lelucon belum menemukan formula atau langkah yang pas. Karena mungkin tertodong guna memenuhi target utama setiap pemanggungan, yaitu bagaimana memperoleh tawa dari audiensnya, maka lelucon seputar seks mereka pilih sebagai jalan pintas yang mudah digasak.

Tetapi ada satu hal vital yang mungkin mereka lupakan. Lawakan seputar seks, atau dalam komunitas komedi luar negeri disebut sebagai dick jokes, memang objek menggiurkan untuk dipanggungkan. Tetapi itu hanya laku untuk audiens lawakan yang berumur 13 tahunan.

Yang bilang ini adalah Judy Carter, mentor atau suhu pelawak terkenal di Amerika Serikat. Bahayanya lagi, menurut pengalaman Judy, para komedian muda yang melulu menjual lelucon-lelucon blue material itu terancam tergusur habis lebih awal dalam perjalanan karier melawak mereka.

Kemudian yang terkait dengan materi monolog berbau lelucon seksual yang dipanggungkan oleh mahasiswi berjilbab tadi, Judy Carter pernah bercerita tentang salah satu peserta workshop melawaknya di California. Peserta itu seorang perempuan, tampil melawak dengan menggali topik seputar perempuan yang bila bertambah usianya akan semakin kesulitan membina hubungan dengan kaum pria.

Menurut Judy, materinya lucu. Tetapi di antara peserta workshop lainnya, lawakan si perempuan itu disambut dingin-dingin saja. Mengapa materi lucu itu justru bernasib flop, alias gagal ? Judy Carter baru tahu alasannya setelah beberapa saat kemudian ia mendapatkan informasi bahwa perempuan itu telah menikah, kehidupannya berbahagia selama 25 tahun dan memiliki dua putri.

Jadi pemanggungan lawakan si perempuan itu berdasar pada cerita boongan di mana sebagian dari teman workshopnya tahu akan hal itu. Saran tegas Judy : “Singkirkan topik-topik lawakan yang berdasarkan kebohongan, maka kau akan memperoleh sambutan gelak tawa yang lebih menggegerkan !”

Dari pemanggunan lawakan yang dilakoni oleh mahasiswi berjilbab tadi, Anda dapat menilai sendiri seberapa kental kadar kebohongan, atau ketidakjujuran, yang terdapat di dalamnya.

Yang pasti : ia seorang mahasiswi, bukan buruh pabrik. Penampilannya yang berjilbab tentu mengasumsikan dirinya mengukuhi nilai-nilai relijius tertentu yang pasti sangat absurd bila yang ia ceritakan di babak punchline lawakannya itu sungguh-sungguh terjadi pada dirinya pula !


Salah Kaprah Melawak. Melawak memang ditujukan untuk membuat penonton tertawa. Tetapi tawa itu akan semakin bermakna, semakin meledak, apabila berasal dari sumber kejujuran. Tentu saja kejujuran pada diri sang pelawak itu sendiri. Sehingga apa yang ia tulis (pelawak di luar negeri rata-rata adalah juga penulis !) dan apa yang ia panggungkan merupakan paparan otobiografi hidup mereka sendiri.

Michael Hanel, wakil presiden senior pengembangan komedi pada 20th Century –Fox TV seperti dikutip oleh Judy Carter wanti-wanti berpesan : “Untuk menghasilkan naskah, pemanggungan sampai lawakan yang hebat, ungkapkan segala apa yang paling Anda takutkan untuk Anda ceritakan kepada orang lain, terutama untuk diri Anda sendiri. Situasi ini membuat diri Anda dalam posisi rawan sehingga menggerakkan orang untuk menyandarkan diri dan mau mendengarkannya”

Bandingkan dengan misalnya pelawak Komeng, dan lain-lainnya. Orang-orang justru akan cenderung pengin menjauh karena takut mendapatkan kata-kata atau ulah jahil darinya. Atau insiden kelompok lawak Bagito yang melucukan gangguan penglihatan pada diri Presiden Gus Dur. Ada sebagian warga pendukung presiden yang jenaka itu marah, tetapi Gus Dur memaafkan ulah Miing dkk. Sejak saat itu, pamor Bagito meredup secara pelahan.

Sekadar contoh lagi : Woody Allen mampu membuat penonton tertawa karena ia melebih-lebihkan gangguan hipokondriak (perasaan menderita sesuatu penyakit) dan neurosis yang ia idap. Chris Farley, komedian muda jenius Amerika Serikat yang meninggal dunia pada usia 33 tahun, di tahun 1998, adalah potret komedian yang melucukan dirinya (dan masyarakatnya) sampai ke batas ekstrim.

Chris Farley melucukan kehidupannya yang serba keterlaluan. Baik dalam suara hati, aksi, sikap, enerji dan bahkan berat badannya sendiri. Ia meninggal karena kegemukan, bercampur komplikasi akibat berlebihan mengonsumsi makanan, minuman, narkoba dan gaya hidup. Chris Farley yang benar-benar total. Sekaligus fatal !

Di panggung, dengan mengeluarkan segala uneg-unegnya yang paling pribadi, seseorang komedian sejati mampu menggetarkan dawai-dawai nurani jiwa terdalam pada penonton mereka. Para penonton tersebut tidak hanya tertawa, tetapi ketika pulang akan juga membawa segurat atau sesisir keluhuran yang bakal sulit mereka lupakan.

Bagaimana di Indonesia ?

Sayang, mungkin tidak tahu atau tidak berani, alias berjiwa pengecut, presentasi kejujuran itu belum banyak mengilhami atau bersemi pada nurani kebanyakan mereka yang mengaku sebagai pelawak Indonesia.

Dampak parahnya, sampai-sampai seorang mahasiswi dalam usaha memenangkan kontes melawak mahasiswa yang bertajuk Meteor Kampus tidak merasa berdosa ketika melakukan lawakan yang sarat rekayasa, yang tidak bersumberkan pada kejujuran.

Mungkin dirinya secara bawah sadar justru terilhami oleh sebutan meteor itu sendiri. Menurut definisi, meteor adalah kilatan cahaya di malam hari ketika sebentuk meteorit, yaitu partikel debu atau bongkahan batu planet, terbakar saat memasuki atmosfir bumi.

Mungkinkah sosok-sosok komedian mahasiswa dan lawakan-lawakan mereka dalam acara Meteor Kampus itu baru pantas dianggap sebagai partikel debu atau bongkahan batu planet yang nasibnya hanya untuk hangus dan kemudian habis sebelum mampu mendarat di permukaan bumi ?

Selama lawakan mereka tidak berbasiskan kejujuran, maka betapa sia-sia upaya yang dikerjakan oleh stasiun televisi swasta AnTV tersebut. Mungkin juga sia-sia upaya serupa yang dikerjakan oleh stasiun-stasiun televisi lainnya dalam niatnya memajukan dunia komedi Indonesia !

Apa pendapat Anda ?



Wonogiri, 17 Oktober 2005

Friday, September 23, 2005

Ketemu Iwel, Kehilangan Iwel, Adakah Masa Depan Bagi Komedi Solo di Indonesia ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Cek Dari Phyllis Diller. Gene Perret, penulis lawakan, pernah merasakan sensasi di bank ketika hendak mencairkan cek yang dikirimkan oleh kliennya, Phyllis Diller, komedian solo perempuan terkenal Amerika Serikat.

Perret saat itu berupaya tampil sesopan mungkin, rendah hati dan sesederhana mungkin ketika teller bank justru nampak terkaget menemukan nama Phyllis Diller dalam ceknya. Ia rada tergial, tersenyum kecil, lalu menyapa Perret :

“Phyllis Diller, huh ?”
Dengan suara dibuat rendah, Perret pun menjawab : “Ya”

Sejurus kemudian pegawai bank bersangkutan ribut. Memanggil teman-teman mereka, menunjukkan cek tersebut. Sementara Perret berusaha menahan diri agar egonya tidak kebablasan menggelembung hingga membuat kancing-kancing bajunya bisa copot karenanya !

Phyllis Diller memang sosok comedienne yang terkenal di Amerika Serikat. Komedian perempuan lainnya (“aku yakin, kelompok lawak perempuan di API 2 pasti tak tahu siapa-siapa si pemilik nama berikut ini” ) yang juga sohor antara lain Joan Rivers, Totie Fields, Judy Tenuta, Lily Tomlin, Cathy Ladman, Janeane Garofalo sampai Kathy Griffen. Gene Perret adalah penulis naskah lawakan yang juga terkenal. Pemanggungan komedian solo, juga sangat terkenal di Amerika Serikat.

Berbeda dengan pemanggungan lawakan di Indonesia yang lajim dilakukan secara keroyokan, seperti gaya Srimulat, di Amerika Serikat pelawak justru tampil secara solo. Mereka hanya tampil seorang diri di panggung. Mereka dikenal dengan sebutan stand-up comedian. Apakah komedian solo juga eksis dan berkembang di Indonesia ?


Pertama di Indonesia. Tahun lalu, saya memergoki berita di harian Kompas (25/2/2004) yang berjudul "Stand Up Comedy" di GKJ. Petikan berita tersebut :

Masyarakat pencinta seni pertunjukan di Jakarta akan disuguhi pertunjukan monolog "gaya baru", yang oleh penggagasnya disebut stand-up comedy. Bentuk pertunjukan yang diadaptasi dari Negeri Paman Sam ini menghadirkan komedian Iwel Well dari Cetho Art Company. Pentas yang disutradarai Ade Faizal dan mengusung lakon Rekonsiliasi karya Asep Sambodja itu akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Sabtu (6/3) pekan depan.

Menurut Asep Sambodja, Selasa kemarin, lakon Rekonsiliasi berangkat dari kondisi sosial politik Indonesia dalam kurung waktu setengah abad terakhir, serta peristiwa-peristiwa aktual di masyarakat. Kecemasan Bung Karno akan terjadinya eksploitasi di antara sesama anak bangsa ternyata dapat kita temui di sekitar kita saat ini. Dalam kondisi seperti ini, salah satu jalan untuk menyejukkannya adalah dengan membuka pintu maaf, tentu saja setelah melalui proses peradilan yang tidak korup.

"Pertunjukan model stand up comedy untuk menandai kehadiran Cetho Art Company sengaja dipilih karena ini merupakan sesuatu yang baru di Indonesia. Sesuatu yang kami adaptasi dari kebudayaan Barat, yang kami nilai bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan Indonesia, tanpa harus kehilangan cita rasa keindonesiaannya," kata Asep.


Menemukan Iwel. Saya senang membaca berita tersebut. Sejak menonton penampilan komedian solo dan bintang film Steve Martin saat memandu acara penerimaan Oscar (2001), saya memimpikan hadirnya pelawak semacam di Indonesia. Efek Steve Martin itu pula yang mendorong saya untuk mempelajari pelbagai informasi, baik artikel, buku dan sumber-sumber di Internet, mengenai komedian solo. Saya pun memesan buku-buku langsung dari Amerika Serikat.

Saya berharap pementasan Iwel dan kawan-kawan itu sukses. Lalu dibicarakan di koran-koran, menimbulkan gema, dampak, dan perubahan pada lanskap dunia komedi di Indonesia. Sebagai penikmat komedi, boleh dikatakan saya sudah neg dengan komedi-komedi yang bergentayangan di layar-layar televisi kita. Termasuk pula terhadap tayangan Comedy Club, komedi solo model acara pembacaan dongengnya Taufik Savalas yang gagal lestari di TransTV.

Tetapi rupanya harapan saya belum terwujud. Kiprah Iwel dkk tidak menimbulkan gema apa-apa. Sepanjang jangkauan pengamatan saya terhadap media massa cetak dan Internet, saya belum pernah menemukan berita atau pun resensi seputar pementasan Iwel dkk. tersebut. Dunia komedi solo kembali surut dan hilang lagi dalam percaturan media.

Untuk menyalurkan rasa jengkel saya terhadap situasi dunia komedi di Indonesia, secara sehat dan konstruktif, selain sebagai seorang epistoholik yang kecanduan menyalurkan aspirasi (termasuk mengkritik dunia lawak Indonesia) melalui kolom-kolom surat pembaca, saya tergerak meluncurkan situs blog ini sejak 2004. Sungguh suatu keajaiban, pada tanggal 26 Agustus 2005, saya memperoleh email kejutan. Ibarat bubu saya berhasil menangkap seekor ikan besar. Email itu berasal dari Iwel seperti di bawah ini :

"Halo mas, nggak sengaja saya terdampar di http://komedian.blogspot.com/ saya kaget dan terkagum-kagum dengan analisis serta referensi anda tentang komedi. Saya iwel, seorang stand up comedian, saat ini saya tampil rutin di acara Bincang Bintang di RCTI. Contoh penampilan saya bisa dilihat di http://www.cm-artist.com/.

Saat ini saya menjadi sekretaris pengurus daerah PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Jakarta) DKI Jakarta. Senang rasanya bisa mengenal orang seperti anda. Semoga Mas Bambang Haryanto bisa memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan dunia komedi tanah air. Thanks."

Kontak semacam ini tentu menggembirakan saya. Minimal saya berpeluang memperoleh teman berbincang dan berdiskusi. Apalagi setelah melongoki biodata Iwel yang termuat dalam situs CM Artist, biro manajemen dan agen artis di mana ia bernaung, menunjukkan dirinya memiliki prestasi dan bekal yang andal sebagai basis seorang komedian solo. Biro ini juga menaungi kiprah Ine Febriyanti (artis), Eskobar (musisi, rapper, duo percussion), Maylaffayza (violinist) dan Rudra (band).

Sayang, situs ini terlalu minimalis. Miskin informasinya. Ibarat Internet itu seluas Samudera Hindia, situs ini hanya sebuah kolam. Tidak pula membukakan interaksi antara fans dan artis-artis CM Artist secara massif. Kalau peluang itu terbuka, saya sebagai penikmat musik ingin menulis pengalaman ketika tampil satu panggung dengan pemain biola Maylaffayza yang jelita (nama lengkapnya : Maylaffayza Permata Fitri Wiguna) saat bersama-sama menyanyikan lagunya ABBA, “I Have A Dream”, di Ballroom Hotel Kempinsky, Jakarta, April 2002. Saya masih bermimpi, suatu saat saya pengin tampil bersama Fayza lagi.

Dalam situs tersebut, tercatat Iwel pernah juara lomba lawak RRI/TVRI tingkat Sumatera Barat pada 1989, pada tahun yang sama juga finalis lomba lawak RRI/TVRI tingkat nasional. Melakoni beragam profesi seperti menjadi penyiar radio, emce, bintang sinetron, rapper, sutradara sinetron komedi, dan kini menjadi TV Warm Up untuk acara Bincang Bintang (RCTI) dan sebagai host acara SMART Show di Global TV.

Kepandaian melucu yang ia pelajari secara langsung dari almarhum S. Bagio, Kasino, dan Ateng terus diasah. Saat ini Iwel masih melakukan distance learning pada dua instruktur sekaligus stand-up comedian kenamaan Amerika, Judy Carter dan Greg Dean.


Melupakan Wasiat Keramat Guru. Sebagai orang yang jarang menonton televisi, acara televisi di mana Iwel ikut (kata dia) berperan sebagai stand-up comedian, tentu menarik untuk dicoba ditonton. Saya baru menonton aksi Iwel dua kali, 2/9 dan 9/9 yang lalu.

Kalau boleh saya mengoreksi, penampilan Iwel sebagai pembuka acara Bincang Bintang itu bukan sebagai stand-up comedian, melainkan sebagai tv warm up. Iwel tampil dengan 6-12 topik lelucon untuk membuat penonton gembira dan bergairah menonton inti acara Bincang Bintang bersangkutan.

Inikah penampilan seorang stand-up comedian Indonesia yang mengaku telah berguru langsung dengan seorang Judy Carter ? Tahukah Iwel bahwa seorang Judy Carter suka wanti-wanti menuturkan wasiat penting untuk para komedian ? Ini dia bunyinya :

We funny people are a strange sort. Most people hide their defects ; we comics show them to the world. Kita para jenakawan adalah pribadi aneh. Kalau kebanyakan orang menyembunyikan cacat cela pribadinya, kita para komedian justru mempertontonkannya ke muka dunia.

Iwel, menurut saya, belum melaksanakan wasiat keramat guru jarak jauhnya itu. Ia masih seperti kebanyakan pelawak Indonesia, masih melanggar hukum lawakan seperti yang dikemukakan oleh Bert Williams : The man with the real sense of humor is the man who can put himself in the spectator’s place and laugh at his own misfortune.

Iwel nyatanya belum berani memperolok dirinya sendiri. Ia justru memperolok teman mainnya, Yadi (?), antara lain dengan lelucon seputar masturbasi di kamar mandi. Lelucon yang klise, hack, kata Judy Carter, dan tidak lucu. Menurut saya, lelucon mengenai seks yang banal hanya menunjukkan betapa seseorang komedian mengalami kekeringan imajinasi dan kreativitas. Beda jauh dari lelucon seksnya seorang Woody Allen atau Joan Rivers, yang sopan, berkelas dan berintelejensia.

Semua lelucon Iwel juga cenderung masih kekurangan daya dobrak, karena tidak ada attitude yang wanti-wanti ditekankan pentingnya oleh Judy Carter. Mungkinkah ia lupa bahwa attitude dasar lelucon itu ada empat : hard, scary, stupid dan weird ? Lelucon tanpa tulang punggung salah satu dari empat attitude tersebut ibarat sebuah mobil tanpa punya pedal gas !


Bunuh Diri Model Iwel. Judy Carter pernah pula berpesan bahwa the hardest part of performing is engaging the audience. Hal paling berat dalam pemanggungan (komedi) adalah upaya melibatkan penonton. Hal vital ini apa sudah pula disadari oleh seorang Iwel ?

Ketika saya menonton saat Iwel tampil (2/9), di mana sebagian besar audiensnya adalah mahasiswa Universitas Mercu Buana (?) yang berseragam jaket merah, saya bergumam : “gunungan bubuk dinamit yang ada di depan hidungnya itu kok tidak ia lempari saja dengan sebatang korek api yang menyala”. Hemat saya, Iwel masih perlu menajamkan pemahamannya tentang pentingnya tindakan meriset profil audiens sebelum berpentas.

Ketika Iwel mengajukan premis hasil penelitian siswa Yogya bahwa ada sekumpulan semut melakukan bunuh diri, ia telah menyodorkan lelucon yang beresiko bust, gagal menimbulkan tawa. Pertama, karena topik itu sangat esoterik. Tidak banyak orang kebanyakan yang tahu. Kalau audiens tidak tahu, topik secanggih dan selucu apa pun di benak Anda, bakal tidak bisa menghadirkan ledakan tawa. Apalagi kemudian punchline-nya tak kalah esoterik, ketika Iwel katakan bahwa semut-semut itu merupakan “anggota sekte tertentu”.

Oh, come on, Iwel. Kalau Anda ingin ngeceng untuk pamer pengetahuan umum, ikut saja acaranya Tantowi Yahya di Who Wants To Be A Millionaire itu. Tetapi untuk bahan lelucon, ingatlah bahwa audiens itu tidak bisa menangkap SEMUA (!) lelucon yang Anda anggap lucu di kepala Anda.

Ingatkah Anda bahwa sekte Heaven’s Gate pimpinan Marshall Herff Applewhite yang melakukan bunuh diri massal di Rancho Santa Fe itu peristiwanya terjadi di bulan April 1997 ? Sudah delapan tahun lalu, Iwel. Berpikirlah, apa ada di antara audiens Anda yang masih ingat peristiwa tersebut ?


Cek Dari Iwel. Untuk mendorong semangat Iwel, tanggal 3 September 2005, saya mengirimkan SMS kepadanya :

“Sy senang nonton Iwel di BCBT smalam. For first time. Mama Judy Carter psti bangga Anda. Populerkan STU-C bagi audiens TV kita, dan Iwel kini pionernya !”

Iwel pun berbaik hati membalas : “Thanks, tp saya harus belajar byk lg, tetap tonton ya mas...”

Saya senang membaca tekad Iwel yang ingin terus belajar tersebut. Tetapi permintaannya agar saya tetap menonton penampilannya, sorry Iwel, saya dengan berat hati dan berat mata tidak bisa lagi meluluskannya.

Sejak penampilannya tanggal 9 September 2005, saya merasa telah kehilangan Iwel. Dan saya tidak tahu apakah suatu saat kelak saya bisa menemukannya kembali. Tentu saja, dalam impian besar saya, saya ingin menemukan kembali seorang Iwel sebagai seorang stand-up comedian yang bener-beneran.

Dan kelak, hmmm, ijinkanlah saya terus berfantasi : sebagai seorang penulis lawakan saya bakal memperoleh cek dari Iwel, lalu saya sekuat tenaga berusaha menahan diri agar kepala saya tidaklah membesar saat para teller bank saling berbisik, matanya membelalak dan seru bergunjing antara mereka.

Tentu para teller bank itu bergunjing tentang nama Iwel yang sudah maha terkenal, nama saya, juga besaran angka yang tertulis dalam cek yang mereka proses pencairannya saat itu. Semoga saja Gene Perret akan iri kepada saya !



Wonogiri, 22-23/9/2005

Thursday, September 01, 2005

Komunitas Komedi Indonesia, Komunitas Pemuja Setan ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Intelijen Yang Legal. Apa yang terjadi bila satu bus penuh turis Jepang dibajak teroris ? Polisi akan memperoleh 50 foto diri teroris bersangkutan dari pelbagai sudut pandangan.

Lelucon ini hanya ingin menunjukkan kegetolan turis Jepang yang kemana-mana selalu memotret obyek wisata yang mereka kunjungi. Ternyata kebiasaan unik dan hebat dari turis Jepang tersebut bukan hanya itu.

Menurut Harry Davis, Wakil Direktur Program MBA di Sekolah Bisnis Universitas Chicago, Amerika Serikat, turis-turis Jepang itu juga membawa-bawa bloknot. Mereka mencatat hal-hal khusus yang dapat mereka amati dari pelbagai penjuru dunia yang mereka kunjungi.

Mereka melakukan tindak intelijen secara legal. Mereka sedang mengumpulkan data. Pelbagai data itu diolah dan dijadikan pertimbangan dalam menghasilkan produk yang diekspor Jepang ke seluruh dunia. Demikianlah produk-produk Jepang mampu membanjir dan mampu memenuhi kebutuhan pasar di pelbagai sudut dunia.

Menurut Harry Davis, kebiasaan model turis Jepang itu harus dimiliki oleh setiap insan yang produktif. Utamanya dalam mengembangkan dan mengasah keterampilan melakukan observasi. Kepada mahasiswa MBA-nya, seperti dikutip koran USA Today (12/2/1992), ia anjurkan agar mereka selalu membawa-bawa bloknot sepanjang waktu.

Dengan demikian mereka setiap saat dapat menulis dan mengawetkan hasil observasi dan ide-ide seputarnya, yang sangat bermanfaat bagi pekerjaan atau pun peningkatan kualitas kehidupan pribadinya.


Jaring Aman Pemain Akrobat. Bagi kalangan penulis, catatan atau jurnal, adalah sebuah keharusan. Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Berani Berekspresi : Buku Meditasi Untuk Para Penulis ( 2004), menuliskan nasehatnya :

“Seorang penulis tanpa jurnal bagaikan pemain akrobat yang meniti tali tinggi tanpa jaring pengaman. Sebuah jurnal akan membantu Anda membuang rasa bersalah karena menyela pekerjaan Anda dengan pemikiran usil yang datang mendesak, namun tidak relevan. Pemikiran seperti itu bisa masuk ke dalam jurnal Anda. Di tempat itulah mereka diam menunggu sampai Anda mengunjungi kembali dan mengayak emasnya.”

Menyediakan jurnal, demikian nasehat Susan lebih lanjut, berarti menyediakan tempat bagi Anda untuk berlatih dan bereksperimen. Itu menunjukkan kesungguhan Anda dalam menanggapi bakat Anda dan perkembangannya.

Pada bagian lain dari bukunya itu Susan menambahkan, betapa ide datang pada saat-saat yang menjengkelkan. Dan mereka tidak bisa terus digenggam. Jika ide-ide terbaik kita muncul ketika sedang memandikan anak yang rewel atau sedang mengendarai mobil menuju suatu pertemuan yang sangat penting, tidak praktis jika kita berhenti untuk menulis.

Tetapi, katanya, kita bisa membuat catatan. Kebiasaan itu bisa dibentuk. Catat dalam pikiran, jika perlu, tetapi yang dituliskan merupakan cara terbaik. Entah di belakang sebuah amplop atau di dalam buku catatan khusus, bubuhkan selalu tanggal pada catatan Anda, dan beri label sesuai dengan nama proyek yang terkait dengannya.


Jurnal Sam Greenspan. Bagaimana pandangan para komedian terhadap jurnal semacam ? Kita bisa langsung mengintip jurnal atau buku harian Sam Greenspan, seorang stand-up comedian asal Los Angeles, Amerika Serikat, seperti tertuang dalam situsnya di Internet, 28/7/2005 :

· Penemuan ilmuwan Swedia menyatakan bahwa sepatu bertumit tinggi dapat mengakibatkan wanita pemakainya mengalami gangguan mental.

· Sebanyak 42.9 persen penduduk Virginia Barat copot 6 atau lebih giginya tahun lalu akibat kerusakan gigi atau penyakit gusi dan merupakan negara bagian tertinggi yang penduduknya mengalami ancaman keompongan, sementara Kentucky menduduki peringkat kedua (38.1 persen) dan Hawaii duduk di peringkat terbawah (13 persen).

· Kucing tidak bisa menikmati makanan yang manis-manis.

· Wabah yang disebut Kematian Hitam (Black Death) yang menyerang dunia pada tahun 20-an, mengakibatkan penderita mengalami pendarahan di bawah kulit hingga berubah menjadi hitam. Wabah itu masih bisa mengancam dewasa ini, tetapi bila dapat dideteksi dengan pengobatan modern maka peluang sembuhnya sebesar 85 persen.

· Kelompok sirkus Ringling Brothers dan Barnum & Bailey menyediakan dana 180 ribu dollar untuk menanggulangi penyakit herpes yang menyerang gajah-gajah, yang merupakan ancaman kesehatan terbesar bagi gajah-gajah Asia dewasa ini.

· Wanita rata-rata menghabiskan waktunya untuk belanja 35 menit tiap harinya dalam sepanjang hidupnya. Bila dihitung secara total seorang wanita menghabiskan waktu berlanjanya selama 651 hari, sepanjang 24 jam sehari, atau hampir 2 tahun dalam sepanjang hidup mereka.

· Terdapat spesies lintah yang hidup dalam anus Kuda Nil.


Komunitas Pemuja Setan ? Jurnalnya Sam Greenspan berisi hal-hal yang nyata dalam kehidupan masyarakat. Ia mencatatnya, dan saya yakin, suatu saat yang tepat bahan-bahan itu dapat ia asah menjadi materi lawakannya.

Bagaimana komedian-komedian Indonesia menyikapi mengenai pentingnya jurnal bagi pengembangan kiprah kreatif mereka? Terus terang, saya tidak tahu “jeroan” atau dapur mereka. Tetapi bila Anda mau sekilas-lintas melongoki sajian acara berbau komedi di televisi-televisi kita selama ini, Anda kiranya akan segera memperolah jawabannya.

Bercermin dari beragam acara yang tidak henti-hentinya berniat melucukan hantu, setan dan juga tuyul itu, baik ketika kelompok Bajaj tampil dalam API 1 (Lawakan Tidak Konkrit, Bajaj Jeblog Jadinya) sampai kelompok musik humor TeamLo Solo pun berkostum setan di acara TPI baru-baru ini, membuat kita mudah menerka apa kira-kira isi jurnal (kalau pun ada dan punya atau isi kepala) para kreator tayangan komedi tersebut.

Kira-kira saya, jurnal mereka pasti penuh hal-hal yang menyangkut setan. Boleh jadi, mereka-mereka memang setiap hari intensif berinteraksi dengan setan. Atau bahkan mereka adalah para pemuja setan !


The best humor is based on truth. Humor terbaik harus berlandaskan pada kebenaran. Realitas nyata. Demikian ajaran suci dari Gene Perret, penulis kepala untuk komedian legendaris Bob Hope. Baik untuk premis sampai eksekusi, atau punchline-nya.

Merujuk hukum Perret di atas, maka kita boleh kiranya bertanya-tanya : pelbagai acara komedi yang menghadirkan hantu, setan dan juga tuyul di televisi itu sebenarnya ditujukan untuk audiens hantu, setan dan juga tuyul & company, atau untuk manusia ? Atau untuk hantu, setan dan juga tuyul & company yang berwujud manusia ?

Bila memang untuk konsumsi hiburan bagi kaum hantu, setan dan juga tuyul & company, baik yang beneran atau yang berwujud sebagai manusia, maka pantaslah bila komedi-komedi di televisi kita itu digagas dan diciptakan dengan sama sekali tidak berlandaskan pada kebenaran. Klop, bukan ? Sejak kapan setan ditakdirkan sebagai pembela kebenaran ?

Tayangan-tayangan itu mungkin mampu membuat kaum setan tergelak-gelak. Tetapi kita ? Jelas tidak !


Wonogiri, 1-2 September 2005

Monday, August 08, 2005

Aming “Extravaganza” Sugandhi Dan Monyet Yang Muntah-Muntah Dalam Tayangan Komedi Di Televisi Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Pelawak Itu Pribadi Gelisah. Steve Martin sedang duduk bersama tiga temannya di bawah keteduhan payung di pelataran restoran di California Selatan. Ia menyeruput kopi dan intuisinya berbisik, ada seorang fans mendekatinya. Segera ia menegakkan kerah jaket dan bergaya tak acuh di balik kacamata hitamnya.

Fans yang mendekat itu seorang wanita bertubuh subur. Dengan bergaya centil dan seolah mengajak bercanda, ia sodorkan kertas dan bolpen. Steve Martin tersenyum, lalu menuliskan tanda tangannya. Fans itu segera berlalu dengan riang hati, tetapi kepada suaminya ia mengeluh : “Steve Martin tidak mengatakan hal lucu sepatah kata pun !”

Tuntutan sulit bagi seorang Steve Martin. Dirinya memang tidak pernah menyediakan atau membawa-bawa stok lelucon seperti halnya Bob Hope atau George Burns. Ia juga tidak pula bisa langsung nyetel dalam berimprovisasi seperti halnya komedian Jonathan Winter atau Robin Williams.

Begitulah, gara-gara dirinya meroket sebagai komedian solo yang sukses secara fenomenal di era 70-an, ia selalu diharap mampu melucu setiap saat. Di mata para penggemarnya Steve Martin adalah sosok yang harus selalu siap melucu setiap saat seperti ketika naik panggung, gila dan liar, lincah bertingkah, berkuping kelinci atau tampil sebagai binatang berbentuk balon.

Tetapi berbeda dibanding penampilannya di panggung dan persona di layar putih, Steve Martin adalah pribadi yang serius, demikian tulis wartawan Cork Millner di majalah Saturday Evening Post (Nov-Des, 1989). “Ia cerdas dan canggih”, timpal Shelley Duvall, teman mainnya dalam film larisnya, Roxanne. Steve Martin berpendidikan doktor filsafat.

Kebanyakan pelawak memang pribadi yang sangat cerdas. Demikian kesimpulan Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998). Selain itu pelawak juga sangat sensitif, pribadi yang relatif gelisah, dan punya pisau pengamatan yang tajam. Sosoknya lebih condong sebagai individuil yang kuat ketimbang anggota sesuatu kelompok. Dirinya dikaruniai dorongan membara untuk berbagi segala apa yang ia fikirkan dan ia rasakan. Perspektif yang ia pilih adalah sebagai orang luar, outsider, pengamat.


Penonton Kita Belum Cerdas ? Aming Sugandhi, pemeran tokoh waria dalam acara komedi Extravaganza di TransTV, juga berpendapat senada. Ketika ditanyakan kepadanya oleh wartawan Kompas, Edna C. Patiasina, apakah dirinya aktor atau pelawak, Aming pun menjawab : “Aku belum siap memikul beban sebagai pelawak. Buat aku itu profesi yang sangat keren, tidak semua orang punya kapasitas seperti itu”

Menurut dia, menjadi sosok pelawak membutuhkan kecerdasan jauh di atas rata-rata. Pelawak harus mampu menangkap umpan lelucon untuk kemudian dikembangkan sendiri. Hal ini berbeda dengan apa yang dijalaninya selama ini. Dalam Extravaganza, misalnya, Aming berakting berdasarkan skenario yang telah disusun. “Kita masih berputar-putar di komedi slapstik, mungkin karena kultur kita belum siap menerima komedi cerdas”, ucap Aming (Kompas, 7/8/2005).

Pendapat Aming, yang mahasiswa jurusan Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB itu, tentang “kultur kita belum siap menerima komedi cerdas”, boleh-boleh saja ia lontarkan. Sudah lajim dan layak bila dirinya membela format tayangan komedi di mana ia berkecimpung, mencari nafkah di dalamnya. Aming bahkan tidak sendirian. Pelawak Wahyu Sardono atau Dono Warkop almarhum juga pernah mengatakan hal yang sama, ketika bersama kelompoknya Warkop DKI sedang berkibar dengan film-film slapstiknya.

Seperti tertuang dalam artikel berjudul “Dono dan Tolak Politisi Busuk”, (Kompas, 30/12/2003), yang ditulis Effendi Gazali, dosen Pascasarjana Komunikasi UI dan Research Associate di Nijmegen University, Belanda, Dono memimpikan hadirnya lawakan cerdas tetapi saat itu belum mungkin. Hal ini, menurutnya, terjadi akibat tekanan kebijakan TVRI saat itu, juga tekanan politik dan ekonomi di era Orde Baru yang represif.

Effendi Gazali yang di tahun 1983, ketika duduk di SMA adalah juara melawak se-Propinsi Sumatera Barat, kemudian mengutip pertanyaan Dono : “Mungkinkah bikin lawakan a la Jay Leno atau David Letterman Show ?” Effendi pun membalas : “Kalau rakyat kita selalu dianggap tidak mampu mengerti lawakan cerdas, cita-cita itu pun akan menjadi in your dreams.”

Kini, ketika Orde Baru sudah tumbang, saat stasiun-stasiun televisi relatif bebas membuat acara yang tidak mendapat represi dari pemerintah, sialnya anggapan bahwa penonton kita dianggap tidak mampu mengerti lawakan cerdas, masih saja muncul.

Bangun, Aming, ayo bangun !

Ijinkanlah saya ikut berpendapat : sebenarnya penonton komedi kita senyatanya sudah semakin cerdas, tetapi hanya para komedian kita saja (juga para penulis naskah lawakan di televisi-televisi kita) yang tidak pernah menjadi semakin cerdas !


Lawak Gaya Keroyokan ! Suguhan komedi di televisi-televisi kita, bila menurut istilah komedian Sam Greenspan, barulah berkualitas tayangan yang menampilkan komedian pamer hidung dan komedian biang kerok. Dirinya telah membagi tiga jenis komedian.

Golongan pertama, ia istilahkan sebagai komedian pamer hidung. Ia adalah paman atau kakek Anda, atau siapa pun, yang melucukan seputar kejadian keluarga. Untuk memperoleh tawa ia melakukannya dengan menggelitik anak kecil dengan hidungnya. Leluconnya dangkal, rasis atau berbau SARA, berbau seksual, dan berselera rendah. Kelompok demografi penggemar terbaiknya : 0 – 6 tahun.

Golongan kedua adalah komedian biang kerok. Leluconnya tidak cerdas, juga tidak asli, ia melakukan aksinya semata ingin menjadi pusat perhatian. Di kelas, ia memasang pensil pada lubang hidungnya. Meninggikan nada sendirian ketika bernyanyi koor. Pelawak jenis ini kita temui ketika kita duduk sampai bangku SMA.

Golongan ketiga, adalah komedian solo, atau stand-up comedian, yang ia sebut sebagai seseorang yang memanggungkan komedi di muka audiens sebagai profesi dan untuk memperoleh nafkah. Sam Greenspan menyebut contoh : dirinya sendiri. Atau George Carlin.

Komedian golongan ketiga ini di Indonesia, menurut pengetahuan saya, masih ditunggu kehadirannya. Karena memang belum ada. Mungkin karena kentalnya semangat bergotong royong pada bangsa ini, bahkan juga dalam melakukan korupsi, maka pentas lawak kita yang lajim adalah pentas model gotong royong pula.

Mainnya model keroyokan. Anda dapat menunjuk pada sosok kelompok Srimulat, Ketoprak Humor, Bagito, Patrio, Cagur sampai pentas pelawak baru hasil karbitan Audisi Pelawak TPI (API). Dan, tentu saja, juga Extravaganza di mana Aming bermain di dalamnya. Dalam tayangan semacam ini yang dibutuhkan hanya aktor-aktor. Baik itu pelawak atau bukan pelawak. Baik memakai naskah yang harus ketat dipatuhi atau pun pelakunya dibebaskan untuk berimprovisasi.


Monyet Muntah-Muntah. Menurut muatan lawakannya, seorang Steve Silberberg, moderator newsgroup alt.comedy.standup, pernah membagi kategori pelawak. Yang pertama adalah pelawak yang lawakannya mengandung pesan-pesan untuk ia sampaikan. Golongan ini jarang-jarang eksis, tetapi dirinya mampu melawak sekaligus menebarkan pesan.

Golongan pelawak seperti inilah yang disinggung oleh Jay Sankey sebagai pribadi yang dikaruniai radar peka yang terus jalan, cermat menguping tiap pembicaraan, mengamati peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, dan mencatat pula kesan dan pikirannya tentang semua hal yang ia observasi.

Semuanya itu ia olah dan menjadi siraman bensin guna mengobarkan bara semangatnya untuk selalu berbagi. Ia pun menuliskan lawakannya sendiri. Tidak ayal, karena sodokan komentar-komentar tajam dari para pelawak kategori intelektual dan cerdas ini, menurut Jay Sankey, sering mengantarkan diri mereka mampu meraih julukan sebagai filsuf yang blak-blakan, pemimpi anarkis, atau bahkan pahlawan sosial.

Sudah hadirkah pelawak atau komedian seperti ini di panggung-panggung komedi kita selama ini ? Saksikan dan silakan mencatat sendiri dari pentas lawakan di televisi kita selama ini.

Bagi saya, yang menonjol di televisi-televisi kita adalah suguhan acara humor yang hanya semakin riuh dengan para pelawak jenis yang kedua. Yaitu para pelawak yang misinya tampil di panggung semata-mata berambisi memperoleh tawa dari penontonnya. Tidak ayal, seorang Steve Silberberg kemudian mempunyai pendapat khas untuk para pelawak jenis kedua ini :

If they bought/stole/used someone else's material, they'd be no more than a talking monkey on stage regurgitating other people's thoughts.

Bila mereka membeli/mencuri/menggunakan materi lawakan karya orang lain, maka mereka itu tidak ubahnya sosok kera yang mampu bicara, yang tampil di panggung, untuk muntah-muntah mengeluarkan karya buah pikir orang lain.

Betul atau tidak : bila kita kini hampir tiap hari semakin sering melihat “kera-kera yang bisa ngomong dan muntah-muntah” itu di layar televisi kita ? Ucapan Aming yang dimuat di Kompas (7/8/2005) bahwa “komedi itu harus digarap dengan serius”, semoga dapat membangunkan kesadaran pada seluruh stakeholder dunia komedi kita.

Betul, Aming, dunia komedi kita memang menuntut perhatian yang lebih serius lagi. Semoga Anda bisa ikut serta memulainya !



Wonogiri, 7-8 Agustus 2005

Monday, August 01, 2005

Klub Komedi, Kapan Hadir Di Negeri Ini ? : Pertanyaan Wong Wonogiri Anggota New York Comedy Club, Amerika Serikat

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



New York Kini Dekat Wonogiri ! Kota London pernah menjadi subjek ejekan aktris Amerika, Bette Midler. Ia pernah bilang, “bila di New York jam tiga, maka di London masih tahun 1938”. Saya tidak tahu konteks ucapan sinis Midler tentang London itu. Mengejek kekunoan London yang ketinggalan jaman ? Baru-baru ini, dari Radio BBC, saya mendengar ejekan terbaru tentang London.

Ejekan itu muncul utamanya setelah Polisi Metro London melakukan kesalahan sangat tragis, salah tembak. Mereka telah menghujani kepala seorang warga Brasil, Jean Charles de Menezes (27) di stasiun kereta bawah tanah Stockwell (22/7), hingga tewas. De Menezes dicurigai oleh agen polisi Metro London sebagai teroris yang akan meledakkan bom bunuh diri.

Ejekan itu berupa rumor bahwa Olimpiade 2012 batal dilaksanakan di ibukota negaranya Lady Diana itu. Pasalnya, para pelari dari seluruh dunia memboikot. Mereka takut datang ke London, takut akan dikejar-kejar dan ditembak mati oleh Polisi Metro London !

Oh, London.

Maaf, saya agak melenceng sedikit. Tulisan ini sebetulnya ingin bercerita tentang kota New York. Karena saat ini, gara-gara urusan komedi, New York menjadi terasa dekat dengan kota saya, Wonogiri. Anda pernah mendengar lagu puja-puji tentang New York ? Simaklah gairah hidup yang terpancar dari sana :

I want to wake up in a city that never sleeps,
and find I'm a number one, top of the list.

Saya ingin terbangun di kota yang tak pernah tidur ini,
dan menemukan diriku sebagai si nomor satu,
menjadi pemuncaknya daftar peringkat.

If I can make it there, I'll make it anywhere.
It's up to you, New York, New York, New York.

Bila diriku berhasil di sini, aku akan berhasil pula di mana saja.
Semuanya terserah padamu, New York, New York, New York.


Saya dan New York Comedy Club ! Semangat untuk memperoleh keberhasilan di kota yang punya julukan Apel Besar itu, The Big Apple, mungkin juga membara di dada Lisa Ann Walter. Artis cantik dan menawan ini pernah mendampingi Jim Carrey dalam "Bruce Almighty" (“sayang DVD saya untuk film ini tak bisa saya putar !”), main bareng Richard Gere dalam "Shall We Dance", tampil di “Parent Trapp”, dan yang terakhir dalam "War of the Worlds" untuk berseteru melawan Tom Cruise !

Tanggal 15 dan 16 Juli 2005, saya sebenarnya berpeluang menonton pementasan komedi solonya Lisa Ann Walter di New York Comedy Club, di Boca Raton, New York. Klub komedi ternama ini memang menawarkan peluang untuk memperoleh tiket gratis. Petugas pemasarannya, Natasha, hampir dua kali dalam sebulan selalu mengontak saya. Sebelum Lisa Ann Walter, pernah pula dipanggungkan komedian Alan Prophet, Bob Levy, Eddie Clark, sampai Tony Woods. Saya memang menjadi anggota klub email New York Comedy Club, sejak Juni 2005 yang lalu !

Tetapi bisa nonton pentas komedi di sebuah klub komedi di New York, memang masih impian. Perjalanan ke luar negeri saya yang terjauh baru Singapura. Tetapi demi memperoleh sentuhan bagaimana industri komedi bernafas dan bergulir di negara-negara maju, menyodorkan alamat email untuk memperoleh info-info baru, dan gratisan, apa pula salahnya. Asal Anda jangan bilang-bilang kepada Natasha, bahwa saya adalah anggota klub email klub komedinya yang berasal dari kota yang tak pernah masuk dalam benaknya : Wonogiri, Solo, Jawa Tengah, Indonesia !

Selain di New York, saya berpeluang menjadi anggota klub email klub komedi di 50 negara bagian Amerika Serikat. Klub komedi, dalam bayangan saya, adalah mirip pentas Aneka Ria Srimulat di Taman Remaja Senayan di tahun 1980-an. Hanya saja penontonnya lebih sedikit, penampilnya juga bukan kelompok lawak secara keroyokan model Srimulat. Tetapi para komedian solo, stand-up comedian, yang tampil di panggung sendirian dalam meledakkan lawakan demi lawakan.

Para komedian solo di Amerika Serikat, sekadar contoh, antara lain : Kip Addotta, Jeff Altman, Louie Anderson, Richard Belzer, Sandra Bernhard, Lewis Black, John Caponera, Jim Carrey, Cheech and Chong, Margaret Cho, Bobby Collins, Anthony Clark, Dane Cook, Jim David, Bill Engvall, Gilbert Esquivel, Jimmy Fallon, Pablo Francisco, Dana Gould, Arsenio Hall, Maryellen Hooper, Richard Jeni, Sam Kinison, Denis Leary, David Letterman, Jack Mayberry, Jackie "The Joke Man" Martling, Kathleen Madigan, Monique Marvez, Steve McGrew, Jay Mohr, John Pinette, Brian Regan, Ray Romano, Bob Saget (“pembawa acara America’s Funniest Home Videos”), Adam Sandler, Garry Shandling, Jerry Seinfeld, Flip Schultz, Craig Shoemaker, Pauly Shore, Jimmy Shubert, Margaret Smith, Doug Stanhope, Rich Vos, Damon Wayans, Suzanne Westenhoefer sampai Bob Zany !

Mereka yang termasuk kelas legendaris : Steve Allen, Morey Amsterdam, Milton Berle, Shelley Berman, Joey Bishop, George Burns, Red Buttons, Pat Buttram, Charlie Callas, Godfrey Cambridge, Pat Cooper, Norm Crosby, Bill Dana, Rodney Dangerfield, Phyllis Diller, Redd Foxx, George Gobel, Buddy Hackett, Hudson & Landry, George Jessel, Jerry Lewis, Gary Owens, Moms Mabley, Pat McCormick, La Wanda Page, Don Rickles, Soupy Sales, Dick Shawn, Jerry Stiller & Anne Meara, Three Stooges, Jackie Vernon, Slappy White, Rich Little, Rusty Warren, Jonathan Winters, dan Henny Youngman


Mirip Liga Dalam Sepakbola. Jakarta sebenarnya pernah memiliki klub komedi serupa. Namanya, Jakarta Comedy Club (JCC). Lokasi pentasnya di Rooftop Bear Garden, Hotel Mandarin Oriental. Pentasnya, biasanya di akhir Minggu. Jumat sampai Minggu. Acara hiburan yang nampak ditujukan untuk membidik ceruk pasar para pekerja asing di Jakarta itu kaya akan sponsor. Misalnya pabrikan bir, Rolls Royce, klub golf Jagorawi, hotel eksklusif di Bali, sampai provider Internet. Bulan Januari 2002, misalnya, JCC telah memanggungkan komedian solo Tommy Dean (Amerika Serikat) dan Tom Gleeson (Australia)

Klub komedi untuk para (calon) pelawak domestik, tentu tak perlu hotel mewah sebagai tempat untuk penyelenggaraannya. Dalam khasanah literatur mengenai komedi dikenal istilah open mike, mikrofon yang boleh digunakan oleh siapa saja. Open mike ini dapat dilakukan di restoran, kafe, bar, galeri, ruang pamer, toko-toko buku, sampai pelataran kampus. Dengan pengorganisasian tertentu, para calon komedian dapat berpentas 7-10 menit di pelbagai lokasi open mike tersebut untuk menjajal nyali, men-tes kreativitas karya dan gaya lawakan mereka.

Apabila komunitasnya telah terbentuk, bisa dilanjutkan dengan acara diskusi. Mirip pementasan baca puisi, bedah buku atau pemanggungan teater. Apabila pasar memberikan respons positif, klub komedi yang menarik karcis atau pun sponsor, sudah tiba saatnya untuk diluncurkan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, mungkin berdasar pertimbangan kualitas atau gengsi, masing-masing klub komedi nantinya bisa tersegmentasi seperti pembagian divisi dalam liga sepakbola.

Klub komedi juga mampu menghindari pemborosan dalam perekrutan talenta-talenta baru dalam dunia lawak Indonesia. Strategi yang ditempuh stasiun televisi swasta TPI, dengan Audisi Pelawak TPI (API), terlalu mahal dengan hasil luaran yang meragukan.

Melahirkan kelompok pelawak baru melalui lomba, boleh saja. Tetapi setelah memerhatikan beberapa pentas eksklusif dari beberapa kelompok lawak pemenang API 1, jelas nampak betapa kreativitas mereka dalam penciptaan lawakan-lawakan baru sangat gampang kehabisan nafas. Kedodoran. Hal ini terjadi karena pentas lawak tidak sama dengan pentas nyanyi. Dalam pentas menyanyi, setiap lagu dapat dinyanyikan ribuan kali oleh penyanyi yang berbeda, tetapi materi lawakan sekali muncul akan hangus selamanya. Tidak akan lucu apabila diulangi lagi !

Pelawak-pelawak hasil karbitan API itu masih harus ditempa lagi sebelum pantas dimunculkan di layar televisi. Penampilan yang kedodoran, di bawah standar tontonan televisi, seperti halnya hukum yang berlaku dalam dunia hiburan, justru akan membunuh masa depan mereka secara lebih dini. Klub komedi merupakan salah satu solusi terbaik untuk mematangkan dan dan mempertinggi jam terbang mereka.

Tentu saja klub komedi bukan hanya ditujukan untuk para novice, pemula, semata. Fenomena bintang-bintang layar putih yang sudah terkenal, tetapi tetap tertarik untuk main di panggung teater, dapat pula diaplikasikan untuk para komedian kita. Siapa tahu para komedian senior kita, yang selama ini hanya berani main keroyokan di panggung televisi, akan tergiur untuk main solo di pentas-pentas klub komedi.

Dalam imajinasi saya, di dalam habitat lingkungan klub komedi tersebut akan banyak berbaur para pemilik bakat yang berfungsi penting mendukung semaraknya denyut kehidupan industri hiburan berbasis komedi. Misalnya para pencari bakat, penulis, komedian, wartawan, pemerhati, orang-orang televisi, sampai para juragan klub komedi itu sendiri.


If I can make it there, I'll make it anywhere.
It's up to you, comedy club, comedy club, comedy club.

Bila diriku berhasil di sini, aku akan berhasil pula di mana saja.
Semuanya terserah padamu, klub komedi, klub komedi, klub komedi.

Semoga begitulah janji dan ambisi yang mekar di dada para calon komedian yang memperoleh tempaan di kawah candradimuka, berupa klub-klub komedi, di masa depan nanti. Itulah pula beberapa bayangan yang selalu muncul di benak, setiap kali saya memperoleh kiriman email dari Natasha, dari New York Comedy Club, di New York, Amerika Serikat sana.

Masalahnya kini, perintisan cikal-bakal klub komedi di Indonesia itu dari mana sebaiknya dimulai ? Masak sih, harus pula dari Wonogiri ?



Wonogiri, 1 Agustus 2005

Monday, July 25, 2005

Konon Sitkom “So What Gitu Lho ?!?” Epigon Dari “Friends”, Tetapi Di mana Kemiripannya ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com


Ternyata Lesbian ! Lelaki itu makhluk visual. Mengandalkan pada mata untuk jatuh cinta. Mudah kesengsem pada wanita-wanita cantik. Dari mata turun ke hati. Saya adalah salah satunya, dan sekaligus kena batunya.

Perempuan yang pernah membikin saya jatuh cinta kesan pertamanya nampak inosen. Kentara memproyeksikan dirinya sebagai insan yang lurus, sekaligus menjaga imej agar terlihat sebagai perempuan berstatus lajang. Suka mencopot-pakai cincin kawinnya pada saat tertentu. Rada paranoid. Ketika saya mengobrol dengan kolega kerjanya, ia kira kami sedang menggosip tentang dirinya. Ia menyembunyikan intelektualnya pula, yang berarti juga cenderung menyembunyikan hal-hal lain dari keadaan diri yang sebenarnya.

Saya memang bodoh. Lalu apa konsekuensinya ? Kaget. Kecewa. Bertanya-tanya. Patah hati. Sudahlah. Dasar nasib. Bukan jodoh. Upayaku kemudian untuk meraih kembali kenormalan (“Tornera la neve”, begitu istilah dari Andrea Bocelli), adalah dengan memelihara selera humor.

Termasuk memperbandingkan kemalangan saya tersebut dengan peristiwa pahit yang menimpa tokoh Joey Tribbiani (Matt LeBlanc) dalam salah satu episode sitkom “Friends” yang terkenal itu. Episode untuk musim ke-10 atau yang terakhir dari sitkom ini sekarang masih ditayangkan di RCTI, setiap Minggu malam, jam 23.00.

Semoga Anda masih ingat, tokoh Joey sebagai aktor opera sabun, keturunan Italia, dikarakterisasikan sebagai lelaki muda yang mata keranjang. Suatu saat ia dikisahkan terpesona berat kepada kecantikan Molly, seorang pengasuh bayi yang bekerja mengasuh Emma, anak balita hasil kumpul kebo Ross dan Rachel. Penampilan Molly memang nampak hot dan senang mengirim sinyal-sinyal bahwa dirinya available bagi pria yang berusaha mendekatinya. Kita sebagai penonton juga menjadi terhanyut karenanya.

Gairah asmara atau libido Joey langsung terbakar. Ross cepat-cepat curiga mengamati bahasa tubuh Joey. Ia pun secara terus terang meminta agar Joey tidak mengganggu pembantunya itu. Ross juga harus minta tolong sahabat lainnya, Chandler, agar menghalangi aksi Joey yang semakin gencar mengadakan pendekatan terhadap Molly.

Tetapi Joey malah tidak gentar. Ia membayangkan dirinya sebagai ksatria yang kini dimusuhi orang seluruh dunia gara-gara ingin memperoleh sang puteri yang membuatnya jatuh cinta. Cerita menjadi klimaks ketika teman wanita Molly, yang bernama Tabitha datang menjemput dirinya di apartemen Ross. Saat itu juga ada Joey dan Chandler. Molly dan teman wanitanya itu begitu bertemu langsung mesra, berciuman. Ternyata Molly seorang lesbian. Joey pun jadi patah hati, tetapi penonton meledak dalam ger-geran.

Komedi memang demikian formulanya. Istilahnya, bangunan setup-nya harus meyakinkan, sehingga kita sejak awal terbawa untuk mengikuti cara berpikirnya Joey yang menduga Molly adalah perempuan normal. Tetapi kemudian pada bagian klimaksnya, disebut dengan istilah punchline, kita dikejutkan dengan realitas yang tidak terduga-duga.

Formula baku lawakan, yaitu setup dan punchline tersebut, seingat saya, tidak atau belum pernah muncul sebagai wacana dalam reportase tentang lawakan di media massa kita selama ini. Dalam hiruk-pikuk Audisi Pelawak TPI 1 (API 1), formula itu hanya pernah keluar satu kali dari salah seorang pencelanya, yaitu Arswendo Atmowiloto.

Rumus pemicu untuk tertawa juga pernah diungkapkan oleh seorang novelis Inggris, Angela Carter (1940–1992). Ia pernah bilang bahwa comedy is tragedy that happens to other people. Komedi adalah tragedi yang terjadi pada orang lain.

Will Rogers (1879–1935), aktor dan humoris Amerika, malah menegaskan everything is funny as long as it is happening to somebody else. Semua hal menjadi lucu sepanjang hal tersebut menimpa orang lain. Begitulah, kita-kita ini, manusia yang banyak memiliki kekurangan ini, memang sangat mudah tertawa bila bencana jatuh menimpa bukan diri kita sendiri. Tragedi bagi Joey, adalah komedi bagi kita semua !


Outrageous Characters ! Nasib malang Joey mudah memancing kita tertawa karena sejak awal kita sudah mengenal karakter pribadinya. Joey, selain mata keranjang, penakluk wanita, ia sering pula digambarkan sebagai sosok yang tidak begitu cerdas. Serius mengidap penyakit telmi, telat mikir, sekaligus juga suka sok intelektual bermodalkan pada trik penguasaannya terhadap sesuatu pengetahuan secara hafalan. Menghafal memang keterampilan spesifik Joey sebagai aktor opera sabun. Tetapi ketika pengetahuannya tersebut sering muncul di luar konteks yang sesuai, kita kembali diguncang tawa.

Dalam khasanah literatur comedy writing, karakter Joey dan sepertinya lebih cocok untuk tokoh Phoebe Buffay (Lisa Kudrow), diberi label sebagai outrageous characters. Alias tokoh-tokoh urakan, nyeleneh, tetapi vital, karena kehadirannya sangatlah dibutuhkan dalam bangunan cerita komedi situasi. Karena tokoh-tokoh unik semacam ini mampu menghidupkan alur cerita dan memicu ledakan tawa

Sementara tokoh lain seperti pria berambut putih yang pelayan kafe Central Perk, tempat Ross dan kawan-kawan ngumpul dan ngerumpi tiap hari, yaitu Gunther (James Michael Tyler), menurut Ronald Wolfe dalam bukunya Writing Comedy : A Guide to Scripwriting for TV, Radio, Film and Stage (1992), punya label lain. Dirinya adalah sosok pemicu hadirnya Doberman Effect.

Sekadar catatan, Doberman adalah tokoh tolol yang muncul dalam komedi situasi berjudul “Sergeant Bilko” yang terkenal di Inggris. Sosoknya merupakan gambaran seorang figuran, cameo, yang muncul khusus untuk meluncurkan kata atau adegan yang memancing tawa. Hanya saja, berbeda dibanding para pelaku utama, diri mereka hanya muncul sekilas-lintas, lalu menghilang. Kedigdayaan Efek Doberman sebagai pemicu bom tawa ini belum nampak muncul atau digarap dalam sinetron SWGL di TransTV itu.

Karakter, pantas untuk dicatat, merupakan faktor paling penting (!) dari bangunan komedi situasi. Sebab komedi situasi, tidak seperti diduga oleh banyak orang, sekali-kali bukanlah pementasan berderet lelucon atau jokes yang dirangkai seperti irisan daging pada sebuah tusuk sate. Lelucon justru bukan hal yang paling penting dalam suguhan komedi situasi.

David Evans, penulis skrip untuk komedi situasi seperti “The Monkees”, “Love American Style” sampai “The Bill Cosby Show”, mengatakan dalam artikelnya, “The Seven Laws of Comedy Writing”, betapa hukum pertamanya menentukan bahwa seseorang penulis komedi harus berani, saat diperlukan, membuang lelucon ciptaannya yang terbaik sekali pun.

Mengapa ? Skrip komedi situasi memang mencakup lelucon, tetapi juga unsur-unsur lain seperti karakter, scene, situasi, pengembangan, dialog dan cerita. Sebuah lelucon dahsyat tetapi penempatannya dalam skrip keliru, justru dapat merusak sampai menghancurkan ritme dan aliran cerita secara keseluruhan.

Yang dibutuhkan, menurut Evans, bukanlah berondongan rangkaian lelucon, melainkan lelucon yang tepat pada momen atau tempat yang tepat pula. Karena ledakan tawa dari komedi situasi diharapkan muncul dari situasi yang terjadi dan dari tingkah laku para pelakonnya secara natural dan logis dalam menanggapi jepitan situasi yang terjadi.

Dengan latar belakang pemahaman terhadap pentingnya karakter tersebut, mungkin kita dapat memaklumi mengapa suguhan komedi situasi berjudul (jelek !) “So What Gitu Lho ?1?” (SWGL) di TransTV, sejak 16/7/2005 tiap Sabtu Malam, Jam 22.00, digembar-gemborkan di media sebagai epigon komedi situasi “Friends” garapan David Crane dan Marta Kauffman yang sukses ditayangkan 10 musim di stasiun NBC, Amerika Serikat.

Wartawan Kompas, Dahono Fitrianto (24/7/2005) sampai perlu mengingatkan pembaca bahwa tokoh-tokoh dalam SWGL memiliki kemiripan dengan Joey dan kawan-kawan. Sinetron dalam negeri ini menceritakan persahabatan enam anak muda yang tinggal di rumah kontrakan. Ada tiga cowok : Adam (Indra Herlambang), Ivan (Fedy Nuril) dan Leo (Arie K. Untung) dan tiga cewek : Rara (Cut Tary), Mia (Nadya Mulya) dan Putri (Sissy Prescilla). Adam adalah kakak kandung Mia.

Adam bekerja sebagai dosen dan ditampilkan seperti kutu buku, berpotongan rambut pendek, dan selalu rapi. Sementara Mia adalah gadis yang tergila-gila pada kerapian. Ivan adalah teman lama Adam sejak masa SMA. Rara adalah gadis cantik anak orang kaya yang agak kegenit-genitan, manja, pesolek, dan modis. Adam naksir berat. Putri adalah perempuan yang agak aneh, liar, suka musik metal, dan berasal dari keluarga broken home. Sedangkan Leo seorang yang konyol dan ingin terkenal melalui layar televisi.

Tidak dibutuhkan seorang genius pun, tulis Dahono Fitrianto, untuk segera melihat bahwa tokoh Adam adalah “jelmaan” tokoh Ross Geller (David Schwimmer) dalam “Friends”. Kemudian berturut-turut Mia adalah Monica Geller (Courteney Cox Arquette), Rara adalah Rachel Green (Jennifer Aniston), Ivan adalah Chandler Bing (Matthew Perry), Leo adalah Joey Tribbiani (Matt LeBlanc) dan Putri adalah Phoebe (Lisa Kudrow).

Tidak tanggung-tanggung (dan tentu saja tanpa malu-malu), tulis Dahono lebih lanjut, hampir seluruh elemen “Friends” ditampilkan secara polos di SWGL, mulai dari kebiasaan nongkrong di sebuah kafe yang tempat duduknya berupa sofa panjang empuk sampai musik pengiring film saat adegan jeda dengan menampilkan rumah kontrakan mereka tersebut dari luar kemudian di-zoom-in.

Tunggu dulu. Dari mana Dahono mampu mendeskripsikan karakter masing-masing tokoh dalam SWGL itu ? Dari kesan saat dirinya menonton pemutaran perdana SWGL, 16/7/2005, menyimak secara takjim monolog introduksi tokoh Rara (Cut Tary) yang sedang menelpon di awal tayangannya itu ?

Kalau betul demikian, Dahono sungguh seorang penonton sitkom yang hebat. Atau kita harus salut kepada sutradaranya yang mampu dalam waktu hitungan menit, idealnya memang demikian, telah berhasil menghadirkan karakter yang mampu dikenali penonton untuk keenam tokoh SWGL tersebut.

Tetapi saya ragu. Informasi tentang karakter-karakerr SWGL itu pasti berasal dari siaran pers stasiun TransTV. Saya sendiri kalau tidak disuapi informasi dari media massa bahwa tokoh-tokoh dalam SWGL disebut-sebut memiliki kemiripan dengan tokoh dalam “Friends”, kesulitan berat memahami karakter masing-masing dari mereka pada dua tayangan perdananya.

Termasuk tidak tertawa mendengar ucapan plesetan dari tokoh Leo saat ia membandingkan sabuk Harley Davidsonnya dengan milik Ivan, yang disebutnya buatan kota asalnya, Puerto Rico alias Purwokerto. Selain plesetan yang tidak lucu itu, Anda tahu kaitan antara Harley Davidson dengan Puerto Rico, atau pun Purwokerto, yang mampu memicu tawa ?

Peniruan Dangkal. Tayangan SWGL di TransTV patut dihargai dalam satu hal. Mereka berani memproduksi sinetron komedi situasi tanpa harus perlu menghadirkan sosok seorang pelawak pun. Ini kemajuan. Sebab selama ini, seperti tulis Dr. Sudjoko dari ITB ketika mengantar buku karya Arwah Setiawan, Humor Jaman Edan (1977), “kita selalu mencari pelawak dulu, atau artis-artis dulu yang mengaku gampang melucu, sebab toh sama saja dengan celoteh sehari-hari”. Padahal menurut pendapat Arwah Setiawan yang dia kutip, “kunci comedy itu pertama-tama ada di tangan penulis lakon. Nah, inilah yang sampai sekarang kita tidak tahu“

Kita juga tidak tahu masa depan tayangan SWGL ini. Tetapi sembari tidak mengecilkan peran penting para pelakonnya, masa depan SWGL sungguh bertumpu kepada seberapa hebat dan cerdas jalinan cerita sekaligus adonan lelucon yang digarap oleh tim penulisnya. Apa yang bisa dicatat dari dua tayangannya, 16/7 dan 23/7, yang lalu ?

Ada pepatah mengatakan, membuat penonton tertawa itu lebih sulit dibanding membuat mereka menangis. Ada pula rumus penulisan naskah komedi situasi yang pantas dicamkan : struktur adegannya berganti setiap tujuh halaman ketik naskah dan tiap halamannya harus mengandung 3 lelucon. Atau setiap 28 detik harus meledakkan satu lelucon.

Pepatah pertama, dalam SWGL, jelas nampak benarnya. Para kreator SWGL masih kesulitan menemukan suguhan yang mampu memicu tawa. Kemudian menyangkut rumus berikutnya, bila dihitung-hitung, nampak jelas bahwa SWGL masih jauh untuk mampu meraih kuota lelucon yang ideal. Ledakan tawa yang genuine jarang muncul dari sana. Ini baru mengandalkan hitungan kuantitas, belum lagi pada kualitas lelucon yang ditampilkan.

Tambahan lagi, walau penonton sudah dijejali masukan dari media massa bahwa pelaku-pelaku dalam SWGL merupakan “jelmaan” tokoh komedi situasi “Friends” yang terkenal itu, kita (sedikitnya saya sendiri) merasa tidak mudah menemukan kemiripannya.

Sekadar contoh, simak tuturan Rachel Green (Jennifer Aniston) ketika mengejek Ross yang tidak mau solider, ogah ramai-ramai bersama para sahabatnya untuk membeli lotere Powerball Lottery berhadiah 300 Juta Dollar .

Rachel membayangkan menang lotere itu, lalu berkhayal sambil mengejek Ross : “Sobat, ayo kita bareng-bareng naik helikopter untuk terbang menuju Tanjung Canaveral. Lalu kamu (Ross) hanya akan bilang, ‘Oh, saya tak ikut sobat. Kita akan bertemu di sana saja. Saya lebih senang memacu mobil Hyundai saya !’”

Ujaran Rachel itu yang dalam literatur comedy writing disebut sebagai formula comparison untuk memicu tawa, muncul dari bangunan naskah yang cerdas dan rapi. Dan maafkan saya, kalau saya pesimis bila lelucon yang cerdasnya hampir sama bakal dapat Anda temui dari seorang Rara (Cut Tary) dalam episode-episode SWGL mendatang. Semoga saja saya keliru.


Mana Konfliknya ? Harapan saya lagi : semoga di minggu-minggu mendatang penonton masih cukup sabar untuk mengenal secara lebih dalam karakter masing-masing tokoh dalam SWGL. Lalu sabar pula menunggu masing-masing dari mereka terbenam atau terbelit sesuatu konflik. Sebab konflik memang ibarat percik api yang membakar sumbu amunisi, lalu meledak sebagai rentetan hal tak terduga yang berpotensi memicu timbulnya tawa.

Ingatlah, bangunan cerita komedi situasi selalu sama : ketika terjadi sesuatu yang salah akan muncul konflik atau persoalan. Komedi kemudian muncul dari reaksi para tokoh-tokohnya dalam menanggapi masalah yang terjadi. Apabila tidak ada sesuatu yang keliru, tidak akan muncul masalah, dan tidak akan pula hadir komedi.

Dalam tayangan “Friends”, seperti cerita saat Joey jatuh cinta buta pada seorang cewek lesbian, merupakan sekadar contoh masalah yang muncul, menggelitik dan berhasil dieksploitasi oleh tenaga kreatifnya untuk mengundang tawa.

Semoga kreator SWGL mau mencamkan formula di atas. Termasuk mau mendengarkan jeweran dari Dahono Fitrianto : Di tengah kekayaan kultural dan karakter masyarakat Indonesia yang terdiri dari ratusan suku bangsa, yang tentunya memiliki kisah kehidupan yang khas, para penyaji hiburan kita terlihat kesulitan menemukan gagasan baru dari semuanya itu sehingga untuk membuat sitkom yang menceritakan kehidupan sehari-hari saja, masih diperlukan “inspirasi” dari sebuah sitkom yang menceritakan kehidupan masyarakat di belahan dunia lain.

Dahono Fitrianto mungkin agak khilaf. Para penyaji hiburan di televisi kita sebenarnya sudah berusaha mengeduk khasanah lokal, tetapi mereka kebablasan sasarannya. Mereka selama ini bukankah telah bersemangat menghadirkan jin, tuyul, setan bahkan genderuwo, antara lain untuk mereka eksploitasi habis-habisan guna memperoleh efek tawa ?

Wishnutama sampai produser SWGL Reno “Irin” S. Junirman dari TransTV, adakah Anda masih mau mendengarkan teguran yang mencerahkan di atas ? Jangan kecil hati, lho. Sebab teguran tersebut juga berlaku untuk semua pelaku dunia hiburan di televisi-televisi kita !



Wonogiri, 25 Juli 2005

Saturday, July 16, 2005

Pelawak : Kepada Siapakah Sebaiknya Mereka Belajar ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Miing Mengintimidasi ? Miing Bagito sedang menasehati ataukah justru sedang mengintimidasi ? Dalam salah satu tayangan di stasiun televisi swasta TPI seputar kegiatan di belakang layar para calon kontestan Audisi Pelawak TPI 2 (API 2) di Bandung, pelawak Miing Bagito didaulat untuk memberikan petuah. Miing pun tampil dengan percaya diri. Ia mula-mula menyesalkan mengenai makin redupnya pelawak generasi baru yang muncul dari Bumi Priangan selama ini.

Miing pun melanjutkan, dari pengalamannya selama 27 tahun ia berpendapat bahwa di panggung banyak pelawak yang pintar, tetapi tidak banyak yang berbakat. Lalu menurutnya, panggung lawak adalah arena yang sukar untuk dimasuki. Hanya itu saja yang bisa saya dengar dan catat dari petuahnya saat itu.

Umpama saya saat itu hadir sebagai salah satu kontestan API 2, jelas saya pasti hanya bingung berat. Karena memang tidak tahu mana nasehat atau petuahnya yang sebaiknya dituruti atau ditindaklanjuti. Informasi yang ia sampaikan bukan pula hal yang baru. Petuah Miing itu justru mudah menimbulkan tanda tanya besar : apakah itu benar-benar dorongan yang tulus darinya bagi para pelawak generasi baru tersebut ?

Jangan-jangan Miing sedang melancarkan intimidasi, teror mental terselubung, terhadap para calon pelawak-pelawak tersebut, calon pesaingnya di masa depan, sehingga mereka menjadi ciut nyalinya ? Ini bukan masalah buruk sangka. Sebab seperti sudah saya tulis sebelumnya, walau mungkin tidak diakui, betapa dunia pelawak adalah dunia yang sarat kobaran intrik, rasa iri dan kecemburuan.

Bahkan saking sengitnya, saya menyebutnya mungkin mirip dengan perseteruan klasik antarsaudara kandung, sibling rivalry, di mana sukses yang lain akan menerbitkan iri hati atau rasa “makan hati” (terutama yang belum pernah membaca tesis abundance mentality dari Stephen R.Covey) pada diri saudara lainnya.


Dalam kesempatan lain, tampil adiknya, Didin Pinasti. Didin mengharapkan para calon kontestan harus mau banyak belajar, terutama bergaul dengan para senior. Belajar lewat membaca-baca buku ? Tidak muncul nasehat Didin yang semacam itu, saat itu.

Baiklah. Tetapi benarkah belajar melawak dari para senior merupakan anjuran terbaik ? Kemudian, kira-kira, menurut Anda, siapakah sosok pelawak senior kita yang layak dan ideal untuk dijadikan sebagai guru untuk belajar melawak ?

Sesepuh pelawak Yogyakarta, KRT Susanto Gunoprawiro (Pak Guno), menyebutkan bahwa kini penonton lah yang menjadi pelawak. Karena mereka sudah mengetahui dan bisa menebak isi lawakan. Katanya, saat ini ia melihat banyak pelawak tua mau pun muda yang kehabisan ide. Itu membuktikan bahwa mencari bahan lawakan memang sulit.

Tambahnya lagi, bila pelawak dan materi lawakan yang itu-itu saja, baik plesetan atau pun lawakan yang menyerempet wilayah-wilayah biru atau porno terus diulang-ulang di belasan stasiun televisi setiap malam, seperti prediksinya, akan membuat banyak penonton merasa tidak lagi terhibur dengan sajian pelawak. “Pelawak akan mati”, tegas Pak Guno seperti dikutip Radar Yogya (27/4/2005).


Sulitnya Mengajar Komedi. Kini kita terpaksa bertanya ke luar negeri. Apa boleh buat. Seorang Greg Dean, penulis buku Step By Step to Stand-Up Comedy mempunyai cerita menarik. Ia katakan, pada pertengahan tahun 1980-an sampai 90-an, pentas komedi solo (stand-up comedy) mengalami booming di Amerika Serikat.

Saat itu industri komedi laris manis, katanya seperti penjualan Viagra. Klub-klub komedi bertumbuhan bak cendawan di musim hujan dan kebutuhan terhadap pelawak pun memuncak. Akibatnya, kursus-kursus untuk menggelontor pasokan komedian-komedian baru juga bertumbuhan.

Sejalan dengan semakin populernya komedi, produser televisi yang beranggaran cekak sadar bahwa mereka dapat merancang program pentas komedi solo dengan anggaran seadanya. Hal itu bisa terjadi karena komedian solo bekerja sendirian dan mampu membuat materi lawakannya sendiri. Hal serupa yang juga dapat mereka kerjakan adalah merekrut beberapa penulis lelucon, kemudian pembawa acara (MC) yang punya nama, jadilah mereka memiliki acara pentas komedi di stasiun televisi mereka.

Formula serupa pernah dicoba oleh TransTV. Pelawak Taufik Savalas dengan pentas “Comedy Club” yang disiarkan di TransTV, 2004, adalah salah satu contoh kasus serupa di Tanah Air. Eksperimen pentas komedi solo yang pertama kali di stasiun televisi di Indonesia tersebut tidak membawa hasil gemilang. (Silakan baca artikel saya di blog ini pula : “Taufik Savalas, Lelucon Porno dan Stand-Up Comedy”).


Kejenuhan kemudian melanda dunia komedi AS pada pertengahan tahun 1990-an. Banyak klub komedi tutup. Akibatnya, mereka yang selama ini menjadi pemilik komedi klub atau komediannya, dalam upaya bertahan hidup, diantaranya beralih profesi sebagai instruktur atau guru melawak.


Greg Dean wanti-wanti berpesan bahwa dengan menjadi komedian atau pemilik klub komedi sebenarnya belumlah cukup untuk tampil mengajar komedi. Mengajar memerlukan dua hal. Pertama, pengetahuan mengenai subjek yang diajarkan. Kedua, pengetahuan tentang bagaimana mengajar. Seseorang yang telah menjadi pelawak atau menjadi pemilik klub komedi tidaklah otomatis menjadikan dirinya andal sebagai guru komedi, persis sama sebagaimana seorang pemain baseball hebat tidak pula otomatis tahu bagaimana mengajar orang lain menjadi cakap bermain baseball pula.

Mengetahui bagaimana mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan kemampuan untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain. Seringkali pemain terbaik dalam bidang tertentu terlalu rewel, kritis dan kurang sabar ketika menanamkan teknik-teknik yang mendasar kepada murid-muridnya yang masih muda. Mereka ingin cepat-cepat menuai hasil secara segera.

Tetapi seringkali, banyak guru terbaik justru bukan mereka yang terbaik dalam bidang bersangkutan. Contoh : Tommy LaSorta hanyalah seorang pitcher dan pemain baseball profesional yang berkualitas rata-rata, tetapi merupakan pelatih yang hebat. Dirinya mampu mengomunikasikan keterampilan yang dibutuhkan pemain baseball profesional kepada para pemainnya. Ia seorang guru yang ekselen dan pengetahuannya cocok untuk murid-muridnya !


Bagaimana kalau para pelawak mengajar calon pelawak ? Menurut Greg Dean, fenomena ini yang paling sering dijumpai. Tetapi menurutnya, menjadi pelawak dan menjadi guru merupakan dua gugus kubu keterampilan yang berbeda. Memang benar, dalam satu dan lain hal, bila Anda memiliki pengalaman dalam bidang tertentu merupakan modal untuk menjadi instruktur secara lebih baik. Pelawak menjadi instruktur pelawak, menurutnya, menyimpan sisi positif dan pula sisi negatif.

Sisi Positif. Anda memiliki peluang untuk tampil secara teratur tiap minggunya di depan pelawak profesional. Dia memahami bahwa Anda membutuhkan jam terbang pentas sesering mungkin. Pelawak yang mapan dan sudah berpentas bertahun-tahun memiliki harta karun informasi dan dapat memberikan nasehat berdasarkan pengalamannya. Dirinya tahu bagaimana menulis lelucon, menyusun rutin, mengelola pengganggu pentas, mengatur irama pertunjukan, menyesuaikan pertunjukan untuk penonton yang beragam, mengembangkan kepribadian dan ciri khas pelawak, dan lain sebagainya.

Dirinya juga tahu bagaimana mencari order pentas, tahu bayaran yang pantas dan punya jaringan koneksi yang banyak. Pengetahuan yang dipetik dari pengalaman bertahun-tahun itu tak ternilai harganya, dengan catatan si instruktur tersebut sudi berbagi informasi dengan anak didiknya. Apabila Anda menjumpai instruktur pelawak yang juga pelawak dan dirinya mampu mengartikulasikan apa yang ia ketahui menjadi pengetahuan, Anda orang yang beruntung.

Sisi Negatif. Dengan berstatus sebagai pelawak yang tahu bagaimana mengerjakan semua hal di atas tadi bukan berarti dirinya mampu mengomunikasikannya secara komprehensif. Menghabiskan waktu bertahun-tahun mengerjakan sesuatu tidaklah sama dengan belajar bagaimana mengajarkan hal yang sama. Banyak pelawak tahu bagaimana menulis lawakan, tetapi bukan berarti dirinya mampu mengajar Anda untuk menulis lawakan pula.

Mereka mungkin faham dalam merangkai lawakan, atau rutin, tetapi bukan berarti dia mampu mengajar Anda untuk membuat rutin pula. Hal serupa juga dapat terjadi dalam hal mengelola pengganggu pentas, mengatur irama pertunjukan, menyesuaikan pertunjukan untuk penonton yang beragam, mengembangkan kepribadian dan ciri khas pelawak, dan lain sebagainya.

Pelawak dalam beraksi mendayagunakan beragam teknik yang mereka pelajari selama bertahun-tahun, tetapi karena pelbagai keterampilan itu diperoleh dengan cara mencoba dan salah (trial and error), maka sebagian besar pengetahuannya itu tersimpan di bawah kesadaran. Akibatnya, sungguh merupakan hal yang sulit atau bahkan mustahil, bagi para pelawak dalam mengartikulasikan segala yang mereka ketahui ke dalam sesuatu mata pelajaran yang dapat diserap oleh anak didik sesuai pengalaman pribadi anak didik bersangkutan.

Seringkali, sebagai pengejawantahan teknik, pelawak yang bersangkutan justru menulis lelucon dan menyusunnya menjadi rutin untuk bahan pentas anak didiknya. Atau menceritakan sesuatu lelucon yang telah ia tulis dan merangkainya menjadi rutin. Tindakan semacam ini bukanlah pengajaran. Menceritakan lelucon adalah memberi contoh, bukanlah mengajar.

Masalah serius lain bagi pelawak yang menjadi instruktur adalah kuatnya kecenderungan untuk mengkloning diri mereka sendiri. Mereka telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menghadirkan kelucuan sehingga seringkali menyuruh anak didiknya untuk mengerjakan apa yang telah ia lakukan itu sebagai wujud pengajaran.

Pilihan yang keliru. Anak didik seyoganyanya diajar sehingga mereka dapat melakukan percobaaan, bereksperimen, hingga mampu menemukan kepribadiannya sendiri sebagai pelawak. Pelawak memang harus berbeda antara satu dengan lainnya, karena mereka memang pribadi yang berbeda.

Apabila Anda mengikuti workshop dimana pengajarnya adalah pelawak dan apa yang dia sampaikan sebagian besar hanya bercerita sana-sini, membual tentang nama-nama besar, atau menuliskan materi lawakan untuk Anda, sebaiknya anda mempertimbangkan untuk berganti pengajar. Apa yang Anda perlukan adalah pengajaran mengenai teknik-teknik komedi yang dapat Anda daya gunakan untuk sepanjang karier Anda sebagai komedian !

Audisi Pelawak TPI (API) senyatanya adalah arena di mana pelawak yunior banyak belajar dari para seniornya. Termasuk belajar memperoleh intimidasi dan teror terselubung dari mereka. Di masa-masa mendatang, pencinta lawak di Indonesia jelas hanya bisa menunggu buah atau hasil dari ajang semacam ini. Semoga hasil yang positif yang lebih mencuat ke permukaan !


Wonogiri, 14-15 Juli 2005